PENIPUAN DIGITAL (AI) BERUJUNG PENCURIAN UANG NASABAH BANK

PENIPUAN DIGITAL (AI) BERUJUNG PENCURIAN UANG NASABAH BANK

Oleh: Adharta
Ketua Umum KRIS

26 April 2026

Sahabat dan Keluarga
Banyak sekali terjadi tindak pidana Penipuan yang berakhir dengan menguras semua uang anda di Bank
Saya berharap tulisan ini sedikit meredakan kasus ini dari ke hati hatian kita dengan cara saling mengingatkan dan saling memberi informasi perihal adanya penipuan
Supaya para Security Cyber khususnya di Bank yang bersangkutan bisa bertindak mengatasi kondisi ini dengan cepat

Sahabatku
Waktu sering kali menjadi celah dalam setiap peristiwa kejahatan.
Jeda waktu antara kejadian dan kesadaran korban kerap dimanfaatkan pelaku untuk menghilangkan jejak.
Dalam konteks penipuan digital, kecepatan menjadi senjata utama pelaku, sementara kelambatan menjadi kerugian besar bagi korban.

Malam ini, saat saya menikmati makan malam di sebuah restoran Korea di Central Park 2 bersama seorang sahabat yang juga seorang Romo, saya mendengar kisah yang mengusik hati.

Beliau baru saja menjadi korban penipuan. Pelaku menyamar sebagai petugas Dukcapil, berbicara dengan meyakinkan, menggunakan bahasa resmi, bahkan mengetahui sebagian data pribadi korban. Dalam waktu singkat, seluruh dana di rekeningnya raib.

Yang lebih menyedihkan, kasus seperti ini sering kali tidak dapat ditangani secara tuntas. Pelaporan ke pihak bank maupun otoritas kerap menemui jalan buntu.

Seolah-olah korban dibiarkan menanggung sendiri akibatnya.
Peristiwa ini bukan yang pertama.

Seorang sahabat saya, beliau dokter spesialis kulit, juga mengalami hal serupa.

Bahkan jujur saya sendiri pernah berada dalam situasi yang nyaris sama.
Namun, seperti banyak korban lainnya, rasa malu sering kali mengalahkan keberanian untuk bercerita.

Ada ketakutan dianggap ceroboh, bodoh dianggap tidak cerdas.
Padahal, justru di situlah letak kekuatan para penipu
mereka memanfaatkan psikologi manusia, bukan sekadar kelemahan teknis.
Modus Penipuan yang Semakin Canggih
Perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), telah memperkaya cara pelaku melakukan penipuan.

Berikut beberapa modus yang kini marak terjadi

Penyamaran sebagai Instansi Resmi
Pelaku mengaku dari Dukcapil, pajak, bank, atau bahkan aparat penegak hukum.

Mereka menggunakan nada tegas dan mendesak, menciptakan kepanikan agar korban tidak sempat berpikir panjang.
Peniruan Suara (Voice Cloning)
Ada kasus di mana pelaku meniru suara tokoh agama, seperti uskup atau pastor, untuk meminta bantuan dana. Dengan teknologi AI, suara tersebut terdengar sangat autentik.

Penipuan “Salah Transfer”
Korban menerima uang atau notifikasi palsu, lalu diminta mengembalikan dana tersebut. Dalam prosesnya, korban justru diarahkan memberikan akses ke rekeningnya.
Permintaan OTP dan Otorisasi
Ini salah satu modus paling umum.

Pelaku meminta kode OTP dengan alasan verifikasi.

Begitu kode diberikan, rekening korban langsung diambil alih.

Penipuan Kartu Kredit
Pelaku mengaku dari bank dan menyebut adanya transaksi mencurigakan. Korban diminta memberikan data kartu, CVV, atau kode verifikasi.

Phishing melalui Email dan Pesan
Email atau pesan WhatsApp berisi tautan palsu yang menyerupai situs resmi bank.

Begitu korban login, data langsung dicuri.

Undangan Digital Berbahaya
File undangan pernikahan atau ulang tahun yang dikirim melalui WhatsApp ternyata berisi malware yang bisa mengakses data pribadi.

Mengapa Korban Terjebak?

Pertanyaan yang sering muncul mengapa orang-orang terdidik pun bisa tertipu?

Jawabannya sederhana: karena penipuan ini dirancang untuk menyerang emosi, bukan logika.

Pelaku menciptakan rasa takut, urgensi, atau bahkan empati. Dalam kondisi tertekan, manusia cenderung mengambil keputusan cepat tanpa verifikasi.
Selain itu, pelaku sering kali sudah memiliki sebagian data korban, sehingga percakapan terasa meyakinkan.

Langkah Dasar yang Harus Dipegang
Beberapa prinsip yang sudah Anda sampaikan sangat penting, dan perlu terus digaungkan:

Berani berkata TIDAK, bahkan kepada orang yang dikenal.
Jangan pernah memberikan OTP kepada siapa pun.

Abaikan nomor tidak dikenal.
Jangan membuka link atau file mencurigakan.
Waspada terhadap email yang tidak jelas sumbernya.

Namun, itu belum cukup.

Saran Tambahan saya
Jika Ada Gejala Penipuan
Berikut langkah konkret yang dapat dilakukan masyarakat:

Segera Hentikan Komunikasi
Jika ada rasa curiga, langsung tutup telepon atau hentikan percakapan. Jangan beri ruang bagi pelaku untuk terus mempengaruhi.

Verifikasi Secara Mandiri
Jika ada pihak mengaku dari bank atau instansi, hubungi langsung nomor resmi yang tertera di website resmi.

Blokir Rekening dan Kartu
Jika sudah terlanjur memberikan data, segera hubungi bank untuk memblokir akses.

Aktifkan Notifikasi Transaksi
Pastikan setiap transaksi memberikan notifikasi real-time.

Gunakan Batas Transaksi Harian
Batasi jumlah transfer harian untuk meminimalkan kerugian.

Laporkan ke Otoritas
Laporkan ke bank, OJK, dan kepolisian.

Semakin banyak laporan, semakin besar peluang pelaku dilacak.

Edukasi Keluarga
Banyak korban adalah orang tua atau anggota keluarga yang kurang familiar dengan teknologi.

Kisah Nyata

Dalam Hitungan Menit
Seorang pengusaha menerima telepon dari seseorang yang mengaku dari bank.
Beliau diberitahu bahwa ada transaksi mencurigakan sebesar ratusan juta rupiah. Dalam keadaan panik, beliau mengikuti instruksi “petugas” untuk mengamankan rekeningnya.
Ia diminta menyebutkan kode OTP yang masuk ke ponselnya.

Dalam waktu kurang dari lima menit, seluruh saldo rekeningnya hilang.

Ketika beliau menghubungi bank, jawabannya sederhana: transaksi dianggap sah karena menggunakan OTP yang benar.
Di sinilah persoalan besar muncul.
Peran dan Tanggung Jawab Bank

Bank tidak bisa hanya berlindung di balik sistem.
(Data nasabah biasanya dari tangan pihak bank dan keterlibatan oknum atau karyawan bank yang bersangkutan)

Pihak Bank harus
Ada tanggung jawab moral dan sistemik yang harus diperkuat.

Beberapa saran saya untuk perbankan

Sistem Deteksi Anomali yang Lebih Canggih
Transaksi dalam jumlah besar yang tidak biasa seharusnya bisa ditahan sementara.

Cooling System (Penundaan Transaksi Besar)

Memberikan jeda waktu sebelum transaksi besar diproses, agar nasabah bisa membatalkan jika terjadi penipuan.

Pusat Laporan Darurat 24 Jam yang Responsif
Bukan sekadar call center, tetapi tim khusus anti-fraud.

Edukasi Aktif kepada Nasabah
Tidak cukup hanya melalui SMS. Harus ada kampanye masif dan berkelanjutan.
Tanggung Jawab Bersama
Bank perlu mempertimbangkan skema perlindungan bagi korban, bukan langsung menyatakan “bukan tanggung jawab kami”.
Kolaborasi Antar Bank
Melacak aliran dana kemana dan data nama penipu harusnya bisa di lacak
Karena pembukaan rekening harus di ikuti sekuriti data pemilik rekening
Demikian maka aliran dana bisa diteruskan lacak dan di blokir

Untuk melacak dan membekukan rekening penampung dana hasil penipuan secara cepat.

Menghapus Rasa Malu, Membangun Kesadaran
Satu hal yang perlu kita ubah adalah budaya diam.

Korban penipuan tidak boleh merasa sendirian atau dipermalukan.
Justru dengan berbagi pengalaman, kita bisa menyelamatkan orang lain dari jebakan yang sama.

Penipuan digital bukan lagi soal kecerdasan, tetapi soal kewaspadaan. Siapa pun bisa menjadi korban.
Maka, keberanian untuk berkata “tidak”, kebiasaan untuk verifikasi, dan kesadaran untuk berbagi adalah benteng utama kita.
Karena di era digital ini, bukan yang paling pintar yang selamat, tetapi yang paling waspada.

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

“Di Tepi Lubang yang Tak Terlihat”

Cerpen nomor 0074

“Di Tepi Lubang yang Tak Terlihat”

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Buat seorang sahabat jauh dan lama tidak bersua

April minggu ketiga 2026

Malam itu, Robert duduk di warung kecil pinggir jalan.
Di depannya hanya sepiring Indomie goreng sederhana dan segelas teh hangat.
Uapnya naik pelan, seperti pikirannya yang juga sedang penuh.

Robert menatap kosong ke jalan. Ramai, tapi terasa sepi.

“Kalau kita tahu di depan ada lubang… masa kita diam saja?” gumamnya lirih.

Di kepalanya, hanya ada satu nama
Yani.
Sahabatnya sejak muda.

Orang baik. Terlalu baik, mungkin.
Dulu, Yani adalah sosok yang penuh semangat. Wajahnya cerah, ide-idenya tajam, dan rezekinya mengalir seperti air yang tahu jalannya pulang.

Tapi sekarang… semuanya berubah.
Perlahan, hampir tak terlihat.
Seperti seseorang yang jatuh… tapi jatuhnya pelan.

Robert melihat perubahan itu sejak dua tahun terakhir, sejak Yani menikah.

Awalnya, semua tampak biasa. Bahkan bahagia. Tapi lama-kelamaan, ada sesuatu yang janggal.

Yani mulai sering minta izin untuk hal-hal kecil.
Yani mulai kehilangan kepercayaan diri.
Yani mulai menjauh dari teman-temannya.
Dan yang paling membuat Robert gelisah
mata Yani.
Kosong.
Seperti seseorang yang hidup… tapi tidak benar-benar “hidup”.

Suatu sore, Robert mencoba bicara.
“Yan, lo nggak ngerasa berubah?” tanyanya hati-hati.

Yani hanya tersenyum kecil.
“Berubah gimana maksudnya?”

“Lo sekarang beda… kayak bukan lo yang dulu.”

Yani tertawa ringan, tapi ada nada defensif di dalamnya.

“Ah, lo aja yang lebay. Namanya juga udah berumah tangga.”

Robert diam. Ia tahu… ini bukan sekadar “adaptasi”.
Ini lebih dalam.
Lebih sunyi.
Di lain waktu, Vani
yang juga teman dekat mereka
ikut mencoba membuka percakapan.
“Kita cuma khawatir, Yan…” katanya lembut.
“Kamu keliatan capek… bukan capek fisik, tapi capek hati.”

Yani menatap mereka berdua. Ada sekejap keraguan di matanya.
Tapi hanya sekejap.
“Nggak kok. Gue baik-baik aja.”
Jawaban klasik.
Jawaban orang yang belum siap melihat kenyataan.

Robert mulai menyadari sesuatu yang pahit
Orang yang sedang terjebak… sering tidak merasa dirinya terjebak.
Ia melihat bagaimana Yani semakin bergantung secara emosional pada istrinya.

Setiap keputusan harus melalui persetujuan. Setiap langkah seakan diawasi. Bahkan kebahagiaannya pun seperti harus “diizinkan”.
Dan yang paling menyedihkan—Yani tidak sadar.
Atau mungkin… belum siap untuk sadar.

Malam itu, Robert kembali ke warung yang sama. Indomie 3.000 rupiah jadi saksi pikirannya yang berat.

“Apa gue harus terus ngomong?”
“Atau gue harus diam?”
Ia teringat satu hal

Niat menolong bisa berubah jadi kesalahan… kalau caranya salah.
Ia tidak ingin jadi orang yang merusak rumah tangga sahabatnya.

Tapi ia juga tidak ingin jadi orang yang diam melihat sahabatnya perlahan hancur.

Akhirnya, Robert memilih jalan tengah.
Ia tidak lagi “menasihati”.
Ia memilih… “menemani”.
Ia mulai lebih sering mengajak Yani ngobrol santai, tanpa topik berat.

Ia tidak menghakimi. Tidak menuding. Tidak memaksa.
Ia hanya hadir.
Kadang mereka tertawa seperti dulu.

Kadang hanya diam sambil minum kopi.
Dan di sela-sela itu, Robert sesekali menyelipkan kalimat sederhana:

“Lo berharga, Yan.
Jangan lupa itu.”
Tidak lebih.
Tidak kurang.
Waktu berjalan.
Perubahan tidak langsung terjadi.
Tapi suatu hari, tanpa diduga, Yani berkata pelan:

“Rob… lo pernah ngerasa hidup lo kayak… bukan milik lo sendiri?”

Robert tidak langsung menjawab.
Ia hanya tersenyum tipis.
Karena ia tahu… akhirnya Yani mulai melihat.
Sedikit demi sedikit.

Robert tidak merasa menang.
Ia hanya merasa… lega.
Karena ternyata, menyelamatkan seseorang bukan tentang menarik paksa keluar dari lubang.
Tapi tentang menjadi cahaya… sampai dia sadar bahwa dia berada dalam kegelapan.

Fenomena hidup

Campur Tangan dalam Rumah Tangga Sahabat
Fenomena seperti ini sangat sering terjadi:
Teman melihat jelas ada “ketidakseimbangan” dalam hubungan sahabatnya
Ada dorongan moral untuk menolong
Tapi batas antara
“peduli” dan “ikut campur” sangat tipis

Masalahnya: Semakin kita menekan, semakin dia bertahan pada posisinya

Karena secara psikologis, dia merasa “hubungannya diserang”
Akibatnya:
Dia menjauh dari kita
Kita kehilangan akses untuk menolong
Justru makin terisolasi dalam situasi yang tidak sehat
Solusi & Saran Realistis

Jangan jadi “penyerang pasangan” Kalau Anda menyudutkan istrinya, otomatis teman Anda akan defensif.

➡️ Fokus ke teman, bukan ke pasangannya.

Ganti “menasihati” jadi “menyadarkan”

Hadir tanpa syarat Kadang yang dibutuhkan bukan solusi, tapi tempat aman.

Jadi orang yang tidak menghakimi.

Tanamkan self-worth Orang yang terjebak biasanya kehilangan harga diri.

Ingatkan perlahan:
“Lo dulu hebat”
“Lo punya pilihan”

Terima batas Ini yang paling berat

Kita tidak bisa menyelamatkan orang yang belum mau diselamatkan

Tugas kita:
Mengingatkan
Menemani
Mendoakan

Rasa “nggak tega” itu tanda hati Anda masih hidup.
Tapi ingat:
Menolong yang benar bukan yang paling keras,
tapi yang paling sabar

Dan kadang…
Indomie sederhana di malam hari
lebih jujur menemani hati
daripada seribu nasihat yang tidak siap

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Antrean yang Mengajarkan Hidup

Cerpen nomor 0073

Antrean yang Mengajarkan Hidup

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

April minggu ketiga 2026

Kisah Kasih
Pagi itu, matahari belum tinggi ketika Pak Darma berdiri di depan cermin kecil di kamarnya. Usianya sudah 70 tahun lebih, rambutnya memutih rapi, dan langkahnya mulai pelan.

Ia menarik napas panjang, lalu tersenyum kecil.

“Hari ini kita ke rumah sakit lagi, ya, Bu,” katanya.

Istrinya, Bu Ratih, mengangguk sambil menyiapkan map berisi berkas-berkas dari BPJS
Kesehatan.

Map itu sudah seperti sahabat setia—sedikit lusuh, tapi penuh harapan.

Awal yang Penuh Keraguan

Dua tahun lalu, Pak Darma sempat menolak saat pertama kali harus berobat rutin lewat BPJS.

“Ribet, antre lama, belum tentu dilayani dengan baik,” keluhnya waktu itu.

Namun karena kondisi jantungnya mulai sering berdebar, ia akhirnya menyerah.

Dari faskes pertama di klinik kecil, Suasana Sehat di bilangan Kelapa Gading Jakarta utara
ia dirujuk ke dokter spesialis. Lalu berlanjut ke pemeriksaan lain
laboratorium, USG, bahkan MRI.

Semua terasa seperti perjalanan panjang yang melelahkan.

“Ini kok kayak nggak selesai-selesai ya, Bu?” katanya suatu hari.

Bu Ratih hanya tersenyum, “Mungkin ini cara Tuhan ngajarin kita sabar.”

Antrean yang Mengubah Cara Pandang

Awalnya, ruang tunggu rumah sakit adalah tempat paling membosankan bagi Pak Darma. Kursi keras, antrean panjang, nomor yang bergerak lambat.

Namun perlahan, sesuatu berubah.
Ia mulai memperhatikan orang-orang di sekitarnya.

Seorang anak kecil dengan kepala botak duduk di kursi roda, tertawa lepas sambil bermain mobil-mobilan. Di sampingnya, ibunya tersenyum,
Suster Nunung
Lewat bawa kue
meski terlihat lelah.
“Dia cuci darah tiap minggu,” bisik seseorang di sebelah Pak Darma.

Pak Darma terdiam.
Di sudut lain, seorang gadis muda terlihat cantik dan ceria, meski berjalan pelan dengan bantuan alat medis.

“Sudah 10 tahun pakai kateter,” kata perawat.
Dirawat karena kanker usua dan sudah mengeras dan posisi stadium akhir

Pak Darma kembali menunduk.
Hari demi hari, ia melihat lebih banyak lagi

Seorang suami yang sabar mendorong istrinya di kursi roda.
Karena penyakit paru paru akut

Seorang anak muda yang dengan penuh kasih menggandeng ayahnya ke ruang dokter.
Karena sakit parkinson dan kanker tulang

Seorang ibu yang sigap mengurus aplikasi dan administrasi untuk suaminya.

Di tengah antrean yang panjang, Pak Darma mulai merasa kecil.
“Aku ini sehat, tapi sering mengeluh,” gumamnya.
Pelajaran yang Tidak Ada di Buku
Suatu hari, Pak Darma duduk di sebelah seorang pria seusianya.

“Sudah lama, Pak?” tanya Pak Darma.
“Sudah lebih dari lima tahun bolak-balik sini,” jawab pria itu santai.

“Capek ya, Pak?”
Pria itu tertawa kecil. “Capek badan, iya. Tapi hati jangan ikut capek.”

Kalimat itu menancap dalam.
Pak Darma mulai sadar
rumah sakit bukan hanya tempat berobat. Tapi tempat belajar.

Belajar sabar.
Belajar bersyukur.
Belajar melihat hidup dari sudut pandang yang berbeda.

Ia teringat sebuah artikel yang pernah dibacanya, mengutip World Health Organization (kata pak Ketum KRIS)
tentang sistem rujukan berjenjang.
“Bukan untuk mempersulit,” katanya dalam hati, “tapi untuk melindungi.”

Suka dan Duka BPJS (sebut saja KRIS)
Pak Darma tidak memungkiri, ada banyak suka duka selama menggunakan BPJS.

Dukanya:
Antrean panjang yang menguras tenaga dan pikiran

Jadwal yang kadang mundur
Sistem rujukan yang terasa berbelit bagi orang awam
Pernah suatu hari, ia harus datang tiga kali hanya untuk mendapatkan jadwal pemeriksaan.

“Ini kalau nggak sabar, bisa marah-marah,” katanya pada Bu Ratih.

Namun Bu Ratih selalu menjawab, “Kita belajar sabar di sini, Pak.”

Sukanya:
Semua pemeriksaan ditanggung pemerintah atau Gratis

Dokter yang teliti dan tidak asal memberi obat
Rasa aman karena tidak terbebani biaya
Pak Darma pernah menghitung kasar biaya yang mungkin ia keluarkan tanpa BPJS.
“Bisa puluhan juta,” katanya pelan.

Saat itu ia benar-benar bersyukur.
Kekuatan Sosial yang Tak Terlihat
Yang paling mengejutkan bagi Pak Darma adalah perubahan dalam dirinya.

Ia menjadi lebih terbuka. Lebih ramah. Lebih mudah tersenyum.
Ia mulai ngobrol dengan siapa saja di ruang tunggu.

Tertawa bersama orang asing.
Berbagi cerita.
Saling menguatkan.
Ia teringat penelitian dari Harvard University yang pernah ia baca: bahwa lansia yang aktif bersosialisasi memiliki risiko demensia lebih rendah.

“Jadi ini bukan cuma berobat,” katanya suatu hari, “ini juga menjaga otak.”

Bu Ratih tersenyum bangga.

Untuk Anggota KRIS:
Pesan dari Antrean
Sebagai Ketua komunitas kecil di lingkungannya—KRIS (Komunitas Relawan Indonesia Sehat)

Pak Darma mulai membagikan pengalamannya.
Dalam sebuah pertemuan sederhana, ia berkata:

“Teman-teman, BPJS itu bukan sekadar kartu. Itu jembatan.”
Ia lalu memberi beberapa bimbingan dan saran:

Pertama
Pahami sistemnya, jangan dilawan Sistem rujukan memang berjenjang. Ikuti alurnya. Itu dibuat untuk keselamatan kita.

Kedua
Siapkan mental sabar Antrean bukan musuh. Itu bagian dari proses.

Ketiga
Manfaatkan waktu tunggu Gunakan untuk membaca, berdoa, atau berkenalan dengan sesama pasien.

Keempat
Jaga hubungan sosial Ngobrol, tertawa, dan saling menyemangati adalah “obat gratis” yang sering kita abaikan.

Kelima
Jangan hanya fokus pada penyakit Fokuslah pada kehidupan.
Pada apa yang masih kita miliki.
Penutup: Pulang dengan Lebih dari Sekadar Obat
Hari itu, setelah pemeriksaan rutin, Pak Darma dan Bu Ratih berjalan keluar dari rumah sakit.
“Bagaimana hasilnya, Pak?” tanya Bu Ratih.
“Alhamdulillah, sehat,” jawabnya.
Namun kali ini, jawabannya terasa berbeda.
Bukan sekadar sehat secara medis.
Tapi juga sehat dalam cara berpikir.
Pak Darma menatap langit cerah.
“Bu,” katanya pelan, “ternyata kita ini bukan cuma berobat.”
“Lalu?”
“Kita ini sedang sekolah… sekolah….
kehidupan.”

Bu Ratih menggenggam tangannya.
Dan mereka pulang
bukan hanya membawa resep obat, tetapi juga membawa cerita, pelajaran, dan rasa syukur yang jauh lebih besar.

Terima kasih BPJS

Tulisan ini di dedikaai buat Sahabatku
Di BPJS termasuk ketua BPJS prof Ali

Di tunggu di Medan Baru

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Persahabatan di Atas Segalanya

Singapura

Persahabatan di Atas Segalanya

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Tulisan
Pengalaman pribadi

Lavender
Sabtu
13 September 2025

Juga untuk mengenang para sahabat Singapura yang telah mendahului kita semua

Aku selalu mengenang sahabat dalam persahabatan

Hidup itu kadang seperti naik pesawat.

Ada rencana, ada jadwal, ada tiket di tangan.
Tetapi kita semua tahu, mesin pesawat bisa rusak, cuaca bisa berubah, pilot bisa mengumumkan, “Maaf, penerbangan kita tertunda dua jam.”

Begitu juga perjalanan saya ke Singapura baru-baru ini.
Penerbangan Batik Air 7153 yang seharusnya berangkat pukul 08.00 WIB harus ganti pesawat karena kerusakan mesin pesawat

Sambil menunggu, saya berpikir:
“Duh, bagaimana ini, jam 14.00 saya sudah ada janji dengan dokter jantung
Dr. Devinder Singh di Mount Elizabeth hospital Orchard.”

Namun, Tuhan memang pandai mengatur waktu. Walau sempat resah, saya tetap tiba tepat waktu.
Bahkan ada bonus
saya dan istri saya Lena sempat makan Tori-Q di Paragon
Makanan favorit istri saya, Lena
sebelum bertemu dokter.

Rasanya seperti pesan sponsor:

“Santai saja, semua baik-baik saja.

Bahkan masih ada waktu makan enak!”

Rumah Sakit Kedua saya Bernama Mount Alvernia

Pertemuan dengan dokter Devinder kali ini bukan hal kecil.
Untuk mempersiapkan tindakan pemasangan ICD (Implantable Cardioverter Defibrillator).

Bagi saya, ini bukan operasi pertama, bahkan bukan yang kedua.
Ini operasi keenam! Kalau ada penghargaan frequent flyer untuk pasien rumah sakit, mungkin saya sudah dapat kartu platinum.

Kenapa saya pilih Singapura? Jawabannya sederhana

kepercayaan.
Sejak 2019, ketika saya terkena serangan jantung, saya ditangani oleh Dr. Nicolas Wanahita di Mount Elizabeth Novena.
Selama lima tahun ini, beliau bukan hanya dokter, tetapi penjaga setia kesehatan saya.

Rasanya seperti punya bodyguard khusus jantung haha

Namun sesungguhnya, hubungan saya dengan Singapura dalam dunia medis sudah jauh lebih lama.

Tahun 1980, saya lumpuh total setelah kecelakaan motor.
Di Indonesia waktu itu, diagnosa masih samar-samar.
Saya hampir putus asa.
Tapi kemudian Singapura memanggil ini berkat dorongan dari kakak saya Risal dan seorang sahabat Michael Teo

Saya bertemu Prof. Dr. John A. Tambyah, bahkan sebagai wakil Menteri Kesehatan Singapura kala itu.
Beliau yang menangani sakit saya sampai operasi Tyroid toxicosia

Tahun 1982, saya menjalani operasi di Mount Alvernia
dan itulah awal persahabatan saya dengan negeri kecil ini.

Persahabatan yang Tidak Bisa Dibeli
Singapura sering disebut Fine City
bukan hanya kota indah, tapi juga kota penuh denda.

Buang sampah sembarangan? Denda.
Makan permen karet di MRT? Denda.
Merokok sembarangan? Denda.
Bahkan salah parkir bisa bikin kantong lebih tipis.

Ada juga yang menyebut Singapura itu Pay and Pay. Semua serba mahal.
Mau minum kopi di Orchard Road? Kadang bisa bikin kita kaget,
“Lho, ini kopi atau cicilan KPR rumah ?”

Tapi bagi saya, Singapura bukan soal mahalnya biaya atau banyaknya denda.

Singapura adalah negeri persahabatan. Persahabatan itu yang menyelamatkan, yang menguatkan, yang membuat biaya tak lagi terasa.
Saya ingat bagaimana almarhum sahabat saya,
Yusuf Kamarudin,

memperkenalkan saya kepada Dr. Ong
Menteri Kesehatan Singapura yang bekerja sama dengan Killcovud-19 selama masa pandemi

Pertemuan itu terjadi di klinik Marina East, saat saya juga berkenalan dengan mantan PM Goh Cho Tong
Dari situ persahabatan berkembang, bahkan sampai ke bisnis bersama teman teman
Ada Canadian Two-in-One Pizza dan Pizza Sarpino.

Kalau diingat-ingat, persahabatan kami bukan cuma di meja rumah sakit, tapi juga di meja makan pizza!

Ada pula sahabat baik saya,
Mr. Richard Ong, beliau Duta Besar negara Seychelles untuk Singapura.

Hubungan kami lebih dari sekadar sahabat; beliau sudah seperti keluarga, kakak angkat.
Kalau saya datang ke Singapura, rasanya belum lengkap kalau tidak bertemu Mr. Richard Ong.

Nostalgia Rasa
Bak Kut Teh
Pagi itu di Singapura, sebelum bertemu dokter, saya sempat bernostalgia. Sarapan Bak Kut Teh di Ya Hua Outram,
Tanjong Pagar. Restoran ini sudah jadi langganan sejak 1980-an.
Uniknya, rasa kuahnya tidak pernah berubah. Mungkin inilah rahasia Singapura: konsistensi.
Di sini, bahkan sup iga babi pun punya komitmen lebih kuat daripada sebagian yang jadi politikus kita.

Selesai sarapan, saya melanjutkan perjalanan bertemu sahabat lain,
Bapak Anton Liu, tokoh muda koperasi.
Kami bertemu di Starbucks Mount Elizabeth Novena.
Anton Liu
sedang berjuang melawan kanker paru-paru, menjalani 81 kali kemoterapi. Bayangkan, empat tahun berjuang, seminggu dua kali terapi.

Saat kami bertemu, ia sudah mencapai terapi ke-78.
Kami duduk, minum kopi, bercerita tertawa dan bercanda

Saya kagum pada keteguhannya. Kalau saya diberi gelar frequent flyer pasien rumah sakit, mungkin Anton Liu
pantas diberi gelar marathon fighter.

Kami berdua tertawa kecil di tengah cerita, karena terkadang tawa adalah obat terbaik yang tidak dijual di apotek.

Singapura
Pusat Medis Dunia
Mengapa Singapura bisa menjadi pusat kesehatan dunia?

Jawabannya terletak pada kombinasi disiplin, inovasi, dan investasi.
Standar Internasional
Hampir semua rumah sakit di Singapura sudah terakreditasi
JCI (Joint Commission International).

Artinya, standar layanan medis mereka setara dengan rumah sakit top dunia.

Dokter Berkelas Dunia
Banyak dokter Singapura menempuh pendidikan di universitas ternama seperti Harvard, Oxford, Cambridge, Johns Hopkins. Mereka pulang dengan ilmu, tapi tetap rendah hati melayani pasien Asia.

Teknologi Mutakhir
Dari operasi robotik, terapi gen, hingga penelitian stem cell,
Singapura tidak pernah ketinggalan. Bahkan pasien dari Eropa dan Timur Tengah sering datang ke sini.

Empati dalam Layanan
Walaupun sangat profesional, dokter dan perawat Singapura tetap ramah.

Mereka tidak hanya menyuntik obat, tetapi juga memberi semangat. Kadang satu kalimat

“You’ll be fine” bisa jadi vitamin tambahan.
Touching keluarga juga menarik
Saya dengan dokter Nicolas Wanahita
Tapi istri Beliau Alice juga sering menyapa walau tidak ada hubungannya namun persahabatan merembet sampai keluarga
(Hal ini yang tidak ada di jumpai di Indonesia)
Catatan saya buat yang menangani PEO
Patient Experiences Officer

Ajak Dokter menyapa pasien diluar jadwal dokter
Luangkan waktu sejenak

Apakah sudah minum Obat pagi hari?
Bagaimana tensi darah hari ini
Less then 1 minute touching tapi lebih dari a thousand hope

Singapura
Medical Tourism
Sebelum pandemi, lebih dari 500 ribu pasien internasional datang ke Singapura setiap tahun.
Indonesia termasuk penyumbang terbesar.
Banyak orang bilang:
“Kalau sakit serius, pergilah ke Singapura.”
Sure pasti sembuh

Singapura
Negeri Pendidikan
Selain medis, Singapura juga unggul di bidang pendidikan.
Universitas Dunia
NUS (National University of Singapore)
dan NTU (Nanyang Technological University)
selalu masuk 20 besar dunia.
(Salam hormat saya buat sahabat di Nanyang dan Parkway)

Bayangkan, negara sekecil Jakarta Selatan, punya universitas setara Harvard.

Sekolah Dasar yang Serius
Anak-anak Singapura sudah dibiasakan berpikir kritis sejak dini.

Tidak heran mereka sering juara olimpiade matematika atau sains.

Dukungan Pemerintah
Hampir 20% anggaran negara untuk pendidikan.

Pemerintah sadar, kekayaan alam Singapura terbatas.
Tapi otak manusia, kalau diasah, bisa jadi sumber daya tak terbatas.

Link ke Industri
Pendidikan di Singapura erat kaitannya dengan dunia kerja.
Lulusan politeknik dan universitas langsung siap kerja karena magang dan proyek industri menjadi bagian dari kurikulum.
Kalau medis adalah salah satu sayap Singapura, maka pendidikan adalah sayap lainnya.

Dua sayap inilah yang membuat Singapura bisa terbang tinggi.

Ada Humor Kecil Tentang Disiplin
Singapura
memang disiplin.
Kadang terlalu disiplin.

Saya pernah bercanda dengan seorang teman:
“Di Singapura, kalau kamu buang sampah sembarangan, kamu didenda.
Kalau kamu merokok di tempat terlarang, kamu didenda. Kalau kamu meludah sembarangan, juga didenda.
Tapi kalau kamu senyum sembarangan, siapa tahu malah dapat pacar.”
Karena di Singapura sesuai data Wanita jauh lebih banyak dari Pria
Jadi laki laki
Sangat laku di Singapura

Teman saya tertawa: “Betul, tapi pacarnya pun disiplin.
Kalau janji jam 2, jangan datang jam 2.15. Bisa diputusin!”

Humor-humor kecil ini justru membuat saya semakin kagum.
Karena disiplin yang ketat itu memang yang membuat Singapura bisa maju.

Sungapura
Renungan di Tengah Persahabatan
Kini,
menjelang operasi pemasangan ICD, saya merenung.

Enam kali operasi, bukan perjalanan mudah.
Tapi saya bersyukur. Di balik semua biaya dan rasa sakit,
ada sahabat-sahabat yang menemani.
Ada dokter yang penuh dedikasi.
Ada istri Lena dan anak cucu
Tidak lupa besan besan dan keluarga
(Sempat ketemu keluarga Besan di Singapura)
Semua
yang selalu mendukung.

Saya percaya, Tuhan menaruh orang-orang baik di sekitar kita agar perjalanan hidup tidak terasa terlalu berat.

Singapura mengajarkan saya bahwa persahabatan lebih mahal dari biaya rumah sakit, lebih berharga dari harga obat, dan lebih langka daripada tiket murah ke Orchard Road.

Negeri Persahabatan
Bagi sebagian orang,
Singapura adalah negeri mahal,
negeri penuh denda,
negeri yang serba ketat.

Tetapi bagi saya, Singapura adalah negeri persahabatan. Negeri yang menyelamatkan saya dari lumpuh.
Negeri yang memberi saya dokter dan sahabat.
Negeri yang mengajarkan bahwa dengan disiplin, ketekunan, dan persahabatan, tidak ada batas untuk harapan.

Persahabatan di atas segalanya. Itulah Singapura bagi saya.

Saya mencari sahabat
Untuk mengawali persahabatan

Www.kris.or.id
Www.adharta.com

ANTARA KESEMPURNAAN DAN KESEPIAN

Cerpen nomor 0072

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Medio April 2026

Kisah ini didedikasi untuk aeorang sahabat yang sedang sakit

ANTARA KESEMPURNAAN DAN KESEPIAN

Empat puluh tahun lalu, Anita berdiri anggun di pelaminan.
Gaun putih membalut tubuhnya yang ramping, senyum tipis menghiasi wajahnya yang cantik namun terjaga.

Di sampingnya, Andi—pria yang ia pilih sebagai pasangan hidup—menatapnya dengan penuh cinta yang hangat dan sederhana.

Pernikahan mereka bukanlah kisah cinta yang meledak-ledak. Tidak ada drama, tidak ada pertengkaran besar di awal.

Yang ada adalah dua pribadi berbeda yang mencoba berjalan dalam ritme yang sama.

Andi hangat, santai, penuh toleransi.

Anita… sebaliknya.
Ia terstruktur, disiplin, hampir kaku.

Dunia Anita adalah dunia yang harus teratur, bersih, dan terkendali.

Dari pernikahan itu, lahirlah seorang putri: Mira.
Mira kecil tumbuh dalam rumah yang bersih seperti ruang operasi. Setiap sudut mengilap.
Tidak ada debu. Tidak ada noda. Bahkan sebelum duduk di kursi mobil, Anita selalu mengelapnya dengan kain steril.

Sendok, garpu, piring—harus dicuci ulang sebelum dipakai, walau sudah bersih.
Baju harus dicuci setiap hari.
Tidak ada toleransi terhadap “sedikit kotor”.

Awalnya, Andi mencoba memahami. Ia tersenyum, membantu, menenangkan. Tapi perlahan, ia lelah. Ia sering berkata pelan,
“Tidak semua hal harus sempurna, Nita…”

Namun Anita tidak pernah benar-benar mendengar.
Mira tumbuh di antara aturan. Ia tidak pernah benar-benar bebas.
Setiap langkah diawasi.
Setiap kesalahan dikoreksi.
Setiap kekacauan kecil dianggap ancaman besar.
Dan dari situlah, jarak mulai tumbuh.
Hubungan ibu dan anak itu perlahan berubah.

Bukan lagi hangat. Bukan lagi penuh tawa. Tapi menjadi dingin… dan tegang.
Seperti anjing dan kucing.
Mira sering memberontak.

Anita semakin keras. Kata-kata menjadi tajam. Tatapan menjadi dingin.
Tidak ada ruang untuk memahami satu sama lain.
Andi berada di tengah
menjadi jembatan yang semakin lama semakin rapuh.
Hingga suatu hari, sepuluh tahun lalu, Andi pergi untuk selamanya.

Kepergiannya seperti memutus satu-satunya tali yang masih menghubungkan Anita dan Mira.

Rumah itu menjadi lebih sunyi… dan lebih keras.
Tanpa Andi, Anita semakin tenggelam dalam dunianya sendiri.

Dunia yang bersih, steril, dan penuh kontrol. Sementara Mira merasa semakin tercekik.
Hingga akhirnya, Mira memilih pergi.
Tanpa banyak kata.
Tanpa pelukan. Tanpa perpisahan yang layak.
Ia lari… ke Denpasar, Bali.

Sejak hari itu, rumah Anita benar-benar kosong.
Tidak ada suara tawa.
Tidak ada langkah kaki. Hanya bunyi detik jam dan suara kain yang mengelap permukaan meja berulang kali.
Anita tetap menjadi dokter yang dihormati. Profesional. Disiplin. Sempurna.
Namun di balik jas putihnya… ada kesepian yang tidak pernah ia akui.

Hubungannya dengan kakak perempuannya pun tidak lebih baik.
Padahal kakaknya adalah pengusaha sukses, terkenal, dan berpengaruh. Tapi hubungan mereka penuh jarak, penuh ego, dan tak pernah benar-benar hangat.
Seolah Anita memang ditakdirkan hidup dalam lingkaran yang teratur… tapi sepi.

Satu-satunya cahaya dalam hidupnya adalah Monic.
Sahabat lama sejak masa kuliah di UI. Dokter kandungan yang hangat, sabar, dan penuh empati. Monic adalah satu-satunya orang yang bisa masuk ke dunia Anita tanpa diusir.

Mereka sering berbincang. Curhat. Tertawa kecil.
Dalam Monic, Anita menemukan sesuatu yang tidak pernah ia miliki: penerimaan.
Namun waktu tidak pernah berhenti.
Lebih dari satu tahun lalu, hidup Anita berubah drastis.
Diagnosis itu datang seperti petir di siang bolong.
Kanker.

Bukan satu titik. Tapi beberapa organ.
Tubuh yang selama ini ia jaga dengan disiplin tinggi… ternyata menyimpan kelemahan yang tidak bisa ia kendalikan.

Anita yang selalu kuat… mulai rapuh.
Operasi demi operasi harus dijalani. Salah satunya adalah operasi usus yang berat.

Ia dirawat. Sendiri.
Tidak ada suami di sampingnya. Tidak ada anak yang menggenggam tangannya. Kakaknya pun jauh—secara fisik maupun hati.

Yang ada hanya Monic.
Monic yang mengantar ke rumah sakit.
Monic yang menunggu di ruang operasi.
Monic yang datang saat bezoek.
Monic yang menggenggam tangannya saat rasa sakit tak tertahankan.
Teman-teman alumni UI juga tidak tinggal diam.
Mereka mengumpulkan dana untuk membantu biaya pengobatan Anita.
Walau sudah dibantu BPJS, biaya tetap besar.
Namun bantuan materi tidak bisa menggantikan satu hal: kehangatan keluarga.

Minggu lalu, Anita menjalani operasi di MRCCC.
Operasi berjalan. Tubuhnya bertahan.
Namun saat ia pulang ke rumah untuk pemulihan… kenyataan kembali menampar.
Rumah itu tetap sunyi.
Sepi yang dulu ia pilih… kini menjadi beban yang harus ia tanggung.

Atas saran Monic, akhirnya Anita setuju menggunakan caregiver atau perawat

Sebuah keputusan yang dulu mungkin tidak akan pernah ia ambil. Membiarkan orang lain masuk ke ruang pribadinya, menyentuh barang-barangnya, berada di dunianya yang steril.

Namun kini… ia tidak punya pilihan.
Hari-hari pemulihan terasa panjang.
Kadang Anita duduk sendiri di ruang tamu, menatap kursi kosong di depannya.
Di sana, dulu Andi sering duduk.

Tersenyum. Menenangkan.
Kadang ia menatap pintu… seolah berharap Mira tiba-tiba muncul.

Namun pintu itu tetap tertutup.
Tidak ada yang datang.
Di antara rasa sakit fisik dan kesepian yang menyesakkan, Anita mulai menyadari sesuatu yang selama ini ia abaikan.
Ia bisa mengontrol kebersihan.
Ia bisa mengontrol rutinitas.
Ia bisa mengontrol dunia kecilnya.
Tapi ia tidak pernah benar-benar belajar mengontrol… hatinya.
Ia terlalu sibuk menciptakan kesempurnaan… hingga lupa merawat hubungan.
Dan kini, saat tubuhnya melemah… yang ia butuhkan bukanlah lantai yang bersih atau piring yang steril.
Tapi seseorang… yang mau duduk di sampingnya.
Menggenggam tangannya.
Dan berkata, “Aku di sini.”
Namun hidup tidak selalu memberi kesempatan kedua dengan mudah.
Yang tersisa bagi Anita kini hanyalah kenangan, penyesalan, dan satu harapan kecil yang belum padam—
Bahwa suatu hari, mungkin… Mira akan pulang.
Dan di saat itu tiba, Anita tidak lagi ingin menjadi sempurna.
Ia hanya ingin menjadi… seorang ibu.

Www.adharta.com

Www.kris.or.id

SAMBUTAN DAN GAGASAN STRATEGISMUSYAWARAH BESAR II PRAMARIN (Praktisi Maritim Indonesia)

PRAMARIN:

SAMBUTAN DAN GAGASAN STRATEGIS
MUSYAWARAH BESAR II PRAMARIN (Praktisi Maritim Indonesia)

Jakarta
Kamis 16 April 2026

Oleh : Adharta
Ketua Dewan
Pengawas

Assalamualaikum waramatulohi wabarakatuh

Salam sejahtera bagi kita semua

Yang saya muliakan
Bapak Menteri Perhubungan dan seluruh Jajarannya

Yang saya hormati para pendiri dan Pembina PRAMARIN,

Yang saya Cintai
Ketua Umum Pengurus Pramarin 2021 – 2026
beserta seluruh jajarannya

Yang saya banggakan
para pelaku usaha maritim, pemilik Kapal
para profesional, pelaut, nelayan, akademisi, serta seluruh pecinta dunia maritim di Indonesia yang sekali lagi saya banggakan.

Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat-Nya kita dapat berkumpul dalam Musyawarah Besar II PRAMARIN. Mubes ini bukan sekadar forum organisasi, melainkan momentum penting untuk merumuskan arah strategis komunitas maritim Indonesia dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi maritim yang luar biasa.

Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya terkelola secara optimal.
Oleh karena itu, PRAMARIN harus mengambil peran sebagai katalisator perubahan
menyatukan visi antara pelaku usaha, pekerja, dan pemangku kepentingan dalam ekosistem maritim.

Dalam kesempatan hari ini saya mau menulis sebuah
Tesis utama yang ingin saya sampaikan adalah:

“Kemajuan maritim Indonesia hanya dapat dicapai melalui integrasi kekuatan finansial, industrial, dan operasional yang berkelanjutan.”

Untuk itu, izinkan saya menyampaikan beberapa gagasan strategis:

Pertama
Sektor Keuangan: Fondasi Penguatan Ekosistem Maritim
Salah satu tantangan terbesar dalam dunia maritim adalah keterbatasan akses pembiayaan. Banyak pelaku usaha, terutama nelayan dan UMKM maritim, kesulitan mendapatkan modal yang terjangkau.
PRAMARIN dapat mendorong:
Skema pembiayaan khusus sektor maritim berbasis risiko industri
Kolaborasi dengan perbankan nasional dan lembaga keuangan global
Literasi keuangan bagi pelaut dan nelayan

Usulan strategis: pembentukan Bank Kapal Indonesia,
BKI
sebuah institusi keuangan khusus yang berfokus pada pembiayaan kapal, logistik laut, serta industri pendukung maritim.

Bank ini diharapkan menjadi solusi bagi pembiayaan pembangunan kapal, peremajaan armada, hingga asuransi maritim.

Kedua
Sektor Industri: Membangun Kemandirian Maritim
Indonesia masih bergantung pada impor untuk banyak kebutuhan bahan baku industri maritim. Ini menjadi tantangan sekaligus peluang.
Langkah yang dapat diambil:

Mendorong revitalisasi galangan kapal nasional
Pengembangan industri komponen kapal dalam negeri
Insentif bagi investasi di sektor industri maritim

PRAMARIN harus menjadi jembatan antara pelaku industri dan pemerintah, memastikan kebijakan yang berpihak pada kemandirian nasional.

Ketiga
Sektor Operasional:

Efisiensi dan Modernisasi
Dalam operasional, tantangan utama adalah efisiensi logistik dan kualitas SDM.
Program yang dapat diinisiasi:
Digitalisasi sistem
AI dan Teknologi Informasi
pelabuhan dan logistik
Pelatihan dan sertifikasi pelaut berstandar internasional
Penguatan keselamatan kerja di laut

PRAMARIN dapat membangun pusat pelatihan maritim terpadu yang menghubungkan teori, praktik, dan kebutuhan industri.
Termasuk menerbitkan sertifikasi kompetensi Pelaut dll.

Keempat
Kolaborasi dan Advokasi Nasional
Tidak ada kemajuan tanpa sinergi. PRAMARIN harus:

Menjadi mitra strategis pemerintah
Menjadi wadah aspirasi pelaku maritim
Menginisiasi forum rutin lintas sektor
Komunitas ini harus bergerak dari sekadar wadah silaturahmi menjadi think tank maritim nasional.

Sebagai pesan
Penutup

Para
Hadirin yang saya hormati,

Masa depan Indonesia Suka atau Tidak Suka ada di laut

Kita tidak boleh hanya menjadi penonton di negeri sendiri.

PRAMARIN harus menjadi pelopor perubahan
menggerakkan, menghubungkan, dan memperjuangkan kepentingan maritim bangsa Indonesia

Mari kita jadikan Mubes II ini sebagai titik tolak kebangkitan baru dunia maritim Indonesia.

Dengan semangat kebersamaan, profesionalisme, dan cinta tanah air, kita yakin bahwa Indonesia akan menjadi kekuatan maritim dunia yang disegani.

Terima kasih.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Salam Sejahtera bagi kita semua

Adharta

“Api dalam Sekam”

Cerpen nomor 0071

“Api dalam Sekam”

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Jakarta
April 2026

Awal Cinta
Siska adalah gadis yang sejak kecil terbiasa menjadi pusat perhatian.

Cantik, manja, namun juga luar biasa cerdas. Ia lulus SMA dengan predikat juara, membuat kedua orang tuanya bangga bukan main. Tanpa ragu, ia melanjutkan studinya ke Griffith University di Brisbane, Queensland Australia.
Jurusan akuntansi keuangan
Di sana, kecantikannya tetap mencuri perhatian, tetapi yang membuatnya benar-benar menonjol adalah kecerdasannya. Ia lulus dengan predikat cum laude, membawa pulang kebanggaan yang lebih besar lagi bagi keluarganya.

Andhika, di sisi lain, adalah sosok pria yang tenang, terstruktur, dan penuh tanggung jawab. Andhika juga lulus SMA di Jakarta dengan nilai memuaskan, sebelum melanjutkan studinya ke Amerika Serikat di UCLA California jurusan Administrasi International Marketing

Dengan kerja keras dan disiplin tinggi, Andhika pun meraih gelar sarjana dengan predikat cum laude.
Andhika bukan tipe pria yang banyak bicara, tetapi sekali berbicara, kata-katanya selalu penuh makna.

Takdir mempertemukan mereka di sebuah acara peresmian badan usaha di kawasan Kelapa Gading, Jakarta.

Malam itu, lampu-lampu kristal memantulkan cahaya keemasan di seluruh ruangan. Para tamu mengenakan pakaian terbaik mereka.
Siska hadir dalam balutan gaun sederhana namun elegan, rambutnya tergerai indah di bahu.

Andhika, dengan jas hitam rapi, berdiri di sudut ruangan, mengamati suasana dengan tenang.
Pertemuan mereka terjadi secara sederhana.

“Permisi… kursinya kosong?” tanya Siska dengan senyum manis.
Andhika menoleh, sedikit terkejut, lalu tersenyum tipis. “Silakan.”

Percakapan ringan pun mengalir. Dari topik pekerjaan, pengalaman kuliah di luar negeri, hingga hal-hal kecil seperti makanan favorit.

Tanpa terasa, waktu berlalu begitu cepat.
Sejak malam itu, keduanya semakin sering bertemu.
Hubungan mereka berkembang dengan cepat namun alami.

Andhika menemukan kenyamanan dalam keceriaan Siska. Sementara Siska menemukan ketenangan dalam kedewasaan Andhika.
Ada banyak momen kecil yang membuat cinta mereka tumbuh.
Seperti saat Andhika menjemput Siska di bandara sepulang dari perjalanan kerja, lalu membawanya ke tempat makan sederhana yang ternyata menjadi favorit baru mereka.
Atau saat Siska, dengan manja, memaksa Andhika menemaninya berbelanja, lalu tertawa kecil saat melihat Andhika kebingungan memilih warna tas yang

“cocok”.
“Kamu ini, Dhika… masa warna aja bingung,” goda Siska.

“Karena aku nggak mau salah pilih buat kamu,” jawab Andhika pelan.

Siska terdiam sejenak, lalu tersenyum lebih lembut.
Cinta mereka bukan hanya tentang kata-kata, tetapi juga perhatian-perhatian kecil yang terasa begitu besar.
Hingga akhirnya, Andhika melamar Siska.
Lamaran itu dilakukan dengan sederhana namun penuh makna.
Di sebuah restoran dengan pemandangan kota Jakarta di malam hari, Andhika menggenggam tangan Siska.
“Siska… aku nggak janji hidup kita akan selalu mudah.
Tapi aku janji akan selalu ada buat kamu.”
Mata Siska berkaca-kaca.
“Aku mau…,” jawabnya lirih.

Tiga tahun lalu,

mereka berdiri di pelaminan.
Pernikahan dilangsungkan secara agama Buddha. Suasana penuh khidmat. Lilin-lilin menyala, doa-doa dipanjatkan. Janji suci diucapkan dengan suara yang bergetar, namun penuh keyakinan.
Dalam momen itu, mereka bukan hanya sepasang kekasih, tetapi dua jiwa yang berjanji untuk berjalan bersama, apa pun yang terjadi.
Semua orang yang hadir sepakat—mereka adalah pasangan yang sempurna.
Cantik dan tampan.
Cerdas dan mapan.
Serasi dalam segala hal.

“Pasti anak-anaknya nanti luar biasa,” bisik seorang tamu.
Siska tersenyum mendengarnya. Andhika hanya menggenggam tangannya lebih erat.
Awal pernikahan mereka dipenuhi kebahagiaan.
Pagi-pagi yang dimulai dengan sarapan bersama.
Siska yang masih mengantuk, duduk di meja makan sambil bersandar pada bahu
Andhika.
“Bangunin aku tiap pagi itu dosa tau…,” gumam Siska manja.

“Kalau nggak dibangunin, kamu bisa kesiangan,” jawab Andhika sambil tersenyum.

Malam-malam yang diisi dengan obrolan panjang, tawa, dan rencana masa depan.
Mereka sering berbicara tentang mimpi.
Tentang rumah yang lebih besar.
Tentang perjalanan ke Eropa.
Tentang kehidupan yang ingin mereka bangun bersama.
Namun, ada satu hal yang perlahan mulai menjadi bayangan dalam hubungan mereka.

Anak.
Awalnya hanya obrolan ringan.
“Kalau kita punya anak, kamu maunya laki-laki atau perempuan?” tanya Andhika suatu malam.

Siska terdiam sejenak.
“Aku… belum kepikiran ke sana,” jawabnya pelan.
Andhika tidak memaksakan.
Namun waktu terus berjalan.
Tahun pertama berlalu.
Tahun kedua.
Pertanyaan tentang anak mulai datang, bukan hanya dari Andhika, tetapi juga dari keluarga besar.
Sebagai anak laki-laki tunggal, Andhika memikul harapan besar untuk melanjutkan garis keturunan.

“Siska, mama cuma pengen lihat cucu sebelum terlalu tua,” kata ibunya suatu hari.
Siska tersenyum kaku.
Di dalam hatinya, ia mulai merasa tertekan.
Hingga akhirnya, di tahun ketiga pernikahan, Siska mengungkapkan sesuatu yang selama ini ia pendam.

“Aku nggak mau punya anak.”
Kalimat itu jatuh seperti petir.
Andhika terdiam.
“Apa maksud kamu…?” tanyanya pelan.
“Aku nggak siap. Dan mungkin… aku nggak akan pernah siap.”

“Ini bukan soal siap atau nggak, Siska. Ini soal keluarga.”
“Dan ini juga soal hidup aku!” balas Siska, suaranya mulai meninggi.
Sejak saat itu, hubungan mereka berubah.
Yang dulu penuh tawa, kini sering diisi dengan perdebatan.
Yang dulu hangat, kini terasa dingin.
Pertengkaran demi pertengkaran terjadi.

“Kenapa kamu egois banget?” kata Andhika suatu malam.
“Egois? Aku cuma jujur sama diri sendiri!”
“Kamu pikir aku nggak punya perasaan? Aku juga punya tanggung jawab!”
“Selalu tanggung jawab! Kapan kamu mikirin aku?!”
Suara mereka semakin keras.
Pintu kamar ditutup dengan keras.
Air mata menjadi teman yang semakin sering hadir.
Tak ada lagi sarapan hangat.
Tak ada lagi tawa ringan.
Yang tersisa hanya diam yang panjang… dan dingin.

Keluarga mulai ikut campur.
Tekanan semakin besar.
Namun tidak ada yang benar-benar mendengarkan satu sama lain.
Siska merasa hidupnya terancam oleh ekspektasi.

Andhika merasa masa depannya terancam tanpa keturunan.
Dua orang yang dulu saling mencintai, kini berdiri di dua sisi yang berlawanan.
Seperti api dalam sekam.

Diam… tetapi membakar.
Hingga akhirnya, keputusan itu datang.
Perceraian.
Hari itu, tidak ada air mata yang berlebihan.
Hanya keheningan.

Siska duduk di ruang tamu, menatap kosong.
Andhika berdiri di dekat pintu.
“Apa ini benar-benar yang kita mau?” tanya Andhika.
Siska menunduk.
“Aku nggak tahu… tapi aku tahu kita nggak bisa terus seperti ini.”

Andhika mengangguk pelan.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada ciuman perpisahan.
Hanya dua hati yang lelah.
Tiga tahun yang lalu, mereka berdiri di pelaminan, mengucap janji suci.
Hari ini, mereka berdiri di persimpangan, mengakhiri semuanya.
Badai telah menghantam rumah tangga yang begitu muda.

Dan yang tersisa hanyalah kenangan.
Tentang cinta yang pernah begitu indah.
Tentang dua orang yang pernah percaya… bahwa mereka akan selamanya bersama.
Namun pada akhirnya, cinta saja tidak selalu cukup.
Kadang, perbedaan yang tak terjembatani… menjadi akhir dari segalanya.

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

🌹 Jawaban yang Tidak Aku Punya

Cerpen no 0068

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

April 2026

🌹 Jawaban yang Tidak Aku Punya

Cntaku
Vincent selalu percaya satu hal sederhana dalam hidupnya:
yang penting anaknya bahagia.
Ia bukan orang yang banyak sekolah.
Lulus SMA saja sudah ia syukuri dengan penuh rasa terima kasih. Sejak muda, hidup sudah menuntutnya bekerja keras
apa saja ia lakukan, selama itu halal dan bisa membuat dapur tetap mengepul. Panas matahari, hujan, bahkan rasa lelah yang kadang menusuk tulang, semua sudah menjadi bagian dari kesehariannya.
Di rumah kecilnya, ada dua orang yang menjadi alasan ia terus bertahan: istrinya, Yenny, dan anak semata wayangnya, Cathrine.

Untuk Cathrine, ia punya harapan yang sangat sederhana
namun dalam maknanya begitu dalam.

“Jangan seperti Papa. Kamu harus lebih pintar.”

Cathrine memang berbeda sejak kecil.
Ia bukan hanya anak yang aktif, tetapi juga penuh rasa ingin tahu. Hampir setiap hari ada saja pertanyaan yang keluar dari mulut kecilnya.
“Pa, kenapa langit warnanya biru?”
“Pa, kenapa lampu bisa menyala?”
“Pa, kenapa orang bisa sakit?”

Vincent selalu mencoba menjawab, walaupun sering kali ia sendiri tidak benar-benar tahu jawabannya.
“Ya… karena memang begitu, Nak,” jawabnya sambil tersenyum.
Di usia kecil, jawaban itu cukup. Cathrine akan mengangguk, lalu kembali bermain atau tertawa seperti tidak ada beban di dunia ini.
Namun waktu berjalan.
Dan pertanyaan-pertanyaan itu berubah.

Semakin besar Cathrine, semakin dalam pula rasa ingin tahunya.
Suatu malam, ia datang membawa buku pelajaran matematika. Wajahnya tampak serius, sedikit berkerut.
“Pa, ini aku tidak mengerti.”
Vincent menerima buku itu. Ia menatap halaman penuh angka, rumus, dan simbol yang terasa asing baginya.
Ia membaca pelan.
Berusaha memahami.
Tapi… tidak ada yang benar-benar ia mengerti.
Tangannya diam di atas buku itu.
Hatinya mulai terasa berat.

“Pa?” suara Cathrine pelan, penuh harap.
Vincent tersenyum kaku.
“Besok tanya guru ya, Nak.”
Cathrine mengangguk.
“Ya, Pa.”
Namun malam itu, ada sesuatu yang berbeda. Saat Cathrine kembali ke mejanya, Vincent tetap duduk diam. Matanya tidak lagi melihat buku, tapi menatap kekosongan.
Untuk pertama kalinya, ia merasa…
tidak cukup.

Hari-hari berikutnya, perasaan itu semakin sering datang.
Setiap kali Cathrine bercerita tentang pelajaran sekolahnya, Vincent mendengarkan dengan penuh perhatian—tapi di dalam hatinya ada jarak yang semakin terasa.
Saat Cathrine bertanya sesuatu yang tidak ia pahami, ia hanya bisa menghindar dengan jawaban sederhana.
Saat melihat anaknya belajar sendirian di meja, dengan wajah serius dan kadang frustasi, hatinya terasa seperti diremas.
Ia mulai merasa tertinggal.
Sebagai seorang ayah.

Suatu sore, Vincent duduk di depan rumah. Angin berhembus pelan, membawa suara anak-anak bermain di kejauhan.
Seorang tetangga lewat dan menyapanya.
“Anakmu pintar ya, Vincent. Kamu pasti bangga.”
Vincent tersenyum.
“Iya,” jawabnya pelan.
Tapi di dalam hatinya, ada suara lain yang tidak bisa ia abaikan:
“Apa aku cukup untuk dia?”

Malam itu, Vincent terbangun saat melewati ruang belajar.
Ia melihat Cathrine tertidur di meja. Buku masih terbuka, pensil masih ada di tangannya. Lampu masih menyala.
Perlahan ia mendekat.
Dengan hati-hati, ia merapikan buku itu.
Di salah satu halaman, ia melihat tulisan kecil dengan huruf rapi:
“Besok harus tanya Pak Guru.”
Vincent duduk di kursi itu.
Lama.
Sangat lama.
Dan untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar kalah—bukan oleh keadaan, tapi oleh dirinya sendiri.

Keesokan harinya, ia melakukan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Ia datang ke sekolah Cathrine.
Bukan untuk menjemput.
Tapi untuk bertanya.

Dengan langkah ragu, ia masuk ke ruang guru.
“Pak…” suaranya pelan, sedikit gugup, “saya… tidak bisa bantu anak saya belajar.”
Guru itu menatapnya, lalu tersenyum hangat.
“Bapak sudah membantu.”
Vincent menggeleng.
“Saya tidak mengerti pelajarannya.”
Guru itu tidak langsung menjawab. Ia menatap Vincent sejenak, seolah memahami sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kata-kata.
“Bapak datang ke sini,” katanya pelan.
“Itu sudah lebih dari cukup.”

Vincent terdiam.
Ia tidak tahu harus menjawab apa.
“Anak tidak selalu butuh orang tua yang tahu semua jawaban,” lanjut guru itu.
“Tapi mereka butuh orang tua yang tidak menyerah untuk mereka.”

Kalimat itu sederhana.
Tapi entah mengapa, terasa sangat dalam.
Seolah-olah ada sesuatu yang selama ini hilang… kini perlahan ditemukan.

Malam itu, saat Cathrine kembali belajar, Vincent tidak pergi ke ruang lain seperti biasanya.
Ia duduk di sampingnya.
Cathrine menoleh, sedikit terkejut.
“Pa?”
Vincent tersenyum.
“Ini sulit ya?”
Cathrine mengangguk.
“Iya, Pa.”
Vincent menarik napas pelan.
“Papa juga tidak mengerti,” katanya jujur.
Cathrine terlihat heran.
“Tapi… kita coba sama-sama ya.”

Malam itu tidak langsung mudah.
Mereka beberapa kali salah.
Beberapa kali bingung.
Beberapa kali harus membuka buku lain, bahkan mencari penjelasan dari sumber yang berbeda.
Kadang mereka tertawa karena salah hitung.
Kadang mereka diam karena sama-sama tidak tahu.
Tapi ada satu hal yang berubah:
Cathrine tidak lagi sendirian.

Hari demi hari berlalu.
Kebiasaan itu terus berlanjut.
Vincent mungkin tidak menjadi lebih pintar dalam pelajaran sekolah.
Tapi ia menjadi lebih hadir.
Lebih dekat.
Lebih nyata.

Suatu malam, Cathrine tiba-tiba berseru dengan wajah bersinar.
“Pa! Aku mengerti!”

Vincent ikut tersenyum lebar.
Padahal ia sendiri belum sepenuhnya memahami.
“Tuh kan,” katanya bangga, “kita bisa.”

Tahun-tahun berlalu.
Cathrine tumbuh menjadi gadis yang cerdas, percaya diri, dan berani menghadapi tantangan.
Ia tidak takut bertanya.
Tidak takut salah.
Dan tidak pernah merasa sendirian.

Suatu hari, dalam sebuah percakapan, seseorang bertanya kepadanya:
“Siapa yang paling banyak membantu kamu belajar?”
Cathrine tersenyum tanpa ragu.
“Papa saya.”

Vincent yang mendengar itu terdiam.
Hatinya bergetar.
Ia ingin berkata,
“Tapi Papa tidak pintar.”
Namun sebelum kata itu keluar, Cathrine melanjutkan:
“Papa mungkin tidak tahu semua jawabannya…
tapi Papa tidak pernah meninggalkan saya saat saya mencari jawabannya.”

Malam itu, Vincent duduk sendiri di ruang tamu.
Sunyi.
Tenang.
Namun hatinya terasa penuh.
Ia tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar mengerti:
Bahwa menjadi orang tua bukan tentang tahu segalanya.
Bukan tentang selalu benar.
Bukan tentang punya semua jawaban.
Tapi tentang hadir… bahkan ketika tidak tahu.

Di buku kecilnya, ia menulis:
“Saya mungkin tidak cukup pintar untuk menjawab semua pertanyaan anak saya.”
“Tapi saya akan selalu cukup… untuk menemaninya mencari jawaban.”

Dan mungkin…
di situlah letak kecerdasan yang paling penting.
Bukan di kepala.
Tapi di hati…
yang tidak pernah menyerah.

Disana aku tidak punya
Tapi dia milik aku

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Kasih yang Menghidupkan

Selamat Paskah

5 April 2026

Oleh : Adharta
Ketua Umum KRIS

Kasih yang Menghidupkan

Paskah merupakan
Segala Aspek Kehidupan

Paskah bukan sekadar perayaan tahunan.
Paskah adalah napas kehidupan bagi setiap insan yang percaya.

Di balik kisah sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus, tersimpan pesan kasih yang tak lekang oleh waktu
kasih yang memulihkan, menguatkan, dan memberi harapan baru.

Kasih itu tidak hanya tinggal di gereja atau dalam doa, tetapi hidup dan nyata dalam keluarga, persahabatan, dan bahkan dalam dunia usaha yang kita jalani setiap hari.

Dalam keluarga, Paskah mengajarkan arti pengorbanan dan pengampunan.

Yesus
rela menyerahkan diri-Nya demi keselamatan manusia.

Betapa dalam makna ini jika kita bawa ke dalam rumah tangga kita.

Tidak ada keluarga yang sempurna
perbedaan, luka hati, dan kesalahpahaman adalah bagian dari perjalanan.

Namun, Paskah mengingatkan kita bahwa kasih sejati tidak berhenti pada luka, tetapi bangkit dalam pengampunan.

Seperti Kristus yang bangkit membawa damai, demikian pula setiap keluarga dipanggil untuk bangkit dari ego, dari amarah, dan memilih untuk saling merangkul kembali.

Keluarga yang hidup dalam kasih Paskah adalah keluarga yang tidak lelah untuk saling mengasihi, meski harus berkorban.

Dalam persahabatan, Paskah menjadi cermin kesetiaan dan ketulusan.

Yesus menyebut murid-murid-Nya sebagai sahabat, bahkan ketika mereka sempat goyah dan meninggalkan-Nya.

Kasih Kristus tidak bersyarat
Yesus tetap setia meski dikhianati.

Dari sini kita belajar bahwa sahabat sejati bukanlah yang hadir hanya dalam tawa, tetapi yang tetap tinggal dalam duka.

Persahabatan yang berakar pada nilai Paskah adalah persahabatan yang tidak mudah retak oleh kesalahpahaman, tidak diukur oleh keuntungan, tetapi oleh ketulusan hati.

Betapa indahnya jika kita menjadi sahabat yang menghadirkan terang, yang menguatkan, dan yang membawa damai bagi sesama.

Dalam dunia usaha dan bisnis,

Paskah sering kali terasa jauh.

Dunia bisnis identik dengan persaingan, keuntungan, dan ambisi.

Namun justru di sinilah nilai Paskah menjadi sangat relevan.

Kebangkitan Kristus adalah simbol kemenangan kebenaran atas kegelapan, kejujuran atas kepalsuan.

Seorang pelaku usaha yang menghidupi semangat Paskah akan menjunjung tinggi integritas, tidak mencari keuntungan dengan cara yang merugikan orang lain, dan berani berdiri dalam kebenaran meski tidak mudah.

Kasih Kristus mengajarkan bahwa keberhasilan sejati bukan hanya diukur dari angka, tetapi dari dampak
apakah usaha kita membawa berkat bagi banyak orang, apakah kita menjadi saluran kebaikan di tengah dunia yang sering kali keras.

Paskah juga mengingatkan kita bahwa setiap kegagalan bukanlah akhir.

Seperti salib yang tampak sebagai kekalahan, namun berujung pada kebangkitan yang mulia,
demikian pula hidup kita.

Dalam keluarga, persahabatan, dan bisnis, mungkin kita pernah jatuh, kecewa, bahkan merasa kehilangan arah. Namun Paskah membawa pesan yang kuat
selalu ada harapan baru.

Selalu ada kesempatan untuk bangkit.

Akhirnya, Paskah adalah undangan untuk hidup dalam kasih.

Kasih yang tidak hanya diucapkan, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata.

Kasih yang berani berkorban, setia, dan memberi tanpa pamrih.

Kasih Yesus Kristus adalah terang yang menuntun langkah kita, menguatkan hati kita, dan menghidupkan kembali jiwa kita.

Saya mengucapkan
Selamat Paskah.

Buat semua Sahabatku
Para Uskup
Para Pastor
Para Suster
Para Frater dan Bruder
Para Pendeta
Para Penatua Gereja
Semua Keluarga besar saya
Orang Tua
Kakak Adik
Anak dan Cucu
Teman sejawat
Teman Bisnis
Teman komunitas
Teman Sekolah
SD SMP SMA
Fakultas

Semoga kasih-Nya senantiasa tinggal dalam keluarga kita, mengalir dalam persahabatan kita, dan terpancar dalam setiap langkah usaha kita.

Karena dalam Dia, kita tidak hanya hidup
kita dibaharui
Dipelihara
Diperlakukan sebagai Keluarga Kerajaan Allah sendiri.

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Antara Pergi dan Pulang

Antara Pergi dan Pulang

Cerpen nomor 0067

Selamat Paskah Sahabatku

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Di Irlandia Utara ada sebuah Danau namanya Adharta (Lake Adharta atau Danau Doa)

Kisahnya mirip Siloam
Banyak kehidupan disana penuh suasana Damai sejahtera

Ingin hatiku sekali aku mau kesana cuma rentang waktu belum tersambung

Paskah bagi kita
Paskah bagi keluarga

Aku hanya bisa berdoa buat semua sahabat dan terimalah persembahan kisahku

Kisah Cinta keluarga
Yang mungkin anda alami

Setiap pagi, rumah itu selalu sama pintu terbuka, langkah kaki bergegas, dan doa singkat yang terucap sebelum pergi.

Di rumah itu tinggal seorang ayah dan ibu, dengan tiga anak laki-laki yang kini telah dewasa.

Dulu, mereka kecil, berlarian di halaman, berebut perhatian, dan sering pulang dengan lutut terluka.

Kini, mereka pergi dengan tanggung jawab masing-masing pekerjaan, keluarga, dan dunia yang lebih luas.

Ayah sering berkata, mengutip kata seorang Jenderal Amerka Mc Arthur:

“Pergilah untuk mendapatkan, pulanglah membawa hasil.”

Buat Orang Jepang Jenderal Mc Arthur bagaikan dewa penyelamat bangsa dengan semboyan nya
I shall return
Go foth to struggle
Return in Victory

Kata kata yang penuh semangat

Seperti kata Tuhan Yesus Kristus

Aku pergi untuk menyediakan tempat bagimu
Dan kembali menjemputmu dalam suka cita Surgawi

Namun, Ayah selalu menambahkan dalam hati,
“Dan jangan lupa, pulanglah dengan hati yang tetap hidup.”

Anak pertama merantau jauh di Jakarta
Ia bekerja keras, mengejar keberhasilan. Pulangnya jarang, tapi setiap kepulangan membawa cerita
tentang perjuangan, tentang jatuh bangun, tentang doa yang diam-diam ia panjatkan saat tidak ada yang melihat.

Anak kedua memilih tinggal di Surabaya lebih dekat.
Ia sederhana, tidak banyak bicara, tapi setiap hari ia pulang dengan wajah lelah yang penuh ketulusan.
Ia tidak membawa banyak hasil secara materi, tetapi damai selalu menyertainya.

Anak ketiga… berbeda.
Ia pernah “pergi” bukan hanya secara fisik, tetapi juga dalam hati.
Ia sempat tersesat
menjauh dari keluarga, menjauh dari Tuhan.
Rumah terasa asing baginya. Doa terasa jauh.
Ibu hanya bisa menangis diam-diam.

Ayah tetap berdiri di pintu setiap sore.
Menunggu.
Waktu berjalan.
Tahun demi tahun.
Dan rumah itu kini tidak lagi sunyi.

Tujuh cucu perempuan dan dua cucu laki-laki memenuhi setiap sudutnya dengan tawa.

Mereka tidak tahu betapa rumah itu pernah dipenuhi air mata. Mereka hanya tahu bahwa di rumah itu selalu ada pelukan.

Suatu hari Paskah tiba, semua berkumpul.
Langka.
Indah.
Tak terduga.
Anak pertama pulang membawa keberhasilan, tapi juga kerendahan hati.

Anak kedua tetap sama
tenang, setia, damai.
Dan anak ketiga… pulang dengan mata basah.
Ia berdiri di depan ayahnya.
Tidak membawa apa-apa.
Tidak ada kebanggaan.
Hanya satu kalimat:

“Saya pulang.”

Ayah tidak bertanya apa pun.
Ia hanya memeluk.
Seperti Bapa yang menyambut anak yang hilang.

Di meja makan Paskah itu, tidak ada yang sempurna.
Tetapi semuanya utuh.
Mereka sadar
hidup ini memang tentang pergi dan pulang.
Karena diantara pergi dan pulang terbentang nasib sejalan dengan Paskah
Pergi untuk mencari,
Pergi untuk belajar,
Pergi bahkan untuk jatuh.
Tetapi Paskah mengajarkan satu hal yang lebih dalam:

Selalu ada jalan untuk pulang.
Karena Kristus telah lebih dulu “pergi”
melewati salib, penderitaan, dan kematian…
Dan Ia “pulang”
bangkit, membawa harapan bagi semua.

Di tengah tawa cucu-cucu, ayah menutup mata sejenak.
Ia mengerti sekarang bagaimana Tuhan bekerja.
Bukan dengan cara yang selalu mudah dimengerti,
Tetapi dengan cara yang selalu penuh kasih.

Tiga anaknya berbeda jalan,
Tetapi Tuhan menuntun mereka semua kembali.
Bukan sekadar ke rumah…

Tetapi ke hati yang penuh damai.
Malam itu, sebelum semua kembali “pergi” ke kehidupan masing-masing, mereka berdoa bersama.
Tidak panjang.
Tidak rumit.
Hanya satu rasa yang memenuhi:
Sukacita dan damai sejahtera.
Karena mereka tahu
Sejauh apa pun mereka pergi,
Selama masih ada Tuhan…

Mereka selalu punya tempat untuk pulang.

I shall return

Www.kris.or.id

Www.adharta.com