Langkah Robert di Kota Tanpa Tidur

Cerpen nomor 0078

Oleh: Adharta
Ketua umum
KRIS

Minggu ketiga Mei 2026

Buat sahabatku Robert.

Langit Jakarta sore itu tampak kelabu, seolah ikut merasakan beban di dada Robert.

Robert berdiri di halte bus, memegang map lusuh berisi ijazah dan beberapa lembar CV yang sudah berkali-kali ditolak. Hari itu, penolakan ke-17. “Maaf, kami akan hubungi jika ada peluang,” kata HRD tadi siang. Kalimat yang sudah terlalu sering ia dengar, hingga terasa seperti gema yang tak berujung.

Robert baru saja lulus dari sebuah universitas swasta di Jakarta. Bukan kampus ternama, tapi ia lulus dengan kerja keras. Robert anak pertama dari tiga bersaudara, dari keluarga sederhana di kota kecil di Jawa Barat. Ayahnya sakit-sakitan, ibunya membuka warung kecil di rumah. Harapan keluarga bertumpu padanya. Namun Jakarta tidak pernah mudah.

Di sebuah kamar kos sempit wilayah Grogol Jakarta barat Berukuran 3×3 meter, Robert menatap layar ponselnya. Pesan dari ibunya masuk.

“Robert, adikmu butuh biaya sekolah bulan ini. Ayah juga harus kontrol lagi. Kalau bisa kirim ya, Nak.”

Robert menutup mata. Dadanya sesak. Ia belum punya pekerjaan. Dalam hidupnya, ada dua perempuan yang diam-diam mengisi ruang hatinya.

Yang pertama adalah Clara. Teman kuliah, cantik, pintar, berasal dari keluarga berada. Mereka sering belajar bersama. Clara selalu percaya pada Robert.

“Lu pasti bisa, Rob. Lu itu pekerja keras,” katanya suatu malam di perpustakaan kampus. Robert hanya tersenyum waktu itu. Tapi di dalam hati, ia tahu jarak mereka terlalu jauh. Clara hidup di dunia yang berbeda.

Yang kedua adalah Maya. Tetangga kosnya. Sederhana, hangat, dan penuh perhatian. Maya bekerja sebagai kasir di minimarket jalan Muwardi Raya dekat kos mereka. “Udah makan belum?” tanya Maya hampir setiap malam.

Pertanyaan sederhana yang terasa sangat berarti bagi Robert. Suatu malam, saat hujan turun deras, Robert duduk di depan kos, memandangi jalan yang basah. Maya datang membawa dua gelas mie instan. “Gue tahu lu belum makan,” katanya sambil duduk di samping Robert. Robert tertawa kecil. “Lu cenayang ya?” Maya tersenyum.

“Bukan. Tapi gue ngerti.”

Untuk pertama kalinya, Robert merasa tidak sendirian.

Beberapa hari kemudian, Clara menghubunginya. “Rob, besok ada job fair besar. Gue bisa masukin nama lu buat prioritas interview,” katanya lewat telepon.

Hati Robert berdebar. “Serius, Clara?”

“Iya. Tapi lu harus datang pagi.”

Keesokan harinya, Robert datang dengan harapan besar. Ia mengenakan satu-satunya kemeja rapi yang ia punya. Di sana, ia bertemu Clara. Namun, saat melihat Clara turun dari mobil mewah bersama seorang pria yang kemudian diperkenalkan sebagai tunangannya hati Robert terasa teriris. “Ini Kevin,” kata Clara. Robert tersenyum, menahan sesuatu yang sulit dijelaskan. Saat itu, ia sadar. Cintanya pada Clara harus berhenti. Interview berjalan cukup baik.

Untuk pertama kalinya, Robert merasa ada peluang. Namun hidup tidak berhenti memberi ujian. Saat kembali ke kos, ia melihat Maya sedang menangis. “Kenapa?” tanya Robert panik.

“Gue dipecat… katanya toko mau efisiensi,” jawab Maya dengan suara gemetar. Robert terdiam.

Dua orang yang sama-sama berjuang, kini sama-sama kehilangan arah. Malam itu mereka duduk bersama dalam diam. Hanya suara kipas angin tua yang berputar pelan.

“Rob,” kata Maya pelan, “lu pernah capek nggak?”

Robert tersenyum pahit. “Setiap hari.” “Tapi lu masih berdiri.” “Karena gue nggak punya pilihan.”

Maya menatapnya. Ada sesuatu di matanya sesuatu yang selama ini tak terucap. Hari demi hari berlalu. Uang Robert semakin menipis. Ia mulai makan sekali sehari. Bahkan kadang hanya minum air untuk menahan lapar.

Suatu malam, Robert menerima telepon dari rumah. Ayahnya masuk rumah sakit. Robert gemetar. Ia tidak punya uang. Di titik itu, ia hampir menyerah. Ia duduk di lantai kamarnya, menunduk, air mata jatuh tanpa suara.

“Tuhan… aku sudah berusaha…”

Pintu diketuk. Maya masuk, membawa amplop kecil. “Ini tabungan gue,” katanya. Robert kaget. “Gue nggak bisa nerima ini.”

“Lu harus,” jawab Maya tegas. “Keluarga lu butuh.”

Air mata Robert jatuh lagi kali ini bukan karena putus asa, tapi karena rasa terharu yang dalam.

Dua minggu kemudian, teleponnya berdering dari nomor tak dikenal. “Selamat, Saudara Robert. Anda diterima bekerja di perusahaan kami.”

Robert terdiam. Seperti tidak percaya.

“Benar, Pak?” “Iya. Anda mulai minggu depan.” Dunia seolah berhenti sesaat. Kemudian, air mata itu kembali jatuh. Namun kali ini, air mata kebahagiaan.

Hari pertama kerja, Robert berdiri di depan gedung tinggi di Jakarta. Ia mengenakan kemeja baru hadiah dari Maya. Ia menarik napas dalam. Semua perjuangan, semua air mata, semua rasa sakit tidak sia-sia. Beberapa bulan kemudian, kehidupan mulai berubah. Ia bisa mengirim uang ke rumah.

Ayahnya mulai pulih. Adiknya kembali sekolah.

Suatu sore, Robert duduk di taman kota bersama Maya.

“Lu ingat waktu kita makan indomie bareng?” tanya Robert.

Maya tertawa kecil. “Gimana gue lupa.”

Robert menatapnya dalam. “Gue nggak akan sampai di sini tanpa lu.”

Maya terdiam. “Dan… gue nggak mau jalan sendiri lagi,” lanjut Robert. Maya tersenyum. Air matanya jatuh pelan.

“Gue juga, Rob.” Di kejauhan, langit Jakarta mulai berwarna jingga. Untuk pertama kalinya, kota ini tidak terasa kejam. Karena di balik kerasnya kehidupan, selalu ada harapan.

Dan Robert telah membuktikannya bahwa perjuangan, cinta, dan air mata… pada akhirnya akan menemukan jalannya

Www.kris.ir.id

Leave a Reply