Archive for September, 2013

Tantangan (2)

Bagaimana merubah tantangan menjadi peluang (Ciputra)

tantanganPagi sekali saya bagun waktu masih menunjukkan pukul 3 pagi. Saya harus jalan menuju bukit pelangi untuk bermain golf jam 06.00. Perjalanan akan ditempuh satu setengah jam kalau tidak macet. Rasa kantuk harus dilawan. Masih untung saya tidak mengendarai sendiri tapi ada sopir. Kebiasaan saya jarang tidur di mobil karena hobi membaca susah dihilangkan. Jadi, di mobil pasti ada buku untuk dibaca apalagi kalau buku itu menarik.

Saya membuka buku karangan Ir. Ciputra soal bagaimana merubah tantangan menjadi peluang sangat menarik. Karena kita hampir setiap hari mendapat tantangan. Setelah membaca beberapa saat saya tidak bisa melanjutkan karena mengantuk. Jadi saya tidur-tidur ayam, tetapi dalam lamunan saya jadi berpikir juga bagaimana merubah tantangan menjadi peluang. Saya punya sahabat karib beliau orang Aceh, dan saya selalu ingat apa yang beliau katakan : “Peluang buat tantangan tetapi tantangan buat uang “. Saya rasa kedua statement yang dibuat oleh teman saya Bapak Wahab dan Ir. Ciputra ada hubungannya.

Sekarang saya dalam perjalanan menuju Surabaya. Saya terbang sore hari. Saya teringat masalah buku Pak Ciputra yang belum saya ceritakan habis saat di Lapangan Golf Bukit Pelangi cuma sebagai referensi.

Tantangan bisa bermacam-macam. Ada tantangan yang datang dengan sendirinya. Ada tantangan yang dibuat dan ada tantangan yang muncul saat kita ingin melakukan sesuatu, tetapi ada dasar tantangan yang berdasarkan probability atau kemungkinan seperti halnya berjudi.

Waktu main golf juga demikian, kalau golf tanpa tantangan bukan namanya golf jadi saat saya main golf saya selalu teringat teori bagaimana mengubah tantangan menjadi peluang. Suatu sore, seorang sahabat wanita saya mengirim bbm. Singkat saja bahwa beliau ingin mencari tantangan, saya sungguh terkejut karena sebagian besar orang terutama yang bukan entrepreneur, lebih suka menghindar atau tidak mau mencari masalah apalagi tantangan, tetapi secara jujur saya suka dengan pribadi orang yang ingin mencari tantangan.

Sebenarnya secara alamiah Tantangan itu berbanding lurus dengan talenta. Semakin besar talenta yang kita terima semakin besar tantangan yang akan kita hadapi. Sebaliknya semakin besar tantangan yang kita hadapi artinya sebenarnya kita juga semakin diberkati. Jadi kalau ada dorongan hati ingin membuka suatu tantangan, maka otomatis terbuka juga peluang untuk dirinya.

Ada kisah seorang penjual sapu lidi di sebuah desa. Setiap hari dia memotong daun kelapa dan membuat sapu lidi. Dari hari ke hari kerja itu saja, sampai sampah daun kelapa di belakang rumahnya menggunung, dan dia ingin membersihkan sampah dan membuangnya, tetapi karena cukup berat terpaksa dia mengupah orang untuk membuang sampah, tetapi tidak ada seorangpun yang mau dengan upah yang murah. Akhirnya si tukang sapu berpikir bahwa tidak jalan lain dia harus kerjakan sendiri, supaya muatan sepedanya banyak dia mengikatnya, menyusunnya lalu menaruh di sepedanya dan mengayuhnya ke luar desa untuk dibuang. Saat mendekati batas desa banyak orang datang mengerumuninya dan ingin membeli daun kelapanya. Para gembala yang ingin membangun kandang-kandangnya. Para nelayan ingin membuat gubug. Para petani buat rumah sawah. Mereka semua berebutan. Tukang sapu lidi kewalahan untuk menjual daun kelapa sampai lupa jual sapu lidi. Ia pun menjadi orang kaya di desa itu, tetapi dalam hati dia berpikir, mengapa saya bisa menjadi orang kaya, tetapi saya tidak berani menerima tantangan. Dia mulai merekrut orang upahan untuk bekerja. Ada yang bikin sapu lidi, ada yang bikin lidi sate dan ada yang bikin atap rumah. Dia pun membeli kebun kelapa dan juga menjual buah kelapa, sampai akhirnya si tukang sapu lidi yang masih muda menjadi pengekspor kopra dan minyak goreng terbesar bukan hanya di desanya tapi di seluruh negeri.
Ternyata tantangan membuka peluang. Keterpaksaan dalam suatu kondisi, kepepet, terpojok harus memaksa kerja keras ternyata tantangan ini membuka peluang seseorang untuk menjadi orang besar.

Saya bertanya apakah saya mau membuka peluang atau saya mau menerima tantangan, ataukah saya mau mencoba merubah tantangan menjadi peluang, seperti tulisan Bapak Ir. Ciputra?
Saya juga berpikir bahwa sebenarnya tantangan itu sendiri bagian dari peluang. Siapa berani melewatinya dia akan mendapatkannya. Sebaliknya seberapa besar pun talenta seseorang atau sepintar apapun atau serajin apapun, tetapi kalau tidak berani melewati suatu tantangan sama halnya dia berjalan di tempat dan tidak akan maju.

Mari kita berdoa agar Tuhan selain memberi talenta kepada kita juga memberikan keberanian buat kita untuk mendayagunakan talenta yang kita terima terutama mengatasi tantangan yang kita hadapi. Salam dan doa.

Advertisements

Mpek mpek

Ingat Mpek mpek pasti ingat Palembang
Ingat Palembang artinya ada kerinduan
Dan kerinduan adalah bagian dari pengharapan
Dan pengharapan itu dalah bagian dari Karya Keselamatan.

tumblr_lfbk2p5Ges1qd0bc5o1_500Sungguh suatu kebahagiaan bagi kita masih bisa menikmati makanan khas Palembang yang dibuat dari ikan tengiri dan tepung, juga dari Jambi dan Bangka yang masing masing memiiki ciri khas tersendiri. Sore ini saya menikmati mpek mpek goreng dibawa anak saya dari Jambi. Justru saat makan ini terus melayang kenangan masa lalu karena hampir 6 bulan saya tinggal di Jambi, karena ada sebuah kapal saya naik dok dan perbaikan di sana. Hampir tiap hari kami makan mpek mpek karena murah bisa bikin sendiri. Ikan dan udang tinggal serok saja dari sungai.

Pada suatu pertemuan masyarakat Palembang di Jakarta, saya lupa tahun berapa. mereka membuat misa yang dipimpin seorang pastor di sebuah rumah umat yang cukup besar. Hadir hampir 100 orang. Sebelum misa seorang bapak mendekati saya. Dia memperkenalkan diri sebagai kepala Sekolah Xaverius di Palembang dan beliau minta saya berbicara sedikit setelah misa. Sebagai motivasi para orang atau umat Palembang yang di Jakarta, ternyata akhirnya saya bicara dalam konteks Liturgi setelah khotbah. Saya mengambil cuplikan pembicaraan saya waktu itu :

“Sebagai umat Katolik, kita harus memiliki Iman, Pengharapan dan Kasih dimana pun dan kapan pun kita bekerja dan berkarya apapun. Daripadanya itu KASIH adalah yang utama. Iman dan Kasih saya rasa bagian dari khotbah Pastor, karena saya kurang mengerti, tetapi di sini saya mau bicara tentang pengharapan. Salah satu bagian dan tidak bisa dipisahkan dari Pengharapan adalah Kerinduan. Apa bila kita rindu apa saja, rindu orang tua, rindu kekasih, rindu rumah, rindu tanah kelahiran Palembang ini adalah bagian dari Pengharapan. Jadi kalau bagian dari Pengharapan artinya tidak terlepas dari Iman dan Kasih.”

Belum saya lanjut saya bicara, para hadirin bertepuk tangan. Tetapi saya menyelak agar jangan tepuk tangan dalam misa nanti dimarahi sama Rm. Magnis, SJ.

Saya lanjutkan : “Sekarang tentu kita rindu Mpek mpek. Semua hadirin tersenyum karena memang tuan rumah sudah sedia Mpek mpek. Rindu akan makanan tempat kelahiran, adalah juga merupakan karya keselamatan. Apa hubungannya? Siapa yang punya hati merindu pasti orangnya bersifat sosial dan suka menyumbang!” Karena saat saya bicara umat berbisik-bisik tentang kerinduan. Rindu akan tanah kelahiran. Umat sudah mulai berisik. Mereka mendengung bahwa mereka sudah rindu makan mpek mpek. Saya terpaksa berhenti bicara karena waktu diberikan kepada saya sudah lewat beberapa menit.
Lalu misa lanjut dan ditutup, tetapi bapak yang tadi, minta saya bicara lagi karena banyak yang masih mau dengar suara saya. Saya mau menolak kurang enak, tapi saya terima tawaran. Pertanyaan pertama dari nyonya rumah, bagaimana saya tahu bahwa akan dihidangkan Mpek mpek? Lalu, saya katakan bahwa saya juga rindu Mpek mpek karena kata-kata yang saya keluarkan adalah ekspresi hati dan kerinduan hati saya. Semua hadirin tertawa ceria dan bertepuk tangan. Apa hubungan Mpek mpek dan karya keselamatan lalu saya katakan :
Ingat Mpek mpek pasti ingat Palembang
Ingat Palembang artinya ada kerinduan
Dan kerinduan adalah bagian dari Pengharapan
Dan Pengharapan itu dalah bagian dari karya Keselamatan.

Gara-gara khotbah Mpek mpek malam itu menghasillkan cukup lumayan sumbangan. Inilah Karya Keselamatan Nyata (KKN) yang disampaikan oleh umat Palembang di Jakarta. Saya berasal dari Alor jauh sekali dimana disana tidak ada Mpek mpek, yang ada cuma Jagung Titi.

Semoga Tuhan memberkati kita semua dalam tangan kasih-Ny saat kita saling melepas rindu.
Karena rindu akan TUHAN adalah Pengharapan yang paling indah. Salam dan doa.

Tulang punggung

Menjadi tulang punggung suatu keluarga sama saja dengan turut menyelamatkan dunia (Douglas Mac Arthur)

51timedouglasmacarthurSesaat setelah selesai perang dunia kedua hampir seluruh negara asia mengalami nasib tidak tentu. Ketidakpastian ini diakibatkan karena terpecah-belahnya keluarga-keluarga dimana suami dan istri berpisah, ayah dan anak, kekasih dan kekasih lalu sahabat dengan sahabat. Di saat demikian tentu saja negara pun mengalami kendala yang sama. Jendral Mac Arthur sebagai panglima tertinggi angkatan darat Amerika yang ditugaskan menerima serah terima kekalahan Jepang di Asia Pacifik ikut prihatin sehingga dia mengajak seluruh bangsa Jepang dan bangsa-bangsa di Asia Timur Raya untuk bangkit membangun bangsa dan negara dengan semboyan SAAT MATAHARI TERBIT atau HINODE JIKOKU yang mana saat itu terutama bangsa Jepang sangat terpuruk.
Hingga kini bangsa Jepang sangat menghargai dan menghormati Mac Arthur karena jasanya membangun kembali bangsa Jepang, sehingga kini menjadi bangsa yang sangat kuat baik sosial maupun ekonomi. Mac Arthur sangat menekankan keutuhan keluarga. Kata beliau kalau ada keluarga yang terpecah atau berantakan sama saja keluarga ini ikut menghancurkan bangsa. Tentu saja dorongan dan motivasi ini membuat seluruh bangsa Jepang mencari keluarga dan disini keluarga dijadikan tulang punggung negara. Menjadi tulang punggung suatu keluarga sama saja dengan turut menyelamatkan dunia. Douglas Mac Arthur sangat religious. Di dalam pekerjaannya keluar dari Amerika dia selalu ingat keluarganya. Dalam setiap kesempatan dia selalu mengajak anak istrinya untuk ikut memikirkan dunia, salah satu DOA yang sangat terkenal di dunia ditulis oleh Mac Arthur buat anaknya sbb :

Tuhanku…
Bentuklah puteraku menjadi manusia yang cukup kuat untuk mengetahui kelemahannya.
Dan, berani menghadapi dirinya sendiri saat dalam ketakutan.
Manusia yang sabar dan tabah dalam kekalahan.
Tetap jujur dan rendah hati dalam kemenangan.

Bentuklah puteraku menjadi manusia yang berhasrat mewujudkan cita-citanya
dan tidak hanya tenggelam dalam angan-angannya saja.
Seorang Putera yang sadar bahwa
mengenal Engkau dan dirinya sendiri adalah landasan segala ilmu pengetahuan.

Tuhanku…
Aku mohon, janganlah pimpin puteraku di jalan yang mudah dan lunak.
Namun, tuntunlah dia di jalan yang penuh hambatan dan godaan juga kesulitan dan tantangan.
Biarkan puteraku belajar untuk tetap berdiri di tengah badai,
dan senantiasa belajar untuk mengasihi mereka yang tidak berdaya.

Ajarilah dia berhati tulus dan bercita-cita tinggi,
sanggup memimpin dirinya sendiri,
sebelum mempunyai kesempatan untuk memimpin orang lain.

Berikanlah hamba seorang putra yang mengerti makna tawa ceria
tanpa melupakan makna tangis duka.
Putera yang berhasrat untuk menggapai masa depan yang cerah
namun tak pernah melupakan masa lampau.

Dan, setelah semua menjadi miliknya…
Berikan dia cukup rasa humor
sehingga ia dapat bersikap sungguh-sungguh
namun tetap mampu menikmati hidupnya.

Tuhanku…
Berilah ia kerendahan hati…
Agar ia ingat akan kesederhanaan dan keagungan yang hakiki…
Pada sumber kearifan, kelemahlembutan, dan kekuatan yang sempurna…

Dan, pada akhirnya bila semua itu terwujud,
saya sebagai hamba Tuhan
dengan berani berkata “hidupku tidaklah sia-sia”
dan berani menjadi tulang punggung keluargaku,
Menjadi tulang punggung bangsa dan negaraku
Douglas Mac Arthur

Doa diatas saya terjemahkan dari Doa aslinya dalam bahasa Inggris.

Teks ASLI

A Father’s Prayer

by General Douglas MacArthur

Build me a son, O Lord, who will be strong enough
To know when he is weak and brave enough to face himself when he is afraid.
One who will be proud and unbending in honest defeat,
And humble, and gentle in victory.

Build me a son whose wishes will not take the place of deeds;
A son who will know Thee and that to know himself is the foundation stone of knowledge.
Lead him, I pray, not in the path of ease and comfort,
but under the stress and spur of difficulties and challenge.
Here, let him learn to stand up in the storm, here let him learn compassion for those that fail.

Build me a son whose heart will be clear, whose goal will be high,
a son who will master himself before he seeks to master other men,
one who will reach into the future, yet never forget the past.

And after all these things are his, add, I pray, enough of a sense of humor,
so that he may always be serious, yet never take himself too seriously.
Give him humility,
so that he may always remember the simplicity of true greatness, the open mind of true wisdom, and the meekness of true strength.

Then I, his father, will dare to whisper,
“I have not lived in vain.”
be the pillar of family and the country

Douglas Mac Arthur adalah seorang yang sungguh patut kita ikuti, di mana menempatkan KELUARGA sebagai tulang punggung bangsa dan negara, juga Gereja, sehingga dimata Tuhan memang kita benar-benar bisa membentuk suatu kekuatan yang dimulai dengan KELUARGA. Saya sangat setuju sekali jika ini diberlakukan bagi petinggi dan penguasa Gereja kita. KELUARGA adalah prioritas utama dan bagi keluarga yang juga menjadi tulang punggung gereja berkewajiban menjaganya karena memperkuat KELUARGA sama dengan memperkuat GEREJA dan sebaliknya.

Semoga Tuhan memberkati kita semua terutama DOA saya buat keluarga-keluarga sehingga semua bisa menjadi kuat terlindungi dan menjadi tulang punggung bangsa dan negara juga gereja. Mari kita berjuang. Salam dan doa.

Lidah

Memang lidah tak bertulang tak terbatas kata-kata… Tinggi gunung seribu janji,
lain di bibir lain di hati… ♫ ♪ ♫

??????????????????????Demikian cuplikan lagu yang indah merayu. Sesungguhnya kita manusia diberikan berkat besar oleh Tuhan dengan adanya lidah kita yang bisa berkata-kata, namun kata-kata yang keluar dari kita bisa membuat kita bahagia tetapi juga bisa menjadi jurang yang mencelakakan kita. Seperti yang kita dengar bahwa apa yang masuk ke dalam diri kita selalu baik, tetapi lebih berbahaya apa yang keluar dari diri atau mulut kita. Saya pernah mendengar khotbah AA Gym, beliau mengatakan bahwa kata-kata kita ibarat teko air, jika diisi dengan air hangat di campur teh atau kopi maka kita semua akan bisa menikmatinya, tetapi kalau isinya air kotor kita semua akan mencacinya.
Seorang sahabat menjumpai saya. Dalam perbincangannya kelihatan dia sangat kecewa dalam kehidupan ini karena lebih sering mendapat hal-hal yang merugikan dia, termasuk janji-janji orang yang tidak dipenuhi, ditipu dan lain sebagainya. Dia pun melantunkan sebuah lagu “Memang lidah tak bertulang tak terbatas kata-kata… Tinggi gunung seribu janji, lain di bibir lain di hati… ♫ ♪ ♫” Demikian cuplikan lagu yang sering kita dengar.
Saya tertawa karena dalam hati mungkin dia menyindir saya, karena saya pernah mengingkari janji dan berbohong, tetapi dia melanjuti ceritanya panjang lebar dan saya hanya mendengarkannya saja. Teman saya ini seorang Katolik dari keluarga Katolik. Ia menikah dengan seorang gadis muslim dan dengan cara muslim lalu beralih agama menjadi Islam. Perkawinan selama 3 tahun ini sudah menghasilkan seorang putri cantik, tetapi karena sesuatu dan lain hal istrinya harus ikut orang lain dan mereka bercerai. Anak semata wayang ini ikut dengan beliau.
Sebenarnya saya dengan Andi, sebut saja namanya, belum berkenalan lama tetapi dia mencurahkan cerita ini kepada saya, dan saya merasa ada sesuatu yang bisa saya berikan kepadanya jadi saya ikut berpikir.
Anak semata wayang ini tentu menjadi suatu ikatan batin yang kuat tetapi ternyata tidak sama sekali, karena janji janji tidak pernah terpenuhi, seperti lidah memang tak bertulang. Kini Andi ingin kembali menjadi Katolik, tetapi sedang ikut belajar agama karena sebentar lagi akan ikut Krisma di Gereja Bekasi.
Saya tidak bisa mengetahui secara pasti, tetapi menurut saya ada suatu kesenjangan komunikasi dalam kehidupan Andi. Saya hanya bisa bilang bahwa ini merupakan suatu dinamika kehidupan dan Tuhan memberikan tanggung jawab supaya Andi lebih kuat.
Kita kembali kepermasalahan kata-kata yang dikeluarkan oleh setiap manusia. Memang berbicara sangat mudah. Tetapi bagi orang beriman kita mengharapkan agar berhati-hati sebelum mengeluarkan kata-kata karena bisa menjadi senjata yang mencelakai kita sendiri. Kepada seluruh karyawan juga anak-anak saya sering saya sampaikan agar sangat berhati-hati sebelum mengeluarkan kata-kata baik berbentuk lisan maupun tulisan. Sebab demikian kita keluarkan kata-kata, maka kita sudah harus menerima segala risiko apa yang akan terjadi dengan apa yang kita keluarkan dan kadang kalau sangat mencederai orang dan diri kita sendiri.
Kita bisa melihat dan mencontohi orang-orang yang baik dimana semua kata kata yang keluar dari mulutnya selalu dingin dan penuh damai. Kita selalu merasa kita kita berucap kata baik, tetapi orang yang mendengar seperti petir di telinganya seperti bentakan-bentakan dan bahkan seperti racun yang dioleskan dibibir. Di sini memang kita harus belajar menempatkan diri. Hal yang sama bagi suami istri dan keluarga. Di mana cara-cara berkata yang keluar perlu untuk kita jaga walau istri atau suami kita sudah menyatu sepeti satu tubuh, tapi sering saya berumpama bahwa lidah dan gigi sudah sekian lama bersama, tetapi sering saling menggigit bahkan sampai luka. Hati yang bersih menghasilkan kata-kata yang bersih tetapi walau hati bersih tetapi kalau dikeluarkan tidak pada saat dan waktu yang tepat justru bisa mengotorkan dan bahkan mencelakakan.
Ada kisah saat kakak perempuan saya sedang sakit keras. Seorang kawan saya, Pendeta adanya, membawa doa tetapi dia mengharapkan agar supaya penderitaannya tidak berkepanjangan lebih baik Tuhan segera memanggilnya atau mencabut saja nyawanya. Doa yang sangat baik ini tidak diterima oleh keluarga dan sebagian keluarga sangat marah, karena semua berdoa mengharapkan mujizat Tuhan untuk kesembuhan dan berjuang supaya melalui Doa agar diberikan kesembuhan. Demikian juga semua tim medis, dokter, suster dan semua mengharapkan kesembuhan walaupun kakak saya itu menderita, tetapi kita semua tetap mengharapkan kesembuhan. Lantaran doa yang indah yang disampaikan kawan pendeta tersebut memicu kemarahan dan kebencian dan bahkan sangat mengotori hati keluarga, padahal maksud dan tujuannya sangat baik dan indah, sayang dikeluarkan ditempat dan saat yang kurang tepat.
Saya sendiri sering mengalamai kesulitan terutama dalam hal memberikan saran-saran atau nasihat nasihat terutama bagi anak-anak muda. Dalam pertemuan singkat dengan kelompok anak muda KKMK di rumah saya beberapa pekan lalu, ada sekitar dua puluhan anggota KKMK (Komunitas Karyawan Muda Katolik). Mereka beranjangsana kepada saya dan kami bertukar pikiran sambil saya memberikan saran-saran. Saya katakan bahwa bagaimanapun juga KKMK harus mempunyai karasteristik Katolik. Simbol kekatolikan menjadi dasar pemikiran utama, jadi di sana keunikan dan harus memberikan manfaat kegunaan dan manfaat kebaikan bagi seluruh anggota. Sehingga siapa saja menjadi anggota KKMK akan merasakan bahwa dia mendapat manfaat dan kegunaan atau sebaliknya tiada guna atau sia – sia. Saya juga sampaikan bahwa dalam gerak kehidupan terutama anak muda, selain memberi dan menerima (taking and giving) mereka juga harus bisa mencuri (stealing) karena dengan mencuri, dalam arti positif, maka perhatian akan diperolehnya. Ada yang bercanda mengatakan bahwa KKMK- Kesana Kemari Mencari Kekasih – sungguh indah dan baik sekali. Dalam kesempatan ini saya juga mengharapkan bahwa melalui KKMK, mereka bisa memberikan banyak sumbangan bagi perubahan dunia.
Profil BBM saya pagi ini : Kehidupan itu seperti ibarat sekelompok orang, rame-rame berjalan menuju ke sebuah pesta, mereka sudah bersuka cita sebelum sampai saatnya. Apalagi bisa saling bergandeng tangan dalam Kasih Tuhan. Di sini kita banyak belajar bahwa kalau semuanya dalam Kasih dan Cinta Tuhan sejelek atau seburuk apapun kata-kata yang keluar akan menjadi indah karena kedekatan dan kebaikan ada di sana, tetapi jika tidak maka sebaik apapun kata-kata yang keluar dan seindah apapun akan menjadi seperti racun atau cacian. Tuhan memberkati dan menjaga kita semua terutama dalam tutur kata. Salam dan Doa.