KACAMATA

KACAMATA

Cerpen No. 0066

Oleh: Adharta
Ketua Umum KRIS

Surbeje
1 April 2026

Pagi itu di Surabaya masih terasa hangat. Matahari belum terlalu tinggi, tetapi aktivitas sudah mulai ramai.

Saya duduk di lobi Hotel Bonet Manyar, ditemani secangkir teh hangat tanpa gul
atas saran dokter tentunya karena HBA1C syaa 7
Cukup tinggi Diabetesnya

Semalaman saya masih memikirkan nasib gigi palsu yang hilang entah ke mana. Namun hidup harus berjalan.

Hari itu jadwal cukup padat. Ada pertemuan dengan rekan-rekan KRIS Surabaya, dilanjutkan makan siang sederhana
walaupun bagi saya, makan tetap menjadi tantangan tanpa gigi.
Saya bangkit dari kursi, merapikan baju, lalu bersiap berangkat.

“Pak, kacamatanya sudah dipakai?” tanya istri saya.
Saya langsung refleks menjawab,
“Sudah dong.”
Kami pun masuk ke mobil bersama Pak Matheus.

Jalanan Surabaya pagi itu cukup lancar. Saya mulai membuka ponsel, membaca beberapa pesan penting, mencoba fokus pada agenda hari itu.
Namun tiba-tiba saya merasa ada yang kurang.
Saya mencoba membaca pesan di WhatsApp. Hurufnya terlihat agak kabur.

Saya mengerutkan dahi.
“Lho… kok agak buram ya?”

Saya mulai mencari kacamata.
Tangan kanan meraba kantong baju. Tidak ada.
Kantong celana. Tidak ada.
Tas kecil.
Tidak ada juga.
Perasaan mulai tidak enak.

“Wah… kacamatanya ketinggalan di hotel ya?”
saya berkata pelan.

Istri saya menoleh,
“Bukannya tadi sudah dipakai?”
Saya mulai panik kecil.
“Enggak ada ini… hilang lagi… aduh… ini kenapa sih,

satu-satu mulai hilang semua…”
Pak Matheus melihat dari kaca spion, tapi tidak berani ikut bicara.

Saya mulai berpikir keras.
Gigi palsu hilang kemarin.
Sekarang kacamata juga hilang?

Ini bukan kebetulan. Ini tanda-tanda…
Tanda-tanda usia.
Saya menghela napas panjang.
Mobil terus berjalan.
Saya mencoba membaca lagi ponsel, memicingkan mata. Tetap tidak jelas.

Tiba-tiba istri saya tertawa kecil.
“Pak…”
Saya menoleh.
“Kenapa?”
Ia menahan tawa.

“Itu… di kepala Bapak…”

Saya langsung terdiam.
Perlahan tangan saya naik ke atas kepala.
Dan… benar saja.
Kacamata itu bertengger manis di sana.

Saya langsung tertawa keras.
“Ya Tuhan… ini sudah parah…”
Mobil pun ikut dipenuhi tawa.

Pak Matheus sampai ikut tersenyum lebar.
Kejadian itu sederhana. Sangat sederhana.
Tapi entah kenapa, terasa begitu dalam.

Dulu, saya adalah orang yang sangat detail.
Tidak pernah lupa hal kecil. Semua teratur. Semua rapi.
Sekarang?

Gigi palsu bisa terbuang.
Kacamata lupa padahal ada di kepala.
Saya mulai berdamai dengan kenyataan.
Bahwa usia bukan hanya menambah angka,
tetapi juga mengurangi sedikit demi sedikit ketajaman.

Namun di balik itu, ada sesuatu yang bertambah.
Kesabaran.
Kelapangan hati.
Dan kemampuan untuk tertawa atas diri sendiri.
Kami tiba di tempat pertemuan.
Dr. Inna Widjaja sudah menunggu bersama tim KRIS Surabaya.

“Selamat pagi, Pak!” sapa mereka.
Saya tersenyum.
“Pagi… ini saya datang lengkap… walaupun gigi masih belum ada, tapi kacamata sudah ketemu,” kata saya sambil tertawa.

Semua ikut tertawa.
Pertemuan berjalan hangat. Diskusi ringan, penuh semangat. Saya menyadari, kebersamaan seperti ini jauh lebih penting daripada kesempurnaan fisik.
Siang harinya, kami makan bersama.
Menu sederhana: nasi pecel Pandegiling.
Saya kembali menghadapi tantangan klasik
makan tanpa gigi.
Namun kali ini saya tidak terlalu memikirkan.
Saya menikmati suasana.
Saya menikmati tawa.
Saya menikmati cerita.
Dan entah kenapa, makanan terasa lebih enak.
Saya kembali teringat prinsip makan enak:
Lapar
Hati senang
Ada teman
Suasana mendukung
Gratis
Gigi tidak sakit
Dan hari itu, saya menambahkan lagi:

Ketujuh
Tidak lupa di mana kacamata berada
Hidup ini ternyata bukan tentang tidak pernah salah.
Tapi tentang bagaimana kita menyikapi kesalahan kecil.
Tentang bagaimana kita tetap bisa tersenyum,
meskipun lupa… meskipun kehilangan… meskipun tidak sempurna.
Sore hari, sebelum kembali ke hotel, saya duduk sejenak di dalam mobil.
Saya memegang kacamata saya.
Benda kecil ini, seperti gigi palsu kemarin,
ternyata punya peran besar dalam hidup.
Tanpa kacamata, dunia menjadi kabur.
Tanpa gigi, rasa menjadi hambar.
Dan tanpa humor… hidup menjadi berat.
Saya tersenyum.
“Terima kasih, Tuhan…
untuk usia,
untuk pelajaran,
dan untuk hal-hal kecil yang mengingatkan saya…
bahwa saya masih hidup.”
Selamat menjalani hari dengan penuh senyum.
Karena kadang,
yang kita cari…
sebenarnya sudah ada di kepala kita sendiri. 😄

Ini karangan ChatGPT

GIGI PALSU

GIGI PALSU

Antara sahabat
Pendamping dan penolong

Cerpen No. 0065

Oleh: Adharta
Ketua Umum KRIS

Jakarta, 31 Maret 2026

Pesawat Batik Air ID 6584 lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta, pagi itu, 27 Maret 2026 pukul 08.00.

Langit cerah, seakan memberi restu perjalanan menuju Surabaya.
Dalam rangka menghadiru upacara Ceng Beng di Kuburan Papa Mama saya
Mertua dan seluruh keluarga yang telah mendahului menuju Surga

Seperti biasa, saya duduk tenang di kursi favorit, menikmati suara mesin pesawat yang bagi sebagian orang menegangkan, tetapi bagi saya justru menenangkan.
Batik Air, setelah Garuda Indonesia, menjadi maskapai yang saya sukai.

Pelayanannya hangat, makanannya cocok di lidah, dan pramugarinya selalu ramah. Namun pagi itu, ada yang berbeda.

Hidangan yang biasanya saya tunggu-tunggu, kini hanya bisa saya pandangi.
Semalam, saat melepas gigi palsu, kawatnya menusuk gusi saya.

Luka itu cukup dalam. Rasa nyerinya bukan sekadar sakit biasa, tetapi seperti denyut yang terus mengingatkan bahwa usia tidak lagi muda.
Saya mencoba memasangnya kembali, namun tidak sanggup. Terlalu sakit.

Ketika pramugari datang menawarkan makanan, saya hanya tersenyum.
“Maaf, saya tidak bisa makan. Gigi saya sakit.”

Ia tersenyum penuh pengertian.
“Pakai gigi palsu ya, Pak?

Banyak penumpang juga mengalami hal yang sama.”
Saya sedikit terkejut. Rupanya pengalaman membuatnya peka.
“Kalau mau, saya ada Spray Aloclair plus, Pak.”

Perhatian kecil itu terasa besar. Di usia seperti saya, hal-hal sederhana justru menyentuh hati.

Lima tahun lalu, saat pandemi melanda, saya mengalami penderitaan luar biasa karena sakit gigi.
Masih teringat jelas ketika pulang dari Melbourne, Australia.

Saya dan istri harus menjalani isolasi di Hotel Mulia selama 10 hari.
Biayanya tidak sedikit, hampir dua puluh juta per orang. Namun uang sebesar itu tidak ada artinya ketika rasa sakit datang tanpa kompromi.

Di Melbourne, saya sempat mencabut gigi. Sayangnya, pencabutan itu tidak bersih masih ada sisa tulang yang menusuk
Rasa sakit justru semakin menjadi. Setibanya di Jakarta, berkat koordinasi tim saya,
saya langsung dibawa ke dokter gigi,
Drg. Ramon Diaz di Kebon Jeruk. Beliau sudah menunggu, seperti seorang penyelamat.

Setelah beberapa kali perawatan, akhirnya rasa sakit itu hilang. Namun perjalanan belum selesai. Banyak gigi saya yang sudah rusak. Atas saran dokter, saya harus memasang implan
enam belas gigi. Sebuah keputusan besar.
Mahal, tentu saja. Tapi lebih mahal lagi jika harus hidup dalam rasa sakit.

Kini, hanya lima gigi bawah yang tersisa. Selebihnya, saya bergantung pada gigi palsu
protesa yang menjadi sahabat baru dalam hidup saya.

Pesawat mendarat mulus di Bandara Juanda pukul 09.30.
Seperti biasa, Pak Math
sopir setia saya, sudah menunggu. Perjalanan dilanjutkan dengan penuh semangat, meskipun gusi masih terasa nyeri.

Yenny, keponakan saya, langsung menawarkan makan siang.
“Ika Ia panggilan akrab saya, kita makan Soto Banjar di Jalan Ahmad Jais, ya.”
Saya tersenyum. Itu tempat favorit saya.
Dekat Di sana juga ada rujak cingur legendaris dan coto Makassar yang menggoda.

Saya dan istri Lena memang senang berburu kuliner, terutama di Surabaya. Setiap sudut kota ini menyimpan rasa.
Namun kali ini, nasib berkata lain.
Sampai di restoran, berbagai hidangan tersaji. Aroma rempah memenuhi udara.
Soto Banjar, nasi uduk, nasi liwet, dan ikan patin bakar yang menggoda.

Saya duduk diam sejenak.
Lalu saya teringat prinsip sederhana yang sering saya bagikan:

Lima syarat makan enak:

Sedang Lapar
Hati dalam keadaan senang
Ada teman mebemani
Suasana mendukung
Kelima paling penting
Gratis
Karena Yenny dan Edward serta Gabby yang bayar

Namun hari itu, saya menambahkan satu lagi:

Keenam Gigi tidak sakit

Semua tertawa ketika saya mengatakannya.
Pak Santo, sahabat saya, menimpali,
“Tambah satu lagi, Pak: bisa dibungkus!”
Hahaha
Karena tidak tahan, saya membuka gigi palsu lalu bungkus tissue dan masuk di kantong baju mengeluarkan sebentra gigi palsu saya, lalu menatapnya sejenak.
Seperti menatap seorang sahabat lama yang sedang bermasalah.
Namun karena luka masih terasa, saya memutuskan untuk tidak memakainya. Saya bungkus kembali pakai tissue dan masukkan kembali ke kantong.

Saya mencoba makan tanpa gigi palsu. Tidak mudah.
Setiap suapan harus hati-hati. Ikan patin bakar menjadi penyelamat
lembut, mudah ditelan.
Ternyata, makan tanpa gigi itu seperti menikmati hidup dengan separuh rasa. Masih bisa, tapi tidak utuh.
Setelah makan, kami menuju Hotel Bonnet Manyar untuk check-in.

Dan di sinilah tragedi kecil itu terjadi.
Saya merogoh kantong.
Ternyata
Kosong.
Saya mulai panik.

Saya coba ingat-ingat.
Tadi saya bungkus dengan tissue. Lalu saya masukkan ke kantong. Apakah… saya membuangnya?

Perasaan saya langsung jatuh. Air mata hampir menetes.
Gigi palsu itu bukan sekadar benda.
Ia adalah bagian dari hidup saya. Tanpanya, saya bukan hanya kehilangan alat makan, tetapi juga kehilangan kenyamanan, kepercayaan diri, bahkan sedikit harga diri.

Saya mencari ke mana-mana. Bertanya ke restoran. Tidak ada.
Malam itu, saya benar-benar merasa kehilangan.

Di usia lanjut, kita mulai menyadari bahwa hal-hal kecil justru memiliki arti besar.

Gigi palsu, misalnya.
Bagi anak muda, mungkin itu hanya benda medis.
Namun bagi kami, itu adalah sahabat.
Sahabat dalam penderitaan
ketika gigi asli satu per satu pergi.
Sahabat dalam sukacita
ketika kita masih bisa menikmati makanan favorit.
Tanpa gigi palsu, makan bukan lagi kenikmatan. Ia menjadi perjuangan.
Setiap gigitan terasa seperti ujian.
Setiap suapan mengingatkan keterbatasan.
Benar adanya, tanpa gigi palsu, makanan terenak pun bisa terasa seperti duri.

Malam itu, saya makan di rumah keponakan saya, Sherly dan Brahim.
Mereka menyajikan gulai khas buatan Mbok Tie.
Aromanya luar biasa.
Saya mencoba makan dengan perlahan.
Untung ada boras seperti lontong atau ketupat ala Makasar
alat bantu sederhana
yang sedikit menolong.
Namun tetap saja, rasanya berbeda.
Dalam hati saya berkata,
“Ya Tuhan, ternyata gigi palsu ini begitu berarti.”

Bayangan satu minggu kedepan tanpa gigi terasa berat. Lebih berat dari puasa.
Lebih berat dari pantang.

Namun di tengah semua itu, saya belajar sesuatu.
Bahwa hidup ini adalah tentang menerima.
Tentang bersyukur.
Tentang menemukan makna bahkan dalam kehilangan kecil.
Mungkin ini bagian dari perjalanan iman saya di pekan suci ini.

Belajar merasakan keterbatasan.
Belajar menahan diri.
Belajar menghargai hal-hal kecil.
Dan terutama, belajar bahwa setiap bagian dari hidup
sekecil apa punmemiliki arti.
Termasuk gigi palsu.

Selamat memasuki Pekan Suci.
Semoga kita semua diberi kekuatan, kesabaran, dan hati yang penuh syukur.
Karena terkadang, justru dari kehilangan kecil, kita menemukan makna yang besar.

Www.kris.ir.id

Www.adharta.com

PHUBBING:

PHUBBING:

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Akhir Maret 2026

Ketika Teknologi Menggerus Kehangatan Manusia

Sahabatku

Di era digital yang serba cepat ini, kehadiran teknologi
khususnya smartphone
telah membawa perubahan besar dalam cara manusia berinteraksi.

Di satu sisi, teknologi memudahkan komunikasi tanpa batas ruang dan waktu.
Namun di sisi lain, ia juga melahirkan fenomena baru yang diam-diam menggerus kualitas hubungan antar manusia.

Fenomena itu dikenal dengan istilah phubbing.

Phubbing merupakan gabungan dari dua kata bahasa Inggris:
phone (telepon) dan snubbing (mengabaikan). Istilah ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 2012 oleh Alex Haigh di Australia, dalam sebuah kampanye yang melibatkan para ahli bahasa, sosiolog, dan budayawan.

Phubbing merujuk pada perilaku seseorang yang sibuk dengan ponselnya sehingga mengabaikan orang yang berada di hadapannya.
Hari ini, phubbing bukan lagi sekadar istilah baru, melainkan sudah menjadi fenomena sosial global.

Bahkan, kata ini telah masuk ke dalam berbagai kamus bahasa Inggris sebagai bentuk pengakuan bahwa perilaku tersebut semakin meluas dan nyata terjadi di kehidupan sehari-hari.

Tanpa kita sadari, banyak dari kita telah menjadi pelaku phubbing.

Saat berbicara dengan rekan kerja, kita sesekali melirik layar ponsel. Ketika makan bersama pasangan, perhatian kita terpecah oleh notifikasi media sosial.

Bahkan saat mendampingi anak belajar, tangan kita masih menggenggam gadget, seolah tidak pernah benar-benar hadir sepenuhnya.
Sekilas, hal ini terlihat sepele. Namun dampaknya jauh lebih dalam daripada yang kita bayangkan.
Phubbing secara perlahan merusak kualitas komunikasi. Interaksi yang seharusnya hangat dan penuh perhatian menjadi dangkal dan terputus-putus. Lawan bicara merasa tidak dihargai, diabaikan, bahkan dianggap tidak penting.

Dalam jangka panjang, hal ini dapat menimbulkan jarak emosional, menurunkan rasa kepercayaan, dan merenggangkan hubungan—baik dalam keluarga, pertemanan, maupun lingkungan kerja.
Lebih dari itu, phubbing juga mencerminkan kualitas diri seseorang. Seseorang yang terus-menerus memprioritaskan ponsel dibanding manusia di hadapannya dapat dipandang sebagai pribadi yang kurang memiliki empati, etika, dan sopan santun. Padahal, salah satu bentuk penghargaan paling sederhana dalam interaksi sosial adalah memberi perhatian penuh.
Kita perlu menyadari bahwa kehadiran fisik saja tidak cukup.

Kehadiran emosional jauh lebih penting. Saat kita bersama orang lain, mereka tidak hanya membutuhkan tubuh kita, tetapi juga perhatian, empati, dan keterlibatan kita secara utuh.
Oleh karena itu, gerakan “Stop Phubbing” menjadi semakin relevan untuk digaungkan. Bukan berarti kita harus menjauhi teknologi atau berhenti menggunakan smartphone. Yang diperlukan adalah kesadaran dan pengendalian diri dalam penggunaannya.
Ada beberapa langkah sederhana yang bisa kita lakukan untuk mengurangi phubbing:
Pertama, biasakan untuk menyimpan ponsel saat sedang berbicara dengan orang lain.

Letakkan di tas atau balikkan posisi layar agar tidak mudah tergoda melihat notifikasi.
Kedua, terapkan aturan bebas gadget dalam momen tertentu, seperti saat makan bersama keluarga, rapat penting, atau pertemuan dengan relasi.

Momen-momen ini seharusnya menjadi ruang untuk membangun koneksi, bukan distraksi.
Ketiga, latih diri untuk hadir sepenuhnya (mindful presence).

Dengarkan dengan sungguh-sungguh, tatap lawan bicara, dan respon dengan perhatian. Hal sederhana ini memiliki dampak besar dalam mempererat hubungan.
Keempat, sadari bahwa tidak semua notifikasi harus segera direspon.

Dunia tidak akan runtuh hanya karena kita menunda membalas pesan selama beberapa menit demi menghargai orang di hadapan kita.
Pada akhirnya, kita perlu bertanya pada diri sendiri: apakah teknologi yang kita miliki justru menjauhkan kita dari orang-orang yang kita cintai?
Jangan sampai ponsel yang kita beli dengan kerja keras justru menjadi penghalang dalam hubungan kita dengan keluarga, sahabat, dan rekan kerja.

Jangan sampai kita dikenal sebagai pribadi yang lebih dekat dengan layar daripada dengan manusia.
Mari kita kembalikan nilai dasar dalam berinteraksi: saling menghargai, mendengarkan, dan hadir sepenuhnya.
Karena pada akhirnya, yang paling berharga dalam hidup ini bukanlah seberapa canggih perangkat yang kita miliki, melainkan seberapa dalam hubungan yang kita bangun dengan sesama manusia.

Ulasan dan Nilai Penting
Tulisan ini mengangkat isu yang sangat relevan di zaman modern. Phubbing bukan sekadar kebiasaan kecil, tetapi telah menjadi masalah sosial yang mempengaruhi kualitas hubungan manusia.
Nilai utama yang bisa diambil:
Kesadaran diri (self-awareness)
Banyak orang tidak sadar bahwa mereka melakukan phubbing. Langkah pertama perubahan adalah menyadari kebiasaan tersebut.

Etika sosial
Menghargai lawan bicara adalah bentuk sopan santun yang mendasar.

Phubbing menunjukkan penurunan etika dalam komunikasi.
Keseimbangan teknologi
Teknologi seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti interaksi manusia.
Kualitas hubungan
Hubungan yang kuat dibangun dari perhatian dan kehadiran, bukan sekadar komunikasi formal.
Pengendalian diri
Kemampuan mengatur penggunaan gadget adalah bentuk kedewasaan emosional di era digital.
Kesimpulannya, kampanye anti-phubbing bukan sekadar tren, tetapi sebuah kebutuhan untuk menjaga nilai-nilai kemanusiaan di tengah arus teknologi yang semakin dominan.

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Sebuah Penantian

Cerpen No. 0064

Sebuah Penantian

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Akhir Maret 2026

Kisahku
Surabaya, 1975.
Hari kelulusan itu terasa seperti matahari yang bersinar lebih hangat dari biasanya. Harry berdiri di halaman sekolahnya, mengenakan seragam putih abu-abu yang untuk terakhir kalinya ia pakai. Di tangannya tergenggam ijazah, namun di hatinya tersimpan mimpi yang jauh lebih besar
Amerika.
Sorak tawa teman-teman, pelukan guru-guru, dan ucapan selamat dari keluarga membuat hari itu penuh suka cita. Malamnya, rumah Harry berubah menjadi lautan kebahagiaan. Lampu-lampu digantung sederhana, meja dipenuhi makanan rumahan, dan suara musik mengalun pelan.
Namun di tengah semua itu, Harry hanya mencari satu wajah.

Lily.
Gadis itu datang dengan gaun sederhana berwarna putih. Wajahnya masih lugu, senyumnya polos, tapi matanya… menyimpan sesuatu yang dalam.

“Selamat ya, Harry…” ucap Lily pelan.

“Terima kasih… kamu datang,” jawab Harry, sedikit gugup
perasaan yang jarang ia rasakan.

Malam itu mereka tertawa bersama, berbagi cerita, bahkan sempat bernyanyi bersama teman-teman. Namun ketika pesta mulai mereda, suasana berubah menjadi sendu.
Di taman kecil rumah itu, Lily akhirnya tak mampu menahan air matanya. Ia memeluk Harry erat.

“Aku takut…” bisiknya.
Harry mengelus rambutnya lembut.
“Aku pergi bukan untuk meninggalkanmu, Lily.

Aku pergi… supaya suatu hari nanti aku bisa kembali dengan masa depan yang layak untuk kita.”

Ciuman singkat di kening Lily menjadi janji tanpa kata. Malam itu, dua hati terikat oleh rasa yang bahkan belum sepenuhnya mereka pahami.
Hari-hari di Amerika tidak mudah.
Musim dingin pertama membuat Harry menggigil, bukan hanya karena suhu, tapi juga karena rasa sepi yang menyelinap.
Ia menulis.

“Lily, hari ini aku melihat salju untuk pertama kalinya. Indah… tapi dingin.

Tidak seperti hangatnya senyummu.”
Setiap minggu, surat itu dikirim. Dan setiap beberapa minggu, balasan dari Lily datang.
“Harry, aku lulus ke kelas dua. Aku belajar lebih rajin sekarang… supaya bisa menyusulmu suatu hari nanti.”

Surat-surat itu menjadi jembatan cinta mereka.
Setiap kata dipenuhi rindu, setiap kalimat membawa harapan.
Kadang Harry tertawa sendiri saat membaca cerita Lily tentang hal-hal kecil
tentang temannya, tentang guru galak, atau tentang hujan sore di Surabaya.
Namun seiring waktu, kesibukan Harry semakin padat. Kuliah double degree menuntut hampir seluruh energinya.
Ia sering begadang, makan seadanya, dan jarang beristirahat.
Meski begitu, satu hal tidak pernah berubah
ia selalu menulis untuk Lily.
Hingga suatu hari… balasan itu tidak datang lagi.
Awalnya Harry berpikir suratnya terlambat. Lalu ia menunggu seminggu. Dua minggu. Sebulan.
Tidak ada jawaban.
“Lily… kamu di mana?” tulisnya dalam surat berikutnya.
Ada rasa gelisah yang mulai menggerogoti hatinya.

Ia mencoba menenangkan diri, berpikir mungkin Lily sedang sibuk.
Namun enam bulan kemudian, sebuah amplop akhirnya tiba.
Tangannya gemetar saat membuka.
Setiap kata dalam surat itu terasa seperti runtuhnya dunia.

Lily akan menikah.
Harry terdiam lama.
Air matanya jatuh tanpa suara.
Ia membayangkan Lily… mengenakan gaun pengantin. Tapi bukan untuknya.

“Maafkan aku, Harry…” tulis Lily.
“Aku tidak punya pilihan.

Ini keinginan orang tua. Aku tidak bisa melawan.”
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak di Amerika, Harry menangis tersedu-sedu. Ia memukul meja, meremas surat itu, lalu memeluknya erat.
Cinta yang ia simpan… harus ia lepaskan.
Tahun-tahun berikutnya berjalan seperti bayangan. Harry menyelesaikan kuliahnya dengan hasil gemilang, namun hatinya terasa kosong.
Ia mencoba membuka lembar baru, tapi setiap kali ia melihat senyum seorang wanita, bayangan Lily selalu muncul.
Sementara itu, kehidupan Lily tidak berjalan mudah.
Pernikahannya dengan Johnny diawali dengan kecanggungan. Namun Johnny adalah pria baik. Ia mencintai Lily dengan tulus.
Perlahan, Lily belajar menerima.

Dua anak perempuan lahir Linda dan Lina. Tawa mereka menjadi cahaya dalam hidup Lily.
Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Johnny jatuh sakit.
Hari-hari di rumah sakit dipenuhi air mata.

Lily menggenggam tangan suaminya, berusaha tegar di depan anak-anaknya.

“Jaga mereka…” bisik Johnny sebelum menghembuskan napas terakhir.

Dunia Lily runtuh untuk kedua kalinya.
Ketika Harry mendengar kabar itu, ia hanya bisa terdiam.

Ia mengirimkan bunga… dan doa yang tak pernah putus.
“Kenapa hidup harus sekeras ini…” bisiknya dalam hati.

Takdir kembali memainkan perannya.
Suatu hari, Harry jatuh pingsan. Serangan jantung merenggut sebagian kehidupannya. Saat ia sadar, tubuhnya tidak lagi sama.
Kelumpuhan.

Hari-hari di rumah sakit menjadi perjuangan antara hidup dan putus asa. Kadang ia ingin menyerah.
Namun satu hari… seseorang datang.

“Harry…”
Suara itu.
Lily.
Mata mereka bertemu.

Waktu seakan berhenti.
Air mata Lily jatuh.

“Maafkan aku…”
Harry ingin mengangkat tangannya, tapi tidak bisa. Ia hanya bisa menatap.
Sejak hari itu, Lily datang setiap hari.
Ia membersihkan, menyuapi, berbicara, bahkan hanya duduk diam menemani.

Air matanya sering jatuh diam-diam, namun ia selalu tersenyum di depan Harry.
Cinta yang dulu terpendam… kini hadir kembali, dalam bentuk yang jauh lebih dalam.

Bukan lagi cinta remaja.
Tapi cinta yang teruji oleh waktu, kehilangan, dan penderitaan.
Akhirnya, mereka menikah.

Bukan pesta besar. Hanya doa sederhana. Namun penuh makna.
Lily merawat Harry dengan sepenuh hati.

Ia tidak pernah mengeluh. Bahkan di malam-malam ketika tubuhnya lelah, ia tetap terjaga untuk memastikan Harry nyaman.

Linda dan Lina tumbuh dengan penuh kasih. Mereka memanggil Harry “Papa”, meski bukan darah daging.

Tahun demi tahun berlalu.
Perlahan, Harry menunjukkan kemajuan. Dari tidak bisa bergerak, menjadi bisa menggerakkan jari. Dari tidak bisa bicara, menjadi mampu mengucap kata.
Hingga suatu hari…
Dengan langkah tertatih, ia berdiri.

Lily menangis bahagia.
“Harry… kamu bisa…”
Harry tersenyum, meski air matanya jatuh. “Karena kamu tidak pernah berhenti percaya…”

Tiga puluh tahun berlalu.
Rambut mereka memutih. Wajah mereka dipenuhi garis waktu. Namun cinta itu… tetap sama.
Suatu sore, mereka duduk bersama.
“Lily… apakah semua penantian ini… sepadan?” tanya Harry.
Lily menggenggam tangannya erat.
“Lebih dari sepadan.

Karena pada akhirnya… aku tetap bersamamu.”
Angin sore berhembus pelan.
Dan di sana, di antara suka cita, duka cita, air mata, dan cinta yang membara—
dua hati akhirnya menemukan rumahnya.
Sebuah penantian…
yang tidak pernah sia-sia.

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Wang Pingping

Wang Pingping

Cerpen no 0063

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Jakarta
Akhir Maret 2026

Langkah sunyi

Di sebuah kota di Tangerang
Kota kecil yang selalu diselimuti kabut pagi, hiduplah seorang perempuan bernama
Wang Pingping. Namanya dikenal sederhana, tetapi setiap orang yang pernah berjumpa dengannya akan mengingat satu hal
cara ia berjalan, tenang dan anggun, seolah setiap langkahnya memiliki makna.

Pingping bekerja di sebuah toko buku tua di sudut jalan yang jarang dilalui orang.

Rak-rak kayu yang berdebu, aroma kertas lama, dan cahaya matahari yang menembus jendela kecil menjadi dunia yang ia jaga setiap hari.

Banyak yang bertanya mengapa ia memilih tempat sepi seperti itu, padahal wajahnya yang lembut dan Cantik
sikapnya yang sopan bisa membawanya ke kehidupan yang lebih ramai.
Namun, hanya sedikit yang tahu bahwa Pingping menyukai kesunyian.

Ping ping datang ke kota itu lima tahun lalu, tanpa membawa banyak barang
hanya sebuah koper kecil dan sebuah buku tua bersampul hijau. Buku itu selalu ia simpan di laci kasir, dan tak pernah sekalipun ia membiarkan orang lain menyentuhnya.

Suatu sore, ketika hujan turun perlahan dan jalanan menjadi lengang, seorang pria muda masuk ke toko. Rambutnya sedikit basah, matanya tajam namun hangat.

“Apakah toko ini masih buka?” tanyanya.

Pingping mengangguk pelan.

“Selama lampu masih menyala, kami selalu buka.”

Pria itu tersenyum.

“Jawaban yang menarik.”

Namanya Surya. Ia adalah seorang penulis yang sedang mencari tempat tenang untuk menyelesaikan novelnya.
Tanpa sengaja, ia menemukan toko buku itu dan merasa seperti menemukan dunia yang hilang.

Hari demi hari, Surya mulai sering datang. Kadang hanya duduk membaca, kadang berbincang dengan Pingping.

Percakapan mereka tidak banyak, tetapi selalu terasa cukup.

“Kenapa kamu selalu di sini?” tanya Surya suatu hari.
Pingping menatap jendela.

“Karena di sini, waktu berjalan lebih lambat.”

Surya tertawa kecil.

“Atau mungkin kamu yang ingin berhenti dari waktu.”

Pingping tidak menjawab.
Seiring waktu, Surya mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang disembunyikan Pingping.
Ia selalu tersenyum, tetapi matanya sering terlihat jauh
seperti seseorang yang hidup di masa lalu.

Suatu malam, listrik di toko padam.
Hanya cahaya lilin yang menerangi ruangan.
Hujan di luar semakin deras.

“Pingping,” kata Surya pelan,
“apa yang kamu sembunyikan?”

Pingping terdiam lama. Lalu, dengan gerakan hati-hati, ia membuka laci dan mengeluarkan buku bersampul hijau itu.

“Ini,” katanya, “adalah alasan aku di sini.”

Surya menerima buku itu. Halamannya sudah menguning, tetapi tulisan di dalamnya masih jelas.
Itu adalah kumpulan cerita
cerita tentang seorang perempuan bernama Pingping dan seorang pria yang mencintainya.

“Ini… kisahmu?” tanya Surya.

Pingping mengangguk. “Ditulis oleh seseorang yang dulu sangat berarti bagiku.”

“Di mana dia sekarang?”

Pingping tersenyum tipis. “Tidak ada lagi.”

Ternyata, lima tahun lalu, Pingping hampir menikah.
Pria yang ia cintai adalah seorang penulis, penuh mimpi dan harapan.
Mereka berjanji akan menjalani hidup sederhana bersama.
Namun, sebuah kecelakaan merenggut semuanya.
Pria itu meninggal sebelum pernikahan mereka terlaksana.
Buku itu adalah karya terakhirnya
kisah cinta mereka yang belum selesai.

“Aku datang ke kota ini untuk melupakan,” kata Pingping pelan.

“Tapi ternyata, aku hanya belajar hidup bersama kenangan.”

Surya menutup buku itu dengan hati-hati.
Untuk pertama kalinya, ia melihat air mata di mata Pingping.

“Kenapa kamu tetap menyimpannya?” tanyanya.

“Karena itu satu-satunya cara aku merasa dia masih ada.”

Hening menyelimuti mereka.
Sejak malam itu, hubungan mereka berubah.

Surya tidak lagi sekadar pengunjung; ia menjadi seseorang yang memahami kesunyian Pingping.

Namun, semakin dekat mereka, semakin jelas satu hal

Pingping masih terikat pada masa lalu.
Suatu pagi, Surya datang membawa naskah.

“Aku sudah selesai,”
katanya.

Pingping tersenyum.

“Akhirnya.”

“Tapi aku belum yakin dengan akhirnya.”

“Kenapa?”

Surya menatapnya.

“Karena aku belum tahu apakah orang bisa benar-benar melupakan.”

Pingping terdiam.

“Menurutmu?” tanya Surya.

Pingping menggeleng pelan.

“Tidak semua harus dilupakan.”

“Lalu?”

“Kadang, kita hanya perlu belajar membuka hati lagi.”

Kata-kata itu menggantung di udara.
Beberapa hari kemudian, Surya tidak datang lagi.

Hari-hari terasa lebih sunyi dari biasanya. Pingping tetap menjalani rutinitasnya, tetapi ada kekosongan yang tak bisa ia abaikan.

Hingga suatu sore, sebuah paket datang.
Di dalamnya ada sebuah buku baru
novel karya Surya.

Judulnya Langkah Sunyi.

Pingping membuka halaman pertama.
Di sana tertulis:
Untuk seseorang yang mengajarkanku bahwa cinta tidak selalu tentang memiliki, tetapi tentang keberanian untuk melangkah lagi.

Air mata perlahan jatuh.
Di halaman terakhir, ada sebuah catatan

Jika suatu hari kamu siap, aku akan menunggu di tempat pertama kita bertemu.

Pingping menutup buku itu. Ia menatap toko, rak-rak buku, dan jendela yang selama ini menjadi dunianya.

Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, ia ragu.

Langkahnya perlahan menuju pintu.
Hujan baru saja berhenti, dan udara terasa segar.
Ia menggenggam buku bersampul hijau itu… lalu meletakkannya kembali di laci.
Dengan napas panjang,
Wang Pingping melangkah keluar.

Langkahnya masih tenang. Masih anggun.
Namun kali ini, bukan menuju masa lalu.
Melainkan menuju kemungkinan masa depan baru.

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Pasanganmu, Jalan Rezekimu

“Pasanganmu, Jalan Rezekimu”

Cerpen No 0062

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Lebaran 1
22 Maret 2026

(Based on a true story)

Kehidupanku

Yenny tidak pernah menyangka bahwa pernikahan yang dulu ia banggakan, perlahan menjadi cermin yang menampar kenyataan hidupnya sendiri.

Di sisi lain, Teddy
suaminya
adalah sosok yang nyaris sempurna di mata banyak orang.

Teddy dikenal sebagai pria cerdas, berwibawa, dan tenang.
Cara bicaranya lembut, tidak pernah meninggi, tapi selalu didengar. Sejak muda, ia sudah dipercaya menjadi pemimpin
dari organisasi sekolah hingga berbagai komunitas profesional. Orang-orang menghormatinya tanpa ia perlu memaksakan diri.
Ia tipe yang mengabdi, bukan mencari pujian.
Namun, di balik semua itu, Teddy punya satu kelemahan: ia terlalu pasif. Ia takut salah langkah. Ia lebih sering menunggu “tanda dari Tuhan” daripada mengambil keputusan sendiri. Ibarat lapar tapi enggan mengambil makanan di meja
menunggu disuapi.
Dan di samping pria seperti itu, berdirilah Yenny.

Yenny adalah kebalikan dari Teddy. Ia penuh emosi, mudah meledak, dan sulit mengakui kesalahan.
Ia suka menuntut, gemar pamer, dan menjalin hubungan hanya jika ada keuntungan.

Baginya, penampilan adalah segalanya.
Tas bermerek, foto di media sosial, pakaian dengan logo besar
semua harus terlihat.
Padahal, kenyataan hidup mereka tidak seindah unggahan Yenny.

Teddy baru saja menyelesaikan kontraknya sebagai staf ahli di sebuah instansi BUMN. Statusnya kini “menganggur sementara”, menunggu peluang pekerjaan tetap.

Di masa sulit itu, bukannya menenangkan atau mendukung, Yenny justru menuntut liburan ke Singapura.

“Aku pengen banget ke Universal Studios,”
katanya suatu malam, tanpa beban.
Teddy hanya terdiam. Ia tahu kondisi keuangan mereka sedang tidak baik.
Tapi seperti biasa, ia memilih diam.
Di sisi lain, seorang teman lama Teddy sebenarnya berniat membantu.
Ia memiliki peluang pekerjaan yang bisa dibagi, sesuatu yang bisa menjadi titik balik bagi Teddy.
Awalnya, niat itu tulus.
Namun semuanya berubah setelah ia melihat media sosial Yenny.
Setiap hari, unggahan demi unggahan memenuhi layar
tas baru, outfit mencolok, gaya hidup yang tampak mewah. Semua dipamerkan seolah tanpa beban, tanpa rasa cukup.
Teman itu menghela napas panjang.

“Kalau orangnya baik, kita bantu. Tapi kalau tidak… untuk apa?” pikirnya.

“Kalau sekarang saja sudah seperti ini, nanti kalau rezekinya bertambah, apa tidak makin menjadi?”

Akhirnya, niat itu pun diurungkan.
Tanpa Teddy sadari, sebuah pintu rezeki tertutup
bukan karena kemampuannya kurang, tapi karena bayang-bayang sikap pasangannya.
Hari demi hari berlalu.

Tekanan hidup semakin terasa. Teddy tetap diam, tetap berharap, tetap menunggu. Sementara Yenny terus berjalan dengan dunianya sendiri
penuh tuntutan dan pencitraan.
Sampai suatu hari, seseorang berkata kepada Teddy dengan sederhana, tapi menohok:

“Kadang, rezeki itu bukan cuma soal usaha. Tapi juga soal siapa yang berjalan di samping kita.”

Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.
Ia mulai melihat hidupnya dari sudut pandang yang berbeda. Bahwa pasangan bukan hanya teman berbagi cerita, tapi juga penentu arah hidup.
Energi, sikap, dan cara berpikir pasangan bisa memperluas atau justru menyempitkan jalan rezeki.

Ia teringat satu kalimat yang kini sering beredar:

“Pasanganmu adalah rezekimu, dan juga jalan hidupmu.”

Kini Teddy mengerti.
Mungkin dulu ia bisa mendapatkan “100”, tapi karena energi yang salah di sampingnya, yang tersisa hanya “50”.

Sebaliknya, orang dengan pasangan yang baik
yang sabar, mendukung, dan rendah hati
meski dalam kesulitan, selalu saja ada jalan. Rezeki datang dari arah yang tak terduga.

Cerita Teddy dan Yenny menjadi pelajaran yang diam-diam menyebar di antara orang-orang yang mengenal mereka.

Bahwa memilih pasangan bukan sekadar soal cinta atau penampilan.

Karena wajah bisa diperbaiki, tapi sifat… tidak ada klinik yang bisa mengubahnya dalam semalam.

Dan pada akhirnya, hidup mengajarkan satu hal sederhana namun dalam:
Lebih baik memiliki pasangan yang sederhana tapi berhati baik, daripada yang terlihat sempurna namun membawa badai dalam kehidupan.

Karena tanpa disadari, pasangan kita bukan hanya teman hidup

melainkan pintu, atau bahkan penghalang, bagi rezeki yang seharusnya datang.

Terima kasih buat Vani atas kiriman kisahnya

http://www.kris.or.id I http://www.adharta.com

Di Meja yang Sama walau beda bangku

*Cerpen nomor 0061*

*Di Meja yang Sama walau beda bangku*

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Jakarta
21 Maret 2026

Minal aidin walfa izin
Mohon maaf lahir dan batin

*Selamat hari raya Idul fitri*
*1447 Hijriah*

Dalam suka cita dan cinta
Di sebuah rumah sederhana di Jakarta,
di antara hiruk-pikuk kota yang tak pernah benar-benar tidur, hiduplah sebuah keluarga yang tak biasa
namun justru di situlah letak keindahannya.

Redi, seorang pria Muslim berawak tinggi besar
yang bekerja sebagai manajer stasiun di Gambir, adalah sosok yang tegas namun hangat.
Setiap pagi ia berangkat sebelum matahari benar-benar terbit, memastikan kereta-kereta berjalan tepat waktu, seperti ritme hidupnya yang teratur.

Istrinya, Maria, seorang Katolik yang bekerja sebagai suster di Rumah Sakit Saint Carolus, Jakarta
adalah perempuan Cantik
penuh kasih, dengan senyum yang menenangkan siapa pun yang sedang sakit
baik tubuh maupun hati.

Mereka memiliki tiga anak perempuan yang semuanya sudah kuliah:
Pertama Nita, si sulung yang memilih Katolik seperti ibunya;

Kedua Mira, anak kedua yang mengikuti keyakinan ayahnya sebagai Muslim;

dan ketiga Susana, si bungsu yang memilih jalan Buddha dengan ketenangan yang khas.

Perbedaan itu tak pernah menjadi jurang. Justru menjadi taman bunga dengan warna-warni yang memperindah kehidupan mereka.

Suatu sore menjelang bulan Ramadan, suasana rumah terasa lebih hidup dari biasanya.

“Ayah, nanti sahur pertama aku bantu ya,” kata Mira sambil membawa segelas teh hangat ke meja makan.
Redi tersenyum, “Wah, anak ayah makin rajin.

Tapi jangan sampai kesiangan kuliah ya.”

Nita yang duduk di sebelahnya ikut menyela, “Aku juga bangun kok. Sekalian temani Mama doa pagi.”

Susana tertawa kecil, “Aku sih ikut bangun juga… tapi mungkin cuma duduk sambil minum air dan meditasi sebentar.”

Maria yang baru saja pulang dari rumah sakit meletakkan tasnya dan memandang mereka satu per satu.
Matanya berbinar.
“Beginilah rumah yang Mama suka,” katanya lembut. “Ramai, beda-beda, tapi tetap satu meja.”
Ramadan pun tiba.

Setiap dini hari, dapur rumah itu hidup.
Mira membantu menyiapkan sahur bersama Maria, sementara Nita dan Susana kadang masih mengantuk di kursi makan, namun tetap menemani.

“Doanya masing-masing ya,” ujar Maria setiap kali mereka akan makan.

Redi mengangkat tangan, membaca doa dengan khusyuk.
Mira mengikutinya. Di sisi lain, Nita membuat tanda salib, dan Susana menundukkan kepala dalam diam.

Tidak ada yang merasa asing.
Hanya ada rasa hormat.
Namun, seperti keluarga pada umumnya, mereka pun tak luput dari perdebatan kecil.

Suatu malam, saat berbuka puasa, terjadi sedikit ketegangan.
“Aku rasa kita harus lebih tegas soal jadwal rumah,” kata Nita. “Semua sibuk, tapi rumah juga harus rapi.”
Mira langsung menjawab, “Aku juga sibuk, Kak. Jangan seolah-olah aku yang paling santai.”
“Bukan begitu maksudku—”
“Sudah, sudah,” potong Susana sambil tersenyum, “kita ini beda agama saja bisa akur, masa beda jadwal piket ribut?”

Redi menatap mereka dengan sedikit serius, tapi kemudian tersenyum.
“Perdebatan itu biasa,” katanya. “Yang penting, jangan sampai kita lupa kenapa kita bisa duduk di sini bersama.”

Maria menambahkan pelan, “Karena kita saling mencintai, bukan karena kita sama.”
Suasana pun mencair.
Tawa kembali terdengar, mengisi ruang makan yang sederhana itu.

Tak lama setelah Ramadan berjalan, suasana Imlek yang baru saja lewat masih terasa. Beberapa lampion kecil masih tergantung di sudut rumah
kenangan dari perayaan yang juga mereka rayakan bersama kerabat.
Kini, mereka mulai membicarakan dua momen besar yang akan datang: Idul Fitri dan Paskah.
“Lebaran tahun ini kita buat lebih ramai ya,” kata Mira penuh semangat.
“Aku mau bikin kue sendiri!”
Nita langsung menyahut, “Kalau begitu aku bantu dekorasi rumah. Sekalian nanti untuk Paskah juga.”

Susana mengangguk, “Aku bagian bersih-bersih saja deh. Biar semua nyaman.”
Maria tersenyum melihat anak-anaknya, lalu memandang Redi.

“Kita beruntung ya,” katanya pelan.

Redi mengangguk, “Sangat.”

Hari-hari berlalu dengan damai. Redi tetap sibuk di stasiun, Maria dengan pasien-pasiennya, dan ketiga anak mereka dengan dunia kampus masing-masing. Namun setiap malam, mereka selalu berusaha makan bersama.
Meja makan itu menjadi pusat kehidupan mereka.
Tempat diskusi.
Tempat bercanda.
Tempat berdebat.
Dan tempat saling menguatkan.

“Menurut kalian,” tanya Susana suatu malam, “kenapa kita bisa seperti ini?”

Mira berpikir sejenak, lalu menjawab, “Karena kita tidak pernah dipaksa.”

Nita menambahkan, “Dan karena kita diajarkan untuk mendengar, bukan hanya bicara.”

Maria memandang Redi dengan hangat, “Dari awal kami sepakat, cinta tidak boleh memaksa.”
Redi tersenyum, “Dan iman itu harus tumbuh, bukan dipaksakan.”
Akhirnya, hari yang dinanti tiba.
Idul Fitri 1447 H.

Rumah itu penuh dengan aroma ketupat, opor ayam, dan kue-kue buatan Mira. Nita sibuk mengatur meja dengan rapi, sementara Susana memastikan semuanya bersih dan nyaman.
Maria mengenakan pakaian sederhana namun anggun, membantu di dapur, sementara Redi mengenakan baju koko putih.
Saat waktu salat Id tiba, Mira menemani ayahnya ke masjid.
Nita dan Susana tinggal di rumah bersama Maria, menyiapkan segalanya untuk menyambut.
Ketika Redi dan Mira kembali, suasana penuh haru menyelimuti rumah.

“Mohon maaf lahir dan batin,” kata Mira sambil mencium tangan ibunya.

Maria memeluknya erat, “Mama juga, Nak.”
Nita dan Susana ikut bergabung. Mereka saling berpelukan, tertawa, bahkan sedikit menitikkan air mata.

Hari itu, tidak ada perbedaan.
Yang ada hanya keluarga.

Beberapa hari kemudian, mereka mulai mempersiapkan Paskah.

Kali ini, Nita yang lebih sibuk. Ia menyiapkan lilin, bunga, dan dekorasi sederhana.

“Ayah bantu ya,” katanya pada Redi.
Redi tersenyum, “Tentu. Ini rumah kita bersama.”
Mira membantu tanpa ragu, sementara Susana kembali dengan perannya menjaga suasana tetap damai.
Saat malam Paskah tiba, mereka kembali duduk di meja yang sama.
Doa kembali dipanjatkan
masing-masing dengan cara mereka sendiri.
Namun satu hal yang sama: rasa syukur.

Di rumah itu, perbedaan bukanlah batas.
Ia adalah jembatan.
Yang menghubungkan hati-hati yang tulus.

Dan di tengah dunia yang sering kali terpecah karena perbedaan, keluarga kecil itu menjadi bukti bahwa cinta, rasa hormat, dan kebersamaan… selalu lebih kuat.
Selama mereka masih duduk di meja yang sama, mereka tahu,
*mereka akan selalu menjadi satu.*

Selamat hari raya idul fitri H 1447

*Minal aidin Walfa Izin*
*Mohon maaf lahir dan batin*

*Adharta*

http://www.kris.or.id I http://www.adharta.com

Cinta yang Tidak Selesai

Cerpen no 0061

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Medio Maret 2026

Sahabatku
Anton lahir di Medan, di sebuah keluarga Katolik sederhana yang mengajarkan disiplin, kerja keras, dan iman kepada Tuhan. Sejak kecil ia dikenal sebagai anak yang penuh energi.

Teman-temannya sering berkata bahwa Anton seperti api hangat, berani, dan selalu bergerak maju. Ia tumbuh menjadi pemuda yang agresif dalam arti positif
berani mengambil kesempatan, rajin bekerja, dan tidak takut menghadapi tantangan.
Sementara itu di Jakarta, lahirlah Mila. Sejak kecil ia dikenal sebagai gadis yang cerdas dan cantik. Ia memiliki mata yang teduh dan cara berbicara yang lembut. Mila mencintai buku sejak usia dini. Ia percaya bahwa pendidikan adalah cara terbaik untuk mengubah dunia.

Karena itu, ia menekuni studinya dengan sungguh
sungguh hingga akhirnya menjadi seorang akademisi yang mengajar di beberapa universitas.
Pertemuan mereka terjadi secara sederhana.
Suatu hari Anton menghadiri sebuah seminar kepemudaan Katolik di Jakarta. Ia datang sebagai peserta, sedangkan Mila menjadi salah satu pembicara muda yang membawakan topik tentang peran pendidikan dalam membangun karakter generasi muda.
Anton yang biasanya penuh percaya diri, tiba-tiba menjadi pendiam ketika mendengar Mila berbicara. Ada sesuatu dalam suara wanita itu
tenang, cerdas, dan penuh keyakinan
yang membuatnya terpikat.
Setelah seminar selesai, Anton memberanikan diri menghampiri Mila.
“Presentasi Anda luar biasa,” kata Anton dengan senyum yang sedikit canggung.
Mila tersenyum ramah. “Terima kasih. Anda dari mana?”
“Medan.

Tapi hari ini saya merasa Jakarta jadi lebih menarik.”

Mila tertawa kecil. Itulah awal dari percakapan panjang yang tanpa mereka sadari menjadi awal sebuah kisah cinta.
Hubungan mereka tumbuh perlahan namun pasti.

Anton sering terbang dari Medan ke Jakarta hanya untuk bertemu Mila.
Kadang mereka menghadiri misa bersama, duduk berdampingan di bangku gereja, berdoa dalam diam.

Anton selalu menggenggam tangan Mila setelah misa selesai, seolah tidak ingin melepaskan kebahagiaan kecil itu.
Mila sering mengagumi semangat Anton.

“Kenapa kamu selalu terlihat begitu berani?” tanya Mila suatu malam.

Anton tersenyum.
“Hidup terlalu singkat untuk takut.”
Kata-kata itu, yang saat itu terdengar seperti candaan ringan, kelak menjadi kalimat yang selalu teringat di hati Mila.

Tahun-tahun berlalu.
Anton semakin sukses dalam pekerjaannya. Ia dikenal sebagai pria yang pekerja keras dan penuh ide. Sementara Mila semakin dikenal di dunia akademik. Ia mengajar di beberapa universitas dan sering diundang menjadi pembicara tentang pendidikan.

Mereka adalah pasangan yang berbeda namun saling melengkapi. Anton penuh energi dan keberanian,
Mila penuh kebijaksanaan dan ketenangan.
Namun hidup kadang berjalan di luar rencana manusia.

Suatu pagi yang sunyi, kabar itu datang seperti petir di langit cerah.
Anton meninggal dunia.
Tidak ada penyakit sebelumnya. Tidak ada tanda-tanda bahaya.
Ia hanya ditemukan tak bernyawa di rumahnya.
Para dokter tidak menemukan sebab yang jelas.
Ia meninggal di usia 40 tahun.
Dunia Mila seolah berhenti berputar.
Hari pemakaman Anton dihadiri banyak orang. Teman, keluarga, dan sahabat datang dari berbagai kota.

Di dalam gereja, lilin-lilin menyala tenang di depan altar.
Mila duduk di bangku depan, memandang peti kayu itu dengan mata yang basah.
Ia teringat semua hal kecil: senyum Anton, keberaniannya, dan cara ia selalu berkata bahwa hidup terlalu singkat untuk takut.
Pastor yang memimpin misa berkata dengan lembut,

“Cinta tidak berhenti ketika seseorang dipanggil pulang oleh Tuhan.”

Setelah pemakaman itu, Mila kembali ke kehidupannya sebagai pengajar. Ia mengajar lebih tekun dari sebelumnya.
Ia menulis, meneliti, dan membimbing mahasiswa dengan penuh perhatian.
Namun ada satu hal yang selalu ia lakukan setiap kali selesai mengajar.

Ia berhenti sejenak di kapel kampus.
Di sana, dalam keheningan doa, Mila selalu mengingat Anton.

Bagi dunia, kisah cinta mereka mungkin telah selesai.
Tetapi bagi Mila, cinta itu tidak pernah benar-benar berakhir.
Karena cinta yang lahir dalam iman… tidak berhenti di bumi.

http://www.kris.or.id I http://www.adharta.com

Aku Pulang Bertahun tahun di Negeri Orang,

Cerpen No. 0060

Oleh : Adharta
Ketua Umum KRIS

Hidup di perantauan

Angin laut berhembus pelan di pelabuhan Tanjung Priok sore itu.
Burung camar terbang rendah di atas kapal-kapal yang bersandar.

Yussof berdiri di tepi dermaga, memandang laut yang berwarna keperakan diterpa matahari senja.
Dalam hatinya, ia tahu perjalanan hidupnya telah berubah sejak pertama kali ia menginjakkan kaki di Jakarta.

Tahun itu,
1980.
Bagi Yussof, Jakarta bukan sekadar kota.
Ia adalah pintu menuju masa depan.
Yussof berasal dari Sabah, dari sebuah kampung kecil tidak jauh dari Kota Kinabalu.

Ayahnya seorang petani sederhana yang setiap hari menanam padi dan sayur di ladang kecil milik keluarga. Ibunya seorang guru sekolah dasar yang sangat dihormati di kampung mereka.

Walaupun hidup sederhana, keluarga itu kaya akan pendidikan dan nilai kehidupan.
Yussof adalah anak kedua dari tiga bersaudara.
Kakaknya, Rahman, sudah lebih dahulu merantau ke Indonesia dan menjadi dokter setelah lulus dari Universitas Airlangga di Surabaya.

Adiknya, Azlan, seorang pemuda cerdas yang kelak menjadi insinyur teknik mesin setelah menempuh pendidikan di sebuah universitas di Singapura.

Di antara mereka bertiga, Yussof lah yang paling mencintai laut.
Sejak kecil ia sering berdiri di pantai Sabah, memandang kapal-kapal besar yang berlayar menuju negeri jauh.
Ia selalu bertanya dalam hati: bagaimana rasanya mengarungi samudra yang luas itu?

Kesempatan itu datang ketika pemerintah Malaysia mengirim beberapa pemuda terbaik untuk belajar di Akademi Ilmu Pelayaran di Jakarta.

Yussof termasuk di antara tujuh orang yang terpilih.
Perjalanan pertamanya meninggalkan Sabah terasa seperti mimpi. Ia masih ingat saat ibunya memeluknya erat di pelabuhan.

“Belajarlah sungguh-sungguh, Yussof,” kata ibunya lembut.
“Di negeri orang kita harus menjaga nama baik keluarga.”
Ayahnya hanya menepuk bahunya kuat-kuat.
“Jangan takut ombak,” katanya singkat.

Kata-kata itu tertanam dalam hati Yussof.
Di Jakarta, hidup tidak semudah yang ia bayangkan.
Ia tinggal di asrama Akademi Ilmu Pelayaran bersama para taruna dari berbagai daerah. Disiplin di akademi sangat keras.
Bangun sebelum matahari terbit, latihan fisik, belajar navigasi, meteorologi, mesin kapal, hingga latihan di laut.
Suatu hari Yussof pernah di hukum menghormati bendera merah putih selama 5 jam di terik Matahari
Gara gara ketahuan makan nasi padang pakai tangan

Bagi Yussof, hari-hari itu penuh perjuangan.
Kadang ia merasa sangat rindu rumah.
Malam-malam panjang di asrama sering diisi dengan percakapan dengan teman-teman senegaranya
enam pemuda Malaysia yang sama-sama merantau. Mereka sering duduk di kantin sederhana, minum kopi panas sambil bercerita tentang kampung halaman.

“Kalau sudah lulus, aku ingin menjadi kapten kapal besar,” kata salah seorang temannya.
Yussof hanya tersenyum.
Dalam hatinya, ia juga memiliki mimpi yang sama.
Namun kehidupan di Jakarta tidak hanya memberi kesulitan.
Kota itu juga memberinya sesuatu yang tidak pernah ia duga sebelumnya.

Cinta.

Ia bertemu dengan seorang gadis Indonesia bernama Ratna.

Ratna adalah mahasiswi di sebuah sekolah tinggi ekonomi di Jakarta. Pertemuan mereka terjadi secara tidak sengaja ketika Yussof membantu Ratna yang hampir terjatuh di halte bus saat hujan deras mengguyur kota.
Sejak pertemuan itu, mereka sering bertemu.
Ratna adalah gadis yang lembut namun kuat.
Ia berasal dari keluarga sederhana di Jawa Tengah yang merantau ke Jakarta untuk mencari kehidupan yang lebih baik.
Yussof sering mengajaknya berjalan di sekitar kota tua, atau duduk di warung kecil menikmati nasi goreng sambil berbincang tentang masa depan.
“Suatu hari nanti kamu akan berlayar jauh,” kata Ratna suatu malam.
Yussof memandangnya lama.
“Kalau itu terjadi, apakah kamu akan menunggu?”
Ratna tersenyum.
“Laut tidak akan pernah bisa mengambil orang yang benar-benar ingin pulang.”
Kata-kata itu membuat hati Yussof hangat.
Tahun-tahun di Akademi Ilmu Pelayaran berlalu dengan cepat. Pelajaran semakin sulit, latihan semakin berat, namun Yussof tidak pernah menyerah.
Ia selalu teringat wajah ayah dan ibunya di Sabah.
Ia juga teringat Ratna.
Pada suatu pagi yang cerah, akhirnya hari yang dinantikan tiba.

Yussof resmi lulus dari Akademi Ilmu Pelayaran Jakarta.
Di pundaknya kini tersemat gelar kapten.
Saat upacara kelulusan, Ratna berdiri di antara para tamu yang hadir.
Ketika mata mereka bertemu, keduanya tahu perjalanan baru akan dimulai.
Tidak lama setelah itu, Yussof membuat keputusan besar dalam hidupnya.
Ia menikahi Ratna.
Sebagian teman-temannya terkejut. Tidak mudah bagi seorang pemuda Malaysia menikahi gadis Indonesia pada masa itu. Namun bagi Yussof, cinta tidak mengenal batas negara.
Ia menulis surat panjang kepada orang tuanya di Sabah.
Beberapa minggu kemudian, balasan datang.
Ibunya menulis dengan tulisan tangan yang halus:
“Jika dia membuatmu bahagia, bawalah dia pulang ke rumah.”
Surat itu membuat mata Yussof basah.
Beberapa tahun setelah kelulusan, Yussof mulai bekerja di kapal-kapal perdagangan yang berlayar melintasi Asia Tenggara. Ia mengarungi Laut Jawa, Selat Malaka, hingga Samudra Hindia.
Kadang ia berada jauh dari rumah berbulan-bulan.
Namun setiap kali kapal mendekati pelabuhan, hatinya selalu teringat satu hal.
Rumah.

Rumah bukan hanya Sabah lagi.
Rumah juga Jakarta.
Rumah adalah Ratna yang menunggunya dengan sabar.
Suatu hari, setelah bertahun-tahun berlayar, Yussof berdiri di geladak kapal memandang cakrawala. Laut tampak tenang seperti kaca yang luas.
Ia teringat perjalanan hidupnya.
Dari seorang anak petani di Sabah…
Menjadi taruna di Jakarta…
Menjadi kapten kapal…
Dan menemukan cinta di negeri orang.
Ia tersenyum pelan.
“Negeri orang telah menjadi bagian dari hidupku,” bisiknya.
Namun dalam hatinya, ia tahu satu hal.
Sejauh apa pun kapal berlayar, setiap pelaut selalu memiliki satu tujuan yang sama.
Pulang.
Dan suatu hari nanti, Yussof akan kembali ke Sabah bersama Ratna, membawa kisah panjang tentang tahun-tahun yang ia jalani di negeri orang.
Sebuah kisah tentang perjuangan, cinta, dan keluarga.
Kisah seorang anak petani yang berani menyeberangi lautan demi masa depan.
Dan ketika ia menutup matanya malam itu di atas kapal yang berlayar perlahan, satu kalimat terngiang di dalam pikirannya:

“Aku pulang… setelah bertahun-tahun di negeri orang.”
Oh Malaya.

http://www.kris.or.id I http://www.adharta.com

Antara Denyut nadi dan Doa

Cerpen no 0058

Oleh : Ad harta
Ketua Umum
KRIS

Jakarta
Awal Maret 2026
Selamat ber puasa

Mengenang seorang sahabat
Kakak dan pejuang KRIS

Cintaku
Rumah sakit itu tidak pernah benar-benar sunyi.
Bahkan pada dini hari, ketika lampu-lampu lorong meredup dan langkah kaki mulai jarang terdengar, masih ada suara monitor jantung yang berdetak pelan
seperti pengingat bahwa kehidupan selalu berjuang untuk tetap ada.

Di rumah sakit itulah
Dr. Arya Pradipta pertama kali bertemu Laras Widyasari, seorang perawat muda dengan mata yang hangat dan senyum yang selalu berhasil menenangkan pasien.

Pertemuan mereka sederhana. Terlalu sederhana bahkan untuk disebut takdir.

Namun dari kesederhanaan itulah kisah besar sering dimulai.

Hari itu hujan turun deras. Arya baru saja menyelesaikan operasi seorang pasien yang sangat melelahkan.
Ia berjalan keluar ruang operasi dengan langkah berat, wajahnya lelah, masker masih menempel.

Di lorong, Laras sedang mendorong troli obat.
“Dokter Arya, Anda belum makan sejak pagi,” katanya lembut.

Arya terkejut. Ia tidak menyangka ada orang yang memperhatikan hal sekecil itu.

“Ah… saya hampir lupa kalau saya juga manusia,” jawabnya sambil tersenyum.

Laras tertawa kecil.
Dan sejak hari itu, sesuatu mulai tumbuh.
Hari-hari mereka di rumah sakit sering penuh kelelahan. Namun di sela-sela tugas, mereka menemukan cara untuk saling menguatkan.
Kadang hanya dengan secangkir kopi di kantin rumah sakit.
Kadang dengan percakapan singkat di lorong.
Kadang dengan tawa kecil psetelah berhasil menyelamatkan pasien yang hampir putus harapan.

Suatu malam, setelah shift panjang, mereka duduk di bangku taman rumah sakit.
Hujan baru saja berhenti. Daun-daun masih basah.
“Apa yang membuatmu memilih menjadi dokter?” tanya Laras.

Arya menatap langit yang masih kelabu.
“Karena aku ingin memperpanjang waktu orang-orang bersama orang yang mereka cintai.”

Laras terdiam.
“Kalau kamu?” Arya bertanya.

“Aku ingin menemani mereka ketika waktu itu hampir habis.”

Mereka saling memandang.
Di antara dua kalimat sederhana itu, mereka tahu mereka berada di jalan yang sama.

Cinta mereka tumbuh perlahan, seperti matahari yang terbit tanpa suara.
Tidak ada drama besar.
Tidak ada pengakuan berlebihan.
Hanya kebiasaan kecil yang berubah menjadi kebutuhan.
Arya selalu menunggu Laras selesai shift malam.

Laras selalu membawa kopi untuk Arya.
Dan suatu sore, di taman yang sama, Arya berkata dengan suara pelan,
“Laras… maukah kamu menua bersamaku?”

Laras tidak menjawab dengan kata-kata.
Ia hanya mengangguk, sambil menyeka air mata yang tiba-tiba jatuh.

Pernikahan mereka sederhana.
Tidak mewah, tidak besar.
Namun penuh tawa.
Teman-teman dokter dan perawat memenuhi aula kecil rumah sakit.
Bahkan beberapa pasien yang sudah sembuh datang membawa bunga.
Hari itu, rumah sakit yang biasanya dipenuhi kecemasan berubah menjadi tempat yang penuh kebahagiaan.
Dan kehidupan baru mereka dimulai.

Tahun-tahun berlalu.
Tuhan memberi mereka tiga anak.

Raka, yang selalu penasaran dengan segala hal.

Dinda, yang lembut dan penuh empati.
Dan Arga, si bungsu yang selalu membuat rumah dipenuhi tawa.
Di rumah kecil mereka, sering terdengar canda.

“Ayah, kalau aku sakit nanti ayah yang operasi ya?” tanya Arga suatu hari.

Arya tertawa.
“Jangan sampai sakit. Tapi kalau perlu, ayah pasti ada.”

Laras memandang mereka dari dapur dengan mata hangat.
Rumah itu sederhana.
Namun penuh cinta.
Ketika anak-anak mulai besar, mereka sering ikut ke rumah sakit.

Mereka melihat ayah mereka bekerja tanpa lelah.
Mereka melihat ibu mereka menenangkan pasien dengan suara lembut.
Suatu malam, Raka berkata,

“Ayah… aku ingin jadi dokter seperti ayah.”
Arya tersenyum bangga.
“Kalau begitu, jadilah dokter yang lebih baik dari ayah.”
Dinda berkata pelan,
“Aku juga ingin membantu orang seperti ibu.”
Arga mengangkat tangan.
“Aku juga!”
Rumah itu penuh tawa malam itu.
Tidak ada yang tahu betapa berharganya momen sederhana itu.

Lalu tahun 2020 datang.
Dunia berubah.
Virus Corona Covid-19
yang tidak terlihat mulai mengambil banyak nyawa.
Rumah sakit menjadi medan perang.

Dokter dan perawat bekerja siang malam.
Arya termasuk di garis depan.
Laras sebenarnya takut.
Sangat takut.
Namun ia juga tahu siapa suaminya.

“Janji pulang,” kata Laras suatu malam sebelum Arya berangkat.
Arya memegang tangannya.
“Aku akan selalu berusaha.”
Hari-hari menjadi berat.
Pasien terus berdatangan.
Tangis keluarga terdengar hampir setiap hari.

Dan suatu malam, Arya mulai batuk.
Awalnya ia mengabaikan.
Namun beberapa hari kemudian, demam datang.
Tes dilakukan.
Hasilnya positif.
Laras merasa dunia berhenti berputar.
Arya harus dirawat di rumah sakit yang sama tempat ia bekerja.

Tempat ia menyelamatkan begitu banyak nyawa.
Kini ia menjadi pasien.
Anak-anak tidak bisa menjenguk.
Mereka hanya bisa melihat ayah melalui layar video.
“Ayah cepat sembuh ya,” kata Arga sambil menahan tangis.

Arya tersenyum meski wajahnya lemah.
“Tentu. Ayah kuat.”
Namun tubuh manusia punya batas.
Dan suatu pagi yang sunyi, monitor jantung Arya berhenti berdetak.

Dokter yang mencoba menyelamatkannya adalah murid-muridnya sendiri.
Di luar ruangan, Laras menangis tanpa suara.
Air mata yang tidak pernah ia biarkan jatuh selama bertahun-tahun akhirnya mengalir deras.

Pemakaman berlangsung sederhana.
Karena pandemi.
Tidak banyak orang yang bisa datang.
Namun cinta yang ditinggalkan Arya jauh lebih besar dari jumlah orang yang hadir.

Di rumah, Laras harus belajar menjadi kuat.
Untuk tiga anaknya.

Tahun-tahun kembali berjalan.
Raka belajar keras.
Dinda tidak pernah berhenti membantu orang.
Arga tumbuh dengan semangat yang sama seperti ayahnya.
Dan suatu hari, Laras duduk di aula universitas.
Matanya berkaca-kaca.
Di panggung, tiga nama dipanggil.

Dr. Raka Aryaputra.
Dr. Dinda Aryasari.
Dr. Arga Aryaditya.

Ketiganya resmi menjadi dokter.
Seperti ayah mereka.
Seperti mimpi kecil yang dulu pernah mereka ucapkan di meja makan.
Laras menatap langit.
Air mata jatuh lagi.
Namun kali ini bukan hanya karena kehilangan.
Melainkan juga karena kebanggaan.

Di antara air mata itu, ia hampir bisa mendengar suara Arya.
“Lihat, Laras… kita berhasil.”

Dan di antara kenangan, tawa, dan doa yang tidak pernah berhenti, cinta mereka tetap hidup.
Bukan lagi hanya di dua hati.
Tetapi di tiga dokter muda yang kelak akan menyelamatkan banyak kehidupan.
Seperti ayah mereka dulu.

http://www.kris.or.id I http://www.adharta.com