Archive for November, 2013

Kedewasaan

Banyak yang bilang menjadi dewasa itu tidak sederhana, tetapi nyatanya dewasa hanyalah soal mencoba berhenti untuk hanya memikirkan diri sendiri.

images (1)Ada sebuah kisah yang menceritakan bahwa orang dewasa itu bukan saja tidak boleh menangis tetapi orang dewasa itu tidak boleh membuat orang menangis. Karena kedewasaan itu harus mampu mengatasi kesedihan, kemarahan, egoisme, dan segala hal yang tidak bisa diatasi oleh anak kecil. Kedewasaan memiliki kemampuan menghibur, ibarat orang tua yang menghibur anaknya dikala sedang menangis.

Kedewasaan bisa dimiliki seseorang melalui proses misalnya kekecewaan, kehilangan, dibohongi, dan dilukai, yang dilaluinya atau bahkan melalui proses mengalami tekanan-tekanan seperti seorang anak yang sejak kecil sudah harus membantu orang tuannya bekerja, atau memang harus bekerja sendiri mulai kecil
seperti sebuah kata bijak “You never know how strong you are, until being strong is the only choice you have”.

Sementara kedewasaan seseorang sangat dibutuhkan seakan-akan dunia ini tidak membutuhkan orang cengeng, orang putus asa dan orang-orang yang selalu mengeluh dan mengeluh. Seperti pemikiran anak kecil dia selalu lebih dari yang dipikirkan sehingga selalu merengek apabila kenyataannya lain dari yang dihadapi.

Kenyataan memang demikian, tidak ada satu manusia pun di dalam hidupnya tidak pernah disakiti, tidak pernah kehilangan atau kekecewaan, tetapi saat kelak mereka memahaminya, maka mereka akan merasa bahwa betapa indahnya proses kedewasaan yang mereka alami. Segala pembelajaran itu memang sungguh indah seperti kita mengenang bagaimana kita dipukul seorang ayah atau ibu. Rasa sakitnya begitu indah saat kita sudah tidak bersama mereka, karena sebenarnya kita belajar terhadap sesuatu yang terjadi. Kita bukanlah menghapus apa yang mampu kita hapus dari pikiran kita, tetapi justru membiarkannya membuat kita semakin dewasa.

Dan semua ini akan menjadi harta karun dalam diri kita dan justru membuat kita semakin kaya. Hidup dalam kehidupan memberikan makna bagi kita sehingga kita perlu bersyukur bahwa apapun yang terjadi dalam diri kita menuntun kita menjadi dewasa. Di sana kita akan menemukan kebahagiaan dan suka cita karena segala ganjelan, permasalahan, kekecewaan, kebencian, sudah tidak ada artinya lagi bagi kita. Saya sepakat dengan pendapat pada ahli psikologi, bahwa apa bila diri kita masih terus dipengaruhi orang lain karena kita merasa dikecewakan, dibenci dan lain sebagainya, maka itu berarti kita hidupnya masih dipengaruhi orang lain artinya kita belum dewasa.

Bagi saya yang terbaik kita belajar mengenal diri kita sendiri, karena kita diciptakan itu unik atau lain daripada yang lain dan tidak mungkin sama. Artinya orang lain juga demikian tidak mungkin sama dengan kita. Jadi, kalau kita kecewa karena orang lain tidak bisa mengerti kita, bagaimana kita bisa mengerti tentang diri kita.

Semoga kita semakin hari semakin dewasa semakin mengerti siapakah dan bagaimana diri kita sehingga dengan demikian kita akan bisa mengerti orang lain dengan baik dan benar. Salam dan doa.

Advertisements

Kesehatan

Hari Selasa, 12 Nopember 2013 lalu kita memperingati Hari Kesehatan Nasional ke-49.

img_millenium-goals-hdrSaya mengikuti perkembangan walau sebagai anggota non aktif MD ( Millenium Development) yang berpusat di Auckland, New Zealand, sebagai bagian dari pendukung UNHCR (united Nation High Commision for Refugee), tetapi saya terus mengikuti perkembangan program mereka tentang kesehatan, terutama mengurangi tingkat kematian dini, memerangi HIV-Aids ( 1 Desember 2013 adalah hari AIDs sedunia akan diperingati juga oleh umat Kristoforus melalui seminar), memberantas Malaria dan penyakit lainnya dan program pelestarian Lingkungan Hidup.

Melihat program kerja MD rasanya kita agak malu juga karena kita di Indonesia kurang memperhatikan kesehatan dan keselamatan hidup. Di sisi lain orang di Luar Negeri memperhatikan kita. Ambil contoh : kalau kita naik mobil jarang mau pakai safety belt. Ada orang naik motor bertiga dan tidak pakai helm. Kalau di Australia anak di bawah 10 tahun harus menggunakan safety chair untuk melindungi anak. Pelayanan Rumah Sakit yang sangat minim buat orang miskin dan jaminan sosialnya tidak ada. Kesehatan banyak dipengaruhi oleh faktor individual dan keluarga serta lingkungan. Kesehatan juga menjadi sumber suka cita bagi keluarga dan masyarakat.

Pertanyaan kita sering timbul, apa peran aktif Gereja kita dalam kesehatan. Di Kristoforus ada kelompok KEPAK (pemerhati HIV Aids Kristoforus). Sayangnya malah diabaikan oleh Paroki, padahal sesuai data bahwa di wilayah barat Jakarta lebih dari 40.000 orang terinfeksi HIV Aids, dan sekarang mereka hidup berdampingan dengan kita.

Kesehatan, suka atau tidak suka, memang harus diperhatikan, lalu apa yang harus kita lakukan? Jangan sampai sesuatu yang begitu berharga kita harus lalui begitu saja. Semoga kita semua diberkati kesehatan yang baik sehingga kita bisa memikirkan kesehatan bagi sesama kita. Tuhan bersamamu.

Prasangka

Memiliki prasangka baik adalah bagian dari pengharapan, seandainya kenyataan lain itu adalah Iman (Adharta)

1335321950709016220Lebih berguna menjadi seorang baik hati daripada menjadi seorang raja yang agung, ungkapan Thor kepada ayahnya Odin saat menawarkan kepadanya untuk menjadi raja sebagai penggantinya, namun ditolak oleh Thor. Padahal ayahnya berprasangka bahwa Thor pasti menerimanya. Lalu, kata ayahnya : “Aku mau mengucapkan sesuatu tapi bukan mulutku tapi hatiku!” Ini sebuah ungkapan iman yang baik, bahwa mulut dan hati belum tentu selaras, tetapi kepasrahan terhadap hati kecil itu sangat baik sebagai sebuah ungkapan pengharapan.
Asyik juga menikmati sebuah film kolosal Thor yang sedang di putar di Jakarta.

Ada kisah dalam komik Tintin dengan judul penerbangan 714, yang ditulis sekitar tahun 1940-an. Suatu peristiwa Kapten Haddock menyisipkan uang 5 dollar, ke topi seorang yang dianggap pengemis miskin, ternyata pengemis tersebut adalah multimillioner. Kejadian ini ditulis saat transit rombongan Tintin di Bandara Kemayoran Jakarta. Hal yang sama dikisahkan oleh seorang sahabat Pastor dalam rangka menghadap bapa suci. Semua berdandan dan menggunakan baju bagus, tetapi ada seorang yang tampil dengan baju sangat sederhana, lalu di antara mereka bisik-bisik berprasangka terhadap orang tersebut. Ternyata setelah selesai baru diketahui bahwa orang tersebut adalah multimilioner dari Amerika yang datang dengan jet pribadi langsung dari airport mau bertemu Bapa Suci, yang juga menyumbang jutaan dollar untuk tahta suci. Saya pun pernah mengalami hal serupa saat bertemu dengan seorang Cina tua, memainkan biola satu snar, saya pikir orang cari dana biasa, ternyata beliau adalah Erl Hu, sang biolis sangat terkenal.

Memiliki prasangka baik adalah bagian dari pengharapan, seandainya kenyataan lain itu adalah Iman. Kita lebih sering berprasangka buruk daripada berprasangka baik, tetapi pada dasarnya setiap manusia mestinya selalu berprasangka baik, dan kita percaya bahwa berprasangka baik itu adalah suatu pengharapan dan hasilnya apapun itu adalah iman.

Beberapa kisah yang disebarkan di BBM tentang seorang Gadis, yang bertetangga dengan orang miskin, lalu suatu waktu lampu mati. Tetangganya seorang gadis kecil menanyakan apakah dia punya lilin. Dalam hatinya pasti gadis itu mau minta lilin, lalu dia bilang tidak ada, ternyata gadis kecil itu mengkhususkan membawa lilin untuknya, dan berkata bahwa dia yakin tetangga barunya tidak punya lilin. Gadis kaya itu malu sendiri karena berprasangka salah terhadap gadis miskin itu.

Beberapa kisah di atas memmberikan kita gambaran bahwa kita sebagai manusia, dikaruniai prasangka terhadap sesama kita. dalam hal pelayanan kita juga demikian. Tentu orang yang kita layani pasti berprasangka, apakah ada udang dibalik batu. Tetapi coba kita melihat sedikit ke belakang setiap kita melangkah kita tidak terlepas dari sebuah prasangka, cobalah lihat perjalanan kita setiap hari? Sekalipun terhadap orang yang kita percayai sampai terhadap DIA yang telah mengorbankan diri-Nya kita masih berprasangka. Seorang ibu akan menyekolahkan anaknya di luar negeri, dia masih berpikir jangan-jangan Tuhan tidak merestuinya.

Ketika akan melangsungkan perkawinan ada beberapa pasangan mundur tidak jadi kawin walau undangan sudah dicetak. Alasannya “mungkin” Tuhan tidak merestui perkawinannya jadi lebih baik putus daripada cerai setelah kawin.

Prasangka tentu saja mempunyai konsekwensi logis yang harus diterima. Jadi, kalau saya memiliki seorang sahabat pasti prasangka baik, tetapi kalau saya mempunyai musuh pasti saya berprasangka jelek. Padahal belum tentu musuh saya itu jelek dan belum tentu sahabat saya itu baik. Waktu memang akan menjadi juri yang baik, tetapi secara rohani berprasangka itu memang sangat baik apalagi kalau hal tersebut adalah bagian dari pengharapan.

Sehabis menikmati film Thor saya menyempatkan menikmati makanan malam Yong Tau Fu. Enak sekali hangat dan sedap, namun kisah yang disajikan dalam film tadi bagus sekali mengenai “prasangka” tentu banyak manfaat bagi iman dan pengharapan kita. Selalulah berprasangka baik karena itu adalah bagian dari iman dan pengharapan dan juga kasih, terlepas dari unsur percaya atau tidak. Memang kehati-hatian dan waspada boleh saja. Bapa Suci Fransiskus memeluk seorang yang kena kanker, di mana semua kulitnya rusak, fotonya tersebar kemana-mana. Beliau membuktikan bahwa CINTA memang bisa menembus segalanya termasuk “prasangka”. Semoga prasangka kita selalu didasari oleh iman kepercayaan kita. Niscaya iman kita akan semakin diperkuat oleh setiap prasangka baik, yang keluar dari hati kita yang baik. Apapun kenyataannya kita tetap percaya itu adalah kehendak-Nya. Tuhan memberkati. Salam dan doa.

Memilih

Hidup adalah pilihan, tetapi memilih adalah janji terutama antara janji kita dengan diri kita sendiri (Adharta)

Happiness-is-a-choiceSebuah lagu yang dilantunkan oleh Fatin Shidqia dengan judul Memilih Setia. Beberpa komentar di media maya terutama kata memilih, sampai saya pun ikut memberikan komentar dalam sebuah tulisan “setia “. Hidup memang adalah pilihan dan tidak bisa dipungkiri bahwa itulah tanda cinta Tuhan yang begitu besar memberikan kebebasan kepada manusia di mana manusia bisa memanfaatkan kebebasannya untuk kebangkitan manusia sendiri, kehidupan dan mengatur kehidupannya.

Demikian banyak cara Tuhan menyampaikan cinta kepada manusia dan manusia harus memilih dan saat memilih kita sudah membuat janji. Demikian sebuah ungkapan bahwa hidup adalah pilihan, tetapi memilih adalah janji terutama antara janji kita dengan diri kita sendiri. Sebagai contoh kita memilih seorang perempuan menjadi istri kita. Demikian kita meletakkan janji bahwa kita harus setia untuk sehidup semati dalam untung dan malang dalam suka dan duka.

Saya ingin menggaris bawahi tentang kata memilih sebagai sebuah ungkapan cinta. Kita memilih mempunyai arti yang sangat luas. Dalam kehidupan politik ada pemilihan umum. Di sekolah ada pemilihan ketua kelas. Di alumni ada pemilihan ketua alumni. Di gereja ada pemilihan Wakil Ketua Dewan Paroki, karena pastornya dipilih oleh uskup (Bapak Uskup tinggal milih dari usulan komunitas dan menjadi hak prerogatifnya). Semua proses memilih sungguh merupakan suatu ungkapan cinta yang diikuti pengharapan, seperti halnya Bapak Jokowi dipilih menjadi Gubernur DKI Jakarta. Begitu banyak pengharapan diletakkan dipundak beliau. Sebaliknya proses memilih menimbulkan sebuah janji dan janji diikuti oleh komitment yang tinggi. Sungguh indah sekali begitu kita dalam kehidupan sehari-hari juga harus memilih.

Bisa dibayangkan kalau kita tidak memiliki hak atau kesempatan memilih sama halnya dengan orang di dalam penjara, yang dirampas kebebasannya dan di sana dia tidak memiliki hak memilih. Betapa sedih kondisi demikian, sedangkan Tuhan sendiri tidak pernah mau memberi hukuman, selalu ada pengampunan. Siapakah yang akan kuat kalau Tuhan memberi hukuman!

Ada tiga hal menarik dari kebebasan manusia untuk memilih, yang diikuti dengan janji dan pengharapan. Pertama saat kita memilih timbulah suatu egoisme yang tinggi untuk mementingkan dirinya sendiri, tetapi di sisi lain ada orang yang demikian besar cintanya. Dia memilih bukan untuk kepentingan atau egoismenya melainkan untuk kepentingan orang lain. Ia rela memberikan nyawanya kepada sahabat-sahabat-Nya. Bagaimana dengan kita saat kita memilih? Ambil contoh saat saya memilih seseorang menjadi pendamping saya, lalu ditaruh kriteria harus baik, cantik, pintar dan segalanya untuk saya. Bagaimana kalau dapatnya terbalik, apakah saya tetap memilih lalu kecewa dikemudian hari?

Kedua, saat memilih kita mendapat berkat untuk menyampaikan cinta kita, karena apa yang telah kita pilih pasti kita sayangi. Ia tidak dapat direset ulang. Misalnya kita memilih mobil baru warna merah, setelah dibeli kita harus menyayanginya, membersihkannya dan merawatnya. Saya dan istri sering berdebat karena ada satu hal yang kita tidak bisa memilih tetapi bisa menggantinya, yakni nama kita. Itu dipilih oleh orang tua, tetapi kalau agama kita yang memilih, kita boleh tidak suka dengan nama kita misalnya MARIA, kita mau ganti menjadi JENIFFER boleh saja, tetapi bagaimana kita telah memilih Katolik (untuk baptisan dewasa). Bagaimana setelah memilih tentu kita juga memiliki kewajiban untuk menyayanginya, mengikuti tata cara dan aturannya. Demikian konsekuensi setelah memilih. Bisa juga agama ikut suami atau agama ikut istri, tetapi sekali kita memilih kita juga harus menyayanginya.

Ketiga, memilih mendatangkan hasil baik. Apapun yang kita pilih pasti menghasilkan kebaikan buat kita, kecuali memang kita sengaja memilih untuk mendatangkan ketidakbaikan. Kita mendengar bahwa seorang jahat pun tidak akan memberikan ular kalau anaknya minta roti, karena dia sudah memilih pasti menghasilkan hal-hal yang baik, kecuali salah memilih kata sahabat saya. Itu adalah bagian dari kebebasan. Berdiskusi dengan seorang sahabat suster saat memilih menjadi biarawati begitu besar konsekwensi harus diambil termasuk harus meninggalkan pacar. Apalagi harus pasrah menerima tugas, tetapi saat menyadari bahwa pilihannya menghasilkan buah kebaikan di sana sumber suka cita besar sekali. Demikian seorang sahabat saya beliau beragama Budha dan memilih meninggalkan anak istri lalu menjadi pendeta Budha. Semua sahabat menentangnya karena pengorbanan yang begitu besar. Anak, istri dan keluarga harus kehilangan cinta akibat risiko dia memilih menjadi pendeta, tetapi sekian puluh tahun kemudian begitu besar karya beliau dalam penyelematan manusia dan berbuah kebaikan. Akhirnya memang harus diakui banyak cara Tuhan menyajikan Cinta.

Mungkin kita semua sudah melihat Paus Fransiskus memeluk seorang Kusta atau penyakit Lepra. Ada resiko kemungkinan besar dia ketularan, karena kondisi fisik orang tua sangat lemah dan rentan terhadap penyakit, tetapi CINTA yang begitu besar menembus rentan hubungan manusia, sungguh luar biasa.

Demikian kita semua diberi anugerah dan berkat memilih. Pilihlah segala sesuatu yang menghasilkan kebaikan terutama menyajikan CINTA dan pengharapan bagi kehidupan manusia. Memang egoisme akan berperan dalam kehidupan kita saat memilih, tetapi saya percaya sepenuhnya bahwa Cinta bisa mengatasi segala hal yang membelakangi kebaikan dan bisa membalikkannya menjadi kebaikan, kebahagiaan dan indah pada waktunya. Semoga Tuhan memberkati.

Serius

Setiap tindakan yang dianggap serius biasanya justru ditangani dengan tidak serius (Adharta)

Serious students sitting for an examinationDalam menangani sebuah organisasi apalagi organisasi yang besar, maka tidak bisa ditangani asal jadi, menerima apa adanya bahkan dengan istilah learning by doing, di sana justru akan terlihat bahwa “Setiap tindakan yang dianggap serius biasanya justru ditangani dengan tidak serius”. Sebagai contoh kejatuhan sebuah perusahaan raksasa yang memproduksi chips yang telah beroperasi sejak tahun 1980 di Jakarta akhirnya tahun 2000 harus tutup karena hal yang sangat sepele, yaitu masalah management yang tidak ditangani secara serius, sumber daya manusia yang ditaruh tidak pada tempatnya (the wrong man in the wrong place) dan terakhir akibat penanganan masalah buruh dan semua keruwetan bertumpuk-tumpuk akhirnya harus diputuskan bubar. Sungguh sayang sekali karena perusahaan ini dianggap sangat menguntungkan.

Saya masih ingat studi kasus kejatuhan Mazda dan kejayaan Toyota yang menjadi tesis atau tugas akhir saya semasa mengambil strata pasca sarjana. Mazda jatuh karena salah manage tetapi Toyota menerima keuntungan karena kelalaian orang. Mengapa kata “Serius” menjadi “Serius”? Saya sendiri mencoba menganalisa, termasuk Good Corporate Governance (GCG) yang diberlakukan di perusahaan saya. Di mana kata “serius” akan menjadi sorotan utama. Seperti biasa 100 pertanyaan selalu akan ditanyakan kepada setiap pelaku manajemen dan penyertaannya. Pertanyaan pertama adalah apakah anda serius mau menjawab pertanyaan? Dan pertanyaan ke-100 apakah anda serius mau berubah menjadi baik? Dan semua pertanyaan di sela-selanya selalu diikuti kata serius. Bayangkan saja 100 pertanyaan selalu dengan kata Serius! Teringat saya ketika Petrus ditanya 3 kali apakah engkau sungguh-sungguh (serius) mencintai-Ku. Baru 3 pertanyaan saja kita kadang kadang sudah tersinggung!

Tanggung jawab dan kepatuhan adalah bagian dari kata SERIUS, tetapi penghayatan dan kemampuan harus dominan karena sekalipun orang tersebut serius dalam tanggung jawab dan kepatuhan atau disiplin, tetapi tidak memiliki kemampuan dan penghayatan maka nasiblah yang akan menentukan keberhasilannya (the right man in the right place must be according to capability and appreciation).
Seperti seorang analis kredit Bank yang selalu memulai 5C untuk nasabahnya, yaitu Character, Capability, Credibility, Condition and Collateral. Tapi akhir pertanyaan selalu terpenting adalah Apakah SERIUS?.

Demikian juga doa-doa kita sehari-hari perlu dikasih tanda apakah “serius” dan saya sungguh percaya bahwa Tuhan akan memperhatikan setiap doa yang dipanjatkan secara serius? Seperti kejadian di Taman Getsemani. Dengan butir-butir keringat dan darah dalam keseriusan-Nya. Dan kita senbagai umat dan pengikut-Nya akan diberi pertanyaan kembali senbanyak 3 kali saja. Apakah kita serius (sungguh-sungguh) mencintai-Nya. Jawabnya hanya anda sendiri yang tahu. Semoga Tuhan memberikan kita kekuatan lahir batin untuk bisa menjawab. Saya serius (mau) mencintai-Mu Tuhan Salam dan doa.

Pembicara

Seorang pembicara yang baik pasti adalah seorang pendengar yang baik (Lee Kuan Yew)
Speaker iStock_000005996988Small
Menghadiri misa peringatan 50 tahun imamat seorang sahabat yaitu Pastor Kwakman MSC. Pertemuan malam ini sungguh menyejukkan hati walaupun udara cukup panas. Begitu banyak pastor hadir terlihat pula uskup Merauke Mgr. Nicolaus Saputra dan juga suster-suster PBHK. Kalau saya bertemu dengan para pastor, bayangan utama saya adalah beliau-beliau pasti pintar khotbah atau pembicara yang baik sekali. Jarang saya menjumpai pastor tidak bisa khotbah. Walaupun ada tapi rata-rata pintar bicara. Hal ini mengingatkan saya pada ungkapan mantan perdana menteri Singapura “Seorang pembicara yang baik pasti adalah seorang pendengar yang baik”

Menurut beliau seorang pembicara itu sangat penting karena kepada mereka dikaruniai berkat dan bakat yang secara psikologis bisa mempengaruhi orang lain. Di sini saya tidak menyebut pengkhotbah karena lebih netral dan umum sebagai pembicara saja. Demikian juga salah satu syarat menjadi guru sekolah beliau harus bisa menjadi pembicara yang baik sekaligus pendengar yang baik. “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.” (Pengkhotbah 3:1)

Saya mengutip perikop di atas karena bagi seorang pembicara yang baik, dia diikat oleh waktu, karena itu tidak bisa terlepas, bahkan pengkhotbah mengatakan bahwa semua akan sia-sia belaka. Oleh karena itu waktu akan memberikan ruang penting sekali bagi siapa saja yang menjadi Pembicara atau kalau tidak semua akan sia-sia.

Tetapi kita semua ditakdirkan menjadi pembicara, paling tidak bisa berbicara untuk dirinya sendiri. Dalam tulisan Romo Kwakman mengenai kharisma Pater Chivalier, beliau mengatakan bahwa pembicara yang baik juga memberikan spiritualitas hati yang baik.

Di sini baru saya mengerti bahwa kalau kita ingin menjadi pendengar yang baik (dalam bahasa jawa di sebut Soekarno) kita harus belajar menjadi pembicara. Dengan sendirinya akan memaksa kita menjadi pendengar yang baik. Mengapa kita harus menjadi pembicara yang baik? Di sini pengalaman iman mengatakan bahwa seorang pembicara akan menjadi seorang penasihat dan seorang penasihat mengajarkan dirinya sendiri. Jadi, korelasi pembicara, pendengar dan penasihat akan menimbulkan suatu spiritualitas hati dan di sana ada damai sejahtera dan kebahagiaan.

Menarik sekali, kalau seorang pembicara memiliki peluang besar menjadi orang yang bijaksana, dan menjadi sumber suka cita bagi mereka yang mendengar suaranya. Demikian halnya homili, akan sia-sialah jika tidak didasari kebijaksanaan yang besar, hati yang bersih dan jiwa yang berapi-api dalam mengabarkan cinta Tuhan.

Saya sendiri sering dijadikan pembicara dan akan menjadi sulit adalah pembicaraan di luar materi atau bahan yang diberikan. Nah ini masalahnya. Apalagi masuk dalam situasi di mana kita tidak mengenal audiens secara baik dan tidak memilik teknik berbicara.

Akan menjadi indah sekali kalau kita, saya dan anda menerima berkat dari Tuhan untuk menjadi Pembicara, karena sekaligus kita akan menjadi pendengar yang baik. Semoga kita semua bisa hadir sebagai pembicara, terutama berbicara tentang cinta, demikian kita diutus. Salam dan doa.

Bonus

Salah satu motivasi untuk meningkatkan kinerja sebuah perusahaan adalah melalui bonus dari keuntungan.

bl01bonus_JPG_1196325fMemasuki bulan November tentu semua perusahaan ibarat pelari akan mendekati finish atau pembalap maka semua berusaha sekuat tenaga agar bisa mencapai finish lebih dahulu dan menang. Kalau di perusahaan akan berusaha mendapatkan untung sebesar mungkin agar bisa mengejar bonus. Karena salah satu motivasi untuk meningkat kinerja sebuah perusahaan adalah melalui bonus dari keuntungan. Kata Plato bahwa hanya orang bodoh saja yang tidak mau masuk finish saat dia sedang berlomba.
Sebuah Organisasi dan perusahaan tentu memiliki visi dan misi. Pada umumnya visi perusahaan adalah profit atau laba atau menjadi perusahaan besar dengan market leader. Misi yang dibawa adalah kesejahteraan dan kepuasan pelanggan dan pemegang saham, tetapi bagi perusahaan atau organisasi sosial biasanya misinya adalah kemanusiaan. Lalu, apa yang menjadi bonusnya? Memang bonus itu bisa bermacam-macam. Pertama, bonus dalam bentuk uang biasa diambil sekian persen dari keuntungannya. Kedua, bonus dalam bentuk jabatan, kenaikan kedudukan dan bonus dalam bentuk kesejahteraan. Terakhir adalah bonus dalam bentuk kebahagiaan.
Saya sendiri masih sedikit kurang mengerti saat pernyataan ini disampaikan oleh sebuah perusahaan besar saat merayakan ulang tahunnya. Salah seorang direkturnya merangkap pendeta menyampaikan bahwa perusahaannya akan memberikan bonus kebahagiaan. Kalau menurut saya kalau dikasih uang pasti senang walau belum tentu bahagia, atau dikasih jabatan, atau kalau salesman dikasih daerah tambah. Para hadirin saat itu semua tertegun menanti penjelasan bapak direktur. Saya pun saat itu sedang menikmati makan tertarik untuk berhenti sejenak. Beliau melanjutkan bahwa banyak karyawan membutuhkan kebahagiaan daripada hanya sekedar uang. Misalnya lingkungan kerja yang sehat dan lebih dinamis, persahabatan dan keakraban dalam perusahaan. Seperti halnya cinta dalam rumah tangga. Apakah keluarga miskin tidak bahagia? Belum tentu tetapi perusahaan kami akan memberikan bonus kebahagiaan, yang meliputi segala aspek, mulai dari pendidikan, bea siswa, kepedulian terhadap keluarga dan perhatian terhadap permasalahan keluarga.
Hadirin semua bertepuk tangan dan saya tersenyum juga. Tentu tidak mudah memberi bonus kebahagiaan. Menurut saya karena begitu heterogen kondisi karyawan apalagi perusahaan ini memiliki lebih dari 20.000 karyawan sedangkan saya perusahaan kecil saja sulit memberikannya, tetapi sangat menarik buat kami renungkan mengenai bonus kebahagiaan ini.

Seperti hal yang disampaikan oleh Abraham Maslow dalam piramida kebutuhan manusia, maka dasar pemikiran adalah kebutuhan. Jadi, seperti bayi yang butuh susu kalau dikasih nasi makan hasilnya adalah perutnya sakit. Saya sangat sepakat bahwa kebutuhan manusia dimulai dari paling dasar seperti makan, minum, pakaian lalu rumah, keamanan, persahabatan, sampai pengakuan, kedudukan dan diakhiri dengan Self esteem atau pengakuan diri, tetapi dasarnya semua kebutuhan. Di atas didasari kebutuhan utama jiwa manusia yakni kebahagiaan yang didasari cinta kasih. Itulah manusia. Kalau tidak percaya saksikan kehidupan seorang pengemis. Mereka rela lapar asal anaknya bisa makan, atau pekerja kuli di bawah jembatan mereka rela kepanasan dan berpeluh tetapi bisa pulang dengan senyuman bersama keluarga. Orang Jawa bilang mangan ga mangan asal ngumpul. Orang Manado bilang yang penting keluarga walau tiada makan.
Kalau kebahagiaan itu dibutuhkan manusia mulai dari yang paling bawah sampai paling atas, mengapa tidak diperhatikan kebahagiaannya?
Seorang biarawan pastor atau biarawati suster juga menginginkan kebahagiaan.
Sahabat saya seorang pastor bercerita bahwa suatu hari Minggu beliau memimpin misa perkawinan dari pasangan yang beliau tidak kenal sama sekali. Saat selesai seluruh keluarga membiarkan saja beliau sendirian dan tidak memperhatikannya atau disapa. Keluarga pengantin pun tidak memberi stipendium bahkan hanya senyum saja. Akhirnya beliau pulang naik bajaj, untung masih ada sedikit uang di kantong, tetapi beliau mengungkapkan bahwa beliau menemukan kebahagiaan tersendiri dan tidak ditemukan oleh pastor lain, karena dengan demikian menjadikan karya pastoralnya lebih bermakna.
Semoga kita semua bisa mendapatkan bonus kebahagiaan, terutama dari Tuhan kita Yesus Kristus dengan turut merasakan penderitaan-Nya, dengan membagi kasih bersama keluarga. Tuhan memberkati. Salam dan doa.