FILM

HIDUP ini seperti film yang diputar, tetapi kita tidak menontonnya, orang lain yang akan menceritakannya.

AVATAR arahan James Cameron kokoh menduduki peringkat pertama film terlaris sepanjang masa dengan perolehan Rp 26,328 triliun.

Salah satu hobiku adalah menonton FILM dan membaca NOVEL. Kadangkala aku mengajak beberapa teman menonton lalu berdiskusi tentang isi film tersebut, tetapi aku belum pernah menonton sendiri. Banyak cerita dalam film yang aku tonton menambah inspirasi, membangkitkan semangat dan memberikan dukungan terutama dalam kehidupan rohani, seperti kisah perkelahian Malaikat Gabriel dan Michael dalam film The Legion. Di sana Michael mendapat gelar Malaikat berbahagia, karena rela memotong sayapnya untuk menjadi Manusia.
Film memang luar biasa, karena merupakan gabungan Inspirasi cerita, sutradara, para aktor, watak dan teknologi. Tentu saja tidak lupa para pendukung bintang figuran dan lagu soundtracknya.
Seperti halnya film Mgr. Soegiyapranoto, yang diputar dengan cara semi paksaan untuk menonton namun bagus juga. Lain halnya Film Batman dan Spiderman yang justru memecah Box Office tanpa harus menggiring penontonnya. Seharusnya memang demikian kalau sesuatu yang bagus, pasti akan dengan sendirinya menjadi pusat perhatian. Demikian juga halnya hidup. Ilustrasi di atas mengangkat bahwa hidup seperti film. Ada yang disia-siakan. Ada yang dipuja-puja. Ada pula yang berjalan seperti air mengalir.
Hari sudah sore mendekati magrib, aku pulang dari kantor proyek Pelabuhan Ratu dan di tengah jalan kami dihentikan oleh segerombolan crew film. Mohon maaf katanya karena jalan akan ditutup karena arus lalu lintas akan dialihkan sehubungan dengan pembukaan atau pembuatan awal Film Nyi Loro Kidul. Mas ACIL, seorang pria kerdil yang mengenal baik aku, mempersilahkan rombonganku turun karena bisa menyaksikan ritual pembuatan film. Rombongan kami pun berhenti. Mumpung ada makan gratis juga. Akhirnya doa diselesaikan dan acara shooting dimulai. Usai makan bersama kami lalu meninggalkan lokasi shooting terus menuju hotel.
Yang menarik buatku adalah di dalam doanya, mereka sama sekali tidak menyinggung agar film ini laris, melainkan minta agar semua peserta pemeran film ini dihindarkan dari segala mara bahaya dan mohon ijin penguasa Laut Kidul. Doa itu tidak menjadi kendala buatku, karena kuanggap doa selalu baik buat siapa saja, tidak perlu memikirkan negatifnya, tetapi tanggapan positif saja.
Malam hari aku masih sempat bertemu dengan beberapa pemeran film di hotel karena mereka malam nanti mau bersemadi di kamar tertentu di hotel sebagai tempat ritual atau berdoa.
Sebenarnya aku ingin sekali ikut, tapi ada rasa serem juga. Jadi, aku memilih duduk ngobrol daripada ikut. Banyak kisah yang diceritakan dan menjadi inspirasi penulis untuk menulis cerita dan menjadikannya layar hidup.
Aku sendiri termasuk kolektor film sendiri. Sebab mulai dari dahulu kala sejak menggunakan kamera 8 mm bisu dengan Betamax sampai Sony cassette dan DVD. Mulai dari anak-anakku bayi sampai film cucu-cucu. Kadang-kadang istriku marah melihat aku menggendong kamera dengan berat 5kg di pundak, tapi sekarang kami bisa melihat cerita semasa anak-anakku masih kecil.
Coba kita melihat film kenangan kita pada saat pernikahan di gereja! Aku tidak bisa membayangkan kalau ada keluarga yang berantakan kemudian melihat film mereka. Saat janji perkawinan di gereja atau di pesta. Silahkan melihat pesta perkawinan Pangeran Charles dan Putri Diana. Begitu megahnya sehingga menggemparkan seluruh dunia, tetapi semua harus berakhir dengan demikian miris. Demikian juga ada keluarga yang pecah dan penuh dengan dendam ke sumat, perkelahian dan lebih dalam lagi dengan perusakan hidup.
Oleh karena seperti halnya film itu sendiri kita bisa melihat kehidupan kita. Sayangnya kita tidak menonton, orang lain yang bercerita. Kalau saja kita sering menonton film kita sendiri, Tuhan mungkin senang melihat anak-anaknya penuh suka cita menikmati hidup, seperti janji perkawinan bahwa mereka bersama di waktu untung dan malang dan di waktu sehat dan sakit. Film kehidupan kita sekarang terus diputar, tetapi kita tidak ada waktu untuk menontonnya.
Film Satanic Verse dari novel Slaman Rusdi, akhirnya diputuskan tidak boleh masuk Indonesia. Masih beruntung Davinci Code akhirnya boleh beredar di Indonesia. Dahulu sama juga terjadi dengan Jesus Christ Super Star sebagai film yang dilarang beredar di Indonesia. Aku beruntung bisa menyaksikan semua film tersebut. Menurut saya semuanya baik adanya tergantung sudut pandang kita dan juga pencerahan iman yang kita dapat. Masih jauh lebih baik dari banyak film yang merusak moral kita dan anak cucu kita.
Kita memang sedang bermain peran dalam hidup kita, namun Sutradara sedang menyusun scenerio tentang hidup kita, tentang segala yang kita jalani dan akan direkam, baik untuk kita sendiri maupun untuk disaksikan oleh sahabat-sahabat kita.
Pada kunjungan Bapa Suci Paus Yohanes Paulus ke II ke penjara mengunjung Ali Aqsa yang menembaknya, beliau mengatakan bahwa aku telah mengampuni kesalahanmu, seperti halnya Tuhan mengasihi anak-anak-Nya. Ini akan direkam biar bisa dilihat kelak oleh keturunan. Saya teringat ucapan Bunda Maria (sayang dulu tidak ada kamera untuk merekam), kata beliau bahkan dinyanyikan : “Semua keturunan akan mengatakan aku bahagia”! Sama halnya kita semua, bagaimana kalau kita sepakat mengatakan: “Semua keturunan akan mengatakan kita bahagia, tentu melalui film yang kita buat”! Bagaimana kalau film yang kita buat itu film sedih, dan yang menonton akan mengalirkan air mata, bukan menangis sedih tetapi menangis karena melihat kita tidak bahagia, seperi sebuah lagu “Sad Movie” make me cry, but theres no movie, theres me.
CINTA memang luar biasa, berapa banyak penulis kisah CINTA dalam Novel, Cerpen dan tulisan-tulisan lainnya? Seakan-akan tidak ada habis- habisnya. Demikian juga lagu-lagu Cinta. Tante Titiek Puspa, pakar pencipta lagu juga tidak ketinggalan dengan lagu “CINTA”, yang liriknya cukup indah dan telah diangkat menjadi film layar lebar. Banyak sekali kisah cinta yang diangkat dan aku rasa tinggal Kisah CINTA yang kita buat yang belum diangkat ke layar lebar.
Terima kasih Tuhan, atas berkat yang diberikan kepada kita manusia. CINTA yang begitu besar buat kita untuk membuat cerita. Semoga kita semua bisa menjadikan dunia lebih baik.

15 responses to this post.

  1. Posted by Jeffry Hanafi on December 8, 2012 at 2:07 am

    Saya setuju dengan artikel ini. Hidup kita ini bagaikan film yang kita buat, Kita tidak bisa menonton tetapi orang lain yang menilai tentang filmnya. Semua rintangan,kejadian, dan segalanya merupakan bagian dari film kita, dan itu akan mempengaruhi inti dari film kita. Jika kita bisa melihat film kita sendiri, maka kita tidak akan jatuh kedalam cobaan itu. Film juga merupakan sumber inspirasi untuk kita, kita bisa belajar lebih banyak dari film tersebut, dan tentunya mengambil yang sisi positifnya.

    Reply

  2. Posted by Dewi Jayanti on December 14, 2012 at 8:05 am

    Jangan berharap kehidupan sama dengan film, karena film dibuat skenario oleh manusia sampai akhir sehingga orang lain(penonton) dapat mengetahuinya. Berbeda dengan Film, Kehidupan tidak ada yang tahu akhir ceritanya, karena skenario itu dibuat oleh Tuhan dan hanya diketahui oleh dia. Ada banyak film yang berdampak baik dan buruk, terkadang film yang dibuat Oleh seseorang dari Kehidupan Nyata. seperti film surat kecil Untuk Tuhan mengajarkan kepada penonton nya untuk selalu mengingat kepada tuhan dan menumbuhkan rasa kasih sayang kepada satu sama lain dan peran kedua orang tua sangat dibutuhkan oleh anak-anaknya untuk menjalankan kehidupan🙂

    Reply

  3. Posted by mariani purnama on December 17, 2012 at 4:06 pm

    semua perbuatan kita, baik, buruk terekam dalam film kehidupan kita. sangat perlu kita memperhatikan detail2 dalam kehidupan kita.

    Reply

  4. setiap apapun yang telah kita lakukan di dunia ini telah terekam dalam buku kehidupan ALLAH, nanti waktu kita diangkat ke surga. semua akan terlihat kejadian-kejadian yang kita lakukan selama hidup di dunia.

    Reply

  5. film dapat memberikan inspirasi tersendiri terhadap seseorang bahkan bisa dijadikan alat untuk memotivasi diri.

    Reply

  6. terkadang ada film yang dapat mengarjarkan hal yang baik untuk diri kita ,, atau jg ha yang buruk

    Reply

  7. Hidup itu adalah film terbaik yang pernah diciptakan dan akan terkenang sepanjang masa. Kita berperan sebagai pemeran utama. Kita tidak bisa menilai bagus atau tidaknya peran kita, yang melihat dan menilai adalah orang lain. Skenario dalam hidup kita adalah Tuhan dan yang menetukan akhir ceritanya adalah kita sendiri sebab kita yang menjalaninya

    Reply

  8. Hidup kita memang terlihat seperti film yang diputar, kita tidak bisa menontonnya, tapi orang lain dapat melakukannya, Akan tetapi, beda yang terlihat adalah bahwa film dibuat berdasarkan skenario manusia sedangkan hidup kita berjalan berdasarkan skenario Tuhan. Peran utama dalam film bisa dibuat kehidupannya seindah mungkin dan sempurna. Tapi, hidup kita tanpa doa dan usaha, kita tidak akan bisa hidup dengan baik. Kita bukan manusia sempurna atau memiliki kekuatan super seperti yang ada di film, melainkan kita punya Tuhan. Dia merupakan perisai kita yang lebih penting dari apapun juga.

    Reply

  9. kita semua adalah aktris dan aktor, dan Tuhan lah sutradaranya. yang berbeda dengan film-film di Tv adalah kita tidak tau akan sekenario yang Tuhan buat, karna itu terjadi selama alami.

    Reply

  10. Kita hidup dalam sebuah film seperti kenyataan. Hidup adalah proyeksi dan kami adalah pemirsa. Kami mampu untuk melihat kehidupan dengan cara ini ketika kita melepaskan diri dari adegan, dari aktor, dan dari ending. Hidup hampir memiliki mimpi seperti kualitas, perasaan bahwa ini tidak nyata. Ini adalah ilusi, sebuah khayalan belaka. Hidup itu seperti film. Banyak yang menonton, tapi tidak tau sebenarnya apa yang terjadi di balik layar.

    Reply

  11. Posted by stefano agung on May 25, 2013 at 7:44 am

    hidup kita telah dituliskan skenarionya oleh tuhan kita menjalani dan terekam oleh buku harian tuhan apa yang kita perbuat kelak akan diperlihatkan kembali oleh tuhan.

    Reply

  12. Posted by Melisa / 02PNM / 1601232166 on June 15, 2013 at 6:12 am

    Saya sangat setuju dengan cerita diatas, hidup ini seperti film yang diputar, tetapi kita tidak menontonnya, orang lain yang akan menceritakannya. Terkadang kita merasakan bosan dalam kehidupan, ingin melakukan hal yang berbeda yang bisa membuat hidup menjadi berwarna lagi. Jika kita lebih banyak bersyukur dan dapat memaknai kehidupan ini dengan lebih baik pasti kita dapat menjalankan kehidupan ini dengan baik, tidak monoton dan tanpa keluhan-keluhan, maka akan berakhir layaknya FILM yang kita “set” yaitu Happy Ending atau kehidupan yang bahagia.

    Reply

  13. apa yang kita lihat di beberapa film mungkin juga merupakan cerminan kualitas hidup kita yang sangat jelas digambarkan alur-alur ceritanya.

    Reply

  14. Posted by Raymond Bintag on June 17, 2013 at 11:05 am

    film dapat memberikan sisi berbeda dari kehidupan kita yang sekarang dan kita dapat mempelajarinya

    Reply

  15. Jika hidup diibaratkan sebagai film maka kitalah tokoh utamanya. Kitalah yang akan menentukan bagaimana kisah kehidupan kita berjalan, baik maupun buruk. Dan juga bagaimana kisah kita akan berakhir, mungkin sedih mungkin senang.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: