Archive for August, 2012

Neraca

Semakin kuat kita, semakin besar tanggung jawabnya,
Semakin dekat dengan Tuhan, semakin besar kewajibannya (Spiderman).

Setiap hari Jumat pagi-pagi, semua direksi beserta manajer perusahaanku mengadakan rapat koordinasi perihal keuangan. Saya selalu ikut dan suka sekali mendengarkan presentasi keuangan dan mengutak-ngutik cash flow, income statement dan neraca. Yang sangat menarik adalah membaca neraca, karena bercerita banyak dan memberikan informasi tentang keseimbangan perusahaan. Untung rugi biasa tetapi masalah kemajuan dan perkembangan perusahaan menjadi suatu penilaian tersendiri.
Neraca bukan saja menjadi bagian kehidupan perusahaan internal tetapi juga menjadi penilaian pihak luar atas gerak perusahaan kita.
Minggu lalu dalam diskusi dengan investor dan fund manajer, mereka mengatakan bahwa neraca perusahaan saya dibuat baik sekali, walaupun tertera banyak kendala yang harus diperbaiki antara lain masalah pembiayaan dan pengolahan equity.
Pada tanggal 17 Agustus yang baru lalu Presiden SBY dalam pidatonya mengatakan neraca perdagangan Indonesia cukup baik, dan kondisi ekonomi Indonesia juga menjanjikan baik adanya, sehingga banyak investor mau menaruh dananya di Indonesia.
Bagaimana dengan kita pribadi, saya sendiri mencoba membuat neraca tentang kehidupan. Berapa banyak modal kehidupan rohani saya? Berapa banyak hutang janji iman saya. Berapa equity yang dipersiapkan? Apa saya memerlukan pinjaman nasehat dan juga apakah hidup saya positif atau negative? Agak susah kalau ditulis di atas kertas seperti layaknya neraca perdagangan. Neraca rohani ditulisnya di atas lembar hati nurani. Sedangkan perhitungan laba rugi diaplikasi dalam perbuatan hari-hari kita.
Semakin besar nilai positif kita, semakin kuat neraca rohani kita, maka semakin bersarlah tanggung jawab kita. Di dalam suatu diskusi kecil dengan beberapa sahabat, timbulah suatu pertanyaan. Apa tanggung jawab kita dalam kehidupan secara rohani? Ada yang menyebut ikuti saja 10 perintah Allah (hafal gak?)
Ada teman yang mengatakan ikuti hukum cinta kasih! Cintailah Allahmu dengan segala akal budimu dan cintailah sesamamu seperti dirimu sendiri! Ada juga yang mengatakan mari berbagi untuk sesama. Tetapi apa nilai tanggung jawab itu sendiri dan sampai di mana ukuran berbagi? Kalau saudara kita di sebelah bilang perpuluhan (10 persen) tapi darimana? Dan untuk siapa? Saya katakan bahwa instabilisasi justru berbahaya buat rohani kita. Sesuatu yang berlebihan tidak baik. Menjadi orang terlalu baik, jadinya tidak baik. Terlalu berbagi akhirnya terbagi, Sebaiknya semua bisa diseimbangkan.
Bukan berarti menyimpang dari hukum cinta Kasih, melainkan melengkapinya. Kang Ebet bilang : ”Memang baik jadi orang penting, tapi lebih penting jadi orang baik!” Ada sebuah joke yang disampaikan seorang sahabat pastor, katanya kalau ditampar pipi kiri, kasih juga pipi kanan, tapi sebelumnya di tendang dahulu donk!
Mari berbagi tanggung jawab, cinta kasih dan usaha kita dalam suka cita. Apabila Anda memberi dengan bersungut-sungguh artinya rugi! Bila Anda mencintai separoh-paroh artinya minus! Apabila tidak bertanggung jawab artinya rugi total.
Sungguh kita bersuka cita karena Tuhan sendiri memberikan keseimbangan kehidupan terutama dengan memberikan anak-Nya.

Itulah beras, yang baik didapat setelah ditapis,
Itulah kedelai, yang baik didapat setelah disaring,
Itulah hidup, yang baik setelah melalui perjuangan.

(Dynamic equilibrium)

Tuhan memberkati dan menyayangi kita semua dengan memberi kita tanggung jawab sebagi bukti Cinta-Nya untuk kita. Jangan sia-siakan apa pun tanggung jawab yang ada pada kita.

Advertisements

Kado

Kalau saja kado itu bisa berbicara, tentu ceritanya pasti indah (JFK)

Foto seni kaligrafi bertuliskan Doa Bapa Kami


Marilyn Monroe memasuki kamarnya tidurnya. Di sana penuh dengan kado dan bingkisan bunga tangan. Semua datangnya dari pejabat negara, bahkan presiden atau raja-raja. Ada juga pejabat dari negara-negara terkenal kirim kado untuknya. Tapi, semuanya tidak dibuka kecuali bungkusan paling kecil. Yang lainnya disuruhnya sang ajudan menyimpannya di museum pribadinya yang tidak bernah dibuka sampai sekarang. Bungkusan paling kecil yang dibuka itu berisi bros bunga yang dibuat dari batu pualam dan bertahtakan intan berlian. Kado kecil itu merupakan pemberian seorang presiden negara terkemuka. Dia mencium bros bunga tersebut lalu mengikatnya di pita biru dan diikatkan di lehernya, lalu dia minta difoto (fotonya bisa dibrowsing diinternet).
Waktu aku menikah di tahun 1982, pulang pesta ada 10 karung lebih kado. Karena jaman itu memberi uang kurang etis atau kurang hormat, bahkan ada teman langsung menghubungi toko elektronik dan langsung dijual. Atau kadang sebelum kawin sudah ditanya mau perlu apa. Nanti toko kirim langsung ke rumah. sekarang sudah berbeda, kalau pesta kawin kita bawa kado wah bisa diketawain. Bahkan di undangan sudah dikasih tanda Kado X – Bunga X.
Pada jaman Constantine, ada tradisi memberi kado, harus diberkati sama pastor atau uskup. Demikian juga para raja memberi kado, bukan saja benda tapi kota. Demikian Kota Alexandria dibuat kado.
Sejak sebulan lalu aku memandang beberapa kenangan kado yang sudah puluhan tahun tapi masih menghias kamar kami, termasuk jam dinding, jam duduk dan beberapa lampu hias. Memang beda kalau sekarang kita cuma bisa menerima uang karena sirnalah kenangan baik dari keluarga maupun sahabat. Padahal kalau ada kado sekecil apapun ada kenangan besar di dalamnya. Ada sebuah jam pemberian Pak Haris Gunario tahun 1997 masih terpajang dan selalu kukenang, karena persahabatan begitu erat. Minggu lalu seorang putri almarhum Lao Tse saya mengantar undangan, saya mencoba mengulang tradisi masa lalu dengan menanyakan apa kebutuhan rumah barumu. Katanya masih kosong! Giliran aku yang bingung. Jadi aku bilang televisi akan menghias ruanganmu.
Kalau kita renungkan, memang tradisi kado ini sangat indah. Tanda mata dan kenangan akan melekat di sanubari dalam jangka waktu yang cukup lama, tetapi maknanya bukan itu saja. Ikatan kekeluargaan dalam persahabatan akan terjalin erat dan hati nurani akan selalu mengenang saat-saat indah pada saat kado itu diterima.
Misalnya kado perkawinan, setiap kali kita memandang kado itu, selain kita ingat siapa pemberinya kita juga mengingat betapa indahnya saat-saat pesta perkawinan. Saat-saat pemberkatan perkawinan dan janji perkawinan, seperti yang kuucapkan dalam misa HUP ke-30 di Gereja Stasi Santo Polikarpus, Grogol hari Minggu kemarin.
Pada saat kita berdoa, itu merupakan kado paling indah walaupun tidak berupa, tidak berbentuk, dan tidak berwangi seperti halnya kado biasa. Namun, doa adalah kado yang tiada ternilai. Kado yang cantik sekali dan harum serta akan dikenang sepanjang masa. Ia tidak akan dimakan ngengat atau rayap. Abadi adanya.
Doa “Bapa Kami” adalah kado yang paling indah yang pernah kudapatkan selama hidupku. Ia menemaniku dulu, sekarang, selalu dan selamanya. Terima kasih Yesus Kristus, atas pemberian kado buat kami sahabat-sahabat-Mu. Doa ”Bapa Kami” akan menjadi bagian bagi kami untuk mengenang-Mu. Seperti halnya memandang kado pemberian para sahabat. Doa ”Bapa Kami” akan mengenang-Nya dan mengenang saat-saat indah dalam hidupku, sekaligus menjadi pelipur di saat lara. Tuhan memberkati dengan kasih karunia-Nya, cinta-Nya serta kado-Nya yang indah.

Kado ini kukirim buat para sahabat di Papua.

Kapal Laut

Tuhan tidak pernah menjanjikan laut tenang, atau cuaca selalu baik, tetapi Tuhan menjanjikan pelabuhan tujuan yang indah!

Kapal Laut

Setiap hari aku berkomunikasi dengan crew kapal-kapal kami yang berlayar mengarungi samudra, meniti jembatan lautan, dan membelah sukma dalam rindu keluarga. Aktivitas itu terus dilakukan demi memberikan pelayanan kepada para pelanggan kami agar barang-barang atau alat alat mereka disampaikan ke pelabuhan tujuan tepat waktu. Kami bisa berkomunikasi baik lewat telepon satelite, internet maupun radio SSB sampai jarak ribuan mil laut. Suka duka anak buah kapal, nakoda dan masinis tentu banyak cerita manis-manis dan selalu manis. Walaupun digoyang ombak dan diterpa badai, pelaut tiada pernah takut tetapi jiwa besar berpasrah dalam lindungan-NYA.
Setiap perjalanan kapal memang meninggalkan kesan yang menyenangkan. Jarang sekali ada pertengkaran atau kericuhan di atas kapal. Hampir selalu penuh dengan suka cita. Pelayaran kadang jauh. Di laut kadang bisa 20 hari. Jadi, hanya bulan bintang menghibur di malam hari dan desiran ombak.
Kapal-kapal modern sekarang sudah dilengkapi peralatan navigasi canggih, peralatan safety dan konstruksi yang baik sekali.
Kenangan saya melayang di tahun 1974 awal tahun saya berlayar dengan kapal kami KM Insumar bersama kawan saya John Tambayong dari Surabaya menuju Kupang 5 hari perjalanan. Belum ada pesawat terbang melayani jalur ini. Walau sahabat saya mabuk laut habis-habisan, muntah dan tidak bisa makan, tapi kami isi dengan menyanyi. Siang hari memancing ikan dan masak ikan segar. Kenangan manis ini membuat saya menulis kisah perjalanan di tahun 1979.
Kapal laut, sering diibaratkan sebagai bahtera rumah tangga. Kenapa demikian saya tidak tahu darimana datangnya, tetapi memang kehidupan rumah tangga seperti kapal laut yang berlayar. Suami sebagai nakoda, istri sebagai masinis, dan anak-anak sebagai anggota atau ABK. Semua harus terlibat. Satu hal yang sangat menarik di atas kapal adalah manajemen yang sangat rapi. Tidak ada satu pun yang nganggur. Semua bekerja keras.
Rumah tangga yang sehat bisa mencontoh sebuah kapal laut yang dioperasikan dari pulau ke pulau atau kota ke kota. Walau badai menerpa, angin ribut melawan, hujan dan angin, petir, ombak menggulung, dan arus menghanyutkan, tetapi semua bisa dilalui.
Ada juga kita lihat dan temukan rumah tangga ibarat kapal pecah atau tidak kuat diterpa ombak dan badai sehingga harus tenggelam. Memang benar Tuhan tidak selalu menjanjikan rumah tangga selalu damai dan penuh suka cita. Kadang harus melawan goncangan-goncangan, namun Tuhan pasti menjanjikan pelabuhan tujuan cinta yang indah. Jadi, kita nikmati badai dan ombak dalam rumah tangga bukan sebagai sumber kecelakaan atau bagian dari kapal pecah melainkan semuanya adalah rencana Tuhan. Dan, akan menjadi indah pada waktunya.
Ibarat kita ujian dan naik kelas atau lulus hasilnya akan sungguh menggembirakan kehidupan kita. Namun sebuah kapal yang pasti perlu nakoda yang baik bisa mengayomi, penuh tanggung jawab dan selalu memberikan cinta.
Kehidupan Rohani kita juga sama halnya kapal laut. Di air laut pasang dan surut kadang-kadang kita kehilangan arah tapi Tuhan selalu memberi petunjuk ibarat bintang tujuh di arah selatan.
Tuhan begitu sayangnya sama kita anak-anak-Nya sehingga tiada hentinya menghembuskan nafas cinta-Nya buat kita hidup lebih hidup. Semoga Tuhan memberkati semua sahabat, terutama melindungi bahtera rumah tangga yang sedang dilanda badai dan ombak.

Penjara

Ketika Aku Lapar engkau tidak memberi makan,
Ketika Aku di penjara engkau tidak mengunjungi-Ku

Karena perjuangannya untuk kemerdekaan India, Gandhi dipenjara selama tujuh tahun. Gandhi yakin bahwa merupakan sikap kesatria dipenjarakan karena berbuat baik.

Setelah membaca SMS yang dikirim dari sahabat di KKT dan dikonfirmasikan ke beberapa teman dan istri saya yang adalah aktivis pemerhati HIV-AIDS, akhirnya kami setuju untuk kunjungan ke Penjara Nusa Kambangan.
Jumlah kami cukup besar lebih kurang 40 orang. Saya dan istri di dampingi Romo Yance Mangkey, MSC. Kami tiba Jumat sore di Cilacap dan langsung menuju Gereja. Di sana sudah menunggu beberapa romo, di bawah koordinasi Romo Carolus dan Romo Suratman SJ. Ada juga penyanyi Indonesia Idol Edo. Kami sempat disuguhi makan malam yang enak sekali khas Cilacap, lalu kami menuju hotel untuk istrahat.
Rombongan utama sudah tiba sehari sebelumnya, lalu melakukan ziarah ke Goa Maria di Cilacap. Sabtu pagi kami akan masuk ke Nusa Kambangan. Rombonga tiba di daerah steril untuk menyebrang. Kami didampingi rombongan KKT (Kelompok Kasih Tuhan) yang sudah biasa melayani di Penjara Nusa Kanbangan. Tidak ketinggalan rombongan Keuskupan Purwokerto, di bawah pimpinan bapak Uskup Mgr. Soenarko dan didampingi dua pastor. Romo Carolus kebingungan juga karena jumlah rombongan lebih dari biasanya. Untung sekali ijin masuk diberikan berkat kerja keras KKT dan Paroki Cilacap.
Rombongan kita bagi enam untuk masing-masing penjara ( ada 7 penjara tetapi kita hanya masuk 6, karena ada 1 tahanan khusus tidak boleh di kunjungi). Di enam penjara, kami mengadakan Misa Kudus. 5 penjara biasa dipimpin oleh pastor. Saya di penjara keenam namanya SMS (Special Maximum Security) yang misanya dipimpin konselebran bapa Uskup Mgr. Soenarko, Romo Suratman.
Penjara SMS adalah para napi yang menerima hukuman mati dan menunggu waktu eksekusi saja. Misa berjalan sangat terharu sekali. Bayangkan, kami bersama lebih kurang 40 Napi Katolik dan Protestan yang akan segera di hukum mati. Saat Komuni bapa uskup mengumumkan bahwa hari ini siapa saja boleh menerima Komuni (baik Katolik, Protestan atau yang Budha dan Islam).
Setelah misa selesai lalu diisi dengan nyanyian-nyanyian rohani, lalu dilanjutkan makan siang di Gereja Induk di luar penjara. Acara ini diliput oleh Majalah Hidup secara lengkap (Apakah diliput Hati Baru atau Warta Kristo ?)
Mungkin Romo Yance Mangkey, MSC bisa menambah cerita, atau ibu-ibu peserta. Khususnya Ibu Sisca Wiyasa, yang aktivis dan pejuang HIV-Aids dari Lions Club Jakarta Mitra Mandala bisa memberikan kesaksian di sini (Peserta banyakan dari Paroki Santo Kristoforus)
Penjara, memang memiliki suatu konotasi menakutkan. Saya sudah pernah mengikuti pelayanan ke penjara-penjara biasa, tapi pengalaman ke Nusa Kambangan sungguh luar biasa.
Penjara dalam kehidupannya memberikan kesempatan manusia bersalah untuk bertobat atau untuk Rutan sementara. Tapi buat SMS, hanya kematian dan menanti kematian adalah peristiwa yang sangat mengerikan. Bayangkan Kristus di Getsemani yang berdoa. Dengan keluarnya peluh dan darah, Yesus mempersiapkan kematian-Nya.
Buat kehidupan rohani kita, penjara menjadi bagian yang penting, karena karena Roh penurut tapi Badan Lemah, sehingga kita membutuhkan sesuatu kondisi untuk mengawal kehidupan kita.
Namun demikian, kita perlu memberikan dukungan iman kepada orang yang di penjara. Bagaimana pun mereka juga manusia dan dalam kebersamaan tersebut kita saling menguatkan. Kita berdoa bersama dan memberi penghiburan. Doa orang yang dipenjara didengar oleh Allah.

Sapu Lidi

Sapu lidi daun kelapa, jiwa manis mau disapa!

Sapu lidi digunakan dua kali dalam upacara pernikahan Sunda, yang pertama pada saat upacara Ngeuyeuk Seureuh dimana kedua calon pengantin dikeprak (dipukul perlahan) dengan sapu lidi diiringi nasihat dalam hidup berumah tangga harus dapat memupuk kasih sayang antara suami istri dan giat berusaha untuk kesejahteraan keluarga. Dan yang kedua adalah pada ritual Meuleum Harupat (membakar lidi) saat pengantin pria memegang lidi yang lalu dibakar oleh pengantin wanita. Ketika lidi sedang terbakar, pengantin wanita menyiramnya hingga padam. Nyala lidi diibaratkan sebagai amarah laki-laki yang padam ketika disiram kelebutan seorang wanita. Makna yang terkandung adalah sifat pemarah seorang pria harus dihilangkan sebelum berumahtangga.

Ibuku menjalin 10 lidi, lalu dianyam rapi, diikat dan dikasih pita indah sekali, tapi aku takut sekali melihatnya, karena anyaman sapu lidi ini dipakai untuk mukul sekaligus buat nyabet kita-kita anak-anaknya yang nakal. Tetapi, kenangan dipukul ibu dengan sapu lidi tetap melekat di hatiku sampai sekarang dan rindu sekali. Kadang air mataku berlinang saat membayangkan dipukul ibu dengan sapu lidi.
Pada perjalanan kembali ke Jakarta, kami mampir di Pleret. Aku dan suamiku Irfan serta dua anakku Jenifer dan Jesica, mau beli oleh-oleh berupa makanan kecil dan barang-barang antik. Suamiku memilih celengan dua buah buat anak-anak. Aku borong sapu lidi karena pulang ke rumah siap-siap capek membersihkan rumah. Kualitas sapu lidi bagus sekali. Entah mengapa sapu lidi selalu ada di samping ranjangku. Mungkin karena suamiku jorok jadi banyak pasir di tempat tidur, jadi selalu kubersihkan pakai sapu lidi.
Sapu Lidi adalah lagu kesayanganku, selain Kroncong Morisko dan Bengawan Solo. Kemarin aku bersama anak-anakku cari sampu lidi buat bersih-bersih taman yang penuh daun dan kotoran. Sapu lidi itu bagian dari pembantu. Mereka kompak kuat bersatu dan baik adanya. Aku kira sapu lidi cuma ada di Indonesian, ternyata di Paddys Market Sydney banyak juga yang jual. Aku beli buat persiapan di rumah untuk bersih bersih.
Sapu lidi di rumahku habis, kepala pusing juga, cari di mana di Jakarta ini. Aku ke hypermart ada juga di sana tinggal 1 saja. Boleh jugalah tapi sampai di kasir, seorang ibu menyapaku dengan senyum manis. Ternyata dia sudah beberapa hari cari sapu lidi tidak dapat, lalu dengan belas kasihan dia minta agar sapu lidiku bisa dibelinya. Aduh ibu! Aku juga dapat satu saja, tapi baiklah aku berkorban. Akhirnya aku kasih juga sapu lidiku satu satunya. Dalam hati aku kesel juga.
Gara-gara para PRT pulang kampung, ibu-ibu dan bapak-bapak jadi kenal sapu lidi, yang menjadi bagian dari bersih-bersih rumah. Memang Tuhan memberikan kita pohon kelapa. Mulai dari pohonnya, buahnya sampai daunnya dan lidinya menjadi bagian dari bersih-bersih.
Tugas berat kita dalam kehidupan rohani adalah menyapu bersih hati nurani kita dari kotoran-kotoran yang mencederai kehidupan rohani kita. Juga ia memberikan kita kelegaan hati seperti halnya kita habis mandi membersihkan badan kita.
Sapu lidi rohani, diambil dari pohon-pohon keyakinan yang ditanam dalam hati kita. Ia dianyam rapi. Ia baik sekali untuk menyapu atau seperti sapu lidi anyaman ibuku, cukup melihat aku takut, jadi cukup di taruh di hati sudah bisa menjadi pengawas agar aku tidak nakal lagi.
Sapu lidi, dalam perjalanan ribuan tahun membantu kita manusia. Dari bagian bersih-bersih, perlu juga kita taruh di batin kita sebagai bagian dari pekerjaan rumah Tuhan, yaitu tubuh kita. Salam dan doaku menyertai. Jangan lupa beli sapu lidu buat hadiah ibu di rumah.

Garam

Kalau garam sudah tidak asin lagi, dibuang saja!

Seniman mengenakan gaun nasional Belarusia memegang roti dan garam karena mereka bertemu dengan para peserta festival budaya berbagai etnis yang tinggal di Belarus, di kota Grodno, Belarus, Jumat, 13 Juni, 2008. Perwakilan dari lebih dari seratus kebangsaan tinggal di Belarus. (AP Photo / Sergey Grits)

Hari masih subuh, aku sudah dijemput di Hotel JW Mariott Surabaya oleh kawan dari perusahaan Garasindo. Kami akan menuju Madura melihat lokasi ladang garam. Bersamaku ada dua kawan dari perusahaan minyak di Daerah Duri, Pekan Baru. Misi kami adalah kunjungan tidak resmi dan rencana pengolahan garam industri untuk perminyakan, karena tanpa garam mobil kita tidak ada bensin. Tidak bisa jalan karena garam adalah salah satu bagian proses pembuatan minyak selain OWS Barite dan mineral lainnya.
Masih ingat Es Lilin atau Es Puter? Bagaimana cara buatnya? Gampang ada ember kecil dari aluminium diisi adonan susu, coklat, santan, gula, vanila, dan garam lalu di luarnya dikasih ss batu dan garam. Semakin banyak garam semakin cepat jadinya es puter kita, lalu ember di puter-puter (kalau yang jualan sudah didesign). Diputar-diputar terus dan ajaib 60 menit berlalu, adonan di dalam ember aluminium kita sudah beku, dan harus diaduk supaya halus, dan siap dihidangkan nikmat dan asyik. Kok pakai garam??
Buat ibu-ibu, tukang masak, tukang ketoprak sampai bakso atau soto semua menggunakan garam. Tanpa garam semuanya hambar.

Jadilah garam dunia!
Bagaimana kita jadi garam? Yang gampang saja. Garam banyak sekali gunanya, mulai dari industri minyak, gas, makanan, pengawet, ikan asin , telor asin, sampai sayur asin. Garam sangat berguna. Garam membuat manusia menikmati makanan. Jadi, kalau kita menjadi garam artinya kita menjadi penyedap masakan rohani. Membuat orang senang adalah ibadah. Jika tanpa garam maka kita juga tidak beribadah. Kehidupan rohani mutlak harus menjadi asin. Ia juga harus awet dan tidak mudah rusak. Berbagi adalah makanan rohani yang bila dilaksanakan akan lebih sedap untuk disantap dalam pengalaman komunitas apapun.
Sudah dua bulan lebih Thomas meninggalkan rumah untuk tugas kantor. Anak-anaknya masih kecil. Istrinya harus berhenti kerja untuk jaga anak-anak. Thomas sangat sayang anak dan istrinya. Mereka aktif ke gereja, namun berita buruk diterima istri Thomas, karena Thomas dipulangkan lantaran kena bagian penyusutan karyawan berupa PHK.
Keluarga muda ini sedih sekali. Mereka hampir putus asa karena mencari pekerjaan tidaklah mudah. Berkat doa, mereka sangat dikuatkan dan Thomas tetap aktif di gereja. Ia sering membantu pelayanan orang sakit. Ia juga tabah dalam menghadapi prahara rumah tangga. Situasi dan kondisi Thomas, sampai tahap tertentu, menjadi garam bagi keluarga dan tetangganya.
Menjadi garam dunia memang tidak mudah, karena banyak faktor luar yang ingin garam tersebut menjadi tawar.Demikian doa akan menjadi bagian yang tidak terlepas dari garam dunia.
Saya sendiri juga masih penuh pertanyaan tentang Perumpamaan Garam karena garam pada jaman itu, hampir hanya dipergunakan untuk masak dan pengawetan ikan asin. Fungsinya belum menjadi campuran lain seperti obat bahan peledak, pupuk, bahan baku kimia, dan industri minyak.
Jadi kesimpulan saya, yang dimaksud garam identik sekali dengan ibadah menyenangkan hati orang lain, baik dalam keluarga maupun persahabatan, sehingga hubungan cinta menjadi hangat dan mesra. Kalau hubungan itu hambar, maka mutlak kita harus menjadi garam demikian air laut asin adanya. Saya ingin bercerita tentang garam. Tentu Gereja akan mengambil bagian menjadi garam! Atau mungkin ada cerita lain?

Teamwork

Kerja sama antara jiwa, roh dan raga, memang perlu!

Saya masih ingat pelatih dan mantan pemain sepak bola Jerman Frans Beckenbauer berkata : Kekuatan kesebelasan Jerman terletak pada team work di lapangan dan di luar lapangan, tetapi intinya kesebelasan ini punya Roh Kudus (holy spirit).
Suatu kejadian yang sangat memalukan wajah olah raga Indonesia adalah didiskualifikasinya tim bulu tangkis putri, karena bermain undur-undur (myrmeleontidae) di Olympiade London pekan lalu. Ini bukti kerja sama tim yang kompak banget, termasuk pelatihnya. Seandainya saja salah satu pemain menolak, atau pelatih atau ketua tim tidak mau, maka kejadian ini tidak mungkin terjadi.
Team work selain kita jumpai dalam dunia olah raga. Kita juga kenal di dunia business seperti rumah sakit di mana antara perawat, dokter dan pasien perlu kerja sama yang baik.
Dunia business, terutama bagian pemasaran (marketing) harus paling kompak kerja sama dengan operasi, HRD dan keuangan. Kalau salah satu kerja samanya putus, maka fatal adanya. Sebagai contoh kejatuhan kerajaan perusahaan Lehman Brothers beberapa tahun lalu. Masalah utamanya karena tidak adanya sinkronisasi kerja sama atau terutama di dalam kerja sama bidak keuangan dan operasional.
Sebuah Iklan di TV menawarkan produk multivitamin dan suplemen yang bisa menyembuhkan penyakit. Klinik Tong Fang (Dong Feng) yang bisa menyembuhkan segala macam penyakit. Dikatakan bahwa menyembuhkan satu penyakit saja harus dilakukan suatu koordinasi team work yang kuat termasuk dokter, suster, peralatan dan obat-obatannya. Sebaliknya, kebiasaan kita memang suka hal-hal yang sederhana. Kalau perlu tidak usah ada kerja sama. Kita maunya sendiri sendiri. Ini amat berisiko dalam urusan apapun.
Kehidupan rohani kita di mulai dengan kerja sama dalam diri kita. Seluruh panca indra yang menjaga kesehatan, anggota tubuh, jiwa dan raga serta roh kita. Coba bayangkan satu bagian saja menolak perintah otak kita. Walahualam! Sekarang masalahnya adalah bagaimana membuat team work hati kita bisa bekerja sama secara serasi, harmonis dan penuh cinta.
Langkah pertama adalah mau mengerti orang lain, lalu mengerti diri sendiri. Ini adalah cetak biru (blue print) keharmonisan. Langkah kedua adalah meletakkan langkah-langkah kita dalam nilai positif. mulai dari kata-kata, tingkah laku dan kebiasaan. Niscaya luar biasa hasilnya. Langkah berikutnya boleh menjalankan hidup secara sederhana, penuh cinta kasih, penuh doa dan pengharapan. Setelah langkah-langkah tersebut kita jalankan mari kita pikirkan kerja sama jiwa raga dan roh. Sehingga lingkungan kita sungguh indah dan sehat adanya.