Archive for December, 2013

Awan

Awan buat kita sebagai tanda-tanda akan hujan, tetapi bagi seorang pelaut dipakai sebagai pertanda badai dan angin serta cuaca buruk.

awan-putihSungguh suatu kenikmatan tersendiri kalau ada sinar matahari panas, lalu ada awan yang seakan-akan memayungi kita. Bagi seorang pemain golf, maka hal ini akan terasa sekali manfaatnya. Walau ada kemungkinan datangnya hujan, tapi paling tidak sekarang terasa nyaman. Saya dalam penerbangan ke Surabaya. Dari ketinggian 41.000 kaki dari permukaan laut saya sudah berada di atas strastofir, di mana suhu udara -50 derajat celcius dan tekanan mendekati 0. Dari atas saya memandang ke bawah dan memberikan perenungan. Awan buat kita sebagai tanda-tanda akan hujan, tetapi bagi seorang pelaut dipakai sebagai pertanda badai dan angin serta cuaca buruk.
Dahulu kala semasa kami kanak-kanak, jika ada gerhana matahari, dengan mitos bahwa matahari ditelan oleh raksasa, maka anak-anak dikumpulkan, lalu kita mengambil kaleng atau ember seng dan memukulnya secara ramai-ramai dengan harapan sang raksasa takut, lalu memuntahkan mataharinya lagi. Hal yang sama jika ada gerhana bulan, tetapi sungguh indah karena di sana ada kerukunan, kebersamaan dan kedamaian, juga persahabatan.
Ada permainan khusus untuk orang muda atau yang masih bujang saat gerhana matahari, maka masing-masing, baik sang pria dan wanita menunjuk kelompok awan, lalu bergerombol. Ada kepercayaan bahwa bila memilih sesama kelompok awan itu ada perjodohan dan bisa dilanjutkan ke jenjang pacaran atau perkawinan, karena awan dipakai sebagai pertanda cinta yang diberikan kepada manusia. Tradisi ini sekarang sudah punah. Bahkan orang tidak lagi memperhatikan gerhana matahari atau bulan dan awan sebagai simbol.
Ayah saya bercerita pada jaman beliau muda. Ayah saya ini meninggal di usia 95 tahun dan hari ini anak cucu akan memperingati 1000 hari meninggalnya di Kota Surabaya. Kata beliau yang banyak pengalaman di laut bahwa tanda arah biasa dengan rasi bintang, tetapi tanda cuaca selalu dipakai awan. Awan putih kelabu dan hitam serta jenis dan bentuknya akan menentukan arah angin, keadaan cuaca, badai topan, hujan dan lainnya. Jadi, awan sebagai tanda-tanda sangat berguna. Sekarang para pelaut sudah pakai radar, gps, navtex dan peralatan canggih lainnya.
Dalam kehidupan kita, suka-duka sering dilambangkan sebagai awan. Kalau lagi mendung, maka awan sedang menggelapi kehidupan seseorang, tetapi sesungguhnya awan sedang memberi arahan bagaimana menempuh hidup yang sebenarnya, bukan menyusahkan kita karena sesungguhnya hati kita sendiri yang menyusahkan kita sendiri.
Seorang ibu pernah curhat ke saya, bahwa hidupnya sedang gelap ditutup awan dan tidak terlihat lagi cahaya sedikit pun. Suami lari dengan perempuan lain, sementara dua anaknya nakal sekali. Dia cari pekerjaan susah. Entah kenapa awan hitam ini tidak mau menyingkir dari kehidupannya.
Saya katakan sesungguhnya ibu harus berbahagia : “Pertama, karena ibu lebih baik dari suami ibu. Kedua, Ibu lebih baik dari anak-anak.” Apalagi ada pepatah kuno mengatakan “Barang siapa lebih baik dari saudaranya, sebenarnya dia ditakdirkan harus melindungi kekurangan saudaranya”.
Jadi, sebenarnya ibu sedang diberi tanggung jawab besar untuk melindungi, menjaga dan memperhatikan suami dan anak-anak, hingga suatu saat nanti ibu dan keluarga bisa melihat cahaya matahari bersama, mendung itu tak selamanya kelabu. Jadi, tibalah saatnya kita dipandu oleh awan dan kita bisa membaca ke mana kita harus pergi.
Terima kasih Tuhan. Semoga kami semua bisa membaca tanda-tanda yang Allah berikan kepada kami untuk menuju ke kehidupan yang lebih berbahagia dan lebih sejahtera. Salam dan doa.

Advertisements

Traktir

Siapa yang ditraktir, memiliki hutang, tetapi siapa yang mentraktir memiliki tabungan (Adh)

TOA Wireless AmplifierPerjalanan selalu memberikan kisah tersendiri. Saya suka sekali dengan almarhum ayah saya. Katanya kalau kamu lagi sedih terbanglah, tetapi kalau kamu lagi sial beruntun sebranglah lautan. Kalau ingn bertambah rejeki merantaulah. Apa yang saya dengar sebenarnya sudah sering didengar dari buku, cerita atau kisah-kisah secara lisan, tetapi karena itu disampaikan langsung oleh almarhum ayahanda saya, maka tentu saja selalu terngiang dan teringat selalu.
Hari ini saya terbang dari Surabaya ke Jakarta menikmati dinner bersama di atas pesawat baru dengan hiburan music. Waktu terbang dibuat panjang agar kita santai tidak buru- buru. Saya teringat beberapa bulan lalu saya juga mendapat undangan yang sama menikmati dinner di atas pesawat juga dari jurusan Surabaya ke Jakarta. Saat itu pemilik pesawat bercerita bahwa dahulu dia sering ditraktir orang karena bertugas sebagai pelayan jasa, tetapi kalau saya urus dokumen beres. Klien saya senang, lalu saya ditraktir. Akhirnya waktu berjalan terus dan saya berhutang banyak. Sekarang tiba saatnya saya yang traktir, karena sebenarnya kalau kita ditraktir artinya kita hutang, tapi kalau kita mentraktir kita punya tabungan. Seluruh tamu tertawa dan saya tersenyum karena ungkapan itu baru saya sampaikan ke beliau beberapa waktu yang lalu.
Ditraktir artinya kita menikmati sesuatu secara cuma cuma atau gratis, misalnya makan, minum, entertainment, nonton apa saja. Sampai teman-teman saya bilang makanan yang paling enak itu makanan “gratis”. Lucu juga, tapi saya bilang ada yang lebih enak makanannya. Apakah itu? Itu makanan sudah gratis masih bungkus bawa pulang pula. Sekarang tinggal kita sehari-hari membuka mata kita.
Siapa yang menjaga saat kita tidur? Apakah kita bayar? Setiap hari kita bernafas. Semuanya apakah bayar? Tidak semuanya gratis pakai bungkus lagi. Coba saja anda rasakan bagaimana produksi vitamin, anti body, dan daya tahan tubuh kita? Semuanya kita dikasih gratis. Artinya kita ditraktir dan sebenarnya kita berhutang, tetapi kepada siapa?
Di sini ada suatu benang merah antara traktir-mentraktir dan hutang. Sebenarnya agak aneh juga kalau ditraktir terus berhutang, tapi kenyataannya begitu. Kalau kita buat pesta kawin atau pesta apa saja, maka jangan lupa setiap pemberian kepada kita harus kita catat sebab suatu saat juga kita harus membalasnya.
Semoga kita tetap ingat akan pemberian Tuhan, maka kita ingat kita memiliki kewajiban membalas kebaikkan-Nya. Tuhan memberkati. Salam dan doa.