FLORES H +6Perjuangan di Tengah BencanaPascagempa Bumi Magnitudo 7,7 di Flores

FLORES H +6
Perjuangan di Tengah Bencana
Pascagempa Bumi Magnitudo 7,7 di Flores

Oleh: Adharta
Ketua Umum
KRIS

Enam hari telah berlalu sejak gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Flores.

Namun bagi masyarakat yang berada di daerah terdampak, waktu seakan berjalan jauh lebih lambat. Di tengah rumah-rumah yang rusak, jalan yang sulit dilalui, keterbatasan fasilitas, serta kecemasan akan keselamatan keluarga, perjuangan untuk menyelamatkan dan melayani sesama terus berlangsung.
H+6 bukan berarti keadaan telah selesai.

Justru di hari-hari seperti inilah ketahanan fisik, mental, dan kemanusiaan benar-benar diuji.

Di tengah situasi tersebut, Bapak Alfons Surya, Bapak Rudy Wogo, dan Dr. Fanny bersama tim tenaga medis dari Jakarta yang berjumlah delapan orang bergerak untuk membantu masyarakat yang membutuhkan pertolongan.

Mereka datang bukan sekadar membawa obat-obatan dan perlengkapan medis.

Mereka membawa harapan bagi masyarakat yang sedang berada dalam ketidakpastian.
Salah satu perhatian besar adalah penanganan 33 ibu hamil di Rung.

Dalam kondisi normal, seorang ibu hamil membutuhkan pemeriksaan dan pemantauan kesehatan yang baik.

Dalam keadaan bencana, semuanya menjadi jauh lebih sulit.
Keterbatasan tempat pemeriksaan, peralatan, obat-obatan, air bersih, listrik, komunikasi, hingga transportasi menjadi tantangan tersendiri.

Di sisi lain, kondisi psikologis para ibu juga harus diperhatikan. Gempa dan guncangan susulan dapat menimbulkan ketakutan dan kecemasan, terutama bagi mereka yang semakin dekat dengan waktu persalinan.

Di sinilah tenaga medis bukan hanya dituntut memiliki kemampuan profesional, tetapi juga kesabaran, ketenangan, keberanian, dan hati untuk melayani.
Perjuangan kemudian berlanjut menuju Mbay, tempat korban yang membutuhkan pertolongan juga cukup banyak.

Perjalanan dari Bajawa menuju Mbay menjadi bagian yang tidak mudah dari misi kemanusiaan ini.

Flores memiliki medan pegunungan dengan jalan yang berkelok-kelok, tanjakan dan turunan panjang serta sejumlah jalur yang dalam situasi pascabencana membutuhkan kewaspadaan lebih tinggi.
Setiap kilometer harus ditempuh dengan penuh kehati-hatian.
Perjalanan yang dalam keadaan biasa saja dapat melelahkan menjadi semakin berat ketika dilakukan dalam situasi bencana.

Tim membawa perlengkapan medis dan kebutuhan pelayanan, sementara mereka sendiri harus menjaga kondisi fisik agar tetap mampu bekerja ketika tiba di lokasi.

Debu, jalan yang terganggu, perjalanan panjang, keterbatasan komunikasi di beberapa tempat serta kekhawatiran akan kondisi jalan menjadi bagian dari perjuangan.
Namun perjalanan harus diteruskan.
Sebab di ujung perjalanan itu ada orang yang menunggu pertolongan.

Sesampainya di lokasi, tantangan belum berakhir. Banyak korban harus diperiksa dan ditangani dengan sumber daya yang terbatas. Tenaga medis harus menentukan prioritas: siapa yang membutuhkan pertolongan segera, siapa yang harus terus dipantau, siapa yang memerlukan obat, serta siapa yang perlu mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Dalam keadaan seperti ini, kelelahan sering kali harus dikesampingkan.
Bapak Alfons Surya dan Bapak Rudy Wogo bersama dr. Fanny dan seluruh tim menjadi bagian dari mata rantai kemanusiaan tersebut.

Ada yang mengatur perjalanan dan koordinasi, ada yang memastikan bantuan sampai kepada masyarakat, dan ada tenaga kesehatan yang bekerja langsung menangani para korban.

Mereka mungkin memiliki tugas yang berbeda, tetapi mempunyai satu tujuan yang sama:
menolong sesama manusia.

Bencana selalu meninggalkan cerita tentang kehilangan dan penderitaan. Namun bencana juga memperlihatkan sisi lain manusia
tentang keberanian, solidaritas, pengorbanan, dan kesediaan hadir bagi orang lain.
Di Flores, perjuangan itu terlihat nyata.
Ketika jalan sulit, mereka tetap berjalan.
Ketika tubuh lelah, pelayanan tetap dilanjutkan.
Ketika fasilitas terbatas, mereka berusaha menggunakan apa yang tersedia.

Ketika masyarakat diliputi kecemasan, mereka berusaha menghadirkan ketenangan dan harapan.

Bagi kami di KRIS, kisah ini mengingatkan bahwa kemanusiaan tidak mengenal jarak. Jakarta mungkin jauh dari Flores, Bajawa mungkin harus ditempuh melalui perjalanan berat menuju Mbay, tetapi ketika saudara-saudara kita membutuhkan pertolongan, jarak tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti peduli.
Hari keenam ini menjadi saksi bahwa perjuangan belum selesai.

Masih ada korban yang harus ditolong.
Masih ada ibu-ibu hamil yang perlu dijaga kesehatannya.
Masih ada masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan, makanan, tempat berlindung, serta dukungan moral.

Kepada Bapak Alfons Surya, Bapak Rudy Wogo,
Dr. Fanny, dan delapan tenaga medis dari Jakarta, terima kasih atas keberanian, pengabdian, dan ketulusan dalam menjalankan tugas kemanusiaan di Flores.

Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa memberikan perlindungan dan kekuatan kepada seluruh tim, para relawan, tenaga kesehatan, serta masyarakat Flores.

Dan kepada saudara-saudara kita yang sedang berjuang bangkit dari bencana:
Flores, engkau tidak sendiri.
Di balik puing dan luka, masih ada tangan yang saling menggenggam.
Di tengah kesulitan, masih ada hati yang memilih untuk melayani.

Karena dalam setiap bencana, harapan harus tetap hidup.
Adharta
Ketua Umum KRIS

Bersambung……

Www.kris.or.id

Terimakl kasih kepada para Donatur
Atas segala bantuannya

Tuhan memberkati

Rekening
BCA
6383648888
Atas nama
Perkumpulan KRIS

SURYA DI MATALOKO

SURYA DI MATALOKO

H+5 Pascagempa Flores, Nusa Tenggara Timur

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Mataloko, Bajawa
20 Agustus 2026

Lima hari telah berlalu sejak gempa tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu subuh, 15 Agustus 2026, sekitar pukul 06.00 WITA.

Gempa susulan masih berlanjut walau dengan skala lebih kecil
Namun secara psikologis menakan warga yang penuh trauma ketakutan

Saat sebagian besar masyarakat masih terlelap, bumi tiba-tiba berguncang hebat.

Dalam hitungan detik, suasana pagi yang tenang berubah menjadi kepanikan.

Orang-orang berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri.

Tangisan anak-anak, teriakan meminta pertolongan, serta suara bangunan yang retak dan runtuh menyatu dalam sebuah pagi yang penuh ketakutan.

Gempa tersebut mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan menimbulkan kerusakan cukup parah.

Banyak rumah warga, fasilitas umum, rumah ibadah, jalan, serta sarana transportasi mengalami kerusakan.

Daerah Mbay dan Riung menjadi wilayah yang dilaporkan mengalami dampak paling berat.

Kabupaten Nagekeo dan Kabupaten Ngada juga merasakan guncangan yang sangat kuat.

Dampaknya bahkan meluas hingga Kabupaten Manggarai Timur dan Kabupaten Sikka, termasuk Kota Maumere.
Di tengah bencana itulah kisah ini dimulai.
Kabar Duka dari Flores

Bapak Rudy Wogo,
Ketua KRIS Ngada, saat itu sedang berada di Jakarta untuk menghadiri rangkaian peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus.

Ia tiba di Jakarta pada Jumat, 14 Agustus 2026.
Namun, pada Sabtu pagi sekitar pukul 06.00 WIB, kabar mengejutkan datang dari Flores.

Gempa besar telah terjadi di laut, tidak jauh dari Kota Mbay dan berdekatan dengan wilayah Riung.

Banyak rumah mengalami kerusakan. Warga membutuhkan bantuan dengan segera.

Kabar tersebut membuat hati Bapak Rudy Wogo tidak tenang. Pikirannya langsung tertuju kepada masyarakat di kampung halaman, terutama mereka yang kehilangan anggota keluarga, tempat tinggal, dan sumber penghidupan.
Tanpa menunggu lama, pada Minggu pagi Bapak Rudy memutuskan untuk kembali ke Flores.

Beliau terbang dari Jakarta menuju Labuan Bajo.

Baginya, pulang bukan sekadar perjalanan kembali ke rumah. Ia membawa sebuah tanggung jawab kemanusiaan: hadir di tengah masyarakat yang sedang menderita.
Setibanya di Labuan Bajo, perjalanan menuju Bajawa ternyata tidak mudah.

Sejumlah jalan terputus dan tertutup longsor. Batu-batu berukuran sangat besar, yang oleh masyarakat setempat sering disebut
“batu gajah”, jatuh dari perbukitan dan menghalangi jalan.
Perjalanan menggunakan kendaraan roda empat hampir tidak mungkin dilakukan pada beberapa bagian jalan.
Namun, Bapak Rudy tidak menyerah.
Dengan keberanian dan semangat seperti seorang anak muda, beliau melanjutkan perjalanan menggunakan sepeda motor.

Jalan yang dilalui penuh risiko. Longsoran tanah, batu-batu besar, retakan jalan, dan ancaman gempa susulan harus dihadapi sepanjang perjalanan.
Selama kurang lebih dua belas jam perjalanan darat,

Bapak Rudy terus bergerak menuju Bajawa. Kelelahan tidak mampu mengalahkan keinginannya untuk segera bertemu masyarakat dan mengoordinasikan bantuan.

Di dalam hatinya hanya ada satu tekad: korban gempa tidak boleh merasa sendirian.
Bapak Rudy Wogo selain Ketua KRIS Ngada beliau juga Ketua DPRD Kabuaptrn Ngada Flores

Perjalanan Alfons Surya ( Masih ingat proyek 2 Surya berjuang selama masa Pandemi untuk membawa Vaksin Sinovac ke NTT)

Sehari setelah keberangkatan Bapak Rudy, Bapak Alfons Surya, Koordinator Relawan KRIS, juga bertolak menuju Labuan Bajo.
Beliau ingin segera bergabung dengan tim KRIS Ngada untuk membantu masyarakat terdampak bencana.

Namun, perjalanan Bapak Alfons juga menghadapi hambatan.

Informasi yang diterimanya menyebutkan bahwa menara pengawas Bandara Soa Bajawa mengalami kerusakan.

Landasan pacu bandara pun dilaporkan retak akibat kuatnya guncangan. Karena alasan keselamatan, penerbangan menuju Bajawa belum dapat dilakukan dan Bandara Soa masih ditutup.

Bapak Alfons Surya terpaksa menunggu selama dua hari di Labuan Bajo.

Beliau terus berharap akan ada pesawat yang dapat mendarat di Bandara Soa sehingga perjalanan menuju Bajawa menjadi lebih cepat.

Akan tetapi, harapan itu belum terwujud.
Bandara tetap ditutup.

Di tengah penantian tersebut, hati Bapak Alfons Surya terus tertuju kepada para korban. Setiap jam terasa begitu panjang karena beliau mengetahui bahwa di berbagai tempat ada keluarga yang membutuhkan air minum, makanan, obat-obatan, serta uluran tangan.
Meski akses transportasi terhambat, semangat kemanusiaan tidak boleh berhenti.
Nama “Surya” seakan menjadi lambang secercah cahaya yang tetap muncul di tengah awan gelap bencana.

Perjalanannya menuju Mataloko bukan hanya perjalanan fisik, melainkan perjalanan hati untuk membawa harapan kepada mereka yang sedang berduka.

KRIS Mulai Bergerak
Di bawah kepemimpinan Bapak Rudy Wogo,
Ketua KRIS Ngada, bersama Bapak Alfons Surya selaku Koordinator Relawan KRIS, tim mulai bergerak menyusun langkah-langkah pertolongan.
Prioritas utama adalah membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Banyak warga kehilangan persediaan makanan dan kesulitan mendapatkan air minum bersih.

Ada pula keluarga yang harus tinggal di tempat pengungsian karena rumah mereka rusak atau tidak lagi aman ditempati.

KRIS bergerak menghimpun dan menyalurkan bantuan berupa
Air mineral botol berukuran 600 mililiter;

Mi Sukses
telur ayam
makanan bayi
Susu
sayur-mayur;
Beras
serta berbagai kebutuhan pokok lainnya.
Bantuan tersebut mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang. Namun, bagi seorang ibu yang tidak memiliki makanan untuk bayinya, sebungkus makanan bayi merupakan anugerah.

Bagi anak-anak dan orang lanjut usia yang kehausan di tempat pengungsian, sebotol air mineral menjadi sesuatu yang sangat berharga.
Sebungkus mi, sebutir telur, dan segenggam sayuran bukan sekadar bahan makanan. Semua itu merupakan tanda bahwa masih ada orang-orang yang peduli dan bersedia berjalan bersama mereka melewati masa sulit.

Tim KRIS lengkap dengan tim medis di bawah koordinasi
Dr. Fanny Istri Bapak Rudy Wogo yang juga seorang dokter spesialis Anak

Kami memahami bahwa menolong korban bencana tidak cukup hanya dengan mengirimkan barang.

Para korban juga membutuhkan kehadiran, sapaan, pelukan, dan seseorang yang bersedia mendengarkan cerita mereka.

Ada keluarga yang kehilangan rumah yang dibangun selama bertahun-tahun.

Ada anak-anak yang masih ketakutan setiap kali merasakan getaran kecil. Ada orang tua yang duduk memandangi puing-puing sambil mengenang kehidupan mereka sebelum gempa.

Di balik setiap bangunan yang runtuh, terdapat kisah manusia.

Di balik setiap air mata, ada kehilangan yang mungkin tidak dapat digantikan dengan apa pun.

Flores yang Penuh Air Mata

Hari kelima pascagempa belum menjadi akhir dari penderitaan. Gempa susulan masih menimbulkan kecemasan. Akses ke sejumlah daerah belum sepenuhnya pulih.

Jalan-jalan yang rusak dan tertutup longsor membuat penyaluran bantuan berlangsung lebih lambat.

Namun, di tengah segala kesulitan itu, semangat persaudaraan terus tumbuh.
Relawan, masyarakat, tokoh agama, petugas kesehatan, aparat, dan berbagai kelompok kemanusiaan bekerja sesuai kemampuan masing-masing. Ada yang mengangkut bantuan, memasak di dapur umum, membersihkan puing-puing, merawat korban, dan menghibur anak-anak.

Ada pula yang berdoa dalam keheningan.

Mataloko menyaksikan bagaimana bencana dapat meruntuhkan bangunan, tetapi tidak mampu meruntuhkan kepedulian. Gempa dapat memutus jalan, tetapi tidak dapat memutus persaudaraan. Air mata boleh mengalir, tetapi harapan harus tetap menyala.

Perjalanan Bapak Rudy Wogo dan ibu Dr. Fanny SPA (Istri bapak Rudy Wogo)

Bapak Alfons Surya bersama tim para relawan dan tenaga Medis KRIS masih panjang.

Masih banyak wilayah yang harus dijangkau, bantuan yang harus disalurkan, serta saudara-saudara yang perlu dikuatkan.

Kisah dari Flores ini adalah kisah tentang luka dan kehilangan. Namun, kisah ini juga menjadi kesaksian tentang keberanian, pengorbanan, solidaritas, dan kasih kepada sesama.

Di tengah puing-puing dan tangisan,

Surya mulai terbit di Mataloko.
Cahayanya mungkin belum mampu menghapus seluruh kesedihan. Namun, cahaya itu cukup untuk menunjukkan bahwa jalan menuju kebangkitan masih ada.

KRIS akan terus bergerak.

KRIS akan terus hadir.

KRIS akan terus membawa kasih dan harapan bagi para korban gempa Flores.

Bersambung…

Www.kris.or.id

Terima kasih kepada para Donatur yang tidak kami sebut satu persatu
Tuhan memberksti

Rekening
BCA
6383648888
An
Perkumpulan KRIS

AIR MATA FLORES

AIR MATA FLORES

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Medio Agustus 2026

Flores menangis
di bawah langit kelabu,
bumi bergetar, membawa luka dan pilu.

Rumah dan rumah rebah, harapan berserakan,
di antara doa yang lirih dipanjatkan.

Ada ibu yang memeluk anaknya dalam tangis,
ada ayah terdiam, dalam air mata
menatap hidup yang terkikis.

Air mata jatuh membasahi tanah Flores,
menjadi saksi duka yang tak mudah berhenti.

Flores,
engkau terluka, tetapi tidak sendiri.

Dari jauh, hati kami ikut menangis dan berdoa.

Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa
memeluk setiap jiwa yang berduka,
menguatkan mereka yang kehilangan segalanya.

Di balik luka Duka dan air mata,
Harapan kembali menyala.

Flores, bangkitlah…
Indonesia memelukmu dalam doa.

Adharta.com

Www.kris.or.id

Dear You Film yang pantas di tonton

Cerpen nomor 0102

Dear You
Film yang pantas di tonton

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Taman Anggrek
Selasa
18 Agustus 2026

Saya mengunjungi Istri Saya
Ibu Lena
Yang dalam pemeriksaan check Up kesehatan di Rumah Sakit Mamdaya Royal

Dalam perjalanan pulang dari Kantor
Pastor Berty Tijouw kirim pesan singkat

“Ayok Nonton Film “

” Atur Joo “

Waktu pun diatur
Kita rame rame nonton sehabis dari Rumah Sakit Mandaya Royal
Saya Bapak Lendy
Ibu Monic dan Ibu Betsy ada Ibu Drg Wenny dan Pastor Berty Tijouw MSC

Kita meluncur menuju Mall Taman Anggrek sebelumnya menikmati Menu Baru
Haidilao

Pas waktunya untuk masuk theatre 1 studio XXI

Saya sudah membaca Novel dengan judul berbeda tapi inti cerita nya sama di tambah resensi di Tik Tok
Tapi tetap air mata saya jatuh
Teringat Papa dan Mama saya yang juga merantau dari FuZhou tahun 1930an

Beberapa diskusi mengawali perjalanan menuju Cinema
Saya bilang jangan lupa bawa tissue karena satu gedung saya lihat terisak semua
Berbeda dengan biasanya saya sebel nonton film yang saya tonton orang main HP jadi terganggu
Sekarang XXI mengerti makanyaereka pasang alat sehingga begitu anda masuk semua jam tidak ada signal dalam. theatre

Dear You

Kisahnya
tentang cinta, pengorbanan, perantauan, meninggalkan tanah kelahiran serta anak cucu dan istri, dari kerasnya kehidupan sekitar tahun 1960-an sampai dunia menjadi jauh lebih modern.

Saya ajak anda menikmati nonton bersama saya dan kawan kawan
Tetapi anjuran saya anak suami atau istri anda nonton barengan tapi jangan lupa bawa tissue

DEAR YOU

Cinta, Pengorbanan, dan Sebuah Perjalanan Hidup

Ada film yang selesai ketika layar menjadi gelap.
Namun ada pula film yang justru mulai hidup setelah kita meninggalkan tempat duduk kita.

Bagi saya,
Film Dear You adalah salah satunya.

Film ini membawa pikiran saya kembali kepada sebuah masa ketika hidup tidak semudah sekarang.

Sekitar tahun 1960-an, dunia masih sangat berbeda. Komunikasi terbatas, perjalanan jauh bukan perkara sederhana, kesempatan hidup tidak sebanyak hari ini, dan bagi banyak orang, merantau bukanlah sebuah pilihan untuk mencari pengalaman.
Merantau adalah perjuangan untuk bertahan hidup.

Ada orang yang harus meninggalkan kampung halaman, tanah kelahiran, orang tua, bahkan anak dan istri yang dicintainya.

Bukan karena cintanya berkurang, melainkan justru karena cinta itulah ia berani pergi.
Betapa berat sebuah perpisahan pada masa itu.

Hari ini, ketika seseorang pergi jauh, kita masih dapat melihat wajahnya melalui telepon genggam.

Kita dapat mengirim pesan dalam hitungan detik. Kita dapat mendengar suaranya kapan saja.
Tetapi dahulu?
Sebuah kabar harus menempuh perjalanan panjang.
Sepucuk surat bisa menjadi benda yang paling ditunggu.

Tulisan tangan dari seseorang yang dicintai dapat dibaca berkali-kali, dilipat kembali dengan hati-hati, lalu disimpan bertahun-tahun.
Mungkin karena itulah cinta pada masa itu terasa berbeda.
Bukan berarti cinta zaman sekarang lebih kecil.

Tetapi dahulu, cinta benar-benar diuji oleh jarak, waktu, kesetiaan, dan ketidakpastian.

Bayangkan seorang suami berdiri sebelum keberangkatannya.
Di hadapannya ada istri yang berusaha tersenyum walaupun matanya basah.

Ada anak yang mungkin belum mengerti mengapa ayahnya harus pergi.

Lalu mungkin terucap sebuah kalimat sederhana

“Aku pergi bukan karena ingin meninggalkan kalian.

Aku pergi karena aku ingin suatu hari nanti kalian mempunyai kehidupan yang lebih baik.”

Kalimat seperti itu sederhana.
Tetapi di dalamnya ada seluruh arti sebuah pengorbanan.

Karena pengorbanan terbesar terkadang bukan memberikan sesuatu yang kita miliki.

Pengorbanan terbesar adalah meninggalkan sesuatu yang paling kita cintai demi masa depan mereka.

Seorang perantau membawa koper yang mungkin tidak besar.

Pakaiannya tidak banyak. Uangnya mungkin hanya cukup untuk perjalanan dan beberapa hari kehidupan.
Namun sebenarnya ada sesuatu yang jauh lebih berat yang ia bawa yakni
harapan keluarganya.

Ia membawa wajah istrinya.
Ia membawa suara anak-anaknya.
Ia membawa pesan orang tuanya.

Ia membawa bau rumahnya, makanan kampung halamannya, bahasa yang biasa didengarnya, jalan kecil tempat ia tumbuh, dan kenangan yang tidak mungkin dimasukkan ke dalam koper.

Semua itu ikut merantau bersamanya.
Di negeri atau kota yang asing, ia kemudian belajar bahwa hidup tidak selalu ramah.
Ada hari ketika pekerjaan begitu berat.
Ada saat ketika uang hampir habis.

Ada malam ketika rasa sepi datang tanpa mengetuk pintu.
Dan pada malam-malam seperti itulah seseorang mungkin bertanya kepada dirinya sendiri

“Untuk apa aku bertahan sejauh ini?”

Lalu jawabannya muncul dari dalam hati

“Karena di rumah ada orang-orang yang sedang menungguku.”

Itulah cinta.

Cinta tidak selalu berbentuk kata

“Aku mencintaimu.”

Kadang cinta berbentuk keringat.
Kadang cinta berbentuk air mata yang disembunyikan.
Kadang cinta adalah bekerja ketika tubuh sudah lelah.

Kadang cinta adalah menahan rindu bertahun-tahun.
Dan terkadang cinta berarti pergi sangat jauh, agar orang yang kita cintai mempunyai kesempatan untuk hidup lebih baik.

Waktu Terus Berjalan
Tahun demi tahun berlalu.
Dunia perlahan berubah.
Jalan-jalan semakin baik. Kota semakin besar. Kendaraan semakin cepat.

Pesawat semakin mudah membawa manusia melintasi negara.

Telepon hadir, kemudian internet, lalu telepon pintar yang sekarang hampir tidak pernah lepas dari tangan saya dan anda

Kehidupan menjadi jauh lebih modern.

Tetapi ada sesuatu yang tidak pernah benar-benar berubah
Adalah
hati manusia.
Manusia tetap mengenal rindu.

Tetap mengenal kehilangan.
Tetap ingin dicintai.
Tetap ingin pulang.

Teknologi dapat memperpendek jarak antara dua kota, bahkan dua negara.
Tetapi teknologi tidak pernah mampu menghapus jarak di dalam hati seseorang yang sedang merindukan rumah.

Karena itu saya merasa perjalanan dalam Dear You bukan hanya cerita tentang masa lalu.
Ia adalah cerita tentang kita semua.

Tentang orang tua kita.
Tentang kakek-nenek kita.

Tentang generasi yang membangun kehidupan dari hampir tidak mempunyai apa-apa, sampai akhirnya anak cucunya dapat menikmati dunia yang jauh lebih nyaman.

Sering kali kita melihat keberhasilan seseorang hanya pada akhirnya.
Kita melihat rumah yang bagus.

Kita melihat keluarga yang berhasil.
Kita melihat anak-anak mendapatkan pendidikan.

Kita melihat kehidupan yang sudah mapan.

Namun kita tidak melihat berapa banyak air mata yang pernah jatuh untuk membangunnya.

Kita tidak melihat malam-malam ketika seseorang tidur dengan perut lapar

Kita tidak mendengar tangis yang ditahan karena rindu kepada keluarga.

Kita tidak tahu berapa kali seseorang hampir menyerah tetapi memilih bangun kembali keesokan harinya.

Maka saya belajar satu hal

Jangan hanya mengagumi keberhasilan seseorang.

Hormatilah juga perjalanan yang membawanya sampai ke sana.

Tentang Cinta
Cinta yang paling indah bukanlah cinta yang tidak pernah terluka.

Cinta yang paling indah adalah cinta yang tetap memilih bertahan setelah melewati luka, jarak, waktu, dan perubahan.

Mungkin ada sebuah percakapan yang dapat menggambarkan perasaan itu

“Apakah selama ini kamu tidak pernah lelah menungguku?”

“Lelah.”

“Lalu mengapa masih menunggu?”

“Karena yang kutunggu bukan kepulanganmu saja.

Aku menunggu janji kita.”

Betapa dalam arti sebuah penantian.

Pada akhirnya manusia akan menjadi tua.

Wajah yang dahulu muda akan dipenuhi garis-garis kehidupan. Rambut berubah putih.

Langkah menjadi lebih lambat.
Tetapi kenangan mempunyai caranya sendiri untuk tetap muda.

Kita mungkin lupa tanggal.
Kita mungkin lupa tempat.
Namun kita sulit melupakan bagaimana seseorang pernah membuat hati kita merasa dicintai.

Dan mungkin pada usia senja, setelah perjalanan panjang itu, hanya ada satu kalimat yang ingin diucapkan

“Kalau waktu dapat diputar kembali, aku tetap akan memilih jalan yang sama.

Bukan karena jalannya mudah, tetapi karena di ujung perjalanan itu ada kamu.”

Itulah yang saya rasakan setelah menonton Dear You.

Film ini mengingatkan saya bahwa kehidupan manusia sebenarnya singkat.

Kita datang dengan tangan kosong.
Sepanjang perjalanan kita mengejar banyak hal

Pekerjaan, uang, rumah, keberhasilan, dan kehidupan yang lebih baik.

Semua itu penting.
Tetapi pada akhirnya, yang paling lama tinggal bersama kita bukanlah apa yang pernah kita miliki.

Yang tinggal adalah siapa yang pernah kita cintai, siapa yang pernah mencintai kita, dan untuk siapa kita pernah berkorban.

Hari ini dunia sudah jauh lebih modern dibandingkan tahun 1960-an.

Hidup mungkin lebih mudah dalam banyak hal.

Namun jangan sampai kemudahan membuat kita lupa menghargai pengorbanan.

Jangan sampai cepatnya komunikasi membuat kita lupa mengatakan, “Aku merindukanmu.”
Jangan sampai kesibukan membuat kita lupa pulang.
Dan jangan menunggu seseorang tiada untuk mengatakan, “Terima kasih karena dahulu engkau berjuang untuk kami.”

Karena sesungguhnya setiap keluarga mempunyai Dear You-nya sendiri.

Seseorang yang pernah pergi.
Seseorang yang pernah menunggu.
Seseorang yang pernah berkorban.
Dan seseorang yang namanya, walaupun waktu terus berjalan, tetap tinggal di dalam hati.

Pada akhirnya, rumah bukan hanya sebuah tempat.
Rumah adalah tempat di mana seseorang masih menunggu kepulangan kita.
Dan cinta sejati bukan tentang siapa yang selalu berada di samping kita.

Kadang
kadang cinta sejati justru tentang seseorang yang berani berjalan sangat jauh…
namun hatinya tidak pernah benar benar meninggalkan rumah.

Terima kasih, Dear You.

Untuk sebuah cerita yang membuat saya kembali mengingat arti cinta, keluarga, perjuangan, perantauan, penantian, dan pengorbanan.
Film telah selesai.

Tetapi rasanya, kisahnya masih berjalan di dalam hati saya.

Adharta.Com

Www.kris.or.id

PERJALANAN HIDUP EDWARD

Cerpen nomor 0101

PERJALANAN HIDUP EDWARD

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Medio Agustus 2026

Dari Kubangan Kodok Menuju Gelar Sarjana Teknik Sipil

Kisahku
Namaku Edward, tetapi keluarga dan Teman-teman lebih akrab memanggilku Edo.

Aku dilahirkan dan dibesarkan dalam sebuah keluarga sederhana.

Bahkan, kata “sederhana” mungkin belum cukup untuk menggambarkan keadaan kami pada masa itu.

Sejak kecil, aku sudah mengenal arti kekurangan. Kemiskinan bukan sekadar cerita yang kudengar dari orang lain, melainkan kenyataan yang setiap hari hadir di dalam rumah kami.

Orang tuaku harus berjuang sangat keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Aku sering menyaksikan wajah mereka yang lelah setelah seharian bekerja. Mereka berusaha tersenyum di hadapan anak-anaknya, meskipun aku tahu bahwa di balik senyum itu tersimpan kecemasan yang begitu dalam. Ada tagihan yang belum terbayar, kebutuhan rumah tangga yang harus dipenuhi, serta biaya sekolah anak-anak yang terus menghantui pikiran mereka.
Kadang-kadang, makanan yang tersedia harus dibagi agar semua anggota keluarga mendapat bagian. Tidak jarang orang tuaku mengatakan bahwa mereka sudah makan, padahal sebenarnya mereka sedang menahan lapar. Ketika aku mulai mengerti, hatiku terasa hancur. Aku menyadari bahwa mereka rela mengorbankan dirinya agar anak-anaknya tidak tidur dengan perut kosong.
Pada malam hari, aku sering melihat ayah dan ibu duduk dalam diam. Mereka berbicara dengan suara pelan agar tidak terdengar oleh kami. Namun, dari balik kamar, aku dapat mendengar kegelisahan mereka. Aku mendengar keluhan tentang uang sekolah, biaya hidup, dan pekerjaan yang tidak selalu memberikan hasil. Walaupun belum sepenuhnya memahami persoalan orang dewasa, aku tahu bahwa hidup kami sedang tidak baik-baik saja.
Di dalam kesulitan itu, aku mencoba menemukan kebahagiaanku sendiri. Sejak kecil, aku sangat suka bermain kodok di belakang rumah.

Di sana terdapat tanah basah, rerumputan, kubangan kecil, serta suara kodok yang bersahutan ketika hujan turun.

Anak-anak lain mungkin menganggap kodok sebagai binatang yang menjijikkan, tetapi bagiku kodok adalah bagian dari masa kecil yang tidak dapat kulupakan.
Aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam di belakang rumah untuk mencari dan memperhatikan kodok. Kakiku kotor oleh lumpur, pakaianku basah, dan tanganku penuh tanah. Terkadang ibu memarahiku karena pulang dalam keadaan sangat kotor. Akan tetapi, setelah melihat wajahku yang gembira, kemarahannya perlahan menghilang.
Siapa yang menyangka bahwa kesukaan masa kecil itu kelak menjadi salah satu jalan kehidupanku?
Keadaan ekonomi keluarga membuatku belajar bahwa aku tidak boleh hanya menunggu pertolongan. Aku harus berusaha menciptakan kesempatan dengan apa pun yang ada di sekitarku. Dari kegemaranku bermain kodok, perlahan muncul keberanian untuk memelihara dan menjualnya. Aku mulai memahami cara merawat kodok, memilih bibit yang baik, menyiapkan tempat pemeliharaan, dan mencari orang yang bersedia membelinya.
Usaha itu tidak langsung berhasil. Ada kodok yang mati, ada pembeli yang membatalkan pesanan, dan ada pula orang-orang yang meremehkan pekerjaanku. Beberapa orang tertawa ketika mengetahui aku menjadi pedagang sekaligus peternak kodok. Mereka mungkin menganggap pekerjaanku tidak membanggakan. Namun, bagiku tidak ada pekerjaan halal yang pantas direndahkan.
Setiap kodok yang berhasil kujual membawa harapan bagi keluargaku. Hasilnya mungkin tidak besar, tetapi uang itu sangat berarti. Dari sanalah aku belajar bahwa rezeki dapat datang melalui jalan yang tidak pernah kita bayangkan. Kodok-kodok yang dahulu hanya menjadi teman bermain ternyata membantu membuka pintu masa depanku.
Aku tetap berusaha menjalani pendidikan. Aku bersekolah dari tingkat SD, SMP, hingga SMA di Ruba. Perjalanan sekolahku tidak selalu mudah. Ada saat ketika aku merasa minder melihat teman-teman yang mempunyai perlengkapan sekolah lebih baik. Mereka datang dengan sepatu bagus, tas baru, dan uang saku yang cukup. Sementara itu, aku harus menjaga barang-barangku agar dapat digunakan selama mungkin.
Pernah aku pergi ke sekolah dengan hati yang sangat sedih karena mengetahui orang tuaku tidak mempunyai cukup uang. Aku melihat ibu mencari sisa uang di tempat penyimpanan, lalu menyerahkannya kepadaku. Tangannya menggenggam uang itu erat-erat, seolah-olah sedang menyerahkan sesuatu yang sangat berharga.
“Pergilah sekolah, Do. Belajarlah yang rajin. Jangan pikirkan keadaan kami,” katanya.
Aku menerima uang itu dengan mata berkaca-kaca. Aku tahu mungkin itulah uang terakhir yang dimilikinya. Dalam perjalanan menuju sekolah, air mataku jatuh. Aku berjanji dalam hati bahwa pengorbanan orang tuaku tidak boleh menjadi sia-sia.
Setelah menyelesaikan SMA, aku ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Keinginanku terasa seperti mimpi yang terlalu besar bagi keluarga miskin seperti kami. Biaya kuliah tentu tidak sedikit. Ada orang yang menyarankanku untuk berhenti sekolah dan langsung bekerja. Aku memahami alasan mereka, tetapi jauh di dalam hatiku masih tersimpan cita-cita yang tidak mau kupadamkan.
Aku ingin menjadi seorang sarjana Teknik Sipil.
Dengan segala keterbatasan, aku melanjutkan pendidikan Teknik Sipil di Trisakti. Ketika pertama kali memasuki kampus, perasaanku bercampur aduk. Aku merasa bangga, takut, dan tidak percaya bahwa anak dari keluarga miskin seperti diriku dapat berdiri di sana. Aku melihat gedung kampus, ruang kuliah, serta mahasiswa-mahasiswa yang datang dari berbagai latar belakang. Aku sadar bahwa perjuanganku baru saja dimulai.
Masa kuliah menjadi perjalanan yang sangat berat. Aku harus membagi waktu antara belajar dan mencari penghasilan. Ketika teman-temanku dapat beristirahat, aku masih memikirkan ternak, pembeli, serta kebutuhan keluarga. Ketika mereka dapat membeli buku dengan mudah, aku harus menghitung uang berkali-kali dan menentukan kebutuhan mana yang harus didahulukan.
Ada malam-malam ketika tubuhku begitu lelah, tetapi aku tetap membuka buku. Mataku terasa berat dan pikiranku hampir menyerah. Beberapa kali air mataku menetes di atas lembaran tugas. Aku bertanya kepada diriku sendiri, “Apakah aku sanggup menyelesaikan semua ini?”
Pada saat-saat seperti itu, bayangan wajah orang tuaku selalu datang. Aku teringat tangan mereka yang kasar karena bekerja. Aku teringat ibu yang pernah menahan lapar dan ayah yang menyembunyikan kelelahan. Aku tidak ingin pulang membawa kegagalan. Aku harus bertahan, bukan hanya untuk diriku sendiri, melainkan juga untuk mereka.
Aku pernah merasa sangat terpuruk ketika masalah ekonomi datang bersamaan dengan tekanan kuliah. Rasanya seperti berjalan di lorong yang gelap tanpa mengetahui di mana ujungnya. Namun, aku belajar bahwa keberanian bukan berarti tidak pernah menangis. Keberanian adalah tetap melangkah meskipun air mata terus mengalir.
Hari demi hari kulewati. Tugas demi tugas kuselesaikan. Aku jatuh, bangkit, lalu kembali berjuang. Hingga akhirnya, hari yang sangat kunantikan itu tiba: aku berhasil menyelesaikan pendidikan dan dinyatakan lulus sebagai sarjana Teknik Sipil Trisakti.
Saat kelulusan, pikiranku tidak langsung tertuju pada diriku sendiri. Aku mencari wajah ayah dan ibu. Ketika melihat mereka, dadaku terasa sesak oleh haru. Wajah mereka telah menua, tetapi mata mereka memancarkan kebahagiaan yang tidak dapat digambarkan dengan kata-kata. Aku memeluk mereka erat-erat.
Air mata kami pun pecah.
Dalam pelukan itu, seakan-akan seluruh penderitaan masa lalu kembali terbayang: rumah sederhana kami, makanan yang harus dibagi, uang sekolah yang sulit diperoleh, tubuh yang lelah, lumpur di belakang rumah, kodok-kodok yang kupelihara, dan malam-malam panjang yang kulewati sambil belajar.
Aku berkata dalam hati, “Ayah, Ibu, gelar ini bukan hanya milikku. Gelar ini adalah milik kalian. Inilah buah dari doa, air mata, pengorbanan, dan cinta kalian.”
Kini aku memahami bahwa kemiskinan bukanlah akhir dari segala harapan. Masa lalu yang sulit tidak harus menentukan masa depan seseorang. Aku memang pernah hidup dalam kekurangan, menjadi pedagang, dan beternak kodok. Namun, aku tidak pernah malu terhadap perjalanan itu. Justru dari sanalah aku belajar tentang kerja keras, kesabaran, tanggung jawab, dan harga diri.
Namaku Edward, panggilanku Edo. Aku adalah seorang anak yang tumbuh dalam kemiskinan, bermain kodok di belakang rumah, lalu menjadi pedagang dan peternak kodok. Aku menempuh pendidikan dengan air mata dan akhirnya menyelesaikan kuliah Teknik Sipil di Trisakti.
Perjalananku bukanlah kisah tentang kehidupan yang selalu berjalan mulus. Ini adalah kisah tentang seseorang yang berkali-kali hampir menyerah, tetapi memilih untuk bangkit sekali lagi. Sebab selama kita masih mempunyai doa, kemauan, dan keberanian untuk berusaha, selalu ada jalan menuju hari esok.
Kepada siapa pun yang sedang hidup dalam kesulitan, jangan malu dengan keadaanmu. Jangan takut bermimpi hanya karena hari ini kamu belum mempunyai apa-apa. Teruslah berjalan, sekalipun langkahmu kecil dan air matamu belum berhenti mengalir.
Percayalah, suatu hari nanti kamu akan menoleh ke belakang dan menyadari bahwa setiap luka telah membuatmu lebih kuat. Setiap air mata telah menyirami benih harapan. Dan setiap perjuangan telah mengantarkanmu menuju kehidupan yang dahulu hanya berani kamu impikan.

Rekening KRIS
BCA
6383648888
Atas nama
Perkumpulan KRIS

Call Center
08119620888

www.kris.or.id I www.adharta.com

PROGRAM GROUND BREAKING – Pembangunan Toko Babe Domi Dan 6 UNIT Warung UMKM

PROGRAM
GROUND BREAKING

Pembangunan
Toko Babe Domi
Dan 6 UNIT Warung UMKM

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Sindanglaya
8 Agustus 2026

Siang hari sebelum Agenda pemeriksaan dan pemberian Kaca Mata
dilakukan Program Ground Breaking

Ada 3 unit Container bekas 20 feet
Sumbangan PT Pelayaran Meratus Line

Container bekas ini akan di modifikasi menjadi Toko Babe Romi
Yang menjual Barang Bekas
Nama Domi untuk memperingati Hari Santo Dominikus si Pewarta kebaikan
Dan 6 warung UMKM

Acara Ground breaking di tandai pengguntingan Pita merah oleh Bruder Tri dan Bapak Adharta

Acara di lanjutkan dengan Pelepasan Balon terbang oleh relawan termuda Fayola atau panggilan Ola
10 balon di terbangkan melambangkan cita cita masa depan yang setinggi langit bagi anak anak Panti Asuhan Santo Yusup

Acara dilanjutkan dengan peletakan baru pertama
Oleh Bapak Budi Hidayat sebagai Wakil Ketua Umum KRIS
Bruder Tri
Pastor Martin Harun
Pastor Oghy
Ketua Panitia Baksos KRIS
Bapak Marvin
Bapak PDG Erijanto Lukman
Dan para Pengurus KRIS

Batu di lapisi semen sebagai pondasi
Lambang dasarnya cita cita
Supaya program ini berguna bagi Panti Asuhan Santo Yusup sekarang dan selamanya
Arti berbagi kasih buat anak anak Allah

Tuhan memberkati kita semua

Rekening KRIS
BCA
6383648888
Atas nama
Perkumpulan KRIS

Call Center
08119620888

www.kris.or.id I www.adharta.com

SEMALAM DI SINDANGLAYA – Cerpen nomor 0100

CERPEN No. 0100

SEMALAM DI SINDANGLAYA

Oleh: Adharta
Ketua Umum
KRIS

Sindanglaya,
8 Agustus 2026

“Pak, sudah sampai mana?”

Suara Genek terdengar dari telepon.
Sudah beberapa kali ia menelepon, menanyakan kapan saya tiba di Sindanglaya.

Namun malam itu perjalanan panjang dan tubuh yang lelah akhirnya lelap tertidur.

Di dalam mobil saya bersama Bapak Budi Hidayat dan Ibu Hian, saya sempat bercerita panjang lebar. Entah sejak kapan cerita kami berhenti, tahu-tahu mata saya sudah terpejam.

Telepon berbunyi. Pesan-pesan singkat masuk satu demi satu.

Saya hanya sempat berpikir, nanti malam saja saya balas.

7 Agustus 2026

Sore itu, selepas Misa Jumat Pertama di Wisma Mitra Sunter,
Misa dipimpin Pastor Fransiskus Riyaton
Seorang Pastor tapi juga perwira Angkatan Laut
Misa jumper dilaksanakan oleh Keluarga Katolik KRIS setiap bulan.

sekitar pukul 16.00, kami langsung berangkat menuju Cipanas.

Sebenarnya ada tiga acara lain yang harus saya hadiri. Dengan berat hati semuanya saya lewatkan. Ada sesuatu yang terasa lebih penting: anak-anak Panti Asuhan Santo Yusup Sindanglaya sedang menantikan kami.

Kadang
kadang hidup memang meminta kita memilih.

Bukan memilih mana yang paling meriah, tetapi mana yang membuat kehadiran kita mempunyai arti.

Perjalanan Jakarta ke Cipanas ternyata bersahabat. Tidak terlalu macet.
Bahkan boleh dikatakan lancar.

Tepat pukul 20.00 kami tiba di Restoran Amen Sindanglaya.

Makan malam sudah tersedia.

“Wah, ini baru namanya sambutan!” celetuk seseorang.

Semua tertawa.

Mungkin karena perut memang sudah lapar, makanan malam itu terasa luar biasa nikmat.

“Kalau lapar begini, nasi putih saja bisa terasa seperti makanan hotel bintang lima,” kata saya.

“Kalau begitu tambah, Pak!” sahut yang lain.

Tawa kembali pecah.

Selesai makan, kami berunding sebentar mengenai acara esok hari, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Panti Asuhan Santo Yusup.

Udara dingin Sindanglaya menyambut kami.

Langit cerah dan malam terasa tenang.

Kami menginap di rumah Dokter Darmadi, putra Dokter Handoko Gunawan, dokter ahli paru-paru yang tentu dikenal banyak orang, terutama karena perjuangannya pada masa pandemi Covid-19.

Saya teringat sebuah kenangan.

Saat itu Freddy Hartanto, seorang relawan KRIS, berada dalam kondisi kritis dan dirawat di Graha Kedoya. Hampir setiap hari saya berdiskusi dengan Dokter Handoko mengenai kondisinya.

Hari-hari penuh kecemasan itu akhirnya berubah menjadi rasa syukur.

Freddy tertolong dan dapat diselamatkan.

Kenangan seperti itu tidak mudah hilang.

Dokter Handoko Gunawan mengingatkan saya bahwa di balik gelar seorang dokter, ada tangan yang bekerja, pikiran yang terus mencari jalan, dan hati yang berjuang mempertahankan kehidupan manusia.

Malam semakin larut di rumah Dokter Darmadi yang berada di belakang Panti Asuhan Santo Yusup.

Tetapi ada satu persoalan besar.

Kampung tengah mulai berkerucuk!
Hahaha

Bagi orang Manado, kampung tengah adalah istilah akrab untuk perut.

Ibu Monic, Ibu Wenny, Ibu Restu, dan Ibu Betsy mulai protes.

“Pak, ini rapat terus, tetapi kampung tengah bagaimana?”

“Memangnya belum aman?”

“Sudah tidak aman. Sudah minta perhatian!”

Akhirnya datanglah penyelamat malam itu: martabak telur dan kue-kue!

“Ini baru keputusan rapat yang paling cepat disetujui,” kata saya.

Semua tertawa.

Martabak pun berpindah dari kotak ke piring, lalu menghilang dengan kecepatan luar biasa.

Kampung tengah akhirnya berdamai.

Namun acara belum selesai. Simulasi kegiatan esok hari terus dilakukan sampai menjelang subuh.

Saya baru terlelap hampir pukul dua pagi. Kami masih menunggu rombongan terakhir

Bapak Fandy, Bapak Dwi Jelly, dan Bapak Lendy.

Ketika mereka akhirnya tiba, malam ditutup dengan doa bersama.

Doa dilakukan bergilir.
Dr Darmadi
Drg Wenny
Ibu Monic
Ibu Betsy
Bapak Harling
Saya menutup dengan berkat malam dan Doa Malaikat

Tidak ada Doa yang panjang
Hanya permohonan sederhana agar kegiatan besok berjalan lancar, semua sehat, dan anak-anak bergembira.

8 Agustus 2026

Pukul 04.00, bahkan sebelum ayam sempat berkokok, sebagian panitia sudah bangun.

Doa pagi dilakukan, dilanjutkan persiapan acara.

Pukul 06.00 terdengar morning call.

Ketua Panitia, Bapak Marvin, sangat proaktif.
Satu per satu anggota tim diingatkan.

“Ayo bangun! Anak-anak sudah menunggu!”

Pukul 06.30, hadiah pertama hari itu datang dalam bentuk yang sangat sederhana:

Bubur Ayam Cianjur!

Bayangkan bubur panas di tengah udara pagi Sindanglaya yang dingin.

Ada sate ati ampela, telur puyuh, sate kulit, sup, kerupuk, dan tentu saja ditutup secangkir kopi hitam.

Nikmat sekali!

Pagi itu kami sudah bersukacita bersama anak-anak panti, Bruder Tri, Pastor Oghy, dan Pastor Martin Harun.

Tak lama kemudian datang Dea dan Pandu tiba sekitar pukul 07.00.
Ola dan Opi ikut saya semalam

Ola adalah cucu saya yang paling kecil sekarang berusia enam tahun.

Ia mendekati saya dengan wajah serius.

“IKung, apakah Ola boleh jadi relawan?”

Saya menatapnya.

“Boleh.”

Matanya langsung berbinar.

“Tugas Ola apa?”

Saya berpikir sebentar, lalu menjawab dengan sangat serius,

“Tugas pertama relawan adalah… makan bubur dulu!”

Ola tertawa.

Ternyata setelah makan, relawan kecil ini benar-benar menjalankan tugasnya.

Ola berkenalan dengan anak-anak panti, akrab sekali luar biasa
membagikan cokelat, bercakap
cakap, dan bermain bersama mereka.

Melihatnya, saya tersenyum.

Barangkali kebaikan memang tidak perlu menunggu seseorang menjadi dewasa.

Kebaikan bisa dimulai dari sepotong cokelat yang diberikan seorang anak berusia enam tahun kepada teman yang baru dikenalnya.

Pukul 08.00

Acara resmi dibuka dengan doa yang dipimpin MC, Ibu Yayuk.

Dilanjutkan sambutan Bruder Tri, saya sebagai Ketua Umum KRIS,
Bapak Marvin sebagai Ketua Panitia Baksos KRIS sekaligus President Lions Club Jakarta Tomang Sejati Distrik 307 B1, serta Bapak Budi Hidayat sebagai Wakil Ketua Umum KRIS.

Ada pula cerita ringan mengenai nama Yusuf.

“Sudah tahu arti Yusuf?” tanya saya.

Beberapa orang menggeleng.

“Konon artinya tampan sekali, ganteng!”

Ibu-ibu langsung tertawa.

Saya melanjutkan kisah tentang ketampanan Yusuf yang begitu mempesona sampai orang yang sedang memotong bahan makanan bawang bisa tidak sadar tangannya teriri berdarah tanpa rasa sakit lhoooo piye
Semua tertawa

Suasana pun semakin cair.

Pukul 08.30 dimulailah edukasi kesehatan.

Suster Nunung memberikan penjelasan dengan luar biasa, dibantu Ibu Restu. Anak-anak mengikuti dengan penuh perhatian.

Kami memperkenalkan konsep MOTOR:

Makanan sehat, baik, dan bergizi.

Olahraga teratur.Tidur cukup dan bermutu.

Obat dan perawatan segera apabila sakit.

Rekreasi untuk memberikan ketenangan lahir dan batin.

Sebuah gagasan dari Prof. Yos Susanto dari Rumah Sakit Primaya Group
yang akan terus dipromosikan KRIS.
Nantinya

Pukul 09.30 pemeriksaan mata dimulai.

Anak-anak diperiksa secara teliti oleh tim dokter, dikawal teman-teman Lions Club Jakarta Tomang Sejati.

Yang membutuhkan kacamata minus mendapat kacamata. Yang membutuhkan kacamata plus atau kacamata baca juga dilayani.

Ada seorang anak yang selesai mencoba kacamatanya lalu memandang sekeliling.

“Sekarang lebih jelas?” tanya seorang relawan.

Anak itu tersenyum lebar.

“Jelas sekali!”

Jawaban sederhana itu terasa sangat indah.

Kadang
kadang kebahagiaan adalah ketika dunia yang tadinya buram tiba-tiba terlihat lebih jelas.

Anak-anak juga menerima berbagai bingkisan.

Ada dukungan dari Wings Group untuk kebutuhan kesehatan dan makanan, juga dari Inaco melalui PDG Lion Erijanto dan Lion Meme.

Sembako dibagikan kepada warga prasejahtera.

Acara diisi juga dengan penanaman Kopi
Sebagai program Partisipasi Lingkungan hidup
200 Pohon Kopi Arabika di tanam secara. Simbolis

Pasutri Adharta

Pasutri Budi Hidayat

Pasutri Erijanto

Bapak Marvin Ketua Baksos

Pastor amartin Harusnya OFM

Pastor Oghy aoafam

Bruder Tri ofm

Di ruang Asep, suasana semakin ramai. Musik angklung mengalun dan penyanyi
penyanyi hebat dari panti ikut menghibur.

Pukul 12.00 udara mulai panas.

Untung makan siang sudah menunggu!

Ada bakso, nasi, ayam nugget, tahu, tempe, sayur asem khas panti
yang menjadi kesenangan Bapak Budi Hidayat
ikan teri, Sambel terasi Mantabs
serta buah-buahan: melon, semangka, dan buah naga.

Di sela-sela kegiatan,
Dea Julianti, Opi, dan Ola punya acara sendiri memetik jagung muda dan tomat.
Alpukat
Laku habis ludes
Laris manis

“Ola, dapat apa?”

“Jagung!”

“Berapa?”

Ola menunjukkan hasil petikannya dengan bangga.

“Banyak!”

Saya tertawa melihat wajahnya.

Kegiatan terus berlanjut sampai sore.

Jagung rebus, ubi rebus, dan pisang goreng mulai tersaji. Kopi hangat mengepul di cangkir.

Ada emping, kerupuk, dan kue kering.

Entah mengapa, di tengah udara Sindanglaya, anak-anak yang tersenyum, suara angklung, dan persahabatan yang memenuhi halaman panti, hati terasa begitu damai.

Saya pun menyanyikan lagu Semalam di Cianjur.

Janji kasih yang telah kau ucapkan…
Namun sayang hanya semalam…
Berat hati perpisahan…
Nanti kelak kita bertemu lagi…

Suasana berubah menjadi haru.

Saya memandang anak-anak Panti Asuhan Santo Yusup.

Sejak pagi kami datang membawa berbagai bingkisan. Kami berpikir kami datang untuk berbagi.

Tetapi menjelang pulang saya justru merasa kamilah yang menerima jauh lebih banyak.

Kami menerima senyuman.

Kami menerima persahabatan.

Kami menerima kegembiraan.

Dan yang paling penting, kami diingatkan kembali bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari sesuatu yang besar.

Kadang ia datang dari semangkuk bubur ayam.

Dari sepotong cokelat yang dibagikan Ola.

Dari kacamata baru yang membuat seorang anak melihat dunia lebih jelas.

Dari jagung yang dipetik bersama.

Dari martabak telur tengah malam.

Dari doa sederhana menjelang subuh.

Dan dari sebuah pertemuan yang membuat orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal akhirnya merasa seperti keluarga.

Sebelum meninggalkan panti saya berkata,

“Anak-anakku, terima kasih. Hari ini kalian membuat kami semua bahagia.”

Seorang anak bertanya,

“Opa Adharta, nanti datang lagi?”

Pertanyaan itu membuat langkah saya seperti tertahan.

Saya tersenyum.

“Pasti.”

“Kapan?”

“Nanti kita atur. Kalau perlu, kita ketemu dan bermain bersama di Playtopia!”

“Yeeeaaay!”

Suara mereka pecah penuh kegembiraan.

Saya tertawa.

Di situlah saya mengerti bahwa sebuah perpisahan yang indah bukanlah tentang mengatakan selamat tinggal.

Perpisahan yang indah adalah ketika kita masih mempunyai alasan untuk berkata:

“Sampai bertemu lagi.”

Selamat tinggal, anak-anakku di Panti Asuhan Santo Yusup Sindanglaya.

Terima kasih untuk satu hari yang begitu indah.

Terima kasih kepada Bruder, Pastor, para dokter, perawat, panitia, relawan, para donatur, sahabat
sahabat KRIS, Lions Club, dan semua tangan yang bekerja tanpa lelah.

Kita mungkin datang dari rumah yang berbeda.

Kita mungkin mempunyai pekerjaan dan perjalanan hidup yang berbeda.

Tetapi hari itu kita mempunyai satu bahasa yang sama:

bahasa kasih.

Satu hati
Satu jiwa
Satu tujuan
Indonesia Sejahtera

Itulah KRIS

Matahari Sindanglaya perlahan turun.

Udara kembali sejuk.

Suara anak-anak masih terdengar di belakang kami.

Saya menoleh sekali lagi.

Entah mengapa hati saya penuh sukacita.

Ternyata saya tidak hanya membawa pulang kenangan tentang semalam di Sindanglaya.

Saya membawa pulang sesuatu yang jauh lebih berharga:

kenangan tentang persahabatan, pelayanan, dan kasih yang akan tinggal lama di dalam hati.

Sebab pada akhirnya, hidup bukanlah tentang berapa banyak yang kita miliki.

Hidup adalah tentang berapa banyak senyum yang sempat kita tinggalkan di hati orang lain.

Sampai bertemu lagi, anak-anakku.

Tuhan memberkati kita semua.

Salam kasih,

Adharta.com

Www.kris.or.id

“Semoga damai dan segala kebaikan menyertaimu.” 🙏❤️

Pace e Bene
😀

Rekening KRIS
BCA
6383648888
Atas nama
Perkumpulan KRIS

Call Center
08119620888

www.kris.or.id I www.adharta.com

Asam di Gunung, Garam di Laut

Cerpen nomor 099

Asam di Gunung, Garam di Laut

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Cianjur
7 Agustua 2026

Kan ku ingat
Semalam di Cianjur
Janji Kasih
Yang kau ucapkan

Penggalan lagu merdu yang filantunkan Alfian buat saya jadi ingat talian persahavatan

Tidak semua sahabat kita mendapat berkat Damai sejahtera

Kiaahku
Kenneth berasal dari Jambi.
Maria berasal dari Sindanglaya, Cianjur

Sebuah kampung berhawa sejuk di kaki Gunung Gede.
Mereka tumbuh di tempat yang berjauhan, dipisahkan gunung, laut, jalan panjang, dan rahasia kehidupan. Namun, seperti pepatah lama,

“Asam di gunung, garam di laut, bertemu juga di dalam belanga.”
Kalqu aku lebih suka bertemu di sayur asam ya
Menu favorit Bapak dan Ibu Budi Hidayat

Takdir mempertemukan mereka di Jakarta, kota yang menerima jutaan manusia dengan harapan, lalu menguji mereka dengan kenyataan.

Aku mengenal Maria sekitar dua puluh tahun lalu, jauh sebelum ia bertemu Kenneth. Waktu itu Maria masih muda, periang, dan penuh kepedulian. Dalam banyak percakapan, ia sering bercerita tentang Panti Asuhan Santo Yusup di Sindanglaya, Cipanas.

Matanya selalu berbinar ketika menyebut anak-anak di sana.

“Mereka tidak membutuhkan rasa kasihan,” katanya suatu hari.

“Mereka membutuhkan seseorang yang mau tinggal, mendengarkan, dan membuat mereka merasa tidak dilupakan.”

Maria sering datang membawa makanan, pakaian, serta sedikit uang yang dikumpulkannya. Kadang-kadang ia hanya membawa dirinya sendiri
menemani anak-anak belajar, bermain, dan tertawa. Ia tidak pernah membayangkan bahwa tempat yang dahulu sering didatanginya untuk memberi pertolongan, kelak akan menjadi tempat kedua putrinya mencari perlindungan.

Airmataku
Ketika Maria bertemu Kenneth di Jakarta, cinta tumbuh dengan cepat. Kenneth melihat ketulusan dalam diri Maria.

Maria menemukan keteguhan dalam diri Kenneth. Perbedaan asal tidak menjadi penghalang. Jambi dan Sindanglaya terasa dekat ketika dua hati sedang saling mencintai.

Sepuluh tahun lalu, mereka melangsungkan pernikahan. Di hadapan altar, keluarga, dan para sahabat, mereka mengucapkan janji untuk saling mencintai dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit.

Maria tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Kenneth menggenggam tangannya erat, seolah tidak akan pernah melepaskannya.
Dari pernikahan itu lahirlah dua putri kecil yang cantik dan menggemaskan.
Rani dan Rina

Kehadiran mereka membawa warna baru.

Rumah yang sebelumnya sunyi dipenuhi tangisan bayi, suara tawa, mainan berserakan, dan langkah-langkah kecil yang berlari mencari pelukan.
Pada masa itu, kebahagiaan terlihat begitu sempurna. Maria menjadi ibu yang penuh kasih. Kenneth bekerja keras untuk keluarganya. Foto-foto mereka memperlihatkan senyum yang hangat.

Tidak seorang pun mengetahui bahwa di balik pintu rumah, retakan kecil mulai muncul.
Badai rumah tangga memang tidak pernah mengetuk pintu sebelum masuk. Ia datang perlahan melalui kelelahan, kekecewaan, persoalan ekonomi, perbedaan pendapat, serta kata-kata yang dilontarkan ketika hati sedang panas.

Percakapan berubah menjadi perdebatan. Perdebatan berubah menjadi pertengkaran. Pertengkaran yang dahulu segera berakhir mulai berlangsung berhari-hari.

Ada malam ketika Maria menangis sendirian, sementara Kenneth memilih diam.

Ada pagi ketika Kenneth berangkat tanpa mengucapkan salam, sedangkan Maria berdiri di balik jendela dengan kemarahan bercampur kesedihan.

Mereka masih tinggal dalam satu rumah, tetapi hati mereka seperti menempati dua dunia yang berjauhan.

Cinta yang pernah lembut berubah menjadi kumpulan luka. Setiap pihak merasa paling disakiti dan paling tidak dimengerti. Kata-kata lama diungkit kembali.

Kesalahan kecil dibesarkan. Kebencian tumbuh dari kekecewaan yang tidak pernah diselesaikan.

Di tengah kericuhan itu, dua putri kecil mereka sering terbangun karena suara pertengkaran. Mereka tidak memahami persoalan orang dewasa.

Mereka hanya tahu ayah dan ibu yang dahulu tertawa bersama kini lebih sering saling membelakangi.

Suatu malam, salah seorang putri mereka memeluk adiknya di dalam kamar.
“Jangan menangis,” bisiknya.

“Besok Ayah dan Ibu pasti baik lagi.”

Namun, hari esok yang mereka tunggu tidak pernah benar-benar datang.

Lima tahun lalu, Maria dan Kenneth akhirnya bercerai. Keputusan itu bukan kemenangan bagi siapa pun.

Tidak ada pemenang ketika sebuah keluarga pecah. Yang ada hanyalah dua orang dewasa yang kehabisan tenaga, serta dua anak yang kehilangan rumah dalam arti yang sesungguhnya.

Orang-orang berkata bahwa dalam ajaran Katolik, ikatan pernikahan adalah ikatan suci yang tidak boleh diputuskan.

Maria dan Kenneth mengetahui itu. Mereka pernah berdiri di depan altar dan mengucapkan janji kepada Tuhan.

Mereka tahu perceraian bertentangan dengan keyakinan yang selama ini mereka pegang.

Namun, manusia sering kali lemah. Ketika persoalan membesar, kemarahan menguasai pikiran, dan jalan pulang tidak lagi terlihat, hukum serta janji yang dahulu dijunjung dapat diterjang.

Perceraian tidak mengenal agama. Ia dapat masuk ke rumah siapa pun ketika cinta tidak lagi mampu mengalahkan ego, kebencian, dan luka.

Setelah perceraian, kehidupan menjadi semakin sulit.

Keadaan membuat kedua putri kecil mereka akhirnya harus tinggal di Panti Asuhan Santo Yusup, Sindanglaya, Cipanas.

Hari ketika mereka diantar ke sana menjadi hari yang menghancurkan hati

Maria berdiri di depan bangunan yang sangat dikenalnya. Halamannya masih sama.

Udara dingin Sindanglaya masih menyentuh wajah dengan lembut.

Salib di dinding masih tergantung di tempatnya. Suara anak-anak masih terdengar dari ruang bermain.

Namun, kali ini Maria tidak datang membawa bantuan.
Ia datang membawa dua koper kecil dan menggandeng kedua putrinya.

Langkahnya terasa berat. Setiap sudut panti mengingatkannya pada masa muda, ketika ia datang dengan senyum dan keyakinan bahwa dirinya sedang menolong anak-anak yang kurang beruntung.

Kini ia berdiri di tempat yang sama sebagai seorang ibu yang harus menitipkan buah hatinya karena segala kelemahan dan kekurangan hidup.

“Ma, kita tinggal di sini berapa lama?” tanya putri sulungnya.
Maria tidak segera menjawab.

Ia berlutut, merapikan rambut anaknya, lalu memeluk kedua putrinya erat-erat. Air matanya jatuh tanpa dapat ditahan.

“Hanya sampai keadaan menjadi lebih baik,”

jawabnya dengan suara bergetar.

“Tapi Mama ikut tinggal di sini, kan?”

Pertanyaan itu menembus jantung Maria. Ia ingin berkata iya. Ia ingin membawa mereka pulang dan membangun kembali rumah yang telah runtuh. Namun, kenyataan berdiri di hadapannya dengan wajah yang kejam.

Mama tidak bisa tinggal.
Putri bungsunya mulai menangis. Tangan kecilnya mencengkeram baju Maria, menolak dilepaskan.

Tidak ada penjelasan yang cukup sederhana untuk membuat seorang anak memahami mengapa ayah dan ibunya tidak lagi bersama, serta mengapa kini ia harus tidur di kamar asing.
Kenneth pun menanggung kesedihannya sendiri.

Barangkali ia tidak selalu memperlihatkan air mata, tetapi bayangan kedua putrinya terus mengikutinya.

Di dalam kesunyian, ia harus hidup dengan pertanyaan yang sama: bagaimana pertengkaran antara dua orang dewasa dapat membuat dua anak kecil kehilangan begitu banyak hal?

Masyarakat dapat menyalahkan Maria. Orang lain mungkin menyalahkan Kenneth.

Ada yang berbicara tentang agama, dosa, hukum, dan kegagalan.

Namun, di balik segala penilaian itu, ada dua anak kecil yang hanya merindukan pelukan ayah dan ibunya.
Mereka tidak peduli siapa yang benar. Mereka tidak mengerti keputusan pengadilan. Mereka tidak mengetahui rumitnya persoalan rumah tangga.

Mereka hanya menginginkan rumah, meja makan, dongeng sebelum tidur, serta kesempatan menggenggam tangan Ayah dan Mama secara bersamaan.
Maria dahulu datang ke Panti Asuhan Santo Yusup untuk menghibur anak-anak yang merasa ditinggalkan. Kini, setiap kali berkunjung,
ia melihat perasaan yang sama pada mata putrinya sendiri.

Hidup seolah membuat lingkaran yang menyakitkan.
Asam dari gunung dan garam dari laut memang pernah bertemu di dalam belanga.

Sayangnya, belanga itu kemudian retak karena panas yang tidak terjaga.

Air kehidupan tumpah, meninggalkan kepedihan yang tidak mudah dikeringkan.
Tetapi kisah ini belum selesai.

Selama Maria dan Kenneth masih hidup, masih ada kesempatan untuk berhenti saling membenci. Mereka mungkin tidak dapat kembali sebagai suami dan istri, tetapi mereka tetaplah ayah dan ibu.

Demi dua putri kecil itu, mereka harus belajar memaafkan. Sebab anak-anak tidak seharusnya memikul hukuman dari kegagalan orang tuanya. Mereka pantas mengetahui bahwa meskipun rumah telah pecah, kasih sayang tidak harus ikut musnah.

Semoga suatu hari kelak, pintu panti itu terbuka dan kedua putri mereka berjalan keluar, bukan dengan air mata, melainkan dengan harapan.

Semoga Maria menyambut mereka dari satu sisi dan Kenneth berdiri dari sisi lainnya. Mungkin keduanya tidak lagi bergandengan tangan, tetapi setidaknya mereka dapat berdiri bersama untuk memeluk anak-anak yang selama ini menunggu.

Karena bagi seorang anak, terkadang keajaiban bukanlah melihat ayah dan ibunya menikah kembali. Keajaiban adalah ketika keduanya berhenti bertengkar, menanggalkan kebencian, dan kembali mengingat bahwa ada dua hati kecil yang tidak pernah meminta dilahirkan di tengah badai.

Aku menulis tetapi airmataku juga membasahi tulisanku ini

Malam nanti aku ada di Panti Asuhan Santo Yusup Sindanglaya
Cipanas
Beraama airmataku

Doa ku lantunkan
Dalam damai sejahtera

Rekening KRIS
BCA
6383648888
Atas nama
Perkumpulan KRIS

Call Center
08119620888

www.kris.or.id I www.adharta.com

One Day Remaining – Between me and HIM

One Day Remaining

Between me and HIM

By: Vincent S Johan
Advisor of KRIS

August 7, 2026

Nestled at the foot of the Sindanglaya mountains lies a humble home that many of us may never have visited.

It is called the Saint Joseph Orphanage (Panti Asuhan Santo Yusup).

Its walls are not high, its paint is beginning to fade, and its front yard is often filled with laughter—laughter that sounds light, yet carries heavy stories within it.

There, children learn about life far earlier than their age would suggest.

There is a boy named Raka, ten years old. He always wears a smile whenever he welcomes guests, as if the world has never hurt him.

But nighttime is different. When the lights are turned off and silence settles in, Raka often stares at the ceiling of his room, whispering softly,

“Mom, I ate well today.” No one answers.

Only the cold wind slipping through the window cracks seems to listen to his unfinished longing.

In another corner, there is little Maria, who loves to sing. Her voice is melodious, flowing gently like a prayer. She says she wants to become a singer so that one day, her mother might hear her from afar.

No one knows where her mother is now.

But Maria believes that a sincere voice will surely reach its destination. Every time she sings, her eyes well up—not out of sadness, but because of the hope she holds onto so tightly.

And then there is Andi, the child who speaks the least. He often sits alone on the stairs, watching other children play. When asked why he does not join them, he simply replies, “I am used to being alone.”

Those simple words feel heavy, as if he has already made peace with a loneliness that no child should ever know at such a young age.

Days at the orphanage pass simply. Wake up early, pray, study, help with chores, and then play with whatever is available.

There are no expensive toys, no sophisticated gadgets. Only a worn-out ball, jump ropes, and laughter created just to make things feel real.

Yet behind all of this, there is something they never fully possess:
the embrace they long for.

When guests arrive, their eyes sparkle. Not because of gifts, not because of food. But because of attention.

Because there is someone willing to sit down, listen, and call their names with love. It is that simple. And yet, for them, it is so difficult to have every single day.

As evening arrives and guests begin to leave, they wave their hands with the best smiles they can muster.

But once the gate closes, those smiles slowly fade.

Silence envelops them once again. A small sense of loss repeats itself.
Then night falls.
The lights are turned off one by one.

Inside their simple rooms, the children lie down, hugging their pillows as if they were someone they once had.
And amidst the silence, small prayers are whispered softly:

“God, please send people who care about us again tomorrow…”

Tears may not always be visible. But at the Saint Joseph Orphanage, every corner holds stories that quietly weep.
And perhaps… what they need is not everything.

Just one simple thing:
To no longer feel alone.

me and HIM
Who cares for me
As a child of God

Rekening KRIS
BCA
6383648888
Atas nama
Perkumpulan KRIS

www.kris.or.id I www.adharta.com

Call Center
08119620888

Sisa 1 hari lagi – Antara aku dan DIA

Sisa 1 hari lagi

Antara aku dan DIA

Oleh : Vincent S Johan
Penasehat KRIS

7 Agustus 2026

Di kaki pegunungan Sindanglaya, tersembunyi sebuah rumah sederhana yang mungkin tak pernah kita singgahi.

Panti Asuhan Santo Yusup namanya.

Dindingnya tak tinggi, catnya mulai memudar, dan halaman depannya sering dipenuhi tawa
tawa yang terdengar ringan, namun menyimpan cerita yang berat.

Di sana, anak-anak belajar tentang hidup lebih cepat dari usia mereka.

Ada anak namanya Raka, usia sepuluh tahun.
Ia selalu tersenyum setiap kali menyambut tamu, seolah dunia tak pernah melukainya.

Tapi malam hari adalah waktu yang berbeda. Saat lampu dipadamkan dan suasana menjadi sunyi, Raka sering menatap langit-langit kamar, berbisik pelan,

“Mama, hari ini aku makan enak.” Tak ada yang menjawab.

Hanya angin dingin yang masuk dari celah jendela, seolah ikut mendengar rindunya yang tak pernah selesai.

Di sudut lain, ada anak Maria kecil yang gemar bernyanyi.

Suaranya merdu, mengalun lembut seperti doa. Ia bilang ingin jadi penyanyi agar suatu hari ibunya bisa mendengarnya dari jauh.

Tak ada yang tahu di mana ibunya kini.

Tapi Maria percaya, suara yang tulus pasti akan sampai. Setiap kali ia bernyanyi, matanya berkaca-kaca
bukan karena sedih, tapi karena harapan yang ia genggam terlalu erat.

Dan ada pula Andi, anak yang paling jarang bicara.
Ia sering duduk sendiri di tangga, memperhatikan anak-anak lain bermain.

Jika ditanya kenapa tidak ikut, ia hanya menjawab singkat, “Aku sudah biasa sendiri.”

Kalimat sederhana itu terasa berat, seperti ia sudah berdamai dengan kesepian yang seharusnya tidak ia kenal di usia belia.

Hari-hari di panti itu berjalan sederhana. Bangun pagi, berdoa, belajar, membantu pekerjaan, lalu bermain dengan apa yang ada.

Tak ada mainan mahal, tak ada gadget canggih. Hanya bola usang, tali lompat, dan tawa yang dibuat-buat agar terasa nyata.

Namun di balik semuanya, ada sesuatu yang tak pernah mereka miliki sepenuhnya
pelukan yang mereka rindukan.
Ketika ada tamu datang, mata mereka berbinar. Bukan karena hadiah, bukan karena makanan. Tapi karena perhatian.

Karena ada seseorang yang mau duduk, mendengar, dan memanggil nama mereka dengan penuh kasih. Sesederhana itu. Dan sesulit itu bagi mereka untuk miliki setiap hari.

Saat sore tiba dan tamu mulai pulang, mereka melambaikan tangan dengan senyum terbaik yang mereka punya.

Tapi begitu gerbang tertutup, senyum itu perlahan memudar.

Ada hening yang kembali menyelimuti. Ada rasa kehilangan kecil yang terus berulang.
Malam pun datang.
Lampu dipadamkan satu per satu.

Di dalam kamar yang sederhana, anak-anak itu berbaring, memeluk bantal mereka seolah itu adalah seseorang yang pernah mereka miliki.
Dan di tengah sunyi itu, ada doa-doa kecil yang terucap pelan:

“Tuhan, besok kirim lagi ya orang yang sayang sama kami…”

Air mata mungkin tak selalu terlihat. Tapi di Panti Asuhan Santo Yusup, setiap sudutnya menyimpan cerita yang diam-diam menangis.
Dan mungkin… yang mereka butuhkan bukanlah segalanya.

Hanya satu hal sederhana
Untuk tidak merasa sendiri lagi.

Aku dan DIA
Yang merawat ku
Sebagai anak anak Allah

Rekening KRIS
BCA
6383648888
Atas nama
Perkumpulan KRIS

www.kris.or.id I www.adharta.com

Call Center
08119620888