Archive for May, 2013

Ketahuan

Saatku melihatmu
Kau sedang bermesraan
Dengan seorang
Yang kukenal

O ow.. Kamu ketahuan
Pacaran lagi
Dengan dirinya
Teman baikku

hqdefaultSiapa yang belum pernah berbuat sesuatu yang disembunyikan lalu ketahuan? Semua dari kita pasti punya rahasia. Jika rahasia terbuka, kita bilang ketahuan. Hal itu tentu membuat perasaan kita campur aduk antara malu, marah, kesel dan juga kecewa jadi satu. Kalau tidak ketahuan kita akan meloncat kegirangan karena kita hebat bisa menyembunyikan rahasia, yang pasti dalam arti negatif, karena rahasia dalam arti positif ketahuan pasti malah merasa bangga.
Mengapa kita takut ketahuan? Karena kalau kita berjalan di jalan gelap kita takut akan cahaya, karena terang akan membongkar rahasia kita dan “mempermalukan hal yang memalukan”. Korupsi, manipulasi, selingkuh, dan mencuri adalah bagian dari sisi kegelapan manusia. Anehnya karena mereka juga jalan di terang tetapi bisa menyembunyikan kegelapan, nanti kalau ketahuan baru menyesal! Selama belum ketahuan kita bisa berfoya-foya di atas kegelapan !
Sungguh suatu kebahagiaan besar buat kita semua yang bisa menikmati terang Tuhan, khususnya melalui firman-Nya. Jika semakin sering kita dengar sabda-Nya, maka semakin kita terbuka. Kita pun tidak akan takut ketahuan apapun penyebabnya.
Ada 3 hal yang menyebabkan kita tidak terbuka, tapi suatu saat nanti kita ketahuan, yaitu :
Pertama, ketidakjujuran. Jujur itu penting dalam hidup kita karena kejujuran merupakan sumber kebahagiaan dan kedamaian hidup, baik jujur terhadap diri sendiri maupun terhadap orang yang kita cintai.
Kedua, ketidakpekaan. Ketidakpekaan terutama terhadap kehidupan kita sendiri seperti tidak mau merawat diri dengan baik, misalnya badan dan pikiran kita, sehingga tidak mudahnya setan merasuk merayu dan mempermainkan kita. Ketiga, ketidakmampuan kita membaca tanda-tanda jaman. Kita membutuhkan kemampuan ini terutama yang menyangkut diri kita, misalnya mengenal siapa kita dan juga mengetahui tujuan dan arah hidup kita.
Kalau saja kita bisa selaras, harmonis dan menjalankan hidup sesuai dengan arahan Tuhan, maka kita tidak perlu takut ketahuan. Seperti lirik lagu di atas yang mudah kita cerna. Sebenarnya maknanya lebih dalam dari kata-katanya. Coba kita baca secara teliti !
Semoga Tuhan menguatkan kita dalam hal mengenal diri kita sendiri, membangkitkan semangat hidup kita dan membuat kita mau menyadari apa yang kita perbuat. Salam dan doa.

Advertisements

Keamanan

Bagaimana hidup diantara aman dan tidak aman, tetapi keamanan bagian dari kedamaian (Bill Clinton)

corp.security.policyPagi-pagi sekali sopir saya sudah laporan bahwa ada yang curi ban serep mobil dan aki mobil box saya yang semalaman diparkir diluar rumah, tetapi aku agak kesel juga jadi suruh lapor pak RT bertanggung jawab. Apalagi kejadian yang sama di depan rumah ada yang kehilangan sepeda motor. Sewaktu kejadian kerusahan Mei 1998, hampir semua jalan masuk perumahan diberi portal gerbang besi karena selama lebih 2 tahun hidup dalam ketakutan. Saat itu tidak ada jaminan keamanan dari pihak yang namanya keamanan. Masih teringat di kampung saya ada satuan pengamanan, yang terdiri dari sebagian anggota polisi, tenaga pengamanan dan sukarelawan tanpa bayar. Selama 10 tahun belum dibubarkan, hanya volunteernya saja yang sudah tidak ada. Akhir-akhir ini pun keamanan sudah tidak terjaga.
Padahal baru semalam saya berdiskusi mengenai persiapan keamanan di gereja. Kita belajar bagaimana antisipasi dan prediksi kedepannya serta simulasi keamanannya. Perencanaan selalu bisa mengatasi lebih baik karena terkait tindakan preventif. Simulasi kebakaran, kejadian darurat gempa bumi, dan sistem standard evakuasi sangat diperlukan supaya persiapan kita lebih matang dalam situasi darurat.
Bicara keamanan, saya tertarik dengan statement bahwa keamanan adalah bagian dari kedamaian dan kedamaian itu adalah sumber kebahagiaan. Kita seringkali menganggap keamanan itu urusan orang lain. Kalau di rumah itu urusan satpam atau pembantu, tetapi sebenarnya tanggung jawab adalah di diri kita sendiri, bukan ditangan orang lain.
Misalnya bagaimana kalau kita berkendaraan dengan mobil yang dikendarai oleh sopir. Apakah nyawa kita ada ditangan sopir?
Oleh karena itu, struktur keamanan mulai dari hulu sampai hilir harus kita kuasai. Sopir hanya pelaksana saja yang harus mengikuti sistem keamanan.
Dasar pemikiran keamanan harus kita mulai dari diri kita sendiri, terutama dalam kehidupan rohani, apapun yang terjadi kita harus siap. Karena kejadian itu bisa terjadi seperti pencuri di malam hari, maka tidak ada salahnya kita berjaga-jaga. Seorang pemuda kehilangan sepeda motornya yang diparkir di halaman gereja. Ia sangat terpukul. Setelah dua belas bulan mengangsur dengan gaji pas-pasan, sepeda motornya raib! Para pemuda berdoa baginya. Lalu, sebuah pertanyaan muncul: “Mengapa hanya berdoa? Tidak bisakah kita berbuat sesuatu?”. Tanpa sepengetahuan si pemuda, puluhan rekannya berusaha mengumpulkan uang.
Ada yang menyisihkan penghasilannya setiap bulan. Ada yang berjualan kue. Setahun kemudian, mereka berhasil membeli sepeda motor baru dan diserahkan kepada si pemuda pada persekutuan malam natal. Momen itu sangat indah. Penuh tawa dan air mata. Baik yang memberi maupun yang menerima. Semua dilimpahi berkat Tuhan.
Tuhan sering membentuk kerohanian kita melalui persekutuan. Tak seorang pun bisa memiliki kerohanian yang dewasa semata dengan berdoa, berpuasa, atau mendalami Alkitab secara pribadi. Itu sebabnya, Rasul Paulus meminta jemaat untuk selalu terlibat dalam persekutuan. Dalam setiap persekutuan, ada bermacam-macam orang. Ada yang hatinya sedang sesak (Roma 12 : 9-17 ),
hidup berkekurangan, berduka cita dan bahkan mungkin ada yang jahat. Tidak mudah mengasihi dan memahami mereka. Konflik dan salah paham biasa terjadi. Namun, justru lewat semua itu kita belajar mengasihi dengan tulus. Belajar menangis dan tertawa bersama. Belajar sehati sepikir.
Tuhan membentuk kita lewat orang lain. Maka benamkanlah diri Anda dalam persekutuan. Di situlah Anda memiliki kesempatan untuk berlatih mewujudkan kasih dalam tindakan nyata! Semoga Tuhan memberkati dan melindungi kita semua. Salam dalam doa.

Jompo

Kalau kumpul di sini Panti Jompo, kami senang dan bahagia, tetapi kalau ingat masa lalu, hati kami sedih sekali, sayang waktu tidak bisa mundur!

pantijompoSaya menghadiri misa arwah di lingkungan kami, kebetulan diadakan di Aula Panti Werdha atau Panti Jompo (PJ), karena datang agak terlambatt jadi saya tidak ikut prosesi. misa tapi menyempatkan diri ngobrol dengan Jompoer (istilah untuk orang tua). Dialog dengan saya cukup membuat hatiku ikut merasakan bagaimana suka duka tinggal di PJ

Saya (A) : Berapa usia bapak?

Jompoer 1 (J): 68 tahun cu (tapi usianya sudah seperti 80 tahun dan istrinya sudah meninggal dua tahun lalu)

(A) : Kenapa kakek tinggal di PJ? Apakah anak-anak tidak ada yang merawat?

(J) Saya punya anak 4 orang semuanya pengusaha dan cucu 5 orang, tapi mereka tidak pernah menjenguk saya, karena hubungan kami selama ini kurang baik, jadi inilah seperti karma, dulu waktu muda saya juga tidak pernah mau menjaga atau merawat orang tua saya! Kata beliau penuh penyesalan.

(A) : Apakah kakek tidak rindu dengan anak cucu dan tidak ingin berkumpul bersama?

(J) : Saya rindu sekali, tapi cuma bisa mencium foto-foto mereka dan berdoa buat mereka!

Dialog dengan Jompoer ke 2 (JJ) seorang nenek usia 78 tahun dan kelihatannya segar dan ceria sekali beliau masih memiliki suami yang lebih muda dan sehat tapi tinggal sama anak-anaknya!

(A) : Mengapa nenek memilih tinggal di PJ dan tidak bersama anak cucu dan suami?

(JJ) : Saya sudah pikun juga sakit-sakitan. Suami sudah tua dan anak-anak kerja sehingga tidak ada yang merawat saya !

(A) ; Apakah ada kerinduan jumpa dengan anak cucu?

(JJ) : Tidak juga karena mereka sering sekali datang ke sini dan juga disini banyak teman-teman semasa muda!

(A) : Apakah nenek bahagia tinggal di sini?

(JJ) : Bisa ya bisa juga tidak. Kalau kumpul di sini senang dan bahagia, tetapi kalau ingat masa lalu, hatiku sedih sekali, sayang waktu tidak bisa mundur!

Sungguh suatu keindahan tersendiri kalau kita mau merawat orang tua kita dan kelak kita akan merasakan bagaimana anak-anak dan cucu-cucu kita merawat kita. Mari jadikanlah semua indah dan bahagia. Tuhan memberkati dan melindungi kita semua, Salam dan doa.

Tunda-tunda

Menunda sebuah pekerjaan sama dengan menutup peluang sebuah keberhasilan (Adh)

RechtzeitigSaya hari ini masuk kantor lebih pagi karena ada beberapa pekerjaan terpaksa saya tunda kemarin lantaran terbatasnya waktu, tetapi sebenarnya saya bisa selesaikannya. Ada rasa malas membuat saya tunda jadi pagi ini. Pagi ini ingin kuselesaikan sebaik-baiknya. Tetapi beberapa kendala terjadi sehingga saya mengalami kegagalan. Hal ini tentu membuat saya agak kecewa. Akibat penundaan ini kami mengalami kerugian cukup besar.
Orang tua menasehati bahwa jangan suka menunda-nunda pelaksanaan suatu pekerjaan bila tidak karena terpaksa. Hal ini memang sesuatu yang benar, karena menunda pekerjaan itu memiliki aura negatif dan sekaligus bisa menghilangkan peluang kita sendiri. Saya juga punya kebiasaan buruk menunda-nunda pekerjaan apalagi pekerjaan itu tidak saya sukai. Kadang-kadang memang ada untungnya. Misalnya saya biasa mencari seseorang untuk mewakili pekerjaan saya. Ada juga kebiasaan yang saya suka tunda, yaitu ke gereja. Ini tidak bisa diwakilkan apalagi kalau sudah mendung atau hujan. Alasan utama adalah tunggu hujan berhenti atau terbentur dengan waktu pesta, tetapi ada untungnya menyisip di Misa Perkawinan karena sekali jalan dua tugas selesai. Menunda pekerjaan ibarat menimbun masalah.
Menunda pekerjaan itu berbeda dengan menunda pengambilan keputusan. Menunda pekerjaan adalah menunda sebuah tugas yang sudah seharusnya dikerjakan sekarang. Sebaliknya menunda pengambilan keputusan lebih terhadap penyelarasan waktu, tetapi kemiripan ini membuat kita sering rancu antara menyelesaikan tugas atau mengambil keputusan. Adakalanya orang lambat mengambil keputusan diibaratkan orang tidak bisa bekerja.
Kalau orang jepang mengatakan “Kamban” atau penyelesaian tugas tepat waktu. Mereka menganggap menunda pelaksanaan tugas adalah tabu. Orang Jerman bilang Rechtzeitig atau waktu penyelesaian tugas harus diperhitungkkan dan dikerjakan segera. Yang saya kagumi adalah cara kerja orang Cina sekarang. Mereka bukan saja harus tepat waktu tapi ada istilah Jishi atau berjuang mengalahkan waktu. Mereka melangkah selangkah di depan kita. Kita masih memikirkan menepati waktu, mereka sudah memikirkan mengalahkan atau mempersempit waktu, sehingga pekerjaan bukan saja tidak ditunda tetapi malah maju dan lebih cepat. Dalam kunjungan saya ke Dalian, Cina Utara, untuk mengunjungi sebuah Shipyard atau galangan kapal, mereka mengistilahkan supermarket kapal. Kalau mau beli kapal tugboat dan tongkang seperti orang mau beli ikan di pasar tinggal pilih saja. Mereka memproduksi tanpa atau tidak berdasarkan job order. Sebaliknya keuntungan bagi pembeli adalah mereka tidak perlu waktu tunggu membuat kapal, seperti beli kapal bekas dan siap pakai. Sering kalau kita memesan kapal dengan kontrak kerja 1 tahun bisa jadi 2 tahun. Apalagi dikerjakan di Indonesia, molor waktu sangat sering terjadi. Mari kita membangun kebiasaan baik dengan tidak menunda-nunda sebuah pekerjaan. Usahakan semua pekerjaan selesai tepat waktu. Jika memungkinkan kita bisa menyelesaikannya lebih awal lebih baik. Semoga Tuhan memberkati segala usaha kita semua. Salam dan doa.

Pengabdian

Pengabdian bukan sekedar pelayanan, tetapi bagian dari nyanyian hati nurani (Powel)

pengabdian_eps1Pagi-pagi sekali aku mendapat telepon dari dokter Tarti. Beliau adalah sahabat saya dari sebuah Rumah Sakit. Kabarnya bahwa ada sedikit masalah perihal operasi mata Katarak dari Paroki Kristoforus, yang dipimpin oleh Bapak Rudianto Prayatna. Pasalnya para pasien sudah datang tetapi masalah administrasi dan prosedural harus dipenuhi. Saya tidak enak hati jadi langsung menuju ke sana. Sampai divsana memang sudah 4 orang yang mau dioperasi Katarak, tetapi belum didaftar, belum bayar dan belum ada pengantar surat dokter. Kasihan juga sudah 2 jam menunggu apa harus disuruh pulang. Ada juga 3 pasien lainnya yang datang dan langsung dioperasi.
Karena pihak rumah sakitnya terus beralasan dan ngotot tidak mau terima, saya jadi emosi juga. Saya bilang ini karya pengabdian jadi harusnya birokrasi harus dikalahkan atau dikesampingkan. Karena tetap tidak diijinkan, saya bilang kenapa pasiennya tidak disuruh pulang saja? Mengapa harus disuruh tunggu begini lama hanya untuk disuruh pulang? Lalu melalui beberapa teman saya diperkenalkan dengan direktur rumah sakit. Sungguh luar biasa ternyata beliau langsung perintahkan adakan pemeriksaan dan dioperasi matanya. Dia juga minta maaf secara terbuka kepada saya. “Pengabdian itu beda dengan pelayanan, karena pengabdian itu bagian dari hati nurani, sedang pelayanan itu hanya memikirkan birokrasi dan administrasi, tanpa melibatkan nyanyian hati”, katanya dengan sungguh-sungguh.
Saya tertegun, hampir kering leher saya, karena sekarang saya baru tahu bedanya pengabdian dan pelayanan!
Salut buat Pak Rudianto Prayatna. Akhirnya berhasil mengoperasi 79 orang warga Paroki Kristoforus dengan cuma-cuma !
Kita sering berbicara tentang pelayanan. Tuhan memang suka dan ingin kita manusia bisa saling melayani, tetapi Tuhan membutuhkan hati kita, bukan sekedar melayani tetapi memberi hati kita terutama menghadapi saudara-saudara kita yang berkekurangan, seperti halnya kita memberi, baik bantuan atau apa saja, berikanlah dengan hati yang tulus.
Pada suatu kesempatan, saya dengan seorang sahabat satu mobil, saat diperhentian lampu merah, ada seorang bapak pengemis. Lalu teman saya mengambil beberapa coin lalu diberikan kepadanya. Ternyata dengan manis sang pengemis mengembalikan coin tersebut dan mengatakan terima kasih, lalu pergi. Teman saya marah-marah. Saya tersenyum walau dalam hati jengkel juga. Kurang ajar si pengemis, dikasih uang kok malah menolak, tetapi saya coba refleksi sejenak dan dengan sadar, saya juga menyesal karena berfikir negatif. Manusiawi, harga diri, kesombongan, sering kita alami juga. Saya juga pernah mengalami meminta bantuan seseorang tetapi tidak sesuai dengan keinginan kita, lalu kita marah dan kesel. Inilah suatu kelemahan tetapi sekaligus kekuatan manusia, karena kita ambil nilai positifnya bukan negatifnya. Kita sering meminta kepada Tuhan, tapi sering menerima tidak sesuai dengan pemberian Tuhan, lalu kecewa seperti pengemis itu.
Saya menulis ini sambil makan Pangsit Mie di Makasar, sambil diiringi nyanyian seorang pengamen menyanyikan sebuah lagu, judulnya Kasih. Ajarilah kami ini saling mengasihi, Ajarilah kami ini saling mengampuni, karena Kasih itu tiada batasnya. Makan Mie pun serasa lebih enak! Yang sekaligus mengajari saya, bagaimana melayani dengan hati. Mengabdi dengan cinta kasih, melalui firman Tuhan yang selalu membimbing kita sebagai terang bagi jalan hidup kita.
Kami mengunjungi beberapa orang sakit di Toraja, yang tidak kami kenal sebelumnya, lintas batas dan tidak ada interest sama sekali. Di sini mengingatkan saya kepada sahabat-sahabat dokter dari MSF (Medicine Sains Frontier – Dokter Lintas batas yang berpusat di Brussels). Kami bersama-sama mendarat di Banda Aceh juga di Jogjakarta. Rasanya rindu bisa bersama-sama lagi melihat perjuangan mereka, yang meninggalkan keluarga berbulan-bulan melayani di Indonesia, terhadap saudara-saudara kita yang mereka tidak kenal. Kisah ini diulang lagi oleh Pastor Gabriel Maing, OFM saat makan malam di Bumbu Desa minggu lalu, sambil bernostalgia saat beliau jadi kepala Paroki Bonaventura di Jogjakarta Semoga Tuhan selalu menguatkan hati kita dalam mengabdi. Salam dan doa.

Mujur

Sopo ngerti nasib awak lagi mujur, kenal anake sing dodol rujak cingur (rek ayo rek)

jujur-426x288Banyak cerita tentang mujur. Bisa saya ceritakan petikan dari kisah persahabatan Pangeran Muda Min Zhu yang dikisahkan pada jaman Disnati Ming.
Zhu bersahabat sangat akrab dengan Quo seorang Han biasa. Pangeran muda ini sangat hobby berburu binatang di hutan. Karena suatu kecelakaan panah Quo mengenai tangan Zhu. Akibatnya beberapa jarinya harus diamputasi. Zhu sangat geram sehingga menitahkan jari tangan Quo juga minta dipotong. Hal ini membuat Quo sakit hati, marah dan dendam kepada sahabatnya, karena dia menganggap itu kecelakaan bukan disengaja. Sebagai sahabat baik dia sudah minta maaf, tetapi Zhu tidak mau mengerti. Dalam suatu perjalanan di hutan tiba-tiba mereka disergap oleh suku bangsa barbar kanibal, pemakan dan pemangsa manusia. Zhu dan Quo tertangkap. Mereka sungguh sangat takut karena mereka berdua harus dibunuh dan dimakan, tetapi nasib berkata lain. Kedua anak muda ini bebaskan, karena ada syarat dari suku bangsa itu bahwa mereka tidak boleh makan manusia yang cacat.
Zhu berkata kepada sahabatnya : “Quo, terima kasih, kalau engkau tidak membuat tanganku cacat, aku pasti sudah mati dan dimakan oleh suku bangsa barbar tersebut!”, katanya sambil merangkul sahabatnya. Quo juga menangis, dan sangat menyesal karena dia sangat benci terhadap Zhu, katanya : “Terima kasih sahabat, dan maafkan aku, selama ini aku membencimu, karena sikap dan tindakanmu menghukumku, tetapi akibat hukuman itu saya juga selamat. Mereka berangkulan sebagai sahabat baik dan memberikan kemujuran dan menyelamatkan mereka berdua.
Saya mengalami hal mujur berulang kali. Suatu senja saya dan sopir berdua pulang dari Cilegon. Nasib kurang baik karena kami menabrak seekor kambing betina besar dan mati. Dengan niat baik, kami berhenti, pikirnya mau ganti rugi, tapi kebaikan hati kami diterima salah bahkan kami dituntut membayar denda cukup besar yaitu 5x harga kambing tersebut. Kami setuju membayar kerugian tersebut, tapi saya minta pembayaran harus dihadapan Pak Lurah setempat supaya menghindari hal-hal tidak diinginkan kemudian. Penduduk setempat pun setuju lalu kami menuju rumah Pak Lurah. Hal yang sungguh diluar dugaan ternyata saya kenal Pak Lurah tersebut bahkan kami disambut dengan kopi, jagung rebus dan kue-kue enak! Lalu Pak Lurah bertanya, siapa pemilik kambing tersebut? Ternyata kambing ini tak bertuan. Pak Lurah menegur warga, kalau bukan milik kalian kenapa harus menuntut denda begini besar. Lalu penduduk setempat diwakili oleh bapak haji menjelaskan bahwa uang tersebut nanti akan diserahkan kepemiliknya, kalau tidak akan disumbangkan! Cerita berubah 180 derajat. Akhirnya pak Lurah mengajak damai karena tidak ada denda. Kambing yang mati diolah oleh ibu-ibu dibuat gule dan sate. Kami semua akhirnya bersuka ria pesta gule kambing dan sate kambing lalu saling memaafkan dan kami makan dengan kenyang malam harinya.!!!

Mujur memang sering hadir dalam kehidupan kita. Saya sungguh percaya tangan Tuhan bekerja keras untuk kemujuran setiap orang. Saya menjadi saksi dalam perusahaan kami sering terjadi kasus-kasus yang penyelesaian akhir berbeda sama sekali dengan kondisi yang seharusnya terjadi dan nasib baik berpihak kepada kami. Alangkah indahnya keadaan mujur ini jadi kisah yang manis dan terukir di hatiku.
Semoga kita semua bisa melihat kemujuran kita sebagai tangan Tuhan yang bekerja melindungi dan menjaga kita untuk sumber suka cita sekarang, selalu dan selamanya. Semoga Tuhan memberkati kita semua. Salam dan doa.

Kemah

Membangun Kemah Tuhan di padang gurun (Kel 25 : 1-9)

21857_328558458326_5963782_aSungguh suatu musibah besar kalau sampai gereja sampai tenggelam karena banjir, sebab gereja itu Kemah Suci yang harus dijaga dan dilindungi, karena gereja sebagai sumber kekuatan yang menjaga kita lahir dan batin. Bagaimana bisa melindungi kita kalau gereja sendiri menghadapi banyak masalah. Banjir air maupun banjir masalah.
Saksi mata sejarah pembangunan Gereja Kristoforus bercerita panjang lebar tentang perjuangan umat. Istilahnya membangun kemah suci di padang gurun. Sejak blue print dibuat, Pastor Kemper mengatakan : “Bahwasannya gereja ini ibarat tenda atau kemah yang menjadi Kemah Suci dibangun di tanah tandus, laksana padang gurun, semoga kelak anak-cucu memikirkan pembangunan gereja ini lebih baik dengan menjaganya dan merawatnya!” Yan Tantry, seorang ayah sekaligus kakek melanjutkan cerita bagaimana beliau harus bertugas mengambil semen dengan truk di Tanjung Priok, karena pembangunan gereja banyak menggunakan innatura. Memang bangunan cable suspension roof ini adalah bangunan dua air yang berbentuk kemah. Kemah adalah bangunan sederhana, yang memang menjadi bagian dari penyelamatan dunia, sekarang sebagai kelanjutan sejarah, kita wajib menyelematkan gereja kita.
Saya melihat kenyataan yang ada bahwa Kemah Suci yang dibangun dalam diri kita juga harus dibangun di atas dasar yang kuat, bebas banjir dan segala gangguan. Saya masih ingat pesan mama saya sewaktu saya masih kanak-kanak. Kalau ada bencana, gempa bumi ( banjir ) larilah ke gereja dan berlindunglah di sana. Saya setuju dengan beliau. Bagaimana kita mau berlindung jikalau gerejaku banjir? Bagaimana saya mau berlindung kalau hatiku mengalami tsunami, gempa bumi dan bencana lainnya? Padahal benteng perlindungan terakhir kita adalah hati. Hati adalah kemah suci di mana kita perlu menjaganya dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai kemah-kemah lain dibangun disana. Apalagi sampai pindah ke kemah orang lain! Mari menatap masa depan kita dengan memelihara kemah suci kita. Mari membuat kekuatan yang melindungi hidup kita. Semoga Tuhan memberikan kekuatan damai sejahtera buat kita semua. Salam dan doa.