Cerpen 0056
Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS
Akhir Februari 2026
Menanti Sholat Magrib buat Sahabatku
Aminah dan Budi telah tiga tahun menjalani mahligai rumah tangga. Di atas kertas, mereka adalah suami istri yang sah. Di hadapan manusia, mereka terlihat rukun dan penuh senyum. Namun hanya langit yang tahu. Rumah mereka jauh dari kehangatan yang seharusnya mengalir di antara dua insan yang terikat akad.
Pernikahan mereka lahir dari niat baik, tapi bukan dari cinta. Pernikahan yang lahir dari balas budi, dari kehormatan keluarga, dari rasa “tidak enak hati” yang terlalu mahal untuk ditolak. Budi tahu sejak awal, ia tidak mencintai Aminah. Dan Aminah sebagai perempuan merasakan itu sejak malam pertama yang berlalu tanpa sentuhan.
Tiga tahun. Tiga Ramadan. Tiga Idulfitri telah mereka lalui tanpa pernah benar-benar menjadi satu. Di rumah itu, ada dua kamar. Budi di satu sisi, Aminah di sisi lain. Mereka bertemu di meja makan, saling menyapa dengan sopan, saling bertanya kabar, lalu kembali ke dunia masing-masing.
Aminah sering tertawa di depan orang. Namun menangis diam-diam di kamar. Budi sering tampak tenang. Namun sujudnya panjang dan basah.
Sebagai lelaki, Budi sebenarnya mampu. Budi sehat lahir batin. Ia normal. Pejantan tulen. Namun ia menahan diri. Bukan karena jijik. Bukan karena benci. Budi takut.
“Aku tidak ingin menyentuhmu tanpa cinta,” ucapnya suatu malam dengan suara rendah. “Aku takut menzolimi hatimu, Min.” Aminah tertawa kecil, getir mendengar perkataan itu.
“Bukankah cinta bisa tumbuh setelahnya, Mas? … Atau aku sebenarnya tidak pantas dicintai?”
Budi terdiam. Aminah memang punya sifat yang keras. Ia terbiasa memerintah, ingin menang sendiri, dan sulit mengalah. Namun di balik itu, ia hanya perempuan yang ingin dipeluk, diinginkan, dan menjadi ibu.
Budi pun bukan tanpa cela. Prinsipnya sering berubah menjadi tembok. Idealismenya menjadi penjara. Ia ingin cinta yang sempurna. Lupa bahwa cinta sering tumbuh dari ketidaksempurnaan yang diterima bersama.
Setiap Ramadan, Budi selalu berdoa: “Rabbi hab li min ladunka mawaddatan wa rahmah.” — “Wahai Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku cinta dan kasih sayang dari sisi-Mu.”
Budi sering teringat firman Allah:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً (QS. Ar-Rum: 21)
“Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya, Dia menciptakan pasangan hidup agar kamu merasa tenteram, dan Dia menjadikan di antara kalian cinta dan kasih sayang.”
Ayat itu menenangkan sekaligus menamparnya. Jika cinta adalah anugerah, mengapa ia hanya menunggu tanpa berusaha?
Aminah pun berdoa. Tangisnya sering pecah di sepertiga malam.
“Ya Allah… jika aku sombong, luluhkan hatiku. Jika aku keras, lembutkan aku… Aku hanya ingin menjadi istri yang Engkau ridhoi.”
Ia membaca ayat ini berulang-ulang: إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ (QS. Ar-Ra’d: 11)
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
Pelan-pelan, Aminah berubah. Bukan demi Budi semata, tapi demi Allah. Aminah belajar menahan emosi. Belajar meminta maaf. Belajar tersenyum tanpa tuntutan.
Suatu pagi, ia menyuguhkan teh hangat kepada Budi.
“Mas… terima kasih sudah bertahan,” katanya lembut. Budi tersenyum kaget.
“Terima kasih juga… kamu sudah mau berubah.” Untuk pertama kalinya, mereka tertawa bersama. Tawa kecil. Agak canggung. Tapi nyata. Ada hari-hari berat. Ada hari-hari lucu. Momen itu terasa hangat dan menyejukkan hati mereka berdua.
Pernah suatu kali Aminah mencoba memasak makanan kesukaan Budi, tapi gosong.
“Astaghfirullah…,” Aminah panik. Budi tertawa. Sungguh-sungguh tertawa… terpingkal-pingkal bahkan.
“Tak apa. Gosongnya penuh niat baik.” Aminah ikut tertawa sambil menangis. Namun dia merasakan sejentik kebahagiaan.
Perubahan tidak langsung melahirkan cinta besar. Tapi ia melahirkan kehangatan. Dari kehangatan, tumbuh keakraban. Dari keakraban, hadir rasa aman. Suatu malam Ramadan, setelah tarawih, Budi berkata pelan, “Min… bolehkah aku belajar mencintaimu dengan cara Allah?”
Aminah terdiam, lalu mengangguk sambil meneteskan air mata bahagia. Malam itu bukan malam penyatuan fisik. Tapi malam pertama mereka berdoa bersama.
Satu sajadah. Dua hati. Satu arah. Budi membaca ayat: وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ (QS. An-Nisa: 19) “Pergaulilah istri-istrimu dengan cara yang baik.”
Aminah tersenyum. Untuk pertama kalinya, ia merasa dilihat. Mereka belum sepenuhnya sampai. Mereka belum sepenuhnya menyatu. Namun kini, mereka tidak lagi berdiri di tempat yang sama. Ada langkah. Ada usaha. Ada harap.
Cinta ternyata bukan sesuatu yang hanya ditunggu. Cinta diupayakan. Dipanjatkan. Diperjuangkan dengan doa, sabar, dan kerendahan hati.
Aminah dan Budi masih menanti cinta. Namun kini, mereka menantinya bersama. Dan itu… adalah cahaya pertama yang Allah nyalakan di rumah mereka.
