Category Archives: Inspirasi

Persahabatan di Atas Segalanya

Singapura

Persahabatan di Atas Segalanya

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Tulisan
Pengalaman pribadi

Lavender
Sabtu
13 September 2025

Juga untuk mengenang para sahabat Singapura yang telah mendahului kita semua

Aku selalu mengenang sahabat dalam persahabatan

Hidup itu kadang seperti naik pesawat.

Ada rencana, ada jadwal, ada tiket di tangan.
Tetapi kita semua tahu, mesin pesawat bisa rusak, cuaca bisa berubah, pilot bisa mengumumkan, “Maaf, penerbangan kita tertunda dua jam.”

Begitu juga perjalanan saya ke Singapura baru-baru ini.
Penerbangan Batik Air 7153 yang seharusnya berangkat pukul 08.00 WIB harus ganti pesawat karena kerusakan mesin pesawat

Sambil menunggu, saya berpikir:
“Duh, bagaimana ini, jam 14.00 saya sudah ada janji dengan dokter jantung
Dr. Devinder Singh di Mount Elizabeth hospital Orchard.”

Namun, Tuhan memang pandai mengatur waktu. Walau sempat resah, saya tetap tiba tepat waktu.
Bahkan ada bonus
saya dan istri saya Lena sempat makan Tori-Q di Paragon
Makanan favorit istri saya, Lena
sebelum bertemu dokter.

Rasanya seperti pesan sponsor:

“Santai saja, semua baik-baik saja.

Bahkan masih ada waktu makan enak!”

Rumah Sakit Kedua saya Bernama Mount Alvernia

Pertemuan dengan dokter Devinder kali ini bukan hal kecil.
Untuk mempersiapkan tindakan pemasangan ICD (Implantable Cardioverter Defibrillator).

Bagi saya, ini bukan operasi pertama, bahkan bukan yang kedua.
Ini operasi keenam! Kalau ada penghargaan frequent flyer untuk pasien rumah sakit, mungkin saya sudah dapat kartu platinum.

Kenapa saya pilih Singapura? Jawabannya sederhana

kepercayaan.
Sejak 2019, ketika saya terkena serangan jantung, saya ditangani oleh Dr. Nicolas Wanahita di Mount Elizabeth Novena.
Selama lima tahun ini, beliau bukan hanya dokter, tetapi penjaga setia kesehatan saya.

Rasanya seperti punya bodyguard khusus jantung haha

Namun sesungguhnya, hubungan saya dengan Singapura dalam dunia medis sudah jauh lebih lama.

Tahun 1980, saya lumpuh total setelah kecelakaan motor.
Di Indonesia waktu itu, diagnosa masih samar-samar.
Saya hampir putus asa.
Tapi kemudian Singapura memanggil ini berkat dorongan dari kakak saya Risal dan seorang sahabat Michael Teo

Saya bertemu Prof. Dr. John A. Tambyah, bahkan sebagai wakil Menteri Kesehatan Singapura kala itu.
Beliau yang menangani sakit saya sampai operasi Tyroid toxicosia

Tahun 1982, saya menjalani operasi di Mount Alvernia
dan itulah awal persahabatan saya dengan negeri kecil ini.

Persahabatan yang Tidak Bisa Dibeli
Singapura sering disebut Fine City
bukan hanya kota indah, tapi juga kota penuh denda.

Buang sampah sembarangan? Denda.
Makan permen karet di MRT? Denda.
Merokok sembarangan? Denda.
Bahkan salah parkir bisa bikin kantong lebih tipis.

Ada juga yang menyebut Singapura itu Pay and Pay. Semua serba mahal.
Mau minum kopi di Orchard Road? Kadang bisa bikin kita kaget,
“Lho, ini kopi atau cicilan KPR rumah ?”

Tapi bagi saya, Singapura bukan soal mahalnya biaya atau banyaknya denda.

Singapura adalah negeri persahabatan. Persahabatan itu yang menyelamatkan, yang menguatkan, yang membuat biaya tak lagi terasa.
Saya ingat bagaimana almarhum sahabat saya,
Yusuf Kamarudin,

memperkenalkan saya kepada Dr. Ong
Menteri Kesehatan Singapura yang bekerja sama dengan Killcovud-19 selama masa pandemi

Pertemuan itu terjadi di klinik Marina East, saat saya juga berkenalan dengan mantan PM Goh Cho Tong
Dari situ persahabatan berkembang, bahkan sampai ke bisnis bersama teman teman
Ada Canadian Two-in-One Pizza dan Pizza Sarpino.

Kalau diingat-ingat, persahabatan kami bukan cuma di meja rumah sakit, tapi juga di meja makan pizza!

Ada pula sahabat baik saya,
Mr. Richard Ong, beliau Duta Besar negara Seychelles untuk Singapura.

Hubungan kami lebih dari sekadar sahabat; beliau sudah seperti keluarga, kakak angkat.
Kalau saya datang ke Singapura, rasanya belum lengkap kalau tidak bertemu Mr. Richard Ong.

Nostalgia Rasa
Bak Kut Teh
Pagi itu di Singapura, sebelum bertemu dokter, saya sempat bernostalgia. Sarapan Bak Kut Teh di Ya Hua Outram,
Tanjong Pagar. Restoran ini sudah jadi langganan sejak 1980-an.
Uniknya, rasa kuahnya tidak pernah berubah. Mungkin inilah rahasia Singapura: konsistensi.
Di sini, bahkan sup iga babi pun punya komitmen lebih kuat daripada sebagian yang jadi politikus kita.

Selesai sarapan, saya melanjutkan perjalanan bertemu sahabat lain,
Bapak Anton Liu, tokoh muda koperasi.
Kami bertemu di Starbucks Mount Elizabeth Novena.
Anton Liu
sedang berjuang melawan kanker paru-paru, menjalani 81 kali kemoterapi. Bayangkan, empat tahun berjuang, seminggu dua kali terapi.

Saat kami bertemu, ia sudah mencapai terapi ke-78.
Kami duduk, minum kopi, bercerita tertawa dan bercanda

Saya kagum pada keteguhannya. Kalau saya diberi gelar frequent flyer pasien rumah sakit, mungkin Anton Liu
pantas diberi gelar marathon fighter.

Kami berdua tertawa kecil di tengah cerita, karena terkadang tawa adalah obat terbaik yang tidak dijual di apotek.

Singapura
Pusat Medis Dunia
Mengapa Singapura bisa menjadi pusat kesehatan dunia?

Jawabannya terletak pada kombinasi disiplin, inovasi, dan investasi.
Standar Internasional
Hampir semua rumah sakit di Singapura sudah terakreditasi
JCI (Joint Commission International).

Artinya, standar layanan medis mereka setara dengan rumah sakit top dunia.

Dokter Berkelas Dunia
Banyak dokter Singapura menempuh pendidikan di universitas ternama seperti Harvard, Oxford, Cambridge, Johns Hopkins. Mereka pulang dengan ilmu, tapi tetap rendah hati melayani pasien Asia.

Teknologi Mutakhir
Dari operasi robotik, terapi gen, hingga penelitian stem cell,
Singapura tidak pernah ketinggalan. Bahkan pasien dari Eropa dan Timur Tengah sering datang ke sini.

Empati dalam Layanan
Walaupun sangat profesional, dokter dan perawat Singapura tetap ramah.

Mereka tidak hanya menyuntik obat, tetapi juga memberi semangat. Kadang satu kalimat

“You’ll be fine” bisa jadi vitamin tambahan.
Touching keluarga juga menarik
Saya dengan dokter Nicolas Wanahita
Tapi istri Beliau Alice juga sering menyapa walau tidak ada hubungannya namun persahabatan merembet sampai keluarga
(Hal ini yang tidak ada di jumpai di Indonesia)
Catatan saya buat yang menangani PEO
Patient Experiences Officer

Ajak Dokter menyapa pasien diluar jadwal dokter
Luangkan waktu sejenak

Apakah sudah minum Obat pagi hari?
Bagaimana tensi darah hari ini
Less then 1 minute touching tapi lebih dari a thousand hope

Singapura
Medical Tourism
Sebelum pandemi, lebih dari 500 ribu pasien internasional datang ke Singapura setiap tahun.
Indonesia termasuk penyumbang terbesar.
Banyak orang bilang:
“Kalau sakit serius, pergilah ke Singapura.”
Sure pasti sembuh

Singapura
Negeri Pendidikan
Selain medis, Singapura juga unggul di bidang pendidikan.
Universitas Dunia
NUS (National University of Singapore)
dan NTU (Nanyang Technological University)
selalu masuk 20 besar dunia.
(Salam hormat saya buat sahabat di Nanyang dan Parkway)

Bayangkan, negara sekecil Jakarta Selatan, punya universitas setara Harvard.

Sekolah Dasar yang Serius
Anak-anak Singapura sudah dibiasakan berpikir kritis sejak dini.

Tidak heran mereka sering juara olimpiade matematika atau sains.

Dukungan Pemerintah
Hampir 20% anggaran negara untuk pendidikan.

Pemerintah sadar, kekayaan alam Singapura terbatas.
Tapi otak manusia, kalau diasah, bisa jadi sumber daya tak terbatas.

Link ke Industri
Pendidikan di Singapura erat kaitannya dengan dunia kerja.
Lulusan politeknik dan universitas langsung siap kerja karena magang dan proyek industri menjadi bagian dari kurikulum.
Kalau medis adalah salah satu sayap Singapura, maka pendidikan adalah sayap lainnya.

Dua sayap inilah yang membuat Singapura bisa terbang tinggi.

Ada Humor Kecil Tentang Disiplin
Singapura
memang disiplin.
Kadang terlalu disiplin.

Saya pernah bercanda dengan seorang teman:
“Di Singapura, kalau kamu buang sampah sembarangan, kamu didenda.
Kalau kamu merokok di tempat terlarang, kamu didenda. Kalau kamu meludah sembarangan, juga didenda.
Tapi kalau kamu senyum sembarangan, siapa tahu malah dapat pacar.”
Karena di Singapura sesuai data Wanita jauh lebih banyak dari Pria
Jadi laki laki
Sangat laku di Singapura

Teman saya tertawa: “Betul, tapi pacarnya pun disiplin.
Kalau janji jam 2, jangan datang jam 2.15. Bisa diputusin!”

Humor-humor kecil ini justru membuat saya semakin kagum.
Karena disiplin yang ketat itu memang yang membuat Singapura bisa maju.

Sungapura
Renungan di Tengah Persahabatan
Kini,
menjelang operasi pemasangan ICD, saya merenung.

Enam kali operasi, bukan perjalanan mudah.
Tapi saya bersyukur. Di balik semua biaya dan rasa sakit,
ada sahabat-sahabat yang menemani.
Ada dokter yang penuh dedikasi.
Ada istri Lena dan anak cucu
Tidak lupa besan besan dan keluarga
(Sempat ketemu keluarga Besan di Singapura)
Semua
yang selalu mendukung.

Saya percaya, Tuhan menaruh orang-orang baik di sekitar kita agar perjalanan hidup tidak terasa terlalu berat.

Singapura mengajarkan saya bahwa persahabatan lebih mahal dari biaya rumah sakit, lebih berharga dari harga obat, dan lebih langka daripada tiket murah ke Orchard Road.

Negeri Persahabatan
Bagi sebagian orang,
Singapura adalah negeri mahal,
negeri penuh denda,
negeri yang serba ketat.

Tetapi bagi saya, Singapura adalah negeri persahabatan. Negeri yang menyelamatkan saya dari lumpuh.
Negeri yang memberi saya dokter dan sahabat.
Negeri yang mengajarkan bahwa dengan disiplin, ketekunan, dan persahabatan, tidak ada batas untuk harapan.

Persahabatan di atas segalanya. Itulah Singapura bagi saya.

Saya mencari sahabat
Untuk mengawali persahabatan

Www.kris.or.id
Www.adharta.com

PHUBBING:

PHUBBING:

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Akhir Maret 2026

Ketika Teknologi Menggerus Kehangatan Manusia

Sahabatku

Di era digital yang serba cepat ini, kehadiran teknologi
khususnya smartphone
telah membawa perubahan besar dalam cara manusia berinteraksi.

Di satu sisi, teknologi memudahkan komunikasi tanpa batas ruang dan waktu.
Namun di sisi lain, ia juga melahirkan fenomena baru yang diam-diam menggerus kualitas hubungan antar manusia.

Fenomena itu dikenal dengan istilah phubbing.

Phubbing merupakan gabungan dari dua kata bahasa Inggris:
phone (telepon) dan snubbing (mengabaikan). Istilah ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 2012 oleh Alex Haigh di Australia, dalam sebuah kampanye yang melibatkan para ahli bahasa, sosiolog, dan budayawan.

Phubbing merujuk pada perilaku seseorang yang sibuk dengan ponselnya sehingga mengabaikan orang yang berada di hadapannya.
Hari ini, phubbing bukan lagi sekadar istilah baru, melainkan sudah menjadi fenomena sosial global.

Bahkan, kata ini telah masuk ke dalam berbagai kamus bahasa Inggris sebagai bentuk pengakuan bahwa perilaku tersebut semakin meluas dan nyata terjadi di kehidupan sehari-hari.

Tanpa kita sadari, banyak dari kita telah menjadi pelaku phubbing.

Saat berbicara dengan rekan kerja, kita sesekali melirik layar ponsel. Ketika makan bersama pasangan, perhatian kita terpecah oleh notifikasi media sosial.

Bahkan saat mendampingi anak belajar, tangan kita masih menggenggam gadget, seolah tidak pernah benar-benar hadir sepenuhnya.
Sekilas, hal ini terlihat sepele. Namun dampaknya jauh lebih dalam daripada yang kita bayangkan.
Phubbing secara perlahan merusak kualitas komunikasi. Interaksi yang seharusnya hangat dan penuh perhatian menjadi dangkal dan terputus-putus. Lawan bicara merasa tidak dihargai, diabaikan, bahkan dianggap tidak penting.

Dalam jangka panjang, hal ini dapat menimbulkan jarak emosional, menurunkan rasa kepercayaan, dan merenggangkan hubungan—baik dalam keluarga, pertemanan, maupun lingkungan kerja.
Lebih dari itu, phubbing juga mencerminkan kualitas diri seseorang. Seseorang yang terus-menerus memprioritaskan ponsel dibanding manusia di hadapannya dapat dipandang sebagai pribadi yang kurang memiliki empati, etika, dan sopan santun. Padahal, salah satu bentuk penghargaan paling sederhana dalam interaksi sosial adalah memberi perhatian penuh.
Kita perlu menyadari bahwa kehadiran fisik saja tidak cukup.

Kehadiran emosional jauh lebih penting. Saat kita bersama orang lain, mereka tidak hanya membutuhkan tubuh kita, tetapi juga perhatian, empati, dan keterlibatan kita secara utuh.
Oleh karena itu, gerakan “Stop Phubbing” menjadi semakin relevan untuk digaungkan. Bukan berarti kita harus menjauhi teknologi atau berhenti menggunakan smartphone. Yang diperlukan adalah kesadaran dan pengendalian diri dalam penggunaannya.
Ada beberapa langkah sederhana yang bisa kita lakukan untuk mengurangi phubbing:
Pertama, biasakan untuk menyimpan ponsel saat sedang berbicara dengan orang lain.

Letakkan di tas atau balikkan posisi layar agar tidak mudah tergoda melihat notifikasi.
Kedua, terapkan aturan bebas gadget dalam momen tertentu, seperti saat makan bersama keluarga, rapat penting, atau pertemuan dengan relasi.

Momen-momen ini seharusnya menjadi ruang untuk membangun koneksi, bukan distraksi.
Ketiga, latih diri untuk hadir sepenuhnya (mindful presence).

Dengarkan dengan sungguh-sungguh, tatap lawan bicara, dan respon dengan perhatian. Hal sederhana ini memiliki dampak besar dalam mempererat hubungan.
Keempat, sadari bahwa tidak semua notifikasi harus segera direspon.

Dunia tidak akan runtuh hanya karena kita menunda membalas pesan selama beberapa menit demi menghargai orang di hadapan kita.
Pada akhirnya, kita perlu bertanya pada diri sendiri: apakah teknologi yang kita miliki justru menjauhkan kita dari orang-orang yang kita cintai?
Jangan sampai ponsel yang kita beli dengan kerja keras justru menjadi penghalang dalam hubungan kita dengan keluarga, sahabat, dan rekan kerja.

Jangan sampai kita dikenal sebagai pribadi yang lebih dekat dengan layar daripada dengan manusia.
Mari kita kembalikan nilai dasar dalam berinteraksi: saling menghargai, mendengarkan, dan hadir sepenuhnya.
Karena pada akhirnya, yang paling berharga dalam hidup ini bukanlah seberapa canggih perangkat yang kita miliki, melainkan seberapa dalam hubungan yang kita bangun dengan sesama manusia.

Ulasan dan Nilai Penting
Tulisan ini mengangkat isu yang sangat relevan di zaman modern. Phubbing bukan sekadar kebiasaan kecil, tetapi telah menjadi masalah sosial yang mempengaruhi kualitas hubungan manusia.
Nilai utama yang bisa diambil:
Kesadaran diri (self-awareness)
Banyak orang tidak sadar bahwa mereka melakukan phubbing. Langkah pertama perubahan adalah menyadari kebiasaan tersebut.

Etika sosial
Menghargai lawan bicara adalah bentuk sopan santun yang mendasar.

Phubbing menunjukkan penurunan etika dalam komunikasi.
Keseimbangan teknologi
Teknologi seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti interaksi manusia.
Kualitas hubungan
Hubungan yang kuat dibangun dari perhatian dan kehadiran, bukan sekadar komunikasi formal.
Pengendalian diri
Kemampuan mengatur penggunaan gadget adalah bentuk kedewasaan emosional di era digital.
Kesimpulannya, kampanye anti-phubbing bukan sekadar tren, tetapi sebuah kebutuhan untuk menjaga nilai-nilai kemanusiaan di tengah arus teknologi yang semakin dominan.

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Kita sambut Imlek 2577 – Tahun 2026, yang berada di bawah naungan ✨Shio Kuda Api✨

Imlek (06)

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Jakarta
14 Pebruari. 2026

Kita sambut Imlek 2577 – Tahun 2026, yang berada di bawah naungan ✨Shio Kuda Api✨

Kalau kita bicara imlek maka mau tidak mau atau suka tidak suka kita akan bercerita tentang yang namanya SHIO

Tahun Kuda Api
tahun yang identik dengan keberanian, kecepatan, perubahan besar, dan semangat membara.

Di bawah ini saya rangkai ramalan Shio dari Tikus sampai Babi
Buat hiburan kita sua
(Jangan percaya)
🌕🧧

🐭 Shio Tikus
Tema tahun: Strategi & peluang tersembunyi
Tahun Kuda Api menuntut Tikus untuk lebih berani keluar dari zona nyaman. Kecerdikan Anda tetap menjadi senjata utama, namun jangan terlalu banyak menimbang—tahun ini berpihak pada yang bertindak cepat.
Karier & usaha: Ada peluang baru, tapi datang tiba-tiba. Siap atau tidak, Anda harus melompat.
Keuangan: Stabil, asal tidak spekulatif.
Cinta: Kejujuran membuka pintu yang lama tertutup.
✨ Kunci tahun: Percaya insting, jangan ragu melangkah.

🐮 Shio Kerbau
Tema tahun: Konsistensi diuji
Kerbau yang biasa berjalan pelan dan pasti akan merasa dunia bergerak terlalu cepat. Namun justru di situlah pelajaran Anda: belajar fleksibel tanpa kehilangan prinsip.
Karier: Beban bertambah, tapi pengakuan juga datang.
Keuangan: Aman jika disiplin.
Keluarga: Menjadi sandaran banyak orang.
✨ Kunci tahun: Bertahan dengan bijak, bukan keras kepala.

🐯 Shio Macan
Tema tahun: Kebangkitan & kepemimpinan
Ini tahun yang sangat kuat bagi Macan. Energi Kuda Api sejalan dengan jiwa Anda. Kesempatan memimpin, tampil, dan bersinar terbuka lebar.
Karier: Waktu tepat naik level.
Usaha: Berani ambil risiko terukur.
Asmara: Daya tarik meningkat.
✨ Kunci tahun: Kendalikan ego, perbesar dampak.

🐰 Shio Kelinci
Tema tahun: Menjaga keseimbangan
Di tengah hiruk-pikuk perubahan, Kelinci diminta menjaga ketenangan batin. Jangan terjebak konflik yang bukan milik Anda.
Karier: Kerja di balik layar justru menghasilkan.
Keuangan: Cukup, jangan boros demi gengsi.
Kesehatan: Perlu perhatian ekstra.
✨ Kunci tahun: Tenang bukan berarti tertinggal.

🐲 Shio Naga
Tema tahun: Momentum besar
Api bertemu api. Tahun ini seperti panggung alami bagi Naga. Ide besar, visi jauh, dan keberanian Anda menemukan jalannya.
Karier & bisnis: Lonjakan signifikan.
Relasi: Jaringan semakin luas.
Tantangan: Jangan merasa paling benar.
✨ Kunci tahun: Besar dalam visi, rendah hati dalam sikap.

🐍 Shio Ular
Tema tahun: Strategi jangka panjang
Ular tidak perlu terburu-buru. Saat yang lain berlari, Anda mengamati dan menyiapkan langkah matang.
Karier: Kemenangan datang diam-diam.
Keuangan: Cenderung meningkat stabil.
Cinta: Kedalaman emosional bertambah.
✨ Kunci tahun: Diam yang penuh perhitungan.

🐴 Shio Kuda
Tema tahun: Tahun diri sendiri
Ini tahun Anda. Energi Kuda Api memperbesar segala potensi—dan juga emosi. Jika terkendali, hasilnya luar biasa.
Karier: Lompatan besar mungkin terjadi.
Usaha: Waktu emas memulai hal baru.
Emosi: Jaga kesabaran.
✨ Kunci tahun: Arahkan api, jangan terbakar olehnya.

🐐 Shio Kambing
Tema tahun: Kreativitas & empati
Kambing menemukan jalannya melalui seni, relasi, dan kepedulian. Tahun ini menuntut Anda percaya pada nilai diri sendiri.
Karier: Cocok di bidang kreatif & sosial.
Keuangan: Perlu perencanaan.
Keluarga: Kehangatan menjadi sumber energi.
✨ Kunci tahun: Jangan meremehkan kelembutan.

🐵 Shio Monyet
Tema tahun: Inovasi & kecerdikan
Monyet bersinar lewat ide-ide segar. Tahun ini cepat, dinamis, dan penuh peluang—asal tidak ceroboh.
Karier: Banyak pintu terbuka.
Usaha: Cocok kolaborasi.
Risiko: Terlalu banyak mulai, sedikit selesai.
✨ Kunci tahun: Fokus adalah kekuatan baru Anda.

🐔 Shio Ayam
Tema tahun: Disiplin membawa hasil
Ayam diminta tetap rapi di tengah kekacauan. Tahun ini memberi hasil nyata dari kerja keras masa lalu.
Karier: Pengakuan perlahan tapi pasti.
Keuangan: Membaik.
Relasi: Kurangi mengkritik, perbanyak mendengar.
✨ Kunci tahun: Konsistensi mengalahkan sensasi.

🐶 Shio Anjing
Tema tahun: Integritas & pengabdian
Anjing menjadi penjaga nilai di tahun penuh perubahan. Kejujuran Anda menjadi cahaya bagi sekitar.
Karier: Dipercaya memegang tanggung jawab.
Keuangan: Stabil.
Persahabatan: Semakin bermakna.
✨ Kunci tahun: Setia pada nilai, bukan tekanan.
Shio Anjing di ramalkan paling beruntung di tahun Kuda Api ini karena berada dalam putaran bintang tegak lurus bumi

🐷 Shio Babi
Tema tahun: Penuaian & kebahagiaan sederhana
Babi menuai hasil dari ketulusan. Tahun ini membawa kehangatan, rezeki, dan kesempatan menikmati hidup.
Karier: Aman dan nyaman.
Keuangan: Cukup, bahkan berlebih jika bijak.
Keluarga: Sumber sukacita.
✨ Kunci tahun: Bersyukur membuka pintu rezeki.

ada
🌕 Kisah Menyambut Imlek 2577

Malam Imlek tiba dengan lampion menyala, bukan hanya di jalanan, tapi di hati manusia.

Tahun Kuda Api mengajarkan satu hal penting:
hidup tidak menunggu kesiapan sempurna
hidup menunggu keberanian pertama.
Api bukan untuk ditakuti, tapi diarahkan.
Kuda bukan untuk ditahan, tapi dituntun.

Di ambang tahun baru, kita tidak hanya menutup kalender lama,
kita melepaskan beban, memaafkan diri sendiri, dan menyalakan kembali harapan.

🧧 Imlek 2527 bukan sekadar pergantian tahun,
melainkan undangan untuk berani hidup lebih jujur, lebih cepat bangkit, dan lebih hangat pada tahun baru

Bersambung……..

Www.kria.or.id

Www.adharta.com

Ketika Tuhan Mengajari MasKris Cara Berdiri Kembali

Ketika Tuhan Mengajari MasKris Cara Berdiri Kembali

Cerpen nomor 0044

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Jakarta
28 Januari 2026

Saat matahari mulai terbit
Saya menerima beberapa kiriman Berita singkat
Sebagian besar tentang kisah kisah pribadi yanenyentuh hati

Saya suka sekali mendengar kisah kisah tentang suka duka anak anak manusia
Kemudian mau berjuang membantu sesama
Mari bersama KRIS kata sahabatku

Cinta diawal cinta
MasKris tidak pernah menyangka bahwa hidup bisa berubah secepat itu.

Pagi itu hujan turun rintik-rintik, seolah ikut menahan napas.

MasKris duduk lama di ruang tamu rumah kontrakan kecilnya.

Di tangannya, selembar kertas putih dengan cap perusahaan
surat yang mengakhiri delapan belas tahun pengabdiannya.

Tidak ada teriakan.
Tidak ada amarah.
Hanya dada yang terasa kosong, seperti kehilangan sesuatu yang tak bisa digantikan.

Dulu, MasKris adalah orang yang sering berkata,
“Alhamdulillah, hidup saya sudah cukup.”
Gajinya memang tidak besar, tapi cukup.
Istrinya tersenyum. Anak-anaknya sekolah. Ia merasa aman. Terlalu aman, bahkan.

Hingga tanpa disadari, ia mulai lupa menunduk.
Lupa bahwa hidup bisa berubah kapan saja.
Hari demi hari berlalu setelah pemutusan kerja itu.

MasKris mulai menghitung receh.
Ia menjual barang-barang yang dulu dianggap biasa. Telepon genggam. Sepatu kerja. Jam tangan hadiah ulang tahun pernikahan.
Baju baju bekas
Celana panjang
Sepatu Adidas
Ke tukang loak
Untuk bertahan hidup

Setiap barang yang pergi seakan membawa potongan harga dirinya.

Suatu malam, istrinya berkata lirih, hampir berbisik,
“Mas… beras tinggal segenggam.”

MasKris mengangguk.
Ia masuk kamar mandi, mengunci pintu, dan untuk pertama kalinya menangis tanpa suara.

Air matanya jatuh bercampur air keran.
Ia menatap wajahnya di cermin
wajah seorang laki-laki yang merasa gagal.

Malam itu MasKris keluar rumah.
Ia berjalan tanpa tujuan, hanya mengikuti langkah kaki yang berat.

Hingga akhirnya ia berhenti di sebuah mushala kecil di sudut gang.
Lampunya redup.
Sepi.
Hanya ada seorang lelaki tua yang sedang duduk bersila, berzikir perlahan.

MasKris duduk di pojok. Dadanya sesak. Ia merasa rendah.
Merasa kalah oleh hidup.

Di dinding mushala itu, ada tulisan sederhana yang dicetak di kertas kuning pucat

Allah mempergilirkan kondisi manusia sesuai kehendak-Nya.

Ketika di atas, janganlah sombong karena tidak selamanya kita akan di sana.
Ketika di bawah, jangan terlampau bersedih karena tidak selamanya kita akan di bawah terus.

Jadikan syukur dan sabar dua sikap yang terus kita pegang.

MasKris membacanya berulang kali.

Entah kenapa, kalimat itu seperti berbicara langsung kepadanya. Bukan menghakimi.

Bukan menyalahkan. Tapi memeluk.
Untuk pertama kalinya sejak lama,
MasKris tidak bertanya, “Kenapa aku?”

Ia hanya berbisik pelan,
“Ya Allah… aku ingin belajar bersabar.”

Hidup MasKris tidak langsung berubah.
Pagi tetap datang dengan kecemasan. Malam tetap dipenuhi doa yang panjang.
Ia bekerja serabutan
mengangkat barang di pasar, membersihkan halaman orang, mengantar tetangga yang sakit.

Upahnya kecil. Tapi setiap kali pulang, ada rasa yang berbeda ia masih berguna.

Suatu sore, MasKris melihat seorang ibu tua terjatuh di depan warung.
Tanpa pikir panjang, ia membantu, mengantar ke rumah, membelikan obat dengan uang terakhir di sakunya.

Malam itu, ia pulang tanpa uang. Tapi hatinya hangat.
Di situlah MasKris mulai menyadari satu hal yang dulu tak pernah ia pahami

Saat kita berada di bawah, Allah justru mengajarkan kita melihat hidup lebih jernih.

Ia mulai bersyukur atas hal-hal kecil. Nasi hangat meski sederhana.

Tawa anak-anak meski tanpa mainan baru. Tidur nyenyak meski tanpa pendingin ruangan.

Ia belajar sabar
bukan karena terpaksa, tetapi karena percaya bahwa hidup ini sedang digilir.

Suatu hari, MasKris melihat sekelompok orang berbagi makanan gratis dan layanan kesehatan di lapangan kecil dekat rumahnya.
Ada spanduk bertulisan KRIS
Komunitas Relawan Indonesia Sehat
Ibu ibu dan bapak bapaknya sungguh berwajah ceria
Penuh suka cita

Mereka datang spanduk dengan spanduk kecil tapi bisa dibaca jelas
Tanpa sorotan kamera.
Mereka bekerja dalam diam, dengan senyum yang tulus.

MasKris bertanya,
“Ini kegiatan apa?”
Seorang di antara mereka menjawab,
“Kami dari KRIS. Komunitas Relawan Indonesia Sehat.

Kami ingin hidup yang lebih bermakna.”

Kata bermakna menggema di kepala MasKris sepanjang malam.

Ia mulai ikut membantu. Mengatur antrean. Mengangkat galon. Menemani lansia.
Tidak dibayar. Tidak dipuji. Tapi setiap pulang, MasKris merasa dadanya ringan.

Ia merasa hidupnya kembali bernapas.
Beberapa bulan berlalu.
Hidup MasKris belum mapan. Ia belum kembali “di atas”.
Tapi ia tidak lagi merasa kecil.
Ia menemukan sesuatu yang lebih berharga dari sekadar pekerjaan: tujuan.

Pada suatu sore, MasKris berdiri di tengah kegiatan KRIS. Ia melihat wajah-wajah lelah yang bahagia.

Orang-orang yang dulu tak ia kenal, kini terasa seperti keluarga.
Dengan suara bergetar tapi mantap, ia berkata,
“Aku ingin bergabung.

Aku ingin hidupku tidak hanya untuk diriku sendiri.”
Hari itu, MasKris resmi menjadi bagian dari KRIS.
Ia mengerti kini
Allah mempergilirkan hidup bukan untuk menghancurkan,
melainkan untuk mendidik hati.

Agar saat di atas, kita tidak lupa bersyukur.
Agar saat di bawah, kita tidak kehilangan harapan.

Agar kita tahu bahwa sukacita sejati lahir ketika kita mau menolong sesama.
MasKris tersenyum.

Ia belum sampai.
Tapi ia sudah berjalan di jalan yang benar.

Dan itu cukup
untuk hari ini, dan untuk hidup yang lebih baik.

MasKris sekarang menjadi sopir GO-JEK dan beberapa bulan kemudian dia sudah memiliki dan mengoperasikan 4 motor
Sedangkan MasKris sendiri menjadi Sopir tembakan atau panggilan
Atau asisten pribadi
Istrinya menjadi ART di sebuah rumah besar
Walau tidak berpenghasilan besar tapi sudah lebih dari cukup

MasKris menjadi iKON di para tetangga karena ringan tangan membantu sesama
Menjadi Relawan Tangguh tanpa pamrih

Www.adharta.com

Www.kris.or.id

Kisah Keluarga

Oleh: Adharta
Ketua Umum
KRIS

Kisah keluarga ini belum lengkap karena tidak menceritakan anak cucu. Ini lebih cerita tentang kakak adik, dengan harapan mungkin di kemudian hari bisa dibuat buku, termasuk anak, cucu dan cicit. Semoga.

Sahabatku yang terkasih,

Di dunia yang begitu luas dan penuh hiruk-pikuk, satu tempat yang tak pernah berubah adalah keluarga. Dan bagi saya, keluarga adalah anugerah terbesar yang Tuhan berikan.

Kami sepuluh bersaudara, 5 laki-laki dan 5 perempuan. Kami hidup dalam suasana sederhana, damai, dan penuh kasih. Masing-masing dari kami punya cerita, pergumulan, pasang surut hidup, dan keunikan sendiri, namun tetap terikat oleh satu hal: cinta keluarga yang tidak pernah putus.

Akar Cerita: Papa dan Mama

Kisah kami tidak akan pernah ada dan bisa dimulai tanpa menceritakan dua sosok yang menjadi fondasi kehidupan kami: Papa dan Mama.

Papa, Johnny Ongko (Ong Soei Ping) lahir dan besar di Fuzhou, Tiongkok. Hidupnya penuh perjuangan sejak muda. Beliau ikut kakek merantau ke Indonesia dan akhirnya bekerja di PELNI. Dari Surabaya hingga pulau-pulau kecil di timur Indonesia, Papa hidup bersama laut. Ombak, angin, dan pelabuhan menjadi sahabatnya. Beliau penyayang, tegas, dan memiliki ketekunan yang luar biasa. Tuhan memberinya umur panjang, 95 tahun dan di sepanjang hidupnya, Papa tak pernah kehilangan kerendahan hati.

Mama, Magdalena (Tjia Soei Tju), sosok perempuan lembut namun kuat. Beliau mengasuh kami dengan kasih yang tak terhingga. Beliau mendidik kami untuk saling mengasihi, saling menjaga, dan tidak meninggalkan satu sama lain. Hobinya masak-memasak: Mie rebus, lumpia, kue perut ayam, bubur asin. Semua masak sendiri. Tangannya dingin. Selain menjahit, mama juga membuat makanan dan kue. Sejak kecil, kami belajar bikin kue kering dan jualan kue. Mama meninggalkan kami di usia 73 tahun, namun kasihnya tetap mengalir dalam darah kami sampai hari ini.

Kalabahi, Alor

Kami semua lahir di Kalabahi, Pulau Alor, NTT. Dari situlah semua kisah ini lahir. Di sana Papa pernah menjadi Kepala PELNI.

Pulau kecil itu, dengan angin asin laut dan debur ombak yang lembut, adalah saksi bisu dari masa-masa awal keluarga kami. Kenangan kami bertebaran di sana. Tawa, tangis, bercanda, sesekali kenalan anak kecil, menyanyi Bolelebo dan Mai Fali. Lagu kebanggan orang-orang NTT. Semua kebersamaan dan mimpi-mimpi kecil kami. Di Alor, kami hidup dalam ketercukupan, bukan kemewahan. Namun justru dari situlah tumbuh rasa syukur, kemandirian, dan semangat untuk selalu berjuang.

Mari Mengenal Kakak Adikku

Kakak nomor 1, July Ongko. Kakak perempuan tertua kami menjadi suster perawat di Rumah Sakit Adi Husada Surabaya. Hidupnya didedikasikan untuk melayani sesama. July adalah pelita bagi orang sakit. Setiap orang yang mengenalnya pasti merasakan ketulusan hatinya. Namun Tuhan memanggilnya terlalu cepat. July meninggal di usia 30 tahun karena asma berat. Kepergiannya meninggalkan luka, namun juga teladan bahwa hidup yang singkat bisa menjadi berkat bagi banyak orang.

Kakak nomor 2, Ming atau George Artha, tinggal di Jakarta. Beliau seorang ayah dengan empat anak. Salah satu anaknya, Dr. Ir. Ridwan, dikenal sebagai ahli manajemen yang disegani. Kakak Ming adalah sosok yang bijaksana, pendiam namun penuh perhatian. Ia seperti penopang yang selalu ada ketika keluarga membutuhkan. Beliau suka sekali makan kepala ikan kakap Medan Baru di Griya Sunter

Kakak nomor 3, Christina, tinggal di Kupang, adalah ibu dari Tony Dima, MM, Ketua KRIS NTT. Christina adalah perempuan kuat, penuh kasih, dan menjadi figur penting dalam jaringan keluarga kami terutama di Nusa Tenggara Timur. Dialah penghubung, jembatan antara kami yang tinggal berjauhan. Ia selalu membawa cerita, kabar, dan kehangatan dari timur.

Kakak nomor 4, Herline (Ay Hoa), nama yang indah, dan begitulah hidupnya. Ia adalah pengusaha tangguh, cekatan, dan pekerja keras yang tinggal di Surabaya. Namun pada usia 51 tahun, Tuhan memanggilnya pulang. Kepergiannya menyisakan kekosongan besar, namun juga kenangan tentang kegigihan dan keberanian seorang perempuan yang pantang menyerah.

Kakak nomor 5 Risal, Penasihat KRIS, tinggal di Bandung. Seorang pengusaha kapal dan ahli bahan peledak. Beliau aktif di gereja, suka bercanda, dan dikenal sebagai “gudang cerita”. Jika keluarga adalah sebuah pesta, Risal adalah suara tawa yang paling keras. Sosok yang membuat keluarga menjadi hangat.

Kakak nomor 6, Steve, yang ulang tahunnya dirayakan hari ini (23 Jan), tinggal di Surabaya. Beliau lulusan Teknik Mesin Trisakti tahun 1973. Attitude-nya sederhana, rajin, tekun, dan tak pernah mengeluh. Hobinya cari makan enak. Kalau ke Surabaya, tidak lupa aku diajak ke tahu campur di Kalasan kalau ada Pak Dahlan Iskan. Sama doyan duren. Hubungannya dengan gereja begitu erat, hingga banyak orang mengenalnya sebagai sosok yang selalu siap membantu. Hidupnya adalah bukti bahwa kesetiaan pada pelayanan membawa kedamaian.

Kakak perempuan nomor 7, Elianora. Beliau adalah pengusaha logistik di Surabaya. Pribadinya kuat, tegas, namun berhati lembut. Beliau menjaga keluarga dengan mata dan hati seorang kakak perempuan sejati.

Saya, Adharta, anak ke-8. Tinggal di Jakarta, lulusan Teknik Sipil Trisakti tahun 1977 dan MBA Prasetiya Mulya tahun 1984. Jalan hidup membawa saya menjadi Ketua Umum KRIS. Saya tidak sempurna, namun satu hal pasti: saya mencintai keluarga saya. Segala perjuangan saya hari ini adalah warisan dari Papa dan Mama ketekunan, kasih, dan kerendahan hati.

Adik laki laki nomor 9, Freddy, tinggal di Kupang, adalah Penasihat KRIS. Beliau aktif di Gereja Bethany dan pemilik Hotel Ima Kupang. Freddy dan istrinya, Mariana, adalah pilar KRIS NTT. Mereka mendukung program stunting di TTU, membantu penanganan COVID-19, dan tak pernah menolak jika diminta membantu. Freddy adalah gambaran adik yang setia pada keluarga, Tuhan, dan masyarakat.

Adik perempuan nomor 10, Monalisa. Adik saya yang bungsu ini adalah dokter gigi yang tinggal di Singapura. Jika ada urusan rumah sakit, perawatan, atau kesehatan di Singapura, dialah “peta hidup” yang tahu semuanya. Ia cerdas, perhatian, dan selalu menjadi tumpuan keluarga saat ada yang sakit.

Sejak saya sakit operasi berulangkali di Singapura, drg. Monalisa selalu mendampingi istri saya drg. Magdalena dalam suka dan kesulitan. Mulai operasi Jantung sampai terakhir pasang ICD

Kekuatan Kami Hidup Rukun & Damai

Meski perjalanan hidup kami penuh badai kehilangan orang tersayang, perjuangan ekonomi, merantau ke banyak kota, kami tetap hidup rukun dan damai. Kesederhanaan hidup membuat kami mengerti arti saling menopang.

Kami tidak kaya harta, tetapi kami kaya cinta. Kami tidak selalu sempurna, tetapi kami selalu bersama. Ada banyak kenangan kecil tak terlupakan yang menjadi perekat keluarga.

Papa menggandeng kami ke pelabuhan, memperlihatkan kapal-kapal besar sambil bercerita tentang ombak dan badai.

Mama memasak hidangan sederhana, namun rasanya seperti cinta yang dituangkan di piring. Malam-malam di Kalabahi, kami duduk di teras rumah, melihat bintang yang seakan jatuh ke laut. Tawa kami saat berkumpul, tangis kami saat kehilangan, doa kami yang tak pernah putus–itulah kekayaan sejati keluarga kami.

Akhir kata, keluarga besar kami adalah bukti bahwa cinta tidak selalu lahir dari kemewahan, tetapi dari hati yang saling menjaga. Kami lahir dari kesederhanaan, namun tumbuh dengan kekuatan untuk saling menopang.

Saya bangga menjadi bagian dari keluarga ini. Saya bangga memiliki kakak dan adik yang rukun, penuh kasih, dan satu hati. Dan setiap kali saya melihat ke belakang, saya tahu apa pun yang telah saya capai hari ini di KRIS, di pekerjaan, dalam hidup adalah karena saya dibesarkan oleh keluarga yang penuh cinta. Inilah keluarga kami.

Inilah warisan Papa dan Mama. Inilah kisah buat anak-anak dan cucu-cucu. Kelak kalian semua mewarisinya.

Aliran air mata suka cita menutup kisahku.

Www.kris.or.id

Sumbangan Pemikiran Adharta Ongkosaputra

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Rabu pagi,
21 Januari 2026.
Hujan cukup deras menyelimuti Jakarta.
Di tengah cuaca yang muram itu, saya melaju menuju Tangerang,
ke tempat sebuah hotel milik seorang sahabat lama.
Di sanalah kami bertemu kembali setelah sekian lama tidak bersua
beberapa rekan direksi dari Grup Hotel Santika juga hadir menghangatkan suasana

Waktu pertemuan memang singkat, namun diskusi yang mengalir terasa padat, jujur, dan sarat makna.
Saya banyak belajar dari para Tokoh Perhotelan Nasional yang luar biasa
Santika Group
Merupakan salah satu group perhotelan yang terbentang di garis katulistiwa
Memberikan inspirasi kepada saya untuk sedikit memberikan sumbangan pemikiran
Mudah mudahan berguna bagi penggilingan keputusan
Demi membangun bangsa dan negara kita tercinta Indonesia

Tema utamanya
Masa depan industri perhotelan Indonesia di tahun 2026 dan 2027.

Percakapan pagi ini mempertemukan optimisme dan kewaspadaan.

Ada kekhawatiran, para pebisnis hotel
tetapi juga ada keyakinan bahwa industri perhotelan
seperti biasa
selalu punya daya lenting untuk bertahan, bahkan bangkit, bila dikelola dengan pendekatan yang tepat.

Kondisi Ekonomi 2026:
Tantangan Nyata dan Global

Pandangan pertama yang saya sampaikan cukup lugas:

kondisi ekonomi tahun 2026 masih suram, bahkan cenderung gelap.
Tekanan ekonomi global belum sepenuhnya reda.
Gejolak geopolitik, ketidakpastian pasar keuangan, fluktuasi nilai tukar, serta perubahan pola konsumsi masyarakat memberi dampak langsung pada berbagai sektor strategis.

Industri pariwisata, penerbangan, dan perhotelan menjadi sektor yang paling cepat merasakan dampaknya.

Penurunan daya beli, pengetatan anggaran perjalanan korporasi, hingga selektivitas wisatawan internasional membuat tingkat hunian hotel berada dalam tekanan.

Menurut pandangan saya, tahun 2026 dan 2027 masih merupakan fase penuh tantangan, bukan hanya soal bertahan hidup, tetapi juga soal beradaptasi dengan realitas baru.

Namun, justru di tengah tekanan inilah kualitas kepemimpinan dan strategi diuji.

Kesempatan Masih Terbuka:

Kunci keberhasilan Ada pada Kolaborasi

Pandangan kedua yang saya tekankan adalah bahwa kesempatan tetap terbuka, bahkan di tengah situasi sulit.

Industri perhotelan Indonesia masih memiliki potensi besar
baik dari sisi pasar domestik yang kuat, posisi geografis strategis, maupun kekayaan destinasi yang tidak dimiliki banyak negara lain.

Kuncinya ada pada kolaborasi, bukan kompetisi yang saling melemahkan. Persaingan harga yang tidak sehat hanya akan mempercepat kelelahan industri.
Yang dibutuhkan justru kesepahaman bersama untuk membangun ekosistem yang berkelanjutan.

Kolaborasi bisa dilakukan dalam berbagai bentuk:
Aliansi antar grup hotel, baik dalam pemasaran, sistem reservasi, hingga pengadaan.
Kesepakatan etika harga untuk mencegah perang tarif yang merusak nilai industri.

Berbagi data dan insight pasar agar keputusan bisnis lebih presisi.
Industri perhotelan harus bergerak dari pola berjuang sendiri menuju bertahan bersama.
Inovasi Model Bisnis:

Dari Investasi Kamar hingga IPO

Diskusi juga menyentuh banyak ide segar.
Salah satunya adalah model investasi kamar
di mana unit kamar dijual secara internal kepada investor strategis,

karyawan senior, atau mitra loyal, sebelum melangkah ke skala yang lebih besar seperti public offering.

Model ini:
Membantu likuiditas hotel tanpa ketergantungan penuh pada pinjaman bank.
Menciptakan rasa memiliki (sense of ownership) dari para pemangku kepentingan.
Membuka jalan menuju tata kelola yang lebih transparan dan profesional.
Selain itu, kerja sama dengan biro perjalanan, platform digital, serta grup usaha besar lintas sektor menjadi sangat krusial.

Hotel tidak lagi bisa berdiri sendiri sebagai penyedia kamar, melainkan sebagai bagian dari experience ecosystem.

Medical Tourism: Peluang Strategis yang Belum Maksimal
Salah satu peluang besar yang saya anggap belum digarap optimal adalah Medical Tourism.

Indonesia memiliki rumah sakit dan tenaga medis yang semakin kompetitif, namun masih kalah dalam hal integrasi layanan.
Bayangkan kolaborasi strategis antara:
Industri perhotelan
Rumah sakit dan klinik unggulan
Maskapai penerbangan
Biro perjalanan internasional
Paket terpadu medical & wellness tourism tidak hanya menarik wisatawan mancanegara, tetapi juga mencegah aliran devisa keluar negeri
karena selama ini banyak warga Indonesia berobat ke luar negeri.
Lebih jauh lagi, konsep ini berpotensi menarik devisa masuk, terutama dari kawasan Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Pasifik.

Hotel tidak sekadar menjadi tempat menginap, tetapi bagian dari proses pemulihan dan kenyamanan pasien serta keluarga.

Prediksi 2026–2027:

Bertahan, Menyusun Ulang, dan Bersiap Bangkit
Untuk tahun 2026–2027,

Saya melihat fase ini sebagai periode konsolidasi. Bukan masa ekspansi agresif, melainkan waktu untuk:
Merapikan struktur biaya
Memperkuat SDM inti
Meningkatkan efisiensi operasional
Memperdalam kolaborasi lintas sektor
Hotel yang mampu bertahan di fase ini, dengan neraca sehat dan strategi jelas, akan berada di posisi sangat kuat saat siklus ekonomi kembali membaik.

Harapan ke Depan:

Dari Kompetisi ke Kolaborasi Bermakna
Harapan saya sederhana namun mendasar:

Industri perhotelan Indonesia bergerak menuju kolaborasi yang dewasa dan bermartabat. Kolaborasi bukan sekadar proyek bersama, tetapi kesadaran kolektif bahwa keberlanjutan hanya bisa dicapai bila semua pihak tumbuh bersama.

Konsep kolaborasi terbaik adalah:
Berbasis kepercayaan
Saling menguatkan, bukan mendominasi
Mengutamakan kepentingan jangka panjang industri nasional

Di tengah hujan pagi itu, saya pulang dengan keyakinan bahwa meski langit ekonomi tampak mendung, industri perhotelan Indonesia belum kehilangan harapan.

Dengan kepemimpinan yang jernih, inovasi yang berani, dan kolaborasi yang tulus, jalan keluar dari kesulitan bukanlah ilusi
melainkan kemungkinan nyata yang sedang kita bangun bersama.

Semoga kita semua bisa menyadari pentingnya
Kebangkitan bersama

Salam sehat
Adharta

Www.adharta.com

Www.kris.or.id

Menyapa Hujan

Hai Hujan
Hai Hujan
Mengapa Engkau turun
Saya turun turun
Hai
Sawah Ladang mau tumbuh

Ketika tetes hujan menyentuh Wajah aku
Aku pun bertanya
Mengapa engkau membasahiku
Lihatlah disana anak anak burung Pipit sedang mandi dengan ceria
Disanalah permohonan mereka

Aku Sungguh beruntung
Pertama karena aku punya sahabat
Yang sangat baik
Kedua mereka semua sayang sama aku

Sering kali aku menyapa hujan
Sekali pun kadang itu hujan air mata
Tetapi
Selalu ada jawaban bahwa semua jauh lebih baik
Karena TanpaNya
Aku akan kehilangan

Sahabat ku
Lintas laut
Lintas udara
Walau hanya DOA
Yang ku terima
Saat ini
Itu sudah lebih dari cukup

Tapi Hujan sudah menyapaku
Dan aku menyapa Nya kembali
Semua
Untuk mengairi
Ladang dan sawah
Yang akan
Tumbuh subur

Untuk Semua
Sahabatku
Dia lah yang mempertemukan kita
Dan ketika kusapa Hujan
Sempurna lah persahabatan kita
Yang di ukir dengan tinta emas
Aku dan Dia
Ada bersamamu
Dalam Terima kasih

Ketikan ucapan terima kasih
Buat semua sahabat

1 Juni 2021
Selasa
Pagi pagi subuh

SAYAP MANUSIA


Malaikat punya dua sayap
Satu menjaga Manusia
Satu menguatkan Manusia
Tapi Manusia punya juga dua sayap
Bahkan tidak dimiliki mahluk manapun di dunia
Satu Sayap CINTA
Satu Sayap KASIH
Malailat pun tertegun
Berlutut dihadapan manusia
Cinta memberikan hatinya
Kepada siapa dia dicinta
Kasih memberikan Jiwanya
Bagii sahabat sahabat yang dikasihinya
Tanpa pilih Kasih

Airmata bisa meleleh meleburlan hati yang beku karena Cinta

Pertolongan sesama datang dan hadir karena Kasih
Perjuangan buat sesama
Tanpa memikirkan jiwa dan raga serta keselamatannya

Hai Para Dokter
Para Tenaga Medis
Para Donatur
Anda sedang mengembangkan kemegahan Sayap mu

Kami berlindung dibawah kepakmu

Tuhan Tahu
Apa yang Dia Inginkan
Tapi Tuhan lebih mau apa yang dia butuhkan yakni

Dua Sayap Manusia

Terbanglah
Ke Angkasa
Namamu akan
Ada di hatiku
Sampai aku tiada

Adharta
Maret 2020
Covid 19
Tamu tidak di undang
Kamu akan sirna di bawah kepak sayap manusia