Archive for August, 2012

Customer & Pengharapan

Semua pengusaha dan perusahaan pasti selalu membicaraka masalah dan prospektus dari pelanggan/customer.  Kegiatan utama berhubungan dengan para pelanggan itu adalah  upaya semaksimal mungkin untuk memberikan pelayanan prima  bahkan hak istimewa agar pelanggan itu bisa puas (customer satisfaction).
Saya sendiri pun mengalami hal yang sama.  Di kantor, saya memberikan arahan perihal customer dengan membaginya dalam 4 (empat) bagian dan urutan sebagai berikut :
1. Customer Utama
Siapa Customer Utama kita? Mereka adalah adalah “Diri Sendiri” sebab kita tidak mungkin bisa memuaskan orang lain kalau kita tidak bisa memuaskan diri sendiri terlebih dahulu. Hal-hal yang bisa dilakukan untuk memuaskan diri sendiri antara lain :
  1. Jujur, taqwa, setia dan selalu  berdoa untuk mengucap syukur
  2. Hidup sehat dan bebas stres
  3. Diri sendiri adalah Bait Allah yang perlu dijaga dengan berbuat baik, sosial dan membantu sesama.
  4. Murah hati dan sederhana
Dengan demikian maka diri kita akan puas dan mampu untuk berbuat banyak hal.
2. Customer Prima
Siapa Customer kita yang ke dua ini : “Orang Paling Dekat”,  yaitu  istri, anak, orang tua, dan keluarga? Mengapa? Karena sumber suka-cita dari keluarga merupakan hulu dan hilir  dari segala usaha. Perlu perencanaan untuk dapat memuaskan para pelanggan ini seperti :
  1. Kebersamaan
  2. Kebahagiaan
  3. Saling memaafkan dan tolong menolong
  4. Berbagi kasih
  5. Hidup dalam kesetiaan untuk Tuhan
Upaya-upaya ini merupakan suatu jalan yang indah. Di mana ada pengorbanan di sana  Kasih akan bercahaya.
3. Customer Prioritas
Siapa Prioritas Customer kita? Mereka adalah  lingkungan sekitar kita.  Pertanyaan timbul, kapan nih kita ketemu customer yang sesungguhnya?  Ternyata itu melalui proses pengenalan lingkungan. Itu berarti kita berusaha mengenal lingkungan dan berbuat sesuatu untuk lingkungan kita. Lingkungan itu sendiri merupakan  benang merah menuju customer kita. Apa yang harus kita lakukan :
a.       Merubah behavior dan attitute kita mebjadi ramah lingkungan.
b.      Sahabat dan jalinan pertemanan
c.       Ikut berperan dalam acara di sekitar kita, gereja, lingkungan dan masyarakat
4. Customer Pengharapan
Mengapa disebut Customer Pengharapan, karena yg nomor 1-3 datangnya dari diri kita, tapi yang nomor 4 ini benar2 datang dari Tuhan Allah Bapa di surga. Artinya, kita meletakkan Pengharapan, usaha dan segala kegiatan di tangan Dia.  Melalui Dia,  kita terima berkat, yaitu Customer yang kita cari untuk kepentingan usaha kita. Apa saja yang harus kita buat untuk mendapatkan Customer Pengharapan?
  1. Sebelum melakukan segala pekerjaan, bertekuk lututlah mohon bantuan Tuhan dan bersyukur setiap hari atas Kasih Karunian-NYA
  2. Membaca Petunjuk Tuhan melalui suara hati kita
  3. Menggunakan sarana yang kita miliki dan lipat gandakan melalui ke 3 point diatas.
  4. Hiduplah dalam suka cita bersama sahabat
Suatu pengalaman Iman yg luar biasa, bisa kita catat pada saat kita bertemu dengan Customer Pengharapan dan jadikan semua Indah pada waktunya.
Advertisements

Wayang

Wayang jadi persembahan hati dan damai sejahtera bagi jiwa raga manusia.

Wayang Perang Bharatayudha antara Pandawa dan Kurawa

Pagelaran Gatot Kaca mancak di Sasana Langgeng Budoyo Taman Mini Indonesia Indah (TMII) harus dibatalkan karena Dalang tidak siap sedangkan pertunjukan harus jalan (the show must go on). Akhirnya dipilih judul Arjuna Wiwaha (yaitu perkawinan Arjuna dan Dewi Suprobo). Saya masih dalam perjalanan menuju ke lokasi pertunjukan. Sebetulnya kami berempat di atas mobil bukan pecinta wayang, tetapi karena wayang ini dipersembahkan dalam doa untuk keselamatan bangsa dan negara sehabis kerusuhan Mei 1998, kami ikut saja. Apa yang bernuansa ritual doa pasti baik, tapi kami jalan terus dan menonton. Wayang kulit ini hampir seluruh ceritanya bernuansa liturgis membuat kami terharu karena bahasa yang dibawakan dalam bahasa Indonesia. Kalau Bahasa Jawa mungkin saya pasti ngantuk karena tidak mengerti.
Seingat saya di suatu paroki di Jakarta ada yang setiap tahunnya menggelarkan wayang orang dan pelakonnya para pastor dan awam. Kalau tidak salah dikoordinasi Bapak Ir. Eddy Wikanta dari NRC. Biasanya untuk penggalangan dana buat paroki.
Di Paroki Santo Kristoforus pernah digelar wayang kulit dengan dalang Romo Untung Susanto, MSC (alm). Saya juga sempat menonton tapi cukup ngantuk jadi tiduran saja di bangku. Tapi saya suka sekali cerita wayang. Cerita wayang seri karangan R.A. Kosasih masih bisa dinikmati. Sayang generasi muda sudah hampir tidak mengenal wayang.
Kisah wayang dimulai dari Wayang Purwo (purba) sampai Ramayana dan Barata Yuda (Pandawa dan Kurawa) diselingi Punakawan, Semar, Gareng, Petruk, dan Togok yang juga menjadi cerita jenaka sebagai hiburan kalau kita stress menonton cerita yang cukup dalam maknanya. Seluruh kisah perwayangan tentu memiliki makna dan pelajaran baik secara teologis, teknologi, ilmu pengetahuan sampai kepada makna hidup kita sehari hari.
Kresna memiliki kaca ajaib yang bisa melihat kejadian di seluruh dunia (kini TV kalee). Putra Bratasena Gatot Kaca menguasai udara (lion air kalee). Antasena menguasai laut (perkapalan). Lalu, Antareja menguasai bawah tanah (MRT). Semua pengetahuan dalam wayang sudah kita nikmati walaupun kisah ini lebih kurang 1000 tahun Sebelum Masehi. Kisah Barata Yuda, perang saudara antara pandawa Putra Pandu dan Kurawa dari Destarata. Di sana sifat dan karakter menceritakan kepada kita bagaimana menghadapi dan memasuki hidup di dunia ini. Bagaimana peran Pendeta Durna (guru para Pandawa dan Kurawa) dalam perang saudara itu.
Yang menarik sehabis perang Barata Yuda yang menggetarkan surga dan bumi, yakni kisah Yudistira naik ke surga (satu-satunya orang yang layak masuk surga menurut versi wayang) tetap harus melalui penseleksian sampai masuk surga. Artinya tidak mudah buat seorang untuk masuk surga, karena dari ribuan orang masak yang layak cuma satu.
Seni Wayang sudah hampir punah di tanah air kita, tidak ada gereasi muda mau nonton atau baca cerita wayang. Padahal kisah kepahlawanan Srikandi dan kisah sulitnya Shinta menunjukkan kesucian dirinya agar dipercaya oleh Rama sangat mempesona dunia. Semua sudah nyaris hilang padahal keindahan cerita yang membangkitkan nilai spiritual sangat tinggi. Ada juga kisah cinta Bambang Permadi dengan seorang Dewi dengan mengorbankan adik tercinta Sukrosono seorang buto (raksasa) yang magis.
Saya sendiri tidak terlalu mengenal cerita wayang. Tetapi seandainya saja kita bisa sedikit mengenalnya, saya percaya kita akan lebih mudah mengenal Kitab Suci kita. Sebab, hampir semua kisah wayang punya nilai teologis yang tinggi sekali, sehingga menurut kepercayaan khususnya Orang Jawa, kalau kita ada kenduri, selamatan atau ada syukuran, perkawinan, kelahiran harus nanggap wayang, baik wayang orang, wayang kulit, wayang golek atau wayang lainnya (ada ala potehi). Tentu pertanyaan timbul, untuk apa? Mengapa? Dan bagaimana? Di sinilah kita perhatikan seorang Dalang akan selalu membawakan cerita dengan magis. Di mana dipercaya bahwa jalan cerita itu benar-benar hidup. Jadi, kalau ada Gatot Kaca ya benar-benar Roh Gatot Kaca hadir. Demikian karakter yang lain, sehingga tidak boleh seorang Dalang mengalihkan cerita sesuka-sukanya sebagian besar berisi nasehat dan makna kehidupan.
Dalam kehidupan rohani, kita bisa mengambil peran, memang wayang bisa saja digantikan oleh dalang tetapi dalang tidak bisa menghindari takdirnya. Kita hidup dalam roh dan daging. Kita adalah dalang yang bisa memasang peran apa saja, mau baik, mau jahat, mau jadi pastor, mau jadi suster, mau jadi umat semua dari kita dalangnya. Tetapi di dalam perjalanannya roh dan daging sering tidak sepakat, sehingga dalang tidak kuasa lagi mendalanginya. Mungkin lepas tangan sehingga badan dan jiwa tidak berjalan sesuai arahan takdir. Demikian pula saat mengarungi bahtera rumah tangga, kita juga dalangnya. Mengatur peran kita sebagai suami, istri dan anak cucu. Kita tentu semua sebagai dalang maunya baik, rumah tangga rukun, setia dan sejahtera, tetapi dalang lempar handuk saat rumah tangga pecah berantakan. Siapa yang bisa menolong, mungkinkah cari dalang lain? Tapi kalau kita kembali dalam konsep wayang, harusnya dalang dan wayang harus sehati-sejiwa menjalani peran dalam hidup ini. Nanti bisa dengar lagu Ahmad Albar, dunia ini panggung sandiwara. Itulah wayang. Sekali-kali bukan sandiwara, tetapi Tuhan memakai wayang untuk mengajari kita bagaimana kita hidup, dengan mengambil peran di mana kita mau. Terima Kasih Tuhan, kami tahu kebebasan yang Engkau berikan kepada kami untuk mengambil peran. Semoga kami pun setia dan jujur mengikuti cerita CINTA yang kami buat sampai kami menutup mata.

Sepatu

Akhirnya jadi “SEPATU” lagi! “Apakah yang memikul beban kita paling berat?”

Kisah tentang sepatu ini selalu kuceritakan buat anak-anakku semasa kecil. Sepasang sepatu tua milik pak Tani setiap hari berdoa. Betapa menderitanya dia. Hampir setiap hari digigit oleh tikus-tikus nakal. Karena sudah tidak tahan menderita dia berdoa terus-menerus agar bisa menjadi tikus agar bisa mengigit sepatu-sepatu yang lain. Alkisah doanya di terima. Sang sepatu menjadi tikus dan merasa senang sekali, tetapi setiap hari dia harus sembunyi karena diburu-buru oleh kucing untuk dimakan (Ilustrasi Tom and Jerry). Sekali lagi dia berdoa agar bisa menjadi kucing. Alhasil doanya diterima dan menjadi kucing, tetapi tiap hari dia berkelahi dan digigit oleh anjing. Ia itu hidup dalam ketakutan. Sekali lagi kucing ituberdoa agar menjadi anjing dan doanya dikabulkan. Kini, sang sepatu sudah menjadi anjing, tetapi hidup dalam kandang sang petani. Lalu, timbul rasa iri hati, alangkah nikmatnya jadi manusia. Lalu dia berdoa lagi, alhasil kini menjadi petani, tetapi setiap hari dari subuh hingga petang harus memacul sawah. Dia berdoa lagi ingin menjadi orang kaya raya. Sekali lagi doanya dikabulkan menjadi orang kaya raya berlimpah harta, tetapi melihat ke atas dia melihat Sang Raja, yang penuh kekuasaan. Kerajaannya luas, istrinya banyak, dan dia berdoa lagi ingin jadi raja. Walaupun berat hati Tuhan mengabulkan doanya menjadi raja yang kaya raya dan penuh kekuasaan. Akhirnya, dia pikir lagi dan berdoa alangkah baiknya kalau saya jadi TUHAN, kekal adanya dan memiliki segala-galanya di bumi ini. Setiap hari dia berdoa menjadi TUHAN, maka murkalah TUHAN, dan jika engkau mau jadi TUHAN sekarang engkau jadi SEPATU lagi. Akhirnya jadi sepatu (Hal yang positif dari kisah ini, hidup selalu dalam doa dan jika ingin menjadi terbesar haruslah menjadi yang terkecil).
Siapa yang tidak memiliki sepatu? Saya rasa tidak ada, kita semua pasti punya sepatu. Coba pandanglah sepatu kita. Begitu berat fungsinya karena setiap hari harus memikul beban kita. Sepatu melindungi kita dari kesakitan, kekotoran, bebatuan sampai sepatu itu rusak! Inilah fungsi dari sepatu yang kita saksikan dan nyata adanya.
Kita selalu memilih sepatu sepasang, tidak mungkin kiri-kiri atau kanan –kanan. Kita memilih sepatu nomornya sesuai dengan kaki kita, kalau tidak kesempitan atau kedodoran. Sepatu juga bersifat universal. Di seluruh dunia, anak kecil dan orang dewasa, pengemis, pedagang, pastor, suster, raja, pangeran dan presiden memerlukan sepatu. Singkatnya, semua orang pakai sepatu. Kita sepakat untuk mengatakan bahwa kita “BUTUH” sepatu ke mana pun kita pergi. Kita butuh sepatu (Kecuali para biksu yang ingin membebaskan beban sepatu karena tidak tega menginjak sepatu yang menerima beban berat).
Minggu lalu, saya dan Pak Rudyanto Prayatna pergi ke Central Park. Saya memiliki sepatu yang sudah saya pakai lebih tujuh tahun. Saya mau buang, tapi sayang banget. Kendati demikian saya tetap beli yang baru. Sedangkan sepatu yang lama tadi saya perbaiki di Citra Land di Stop and Go. Sekarang bisa dipakai lagi. Merknya “Rock Ford”. Sepatu baru yang baru saya beli adalah Hush Puppies. Mereka sangat nyaman di kaki saya. Memang enak dipakai dan harganya murah dibandingkan dengan Bally atau lainnya.
Semasa anak-anakku masih kecil, selalu aku ancam kalau tidak mau rajin belajar nanti kamu akan menjadi sepatu lagi. Ternyata berhasil baik. Anak-anakku sekarang semua sudah selesai sekolah tinggi di luar negeri dan baik baik jadinya. Mungkin dikarenakan cerita sepatu tadi.
Setahun lalu saat saya mengunjungi Washington DC, saya memakai sepatu casual dengan harapan bisa berjalan dengan baik, ternyata saya jatuh kepleset, karena kurang stabil dan sakitnya masih terasa sampai hari ini. Memang memilih sepatu harus hati-hati apalagi buat ibu-ibu yang menggunakan hak tinggi supaya terlihat tinggi dan gagah kendati risiko tinggi kalau jatuh dan tidak bisa melalui jalan berumput hijau karena bisa amblas.
Kalau kita mau jujur melihat SEPATU, maka kita lihat betapa besar kepercayaan kita yang kita letakkan di sepatu. Ia membuat kita betul-betul yakin dan percaya bahwa kita tidak akan jatuh. Kita tidak akan sakit walau berjalan di atas batu-batuan bercadas, berlumpur dan kotor. Buat pemain golf, memakai sepatu khusus dengan cakram agar tidak kepleset. Sepatu pegolf selain mampu mendukung berat badan pegolf juga mampu memberikan keseimbangan sehingga pukulannya lebih jauh.
Sepatu sangat bermanfaat melindungi kita dari segala keadaan di saat kita jalan. Sepatu memberikan kita rasa aman dan nyaman.
Sifat sepatu bisa menjadi ilustrasi Rohani kita. Beranikah kita menjadi sepatu yang memikul beban berat dari keluarga dan sahabat? Siapakah di dunia ini yang berani maju jadi sepatu milyardan jiwa manusia untuk memikul beban dosa yang begitu berat sampai harus terkoyak-koyak di jalan berbatu dan harus dibuang sebagai batu penjuru?
Bagaimana kalau kita menjadi sepatu keluarga kita? Di dalam keluarga ada kehidupan yang berat, penderitaan, tekanan ekonomi, tekanan psikologi dan tekanan batin akibat akumulasi kondisi hidup. Kita harus berani berkorban dalam semua situasi itu dan itulah sepatu.
Sepatu adalah bagian dari CINTA. Hidup tanpa mengeluh. Hidup dalam kepasrahan. Hidup dalam perjuangan dan pengorbanan. Hidup menjadi bagian dari percikan hati (Cinta ibarat seorang yang rela mengorbankan nyawanya bagi sahabat sahabatnya). Demikian juga sepatu hati yang siap untuk dinjak-injak. Siap untuk menerima malu. Siap untuk mengatasi segala bebatuan masalah yang tajam. Siap menerima segala penderitaan. Siap menahan sandungan yang keras sekalipun.
Kini, saya dan anda berperan sebagai sepatu hati. Dengan demikian, sumber suka cita, kebahagiaan dan damai sejahtera menanti anda. Tidak perlu takut berjalan di jalan yang terjal. Tidak perlu takut berjalan di jalan berlumpur. Tidak perlu takut tertusuk duri atau paku, karena ada seorang yang telah mendahului menjadi SEPATU hidup bagiku dan bagimu.
Berbahagialah orang yang mau menjadi sepatu hati bagi dirinya dan bagi keluarganya. Ia akan melindungi, memberkati dan berkorban dalam CINTA. Tuhan mencintai kita sekarang, selalu dan selamanya.

Tulisan ini saya buat saat di atas pesawat dalam perjalan pulang dari Melbourne dan ini kupersembahkan buat anak-anakku untuk diceritakan kelak kepada cucu-cucuku.

PESTA

Kebahagiaan sempurna belumlah lengkap, kalau tidak dibagikan dan dirayakan. “One friend without hope is too much”!

Bersama Mgr. Turang, Mgr. Mandagi, Rm Runo, Rm Yance Mangkey, Rm Rudy Kwari usai Misa PESTA pernikahan anak Adam dan Melisa di Gereja.

Ada sebuah kisah jokes di kalangan pemain Golf : Seorang Pastor, pecinta GOLF atau Golf Mania, suatu hari minggu tidak tahan untuk menuju lapangan berumput hijau. Alkisah karena malu terpaksa main sendirian karena kalau ada teman, wah bisa jadi cerita lain. Malakat Gabriel yang kebetulan berada di Padang Golf, terkejut melihat pastor itu main Golf dengan cerianya. Karena tidak tahan, lalu laporlah sang Malaikat kepada Boss, kalau pastor ini bukannya pimpin misa di gereja malah main golf. Lalu, perintah kepada Malaikat Gabriel, pergilah dan nanti di Hole 8 Par 3 kasih Pastor itu Hole in One! Malaikat Gabriel sangat heran karena pastor ini sudah mangkir kok malah dikasih hadiah (Hole In One adalah suatu kejadian yang jarang sekali diperoleh, dan merupakan suatu berkat luar biasa, kalau Pak Boni Goana malah sudah mendapat 2 kali Hole in One. Itu suatu Keajaiban).
Karena hanya menuruti perintah akhirnya dikasihlah pastor tersebut mendapat Hole in One. Karena masih penasaran, bertanyalah Malaikat Gabriel kepada Boss, mengapa kok seorang pastor mangkir malah dikasih hadiah Hole in One. Jawaban-Nya : Itu bukan hadiah melainkan hukuman.
Masih belum mengerti, akhirnya Malaikat Gabriel mengikuti pastor tersebut sampai selesai. Dari hari ke hari, dia terus murung durja, sedih dan menderita.
Ternyata, suatu kebahagiaan yang begitu besar yang diterimanya ( Hole in One) tidak bisa diceritakan kepada sahabat-sahabat. Inilah penderitaan yang besar.
Untungnya setelah mengaku dosa, sekarang pastornya ceria lagi
(maaf hanya bercanda. Kalau Pak Boni pesta terus untuk melampiaskan kegembiraan). Setiap malam minggu atau minggu malam saya dan istri selalu siap-siap, karena hampir setiap minggu pasti mendapat undangan perkawinan. Kadang kala harus berbagi waktu karena pestanya bersamaan, apalagi kalau yang pesta adalah keluarga dekat atau sahabat karib. Kalau di luar kota bisa dimaklumi, tetapi kalau dalam kota jadilah suatu kewajiban.
Saya selalu berusaha hadir kalau ada PESTA, baik perkawinan, ulang tahun, wisuda atau peringatan suatu acara. Masalahnya saat menghadiri suatu pesta, pasti bertemu sahabat, yang dikarenakan kesibukan jarang sekali bertemu. Juga bisa berjumpa keluarga-keluarga dan mengenal para generasi baru, anak-anak dan cucu-cucu. Juga bisa memberikan suatu kegembiraan bagi yang menyelenggarakan pesta karena merupakan kehormatan tersendiri. Seperti kalau kita yang membuat pesta maka tentu kita juga sangat mengharapkan kehadiran sahabat-sahabat, keluarga dan handai taulan.
Dalam kisah anak yang hilang, setelah melalui penderitaannya, dia kembali kepada ayahnya, tentu saja ayahnya penuh suka cita dan membuat PESTA bagi anaknya yang sudah mati kini hidup lagi. Bagi kakaknya tentu ini peristiwa sedih karena dia tidak merasakan pertemuan kembali, karena CINTA yang hilang jika ditemukan akan menjadi sumber suka cita yang besar sekali.
Sang ayah tidak lupa mengundang sahabat-sahabatnya untuk ikut bersuka cita bersamanya. Demikan juga jika ada seorang sahabat yang bertobat, maka Surga dan Bumi pasti bersuka Cita. Bapa kita di surga pun akan mengundang kita semua untuk menikmati kegembiraan tersebut melalui Berkat dan Kasih-Nya.
Sama halnya kita, jika kita menginginkan sesuatu, dan ternyata keinginan kita dikabulkan, maka kita akan senang dan suka cita. Kita ingin lulus sarjana, kita lulus, kita ingin anak kita lulus sarjana dan dia lulus tentu senang sekali. Kalau anak kita menikah tentu kebahagiaan besar sekali buat keluarga dan kita bisa PESTA. Persiapan pesta bisa 1 sampai 12 bulan dengan biaya besar sekali. Padahal pestanya cuma 2 jam saja, tapi arti 2 jam tersebut sangat besar, baik untuk kehidupan pengantin juga keluarga. Di mana kesatuan CINTA bisa menerobos kehidupan dan meneruskan keturunan.
PESTA memiliki arti : Perjamuan kudus karena kita akan mengundang TUHAN hadir bersama kita sehingga menghasilkan sumber suka cita dan berkat karunia kebahagiaan. Arti lain dari PESTA adalah membagi kebahagiaan. Sempurnalah arti kebahagiaan jika dibagikan bersama sahabat dan keluarga.
Dalam kehidupan ROHANI, kita merayakan PESTA setiap Minggu di Gereja, karena Ekaristi adalah PESTA bersama Tuhan. Kita makan dan minum bersama TUHAN. Kebahagiaan dan suka cita besar karena adanya pertobatan sebegitu banyak umat. Bayangkan saja 1 orang bertobat maka seluruh surga bersuka cita. Kalau sebegini banyak bertobat tidak bisa di bayangkan seluruh laskar surga dan malaikat sungguh bersuka cita. Sehingga untuk itu saat kita berada dalam misa, saksikanlah kebahagiaan Surga dan Bumi yang begitu besar dan kita sangat rugi kalau tidak bisa menikmati PESTA yang penuh suka cita.
Gereja yang paling kecil di dunia adalah hati kita, yang di huni oleh perpaduan CINTA Allah dan Manusia. Hati kita juga dikelilingi oleh Para Kudus dan dinyanyikan oleh sangkakala. Tentunya Gereja kecil ini juga harus melaksanakan PESTA suka cita dengan mengundang hati para keluarga, sahabat dan handai taulan. Sebab, hati kita haruslah selalu penuh dengan suka cita. PESTA ROHANI dalam hati memiliki kekuatan luar biasa. Pesta itu penuh dengan hidangan makanan kata-kata yang manis dan sejuk. Pesta itu dihidangkan dengan minuman senyuman yang manis, juga buah buahan CINTA yang begitu indah untuk dinikmati.
PESTA Rohani, harus kita buat setiap harinya karena Tuhan sendiri akan hadir. Sebab, CINTA adalah Tuhan sendiri. Kita sebagai tuan rumah, apa hidangan yang harus kita sajikan? Apakah mau kita kasih sayur masam? Kue marah? Es kepala batu? Buah dendam dan segalanya? Semua sahabat saya pasti merayakan Pesta Rohani sepanjang hari demikian tulisan yang saya gores “One friend without hope is too much”. Mari bergembira dalam suka cita Tuhan setiap hari.

Lampu

Thy WORD is a lamp unto my feet and the light unto my path.

Sambil duduk-duduk di ruang keluarga saya dan istri bercerita di masa lalu. Sampai usia 9 tahun saya belum kenal listrik. Rumah kami masih beralas tanah dan beratap seng tanpa plafon. Di malam hari penerangan dengan lampu petromax dan di saat tidur menggunakan lampu oblik atau di kenal lampu tempel yang pakai sumbu dan semprong.
Istri saya juga bercerita kalau dia juga mengalami hal yang sama dan bisa menyalakan petromax, pasang kaos, pakai spritus dan dipompa. Jaman sudah berubah. Bisa bayangkan tinggal di bawah atap seng di daerah tandus, sama dengan dipanggang. Di malam hari suhu berubah drastis kedinginan tanpa selimut. Namun lampu membawa peran penting karena kami belajar bersama dan makan bersama di meja yang sama di bawah satu lampu petromax.
Tuan Li Siwei, salah seorang tokoh dalam reformasi Cina tahun 50-an, bercerita bahwasannya dia adalah anak gelandangan pengemis. Ia tidak punya rumah. Mereka hidup di hutan. Jika musim dingin datang, mereka harus masuk terowongan atau gua. Makanan mudah dicari di hutan, tetapi malam hari gelap gulita dan melihat tangan saja tidak bisa. Oleh pemerintah disediakan ruang pertemuan, tapi hanya orang kaya bisa masuk dan belajar di sana. Li kecil harus berada di luar dinding bambu mendengar orang belajar membaca dan menulis. Kadang terpaksa harus melobangi dinding bambu agar bisa mendapatkan cahaya lampu untuk ikut belajar. Kelak setelah Li menjadi pejabat negara, beliau dikenal pembela orang kecil dan suka membangun gedung pertemuan (balai).
Sekarang listrik sudah merebut pangsa lampu minyak tanah dan petromax. Pada tahun 2007, saat gempa bumi melanda Jogja, saya bersama kelompok MSF (Medicine Sains Frontier atau Kelompok Dokter Lintas Batas berpusat di Brussel) dan Gereja Santo Kristoforus membantu korban gempa bumi dengan barang-barang seperti : 5000 lampu aladin, 5000 lampu teplok, sandal jepit, set kompor dan alat masak. koordinator bantuan di Jogja adalah Romo Gabrielle Maing, OFM (Bonaventura) dan Romo Soemantoro, Pr. Bantuan lampu memang sangat penting karena selama 3 bulan lebih, korban hidup tanpa aliran listrik.
Lampu memang sangat penting dalam kehidupan sekarang terutama dengan menggunakan listrik yang begitu mudah dan praktis.
Kita beruntung sekali bisa hidup di jaman serba bisa dan serba tersedia. Begitu mudah mendapatkan penerangan tanpa harus susah-susah menyalakan atau memompa petromax.
Lampu di dalam hati juga sungguh penting bagi kehidupan Rohani kita. Terang dunia dan lampu hati sama dengan pedang bermata dua. Di satu sisi kita harus berperang melawan kegelapan. Di lain sisi kita harus berperang melawan diri sendiri yang mungkin juga mengalami kegelapan.
Kita juga harus smart seperti 5 gadis cerdik yang menanti kedatangan pengantin.
Bagaimana kalau lampu hati kita kehabisan minyak, sedang kita tidak ada cadangannya. Dalam kehidupan rohani mutlak kita harus jadi terang. Bagaimana kalau lampu kita gelap redup atau kehabisan minyak dan kita hidup dalam kegelapan.
Dulu ada cerita dari seorang pastor yang bertugas di suatu desa. Kalau malam hari pulang di gelap gulita. ”Kalau lewat kuburan saya selalu menyanyi Tuhanlah gembalaku”. Tak jarang aku juga merasa takut, khawatir dalam menjalani hidup, sama seperti jalan dalam kegelapan, di sini baru aku memerlukan pelita hati. Selain lampu yg harus kunyalakan dalam hati melalui pendalaman Kitab Suci, mengikuti Ekaristi kudus dan menyambut komuni (Akulah Roti Kehidupan dan Terang dunia), aku juga butuh penerangan dari luar, yaitu sahabat terutama melalui sharing dan konsultasi”!
Lampu hati perlu dinikmati bersama keluarga dalam satu meja, karena cahayanya makin lama makin terang, sehingga bukan saja menerangi keluarga tetapi juga menerangi sahabat yang lain.
Tuhan, aku berlutut berdoa agar cadangan minyak dalam lampu hatiku dan sahabat-sahabatku jangan sampai kehabisan dan agar lampu hatiku dan sahabat-sahabatku semakin hari semakin terang.

FILM

HIDUP ini seperti film yang diputar, tetapi kita tidak menontonnya, orang lain yang akan menceritakannya.

AVATAR arahan James Cameron kokoh menduduki peringkat pertama film terlaris sepanjang masa dengan perolehan Rp 26,328 triliun.

Salah satu hobiku adalah menonton FILM dan membaca NOVEL. Kadangkala aku mengajak beberapa teman menonton lalu berdiskusi tentang isi film tersebut, tetapi aku belum pernah menonton sendiri. Banyak cerita dalam film yang aku tonton menambah inspirasi, membangkitkan semangat dan memberikan dukungan terutama dalam kehidupan rohani, seperti kisah perkelahian Malaikat Gabriel dan Michael dalam film The Legion. Di sana Michael mendapat gelar Malaikat berbahagia, karena rela memotong sayapnya untuk menjadi Manusia.
Film memang luar biasa, karena merupakan gabungan Inspirasi cerita, sutradara, para aktor, watak dan teknologi. Tentu saja tidak lupa para pendukung bintang figuran dan lagu soundtracknya.
Seperti halnya film Mgr. Soegiyapranoto, yang diputar dengan cara semi paksaan untuk menonton namun bagus juga. Lain halnya Film Batman dan Spiderman yang justru memecah Box Office tanpa harus menggiring penontonnya. Seharusnya memang demikian kalau sesuatu yang bagus, pasti akan dengan sendirinya menjadi pusat perhatian. Demikian juga halnya hidup. Ilustrasi di atas mengangkat bahwa hidup seperti film. Ada yang disia-siakan. Ada yang dipuja-puja. Ada pula yang berjalan seperti air mengalir.
Hari sudah sore mendekati magrib, aku pulang dari kantor proyek Pelabuhan Ratu dan di tengah jalan kami dihentikan oleh segerombolan crew film. Mohon maaf katanya karena jalan akan ditutup karena arus lalu lintas akan dialihkan sehubungan dengan pembukaan atau pembuatan awal Film Nyi Loro Kidul. Mas ACIL, seorang pria kerdil yang mengenal baik aku, mempersilahkan rombonganku turun karena bisa menyaksikan ritual pembuatan film. Rombongan kami pun berhenti. Mumpung ada makan gratis juga. Akhirnya doa diselesaikan dan acara shooting dimulai. Usai makan bersama kami lalu meninggalkan lokasi shooting terus menuju hotel.
Yang menarik buatku adalah di dalam doanya, mereka sama sekali tidak menyinggung agar film ini laris, melainkan minta agar semua peserta pemeran film ini dihindarkan dari segala mara bahaya dan mohon ijin penguasa Laut Kidul. Doa itu tidak menjadi kendala buatku, karena kuanggap doa selalu baik buat siapa saja, tidak perlu memikirkan negatifnya, tetapi tanggapan positif saja.
Malam hari aku masih sempat bertemu dengan beberapa pemeran film di hotel karena mereka malam nanti mau bersemadi di kamar tertentu di hotel sebagai tempat ritual atau berdoa.
Sebenarnya aku ingin sekali ikut, tapi ada rasa serem juga. Jadi, aku memilih duduk ngobrol daripada ikut. Banyak kisah yang diceritakan dan menjadi inspirasi penulis untuk menulis cerita dan menjadikannya layar hidup.
Aku sendiri termasuk kolektor film sendiri. Sebab mulai dari dahulu kala sejak menggunakan kamera 8 mm bisu dengan Betamax sampai Sony cassette dan DVD. Mulai dari anak-anakku bayi sampai film cucu-cucu. Kadang-kadang istriku marah melihat aku menggendong kamera dengan berat 5kg di pundak, tapi sekarang kami bisa melihat cerita semasa anak-anakku masih kecil.
Coba kita melihat film kenangan kita pada saat pernikahan di gereja! Aku tidak bisa membayangkan kalau ada keluarga yang berantakan kemudian melihat film mereka. Saat janji perkawinan di gereja atau di pesta. Silahkan melihat pesta perkawinan Pangeran Charles dan Putri Diana. Begitu megahnya sehingga menggemparkan seluruh dunia, tetapi semua harus berakhir dengan demikian miris. Demikian juga ada keluarga yang pecah dan penuh dengan dendam ke sumat, perkelahian dan lebih dalam lagi dengan perusakan hidup.
Oleh karena seperti halnya film itu sendiri kita bisa melihat kehidupan kita. Sayangnya kita tidak menonton, orang lain yang bercerita. Kalau saja kita sering menonton film kita sendiri, Tuhan mungkin senang melihat anak-anaknya penuh suka cita menikmati hidup, seperti janji perkawinan bahwa mereka bersama di waktu untung dan malang dan di waktu sehat dan sakit. Film kehidupan kita sekarang terus diputar, tetapi kita tidak ada waktu untuk menontonnya.
Film Satanic Verse dari novel Slaman Rusdi, akhirnya diputuskan tidak boleh masuk Indonesia. Masih beruntung Davinci Code akhirnya boleh beredar di Indonesia. Dahulu sama juga terjadi dengan Jesus Christ Super Star sebagai film yang dilarang beredar di Indonesia. Aku beruntung bisa menyaksikan semua film tersebut. Menurut saya semuanya baik adanya tergantung sudut pandang kita dan juga pencerahan iman yang kita dapat. Masih jauh lebih baik dari banyak film yang merusak moral kita dan anak cucu kita.
Kita memang sedang bermain peran dalam hidup kita, namun Sutradara sedang menyusun scenerio tentang hidup kita, tentang segala yang kita jalani dan akan direkam, baik untuk kita sendiri maupun untuk disaksikan oleh sahabat-sahabat kita.
Pada kunjungan Bapa Suci Paus Yohanes Paulus ke II ke penjara mengunjung Ali Aqsa yang menembaknya, beliau mengatakan bahwa aku telah mengampuni kesalahanmu, seperti halnya Tuhan mengasihi anak-anak-Nya. Ini akan direkam biar bisa dilihat kelak oleh keturunan. Saya teringat ucapan Bunda Maria (sayang dulu tidak ada kamera untuk merekam), kata beliau bahkan dinyanyikan : “Semua keturunan akan mengatakan aku bahagia”! Sama halnya kita semua, bagaimana kalau kita sepakat mengatakan: “Semua keturunan akan mengatakan kita bahagia, tentu melalui film yang kita buat”! Bagaimana kalau film yang kita buat itu film sedih, dan yang menonton akan mengalirkan air mata, bukan menangis sedih tetapi menangis karena melihat kita tidak bahagia, seperi sebuah lagu “Sad Movie” make me cry, but theres no movie, theres me.
CINTA memang luar biasa, berapa banyak penulis kisah CINTA dalam Novel, Cerpen dan tulisan-tulisan lainnya? Seakan-akan tidak ada habis- habisnya. Demikian juga lagu-lagu Cinta. Tante Titiek Puspa, pakar pencipta lagu juga tidak ketinggalan dengan lagu “CINTA”, yang liriknya cukup indah dan telah diangkat menjadi film layar lebar. Banyak sekali kisah cinta yang diangkat dan aku rasa tinggal Kisah CINTA yang kita buat yang belum diangkat ke layar lebar.
Terima kasih Tuhan, atas berkat yang diberikan kepada kita manusia. CINTA yang begitu besar buat kita untuk membuat cerita. Semoga kita semua bisa menjadikan dunia lebih baik.

PAHLAWAN

Ada yang lebih dibutuhkan CINTA, yaitu PAHLAWAN yang memperjuangkan CINTA.

Lions Club Jakarta Tomang Sejati dan Lingkungan Keluarga Kudus berbagi dengan Penyapu Jalan di Jakarta Barat pada Sabtu, 20 Agustus 2011 jam 05.00 subuh.

Setiap kali kita merayakan hari kemerdekaan, khususnya yang ke-67 kemarin, kita selalu berbicara tentang pahlawan, baik pahlawan yang dicatat namanya maupun pahlawan yang tanpa nama atau pahlawan tak dikenal. Kita memiliki ribuan pahlawan yang berjuang membela negara, bangsa dan kepentingan nasional, tanpa memperhatikan kepentingan sendiri bahkan nyawa sekalipun. Makam pahlawan hampir ada di setiap kota, kalau di Jakarta dikenal dengan Taman Makam Pahlawan Kali Bata. Setiap tanggal 17 Agustus pasti ada upacara di TMP tersebut.
Dalam bukunya Bill Gates bercerita bahwa saat berdialog dengan ayahnya selalu berkata betapa pentingnya mencari uang dan semuanya untuk keluarga, anak dan istri. Tetapi Bill Gates berpendapat bahwa mereka lebih menyukai sang ayah menjadi pahlawan agar bisa menyelamatkan keluarga. Kita juga bisa baca Tulisan Presiden Soekarno tentang perjuangan beliau melalui buku di bawah Bendera Revolusi (boleh dijadikan koleksi) bercerita bagaimana sikap beliau dalam berjuang melawan penjajahan, dan menyelamatkan bangsa karena konflik di dalam negeri. Cerita itu sangat menarik dan menginspirasi banyak orang.
Ketika masih kecil kami mendengar seorang pejuang Tionghoa tua (saya sedang searching namanya ) di Ende di mana rumahnya menjadi tempat pembuangan Bung Karno. Setelah kemerdekaan ada cerita di mana Encek tersebut kehilangan uangnya, lalu ia ke Jakarta menghadap Bung Karno. Di depan Istana Negara dijaga ketat sekali lantaran dikira orang gila karena mau bertemu Bung Karno, anaknya. Tetapi, dari jauh Bung Karno lari keluar dan berteriak “Papa” (ini juga direkam dalam tulisannya) dan mengajaknya tinggal di Istana beberapa hari. Ketika wafat Encek ini dimakamkan di TMP Kupang dengan 21 kali Salvo tembakan. Ini kisah The Postman untuk negara kita. Di mana hampir semua konsep kemerdekaan ditulis Bung Karno dalam masa pembuangannya di Ende- Flores, Nusa Tenggara Timur.

Pahlawan
Begitu mudah kata ini diucapkan tetapi begitu sulit dijalankan. Setiap insan manusia pasti ingin menjadi pahlawan bagi dirinya sendiri, bagi keluarga, bagi sahabat atau bagi bangsa dan negara, tetapi berbeda-beda kepentingannya. Seorang ayah harus membanting tulang mencari nafkah kadang harus meneteskan darah untuk menyelamatkan keluarganya. Seorang Ibu harus berjuang mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan kelahiran bayinya. Tentu banyak juga orang tua, kakak, adik, dan anak juga berjuang untuk menyelamatkan keluarganya.
Kita bisa mengingat kisah Kapal Tampomas yang terbakar tahun 80-an di Selat Madura. Nahkodanya berjuang menyelamatkan para penumpang. Karena kelelahan akhirnya harus meninggal dan tenggelam bersama kapalnya.
Pahlawan memiliki hati yang luar biasa karena begitu besar cintanya kepada kemanusiaan. Dengan kata lain, hati nurani selalu menuntut setiap orang menjadi pejuang kemanusiaan. Simaklah kisah seorang putera Indonesia dari Yogyakarta, yang berkarya di NTT dan mendapat pengakuan internasional selengkapnya di : http://inspirasijiwa.com/budi-dan-peggy-soehardi-jadi-inspirasi-kemanusiaan-dunia/
Tapi di sisi lain ada pahlawan dua sisi. Hitler di tempat tertentu adalah pahlawan, tetapi di dunia dianggap penjahat perang. Robin Hood dalam sejarah dianggap sebagai pahlawan orang kecil, tetapi bagi negaranya dia adalah penjahat. Jadi, dimana sebenarnya arti Pahlawan tersebut.
Dalam kehidupan rohani, pahlawan adalah bagian dari CINTA KASIH. Tidak mungkin bisa bergerak kalau tidak ada motornya atau pahlawannya. Misalnya, kita lihat para petinggi Gereja, siapa yang melihatnya, siapa yang memikirkannya, siapa yang peduli? Anggota Dewan Paroki Harian (DPH) sampai ke ketua lingkungan, koordinator wilayah, ketua seksi dan ketua kategorial adalah termasuk PAHLAWAN yang berjuang tanpa pamrih. Para pastor, para suster, dan bruder begitu besar cinta kasihnya harus menanggalkan kepentingan pribadi untuk menyelamatkan umatnya. Suara hatinya selalu berjuang demi kemanusiaan.
Secara pribadi, saya ingin menyampaikan bahwa PAHLAWAN paling berjasa dalam diri saya adalah SUARA HATI KECIL, yang selalu mengawal saya tiada henti-hentinya menasehati, menolong, dan memberikan penghiburan sekaligus juga juga menjadi penggerak CINTA dalam hati saya.
Terima kasih buat semua pahlawan yang hidup dalam hati saya seperti orang tua, istri dan anak-anak, mantu, cucu-cucu, besan-besan dan semua saudara, yang telah menjadi PAHLAWAN dalam hidupku. Pahlawanku juga adalah sahabat-sahabat dan teman-teman di mana saja berada, khususnya para pejuang kemanusiaandi di LAI dan Lions Clubs Indonesia. Mereka semua yang berjuang tanpa pamrih. Semoga Kasih Karunia Tuhan kita selalu memberikan penghiburan, perlindungan, kesehatan, kebahagiaan dan kesuksesan.