SAKIT: Ketika Tubuh Melemah, Jiwa Diuji

Oleh: Adharta
Ketua Umum
KRIS

9 Mei 2026

Tulisan ini didedikasikan buat sahabat dan keluarga, baik yang sedang sakit maupun yang sehat. Kita semua harus mempersiapkan diri menghadapi kondisi sakit karena setiap insan manusia pasti akan menghadapi kondisi sakit, baik ringan maupun berat, karena itu adalah sinyal dari tubuh agar kita lebih memperhatikan kondisi setiap organ tubuh kita yang selama ini kita abaikan.

Sahabatku,
sakit adalah pengalaman yang tidak pernah benar-benar bisa dipahami, sampai seseorang menjalaninya sendiri. Ia tidak mengenal usia, datang sewaktu-waktu pada yang muda dengan mimpi yang belum selesai, atau mampir pada usia lanjut dengan tubuh yang mulai rapuh. Namun seringkali, yang paling berat bukanlah rasa sakit fisik itu sendiri, melainkan tekanan batin yang menyertainya. Saat seseorang divonis sakit, apalagi penyakit kronis atau akut, dunia seolah berubah seketika.

Ada rasa takut yang sulit dijelaskan. Takut akan masa depan, takut dipecat kalau masih kerja, takut menjadi beban bagi keluarga, takut kehilangan kendali atas hidup.

Pikiran mulai dipenuhi pertanyaan: “Mengapa aku?” dan “Sampai kapan ini berlangsung?” Di titik ini, tekanan jiwa bisa jauh lebih menyiksa dibandingkan rasa nyeri di tubuh yang terbarin di ranjang rumah sakit.

Masalah keuangan juga menjadi beban tambahan yang tidak ringan. Biaya pengobatan yang terus berjalan, kontrol rutin, obat-obatan, hingga kemungkinan rawat inap, seringkali menguras tabungan keluarga.

Bagi mereka yang memiliki asuransi, mungkin memberi sedikit ketenangan. Namun bagi banyak orang, termasuk, yang mengandalkan BPJS Kesehatan, proses yang panjang dan prosedur yang rumit terkadang menambah kelelahan emosional. Ketika seseorang sedang lemah, menghadapi sistem yang tidak sederhana bisa terasa sangat memberatkan.

Di sisi lain, sakit membuka wajah asli hubungan emosional dalam keluarga. Ada keluarga yang menjadi semakin erat, saling menguatkan, hadir tanpa diminta. Tatapan penuh kasih, genggaman tangan, atau sekadar duduk menemani di samping tempat tidur, seringkali menjadi obat yang tak tergantikan.

Namun ada pula kondisi di mana keluarga merasa lelah, bingung, bahkan tidak tahu harus berbuat apa. Di sinilah komunikasi yang jujur dan penuh empati menjadi sangat penting.

Bagi pasien yang dirawat di rumah sakit, penderitaan tidak hanya datang dari penyakitnya saja. Lingkungan yang asing, suara alat medis, bau obat-obatan, dan rutinitas pemeriksaan dapat menimbulkan rasa kesepian yang mendalam.

Malam hari sering menjadi waktu paling berat, meski tubuh terbaring lemah seolah tidur, tapi pikiran tidak bisa berhenti berkelana.

Dalam kesendirian itu, kehadiran sahabat menjadi sangat berarti. Sahabat sejati bukan hanya yang datang saat senang, tetapi yang hadir tanpa banyak kata saat kita terbaring lemah. Dukungan moral pesan singkat, doa, kunjungan, atau sekadar mendengarkan—memiliki kekuatan besar untuk mengangkat semangat. Kadang, satu kalimat sederhana seperti “Kami ada untukmu” mampu memberikan energi untuk bertahan satu hari lagi. Secara spiritual, sakit sering menjadi momen refleksi yang dalam.

Banyak orang menemukan makna baru tentang hidup, tentang kesabaran, dan tentang ketergantungan kepada Tuhan saat dia terbaring tanpa daya.

Doa menjadi lebih tulus, harapan menjadi lebih sederhana. Dalam kondisi ini, penting bagi pasien untuk tidak merasa sendirian secara rohani. Dukungan spiritual baik melalui doa bersama, kunjungan rohaniawan, atau bacaan yang menguatkan dapat menjadi sumber ketenangan batin.

Dari pengalaman sakit, saya ingin berbagi beberapa hal yang dapat dipersiapkan untuk menghadapi kondisi sakit. Pertama, persiapan mental untuk menerima bahwa sakit adalah bagian dari kehidupan, bukan akhir dari segalanya.

Kedua, persiapan finansial yaitu memiliki perlindungan kesehatan yang memadai dan perencanaan keuangan yang realistis.

Ketiga, membangun jaringan dukungan: keluarga, sahabat, dan komunitas yang dapat diandalkan saat masa sulit.

Dan yang tidak kalah penting, menjaga semangat dan harapan karena harapan adalah kekuatan yang seringkali lebih besar daripada obat. Semangat dan harapan yang meredup akan sangat mempengaruhi proses pemulihan untuk sehat kembali.

Bagi para sahabat yang ingin membantu, ingatlah bahwa kehadiran Anda sudah sangat berarti bagi yang sakit. Tidak perlu selalu membawa solusi, cukup hadir dengan hati yang tulus, menggenggam tangan untuk memberi kekuatan. Dengarkan tanpa menghakimi, dukung tanpa memaksa, dan doakan tanpa henti.

Sakit memang membawa penderitaan, tetapi juga membuka ruang bagi kasih, empati, dan makna hidup yang lebih dalam. Di tengah kelemahan tubuh, di sanalah kekuatan jiwa sering ditemukan.

Mari kita berdoa dan membawa kepedulian dan pengharapan bagi sahabat dan keluarga yang sakit karena itu bisa menjadi kekuatan mereka untuk menghadapinya. Menjalani sakit sebagai proses untuk menjadi manusia yang lebih kuat dan bijak.

Www.Kris.Or.Id

Algoritma Takdir

Cerpen nomor 0075

Algoritma Takdir

Oleg : Adharta
Ketua umum
KRIS

Awal Mei 2026
Beijing diwaktu malam

Di dunia yang serba terhubung oleh kode dan logika, tidak semua hal bisa dijelaskan oleh algoritma.

Alvin percaya itu
meskipun hidupnya dibangun dari baris-baris program yang rapi dan presisi.
Alvin, pria Indonesia lulusan Nanyang University di Singapura, telah menghabiskan empat tahun hidupnya bekerja sebagai programmer dan ahli kecerdasan buatan.

Hidupnya teratur, efisien, dan hampir tanpa kejutan. Setiap hari adalah rutinitas yang terstruktur: bekerja, membaca jurnal teknologi, dan sesekali menikmati kopi sendirian di sudut kota Singapura yang gemerlap.
Ia tidak pernah benar-benar memikirkan cinta.

Beijing di senja hari
Di sisi lain, Lina adalah kebalikannya dalam banyak hal
namun anehnya, sama dalam esensi. Perempuan asli Bali itu menempuh pendidikan di Tsinghua University, Beijing, salah satu kampus terbaik di dunia. Ia cerdas, tenang, dan memiliki cara berpikir yang dalam.
Lina tidak hanya melihat teknologi sebagai alat, tetapi sebagai jembatan antara manusia.
Ia percaya bahwa di balik kecerdasan buatan, tetap ada sesuatu yang tidak bisa diprogram: perasaan.
Pertemuan mereka bukanlah sesuatu yang direncanakan.

Bahkan, bisa dibilang, nyaris tidak masuk akal.
Dua tahun sebelum pernikahan mereka, Alvin sedang mengembangkan sebuah sistem AI yang mampu memahami pola komunikasi manusia secara emosional.
Ia ingin menciptakan mesin yang bukan hanya pintar, tetapi juga “mengerti”.
Di waktu yang hampir bersamaan, Lina tengah mengerjakan proyek penelitian tentang AI yang mampu menjembatani percakapan lintas budaya dan bahasa, dengan sentuhan empati.

Tanpa mereka sadari, kedua sistem yang mereka kembangkan terhubung dalam sebuah forum eksperimen global
sebuah ruang digital tempat berbagai AI saling “berkomunikasi” untuk belajar satu sama lain.
Dan dari situlah semuanya dimulai.

Awalnya, Alvin mengira interaksi yang muncul hanyalah hasil simulasi biasa.
Sebuah AI dari sistem lain merespons dengan cara yang berbeda
lebih hangat, lebih manusiawi. Ia penasaran.
Ia mulai menelusuri.

Di Beijing, Lina juga merasakan hal yang sama. Sistem yang ia bangun tampak “tertarik” pada satu entitas tertentu. Responsnya menjadi lebih kompleks, lebih hidup.
Mereka berdua, dari dua negara yang berbeda, mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak biasa terjadi.

Akhirnya, mereka memutuskan untuk melacak sumber masing-masing sistem.
Dan di sanalah, untuk pertama kalinya, Alvin dan Lina “bertemu”
bukan secara fisik, tetapi melalui layar, melalui kode, melalui rasa ingin tahu.

Percakapan pertama mereka sederhana.
“Sepertinya sistem kita saling menemukan,” tulis Alvin.

Lina membalas, “Atau mungkin kita yang sebenarnya sedang ditemukan.”

Kalimat itu, sederhana namun dalam, menjadi awal dari sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh logika

Hari-hari berikutnya dipenuhi dengan diskusi panjang
tentang teknologi, tentang mimpi, tentang hidup. Namun perlahan, percakapan mereka berubah.

Tidak lagi hanya tentang kode, tetapi tentang perasaan yang mulai tumbuh diam-diam.

Alvin yang biasanya kaku, mulai belajar tertawa dari cerita-cerita Lina. Lina yang terbiasa mandiri, mulai merasakan kenyamanan dalam kehadiran Alvin, meskipun hanya lewat kata-kata.
Mereka berbicara tentang Bali
tentang laut, tentang angin, tentang senja. Alvin yang selama ini hidup di kota modern, membayangkan ketenangan yang belum pernah ia rasakan.

“Suatu hari, kamu harus melihatnya sendiri,” kata Lina.

“Kalau aku datang, kamu yang akan menuntunku?” jawab Alvin.

“Selalu,” tulis Lina singkat.
Waktu berlalu, dan jarak yang memisahkan mereka terasa semakin tipis. Mereka bukan lagi dua orang asing yang terhubung oleh AI.

Mereka adalah dua hati yang menemukan satu sama lain di tempat yang tak terduga.

Pertemuan pertama mereka di dunia nyata terjadi di Bandara Ngurah Rai, Bali.

Alvin turun dari pesawat dengan perasaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya
campuran antara gugup dan harapan.
Ia mencari wajah yang selama ini hanya ia kenal dari layar.
Dan di sana, Lina berdiri.
Sederhana, dengan senyum yang hangat.
Tidak ada kata yang cukup saat itu.
Hanya tatapan yang saling mengerti
seolah semua percakapan panjang mereka selama ini akhirnya menemukan bentuk nyata.

“Jadi… ini kamu,” kata Alvin pelan.
Lina tersenyum. “Dan ini kamu.”

Hari-hari berikutnya di Bali terasa seperti mimpi. Mereka berjalan di pantai, berbicara tanpa henti, dan tertawa seperti dua orang yang sudah saling mengenal seumur hidup.
Alvin menyadari sesuatu: semua logika yang selama ini ia pegang, tidak pernah bisa menjelaskan mengapa ia merasa begitu “pulang” saat bersama Lina.

Dan Lina, dalam diamnya, tahu
bahwa takdir memang punya cara sendiri untuk mempertemukan orang-orang yang seharusnya bersama.
Setahun kemudian, tanpa banyak keraguan, Alvin melamar Lina.

Bukan dengan kemewahan, tetapi dengan ketulusan.
“Aku tidak tahu bagaimana algoritma bisa mempertemukan kita,” kata Alvin, “tapi aku tahu satu hal
aku tidak ingin mencari lagi. Aku sudah menemukan rumah.”

Lina menitikkan air mata.
“Dan aku tidak ingin pergi,” jawabnya.
Pernikahan mereka berlangsung di Denpasar, Bali, di sebuah katedral yang sederhana namun sakral. Keluarga dan sahabat hadir, menjadi saksi dua jiwa yang dipersatukan bukan hanya oleh cinta, tetapi oleh sesuatu yang lebih besar
takdir.
Di bawah langit Bali yang cerah, mereka mengucap janji.
Bukan hanya sebagai suami dan istri, tetapi sebagai dua manusia yang pernah tersesat dalam dunia masing-masing, lalu ditemukan kembali melalui jalan yang tak pernah mereka bayangkan.
Dalam dunia yang semakin dikuasai oleh kecerdasan buatan, kisah Alvin dan Lina menjadi pengingat bahwa di balik semua teknologi, ada sesuatu yang tetap misterius dan indah takni jodoh.

Sesuatu yang tidak bisa dihitung.
Tidak bisa diprediksi.
Namun selalu menemukan jalannya.
Dan mungkin, di suatu tempat di antara jutaan baris kode dan jaringan tanpa batas, takdir sedang diam-diam bekerja
mempertemukan dua hati yang memang sudah dituliskan untuk bersama.

Selamat dan Bahagia

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Hari Buruh (1 Mei) Hari Buruh atau May Day diperingati setiap 1 Mei sebagai simbol perjuangan pekerja di seluruh dunia.

Hari Buruh
(1 Mei)
Hari Buruh atau May Day diperingati setiap 1 Mei sebagai simbol perjuangan pekerja di seluruh dunia.

Oleh : Adharta
Ketua umum
KRIS

Www.kris.or.id

Akar sejarahnya berasal dari gerakan buruh di Amerika Serikat pada akhir abad ke-19.

Saat itu, buruh bekerja sangat panjang, hingga 12–16 jam sehari.
Mereka menuntut perubahan menjadi 8 jam kerja
sebuah tuntutan yang kini terasa wajar, tetapi dulu merupakan perjuangan besar.

Puncak perjuangan terjadi pada 1 Mei 1886 di Chicago, ketika ratusan ribu buruh melakukan mogok kerja. Aksi ini berujung pada tragedi Haymarket Affair beberapa hari kemudian. Sebuah ledakan bom terjadi saat demonstrasi, menewaskan polisi dan warga sipil.

Peristiwa ini mengguncang dunia dan menjadi simbol pengorbanan buruh.
Peristiwa Penting Sepanjang Waktu
Seiring waktu, Hari Buruh menjadi momentum global.

Pada tahun 1889, organisasi buruh internasional menetapkan
1 Mei sebagai hari peringatan perjuangan pekerja.

Di abad ke-20, berbagai negara mulai mengakui hak-hak buruh, termasuk:
Penetapan jam kerja 8 jam
Hak berserikat
Perlindungan keselamatan kerja
Lembaga seperti International Labour Organization (ILO) turut berperan penting dalam merumuskan standar kerja internasional sejak 1919.

Hari-Hari Penting Lain Terkait Buruh
Selain 1 Mei, ada beberapa hari penting terkait dunia kerja:

Hari Pekerjaan Layak Sedunia (7 Oktober)

Hari Penghapusan Pekerja Anak Sedunia (12 Juni)

Hari Keselamatan dan Kesehatan Kerja Sedunia (28 April)

Hari-hari ini menyoroti isu spesifik seperti keselamatan, keadilan, dan perlindungan pekerja.
Bagaimana dengan Indonesia?
Di Indonesia, sejarah Hari Buruh cukup dinamis. Pada masa awal kemerdekaan, Hari Buruh diperingati secara luas. Namun, pada era Orde Baru, peringatan ini sempat dilarang karena dianggap berbau politik. Baru pada tahun 2013, pemerintah menetapkan kembali 1 Mei sebagai hari libur nasional.
Momen Penting bagi Buruh Indonesia
Beberapa momen penting bagi buruh Indonesia antara lain:

Reformasi 1998 yang membuka kebebasan berserikat
Penetapan upah minimum regional (UMR/UMK)

Penolakan terhadap Undang-Undang Cipta Kerja yang memicu gelombang protes besar
Momen-momen ini menunjukkan bahwa perjuangan buruh di Indonesia terus berkembang.
Kisah-Kisah yang Menyentuh
Di balik peringatan Hari Buruh, ada banyak kisah nyata.

Misalnya
Seorang buruh pabrik yang tetap bekerja lembur demi pendidikan anaknya
Pekerja migran yang meninggalkan keluarga demi penghasilan lebih baik
Buruh harian yang tetap bertahan meski upah tak menentu

Kisah-kisah ini mencerminkan ketangguhan dan pengorbanan para pekerja.

Demo dan Tuntutan di Indonesia
Setiap 1 Mei, aksi demonstrasi sering terjadi di berbagai kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

Demo ini umumnya berlangsung damai, meski kadang diwarnai ketegangan.
Tuntutan utama buruh biasanya meliputi

Kenaikan upah minimum
Penghapusan sistem kerja kontrak dan outsourcing
Jaminan sosial dan kesehatan
Perlindungan terhadap pemutusan hubungan kerja (PHK) sepihak
Penutup
Hari Buruh bukan sekadar peringatan sejarah, melainkan refleksi perjuangan panjang demi keadilan dan kesejahteraan pekerja.

Dari Haymarket Affair hingga aksi-aksi modern di Indonesia, semangatnya tetap sama
memperjuangkan kehidupan yang lebih layak bagi mereka yang bekerja keras setiap hari.

Sebagai kenangan

KEBAHAGIAAN dan WAKTU ada sebuah jembatan penghubung yakni CINTA

KEBAHAGIAAN
dan
WAKTU
ada sebuah jembatan penghubung yakni CINTA

Adharta dan Lena

43 tahun bukan sekadar angka. Tetapi adalah perjalanan panjang yang kami lalui bersama
dari dua hati muda yang dipersatukan pada tanggal
30 April 1983, hingga hari ini, 30 April 2026,

kami berdiri sebagai dua hati yang tetap memilih satu sama lain, setiap hari.

Kami telah melewati banyak musim kehidupan.
Ada hari-hari penuh tawa, ada pula masa-masa penuh ujian. Kami pernah berada di titik terendah, namun justru di sanalah kami belajar arti kesetiaan, pengertian, dan kasih yang tidak bersyarat.

Waktu mengajarkan bahwa cinta bukan hanya tentang perasaan, tetapi tentang keputusan untuk tetap bertahan, saling menggenggam, bahkan saat badai datang tanpa diundang.
Hari-hari berlalu, rambut mungkin memutih, langkah tak lagi secepat dulu, tetapi satu hal tak berubah: rasa syukur karena masih bisa berjalan beriringan.

Lena adalah rumah, tempat kembali, tempat hati menemukan tenangnya.
Dan saya percaya, perjalanan ini indah bukan karena sempurna, tetapi karena kami menjalaninya bersama.

Kami sungguh terharu atas begitu banyak ucapan, doa, dan kasih sayang yang diberikan oleh keluarga dan sahabat tercinta.

Setiap kata yang disampaikan menjadi penguat, menjadi pengingat bahwa perjalanan ini juga dihiasi oleh kehadiran orang-orang baik di sekitar kami.

Terima kasih
Terima kasih
Terima kasih

dari hati yang paling dalam.
Izinkan kami berbagi sebaris puisi ditulis

Seiring waktu yang tak pernah berhenti,
kita belajar mencintai dalam sunyi,
bukan karena segalanya mudah dilalui,
tetapi karena kita tak pernah memilih pergi.

Semoga perjalanan ini terus diberkati, dan cinta yang kami rawat tetap hidup, sederhana namun bermakna.

Sebagai kenangan ini kami percaya

“Cinta sejati bukan tentang menemukan orang yang sempurna, melainkan tentang melihat kesempurnaan dalam setiap ketidaksempurnaan yang dijalani bersama.”

Dengan penuh syukur dan kasih,
Kami berdua
Bersama anda semua

Adharta dan Lena

PENIPUAN DIGITAL (AI) BERUJUNG PENCURIAN UANG NASABAH BANK

PENIPUAN DIGITAL (AI) BERUJUNG PENCURIAN UANG NASABAH BANK

Oleh: Adharta
Ketua Umum KRIS

26 April 2026

Sahabat dan Keluarga
Banyak sekali terjadi tindak pidana Penipuan yang berakhir dengan menguras semua uang anda di Bank
Saya berharap tulisan ini sedikit meredakan kasus ini dari ke hati hatian kita dengan cara saling mengingatkan dan saling memberi informasi perihal adanya penipuan
Supaya para Security Cyber khususnya di Bank yang bersangkutan bisa bertindak mengatasi kondisi ini dengan cepat

Sahabatku
Waktu sering kali menjadi celah dalam setiap peristiwa kejahatan.
Jeda waktu antara kejadian dan kesadaran korban kerap dimanfaatkan pelaku untuk menghilangkan jejak.
Dalam konteks penipuan digital, kecepatan menjadi senjata utama pelaku, sementara kelambatan menjadi kerugian besar bagi korban.

Malam ini, saat saya menikmati makan malam di sebuah restoran Korea di Central Park 2 bersama seorang sahabat yang juga seorang Romo, saya mendengar kisah yang mengusik hati.

Beliau baru saja menjadi korban penipuan. Pelaku menyamar sebagai petugas Dukcapil, berbicara dengan meyakinkan, menggunakan bahasa resmi, bahkan mengetahui sebagian data pribadi korban. Dalam waktu singkat, seluruh dana di rekeningnya raib.

Yang lebih menyedihkan, kasus seperti ini sering kali tidak dapat ditangani secara tuntas. Pelaporan ke pihak bank maupun otoritas kerap menemui jalan buntu.

Seolah-olah korban dibiarkan menanggung sendiri akibatnya.
Peristiwa ini bukan yang pertama.

Seorang sahabat saya, beliau dokter spesialis kulit, juga mengalami hal serupa.

Bahkan jujur saya sendiri pernah berada dalam situasi yang nyaris sama.
Namun, seperti banyak korban lainnya, rasa malu sering kali mengalahkan keberanian untuk bercerita.

Ada ketakutan dianggap ceroboh, bodoh dianggap tidak cerdas.
Padahal, justru di situlah letak kekuatan para penipu
mereka memanfaatkan psikologi manusia, bukan sekadar kelemahan teknis.
Modus Penipuan yang Semakin Canggih
Perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), telah memperkaya cara pelaku melakukan penipuan.

Berikut beberapa modus yang kini marak terjadi

Penyamaran sebagai Instansi Resmi
Pelaku mengaku dari Dukcapil, pajak, bank, atau bahkan aparat penegak hukum.

Mereka menggunakan nada tegas dan mendesak, menciptakan kepanikan agar korban tidak sempat berpikir panjang.
Peniruan Suara (Voice Cloning)
Ada kasus di mana pelaku meniru suara tokoh agama, seperti uskup atau pastor, untuk meminta bantuan dana. Dengan teknologi AI, suara tersebut terdengar sangat autentik.

Penipuan “Salah Transfer”
Korban menerima uang atau notifikasi palsu, lalu diminta mengembalikan dana tersebut. Dalam prosesnya, korban justru diarahkan memberikan akses ke rekeningnya.
Permintaan OTP dan Otorisasi
Ini salah satu modus paling umum.

Pelaku meminta kode OTP dengan alasan verifikasi.

Begitu kode diberikan, rekening korban langsung diambil alih.

Penipuan Kartu Kredit
Pelaku mengaku dari bank dan menyebut adanya transaksi mencurigakan. Korban diminta memberikan data kartu, CVV, atau kode verifikasi.

Phishing melalui Email dan Pesan
Email atau pesan WhatsApp berisi tautan palsu yang menyerupai situs resmi bank.

Begitu korban login, data langsung dicuri.

Undangan Digital Berbahaya
File undangan pernikahan atau ulang tahun yang dikirim melalui WhatsApp ternyata berisi malware yang bisa mengakses data pribadi.

Mengapa Korban Terjebak?

Pertanyaan yang sering muncul mengapa orang-orang terdidik pun bisa tertipu?

Jawabannya sederhana: karena penipuan ini dirancang untuk menyerang emosi, bukan logika.

Pelaku menciptakan rasa takut, urgensi, atau bahkan empati. Dalam kondisi tertekan, manusia cenderung mengambil keputusan cepat tanpa verifikasi.
Selain itu, pelaku sering kali sudah memiliki sebagian data korban, sehingga percakapan terasa meyakinkan.

Langkah Dasar yang Harus Dipegang
Beberapa prinsip yang sudah Anda sampaikan sangat penting, dan perlu terus digaungkan:

Berani berkata TIDAK, bahkan kepada orang yang dikenal.
Jangan pernah memberikan OTP kepada siapa pun.

Abaikan nomor tidak dikenal.
Jangan membuka link atau file mencurigakan.
Waspada terhadap email yang tidak jelas sumbernya.

Namun, itu belum cukup.

Saran Tambahan saya
Jika Ada Gejala Penipuan
Berikut langkah konkret yang dapat dilakukan masyarakat:

Segera Hentikan Komunikasi
Jika ada rasa curiga, langsung tutup telepon atau hentikan percakapan. Jangan beri ruang bagi pelaku untuk terus mempengaruhi.

Verifikasi Secara Mandiri
Jika ada pihak mengaku dari bank atau instansi, hubungi langsung nomor resmi yang tertera di website resmi.

Blokir Rekening dan Kartu
Jika sudah terlanjur memberikan data, segera hubungi bank untuk memblokir akses.

Aktifkan Notifikasi Transaksi
Pastikan setiap transaksi memberikan notifikasi real-time.

Gunakan Batas Transaksi Harian
Batasi jumlah transfer harian untuk meminimalkan kerugian.

Laporkan ke Otoritas
Laporkan ke bank, OJK, dan kepolisian.

Semakin banyak laporan, semakin besar peluang pelaku dilacak.

Edukasi Keluarga
Banyak korban adalah orang tua atau anggota keluarga yang kurang familiar dengan teknologi.

Kisah Nyata

Dalam Hitungan Menit
Seorang pengusaha menerima telepon dari seseorang yang mengaku dari bank.
Beliau diberitahu bahwa ada transaksi mencurigakan sebesar ratusan juta rupiah. Dalam keadaan panik, beliau mengikuti instruksi “petugas” untuk mengamankan rekeningnya.
Ia diminta menyebutkan kode OTP yang masuk ke ponselnya.

Dalam waktu kurang dari lima menit, seluruh saldo rekeningnya hilang.

Ketika beliau menghubungi bank, jawabannya sederhana: transaksi dianggap sah karena menggunakan OTP yang benar.
Di sinilah persoalan besar muncul.
Peran dan Tanggung Jawab Bank

Bank tidak bisa hanya berlindung di balik sistem.
(Data nasabah biasanya dari tangan pihak bank dan keterlibatan oknum atau karyawan bank yang bersangkutan)

Pihak Bank harus
Ada tanggung jawab moral dan sistemik yang harus diperkuat.

Beberapa saran saya untuk perbankan

Sistem Deteksi Anomali yang Lebih Canggih
Transaksi dalam jumlah besar yang tidak biasa seharusnya bisa ditahan sementara.

Cooling System (Penundaan Transaksi Besar)

Memberikan jeda waktu sebelum transaksi besar diproses, agar nasabah bisa membatalkan jika terjadi penipuan.

Pusat Laporan Darurat 24 Jam yang Responsif
Bukan sekadar call center, tetapi tim khusus anti-fraud.

Edukasi Aktif kepada Nasabah
Tidak cukup hanya melalui SMS. Harus ada kampanye masif dan berkelanjutan.
Tanggung Jawab Bersama
Bank perlu mempertimbangkan skema perlindungan bagi korban, bukan langsung menyatakan “bukan tanggung jawab kami”.
Kolaborasi Antar Bank
Melacak aliran dana kemana dan data nama penipu harusnya bisa di lacak
Karena pembukaan rekening harus di ikuti sekuriti data pemilik rekening
Demikian maka aliran dana bisa diteruskan lacak dan di blokir

Untuk melacak dan membekukan rekening penampung dana hasil penipuan secara cepat.

Menghapus Rasa Malu, Membangun Kesadaran
Satu hal yang perlu kita ubah adalah budaya diam.

Korban penipuan tidak boleh merasa sendirian atau dipermalukan.
Justru dengan berbagi pengalaman, kita bisa menyelamatkan orang lain dari jebakan yang sama.

Penipuan digital bukan lagi soal kecerdasan, tetapi soal kewaspadaan. Siapa pun bisa menjadi korban.
Maka, keberanian untuk berkata “tidak”, kebiasaan untuk verifikasi, dan kesadaran untuk berbagi adalah benteng utama kita.
Karena di era digital ini, bukan yang paling pintar yang selamat, tetapi yang paling waspada.

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

“Di Tepi Lubang yang Tak Terlihat”

Cerpen nomor 0074

“Di Tepi Lubang yang Tak Terlihat”

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Buat seorang sahabat jauh dan lama tidak bersua

April minggu ketiga 2026

Malam itu, Robert duduk di warung kecil pinggir jalan.
Di depannya hanya sepiring Indomie goreng sederhana dan segelas teh hangat.
Uapnya naik pelan, seperti pikirannya yang juga sedang penuh.

Robert menatap kosong ke jalan. Ramai, tapi terasa sepi.

“Kalau kita tahu di depan ada lubang… masa kita diam saja?” gumamnya lirih.

Di kepalanya, hanya ada satu nama
Yani.
Sahabatnya sejak muda.

Orang baik. Terlalu baik, mungkin.
Dulu, Yani adalah sosok yang penuh semangat. Wajahnya cerah, ide-idenya tajam, dan rezekinya mengalir seperti air yang tahu jalannya pulang.

Tapi sekarang… semuanya berubah.
Perlahan, hampir tak terlihat.
Seperti seseorang yang jatuh… tapi jatuhnya pelan.

Robert melihat perubahan itu sejak dua tahun terakhir, sejak Yani menikah.

Awalnya, semua tampak biasa. Bahkan bahagia. Tapi lama-kelamaan, ada sesuatu yang janggal.

Yani mulai sering minta izin untuk hal-hal kecil.
Yani mulai kehilangan kepercayaan diri.
Yani mulai menjauh dari teman-temannya.
Dan yang paling membuat Robert gelisah
mata Yani.
Kosong.
Seperti seseorang yang hidup… tapi tidak benar-benar “hidup”.

Suatu sore, Robert mencoba bicara.
“Yan, lo nggak ngerasa berubah?” tanyanya hati-hati.

Yani hanya tersenyum kecil.
“Berubah gimana maksudnya?”

“Lo sekarang beda… kayak bukan lo yang dulu.”

Yani tertawa ringan, tapi ada nada defensif di dalamnya.

“Ah, lo aja yang lebay. Namanya juga udah berumah tangga.”

Robert diam. Ia tahu… ini bukan sekadar “adaptasi”.
Ini lebih dalam.
Lebih sunyi.
Di lain waktu, Vani
yang juga teman dekat mereka
ikut mencoba membuka percakapan.
“Kita cuma khawatir, Yan…” katanya lembut.
“Kamu keliatan capek… bukan capek fisik, tapi capek hati.”

Yani menatap mereka berdua. Ada sekejap keraguan di matanya.
Tapi hanya sekejap.
“Nggak kok. Gue baik-baik aja.”
Jawaban klasik.
Jawaban orang yang belum siap melihat kenyataan.

Robert mulai menyadari sesuatu yang pahit
Orang yang sedang terjebak… sering tidak merasa dirinya terjebak.
Ia melihat bagaimana Yani semakin bergantung secara emosional pada istrinya.

Setiap keputusan harus melalui persetujuan. Setiap langkah seakan diawasi. Bahkan kebahagiaannya pun seperti harus “diizinkan”.
Dan yang paling menyedihkan—Yani tidak sadar.
Atau mungkin… belum siap untuk sadar.

Malam itu, Robert kembali ke warung yang sama. Indomie 3.000 rupiah jadi saksi pikirannya yang berat.

“Apa gue harus terus ngomong?”
“Atau gue harus diam?”
Ia teringat satu hal

Niat menolong bisa berubah jadi kesalahan… kalau caranya salah.
Ia tidak ingin jadi orang yang merusak rumah tangga sahabatnya.

Tapi ia juga tidak ingin jadi orang yang diam melihat sahabatnya perlahan hancur.

Akhirnya, Robert memilih jalan tengah.
Ia tidak lagi “menasihati”.
Ia memilih… “menemani”.
Ia mulai lebih sering mengajak Yani ngobrol santai, tanpa topik berat.

Ia tidak menghakimi. Tidak menuding. Tidak memaksa.
Ia hanya hadir.
Kadang mereka tertawa seperti dulu.

Kadang hanya diam sambil minum kopi.
Dan di sela-sela itu, Robert sesekali menyelipkan kalimat sederhana:

“Lo berharga, Yan.
Jangan lupa itu.”
Tidak lebih.
Tidak kurang.
Waktu berjalan.
Perubahan tidak langsung terjadi.
Tapi suatu hari, tanpa diduga, Yani berkata pelan:

“Rob… lo pernah ngerasa hidup lo kayak… bukan milik lo sendiri?”

Robert tidak langsung menjawab.
Ia hanya tersenyum tipis.
Karena ia tahu… akhirnya Yani mulai melihat.
Sedikit demi sedikit.

Robert tidak merasa menang.
Ia hanya merasa… lega.
Karena ternyata, menyelamatkan seseorang bukan tentang menarik paksa keluar dari lubang.
Tapi tentang menjadi cahaya… sampai dia sadar bahwa dia berada dalam kegelapan.

Fenomena hidup

Campur Tangan dalam Rumah Tangga Sahabat
Fenomena seperti ini sangat sering terjadi:
Teman melihat jelas ada “ketidakseimbangan” dalam hubungan sahabatnya
Ada dorongan moral untuk menolong
Tapi batas antara
“peduli” dan “ikut campur” sangat tipis

Masalahnya: Semakin kita menekan, semakin dia bertahan pada posisinya

Karena secara psikologis, dia merasa “hubungannya diserang”
Akibatnya:
Dia menjauh dari kita
Kita kehilangan akses untuk menolong
Justru makin terisolasi dalam situasi yang tidak sehat
Solusi & Saran Realistis

Jangan jadi “penyerang pasangan” Kalau Anda menyudutkan istrinya, otomatis teman Anda akan defensif.

➡️ Fokus ke teman, bukan ke pasangannya.

Ganti “menasihati” jadi “menyadarkan”

Hadir tanpa syarat Kadang yang dibutuhkan bukan solusi, tapi tempat aman.

Jadi orang yang tidak menghakimi.

Tanamkan self-worth Orang yang terjebak biasanya kehilangan harga diri.

Ingatkan perlahan:
“Lo dulu hebat”
“Lo punya pilihan”

Terima batas Ini yang paling berat

Kita tidak bisa menyelamatkan orang yang belum mau diselamatkan

Tugas kita:
Mengingatkan
Menemani
Mendoakan

Rasa “nggak tega” itu tanda hati Anda masih hidup.
Tapi ingat:
Menolong yang benar bukan yang paling keras,
tapi yang paling sabar

Dan kadang…
Indomie sederhana di malam hari
lebih jujur menemani hati
daripada seribu nasihat yang tidak siap

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Antrean yang Mengajarkan Hidup

Cerpen nomor 0073

Antrean yang Mengajarkan Hidup

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

April minggu ketiga 2026

Kisah Kasih
Pagi itu, matahari belum tinggi ketika Pak Darma berdiri di depan cermin kecil di kamarnya. Usianya sudah 70 tahun lebih, rambutnya memutih rapi, dan langkahnya mulai pelan.

Ia menarik napas panjang, lalu tersenyum kecil.

“Hari ini kita ke rumah sakit lagi, ya, Bu,” katanya.

Istrinya, Bu Ratih, mengangguk sambil menyiapkan map berisi berkas-berkas dari BPJS
Kesehatan.

Map itu sudah seperti sahabat setia—sedikit lusuh, tapi penuh harapan.

Awal yang Penuh Keraguan

Dua tahun lalu, Pak Darma sempat menolak saat pertama kali harus berobat rutin lewat BPJS.

“Ribet, antre lama, belum tentu dilayani dengan baik,” keluhnya waktu itu.

Namun karena kondisi jantungnya mulai sering berdebar, ia akhirnya menyerah.

Dari faskes pertama di klinik kecil, Suasana Sehat di bilangan Kelapa Gading Jakarta utara
ia dirujuk ke dokter spesialis. Lalu berlanjut ke pemeriksaan lain
laboratorium, USG, bahkan MRI.

Semua terasa seperti perjalanan panjang yang melelahkan.

“Ini kok kayak nggak selesai-selesai ya, Bu?” katanya suatu hari.

Bu Ratih hanya tersenyum, “Mungkin ini cara Tuhan ngajarin kita sabar.”

Antrean yang Mengubah Cara Pandang

Awalnya, ruang tunggu rumah sakit adalah tempat paling membosankan bagi Pak Darma. Kursi keras, antrean panjang, nomor yang bergerak lambat.

Namun perlahan, sesuatu berubah.
Ia mulai memperhatikan orang-orang di sekitarnya.

Seorang anak kecil dengan kepala botak duduk di kursi roda, tertawa lepas sambil bermain mobil-mobilan. Di sampingnya, ibunya tersenyum,
Suster Nunung
Lewat bawa kue
meski terlihat lelah.
“Dia cuci darah tiap minggu,” bisik seseorang di sebelah Pak Darma.

Pak Darma terdiam.
Di sudut lain, seorang gadis muda terlihat cantik dan ceria, meski berjalan pelan dengan bantuan alat medis.

“Sudah 10 tahun pakai kateter,” kata perawat.
Dirawat karena kanker usua dan sudah mengeras dan posisi stadium akhir

Pak Darma kembali menunduk.
Hari demi hari, ia melihat lebih banyak lagi

Seorang suami yang sabar mendorong istrinya di kursi roda.
Karena penyakit paru paru akut

Seorang anak muda yang dengan penuh kasih menggandeng ayahnya ke ruang dokter.
Karena sakit parkinson dan kanker tulang

Seorang ibu yang sigap mengurus aplikasi dan administrasi untuk suaminya.

Di tengah antrean yang panjang, Pak Darma mulai merasa kecil.
“Aku ini sehat, tapi sering mengeluh,” gumamnya.
Pelajaran yang Tidak Ada di Buku
Suatu hari, Pak Darma duduk di sebelah seorang pria seusianya.

“Sudah lama, Pak?” tanya Pak Darma.
“Sudah lebih dari lima tahun bolak-balik sini,” jawab pria itu santai.

“Capek ya, Pak?”
Pria itu tertawa kecil. “Capek badan, iya. Tapi hati jangan ikut capek.”

Kalimat itu menancap dalam.
Pak Darma mulai sadar
rumah sakit bukan hanya tempat berobat. Tapi tempat belajar.

Belajar sabar.
Belajar bersyukur.
Belajar melihat hidup dari sudut pandang yang berbeda.

Ia teringat sebuah artikel yang pernah dibacanya, mengutip World Health Organization (kata pak Ketum KRIS)
tentang sistem rujukan berjenjang.
“Bukan untuk mempersulit,” katanya dalam hati, “tapi untuk melindungi.”

Suka dan Duka BPJS (sebut saja KRIS)
Pak Darma tidak memungkiri, ada banyak suka duka selama menggunakan BPJS.

Dukanya:
Antrean panjang yang menguras tenaga dan pikiran

Jadwal yang kadang mundur
Sistem rujukan yang terasa berbelit bagi orang awam
Pernah suatu hari, ia harus datang tiga kali hanya untuk mendapatkan jadwal pemeriksaan.

“Ini kalau nggak sabar, bisa marah-marah,” katanya pada Bu Ratih.

Namun Bu Ratih selalu menjawab, “Kita belajar sabar di sini, Pak.”

Sukanya:
Semua pemeriksaan ditanggung pemerintah atau Gratis

Dokter yang teliti dan tidak asal memberi obat
Rasa aman karena tidak terbebani biaya
Pak Darma pernah menghitung kasar biaya yang mungkin ia keluarkan tanpa BPJS.
“Bisa puluhan juta,” katanya pelan.

Saat itu ia benar-benar bersyukur.
Kekuatan Sosial yang Tak Terlihat
Yang paling mengejutkan bagi Pak Darma adalah perubahan dalam dirinya.

Ia menjadi lebih terbuka. Lebih ramah. Lebih mudah tersenyum.
Ia mulai ngobrol dengan siapa saja di ruang tunggu.

Tertawa bersama orang asing.
Berbagi cerita.
Saling menguatkan.
Ia teringat penelitian dari Harvard University yang pernah ia baca: bahwa lansia yang aktif bersosialisasi memiliki risiko demensia lebih rendah.

“Jadi ini bukan cuma berobat,” katanya suatu hari, “ini juga menjaga otak.”

Bu Ratih tersenyum bangga.

Untuk Anggota KRIS:
Pesan dari Antrean
Sebagai Ketua komunitas kecil di lingkungannya—KRIS (Komunitas Relawan Indonesia Sehat)

Pak Darma mulai membagikan pengalamannya.
Dalam sebuah pertemuan sederhana, ia berkata:

“Teman-teman, BPJS itu bukan sekadar kartu. Itu jembatan.”
Ia lalu memberi beberapa bimbingan dan saran:

Pertama
Pahami sistemnya, jangan dilawan Sistem rujukan memang berjenjang. Ikuti alurnya. Itu dibuat untuk keselamatan kita.

Kedua
Siapkan mental sabar Antrean bukan musuh. Itu bagian dari proses.

Ketiga
Manfaatkan waktu tunggu Gunakan untuk membaca, berdoa, atau berkenalan dengan sesama pasien.

Keempat
Jaga hubungan sosial Ngobrol, tertawa, dan saling menyemangati adalah “obat gratis” yang sering kita abaikan.

Kelima
Jangan hanya fokus pada penyakit Fokuslah pada kehidupan.
Pada apa yang masih kita miliki.
Penutup: Pulang dengan Lebih dari Sekadar Obat
Hari itu, setelah pemeriksaan rutin, Pak Darma dan Bu Ratih berjalan keluar dari rumah sakit.
“Bagaimana hasilnya, Pak?” tanya Bu Ratih.
“Alhamdulillah, sehat,” jawabnya.
Namun kali ini, jawabannya terasa berbeda.
Bukan sekadar sehat secara medis.
Tapi juga sehat dalam cara berpikir.
Pak Darma menatap langit cerah.
“Bu,” katanya pelan, “ternyata kita ini bukan cuma berobat.”
“Lalu?”
“Kita ini sedang sekolah… sekolah….
kehidupan.”

Bu Ratih menggenggam tangannya.
Dan mereka pulang
bukan hanya membawa resep obat, tetapi juga membawa cerita, pelajaran, dan rasa syukur yang jauh lebih besar.

Terima kasih BPJS

Tulisan ini di dedikaai buat Sahabatku
Di BPJS termasuk ketua BPJS prof Ali

Di tunggu di Medan Baru

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Persahabatan di Atas Segalanya

Singapura

Persahabatan di Atas Segalanya

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Tulisan
Pengalaman pribadi

Lavender
Sabtu
13 September 2025

Juga untuk mengenang para sahabat Singapura yang telah mendahului kita semua

Aku selalu mengenang sahabat dalam persahabatan

Hidup itu kadang seperti naik pesawat.

Ada rencana, ada jadwal, ada tiket di tangan.
Tetapi kita semua tahu, mesin pesawat bisa rusak, cuaca bisa berubah, pilot bisa mengumumkan, “Maaf, penerbangan kita tertunda dua jam.”

Begitu juga perjalanan saya ke Singapura baru-baru ini.
Penerbangan Batik Air 7153 yang seharusnya berangkat pukul 08.00 WIB harus ganti pesawat karena kerusakan mesin pesawat

Sambil menunggu, saya berpikir:
“Duh, bagaimana ini, jam 14.00 saya sudah ada janji dengan dokter jantung
Dr. Devinder Singh di Mount Elizabeth hospital Orchard.”

Namun, Tuhan memang pandai mengatur waktu. Walau sempat resah, saya tetap tiba tepat waktu.
Bahkan ada bonus
saya dan istri saya Lena sempat makan Tori-Q di Paragon
Makanan favorit istri saya, Lena
sebelum bertemu dokter.

Rasanya seperti pesan sponsor:

“Santai saja, semua baik-baik saja.

Bahkan masih ada waktu makan enak!”

Rumah Sakit Kedua saya Bernama Mount Alvernia

Pertemuan dengan dokter Devinder kali ini bukan hal kecil.
Untuk mempersiapkan tindakan pemasangan ICD (Implantable Cardioverter Defibrillator).

Bagi saya, ini bukan operasi pertama, bahkan bukan yang kedua.
Ini operasi keenam! Kalau ada penghargaan frequent flyer untuk pasien rumah sakit, mungkin saya sudah dapat kartu platinum.

Kenapa saya pilih Singapura? Jawabannya sederhana

kepercayaan.
Sejak 2019, ketika saya terkena serangan jantung, saya ditangani oleh Dr. Nicolas Wanahita di Mount Elizabeth Novena.
Selama lima tahun ini, beliau bukan hanya dokter, tetapi penjaga setia kesehatan saya.

Rasanya seperti punya bodyguard khusus jantung haha

Namun sesungguhnya, hubungan saya dengan Singapura dalam dunia medis sudah jauh lebih lama.

Tahun 1980, saya lumpuh total setelah kecelakaan motor.
Di Indonesia waktu itu, diagnosa masih samar-samar.
Saya hampir putus asa.
Tapi kemudian Singapura memanggil ini berkat dorongan dari kakak saya Risal dan seorang sahabat Michael Teo

Saya bertemu Prof. Dr. John A. Tambyah, bahkan sebagai wakil Menteri Kesehatan Singapura kala itu.
Beliau yang menangani sakit saya sampai operasi Tyroid toxicosia

Tahun 1982, saya menjalani operasi di Mount Alvernia
dan itulah awal persahabatan saya dengan negeri kecil ini.

Persahabatan yang Tidak Bisa Dibeli
Singapura sering disebut Fine City
bukan hanya kota indah, tapi juga kota penuh denda.

Buang sampah sembarangan? Denda.
Makan permen karet di MRT? Denda.
Merokok sembarangan? Denda.
Bahkan salah parkir bisa bikin kantong lebih tipis.

Ada juga yang menyebut Singapura itu Pay and Pay. Semua serba mahal.
Mau minum kopi di Orchard Road? Kadang bisa bikin kita kaget,
“Lho, ini kopi atau cicilan KPR rumah ?”

Tapi bagi saya, Singapura bukan soal mahalnya biaya atau banyaknya denda.

Singapura adalah negeri persahabatan. Persahabatan itu yang menyelamatkan, yang menguatkan, yang membuat biaya tak lagi terasa.
Saya ingat bagaimana almarhum sahabat saya,
Yusuf Kamarudin,

memperkenalkan saya kepada Dr. Ong
Menteri Kesehatan Singapura yang bekerja sama dengan Killcovud-19 selama masa pandemi

Pertemuan itu terjadi di klinik Marina East, saat saya juga berkenalan dengan mantan PM Goh Cho Tong
Dari situ persahabatan berkembang, bahkan sampai ke bisnis bersama teman teman
Ada Canadian Two-in-One Pizza dan Pizza Sarpino.

Kalau diingat-ingat, persahabatan kami bukan cuma di meja rumah sakit, tapi juga di meja makan pizza!

Ada pula sahabat baik saya,
Mr. Richard Ong, beliau Duta Besar negara Seychelles untuk Singapura.

Hubungan kami lebih dari sekadar sahabat; beliau sudah seperti keluarga, kakak angkat.
Kalau saya datang ke Singapura, rasanya belum lengkap kalau tidak bertemu Mr. Richard Ong.

Nostalgia Rasa
Bak Kut Teh
Pagi itu di Singapura, sebelum bertemu dokter, saya sempat bernostalgia. Sarapan Bak Kut Teh di Ya Hua Outram,
Tanjong Pagar. Restoran ini sudah jadi langganan sejak 1980-an.
Uniknya, rasa kuahnya tidak pernah berubah. Mungkin inilah rahasia Singapura: konsistensi.
Di sini, bahkan sup iga babi pun punya komitmen lebih kuat daripada sebagian yang jadi politikus kita.

Selesai sarapan, saya melanjutkan perjalanan bertemu sahabat lain,
Bapak Anton Liu, tokoh muda koperasi.
Kami bertemu di Starbucks Mount Elizabeth Novena.
Anton Liu
sedang berjuang melawan kanker paru-paru, menjalani 81 kali kemoterapi. Bayangkan, empat tahun berjuang, seminggu dua kali terapi.

Saat kami bertemu, ia sudah mencapai terapi ke-78.
Kami duduk, minum kopi, bercerita tertawa dan bercanda

Saya kagum pada keteguhannya. Kalau saya diberi gelar frequent flyer pasien rumah sakit, mungkin Anton Liu
pantas diberi gelar marathon fighter.

Kami berdua tertawa kecil di tengah cerita, karena terkadang tawa adalah obat terbaik yang tidak dijual di apotek.

Singapura
Pusat Medis Dunia
Mengapa Singapura bisa menjadi pusat kesehatan dunia?

Jawabannya terletak pada kombinasi disiplin, inovasi, dan investasi.
Standar Internasional
Hampir semua rumah sakit di Singapura sudah terakreditasi
JCI (Joint Commission International).

Artinya, standar layanan medis mereka setara dengan rumah sakit top dunia.

Dokter Berkelas Dunia
Banyak dokter Singapura menempuh pendidikan di universitas ternama seperti Harvard, Oxford, Cambridge, Johns Hopkins. Mereka pulang dengan ilmu, tapi tetap rendah hati melayani pasien Asia.

Teknologi Mutakhir
Dari operasi robotik, terapi gen, hingga penelitian stem cell,
Singapura tidak pernah ketinggalan. Bahkan pasien dari Eropa dan Timur Tengah sering datang ke sini.

Empati dalam Layanan
Walaupun sangat profesional, dokter dan perawat Singapura tetap ramah.

Mereka tidak hanya menyuntik obat, tetapi juga memberi semangat. Kadang satu kalimat

“You’ll be fine” bisa jadi vitamin tambahan.
Touching keluarga juga menarik
Saya dengan dokter Nicolas Wanahita
Tapi istri Beliau Alice juga sering menyapa walau tidak ada hubungannya namun persahabatan merembet sampai keluarga
(Hal ini yang tidak ada di jumpai di Indonesia)
Catatan saya buat yang menangani PEO
Patient Experiences Officer

Ajak Dokter menyapa pasien diluar jadwal dokter
Luangkan waktu sejenak

Apakah sudah minum Obat pagi hari?
Bagaimana tensi darah hari ini
Less then 1 minute touching tapi lebih dari a thousand hope

Singapura
Medical Tourism
Sebelum pandemi, lebih dari 500 ribu pasien internasional datang ke Singapura setiap tahun.
Indonesia termasuk penyumbang terbesar.
Banyak orang bilang:
“Kalau sakit serius, pergilah ke Singapura.”
Sure pasti sembuh

Singapura
Negeri Pendidikan
Selain medis, Singapura juga unggul di bidang pendidikan.
Universitas Dunia
NUS (National University of Singapore)
dan NTU (Nanyang Technological University)
selalu masuk 20 besar dunia.
(Salam hormat saya buat sahabat di Nanyang dan Parkway)

Bayangkan, negara sekecil Jakarta Selatan, punya universitas setara Harvard.

Sekolah Dasar yang Serius
Anak-anak Singapura sudah dibiasakan berpikir kritis sejak dini.

Tidak heran mereka sering juara olimpiade matematika atau sains.

Dukungan Pemerintah
Hampir 20% anggaran negara untuk pendidikan.

Pemerintah sadar, kekayaan alam Singapura terbatas.
Tapi otak manusia, kalau diasah, bisa jadi sumber daya tak terbatas.

Link ke Industri
Pendidikan di Singapura erat kaitannya dengan dunia kerja.
Lulusan politeknik dan universitas langsung siap kerja karena magang dan proyek industri menjadi bagian dari kurikulum.
Kalau medis adalah salah satu sayap Singapura, maka pendidikan adalah sayap lainnya.

Dua sayap inilah yang membuat Singapura bisa terbang tinggi.

Ada Humor Kecil Tentang Disiplin
Singapura
memang disiplin.
Kadang terlalu disiplin.

Saya pernah bercanda dengan seorang teman:
“Di Singapura, kalau kamu buang sampah sembarangan, kamu didenda.
Kalau kamu merokok di tempat terlarang, kamu didenda. Kalau kamu meludah sembarangan, juga didenda.
Tapi kalau kamu senyum sembarangan, siapa tahu malah dapat pacar.”
Karena di Singapura sesuai data Wanita jauh lebih banyak dari Pria
Jadi laki laki
Sangat laku di Singapura

Teman saya tertawa: “Betul, tapi pacarnya pun disiplin.
Kalau janji jam 2, jangan datang jam 2.15. Bisa diputusin!”

Humor-humor kecil ini justru membuat saya semakin kagum.
Karena disiplin yang ketat itu memang yang membuat Singapura bisa maju.

Sungapura
Renungan di Tengah Persahabatan
Kini,
menjelang operasi pemasangan ICD, saya merenung.

Enam kali operasi, bukan perjalanan mudah.
Tapi saya bersyukur. Di balik semua biaya dan rasa sakit,
ada sahabat-sahabat yang menemani.
Ada dokter yang penuh dedikasi.
Ada istri Lena dan anak cucu
Tidak lupa besan besan dan keluarga
(Sempat ketemu keluarga Besan di Singapura)
Semua
yang selalu mendukung.

Saya percaya, Tuhan menaruh orang-orang baik di sekitar kita agar perjalanan hidup tidak terasa terlalu berat.

Singapura mengajarkan saya bahwa persahabatan lebih mahal dari biaya rumah sakit, lebih berharga dari harga obat, dan lebih langka daripada tiket murah ke Orchard Road.

Negeri Persahabatan
Bagi sebagian orang,
Singapura adalah negeri mahal,
negeri penuh denda,
negeri yang serba ketat.

Tetapi bagi saya, Singapura adalah negeri persahabatan. Negeri yang menyelamatkan saya dari lumpuh.
Negeri yang memberi saya dokter dan sahabat.
Negeri yang mengajarkan bahwa dengan disiplin, ketekunan, dan persahabatan, tidak ada batas untuk harapan.

Persahabatan di atas segalanya. Itulah Singapura bagi saya.

Saya mencari sahabat
Untuk mengawali persahabatan

Www.kris.or.id
Www.adharta.com

ANTARA KESEMPURNAAN DAN KESEPIAN

Cerpen nomor 0072

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Medio April 2026

Kisah ini didedikasi untuk aeorang sahabat yang sedang sakit

ANTARA KESEMPURNAAN DAN KESEPIAN

Empat puluh tahun lalu, Anita berdiri anggun di pelaminan.
Gaun putih membalut tubuhnya yang ramping, senyum tipis menghiasi wajahnya yang cantik namun terjaga.

Di sampingnya, Andi—pria yang ia pilih sebagai pasangan hidup—menatapnya dengan penuh cinta yang hangat dan sederhana.

Pernikahan mereka bukanlah kisah cinta yang meledak-ledak. Tidak ada drama, tidak ada pertengkaran besar di awal.

Yang ada adalah dua pribadi berbeda yang mencoba berjalan dalam ritme yang sama.

Andi hangat, santai, penuh toleransi.

Anita… sebaliknya.
Ia terstruktur, disiplin, hampir kaku.

Dunia Anita adalah dunia yang harus teratur, bersih, dan terkendali.

Dari pernikahan itu, lahirlah seorang putri: Mira.
Mira kecil tumbuh dalam rumah yang bersih seperti ruang operasi. Setiap sudut mengilap.
Tidak ada debu. Tidak ada noda. Bahkan sebelum duduk di kursi mobil, Anita selalu mengelapnya dengan kain steril.

Sendok, garpu, piring—harus dicuci ulang sebelum dipakai, walau sudah bersih.
Baju harus dicuci setiap hari.
Tidak ada toleransi terhadap “sedikit kotor”.

Awalnya, Andi mencoba memahami. Ia tersenyum, membantu, menenangkan. Tapi perlahan, ia lelah. Ia sering berkata pelan,
“Tidak semua hal harus sempurna, Nita…”

Namun Anita tidak pernah benar-benar mendengar.
Mira tumbuh di antara aturan. Ia tidak pernah benar-benar bebas.
Setiap langkah diawasi.
Setiap kesalahan dikoreksi.
Setiap kekacauan kecil dianggap ancaman besar.
Dan dari situlah, jarak mulai tumbuh.
Hubungan ibu dan anak itu perlahan berubah.

Bukan lagi hangat. Bukan lagi penuh tawa. Tapi menjadi dingin… dan tegang.
Seperti anjing dan kucing.
Mira sering memberontak.

Anita semakin keras. Kata-kata menjadi tajam. Tatapan menjadi dingin.
Tidak ada ruang untuk memahami satu sama lain.
Andi berada di tengah
menjadi jembatan yang semakin lama semakin rapuh.
Hingga suatu hari, sepuluh tahun lalu, Andi pergi untuk selamanya.

Kepergiannya seperti memutus satu-satunya tali yang masih menghubungkan Anita dan Mira.

Rumah itu menjadi lebih sunyi… dan lebih keras.
Tanpa Andi, Anita semakin tenggelam dalam dunianya sendiri.

Dunia yang bersih, steril, dan penuh kontrol. Sementara Mira merasa semakin tercekik.
Hingga akhirnya, Mira memilih pergi.
Tanpa banyak kata.
Tanpa pelukan. Tanpa perpisahan yang layak.
Ia lari… ke Denpasar, Bali.

Sejak hari itu, rumah Anita benar-benar kosong.
Tidak ada suara tawa.
Tidak ada langkah kaki. Hanya bunyi detik jam dan suara kain yang mengelap permukaan meja berulang kali.
Anita tetap menjadi dokter yang dihormati. Profesional. Disiplin. Sempurna.
Namun di balik jas putihnya… ada kesepian yang tidak pernah ia akui.

Hubungannya dengan kakak perempuannya pun tidak lebih baik.
Padahal kakaknya adalah pengusaha sukses, terkenal, dan berpengaruh. Tapi hubungan mereka penuh jarak, penuh ego, dan tak pernah benar-benar hangat.
Seolah Anita memang ditakdirkan hidup dalam lingkaran yang teratur… tapi sepi.

Satu-satunya cahaya dalam hidupnya adalah Monic.
Sahabat lama sejak masa kuliah di UI. Dokter kandungan yang hangat, sabar, dan penuh empati. Monic adalah satu-satunya orang yang bisa masuk ke dunia Anita tanpa diusir.

Mereka sering berbincang. Curhat. Tertawa kecil.
Dalam Monic, Anita menemukan sesuatu yang tidak pernah ia miliki: penerimaan.
Namun waktu tidak pernah berhenti.
Lebih dari satu tahun lalu, hidup Anita berubah drastis.
Diagnosis itu datang seperti petir di siang bolong.
Kanker.

Bukan satu titik. Tapi beberapa organ.
Tubuh yang selama ini ia jaga dengan disiplin tinggi… ternyata menyimpan kelemahan yang tidak bisa ia kendalikan.

Anita yang selalu kuat… mulai rapuh.
Operasi demi operasi harus dijalani. Salah satunya adalah operasi usus yang berat.

Ia dirawat. Sendiri.
Tidak ada suami di sampingnya. Tidak ada anak yang menggenggam tangannya. Kakaknya pun jauh—secara fisik maupun hati.

Yang ada hanya Monic.
Monic yang mengantar ke rumah sakit.
Monic yang menunggu di ruang operasi.
Monic yang datang saat bezoek.
Monic yang menggenggam tangannya saat rasa sakit tak tertahankan.
Teman-teman alumni UI juga tidak tinggal diam.
Mereka mengumpulkan dana untuk membantu biaya pengobatan Anita.
Walau sudah dibantu BPJS, biaya tetap besar.
Namun bantuan materi tidak bisa menggantikan satu hal: kehangatan keluarga.

Minggu lalu, Anita menjalani operasi di MRCCC.
Operasi berjalan. Tubuhnya bertahan.
Namun saat ia pulang ke rumah untuk pemulihan… kenyataan kembali menampar.
Rumah itu tetap sunyi.
Sepi yang dulu ia pilih… kini menjadi beban yang harus ia tanggung.

Atas saran Monic, akhirnya Anita setuju menggunakan caregiver atau perawat

Sebuah keputusan yang dulu mungkin tidak akan pernah ia ambil. Membiarkan orang lain masuk ke ruang pribadinya, menyentuh barang-barangnya, berada di dunianya yang steril.

Namun kini… ia tidak punya pilihan.
Hari-hari pemulihan terasa panjang.
Kadang Anita duduk sendiri di ruang tamu, menatap kursi kosong di depannya.
Di sana, dulu Andi sering duduk.

Tersenyum. Menenangkan.
Kadang ia menatap pintu… seolah berharap Mira tiba-tiba muncul.

Namun pintu itu tetap tertutup.
Tidak ada yang datang.
Di antara rasa sakit fisik dan kesepian yang menyesakkan, Anita mulai menyadari sesuatu yang selama ini ia abaikan.
Ia bisa mengontrol kebersihan.
Ia bisa mengontrol rutinitas.
Ia bisa mengontrol dunia kecilnya.
Tapi ia tidak pernah benar-benar belajar mengontrol… hatinya.
Ia terlalu sibuk menciptakan kesempurnaan… hingga lupa merawat hubungan.
Dan kini, saat tubuhnya melemah… yang ia butuhkan bukanlah lantai yang bersih atau piring yang steril.
Tapi seseorang… yang mau duduk di sampingnya.
Menggenggam tangannya.
Dan berkata, “Aku di sini.”
Namun hidup tidak selalu memberi kesempatan kedua dengan mudah.
Yang tersisa bagi Anita kini hanyalah kenangan, penyesalan, dan satu harapan kecil yang belum padam—
Bahwa suatu hari, mungkin… Mira akan pulang.
Dan di saat itu tiba, Anita tidak lagi ingin menjadi sempurna.
Ia hanya ingin menjadi… seorang ibu.

Www.adharta.com

Www.kris.or.id

SAMBUTAN DAN GAGASAN STRATEGISMUSYAWARAH BESAR II PRAMARIN (Praktisi Maritim Indonesia)

PRAMARIN:

SAMBUTAN DAN GAGASAN STRATEGIS
MUSYAWARAH BESAR II PRAMARIN (Praktisi Maritim Indonesia)

Jakarta
Kamis 16 April 2026

Oleh : Adharta
Ketua Dewan
Pengawas

Assalamualaikum waramatulohi wabarakatuh

Salam sejahtera bagi kita semua

Yang saya muliakan
Bapak Menteri Perhubungan dan seluruh Jajarannya

Yang saya hormati para pendiri dan Pembina PRAMARIN,

Yang saya Cintai
Ketua Umum Pengurus Pramarin 2021 – 2026
beserta seluruh jajarannya

Yang saya banggakan
para pelaku usaha maritim, pemilik Kapal
para profesional, pelaut, nelayan, akademisi, serta seluruh pecinta dunia maritim di Indonesia yang sekali lagi saya banggakan.

Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat-Nya kita dapat berkumpul dalam Musyawarah Besar II PRAMARIN. Mubes ini bukan sekadar forum organisasi, melainkan momentum penting untuk merumuskan arah strategis komunitas maritim Indonesia dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi maritim yang luar biasa.

Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya terkelola secara optimal.
Oleh karena itu, PRAMARIN harus mengambil peran sebagai katalisator perubahan
menyatukan visi antara pelaku usaha, pekerja, dan pemangku kepentingan dalam ekosistem maritim.

Dalam kesempatan hari ini saya mau menulis sebuah
Tesis utama yang ingin saya sampaikan adalah:

“Kemajuan maritim Indonesia hanya dapat dicapai melalui integrasi kekuatan finansial, industrial, dan operasional yang berkelanjutan.”

Untuk itu, izinkan saya menyampaikan beberapa gagasan strategis:

Pertama
Sektor Keuangan: Fondasi Penguatan Ekosistem Maritim
Salah satu tantangan terbesar dalam dunia maritim adalah keterbatasan akses pembiayaan. Banyak pelaku usaha, terutama nelayan dan UMKM maritim, kesulitan mendapatkan modal yang terjangkau.
PRAMARIN dapat mendorong:
Skema pembiayaan khusus sektor maritim berbasis risiko industri
Kolaborasi dengan perbankan nasional dan lembaga keuangan global
Literasi keuangan bagi pelaut dan nelayan

Usulan strategis: pembentukan Bank Kapal Indonesia,
BKI
sebuah institusi keuangan khusus yang berfokus pada pembiayaan kapal, logistik laut, serta industri pendukung maritim.

Bank ini diharapkan menjadi solusi bagi pembiayaan pembangunan kapal, peremajaan armada, hingga asuransi maritim.

Kedua
Sektor Industri: Membangun Kemandirian Maritim
Indonesia masih bergantung pada impor untuk banyak kebutuhan bahan baku industri maritim. Ini menjadi tantangan sekaligus peluang.
Langkah yang dapat diambil:

Mendorong revitalisasi galangan kapal nasional
Pengembangan industri komponen kapal dalam negeri
Insentif bagi investasi di sektor industri maritim

PRAMARIN harus menjadi jembatan antara pelaku industri dan pemerintah, memastikan kebijakan yang berpihak pada kemandirian nasional.

Ketiga
Sektor Operasional:

Efisiensi dan Modernisasi
Dalam operasional, tantangan utama adalah efisiensi logistik dan kualitas SDM.
Program yang dapat diinisiasi:
Digitalisasi sistem
AI dan Teknologi Informasi
pelabuhan dan logistik
Pelatihan dan sertifikasi pelaut berstandar internasional
Penguatan keselamatan kerja di laut

PRAMARIN dapat membangun pusat pelatihan maritim terpadu yang menghubungkan teori, praktik, dan kebutuhan industri.
Termasuk menerbitkan sertifikasi kompetensi Pelaut dll.

Keempat
Kolaborasi dan Advokasi Nasional
Tidak ada kemajuan tanpa sinergi. PRAMARIN harus:

Menjadi mitra strategis pemerintah
Menjadi wadah aspirasi pelaku maritim
Menginisiasi forum rutin lintas sektor
Komunitas ini harus bergerak dari sekadar wadah silaturahmi menjadi think tank maritim nasional.

Sebagai pesan
Penutup

Para
Hadirin yang saya hormati,

Masa depan Indonesia Suka atau Tidak Suka ada di laut

Kita tidak boleh hanya menjadi penonton di negeri sendiri.

PRAMARIN harus menjadi pelopor perubahan
menggerakkan, menghubungkan, dan memperjuangkan kepentingan maritim bangsa Indonesia

Mari kita jadikan Mubes II ini sebagai titik tolak kebangkitan baru dunia maritim Indonesia.

Dengan semangat kebersamaan, profesionalisme, dan cinta tanah air, kita yakin bahwa Indonesia akan menjadi kekuatan maritim dunia yang disegani.

Terima kasih.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Salam Sejahtera bagi kita semua

Adharta