Di Antara Sampah,Aku Menemukan Harapan

Di Antara Sampah,
Aku Menemukan Harapan

Cerpen 0055

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Komunitas
Relawan
Indonesia
Sehat

Sindanglaya
Sabtu
21 Pebruari 2026

Cintaku
Aku berdiri terpaku di tempat penimbunan sampah di Jalan Raya Sindanglaya, Cipanas.

Bau agak menyengat menusuk hidung, tapi yang lebih menusuk adalah kenangan hidup ku masa lalu.
Tumpukan sampah ini bukan sekadar limbah
ia adalah saksi hidup masa kecilku.

Tanpa sadar, air mataku menetes, satu per satu, jatuh ke tanah yang dulu pernah menjadi alas hidupku.

Tiga puluh tahun lalu, di tempat inilah aku belajar tentang lapar, dingin, dan bertahan hidup.

Namaku belum ada saat itu. Aku hanya seorang anak kecil berusia lima tahun yang tidak tahu siapa orang tuaku, tidak tahu dari mana aku berasal.

Aku hanya tahu: aku sudah ada di dunia ini, dan dunia ini terasa sangat kejam.
Aku tidak sendiri.

Ada tiga temanku: Didi, Andi, dan Surya.
Mereka ini juga tidak ada keluarga

Kami berempat, anak-anak jalanan yang setiap hari mengais sampah, mencari sisa makanan untuk sekadar mengisi perut agar tidak melilit perih.

Kadang nasi basi, kadang tulang, kadang hanya remah-remah yang tak layak disebut makanan.

Tapi bagi kami, itu adalah kehidupan.
Malam hari adalah musuh terbesar.

Kami tidur di bawah jembatan, berselimutkan karton yang basah dan sobek.

Angin malam menusuk tulang, membuat tubuh kecil kami menggigil tanpa henti.

Tidak ada pelukan ibu, tidak ada suara ayah yang menenangkan.

Yang ada hanya suara kendaraan dan rasa takut akan hari esok.

Aku sering bertanya dalam hati, meski belum mengerti arti hidup sepenuhnya:

Mengapa aku dilahirkan? Mengapa aku ada, tapi sendirian?

Aku tumbuh tanpa tahu siapa orang tuaku. Hingga dewasa, aku mencoba mencari mereka
bertanya, berharap, menelusuri jejak yang bahkan tidak aku miliki. Tapi jawabannya selalu sama: tidak ada.

Suatu hari hujan turun sangat deras. Kami tidak bisa mengais sampah.
Tukang sampah pun tidak datang. Perut kami kosong sejak pagi. Dalam keputusasaan, kami melihat sebuah pohon pepaya tak jauh dari sana. Buahnya masih mentah, pahit, tapi kami memakannya juga. Setidaknya, itu bisa menahan rasa sakit di perut kecil kami.
Saat aku sedang berdiri di bawah pohon itu, tiba-tiba sebuah tangan menepuk punggungku. Aku terkejut. Seorang bapak berdiri di belakangku. Wajahnya tenang, suaranya lembut.
Bapak itu mengajakku ke rumahnya.
Di rumah itu, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku makan nasi hangat dan daging.

Aku diberi baju. Aku diperlakukan seperti anak manusia.
Tapi aku tidak tahu siapa dia. Tidak tahu namanya.
Tidak tahu mengapa ia begitu baik.
Setelah makan, aku kembali ke bawah jembatan dan menceritakan semuanya kepada Didi, Andi, dan Surya.

Keesokan harinya, kami berempat mencari rumah bapak itu.
Kami menemukannyarumah kecil, sederhana. Tapi kosong.

Tidak ada siapa-siapa.
Hari demi hari berlalu.
Bapak itu tidak pernah kembali.
Dengan rasa takut, kami memutuskan tinggal di rumah kosong itu.
Kami masih anak-anak. Malam terasa panjang.

Aku hanya bisa menangis, bertanya dalam diam mengapa kebaikan datang lalu pergi begitu saja.
Namun hidup harus berjalan. Kami kembali mengais sampah, mengemis, bertahan sekuat yang kami bisa.
Hingga suatu hari,
hidup kami berubah.

Kami bertemu seorang pastor. Tatapannya penuh kasih, bukan iba.
Pastor itu mengajak kami ke sebuah panti asuhan
yang kini dikenal sebagai Panti Asuhan Santo Yusup.

Di sanalah aku mendapatkan sesuatu yang belum pernah aku miliki: rumah.

Kami diberi tempat tinggal, makanan yang layak, dan yang terpenting
pendidikan.

Aku masuk taman kanak-kanak, punya taman bermain, punya seragam sekolah.

Aku belajar tertawa tanpa rasa takut. Aku belajar bahwa hidup bukan hanya tentang bertahan, tapi juga tentang bermimpi.

Di sanalah aku diberi nama: Boy.
Nama yang diberikan oleh pastor, dan sejak saat itu aku tahu
aku diakui sebagai manusia.
Tiga puluh tahun berlalu.
Kini aku kembali berdiri di samping tumpukan sampah di Sindanglaya Cipanas.

Tapi aku bukan lagi anak kecil yang kelaparan. Aku adalah seorang suami, ayah, dan manusia yang bersyukur.

Aku menikah dengan seorang perempuan bernama Tina. Kami dikaruniai dua anak:

Rudy, anak laki-lakiku, dan Susan, putri kecilku.
Saat mereka memelukku, aku sering terdiam.

Pelukan ini dulu tidak pernah aku punya
dan kini, Tuhan memberikannya berlipat ganda.

Air mata masih mengalir, tapi kini bercampur senyum.

Jika bukan karena tangan-tangan yang peduli, jika bukan karena sebuah panti asuhan yang membuka pintu bagi anak-anak terlantar, aku mungkin tidak akan berdiri di sini hari ini.

Masih banyak anak di luar sana yang tidur di bawah jembatan.
Masih banyak yang mengais sampah untuk hidup.

Mereka bukan anak yang salah lahir.
Mereka hanya belum bertemu kesempatan.

Mari kita menjadi kesempatan itu.
Membantu panti asuhan bukan sekadar memberi makan
tetapi memberi masa depan. Karena dari tempat yang paling gelap sekalipun, harapan bisa tumbuh…
jika ada yang mau menyalakan cahaya.

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Lelaki Tanpa Batas Waktu(ELTEBEWE)

Lelaki Tanpa Batas Waktu
(ELTEBEWE)

Drama musikal yang patut anda tonton dan saksikan
Kreasi anak muda di bawah Sutradara
Maha karya

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Studi tentang Pendidikan Keluarga dan Keteguhan hati Seorang Ayah

Awal dari Cinta

Keluarga adalah sekolah pertama bagi setiap manusia.

Di sanalah nilai, karakter, dan arah hidup ditanamkan jauh sebelum pendidikan formal dimulai.

Namun tidak semua keluarga tumbuh dalam kondisi ideal.

Ada keluarga yang harus berjalan dalam keterbatasan, kehilangan salah satu peran, dan dipaksa untuk bertahan dengan kekuatan yang tersisa.

Kisah Pak Dewo,
seorang ayah single parent dalam drama musikal
“Lelaki Tanpa Batas Waktu”, adalah potret nyata dari perjuangan itu.

Pak Dewo bukan tokoh sempurna.
Ia bukan orang kaya, bukan pula sosok berpengaruh.

Ia hanyalah seorang ayah biasa yang memilih untuk tidak menyerah pada keadaan. Melalui kerja keras tanpa mengenal batas waktu,
ia membuktikan bahwa pendidikan keluarga tidak selalu lahir dari kelimpahan materi, tetapi dari keteladanan, pengorbanan, dan cinta yang konsisten.

Kisah Pak Dewo: Ayah, Pekerja, dan Pendidik Kehidupan
Sebagai ayah tunggal,
Pak Dewo memikul peran ganda.
Ia adalah pencari nafkah sekaligus pendamping emosional bagi anak-anaknya.

Pagi hari ia berangkat sebelum matahari terbit. Malam hari, ketika kebanyakan orang telah beristirahat, ia masih bekerja demi tambahan penghasilan. Lelah dan lapar menjadi bagian dari keseharian, tetapi menyerah bukan pilihan.

Bagi Pak Dewo, pendidikan anak bukan sekadar soal biaya sekolah.

Pendidikan adalah jalan keluar dari lingkaran keterbatasan.

Ia sadar bahwa ia mungkin tidak mampu mewariskan harta, tetapi ia bisa mewariskan masa depan.
Ia bekerja bukan demi dirinya sendiri, melainkan demi harapan anak-anaknya.

Julukan “Lelaki Tanpa Batas Waktu” lahir dari dedikasinya.
Ia mengorbankan waktu, tenaga, bahkan kepentingan pribadinya, agar anak-anaknya tidak kehilangan kesempatan untuk bermimpi dan meraih kehidupan yang lebih baik.

Pendidikan Keluarga: Sekolah Pertama yang Paling Menentukan
Pendidikan keluarga adalah fondasi utama pembentukan karakter anak. Dalam keluarga Pak Dewo, pendidikan tidak selalu hadir dalam bentuk nasihat panjang atau teori moral. Pendidikan justru hadir melalui contoh hidup.

Anak-anak melihat ayah mereka bangun lebih awal, bekerja lebih keras, dan pulang dalam keadaan letih namun tetap bertanggung jawab.

Dari situ mereka belajar tentang ketekunan, kejujuran, dan arti pengorbanan.

Pak Dewo mengajarkan bahwa hidup tidak selalu mudah, tetapi selalu layak diperjuangkan.
Di tengah keterbatasan waktu bersama, Pak Dewo memastikan kehadirannya bermakna.

Ia menanyakan kabar sekolah, mendengarkan cerita anak-anaknya, dan menegaskan bahwa pendidikan adalah jalan utama untuk mengubah nasib. Walau tidak selalu hadir secara fisik, nilai-nilai hidup yang ia tanamkan terus hidup dalam diri anak-anaknya.

Peran Ayah sebagai Single Parent: Tantangan dan Tanggung Jawab
Menjadi ayah single parent bukanlah peran yang ringan. Ada tekanan ekonomi, kesepian emosional, dan tuntutan sosial yang harus dihadapi sendirian.

Dari kisah Pak Dewo, terdapat beberapa pelajaran penting dan saran konkret bagi para ayah single parent:
Menempatkan Anak sebagai

Prioritas Hidup
Segala keputusan hidup perlu berpihak pada kepentingan terbaik anak: pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan batin mereka.
Memberi Keteladanan Nyata
Anak-anak belajar dari sikap orang tua. Kerja keras, tanggung jawab, dan kejujuran yang ditunjukkan ayah akan membentuk karakter anak lebih kuat daripada kata-kata.
Membangun Kedekatan Emosional
Ayah perlu hadir sebagai tempat aman bagi anak-anak untuk berbagi cerita, ketakutan, dan harapan mereka.
Mengelola Waktu dengan Kesadaran
Waktu yang singkat namun penuh perhatian jauh lebih bermakna dibandingkan kebersamaan tanpa kehadiran hati.
Menerima dan Mencari Dukungan

Ayah single parent tidak harus berjalan sendiri. Dukungan keluarga besar, komunitas, dan lingkungan sosial sangat membantu.
Menanamkan Harapan dan Tujuan Hidup
Anak-anak perlu diyakinkan bahwa masa depan mereka tidak ditentukan oleh keterbatasan hari ini.
Studi tentang Keluarga: Pendidikan sebagai Warisan Terbesar
Dari sudut pandang studi keluarga, kisah Pak Dewo menegaskan bahwa pendidikan adalah warisan paling berharga. Bukan harta, bukan jabatan, melainkan nilai hidup yang ditanamkan secara konsisten.

Keluarga Pak Dewo membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi tidak harus menjadi penghalang keberhasilan. Dengan disiplin, kerja keras, dan kasih tanpa syarat, anak-anak tumbuh dengan motivasi yang kuat.

Ketika akhirnya mereka berdiri di panggung wisuda, keberhasilan itu adalah buah dari pengorbanan seorang ayah yang bekerja tanpa batas waktu.
Dalam keluarga single parent, peran orang tua menjadi jauh lebih berat, tetapi juga jauh lebih bermakna. Setiap pengorbanan memiliki dampak langsung pada masa depan anak-anak.

Sebuah Cinta mengakhiri segalanya
Pak Dewo adalah gambaran banyak ayah di dunia nyata: bekerja dalam diam, berjuang tanpa sorotan, dan mencintai tanpa syarat. Ia mungkin tidak meninggalkan kekayaan, tetapi ia meninggalkan nilai kehidupan yang akan terus hidup dalam diri anak-anaknya.

“Lelaki Tanpa Batas Waktu”
bukan sekadar kisah panggung. Ia adalah cermin tentang arti pendidikan keluarga, keteguhan seorang ayah, dan kasih yang diwujudkan melalui pengorbanan nyata.

Keberhasilan sejati bukan diukur dari apa yang dimiliki orang tua, tetapi dari siapa anak-anak itu kelak menjadi
berpendidikan, berkarakter, dan membawa terang bagi sesama
karena ada seorang ayah bernama Pak Dewo, yang rela bekerja tanpa batas waktu.

Kesempatan luar biasa
Buat Anda dan Keluarga
Saya Undang untuk hadir di Ciputra Artpreneur

Minggu
22 Pebruari 2026
Jam 18.00

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Makna Puasa Ramadhan dalam Kehidupan Keluarga

Makna Puasa Ramadhan dalam Kehidupan Keluarga

Cerpen no 0054

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Jakarta
18 Pebruari 2026

Saya punya seorang Paman
Namanya Mardjuki Arkiang (almarhum)
Beliau seorang Muslim yang sangat taat sekali
Bibi saya asli orang Bali beragama Hindu taat

Mereka tinggal di Ambon di Hative kecil kompleka Agraria

Suatu saat saya mengenangnya
Saya bertugas di Ambon sekitar tahun 80an
Disana saya mendapat sakit cukup parah sehingga ponda menginap di rumah Paman saya
Selama satu minggu tinggal disana bertepatan bulan puasa

Hubungan keluarga
Saya dekat dengan Paman dan Bibi saya
Selama saya sakit Bibi selalu menyiapkan makanan buat saya
Tetapi kita juga sahur dan buka betsama menemani paman saya
Sungguh sebuah tingkat toleransi yang luar biasa
Kenangan ini selalu ku ingat

Saya memiliki sahabat yang saya anggap keluarga atau ayah dan Ibu
Di Jakarta

Bapak Rustam Efendy (Almarhum) seorang muslim yang taat beliau ketua Masyarakat Dayak dan pendiri HITACHi di Indonesia dan Ibu atau Mami Irene (alamarhum) seorang Kristen yang sangat taat
Hubungan kami sudah seperti ayah ibu dan anak
Ada kisah suatu hari Bapak Rustam Efendy dan Ibu Irene ke tanah suci naik haji bersama
Juga kunjungan ke Vatikan bersama

Tidak ada saling memaksakan pindah agama
Tetapi saling mencinta

Suatu sore bapak Ruatam telepon saya mau ajak dinner bersama di Pacific Place
Karena saya dan beliau datang kepagian
Maka kita ngopi dulu sambil menilmati singkong Goreng

Lalu saya bertanya kepada beliau
” Papi kan seorang Muslim taat dan Mami juga seorang Kristen taat apakah tidak pernah bertengkar selama lebih 50 tahun kawin “

” Pasti ada pertengkaran
Mana mungkin hidup perkawinan tanpa selisih paham
Tapi Mamimu itu orangnya suka bercanda
Setiap kali bertengkar selalu di bawa canda akhirnya bukan ribut tapi semua jadi tertawa”

Suatu hari Bapak Rustam sakit masuk Rumah sakit di Mount Elisabeth Singapura
Saya dan Istri menjenguk
Dan kita cari kesukaan mereka
Makan bersama
Bapak Rustam Suka makan nasi lemak
Ibu Irene suka Tori (Non halal)
Kita makan tapi wangu Sate Babi kuat sekali
Mami Irene bilang Nasi lemak rasa babi
Kita bercanda
Semua tertawa Riang Gembira

Kini mereka semua sudah istirahat dalam damai Surgawi tetapi
Aku tetap mengenang mereka semua karena menjadi bagian dari suka cita hidupku
Sebuah kisah toleransi yang luar biasa

Kenangan Ramadan selalu menjadi dasar pemikiran bagaimana hidup berdampingan dalam damai dan suka cita

Marhaban yaa Ramadhan. Bulan suci kembali menyapa umat manusia dengan kelembutan dan cahaya yang menenangkan jiwa.

Ramadhan bukan sekadar pergantian waktu dalam kalender Hijriah, melainkan sebuah undangan ilahi untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia, menata hati, dan memperbaiki hubungan
dengan Allah SWT, dengan sesama, dan dengan keluarga.
Puasa di bulan Ramadhan mengajarkan makna pengendalian diri, kejujuran batin, dan kepedulian yang tulus.

Puasa diwajibkan bagi umat Islam sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183).

Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk ketakwaan
kesadaran penuh akan kehadiran Allah dalam setiap langkah kehidupan.

Dalam lingkup keluarga, Ramadhan menjadi madrasah pertama dan utama.
Di rumah sederhana itu, nilai-nilai keimanan dan kemanusiaan dipelajari bukan lewat ceramah panjang, melainkan melalui teladan, kebiasaan, dan kebersamaan. Saat sahur, anggota keluarga bangun lebih awal, saling membangunkan dengan senyum dan kesabaran.

Meja makan mungkin tidak mewah, namun kehangatan doa dan niat yang lurus menjadikannya penuh berkah.

Puasa juga menjadi ruang pertemuan hati. Dalam kesibukan sehari-hari, sering kali keluarga terpisah oleh rutinitas, perbedaan pendapat, bahkan luka yang tak terucap.

Kenangan Paman Dan Bibi Sya
Papi Rustam dan Mami Irene selalu menggiring hati saya jadi damai

Ramadhan mempertemukan kembali mereka dalam suasana yang lebih lembut.

Waktu berbuka puasa menjadi momen sakral: semua duduk bersama, menunggu azan magrib, menahan diri dari keluh kesah, dan memulai dengan doa.

Di sanalah percakapan sederhana berubah menjadi jembatan pengertian.

Tak jarang, Ramadhan menghadirkan proses pengampunan. Kesalahan masa lalu
kata yang menyakitkan, sikap yang melukai
perlahan mencair dalam semangat memohon maaf lahir dan batin.

Orang tua belajar merendahkan hati kepada anak, dan anak belajar menghormati orang tua dengan ketulusan.

Pengampunan bukan tanda kelemahan, melainkan kekuatan jiwa yang telah disentuh cahaya Ramadhan.

Ikatan keluarga pun semakin erat.
Shalat tarawih yang dikerjakan bersama, tadarus Al-Qur’an di ruang tamu, atau sekadar berbagi cerita menjelang tidur menjadi benang-benang halus yang merajut kebersamaan.

Dalam keheningan malam, keluarga belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari kelimpahan materi, melainkan dari kebersamaan yang penuh makna.

Sebuah kisah tentang keluarga sederhana dapat menggambarkan hal ini.

Ayah yang lelah bekerja, ibu yang setia mengurus rumah, dan anak-anak dengan segala keunikan mereka.

Di bulan Ramadhan, mereka sepakat untuk saling menjaga lisan dan perasaan.

Ketika perbedaan muncul, mereka belajar menahan amarah karena puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan ego.

Dari situ tumbuh cinta kasih yang dewasa
cinta yang memahami, bukan menuntut.

Ramadhan juga mengajarkan toleransi, bahkan di dalam keluarga sendiri.

Setiap anggota memiliki kemampuan dan kekuatan yang berbeda. Ada yang kuat berpuasa penuh, ada yang masih belajar.

Ada yang rajin ibadah sunnah, ada yang perlahan memperbaiki diri.

Toleransi berarti saling menguatkan tanpa menghakimi, saling mendoakan tanpa merasa lebih baik.

Inilah nilai luhur yang kelak dibawa keluar rumah, ke tengah masyarakat yang majemuk.

Pada akhirnya, Ramadhan adalah perjalanan spiritual keluarga menuju kebersamaan yang lebih dalam. Ia membentuk pribadi yang lebih sabar, keluarga yang lebih hangat, dan masyarakat yang lebih peduli.

Semoga di bulan penuh berkah ini, kita semua diberi kekuatan untuk menjalankan ibadah dengan sempurna, dipanjangkan umur, dilapangkan rezeki, disehatkan lahir batin, serta dianugerahi kebahagiaan di dunia dan akhirat. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.

Www.kris.ir.id

Www.adharta.com

Sahabat ku Rabu Abu


Awal Perjalanan Pulang ke Hati Tuhan

Cerpen 0053

Oleh : Adharta
Ketua Umum KRIS

Rabu Abu
18 Pebruari 2026

Sahabat ku

Rabu Abu
Awal Perjalanan Pulang ke Hati Tuhan

Rabu Abu adalah sebuah gerbang sunyi.
Ia tidak dibuka dengan terompet atau nyanyian meriah, melainkan dengan debu, doa, dan keheningan batin.

Dalam tradisi Gereja Katolik, Rabu Abu menandai dimulainya Masa Prapaskah
empat puluh hari perjalanan rohani menuju Paskah, menuju kebangkitan, menuju harapan.

Sahabat ku

Riwayat Rabu Abu
Sejak abad-abad awal Kekristenan, abu telah menjadi simbol pertobatan.

Dalam Kitab Suci, abu dipakai oleh manusia yang menyadari keterbatasannya

Ayub duduk di atas abu, Yunus menyerukan pertobatan dengan kain kabung dan abu, dan bangsa Israel menundukkan diri di hadapan Tuhan dengan debu.

Gereja kemudian mengolah simbol ini menjadi ritus liturgis abu dari daun palma Minggu Palma tahun sebelumnya dibakar, lalu dioleskan di dahi umat sebagai tanda iman dan pertobatan.

Kata-kata yang diucapkan imam pada saat pengolesan abu begitu sederhana, namun mengguncang jiwa:
“Ingatlah, engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu.”

Amin

Kalimat ini bukan ancaman, melainkan undangan untuk jujur pada diri sendiri—bahwa hidup ini rapuh, singkat, dan sepenuhnya bergantung pada kasih Allah.
Proses dan Liturgi Rabu Abu
Dalam liturgi Rabu Abu, umat berkumpul dalam suasana hening.
Warna ungu mendominasi altar, melambangkan pertobatan dan penantian.
Tidak ada nyanyian kemuliaan. Tidak ada bunga.

Yang ada hanyalah Sabda Tuhan, doa, dan abu.

Pada hari ini, umat Katolik diwajibkan berpuasa dan berpantang: berpuasa berarti makan kenyang satu kali sehari, dengan dua kali makan ringan

berpantang berarti tidak makan daging. Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi melatih hati untuk berkata “cukup” dan belajar mengendalikan keinginan.

Makna Mendalam Rabu Abu
Rabu Abu adalah cermin.
Ia memaksa kita menatap diri tanpa topeng, tanpa gelar, tanpa pencapaian.

Abu di dahi menghapus jarak antara kaya dan miskin, kuat dan lemah.

Kita Semua sama:
manusia yang sedang pulang.
Ada romantisme yang lembut dalam Rabu Abu
seperti sepasang kekasih yang memilih diam bersama, saling memahami tanpa banyak kata.

Tuhan tidak memarahi manusia pada hari ini.
Tuhan menunggu.
T uhan membuka pintu dan berkata, “Pulanglah.”

Kisah-Kisah Kecil yang Menghidupkan Rabu Abu
Banyak orang mengingat Rabu Abu sebagai hari ketika seorang ayah mengajak anaknya berdiri dalam antrean abu, lalu berbisik,

“Ini tanda kita mau jadi lebih baik.”

Ada juga pasangan suami istri yang saling berjanji

bukan hanya puasa makanan, tetapi puasa marah, puasa ego, puasa kata-kata yang melukai.

Di rumah sakit, di penjara, di desa kecil, abu yang sama dioleskan
mengikat semua manusia dalam satu kisah pertobatan yang sunyi namun indah.

Apa yang Dilakukan Selama Masa Prapaskah

Selama Masa Prapaskah hingga Paskah, Gereja mengajak umat menjalani tiga pilar rohani:

Pertama
Puasa – melatih pengendalian diri.

Kedua
Doa – memperdalam relasi dengan Tuhan.

Ketiga
Sedekah – membuka hati bagi sesama.
Selain itu, umat diajak mengikuti Jalan Salib, membaca Kitab Suci, berdamai dengan sesama, dan menerima Sakramen Tobat.

Bukan untuk menjadi sempurna, tetapi untuk menjadi jujur dan rendah hati.

Sahabat ku
Akhir kata dalam cerita yang penuh kedamaian

Rabu Abu bukan tentang abu di dahi, melainkan tentang hati yang bersedia diubah.

Dari debu kita datang, dan oleh kasih Tuhan, kita diberi harapan untuk bangkit.

Masa Prapaskah adalah perjalanan cinta
perlahan, jujur, dan penuh makna—menuju terang Paskah.

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Mutiara yang Menyatukan Keluarga

Imlek 2577 (8)

Mutiara yang Menyatukan Keluarga

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Komunitas
Relawan
Indonesia
Sehat

Pagi subuh
17 Pebruari 2026

Selamat Tahun Baru Imlek 2577.

Tahun baru selalu datang membawa napas baru.

Bukan hanya kalender yang berganti, tetapi juga hati, niat, dan harapan.

Imlek bagi keluarga kami bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan sebuah mutiara keluarga—kecil, berkilau, namun bernilai sangat dalam.
Menyambut Imlek, kami memulai dengan hal-hal sederhana namun sarat makna
Sepatu baru, baju baru, celana baru, semuanya bernuansa baru.

Bukan semata soal penampilan, tetapi simbol bahwa kami siap melangkah dengan semangat yang diperbarui, meninggalkan yang lama, menyambut yang baru dengan hati bersih dan pikiran jernih.

Malam ini rumah terasa hidup. Kami berkumpul bersama anak, menantu, cucu, besan, keponakan, dan ipar, suasana hangat, ramai, dan penuh tawa.

Tidak bisa hadir anak Dirga dan menantu Intan, bersama tiga cucu tercinta. Freyja, Iris, dan Allegra belum bisa ikut berkumpul karena mereka tinggal jauh di Melbourne, Australia.

Namun jarak tidak pernah benar-benar memisahkan keluarga doa dan kasih selalu menemukan jalannya.

Rumah terasa penuh.
Ada besan, ada keponakan, ada Adik, adik ipar, dan keluarga besar lainnya. Cukup ramai, cukup hangat, cukup membahagiakan.

Kami menikmati makan malam bersama, ada Sop Buntut paling enak afa Hiwan ikan, udang gandum, kaki babi, babi p anggang, brokoli tidak lupa aLomi dan beberapa macam. Makanan lainnya

Kami saling bertukar cerita, senyum, dan kenangan.
Inilah kekayaan yang sesungguhnya.
Makna
“Tutup Meja” dalam Imlek
Istilah “Tutup Meja” sangat populer dalam menyambut Tahun Baru Imlek.
Bagi kami, maknanya jauh lebih dalam daripada sekadar selesai makan.

Tutup Meja adalah simbol:
Menutup lembaran lama dengan rasa syukur
Mengakhiri tahun dengan kebersamaan, bukan kesendirian
Mengunci pintu kesedihan, membuka pintu harapan
Saat meja ditutup, bukan berarti kebersamaan berakhir, tetapi justru menegaskan bahwa keluarga telah dipersatukan dalam satu meja, satu doa, satu harapan. Meja makan menjadi altar kecil tempat cinta, maaf, dan harapan saling bertemu.

Harapannya sederhana namun mulia
semoga di tahun baru, tidak ada yang tertinggal sendirian, tidak ada yang berjalan tanpa dukungan, dan tidak ada yang kehilangan arah.

Doa Imlek Keluarga
(Termasuk Doa buat para sahabat semua)

Tuhan yang Maha Pengasih, dan penyayang
karena kasih setia-Mu,
malam ini Engkau mengumpulkan kami, keluarga dan para sahabat disini, dalam keadaan sehat walafiat.

Kami bersyukur atas makanan yang tersedia, atas tawa yang tercipta, dan atas cinta yang Engkau tanamkan di antara kami.

Berkatilah makanan ini agar menjadi kekuatan bagi tubuh kami,
berkatilah kebersamaan ini agar menjadi perekat kesatuan dan persatuan,
dan berkatilah keluarga dan para sahabat kami agar selalu dipenuhi kasih, pengertian, dan pengampunan.

Jadikan rumah ini tempat damai,
hati kami tempat cinta,
dan hidup kami saling menguatkan.
Amin.

Angpao
Simbol Kasih dan Doa
Malam ini cucu-cucu menerima angpao, simbol berbagi rezeki dan harapan. Angpao bukan soal jumlah, melainkan doa yang dibungkus merah, warna keberanian, kehidupan, dan keberuntungan.

Biasanya ada suster-suster dan acara khusus, namun tahun ini persiapan tidak sempat dilakukan.

Beberapa tamu hadir
Sayabat Bobby, Dwi, Freddy, Fandy, Leny, dan beberapa kawan lainnya.

Tidak lengkap secara acara, tetapi lengkap secara rasa.
Karena Imlek sejatinya bukan panggung, melainkan perjumpaan hati.

Imlek sebagai Pendidikan Moral dan Kepribadian
Imlek mengajarkan banyak hal:
Hormat kepada orang tua dan leluhur

Imlek mengajarkan dan memacu kita untuk
Kerja keras tanpa melupakan nilai
Kesuksesan yang lahir dari ketekunan, bukan keserakahan

Imlek juga memberi dorongan kerja keras, semangat baru, dan optimisme
sering dikaitkan dengan shio. Namun bagi kami, shio hanyalah pengingat, bukan penentu.

Penentu sejati adalah niat baik, usaha jujur, dan doa yang tulus.
Tahun baru adalah undangan untuk:
Memperbaiki sikap
Menguatkan karakter
Menjadi pribadi yang lebih sabar, rendah hati, dan peduli

Kesembuhan dan Pemulihan

Imlek adalah waktu memohon kesembuhan atas sakit penyakit, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi di dalam hati.
Luka lama, rasa kecewa, kesalahpahaman
semuanya layak disembuhkan.
Kami percaya, kesembuhan dimulai dari keluarga yang saling menopang.
Penyatuan Ikatan dan Komunikasi Lintas Kehidupan
Imlek menyatukan ikatan keluarga, saling bahu-membahu membangun keluarga besar.

Bukan hanya yang hadir secara fisik, tetapi juga:
Mereka yang jauh
Mereka yang telah lebih dulu berpulang
Kami membangun komunikasi lintas kehidupan
menghormati yang telah meninggal, meneruskan nilai-nilai mereka, dan menjaga nama baik keluarga sebagai warisan.
Harapan di Tahun 2026

Memasuki tahun 2026, harapan kami sederhana namun dalam:
Semoga keluarga kami selalu diberi kesehatan
Semoga anak-cucu bertumbuh dalam hikmat dan kasih
Semoga pekerjaan diberkati dan membawa manfaat dan rejeki
Semoga rumah ini selalu menjadi tempat pulang
Karena pada akhirnya, Imlek bukan tentang kembang api,
melainkan tentang keluarga yang tetap berkumpul meski waktu terus berjalan.
Imlek adalah mutiara keluarga.

Dan malam ini, mutiara itu bersinar terang.
Semoga semua baik adanya.

Tamat

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

“Saat Kita Berpisah, Aku Tahu”

“Saat Kita Berpisah, Aku Tahu”

Oleh : Vincent
Ketua KRIS

Komunitas
Relawan
Indonesia
Sehat

Awal imlek 2577

Cintaku
Vincent baru menyadari satu hal paling penting dalam hidupnya justru setelah ia berpisah.

Hari itu, hujan turun tipis di pelabuhan kecil yang ramai oleh suara koper diseret dan pengumuman keberangkatan.

Vincent berdiri kaku, memegang tiket kapal dengan tangan gemetar. Di depannya, Yenny tersenyum
senyum yang berusaha kuat, padahal matanya berkaca-kaca.
Mereka hanya bertemu sebentar.

Terlalu sebentar untuk sesuatu yang terasa begitu dalam.
Yenny memberinya sekotak buah dan sebotol minuman murah
oleh-oleh sederhana yang ia persiapkan dengan canggung. Bahasa mereka berbeda.

Dunia mereka pun berbeda. Tapi entah bagaimana, selama beberapa hari terakhir, Vincent merasa lebih dimengerti oleh Yenny dibanding siapa pun yang pernah ia kenal.

Mereka berbicara dengan campuran kata, tawa, dan bahasa yang tak tertulis.
Tatapan.
Keheningan.
Cara Yenny mendengarkan.
Saat peluit kapal dibunyikan, Vincent melangkah naik. Ia menoleh sekali lagi. Yenny melambaikan tangan, berusaha tersenyum, meski air mata akhirnya jatuh juga.

Dan saat itulah Vincent tahu.
Bukan saat mereka tertawa bersama.
Bukan saat duduk berdua memandang laut.
Tetapi saat mereka berpisah—ketika jarak mulai tercipta, dan dadanya terasa kosong dengan cara yang tak bisa dijelaskan.

Yenny adalah satu-satunya.
Waktu bergerak kejam setelah itu.
Vincent kembali ke negaranya, kembali ke rutinitas, ke hidup yang “normal”. Tapi malam-malamnya tidak pernah sama.

Ia menulis surat untuk Yenny
berlembar-lembar, dengan kata yang dipilih hati-hati. Beberapa surat tak pernah dibalas. Beberapa mungkin tak pernah sampai.
Ia sempat menelepon dua kali. Suara Yenny di seberang sana membuat dadanya sesak dan hangat sekaligus. Setelah itu, tak ada lagi.

Dunia seperti sengaja menguji keteguhannya.
Orang-orang bilang, “Lupakan saja. Itu cuma pertemuan singkat.”

Tapi Vincent tahu—cinta sejati tidak diukur dari lamanya waktu, melainkan dari dalamnya luka ketika kehilangan.

Tahun demi tahun berlalu. Vincent menjalani hidup, bekerja, tertawa, bahkan sesekali berkencan.
Tapi setiap senyuman terasa setengah. Setiap kebahagiaan terasa sementara.
Hingga suatu hari, sebuah kabar datang seperti cahaya di lorong gelap.

“Vincent,” kata seorang teman lama, “Yenny sekarang ada di kota ini.”
Dunia berhenti berputar.

Pertemuan itu terjadi di sebuah lobi hotel tua. Vincent menunggu dengan napas tertahan.

Dan ketika pintu terbuka, Yenny masuk.
Ia sedikit berubah. Lebih dewasa. Lebih tenang.
Tapi matanya
mata itu—masih sama.
Tak ada kata yang cukup. Tak ada kalimat yang perlu disusun rapi. Vincent hanya melangkah mendekat, menggenggam tangan Yenny, dan berkata dengan suara bergetar:
“Aku tahu ini gila… tapi aku tahu sejak hari kita berpisah. Aku ingin menjalani hidup bersamamu.”

Yenny menangis. Air matanya jatuh pelan, seolah melepaskan tahun-tahun yang terpendam. Ia mengangguk, lalu berbisik:
“Aku juga menunggu.”

Cinta mereka tidak sempurna. Banyak tantangan menunggu. Perbedaan budaya, jarak, dan masa lalu yang belum sepenuhnya sembuh.
Namun Vincent tak lagi ragu.
Karena ia telah belajar satu hal paling penting dalam hidupnya:
Kadang, kita baru tahu siapa cinta sejati kita… tepat saat kita kehilangan mereka.

Dan ketika kesempatan kedua datang,
ia tidak akan melepaskannya lagi.

Kiriman Bapak Vincent S Johan
Untuk Sahabat KRIS

Membangun Bangsa dan Negara Indomesia

Imlek (07)

Membangun Bangsa dan Negara Indomesia

Oleh : Adharta
Ke[ua Umum
KRIS

Komunitas
Relawan
Infonesia
Sehat

Jakarta
16 Pebruati 2026

Imlek Harmoni Nusantara.
Motto Imlek. 2577

Imlek Harmoni Nusantara: Simbol Persatuan, Diplomasi Budaya, dan Daya Ungkit Bangsa
Indonesia dikenal dunia sebagai bangsa yang majemuk
beragam suku, agama, budaya, dan tradisi hidup berdampingan dalam satu kesatuan.

Dalam konteks inilah gagasan Imlek Harmoni Nusantara menjadi sangat relevan dan strategis.

Unggahan ibu Irene Umar di media sosial yang menampilkan keindahan Indonesia sebagai destinasi dunia, serta dukungan dan tanggapan positif dari ibu Ni Luh Puspa, mencerminkan kesadaran pemerintah akan pentingnya perayaan budaya sebagai kekuatan bangsa.
Imlek tidak lagi dipahami semata sebagai perayaan komunitas Tionghoa, melainkan telah bertransformasi menjadi bagian dari mozaik budaya Indonesia.

Ketika Imlek dirayakan dalam bingkai Harmoni Nusantara, IMLEK menjadi simbol inklusivitas dan persatuan nasional.

Perpaduan barongsai dengan musik daerah, ornamen Imlek berdampingan dengan batik dan tenun, serta kuliner Tionghoa yang disajikan bersama makanan khas Nusantara adalah bukti bahwa Indonesia mampu merawat perbedaan sebagai kekayaan, bukan sekat.

Dari sudut pandang strategis, perayaan Imlek Harmoni Nusantara memberikan manfaat nyata bagi bangsa dan negara.

Pertama, sebagai alat diplomasi budaya. Wisatawan mancanegara tidak hanya datang untuk menikmati alam Indonesia, tetapi juga untuk menyaksikan bagaimana keberagaman dirayakan secara damai.

Ini membangun citra Indonesia sebagai negara toleran, aman, dan ramah bagi dunia internasional.

Kedua, Imlek Harmoni Nusantara menjadi pengungkit sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Festival budaya, pertunjukan seni, pameran UMKM, hingga kuliner khas lintas etnis membuka ruang perputaran ekonomi rakyat.

Pelaku usaha lokal, seniman, dan komunitas budaya memperoleh manfaat langsung.

Dalam jangka panjang, ini mendukung penciptaan lapangan kerja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Ketiga, perayaan ini berperan penting dalam penguatan identitas nasional, terutama bagi generasi muda. Imlek yang dikemas secara Nusantara mengajarkan bahwa menjadi Indonesia tidak berarti menyeragamkan, tetapi menyatukan perbedaan dalam nilai bersama:

Gotong royong, saling menghormati, dan kebanggaan sebagai satu bangsa.

Sebagai saran, Imlek Harmoni Nusantara perlu dijadikan agenda budaya nasional tahunan dengan dukungan lintas kementerian dan pemerintah daerah.

Kurasi acara harus melibatkan komunitas budaya, akademisi, dan pelaku kreatif agar pesan harmoni tersampaikan secara otentik, bukan sekadar seremonial.

Selain itu, promosi digital perlu diperkuat melalui narasi visual dan cerita budaya yang mudah diakses pasar global.

Tindak lanjut yang penting adalah integrasi perayaan ini ke dalam kalender pariwisata internasional Indonesia, pengembangan paket wisata tematik Imlek Nusantara, serta kolaborasi dengan diaspora Indonesia di luar negeri.

Dengan demikian, Imlek Harmoni Nusantara tidak hanya menjadi perayaan, tetapi juga instrumen kebijakan budaya yang berkontribusi langsung bagi pembangunan nasional.

Pada akhirnya, Imlek Harmoni Nusantara adalah wujud nyata semboyan Bhinneka Tunggal Ika dalam praktik.
Imlek membuktikan bahwa harmoni bukan slogan, melainkan kekuatan strategis Indonesia untuk melangkah percaya diri di panggung dunia.

Bersambung……

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Valentine day

Cerpen 0052

Oleh : Adharta
Ketua Umun
KRIS

Komunitas
Relawan
Indonesia
Sehat

Jakarta
Sabtu 14 Pebruari 2026

CINTA itu Ajaib

Ada dua orang sahabat di sebuah kamar rumah sakit
Yang seorang buta dan yang seorang lagi Sakit Jantung parah

Setiap hari Pasien Yang sakit Jantung bercerita kepada sahabat sekamarnya tentang keindahan dunia melalui sebuah jendela kamar kepada Pasien yang Buta

Saat ajal menjemput tiba Pasien Jantung bersedia menyumbangkan kornea matanya kepada Pasien Buta

Pasien Buta di operasi transplantasi mata dan dia bisa melihat

Pertama kali melihat dia minta perawat agar di bawa ke kamarnya karena dia mau melihat dan menikmati keindahan alam yang di ceritakan oleh Pasien Jantung saat masih hidup

Ternyata setelah melihat kamar mereka itu gelap dan tidak ada jendela sama sekali

Pasien yang mantan Buta itu air matanya jatuh dan disana dia mengerti Apa itu arti Cinta

Hari ini kita memperingati hari Kasih Sayang
Untuk memperingati wafatnya Santo Valentinus

Mungkin saya mengutip sedikit kisahnya buat kita renungkan
Apa arti Cinta
Seperti yang dialami Pasien Buta tadi

Surat Cinta Terakhir dari Penjara Batu

Malam itu Roma terasa lebih dingin dari biasanya.
Di balik dinding penjara batu yang lembap, Santo Valentinus duduk bersandar, menatap cahaya obor yang menari di dinding.

Besok pagi, hidupnya akan berakhir. Ia tahu itu.
Namun anehnya, hatinya tenang
seolah cinta telah menyiapkan pelukan terakhirnya.

Valentinus bukanlah prajurit, bukan pula bangsawan. Ia hanya seorang imam kecil yang percaya bahwa cinta adalah doa paling jujur yang bisa dipanjatkan manusia.

Ketika Kaisar Claudius II melarang pernikahan demi ambisi perang, Valentinus justru membuka pintu rumahnya setiap malam.

Di sanalah, dengan suara lirih dan lilin kecil, ia menikahkan pasangan-pasangan muda yang saling mencintai.

“Apa kau tidak takut, Romo?” tanya Lucia suatu malam, seorang gadis yang akan menikah dengan Marcus, prajurit muda yang esoknya harus berangkat ke medan perang.
Valentinus tersenyum lembut.

“Cinta yang diberkati tak pernah sia-sia, Nak.
Bahkan jika dunia runtuh sekalipun.”

Ketika akhirnya ia ditangkap, tak ada penyesalan di wajahnya. Hanya doa.
Di penjara, Valentinus bertemu Julia, putri sipir penjara.

Gadis itu buta sejak kecil. Setiap sore, Julia duduk di luar jeruji, mendengarkan Valentinus bercerita
tentang bunga yang mekar di musim semi, tentang warna langit senja, tentang wajah manusia yang bersinar ketika mencintai.

“Aku tak pernah melihat dunia,” kata Julia dengan suara bergetar.

“Tapi kau merasakannya,” jawab Valentinus.
“Dan cinta membuat dunia itu nyata.”

Hari demi hari berlalu. Valentinus berdoa untuk Julia, bukan dengan kata-kata panjang, melainkan dengan ketulusan.
Suatu pagi, Julia menjerit kecil. Cahaya masuk ke matanya
perlahan, rapuh, namun nyata. Untuk pertama kalinya, ia melihat wajah Valentinus: lelah, penuh luka, tetapi bercahaya oleh kasih.

Tangis Julia pecah.

“Romo… dunia ini indah.”

Valentinus tersenyum. Itu sudah cukup baginya.

Malam sebelum eksekusi, Valentinus meminta selembar kertas. Tangannya gemetar, bukan karena takut mati, tetapi karena cinta yang ingin ia titipkan.

Julia yang terkasih,
Jangan takut mencintai.
Dunia bisa kejam, tetapi cinta selalu menemukan jalannya.

Jika suatu hari engkau meragukan kebaikan, ingatlah bahwa ada seseorang yang mati demi mempercayainya.

Dari Valentinemu.

Pagi 14 Februari 269 M, ketika pedang diangkat, tak ada jeritan. Hanya angin yang berhembus lembut, seolah membawa doa-doa cinta yang pernah ia satukan.

Dan sejak hari itu, dunia mengenang namanya
bukan sebagai martir kematian, melainkan saksi cinta yang tak pernah mati.

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Kita sambut Imlek 2577 – Tahun 2026, yang berada di bawah naungan ✨Shio Kuda Api✨

Imlek (06)

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Jakarta
14 Pebruari. 2026

Kita sambut Imlek 2577 – Tahun 2026, yang berada di bawah naungan ✨Shio Kuda Api✨

Kalau kita bicara imlek maka mau tidak mau atau suka tidak suka kita akan bercerita tentang yang namanya SHIO

Tahun Kuda Api
tahun yang identik dengan keberanian, kecepatan, perubahan besar, dan semangat membara.

Di bawah ini saya rangkai ramalan Shio dari Tikus sampai Babi
Buat hiburan kita sua
(Jangan percaya)
🌕🧧

🐭 Shio Tikus
Tema tahun: Strategi & peluang tersembunyi
Tahun Kuda Api menuntut Tikus untuk lebih berani keluar dari zona nyaman. Kecerdikan Anda tetap menjadi senjata utama, namun jangan terlalu banyak menimbang—tahun ini berpihak pada yang bertindak cepat.
Karier & usaha: Ada peluang baru, tapi datang tiba-tiba. Siap atau tidak, Anda harus melompat.
Keuangan: Stabil, asal tidak spekulatif.
Cinta: Kejujuran membuka pintu yang lama tertutup.
✨ Kunci tahun: Percaya insting, jangan ragu melangkah.

🐮 Shio Kerbau
Tema tahun: Konsistensi diuji
Kerbau yang biasa berjalan pelan dan pasti akan merasa dunia bergerak terlalu cepat. Namun justru di situlah pelajaran Anda: belajar fleksibel tanpa kehilangan prinsip.
Karier: Beban bertambah, tapi pengakuan juga datang.
Keuangan: Aman jika disiplin.
Keluarga: Menjadi sandaran banyak orang.
✨ Kunci tahun: Bertahan dengan bijak, bukan keras kepala.

🐯 Shio Macan
Tema tahun: Kebangkitan & kepemimpinan
Ini tahun yang sangat kuat bagi Macan. Energi Kuda Api sejalan dengan jiwa Anda. Kesempatan memimpin, tampil, dan bersinar terbuka lebar.
Karier: Waktu tepat naik level.
Usaha: Berani ambil risiko terukur.
Asmara: Daya tarik meningkat.
✨ Kunci tahun: Kendalikan ego, perbesar dampak.

🐰 Shio Kelinci
Tema tahun: Menjaga keseimbangan
Di tengah hiruk-pikuk perubahan, Kelinci diminta menjaga ketenangan batin. Jangan terjebak konflik yang bukan milik Anda.
Karier: Kerja di balik layar justru menghasilkan.
Keuangan: Cukup, jangan boros demi gengsi.
Kesehatan: Perlu perhatian ekstra.
✨ Kunci tahun: Tenang bukan berarti tertinggal.

🐲 Shio Naga
Tema tahun: Momentum besar
Api bertemu api. Tahun ini seperti panggung alami bagi Naga. Ide besar, visi jauh, dan keberanian Anda menemukan jalannya.
Karier & bisnis: Lonjakan signifikan.
Relasi: Jaringan semakin luas.
Tantangan: Jangan merasa paling benar.
✨ Kunci tahun: Besar dalam visi, rendah hati dalam sikap.

🐍 Shio Ular
Tema tahun: Strategi jangka panjang
Ular tidak perlu terburu-buru. Saat yang lain berlari, Anda mengamati dan menyiapkan langkah matang.
Karier: Kemenangan datang diam-diam.
Keuangan: Cenderung meningkat stabil.
Cinta: Kedalaman emosional bertambah.
✨ Kunci tahun: Diam yang penuh perhitungan.

🐴 Shio Kuda
Tema tahun: Tahun diri sendiri
Ini tahun Anda. Energi Kuda Api memperbesar segala potensi—dan juga emosi. Jika terkendali, hasilnya luar biasa.
Karier: Lompatan besar mungkin terjadi.
Usaha: Waktu emas memulai hal baru.
Emosi: Jaga kesabaran.
✨ Kunci tahun: Arahkan api, jangan terbakar olehnya.

🐐 Shio Kambing
Tema tahun: Kreativitas & empati
Kambing menemukan jalannya melalui seni, relasi, dan kepedulian. Tahun ini menuntut Anda percaya pada nilai diri sendiri.
Karier: Cocok di bidang kreatif & sosial.
Keuangan: Perlu perencanaan.
Keluarga: Kehangatan menjadi sumber energi.
✨ Kunci tahun: Jangan meremehkan kelembutan.

🐵 Shio Monyet
Tema tahun: Inovasi & kecerdikan
Monyet bersinar lewat ide-ide segar. Tahun ini cepat, dinamis, dan penuh peluang—asal tidak ceroboh.
Karier: Banyak pintu terbuka.
Usaha: Cocok kolaborasi.
Risiko: Terlalu banyak mulai, sedikit selesai.
✨ Kunci tahun: Fokus adalah kekuatan baru Anda.

🐔 Shio Ayam
Tema tahun: Disiplin membawa hasil
Ayam diminta tetap rapi di tengah kekacauan. Tahun ini memberi hasil nyata dari kerja keras masa lalu.
Karier: Pengakuan perlahan tapi pasti.
Keuangan: Membaik.
Relasi: Kurangi mengkritik, perbanyak mendengar.
✨ Kunci tahun: Konsistensi mengalahkan sensasi.

🐶 Shio Anjing
Tema tahun: Integritas & pengabdian
Anjing menjadi penjaga nilai di tahun penuh perubahan. Kejujuran Anda menjadi cahaya bagi sekitar.
Karier: Dipercaya memegang tanggung jawab.
Keuangan: Stabil.
Persahabatan: Semakin bermakna.
✨ Kunci tahun: Setia pada nilai, bukan tekanan.
Shio Anjing di ramalkan paling beruntung di tahun Kuda Api ini karena berada dalam putaran bintang tegak lurus bumi

🐷 Shio Babi
Tema tahun: Penuaian & kebahagiaan sederhana
Babi menuai hasil dari ketulusan. Tahun ini membawa kehangatan, rezeki, dan kesempatan menikmati hidup.
Karier: Aman dan nyaman.
Keuangan: Cukup, bahkan berlebih jika bijak.
Keluarga: Sumber sukacita.
✨ Kunci tahun: Bersyukur membuka pintu rezeki.

ada
🌕 Kisah Menyambut Imlek 2577

Malam Imlek tiba dengan lampion menyala, bukan hanya di jalanan, tapi di hati manusia.

Tahun Kuda Api mengajarkan satu hal penting:
hidup tidak menunggu kesiapan sempurna
hidup menunggu keberanian pertama.
Api bukan untuk ditakuti, tapi diarahkan.
Kuda bukan untuk ditahan, tapi dituntun.

Di ambang tahun baru, kita tidak hanya menutup kalender lama,
kita melepaskan beban, memaafkan diri sendiri, dan menyalakan kembali harapan.

🧧 Imlek 2527 bukan sekadar pergantian tahun,
melainkan undangan untuk berani hidup lebih jujur, lebih cepat bangkit, dan lebih hangat pada tahun baru

Bersambung……..

Www.kria.or.id

Www.adharta.com

Djiong Benci yang Rindu, Rindu yang Benci

Djiong
Benci yang Rindu, Rindu yang Benci

Cerpen 0051

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

14 Pebruari 2026

Selamat Hari Valentine

Dalam kepercayaan orang Tionghoa, ada satu kata yang sulit dijelaskan dengan logika manusia modern
Djiong.

Ia bukan sekadar kebetulan.
Bukan pula hanya pertemuan biasa.

Djiong adalah ikatan
entah cinta, entah benci
yang menyeberang dari satu kehidupan ke kehidupan lain, menunggu waktu untuk bertemu kembali.

Kisah Cinta

Albert tidak pernah percaya hal-hal seperti itu.
Ia mahasiswa Fakultas Ekonomi, rasional, teratur, dan logis.

Namun semua keyakinannya mulai runtuh sejak ia bertemu Rina.

Pertemuan mereka sederhana.
Satu universitas.
Satu fakultas.

Satu kelompok belajar.
Rina adalah perempuan dengan senyum yang mudah hadir, tutur kata lembut, dan mata yang menyimpan kedalaman. Bersamanya, Albert merasa akrab sejak hari pertama, seolah tidak ada jarak, seolah mereka sudah lama saling mengenal.

Hari-hari kampus mereka dipenuhi kebersamaan.
Belajar hingga malam.
Berbagi mimpi tentang masa depan.
Tertawa karena hal-hal kecil.

Diam bersama tanpa rasa canggung.
Albert menyayangi Rina dengan tulus.
Dan Rina mencintai Albert dengan caranya yang tenang.
Namun di balik semua keindahan itu, ada sesuatu yang tidak pernah mereka ceritakan
hingga akhirnya tak bisa lagi disembunyikan.
Setiap malam, Albert bermimpi buruk.

Dalam mimpinya, ia dan Rina bertengkar hebat.
Bukan pertengkaran kecil.
Bukan adu argumen biasa.
Melainkan amarah yang membara, kebencian yang begitu dalam, hingga tangan mereka saling memukul tanpa belas kasih.

Albert selalu terbangun dengan napas tersengal, tubuh basah oleh keringat, dan dada yang sesak.

Ia heran.
Bagaimana mungkin di dunia nyata ia mencintai Rina, tetapi di dunia mimpi ia begitu membencinya?

Dua dunia yang bertolak belakang, bagai langit dan bumi.
Yang lebih mengganggu, mimpi itu datang hampir setiap malam.

Albert mencoba menyembunyikannya.
Ia tidak ingin merusak kebahagiaan mereka.
Namun ia tidak tahu bahwa Rina mengalami hal yang sama.
Setiap malam, Rina juga dihantui mimpi penuh amarah.
Dalam mimpinya, wajah Albert berubah dingin.

Kata-kata yang keluar dari mulutnya tajam seperti pisau. Rina menangis, berteriak, membenci
perasaan yang sama sekali tidak ia rasakan saat terjaga.
Pagi hari, mereka bertemu di kampus, saling tersenyum, seolah malam sebelumnya tidak pernah ada.

Namun mata tidak pernah bisa berbohong.
Ada kelelahan.
Ada ketakutan.
Ada tanya yang menggantung.
Suatu malam, di bawah langit yang redup, Albert akhirnya berkata pelan,

“Rina… akhir-akhir ini aku sering mimpi buruk.”

Rina terdiam lama.
Lalu air matanya jatuh.

“Aku juga,” jawabnya lirih.

Malam itu mereka saling bercerita.
Tentang mimpi.
Tentang amarah.
Tentang rasa benci yang muncul tanpa sebab.
Mereka berpelukan, menangis, bingung, dan takut kehilangan satu sama lain.

Padahal mereka punya cita-cita yang sama.
Setelah lulus sarjana, Albert berencana melamar Rina.

Mereka membayangkan rumah kecil, meja makan sederhana, dan kehidupan yang tenang.
Namun semakin dekat waktu kelulusan, semakin berat beban batin mereka.

Hingga suatu hari, seseorang menyarankan mereka menemui seorang hwesio di klenteng tua di pinggir kota Jakarta.

Dengan hati ragu namun penuh harap, mereka datang.
Hwesio Bante menyambut mereka dengan senyum damai. Setelah mendengarkan cerita panjang mereka, ia menutup mata sejenak, lalu berkata pelan,
“Kalian ini Djiong.”

Albert dan Rina saling berpandangan.

“Djiong adalah ikatan karma,” lanjut hwesio itu. “Bisa jadi di kehidupan lampau, kalian sangat dekat… atau sangat bermusuhan.

Perasaan itu belum selesai, maka ia terbawa hingga kini.”

“Lalu… apakah kami harus berpisah?” tanya Rina dengan suara bergetar.

Hwesio Bante menggeleng.
“Tidak semua Djiong datang untuk diputus. Ada yang datang untuk disembuhkan.”

Albert menggenggam tangan Rina erat.
Mereka berdua berasal dari keluarga Katolik. Mereka berdoa dengan cara yang mereka kenal.

Namun malam itu, mereka belajar satu hal baru bahwa cinta kadang bukan tentang memulai, melainkan menyelesaikan.
Sejak hari itu, mereka tidak lagi melawan mimpi.
Mereka menghadapinya dengan doa, dengan kejujuran, dengan saling memaafkan
bahkan atas kesalahan yang mungkin tidak pernah mereka ingat.

Mimpi itu perlahan memudar.
Tidak langsung hilang, tetapi semakin jarang.
Dan setiap kali terbangun dengan air mata, mereka selalu saling menggenggam tangan, mengingatkan diri bahwa mereka memilih cinta.

Hari kelulusan pun tiba.
Albert berdiri dengan toga, menatap Rina yang tersenyum sambil menahan tangis.

Di tengah keramaian, Albert berlutut.
Bukan dengan janji sempurna.
Melainkan dengan suara gemetar.

“Entah berapa kehidupan kita sudah bertemu… aku hanya ingin, di kehidupan ini, kita saling menyembuhkan.

Rina menangis, lalu mengangguk.
Karena Djiong bukan tentang benci atau rindu.
Ia tentang takdir yang meminta keberanian untuk mencintai, meski pernah terluka.

Dan cinta mereka pun berlanjut
bukan tanpa bayang-bayang masa lalu, tetapi dengan cahaya pengampunan

Www.kris.or.id

Www.adharta.com