Wang Pingping

Wang Pingping

Cerpen no 0063

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Jakarta
Akhir Maret 2026

Langkah sunyi

Di sebuah kota di Tangerang
Kota kecil yang selalu diselimuti kabut pagi, hiduplah seorang perempuan bernama
Wang Pingping. Namanya dikenal sederhana, tetapi setiap orang yang pernah berjumpa dengannya akan mengingat satu hal
cara ia berjalan, tenang dan anggun, seolah setiap langkahnya memiliki makna.

Pingping bekerja di sebuah toko buku tua di sudut jalan yang jarang dilalui orang.

Rak-rak kayu yang berdebu, aroma kertas lama, dan cahaya matahari yang menembus jendela kecil menjadi dunia yang ia jaga setiap hari.

Banyak yang bertanya mengapa ia memilih tempat sepi seperti itu, padahal wajahnya yang lembut dan Cantik
sikapnya yang sopan bisa membawanya ke kehidupan yang lebih ramai.
Namun, hanya sedikit yang tahu bahwa Pingping menyukai kesunyian.

Ping ping datang ke kota itu lima tahun lalu, tanpa membawa banyak barang
hanya sebuah koper kecil dan sebuah buku tua bersampul hijau. Buku itu selalu ia simpan di laci kasir, dan tak pernah sekalipun ia membiarkan orang lain menyentuhnya.

Suatu sore, ketika hujan turun perlahan dan jalanan menjadi lengang, seorang pria muda masuk ke toko. Rambutnya sedikit basah, matanya tajam namun hangat.

“Apakah toko ini masih buka?” tanyanya.

Pingping mengangguk pelan.

“Selama lampu masih menyala, kami selalu buka.”

Pria itu tersenyum.

“Jawaban yang menarik.”

Namanya Surya. Ia adalah seorang penulis yang sedang mencari tempat tenang untuk menyelesaikan novelnya.
Tanpa sengaja, ia menemukan toko buku itu dan merasa seperti menemukan dunia yang hilang.

Hari demi hari, Surya mulai sering datang. Kadang hanya duduk membaca, kadang berbincang dengan Pingping.

Percakapan mereka tidak banyak, tetapi selalu terasa cukup.

“Kenapa kamu selalu di sini?” tanya Surya suatu hari.
Pingping menatap jendela.

“Karena di sini, waktu berjalan lebih lambat.”

Surya tertawa kecil.

“Atau mungkin kamu yang ingin berhenti dari waktu.”

Pingping tidak menjawab.
Seiring waktu, Surya mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang disembunyikan Pingping.
Ia selalu tersenyum, tetapi matanya sering terlihat jauh
seperti seseorang yang hidup di masa lalu.

Suatu malam, listrik di toko padam.
Hanya cahaya lilin yang menerangi ruangan.
Hujan di luar semakin deras.

“Pingping,” kata Surya pelan,
“apa yang kamu sembunyikan?”

Pingping terdiam lama. Lalu, dengan gerakan hati-hati, ia membuka laci dan mengeluarkan buku bersampul hijau itu.

“Ini,” katanya, “adalah alasan aku di sini.”

Surya menerima buku itu. Halamannya sudah menguning, tetapi tulisan di dalamnya masih jelas.
Itu adalah kumpulan cerita
cerita tentang seorang perempuan bernama Pingping dan seorang pria yang mencintainya.

“Ini… kisahmu?” tanya Surya.

Pingping mengangguk. “Ditulis oleh seseorang yang dulu sangat berarti bagiku.”

“Di mana dia sekarang?”

Pingping tersenyum tipis. “Tidak ada lagi.”

Ternyata, lima tahun lalu, Pingping hampir menikah.
Pria yang ia cintai adalah seorang penulis, penuh mimpi dan harapan.
Mereka berjanji akan menjalani hidup sederhana bersama.
Namun, sebuah kecelakaan merenggut semuanya.
Pria itu meninggal sebelum pernikahan mereka terlaksana.
Buku itu adalah karya terakhirnya
kisah cinta mereka yang belum selesai.

“Aku datang ke kota ini untuk melupakan,” kata Pingping pelan.

“Tapi ternyata, aku hanya belajar hidup bersama kenangan.”

Surya menutup buku itu dengan hati-hati.
Untuk pertama kalinya, ia melihat air mata di mata Pingping.

“Kenapa kamu tetap menyimpannya?” tanyanya.

“Karena itu satu-satunya cara aku merasa dia masih ada.”

Hening menyelimuti mereka.
Sejak malam itu, hubungan mereka berubah.

Surya tidak lagi sekadar pengunjung; ia menjadi seseorang yang memahami kesunyian Pingping.

Namun, semakin dekat mereka, semakin jelas satu hal

Pingping masih terikat pada masa lalu.
Suatu pagi, Surya datang membawa naskah.

“Aku sudah selesai,”
katanya.

Pingping tersenyum.

“Akhirnya.”

“Tapi aku belum yakin dengan akhirnya.”

“Kenapa?”

Surya menatapnya.

“Karena aku belum tahu apakah orang bisa benar-benar melupakan.”

Pingping terdiam.

“Menurutmu?” tanya Surya.

Pingping menggeleng pelan.

“Tidak semua harus dilupakan.”

“Lalu?”

“Kadang, kita hanya perlu belajar membuka hati lagi.”

Kata-kata itu menggantung di udara.
Beberapa hari kemudian, Surya tidak datang lagi.

Hari-hari terasa lebih sunyi dari biasanya. Pingping tetap menjalani rutinitasnya, tetapi ada kekosongan yang tak bisa ia abaikan.

Hingga suatu sore, sebuah paket datang.
Di dalamnya ada sebuah buku baru
novel karya Surya.

Judulnya Langkah Sunyi.

Pingping membuka halaman pertama.
Di sana tertulis:
Untuk seseorang yang mengajarkanku bahwa cinta tidak selalu tentang memiliki, tetapi tentang keberanian untuk melangkah lagi.

Air mata perlahan jatuh.
Di halaman terakhir, ada sebuah catatan

Jika suatu hari kamu siap, aku akan menunggu di tempat pertama kita bertemu.

Pingping menutup buku itu. Ia menatap toko, rak-rak buku, dan jendela yang selama ini menjadi dunianya.

Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, ia ragu.

Langkahnya perlahan menuju pintu.
Hujan baru saja berhenti, dan udara terasa segar.
Ia menggenggam buku bersampul hijau itu… lalu meletakkannya kembali di laci.
Dengan napas panjang,
Wang Pingping melangkah keluar.

Langkahnya masih tenang. Masih anggun.
Namun kali ini, bukan menuju masa lalu.
Melainkan menuju kemungkinan masa depan baru.

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Pasanganmu, Jalan Rezekimu

“Pasanganmu, Jalan Rezekimu”

Cerpen No 0062

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Lebaran 1
22 Maret 2026

(Based on a true story)

Kehidupanku

Yenny tidak pernah menyangka bahwa pernikahan yang dulu ia banggakan, perlahan menjadi cermin yang menampar kenyataan hidupnya sendiri.

Di sisi lain, Teddy
suaminya
adalah sosok yang nyaris sempurna di mata banyak orang.

Teddy dikenal sebagai pria cerdas, berwibawa, dan tenang.
Cara bicaranya lembut, tidak pernah meninggi, tapi selalu didengar. Sejak muda, ia sudah dipercaya menjadi pemimpin
dari organisasi sekolah hingga berbagai komunitas profesional. Orang-orang menghormatinya tanpa ia perlu memaksakan diri.
Ia tipe yang mengabdi, bukan mencari pujian.
Namun, di balik semua itu, Teddy punya satu kelemahan: ia terlalu pasif. Ia takut salah langkah. Ia lebih sering menunggu “tanda dari Tuhan” daripada mengambil keputusan sendiri. Ibarat lapar tapi enggan mengambil makanan di meja
menunggu disuapi.
Dan di samping pria seperti itu, berdirilah Yenny.

Yenny adalah kebalikan dari Teddy. Ia penuh emosi, mudah meledak, dan sulit mengakui kesalahan.
Ia suka menuntut, gemar pamer, dan menjalin hubungan hanya jika ada keuntungan.

Baginya, penampilan adalah segalanya.
Tas bermerek, foto di media sosial, pakaian dengan logo besar
semua harus terlihat.
Padahal, kenyataan hidup mereka tidak seindah unggahan Yenny.

Teddy baru saja menyelesaikan kontraknya sebagai staf ahli di sebuah instansi BUMN. Statusnya kini “menganggur sementara”, menunggu peluang pekerjaan tetap.

Di masa sulit itu, bukannya menenangkan atau mendukung, Yenny justru menuntut liburan ke Singapura.

“Aku pengen banget ke Universal Studios,”
katanya suatu malam, tanpa beban.
Teddy hanya terdiam. Ia tahu kondisi keuangan mereka sedang tidak baik.
Tapi seperti biasa, ia memilih diam.
Di sisi lain, seorang teman lama Teddy sebenarnya berniat membantu.
Ia memiliki peluang pekerjaan yang bisa dibagi, sesuatu yang bisa menjadi titik balik bagi Teddy.
Awalnya, niat itu tulus.
Namun semuanya berubah setelah ia melihat media sosial Yenny.
Setiap hari, unggahan demi unggahan memenuhi layar
tas baru, outfit mencolok, gaya hidup yang tampak mewah. Semua dipamerkan seolah tanpa beban, tanpa rasa cukup.
Teman itu menghela napas panjang.

“Kalau orangnya baik, kita bantu. Tapi kalau tidak… untuk apa?” pikirnya.

“Kalau sekarang saja sudah seperti ini, nanti kalau rezekinya bertambah, apa tidak makin menjadi?”

Akhirnya, niat itu pun diurungkan.
Tanpa Teddy sadari, sebuah pintu rezeki tertutup
bukan karena kemampuannya kurang, tapi karena bayang-bayang sikap pasangannya.
Hari demi hari berlalu.

Tekanan hidup semakin terasa. Teddy tetap diam, tetap berharap, tetap menunggu. Sementara Yenny terus berjalan dengan dunianya sendiri
penuh tuntutan dan pencitraan.
Sampai suatu hari, seseorang berkata kepada Teddy dengan sederhana, tapi menohok:

“Kadang, rezeki itu bukan cuma soal usaha. Tapi juga soal siapa yang berjalan di samping kita.”

Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.
Ia mulai melihat hidupnya dari sudut pandang yang berbeda. Bahwa pasangan bukan hanya teman berbagi cerita, tapi juga penentu arah hidup.
Energi, sikap, dan cara berpikir pasangan bisa memperluas atau justru menyempitkan jalan rezeki.

Ia teringat satu kalimat yang kini sering beredar:

“Pasanganmu adalah rezekimu, dan juga jalan hidupmu.”

Kini Teddy mengerti.
Mungkin dulu ia bisa mendapatkan “100”, tapi karena energi yang salah di sampingnya, yang tersisa hanya “50”.

Sebaliknya, orang dengan pasangan yang baik
yang sabar, mendukung, dan rendah hati
meski dalam kesulitan, selalu saja ada jalan. Rezeki datang dari arah yang tak terduga.

Cerita Teddy dan Yenny menjadi pelajaran yang diam-diam menyebar di antara orang-orang yang mengenal mereka.

Bahwa memilih pasangan bukan sekadar soal cinta atau penampilan.

Karena wajah bisa diperbaiki, tapi sifat… tidak ada klinik yang bisa mengubahnya dalam semalam.

Dan pada akhirnya, hidup mengajarkan satu hal sederhana namun dalam:
Lebih baik memiliki pasangan yang sederhana tapi berhati baik, daripada yang terlihat sempurna namun membawa badai dalam kehidupan.

Karena tanpa disadari, pasangan kita bukan hanya teman hidup

melainkan pintu, atau bahkan penghalang, bagi rezeki yang seharusnya datang.

Terima kasih buat Vani atas kiriman kisahnya

http://www.kris.or.id I http://www.adharta.com

Di Meja yang Sama walau beda bangku

*Cerpen nomor 0061*

*Di Meja yang Sama walau beda bangku*

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Jakarta
21 Maret 2026

Minal aidin walfa izin
Mohon maaf lahir dan batin

*Selamat hari raya Idul fitri*
*1447 Hijriah*

Dalam suka cita dan cinta
Di sebuah rumah sederhana di Jakarta,
di antara hiruk-pikuk kota yang tak pernah benar-benar tidur, hiduplah sebuah keluarga yang tak biasa
namun justru di situlah letak keindahannya.

Redi, seorang pria Muslim berawak tinggi besar
yang bekerja sebagai manajer stasiun di Gambir, adalah sosok yang tegas namun hangat.
Setiap pagi ia berangkat sebelum matahari benar-benar terbit, memastikan kereta-kereta berjalan tepat waktu, seperti ritme hidupnya yang teratur.

Istrinya, Maria, seorang Katolik yang bekerja sebagai suster di Rumah Sakit Saint Carolus, Jakarta
adalah perempuan Cantik
penuh kasih, dengan senyum yang menenangkan siapa pun yang sedang sakit
baik tubuh maupun hati.

Mereka memiliki tiga anak perempuan yang semuanya sudah kuliah:
Pertama Nita, si sulung yang memilih Katolik seperti ibunya;

Kedua Mira, anak kedua yang mengikuti keyakinan ayahnya sebagai Muslim;

dan ketiga Susana, si bungsu yang memilih jalan Buddha dengan ketenangan yang khas.

Perbedaan itu tak pernah menjadi jurang. Justru menjadi taman bunga dengan warna-warni yang memperindah kehidupan mereka.

Suatu sore menjelang bulan Ramadan, suasana rumah terasa lebih hidup dari biasanya.

“Ayah, nanti sahur pertama aku bantu ya,” kata Mira sambil membawa segelas teh hangat ke meja makan.
Redi tersenyum, “Wah, anak ayah makin rajin.

Tapi jangan sampai kesiangan kuliah ya.”

Nita yang duduk di sebelahnya ikut menyela, “Aku juga bangun kok. Sekalian temani Mama doa pagi.”

Susana tertawa kecil, “Aku sih ikut bangun juga… tapi mungkin cuma duduk sambil minum air dan meditasi sebentar.”

Maria yang baru saja pulang dari rumah sakit meletakkan tasnya dan memandang mereka satu per satu.
Matanya berbinar.
“Beginilah rumah yang Mama suka,” katanya lembut. “Ramai, beda-beda, tapi tetap satu meja.”
Ramadan pun tiba.

Setiap dini hari, dapur rumah itu hidup.
Mira membantu menyiapkan sahur bersama Maria, sementara Nita dan Susana kadang masih mengantuk di kursi makan, namun tetap menemani.

“Doanya masing-masing ya,” ujar Maria setiap kali mereka akan makan.

Redi mengangkat tangan, membaca doa dengan khusyuk.
Mira mengikutinya. Di sisi lain, Nita membuat tanda salib, dan Susana menundukkan kepala dalam diam.

Tidak ada yang merasa asing.
Hanya ada rasa hormat.
Namun, seperti keluarga pada umumnya, mereka pun tak luput dari perdebatan kecil.

Suatu malam, saat berbuka puasa, terjadi sedikit ketegangan.
“Aku rasa kita harus lebih tegas soal jadwal rumah,” kata Nita. “Semua sibuk, tapi rumah juga harus rapi.”
Mira langsung menjawab, “Aku juga sibuk, Kak. Jangan seolah-olah aku yang paling santai.”
“Bukan begitu maksudku—”
“Sudah, sudah,” potong Susana sambil tersenyum, “kita ini beda agama saja bisa akur, masa beda jadwal piket ribut?”

Redi menatap mereka dengan sedikit serius, tapi kemudian tersenyum.
“Perdebatan itu biasa,” katanya. “Yang penting, jangan sampai kita lupa kenapa kita bisa duduk di sini bersama.”

Maria menambahkan pelan, “Karena kita saling mencintai, bukan karena kita sama.”
Suasana pun mencair.
Tawa kembali terdengar, mengisi ruang makan yang sederhana itu.

Tak lama setelah Ramadan berjalan, suasana Imlek yang baru saja lewat masih terasa. Beberapa lampion kecil masih tergantung di sudut rumah
kenangan dari perayaan yang juga mereka rayakan bersama kerabat.
Kini, mereka mulai membicarakan dua momen besar yang akan datang: Idul Fitri dan Paskah.
“Lebaran tahun ini kita buat lebih ramai ya,” kata Mira penuh semangat.
“Aku mau bikin kue sendiri!”
Nita langsung menyahut, “Kalau begitu aku bantu dekorasi rumah. Sekalian nanti untuk Paskah juga.”

Susana mengangguk, “Aku bagian bersih-bersih saja deh. Biar semua nyaman.”
Maria tersenyum melihat anak-anaknya, lalu memandang Redi.

“Kita beruntung ya,” katanya pelan.

Redi mengangguk, “Sangat.”

Hari-hari berlalu dengan damai. Redi tetap sibuk di stasiun, Maria dengan pasien-pasiennya, dan ketiga anak mereka dengan dunia kampus masing-masing. Namun setiap malam, mereka selalu berusaha makan bersama.
Meja makan itu menjadi pusat kehidupan mereka.
Tempat diskusi.
Tempat bercanda.
Tempat berdebat.
Dan tempat saling menguatkan.

“Menurut kalian,” tanya Susana suatu malam, “kenapa kita bisa seperti ini?”

Mira berpikir sejenak, lalu menjawab, “Karena kita tidak pernah dipaksa.”

Nita menambahkan, “Dan karena kita diajarkan untuk mendengar, bukan hanya bicara.”

Maria memandang Redi dengan hangat, “Dari awal kami sepakat, cinta tidak boleh memaksa.”
Redi tersenyum, “Dan iman itu harus tumbuh, bukan dipaksakan.”
Akhirnya, hari yang dinanti tiba.
Idul Fitri 1447 H.

Rumah itu penuh dengan aroma ketupat, opor ayam, dan kue-kue buatan Mira. Nita sibuk mengatur meja dengan rapi, sementara Susana memastikan semuanya bersih dan nyaman.
Maria mengenakan pakaian sederhana namun anggun, membantu di dapur, sementara Redi mengenakan baju koko putih.
Saat waktu salat Id tiba, Mira menemani ayahnya ke masjid.
Nita dan Susana tinggal di rumah bersama Maria, menyiapkan segalanya untuk menyambut.
Ketika Redi dan Mira kembali, suasana penuh haru menyelimuti rumah.

“Mohon maaf lahir dan batin,” kata Mira sambil mencium tangan ibunya.

Maria memeluknya erat, “Mama juga, Nak.”
Nita dan Susana ikut bergabung. Mereka saling berpelukan, tertawa, bahkan sedikit menitikkan air mata.

Hari itu, tidak ada perbedaan.
Yang ada hanya keluarga.

Beberapa hari kemudian, mereka mulai mempersiapkan Paskah.

Kali ini, Nita yang lebih sibuk. Ia menyiapkan lilin, bunga, dan dekorasi sederhana.

“Ayah bantu ya,” katanya pada Redi.
Redi tersenyum, “Tentu. Ini rumah kita bersama.”
Mira membantu tanpa ragu, sementara Susana kembali dengan perannya menjaga suasana tetap damai.
Saat malam Paskah tiba, mereka kembali duduk di meja yang sama.
Doa kembali dipanjatkan
masing-masing dengan cara mereka sendiri.
Namun satu hal yang sama: rasa syukur.

Di rumah itu, perbedaan bukanlah batas.
Ia adalah jembatan.
Yang menghubungkan hati-hati yang tulus.

Dan di tengah dunia yang sering kali terpecah karena perbedaan, keluarga kecil itu menjadi bukti bahwa cinta, rasa hormat, dan kebersamaan… selalu lebih kuat.
Selama mereka masih duduk di meja yang sama, mereka tahu,
*mereka akan selalu menjadi satu.*

Selamat hari raya idul fitri H 1447

*Minal aidin Walfa Izin*
*Mohon maaf lahir dan batin*

*Adharta*

http://www.kris.or.id I http://www.adharta.com

Cinta yang Tidak Selesai

Cerpen no 0061

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Medio Maret 2026

Sahabatku
Anton lahir di Medan, di sebuah keluarga Katolik sederhana yang mengajarkan disiplin, kerja keras, dan iman kepada Tuhan. Sejak kecil ia dikenal sebagai anak yang penuh energi.

Teman-temannya sering berkata bahwa Anton seperti api hangat, berani, dan selalu bergerak maju. Ia tumbuh menjadi pemuda yang agresif dalam arti positif
berani mengambil kesempatan, rajin bekerja, dan tidak takut menghadapi tantangan.
Sementara itu di Jakarta, lahirlah Mila. Sejak kecil ia dikenal sebagai gadis yang cerdas dan cantik. Ia memiliki mata yang teduh dan cara berbicara yang lembut. Mila mencintai buku sejak usia dini. Ia percaya bahwa pendidikan adalah cara terbaik untuk mengubah dunia.

Karena itu, ia menekuni studinya dengan sungguh
sungguh hingga akhirnya menjadi seorang akademisi yang mengajar di beberapa universitas.
Pertemuan mereka terjadi secara sederhana.
Suatu hari Anton menghadiri sebuah seminar kepemudaan Katolik di Jakarta. Ia datang sebagai peserta, sedangkan Mila menjadi salah satu pembicara muda yang membawakan topik tentang peran pendidikan dalam membangun karakter generasi muda.
Anton yang biasanya penuh percaya diri, tiba-tiba menjadi pendiam ketika mendengar Mila berbicara. Ada sesuatu dalam suara wanita itu
tenang, cerdas, dan penuh keyakinan
yang membuatnya terpikat.
Setelah seminar selesai, Anton memberanikan diri menghampiri Mila.
“Presentasi Anda luar biasa,” kata Anton dengan senyum yang sedikit canggung.
Mila tersenyum ramah. “Terima kasih. Anda dari mana?”
“Medan.

Tapi hari ini saya merasa Jakarta jadi lebih menarik.”

Mila tertawa kecil. Itulah awal dari percakapan panjang yang tanpa mereka sadari menjadi awal sebuah kisah cinta.
Hubungan mereka tumbuh perlahan namun pasti.

Anton sering terbang dari Medan ke Jakarta hanya untuk bertemu Mila.
Kadang mereka menghadiri misa bersama, duduk berdampingan di bangku gereja, berdoa dalam diam.

Anton selalu menggenggam tangan Mila setelah misa selesai, seolah tidak ingin melepaskan kebahagiaan kecil itu.
Mila sering mengagumi semangat Anton.

“Kenapa kamu selalu terlihat begitu berani?” tanya Mila suatu malam.

Anton tersenyum.
“Hidup terlalu singkat untuk takut.”
Kata-kata itu, yang saat itu terdengar seperti candaan ringan, kelak menjadi kalimat yang selalu teringat di hati Mila.

Tahun-tahun berlalu.
Anton semakin sukses dalam pekerjaannya. Ia dikenal sebagai pria yang pekerja keras dan penuh ide. Sementara Mila semakin dikenal di dunia akademik. Ia mengajar di beberapa universitas dan sering diundang menjadi pembicara tentang pendidikan.

Mereka adalah pasangan yang berbeda namun saling melengkapi. Anton penuh energi dan keberanian,
Mila penuh kebijaksanaan dan ketenangan.
Namun hidup kadang berjalan di luar rencana manusia.

Suatu pagi yang sunyi, kabar itu datang seperti petir di langit cerah.
Anton meninggal dunia.
Tidak ada penyakit sebelumnya. Tidak ada tanda-tanda bahaya.
Ia hanya ditemukan tak bernyawa di rumahnya.
Para dokter tidak menemukan sebab yang jelas.
Ia meninggal di usia 40 tahun.
Dunia Mila seolah berhenti berputar.
Hari pemakaman Anton dihadiri banyak orang. Teman, keluarga, dan sahabat datang dari berbagai kota.

Di dalam gereja, lilin-lilin menyala tenang di depan altar.
Mila duduk di bangku depan, memandang peti kayu itu dengan mata yang basah.
Ia teringat semua hal kecil: senyum Anton, keberaniannya, dan cara ia selalu berkata bahwa hidup terlalu singkat untuk takut.
Pastor yang memimpin misa berkata dengan lembut,

“Cinta tidak berhenti ketika seseorang dipanggil pulang oleh Tuhan.”

Setelah pemakaman itu, Mila kembali ke kehidupannya sebagai pengajar. Ia mengajar lebih tekun dari sebelumnya.
Ia menulis, meneliti, dan membimbing mahasiswa dengan penuh perhatian.
Namun ada satu hal yang selalu ia lakukan setiap kali selesai mengajar.

Ia berhenti sejenak di kapel kampus.
Di sana, dalam keheningan doa, Mila selalu mengingat Anton.

Bagi dunia, kisah cinta mereka mungkin telah selesai.
Tetapi bagi Mila, cinta itu tidak pernah benar-benar berakhir.
Karena cinta yang lahir dalam iman… tidak berhenti di bumi.

http://www.kris.or.id I http://www.adharta.com

Aku Pulang Bertahun tahun di Negeri Orang,

Cerpen No. 0060

Oleh : Adharta
Ketua Umum KRIS

Hidup di perantauan

Angin laut berhembus pelan di pelabuhan Tanjung Priok sore itu.
Burung camar terbang rendah di atas kapal-kapal yang bersandar.

Yussof berdiri di tepi dermaga, memandang laut yang berwarna keperakan diterpa matahari senja.
Dalam hatinya, ia tahu perjalanan hidupnya telah berubah sejak pertama kali ia menginjakkan kaki di Jakarta.

Tahun itu,
1980.
Bagi Yussof, Jakarta bukan sekadar kota.
Ia adalah pintu menuju masa depan.
Yussof berasal dari Sabah, dari sebuah kampung kecil tidak jauh dari Kota Kinabalu.

Ayahnya seorang petani sederhana yang setiap hari menanam padi dan sayur di ladang kecil milik keluarga. Ibunya seorang guru sekolah dasar yang sangat dihormati di kampung mereka.

Walaupun hidup sederhana, keluarga itu kaya akan pendidikan dan nilai kehidupan.
Yussof adalah anak kedua dari tiga bersaudara.
Kakaknya, Rahman, sudah lebih dahulu merantau ke Indonesia dan menjadi dokter setelah lulus dari Universitas Airlangga di Surabaya.

Adiknya, Azlan, seorang pemuda cerdas yang kelak menjadi insinyur teknik mesin setelah menempuh pendidikan di sebuah universitas di Singapura.

Di antara mereka bertiga, Yussof lah yang paling mencintai laut.
Sejak kecil ia sering berdiri di pantai Sabah, memandang kapal-kapal besar yang berlayar menuju negeri jauh.
Ia selalu bertanya dalam hati: bagaimana rasanya mengarungi samudra yang luas itu?

Kesempatan itu datang ketika pemerintah Malaysia mengirim beberapa pemuda terbaik untuk belajar di Akademi Ilmu Pelayaran di Jakarta.

Yussof termasuk di antara tujuh orang yang terpilih.
Perjalanan pertamanya meninggalkan Sabah terasa seperti mimpi. Ia masih ingat saat ibunya memeluknya erat di pelabuhan.

“Belajarlah sungguh-sungguh, Yussof,” kata ibunya lembut.
“Di negeri orang kita harus menjaga nama baik keluarga.”
Ayahnya hanya menepuk bahunya kuat-kuat.
“Jangan takut ombak,” katanya singkat.

Kata-kata itu tertanam dalam hati Yussof.
Di Jakarta, hidup tidak semudah yang ia bayangkan.
Ia tinggal di asrama Akademi Ilmu Pelayaran bersama para taruna dari berbagai daerah. Disiplin di akademi sangat keras.
Bangun sebelum matahari terbit, latihan fisik, belajar navigasi, meteorologi, mesin kapal, hingga latihan di laut.
Suatu hari Yussof pernah di hukum menghormati bendera merah putih selama 5 jam di terik Matahari
Gara gara ketahuan makan nasi padang pakai tangan

Bagi Yussof, hari-hari itu penuh perjuangan.
Kadang ia merasa sangat rindu rumah.
Malam-malam panjang di asrama sering diisi dengan percakapan dengan teman-teman senegaranya
enam pemuda Malaysia yang sama-sama merantau. Mereka sering duduk di kantin sederhana, minum kopi panas sambil bercerita tentang kampung halaman.

“Kalau sudah lulus, aku ingin menjadi kapten kapal besar,” kata salah seorang temannya.
Yussof hanya tersenyum.
Dalam hatinya, ia juga memiliki mimpi yang sama.
Namun kehidupan di Jakarta tidak hanya memberi kesulitan.
Kota itu juga memberinya sesuatu yang tidak pernah ia duga sebelumnya.

Cinta.

Ia bertemu dengan seorang gadis Indonesia bernama Ratna.

Ratna adalah mahasiswi di sebuah sekolah tinggi ekonomi di Jakarta. Pertemuan mereka terjadi secara tidak sengaja ketika Yussof membantu Ratna yang hampir terjatuh di halte bus saat hujan deras mengguyur kota.
Sejak pertemuan itu, mereka sering bertemu.
Ratna adalah gadis yang lembut namun kuat.
Ia berasal dari keluarga sederhana di Jawa Tengah yang merantau ke Jakarta untuk mencari kehidupan yang lebih baik.
Yussof sering mengajaknya berjalan di sekitar kota tua, atau duduk di warung kecil menikmati nasi goreng sambil berbincang tentang masa depan.
“Suatu hari nanti kamu akan berlayar jauh,” kata Ratna suatu malam.
Yussof memandangnya lama.
“Kalau itu terjadi, apakah kamu akan menunggu?”
Ratna tersenyum.
“Laut tidak akan pernah bisa mengambil orang yang benar-benar ingin pulang.”
Kata-kata itu membuat hati Yussof hangat.
Tahun-tahun di Akademi Ilmu Pelayaran berlalu dengan cepat. Pelajaran semakin sulit, latihan semakin berat, namun Yussof tidak pernah menyerah.
Ia selalu teringat wajah ayah dan ibunya di Sabah.
Ia juga teringat Ratna.
Pada suatu pagi yang cerah, akhirnya hari yang dinantikan tiba.

Yussof resmi lulus dari Akademi Ilmu Pelayaran Jakarta.
Di pundaknya kini tersemat gelar kapten.
Saat upacara kelulusan, Ratna berdiri di antara para tamu yang hadir.
Ketika mata mereka bertemu, keduanya tahu perjalanan baru akan dimulai.
Tidak lama setelah itu, Yussof membuat keputusan besar dalam hidupnya.
Ia menikahi Ratna.
Sebagian teman-temannya terkejut. Tidak mudah bagi seorang pemuda Malaysia menikahi gadis Indonesia pada masa itu. Namun bagi Yussof, cinta tidak mengenal batas negara.
Ia menulis surat panjang kepada orang tuanya di Sabah.
Beberapa minggu kemudian, balasan datang.
Ibunya menulis dengan tulisan tangan yang halus:
“Jika dia membuatmu bahagia, bawalah dia pulang ke rumah.”
Surat itu membuat mata Yussof basah.
Beberapa tahun setelah kelulusan, Yussof mulai bekerja di kapal-kapal perdagangan yang berlayar melintasi Asia Tenggara. Ia mengarungi Laut Jawa, Selat Malaka, hingga Samudra Hindia.
Kadang ia berada jauh dari rumah berbulan-bulan.
Namun setiap kali kapal mendekati pelabuhan, hatinya selalu teringat satu hal.
Rumah.

Rumah bukan hanya Sabah lagi.
Rumah juga Jakarta.
Rumah adalah Ratna yang menunggunya dengan sabar.
Suatu hari, setelah bertahun-tahun berlayar, Yussof berdiri di geladak kapal memandang cakrawala. Laut tampak tenang seperti kaca yang luas.
Ia teringat perjalanan hidupnya.
Dari seorang anak petani di Sabah…
Menjadi taruna di Jakarta…
Menjadi kapten kapal…
Dan menemukan cinta di negeri orang.
Ia tersenyum pelan.
“Negeri orang telah menjadi bagian dari hidupku,” bisiknya.
Namun dalam hatinya, ia tahu satu hal.
Sejauh apa pun kapal berlayar, setiap pelaut selalu memiliki satu tujuan yang sama.
Pulang.
Dan suatu hari nanti, Yussof akan kembali ke Sabah bersama Ratna, membawa kisah panjang tentang tahun-tahun yang ia jalani di negeri orang.
Sebuah kisah tentang perjuangan, cinta, dan keluarga.
Kisah seorang anak petani yang berani menyeberangi lautan demi masa depan.
Dan ketika ia menutup matanya malam itu di atas kapal yang berlayar perlahan, satu kalimat terngiang di dalam pikirannya:

“Aku pulang… setelah bertahun-tahun di negeri orang.”
Oh Malaya.

http://www.kris.or.id I http://www.adharta.com

Antara Denyut nadi dan Doa

Cerpen no 0058

Oleh : Ad harta
Ketua Umum
KRIS

Jakarta
Awal Maret 2026
Selamat ber puasa

Mengenang seorang sahabat
Kakak dan pejuang KRIS

Cintaku
Rumah sakit itu tidak pernah benar-benar sunyi.
Bahkan pada dini hari, ketika lampu-lampu lorong meredup dan langkah kaki mulai jarang terdengar, masih ada suara monitor jantung yang berdetak pelan
seperti pengingat bahwa kehidupan selalu berjuang untuk tetap ada.

Di rumah sakit itulah
Dr. Arya Pradipta pertama kali bertemu Laras Widyasari, seorang perawat muda dengan mata yang hangat dan senyum yang selalu berhasil menenangkan pasien.

Pertemuan mereka sederhana. Terlalu sederhana bahkan untuk disebut takdir.

Namun dari kesederhanaan itulah kisah besar sering dimulai.

Hari itu hujan turun deras. Arya baru saja menyelesaikan operasi seorang pasien yang sangat melelahkan.
Ia berjalan keluar ruang operasi dengan langkah berat, wajahnya lelah, masker masih menempel.

Di lorong, Laras sedang mendorong troli obat.
“Dokter Arya, Anda belum makan sejak pagi,” katanya lembut.

Arya terkejut. Ia tidak menyangka ada orang yang memperhatikan hal sekecil itu.

“Ah… saya hampir lupa kalau saya juga manusia,” jawabnya sambil tersenyum.

Laras tertawa kecil.
Dan sejak hari itu, sesuatu mulai tumbuh.
Hari-hari mereka di rumah sakit sering penuh kelelahan. Namun di sela-sela tugas, mereka menemukan cara untuk saling menguatkan.
Kadang hanya dengan secangkir kopi di kantin rumah sakit.
Kadang dengan percakapan singkat di lorong.
Kadang dengan tawa kecil psetelah berhasil menyelamatkan pasien yang hampir putus harapan.

Suatu malam, setelah shift panjang, mereka duduk di bangku taman rumah sakit.
Hujan baru saja berhenti. Daun-daun masih basah.
“Apa yang membuatmu memilih menjadi dokter?” tanya Laras.

Arya menatap langit yang masih kelabu.
“Karena aku ingin memperpanjang waktu orang-orang bersama orang yang mereka cintai.”

Laras terdiam.
“Kalau kamu?” Arya bertanya.

“Aku ingin menemani mereka ketika waktu itu hampir habis.”

Mereka saling memandang.
Di antara dua kalimat sederhana itu, mereka tahu mereka berada di jalan yang sama.

Cinta mereka tumbuh perlahan, seperti matahari yang terbit tanpa suara.
Tidak ada drama besar.
Tidak ada pengakuan berlebihan.
Hanya kebiasaan kecil yang berubah menjadi kebutuhan.
Arya selalu menunggu Laras selesai shift malam.

Laras selalu membawa kopi untuk Arya.
Dan suatu sore, di taman yang sama, Arya berkata dengan suara pelan,
“Laras… maukah kamu menua bersamaku?”

Laras tidak menjawab dengan kata-kata.
Ia hanya mengangguk, sambil menyeka air mata yang tiba-tiba jatuh.

Pernikahan mereka sederhana.
Tidak mewah, tidak besar.
Namun penuh tawa.
Teman-teman dokter dan perawat memenuhi aula kecil rumah sakit.
Bahkan beberapa pasien yang sudah sembuh datang membawa bunga.
Hari itu, rumah sakit yang biasanya dipenuhi kecemasan berubah menjadi tempat yang penuh kebahagiaan.
Dan kehidupan baru mereka dimulai.

Tahun-tahun berlalu.
Tuhan memberi mereka tiga anak.

Raka, yang selalu penasaran dengan segala hal.

Dinda, yang lembut dan penuh empati.
Dan Arga, si bungsu yang selalu membuat rumah dipenuhi tawa.
Di rumah kecil mereka, sering terdengar canda.

“Ayah, kalau aku sakit nanti ayah yang operasi ya?” tanya Arga suatu hari.

Arya tertawa.
“Jangan sampai sakit. Tapi kalau perlu, ayah pasti ada.”

Laras memandang mereka dari dapur dengan mata hangat.
Rumah itu sederhana.
Namun penuh cinta.
Ketika anak-anak mulai besar, mereka sering ikut ke rumah sakit.

Mereka melihat ayah mereka bekerja tanpa lelah.
Mereka melihat ibu mereka menenangkan pasien dengan suara lembut.
Suatu malam, Raka berkata,

“Ayah… aku ingin jadi dokter seperti ayah.”
Arya tersenyum bangga.
“Kalau begitu, jadilah dokter yang lebih baik dari ayah.”
Dinda berkata pelan,
“Aku juga ingin membantu orang seperti ibu.”
Arga mengangkat tangan.
“Aku juga!”
Rumah itu penuh tawa malam itu.
Tidak ada yang tahu betapa berharganya momen sederhana itu.

Lalu tahun 2020 datang.
Dunia berubah.
Virus Corona Covid-19
yang tidak terlihat mulai mengambil banyak nyawa.
Rumah sakit menjadi medan perang.

Dokter dan perawat bekerja siang malam.
Arya termasuk di garis depan.
Laras sebenarnya takut.
Sangat takut.
Namun ia juga tahu siapa suaminya.

“Janji pulang,” kata Laras suatu malam sebelum Arya berangkat.
Arya memegang tangannya.
“Aku akan selalu berusaha.”
Hari-hari menjadi berat.
Pasien terus berdatangan.
Tangis keluarga terdengar hampir setiap hari.

Dan suatu malam, Arya mulai batuk.
Awalnya ia mengabaikan.
Namun beberapa hari kemudian, demam datang.
Tes dilakukan.
Hasilnya positif.
Laras merasa dunia berhenti berputar.
Arya harus dirawat di rumah sakit yang sama tempat ia bekerja.

Tempat ia menyelamatkan begitu banyak nyawa.
Kini ia menjadi pasien.
Anak-anak tidak bisa menjenguk.
Mereka hanya bisa melihat ayah melalui layar video.
“Ayah cepat sembuh ya,” kata Arga sambil menahan tangis.

Arya tersenyum meski wajahnya lemah.
“Tentu. Ayah kuat.”
Namun tubuh manusia punya batas.
Dan suatu pagi yang sunyi, monitor jantung Arya berhenti berdetak.

Dokter yang mencoba menyelamatkannya adalah murid-muridnya sendiri.
Di luar ruangan, Laras menangis tanpa suara.
Air mata yang tidak pernah ia biarkan jatuh selama bertahun-tahun akhirnya mengalir deras.

Pemakaman berlangsung sederhana.
Karena pandemi.
Tidak banyak orang yang bisa datang.
Namun cinta yang ditinggalkan Arya jauh lebih besar dari jumlah orang yang hadir.

Di rumah, Laras harus belajar menjadi kuat.
Untuk tiga anaknya.

Tahun-tahun kembali berjalan.
Raka belajar keras.
Dinda tidak pernah berhenti membantu orang.
Arga tumbuh dengan semangat yang sama seperti ayahnya.
Dan suatu hari, Laras duduk di aula universitas.
Matanya berkaca-kaca.
Di panggung, tiga nama dipanggil.

Dr. Raka Aryaputra.
Dr. Dinda Aryasari.
Dr. Arga Aryaditya.

Ketiganya resmi menjadi dokter.
Seperti ayah mereka.
Seperti mimpi kecil yang dulu pernah mereka ucapkan di meja makan.
Laras menatap langit.
Air mata jatuh lagi.
Namun kali ini bukan hanya karena kehilangan.
Melainkan juga karena kebanggaan.

Di antara air mata itu, ia hampir bisa mendengar suara Arya.
“Lihat, Laras… kita berhasil.”

Dan di antara kenangan, tawa, dan doa yang tidak pernah berhenti, cinta mereka tetap hidup.
Bukan lagi hanya di dua hati.
Tetapi di tiga dokter muda yang kelak akan menyelamatkan banyak kehidupan.
Seperti ayah mereka dulu.

http://www.kris.or.id I http://www.adharta.com

SURVIVAL: Bekerja sebagai Ibadah

Cerpen no 0057

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Jakarta, 2 Maret 2026

Sebuah kisah yang kudengar sendiri, obrolan sewaktu berbuka puasa.

Ike sudah bersiap diri ketika kebanyakan orang masih terlelap. Jam lima pagi. Langit masih gelap, jalanan sepi dan basah oleh sisa hujan semalam dan sisa lelah kota yang tak pernah benar-benar tidur.

Ike mengunci pintu rumah kontrakan kecil di pinggiran Depok dengan pelan, takut membangunkan dua adiknya yang tidur berdesakan di satu kasur tipis.

Ayahnya, pegawai negeri dengan gaji pas-pasan, sering terbatuk dalam tidur. Ibunya sudah bangun sejak tadi, menyiapkan nasi putih, tempe dan telur dadar yang dibagi jadi empat bagian.

“Ini bekalmu ya, Ke” kata ibunya lirih.

Ike mengangguk. Ia tak berani lama-lama menatap wajah ibunya. Ia tahu, di mata itu ada rasa bersalah yang tak pernah terucap karena anaknya harus menanggung beban yang seharusnya belum ia pikul di usia 19 tahun.

Ike bekerja di sebuah restoran Korea di mal Jakarta Barat. Ia harus menempuh perjalanan panjang setiap hari pergi dan pulang, demi satu hal sederhana: uang untuk makan dan bertahan hidup.

Jam delapan pagi, ia sudah berdiri di dapur panas. Menyiapkan semua keperluan restoran sebelum dibuka. Ike berjalan ke sana kemari tanpa henti untuk melayani para tamu, membersihkan meja, mengeringkan peralatan makan, mengangkat barang berat. Jam sebelas malam lewat, setelah semua peralatan makan, peralatan dapur, meja dan kursi diberesin, ia dan kawan-kawannya bersiap pulang. Perjalanan panjang kembali dia tempuh dalam gemerlap cahaya lampu-lampu jalanan. Sering kali dia sampai di rumah jam satu atau dua pagi.

Tangannya sering gemetar, punggungnya nyeri, kakinya terasa mati rasa. Tapi ia tetap berdiri, siap melayani para tamu yang memanggil. Duduk terlalu lama akan dianggap malas. Dan malas berarti tidak dibutuhkan.

Gajinya sangat kecil. Terlalu kecil untuk disebut layak. Namun cukup jika kata “cukup” diartikan sebagai tidak mati hari ini.

Pukul satu dini hari, Ike baru tiba di rumah. Ia mandi cepat, meneguk air putih, lalu rebah. Dua atau tiga jam kemudian, alarm berbunyi. Subuh memanggil, dan hidup menuntut lagi. Capek bukan lagi keluhan. Capek sudah jadi keadaan.

Dalam wawancara bersama tim KRIS, seorang bertanya padanya: “Bagaimana kamu bisa bertahan kerja dua puluh jam dengan gaji sekecil itu?”

Ike terdiam sejenak. Lalu menjawab pelan, tapi tegas: “Ini bukan soal kuat atau tidak. Ini hanya untuk survival.”

Kalimat berikutnya jatuh seperti palu yang menghantam papan: “Kalau saya tidak ambil pekerjaan ini, kami sekeluarga bisa kelaparan.”

Tidak ada drama. Tidak ada teriakan. Hanya kejujuran telanjang dari seorang anak yang terlalu cepat dewasa. Ike bercerita tentang betapa sulitnya mencari pekerjaan setelah pandemi.

Lowongan ada di mana-mana, tapi syaratnya seperti tembok tinggi: pendidikan, pengalaman, keahlian, usia ideal. “Saya tidak punya semua itu,” katanya. “Saya hanya punya kemauan bekerja.”

Ia melamar ke banyak tempat. Datang, mengisi formulir, menunggu, berharap. Lalu pulang dengan jawaban yang sama: kami akan hubungi. Tapi nyatanya tidak pernah benar-benar menghubungi. Akhirnya, ketika perut tak bisa lagi menunggu dan tagihan tak bisa lagi ditunda, Ike berhenti memilih. “Yang penting bisa kerja dulu,” katanya. “Yang penting bisa makan.”

Di restoran, Ike bertemu banyak wajah. Ada pelanggan yang ramah. Ada yang memandangnya seperti mesin. Ada yang memarahinya karena pesanan dianggap kelewat lama, meski terlambat beberapa menit.

Tak ada yang tahu atau mau tahu bahwa gadis yang berdiri di depan mereka tidur hanya dua-tiga jam semalam. Bahwa senyum itu dibayar dengan sakit kepala dan nyeri tulang. Bahwa satu komplain bisa berarti ia kehilangan pekerjaan.

Ia menunduk. Ia meminta maaf. Bukan karena ia selalu salah. Tapi karena ia tidak punya ruang untuk melawan. Seorang teman pernah bertanya, “Kenapa kamu nggak cari kerja lain saja?” Ike tersenyum pahit. “Kalau semudah itu, aku sudah pergi.”

Ia tahu, di luar sana ribuan orang juga sedang mencari. Banyak yang lebih pintar. Lebih terampil. Lebih beruntung. Dalam sistem yang kejam, Ike hanyalah angka yang mudah diganti.

Malam hari, saat semua tertidur, Ike sering menatap langit-langit. Ia lelah. Ia takut. Tapi ia tetap bangun esok hari. Bukan karena ia paling kuat. Melainkan karena ia tidak diizinkan untuk jatuh.

Kisah Ike bukan kisah tunggal. Ini kisah para pekerja yang kita temui setiap hari di restoran, di toko, di jalan namun jarang kita lihat sebagai manusia utuh. Mereka bukan pemalas. Bukan manja. Bukan tidak mau berkembang. Mereka hanya sedang bertahan hidup di tengah ekonomi yang keras dan pilihan yang sempit.

Sahabatku, mungkin Anda membaca kisah ini sambil duduk nyaman. Tolong ingatlah di balik pelayanan cepat dan senyum sopan, ada tubuh yang hampir roboh. Ada anak-anak muda yang bekerja bukan untuk mimpi melainkan untuk besok pagi.

Survival bukan pilihan romantis. Survival adalah jeritan sunyi orang-orang kecil agar mereka bisa terus hidup melewati hari demi hari.

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Menanti Cinta yang Diajarkan Langit

Cerpen 0056
Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Akhir Februari 2026

Menanti Sholat Magrib buat Sahabatku

Aminah dan Budi telah tiga tahun menjalani mahligai rumah tangga. Di atas kertas, mereka adalah suami istri yang sah. Di hadapan manusia, mereka terlihat rukun dan penuh senyum. Namun hanya langit yang tahu. Rumah mereka jauh dari kehangatan yang seharusnya mengalir di antara dua insan yang terikat akad.

Pernikahan mereka lahir dari niat baik, tapi bukan dari cinta. Pernikahan yang lahir dari balas budi, dari kehormatan keluarga, dari rasa “tidak enak hati” yang terlalu mahal untuk ditolak. Budi tahu sejak awal, ia tidak mencintai Aminah. Dan Aminah sebagai perempuan merasakan itu sejak malam pertama yang berlalu tanpa sentuhan.

Tiga tahun. Tiga Ramadan. Tiga Idulfitri telah mereka lalui tanpa pernah benar-benar menjadi satu. Di rumah itu, ada dua kamar. Budi di satu sisi, Aminah di sisi lain. Mereka bertemu di meja makan, saling menyapa dengan sopan, saling bertanya kabar, lalu kembali ke dunia masing-masing.

Aminah sering tertawa di depan orang. Namun menangis diam-diam di kamar. Budi sering tampak tenang. Namun sujudnya panjang dan basah.

Sebagai lelaki, Budi sebenarnya mampu. Budi sehat lahir batin. Ia normal. Pejantan tulen. Namun ia menahan diri. Bukan karena jijik. Bukan karena benci. Budi takut.

“Aku tidak ingin menyentuhmu tanpa cinta,” ucapnya suatu malam dengan suara rendah. “Aku takut menzolimi hatimu, Min.” Aminah tertawa kecil, getir mendengar perkataan itu.

“Bukankah cinta bisa tumbuh setelahnya, Mas? … Atau aku sebenarnya tidak pantas dicintai?”

Budi terdiam. Aminah memang punya sifat yang keras. Ia terbiasa memerintah, ingin menang sendiri, dan sulit mengalah. Namun di balik itu, ia hanya perempuan yang ingin dipeluk, diinginkan, dan menjadi ibu.

Budi pun bukan tanpa cela. Prinsipnya sering berubah menjadi tembok. Idealismenya menjadi penjara. Ia ingin cinta yang sempurna. Lupa bahwa cinta sering tumbuh dari ketidaksempurnaan yang diterima bersama.

Setiap Ramadan, Budi selalu berdoa: “Rabbi hab li min ladunka mawaddatan wa rahmah.” — “Wahai Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku cinta dan kasih sayang dari sisi-Mu.”

Budi sering teringat firman Allah:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً (QS. Ar-Rum: 21)

“Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya, Dia menciptakan pasangan hidup agar kamu merasa tenteram, dan Dia menjadikan di antara kalian cinta dan kasih sayang.”

Ayat itu menenangkan sekaligus menamparnya. Jika cinta adalah anugerah, mengapa ia hanya menunggu tanpa berusaha?

Aminah pun berdoa. Tangisnya sering pecah di sepertiga malam.

“Ya Allah… jika aku sombong, luluhkan hatiku. Jika aku keras, lembutkan aku… Aku hanya ingin menjadi istri yang Engkau ridhoi.”

Ia membaca ayat ini berulang-ulang: إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ (QS. Ar-Ra’d: 11)

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”

Pelan-pelan, Aminah berubah. Bukan demi Budi semata, tapi demi Allah. Aminah belajar menahan emosi. Belajar meminta maaf. Belajar tersenyum tanpa tuntutan.

Suatu pagi, ia menyuguhkan teh hangat kepada Budi.

“Mas… terima kasih sudah bertahan,” katanya lembut. Budi tersenyum kaget.

“Terima kasih juga… kamu sudah mau berubah.” Untuk pertama kalinya, mereka tertawa bersama. Tawa kecil. Agak canggung. Tapi nyata. Ada hari-hari berat. Ada hari-hari lucu. Momen itu terasa hangat dan menyejukkan hati mereka berdua.

Pernah suatu kali Aminah mencoba memasak makanan kesukaan Budi, tapi gosong.

“Astaghfirullah…,” Aminah panik. Budi tertawa. Sungguh-sungguh tertawa… terpingkal-pingkal bahkan.

“Tak apa. Gosongnya penuh niat baik.” Aminah ikut tertawa sambil menangis. Namun dia merasakan sejentik kebahagiaan.

Perubahan tidak langsung melahirkan cinta besar. Tapi ia melahirkan kehangatan. Dari kehangatan, tumbuh keakraban. Dari keakraban, hadir rasa aman. Suatu malam Ramadan, setelah tarawih, Budi berkata pelan, “Min… bolehkah aku belajar mencintaimu dengan cara Allah?”

Aminah terdiam, lalu mengangguk sambil meneteskan air mata bahagia. Malam itu bukan malam penyatuan fisik. Tapi malam pertama mereka berdoa bersama.

Satu sajadah. Dua hati. Satu arah. Budi membaca ayat: وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ (QS. An-Nisa: 19) “Pergaulilah istri-istrimu dengan cara yang baik.”

Aminah tersenyum. Untuk pertama kalinya, ia merasa dilihat. Mereka belum sepenuhnya sampai. Mereka belum sepenuhnya menyatu. Namun kini, mereka tidak lagi berdiri di tempat yang sama. Ada langkah. Ada usaha. Ada harap.

Cinta ternyata bukan sesuatu yang hanya ditunggu. Cinta diupayakan. Dipanjatkan. Diperjuangkan dengan doa, sabar, dan kerendahan hati.

Aminah dan Budi masih menanti cinta. Namun kini, mereka menantinya bersama. Dan itu… adalah cahaya pertama yang Allah nyalakan di rumah mereka.

Www.kris.or.id

Di Antara Sampah,Aku Menemukan Harapan

Di Antara Sampah,
Aku Menemukan Harapan

Cerpen 0055

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Komunitas
Relawan
Indonesia
Sehat

Sindanglaya
Sabtu
21 Pebruari 2026

Cintaku
Aku berdiri terpaku di tempat penimbunan sampah di Jalan Raya Sindanglaya, Cipanas.

Bau agak menyengat menusuk hidung, tapi yang lebih menusuk adalah kenangan hidup ku masa lalu.
Tumpukan sampah ini bukan sekadar limbah
ia adalah saksi hidup masa kecilku.

Tanpa sadar, air mataku menetes, satu per satu, jatuh ke tanah yang dulu pernah menjadi alas hidupku.

Tiga puluh tahun lalu, di tempat inilah aku belajar tentang lapar, dingin, dan bertahan hidup.

Namaku belum ada saat itu. Aku hanya seorang anak kecil berusia lima tahun yang tidak tahu siapa orang tuaku, tidak tahu dari mana aku berasal.

Aku hanya tahu: aku sudah ada di dunia ini, dan dunia ini terasa sangat kejam.
Aku tidak sendiri.

Ada tiga temanku: Didi, Andi, dan Surya.
Mereka ini juga tidak ada keluarga

Kami berempat, anak-anak jalanan yang setiap hari mengais sampah, mencari sisa makanan untuk sekadar mengisi perut agar tidak melilit perih.

Kadang nasi basi, kadang tulang, kadang hanya remah-remah yang tak layak disebut makanan.

Tapi bagi kami, itu adalah kehidupan.
Malam hari adalah musuh terbesar.

Kami tidur di bawah jembatan, berselimutkan karton yang basah dan sobek.

Angin malam menusuk tulang, membuat tubuh kecil kami menggigil tanpa henti.

Tidak ada pelukan ibu, tidak ada suara ayah yang menenangkan.

Yang ada hanya suara kendaraan dan rasa takut akan hari esok.

Aku sering bertanya dalam hati, meski belum mengerti arti hidup sepenuhnya:

Mengapa aku dilahirkan? Mengapa aku ada, tapi sendirian?

Aku tumbuh tanpa tahu siapa orang tuaku. Hingga dewasa, aku mencoba mencari mereka
bertanya, berharap, menelusuri jejak yang bahkan tidak aku miliki. Tapi jawabannya selalu sama: tidak ada.

Suatu hari hujan turun sangat deras. Kami tidak bisa mengais sampah.
Tukang sampah pun tidak datang. Perut kami kosong sejak pagi. Dalam keputusasaan, kami melihat sebuah pohon pepaya tak jauh dari sana. Buahnya masih mentah, pahit, tapi kami memakannya juga. Setidaknya, itu bisa menahan rasa sakit di perut kecil kami.
Saat aku sedang berdiri di bawah pohon itu, tiba-tiba sebuah tangan menepuk punggungku. Aku terkejut. Seorang bapak berdiri di belakangku. Wajahnya tenang, suaranya lembut.
Bapak itu mengajakku ke rumahnya.
Di rumah itu, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku makan nasi hangat dan daging.

Aku diberi baju. Aku diperlakukan seperti anak manusia.
Tapi aku tidak tahu siapa dia. Tidak tahu namanya.
Tidak tahu mengapa ia begitu baik.
Setelah makan, aku kembali ke bawah jembatan dan menceritakan semuanya kepada Didi, Andi, dan Surya.

Keesokan harinya, kami berempat mencari rumah bapak itu.
Kami menemukannyarumah kecil, sederhana. Tapi kosong.

Tidak ada siapa-siapa.
Hari demi hari berlalu.
Bapak itu tidak pernah kembali.
Dengan rasa takut, kami memutuskan tinggal di rumah kosong itu.
Kami masih anak-anak. Malam terasa panjang.

Aku hanya bisa menangis, bertanya dalam diam mengapa kebaikan datang lalu pergi begitu saja.
Namun hidup harus berjalan. Kami kembali mengais sampah, mengemis, bertahan sekuat yang kami bisa.
Hingga suatu hari,
hidup kami berubah.

Kami bertemu seorang pastor. Tatapannya penuh kasih, bukan iba.
Pastor itu mengajak kami ke sebuah panti asuhan
yang kini dikenal sebagai Panti Asuhan Santo Yusup.

Di sanalah aku mendapatkan sesuatu yang belum pernah aku miliki: rumah.

Kami diberi tempat tinggal, makanan yang layak, dan yang terpenting
pendidikan.

Aku masuk taman kanak-kanak, punya taman bermain, punya seragam sekolah.

Aku belajar tertawa tanpa rasa takut. Aku belajar bahwa hidup bukan hanya tentang bertahan, tapi juga tentang bermimpi.

Di sanalah aku diberi nama: Boy.
Nama yang diberikan oleh pastor, dan sejak saat itu aku tahu
aku diakui sebagai manusia.
Tiga puluh tahun berlalu.
Kini aku kembali berdiri di samping tumpukan sampah di Sindanglaya Cipanas.

Tapi aku bukan lagi anak kecil yang kelaparan. Aku adalah seorang suami, ayah, dan manusia yang bersyukur.

Aku menikah dengan seorang perempuan bernama Tina. Kami dikaruniai dua anak:

Rudy, anak laki-lakiku, dan Susan, putri kecilku.
Saat mereka memelukku, aku sering terdiam.

Pelukan ini dulu tidak pernah aku punya
dan kini, Tuhan memberikannya berlipat ganda.

Air mata masih mengalir, tapi kini bercampur senyum.

Jika bukan karena tangan-tangan yang peduli, jika bukan karena sebuah panti asuhan yang membuka pintu bagi anak-anak terlantar, aku mungkin tidak akan berdiri di sini hari ini.

Masih banyak anak di luar sana yang tidur di bawah jembatan.
Masih banyak yang mengais sampah untuk hidup.

Mereka bukan anak yang salah lahir.
Mereka hanya belum bertemu kesempatan.

Mari kita menjadi kesempatan itu.
Membantu panti asuhan bukan sekadar memberi makan
tetapi memberi masa depan. Karena dari tempat yang paling gelap sekalipun, harapan bisa tumbuh…
jika ada yang mau menyalakan cahaya.

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Lelaki Tanpa Batas Waktu(ELTEBEWE)

Lelaki Tanpa Batas Waktu
(ELTEBEWE)

Drama musikal yang patut anda tonton dan saksikan
Kreasi anak muda di bawah Sutradara
Maha karya

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Studi tentang Pendidikan Keluarga dan Keteguhan hati Seorang Ayah

Awal dari Cinta

Keluarga adalah sekolah pertama bagi setiap manusia.

Di sanalah nilai, karakter, dan arah hidup ditanamkan jauh sebelum pendidikan formal dimulai.

Namun tidak semua keluarga tumbuh dalam kondisi ideal.

Ada keluarga yang harus berjalan dalam keterbatasan, kehilangan salah satu peran, dan dipaksa untuk bertahan dengan kekuatan yang tersisa.

Kisah Pak Dewo,
seorang ayah single parent dalam drama musikal
“Lelaki Tanpa Batas Waktu”, adalah potret nyata dari perjuangan itu.

Pak Dewo bukan tokoh sempurna.
Ia bukan orang kaya, bukan pula sosok berpengaruh.

Ia hanyalah seorang ayah biasa yang memilih untuk tidak menyerah pada keadaan. Melalui kerja keras tanpa mengenal batas waktu,
ia membuktikan bahwa pendidikan keluarga tidak selalu lahir dari kelimpahan materi, tetapi dari keteladanan, pengorbanan, dan cinta yang konsisten.

Kisah Pak Dewo: Ayah, Pekerja, dan Pendidik Kehidupan
Sebagai ayah tunggal,
Pak Dewo memikul peran ganda.
Ia adalah pencari nafkah sekaligus pendamping emosional bagi anak-anaknya.

Pagi hari ia berangkat sebelum matahari terbit. Malam hari, ketika kebanyakan orang telah beristirahat, ia masih bekerja demi tambahan penghasilan. Lelah dan lapar menjadi bagian dari keseharian, tetapi menyerah bukan pilihan.

Bagi Pak Dewo, pendidikan anak bukan sekadar soal biaya sekolah.

Pendidikan adalah jalan keluar dari lingkaran keterbatasan.

Ia sadar bahwa ia mungkin tidak mampu mewariskan harta, tetapi ia bisa mewariskan masa depan.
Ia bekerja bukan demi dirinya sendiri, melainkan demi harapan anak-anaknya.

Julukan “Lelaki Tanpa Batas Waktu” lahir dari dedikasinya.
Ia mengorbankan waktu, tenaga, bahkan kepentingan pribadinya, agar anak-anaknya tidak kehilangan kesempatan untuk bermimpi dan meraih kehidupan yang lebih baik.

Pendidikan Keluarga: Sekolah Pertama yang Paling Menentukan
Pendidikan keluarga adalah fondasi utama pembentukan karakter anak. Dalam keluarga Pak Dewo, pendidikan tidak selalu hadir dalam bentuk nasihat panjang atau teori moral. Pendidikan justru hadir melalui contoh hidup.

Anak-anak melihat ayah mereka bangun lebih awal, bekerja lebih keras, dan pulang dalam keadaan letih namun tetap bertanggung jawab.

Dari situ mereka belajar tentang ketekunan, kejujuran, dan arti pengorbanan.

Pak Dewo mengajarkan bahwa hidup tidak selalu mudah, tetapi selalu layak diperjuangkan.
Di tengah keterbatasan waktu bersama, Pak Dewo memastikan kehadirannya bermakna.

Ia menanyakan kabar sekolah, mendengarkan cerita anak-anaknya, dan menegaskan bahwa pendidikan adalah jalan utama untuk mengubah nasib. Walau tidak selalu hadir secara fisik, nilai-nilai hidup yang ia tanamkan terus hidup dalam diri anak-anaknya.

Peran Ayah sebagai Single Parent: Tantangan dan Tanggung Jawab
Menjadi ayah single parent bukanlah peran yang ringan. Ada tekanan ekonomi, kesepian emosional, dan tuntutan sosial yang harus dihadapi sendirian.

Dari kisah Pak Dewo, terdapat beberapa pelajaran penting dan saran konkret bagi para ayah single parent:
Menempatkan Anak sebagai

Prioritas Hidup
Segala keputusan hidup perlu berpihak pada kepentingan terbaik anak: pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan batin mereka.
Memberi Keteladanan Nyata
Anak-anak belajar dari sikap orang tua. Kerja keras, tanggung jawab, dan kejujuran yang ditunjukkan ayah akan membentuk karakter anak lebih kuat daripada kata-kata.
Membangun Kedekatan Emosional
Ayah perlu hadir sebagai tempat aman bagi anak-anak untuk berbagi cerita, ketakutan, dan harapan mereka.
Mengelola Waktu dengan Kesadaran
Waktu yang singkat namun penuh perhatian jauh lebih bermakna dibandingkan kebersamaan tanpa kehadiran hati.
Menerima dan Mencari Dukungan

Ayah single parent tidak harus berjalan sendiri. Dukungan keluarga besar, komunitas, dan lingkungan sosial sangat membantu.
Menanamkan Harapan dan Tujuan Hidup
Anak-anak perlu diyakinkan bahwa masa depan mereka tidak ditentukan oleh keterbatasan hari ini.
Studi tentang Keluarga: Pendidikan sebagai Warisan Terbesar
Dari sudut pandang studi keluarga, kisah Pak Dewo menegaskan bahwa pendidikan adalah warisan paling berharga. Bukan harta, bukan jabatan, melainkan nilai hidup yang ditanamkan secara konsisten.

Keluarga Pak Dewo membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi tidak harus menjadi penghalang keberhasilan. Dengan disiplin, kerja keras, dan kasih tanpa syarat, anak-anak tumbuh dengan motivasi yang kuat.

Ketika akhirnya mereka berdiri di panggung wisuda, keberhasilan itu adalah buah dari pengorbanan seorang ayah yang bekerja tanpa batas waktu.
Dalam keluarga single parent, peran orang tua menjadi jauh lebih berat, tetapi juga jauh lebih bermakna. Setiap pengorbanan memiliki dampak langsung pada masa depan anak-anak.

Sebuah Cinta mengakhiri segalanya
Pak Dewo adalah gambaran banyak ayah di dunia nyata: bekerja dalam diam, berjuang tanpa sorotan, dan mencintai tanpa syarat. Ia mungkin tidak meninggalkan kekayaan, tetapi ia meninggalkan nilai kehidupan yang akan terus hidup dalam diri anak-anaknya.

“Lelaki Tanpa Batas Waktu”
bukan sekadar kisah panggung. Ia adalah cermin tentang arti pendidikan keluarga, keteguhan seorang ayah, dan kasih yang diwujudkan melalui pengorbanan nyata.

Keberhasilan sejati bukan diukur dari apa yang dimiliki orang tua, tetapi dari siapa anak-anak itu kelak menjadi
berpendidikan, berkarakter, dan membawa terang bagi sesama
karena ada seorang ayah bernama Pak Dewo, yang rela bekerja tanpa batas waktu.

Kesempatan luar biasa
Buat Anda dan Keluarga
Saya Undang untuk hadir di Ciputra Artpreneur

Minggu
22 Pebruari 2026
Jam 18.00

Www.kris.or.id

Www.adharta.com