Perjuangan seorang Ibu

Cerpen no 0041

Oleh: Adharta
Ketua Umum
KRIS

Namanya Merry. Nama yang sederhana, namun hidupnya jauh dari kata ceria.

Sejak kecil, Merry sudah belajar arti kehilangan. Ia bukan yatim piatu sejak lahir, tetapi keadaan membuatnya tumbuh tanpa sapaan dan pelukan orang tua.

Orang tuanya tinggal di Indramayu, hidup sederhana sebagai buruh tani, dan karena keterbatasan ekonomi, Merry kecil tinggal bersama sebuah keluarga di Bandung. Mereka adalah Bapak Alfons dan Ibu Risma. Pasangan itu tidak memiliki anak.

Rumah mereka tidak besar, tetapi hangat. Sejak hari pertama, Merry tidak pernah diperlakukan sebagai orang asing. Ia dipanggil “Nak”, disuapi ketika sakit, dipeluk ketika menangis.

Dalam hati kecilnya, Merry merasa di sinilah rumahnya.

Tahun-tahun berlalu. Merry tumbuh menjadi gadis pendiam namun rajin. Ia menyelesaikan sekolahnya dengan baik hingga tamat SMA. Ia bermimpi sederhana: bekerja, membantu orang tua angkatnya, dan suatu hari merawat mereka di masa tua. Namun hidup tidak selalu ramah pada mereka yang tulus.

Setelah kelulusan SMA Merry, rumah itu mulai sering didatangi kerabat.

Wajah-wajah yang sebelumnya jarang terlihat, kini datang silih berganti. Senyum mereka manis, tetapi kata-katanya menusuk.

Bisikan mulai terdengar. Tentang harta. Tentang warisan. Tentang darah dan bukan darah. Merry mendengar semuanya, meski tidak pernah diajak bicara langsung.

“Dia bukan anak kandung.” “Nanti semua harta jatuh ke dia.” “Lebih baik dia pergi.”

Setiap kata itu seperti pisau kecil yang ditancapkan perlahan ke dadanya. Bapak Alfons dan Ibu Risma tidak pernah mengatakan apa pun secara langsung. Mereka hanya semakin sering terdiam.

Ibu Risma sering menangis diam-diam di dapur. Bapak Alfons semakin banyak melamun di teras. Mereka sudah tua. Mereka lelah melawan. Suatu malam, Merry memberanikan diri bicara.

“Pak… Bu… kalau Merry harus pergi, Merry akan pergi.”

Ibu Risma langsung menangis tersedu. Tangannya gemetar memeluk Merry. “Maafkan Ibu, Nak… Ibu lemah…” Bapak Alfons hanya menunduk. Air matanya jatuh satu per satu ke lantai. Malam itu, Merry membereskan pakaiannya dengan tangan gemetar.

Tidak banyak yang ia bawa. Hanya pakaian seadanya dan sebuah tas kecil. Tidak ada uang, tidak ada tujuan, hanya luka di hati.

Saat melangkah keluar rumah itu, Merry menoleh sekali lagi.

“Maafkan Merry, Pak… Bu… Merry akan selalu mendoakan kalian…”

Langkahnya terasa berat, seakan separuh jiwanya tertinggal di rumah itu. Dengan tabungan yang nyaris tidak ada, Merry akhirnya masuk ke barak penampungan calon TKI.

Ia tidak bermimpi besar. Ia hanya ingin bertahan hidup. Di sana, ia bertemu Pak Harto lelaki berusia 55 tahun. Orang sekampung dari Indramayu. Wajahnya lelah, rambutnya memutih, namun matanya lembut. Ia sudah lama sendiri, mengelola usaha kecil penyaluran calon TKW. Dalam keterasingan, dua manusia yang sama-sama terluka menemukan sandaran. Merry tahu, menerima pinangan Pak Harto bukan karena cinta seperti di cerita-cerita indah.

Tapi di kampung, usia delapan belas tahun tanpa menikah dianggap aib. Dan hidup sendirian lebih menakutkan daripada menikah dengan lelaki yang baik namun jauh lebih tua.

Mereka menikah dengan sederhana. Tanpa gaun putih. Tanpa pesta. Tanpa restu orang tua. Tiga tahun berlalu. Dua anak perempuan lahir dari rahim Merry. Anak-anak itu menjadi cahaya kecil di tengah hidupnya yang gelap.

Namun kebahagiaan itu rapuh. Pak Harto mulai sering sakit. Batuknya tidak kunjung sembuh. Napasnya pendek. Tubuhnya semakin kurus. Usaha mereka pun menurun drastis. Rumah kontrakan semakin terasa sesak oleh kecemasan. Biaya rumah sakit menguras semua yang mereka miliki.

Suatu malam, di ruang rawat yang sunyi, Pak Harto menggenggam tangan Merry. “Maafkan Bapak… Bapak tidak bisa meninggalkan apa-apa…”

Merry menangis tersedu, menahan jerit yang ingin keluar. “Bapak jangan pergi… anak-anak butuh Bapak…”

Namun takdir tidak mendengar doa orang miskin. Pak Harto meninggal di usia 60 tahun, karena kanker paru-paru.

Dunia Merry runtuh dalam sekejap. Ia kini seorang janda muda dengan dua anak kecil, tanpa harta, tanpa sandaran. Usaha bangkrut. Rumah kontrakan harus ditinggalkan.

Ia pulang ke Indramayu, berharap menemukan orang tuanya. Tetapi yang ia temukan hanya kabar duka. Kedua orang tuanya telah meninggal karena wabah Covid-19. Di atas tanah kuburan, Merry jatuh terduduk. Tangisnya pecah. Tidak ada lagi tempat pulang. Tidak ada lagi orang tua. Tidak ada siapa-siapa. Hidup di kampung sangat berat.

Mencari pekerjaan hampir mustahil. Setiap malam, Merry memeluk anak-anaknya sambil menahan tangis.

“Apa Ibu salah membawa kalian ke dunia ini?” bisiknya dalam hati.

Ia tahu, Bandung memberi peluang lebih besar. Dengan hati yang hancur, ia kembali ke kota itu. Dengan bantuan kenalan TKW, ia berhasil menitipkan kedua anaknya di Panti Asuhan Sindanglaya.

Hari pertama meninggalkan anak-anaknya adalah hari paling menyakitkan dalam hidupnya. Anak sulungnya memeluk kakinya, menangis histeris. “Ibu jangan pergi…”

Merry hampir pingsan menahan sakit di dada.

Namun ia tahu, ini satu-satunya jalan. Ia berangkat ke Tawau, Malaysia, menjadi TKW. Di negeri orang, ia bekerja di supermarket penampungan sambil menunggu panggilan kerja.

Setiap malam, ia menangis dalam sunyi, memeluk baju anak-anaknya yang ia bawa. Akhirnya, ia diterima bekerja sebagai pengantar barang logistik di Kota Kinabalu. Gajinya lumayan, tetapi jam kerjanya kejam, 20 jam sehari. Tubuhnya hancur. Kakinya bengkak. Kepalanya pusing. Hatinya kosong. Ia jatuh sakit berat.

Dengan tubuh yang hampir menyerah, Merry memutuskan pulang ke Bandung.

Ia membuka warung kecil, warteg sederhana. Hidup pas-pasan, tapi hatinya sedikit lebih tenang karena bisa sesekali menjenguk anak-anaknya di panti asuhan. Setiap kali melihat mereka tertawa, air matanya selalu jatuh.

Hidupnya sunyi. Tidak ada pasangan. Tidak ada keluarga. Hanya doa dan harapan.

Namun Merry percaya satu hal: Tuhan tidak menciptakan seseorang untuk hidup sendirian selamanya.

Ia terus berjuang. Terus mencari penghidupan yang lebih layak. Terus berdiri meski sering jatuh. Karena ia tahu, selama napas masih ada, harapan tidak akan pernah benar-benar mati.

Dan perjuangan Merry… belum berakhir.

http://www.kris.or.id

Kota yang Tak Pernah Menunggu

Cerpen no 0040
Oleh: Adharta Ketua Umum KRIS

Awal Januari 2026

Sebuah perjuangan hidup

Namanya Pandi. Seorang pemuda dari Kalimantan Barat, lahir di rumah kayu sederhana yang setiap sore dipeluk suara adzan dan desir angin sungai.

Pandi bukan anak orang berada. Ayahnya buruh, ibunya perempuan tabah yang selalu menunggu di beranda dengan doa yang tak pernah putus.

Sejak SMA, Pandi tahu satu hal: hidup tidak akan memberinya jalan lurus.

Setelah tamat SMA, dengan ijazah lusuh dan mimpi yang masih polos, Pandi bermigrasi ke Jakarta. Baginya, kota itu seperti janji berkilau, keras, dan tak pernah peduli siapa yang datang dengan harapan atau luka.

Pandi diterima di sebuah universitas. Jurusan Teknik Sipil adalah cita-cita yang ia simpan sejak kecil. Membayangkan suatu hari bisa membangun jembatan agar orang-orang tak perlu lagi menyeberang sungai dengan perahu rapuh seperti di kampungnya.

Pagi kuliah, malam kerja. Begitulah hidupnya bertahun-tahun. Siang ia duduk di bangku kelas, mencatat rumus, menggambar struktur. Malam ia berubah menjadi apa saja yang bisa menghasilkan uang: pernah narik taksi, jual beli motor, jadi makelar rumah, hingga jualan makanan online dengan ponsel tua yang layarnya retak.

Pandi tidak memilih pekerjaan. Ia hanya memilih bertahan. Namun mimpi itu perlahan retak. Saat sampai di tingkat sarjana muda, biaya kuliah menghantamnya tanpa ampun. Pandi mencoba bertahan, mengajukan beasiswa ke tujuh universitas. Satu per satu penolakan datang. Tidak ada yang mau menolong pemuda pendiam dengan mata lelah itu.

Akhirnya Pandi menyerah bukan karena malas, tapi karena tak punya pilihan.

Pandi memutuskan bekerja penuh, mengumpulkan uang, berharap suatu hari bisa kembali kuliah.

Tapi Jakarta tidak ramah pada orang yang berharap. Pandi mencoba menjadi caddy golf di lapangan golf Rawamangun.

Tiga tahun. Pandi berjalan kaki di bawah matahari, mengangkat tas golf mahal, mendengar tawa orang-orang kaya. Tujuannya sederhana mendekati para bos, siapa tahu ada rezeki, ada jodoh pekerjaan. Ironisnya, Pandi sendiri pemain golf, single handicap.

Tapi pengetahuan dan kemampuan tak pernah cukup tanpa koneksi. Lapangan golf mahal hanya menerima caddy perempuan. Ia melamar jadi Caddy Master, tapi kalah oleh persaingan yang kejam. Ia pindah menjadi calo rumah dan mobil bekas.

Untung pekerjaan ada, tapi biaya operasional tinggi, permainan licik, dan hati kecilnya mulai menolak.

Pandi sebenarnya pandai mengaji. Ia mencoba menjadi guru agama. Bertahan setahun. Tapi jiwanya tidak tenang. Bukan karena mengajar itu salah, melainkan karena ia tahu, hatinya dipenuhi kegelisahan yang belum selesai.

Lalu ia membuka usaha tambal ban mobil. Hasilnya lumayan karena dibantu penyebar paku di jalanan. Tapi setiap malam setelah mengaji, dadanya sesak. Rezeki ini tidak halal, bisik hatinya. Akhirnya Pandi berhenti kerja tambal ban dengan intrik mencabut paku yang tertancap di ban, lalu bagi hasil sama mafia jalanan yang menebar paku-paku tajam. Tanpa sadar, 10 tahun berlalu di Jakarta. Usianya kini lebih dari 30 tahun.

Teman-temannya sudah menikah, punya rumah, punya gelar. Sedangkan Pandi maju salah, mundur lebih salah. Ia mencoba jadi sopir truk. Tubuhnya tak sanggup karena beratnya pekerjaan 24 jam nonstop. Akhirnya Pandi mencoba menjadi sopir pribadi. Setiap hari Pandi mengendarai mobil mewah yang bukan miliknya.

Tangannya memegang setir mahal, tapi hidupnya tetap di tempat.

Cita-cita menjadi sarjana teknik sipil telah runtuh. Hampir 10 tahun Pandi menjadi sopir pribadi walaupun ganti majikan, ganti alamat, tapi nasibnya tak pernah berubah.

Malam hari, saat Jakarta terlelap, ia masih berjuang. Ia menjadi guru les online, membantu mahasiswa. Bahkan menjadi joki skripsi, selama itu halal.

Empat tahun lalu, ayahnya meninggal dunia. Pandi tidak sempat menemani di detik terakhirnya. Ia hanya bisa menangis di kamar sempit Jakarta, menggenggam ponsel yang bergetar membawa kabar duka.

Sejak itu, satu tekadnya tak berubah: mengirim uang untuk ibunda tercinta. Ia menunda bahagia. Menunda jodoh. Menunda kenyamanan hidupnya sendiri.

Cinta? Ia sudah lupa rasanya dicintai. Sepanjang hidupnya, Pandi belum pernah hidup senang. Tak pernah punya rumah sendiri. Tak pernah liburan. Tak pernah merasa aman. Ironisnya, Pandi setiap hari mengendarai mobil orang kaya mobil yang harganya setara puluhan tahun hidupnya.

Di dalam mobil, saat menunggu majikan, Pandi sering menunduk. Butiran air matanya jatuh diam-diam. Bukan karena iri. Tapi karena lelah menjadi kuat sendirian. Ia bertanya pada Tuhan: “Apakah salah aku bermimpi?”

Dan Tuhan menjawab dengan diam. Diam yang panjang. Namun Pandi tetap hidup. Tetap bekerja. Tetap mengaji. Tetap mengirim uang ke kampung. Karena mungkin, kehidupan bukan tentang menang, melainkan tentang tidak menyerah, meski kalah berkali-kali. Dan terus bertahan selama napas masih ada,

Pandi pemuda dari Kalimantan Barat akan terus berjalan, meski jalannya basah oleh air mata.

http://www.kris.or.id | http://www.adharta.com

Mereka yang Tinggal di Balik Pintu

Cerpen no 0039

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Awal Januari 2026

Di rumah-rumah besar, selalu ada pintu yang jarang dibuka.
Bukan pintu utama dengan lampu kristal dan karpet mahal, melainkan pintu kecil di belakang
menuju dapur, gudang, atau kamar sempit tanpa jendela.

Di sanalah mereka tinggal: para asisten rumah tangga.

Mereka yang setiap hari melihat kehidupan orang lain berjalan rapi, sementara hidupnya sendiri nyaris tak terlihat.

Mengawali tahun baru 2026
Saya bersama sama teman teman menonton sebuah film bagus di Taman Anggrek XXI
Dengan judul film
The Housemaid

Film ini memberikan inspirasi buat Saya menulis kisah pendek Pembantu Rumah Tangga atau ART

Millie adalah salah satunya ART di Jakarta

Ia datang ke rumah Andrew dan Nina dengan harapan sederhana
bekerja dengan jujur, dibayar layak, dan hidup sedikit lebih aman dari masa lalunya yang berantakan.
Ia tidak meminta kemewahan.
Ia hanya ingin dihargai sebagai manusia.

Rumah itu indah. Terlalu indah.
Dinding putih bersih, lukisan mahal, dan aroma kopi yang selalu hangat.

Namun Millie segera belajar satu hal
rumah bisa tampak sempurna dari luar,
tapi retak di dalamnya.

Nina, sang nyonya rumah, adalah perempuan yang rapuh sekaligus menakutkan. Senyumnya bisa berubah menjadi kemarahan dalam hitungan detik. Perintahnya sering tak masuk akal.
Kesalahan kecil dibesar besarkan. Kadang kata-kata tajam dilemparkan seperti pisau.

“ART itu harus tahu posisinya,” kata Nina suatu hari.

Millie tahu kalimat itu. Ia diwariskan dari generasi ke generasi.
Ibunya dulu juga ART.
Neneknya juga ART
Seolah menjadi pembantu adalah takdir yang tak boleh banyak bertanya.

Andrew berbeda.
Ia jarang bicara, tapi sopan.
Ia tahu ada yang salah, namun memilih diam.
Dan diam, Millie pelajari, sering kali adalah bentuk kekuasaan yang paling kejam.

Hari-hari Millie dipenuhi kerja tanpa jam yang jelas.
Bangun paling pagi, tidur paling akhir.

Jika ia sakit, dianggap malas. Jika ia lelah, dianggap tidak bersyukur.
Ia tinggal di kamar kecil di lantai atas
cukup untuk tubuhnya, tapi tidak untuk mimpinya.

Sebagai ART, Millie hidup di wilayah abu-abu bukan keluarga, bukan pula pekerja sepenuhnya.
Ia ada, tapi tidak dihitung.
Sampai suatu malam, pintu kamarnya dikunci dari luar.
Dalam gelap dan sunyi, Millie menangis.
Bukan karena sakit hati semata, melainkan karena sadar: jika ia terus diam, ia akan menghilang.

Seperti ibunya. Seperti ribuan ART lain yang bekerja seumur hidup tanpa perlindungan, tanpa suara, tanpa masa depan.

Di situlah keberanian kecil lahir.
Bukan keberanian untuk melawan dengan amarah, tetapi keberanian untuk mengakui bahwa dirinya berharga.

Millie mulai mencatat. Menyimpan bukti. Mencari bantuan. Ia menemukan komunitas ART
perempuan dan laki-laki yang selama ini dianggap rendah, tapi ternyata memiliki solidaritas tinggi dan pengetahuan tentang hak-hak mereka.

Ia belajar bahwa bekerja di rumah orang lain tidak berarti kehilangan hak sebagai manusia. Ia belajar tentang kontrak kerja, jam istirahat, upah layak, dan pentingnya pendidikan keterampilan.

Ketika akhirnya kebenaran terungkap dan ia meninggalkan rumah itu, Millie tidak pergi dengan kemenangan besar.
Ia pergi dengan luka
namun juga dengan kesadaran baru.
Bahwa nasib ART tidak harus selalu tragis.

Cerita Millie adalah cerita jutaan orang di Indonesia.
Mereka yang menjaga anak-anak kita, membersihkan rumah kita, memasak makanan kita
namun sering tidak mendapat jaminan kesehatan, jam kerja manusiawi, atau rasa aman. Padahal tanpa mereka, banyak rumah tangga kelas menengah dan atas tak akan berjalan.
Meningkatkan standar hidup ART bukanlah soal belas kasihan.
Itu soal keadilan.
Dimulai dari hal-hal sederhana

Kontrak kerja yang jelas dan adil
Jam kerja dan hari libur yang manusiawi
Upah layak dan tepat waktu
Akses pendidikan dan pelatihan keterampilan
Perlindungan hukum dari kekerasan dan eksploitasi
Lebih dari itu, perubahan dimulai dari cara pandang.

Melihat ART bukan sebagai “pembantu”, melainkan pekerja rumah tangga profesional.

Beberapa tahun setelah keluar dari rumah Andrew dan Nina, Millie kini bekerja sebagai pengelola rumah tangga di beberapa rumah. Ia dipercaya, dihargai, dan dilibatkan. Ia menabung. Ia bermimpi. Ia hidup.

Sesekali, ia berbicara di forum kecil. Suaranya tenang, matanya jernih.
“Kami tidak minta diperlakukan istimewa,” katanya.
“Kami hanya ingin diperlakukan setara.”

Di balik pintu-pintu kecil rumah besar, masih banyak Millie lain.
Tapi selama masih ada yang berani membuka pintu itu
dan mengajak kita semua melihat ke dalam
harapan tidak pernah benar-benar padam.
Karena martabat manusia tidak ditentukan oleh di mana ia bekerja,
melainkan oleh bagaimana ia dihargai.

Akhir tahun 2025 menyambut tahun 2026
Kisah inspirasi film
The housemaid
Bisa ditonton bagus narasinya

Tahun 2026
Mungkin kita bisa memberikan perhatian sedikit kepada para ART

Www.kris.or.id
Www.adharta.com

Kota yang Tak Pernah Menunggu

Kota yang Tak Pernah Menunggu

Cerpen no 0040

Oleh : Adharta
Ketua umum
KRIS

Awal Januari 2026

Sebuah perjuangan hidup

Namanya Pandi.
Seorang pemuda dari Kalimantan Barat, lahir dari rumah kayu sederhana yang setiap sore dipeluk suara adzan dan desir angin sungai.

Pandi bukan anak orang berada.
Ayahnya buruh, ibunya perempuan tabah yang selalu menunggu di beranda dengan doa yang tak pernah putus.

Sejak SMA, Pandi tahu satu hal
hidup tidak akan memberinya jalan lurus.

Setelah tamat SMA, dengan ijazah lusuh dan mimpi yang masih polos, Pandi bermigrasi ke Jakarta.
Kota itu baginya seperti janji
berkilau, keras, dan tak pernah peduli siapa yang datang dengan harapan atau luka.

Pandi diterima di sebuah universitas. Jurusan Teknik Sipil
cita-cita yang ia simpan sejak kecil, membayangkan suatu hari bisa membangun jembatan agar orang-orang tak perlu lagi menyeberang sungai dengan perahu rapuh seperti di kampungnya.

Pagi kuliah, malam kerja.
Begitulah hidupnya bertahun-tahun.
Siang ia duduk di bangku kelas, mencatat rumus, menggambar struktur.
Malam ia berubah menjadi apa saja yang bisa menghasilkan uang:
pernah narik taksi,
jual beli motor,
jadi makelar rumah,
hingga jualan makanan online dengan ponsel tua yang layarnya retak.

Pandi tidak memilih pekerjaan.
Ia hanya memilih bertahan.
Namun mimpi itu perlahan retak.

Saat sampai di tingkat sarjana muda, biaya kuliah menghantamnya tanpa ampun. Pandi mencoba bertahan, mengajukan beasiswa ke tujuh universitas. Satu per satu penolakan datang.
Tidak ada yang mau menolong pemuda pendiam dengan mata lelah itu.

Akhirnya Pandi menyerah
bukan karena malas, tapi karena tak punya pilihan.

Pandi memutuskan bekerja penuh, mengumpulkan uang, berharap suatu hari bisa kembali kuliah.

Tapi Jakarta tidak ramah pada orang yang berharap.

Panfi mencoba menjadi caddy golf di laapngam Golf Rawamangun.

Tiga tahun.
Pandi berjalan kaki di bawah matahari, mengangkat tas golf mahal, mendengar tawa orang-orang kaya.
Tujuannya sederhana mendekati para bos, siapa tahu ada rezeki, ada jodoh pekerjaan.
Ironisnya,
Pandi sendiri pemain golf, single handicap.

Tapi pengetahuan dan kemampuan tak pernah cukup tanpa koneksi.
Lapangan golf mahal hanya menerima caddy perempuan.
Ia melamar jadi Caddy Master,

tapi kalah oleh persaingan yang kejam.
Ia pindah menjadi calo rumah dan mobil bekas.

Untung pekerjaan ada, tapi biaya operasional tinggi, permainan licik, dan hati kecilnya mulai menolak.

Pandi sebenarnya pandai mengaji.
Ia mencoba menjadi guru agama.
Bertahan setahun.
Tapi jiwanya tidak tenang. Bukan karena mengajar itu salah melainkan karena ia tahu, hatinya dipenuhi kegelisahan yang belum selesai.

Lalu ia membuka usaha tambal ban mobil.
Hasilnya lumayan
karena dibantu penyebar paku di jalanan.
Tapi setiap malam setelah mengaji, dadanya sesak.

Rezeki ini tidak halal, bisik hatinya.
Akhirnya Pandi
berhenti kerja tambal ban dengan intrik lepas paku lalu bagi hasil sama Mafia jalanan tersebut
Tanpa sadar,
10 tahun berlalu di Jakarta.
Usianya kini lebih dari 30 tahun.

Teman-temannya sudah menikah, punya rumah, punya gelar.
Sedangkan Pandi
maju salah, mundur lebih salah.
Ia mencoba jadi sopir truk. Tubuhnya tak sanggup karena beratnya pekerjaan 24 jam non stop

Akhirnya Pandi mencoba menjadi sopir pribadi.
Setiap hari Pandi mengendarai mobil mewah
yang bukan miliknya.

Tangannya memegang setir mahal, tapi hidupnya tetap di tempat.

Cita-cita menjadi sarjana teknik sipil telah runtuh.
Hampir 10 tahun Pandi menjadi sopir pribadi walaupun
Ganti majikan, ganti alamat, ganti nasib
yang tak pernah berubah.

Malam hari, saat Jakarta terlelap, ia masih berjuang.
Ia menjadi guru les online, membantu mahasiswa.
Bahkan menjadi joki skripsi, selama itu halal.

Empat tahun lalu, ayahnya meninggal dunia.
Pandi tidak sempat menemani di detik terakhir.
Ia hanya bisa menangis di kamar sempit Jakarta, menggenggam ponsel yang bergetar membawa kabar duka.

Sejak itu, satu tekadnya tak berubah:
mengirim uang untuk ibunda tercinta.
Ia menunda bahagia.
Menunda jodoh.
Menunda hidupnya sendiri.

Cinta?
Ia sudah lupa rasanya dicintai.
Sepanjang hidupnya, Pandi belum pernah hidup senang.
Tak pernah punya rumah sendiri.
Tak pernah liburan.
Tak pernah merasa aman.
Ironisnya,
Pandi setiap hari mengendarai mobil orang kaya
mobil yang harganya setara puluhan tahun hidupnya.

Di dalam mobil, saat menunggu majikan, Pandi sering menunduk.
Menangis
Air matanya jatuh diam-diam.
Bukan karena iri.
Tapi karena lelah menjadi kuat sendirian.
Ia bertanya pada Tuhan:
“Apakah salah aku bermimpi?”

Dan Tuhan menjawab dengan diam
diam yang panjang.
Namun Pandi tetap hidup.

Tetap bekerja.
Tetap mengaji.
Tetap mengirim uang ke kampung.
Karena mungkin, kehidupan bukan tentang menang,
melainkan tentang tidak menyerah meski kalah berkali-kali.
Dan selama napas masih ada,

Pandi
pemuda dari Kalimantan Barat
akan terus berjalan,
meski jalannya basah oleh air mata.

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Detik Terakhir Tahun dalam Cinta

Cerpen no 0038

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Desember akhir 2025

Kota
Jakarta malam itu tidak tidur.
Lampu-lampu gedung menjelma menjadi bintang bintang di bumi, jalanan berkilau oleh pantulan hujan sore, dan udara akhir tahun membawa aroma rindu yang manis.

Di antara hiruk-pikuk kota yang biasanya tergesa, malam itu waktu seakan melambat
memberi ruang bagi cinta untuk bernapas.

Di sebuah rumah sederhana di kawasan Jakarta Selatan, tawa mengalir seperti alunan musik. Bukan tawa yang dibuat-buat, melainkan tawa yang lahir dari rasa aman, dari hati yang diterima apa adanya.
Arga duduk di anak tangga teras, memegang secangkir teh hangat.
Matanya menatap langit Jakarta yang sesekali disinari kilatan kembang api dari kejauhan.
Di balik kebisingan kota, ada satu nama yang berulang kali bergetar di dadanya:
Nara.

“Arga, jangan melamun.
Nara sudah datang,” suara ibunya terdengar lembut.
Arga berdiri. Jantungnya berdegup seperti genderang kecil yang bersemangat menyambut pergantian tahun.

Nara melangkah masuk dengan senyum yang selalu berhasil membuat Jakarta terasa lebih ramah. Jaket tipis membalut tubuhnya, rambutnya tergerai, dan matanya memantulkan cahaya kebahagiaan yang jujur.

“Hai,” ucap Nara.
“Hai,” jawab Arga, disertai senyum yang tak bisa ia sembunyikan.
Kedua keluarga telah berkumpul di ruang tamu. Ayah Arga dan ayah Nara berbincang akrab tentang Jakarta tempo dulu
tentang bus kota, tentang hujan yang selalu datang tiba-tiba, tentang mimpi-mimpi yang tumbuh di tengah beton.

Ibu-ibu tertawa kecil, sesekali saling menyodorkan kue dan cerita masa muda.
Tak ada sekat.

Tak ada rasa canggung.
Hanya kehangatan yang mengalir begitu saja.
Meja makan dipenuhi hidangan sederhana, tetapi malam itu terasa seperti perjamuan istimewa.
Setiap suapan disertai canda, setiap tawa menjadi doa yang diam-diam dipanjatkan.

Arga dan Nara duduk bersebelahan. Sesekali bahu mereka bersentuhan, dan setiap sentuhan kecil itu terasa seperti janji yang tak terucap.

“Kamu tahu,” bisik Nara sambil tertawa kecil, “aku biasanya tidak suka keramaian Jakarta saat tahun baru.”

“Lalu kenapa sekarang kamu tersenyum terus?” tanya Arga menggoda.

“Karena kali ini Jakarta terasa… rumah,” jawab Nara pelan.

Di luar, suara petasan mulai terdengar lebih sering.
Kota bersiap menyambut waktu yang baru. Namun di dalam rumah itu, kebahagiaan telah lebih dulu hadir.

Menjelang tengah malam, semua berkumpul di halaman. Jakarta berdengung, seperti jantung raksasa yang berdetak penuh harap.
Hitungan mundur dimulai
diselingi tawa, saling goda, dan sorak yang tak sempurna namun tulus.
Sepuluh…
Sembilan…
Delapan…
Arga melirik Nara.
Nara tersenyum, matanya berbinar.
Tiga…
Dua…
Satu…
Horeeeee

Langit Jakarta meledak dalam warna.
Kembang api menari di udara, memantulkan cahaya di wajah-wajah yang bahagia.

Tahun berganti, dan sorak sorai membaur dengan doa-doa yang melayang tanpa suara.

“Selamat tahun baru,” ucap Arga.
“Selamat tahun baru,” balas Nara, tertawa.

Mereka tertawa bersama, tanpa alasan selain rasa senang yang meluap. Tawa remaja yang ringan, tetapi sarat makna.

Tawa yang tidak takut pada masa depan, karena cinta memberi keberanian.
Di antara riuh kembang api, Arga dan Nara duduk kembali di teras.
Angin malam Jakarta menyapa lembut.
Dari kejauhan, klakson mobil bersahutan seperti irama kota yang ikut merayakan.

“Apa harapanmu tahun ini?” tanya Arga.
Nara terdiam sejenak. “Aku ingin tetap sederhana.

Tetap bisa tertawa.
Tetap punya orang-orang yang saling menggenggam, bukan saling menjauh.”

Arga mengangguk. “Aku ingin belajar mencintai dengan benar. Bukan hanya mencintaimu, tapi juga menghargai keluarga, waktu, dan mimpi.”

Di belakang mereka, kedua keluarga masih berbincang hangat.
Ada tawa orang dewasa yang tenang, ada nasihat yang disampaikan tanpa menggurui. Harmoni itu terasa nyata
seperti pelukan panjang yang melindungi dua hati muda yang sedang belajar mencinta.

Malam semakin larut, tetapi kebahagiaan tidak ingin segera pulang.
Ketika akhirnya Nara harus kembali, mereka berdiri di depan rumah.
Lampu jalan Jakarta menyinari wajah mereka dengan cahaya kuning keemasan.

“Terima kasih untuk malam ini,” kata Nara.

“Terima kasih sudah membuat akhir tahunku sempurna,” jawab Arga.

Tak ada janji besar.
Tak ada kata berlebihan.
Hanya senyum, dan keyakinan bahwa cinta yang sederhana sering kali adalah yang paling jujur.

Nara melangkah pergi.
Arga menatap punggungnya hingga menghilang di tikungan jalan.
Ia kembali memandang langit Jakarta
kembang api telah reda, tetapi hatinya masih penuh cahaya.
Di kota yang tak pernah benar-benar diam ini, cinta remaja tumbuh dengan caranya sendiri.

Di antara tawa dan canda, di bawah restu keluarga yang harmonis, cinta itu menjadi harapan.
Harapan bahwa kebahagiaan bukan sekadar impian.

Harapan bahwa cinta penuh suka cita akan selalu menemukan jalannya.
Dan di setiap akhir tahun, Jakarta akan selalu menjadi saksi:
bahwa cinta
sekecil apa pun
layak dirayakan.

Selamat tahun baru 2026

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Yogyakarta Kota untuk pulang Bukan kota untuk pergi

Yogyakarta
Kota untuk pulang
Bukan kota untuk pergi

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Cerpen no 0034

JW Marriott
26 Desember 2025

Sebuah istilah yang sangat menarik
Siapapun yang pergi ke Yogyakarta
Dia akan merasa Pulang

Nah itulah arti sedikit tentang Yogyakarta
Home City

Saya meluncur Kota Yogyakarta betul betul. Merasa pulang karena serasa kota kedua saya
Begitu banyak sahabat
Dan yang paling terkesan adalah makanan
Setelah tiba di stasiun Gambir disambut Pimpinan Stasiun Bapak Burhan
Kami menikmati rehat di VIP Barat bersama bapak Budi Hidayat dan Mama Hian dan Ibu Lena
Ada pak Zeno
Kami di hantar ke atas Kereta Api Argo Dwipangga Luxurious
Menuju Yogya
Sesampai di Yogya sempat mengunjungi sahabat Suster Francine SM GSGM yang sedang sakit
Hujan besar mengguyur kami sehingga membuat kampung tengah (perut protes)
Akhirnya kami menuju Gudeg Sagan milik Sahabat KRIS
Menikmati Gudeg Sagan di sela sela hujan deras memang kenikmatan sendiri

Perjalanan dengan kereta lebih kurang 6 jem menyempat kan saya menulis sebuah Kisah Cinta di tanah Yogyakarta
Home City atau Kota Pulang Rumah

Kisah Cinta Sekar dan Arya
Yogyakarta

Ketika Cinta Belajar Berdiam
Yogyakarta tidak pernah berteriak untuk dicintai.
Ia hanya hadir
tenang, bersahaja, dan sabar
seperti cinta yang matang.

Di kota inilah Arya pertama kali bertemu Sekar.
Pagi itu, udara masih lembap oleh embun yang tertinggal di daun-daun trembesi. Jalanan dekat Tugu belum ramai.

Becak melintas perlahan, seolah enggan mengganggu kesunyian.
Arya berdiri di pinggir jalan, memegang secangkir kopi hitam yang mulai mendingin, matanya memandang lurus ke utara
ke arah Merapi yang samar.

Sekar datang seperti angin pagi.
Tidak tergesa. Tidak mencuri perhatian.
Ia hanya ada.
Gaun putih sederhana, rambut dikuncir rendah, senyum yang tidak dibuat-buat.
Saat matanya bertemu mata Arya, tidak ada percikan berlebihan
hanya rasa hangat, seperti sinar matahari pertama yang menyentuh kulit.

“Yogya selalu begini ya,” kata Sekar pelan.

“Membuat orang ingin diam.”

Arya tersenyum.
“Dan membuat diam terasa cukup.”

Mereka berjalan tanpa tujuan, menyusuri Malioboro yang belum sepenuhnya bangun.

Toko-toko masih menutup pintu, pedagang mengatur dagangan dengan sabar. Kota itu seperti sedang menarik napas panjang sebelum mulai bercerita.

Cinta mereka tumbuh seperti Yogya sendiri
tidak mendadak, tidak memaksa.
Di sebuah angkringan kecil dekat Stasiun Tugu, mereka duduk berdampingan. Teh panas mengepul.
Nasi kucing sederhana terasa istimewa.

Mereka berbicara tentang hal-hal kecil: buku yang disukai, masa kecil, mimpi yang belum tentu tercapai.
Namun di antara kata-kata itu, ada sesuatu yang lebih kuat:
kenyamanan untuk tidak selalu berbicara.

Malam hari, Yogya berubah menjadi puisi.
Lampu-lampu jalan memantul di wajah Sekar.

Arya memperhatikannya diam-diam. Ia menyadari bahwa kecantikan Sekar tidak hanya pada paras, melainkan pada caranya mendengarkan
utuh, tanpa tergesa menyela.

“Kalau suatu hari kamu harus pergi,” kata Sekar lirih, “apa yang akan kamu ingat dari Yogya?”

Arya berpikir sejenak.
“Keheningan yang tidak sepi. Dan seseorang yang membuatku betah di dalamnya.”

Sekar tersenyum. Matanya basah oleh cahaya, bukan oleh air mata.
Hari-hari berlalu seperti alunan gamelan
perlahan, berlapis, penuh makna.

Mereka menyusuri Keraton, melangkah dengan sopan, seakan waktu meminta dihormati.
Di sana Arya belajar bahwa cinta, seperti kepemimpinan Jawa, bukan soal menguasai, melainkan merawat.

Di Taman Sari, mereka berdiri di antara lorong-lorong batu yang pernah menyimpan rahasia.
Sekar menempelkan telapak tangannya ke dinding tua.

“Tempat ini pernah mencintai dan dicintai,” katanya.
“Seperti kita.”

Arya menggenggam tangan Sekar. Hangat.
Tenang.
Nyata.
Sore hari sering mereka habiskan di selatan kota, memandang langit yang berubah warna di Parangtritis.

Angin laut membawa aroma garam dan kenangan.

Ombak tidak pernah berjanji akan tenang, namun selalu kembali ke pantai.
“Cinta itu seperti laut ya,” ucap Sekar.

“Kadang riuh, kadang sunyi. Tapi selalu setia pada garisnya.”

Arya mengangguk.
“Dan Yogya mengajarkan kita untuk tidak takut pada gelombang.”

Malam terakhir sebelum Sekar harus kembali ke kotanya Jakarta, hujan turun perlahan. Mereka berteduh di bawah emperan kecil. Tidak ada pelukan berlebihan, tidak ada drama. Hanya dua jiwa yang saling memahami bahwa keindahan tidak selalu harus dimiliki
kadang cukup dihayati.

“Apa kita akan bertemu lagi?” tanya Sekar.

Arya menatap hujan.
“Yogya tidak pernah benar-benar melepaskan orang yang mencintainya.”

Sekar tersenyum, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Arya.

Dalam diam, kota itu menyimpan janji.
Ketika Sekar pergi, Yogya tetap di tempatnya.
Tenang.
Setia.
Bersahaja.
Namun Arya tahu
seperti cinta yang baik
sesuatu telah berubah di dalam dirinya. Ia belajar bahwa mencintai tidak selalu tentang memiliki, tetapi tentang menjadi ruang pulang.
Dan hingga hari ini, siapa pun yang datang ke Yogyakarta dengan hati terbuka, akan merasakan hal yang sama:
bahwa kota ini bukan sekadar tujuan,
melainkan perasaan.
Terpesona.
Tenang.
Dan ingin tinggal lebih lama
di kota, atau di hati seseorang.

Yogyakarta
Home City
Kota untuk Pulang
Bukan untuk Pergi

Www.kris.or.id
Www.adharta.com

Natal dan Cerita di Tengah Hujan dan Badai

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Cerpen no 0033

Hari yang menegangkan

Natal tahun ini datang dengan cerita yang tak akan mudah kami lupakan.

Anak-anak saya bersepakat membuat acara Natal sederhana di rumah.
Kami memilih potluck setiap orang membawa hidangan, bukan sekadar makanan, tetapi juga kasih dan kebersamaan.

Menjelang sore, rencana kecil pun dibuat: membeli kado Natal untuk anak-anak mantu dan cucu-cucu tercinta.

Mall Central Park dipilih, jaraknya hanya sekitar dua kilometer dari rumah.
Biasanya, perjalanan singkat itu hanya memakan waktu lima belas menit.

Namun malam itu berbeda.
Langit runtuh oleh hujan deras, seakan menumpahkan seluruh isinya. Jalanan lumpuh.

Perjalanan yang biasanya ringan berubah menjadi perjuangan selama dua setengah jam. Lampu rem memerah di mana-mana, klakson bersahut
sahutan, dan jarum jam terus bergerak tanpa belas kasihan.

Waktu menunjukkan pukul 19.30, padahal acara seharusnya dimulai pukul 18.00.
Belanja kado pun dilakukan terburu-buru. Keluar dari area parkir Central Park justru lebih menyiksa
dua jam hanya untuk bergerak beberapa meter. Dalam kepenatan itu, kami mencoba tetap sabar. Natal, bukankah memang tentang menunggu?

Besan saya dan Ola akhirnya turun lebih dulu, mencoba memanggil Gojek motor.

Antrean panjang, lebih dari tiga puluh meter.

Hujan mulai agak mereda juga Tiba-tiba, seorang gadis dengan sepeda motor menghampiri.
Ia menawarkan tumpangan. Karena mengira itu Gojek, besan saya langsung menaikkan Ola cucu saya yang paling kecil, dan beliau duduk di belakang.

Mereka diantar sampai depan rumah.
Saat hendak dibayar, gadis itu tersenyum dan berkata pelan,
“Saya bukan Gojek, ibu tadi Kebetulan lewat saja. Dan lihat Ibu dan asi kecil Ola saya jadi iba dan niat tulus untuk antar larena kalau tunggu belum tentu 1 jam bisa dapat gojek”

Kami semua tertegun.
Jika ini bukan malaikat, lalu harus disebut apa?

Di dunia yang sering terasa keras dan terburu-buru, masih ada kebaikan yang datang tanpa nama dan tanpa pamrih.
Seperti palungan di Betlehem saat semua penginapan penuh, kasih Tuhan menemukan tempatnya di kandang sederhana.

Tanpa kandang itu, bayangkan Sang Bayi harus lahir di tengah jalan, kedinginan, sendirian.
Malam terus berjalan.

Senly dan Elle cucu saya nomor 3 terpaksa turun dari mobil, berjalan kaki hingga Aaprtemen Grand Tropik aamping Ciputra Mall
sebelum akhirnya mendapatkan taksi.

Dea menantu saya menemani Pandu, baru bisa keluar dari Central Park pukul 21.00. Letih, kesel , dan lapar
namun tidak kehilangan harapan.
Walau larut, acara tetap berlangsung. Tukar kado dilakukan dengan tawa yang tulus.

Makan malam dihadiri Pak Lendy, Pak Dwi, pak Bobby, dan Fandy (bukan Kawanua), dan Ibu Monik. Ibu Betsy

Di tengah keterlambatan dan kekacauan, rumah justru terasa penuh. Bukan oleh kesempurnaan, melainkan oleh cinta Kasih bersamw

Natal tahun ini mengajarkan kami: menyambut kelahiran Yesus tidak selalu dalam keadaan ideal.

Ada kekurangan, kelemahan, kesulitan, dan macet yang panjang.
Namun kami percaya, seperti hujan yang akhirnya reda, semua akan berlalu dengan baik.
Besok pagi, saya dan istri, bersama Pak Budi Hidayat dan Ibu Hian, akan berangkat ke Yogyakarta diantar Pak Zeno ke Stasiun Gambir.

Kereta Taksaka Luxurious pukul 08.50 akan membawa kami menghadiri perayaan 55 tahun Wedding Anniversary Bapak Wintaka dan Ibu Aryati di Hotel Marriott Yogyakarta,
27 Desember 2025 malam.

Natal ini mungkin basah dan melelahkan,
tetapi di dalamnya ada senyum, tawa, dan kebaikan kecil
yang membuat iman tetap hangat.

Selamat Natal
Damai sejahtera dan penuh Suka Cita buat semua sahabat

Adharta

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

PESAN NATAL

PESAN NATAL

Oleh : Adharta
Ketua Umum KRIS

Jakarta, 25 Desember 2025

Salam Damai Sejahtera Natal menyertai
Untuk

Sahabat KRIS
Dimanapun Anda berada

Untuk seluruh Anak Bangsa Indonesia

Untuk semua sahabatku di seluruh Dunia

Saudara-saudaraku yang terkasih,

Dan seluruh anak bangsa tanpa memandang latar belakang agama, suku, ras maupun budaya.

Setiap kali Natal tiba, selalu ada pertanyaan yang muncul, khususnya dari mereka yang bukan penganut agama Kristen
Apa arti Natal sesungguhnya?
Pertanyaan ini wajar, bahkan penting. Sebab Natal telah dirayakan lebih dari dua ribu tahun, diteliti oleh para ahli sejarah, dibahas oleh tokoh agama lintas iman, dan dikaji oleh para pemikir dunia. Fakta sejarah mencatat bahwa kelahiran Yesus Kristus bukan sekadar kisah iman, melainkan peristiwa yang nyata dan diakui dalam perjalanan peradaban manusia.

Namun, Natal bukan semata-mata soal tanggal kelahiran, bukan pula hanya tentang pribadi Yesus Kristus sebagai tokoh sejarah.
Natal adalah tentang campur tangan Tuhan Allah sendiri dalam kehidupan manusia.
Natal adalah tanda bahwa Tuhan tidak tinggal jauh di langit, tetapi hadir, menyapa, dan menyentuh dunia dengan kasih-Nya.

Mari kita bersama saksikan

Pertama,
Natal dan Persahabatan.

Natal mengajarkan kita arti persahabatan yang jauh melampaui sekadar perdamaian formal atau hubungan kekeluargaan. Persahabatan sejati adalah kesediaan untuk saling memahami, menghormati perbedaan, dan berjalan bersama meskipun tidak selalu sependapat. Dalam konteks bangsa dan dunia internasional, persahabatan berarti keberanian untuk menempatkan kemanusiaan di atas kepentingan sempit.
Natal mengingatkan kita bahwa persahabatan adalah jembatan yang menghubungkan hati, bukan sekadar kesepakatan politik atau ekonomi.

Persahabatan yang lahir dari semangat Natal mampu meredam kebencian, mencairkan kecurigaan, dan membuka ruang dialog yang tulus.

Kedua,
Natal sebagai Penyelesaian Masalah.
Hampir seluruh dunia hari ini bergumul dengan masalah konflik keluarga, perpecahan sosial, pertikaian antarbangsa, hingga peperangan yang merenggut jutaan nyawa. Natal hadir pada momentum yang sangat tepat. Natal membawa pesan Raja Damai
bukan raja yang berkuasa dengan senjata, melainkan Raja yang memerintah dengan kasih.

Damai yang dibawa Natal bukan damai semu yang menutupi luka, tetapi damai yang berani menyentuh akar persoalan.

Damai dalam keluarga dimulai dari kesediaan saling mengampuni.

Damai antar sahabat lahir dari kejujuran dan kerendahan hati.
Damai antar bangsa tumbuh ketika keadilan ditegakkan dan martabat manusia dihormati.
Natal mengajarkan bahwa setiap perselisihan, seberat apa pun, selalu memiliki jalan penyelesaian ketika kasih dijadikan dasar.

Ketiga,
Natal yang Membangun.

Bangsa Indonesia tidak asing dengan kehancuran.
Kita menyaksikan luka akibat bencana alam di berbagai daerah seperti Sibolga, Tapanuli, Aceh, dan wilayah lainnya.
Rumah hancur, harapan runtuh, dan beban hidup terasa sangat berat.
Natal mengingatkan kita bahwa membangun kembali tidak mungkin dilakukan sendirian.
Beban akan terasa ringan ketika dipikul bersama.
Natal dapat menjadi inisiatif gerakan membangun
Membangun fisik, membangun mental, dan membangun kembali kepercayaan diri mereka yang terluka.

Demikian pula dunia yang porak-poranda akibat perang. Banyak bangsa tidak mampu bangkit sendiri. Natal memanggil kita semua, siapa pun kita, untuk terlibat. Jika tidak dengan tenaga dan materi,
maka dengan doa dan kepedulian.

Sebab doa adalah bentuk solidaritas tertinggi yang melampaui batas negara dan agama.
Mari kita tundukkan kepala dan berdoa sejenak

Keempat,
Natal sebagai Suara Pemersatu Dunia.
Ada yang bertanya bagaimana mungkin hal-hal yang berbeda dapat bersatu?

Minyak dan air, api dan air,
debu dan angin semuanya tampak bertentangan. Namun alam mengajarkan kita bahwa perbedaan justru menciptakan keseimbangan. Air memadamkan api agar tidak membinasakan, angin menggerakkan debu menjadi tanah subur, dan perbedaan unsur membentuk kehidupan.
Natal mengajarkan prinsip yang sama: perbedaan bukan ancaman, melainkan potensi.
Ketika perbedaan dikelola dengan kasih dan kebijaksanaan, dunia menjadi tempat yang lebih indah dan bermakna.

Pandangan saya tentang Natal adalah ini
Natal adalah undangan universal untuk berdamai
dengan diri sendiri, dengan sesama, dan dengan Tuhan. Natal bukan milik satu kelompok, melainkan pesan kasih bagi seluruh umat manusia.

Di tengah dunia yang gaduh oleh kebencian, Natal berbicara dengan suara lembut namun kuat
damai itu adalah Natal sendiri

Akhir kata,
Terimalah salam Damai Sejahtera Natal dari saya.

Kiranya doa Natal mengalir bagi seluruh anggota KRIS, para sahabat, dan dunia, agar semakin mengenal nilai-nilai kemanusiaan yang diperjuangkan KRIS
kasih, persatuan, dan harapan.
Selamat Natal.
Tuhan memberkati kita semua.

Adharta

Memperkenalkan
KRIS
Komunitas
Relawan
Indonesia
Sehat

Www.kriS.or.id

Www.adharta.com

AVATAR The Fire and Ash

AVATAR
The Fire and Ash

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Pandora
Desember 2025

Avatar
Api dan Abu

Api berkata
aku marah
aku luka
aku ingin membakar segalanya
agar rasa sakitku terlihat

Air berkata
aku mengalir
aku menerima
aku menyimpan ingatan
tanpa membencinya

Di antara keduanya
Pandora menangis
bukan karena perang
tetapi karena anak-anaknya
saling melupakan

Api lupa
bahwa ia berasal dari cahaya
Air lupa
bahwa ia juga bisa menenggelamkan
Lalu abu jatuh
sunyi
tidak panas
tidak dingin
Dan dari abu
tumbuh harapan kecil
yang berbisik

Hancur bukan akhir
Duka bukan musuh
Selama kau masih mendengar
aku masih hidup

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

WANITA HEBAT, JEJAK CINTA SEPANJANG ZAMAN

WANITA HEBAT, JEJAK CINTA SEPANJANG ZAMAN

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Desember 2025

CINTA IBU
Ia tidak pernah meminta dunia untuk memujinya. Langkahnya sederhana, suaranya sering tenggelam oleh hiruk-pikuk kehidupan.

Namun di balik kesunyian itu, tersimpan kekuatan yang tak pernah habis. Ibu adalah wanita hebat
bukan karena kecantikannya, bukan pula karena harta atau kepintaran yang dielu-elukan, melainkan karena keteguhan hatinya dalam menjalani hidup.

Sejak fajar menyapa hingga malam menutup hari, wanita hebat berdiri tegak menghadapi masalah yang datang silih berganti. Ia belajar bahwa hidup tak selalu adil, tetapi ia memilih untuk tidak menyerah.

Ketika lelah menghimpit, ia menundukkan kepala dalam doa, percaya bahwa setiap badai pasti berlalu, dan setiap luka akan menemukan sembuhnya.
Ibu
Wanita hebat tidak terlahir kuat
ia ditempa oleh proses. Ia belajar dari jatuh yang berulang, dari air mata yang disembunyikan, dari harapan yang nyaris padam.

Dalam diam, ia melukis kekuatan di kanvas kehidupan, membentuk dirinya menjadi pribadi yang sabar saat tertekan dan tetap tersenyum meski hati menangis.
Ia tahu kapan harus berbicara, dan lebih sering tahu kapan harus diam.
Saat hinaan datang, ia memilih senyap, bukan karena kalah, tetapi karena ia mengerti bahwa harga diri tidak perlu dibela dengan kemarahan. Pesonanya bukan terletak pada penampilan, melainkan pada kemampuannya memaafkan
bahkan ketika luka itu dalam dan menyakitkan.

Ibu
Wanita hebat mampu membalut luka hatinya sendiri. Ia tidak menunggu dunia mengerti penderitaannya. Dengan kesabaran, ia menyembuhkan dirinya, satu hari demi satu hari. Amarah yang membara ia padamkan dengan senyum, dan dendam yang mengintai ia hapuskan dengan maaf.
Ibu memilih damai, karena ia tahu kedamaian adalah bentuk kemenangan tertinggi.

Di dalam dirinya, cinta bersemi tanpa syarat.
Ibu memberi tanpa menghitung, mencintai tanpa menuntut, dan berkorban tanpa mengeluh.
Ibu mungkin tak tercatat dalam buku sejarah, tetapi namanya terukir abadi di hati orang-orang yang pernah disentuh kasihnya
anak-anaknya, keluarganya, dan mereka yang diam-diam ia kuatkan.

Pada Hari ini adalah peringatan hari Ibu
kita menundukkan kepala dengan rasa syukur. Untuk setiap wanita hebat yang telah dan terus berjuang dalam sunyi.

Untuk ibu, istri, anak, dan perempuan di mana pun berada
terima kasih atas cinta yang tak pernah lelah, kesabaran yang tak berbatas, dan keteguhan yang mengajarkan kami arti kekuatan sejati.

🌹 Selamat Hari Ibu 🌹

Engkau adalah doa yang hidup, dan cinta yang tak pernah usai.

Www.kris.or.id

Www.adharta.com