Cerpen nomor 0046
Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS (Komunitas Relawan Indonesia Sehat)
Ngada,Flores
Januari akhir 2026
Di sebuah pagi yang dingin di Ngada, Nusa Tenggara Timur, Yenny terbangun lebih cepat dari ayam jantan. Usianya baru sepuluh tahun. Tubuhnya kecil, kurus, tetapi matanya menyimpan keseriusan yang tidak lazim bagi anak seusianya. Ia tidak terbangun oleh mimpi indah, melainkan oleh kenyataan: hari itu ia harus ke sekolah, sementara di rumah tak ada apa-apa selain sisa nasi semalam dan doa ibunya yang tak pernah putus.
Yenny duduk di tepi tikar pandan. Ia melihat ibunya menyiapkan air panas dengan tungku kayu yang nyaris habis. Ayahnya sudah berangkat sejak subuh, mencari kerja serabutan kadang mengangkut kayu, kadang membantu di kebun orang. Tidak ada kepastian. Yang ada hanya harapan hari ini pulang membawa beberapa lembar ribuan.
“Ma,” suara Yenny pelan, hampir seperti bisikan, “hari ini guru minta beli pena sama buku.”
Ibunya terdiam. Tangannya berhenti mengaduk air. Bukan karena tidak mendengar, tetapi karena tidak tahu harus menjawab apa. Uang sepuluh ribu rupiah, jumlah yang bagi banyak orang tak berarti bagi keluarga Yenny adalah jarak antara bisa dan tidak bisa makan.
“Nanti mama usahakan ya, Nak,” kata ibunya akhirnya.
Senyum dipaksakan, mata ditundukkan. Yenny mengangguk. Ia sudah terbiasa dengan jawaban itu. Ia tahu ibunya tidak bohong. Ibunya hanya kalah oleh keadaan.
Sekolah dasar tempat Yenny belajar berjarak beberapa kilometer. Ia berjalan kaki setiap hari, melewati tanah merah dan pepohonan. Di kelas, Yenny dikenal pendiam. Ia bukan anak yang bodoh. Ia cepat menangkap pelajaran, tetapi sering menunduk ketika guru meminta murid mengeluarkan buku atau pena baru. Pena Yenny sering macet. Bukunya penuh coretan karena sudah dipakai lama.
Hari itu, guru kembali menegur. “Besok semua harus bawa buku dan pena baru.”
Kata-kata itu menghantam Yenny lebih keras dari apa pun. Dadanya sesak. Kepalanya penuh. Ia merasa kecil bukan karena tubuhnya, tapi karena hidupnya.
Sepulang sekolah, Yenny tidak langsung pulang. Ia duduk di bawah pohon, menatap tanah. Anak-anak lain tertawa, bercerita soal mainan dan jajanan. Yenny memeluk lututnya sendiri. Dalam pikirannya, hanya satu wajah yang muncul yaitu wajah ibunya.
Malamnya, hujan turun pelan. Di rumah, lampu redup. Ayah Yenny pulang dengan tangan kosong. Ibunya tak berkata apa-apa. Mereka makan nasi dengan garam.
Yenny memandang piringnya lama, lalu mendorongnya sedikit.
“Yenny kenyang,” katanya. Padahal tidak.
Malam itu, Yenny mengambil selembar kertas dari buku tulis lamanya. Dengan pensil pendek, ia menulis dengan ejaan yang belum sempurna, dengan bahasa yang sederhana, tetapi dengan beban yang terlalu berat untuk anak sepuluh tahun. Ia menulis untuk ibunya. Ia menggambar dirinya sendiri, seorang anak kecil dengan mata besar dan air mata. Di bawah gambar itu, ia menulis pesan perpisahan. Bukan karena ia ingin pergi, tetapi karena ia merasa tidak punya tempat lagi di dunia yang terus menuntut sesuatu yang tak bisa ia berikan.
“Ma… jangan menangis,” kira-kira begitu maksud tulisannya.
“Yenny pergi dulu.”
Tidak ada kemarahan di sana. Tidak ada tuduhan. Yang ada hanya rasa bersalah karena menjadi anak miskin di dunia yang tidak ramah pada kemiskinan.
Esoknya, Yenny ditemukan telah pergi untuk selamanya. Desa itu terdiam. Tangis pecah dari rumah kecil itu. Ibunya menjerit memeluk kertas yang ditinggalkan anaknya. Ayahnya terduduk, tak bersuara. Tetangga datang, aparat datang, orang-orang berdiri mematung.
Semua bertanya: “bagaimana mungkin anak sekecil itu memikul beban sebesar ini?”
Yenny tidak mati karena tidak punya pena dan buku. Yenny mati karena merasa sendirian, merasa menjadi beban, dan karena tak ada yang mengatakan bahwa hidupnya jauh lebih berharga dari apa pun yang tak mampu ia beli.
Kisah Yenny adalah cermin retak bagi kita semua. Tentang pendidikan yang lupa pada kemiskinan. Tentang masyarakat yang menormalisasi tekanan. Tentang dunia orang dewasa yang sering lupa bahwa kata-kata bisa membunuh, dan empati bisa menyelamatkan.
Jika hari itu seseorang memeluk Yenny dan berkata,
“Tidak apa-apa, Nak. Kamu cukup. Kamu berharga.”
Mungkin kisah ini tidak perlu ditulis.
Kini, yang tersisa hanyalah penyesalan dan sebuah pesan kecil dari seorang anak Ngada, yang suaranya terlalu pelan untuk dunia yang terlalu bising.
Semoga Yenny beristirahat dalam damai.
Dan semoga kita yang masih hidup, belajar untuk lebih manusia.
Cinta dalam Cinta
Memang bergejolak
Airmata belum cukup menyejukkannya
Www.kris.or.id
Www.adharta.com
