Tag Archives: Kamera

Kamera

Sungguh suatu berkat luar biasa karena kita memiliki mata. Kita bisa melihat dengan terang dan jelas warna-warni segala sesuatu di sekitar kita. Kita bisa menikmati indahnya dunia. Kita pun bisa melihat kebesaran Tuhan. Kata para ahli Photography, mata merupakan kamera tercanggih yang ada di dunia dan belum ada tandingannya.
Fuji di Jepang pada tahun 1990 mendeklarasikan ambisinya untuk menjadi produsen kamera terbesar di dunia. Itu berarti Fuji ingin bertarung langsung dengan Kodak, Aqfa, Nikon, Cannon dan Olympus. Tetapi, saat memasuki era digital sekarang ini, semua kamera Fuji sudah tertinggal jauh. Film Leica Fuji yang sangat terkenal sudah tidak ada lagi di toko. Kamera Analog sudah jadi hiasan lemari saja. Perkembangan teknologi begitu cepat membuat teknologi fotografi berkembang pesat mengikutinya.
Kamera menjadi bagian dari hidup manusia. Ia pasti menjadi bagian dari kenangan. Ia juga menjadi harta yang tidak ternilai, khususnya bagi perkembangan seni fotografi. Buat orang awam jangan heran kalau ada hasil foto yang dijual jutaan dolar apalagi pemenang Hadiah Pulitzer.
Sahabat saya Darwis T., bersama saya menyelenggarakan Lomba Foto Lingkungan Hidup “Greenviart” tahun 2006 lalu. Banyak tokoh masyarakat yang terlibat seperti : Pak Nugroho dari Kompas, Ibu Martha Tilaar, Pak Arswendo, Pak Thoby Mutis, dan Ibu Erna Wituelar. Selain itu ada Pak Cosmas Batubara, Pak Edwin Gerungan, Pak Jefrey Dompas (Alm), dan Pak Andi (dari Kelapa Gading). Sedangkan para rohaniwan yang berpartisipasi adalah Romo Yance Mangkey MSC, Romo Edo Besembun MSC, Romo Yohanes Subagyo Pr dan Romo Julius Kardinal Darmaatmadja SJ. Sekarang hasil foto masih diabadikan di Kantor Provinsi MSC.
Gerakan ini merupakan bagian dari CSR PT Aditya Aryaprawira dan Kompas. Kegiatan ini menghasilkan foto yang cukup indah. Acara ini merupakan sumbangsih Gereja bagi pemerhati lingkungan hidup dan peran serta Gereja membangun kehidupan yang hijau.
Kamera dalam kehidupan rohani punya nilai tersendiri. ”Kamera” Ilahi setiap saat merekam tindakan kita. Baik atau buruk. Katanya nanti begitu sidang di akhirat akan diputar ulang semua perbuatan kita. Ada pula istilah Kamera Hati. Ia pasti bercerita lain. Jika kita memiliki kamera hati, maka kita akan peka. Khususnya saat kita memotret kehidupan orang-orang yang kurang beruntung, susah dan menderita. Mereka adalah korban bencana alam seperti gempa bumi, banjir dan segala penderitaan.
Rekaman hasil kamera hati membuat Cinta bergejolak. Di sana akan membangkitkan semangat kebersamaan.
Pada pameran World Photo Festival di Philadelphia, Mr. Dr. Sung Man Lee Phd, sahabat baik saya dari Seoul, Korea Selatan membaca desertasinya tentang foto. Beliau mengatakan bahwa kamera yang dipakai pemotret harus sinergi dengan kamera hatinya. Katanya bahwa hasil foto hanya 10 persen, 90 persen sisanya berasal dari kamera hati. Atau boleh saya tambahkan bahwa peran perasaan besar sekali dalam pemotretan.
Coba Anda ambil foto kenangan Anda 20 tahun lalu. Lihatlah foto itu. Yang tertinggal adalah kamera hati yang mengambil momentum berharga tersebut. Karena kameranya sudah tidak diperlukan lagi. Tapi, kamera hati selalu hidup terus bersama kenangan itu. Percayalah Anda akan meneteskan air mata jika melihat foto kenangan Anda. Kamera hati akan life seakan-akan ada bersama Anda pada saat itu.
Kamera menjadi sumber suka cita dan bagian dari kehidupan kita. Walau kamera juga mengabadikan duka cita, tapi semuanya tentu untuk kebahagiaan.
Milikilah kamera hati yang baik dengan lensa super peka. Mari potretlah dan bidiklah momen-momen dengan hati yang penuh welas asih. Tuhan mendengarkan seruanku dan memberiku penglihatan.