Category Archives: Uncategorized

Antara Waktu Itu Ada Kebijaksanaan

Cerpen nomor 0080

Oleh: Adharta
Ketua umum
KRIS

29 Mei 2026

Jalanku

Hujan di ujung senja langit sore di kota kecil Brebes itu tampak kelabu. Awan menggantung rendah seolah menyimpan ribuan cerita yang belum sempat diucapkan. Di sebuah halte tua dekat taman kota, seorang pemuda bernama Surya duduk sendirian sambil memandangi jalanan yang mulai basah oleh gerimis.

Tas lusuh tergantung di bahunya. Di tangannya terdapat buku catatan yang sudut-sudutnya sudah mulai robek. Setiap hari, sepulang bekerja di toko fotokopi, Surya selalu datang ke halte itu. Bukan karena ia menunggu bus, melainkan karena tempat itu memberinya ketenangan. Surya memiliki mimpi sederhana. Ia ingin menjadi penulis. Namun kehidupan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ayahnya telah lama meninggal, sedangkan ibunya bekerja menjahit pakaian untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karena itu, Surya memilih bekerja setelah lulus sekolah demi membantu keluarganya. Meski begitu, ia tidak pernah berhenti menulis.

“Suatu hari nanti, tulisanku pasti akan dibaca banyak orang,” gumamnya pelan. Gerimis berubah menjadi hujan. Orang-orang mulai berlari mencari tempat berteduh. Di tengah suasana itu, seorang gadis datang sambil membawa payung biru muda. Rambutnya sedikit basah terkena hujan.

“Boleh duduk di sini?” tanyanya ramah. Surya mengangguk pelan. “Silakan.”

Gadis itu duduk di sampingnya. Ia meletakkan beberapa buku di pangkuannya lalu menghela napas panjang.

“Hujannya tiba-tiba sekali,” katanya. “Iya,” jawab Surya singkat.

Beberapa detik suasana menjadi hening. Surya kembali membuka buku catatannya, sementara gadis itu memperhatikannya diam-diam. “Kamu suka menulis?” tanyanya kemudian.

Surya sedikit terkejut. “Lumayan.” “Boleh lihat?” Surya ragu sesaat, tetapi akhirnya menyerahkan buku itu. Gadis itu membacanya. Matanya tampak serius menelusuri setiap kalimat yang tertulis dengan tinta hitam. Dia terlihat menikmati bacaannya.

“Bagus,” katanya setelah beberapa menit.
Surya tersenyum kecil. “Cuma tulisan biasa.”
“Tidak,” balas gadis itu. “Tulisan yang bagus selalu lahir dari perasaan yang jujur.”
Surya menatapnya sejenak. Baru kali itu ada orang asing yang memuji tulisannya dengan sungguh-sungguh.
“Oh ya, aku Esther,” katanya sambil mengulurkan tangan.
“Surya.”

Sejak hari itu, mereka sering bertemu di halte yang sama. Esther ternyata bekerja di perpustakaan kecil dekat pusat kota. Ia sangat menyukai buku dan sering menghabiskan waktunya membaca novel. Kadang mereka berbicara tentang mimpi, kadang tentang kehidupan yang tidak selalu ramah.

“Aku iri sama orang yang tahu tujuan hidupnya,” kata Esther suatu malam.
“Kenapa?”
“Karena aku sendiri masih bingung.”
Surya tertawa kecil. “Aku juga bingung.”
“Tapi kamu punya mimpi jadi penulis.”
“Mimpi belum tentu jadi kenyataan.”
Esther menatap langit malam yang dipenuhi lampu kota. “Kalau tidak dicoba, kita tidak akan pernah tahu.” Kata-kata itu terus teringat di kepala Surya.

Beberapa minggu kemudian, Esther membawa sebuah amplop cokelat.
“Apa ini?” tanya Surya.
“Lomba cerpen nasional. Aku lihat pengumumannya di perpustakaan.”
Surya langsung menggeleng. “Aku tidak mungkin ikut.”
“Kenapa?”
“Aku bukan siapa-siapa.”
Esther tersenyum tipis. “Semua orang besar juga mulai dari bukan siapa-siapa.”
Surya terdiam.
“Aku percaya tulisanmu bagus,” lanjut Esther.
“Kamu cuma kurang percaya pada dirimu sendiri.”

Malam itu Surya pulang dengan pikiran penuh kebimbangan. Ia duduk di meja kecil kamarnya lalu menatap lembar kosong di depan mata. Suara mesin jahit ibunya terdengar dari ruang depan.

“Ada apa?” tanya ibunya.
“Tidak apa-apa.” Ibunya menghampiri sambil membawa teh hangat.
“Kalau ada masalah, cerita saja.” Surya tersenyum lemah.
“Bu… menurut Ibu, orang seperti aku bisa jadi penulis?”
Ibunya menatapnya lama sebelum menjawab, “Kalau kamu sungguh-sungguh, kenapa tidak?”

Jawaban sederhana itu membuat dada Surya terasa hangat. Malam itu ia mulai menulis. Ia menulis tentang kehidupan, tentang hujan, tentang kesepian, dan tentang harapan yang diam-diam tumbuh di hati manusia. Ia menulis sampai larut malam tanpa menyadari waktu. Hari-hari berikutnya dipenuhi kesibukan. Sepulang kerja, Surya langsung menulis.

Esther sering menemaninya di perpustakaan sambil memberi masukan. “Kamu harus lebih berani memainkan emosi tokohnya,” kata Esther suatu sore.
“Seperti ini?”
“Ya, lebih hidup.” Surya tersenyum. “Kamu cocok jadi editor.”
“Kalau begitu nanti kamu jadi penulis terkenal, aku editornya.”
Mereka tertawa bersama.

Di tengah perjuangannya, Surya bertemu dengan Fanny, pemilik toko buku bekas dekat pasar lama. Usianya sekitar lima puluh tahun, tetapi sifatnya hangat dan penuh semangat. Fanny suka membaca tulisan Surya setiap kali ia datang ke toko.

“Kamu punya bakat,” katanya suatu hari. Surya tertawa kecil.
“Semua orang bilang begitu, tapi belum tentu nyata.”
Fanny menggeleng pelan. “Masalah terbesar anak muda sekarang bukan kurang bakat, tapi terlalu cepat menyerah.”

Kalimat itu menancap kuat di hati Surya. Fanny kemudian mengambil sebuah buku tua dari rak paling atas.

“Dulu ada penulis terkenal yang sering datang ke sini,” katanya.
“Naskahnya ditolak berkali-kali sebelum akhirnya terkenal.”
“Benarkah?”
“Iya. Jadi jangan takut gagal. Apalagi kalau belum mencoba.”
Sejak saat itu, Surya semakin bersemangat.

Akhirnya hari pengumpulan lomba tiba. Dengan tangan gemetar, Surya mengirim cerpennya melalui email perpustakaan. “Selesai,” katanya lega.

Esther tersenyum lebar. “Aku bangga sama kamu.”
“Belum tentu menang.”
“Yang penting kamu sudah mencoba.”

Hari-hari setelah itu terasa panjang. Surya kembali bekerja seperti biasa, tetapi pikirannya terus dipenuhi rasa penasaran. Sampai suatu pagi, Esther datang ke toko fotokopi dengan wajah panik. “Surya!”
“Ada apa?”
“Kamu menang!”

Surya terdiam. “Apa?”
“Kamu juara dua lomba cerpen nasional!”
Beberapa pelanggan menoleh ke arah mereka. Surya bahkan merasa sulit bernapas.
“Jangan bercanda.”
“Aku serius!” Esther menunjukkan layar ponselnya. Nama Surya benar-benar tercantum di sana.

Tangannya gemetar saat membaca pengumuman itu. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia merasa mimpinya benar-benar mungkin tercapai.

Malam harinya, Surya pergi ke toko buku bekas milik Fanny. “Aku menang,” katanya pelan.
Fanny tersenyum bangga. “Nah, kan? Aku bilang apa.”
“Terima kasih.”
“Jangan berterima kasih padaku. Berterima kasihlah pada dirimu sendiri karena tidak menyerah.”

Surya mengangguk pelan. Beberapa bulan berlalu. Tulisan Surya mulai dimuat di beberapa majalah kecil. Meski penghasilannya belum besar, ia merasa lebih hidup daripada sebelumnya. Namun di tengah kebahagiaan itu, Esther tiba-tiba menghilang. Ia tidak datang ke halte, tidak muncul di perpustakaan, bahkan nomor teleponnya tidak aktif.

Surya mulai khawatir. Suatu hari ia akhirnya bertemu penjaga perpustakaan. “Esther pindah kota,” kata pria itu.
“Pindah?”
“Iya. Katanya ikut keluarganya.” Surya terdiam lama. “Dia titip ini buat kamu.”

Pria itu menyerahkan sebuah amplop putih. Dengan tangan gemetar, Surya membukanya. Di dalamnya terdapat surat tulisan tangan.

“Surya, Kalau kamu membaca surat ini, berarti aku sudah pergi. Maaf karena tidak sempat berpamitan langsung. Aku harus ikut keluargaku pindah ke luar kota. Aku cuma ingin bilang satu hal. Jangan berhenti menulis. Dulu kamu pernah bilang takut bermimpi terlalu tinggi. Tapi sekarang kamu sudah membuktikan bahwa mimpi itu bisa dikejar. Suatu hari nanti, saat bukumu terbit, aku yakin banyak orang akan merasa ditemani oleh tulisanmu.
Tetaplah jadi Surya yang percaya pada harapan.”
— Esther.

Surya membaca surat itu berulang kali. Ada rasa sedih yang sulit dijelaskan, tetapi juga rasa syukur karena pernah mengenal seseorang seperti Esther. Hujan turun lagi sore itu. Surya kembali duduk di halte tua tempat pertama kali mereka bertemu.

Suasana masih sama. Bangku kayu itu masih sedikit rapuh, lampu jalan masih berkedip samar. Bedanya, kini Surya tidak lagi datang sebagai pemuda yang takut pada mimpinya. Ia membuka buku catatan lalu mulai menulis. Tentang hujan.

Tentang pertemuan. Tentang seseorang bernama Esther yang mengajarinya percaya pada diri sendiri. Dan tentang hidup yang terkadang membawa orang datang hanya untuk meninggalkan pelajaran berharga.

Di kejauhan, suara hujan terdengar seperti irama lembut yang menemani malam. Surya tersenyum kecil. Perjalanan hidupnya mungkin masih panjang, tetapi kini ia tahu satu hal pasti. Mimpi tidak akan pernah menjadi nyata jika seseorang berhenti mencoba.

www.kris.or.id

“Witing Trisno Jalaran Kulino”

Cerpen nomor 0079

Oleh: Adharta
Ketua umum
KRIS

28 Mei 2026

Buat sahabatku

Kisah Dewi dan Panji: Antara Cinta, Kesetiaan, dan Luka yang Tak Terucap

Cintaku.
Lima tahun pernikahan bukanlah waktu yang singkat bagi Dewi dan Panji.

Mereka telah melalui banyak hal bersama. Tawa hangat, tangis yang diam-diam diseka, serta perjuangan membangun rumah tangga yang mereka impikan sejak muda.

Dari pernikahan itu, lahirlah dua putri cantik: Mira dan Rina. Dua bintang kecil yang menjadi sumber kebahagiaan sekaligus penguat saat hidup terasa berat.

Panji, seorang guru SMA yang sederhana dan penuh dedikasi, selalu pulang dengan wajah lelah namun penuh cinta untuk keluarganya. Ia mengajarkan bukan hanya ilmu di sekolah, tetapi juga nilai kehidupan di rumah.

Sementara Dewi, istrinya, adalah perempuan tangguh yang bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan tambang besar. Ia dikenal cerdas, disiplin, dan memiliki loyalitas tinggi. Kariernya melesat cepat, terlebih karena ia bekerja di bawah pimpinan Robby, teman SMA-nya di Surabaya.

Hidup mereka terlihat sempurna dari luar. Rumah mewah berdiri megah di kawasan Puri Kembangan. Mobil yang terparkir di garasi adalah bukti kerja keras Dewi. Secara materi, mereka tak pernah kekurangan. Bahkan, di masa pandemi yang membuat banyak orang terpuruk, perusahaan tempat Dewi bekerja justru berkembang pesat.

Permintaan batu bara melonjak, baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor. Namun, di balik semua itu, ada sesuatu yang perlahan berubah. Dewi semakin sibuk. Pekerjaannya menuntut waktu dan tenaga lebih. Dewi sering pulang larut, bahkan tak jarang menginap karena harus menemani rapat atau kunjungan luar kota bersama Robby.

Awalnya, Panji memaklumi. Ia memahami tanggung jawab istrinya. Ia memilih diam, mengurus anak-anak, memasak, bahkan sesekali menggantikan peran ibu di rumah.

“Tugas Ayah bukan hanya mencari nafkah, tapi menjaga keluarga,” katanya suatu malam sambil menyelimuti Mira dan Rina yang sudah terlelap. Namun, waktu berjalan, dan perasaan itu mulai tumbuh.

Bukan marah. Bukan juga benci. Tapi ada yang ganjil. Ada jarak yang tak terlihat antara dirinya dan Dewi. Sementara itu, di sisi lain, Robby mulai jatuh sakit. Kondisinya cukup serius hingga membuatnya harus banyak beristirahat. Sebagai orang kepercayaan, Dewi diminta untuk membantu menjalankan perusahaan sementara waktu. Tanpa ragu, Dewi menerima.

Baginya, Robby bukan hanya atasan. Ia adalah sosok panutan: cerdas, tegas, dan baik hati. Entah mengapa, pria itu tak pernah menikah, meskipun memiliki segalanya: kekayaan, jabatan, dan kepribadian yang menarik.

Dalam masa sakit itu, Dewi semakin sering berada di sisi Robby. Ia merawat, menemani, bahkan sesekali menginap di rumah Robby yang kebetulan tak jauh dari rumahnya sendiri.

Awalnya, semua terasa wajar. Namun lama-kelamaan, ada sesuatu yang berubah. Perasaan yang tak diundang mulai tumbuh. Mungkin benar kata orang Jawa: witing tresno jalaran saka kulino,
cinta datang karena terbiasa. Dewi sendiri tak mampu menjelaskan apa yang ia rasakan.

Di satu sisi, ia mencintai Panji, suaminya yang setia dan sabar. Namun di sisi lain, kehadiran Robby menghadirkan perasaan baru yang asing, namun hangat.

Sementara Panji, meski tak banyak bicara, mulai merasakan hal yang sama. Kecemasan. Kecurigaan.
Dan rasa kehilangan. Beberapa teman Panji bahkan mulai mengingatkannya. “Ji, hati-hati. Istrimu terlalu dekat dengan atasannya.”

Panji hanya tersenyum hambar. “Aku percaya Dewi,” jawabnya singkat, meski dalam hatinya bergemuruh.

Pertengkaran kecil mulai sering terjadi. Hal-hal sepele menjadi besar. Waktu yang dulu penuh canda kini sering diisi diam.

Suatu malam, Panji menunggu Dewi pulang. Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Saat pintu terbuka, Dewi masuk dengan wajah lelah.

“Kamu dari mana?” tanya Panji pelan.
“Di rumah Pak Robby. Dia butuh ditemani,” jawab Dewi singkat.
“Selalu begitu,” gumam Panji.
“Apa maksudmu?” Dewi mulai tersulut.
“Aku cuma suamimu, atau aku sudah jadi orang asing di rumah ini?”

Dewi terdiam. Tak ada jawaban. Sejak malam itu, jarak semakin terasa nyata. Lalu datang kabar yang mengubah segalanya. Dewi hamil anak ketiga.

Awalnya, Panji bahagia. Ia mengira ini adalah kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Mungkin dengan kehadiran anak baru, keluarga mereka akan kembali utuh. Namun, kebahagiaan itu tak bertahan lama. Karena suatu hari, dengan suara bergetar dan air mata yang tak terbendung, Dewi berkata: “Panji… aku harus jujur… anak ini… bukan anakmu…”

Dunia Panji runtuh seketika.
Ia diam.
Tak marah.
Tak berteriak.
Hanya diam.
Air matanya jatuh perlahan.

“Anak siapa?” suaranya lirih.
Dewi tak mampu menatap. “Robby…”
Nama itu seperti petir di siang bolong.

Panji menutup wajahnya. Seluruh kenangan lima tahun pernikahan berputar di kepalanya. Tawa Mira, tangisan Rina, senyum Dewi di hari pernikahan mereka. Semua terasa seperti mimpi yang hancur.

“Aku salah, Panji…” Dewi menangis.
“Terlambat,” jawab Panji pelan.

Tak ada lagi yang bisa diperbaiki. Cinta yang dulu hangat kini berubah menjadi luka. Dengan berat hati, Panji mengambil keputusan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia menceraikan Dewi.

Bukan karena ia tak cinta. Justru karena ia terlalu cinta, dan tak sanggup hidup dalam kebohongan.
Hari itu, rumah mereka terasa sunyi.

Mira dan Rina belum sepenuhnya mengerti apa yang terjadi. Mereka hanya tahu, ibu mereka tak lagi tinggal bersama.

Panji tetap menjadi ayah yang kuat. Ia bangun pagi, menyiapkan sarapan, mengantar anak-anak sekolah, lalu pergi mengajar seperti biasa. Namun di balik semua itu, ada hati yang retak.

Sementara Dewi… Ia hidup dengan penyesalan. Robby yang semakin lemah tak lagi mampu menjadi sandaran.

Perusahaan tetap berjalan, tapi hati Dewi kosong. Ia mendapatkan apa yang dulu ia pikir penting
kedekatan, perhatian, mungkin cinta. Namun ia kehilangan segalanya yang sejati. Keluarga. Suami.

Anak-anak yang kini hanya bisa ia temui dalam waktu terbatas. Kadang, di malam hari, Dewi duduk sendiri, mengusap perutnya yang semakin membesar. Air matanya jatuh tanpa suara.
“Maafkan Mama…” bisiknya.

Kisah ini bukan tentang siapa yang benar atau salah. Ini tentang manusia yang lemah, yang bisa jatuh, yang terkadang terlambat menyadari arti kesetiaan. Tentang cinta yang diuji oleh waktu dan jarak. Dan tentang pilihan yang membawa konsekuensi.

Di suatu sore, Panji duduk di teras rumah, melihat Mira dan Rina bermain. Mereka tertawa.
Dan untuk sesaat, Panji ikut tersenyum. Karena meskipun hatinya pernah hancur, hidup harus tetap berjalan.

Dan cinta… kadang tidak hilang. Ia hanya berubah bentuk. Menjadi kenangan. Yang tak akan pernah benar-benar pergi.

Www.kris.or.id

Langkah Robert di Kota Tanpa Tidur

Cerpen nomor 0078

Oleh: Adharta
Ketua umum
KRIS

Minggu ketiga Mei 2026

Buat sahabatku Robert.

Langit Jakarta sore itu tampak kelabu, seolah ikut merasakan beban di dada Robert.

Robert berdiri di halte bus, memegang map lusuh berisi ijazah dan beberapa lembar CV yang sudah berkali-kali ditolak. Hari itu, penolakan ke-17. “Maaf, kami akan hubungi jika ada peluang,” kata HRD tadi siang. Kalimat yang sudah terlalu sering ia dengar, hingga terasa seperti gema yang tak berujung.

Robert baru saja lulus dari sebuah universitas swasta di Jakarta. Bukan kampus ternama, tapi ia lulus dengan kerja keras. Robert anak pertama dari tiga bersaudara, dari keluarga sederhana di kota kecil di Jawa Barat. Ayahnya sakit-sakitan, ibunya membuka warung kecil di rumah. Harapan keluarga bertumpu padanya. Namun Jakarta tidak pernah mudah.

Di sebuah kamar kos sempit wilayah Grogol Jakarta barat Berukuran 3×3 meter, Robert menatap layar ponselnya. Pesan dari ibunya masuk.

“Robert, adikmu butuh biaya sekolah bulan ini. Ayah juga harus kontrol lagi. Kalau bisa kirim ya, Nak.”

Robert menutup mata. Dadanya sesak. Ia belum punya pekerjaan. Dalam hidupnya, ada dua perempuan yang diam-diam mengisi ruang hatinya.

Yang pertama adalah Clara. Teman kuliah, cantik, pintar, berasal dari keluarga berada. Mereka sering belajar bersama. Clara selalu percaya pada Robert.

“Lu pasti bisa, Rob. Lu itu pekerja keras,” katanya suatu malam di perpustakaan kampus. Robert hanya tersenyum waktu itu. Tapi di dalam hati, ia tahu jarak mereka terlalu jauh. Clara hidup di dunia yang berbeda.

Yang kedua adalah Maya. Tetangga kosnya. Sederhana, hangat, dan penuh perhatian. Maya bekerja sebagai kasir di minimarket jalan Muwardi Raya dekat kos mereka. “Udah makan belum?” tanya Maya hampir setiap malam.

Pertanyaan sederhana yang terasa sangat berarti bagi Robert. Suatu malam, saat hujan turun deras, Robert duduk di depan kos, memandangi jalan yang basah. Maya datang membawa dua gelas mie instan. “Gue tahu lu belum makan,” katanya sambil duduk di samping Robert. Robert tertawa kecil. “Lu cenayang ya?” Maya tersenyum.

“Bukan. Tapi gue ngerti.”

Untuk pertama kalinya, Robert merasa tidak sendirian.

Beberapa hari kemudian, Clara menghubunginya. “Rob, besok ada job fair besar. Gue bisa masukin nama lu buat prioritas interview,” katanya lewat telepon.

Hati Robert berdebar. “Serius, Clara?”

“Iya. Tapi lu harus datang pagi.”

Keesokan harinya, Robert datang dengan harapan besar. Ia mengenakan satu-satunya kemeja rapi yang ia punya. Di sana, ia bertemu Clara. Namun, saat melihat Clara turun dari mobil mewah bersama seorang pria yang kemudian diperkenalkan sebagai tunangannya hati Robert terasa teriris. “Ini Kevin,” kata Clara. Robert tersenyum, menahan sesuatu yang sulit dijelaskan. Saat itu, ia sadar. Cintanya pada Clara harus berhenti. Interview berjalan cukup baik.

Untuk pertama kalinya, Robert merasa ada peluang. Namun hidup tidak berhenti memberi ujian. Saat kembali ke kos, ia melihat Maya sedang menangis. “Kenapa?” tanya Robert panik.

“Gue dipecat… katanya toko mau efisiensi,” jawab Maya dengan suara gemetar. Robert terdiam.

Dua orang yang sama-sama berjuang, kini sama-sama kehilangan arah. Malam itu mereka duduk bersama dalam diam. Hanya suara kipas angin tua yang berputar pelan.

“Rob,” kata Maya pelan, “lu pernah capek nggak?”

Robert tersenyum pahit. “Setiap hari.” “Tapi lu masih berdiri.” “Karena gue nggak punya pilihan.”

Maya menatapnya. Ada sesuatu di matanya sesuatu yang selama ini tak terucap. Hari demi hari berlalu. Uang Robert semakin menipis. Ia mulai makan sekali sehari. Bahkan kadang hanya minum air untuk menahan lapar.

Suatu malam, Robert menerima telepon dari rumah. Ayahnya masuk rumah sakit. Robert gemetar. Ia tidak punya uang. Di titik itu, ia hampir menyerah. Ia duduk di lantai kamarnya, menunduk, air mata jatuh tanpa suara.

“Tuhan… aku sudah berusaha…”

Pintu diketuk. Maya masuk, membawa amplop kecil. “Ini tabungan gue,” katanya. Robert kaget. “Gue nggak bisa nerima ini.”

“Lu harus,” jawab Maya tegas. “Keluarga lu butuh.”

Air mata Robert jatuh lagi kali ini bukan karena putus asa, tapi karena rasa terharu yang dalam.

Dua minggu kemudian, teleponnya berdering dari nomor tak dikenal. “Selamat, Saudara Robert. Anda diterima bekerja di perusahaan kami.”

Robert terdiam. Seperti tidak percaya.

“Benar, Pak?” “Iya. Anda mulai minggu depan.” Dunia seolah berhenti sesaat. Kemudian, air mata itu kembali jatuh. Namun kali ini, air mata kebahagiaan.

Hari pertama kerja, Robert berdiri di depan gedung tinggi di Jakarta. Ia mengenakan kemeja baru hadiah dari Maya. Ia menarik napas dalam. Semua perjuangan, semua air mata, semua rasa sakit tidak sia-sia. Beberapa bulan kemudian, kehidupan mulai berubah. Ia bisa mengirim uang ke rumah.

Ayahnya mulai pulih. Adiknya kembali sekolah.

Suatu sore, Robert duduk di taman kota bersama Maya.

“Lu ingat waktu kita makan indomie bareng?” tanya Robert.

Maya tertawa kecil. “Gimana gue lupa.”

Robert menatapnya dalam. “Gue nggak akan sampai di sini tanpa lu.”

Maya terdiam. “Dan… gue nggak mau jalan sendiri lagi,” lanjut Robert. Maya tersenyum. Air matanya jatuh pelan.

“Gue juga, Rob.” Di kejauhan, langit Jakarta mulai berwarna jingga. Untuk pertama kalinya, kota ini tidak terasa kejam. Karena di balik kerasnya kehidupan, selalu ada harapan.

Dan Robert telah membuktikannya bahwa perjuangan, cinta, dan air mata… pada akhirnya akan menemukan jalannya

Www.kris.ir.id

Podcast Episode: Dr. Christine

Pip: Adharta sits down to watch a Netflix thriller and ends up writing a short story about love, medicine, and loss instead. Relatable pivot, honestly.

Mara: That's the territory today — a piece of short fiction from adharta, number seventy-six in an ongoing series, following a woman named Christine from a childhood in Cirebon all the way to her final afternoon by a window.

Pip: Let's start with Christine herself.

Dr. Christine

Mara: This segment is about what it costs to love someone when one of you is quietly disappearing — and whether love alone is ever enough to hold a life together.

Pip: The story sets Christine up as someone almost luminously warm from the start. The quote that stays with you comes from her as a child: "Kalau senyum, dunia jadi lebih indah, Ma" — if you smile, the world becomes more beautiful.

Mara: And the story earns that line by making Christine's warmth the thing she gives away most freely — to patients, to Alfons, to frightened children in her clinic — even as it quietly drains from her own life.

Pip: She and Alfons meet in a medical school library over an anatomy textbook, which is either the most romantic setting imaginable or a sign that these two were always going to be very serious about everything.

Mara: Their dynamic is drawn carefully. Christine wants to be a pediatrician — she says she wants children to grow up healthy and happy. Alfons wants surgery, the critical moment. The story frames them as different but complementary, and for a while that holds.

Pip: Until Christine starts going quiet. The story describes it as losing herself — "rasanya seperti aku kehilangan diriku sendiri" — and Alfons responds by holding on harder, which is both the right instinct and, it turns out, not enough.

Mara: They try psychiatrists, psychologists, therapy. The distance grows anyway. What the story is careful to say is that the eventual separation is not a failure of love — Alfons tells her, "mungkin ini satu-satunya cara kita saling menyelamatkan." Maybe this is the only way we save each other.

Pip: A divorce framed as a rescue operation. That's a genuinely hard idea to sit with.

Mara: After the separation, Christine keeps practicing. There's a small scene where a child is afraid of a needle and she says, "dulu dokter juga takut" — the doctor used to be scared too. It's a quiet line, but it carries the whole second half of the story.

Pip: She lives alone, grows old, and dies at eighty by a window — the same age as the real friend the author mentions losing, the one he calls mama. The fiction and the memory are clearly wound together here.

Mara: The story closes with her whispering toward someone absent: "Aku harap kamu bahagia." She never regrets loving him. She just learned to let go with grace.

Pip: That's the whole arc — a woman who gave warmth to everyone around her, including the man she had to release, and never stopped.


Mara: What stays is that idea of separation as care — choosing distance because staying would only deepen the wound.

Pip: Love as a form of letting go. More to come from adharta — the series is at seventy-six and counting.

Waktu Datang dan Pergi

Cerpen 0077

Oleh: Adharta
Ketua umum
KRIS

Medio Mei 2026

Empat puluh lima tahun yang lalu, di sebuah gereja di Kelurahan jelambar kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Di gereja sederhana bernama Santo Kristoforus itu, Martin dan Baby mengucapkan janji suci.

Hari itu bukan hanya hari pernikahan, melainkan awal dari sebuah perjalanan panjang yang dipenuhi cinta, harapan, dan kelak air mata.

Martin, pria pekerja keras dengan senyum hangat, menggenggam tangan Baby yang anggun dan lembut.

Lima tahun masa pacaran telah menguji kesetiaan mereka. Banyak badai kecil yang mereka lalui, namun cinta selalu menjadi pelabuhan yang menenangkan. “Dalam suka dan duka…” ucap mereka bersamaan, tanpa pernah benar-benar tahu seberapa dalam arti kata itu.

Tahun-tahun awal pernikahan mereka dipenuhi kebahagiaan. Tuhan menganugerahkan seorang putra dan dua putri yang sehat dan ceria. Rumah mereka selalu dipenuhi tawa, suara langkah kecil, dan doa-doa malam yang dipanjatkan bersama.

Usaha Martin berkembang pesat. Ia dikenal sebagai pengusaha yang jujur dan visioner. Kehidupan mereka berkecukupan, bahkan lebih dari cukup.

Anak-anak disekolahkan hingga ke luar negeri, Singapura dan Australia sebuah kebanggaan yang tak pernah Martin bayangkan saat masa mudanya yang sederhana. Baby, di sisi lain, adalah pilar yang kokoh di rumah. Ia mengatur segalanya dengan penuh cinta.

Ia bukan hanya ibu, tapi juga sahabat bagi anak-anaknya, dan tempat pulang bagi Martin.

Namun hidup, seperti roda, tak selalu berada di atas. Tahun 1998 datang seperti badai besar yang tak diundang. Krisis ekonomi melanda. Satu per satu usaha Martin mulai goyah. Proyek-proyek besar berhenti, mitra bisnis menghilang, dan hutang mulai menumpuk seperti bayangan gelap yang tak bisa dihindari.

Suatu malam, Martin duduk di ruang tamu dengan kepala tertunduk. Tumpukan kertas di depannya bukan lagi laporan keuntungan, melainkan daftar utang.

“Aku gagal, Baby…” suaranya lirih. Baby mendekat, duduk di sampingnya, lalu menggenggam tangannya erat. “Kita tidak gagal, Martin. Kita hanya sedang diuji.” Namun ujian itu terasa sangat berat.

Anak-anak masih kecil, kebutuhan semakin besar, dan biaya sekolah di luar negeri terus berjalan. Martin mencoba bertahan, menjual aset satu per satu. Rumah besar yang dulu penuh kenangan pun harus dilepas. Mereka pindah ke rumah yang lebih sederhana. Tidak ada lagi kemewahan, tidak ada lagi pesta ulang tahun besar.

Yang ada hanyalah keheningan yang sesekali dipecah oleh tangis diam. Baby tetap kuat. Ia mulai membantu dengan berjualan kecil-kecilan. Dari dapur sederhana, ia membuat kue dan menitipkannya ke tetangga. Tangannya yang dulu lembut kini mulai kasar, tapi hatinya tetap penuh cinta.

Martin berubah. Ia menjadi lebih pendiam. Rasa bersalah menghantui setiap langkahnya. Ia merasa telah menjatuhkan keluarganya ke dalam jurang kesulitan. Suatu hari, anak sulung mereka pulang dari luar negeri. Dengan mata berkaca-kaca ia berkata, “Papa, aku bisa berhenti kuliah. Aku bisa kerja bantu keluarga…”

Martin menatap anaknya lama. Hatinya hancur, namun ia menggeleng pelan. “Tidak. Pendidikanmu adalah harapan kita. Papa akan berjuang.” Dan ia benar-benar berjuang. Hari demi hari, Martin mencoba bangkit. Dari nol. Ia memulai usaha kecil, jauh dari gemerlap masa lalunya. Ia belajar kembali, jatuh lagi, bangkit lagi.

Waktu berjalan. Perlahan, kehidupan mulai membaik. Tidak seperti dulu, tapi cukup untuk bernapas lega. Anak-anak pun satu per satu lulus dan mulai bekerja, membantu keluarga. Kebahagiaan sederhana kembali hadir. Makan bersama di meja kecil, tertawa tanpa beban, dan rasa syukur yang kini terasa jauh lebih dalam. Namun takdir kembali mengetuk pintu. Suatu pagi, Baby mengeluh lelah. Awalnya hanya dianggap kelelahan biasa. Tapi hari demi hari, kondisinya memburuk. Setelah pemeriksaan, dokter menyampaikan kabar yang membuat dunia Martin kembali runtuh. Baby sakit. Penyakit yang serius.

Martin memegang tangan istrinya di ruang rumah sakit. “Kita sudah melewati banyak hal, Baby… kita pasti bisa melewati ini juga…” Baby tersenyum, meski wajahnya pucat. “Aku tidak takut… selama kamu di sini.” Hari-hari berikutnya diisi dengan perjuangan yang berbeda. Bukan lagi tentang uang, tapi tentang waktu. Martin setia mendampingi.

Ia yang dulu sibuk di luar rumah, kini tak pernah jauh dari sisi Baby. Mereka mengenang masa lalu. Tentang awal cinta mereka, tentang anak-anak, tentang tawa dan air mata yang telah mereka lalui bersama. “Aku bahagia, Martin…” kata Baby suatu malam. “Walaupun hidup kita tidak selalu mudah… aku tidak pernah menyesal.” Air mata Martin jatuh.

Ia menggenggam tangan Baby lebih erat. “Aku juga… kamu adalah anugerah terindah dalam hidupku.” Beberapa hari kemudian, dalam keheningan pagi, Baby menghembuskan napas terakhirnya. Dunia seakan berhenti. Martin duduk di sampingnya, tak berkata apa-apa. Tangannya masih menggenggam tangan Baby yang kini dingin. Semua kenangan berputar di kepalanya hari pernikahan, tawa anak-anak, perjuangan bersama, dan cinta yang tak pernah pudar. Kepergian itu meninggalkan luka yang dalam. Rumah terasa kosong. Tidak ada lagi suara lembut yang memanggil namanya, tidak ada lagi senyum yang menyambutnya di pagi hari. Namun di balik kesedihan itu, Martin menemukan sesuatu yang baru—makna cinta yang sejati.

Cinta bukan hanya tentang kebahagiaan, tapi tentang kesetiaan dalam penderitaan. Tentang bertahan, tentang menguatkan, dan tentang melepaskan dengan ikhlas. Hari-hari berikutnya, Martin menjalani hidup dengan tenang. Ia lebih banyak berdoa, lebih banyak mengenang. Ia mengunjungi makam Baby, membawa bunga dan cerita-cerita kecil tentang kehidupan yang terus berjalan. Anak-anak kini telah dewasa. Mereka sering berkumpul, mengenang ibunya dengan penuh cinta. Di setiap tawa mereka, ada jejak Baby yang tak pernah hilang. Suatu senja, Martin duduk sendiri di teras rumah.

Angin berhembus lembut, membawa kenangan yang hangat. “Baby…” bisiknya pelan, “Terima kasih untuk segalanya…” Langit perlahan berubah jingga. Dan di dalam hati Martin, meski ada luka, ada juga kedamaian. Karena cinta sejati… tidak pernah benar-benar pergi.

Www.kris.or.id

Dr. Christine

Cerpen nomor 0076

Oleh: Adharta Ketua Umum KRIS

Mei 2026

Sambil duduk di ruang keluarga Saya menikmati nonton film seri judul “Black List” di Netflix.

Namun malam ini pikiranku melayang kepada seorang sahabat yang saya panggil mama. Beliau sudah meninggal 2 tahun lalu di usia hampir 80 tahun.

Kisah Cinta Sejak Kanak-kanak

Christine dikenal sebagai anak yang ceria. Tawanya ringan, matanya berbinar, dan tutur katanya lembut. Di lingkungan kecilnya di Cirebon, ia seperti matahari pagi menghangatkan siapa saja yang berada di dekatnya.

“Christine, kamu ini selalu tersenyum ya,” ujar ibunya suatu pagi sambil merapikan rambutnya. Christine kecil tertawa.

“Kalau senyum, dunia jadi lebih indah, Ma.” Ia tumbuh sebagai anak yang rajin, manis, dan cerdas. Dari bangku SD hingga SMA, prestasinya tak pernah surut. Namun bukan hanya kepandaian akademis yang membuatnya disukai Christine punya kemampuan memahami perasaan orang lain, seakan hatinya memiliki ruang lebih luas dari yang lain. Setelah lulus SMA, Christine melanjutkan pendidikan ke Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Dunia baru terbuka di hadapannya. Di sana, ia bertemu dengan banyak orang hebat dan salah satunya adalah Alfons. Pertemuan pertama mereka terjadi di perpustakaan.

“Maaf, buku Anatomi ini masih dipakai?” tanya seorang pria dengan suara tenang. Christine mengangkat wajahnya. “Oh… sudah selesai. Silakan.”

Pria itu tersenyum. “Terima kasih. Saya Alfons.”

“Christine,” jawabnya singkat, namun senyum kecil muncul tanpa ia sadari. Sejak saat itu, mereka sering bertemu. Belajar bersama, berdiskusi, bahkan saling menguatkan saat masa ujian terasa berat.

Suatu malam, di kampus yang mulai sepi, Alfons berkata pelan, “Christine, kalau nanti kita jadi dokter… kamu mau jadi dokter apa?” Christine menatap langit. “Aku ingin jadi dokter anak. Aku ingin membantu anak-anak tumbuh sehat… dan bahagia.” Alfons tersenyum. “Cocok. Kamu punya hati yang lembut.” “Kalau kamu?” “Aku ingin jadi dokter bedah. Aku ingin menyelamatkan orang di saat paling kritis.” Christine mengangguk. “Kita berbeda, tapi saling melengkapi ya.” Alfons menatapnya lebih lama. “Bukan cuma sebagai dokter…” Christine terdiam, namun hatinya bergetar. Waktu berlalu. Mereka lulus bersama. Alfons melanjutkan spesialis bedah, sementara Christine mengambil spesialis anak. Di tengah kesibukan masing-masing, cinta mereka justru semakin kuat.

Suatu sore, di taman kecil dekat rumah sakit, Alfons menggenggam tangan Christine. “Christine…” suaranya sedikit bergetar, “aku ingin menghabiskan hidupku bersamamu.”

Christine tersenyum lembut. “Aku juga, Alfons.” “Jadi… maukah kamu menjadi istriku?”

Air mata tipis menggenang di mata Christine. “Ya… aku mau.”

Pernikahan mereka sederhana namun penuh kebahagiaan. Hari-hari awal dipenuhi tawa, pelukan, dan harapan. “Selamat pagi, dokter cantik,” bisik Alfons suatu pagi. Christine tersenyum sambil menutup matanya. “Selamat pagi, dokter tampan.” “Apa rencanamu hari ini?” “Menyelamatkan anak-anak kecil,” jawabnya sambil tertawa kecil. Alfons mencium keningnya. “Dan aku menyelamatkan orang dewasa… supaya bisa kembali ke anak-anak mereka.” Hidup terasa sempurna.

Namun perlahan, sesuatu berubah. Christine mulai sering diam. Ia kehilangan semangat yang dulu begitu kuat. Senyumnya menjadi jarang. Matanya sering kosong, seperti menyimpan sesuatu yang tak bisa ia ungkapkan. “Tin, kamu kenapa?” tanya Alfons suatu malam. Christine menggeleng. “Aku… aku tidak tahu.” “Kamu lelah?” “Bukan hanya lelah… rasanya seperti… aku kehilangan diriku sendiri.” Alfons memegang tangannya erat. “Kita cari bantuan, ya. Aku tidak akan meninggalkanmu.” Mereka mulai mendatangi berbagai dokter. Psikiater, psikolog, terapi semua usaha dicoba. Namun kondisi Christine tidak kunjung membaik. Dalam hubungan mereka sebagai suami istri, jarak semakin terasa.

“Maaf…” bisik Christine suatu malam, air matanya mengalir. “Aku tidak bisa jadi istri yang baik untukmu.” Alfons memeluknya erat. “Jangan bilang begitu. Kamu adalah bagian dari hidupku.” “Tapi aku menyakitimu…” “Aku yang memilihmu, Tin. Dalam keadaan apa pun.”

Namun kenyataan tidak selalu sekuat kata-kata. Tahun demi tahun berlalu. Hubungan mereka mulai retak, bukan karena hilangnya cinta melainkan karena luka yang tidak kunjung sembuh. Di tahun kelima pernikahan, mereka duduk berdua di ruang tamu. Sunyi. Berat. “Christine…” suara Alfons pelan, “aku sudah berpikir lama.” Christine menunduk. “Aku juga.” Mereka saling menatap. Mata yang dulu penuh cinta, kini dipenuhi kelelahan dan kesedihan. “Aku tidak ingin kehilanganmu,” kata Alfons, “tapi aku juga tidak ingin kita terus saling menyakiti.” Air mata Christine jatuh. “Aku masih mencintaimu, Alfons.” “Aku juga.” “Lalu kenapa rasanya… kita harus berpisah?” Alfons menggenggam tangannya. “Karena mungkin… ini satu-satunya cara kita saling menyelamatkan.” Tangis Christine pecah. “Aku takut sendiri…” Alfons memeluknya erat untuk terakhir kalinya. “Kamu tidak sendiri. Kamu kuat. Lebih kuat dari yang kamu pikir.” “Apakah kamu akan melupakanku?” “Tidak pernah.” Keputusan itu akhirnya diambil.

Perceraian bukan karena benci, tetapi karena cinta yang tak lagi mampu bertahan dalam luka. Setelah perpisahan, Christine memilih hidup sendiri. Ia tetap menjadi dokter anak, mengabdikan hidupnya untuk pasien-pasien kecil yang membutuhkan kasih sayang. Di balik kelemahannya, ia tetap memberi kekuatan kepada orang lain. “Dokter, anak saya takut disuntik…” kata seorang ibu. Christine tersenyum lembut. “Tidak apa-apa… dulu dokter juga takut.” Anak kecil itu menatapnya. “Beneran, bu dok?” “Iya. Tapi kita berani bersama, ya?” Dan seperti biasa, kehangatan Christine mampu menenangkan.

Hari-harinya berjalan tenang, meski sepi. Ia tidak pernah menikah lagi. Kenangan tentang Alfons tetap tinggal di sudut hatinya—tidak pahit, tidak juga manis sepenuhnya. Hanya… kenangan. Di usia senja, rambutnya memutih, langkahnya melambat. Namun matanya tetap lembut seperti dulu. Suatu sore, ia duduk di kursi dekat jendela. Angin pelan menyapa wajahnya. Ia berbisik pelan, seakan berbicara kepada seseorang yang jauh. “Alfons… aku harap kamu bahagia.” Senyum tipis muncul di bibirnya. “Hidup kita tidak berjalan seperti yang kita rencanakan… tapi aku tidak pernah menyesal mencintaimu.” Hari itu, dalam ketenangan yang damai, Christine menutup matanya untuk terakhir kali. Ia meninggal di usia 80 tahun. Tanpa keramaian. Tanpa kesedihan yang berlebihan. Hanya seorang wanita yang pernah mencintai dengan sepenuh hati dan belajar melepaskan dengan keikhlasan. Dan di suatu tempat, mungkin kenangan tentangnya masih hidup. Sebagai Christine seorang dokter, seorang wanita, dan seorang jiwa yang lembut… yang pernah mencintai, meski akhirnya harus merelakan.

Www.kris.or.id

SAKIT: Ketika Tubuh Melemah, Jiwa Diuji

Oleh: Adharta
Ketua Umum
KRIS

9 Mei 2026

Tulisan ini didedikasikan buat sahabat dan keluarga, baik yang sedang sakit maupun yang sehat. Kita semua harus mempersiapkan diri menghadapi kondisi sakit karena setiap insan manusia pasti akan menghadapi kondisi sakit, baik ringan maupun berat, karena itu adalah sinyal dari tubuh agar kita lebih memperhatikan kondisi setiap organ tubuh kita yang selama ini kita abaikan.

Sahabatku,
sakit adalah pengalaman yang tidak pernah benar-benar bisa dipahami, sampai seseorang menjalaninya sendiri. Ia tidak mengenal usia, datang sewaktu-waktu pada yang muda dengan mimpi yang belum selesai, atau mampir pada usia lanjut dengan tubuh yang mulai rapuh. Namun seringkali, yang paling berat bukanlah rasa sakit fisik itu sendiri, melainkan tekanan batin yang menyertainya. Saat seseorang divonis sakit, apalagi penyakit kronis atau akut, dunia seolah berubah seketika.

Ada rasa takut yang sulit dijelaskan. Takut akan masa depan, takut dipecat kalau masih kerja, takut menjadi beban bagi keluarga, takut kehilangan kendali atas hidup.

Pikiran mulai dipenuhi pertanyaan: “Mengapa aku?” dan “Sampai kapan ini berlangsung?” Di titik ini, tekanan jiwa bisa jauh lebih menyiksa dibandingkan rasa nyeri di tubuh yang terbarin di ranjang rumah sakit.

Masalah keuangan juga menjadi beban tambahan yang tidak ringan. Biaya pengobatan yang terus berjalan, kontrol rutin, obat-obatan, hingga kemungkinan rawat inap, seringkali menguras tabungan keluarga.

Bagi mereka yang memiliki asuransi, mungkin memberi sedikit ketenangan. Namun bagi banyak orang, termasuk, yang mengandalkan BPJS Kesehatan, proses yang panjang dan prosedur yang rumit terkadang menambah kelelahan emosional. Ketika seseorang sedang lemah, menghadapi sistem yang tidak sederhana bisa terasa sangat memberatkan.

Di sisi lain, sakit membuka wajah asli hubungan emosional dalam keluarga. Ada keluarga yang menjadi semakin erat, saling menguatkan, hadir tanpa diminta. Tatapan penuh kasih, genggaman tangan, atau sekadar duduk menemani di samping tempat tidur, seringkali menjadi obat yang tak tergantikan.

Namun ada pula kondisi di mana keluarga merasa lelah, bingung, bahkan tidak tahu harus berbuat apa. Di sinilah komunikasi yang jujur dan penuh empati menjadi sangat penting.

Bagi pasien yang dirawat di rumah sakit, penderitaan tidak hanya datang dari penyakitnya saja. Lingkungan yang asing, suara alat medis, bau obat-obatan, dan rutinitas pemeriksaan dapat menimbulkan rasa kesepian yang mendalam.

Malam hari sering menjadi waktu paling berat, meski tubuh terbaring lemah seolah tidur, tapi pikiran tidak bisa berhenti berkelana.

Dalam kesendirian itu, kehadiran sahabat menjadi sangat berarti. Sahabat sejati bukan hanya yang datang saat senang, tetapi yang hadir tanpa banyak kata saat kita terbaring lemah. Dukungan moral pesan singkat, doa, kunjungan, atau sekadar mendengarkan—memiliki kekuatan besar untuk mengangkat semangat. Kadang, satu kalimat sederhana seperti “Kami ada untukmu” mampu memberikan energi untuk bertahan satu hari lagi. Secara spiritual, sakit sering menjadi momen refleksi yang dalam.

Banyak orang menemukan makna baru tentang hidup, tentang kesabaran, dan tentang ketergantungan kepada Tuhan saat dia terbaring tanpa daya.

Doa menjadi lebih tulus, harapan menjadi lebih sederhana. Dalam kondisi ini, penting bagi pasien untuk tidak merasa sendirian secara rohani. Dukungan spiritual baik melalui doa bersama, kunjungan rohaniawan, atau bacaan yang menguatkan dapat menjadi sumber ketenangan batin.

Dari pengalaman sakit, saya ingin berbagi beberapa hal yang dapat dipersiapkan untuk menghadapi kondisi sakit. Pertama, persiapan mental untuk menerima bahwa sakit adalah bagian dari kehidupan, bukan akhir dari segalanya.

Kedua, persiapan finansial yaitu memiliki perlindungan kesehatan yang memadai dan perencanaan keuangan yang realistis.

Ketiga, membangun jaringan dukungan: keluarga, sahabat, dan komunitas yang dapat diandalkan saat masa sulit.

Dan yang tidak kalah penting, menjaga semangat dan harapan karena harapan adalah kekuatan yang seringkali lebih besar daripada obat. Semangat dan harapan yang meredup akan sangat mempengaruhi proses pemulihan untuk sehat kembali.

Bagi para sahabat yang ingin membantu, ingatlah bahwa kehadiran Anda sudah sangat berarti bagi yang sakit. Tidak perlu selalu membawa solusi, cukup hadir dengan hati yang tulus, menggenggam tangan untuk memberi kekuatan. Dengarkan tanpa menghakimi, dukung tanpa memaksa, dan doakan tanpa henti.

Sakit memang membawa penderitaan, tetapi juga membuka ruang bagi kasih, empati, dan makna hidup yang lebih dalam. Di tengah kelemahan tubuh, di sanalah kekuatan jiwa sering ditemukan.

Mari kita berdoa dan membawa kepedulian dan pengharapan bagi sahabat dan keluarga yang sakit karena itu bisa menjadi kekuatan mereka untuk menghadapinya. Menjalani sakit sebagai proses untuk menjadi manusia yang lebih kuat dan bijak.

Www.Kris.Or.Id

Kisah Keluarga

Oleh: Adharta
Ketua Umum
KRIS

Kisah keluarga ini belum lengkap karena tidak menceritakan anak cucu. Ini lebih cerita tentang kakak adik, dengan harapan mungkin di kemudian hari bisa dibuat buku, termasuk anak, cucu dan cicit. Semoga.

Sahabatku yang terkasih,

Di dunia yang begitu luas dan penuh hiruk-pikuk, satu tempat yang tak pernah berubah adalah keluarga. Dan bagi saya, keluarga adalah anugerah terbesar yang Tuhan berikan.

Kami sepuluh bersaudara, 5 laki-laki dan 5 perempuan. Kami hidup dalam suasana sederhana, damai, dan penuh kasih. Masing-masing dari kami punya cerita, pergumulan, pasang surut hidup, dan keunikan sendiri, namun tetap terikat oleh satu hal: cinta keluarga yang tidak pernah putus.

Akar Cerita: Papa dan Mama

Kisah kami tidak akan pernah ada dan bisa dimulai tanpa menceritakan dua sosok yang menjadi fondasi kehidupan kami: Papa dan Mama.

Papa, Johnny Ongko (Ong Soei Ping) lahir dan besar di Fuzhou, Tiongkok. Hidupnya penuh perjuangan sejak muda. Beliau ikut kakek merantau ke Indonesia dan akhirnya bekerja di PELNI. Dari Surabaya hingga pulau-pulau kecil di timur Indonesia, Papa hidup bersama laut. Ombak, angin, dan pelabuhan menjadi sahabatnya. Beliau penyayang, tegas, dan memiliki ketekunan yang luar biasa. Tuhan memberinya umur panjang, 95 tahun dan di sepanjang hidupnya, Papa tak pernah kehilangan kerendahan hati.

Mama, Magdalena (Tjia Soei Tju), sosok perempuan lembut namun kuat. Beliau mengasuh kami dengan kasih yang tak terhingga. Beliau mendidik kami untuk saling mengasihi, saling menjaga, dan tidak meninggalkan satu sama lain. Hobinya masak-memasak: Mie rebus, lumpia, kue perut ayam, bubur asin. Semua masak sendiri. Tangannya dingin. Selain menjahit, mama juga membuat makanan dan kue. Sejak kecil, kami belajar bikin kue kering dan jualan kue. Mama meninggalkan kami di usia 73 tahun, namun kasihnya tetap mengalir dalam darah kami sampai hari ini.

Kalabahi, Alor

Kami semua lahir di Kalabahi, Pulau Alor, NTT. Dari situlah semua kisah ini lahir. Di sana Papa pernah menjadi Kepala PELNI.

Pulau kecil itu, dengan angin asin laut dan debur ombak yang lembut, adalah saksi bisu dari masa-masa awal keluarga kami. Kenangan kami bertebaran di sana. Tawa, tangis, bercanda, sesekali kenalan anak kecil, menyanyi Bolelebo dan Mai Fali. Lagu kebanggan orang-orang NTT. Semua kebersamaan dan mimpi-mimpi kecil kami. Di Alor, kami hidup dalam ketercukupan, bukan kemewahan. Namun justru dari situlah tumbuh rasa syukur, kemandirian, dan semangat untuk selalu berjuang.

Mari Mengenal Kakak Adikku

Kakak nomor 1, July Ongko. Kakak perempuan tertua kami menjadi suster perawat di Rumah Sakit Adi Husada Surabaya. Hidupnya didedikasikan untuk melayani sesama. July adalah pelita bagi orang sakit. Setiap orang yang mengenalnya pasti merasakan ketulusan hatinya. Namun Tuhan memanggilnya terlalu cepat. July meninggal di usia 30 tahun karena asma berat. Kepergiannya meninggalkan luka, namun juga teladan bahwa hidup yang singkat bisa menjadi berkat bagi banyak orang.

Kakak nomor 2, Ming atau George Artha, tinggal di Jakarta. Beliau seorang ayah dengan empat anak. Salah satu anaknya, Dr. Ir. Ridwan, dikenal sebagai ahli manajemen yang disegani. Kakak Ming adalah sosok yang bijaksana, pendiam namun penuh perhatian. Ia seperti penopang yang selalu ada ketika keluarga membutuhkan. Beliau suka sekali makan kepala ikan kakap Medan Baru di Griya Sunter

Kakak nomor 3, Christina, tinggal di Kupang, adalah ibu dari Tony Dima, MM, Ketua KRIS NTT. Christina adalah perempuan kuat, penuh kasih, dan menjadi figur penting dalam jaringan keluarga kami terutama di Nusa Tenggara Timur. Dialah penghubung, jembatan antara kami yang tinggal berjauhan. Ia selalu membawa cerita, kabar, dan kehangatan dari timur.

Kakak nomor 4, Herline (Ay Hoa), nama yang indah, dan begitulah hidupnya. Ia adalah pengusaha tangguh, cekatan, dan pekerja keras yang tinggal di Surabaya. Namun pada usia 51 tahun, Tuhan memanggilnya pulang. Kepergiannya menyisakan kekosongan besar, namun juga kenangan tentang kegigihan dan keberanian seorang perempuan yang pantang menyerah.

Kakak nomor 5 Risal, Penasihat KRIS, tinggal di Bandung. Seorang pengusaha kapal dan ahli bahan peledak. Beliau aktif di gereja, suka bercanda, dan dikenal sebagai “gudang cerita”. Jika keluarga adalah sebuah pesta, Risal adalah suara tawa yang paling keras. Sosok yang membuat keluarga menjadi hangat.

Kakak nomor 6, Steve, yang ulang tahunnya dirayakan hari ini (23 Jan), tinggal di Surabaya. Beliau lulusan Teknik Mesin Trisakti tahun 1973. Attitude-nya sederhana, rajin, tekun, dan tak pernah mengeluh. Hobinya cari makan enak. Kalau ke Surabaya, tidak lupa aku diajak ke tahu campur di Kalasan kalau ada Pak Dahlan Iskan. Sama doyan duren. Hubungannya dengan gereja begitu erat, hingga banyak orang mengenalnya sebagai sosok yang selalu siap membantu. Hidupnya adalah bukti bahwa kesetiaan pada pelayanan membawa kedamaian.

Kakak perempuan nomor 7, Elianora. Beliau adalah pengusaha logistik di Surabaya. Pribadinya kuat, tegas, namun berhati lembut. Beliau menjaga keluarga dengan mata dan hati seorang kakak perempuan sejati.

Saya, Adharta, anak ke-8. Tinggal di Jakarta, lulusan Teknik Sipil Trisakti tahun 1977 dan MBA Prasetiya Mulya tahun 1984. Jalan hidup membawa saya menjadi Ketua Umum KRIS. Saya tidak sempurna, namun satu hal pasti: saya mencintai keluarga saya. Segala perjuangan saya hari ini adalah warisan dari Papa dan Mama ketekunan, kasih, dan kerendahan hati.

Adik laki laki nomor 9, Freddy, tinggal di Kupang, adalah Penasihat KRIS. Beliau aktif di Gereja Bethany dan pemilik Hotel Ima Kupang. Freddy dan istrinya, Mariana, adalah pilar KRIS NTT. Mereka mendukung program stunting di TTU, membantu penanganan COVID-19, dan tak pernah menolak jika diminta membantu. Freddy adalah gambaran adik yang setia pada keluarga, Tuhan, dan masyarakat.

Adik perempuan nomor 10, Monalisa. Adik saya yang bungsu ini adalah dokter gigi yang tinggal di Singapura. Jika ada urusan rumah sakit, perawatan, atau kesehatan di Singapura, dialah “peta hidup” yang tahu semuanya. Ia cerdas, perhatian, dan selalu menjadi tumpuan keluarga saat ada yang sakit.

Sejak saya sakit operasi berulangkali di Singapura, drg. Monalisa selalu mendampingi istri saya drg. Magdalena dalam suka dan kesulitan. Mulai operasi Jantung sampai terakhir pasang ICD

Kekuatan Kami Hidup Rukun & Damai

Meski perjalanan hidup kami penuh badai kehilangan orang tersayang, perjuangan ekonomi, merantau ke banyak kota, kami tetap hidup rukun dan damai. Kesederhanaan hidup membuat kami mengerti arti saling menopang.

Kami tidak kaya harta, tetapi kami kaya cinta. Kami tidak selalu sempurna, tetapi kami selalu bersama. Ada banyak kenangan kecil tak terlupakan yang menjadi perekat keluarga.

Papa menggandeng kami ke pelabuhan, memperlihatkan kapal-kapal besar sambil bercerita tentang ombak dan badai.

Mama memasak hidangan sederhana, namun rasanya seperti cinta yang dituangkan di piring. Malam-malam di Kalabahi, kami duduk di teras rumah, melihat bintang yang seakan jatuh ke laut. Tawa kami saat berkumpul, tangis kami saat kehilangan, doa kami yang tak pernah putus–itulah kekayaan sejati keluarga kami.

Akhir kata, keluarga besar kami adalah bukti bahwa cinta tidak selalu lahir dari kemewahan, tetapi dari hati yang saling menjaga. Kami lahir dari kesederhanaan, namun tumbuh dengan kekuatan untuk saling menopang.

Saya bangga menjadi bagian dari keluarga ini. Saya bangga memiliki kakak dan adik yang rukun, penuh kasih, dan satu hati. Dan setiap kali saya melihat ke belakang, saya tahu apa pun yang telah saya capai hari ini di KRIS, di pekerjaan, dalam hidup adalah karena saya dibesarkan oleh keluarga yang penuh cinta. Inilah keluarga kami.

Inilah warisan Papa dan Mama. Inilah kisah buat anak-anak dan cucu-cucu. Kelak kalian semua mewarisinya.

Aliran air mata suka cita menutup kisahku.

Www.kris.or.id

Perjalanan Misi Bruder Nasarius Trimuryanto OFM

Cerpen No 0042

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Medio Januari 2026

Sambil menikmati perjalanan macet menuju kantor. Saya teringat seorang sahabat yang sedang berjuang. Salah satunya berjuang menyelamatkan dunia melalui cara yang luar biasa. Kadang hati bertanya, apakah saya bisa mengubah dunia? Konfisius berkata, “Kalau kamu tidak bisa mengubah dunia, ubahlah dirimu lebih dulu, maka dunia akan berubah mengikutimu.”

Sahabat saya, Bruder Trimo sedang berjuang. Dia menaburkan kasih dan cinta dalam perjalanan hidupnya, pada orang-orang yang ditemuinya. Dia ingin meneruskan kasih Tuhan yang dialaminya kepada orang lain. Cinta kasih itulah yang membawa perubahan bagi dirinya, bagi orang lain, bagi dunia.

Tanggal 15 Januari selalu menjadi penanda istimewa dalam hidup Bruder Nasarius Trimuryanto OFM. Bukan sekadar angka di kalender, melainkan momen awal perjalanan panjang perutusan sebuah jalan iman yang ditempuh dengan kesadaran, pengorbanan, dan keberanian untuk berjalan bersama Tuhan dalam suka dan duka. Dari sebuah desa kecil bernama Trimodadi, kisah hidupnya bertumbuh menjadi kesaksian tentang kasih dan kesetiaan yang dijalani tanpa banyak kata.

Nasarius Trimuryanto lahir di Trimodadi, 28 Juli 1981, dari pasangan sederhana, almarhum Petrus Paijo dan Cisilia Purbi Astuti. Ia tumbuh dalam keluarga yang mengenal kerja keras, kesederhanaan, dan doa sebagai napas hidup. Sejak kecil, Trimo
sapaan akrabnya—sudah terbiasa dengan kehidupan yang tidak berlebihan. Ia belajar bahwa hidup bukan tentang memiliki banyak, melainkan tentang bertahan, berbagi, dan bersyukur. Panggilan hidup membiara tidak datang sebagai keputusan instan. Ia hadir perlahan, melalui perjumpaan dengan Tuhan dalam keheningan, melalui pergulatan batin, dan melalui pengalaman melihat penderitaan sesama.

Saat Trimo memutuskan masuk Seminari St. Paulus Palembang, ia sadar bahwa jalan ini bukan jalan mudah. Menjadi seorang Bruder Fransiskan (OFM) berarti memilih hidup sederhana, taat, miskin, dan setia—jalan yang menuntut totalitas diri. Masa pembinaan menjadi waktu pengolahan batin. Ia belajar disiplin, doa, kerja, dan hidup dalam persaudaraan. Tidak jarang ia mengalami keraguan, kelelahan, bahkan kesepian, pun dalam doa dan meditasi. Ada hari-hari ketika ia bertanya dalam hati: “Mampukah aku setia sampai akhir? Benarkah aku dipanggil? Mengapa terkadang aku merasa gersang?” Di tengah pergulatan itu, spiritualitas Fransiskan menanamkan satu keyakinan: Tuhan hadir justru dalam kesederhanaan dan kerapuhan manusia, bahkan dalam kesepian di padang gurun rohani.

Sebagai seorang Bruder Fransiskan, Trimo memilih hidup melayani, bukan memimpin dari atas, melainkan berjalan bersama. Prinsip hidupnya terangkum dalam kalimat yang kemudian menjadi napas perutusannya:

“BerTani, Berjuang Tanpa Henti.”

BerTani, berakar pada tanah kehidupan nyata.
Berjuang, melawan lelah, putus asa, dan keterbatasan. Tanpa Henti—karena kasih tidak mengenal kata selesai. Salah satu bab terpenting dalam hidupnya adalah perjalanan misi dari Kalimantan Barat ke Jawa Barat, sebuah perjalanan yang bukan hanya jauh secara geografis, tetapi juga penuh makna batin. Dengan sebuah vespa, Bruder Trimo menempuh jalan panjang menuju Panti Asuhan St. Yusup, Sindanglaya, Cipanas, Jawa Barat.

Vespa itu menjadi simbol kesederhanaan dan keteguhan: melaju perlahan, namun pasti. Vespa buatan Piagio, Italia, tahun 1946 itu membawa arti TAWON sehingga bentuknya didesain sepeti tawon dan suaranya seperti Tawon Betina membuat madu tanpa lelah. Di jalanan panjang, di tengah panas, hujan, dan kelelahan, ia belajar berserah sepenuhnya pada penyelenggaraan Tuhan. Setibanya di Panti Asuhan St. Yusup, kehidupan baru dimulai.

Selama enam tahun, Bruder Trimo hidup bersama anak-anak yang datang dengan latar belakang luka, kehilangan, dan harapan yang rapuh. Ia tidak hanya menjadi pengasuh, tetapi menjadi sosok bapak yang hadir, mendengarkan, menegur, dan memeluk ketika kata-kata tak lagi cukup. Tidak semua hari dipenuhi tawa. Ada tangis, konflik, keterbatasan dana, dan kelelahan fisik maupun batin. Menjadi bapak bagi anak-anak yang terluka bukan tugas ringan. Ada malam-malam panjang ketika Bruder Trimo berdoa dalam diam, memohon kekuatan. Ada hari-hari ketika rasa tidak dihargai dan kesalahpahaman menguji kesabarannya. Namun ia memilih bertahan. Baginya, setiap anak adalah amanah Tuhan, titipan Allah sendiri yang dipercayakan padanya, bukan beban.

Kepercayaan pun tumbuh. Persaudaraan Fransiskan kembali mempercayakan perutusan itu kepadanya untuk tiga tahun ke depan, tanda bahwa kesetiaannya tidak sia-sia. Ia tidak melihat kepercayaan itu sebagai kehormatan, melainkan sebagai tanggung jawab yang harus dijalani dengan rendah hati.Dalam perjalanan panjang itu, ayat Kitab Suci ini menjadi pegangan hidupnya:

“Jalan terus, Aku bersamamu.” (Yesaya 41:10)

Ayat itu bukan sekadar slogan atau penghiburan, melainkan penyertaan dan kekuatan. Saat ia lelah, Tuhan menyertainya, berjalan bersamanya. Saat ia ragu, Tuhan meneguhkan langkahnya. Kini, ketika menoleh ke belakang, Bruder Nasarius Trimuryanto OFM tidak membanggakan pencapaian, melainkan mensyukuri proses. Ia tahu hidupnya penuh kekurangan, tetapi ia percaya Tuhan bekerja melalui kesetiaan kecil yang dijalani setiap hari. Dari Trimodadi, dari seminari, dari ribuan perjalananan dengan vespa antik, hingga berlabuh di panti asuhan, semuanya dirajut dalam satu benang merah, kasih yang diwujudkan dalam kesederhanaan dan tindakan nyata.

Perjalanan Bruder Trimo adalah kesaksian bahwa hidup religius bukan pelarian dari dunia, melainkan keberanian untuk masuk lebih dalam ke realitas manusia. Dalam suka dan duka, ia terus melangkah berTani, berjuang tanpa henti—karena ia tahu, di setiap langkahnya, Tuhan tidak pernah meninggalkannya. Tuhan selalu menyertainya.

Panti Asuhan Santo Yusup, Sindanglaya, Cipanas, Jawa barat

Www.kris.or.id

Perjuangan seorang Ibu

Cerpen no 0041

Oleh: Adharta
Ketua Umum
KRIS

Namanya Merry. Nama yang sederhana, namun hidupnya jauh dari kata ceria.

Sejak kecil, Merry sudah belajar arti kehilangan. Ia bukan yatim piatu sejak lahir, tetapi keadaan membuatnya tumbuh tanpa sapaan dan pelukan orang tua.

Orang tuanya tinggal di Indramayu, hidup sederhana sebagai buruh tani, dan karena keterbatasan ekonomi, Merry kecil tinggal bersama sebuah keluarga di Bandung. Mereka adalah Bapak Alfons dan Ibu Risma. Pasangan itu tidak memiliki anak.

Rumah mereka tidak besar, tetapi hangat. Sejak hari pertama, Merry tidak pernah diperlakukan sebagai orang asing. Ia dipanggil “Nak”, disuapi ketika sakit, dipeluk ketika menangis.

Dalam hati kecilnya, Merry merasa di sinilah rumahnya.

Tahun-tahun berlalu. Merry tumbuh menjadi gadis pendiam namun rajin. Ia menyelesaikan sekolahnya dengan baik hingga tamat SMA. Ia bermimpi sederhana: bekerja, membantu orang tua angkatnya, dan suatu hari merawat mereka di masa tua. Namun hidup tidak selalu ramah pada mereka yang tulus.

Setelah kelulusan SMA Merry, rumah itu mulai sering didatangi kerabat.

Wajah-wajah yang sebelumnya jarang terlihat, kini datang silih berganti. Senyum mereka manis, tetapi kata-katanya menusuk.

Bisikan mulai terdengar. Tentang harta. Tentang warisan. Tentang darah dan bukan darah. Merry mendengar semuanya, meski tidak pernah diajak bicara langsung.

“Dia bukan anak kandung.” “Nanti semua harta jatuh ke dia.” “Lebih baik dia pergi.”

Setiap kata itu seperti pisau kecil yang ditancapkan perlahan ke dadanya. Bapak Alfons dan Ibu Risma tidak pernah mengatakan apa pun secara langsung. Mereka hanya semakin sering terdiam.

Ibu Risma sering menangis diam-diam di dapur. Bapak Alfons semakin banyak melamun di teras. Mereka sudah tua. Mereka lelah melawan. Suatu malam, Merry memberanikan diri bicara.

“Pak… Bu… kalau Merry harus pergi, Merry akan pergi.”

Ibu Risma langsung menangis tersedu. Tangannya gemetar memeluk Merry. “Maafkan Ibu, Nak… Ibu lemah…” Bapak Alfons hanya menunduk. Air matanya jatuh satu per satu ke lantai. Malam itu, Merry membereskan pakaiannya dengan tangan gemetar.

Tidak banyak yang ia bawa. Hanya pakaian seadanya dan sebuah tas kecil. Tidak ada uang, tidak ada tujuan, hanya luka di hati.

Saat melangkah keluar rumah itu, Merry menoleh sekali lagi.

“Maafkan Merry, Pak… Bu… Merry akan selalu mendoakan kalian…”

Langkahnya terasa berat, seakan separuh jiwanya tertinggal di rumah itu. Dengan tabungan yang nyaris tidak ada, Merry akhirnya masuk ke barak penampungan calon TKI.

Ia tidak bermimpi besar. Ia hanya ingin bertahan hidup. Di sana, ia bertemu Pak Harto lelaki berusia 55 tahun. Orang sekampung dari Indramayu. Wajahnya lelah, rambutnya memutih, namun matanya lembut. Ia sudah lama sendiri, mengelola usaha kecil penyaluran calon TKW. Dalam keterasingan, dua manusia yang sama-sama terluka menemukan sandaran. Merry tahu, menerima pinangan Pak Harto bukan karena cinta seperti di cerita-cerita indah.

Tapi di kampung, usia delapan belas tahun tanpa menikah dianggap aib. Dan hidup sendirian lebih menakutkan daripada menikah dengan lelaki yang baik namun jauh lebih tua.

Mereka menikah dengan sederhana. Tanpa gaun putih. Tanpa pesta. Tanpa restu orang tua. Tiga tahun berlalu. Dua anak perempuan lahir dari rahim Merry. Anak-anak itu menjadi cahaya kecil di tengah hidupnya yang gelap.

Namun kebahagiaan itu rapuh. Pak Harto mulai sering sakit. Batuknya tidak kunjung sembuh. Napasnya pendek. Tubuhnya semakin kurus. Usaha mereka pun menurun drastis. Rumah kontrakan semakin terasa sesak oleh kecemasan. Biaya rumah sakit menguras semua yang mereka miliki.

Suatu malam, di ruang rawat yang sunyi, Pak Harto menggenggam tangan Merry. “Maafkan Bapak… Bapak tidak bisa meninggalkan apa-apa…”

Merry menangis tersedu, menahan jerit yang ingin keluar. “Bapak jangan pergi… anak-anak butuh Bapak…”

Namun takdir tidak mendengar doa orang miskin. Pak Harto meninggal di usia 60 tahun, karena kanker paru-paru.

Dunia Merry runtuh dalam sekejap. Ia kini seorang janda muda dengan dua anak kecil, tanpa harta, tanpa sandaran. Usaha bangkrut. Rumah kontrakan harus ditinggalkan.

Ia pulang ke Indramayu, berharap menemukan orang tuanya. Tetapi yang ia temukan hanya kabar duka. Kedua orang tuanya telah meninggal karena wabah Covid-19. Di atas tanah kuburan, Merry jatuh terduduk. Tangisnya pecah. Tidak ada lagi tempat pulang. Tidak ada lagi orang tua. Tidak ada siapa-siapa. Hidup di kampung sangat berat.

Mencari pekerjaan hampir mustahil. Setiap malam, Merry memeluk anak-anaknya sambil menahan tangis.

“Apa Ibu salah membawa kalian ke dunia ini?” bisiknya dalam hati.

Ia tahu, Bandung memberi peluang lebih besar. Dengan hati yang hancur, ia kembali ke kota itu. Dengan bantuan kenalan TKW, ia berhasil menitipkan kedua anaknya di Panti Asuhan Sindanglaya.

Hari pertama meninggalkan anak-anaknya adalah hari paling menyakitkan dalam hidupnya. Anak sulungnya memeluk kakinya, menangis histeris. “Ibu jangan pergi…”

Merry hampir pingsan menahan sakit di dada.

Namun ia tahu, ini satu-satunya jalan. Ia berangkat ke Tawau, Malaysia, menjadi TKW. Di negeri orang, ia bekerja di supermarket penampungan sambil menunggu panggilan kerja.

Setiap malam, ia menangis dalam sunyi, memeluk baju anak-anaknya yang ia bawa. Akhirnya, ia diterima bekerja sebagai pengantar barang logistik di Kota Kinabalu. Gajinya lumayan, tetapi jam kerjanya kejam, 20 jam sehari. Tubuhnya hancur. Kakinya bengkak. Kepalanya pusing. Hatinya kosong. Ia jatuh sakit berat.

Dengan tubuh yang hampir menyerah, Merry memutuskan pulang ke Bandung.

Ia membuka warung kecil, warteg sederhana. Hidup pas-pasan, tapi hatinya sedikit lebih tenang karena bisa sesekali menjenguk anak-anaknya di panti asuhan. Setiap kali melihat mereka tertawa, air matanya selalu jatuh.

Hidupnya sunyi. Tidak ada pasangan. Tidak ada keluarga. Hanya doa dan harapan.

Namun Merry percaya satu hal: Tuhan tidak menciptakan seseorang untuk hidup sendirian selamanya.

Ia terus berjuang. Terus mencari penghidupan yang lebih layak. Terus berdiri meski sering jatuh. Karena ia tahu, selama napas masih ada, harapan tidak akan pernah benar-benar mati.

Dan perjuangan Merry… belum berakhir.

http://www.kris.or.id