ANTARA SUNYI, LUKA, DAN BELAS KASIH

ANTARA SUNYI, LUKA, DAN BELAS KASIH

Cerpen 0049

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Komunitas
Relawan
Indonesia
Sehat

Awal Pebruari
2026

Nama kecilnya Regina.
Di kampung Ngada, Flores, orang banyak memanggilnya Regi.
Ia lahir dari tanah yang sunyi tetapi setia
tanah yang mengajarkan orang untuk sabar menunggu hujan dan bersyukur pada hasil yang sederhana.

Regi tumbuh dalam keluarga biasa, dengan doa yang diucapkan lirih setiap pagi dan senja.
Sejak kecil, ia mengenal Tuhan Yesus Kristus
bukan lewat kata-kata rumit, melainkan lewat ketekunan ibunya dan kejujuran hidup orang-orang kampung.

Namun seperti banyak anak muda lain, hati Regi menyimpan kerinduan akan dunia yang lebih luas.

Ia ingin merantau.
Ia ingin melihat hidup dari dekat, dengan segala kemungkinan dan risikonya. Maka pada suatu pagi, dengan air mata yang ditahan dan doa yang diselipkan di saku baju, Regi meninggalkan Flores menuju Jakarta.

Merantau dan Mimpi

Jakarta menyambutnya dengan cahaya dan bayangan sekaligus.

Kota ini menjanjikan harapan, tetapi juga menuntut daya tahan.

Regi bekerja, belajar menyesuaikan diri, dan berusaha berdiri di atas kakinya sendiri.

Ia belajar bahwa hidup tidak selalu seindah rencana, tetapi tetap layak diperjuangkan.
Di tengah kesibukan itulah Regi mengenal cinta.

Cinta manusiawi yang hangat, yang membuat hari-hari terasa lebih ringan. Ia belajar berharap bersama seseorang, berbagi cerita, dan menenun mimpi sederhana.

Cinta itu nyata, tulus, dan pernah membuatnya berpikir bahwa hidupnya akan berjalan seperti kebanyakan orang: bekerja, menikah, membangun keluarga.
Namun hidup memiliki cara sendiri untuk mendidik hati.
Kegagalan dan Kehilangan
Perlahan, apa yang dibangun runtuh satu demi satu.

Pekerjaan yang hilang. Harapan yang tertunda. Hubungan yang tak mampu bertahan menghadapi kerasnya realitas.

Regi mencoba bertahan, tetapi ada titik ketika kekuatan manusia terasa habis.

Malam-malam Jakarta menjadi sunyi yang menyesakkan. Regi menangis bukan karena ia lemah, tetapi karena ia telah berjuang sekuat tenaga.

Ia merasa seperti domba yang berjalan jauh, tetapi kehilangan arah. Ia berdoa, namun doa-doanya terasa hampa.
Ia hadir di gereja, tetapi hatinya kosong.

Dalam kegagalan itulah Regi mulai memahami bahwa hidup bukan hanya tentang berhasil atau tidak berhasil.

Ada sesuatu yang lebih dalam sedang dikerjakan Tuhan di dalam dirinya.
Pertemuan dengan Sabda

Suatu hari, dalam kelelahan yang mendalam, Regi duduk di sebuah kapel kecil.
Tidak ada maksud khusus. Ia hanya ingin diam.

Dalam keheningan itu, Sabda Tuhan menyentuhnya:

“Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasih kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala.”

Regi terdiam lama. Kalimat itu seolah menggambarkan dirinya
dan banyak orang di sekitarnya.
Ia melihat wajah-wajah lelah di jalanan Jakarta,
anak-anak yang kehilangan perhatian, orang-orang yang bekerja tanpa arah, dan dirinya sendiri yang sedang mencari pegangan.

Untuk pertama kalinya, Regi menyadari bahwa Tuhan tidak selalu menjawab doa dengan mengubah keadaan. Kadang Tuhan mengubah hati
menggerakkannya oleh belas kasih.

Belajar Melayani di Tengah Lelah
Regi mulai terlibat dalam pelayanan kecil.

Awalnya sederhana: membantu anak-anak belajar, menemani orang-orang yang kesepian, mendengarkan kisah hidup mereka yang penuh luka.

Ia sering datang dalam keadaan lelah, tetapi pulang dengan hati yang hangat.
Ia teringat renungan yang mengatakan bahwa Yesus mengajak murid-murid-Nya ke tempat sunyi untuk beristirahat, tetapi tidak menutup mata terhadap mereka yang membutuhkan.

Regi belajar bahwa keheningan bukan pelarian, melainkan sumber kekuatan untuk kembali melayani.

Di sinilah ia mulai memahami keseimbangan hidup:
doa yang mendalam dan aksi nyata,
kediaman rohani dan tanggung jawab sosial.
Ia belajar bahwa kekudusan bukan soal menjauh dari dunia, melainkan hadir di tengah dunia dengan hati yang penuh kasih.

Cinta yang Dimurnikan
Cinta masa lalunya tidak hilang begitu saja.

Ada hari-hari ketika kenangan datang tanpa diundang.

Namun Regi tidak lagi melawan.
Ia menyerahkan semuanya dalam doa.
Ia belajar bahwa cinta tidak selalu harus dimiliki untuk menjadi nyata.
Ada cinta yang justru menjadi utuh ketika dilepaskan.
Air mata masih mengalir, tetapi kini berbeda.

Air mata itu bukan lagi tanda keputusasaan, melainkan proses pemurnian.
Regi mulai merasakan damai yang tidak tergantung pada situasi.

Damai yang lahir dari penyerahan.
Panggilan dalam Keheningan
Dalam doa-doa panjang dan sunyi, Regi mendengar panggilan yang pelan tetapi pasti.

Bukan panggilan yang spektakuler, melainkan panggilan untuk menjadi hadir sepenuhnya bagi sesama.
Ia menyadari bahwa kegagalan, luka, dan cinta yang kandas bukan akhir cerita
melainkan jalan yang mempersiapkannya.
Dengan gentar dan rendah hati, Regi memilih jalan hidup membiara.

Ia bukan melarikan diri dari dunia, tetapi justru ingin mengabdi lebih dalam kepada dunia.

Suster Regina:

Hidup yang Diberikan
Kini ia dikenal sebagai Suster Regina.
Namun bagi banyak orang, ia tetap Regi
sosok sederhana yang mau mendengarkan, hadir, dan berjalan bersama.
Setiap hari dimulai dengan doa dalam keheningan.

Ia belajar mencari Allah dalam refleksi yang mendalam, lalu membuka mata dan telinga untuk jeritan mereka yang terlantar.
Ia percaya bahwa damai sejahtera sejati hanya dialami ketika hidup dibangun dalam keseimbangan antara iman yang kokoh dan perbuatan kasih yang nyata.
Kadang, saat senja, ingatannya kembali ke Ngada
kampung yang mengajarkannya tentang kesetiaan.
Ia tersenyum. Hidupnya tidak berjalan seperti rencana awal, tetapi justru menemukan makna yang lebih luas.

Renunganntentang Cinta

Hidup Regi mengajarkan kita bahwa:
kegagalan bukan akhir,
luka bisa menjadi pintu panggilan,
cinta yang hilang dapat dimurnikan menjadi kasih yang lebih besar.
Seperti Sabda hari ini, Tuhan terus menggerakkan hati-Nya oleh belas kasih.

Ia mengundang kita untuk pergi ke tempat sunyi bersama-Nya
tanpa melupakan dunia yang menunggu sentuhan kasih kita.
Damai sejati lahir ketika kita berani mengosongkan diri, agar kasih Allah mengalir melalui hidup kita.
Selamat pagi, sahabat.
Tuhan memberkati kita semua.

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Padang Pasir Cinta

Padang Pasir Cinta

Cerpen 0048

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Komunitas
Relawan
Indonesia
Sehat

Awal Pebruari 2026

Cinta didalam Cinta

Fenny pernah percaya bahwa cinta adalah rumah.
Tempat pulang paling aman setelah dunia melelahkan.

Sepuluh tahun lalu, ia membangun rumah itu bersama Robby
dengan tawa, harapan, dan dua putri cantik yang menjadi cahaya hidup mereka:
Shanti yang lembut dan dewasa sebelum waktunya, serta Monica yang ceria seperti matahari pagi.

Namun rumah itu perlahan retak.
Bukan karena tak ada cinta, melainkan karena cinta tak lagi menemukan jalan.

Perkawinan mereka seperti berjalan di padang pasir: panas, kering, dan melelahkan. Kata-kata yang dulu hangat berubah menjadi jarak.
Diam menjadi lebih nyaring daripada pertengkaran.

Fenny dan Robby sama-sama lelah, sama-sama tersesat.

Akhirnya mereka sepakat berpisah.
Keputusan itu tidak mudah, terutama ketika harus membagi hal paling berharga dalam hidup mereka. Monica ikut Fenny, sementara Shanti tinggal bersama ayahnya.
Saat hari perpisahan itu tiba, Fenny memeluk Shanti terlalu lama, seolah ingin menyimpan aroma rambut anaknya untuk hari-hari sunyi ke depan.

Shanti tidak menangis.
Ia hanya berkata lirih,

“Mama harus kuat.”

Kalimat itu menghantam hati Fenny lebih keras dari apa pun.

Menjadi janda muda bukan sekadar status. Itu adalah label yang sering disalahartikan. Gosip datang tanpa diundang
di warung, di lingkungan, bahkan di tatapan orang-orang yang pura-pura ramah.

Fenny berusaha tegar, tetapi hatinya sering remuk diam-diam.
Ia memang dekat dengan beberapa pria.

Bukan karena ia murahan, melainkan karena ia kesepian.

Namun setiap kedekatan justru membuka luka lama.

Trauma perkawinan membuatnya selalu waspada, selalu takut. Lebih menyakitkan lagi, ia merasa dirinya dinilai rendah
seolah status janda menghapus harga dirinya sebagai perempuan.

Ia belajar tersenyum sambil menahan perih.
Hari-hari Fenny diisi perjuangan.

Ia menjadi ibu sekaligus ayah bagi Monica. Ia menjual makanan secara daring, lalu baju-baju, apa saja yang bisa menghasilkan. Pagi hari mengantar Monica sekolah, siang mengejar klien sebagai agen asuransi, malam menyusun harapan sambil menghitung sisa uang.
Namun di balik semua kesibukan itu, ada ruang kosong di hatinya.

Ia merindukan kehangatan seorang pria. Bukan sekadar pelukan, melainkan rasa aman.

Seseorang yang bisa berkata, “Istirahatlah, aku di sini.”

Takdir mempertemukannya dengan Donny.

Pria asal Sumatra Utara itu berbeda. Suaranya keras, caranya tegas, tetapi kata-katanya sering mengandung kebijaksanaan.

Donny tidak pandai merayu, namun ia hadir dengan kepastian.
Ia melihat Fenny bukan sebagai janda, melainkan sebagai perempuan kuat yang sedang lelah.

Fenny jatuh cinta perlahan.
Ia berpikir, mungkin inilah jawaban doanya. Mereka menikah dengan harapan baru.

Kehidupan materi tercukupi. Rumah nyaman. Tidak perlu lagi menghitung sisa uang di malam hari.

Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama.
Donny memiliki sisi lain yang tak pernah benar-benar ia pahami sebelumnya. Kata-kata kasarnya sering meluncur tanpa rem.

Amarahnya mudah menyala. Dan yang paling menyakitkan, ia melukai bukan hanya Fenny, tetapi juga Monica.

“Anak sial. Pembawa bencana,” kata Donny suatu hari, tepat di depan Monica yang masih kecil.
Kalimat itu menghancurkan segalanya.

Monica menangis dalam diam.

Fenny memeluk anaknya dengan tangan gemetar. Ia merasa gagal
sebagai istri, sebagai ibu, sebagai perempuan yang kembali salah memilih cinta.
Hari-hari berikutnya adalah tekanan demi tekanan.

Donny sering memaki Fenny, merendahkannya, menyebutnya perempuan murahan, pekerjaannya tidak jelas, masa lalunya kotor. Setiap kata seperti cambukan yang membuka kembali luka lama.

Trauma perkawinan pertama belum sembuh.
Kini, perkawinan kedua menorehkan luka yang lebih dalam.

Fenny sering menangis sendirian di kamar mandi. Air mata bercampur air kran agar tak terdengar siapa pun.

Ia bertanya pada dirinya sendiri: Apakah aku pantas dicintai? Atau aku memang ditakdirkan untuk selalu terluka?

Namun hidup, seperti senja, selalu memberi warna meski redup.
Suatu malam, Monica memeluk Fenny dan berkata, “Mama jangan sedih. Aku sayang Mama.”

Kalimat sederhana itu menyelamatkan Fenny.
Ia tersadar bahwa cinta sejati tidak selalu datang dari pasangan. Kadang, cinta hadir dari anak yang memercayainya sepenuh hati.

Dari tawa kecil di pagi hari.

Dari keberanian untuk bangkit, sekali lagi.
Fenny mulai menemukan kekuatannya kembali.

Ia belajar mencintai dirinya sendiri. Ia belajar bahwa romantisme tidak selalu tentang pria dan janji manis, tetapi tentang keberanian bertahan, tentang hati yang tetap lembut meski dunia keras.

Ia belum tahu bagaimana akhir kisah hidupnya. Namun kini ia tahu satu hal: ia bukan perempuan murahan. Ia adalah perempuan yang pernah jatuh, bangkit, jatuh lagi, dan masih memilih untuk percaya pada cinta
dengan caranya sendiri.
Di antara tawa dan air mata, Fenny berjalan. Tidak lagi di padang pasir yang gersang, melainkan di jalan panjang bernama kehidupan Cinta
Dengan luka sebagai pelajaran, dan cinta
meski pernah menyakitkan
sebagai harapan.

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Surat Cinta dari Kebun Cengkeh

Cerpen Nomor 0047

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Komunitas
Relawan
Infonesia
Sehat

Akhir Januari 2026

Surat Cinta dari Kebun Cengkeh

Pagi di Ngada selalu datang pelan, seperti ragu mengganggu orang-orang yang hidupnya sudah terlalu bising oleh kekurangan.
Kabut turun rendah di kebun cengkeh, menyisakan embun di daun-daun dan dingin yang menempel di tulang.

Di pondok kecil milik neneknya, Yona duduk di bale-bale bambu, menekuk lutut, menatap tanah.

Usianya sepuluh tahun. Ia tahu cara menghitung, tahu membaca, tahu menyimpan rahasia.

Ia juga tahu satu hal yang tak seharusnya diketahui anak seusianya: bagaimana rasanya menjadi beban.
Ibunya, Mama Reti, telah berangkat lebih pagi.
Bukan untuk bekerja
hari itu tak ada yang bisa dikerjakan
melainkan untuk memastikan

Yona sampai di pondok neneknya.
Seragam sekolah Yona tersimpan di sana.

“Rajin sekolah ya,” kata ibunya sebelum pergi.
Kalimat itu ringan bagi orang dewasa, berat bagi Yona.
Kepalanya pusing sejak malam.

Bukan pusing yang membuat orang dewasa berbaring dan minum obat, melainkan pusing yang bercampur dengan rasa bersalah.

Yona tahu ia sudah beberapa kali tak masuk sekolah.

Ia juga tahu, uang tidak datang begitu saja.

Kata-kata ibunya semalam berputar-putar di kepala: mencari uang tidak mudah.
Ketika dua orang dewasa lewat menuju kebun, mereka melihat Yona masih di bale-bale.

“Kamu tidak ke sekolah?” tanya salah satu.

Yona menggeleng.
“Nenek di mana?”
“Di rumah tetangga,”

jawabnya pelan.
Mereka pergi, dan Yona kembali sendiri.
Ia membuka tas kainnya.
Di dalamnya hanya ada buku tulis lama dan sepotong pensil yang pendek.
Yona merobek selembar kertas.

Tangannya gemetar.
Ia menulis dalam bahasa ibunya
bahasa yang paling jujur untuk mengucapkan perpisahan.
Ia menulis untuk Mama Reti.
Tulisan itu tidak rapi.

Ada kata yang terlewat, ada garis yang bergetar.
Namun setiap huruf mengandung satu hal yang jelas:
ia ingin ibunya berhenti menangis.

Ia ingin ibunya tahu, kepergiannya bukan karena benci,
melainkan karena cinta yang terlalu besar
dan hati anak laki-laki yang terlalu kecil untuk menampungnya.

Yona melipat kertas itu dengan hati-hati, seperti melipat doa.

Di kebun cengkeh, angin bergerak perlahan.
Dahan-dahan berdesir, seolah saling berbisik.
Dunia berjalan seperti biasa

orang mengikat ternak, orang menuju ladang—
hingga jerit itu pecah,
memantul di lereng,
dan berhenti di dada setiap orang yang mendengarnya.
Ketika Mama Reti tiba, kebun itu telah dikerumuni.
Ia melihat pohon cengkeh, melihat orang-orang,
lalu melihat sesuatu yang membuat kakinya lemas.

Tidak ada kata yang keluar.
Tidak ada suara yang sanggup memuat
hancurnya seorang ibu.
Di pondok, kertas itu ditemukan.
Tulisan tangan kecil itu menjadi saksi paling sunyi.
Ia tidak menuduh siapa pun.
Ia tidak menyebut sekolah, tidak menyebut uang.
Ia hanya meminta satu hal jangan menangis.
Hari itu, desa berduka.
Orang-orang berbisik
anak yang ceria, anak yang ramah.
Mereka lupa satu hal
anak yang ceria sering belajar tersenyum untuk menutup luka.

Yona bukan satu-satunya.
Ia hanya satu dari banyak anak
yang belajar terlalu cepat tentang kerasnya dunia.
Tentang tuntutan yang tak ramah
pada mereka yang tak punya.
Tentang kata-kata yang terdengar biasa,
tetapi menekan dada kecil
hingga tak ada ruang bernapas.

Malam turun.
Mama Reti duduk di rumahnya yang sunyi.
Ia memegang kertas itu lama sekali.

“Maafkan mama,” bisiknya.
Ia tidak tahu kepada siapa kata itu diarahkan
kepada Yona, kepada dirinya sendiri,
atau kepada dunia yang terlalu sering abai.

Keesokan hari, sekolah kembali buka.
Anak-anak datang dengan tas mereka.
Di satu bangku, ada ruang kosong.

Tidak ada yang berani duduk di sana.
Di kebun cengkeh, daun-daun tetap tumbuh.
Hidup terus berjalan.
Namun sejak hari itu,
angin di Ngada membawa satu pesan
yang tak boleh dilupakan:
anak-anak tidak pernah ingin pergi

mereka hanya ingin dimengerti.
Dan jika suatu hari kita mendengar suara kecil bertanya dengan ragu,
“Aku cukup, kan?”

Semoga ada tangan yang segera meraih dan menjawab,
“Kamu berharga.”

Selamat jalan, Yona.

http://www.kris.or.id
http://www.adharta.com

CINTA DALAM CINTA

Cerpen nomor 0046

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS (Komunitas Relawan Indonesia Sehat)

Ngada,Flores
Januari akhir 2026

Di sebuah pagi yang dingin di Ngada, Nusa Tenggara Timur, Yenny terbangun lebih cepat dari ayam jantan. Usianya baru sepuluh tahun. Tubuhnya kecil, kurus, tetapi matanya menyimpan keseriusan yang tidak lazim bagi anak seusianya. Ia tidak terbangun oleh mimpi indah, melainkan oleh kenyataan: hari itu ia harus ke sekolah, sementara di rumah tak ada apa-apa selain sisa nasi semalam dan doa ibunya yang tak pernah putus.

Yenny duduk di tepi tikar pandan. Ia melihat ibunya menyiapkan air panas dengan tungku kayu yang nyaris habis. Ayahnya sudah berangkat sejak subuh, mencari kerja serabutan kadang mengangkut kayu, kadang membantu di kebun orang. Tidak ada kepastian. Yang ada hanya harapan hari ini pulang membawa beberapa lembar ribuan.

“Ma,” suara Yenny pelan, hampir seperti bisikan, “hari ini guru minta beli pena sama buku.”

Ibunya terdiam. Tangannya berhenti mengaduk air. Bukan karena tidak mendengar, tetapi karena tidak tahu harus menjawab apa. Uang sepuluh ribu rupiah, jumlah yang bagi banyak orang tak berarti bagi keluarga Yenny adalah jarak antara bisa dan tidak bisa makan.

“Nanti mama usahakan ya, Nak,” kata ibunya akhirnya.

Senyum dipaksakan, mata ditundukkan. Yenny mengangguk. Ia sudah terbiasa dengan jawaban itu. Ia tahu ibunya tidak bohong. Ibunya hanya kalah oleh keadaan.

Sekolah dasar tempat Yenny belajar berjarak beberapa kilometer. Ia berjalan kaki setiap hari, melewati tanah merah dan pepohonan. Di kelas, Yenny dikenal pendiam. Ia bukan anak yang bodoh. Ia cepat menangkap pelajaran, tetapi sering menunduk ketika guru meminta murid mengeluarkan buku atau pena baru. Pena Yenny sering macet. Bukunya penuh coretan karena sudah dipakai lama.

Hari itu, guru kembali menegur. “Besok semua harus bawa buku dan pena baru.”

Kata-kata itu menghantam Yenny lebih keras dari apa pun. Dadanya sesak. Kepalanya penuh. Ia merasa kecil bukan karena tubuhnya, tapi karena hidupnya.

Sepulang sekolah, Yenny tidak langsung pulang. Ia duduk di bawah pohon, menatap tanah. Anak-anak lain tertawa, bercerita soal mainan dan jajanan. Yenny memeluk lututnya sendiri. Dalam pikirannya, hanya satu wajah yang muncul yaitu wajah ibunya.

Malamnya, hujan turun pelan. Di rumah, lampu redup. Ayah Yenny pulang dengan tangan kosong. Ibunya tak berkata apa-apa. Mereka makan nasi dengan garam.

Yenny memandang piringnya lama, lalu mendorongnya sedikit.
“Yenny kenyang,” katanya. Padahal tidak.

Malam itu, Yenny mengambil selembar kertas dari buku tulis lamanya. Dengan pensil pendek, ia menulis dengan ejaan yang belum sempurna, dengan bahasa yang sederhana, tetapi dengan beban yang terlalu berat untuk anak sepuluh tahun. Ia menulis untuk ibunya. Ia menggambar dirinya sendiri, seorang anak kecil dengan mata besar dan air mata. Di bawah gambar itu, ia menulis pesan perpisahan. Bukan karena ia ingin pergi, tetapi karena ia merasa tidak punya tempat lagi di dunia yang terus menuntut sesuatu yang tak bisa ia berikan.

“Ma… jangan menangis,” kira-kira begitu maksud tulisannya.

“Yenny pergi dulu.”

Tidak ada kemarahan di sana. Tidak ada tuduhan. Yang ada hanya rasa bersalah karena menjadi anak miskin di dunia yang tidak ramah pada kemiskinan.

Esoknya, Yenny ditemukan telah pergi untuk selamanya. Desa itu terdiam. Tangis pecah dari rumah kecil itu. Ibunya menjerit memeluk kertas yang ditinggalkan anaknya. Ayahnya terduduk, tak bersuara. Tetangga datang, aparat datang, orang-orang berdiri mematung.

Semua bertanya: “bagaimana mungkin anak sekecil itu memikul beban sebesar ini?”

Yenny tidak mati karena tidak punya pena dan buku. Yenny mati karena merasa sendirian, merasa menjadi beban, dan karena tak ada yang mengatakan bahwa hidupnya jauh lebih berharga dari apa pun yang tak mampu ia beli.

Kisah Yenny adalah cermin retak bagi kita semua. Tentang pendidikan yang lupa pada kemiskinan. Tentang masyarakat yang menormalisasi tekanan. Tentang dunia orang dewasa yang sering lupa bahwa kata-kata bisa membunuh, dan empati bisa menyelamatkan.

Jika hari itu seseorang memeluk Yenny dan berkata,

“Tidak apa-apa, Nak. Kamu cukup. Kamu berharga.”

Mungkin kisah ini tidak perlu ditulis.

Kini, yang tersisa hanyalah penyesalan dan sebuah pesan kecil dari seorang anak Ngada, yang suaranya terlalu pelan untuk dunia yang terlalu bising.

Semoga Yenny beristirahat dalam damai.
Dan semoga kita yang masih hidup, belajar untuk lebih manusia.

Cinta dalam Cinta
Memang bergejolak
Airmata belum cukup menyejukkannya

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Surabaya Meniti Waktu

Surabaya
Meniti Waktu

Oleh: Adharta
Ketua Umum
KRIS

31 Januari 2026
41.000 KDPA

Roda pesawat Airbus A320 Batik Air menyentuh landasan Bandara Juanda, Sidoarjo, pukul 09.31.
Penerbangan ID 6584 terlambat dua puluh menit. Hujan deras membuat waktu terbang memanjang
sembilan puluh menit, padahal biasanya tujuh puluh.

Namun bagi saya, keterlambatan itu justru memberi ruang: ruang untuk mengingat kenangan manis

Sudah lama saya tidak ke Surabaya.

Kota ini bukan sekadar titik di peta. Ia adalah simpul kenangan, tempat waktu seolah berhenti lalu bergerak lagi, membawa wajah-wajah lama, aroma makanan, dan percakapan yang tak pernah benar-benar usai.

Kali ini saya datang karena undangan istimewa. Dr. Juli Njoto
Seorang Dokter pakar Kecantikan Dunia
Yang mengundang saya menghadiri unduh mantu.

Jason su Ganteng akan menikah malam ini.
Undangan itu seperti penarik halus yang mengajak saya kembali membuka lembar lama hidup saya di Surabaya.

Pagi-pagi, bahkan sebelum matahari benar-benar naik, saya sudah menghubungi Dr. Inna Widjajanti.
“Ayo tebak, apa yang kita bicarakan?”

Tak perlu waktu lama. Jawabannya pasti satu: makanan.

Pesan Pecel Pandegiling.
Bu Djojo.
Pecel legendaris Surabaya.

Begitulah saya. Setiap kali menginjak Surabaya, ingatan saya selalu berjalan lebih dulu
mencari rasa.

Tahu Campur.
Rujak Cingur.
Lontong Mie.
Bakso.
Opo maneh

Surabaya selalu menyambut dengan lidah, sebelum hati.

Saya lahir jauh dari sini, di Kalabahi, Pulau Alor, NTT.

Tahun 1962 kami pindah ke Kupang, Timor. Lalu pada 1967, hidup membawa kami ke Surabaya.
Kami 10 kakak adik tinggal di Jalan Rangkah Gang VII Nomor 26
kompleks perumahan PELNI.

Di situlah cerita panjang itu benar-benar dimulai.
Ayah saya adalah karyawan PELNI. Dari Kepala Cabang PELNI Kalabahi, naik menjadi pengawas inspektorat, hingga akhirnya Kepala Cabang PELNI Surabaya.
Ayah bukan orang besar.
Ia bukan pejabat negara. Tapi ia adalah bagian dari sebuah institusi besar yang memberi makna mendalam bagi hidup kami:
PT Pelayaran Nasional Indonesia—PELNI.

PELNI lahir pada 28 April 1952. Ia dibentuk untuk mengambil alih aset pelayaran Belanda, khususnya Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM)
perusahaan pelayaran terbesar dan terkaya di dunia pada masanya. KPM adalah simbol kekuatan maritim kolonial. Ketika Indonesia mengambil alih, itu bukan sekadar bisnis; itu pernyataan kedaulatan.
PELNI menjadi tulang punggung konektivitas Nusantara. Kapal-kapalnya menghubungkan pulau ke pulau, kota ke kota, manusia ke harapan.
Di masa itu, PELNI bukan hanya BUMN. Ia adalah negara yang berlayar.
Saya menyaksikan sendiri sisa-sisa kejayaannya. Perumahan PELNI tersebar di Senopati, Gajah Mada, Petamburan, Comanggis, hingga
Tugu. Rumah-rumah dinas itu bukan sekadar bangunan; ia adalah simbol jaminan hidup. Ayah saya karyawan kecil, tapi hidup kami dijamin. Pendidikan anak-anaknya dipastikan. Kami bisa sekolah sampai selesai.
Karena PELNI, saya dan saudara saudara saya bisa bermimpi.
Saya bersekolah
di SD Kalianyar II, Jalan Kusuma Bangsa dekat THR
Saya satu almamater dengan Bapak Try Sutrisno dan bapak JP Soetadi

Lalu SMP Negeri IX jalan Kapas Krampung
Putro Agung.

SMA Katolik Frateran Kepanjen.
Wow.
Temannya banyak sekali.

Surabaya mengajarkan saya tentang pertemanan. Tentang keberagaman. Tentang hidup bersama dalam perbedaan.

Dari gang sempit hingga aula sekolah, dari lapangan hingga kantin, semua menyisakan jejak yang tak terhapus.

Ada pepatah yang mengatakan:
Hidup dengan satu sahabat ibarat emas.
Hidup dengan dua sahabat ibarat berlian.
Lalu bagaimana dengan hidup bersama lebih dari seratus sahabat?
Itulah tahta berlian permata

Surabaya memberi saya itu.

Persahabatan yang tidak selalu dekat secara jarak, tapi hangat secara batin.

Persahabatan yang tetap hidup meski waktu memisahkan, meski rambut memutih dan langkah melambat.

Kini saya kembali.
Kota ini berubah. Gedung menjulang, jalan melebar, ritme makin cepat.

Namun Surabaya yang saya kenal masih ada
di sudut rasa, di logat bicara, di semangkuk bakso dan pecel pagi hari.
Saya berjalan meniti waktu.

Bukan untuk kembali menjadi anak kecil di Rangkah Gang VII,
Kenangan
Jalan Rangkah Gang VII
Pusat Ludruk Gema Tri Brata dan tempat lahirnya Srimulat
Ada
Mas Mardjanu
Mas Teguh
Mbak Djudju

Juga untuk mengucapkan terima kasih. Kepada kota ini.

Kepada perusahaan PELNI.
Kepada ayah tercinta
saya.
Kepada sahabat sahabat yang membentuk saya.
Kepada keluarga besar saya

Surabaya tidak pernah benar-benar saya tinggalkan.

Surabaya tinggal di dalam diri dan hati saya,
tenang, setia, dan selalu siap
menyambut pulang.

Terima kasih.

Www.adharta.com

Www.kris.or.id

Nasib atau Takdir

Cerpen Nomor 0045

Nasib atau Takdir

Oleh: Adharta
Ketua Umum KRIS

Komunitas Relawan Indonesia Sehat

Jakarta, 30 Januari 2026

Besok pagi aku akan terbang ke Surabaya. Seperti biasa, sebelum perjalanan jauh, pikiranku selalu dipenuhi potongan potongan kenangan yang datang tanpa diundang.

Pagi ini, sambil menyeruput kopi yang mulai dingin, aku sempat mengirimkan ucapan selamat ulang tahun kepada seorang sahabat lama:

Bapak Hermes Thamrin.

Beliau bukan sekadar sahabat.

Dalam banyak hal, ia lebih mirip seorang kakak
tempat berbagi cerita, kegagalan, keberhasilan, dan tawa yang jujur.

Dunia mengenalnya sebagai tokoh besar di bidang komunikasi. Siapa yang tak mengenal Nokia dengan slogannya “Connecting People”?
Atau Global Teleskop, Hotel Hermes, Mall Hermes
nama-nama yang kini menjadi simbol kesuksesan.
Namun bagiku, Hermes bukanlah sekadar deretan pencapaian.

Ia adalah kisah tentang perjuangan.
Aku masih ingat bagaimana ia bercerita dengan mata berbinar tentang masa-masa awal menjual Hazeline Snow Cream, krim wajah yang sederhana, yang entah mengapa selalu menjadi krim favoritku.

Dari cerita-cerita itulah aku belajar bahwa kesuksesan tidak pernah berdiri sendiri.
Kesuksesan sering kali berjalan berdampingan dengan sesuatu yang disebut orang sebagai nasib baik.

Tapi benarkah nasib baik berdiri sendiri? Atau ia hanya bagian dari sesuatu yang lebih besar
yang kita sebut takdir?

Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku.
Kita semua dilahirkan dengan kondisi yang berbeda-beda. Ada yang lahir di Indonesia, ada yang di negeri orang.

Ada yang terlahir sebagai keturunan Tionghoa, Jawa, Batak, atau Minang. Ada yang lahir dari keluarga sederhana, ada pula yang sejak membuka mata sudah dikelilingi kemewahan.

Ada yang terlahir sebagai anak jenderal, anak raja, anak tokoh besar.

Semua itu bukan pilihan. Itulah takdir
sesuatu yang tidak bisa kita ubah.

Takdir adalah garis awal kehidupan.
Kita tidak pernah memilih di mana kita dilahirkan, kepada siapa kita dilahirkan, atau dalam kondisi apa kita memulai hidup.
Jika takdir seseorang adalah lahir dalam keluarga berada, sering kali nasib akan mengikutinya.

Begitu pula dengan umur, kesehatan dasar, dan banyak hal lain yang terasa begitu dekat dengan takdir. Namun hidup tidak berhenti di garis awal.

Ada perjalanan panjang setelahnya.
Di sinilah nasib mulai bekerja.
Nasib bukan tentang dari mana kita berasal, melainkan tentang apa yang terjadi dalam perjalanan hidup. Nasib bisa berubah
naik atau turun
tergantung pilihan, sikap, dan mungkin… sesuatu yang tak kasatmata.

Coba dengar lagu Hokkian

Ai pia cai e yaa

Aku teringat sahabatku yang lain, Herman.

Di antara teman-teman, Herman dikenal sebagai orang yang “bernasib mujur.”

Julukannya bahkan lebih ekstrem
si Tangan Emas. Apa pun yang disentuhnya seolah berubah menjadi keberhasilan. Tanpa banyak usaha, tanpa ambisi berlebihan, peluang datang sendiri kepadanya.

Bahkan ketika ia duduk manis, rezeki seperti tahu jalan pulang.

Suatu hari, Herman bercerita tentang sebuah keluarga miskin di wilayah timur Surabaya. Mereka memiliki sebidang tanah cukup luas, sekitar lima ratus meter persegi. Karena kesulitan ekonomi, tanah itu terpaksa dijual.
Tak ada yang berminat. Lokasinya terpencil, tak bernilai, dan dianggap tak punya masa depan.
Herman membeli tanah itu bukan karena melihat peluang. Ia membantu semampunya. Baginya, uang itu lebih sebagai uluran tangan daripada investasi.

Tanah itu pun dibiarkan begitu saja, tanpa rencana, tanpa harapan.
Sepuluh tahun berlalu.
Daerah itu tiba-tiba masuk dalam rencana pembebasan lahan.
Letaknya ternyata sangat strategis. Herman dipanggil, diajak berdiskusi, dan ditawarkan skema barter: tanah lima ratus meter miliknya ditukar dengan lima ribu meter persegi di tepi kawasan pengembangan.

Belum lama berselang, kabar lain datang. Akan dibangun sebuah jembatan besar. Dan entah bagaimana, tanah Herman berada tepat di ujung pusat jembatan itu
lokasi emas yang nilainya melonjak berkali-kali lipat.

Herman hanya tersenyum saat bercerita. Seolah semua itu hal biasa.
Keberuntungan itu tidak berhenti di sana.

Ia memiliki seorang istri yang cantik, setia, dan anak-anak yang baik, santun, serta membanggakan.

Hidupnya terasa utuh.
Lengkap.
“Aku juga tidak tahu kenapa bisa begini,” katanya suatu kali.
“Mungkin karena dulu aku sering menolong tanpa berharap kembali.”
Herman dikenal sebagai orang sosial.
Ia ringan tangan, tidak perhitungan, dan selalu hadir saat orang lain membutuhkan.

Ia percaya bahwa hidup bukan sekadar tentang mengumpulkan, tetapi juga tentang memberi.

Aku pun merenung.
Mungkin di situlah titik temu antara takdir dan nasib.

Takdir adalah panggung, nasib adalah alur cerita.
Dan di atas keduanya, ada sesuatu yang lebih halus namun kuat yakni
karma.
Karma bukan hukuman, bukan pula hadiah instan.
Ia adalah akumulasi dari niat baik, perbuatan tulus, dan empati yang ditanam tanpa pamrih.

Karma bekerja pelan, diam-diam, sering kali melintasi waktu dan logika.

Nasib Herman baik. Takdirnya pun baik. Tapi yang membuat keduanya bertemu dan saling menguatkan adalah karma baik
buah dari hidup yang dijalani dengan hati.
Mungkin benar, kita tidak bisa memilih takdir. Tapi kita selalu bisa memilih bagaimana menjalani hidup. Dan dari sanalah nasib dibentuk, serta karma ditanam.

Besok pagi, pesawatku akan membawaku dan istri Lena ke Surabaya.
Pertama mau menghadiri perkawinan Jason putra Dr Juli
Besok malam
Kedua udah janjian dengan teman teman KRIS mau makan Pecel Pandegiling dengan Dokter Inna Widjaja nti dan kawan kawan

Tapi pikiranku hari ini sudah lebih dulu terbang
menyusuri kisah, persahabatan, dan pelajaran hidup.

Tidak lupa
Selamat ulang tahun, Bapak Hermes Thamrin.

Salam dan doa terbaikku untuk Bapak dan ibu Jane serta
seluruh keluarga.

Semoga nasib baik selalu berjalan seiring dengan takdir yang indah, dipandu oleh karma yang penuh kebaikan.
Karena pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang ke mana kita ditakdirkan lahir, tetapi tentang jejak apa yang kita tinggalkan di sepanjang jalan.

Www.adharta.com

Www.kris.or.id

Ekonomi Indonesia Saat Ini Pemikiran dan pandangan

Ekonomi Indonesia Saat Ini
Pemikiran dan pandangan

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Komunitas Relawan Indonesia
Sehat

Jakarta
27 Januari 2026

I. Hasil pemantauan selama 3 Bulan khususnya di Jakarta

GambaraSituasi Ekonomi Indonesia Saat Ini

Pertama
Pertumbuhan Ekonomi Makro Tumbuh sangat minim akan tetapi tidak “Kuat”

Data resmi menunjukkan ekonomi Indonesia masih tumbuh positif dengan angka di kisaran ± 5 % pada 2025.

Pemerintah bahkan menargetkan
5,4 % untuk 2026.

Pertumbuhan ini ditopang oleh:
konsumsi rumah tangga,
investasi pemerintah dan swasta,
kinerja ekspor-impor.

Namun lembaga independen seperti CORE memperkirakan bahwa pertumbuhan 2026 bisa hanya di 4.9 % – 5.1 %, sedikit lebih rendah dari target pemerintah dan tidak menunjukkan akselerasi yang kuat.

Intinya:
Secara makro terlihat tumbuh, tetapi perlambatan sektor aktivitas riil terasa di masyarakat.

Kedua
Kinerja Konsumsi dan Aktivitas Usaha Lesu
Indikator riil menunjukkan:
mall, pasar, toko pakaian, peralatan elektronik, dan restoran tampak sepi
banyak warung makan, kantin, dan pedagang kecil mengalami penurunan bahkan sampai di tutup (Hal ini kami alami sendiri dalam grup usaha)

pendapatan;
penurunan mobilitas konsumsi terutama di kelas menengah dan menengah-atas.

Ini sering menjadi sinyal menurunnya daya beli secara luas.
Meskipun data BPS menunjukkan konsumsi masih berkontribusi besar terhadap PDB, tren pertumbuhan konsumsi tidak setinggi periode sebelumnya sehingga suasana sendu terasa oleh pelaku usaha mikro.
Kesulitan ini dihadapi langsung oleh pengusaha

Kesimpulan: Pertumbuhan ekonomi makro belum tercermin secara proporsional ke aktivitas ekonomi harian di sektor perdagangan, jasa, dan retail.

Ketiga
Industri dan Sektor Riil
Ada Kontradiksi
Sektor industri manufaktur masih menunjukkan ekspansi dengan PMI di atas level netral 50, meskipun laju pertumbuhan melambat.

Namun, perasaan pelaku usaha di sektor perdagangan, penerbangan, hotel, dan perkapalan menunjukkan
permintaan turun,
utilisasi kapasitas rendah,
bisnis berjalan di bawah kapasitas.

Ini berkaitan erat dengan turunnya konsumsi masyarakat.

Ekspor, Impor & Perdagangan Internasional

  1. Neraca |Perdagangan Masih Surplus

Data BPS terakhir menunjukkan surplus neraca perdagangan Indonesia cukup kuat selama Januari-November 2025, terutama pada sektor non-migas.
Badan Pusat Statistik Indonesia

Perincian
Ekspor non-migas meningkat ±14 % terutama dari produk manufaktur dan komoditas seperti CPO, besi & baja, dan produk mineral.

Impor naik moderat sekitar ±4 % dengan dominasi barang modal (kapital goods).

Badan Pusat Statistik Indonesia
Perdagangan luar negeri Indonesia masih menjadi pendukung pertumbuhan ekonomi, bukan penalti.

  1. Tantangan di Ekspor Global

Proyeksi terakhir menunjukkan:
pertumbuhan ekspor masih menghadapi tekanan dari dinamika permintaan global.

Sementara permintaan global belum sepenuhnya kuat, ekspor Indonesia yang berbasis komoditas dan produk manufaktur rendah teknologi masih cukup tergantung pada harga komoditas dan tren global.

Potensi risiko
perlambatan permintaan global 2026-2027,
fragmentasi rantai pasok,
perubahan tarif dan kebijakan perdagangan internasional.

Kenapa Aktivitas Ekonomi Riil Terasa “Makin Memburuk”?

Dari fenomena yang saya amati (mall, pasar, restoran sepi), ada beberapa kemungkinan penyebabnya

  1. Daya Beli Rumah Tangga Menurun

Walaupun secara agregat konsumsi masih tumbuh, kenaikan harga barang pokok tertentu dan tekanan biaya hidup dapat mengurangi konsumsi non-pokok seperti pakaian, elektronik, dan santapan di luar rumah.

Inflasi inti relatif terkendali, tetapi harga pangan volatile tetap membawa beban bagi masyarakat berpendapatan rendah hingga menengah.

Badan Pusat Statistik Indonesia

  1. Ketidakpastian Global dan Kepercayaan Konsumen

Kondisi global yang kurang stabil (bank sentral negara maju menaikkan suku bunga, ketegangan geopolitik, dan perlambatan ekonomi dunia) berdampak pada kepercayaan konsumen dan investor.

  1. Modal Usaha Menyusut dan Kredit Mengendur

Bank dan lembaga keuangan cenderung semakin berhati-hati dalam menyalurkan kredit usaha di masa ketidakpastian terutama kepada UMKM dan usaha kecil.

Ekspektasi Ekonomi 2026–2027

  1. Pertumbuhan Ekonomi

Proyeksi makro menunjukkan:
2026 diperkirakan tumbuh sekitar 5 % ± sedikit di atas atau di bawah angka tersebut.

Bank Dunia memproyeksikan ekonomi RI tumbuh sekitar 5 % tahun 2025-2026, lalu naik sedikit di 2027.

  1. Situasi Ekspor-Impor

Dengan surplus perdagangan yang masih berlanjut, ekspor menjadi penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia, tetapi real growth ekspor menantang di tengah permintaan global yang lemah.
Langkah-Langkah Strategis untuk Menghadapi Kesulitan Ekonomi
Berdasarkan kondisi saat ini dan ekspektasi ke depan, berikut rekomendasi langkah yang dapat diambil oleh pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat

  1. Penguatan Daya Beli dan Konsumsi Domestik

Perlu stimulus yang tepat sasaran bagi rumah tangga berpendapatan rendah dan menengah agar konsumsi tetap bergerak.
Kebijakan fiskal berupa bantuan langsung tunai, insentif pajak bagi UMKM, atau subsidi bersyarat bisa dipertimbangkan.

  1. Revitalisasi UMKM

UMKM adalah tulang punggung ekonomi domestik. Dukungan bisa berupa:
akses kredit yang lebih mudah,
pelatihan digital dan pemasaran online,
basis produksi berbasis lokal.

  1. Perbaikan Iklim Investasi

Untuk menarik investasi:
reformasi birokrasi yang lebih cepat,
kepastian hukum dan perlindungan investor,
insentif sektor manufaktur teknologi tinggi.
Hal ini membantu menambah lapangan kerja dan mendongkrak produktivitas.

  1. Diversifikasi Ekonomi

Kurangi ketergantungan pada ekspor komoditas primer dengan:
hilirisasi industri,
pengembangan manufaktur bernilai tambah,
investasi pada teknologi dan ekonomi digital.

  1. Kebijakan Moneter dan Stabilitas Rupiah

Bank Indonesia perlu menjaga stabilitas nilai tukar dan mendorong kredit produktif tanpa mengorbankan inflasi yang tinggi.
Kebijakan suku bunga harus responsif terhadap tekanan eksternal.

  1. Reformasi Struktural

Reformasi menyeluruh di sektor tenaga kerja, pendidikan, dan infrastruktur akan membantu Indonesia keluar dari stagnasi pertumbuhan jangka panjang.

Sebagai akhir pandangan saya

Situasi ekonomi Indonesia saat ini menunjukkan kontradiksi
Secara makro masih tumbuh, namun aktivitas riil di masyarakat menunjukkan tekanan yang nyata.
Konsumsi menurun, dan pelaku usaha kecil serta sektor jasa berbasis konsumsi merasakan dampaknya. Pertumbuhan masih diproyeksikan positif, tapi tidak cepat dan masih menghadapi risiko global.

Langkah mitigasi yang tepat, sinergi kebijakan fiskal-moneter, serta fokus pada pemberdayaan UMKM dan konsumsi domestik adalah kunci untuk menghadapi tantangan ekonomi 2026-2027.

Ketika Tuhan Mengajari MasKris Cara Berdiri Kembali

Ketika Tuhan Mengajari MasKris Cara Berdiri Kembali

Cerpen nomor 0044

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Jakarta
28 Januari 2026

Saat matahari mulai terbit
Saya menerima beberapa kiriman Berita singkat
Sebagian besar tentang kisah kisah pribadi yanenyentuh hati

Saya suka sekali mendengar kisah kisah tentang suka duka anak anak manusia
Kemudian mau berjuang membantu sesama
Mari bersama KRIS kata sahabatku

Cinta diawal cinta
MasKris tidak pernah menyangka bahwa hidup bisa berubah secepat itu.

Pagi itu hujan turun rintik-rintik, seolah ikut menahan napas.

MasKris duduk lama di ruang tamu rumah kontrakan kecilnya.

Di tangannya, selembar kertas putih dengan cap perusahaan
surat yang mengakhiri delapan belas tahun pengabdiannya.

Tidak ada teriakan.
Tidak ada amarah.
Hanya dada yang terasa kosong, seperti kehilangan sesuatu yang tak bisa digantikan.

Dulu, MasKris adalah orang yang sering berkata,
“Alhamdulillah, hidup saya sudah cukup.”
Gajinya memang tidak besar, tapi cukup.
Istrinya tersenyum. Anak-anaknya sekolah. Ia merasa aman. Terlalu aman, bahkan.

Hingga tanpa disadari, ia mulai lupa menunduk.
Lupa bahwa hidup bisa berubah kapan saja.
Hari demi hari berlalu setelah pemutusan kerja itu.

MasKris mulai menghitung receh.
Ia menjual barang-barang yang dulu dianggap biasa. Telepon genggam. Sepatu kerja. Jam tangan hadiah ulang tahun pernikahan.
Baju baju bekas
Celana panjang
Sepatu Adidas
Ke tukang loak
Untuk bertahan hidup

Setiap barang yang pergi seakan membawa potongan harga dirinya.

Suatu malam, istrinya berkata lirih, hampir berbisik,
“Mas… beras tinggal segenggam.”

MasKris mengangguk.
Ia masuk kamar mandi, mengunci pintu, dan untuk pertama kalinya menangis tanpa suara.

Air matanya jatuh bercampur air keran.
Ia menatap wajahnya di cermin
wajah seorang laki-laki yang merasa gagal.

Malam itu MasKris keluar rumah.
Ia berjalan tanpa tujuan, hanya mengikuti langkah kaki yang berat.

Hingga akhirnya ia berhenti di sebuah mushala kecil di sudut gang.
Lampunya redup.
Sepi.
Hanya ada seorang lelaki tua yang sedang duduk bersila, berzikir perlahan.

MasKris duduk di pojok. Dadanya sesak. Ia merasa rendah.
Merasa kalah oleh hidup.

Di dinding mushala itu, ada tulisan sederhana yang dicetak di kertas kuning pucat

Allah mempergilirkan kondisi manusia sesuai kehendak-Nya.

Ketika di atas, janganlah sombong karena tidak selamanya kita akan di sana.
Ketika di bawah, jangan terlampau bersedih karena tidak selamanya kita akan di bawah terus.

Jadikan syukur dan sabar dua sikap yang terus kita pegang.

MasKris membacanya berulang kali.

Entah kenapa, kalimat itu seperti berbicara langsung kepadanya. Bukan menghakimi.

Bukan menyalahkan. Tapi memeluk.
Untuk pertama kalinya sejak lama,
MasKris tidak bertanya, “Kenapa aku?”

Ia hanya berbisik pelan,
“Ya Allah… aku ingin belajar bersabar.”

Hidup MasKris tidak langsung berubah.
Pagi tetap datang dengan kecemasan. Malam tetap dipenuhi doa yang panjang.
Ia bekerja serabutan
mengangkat barang di pasar, membersihkan halaman orang, mengantar tetangga yang sakit.

Upahnya kecil. Tapi setiap kali pulang, ada rasa yang berbeda ia masih berguna.

Suatu sore, MasKris melihat seorang ibu tua terjatuh di depan warung.
Tanpa pikir panjang, ia membantu, mengantar ke rumah, membelikan obat dengan uang terakhir di sakunya.

Malam itu, ia pulang tanpa uang. Tapi hatinya hangat.
Di situlah MasKris mulai menyadari satu hal yang dulu tak pernah ia pahami

Saat kita berada di bawah, Allah justru mengajarkan kita melihat hidup lebih jernih.

Ia mulai bersyukur atas hal-hal kecil. Nasi hangat meski sederhana.

Tawa anak-anak meski tanpa mainan baru. Tidur nyenyak meski tanpa pendingin ruangan.

Ia belajar sabar
bukan karena terpaksa, tetapi karena percaya bahwa hidup ini sedang digilir.

Suatu hari, MasKris melihat sekelompok orang berbagi makanan gratis dan layanan kesehatan di lapangan kecil dekat rumahnya.
Ada spanduk bertulisan KRIS
Komunitas Relawan Indonesia Sehat
Ibu ibu dan bapak bapaknya sungguh berwajah ceria
Penuh suka cita

Mereka datang spanduk dengan spanduk kecil tapi bisa dibaca jelas
Tanpa sorotan kamera.
Mereka bekerja dalam diam, dengan senyum yang tulus.

MasKris bertanya,
“Ini kegiatan apa?”
Seorang di antara mereka menjawab,
“Kami dari KRIS. Komunitas Relawan Indonesia Sehat.

Kami ingin hidup yang lebih bermakna.”

Kata bermakna menggema di kepala MasKris sepanjang malam.

Ia mulai ikut membantu. Mengatur antrean. Mengangkat galon. Menemani lansia.
Tidak dibayar. Tidak dipuji. Tapi setiap pulang, MasKris merasa dadanya ringan.

Ia merasa hidupnya kembali bernapas.
Beberapa bulan berlalu.
Hidup MasKris belum mapan. Ia belum kembali “di atas”.
Tapi ia tidak lagi merasa kecil.
Ia menemukan sesuatu yang lebih berharga dari sekadar pekerjaan: tujuan.

Pada suatu sore, MasKris berdiri di tengah kegiatan KRIS. Ia melihat wajah-wajah lelah yang bahagia.

Orang-orang yang dulu tak ia kenal, kini terasa seperti keluarga.
Dengan suara bergetar tapi mantap, ia berkata,
“Aku ingin bergabung.

Aku ingin hidupku tidak hanya untuk diriku sendiri.”
Hari itu, MasKris resmi menjadi bagian dari KRIS.
Ia mengerti kini
Allah mempergilirkan hidup bukan untuk menghancurkan,
melainkan untuk mendidik hati.

Agar saat di atas, kita tidak lupa bersyukur.
Agar saat di bawah, kita tidak kehilangan harapan.

Agar kita tahu bahwa sukacita sejati lahir ketika kita mau menolong sesama.
MasKris tersenyum.

Ia belum sampai.
Tapi ia sudah berjalan di jalan yang benar.

Dan itu cukup
untuk hari ini, dan untuk hidup yang lebih baik.

MasKris sekarang menjadi sopir GO-JEK dan beberapa bulan kemudian dia sudah memiliki dan mengoperasikan 4 motor
Sedangkan MasKris sendiri menjadi Sopir tembakan atau panggilan
Atau asisten pribadi
Istrinya menjadi ART di sebuah rumah besar
Walau tidak berpenghasilan besar tapi sudah lebih dari cukup

MasKris menjadi iKON di para tetangga karena ringan tangan membantu sesama
Menjadi Relawan Tangguh tanpa pamrih

Www.adharta.com

Www.kris.or.id

MARI MELANGKAH AWAL UNTUK INDONESIA SEHAT

Mari Melangkah
LANGKAH AWAL UNTUK INDONESIA SEHAT

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Salam sehat
Buat semua Sahabatku dan segenap keluarga

KRIS
Komunitas Relawan Indonesia Sehat

Akhir Januari 2026

Saudaraku
Satu hati
Satu jiwa
Satu tujuan kita
Indonesia sehat

Seluruh anggota KRIS Komunitas Relawan Indonesia Sehat, dan keluarga
di mana pun berada,
dari Sabang sampai Merauke,
dari Miangas hingga Pulau Rote.

Izinkan dan perkenankan saya menyapa Anda semua, beserta keluarga tercinta, dengan rasa hormat, kasih, dan harapan yang besar.

Pada akhir Januari 2026 ini, kita berdiri di sebuah titik awal.
Bukan titik yang kecil.
Bukan pula titik yang biasa.
Melainkan sebuah titik yang menentukan arah langkah kita ke depan
sebagai relawan, sebagai warga bangsa, dan sebagai orang tua serta kakek-nenek bagi generasi masa depan Indonesia.

Ada sebuah pepatah Tiongkok yang ditulis oleh Gong Fu Tse (Kongzi / Confucius)
yang mengatakan:
“Jika engkau ingin menempuh seribu langkah,
maka engkau harus memulai dengan satu langkah awal.”

Pepatah ini sederhana, namun sarat makna.
Tidak ada perjalanan besar yang dimulai dengan keraguan.
Tidak ada perubahan yang lahir dari diam.
Dan tidak ada masa depan yang sehat tanpa keberanian untuk melangkah lebih dulu.

Hari ini, kita memilih langkah pertama itu.
Mengapa Kita Harus Bangkit Bersama

Saudara-saudari
Sahabatku
yang saya muliakan,

Kita hidup di masa yang penuh tantangan.
Kemajuan teknologi melaju cepat, tetapi kesadaran hidup sehat sering tertinggal.

Informasi berlimpah, namun edukasi kesehatan yang benar belum merata.

Fasilitas kesehatan berkembang, tetapi pencegahan masih kalah perhatian dibandingkan pengobatan.
Padahal kita semua tahu,
bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang pintar,
tetapi bangsa yang sehat jasmani, sehat rohani, dan sehat pola pikirnya.

KRIS hadir bukan untuk menggantikan siapa pun.
Bukan untuk menggurui.

Bukan untuk menghakimi.
KRIS hadir untuk mengajak, mendampingi, dan menumbuhkan kesadaran.

Karena kesehatan bukan semata urusan rumah sakit.
Kesehatan dimulai dari rumah.

Dari dapur.
Dari cara kita mendidik anak.
Dari kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari.

Edukasi Preventif dan Promotif:

Pondasi Bangsa
Fokus utama gerakan kita adalah edukasi preventif dan promotif kesehatan.

Preventif berarti mencegah sebelum sakit.

Promotif berarti mendorong dan memelihara hidup sehat secara berkelanjutan.

Inilah pondasi yang sering dilupakan, tetapi justru paling menentukan.
Bayangkan jika setiap keluarga Indonesia:
Memahami pentingnya gizi seimbang
Mengerti makna kebersihan dan sanitasi
Menyadari pentingnya aktivitas fisik
Cerdas memilah informasi kesehatan
Memiliki kesadaran kesehatan mental dan emosional
Maka beban bangsa ini akan jauh lebih ringan.

Biaya kesehatan akan berkurang.
Produktivitas akan meningkat.
Dan yang terpenting: kualitas hidup akan naik secara bermartabat.

Inilah warisan terbaik yang bisa kita berikan
bukan hanya kepada anak-anak kita,
tetapi juga kepada cucu-cucu kita

di Indonesia Emas 2045.
KRIS Adalah Gerakan Hati Nurani

Saudara-saudari
Sahabat
relawan,
KRIS bukan sekadar organisasi.
KRIS adalah gerakan hati Nurani

Gerakan orang-orang biasa
yang memiliki kepedulian luar biasa.
Tidak semua dari kita adalah tenaga medis.

Tidak semua dari kita adalah akademisi.
Namun semua dari kita adalah manusia yang peduli.

Dan kepedulian, bila digerakkan bersama,
akan menjadi kekuatan yang dahsyat.

Melalui KRIS, kita belajar bahwa:
Setiap orang bisa berkontribusi
Setiap langkah kecil memiliki arti
Setiap daerah punya peran penting
Baik di kota besar maupun pelosok desa,
di lingkungan RT, RW, sekolah, tempat ibadah,
komunitas lokal, hingga keluarga sendiri.

Ajakan untuk Seluruh Anggota dan Keluarga
Hari ini, dengan penuh kerendahan hati,
saya mengajak seluruh anggota KRIS di seluruh Indonesia,
beserta keluarga masing-masing:
Mari kita bangkit.
Bukan dengan amarah.
Bukan dengan ego.
Tetapi dengan kesadaran dan kasih.

Mari kita mulai dari diri sendiri.
Dari rumah kita sendiri.
Dari kebiasaan kecil yang konsisten.
Mari kita menjadi contoh,
bukan sekadar penonton.

Mari kita ajak lingkungan sekitar
dengan bahasa yang ramah,
dengan teladan yang nyata,
dengan ketulusan yang terasa.
Karena perubahan sejati
tidak lahir dari paksaan,
tetapi dari inspirasi.
Langkah Kecil Hari Ini, Dampak Besar Esok Hari

Saudara-saudari sahabatku terkasih
yang saya banggakan,
Jangan pernah merasa langkah Anda terlalu kecil.
Jangan pernah merasa kontribusi Anda tidak berarti.

Satu keluarga yang sadar kesehatan
adalah satu benteng bangsa.
Satu anak yang tumbuh sehat
adalah satu harapan masa depan.

Satu relawan yang bergerak
adalah satu cahaya di lingkungannya.
Bila hari ini kita melangkah satu langkah,
besok akan ada dua langkah.
Lusa akan menjadi sepuluh langkah

Dan suatu hari, seribu langkah itu akan terjangkau.

Sahabatku
Tercinta
Untuk Indonesia yang Kita Cintai
Akhir kata,
atas nama
KRIS
Komunitas Relawan Indonesia Sehat,

saya mengajak kita semua untuk terus menjaga api semangat ini.
Semangat melayani tanpa pamrih.

Semangat belajar tanpa henti.
Semangat berkontribusi untuk bangsa dan negara tercinta,
Sejak masa kanak kanak hingga dewasa
Untuk Indonesia.

Semoga langkah awal di akhir Januari 2026 ini
menjadi awal dari perjalanan panjang
menuju Indonesia yang lebih sehat, lebih kuat, dan lebih bermartabat.

Dari kita, oleh kita, untuk Indonesia.
Dari langkah kecil hari ini, menuju Indonesia Emas 2045.

Terima kasih.
Salam sehat.

Salam relawan.
Salam Indonesia Sehat. 🇮🇩

Adharta

Adharta

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Hujan Banjir dan Cinta serta Air Mata

Cerpen no. 0043

Oleh: Adharta
Ketua Umum
KRIS

Jakarta, Kamis, 22 Januari 2026

Sahabatku, malam bergeser perlahan menuju subuh. Langit masih gelap, berat oleh awan yang belum selesai menumpahkan airnya. Ayam belum berkokok. Kota belum sepenuhnya terjaga. Namun di antara jarum jam yang bergerak pelan, ada kegelisahan yang tak bisa ditunda.

Aku terjaga. Di layar ponsel, suaraku menyeberangi laut—menuju Kapal LCT IRIS yang berlayar tanpa muatan dari Samarinda ke Jakarta. Sebuah perjalanan pulang yang seharusnya tenang, tetapi malam itu laut menolak bersahabat. Cuaca ekstrem memaksa kapal berjuang menghadapi ombak tinggi, angin kencang, hujan yang turun seperti tirai tanpa jeda. Badai datang bergulung, memukul lambung kapal dengan kekuatan alam yang tak bisa ditawar.

Dalam hati, aku membayangkan wajah-wajah yang kukenal satu per satu. Kapten kapal. Para perwira. Seluruh anak buah kapal. Mereka bukan sekadar kru. Mereka adalah ayah yang ingin pulang, suami yang dirindukan, anak yang menjadi harapan orang tua. Di lautan luas pagi telah datang. Di sanalah aku berdoa, doa seorang yang paham bahwa laut tak pernah bisa dijinakkan, hanya dihormati.

Kami mencari makan di laut dengan segala perjuangan. Demi keluarga. Demi bangsa. Demi negeri.

Kapal-kapal kami, seperti LCT IRIS, adalah nadi yang menghubungkan pulau dengan pulau, membawa mesin, alat berat, dan harapan pembangunan. Dari tambang di pelosok hingga jantung kota, semuanya bergantung pada keberanian manusia melawan alam, menembus ombak dan gelombang tinggi.

Dalam kegelapan malam, suara Kapten terdengar melalui sambungan yang terputus-putus. Tenang, tetapi sarat beban. Ia meminta izin dan restu. Kapal tidak bisa melanjutkan pelayaran. Cuaca terlalu berbahaya. Satu-satunya pilihan adalah berlindung di Kepulauan Masalembo, di utara Pulau Jawa. Kondisi saat itu, jarak 50 km ditempuh sekitar 10 jam. Hatiku runtuh perlahan. Sedih. Bukan karena perjalanan tertunda, melainkan karena aku tahu keputusan itu lahir dari pertarungan batin seorang Kapten yang memikul tanggung jawab nyawa banyak orang. Dengan suara yang kutahan agar tetap tegar, aku memberi restu. Berlindunglah. Ambil sikap aman. Shelter bukan tanda menyerah, melainkan tanda cinta pada kehidupan.

Kami berbicara singkat tentang cuaca. Sebagai pelaut, kami tidak diajarkan takut pada ombak, angin, hujan, atau badai. Tetapi kami selalu diajarkan satu hal keselamatan adalah hukum tertinggi. Tuhan tidak pernah menjanjikan cuaca yang selalu baik di laut Tidak pernah menjanjikan laut tanpa gelombang. Tetapi Tuhan menjanjikan pelabuhan tujuan yang indah. Dan kebahagiaan sejati awak kapal adalah tiba dengan selamat.

Telepon belum sempat kututup ketika pesan-pesan mulai masuk. Banyak. Bertubi-tubi. Dari darat.

Jakarta. Kota ini sedang tenggelam. Banjir telah melanda sejak hari-hari sebelumnya, tetapi hari ini air naik lebih tinggi, lebih cepat, lebih kejam.

Sekolah-sekolah meliburkan murid. Mereka menerapkan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Sebagian perusahaan memutuskan untuk work from home (wfh). Pabrik-pabrik menutup gerbang. Jalan-jalan utama berubah menjadi sungai keruh yang membawa lumpur, barang-barang rumah tangga, dan kadang kenangan. Menjelang subuh, laporan datang dari berbagai penjuru kota. Warga mulai mengungsi. Akses keluar masuk ditutup.

Di beberapa titik, air mencapai lebih dari satu meter. Aku belum bisa memejamkan mata. Bukan karena kopi atau lelah, tetapi karena nurani menolak diam.

Seorang ibu bernama Sari mengirim pesan suara. Tangisnya tertahan. Air sudah setinggi dada. Ia menggendong anak bungsunya, sementara dua anak lain berdiri di atas meja. Suaminya belum bisa pulang.

“Kami hanya bisa berdoa,” katanya. Doa itu terdengar rapuh, tetapi justru di sanalah kekuatannya. Di tempat lain, Pak Rahmat, buruh harian, duduk di atap rumahnya. Sepeda motor yang menjadi sumber penghidupannya hanyut. Semua peralatan kerjanya lenyap. Banjir tidak hanya merendam rumah, tetapi juga harapan. Ia tidak menangis. Mungkin karena air sudah terlalu banyak.

Pagi itu, kabar yang paling menusuk datang dari dua orang yang sangat kukenal. Bapak Endang Siaman, sopir pribadi saya, dan Bapak Wahyudin, sopir keluarga rumah.

Dua sopirku. Dua kepala keluarga. Dua orang sederhana yang setiap hari mengantar dengan kesetiaan, tanpa banyak bicara. Rumah mereka terendam lebih dari satu meter. Bapak Endang mengirim foto. Ruang tamu yang biasa rapi berubah menjadi kolam. Lemari kayu terendam. Kasur mengapung. Ia berdiri di sudut rumah, air setinggi dada, memeluk anaknya yang ketakutan. “Kami sudah naik ke loteng, Pak,” tulisnya singkat. Tidak ada keluhan. Tidak ada tuntutan. Hanya laporan. Bapak Wahyudin lebih lirih. Ia mengabarkan bahwa istrinya menangis sejak subuh. Surat-surat penting, buku sekolah anak, dan sebagian perabot tak sempat diselamatkan. “Saya tidak apa-apa, Pak,” katanya. Kalimat itu justru membuat dadaku sesak. Karena aku tahu, kalimat itu sering diucapkan oleh orang-orang yang paling menderita.

Di tengah banjir dan hujan, air mata jatuh tanpa suara.

KRIS (Komunitas Relawan Indonesia Sehat)

KRIS tidak boleh diam. Ini bukan sekadar organisasi. Ini adalah keluarga nurani. Kami bergerak. Menghubungi relawan. Menghubungi donatur. Membuka dompet bencana banjir Jakarta. Dompet yang dibuka bukan karena kelimpahan, tetapi karena kepedulian.

Relawan turun ke lapangan dengan jas hujan lusuh dan sepatu terendam. Mereka mengevakuasi lansia. Menggendong anak-anak. Menenangkan ibu-ibu yang panik. Mereka bekerja tanpa pamrih, tanpa kamera, tanpa janji. Di tengah cuaca buruk, mereka adalah cahaya kecil yang bertahan.

Seorang relawan muda menyelamatkan nenek Aminah yang menolak dievakuasi tanpa kucingnya. Kisah seorang relawan perempuan jatuh sakit karena kelelahan, tetapi tetap kembali ke lokasi pengungsian. “Kalau bukan kita, siapa lagi?” katanya.

Malam itu, laut bergelora dan kota terendam oleh lautan air. Dua dunia yang berbeda, tetapi disatukan oleh satu hal yakni cinta yang diuji.

Kapal LCT IRIS menunggu cuaca bersahabat. Jakarta menunggu air surut. Di antara keduanya, ada doa, ada air mata, ada tangan-tangan yang saling menggenggam.

Aku menutup hari dengan doa. Untuk awak kapal di laut. Untuk warga di darat. Untuk Bapak Endang dan Bapak Wahyudin. Untuk para relawan. Karena di balik hujan dan banjir, selalu ada cinta yang bekerja diam-diam menjaga bangsa ini agar tidak tenggelam oleh putus asa.

Dan aku percaya, seperti kapal yang akan tiba di pelabuhan tujuan yang indah, kita semua akan sampai. Dengan luka, dengan lelah, tetapi dengan hati yang tetap utuh dalam Cinta dan Bahagia.

Semoga Jakarta dilindungi oleh Tuhan yang Maha Kuasa dibebaskan dan dikurangkan penderitaan para korban banjir, serta diberi perlindungan keselamatan

Www.kris.or.id