16 hari menuju Baksos KRIS Panti Asuhan Santo Yusup Sindanglaya Cipanas

Hari 7

16 hari menuju Baksos KRIS
Panti Asuhan Santo Yusup
Sindanglaya
Cipanas

08 08 2026

Mencari sesuatu yang hilang

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Sindanglaya
24 Juli 2026

Semua sahabatku,
Salam sehat dan penuh kasih untuk kita semua.

Semua keturunanku akan menyebut aku Bahagia
Kata Ibunda Maria
Kepada Santo Yusup suaminya

Aku ingin mengulangnya bukan aku tapi anda semua akan bahagia sampai anak cucu akan menyebutnya

Waktu berjalan begitu cepat…

Kini tinggal 16 hari lagi kita akan melangkah ke Panti Asuhan Santo Yusup Sindanglaya Cipanas

Namun semakin hari mendekat,
aku justru merasa…
hati ini semakin pelan dan jantungku berdetak keras sekali

Seakan ada yang ingin diajak berhenti sejenak,
bukan untuk menunda,
tetapi untuk benar-benar merasakan kebahagiaan ini bersama bukan kurasakan sendiri

Membagi kebahagiaan aalah satu itu tugas kita

Pagi ini, aku duduk dalam diam dalam pelukan hati yang sejuk banget

Tidak banyak suara.
Hanya detak jam dan nafas yang terasa lebih dalam dari biasanya.

Dan entah kenapa…
yang hadir bukan rencana,
bukan daftar kegiatan,
bukan juga angka-angka bantuan.

Yang hadir…
adalah rasa.
Sebuah Kesaksian
Tentang Rindu yang Tak Terucap

Aku membayangkan mereka.
Anak-anak kecil itu.
Di sudut ruang yang sederhana,
dengan tawa yang terdengar ringan…

namun mungkin hati mereka tidak selalu sekuat senyumnya.

Ada rindu…
yang mungkin tidak pernah sempat diucapkan.

Rindu pada suara yang memanggil nama mereka sebelum tidur.

Rindu pada tangan yang menggenggam saat mereka takut.

Rindu pada seseorang…
yang mungkin bahkan mereka sendiri tidak tahu lagi wajahnya.

Dan di titik itu,
aku tersadar…
bahwa yang mereka rasakan,
bukan sekadar kekurangan.

Tetapi kehilangan.
Kehilangan yang tidak selalu terlihat.

Kehilangan yang tidak bisa dihitung.
Kehilangan yang hanya bisa dirasakan…
dalam diam yang panjang.

Dan di situlah…
hatiku seperti disentuh.

Selama ini kita sibuk mempersiapkan apa yang akan kita bawa.

Baju, makanan, bantuan, acara.
Semua itu baik.
Semua itu penting.
Namun hari ini aku belajar sesuatu yang lebih dalam…

Bahwa yang paling mereka butuhkan…
mungkin bukan itu.
Mungkin…
yang paling mereka rindukan adalah:
kehadiran.
Seseorang yang benar-benar melihat mereka.

Bukan sekadar menatap.
Seseorang yang benar-benar mendengar mereka.

Bukan sekadar menjawab.
Seseorang yang benar-benar tinggal…

meskipun hanya sebentar,
namun dengan hati yang utuh.
Sahabat-sahabatku,

keluarga besar KRIS,

16 hari lagi kita akan datang ke sana.
Mari kita datang…
bukan sebagai orang yang merasa “lebih”.

Mari kita datang…
sebagai manusia
yang sama-sama sedang belajar mencintai.

Karena mungkin,
di balik tawa mereka,
ada luka yang mengajarkan kita arti kekuatan.

Di balik kesederhanaan mereka,
ada ketulusan yang tidak kita miliki.
Dan di balik keterbatasan mereka,
ada hati yang justru jauh lebih kaya dari kita.

Aku percaya…
di hari itu nanti,
akan ada momen-momen kecil
yang tidak akan bisa kita jelaskan dengan kata-kata.

Tatapan mata.
Senyum sederhana.
Pelukan singkat.
Namun justru itulah
yang akan tinggal lama…
di dalam hati kita.

Maka mari kita siapkan diri,
bukan hanya dengan tenaga,
tetapi dengan kepekaan.
Bukan hanya dengan niat baik,
tetapi dengan hati yang sungguh-sungguh hadir.

Karena mungkin…
kita datang untuk menguatkan mereka,
namun diam-diam…
merekalah
yang akan menyembuhkan kita.
Menguatkan kita

Sampai jumpa di hari yang penuh makna itu.

Mari kita bersama menemukam sesuatu yang hilang
Dan pasti anda menemukannya bersamaku

Disanalah kebahagiaan akan terbagi antara kita

Rekening KRIS
BCA
6383648888
Atas nama
Perkumpulan KRIS

www.kris.or.id I www.adharta.com

Hidupku di Atas Awan

Cerpen Nomor 0094

Batik air 6584
35.000 kaki dpal

Hidupku di Atas Awan

Oleh: Adharta
Ketua Umum
KRIS

Langit selalu punya cara sendiri untuk memanggil seseorang. Kadang lewat mimpi, kadang lewat takdir yang tak pernah direncanakan. Begitulah hidup Iwan—atau yang sering dipanggil Isan oleh teman-teman dekatnya

seorang anak yang dulu takut ketinggian, namun kini justru menggantungkan hidupnya di atas awan.

Isan lahir di Surabaya tahun 1978.

Masa kecilnya biasa saja, penuh canda dan cerita keluarga. Namun ada satu hal yang selalu melekat dalam dirinya: ketakutan pada ketinggian.

Ia masih ingat betul ketika keluarganya pergi ke Gunung Bromo. Mobil yang terus menanjak membuatnya gemetar.
Ibunya harus memeluknya sepanjang perjalanan karena ia terus menangis ketakutan.

“Turun saja, Ma… Isan takut…”

katanya sambil memejamkan mata.
Tak ada yang menyangka, anak yang dulu takut melihat jurang itu, suatu hari akan terbang ribuan kaki di atasnya.
Saat kecil, cita-citanya sederhana. Ia ingin menjadi polisi. Baginya, polisi adalah pahlawan. “Biar bisa tangkap penjahat,” jawabnya polos setiap kali ditanya. Dunia terasa sederhana waktu itu—hitam dan putih.
Namun hidup mulai berubah ketika ayahnya kedatangan tamu dari Jerman, seorang dokter bernama Dr. Klafen Muhler. Sosok ini berbeda. Ia bukan hanya pintar, tapi juga penuh kepedulian. Ia rela datang ke pelosok Indonesia untuk mengobati pasien TBC, bahkan tanpa pamrih.
Isan yang saat itu sudah remaja diminta menemani sang dokter berkeliling Surabaya hingga ke Malang dan Tretes.

Dua hari perjalanan itu menjadi titik balik dalam hidupnya.
“Kalau kamu mau, kamu bisa sekolah dokter di Jerman.

Biayanya gratis,” kata Dr. Muhler suatu malam.
Mata Isan berbinar. Ia memang pernah belajar bahasa Jerman di Goethe Institute hingga level M1.

Tawaran itu terasa seperti pintu masa depan yang terbuka lebar.
Namun bukan hanya tawaran itu yang membekas. Yang paling dalam justru adalah jiwa sosial sang dokter.
“Kenapa Anda datang jauh-jauh ke Indonesia?” tanya Isan.

Dr. Muhler tersenyum. “Karena di sini, saya dibutuhkan.”
Kalimat itu sederhana, tapi menghantam hati Isan. Ia mulai membayangkan dirinya menjadi dokter, menolong banyak orang, seperti idolanya itu.
Namun takdir punya jalannya sendiri.

Suatu hari, Isan diminta mengantar pamannya,
Pak Djunaedi, ke bandara Soekarno Hatta

Pamannya adalah seorang pilot sekaligus dosen di sekolah penerbangan Curug.

Di bandara, terjadi hal kecil yang justru mengubah arah hidupnya.
Pak Djunaedi lupa membawa sebuah barang penting dari kampusnya di Curug.

“San, tolong bantu Paman. Antarkan ini ke kampus Curug, ya,” katanya.
Isan mengangguk. Ia tak tahu bahwa perjalanan sederhana itu akan menjadi awal dari segalanya.

Sesampainya di kampus Curug, ia disambut oleh seorang gadis administrasi bernama Teresa.

Senyumnya ramah, suaranya lembut.
“Kamu mahasiswa baru?” tanya Teresa.
Isan tertawa kecil. “Belum, Kak. Masih SMA. Cuma antar titipan.”
“Kalau begitu, mau lihat-lihat kampus?” tawarnya.
Ajakan itu seperti membuka dunia baru. Isan melihat pesawat-pesawat latihan, mendengar suara mesin yang meraung, dan merasakan aura yang berbeda.

Ada sesuatu yang bergetar di dalam dirinya—perasaan yang tak bisa dijelaskan.

Saat makan siang, mereka duduk di kantin, menikmati semangkuk bakso sederhana.

“Dunia penerbangan itu keras, tapi indah,” kata Teresa.
Isan terdiam. Kata-kata itu terus terngiang di kepalanya.

Sejak hari itu, pikirannya berubah. Ia mulai tertarik pada dunia yang sebelumnya tak pernah ia bayangkan.

Dunia yang dulu ia takuti.
Setelah lulus SMA, Isan mengambil keputusan besar: masuk sekolah penerbangan.

Hari-hari di Curug bukanlah hal mudah. Disiplin ketat, jadwal padat, dan tekanan mental menjadi makanan sehari-hari. Banyak teman yang menyerah di tengah jalan.

Pagi dimulai sebelum matahari terbit. Latihan fisik, teori navigasi, meteorologi, hingga simulasi penerbangan. Semuanya menuntut fokus dan ketahanan.
Isan yang dulu penakut, kini harus menghadapi ketinggian secara langsung. Pertama kali duduk di kokpit, tangannya gemetar.

Instruktur di sampingnya berkata, “Kalau kamu takut, kamu kalah sebelum terbang.”

Isan menarik napas panjang. Mesin dinyalakan. Pesawat mulai bergerak.
Saat roda pesawat terangkat dari landasan, jantungnya berdegup kencang.

Namun perlahan, ketakutan itu berubah menjadi kekaguman.
Dari atas sana, dunia terlihat berbeda. Kecil, tenang, dan indah.

“Ini… luar biasa,” bisiknya.
Sejak saat itu, ia jatuh cinta.

Meski begitu, perjalanan tidak selalu mulus. Ia pernah hampir gagal dalam ujian navigasi. Pernah dimarahi instruktur karena salah membaca instrumen.

Bahkan pernah mengalami pendaratan yang buruk hingga membuatnya kehilangan kepercayaan diri.

Namun setiap jatuh, ia bangkit.
“Di udara, tidak ada ruang untuk menyerah,”
kata Pak Djunaedi suatu hari.

Kalimat itu menjadi pegangan hidupnya.
Akhirnya, Isan lulus dengan predikat terbaik. Ia melanjutkan lisensi CPL di Manila tahun 2005.

Pengalaman di luar negeri membuka wawasannya lebih luas lagi.
Setelah itu, ia bergabung dengan maskapai nasional Indonesia. Ia pernah terbang untuk Garuda, juga Merpati. Langit menjadi rumah keduanya.
Sebagai pilot, ia menghadapi berbagai pengalaman.
Cuaca buruk adalah salah satu tantangan terbesar. Ia pernah terbang di tengah badai, dengan turbulensi hebat yang membuat pesawat berguncang.
Penumpang panik. Awak kabin tegang.
Namun di kokpit, Isan harus tetap tenang.
“Fokus pada instrumen. Jangan pada rasa takut,” katanya pada dirinya sendiri.
Ada juga momen-momen mengharukan. Seorang penumpang yang takut terbang pernah menghampirinya setelah mendarat.

“Terima kasih, Pak. Saya selamat karena Anda,” katanya sambil menangis.
Isan hanya tersenyum. Ia tahu, menjadi pilot bukan hanya soal menerbangkan pesawat, tapi juga menjaga kepercayaan.
Kini, di usianya yang matang, Isan hidup bahagia. Ia memiliki istri tercinta, Mirna, seorang dokter spesialis ortopedi di rumah sakit swasta. Mereka dikaruniai dua anak yang kini telah menyelesaikan kuliah.
Kadang, saat duduk santai di rumah, ia mengenang masa lalunya.
Anak kecil yang takut ketinggian. Remaja yang ingin jadi polisi. Pemuda yang hampir jadi dokter. Hingga akhirnya menjadi pilot.
Semua seperti potongan puzzle yang disusun oleh takdir.
Ia juga tak pernah lupa pada orang-orang yang membentuk hidupnya. Dr. Muhler dengan jiwa sosialnya. Teresa yang membuka pintu dunia baru. Pak Djunaedi yang menjadi mentor dan inspirasi.
Dan langit… yang selalu setia menerima dirinya.
“Kalau kita sudah di udara, maka dunia kita adalah di udara,” kata Pak Djunaedi dulu.
Kini Isan benar-benar memahami makna kalimat itu.
Di atas awan, ia menemukan dirinya. Bukan lagi anak yang takut, tapi seseorang yang berani menghadapi dunia.
Hidupnya mungkin tak berjalan sesuai rencana awal. Namun justru di situlah keindahannya.
Karena kadang, jalan terbaik adalah jalan yang tidak pernah kita rencanakan.
Dan bagi Isan, hidup di atas awan bukan sekadar pekerjaan.
Itu adalah panggilan.

www.kris.or.id I www.adharta.com

Hari ke 6 – 17 hari menuju Baksos KRIS Panti Asuhan Santo Yusup Sindanglaya Cipanas 08 08 2026

Hari 6

17 hari menuju Baksos KRIS
Panti Asuhan Santo Yusup
Sindanglaya
Cipanas

08 08 2026

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Jakarta
23 Juli 2026

Semua sahabatku dan keluarga besar aku

Salam sehat dan bahagia semua

Tidak terasa sisa 17 hari lagi kita menuju Bakti Sosial KRIS

Panitia semakin sibuk
Hari ini Subuh
Tim pelaksana
Ibu Magdalena
Ibu Wenny
Ibu Betsy
Ibu Monica
Pagi pagi subuh sudah meluncur ke Sindanglaya Cipanas

Jangan lupa makan enak ya
Selamat bertugas ibu

Ibu ibu ini tidak kenal lelah berjuang untuk membantu Anak Anak Panti Asuhan Santo Yusup
Kita sebut Anak Anak titipan Allah Bapa kita

Pagi subuh ini aku juga terbangun lebih awal.
Udara terasa sejuk,
namun ada sesuatu yang berbeda di dalam hati.

Bukan dingin…
melainkan sebuah panggilan halus yang tak bisa diabaikan.

Aku terdiam sejenak,
mengingat kembali wajah-wajah kecil itu.
Tatapan mata yang sederhana,
namun menyimpan cerita yang begitu dalam.

Sebuah Kesaksian
Tentang Hati yang Belajar Mendengar
Sering kali kita berpikir,
bahwa memberi adalah tentang apa yang kita bawa.

Berapa banyak bantuan.
Seberapa besar nilai yang kita serahkan.

Namun di Panti Asuhan Santo Yusup, saya tidak menyingkat PASY karena nama Santo Yusup terlalu Indah untuk disingkat
Lebih baik saya ucapkan berapa kalipun

aku belajar sesuatu yang berbeda.

Bahwa memberi…
dimulai dari mendengar.
Mendengar tanpa menyela.
Mendengar tanpa menghakimi.
Mendengar tanpa terburu-buru ingin menjawab.

Karena di balik setiap anak di sana,
ada cerita yang tidak selalu mudah diucapkan.

Ada luka yang belum sepenuhnya sembuh.

Ada rindu yang tidak tahu harus ditujukan ke mana.

Dan kadang…
mereka hanya butuh satu orang
yang mau duduk,
diam,
dan benar-benar hadir.

Aku membayangkan,
bagaimana rasanya tumbuh
tanpa suara yang memanggil nama kita dengan penuh kasih.

Tanpa pelukan saat takut.

Tanpa tempat pulang yang pasti.

Namun luar biasanya,
anak-anak itu tetap tersenyum.

Saya ada group
Geng Santo Yusup nanti akan saya ceritakan

Mereka tetap belajar.
Mereka tetap bermain.
Mereka tetap berharap.

Dan justru di situlah,
kita yang datang…
belajar dari mereka.

Belajar tentang kekuatan.
Belajar tentang ketulusan.
Belajar bahwa hidup tidak selalu harus sempurna
untuk tetap bisa dijalani dengan penuh makna.

Teman-teman, sahabat terkasih
KRIS,
Sahabatku semua,
Keluargaku

17 hari lagi kita akan melangkah ke sana.

Mari kita siapkan diri,
bukan hanya dengan rencana,
bukan hanya dengan logistik,
tetapi dengan hati yang siap mendengar.
Hati yang siap mendengar

Jangan hanya datang untuk memberi.
Datanglah untuk mengenal.

Jangan hanya melihat mereka sebagai yang membutuhkan.

Lihatlah mereka sebagai guru kehidupan kita
Yang sangat berharga
Yang tidak dapat Anda temukan dimanapun

Karena mungkin,
di hari itu nanti…

bukan mereka yang berubah karena kita,

tetapi kita yang akan berubah
karena mereka.

Mari kita hadir,
dengan waktu yang utuh,
dengan perhatian yang penuh,
dan dengan cinta yang tidak setengah
setengah.

Sampai jumpa di hari yang telah kita nantikan.

www.kris.or.id I www.adharta.com

Hari ke 5 – 18 hari menuju Baksos KRIS Panti Asuhan Santo Yusup Sindanglaya Cipanas 08 08 2026

Hari 5

18 hari menuju Baksos KRIS
Panti Asuhan Santo Yusup
Sindanglaya
Cipanas
08 08 2026

Oleh : Adharta
Ketua Umum KRIS

Jakarta
22 Juli 2026

Malam yang dingin
Aku duduk melamun sendiri
Alangkah bahagianya aku dengan kondisi aku
Apa yang aku miliki
Keluarga bahagia
Anak cucu semua baik baik
Tetapi tepi sana
Ada tempat
Dihuni anak anak tanpa keluarga
Ataupun ada Keluarga tapi dianya di buang disana
Sedih sekali
Aku menghapus air mataku dan mau bercerita

Sebuah Kesaksian
Tentang Rumah yang Mengajarkan Arti Kehangatan

Panti Asuhan Santo Yusup di Sindanglaya Cipanas
Jawa Barat

Bukan sekadar tempat.
PASY adalah rumah bagi mereka yang pernah kehilangan.

Dan perlahan… menemukan kembali arti dimiliki.

Di sana,
pagi tidak hanya tentang bangun tidur.

Fajar adalah tentang harapan yang kembali disusun,
meski semalam mungkin diwarnai kerinduan yang dalam.

Di sana, malam tidak hanya tentang beristirahat.

Malam adalah tentang doa-doa kecil,
yang dipanjatkan diam-diam oleh hati yang rindu pelukan.

Panti Asuhan
Santo Yusup tidak selalu penuh tawa.

Kadang sunyi.
Kadang haru.
Kadang… air mata jatuh tanpa suara.

Namun justru di situlah,
keindahannya lahir.
Karena di tengah keterbatasan,
mereka belajar berbagi.

Di tengah kehilangan,
mereka belajar menguatkan.
Dan di tengah kesendirian,
mereka belajar mencintai… satu sama lain.
Ada satu hal yang sering kita lupakan:
Anak-anak ini tidak selalu meminta banyak.
Mereka tidak selalu meminta hadiah besar.

Tidak selalu meminta kemewahan.
Yang mereka rindukan…

Seringkali hanya satu:
Perhatian.
Perhatian yang tulus.
Perhatian yang hadir.
Perhatian yang tidak terburu-buru.

Seseorang yang mendengar cerita mereka.
Seseorang yang menyebut nama mereka.
Seseorang yang membuat mereka merasa… berarti.

Santo Yusup mengajarkan kita sesuatu yang dalam:
Bahwa cinta tidak harus megah.

Bahwa kepedulian tidak harus menunggu mampu.

Kadang, hadir saja sudah cukup.
Kadang, duduk bersama sudah berarti.

Kadang, menyapa dengan tulus… bisa menyembuhkan luka yang lama.

Teman-teman,
KRIS
Sahabat ku
Dimana saja anda berada

18 hari lagi kita akan datang.
Bukan hanya membawa bantuan.

Tapi membawa hati yang penuh Cinta

Mari kita siapkan hati dan diri,
bukan hanya tangan untuk memberi,
tetapi hati untuk memahami.

Karena mungkin,
yang paling mereka butuhkan bukan apa yang kita bawa…

Tetapi bagaimana kita hadir.
Untuk mereka
yang tumbuh tanpa ayah
tanpa ibu
tanpa keluarga
Namun tetap belajar…

menjadi kuat.
Mari kita datang,
dan menjadi bagian kecil dari harapan mereka.

www.kris.or.id I www.adharta.com

Michael Utama

Michael Utama

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Sabtu
8 Juni 2024

Engkau
Memberikan Apa yang Tuhan
Inginkan
Tetapi
Aku
Memberikan
Apa yang Tuhan
Butuhkan
(Michael)

Berbahagialah semua manusia di dunia
Karena semua makhluk di muka bumi ingin menjadi manusia
(Michael)

Salah satu hobby saya adalah menonton film bersama teman teman
Ada Lendy, Jose, Rudyanto, Freddy dan Pastor. Johanis Mangkey MSC
Bukan saja nonton tapi selalu berdiskusi tentang inti cerita film tersebut

Sebuah film yang dibuat 2010 di bintangi oleh Betany
Judul Legion
Menarik untuk di tonton
Berkisah tentang Michael bagaimana dia jatuh cinta kepada Manusia karena cinta manusia begitu besar
Dia rela memotong sayapnya dan berharap menjadi manusia
Sampai dia mendapat kedudukan dan jabatan Il Angelo
Malaikat yang paling bahagia

Storyline of LEGION

An out-of-the-way diner becomes the unlikely battleground for the survival of the human race.
When God loses faith in humankind, he sends his legion of angels to bring on the Apocalypse. Humanity’s only hope lies in a group of strangers trapped in a desert diner with the Archangel Michael

Hari ini Michael Utama

Tokoh yang sangat saya kagumi
Ber ulang tahun ke 80
Persahabatan yang terjalin begitu lama dan memberikan banyak hasil bantuan kemanusiaan
Banyak kisah lalu Michael Utama
Sebuah perjalanan tulisan tangan Cinta Tuhan
Anak Manusia yang berpotensi merobah dunia

Beliau muncul dimana mana
Dan setiap perjumpaan denan beliau saya menyaksikan begitu besar cahaya kasih Tuhan terpancar

Saya bertemu beliau terakhir dalam rangka Hari Ulang Tahun INTI
Perkumpulan Indonesia Tiongkok
Dalam keadaan yang prima
Sehat dan walafiat di usia senja sungguh luar biasa

Saya teringat sebuah pepatah kuno

Bukan manusia yang membentuk Alam
Tetapi Alam yang membentuk Manusia
Dan Manusia itu sendiri terbentang Alam yang luas

Michael Utama
Menjadikan banyak sekali inspirasi hidupnya
Mengabdikan dirinya untuk Alam semesta

Tokoh Katolik
Yang sangat di segani begitu banyak karya beliau yang bisa di catat dalam goresan tinta emas

Selamat ulang tahun ke 80
Cinta Kasih Allah Bapa
dan persekutuan Roh Kudus
Dalam anugerah Kristus
Bersamamu

Salam dan Doaku

Adharta

www.kris.or.id I www.adharta.com

Hari ke 4 – 19 hari menuju Baksos KRIS Panti Asuhan Santo Yusup Sindanglaya Cipanas 08 08 2026

Hari 4

19 hari menuju Baksos KRIS
Panti Asuhan Santo Yusup
Sindanglaya
Cipanas
08 08 2026

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Jakarta
21 Juli 2026

Sebuah Kesaksian
Itulah dia
Penuh Hari
Hadiah dari Perhatian Sederhana

Kisahku
Di sebuah pagi yang tenang di Panti Asuhan Santo Yusup, anak-anak memulai hari seperti biasa. Suara tawa kecil dan langkah kaki memenuhi halaman. Namun, di antara mereka, ada seorang anak yang tampak berbeda.

Monica
Ia berjalan pelan, menunduk, seakan membawa sesuatu yang berat di hatinya.

Namanya Monica Andi. Hari itu adalah hari ulang tahunnya.

Tidak ada yang tahu.
Tidak ada kue, tidak ada lilin, dan tidak ada ucapan.
Monica mencoba tersenyum, tetapi matanya tidak bisa menyembunyikan kesedihan.
Hanya ada air mata

Di sudut lain, seorang anak memperhatikannya.

Tanpa banyak bicara, ia mendekat. Ia mengajak Monica Andi duduk bersama, lalu menggambar sesuatu di secarik kertas. Gambar itu sederhana:

sebuah kue dengan lilin dan tulisan kecil,
“Selamat Ulang Tahun.”

Monica Andi terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca.
“Ini buat kamu,” kata anak itu pelan.
Tidak ada perayaan besar.
Tidak ada sorotan.
Namun di momen kecil itu, hati yang sepi menjadi hangat.
Kadang, kita berpikir bahwa kebahagiaan harus datang dari sesuatu yang besar. Padahal, perhatian sederhana
selembar kertas, sebuah senyuman, atau kehadiran yang tulus
bisa menjadi hadiah yang tak ternilai.
Hari itu
Santo Yusup
mengajarkan satu hal:

Bahwa kita tidak perlu menunggu mampu melakukan hal besar untuk membawa sukacita.

Cukup dengan peduli, cukup dengan hadir, kita sudah lebih dari Cukup

Diatas Cinta dan Air Mata di butuh kan sesuatu yang melebihi segalanya
Perhatian

Teman teman
Alangkah indahnya kebersamaan kita
Saya mengajak kita semua satu persatu
Mengalihkan sedikit perhatian kepada anak anak kita
Tanpa Ayah
Tanpa Ibu
Tanpa Keluarga

Mereka membutuhkan perhatian kita

www.kris.or.id I www.adharta.com

Hari ke 3- 20 Hari menuju Baksos KRIS Panti Asuhan Santo Yusup Sindanglaya Cipanas 08 08 2026

Hari 3
20 hari menuju Baksos KRIS
Panti Asuhan Santo Yusup
Sindanglaya
Cipanas
08 08 2026

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Jakarta
20 Juli 2026

Sebuah Kesaksian penuh hari

Kebaikan Kecil dengan hati yang Besar

Suatu hari di panti Asuhan,

Seorang anak merasa sangat sedih karena tidak punya keluarga yang datang menjenguk.

Teddy duduk sendiri di sudut ruangan.
Tidak ada yang memperhatikan dirinya, semua sibuk bermain.
Namun satu anak lain mendekat.
Ia tidak berkata banyak.
Ia hanya duduk di sampingnya, lalu membagikan roti yang ia miliki.

Mereka makan bersama dalam diam.

Hari itu tidak ada peristiwa besar.
Tidak ada yang memuji.
Tapi bagi anak Teddy yang sedih itu, kehadiran temannya menjadi penghiburan yang sangat berarti.

Perannya
Seperti Santo Yusup, kebaikan tidak selalu harus besar.
Kadang, duduk bersama, mendengarkan, atau berbagi sedikit saja sudah menjadi berkat yang besar.

Hari ini, mari kita lakukan satu kebaikan sederhana untuk teman kita di Panti Asuhan Santo Yusup Sindanglaya Cipanas.

Doaku

Santo Yusup, ajarkan kami menjadi pelindung bagi sesama, walau dalam hal kecil.
Amin.

Adharta.com

Www.kris.or.id

21 hari lagi menujuBaksos KRISPanti Asuhan Santo Yusup Sindanglaya Cipanas08 08 2026

Hari 2

21 hari lagi menuju
Baksos KRIS
Panti Asuhan Santo Yusup Sindanglaya Cipanas
08 08 2026

Jakarta
19 Juli 2026

Sebuah kenangan akan terukir
Dalam PUISI indah
Demikian Tuhan menciptakanNya selain Lukisan di langit dalam ke abadian

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Pelindung dalam Sunyi

Di malam yang sunyi,

Kududuk seorang diri

Air mata ku menetes mengenang
Masa lalu ku

Aku tak pernah melihat Ayah

Aku melihat ibu tapi sirna di kalbuku

Ibu pergi saat aku lahir
Ayah pergi sebelum aku lahir

Santo Yusup
engkau berjaga,
Tak bersuara,
Dalam kesunyian
namun penuh makna.

Langkahmu tenang, hatimu teguh,
Menjaga keluarga
Menjagaku
dengan kasih utuh.

Tak ada mahkota, tak ada pujian,
Namun hidupmu jadi teladan.
Santo Yusup
Pujaanku

Engkau hadir pengganti orang tuaku

Kini aku bisa berdiri
Tapi aku perlu orang menggandeng tanganku

Dan aku akan menggandeng tanganMu

Santo Yusup

Dalam diam engkau percaya,
Bahwa Tuhan selalu menyertai kita.

Santo Yusup, bimbing langkah kami, agar
Menjadi kuat walau sendiri.

Menjadi terang walau kecil,

Menjadi setia dalam hati yang hening.

Adharta.com

Www.kris.or.id

21 Hari Bersama Santo Yusup

21 Hari Bersama Santo Yusup

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Jakarta
18 Juli 2026

21 Hari menuju Baksos KRIS
Panti Asuhan Santo Yusup Sindanglaya Cipanas
8 Agustus 2026

Hari 1

Dalam Keheningan yang Kuat
Santo Yusup tidak banyak bicara.

Kitab Suci pun tidak mencatat satu kata pun yang ia ucapkan.

Namun justru dalam diamnya, kita melihat kekuatan yang luar biasa.

Santo Yusup tidak mencari pujian, tidak menuntut pengakuan, tetapi setia menjalankan tanggung jawabnya sebagai pelindung keluarga.

Di panti Asuhan Santo Yusup Sindanglaya Cipanas ini, kita juga belajar dari keteladanan itu.

Tidak semua kebaikan harus terlihat.

Dan Tidak semua pengorbanan harus diketahui dan di akui oleh orang lain.

Kadang, yang paling berharga justru dilakukan dalam diam diam
membantu teman, berbagi makanan, atau menghibur yang sedih.

Hari ini, mari kita belajar menjadi seperti Santo Yusup
melakukan yang baik tanpa harus dilihat, mencintai tanpa harus dipuji.

Doaku

Santo Yusup, ajarkan kami setia dalam hal kecil dan kuat dalam keheningan. Amin.

Setiap hati
Untuk 21 hari kedepan kita akan mendengar meresapi dan mengenal pribadi Santo Yusup

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Antara Takdir dan waktu – Cerpen nomor 0092

Cerpen nomor 0092

Antara Takdir dan waktu

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Medio Juli 2026
Dalam demam sepak bola

Argentina lawan Spanyol

Kisahku
Takdir menulis kisahnya diam-diam, jauh sebelum manusia sempat memberi nama pada kebetulan.

Desember 2007 datang dengan langit Barcelona yang pucat dan dingin.

Di sebuah ruangan sederhana yang dipenuhi lampu studio, seorang pemuda kurus berambut panjang berdiri kikuk di samping bak plastik berwarna biru.

Lionel Messi, 20 tahun, belum sepenuhnya nyaman dengan sorotan kamera di luar lapangan.

Ia lebih mengenal rumput hijau, bukan kilatan lampu yang memburu setiap geraknya.

Di hadapannya, seorang bayi laki-laki berusia enam bulan digendong oleh seorang ibu muda.

Bayi itu tertawa kecil, tak terganggu oleh hiruk pikuk di sekelilingnya. Fotografer memberi arahan,

“Coba Messi yang mandikan bayinya.”

Messi ragu sejenak. Tangannya, yang terbiasa mengendalikan bola dengan presisi, kini harus menyentuh sesuatu yang jauh lebih rapuh.

Namun ia menurut. Dengan hati-hati, ia menurunkan bayi itu ke dalam bak, menyentuhkan air hangat ke kulit kecilnya.
Bayi itu tertawa.

Messi ikut tersenyum.
Kamera berbunyi.

Sekali. Dua kali. Puluhan kali.
Tak ada yang tahu bahwa momen itu bukan sekadar foto.

Itu adalah awal dari sebuah lingkaran waktu yang kelak akan menutup dirinya dengan sempurna.

Enam belas tahun berlalu seperti hembusan angin yang tak terasa.
Dunia berubah. Nama Messi menjelma legenda. Ia mengangkat trofi, memecahkan rekor, menuliskan sejarah yang seakan tak mungkin ditiru manusia lain.

Di sisi lain dunia, bayi kecil itu tumbuh menjadi anak laki-laki yang jatuh cinta pada sepak bola.

Namanya Lamine Yamal.
Ia tak ingat apa-apa tentang hari di bak plastik itu. Tapi ibunya menyimpan foto tersebut. Kadang, saat malam terasa panjang, ia menunjukkan foto itu kepada Yamal kecil.

“Itu kamu,” katanya lembut.

“Dan itu Messi.”

Yamal kecil akan menatap foto itu dengan mata berbinar.

“Aku juga mau jadi seperti dia.”

Ibunya tersenyum, tanpa tahu bahwa mimpi itu bukan sekadar angan seorang anak.

Tahun 2024, foto itu muncul kembali di dunia maya. Orang-orang terkejut. Terkesima. Seolah menemukan pesan tersembunyi dari masa lalu.

“Awal dari dua legenda,” tulis seseorang pecinta bola

Dunia menyukainya. Tapi bagi Yamal, itu lebih dari sekadar cerita viral. Itu seperti panggilan.

Sejak hari itu, ia berlatih lebih keras.

Lebih lama. Lebih lapar.

Ia ingin membuktikan bahwa foto itu bukan kebetulan.

Piala Dunia 2026.

Cerita saat ini

Stadion dipenuhi sorak-sorai yang menggetarkan langit malam. Dua bendera berkibar berlawanan arah:

Argentina dan Spanyol.

Dua generasi. Dua cerita.
Dua takdir yang akhirnya bertemu di satu titik.

Spanyol melaju ke final dengan permainan yang nyaris sempurna.

Yamal menjadi jantung serangan, berlari di sisi lapangan seperti angin yang tak bisa ditangkap.

Usianya baru 19 tahun, tapi matanya memancarkan ketenangan yang aneh
seperti seseorang yang sudah pernah berada di momen ini, bahkan sebelum ia lahir.

Di ruang ganti Argentina, Messi duduk diam.
Usianya tak lagi muda, tapi auranya tetap sama.

Ia memandang sepatunya sejenak, lalu menghela napas panjang.
Seorang rekan setimnya bertanya,

“Siap?”
Messi tersenyum kecil.

“Selalu.”

Namun di dalam hatinya, ada sesuatu yang berbeda.

Sebuah rasa yang tak bisa ia jelaskan. Seperti sedang berjalan menuju akhir dari sebuah cerita yang sudah lama ditulis.

Pertandingan dimulai.
Menit demi menit berlalu dengan intensitas tinggi.

Yamal bergerak lincah, melewati satu pemain, dua pemain. Messi mengatur tempo, mengirim umpan-umpan yang hanya bisa dilihat oleh matanya.

Dua dunia bertabrakan di atas rumput.
Pada menit ke-67,

Yamal mendapatkan bola di sisi kanan. Ia menggiring masuk, melewati bek Argentina dengan gerakan cepat, lalu melepaskan tendangan melengkung. Bola meluncur indah ke pojok gawang.
Dan
Gol.

Stadion bergemuruh.
Yamal berlari, tangannya terangkat, wajahnya penuh emosi. Tapi di balik sorak-sorai itu, matanya sekilas mencari seseorang.
Messi.

Dan Messi melihatnya.
Untuk sesaat, waktu seperti berhenti.

Messi tersenyum tipis
senyum yang sama seperti saat ia memandikan bayi kecil di bak plastik bertahun-tahun lalu.
Seolah ia berkata tanpa suara:
Aku tahu kamu akan sampai di sini.

Argentina tak tinggal diam.
Menjelang akhir pertandingan, Messi menerima bola di tengah lapangan. Ia mengangkat kepala, melihat celah kecil yang tak terlihat orang lain.
Dengan satu sentuhan magis, ia mengirim umpan silang ke kotak penalti.

Lautaro Martinez melompat.
Gol.

Skor imbang.
Pertandingan berlanjut hingga perpanjangan waktu. Ketegangan terasa seperti listrik di udara.

Di menit terakhir, Yamal kembali mendapat peluang. Ia berhadapan satu lawan satu dengan Messi yang turun membantu pertahanan.
Dua generasi berdiri berhadapan.
Yamal menatapnya. Messi menatap balik.

Tak ada kata. Hanya pemahaman.
Yamal menggiring bola, mencoba melewati. Messi bergerak cepat, tapi bukan dengan keras
melainkan dengan ketepatan.

Ia merebut bola dengan bersih.
Bukan sekadar menghentikan lawan.
Seperti seorang guru yang memberi pelajaran terakhir.
Peluit panjang berbunyi.
Pertandingan berakhir.

Hasilnya mungkin akan dicatat sejarah dengan angka, dengan statistik, dengan nama pemenang. Tapi bagi mereka berdua, malam itu lebih dari sekadar kemenangan atau kekalahan.

Di tengah lapangan, Messi berjalan mendekati Yamal.
Mereka berjabat tangan.

“Bagus,” kata Messi pelan.
Yamal tersenyum. “Terima kasih.”

Tak ada lagi yang perlu dikatakan.
Karena jauh sebelum mereka berdiri di sana, takdir sudah menulis semuanya
dalam diam,
dalam waktu, dalam sebuah foto yang pernah terlupakan.
Dari sebuah bak plastik kecil…
menuju panggung terbesar di dunia.
Dan di antara dua titik itu, lahirlah sebuah kisah yang tak akan pernah benar-benar berakhir.

www.kris.or.id I www.adharta.com

Diterjemahkan dari Kisah Messi