Surabaya Meniti Waktu

Surabaya
Meniti Waktu

Oleh: Adharta
Ketua Umum
KRIS

31 Januari 2026
41.000 KDPA

Roda pesawat Airbus A320 Batik Air menyentuh landasan Bandara Juanda, Sidoarjo, pukul 09.31.
Penerbangan ID 6584 terlambat dua puluh menit. Hujan deras membuat waktu terbang memanjang
sembilan puluh menit, padahal biasanya tujuh puluh.

Namun bagi saya, keterlambatan itu justru memberi ruang: ruang untuk mengingat kenangan manis

Sudah lama saya tidak ke Surabaya.

Kota ini bukan sekadar titik di peta. Ia adalah simpul kenangan, tempat waktu seolah berhenti lalu bergerak lagi, membawa wajah-wajah lama, aroma makanan, dan percakapan yang tak pernah benar-benar usai.

Kali ini saya datang karena undangan istimewa. Dr. Juli Njoto
Seorang Dokter pakar Kecantikan Dunia
Yang mengundang saya menghadiri unduh mantu.

Jason su Ganteng akan menikah malam ini.
Undangan itu seperti penarik halus yang mengajak saya kembali membuka lembar lama hidup saya di Surabaya.

Pagi-pagi, bahkan sebelum matahari benar-benar naik, saya sudah menghubungi Dr. Inna Widjajanti.
“Ayo tebak, apa yang kita bicarakan?”

Tak perlu waktu lama. Jawabannya pasti satu: makanan.

Pesan Pecel Pandegiling.
Bu Djojo.
Pecel legendaris Surabaya.

Begitulah saya. Setiap kali menginjak Surabaya, ingatan saya selalu berjalan lebih dulu
mencari rasa.

Tahu Campur.
Rujak Cingur.
Lontong Mie.
Bakso.
Opo maneh

Surabaya selalu menyambut dengan lidah, sebelum hati.

Saya lahir jauh dari sini, di Kalabahi, Pulau Alor, NTT.

Tahun 1962 kami pindah ke Kupang, Timor. Lalu pada 1967, hidup membawa kami ke Surabaya.
Kami 10 kakak adik tinggal di Jalan Rangkah Gang VII Nomor 26
kompleks perumahan PELNI.

Di situlah cerita panjang itu benar-benar dimulai.
Ayah saya adalah karyawan PELNI. Dari Kepala Cabang PELNI Kalabahi, naik menjadi pengawas inspektorat, hingga akhirnya Kepala Cabang PELNI Surabaya.
Ayah bukan orang besar.
Ia bukan pejabat negara. Tapi ia adalah bagian dari sebuah institusi besar yang memberi makna mendalam bagi hidup kami:
PT Pelayaran Nasional Indonesia—PELNI.

PELNI lahir pada 28 April 1952. Ia dibentuk untuk mengambil alih aset pelayaran Belanda, khususnya Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM)
perusahaan pelayaran terbesar dan terkaya di dunia pada masanya. KPM adalah simbol kekuatan maritim kolonial. Ketika Indonesia mengambil alih, itu bukan sekadar bisnis; itu pernyataan kedaulatan.
PELNI menjadi tulang punggung konektivitas Nusantara. Kapal-kapalnya menghubungkan pulau ke pulau, kota ke kota, manusia ke harapan.
Di masa itu, PELNI bukan hanya BUMN. Ia adalah negara yang berlayar.
Saya menyaksikan sendiri sisa-sisa kejayaannya. Perumahan PELNI tersebar di Senopati, Gajah Mada, Petamburan, Comanggis, hingga
Tugu. Rumah-rumah dinas itu bukan sekadar bangunan; ia adalah simbol jaminan hidup. Ayah saya karyawan kecil, tapi hidup kami dijamin. Pendidikan anak-anaknya dipastikan. Kami bisa sekolah sampai selesai.
Karena PELNI, saya dan saudara saudara saya bisa bermimpi.
Saya bersekolah
di SD Kalianyar II, Jalan Kusuma Bangsa dekat THR
Saya satu almamater dengan Bapak Try Sutrisno dan bapak JP Soetadi

Lalu SMP Negeri IX jalan Kapas Krampung
Putro Agung.

SMA Katolik Frateran Kepanjen.
Wow.
Temannya banyak sekali.

Surabaya mengajarkan saya tentang pertemanan. Tentang keberagaman. Tentang hidup bersama dalam perbedaan.

Dari gang sempit hingga aula sekolah, dari lapangan hingga kantin, semua menyisakan jejak yang tak terhapus.

Ada pepatah yang mengatakan:
Hidup dengan satu sahabat ibarat emas.
Hidup dengan dua sahabat ibarat berlian.
Lalu bagaimana dengan hidup bersama lebih dari seratus sahabat?
Itulah tahta berlian permata

Surabaya memberi saya itu.

Persahabatan yang tidak selalu dekat secara jarak, tapi hangat secara batin.

Persahabatan yang tetap hidup meski waktu memisahkan, meski rambut memutih dan langkah melambat.

Kini saya kembali.
Kota ini berubah. Gedung menjulang, jalan melebar, ritme makin cepat.

Namun Surabaya yang saya kenal masih ada
di sudut rasa, di logat bicara, di semangkuk bakso dan pecel pagi hari.
Saya berjalan meniti waktu.

Bukan untuk kembali menjadi anak kecil di Rangkah Gang VII,
Kenangan
Jalan Rangkah Gang VII
Pusat Ludruk Gema Tri Brata dan tempat lahirnya Srimulat
Ada
Mas Mardjanu
Mas Teguh
Mbak Djudju

Juga untuk mengucapkan terima kasih. Kepada kota ini.

Kepada perusahaan PELNI.
Kepada ayah tercinta
saya.
Kepada sahabat sahabat yang membentuk saya.
Kepada keluarga besar saya

Surabaya tidak pernah benar-benar saya tinggalkan.

Surabaya tinggal di dalam diri dan hati saya,
tenang, setia, dan selalu siap
menyambut pulang.

Terima kasih.

Www.adharta.com

Www.kris.or.id

Nasib atau Takdir

Cerpen Nomor 0045

Nasib atau Takdir

Oleh: Adharta
Ketua Umum KRIS

Komunitas Relawan Indonesia Sehat

Jakarta, 30 Januari 2026

Besok pagi aku akan terbang ke Surabaya. Seperti biasa, sebelum perjalanan jauh, pikiranku selalu dipenuhi potongan potongan kenangan yang datang tanpa diundang.

Pagi ini, sambil menyeruput kopi yang mulai dingin, aku sempat mengirimkan ucapan selamat ulang tahun kepada seorang sahabat lama:

Bapak Hermes Thamrin.

Beliau bukan sekadar sahabat.

Dalam banyak hal, ia lebih mirip seorang kakak
tempat berbagi cerita, kegagalan, keberhasilan, dan tawa yang jujur.

Dunia mengenalnya sebagai tokoh besar di bidang komunikasi. Siapa yang tak mengenal Nokia dengan slogannya “Connecting People”?
Atau Global Teleskop, Hotel Hermes, Mall Hermes
nama-nama yang kini menjadi simbol kesuksesan.
Namun bagiku, Hermes bukanlah sekadar deretan pencapaian.

Ia adalah kisah tentang perjuangan.
Aku masih ingat bagaimana ia bercerita dengan mata berbinar tentang masa-masa awal menjual Hazeline Snow Cream, krim wajah yang sederhana, yang entah mengapa selalu menjadi krim favoritku.

Dari cerita-cerita itulah aku belajar bahwa kesuksesan tidak pernah berdiri sendiri.
Kesuksesan sering kali berjalan berdampingan dengan sesuatu yang disebut orang sebagai nasib baik.

Tapi benarkah nasib baik berdiri sendiri? Atau ia hanya bagian dari sesuatu yang lebih besar
yang kita sebut takdir?

Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku.
Kita semua dilahirkan dengan kondisi yang berbeda-beda. Ada yang lahir di Indonesia, ada yang di negeri orang.

Ada yang terlahir sebagai keturunan Tionghoa, Jawa, Batak, atau Minang. Ada yang lahir dari keluarga sederhana, ada pula yang sejak membuka mata sudah dikelilingi kemewahan.

Ada yang terlahir sebagai anak jenderal, anak raja, anak tokoh besar.

Semua itu bukan pilihan. Itulah takdir
sesuatu yang tidak bisa kita ubah.

Takdir adalah garis awal kehidupan.
Kita tidak pernah memilih di mana kita dilahirkan, kepada siapa kita dilahirkan, atau dalam kondisi apa kita memulai hidup.
Jika takdir seseorang adalah lahir dalam keluarga berada, sering kali nasib akan mengikutinya.

Begitu pula dengan umur, kesehatan dasar, dan banyak hal lain yang terasa begitu dekat dengan takdir. Namun hidup tidak berhenti di garis awal.

Ada perjalanan panjang setelahnya.
Di sinilah nasib mulai bekerja.
Nasib bukan tentang dari mana kita berasal, melainkan tentang apa yang terjadi dalam perjalanan hidup. Nasib bisa berubah
naik atau turun
tergantung pilihan, sikap, dan mungkin… sesuatu yang tak kasatmata.

Coba dengar lagu Hokkian

Ai pia cai e yaa

Aku teringat sahabatku yang lain, Herman.

Di antara teman-teman, Herman dikenal sebagai orang yang “bernasib mujur.”

Julukannya bahkan lebih ekstrem
si Tangan Emas. Apa pun yang disentuhnya seolah berubah menjadi keberhasilan. Tanpa banyak usaha, tanpa ambisi berlebihan, peluang datang sendiri kepadanya.

Bahkan ketika ia duduk manis, rezeki seperti tahu jalan pulang.

Suatu hari, Herman bercerita tentang sebuah keluarga miskin di wilayah timur Surabaya. Mereka memiliki sebidang tanah cukup luas, sekitar lima ratus meter persegi. Karena kesulitan ekonomi, tanah itu terpaksa dijual.
Tak ada yang berminat. Lokasinya terpencil, tak bernilai, dan dianggap tak punya masa depan.
Herman membeli tanah itu bukan karena melihat peluang. Ia membantu semampunya. Baginya, uang itu lebih sebagai uluran tangan daripada investasi.

Tanah itu pun dibiarkan begitu saja, tanpa rencana, tanpa harapan.
Sepuluh tahun berlalu.
Daerah itu tiba-tiba masuk dalam rencana pembebasan lahan.
Letaknya ternyata sangat strategis. Herman dipanggil, diajak berdiskusi, dan ditawarkan skema barter: tanah lima ratus meter miliknya ditukar dengan lima ribu meter persegi di tepi kawasan pengembangan.

Belum lama berselang, kabar lain datang. Akan dibangun sebuah jembatan besar. Dan entah bagaimana, tanah Herman berada tepat di ujung pusat jembatan itu
lokasi emas yang nilainya melonjak berkali-kali lipat.

Herman hanya tersenyum saat bercerita. Seolah semua itu hal biasa.
Keberuntungan itu tidak berhenti di sana.

Ia memiliki seorang istri yang cantik, setia, dan anak-anak yang baik, santun, serta membanggakan.

Hidupnya terasa utuh.
Lengkap.
“Aku juga tidak tahu kenapa bisa begini,” katanya suatu kali.
“Mungkin karena dulu aku sering menolong tanpa berharap kembali.”
Herman dikenal sebagai orang sosial.
Ia ringan tangan, tidak perhitungan, dan selalu hadir saat orang lain membutuhkan.

Ia percaya bahwa hidup bukan sekadar tentang mengumpulkan, tetapi juga tentang memberi.

Aku pun merenung.
Mungkin di situlah titik temu antara takdir dan nasib.

Takdir adalah panggung, nasib adalah alur cerita.
Dan di atas keduanya, ada sesuatu yang lebih halus namun kuat yakni
karma.
Karma bukan hukuman, bukan pula hadiah instan.
Ia adalah akumulasi dari niat baik, perbuatan tulus, dan empati yang ditanam tanpa pamrih.

Karma bekerja pelan, diam-diam, sering kali melintasi waktu dan logika.

Nasib Herman baik. Takdirnya pun baik. Tapi yang membuat keduanya bertemu dan saling menguatkan adalah karma baik
buah dari hidup yang dijalani dengan hati.
Mungkin benar, kita tidak bisa memilih takdir. Tapi kita selalu bisa memilih bagaimana menjalani hidup. Dan dari sanalah nasib dibentuk, serta karma ditanam.

Besok pagi, pesawatku akan membawaku dan istri Lena ke Surabaya.
Pertama mau menghadiri perkawinan Jason putra Dr Juli
Besok malam
Kedua udah janjian dengan teman teman KRIS mau makan Pecel Pandegiling dengan Dokter Inna Widjaja nti dan kawan kawan

Tapi pikiranku hari ini sudah lebih dulu terbang
menyusuri kisah, persahabatan, dan pelajaran hidup.

Tidak lupa
Selamat ulang tahun, Bapak Hermes Thamrin.

Salam dan doa terbaikku untuk Bapak dan ibu Jane serta
seluruh keluarga.

Semoga nasib baik selalu berjalan seiring dengan takdir yang indah, dipandu oleh karma yang penuh kebaikan.
Karena pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang ke mana kita ditakdirkan lahir, tetapi tentang jejak apa yang kita tinggalkan di sepanjang jalan.

Www.adharta.com

Www.kris.or.id

Ekonomi Indonesia Saat Ini Pemikiran dan pandangan

Ekonomi Indonesia Saat Ini
Pemikiran dan pandangan

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Komunitas Relawan Indonesia
Sehat

Jakarta
27 Januari 2026

I. Hasil pemantauan selama 3 Bulan khususnya di Jakarta

GambaraSituasi Ekonomi Indonesia Saat Ini

Pertama
Pertumbuhan Ekonomi Makro Tumbuh sangat minim akan tetapi tidak “Kuat”

Data resmi menunjukkan ekonomi Indonesia masih tumbuh positif dengan angka di kisaran ± 5 % pada 2025.

Pemerintah bahkan menargetkan
5,4 % untuk 2026.

Pertumbuhan ini ditopang oleh:
konsumsi rumah tangga,
investasi pemerintah dan swasta,
kinerja ekspor-impor.

Namun lembaga independen seperti CORE memperkirakan bahwa pertumbuhan 2026 bisa hanya di 4.9 % – 5.1 %, sedikit lebih rendah dari target pemerintah dan tidak menunjukkan akselerasi yang kuat.

Intinya:
Secara makro terlihat tumbuh, tetapi perlambatan sektor aktivitas riil terasa di masyarakat.

Kedua
Kinerja Konsumsi dan Aktivitas Usaha Lesu
Indikator riil menunjukkan:
mall, pasar, toko pakaian, peralatan elektronik, dan restoran tampak sepi
banyak warung makan, kantin, dan pedagang kecil mengalami penurunan bahkan sampai di tutup (Hal ini kami alami sendiri dalam grup usaha)

pendapatan;
penurunan mobilitas konsumsi terutama di kelas menengah dan menengah-atas.

Ini sering menjadi sinyal menurunnya daya beli secara luas.
Meskipun data BPS menunjukkan konsumsi masih berkontribusi besar terhadap PDB, tren pertumbuhan konsumsi tidak setinggi periode sebelumnya sehingga suasana sendu terasa oleh pelaku usaha mikro.
Kesulitan ini dihadapi langsung oleh pengusaha

Kesimpulan: Pertumbuhan ekonomi makro belum tercermin secara proporsional ke aktivitas ekonomi harian di sektor perdagangan, jasa, dan retail.

Ketiga
Industri dan Sektor Riil
Ada Kontradiksi
Sektor industri manufaktur masih menunjukkan ekspansi dengan PMI di atas level netral 50, meskipun laju pertumbuhan melambat.

Namun, perasaan pelaku usaha di sektor perdagangan, penerbangan, hotel, dan perkapalan menunjukkan
permintaan turun,
utilisasi kapasitas rendah,
bisnis berjalan di bawah kapasitas.

Ini berkaitan erat dengan turunnya konsumsi masyarakat.

Ekspor, Impor & Perdagangan Internasional

  1. Neraca |Perdagangan Masih Surplus

Data BPS terakhir menunjukkan surplus neraca perdagangan Indonesia cukup kuat selama Januari-November 2025, terutama pada sektor non-migas.
Badan Pusat Statistik Indonesia

Perincian
Ekspor non-migas meningkat ±14 % terutama dari produk manufaktur dan komoditas seperti CPO, besi & baja, dan produk mineral.

Impor naik moderat sekitar ±4 % dengan dominasi barang modal (kapital goods).

Badan Pusat Statistik Indonesia
Perdagangan luar negeri Indonesia masih menjadi pendukung pertumbuhan ekonomi, bukan penalti.

  1. Tantangan di Ekspor Global

Proyeksi terakhir menunjukkan:
pertumbuhan ekspor masih menghadapi tekanan dari dinamika permintaan global.

Sementara permintaan global belum sepenuhnya kuat, ekspor Indonesia yang berbasis komoditas dan produk manufaktur rendah teknologi masih cukup tergantung pada harga komoditas dan tren global.

Potensi risiko
perlambatan permintaan global 2026-2027,
fragmentasi rantai pasok,
perubahan tarif dan kebijakan perdagangan internasional.

Kenapa Aktivitas Ekonomi Riil Terasa “Makin Memburuk”?

Dari fenomena yang saya amati (mall, pasar, restoran sepi), ada beberapa kemungkinan penyebabnya

  1. Daya Beli Rumah Tangga Menurun

Walaupun secara agregat konsumsi masih tumbuh, kenaikan harga barang pokok tertentu dan tekanan biaya hidup dapat mengurangi konsumsi non-pokok seperti pakaian, elektronik, dan santapan di luar rumah.

Inflasi inti relatif terkendali, tetapi harga pangan volatile tetap membawa beban bagi masyarakat berpendapatan rendah hingga menengah.

Badan Pusat Statistik Indonesia

  1. Ketidakpastian Global dan Kepercayaan Konsumen

Kondisi global yang kurang stabil (bank sentral negara maju menaikkan suku bunga, ketegangan geopolitik, dan perlambatan ekonomi dunia) berdampak pada kepercayaan konsumen dan investor.

  1. Modal Usaha Menyusut dan Kredit Mengendur

Bank dan lembaga keuangan cenderung semakin berhati-hati dalam menyalurkan kredit usaha di masa ketidakpastian terutama kepada UMKM dan usaha kecil.

Ekspektasi Ekonomi 2026–2027

  1. Pertumbuhan Ekonomi

Proyeksi makro menunjukkan:
2026 diperkirakan tumbuh sekitar 5 % ± sedikit di atas atau di bawah angka tersebut.

Bank Dunia memproyeksikan ekonomi RI tumbuh sekitar 5 % tahun 2025-2026, lalu naik sedikit di 2027.

  1. Situasi Ekspor-Impor

Dengan surplus perdagangan yang masih berlanjut, ekspor menjadi penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia, tetapi real growth ekspor menantang di tengah permintaan global yang lemah.
Langkah-Langkah Strategis untuk Menghadapi Kesulitan Ekonomi
Berdasarkan kondisi saat ini dan ekspektasi ke depan, berikut rekomendasi langkah yang dapat diambil oleh pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat

  1. Penguatan Daya Beli dan Konsumsi Domestik

Perlu stimulus yang tepat sasaran bagi rumah tangga berpendapatan rendah dan menengah agar konsumsi tetap bergerak.
Kebijakan fiskal berupa bantuan langsung tunai, insentif pajak bagi UMKM, atau subsidi bersyarat bisa dipertimbangkan.

  1. Revitalisasi UMKM

UMKM adalah tulang punggung ekonomi domestik. Dukungan bisa berupa:
akses kredit yang lebih mudah,
pelatihan digital dan pemasaran online,
basis produksi berbasis lokal.

  1. Perbaikan Iklim Investasi

Untuk menarik investasi:
reformasi birokrasi yang lebih cepat,
kepastian hukum dan perlindungan investor,
insentif sektor manufaktur teknologi tinggi.
Hal ini membantu menambah lapangan kerja dan mendongkrak produktivitas.

  1. Diversifikasi Ekonomi

Kurangi ketergantungan pada ekspor komoditas primer dengan:
hilirisasi industri,
pengembangan manufaktur bernilai tambah,
investasi pada teknologi dan ekonomi digital.

  1. Kebijakan Moneter dan Stabilitas Rupiah

Bank Indonesia perlu menjaga stabilitas nilai tukar dan mendorong kredit produktif tanpa mengorbankan inflasi yang tinggi.
Kebijakan suku bunga harus responsif terhadap tekanan eksternal.

  1. Reformasi Struktural

Reformasi menyeluruh di sektor tenaga kerja, pendidikan, dan infrastruktur akan membantu Indonesia keluar dari stagnasi pertumbuhan jangka panjang.

Sebagai akhir pandangan saya

Situasi ekonomi Indonesia saat ini menunjukkan kontradiksi
Secara makro masih tumbuh, namun aktivitas riil di masyarakat menunjukkan tekanan yang nyata.
Konsumsi menurun, dan pelaku usaha kecil serta sektor jasa berbasis konsumsi merasakan dampaknya. Pertumbuhan masih diproyeksikan positif, tapi tidak cepat dan masih menghadapi risiko global.

Langkah mitigasi yang tepat, sinergi kebijakan fiskal-moneter, serta fokus pada pemberdayaan UMKM dan konsumsi domestik adalah kunci untuk menghadapi tantangan ekonomi 2026-2027.

Ketika Tuhan Mengajari MasKris Cara Berdiri Kembali

Ketika Tuhan Mengajari MasKris Cara Berdiri Kembali

Cerpen nomor 0044

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Jakarta
28 Januari 2026

Saat matahari mulai terbit
Saya menerima beberapa kiriman Berita singkat
Sebagian besar tentang kisah kisah pribadi yanenyentuh hati

Saya suka sekali mendengar kisah kisah tentang suka duka anak anak manusia
Kemudian mau berjuang membantu sesama
Mari bersama KRIS kata sahabatku

Cinta diawal cinta
MasKris tidak pernah menyangka bahwa hidup bisa berubah secepat itu.

Pagi itu hujan turun rintik-rintik, seolah ikut menahan napas.

MasKris duduk lama di ruang tamu rumah kontrakan kecilnya.

Di tangannya, selembar kertas putih dengan cap perusahaan
surat yang mengakhiri delapan belas tahun pengabdiannya.

Tidak ada teriakan.
Tidak ada amarah.
Hanya dada yang terasa kosong, seperti kehilangan sesuatu yang tak bisa digantikan.

Dulu, MasKris adalah orang yang sering berkata,
“Alhamdulillah, hidup saya sudah cukup.”
Gajinya memang tidak besar, tapi cukup.
Istrinya tersenyum. Anak-anaknya sekolah. Ia merasa aman. Terlalu aman, bahkan.

Hingga tanpa disadari, ia mulai lupa menunduk.
Lupa bahwa hidup bisa berubah kapan saja.
Hari demi hari berlalu setelah pemutusan kerja itu.

MasKris mulai menghitung receh.
Ia menjual barang-barang yang dulu dianggap biasa. Telepon genggam. Sepatu kerja. Jam tangan hadiah ulang tahun pernikahan.
Baju baju bekas
Celana panjang
Sepatu Adidas
Ke tukang loak
Untuk bertahan hidup

Setiap barang yang pergi seakan membawa potongan harga dirinya.

Suatu malam, istrinya berkata lirih, hampir berbisik,
“Mas… beras tinggal segenggam.”

MasKris mengangguk.
Ia masuk kamar mandi, mengunci pintu, dan untuk pertama kalinya menangis tanpa suara.

Air matanya jatuh bercampur air keran.
Ia menatap wajahnya di cermin
wajah seorang laki-laki yang merasa gagal.

Malam itu MasKris keluar rumah.
Ia berjalan tanpa tujuan, hanya mengikuti langkah kaki yang berat.

Hingga akhirnya ia berhenti di sebuah mushala kecil di sudut gang.
Lampunya redup.
Sepi.
Hanya ada seorang lelaki tua yang sedang duduk bersila, berzikir perlahan.

MasKris duduk di pojok. Dadanya sesak. Ia merasa rendah.
Merasa kalah oleh hidup.

Di dinding mushala itu, ada tulisan sederhana yang dicetak di kertas kuning pucat

Allah mempergilirkan kondisi manusia sesuai kehendak-Nya.

Ketika di atas, janganlah sombong karena tidak selamanya kita akan di sana.
Ketika di bawah, jangan terlampau bersedih karena tidak selamanya kita akan di bawah terus.

Jadikan syukur dan sabar dua sikap yang terus kita pegang.

MasKris membacanya berulang kali.

Entah kenapa, kalimat itu seperti berbicara langsung kepadanya. Bukan menghakimi.

Bukan menyalahkan. Tapi memeluk.
Untuk pertama kalinya sejak lama,
MasKris tidak bertanya, “Kenapa aku?”

Ia hanya berbisik pelan,
“Ya Allah… aku ingin belajar bersabar.”

Hidup MasKris tidak langsung berubah.
Pagi tetap datang dengan kecemasan. Malam tetap dipenuhi doa yang panjang.
Ia bekerja serabutan
mengangkat barang di pasar, membersihkan halaman orang, mengantar tetangga yang sakit.

Upahnya kecil. Tapi setiap kali pulang, ada rasa yang berbeda ia masih berguna.

Suatu sore, MasKris melihat seorang ibu tua terjatuh di depan warung.
Tanpa pikir panjang, ia membantu, mengantar ke rumah, membelikan obat dengan uang terakhir di sakunya.

Malam itu, ia pulang tanpa uang. Tapi hatinya hangat.
Di situlah MasKris mulai menyadari satu hal yang dulu tak pernah ia pahami

Saat kita berada di bawah, Allah justru mengajarkan kita melihat hidup lebih jernih.

Ia mulai bersyukur atas hal-hal kecil. Nasi hangat meski sederhana.

Tawa anak-anak meski tanpa mainan baru. Tidur nyenyak meski tanpa pendingin ruangan.

Ia belajar sabar
bukan karena terpaksa, tetapi karena percaya bahwa hidup ini sedang digilir.

Suatu hari, MasKris melihat sekelompok orang berbagi makanan gratis dan layanan kesehatan di lapangan kecil dekat rumahnya.
Ada spanduk bertulisan KRIS
Komunitas Relawan Indonesia Sehat
Ibu ibu dan bapak bapaknya sungguh berwajah ceria
Penuh suka cita

Mereka datang spanduk dengan spanduk kecil tapi bisa dibaca jelas
Tanpa sorotan kamera.
Mereka bekerja dalam diam, dengan senyum yang tulus.

MasKris bertanya,
“Ini kegiatan apa?”
Seorang di antara mereka menjawab,
“Kami dari KRIS. Komunitas Relawan Indonesia Sehat.

Kami ingin hidup yang lebih bermakna.”

Kata bermakna menggema di kepala MasKris sepanjang malam.

Ia mulai ikut membantu. Mengatur antrean. Mengangkat galon. Menemani lansia.
Tidak dibayar. Tidak dipuji. Tapi setiap pulang, MasKris merasa dadanya ringan.

Ia merasa hidupnya kembali bernapas.
Beberapa bulan berlalu.
Hidup MasKris belum mapan. Ia belum kembali “di atas”.
Tapi ia tidak lagi merasa kecil.
Ia menemukan sesuatu yang lebih berharga dari sekadar pekerjaan: tujuan.

Pada suatu sore, MasKris berdiri di tengah kegiatan KRIS. Ia melihat wajah-wajah lelah yang bahagia.

Orang-orang yang dulu tak ia kenal, kini terasa seperti keluarga.
Dengan suara bergetar tapi mantap, ia berkata,
“Aku ingin bergabung.

Aku ingin hidupku tidak hanya untuk diriku sendiri.”
Hari itu, MasKris resmi menjadi bagian dari KRIS.
Ia mengerti kini
Allah mempergilirkan hidup bukan untuk menghancurkan,
melainkan untuk mendidik hati.

Agar saat di atas, kita tidak lupa bersyukur.
Agar saat di bawah, kita tidak kehilangan harapan.

Agar kita tahu bahwa sukacita sejati lahir ketika kita mau menolong sesama.
MasKris tersenyum.

Ia belum sampai.
Tapi ia sudah berjalan di jalan yang benar.

Dan itu cukup
untuk hari ini, dan untuk hidup yang lebih baik.

MasKris sekarang menjadi sopir GO-JEK dan beberapa bulan kemudian dia sudah memiliki dan mengoperasikan 4 motor
Sedangkan MasKris sendiri menjadi Sopir tembakan atau panggilan
Atau asisten pribadi
Istrinya menjadi ART di sebuah rumah besar
Walau tidak berpenghasilan besar tapi sudah lebih dari cukup

MasKris menjadi iKON di para tetangga karena ringan tangan membantu sesama
Menjadi Relawan Tangguh tanpa pamrih

Www.adharta.com

Www.kris.or.id

MARI MELANGKAH AWAL UNTUK INDONESIA SEHAT

Mari Melangkah
LANGKAH AWAL UNTUK INDONESIA SEHAT

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Salam sehat
Buat semua Sahabatku dan segenap keluarga

KRIS
Komunitas Relawan Indonesia Sehat

Akhir Januari 2026

Saudaraku
Satu hati
Satu jiwa
Satu tujuan kita
Indonesia sehat

Seluruh anggota KRIS Komunitas Relawan Indonesia Sehat, dan keluarga
di mana pun berada,
dari Sabang sampai Merauke,
dari Miangas hingga Pulau Rote.

Izinkan dan perkenankan saya menyapa Anda semua, beserta keluarga tercinta, dengan rasa hormat, kasih, dan harapan yang besar.

Pada akhir Januari 2026 ini, kita berdiri di sebuah titik awal.
Bukan titik yang kecil.
Bukan pula titik yang biasa.
Melainkan sebuah titik yang menentukan arah langkah kita ke depan
sebagai relawan, sebagai warga bangsa, dan sebagai orang tua serta kakek-nenek bagi generasi masa depan Indonesia.

Ada sebuah pepatah Tiongkok yang ditulis oleh Gong Fu Tse (Kongzi / Confucius)
yang mengatakan:
“Jika engkau ingin menempuh seribu langkah,
maka engkau harus memulai dengan satu langkah awal.”

Pepatah ini sederhana, namun sarat makna.
Tidak ada perjalanan besar yang dimulai dengan keraguan.
Tidak ada perubahan yang lahir dari diam.
Dan tidak ada masa depan yang sehat tanpa keberanian untuk melangkah lebih dulu.

Hari ini, kita memilih langkah pertama itu.
Mengapa Kita Harus Bangkit Bersama

Saudara-saudari
Sahabatku
yang saya muliakan,

Kita hidup di masa yang penuh tantangan.
Kemajuan teknologi melaju cepat, tetapi kesadaran hidup sehat sering tertinggal.

Informasi berlimpah, namun edukasi kesehatan yang benar belum merata.

Fasilitas kesehatan berkembang, tetapi pencegahan masih kalah perhatian dibandingkan pengobatan.
Padahal kita semua tahu,
bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang pintar,
tetapi bangsa yang sehat jasmani, sehat rohani, dan sehat pola pikirnya.

KRIS hadir bukan untuk menggantikan siapa pun.
Bukan untuk menggurui.

Bukan untuk menghakimi.
KRIS hadir untuk mengajak, mendampingi, dan menumbuhkan kesadaran.

Karena kesehatan bukan semata urusan rumah sakit.
Kesehatan dimulai dari rumah.

Dari dapur.
Dari cara kita mendidik anak.
Dari kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari.

Edukasi Preventif dan Promotif:

Pondasi Bangsa
Fokus utama gerakan kita adalah edukasi preventif dan promotif kesehatan.

Preventif berarti mencegah sebelum sakit.

Promotif berarti mendorong dan memelihara hidup sehat secara berkelanjutan.

Inilah pondasi yang sering dilupakan, tetapi justru paling menentukan.
Bayangkan jika setiap keluarga Indonesia:
Memahami pentingnya gizi seimbang
Mengerti makna kebersihan dan sanitasi
Menyadari pentingnya aktivitas fisik
Cerdas memilah informasi kesehatan
Memiliki kesadaran kesehatan mental dan emosional
Maka beban bangsa ini akan jauh lebih ringan.

Biaya kesehatan akan berkurang.
Produktivitas akan meningkat.
Dan yang terpenting: kualitas hidup akan naik secara bermartabat.

Inilah warisan terbaik yang bisa kita berikan
bukan hanya kepada anak-anak kita,
tetapi juga kepada cucu-cucu kita

di Indonesia Emas 2045.
KRIS Adalah Gerakan Hati Nurani

Saudara-saudari
Sahabat
relawan,
KRIS bukan sekadar organisasi.
KRIS adalah gerakan hati Nurani

Gerakan orang-orang biasa
yang memiliki kepedulian luar biasa.
Tidak semua dari kita adalah tenaga medis.

Tidak semua dari kita adalah akademisi.
Namun semua dari kita adalah manusia yang peduli.

Dan kepedulian, bila digerakkan bersama,
akan menjadi kekuatan yang dahsyat.

Melalui KRIS, kita belajar bahwa:
Setiap orang bisa berkontribusi
Setiap langkah kecil memiliki arti
Setiap daerah punya peran penting
Baik di kota besar maupun pelosok desa,
di lingkungan RT, RW, sekolah, tempat ibadah,
komunitas lokal, hingga keluarga sendiri.

Ajakan untuk Seluruh Anggota dan Keluarga
Hari ini, dengan penuh kerendahan hati,
saya mengajak seluruh anggota KRIS di seluruh Indonesia,
beserta keluarga masing-masing:
Mari kita bangkit.
Bukan dengan amarah.
Bukan dengan ego.
Tetapi dengan kesadaran dan kasih.

Mari kita mulai dari diri sendiri.
Dari rumah kita sendiri.
Dari kebiasaan kecil yang konsisten.
Mari kita menjadi contoh,
bukan sekadar penonton.

Mari kita ajak lingkungan sekitar
dengan bahasa yang ramah,
dengan teladan yang nyata,
dengan ketulusan yang terasa.
Karena perubahan sejati
tidak lahir dari paksaan,
tetapi dari inspirasi.
Langkah Kecil Hari Ini, Dampak Besar Esok Hari

Saudara-saudari sahabatku terkasih
yang saya banggakan,
Jangan pernah merasa langkah Anda terlalu kecil.
Jangan pernah merasa kontribusi Anda tidak berarti.

Satu keluarga yang sadar kesehatan
adalah satu benteng bangsa.
Satu anak yang tumbuh sehat
adalah satu harapan masa depan.

Satu relawan yang bergerak
adalah satu cahaya di lingkungannya.
Bila hari ini kita melangkah satu langkah,
besok akan ada dua langkah.
Lusa akan menjadi sepuluh langkah

Dan suatu hari, seribu langkah itu akan terjangkau.

Sahabatku
Tercinta
Untuk Indonesia yang Kita Cintai
Akhir kata,
atas nama
KRIS
Komunitas Relawan Indonesia Sehat,

saya mengajak kita semua untuk terus menjaga api semangat ini.
Semangat melayani tanpa pamrih.

Semangat belajar tanpa henti.
Semangat berkontribusi untuk bangsa dan negara tercinta,
Sejak masa kanak kanak hingga dewasa
Untuk Indonesia.

Semoga langkah awal di akhir Januari 2026 ini
menjadi awal dari perjalanan panjang
menuju Indonesia yang lebih sehat, lebih kuat, dan lebih bermartabat.

Dari kita, oleh kita, untuk Indonesia.
Dari langkah kecil hari ini, menuju Indonesia Emas 2045.

Terima kasih.
Salam sehat.

Salam relawan.
Salam Indonesia Sehat. 🇮🇩

Adharta

Adharta

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Hujan Banjir dan Cinta serta Air Mata

Cerpen no. 0043

Oleh: Adharta
Ketua Umum
KRIS

Jakarta, Kamis, 22 Januari 2026

Sahabatku, malam bergeser perlahan menuju subuh. Langit masih gelap, berat oleh awan yang belum selesai menumpahkan airnya. Ayam belum berkokok. Kota belum sepenuhnya terjaga. Namun di antara jarum jam yang bergerak pelan, ada kegelisahan yang tak bisa ditunda.

Aku terjaga. Di layar ponsel, suaraku menyeberangi laut—menuju Kapal LCT IRIS yang berlayar tanpa muatan dari Samarinda ke Jakarta. Sebuah perjalanan pulang yang seharusnya tenang, tetapi malam itu laut menolak bersahabat. Cuaca ekstrem memaksa kapal berjuang menghadapi ombak tinggi, angin kencang, hujan yang turun seperti tirai tanpa jeda. Badai datang bergulung, memukul lambung kapal dengan kekuatan alam yang tak bisa ditawar.

Dalam hati, aku membayangkan wajah-wajah yang kukenal satu per satu. Kapten kapal. Para perwira. Seluruh anak buah kapal. Mereka bukan sekadar kru. Mereka adalah ayah yang ingin pulang, suami yang dirindukan, anak yang menjadi harapan orang tua. Di lautan luas pagi telah datang. Di sanalah aku berdoa, doa seorang yang paham bahwa laut tak pernah bisa dijinakkan, hanya dihormati.

Kami mencari makan di laut dengan segala perjuangan. Demi keluarga. Demi bangsa. Demi negeri.

Kapal-kapal kami, seperti LCT IRIS, adalah nadi yang menghubungkan pulau dengan pulau, membawa mesin, alat berat, dan harapan pembangunan. Dari tambang di pelosok hingga jantung kota, semuanya bergantung pada keberanian manusia melawan alam, menembus ombak dan gelombang tinggi.

Dalam kegelapan malam, suara Kapten terdengar melalui sambungan yang terputus-putus. Tenang, tetapi sarat beban. Ia meminta izin dan restu. Kapal tidak bisa melanjutkan pelayaran. Cuaca terlalu berbahaya. Satu-satunya pilihan adalah berlindung di Kepulauan Masalembo, di utara Pulau Jawa. Kondisi saat itu, jarak 50 km ditempuh sekitar 10 jam. Hatiku runtuh perlahan. Sedih. Bukan karena perjalanan tertunda, melainkan karena aku tahu keputusan itu lahir dari pertarungan batin seorang Kapten yang memikul tanggung jawab nyawa banyak orang. Dengan suara yang kutahan agar tetap tegar, aku memberi restu. Berlindunglah. Ambil sikap aman. Shelter bukan tanda menyerah, melainkan tanda cinta pada kehidupan.

Kami berbicara singkat tentang cuaca. Sebagai pelaut, kami tidak diajarkan takut pada ombak, angin, hujan, atau badai. Tetapi kami selalu diajarkan satu hal keselamatan adalah hukum tertinggi. Tuhan tidak pernah menjanjikan cuaca yang selalu baik di laut Tidak pernah menjanjikan laut tanpa gelombang. Tetapi Tuhan menjanjikan pelabuhan tujuan yang indah. Dan kebahagiaan sejati awak kapal adalah tiba dengan selamat.

Telepon belum sempat kututup ketika pesan-pesan mulai masuk. Banyak. Bertubi-tubi. Dari darat.

Jakarta. Kota ini sedang tenggelam. Banjir telah melanda sejak hari-hari sebelumnya, tetapi hari ini air naik lebih tinggi, lebih cepat, lebih kejam.

Sekolah-sekolah meliburkan murid. Mereka menerapkan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Sebagian perusahaan memutuskan untuk work from home (wfh). Pabrik-pabrik menutup gerbang. Jalan-jalan utama berubah menjadi sungai keruh yang membawa lumpur, barang-barang rumah tangga, dan kadang kenangan. Menjelang subuh, laporan datang dari berbagai penjuru kota. Warga mulai mengungsi. Akses keluar masuk ditutup.

Di beberapa titik, air mencapai lebih dari satu meter. Aku belum bisa memejamkan mata. Bukan karena kopi atau lelah, tetapi karena nurani menolak diam.

Seorang ibu bernama Sari mengirim pesan suara. Tangisnya tertahan. Air sudah setinggi dada. Ia menggendong anak bungsunya, sementara dua anak lain berdiri di atas meja. Suaminya belum bisa pulang.

“Kami hanya bisa berdoa,” katanya. Doa itu terdengar rapuh, tetapi justru di sanalah kekuatannya. Di tempat lain, Pak Rahmat, buruh harian, duduk di atap rumahnya. Sepeda motor yang menjadi sumber penghidupannya hanyut. Semua peralatan kerjanya lenyap. Banjir tidak hanya merendam rumah, tetapi juga harapan. Ia tidak menangis. Mungkin karena air sudah terlalu banyak.

Pagi itu, kabar yang paling menusuk datang dari dua orang yang sangat kukenal. Bapak Endang Siaman, sopir pribadi saya, dan Bapak Wahyudin, sopir keluarga rumah.

Dua sopirku. Dua kepala keluarga. Dua orang sederhana yang setiap hari mengantar dengan kesetiaan, tanpa banyak bicara. Rumah mereka terendam lebih dari satu meter. Bapak Endang mengirim foto. Ruang tamu yang biasa rapi berubah menjadi kolam. Lemari kayu terendam. Kasur mengapung. Ia berdiri di sudut rumah, air setinggi dada, memeluk anaknya yang ketakutan. “Kami sudah naik ke loteng, Pak,” tulisnya singkat. Tidak ada keluhan. Tidak ada tuntutan. Hanya laporan. Bapak Wahyudin lebih lirih. Ia mengabarkan bahwa istrinya menangis sejak subuh. Surat-surat penting, buku sekolah anak, dan sebagian perabot tak sempat diselamatkan. “Saya tidak apa-apa, Pak,” katanya. Kalimat itu justru membuat dadaku sesak. Karena aku tahu, kalimat itu sering diucapkan oleh orang-orang yang paling menderita.

Di tengah banjir dan hujan, air mata jatuh tanpa suara.

KRIS (Komunitas Relawan Indonesia Sehat)

KRIS tidak boleh diam. Ini bukan sekadar organisasi. Ini adalah keluarga nurani. Kami bergerak. Menghubungi relawan. Menghubungi donatur. Membuka dompet bencana banjir Jakarta. Dompet yang dibuka bukan karena kelimpahan, tetapi karena kepedulian.

Relawan turun ke lapangan dengan jas hujan lusuh dan sepatu terendam. Mereka mengevakuasi lansia. Menggendong anak-anak. Menenangkan ibu-ibu yang panik. Mereka bekerja tanpa pamrih, tanpa kamera, tanpa janji. Di tengah cuaca buruk, mereka adalah cahaya kecil yang bertahan.

Seorang relawan muda menyelamatkan nenek Aminah yang menolak dievakuasi tanpa kucingnya. Kisah seorang relawan perempuan jatuh sakit karena kelelahan, tetapi tetap kembali ke lokasi pengungsian. “Kalau bukan kita, siapa lagi?” katanya.

Malam itu, laut bergelora dan kota terendam oleh lautan air. Dua dunia yang berbeda, tetapi disatukan oleh satu hal yakni cinta yang diuji.

Kapal LCT IRIS menunggu cuaca bersahabat. Jakarta menunggu air surut. Di antara keduanya, ada doa, ada air mata, ada tangan-tangan yang saling menggenggam.

Aku menutup hari dengan doa. Untuk awak kapal di laut. Untuk warga di darat. Untuk Bapak Endang dan Bapak Wahyudin. Untuk para relawan. Karena di balik hujan dan banjir, selalu ada cinta yang bekerja diam-diam menjaga bangsa ini agar tidak tenggelam oleh putus asa.

Dan aku percaya, seperti kapal yang akan tiba di pelabuhan tujuan yang indah, kita semua akan sampai. Dengan luka, dengan lelah, tetapi dengan hati yang tetap utuh dalam Cinta dan Bahagia.

Semoga Jakarta dilindungi oleh Tuhan yang Maha Kuasa dibebaskan dan dikurangkan penderitaan para korban banjir, serta diberi perlindungan keselamatan

Www.kris.or.id

Kisah Keluarga

Oleh: Adharta
Ketua Umum
KRIS

Kisah keluarga ini belum lengkap karena tidak menceritakan anak cucu. Ini lebih cerita tentang kakak adik, dengan harapan mungkin di kemudian hari bisa dibuat buku, termasuk anak, cucu dan cicit. Semoga.

Sahabatku yang terkasih,

Di dunia yang begitu luas dan penuh hiruk-pikuk, satu tempat yang tak pernah berubah adalah keluarga. Dan bagi saya, keluarga adalah anugerah terbesar yang Tuhan berikan.

Kami sepuluh bersaudara, 5 laki-laki dan 5 perempuan. Kami hidup dalam suasana sederhana, damai, dan penuh kasih. Masing-masing dari kami punya cerita, pergumulan, pasang surut hidup, dan keunikan sendiri, namun tetap terikat oleh satu hal: cinta keluarga yang tidak pernah putus.

Akar Cerita: Papa dan Mama

Kisah kami tidak akan pernah ada dan bisa dimulai tanpa menceritakan dua sosok yang menjadi fondasi kehidupan kami: Papa dan Mama.

Papa, Johnny Ongko (Ong Soei Ping) lahir dan besar di Fuzhou, Tiongkok. Hidupnya penuh perjuangan sejak muda. Beliau ikut kakek merantau ke Indonesia dan akhirnya bekerja di PELNI. Dari Surabaya hingga pulau-pulau kecil di timur Indonesia, Papa hidup bersama laut. Ombak, angin, dan pelabuhan menjadi sahabatnya. Beliau penyayang, tegas, dan memiliki ketekunan yang luar biasa. Tuhan memberinya umur panjang, 95 tahun dan di sepanjang hidupnya, Papa tak pernah kehilangan kerendahan hati.

Mama, Magdalena (Tjia Soei Tju), sosok perempuan lembut namun kuat. Beliau mengasuh kami dengan kasih yang tak terhingga. Beliau mendidik kami untuk saling mengasihi, saling menjaga, dan tidak meninggalkan satu sama lain. Hobinya masak-memasak: Mie rebus, lumpia, kue perut ayam, bubur asin. Semua masak sendiri. Tangannya dingin. Selain menjahit, mama juga membuat makanan dan kue. Sejak kecil, kami belajar bikin kue kering dan jualan kue. Mama meninggalkan kami di usia 73 tahun, namun kasihnya tetap mengalir dalam darah kami sampai hari ini.

Kalabahi, Alor

Kami semua lahir di Kalabahi, Pulau Alor, NTT. Dari situlah semua kisah ini lahir. Di sana Papa pernah menjadi Kepala PELNI.

Pulau kecil itu, dengan angin asin laut dan debur ombak yang lembut, adalah saksi bisu dari masa-masa awal keluarga kami. Kenangan kami bertebaran di sana. Tawa, tangis, bercanda, sesekali kenalan anak kecil, menyanyi Bolelebo dan Mai Fali. Lagu kebanggan orang-orang NTT. Semua kebersamaan dan mimpi-mimpi kecil kami. Di Alor, kami hidup dalam ketercukupan, bukan kemewahan. Namun justru dari situlah tumbuh rasa syukur, kemandirian, dan semangat untuk selalu berjuang.

Mari Mengenal Kakak Adikku

Kakak nomor 1, July Ongko. Kakak perempuan tertua kami menjadi suster perawat di Rumah Sakit Adi Husada Surabaya. Hidupnya didedikasikan untuk melayani sesama. July adalah pelita bagi orang sakit. Setiap orang yang mengenalnya pasti merasakan ketulusan hatinya. Namun Tuhan memanggilnya terlalu cepat. July meninggal di usia 30 tahun karena asma berat. Kepergiannya meninggalkan luka, namun juga teladan bahwa hidup yang singkat bisa menjadi berkat bagi banyak orang.

Kakak nomor 2, Ming atau George Artha, tinggal di Jakarta. Beliau seorang ayah dengan empat anak. Salah satu anaknya, Dr. Ir. Ridwan, dikenal sebagai ahli manajemen yang disegani. Kakak Ming adalah sosok yang bijaksana, pendiam namun penuh perhatian. Ia seperti penopang yang selalu ada ketika keluarga membutuhkan. Beliau suka sekali makan kepala ikan kakap Medan Baru di Griya Sunter

Kakak nomor 3, Christina, tinggal di Kupang, adalah ibu dari Tony Dima, MM, Ketua KRIS NTT. Christina adalah perempuan kuat, penuh kasih, dan menjadi figur penting dalam jaringan keluarga kami terutama di Nusa Tenggara Timur. Dialah penghubung, jembatan antara kami yang tinggal berjauhan. Ia selalu membawa cerita, kabar, dan kehangatan dari timur.

Kakak nomor 4, Herline (Ay Hoa), nama yang indah, dan begitulah hidupnya. Ia adalah pengusaha tangguh, cekatan, dan pekerja keras yang tinggal di Surabaya. Namun pada usia 51 tahun, Tuhan memanggilnya pulang. Kepergiannya menyisakan kekosongan besar, namun juga kenangan tentang kegigihan dan keberanian seorang perempuan yang pantang menyerah.

Kakak nomor 5 Risal, Penasihat KRIS, tinggal di Bandung. Seorang pengusaha kapal dan ahli bahan peledak. Beliau aktif di gereja, suka bercanda, dan dikenal sebagai “gudang cerita”. Jika keluarga adalah sebuah pesta, Risal adalah suara tawa yang paling keras. Sosok yang membuat keluarga menjadi hangat.

Kakak nomor 6, Steve, yang ulang tahunnya dirayakan hari ini (23 Jan), tinggal di Surabaya. Beliau lulusan Teknik Mesin Trisakti tahun 1973. Attitude-nya sederhana, rajin, tekun, dan tak pernah mengeluh. Hobinya cari makan enak. Kalau ke Surabaya, tidak lupa aku diajak ke tahu campur di Kalasan kalau ada Pak Dahlan Iskan. Sama doyan duren. Hubungannya dengan gereja begitu erat, hingga banyak orang mengenalnya sebagai sosok yang selalu siap membantu. Hidupnya adalah bukti bahwa kesetiaan pada pelayanan membawa kedamaian.

Kakak perempuan nomor 7, Elianora. Beliau adalah pengusaha logistik di Surabaya. Pribadinya kuat, tegas, namun berhati lembut. Beliau menjaga keluarga dengan mata dan hati seorang kakak perempuan sejati.

Saya, Adharta, anak ke-8. Tinggal di Jakarta, lulusan Teknik Sipil Trisakti tahun 1977 dan MBA Prasetiya Mulya tahun 1984. Jalan hidup membawa saya menjadi Ketua Umum KRIS. Saya tidak sempurna, namun satu hal pasti: saya mencintai keluarga saya. Segala perjuangan saya hari ini adalah warisan dari Papa dan Mama ketekunan, kasih, dan kerendahan hati.

Adik laki laki nomor 9, Freddy, tinggal di Kupang, adalah Penasihat KRIS. Beliau aktif di Gereja Bethany dan pemilik Hotel Ima Kupang. Freddy dan istrinya, Mariana, adalah pilar KRIS NTT. Mereka mendukung program stunting di TTU, membantu penanganan COVID-19, dan tak pernah menolak jika diminta membantu. Freddy adalah gambaran adik yang setia pada keluarga, Tuhan, dan masyarakat.

Adik perempuan nomor 10, Monalisa. Adik saya yang bungsu ini adalah dokter gigi yang tinggal di Singapura. Jika ada urusan rumah sakit, perawatan, atau kesehatan di Singapura, dialah “peta hidup” yang tahu semuanya. Ia cerdas, perhatian, dan selalu menjadi tumpuan keluarga saat ada yang sakit.

Sejak saya sakit operasi berulangkali di Singapura, drg. Monalisa selalu mendampingi istri saya drg. Magdalena dalam suka dan kesulitan. Mulai operasi Jantung sampai terakhir pasang ICD

Kekuatan Kami Hidup Rukun & Damai

Meski perjalanan hidup kami penuh badai kehilangan orang tersayang, perjuangan ekonomi, merantau ke banyak kota, kami tetap hidup rukun dan damai. Kesederhanaan hidup membuat kami mengerti arti saling menopang.

Kami tidak kaya harta, tetapi kami kaya cinta. Kami tidak selalu sempurna, tetapi kami selalu bersama. Ada banyak kenangan kecil tak terlupakan yang menjadi perekat keluarga.

Papa menggandeng kami ke pelabuhan, memperlihatkan kapal-kapal besar sambil bercerita tentang ombak dan badai.

Mama memasak hidangan sederhana, namun rasanya seperti cinta yang dituangkan di piring. Malam-malam di Kalabahi, kami duduk di teras rumah, melihat bintang yang seakan jatuh ke laut. Tawa kami saat berkumpul, tangis kami saat kehilangan, doa kami yang tak pernah putus–itulah kekayaan sejati keluarga kami.

Akhir kata, keluarga besar kami adalah bukti bahwa cinta tidak selalu lahir dari kemewahan, tetapi dari hati yang saling menjaga. Kami lahir dari kesederhanaan, namun tumbuh dengan kekuatan untuk saling menopang.

Saya bangga menjadi bagian dari keluarga ini. Saya bangga memiliki kakak dan adik yang rukun, penuh kasih, dan satu hati. Dan setiap kali saya melihat ke belakang, saya tahu apa pun yang telah saya capai hari ini di KRIS, di pekerjaan, dalam hidup adalah karena saya dibesarkan oleh keluarga yang penuh cinta. Inilah keluarga kami.

Inilah warisan Papa dan Mama. Inilah kisah buat anak-anak dan cucu-cucu. Kelak kalian semua mewarisinya.

Aliran air mata suka cita menutup kisahku.

Www.kris.or.id

Sumbangan Pemikiran Adharta Ongkosaputra

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Rabu pagi,
21 Januari 2026.
Hujan cukup deras menyelimuti Jakarta.
Di tengah cuaca yang muram itu, saya melaju menuju Tangerang,
ke tempat sebuah hotel milik seorang sahabat lama.
Di sanalah kami bertemu kembali setelah sekian lama tidak bersua
beberapa rekan direksi dari Grup Hotel Santika juga hadir menghangatkan suasana

Waktu pertemuan memang singkat, namun diskusi yang mengalir terasa padat, jujur, dan sarat makna.
Saya banyak belajar dari para Tokoh Perhotelan Nasional yang luar biasa
Santika Group
Merupakan salah satu group perhotelan yang terbentang di garis katulistiwa
Memberikan inspirasi kepada saya untuk sedikit memberikan sumbangan pemikiran
Mudah mudahan berguna bagi penggilingan keputusan
Demi membangun bangsa dan negara kita tercinta Indonesia

Tema utamanya
Masa depan industri perhotelan Indonesia di tahun 2026 dan 2027.

Percakapan pagi ini mempertemukan optimisme dan kewaspadaan.

Ada kekhawatiran, para pebisnis hotel
tetapi juga ada keyakinan bahwa industri perhotelan
seperti biasa
selalu punya daya lenting untuk bertahan, bahkan bangkit, bila dikelola dengan pendekatan yang tepat.

Kondisi Ekonomi 2026:
Tantangan Nyata dan Global

Pandangan pertama yang saya sampaikan cukup lugas:

kondisi ekonomi tahun 2026 masih suram, bahkan cenderung gelap.
Tekanan ekonomi global belum sepenuhnya reda.
Gejolak geopolitik, ketidakpastian pasar keuangan, fluktuasi nilai tukar, serta perubahan pola konsumsi masyarakat memberi dampak langsung pada berbagai sektor strategis.

Industri pariwisata, penerbangan, dan perhotelan menjadi sektor yang paling cepat merasakan dampaknya.

Penurunan daya beli, pengetatan anggaran perjalanan korporasi, hingga selektivitas wisatawan internasional membuat tingkat hunian hotel berada dalam tekanan.

Menurut pandangan saya, tahun 2026 dan 2027 masih merupakan fase penuh tantangan, bukan hanya soal bertahan hidup, tetapi juga soal beradaptasi dengan realitas baru.

Namun, justru di tengah tekanan inilah kualitas kepemimpinan dan strategi diuji.

Kesempatan Masih Terbuka:

Kunci keberhasilan Ada pada Kolaborasi

Pandangan kedua yang saya tekankan adalah bahwa kesempatan tetap terbuka, bahkan di tengah situasi sulit.

Industri perhotelan Indonesia masih memiliki potensi besar
baik dari sisi pasar domestik yang kuat, posisi geografis strategis, maupun kekayaan destinasi yang tidak dimiliki banyak negara lain.

Kuncinya ada pada kolaborasi, bukan kompetisi yang saling melemahkan. Persaingan harga yang tidak sehat hanya akan mempercepat kelelahan industri.
Yang dibutuhkan justru kesepahaman bersama untuk membangun ekosistem yang berkelanjutan.

Kolaborasi bisa dilakukan dalam berbagai bentuk:
Aliansi antar grup hotel, baik dalam pemasaran, sistem reservasi, hingga pengadaan.
Kesepakatan etika harga untuk mencegah perang tarif yang merusak nilai industri.

Berbagi data dan insight pasar agar keputusan bisnis lebih presisi.
Industri perhotelan harus bergerak dari pola berjuang sendiri menuju bertahan bersama.
Inovasi Model Bisnis:

Dari Investasi Kamar hingga IPO

Diskusi juga menyentuh banyak ide segar.
Salah satunya adalah model investasi kamar
di mana unit kamar dijual secara internal kepada investor strategis,

karyawan senior, atau mitra loyal, sebelum melangkah ke skala yang lebih besar seperti public offering.

Model ini:
Membantu likuiditas hotel tanpa ketergantungan penuh pada pinjaman bank.
Menciptakan rasa memiliki (sense of ownership) dari para pemangku kepentingan.
Membuka jalan menuju tata kelola yang lebih transparan dan profesional.
Selain itu, kerja sama dengan biro perjalanan, platform digital, serta grup usaha besar lintas sektor menjadi sangat krusial.

Hotel tidak lagi bisa berdiri sendiri sebagai penyedia kamar, melainkan sebagai bagian dari experience ecosystem.

Medical Tourism: Peluang Strategis yang Belum Maksimal
Salah satu peluang besar yang saya anggap belum digarap optimal adalah Medical Tourism.

Indonesia memiliki rumah sakit dan tenaga medis yang semakin kompetitif, namun masih kalah dalam hal integrasi layanan.
Bayangkan kolaborasi strategis antara:
Industri perhotelan
Rumah sakit dan klinik unggulan
Maskapai penerbangan
Biro perjalanan internasional
Paket terpadu medical & wellness tourism tidak hanya menarik wisatawan mancanegara, tetapi juga mencegah aliran devisa keluar negeri
karena selama ini banyak warga Indonesia berobat ke luar negeri.
Lebih jauh lagi, konsep ini berpotensi menarik devisa masuk, terutama dari kawasan Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Pasifik.

Hotel tidak sekadar menjadi tempat menginap, tetapi bagian dari proses pemulihan dan kenyamanan pasien serta keluarga.

Prediksi 2026–2027:

Bertahan, Menyusun Ulang, dan Bersiap Bangkit
Untuk tahun 2026–2027,

Saya melihat fase ini sebagai periode konsolidasi. Bukan masa ekspansi agresif, melainkan waktu untuk:
Merapikan struktur biaya
Memperkuat SDM inti
Meningkatkan efisiensi operasional
Memperdalam kolaborasi lintas sektor
Hotel yang mampu bertahan di fase ini, dengan neraca sehat dan strategi jelas, akan berada di posisi sangat kuat saat siklus ekonomi kembali membaik.

Harapan ke Depan:

Dari Kompetisi ke Kolaborasi Bermakna
Harapan saya sederhana namun mendasar:

Industri perhotelan Indonesia bergerak menuju kolaborasi yang dewasa dan bermartabat. Kolaborasi bukan sekadar proyek bersama, tetapi kesadaran kolektif bahwa keberlanjutan hanya bisa dicapai bila semua pihak tumbuh bersama.

Konsep kolaborasi terbaik adalah:
Berbasis kepercayaan
Saling menguatkan, bukan mendominasi
Mengutamakan kepentingan jangka panjang industri nasional

Di tengah hujan pagi itu, saya pulang dengan keyakinan bahwa meski langit ekonomi tampak mendung, industri perhotelan Indonesia belum kehilangan harapan.

Dengan kepemimpinan yang jernih, inovasi yang berani, dan kolaborasi yang tulus, jalan keluar dari kesulitan bukanlah ilusi
melainkan kemungkinan nyata yang sedang kita bangun bersama.

Semoga kita semua bisa menyadari pentingnya
Kebangkitan bersama

Salam sehat
Adharta

Www.adharta.com

Www.kris.or.id

Perjalanan Misi Bruder Nasarius Trimuryanto OFM

Cerpen No 0042

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Medio Januari 2026

Sambil menikmati perjalanan macet menuju kantor. Saya teringat seorang sahabat yang sedang berjuang. Salah satunya berjuang menyelamatkan dunia melalui cara yang luar biasa. Kadang hati bertanya, apakah saya bisa mengubah dunia? Konfisius berkata, “Kalau kamu tidak bisa mengubah dunia, ubahlah dirimu lebih dulu, maka dunia akan berubah mengikutimu.”

Sahabat saya, Bruder Trimo sedang berjuang. Dia menaburkan kasih dan cinta dalam perjalanan hidupnya, pada orang-orang yang ditemuinya. Dia ingin meneruskan kasih Tuhan yang dialaminya kepada orang lain. Cinta kasih itulah yang membawa perubahan bagi dirinya, bagi orang lain, bagi dunia.

Tanggal 15 Januari selalu menjadi penanda istimewa dalam hidup Bruder Nasarius Trimuryanto OFM. Bukan sekadar angka di kalender, melainkan momen awal perjalanan panjang perutusan sebuah jalan iman yang ditempuh dengan kesadaran, pengorbanan, dan keberanian untuk berjalan bersama Tuhan dalam suka dan duka. Dari sebuah desa kecil bernama Trimodadi, kisah hidupnya bertumbuh menjadi kesaksian tentang kasih dan kesetiaan yang dijalani tanpa banyak kata.

Nasarius Trimuryanto lahir di Trimodadi, 28 Juli 1981, dari pasangan sederhana, almarhum Petrus Paijo dan Cisilia Purbi Astuti. Ia tumbuh dalam keluarga yang mengenal kerja keras, kesederhanaan, dan doa sebagai napas hidup. Sejak kecil, Trimo
sapaan akrabnya—sudah terbiasa dengan kehidupan yang tidak berlebihan. Ia belajar bahwa hidup bukan tentang memiliki banyak, melainkan tentang bertahan, berbagi, dan bersyukur. Panggilan hidup membiara tidak datang sebagai keputusan instan. Ia hadir perlahan, melalui perjumpaan dengan Tuhan dalam keheningan, melalui pergulatan batin, dan melalui pengalaman melihat penderitaan sesama.

Saat Trimo memutuskan masuk Seminari St. Paulus Palembang, ia sadar bahwa jalan ini bukan jalan mudah. Menjadi seorang Bruder Fransiskan (OFM) berarti memilih hidup sederhana, taat, miskin, dan setia—jalan yang menuntut totalitas diri. Masa pembinaan menjadi waktu pengolahan batin. Ia belajar disiplin, doa, kerja, dan hidup dalam persaudaraan. Tidak jarang ia mengalami keraguan, kelelahan, bahkan kesepian, pun dalam doa dan meditasi. Ada hari-hari ketika ia bertanya dalam hati: “Mampukah aku setia sampai akhir? Benarkah aku dipanggil? Mengapa terkadang aku merasa gersang?” Di tengah pergulatan itu, spiritualitas Fransiskan menanamkan satu keyakinan: Tuhan hadir justru dalam kesederhanaan dan kerapuhan manusia, bahkan dalam kesepian di padang gurun rohani.

Sebagai seorang Bruder Fransiskan, Trimo memilih hidup melayani, bukan memimpin dari atas, melainkan berjalan bersama. Prinsip hidupnya terangkum dalam kalimat yang kemudian menjadi napas perutusannya:

“BerTani, Berjuang Tanpa Henti.”

BerTani, berakar pada tanah kehidupan nyata.
Berjuang, melawan lelah, putus asa, dan keterbatasan. Tanpa Henti—karena kasih tidak mengenal kata selesai. Salah satu bab terpenting dalam hidupnya adalah perjalanan misi dari Kalimantan Barat ke Jawa Barat, sebuah perjalanan yang bukan hanya jauh secara geografis, tetapi juga penuh makna batin. Dengan sebuah vespa, Bruder Trimo menempuh jalan panjang menuju Panti Asuhan St. Yusup, Sindanglaya, Cipanas, Jawa Barat.

Vespa itu menjadi simbol kesederhanaan dan keteguhan: melaju perlahan, namun pasti. Vespa buatan Piagio, Italia, tahun 1946 itu membawa arti TAWON sehingga bentuknya didesain sepeti tawon dan suaranya seperti Tawon Betina membuat madu tanpa lelah. Di jalanan panjang, di tengah panas, hujan, dan kelelahan, ia belajar berserah sepenuhnya pada penyelenggaraan Tuhan. Setibanya di Panti Asuhan St. Yusup, kehidupan baru dimulai.

Selama enam tahun, Bruder Trimo hidup bersama anak-anak yang datang dengan latar belakang luka, kehilangan, dan harapan yang rapuh. Ia tidak hanya menjadi pengasuh, tetapi menjadi sosok bapak yang hadir, mendengarkan, menegur, dan memeluk ketika kata-kata tak lagi cukup. Tidak semua hari dipenuhi tawa. Ada tangis, konflik, keterbatasan dana, dan kelelahan fisik maupun batin. Menjadi bapak bagi anak-anak yang terluka bukan tugas ringan. Ada malam-malam panjang ketika Bruder Trimo berdoa dalam diam, memohon kekuatan. Ada hari-hari ketika rasa tidak dihargai dan kesalahpahaman menguji kesabarannya. Namun ia memilih bertahan. Baginya, setiap anak adalah amanah Tuhan, titipan Allah sendiri yang dipercayakan padanya, bukan beban.

Kepercayaan pun tumbuh. Persaudaraan Fransiskan kembali mempercayakan perutusan itu kepadanya untuk tiga tahun ke depan, tanda bahwa kesetiaannya tidak sia-sia. Ia tidak melihat kepercayaan itu sebagai kehormatan, melainkan sebagai tanggung jawab yang harus dijalani dengan rendah hati.Dalam perjalanan panjang itu, ayat Kitab Suci ini menjadi pegangan hidupnya:

“Jalan terus, Aku bersamamu.” (Yesaya 41:10)

Ayat itu bukan sekadar slogan atau penghiburan, melainkan penyertaan dan kekuatan. Saat ia lelah, Tuhan menyertainya, berjalan bersamanya. Saat ia ragu, Tuhan meneguhkan langkahnya. Kini, ketika menoleh ke belakang, Bruder Nasarius Trimuryanto OFM tidak membanggakan pencapaian, melainkan mensyukuri proses. Ia tahu hidupnya penuh kekurangan, tetapi ia percaya Tuhan bekerja melalui kesetiaan kecil yang dijalani setiap hari. Dari Trimodadi, dari seminari, dari ribuan perjalananan dengan vespa antik, hingga berlabuh di panti asuhan, semuanya dirajut dalam satu benang merah, kasih yang diwujudkan dalam kesederhanaan dan tindakan nyata.

Perjalanan Bruder Trimo adalah kesaksian bahwa hidup religius bukan pelarian dari dunia, melainkan keberanian untuk masuk lebih dalam ke realitas manusia. Dalam suka dan duka, ia terus melangkah berTani, berjuang tanpa henti—karena ia tahu, di setiap langkahnya, Tuhan tidak pernah meninggalkannya. Tuhan selalu menyertainya.

Panti Asuhan Santo Yusup, Sindanglaya, Cipanas, Jawa barat

Www.kris.or.id

Perjuangan seorang Ibu

Cerpen no 0041

Oleh: Adharta
Ketua Umum
KRIS

Namanya Merry. Nama yang sederhana, namun hidupnya jauh dari kata ceria.

Sejak kecil, Merry sudah belajar arti kehilangan. Ia bukan yatim piatu sejak lahir, tetapi keadaan membuatnya tumbuh tanpa sapaan dan pelukan orang tua.

Orang tuanya tinggal di Indramayu, hidup sederhana sebagai buruh tani, dan karena keterbatasan ekonomi, Merry kecil tinggal bersama sebuah keluarga di Bandung. Mereka adalah Bapak Alfons dan Ibu Risma. Pasangan itu tidak memiliki anak.

Rumah mereka tidak besar, tetapi hangat. Sejak hari pertama, Merry tidak pernah diperlakukan sebagai orang asing. Ia dipanggil “Nak”, disuapi ketika sakit, dipeluk ketika menangis.

Dalam hati kecilnya, Merry merasa di sinilah rumahnya.

Tahun-tahun berlalu. Merry tumbuh menjadi gadis pendiam namun rajin. Ia menyelesaikan sekolahnya dengan baik hingga tamat SMA. Ia bermimpi sederhana: bekerja, membantu orang tua angkatnya, dan suatu hari merawat mereka di masa tua. Namun hidup tidak selalu ramah pada mereka yang tulus.

Setelah kelulusan SMA Merry, rumah itu mulai sering didatangi kerabat.

Wajah-wajah yang sebelumnya jarang terlihat, kini datang silih berganti. Senyum mereka manis, tetapi kata-katanya menusuk.

Bisikan mulai terdengar. Tentang harta. Tentang warisan. Tentang darah dan bukan darah. Merry mendengar semuanya, meski tidak pernah diajak bicara langsung.

“Dia bukan anak kandung.” “Nanti semua harta jatuh ke dia.” “Lebih baik dia pergi.”

Setiap kata itu seperti pisau kecil yang ditancapkan perlahan ke dadanya. Bapak Alfons dan Ibu Risma tidak pernah mengatakan apa pun secara langsung. Mereka hanya semakin sering terdiam.

Ibu Risma sering menangis diam-diam di dapur. Bapak Alfons semakin banyak melamun di teras. Mereka sudah tua. Mereka lelah melawan. Suatu malam, Merry memberanikan diri bicara.

“Pak… Bu… kalau Merry harus pergi, Merry akan pergi.”

Ibu Risma langsung menangis tersedu. Tangannya gemetar memeluk Merry. “Maafkan Ibu, Nak… Ibu lemah…” Bapak Alfons hanya menunduk. Air matanya jatuh satu per satu ke lantai. Malam itu, Merry membereskan pakaiannya dengan tangan gemetar.

Tidak banyak yang ia bawa. Hanya pakaian seadanya dan sebuah tas kecil. Tidak ada uang, tidak ada tujuan, hanya luka di hati.

Saat melangkah keluar rumah itu, Merry menoleh sekali lagi.

“Maafkan Merry, Pak… Bu… Merry akan selalu mendoakan kalian…”

Langkahnya terasa berat, seakan separuh jiwanya tertinggal di rumah itu. Dengan tabungan yang nyaris tidak ada, Merry akhirnya masuk ke barak penampungan calon TKI.

Ia tidak bermimpi besar. Ia hanya ingin bertahan hidup. Di sana, ia bertemu Pak Harto lelaki berusia 55 tahun. Orang sekampung dari Indramayu. Wajahnya lelah, rambutnya memutih, namun matanya lembut. Ia sudah lama sendiri, mengelola usaha kecil penyaluran calon TKW. Dalam keterasingan, dua manusia yang sama-sama terluka menemukan sandaran. Merry tahu, menerima pinangan Pak Harto bukan karena cinta seperti di cerita-cerita indah.

Tapi di kampung, usia delapan belas tahun tanpa menikah dianggap aib. Dan hidup sendirian lebih menakutkan daripada menikah dengan lelaki yang baik namun jauh lebih tua.

Mereka menikah dengan sederhana. Tanpa gaun putih. Tanpa pesta. Tanpa restu orang tua. Tiga tahun berlalu. Dua anak perempuan lahir dari rahim Merry. Anak-anak itu menjadi cahaya kecil di tengah hidupnya yang gelap.

Namun kebahagiaan itu rapuh. Pak Harto mulai sering sakit. Batuknya tidak kunjung sembuh. Napasnya pendek. Tubuhnya semakin kurus. Usaha mereka pun menurun drastis. Rumah kontrakan semakin terasa sesak oleh kecemasan. Biaya rumah sakit menguras semua yang mereka miliki.

Suatu malam, di ruang rawat yang sunyi, Pak Harto menggenggam tangan Merry. “Maafkan Bapak… Bapak tidak bisa meninggalkan apa-apa…”

Merry menangis tersedu, menahan jerit yang ingin keluar. “Bapak jangan pergi… anak-anak butuh Bapak…”

Namun takdir tidak mendengar doa orang miskin. Pak Harto meninggal di usia 60 tahun, karena kanker paru-paru.

Dunia Merry runtuh dalam sekejap. Ia kini seorang janda muda dengan dua anak kecil, tanpa harta, tanpa sandaran. Usaha bangkrut. Rumah kontrakan harus ditinggalkan.

Ia pulang ke Indramayu, berharap menemukan orang tuanya. Tetapi yang ia temukan hanya kabar duka. Kedua orang tuanya telah meninggal karena wabah Covid-19. Di atas tanah kuburan, Merry jatuh terduduk. Tangisnya pecah. Tidak ada lagi tempat pulang. Tidak ada lagi orang tua. Tidak ada siapa-siapa. Hidup di kampung sangat berat.

Mencari pekerjaan hampir mustahil. Setiap malam, Merry memeluk anak-anaknya sambil menahan tangis.

“Apa Ibu salah membawa kalian ke dunia ini?” bisiknya dalam hati.

Ia tahu, Bandung memberi peluang lebih besar. Dengan hati yang hancur, ia kembali ke kota itu. Dengan bantuan kenalan TKW, ia berhasil menitipkan kedua anaknya di Panti Asuhan Sindanglaya.

Hari pertama meninggalkan anak-anaknya adalah hari paling menyakitkan dalam hidupnya. Anak sulungnya memeluk kakinya, menangis histeris. “Ibu jangan pergi…”

Merry hampir pingsan menahan sakit di dada.

Namun ia tahu, ini satu-satunya jalan. Ia berangkat ke Tawau, Malaysia, menjadi TKW. Di negeri orang, ia bekerja di supermarket penampungan sambil menunggu panggilan kerja.

Setiap malam, ia menangis dalam sunyi, memeluk baju anak-anaknya yang ia bawa. Akhirnya, ia diterima bekerja sebagai pengantar barang logistik di Kota Kinabalu. Gajinya lumayan, tetapi jam kerjanya kejam, 20 jam sehari. Tubuhnya hancur. Kakinya bengkak. Kepalanya pusing. Hatinya kosong. Ia jatuh sakit berat.

Dengan tubuh yang hampir menyerah, Merry memutuskan pulang ke Bandung.

Ia membuka warung kecil, warteg sederhana. Hidup pas-pasan, tapi hatinya sedikit lebih tenang karena bisa sesekali menjenguk anak-anaknya di panti asuhan. Setiap kali melihat mereka tertawa, air matanya selalu jatuh.

Hidupnya sunyi. Tidak ada pasangan. Tidak ada keluarga. Hanya doa dan harapan.

Namun Merry percaya satu hal: Tuhan tidak menciptakan seseorang untuk hidup sendirian selamanya.

Ia terus berjuang. Terus mencari penghidupan yang lebih layak. Terus berdiri meski sering jatuh. Karena ia tahu, selama napas masih ada, harapan tidak akan pernah benar-benar mati.

Dan perjuangan Merry… belum berakhir.

http://www.kris.or.id