Surabaya
Meniti Waktu
Oleh: Adharta
Ketua Umum
KRIS
31 Januari 2026
41.000 KDPA
Roda pesawat Airbus A320 Batik Air menyentuh landasan Bandara Juanda, Sidoarjo, pukul 09.31.
Penerbangan ID 6584 terlambat dua puluh menit. Hujan deras membuat waktu terbang memanjang
sembilan puluh menit, padahal biasanya tujuh puluh.
Namun bagi saya, keterlambatan itu justru memberi ruang: ruang untuk mengingat kenangan manis
Sudah lama saya tidak ke Surabaya.
Kota ini bukan sekadar titik di peta. Ia adalah simpul kenangan, tempat waktu seolah berhenti lalu bergerak lagi, membawa wajah-wajah lama, aroma makanan, dan percakapan yang tak pernah benar-benar usai.
Kali ini saya datang karena undangan istimewa. Dr. Juli Njoto
Seorang Dokter pakar Kecantikan Dunia
Yang mengundang saya menghadiri unduh mantu.
Jason su Ganteng akan menikah malam ini.
Undangan itu seperti penarik halus yang mengajak saya kembali membuka lembar lama hidup saya di Surabaya.
Pagi-pagi, bahkan sebelum matahari benar-benar naik, saya sudah menghubungi Dr. Inna Widjajanti.
“Ayo tebak, apa yang kita bicarakan?”
Tak perlu waktu lama. Jawabannya pasti satu: makanan.
Pesan Pecel Pandegiling.
Bu Djojo.
Pecel legendaris Surabaya.
Begitulah saya. Setiap kali menginjak Surabaya, ingatan saya selalu berjalan lebih dulu
mencari rasa.
Tahu Campur.
Rujak Cingur.
Lontong Mie.
Bakso.
Opo maneh
Surabaya selalu menyambut dengan lidah, sebelum hati.
Saya lahir jauh dari sini, di Kalabahi, Pulau Alor, NTT.
Tahun 1962 kami pindah ke Kupang, Timor. Lalu pada 1967, hidup membawa kami ke Surabaya.
Kami 10 kakak adik tinggal di Jalan Rangkah Gang VII Nomor 26
kompleks perumahan PELNI.
Di situlah cerita panjang itu benar-benar dimulai.
Ayah saya adalah karyawan PELNI. Dari Kepala Cabang PELNI Kalabahi, naik menjadi pengawas inspektorat, hingga akhirnya Kepala Cabang PELNI Surabaya.
Ayah bukan orang besar.
Ia bukan pejabat negara. Tapi ia adalah bagian dari sebuah institusi besar yang memberi makna mendalam bagi hidup kami:
PT Pelayaran Nasional Indonesia—PELNI.
PELNI lahir pada 28 April 1952. Ia dibentuk untuk mengambil alih aset pelayaran Belanda, khususnya Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM)
perusahaan pelayaran terbesar dan terkaya di dunia pada masanya. KPM adalah simbol kekuatan maritim kolonial. Ketika Indonesia mengambil alih, itu bukan sekadar bisnis; itu pernyataan kedaulatan.
PELNI menjadi tulang punggung konektivitas Nusantara. Kapal-kapalnya menghubungkan pulau ke pulau, kota ke kota, manusia ke harapan.
Di masa itu, PELNI bukan hanya BUMN. Ia adalah negara yang berlayar.
Saya menyaksikan sendiri sisa-sisa kejayaannya. Perumahan PELNI tersebar di Senopati, Gajah Mada, Petamburan, Comanggis, hingga
Tugu. Rumah-rumah dinas itu bukan sekadar bangunan; ia adalah simbol jaminan hidup. Ayah saya karyawan kecil, tapi hidup kami dijamin. Pendidikan anak-anaknya dipastikan. Kami bisa sekolah sampai selesai.
Karena PELNI, saya dan saudara saudara saya bisa bermimpi.
Saya bersekolah
di SD Kalianyar II, Jalan Kusuma Bangsa dekat THR
Saya satu almamater dengan Bapak Try Sutrisno dan bapak JP Soetadi
Lalu SMP Negeri IX jalan Kapas Krampung
Putro Agung.
SMA Katolik Frateran Kepanjen.
Wow.
Temannya banyak sekali.
Surabaya mengajarkan saya tentang pertemanan. Tentang keberagaman. Tentang hidup bersama dalam perbedaan.
Dari gang sempit hingga aula sekolah, dari lapangan hingga kantin, semua menyisakan jejak yang tak terhapus.
Ada pepatah yang mengatakan:
Hidup dengan satu sahabat ibarat emas.
Hidup dengan dua sahabat ibarat berlian.
Lalu bagaimana dengan hidup bersama lebih dari seratus sahabat?
Itulah tahta berlian permata
Surabaya memberi saya itu.
Persahabatan yang tidak selalu dekat secara jarak, tapi hangat secara batin.
Persahabatan yang tetap hidup meski waktu memisahkan, meski rambut memutih dan langkah melambat.
Kini saya kembali.
Kota ini berubah. Gedung menjulang, jalan melebar, ritme makin cepat.
Namun Surabaya yang saya kenal masih ada
di sudut rasa, di logat bicara, di semangkuk bakso dan pecel pagi hari.
Saya berjalan meniti waktu.
Bukan untuk kembali menjadi anak kecil di Rangkah Gang VII,
Kenangan
Jalan Rangkah Gang VII
Pusat Ludruk Gema Tri Brata dan tempat lahirnya Srimulat
Ada
Mas Mardjanu
Mas Teguh
Mbak Djudju
Juga untuk mengucapkan terima kasih. Kepada kota ini.
Kepada perusahaan PELNI.
Kepada ayah tercinta
saya.
Kepada sahabat sahabat yang membentuk saya.
Kepada keluarga besar saya
Surabaya tidak pernah benar-benar saya tinggalkan.
Surabaya tinggal di dalam diri dan hati saya,
tenang, setia, dan selalu siap
menyambut pulang.
Terima kasih.
Www.adharta.com
Www.kris.or.id
