Neraca

Semakin kuat kita, semakin besar tanggung jawabnya,
Semakin dekat dengan Tuhan, semakin besar kewajibannya (Spiderman).

Setiap hari Jumat pagi-pagi, semua direksi beserta manajer perusahaanku mengadakan rapat koordinasi perihal keuangan. Saya selalu ikut dan suka sekali mendengarkan presentasi keuangan dan mengutak-ngutik cash flow, income statement dan neraca. Yang sangat menarik adalah membaca neraca, karena bercerita banyak dan memberikan informasi tentang keseimbangan perusahaan. Untung rugi biasa tetapi masalah kemajuan dan perkembangan perusahaan menjadi suatu penilaian tersendiri.
Neraca bukan saja menjadi bagian kehidupan perusahaan internal tetapi juga menjadi penilaian pihak luar atas gerak perusahaan kita.
Minggu lalu dalam diskusi dengan investor dan fund manajer, mereka mengatakan bahwa neraca perusahaan saya dibuat baik sekali, walaupun tertera banyak kendala yang harus diperbaiki antara lain masalah pembiayaan dan pengolahan equity.
Pada tanggal 17 Agustus yang baru lalu Presiden SBY dalam pidatonya mengatakan neraca perdagangan Indonesia cukup baik, dan kondisi ekonomi Indonesia juga menjanjikan baik adanya, sehingga banyak investor mau menaruh dananya di Indonesia.
Bagaimana dengan kita pribadi, saya sendiri mencoba membuat neraca tentang kehidupan. Berapa banyak modal kehidupan rohani saya? Berapa banyak hutang janji iman saya. Berapa equity yang dipersiapkan? Apa saya memerlukan pinjaman nasehat dan juga apakah hidup saya positif atau negative? Agak susah kalau ditulis di atas kertas seperti layaknya neraca perdagangan. Neraca rohani ditulisnya di atas lembar hati nurani. Sedangkan perhitungan laba rugi diaplikasi dalam perbuatan hari-hari kita.
Semakin besar nilai positif kita, semakin kuat neraca rohani kita, maka semakin bersarlah tanggung jawab kita. Di dalam suatu diskusi kecil dengan beberapa sahabat, timbulah suatu pertanyaan. Apa tanggung jawab kita dalam kehidupan secara rohani? Ada yang menyebut ikuti saja 10 perintah Allah (hafal gak?)
Ada teman yang mengatakan ikuti hukum cinta kasih! Cintailah Allahmu dengan segala akal budimu dan cintailah sesamamu seperti dirimu sendiri! Ada juga yang mengatakan mari berbagi untuk sesama. Tetapi apa nilai tanggung jawab itu sendiri dan sampai di mana ukuran berbagi? Kalau saudara kita di sebelah bilang perpuluhan (10 persen) tapi darimana? Dan untuk siapa? Saya katakan bahwa instabilisasi justru berbahaya buat rohani kita. Sesuatu yang berlebihan tidak baik. Menjadi orang terlalu baik, jadinya tidak baik. Terlalu berbagi akhirnya terbagi, Sebaiknya semua bisa diseimbangkan.
Bukan berarti menyimpang dari hukum cinta Kasih, melainkan melengkapinya. Kang Ebet bilang : ”Memang baik jadi orang penting, tapi lebih penting jadi orang baik!” Ada sebuah joke yang disampaikan seorang sahabat pastor, katanya kalau ditampar pipi kiri, kasih juga pipi kanan, tapi sebelumnya di tendang dahulu donk!
Mari berbagi tanggung jawab, cinta kasih dan usaha kita dalam suka cita. Apabila Anda memberi dengan bersungut-sungguh artinya rugi! Bila Anda mencintai separoh-paroh artinya minus! Apabila tidak bertanggung jawab artinya rugi total.
Sungguh kita bersuka cita karena Tuhan sendiri memberikan keseimbangan kehidupan terutama dengan memberikan anak-Nya.

Itulah beras, yang baik didapat setelah ditapis,
Itulah kedelai, yang baik didapat setelah disaring,
Itulah hidup, yang baik setelah melalui perjuangan.

(Dynamic equilibrium)

Tuhan memberkati dan menyayangi kita semua dengan memberi kita tanggung jawab sebagi bukti Cinta-Nya untuk kita. Jangan sia-siakan apa pun tanggung jawab yang ada pada kita.

32 responses to this post.

  1. menurut saya artikel diatas sangat bagus, menginspirasi dan menambah pengetahuan kalau hidup itu harus seimbang seperti sebuah neraca. keseimbang disini dalam hal kehidupan rohani dan duniawi, kehidupan duniawi yang saya maksud adalah kehidupan sehari-hari di dunia jangan sampai kita hanya terfokus pada hal-hal dunia (matrealistik) dan kesibukan-kesibukan kita yang menyebabkan kita melupakan Tuhan yang telah menciptakan dan telah memberikan nepas kehidupan untuk kita. dari artikel diatas ada kata yang kurang saya setuju yaitu “Apabila Anda memberi dengan bersunguh-sungguh artinya rugi! ” karena menurut saya orang yang bersungguh-sungguh dalam mengerjakan sesuatu maka hasilnya pun tidak akan mengecewakan melainkan kita akan mendapatkan hasil yang memuaskan karena kita telah bersungguh-sungguh.

    Reply

  2. Saya sependapat, menurut saya hidup manusia memang tidak terlepas dari kebutuhan sandang, papan, dan pangan, akan tetapi ada kebutuhan lain yang harus ditanam dan dipupuk oleh setiap orang. Kebutuhan kita tidak hanya terbatas pada materi, tetapi juga dititik beratkan pada hubungan kita dengan Yang Maha Kuasa. Hidup akan seimbang jika kita mampu membagi waktu untuk hal yang berkaitan dengan materi dan rohani. Memenuhi kebutuhan rohani, sama artinya dengan kita mengukur seberapa besar kita beriman. Selain kebutuhan rohani dan materi sudah seharusnya kita memperhatikan orang – orang yang berada disekitar kita.

    Reply

  3. saya sependapat dengan kutipan artikel ini Semakin kuat kita, semakin besar tanggung jawabnya,
    Semakin dekat dengan Tuhan, semakin besar kewajibannya (Spiderman). karena semakin besar jabatan atau strata sosial kita tanggung jawab, kewajiban kita akan semakin besar dan kewajiban kita pada tuhan begitu pula, ada pepatah seperti ini semakin tinggi pohon maka angin akan semakin besar. semakin banyak padi dihasilkan makan tanama itu akan semakin merunduk

    Reply

  4. keadilan memang perlu di tegakan karena tanpa adanya keadilan dunia ini tidak akan tentram, walaupun pada dunia nyata keadilan sukar untuk ditegakkan, namun milailah adil pada diri sendiri.

    Reply

  5. Didalam hidup ini kita pastilah ada ukuran,manakah yang berlebih dan mana yang justru kekurangan.Begitu pula kehidupan rohani kita apakah yang kita lakukan sudah sesuai dengan firman Tuhan?apakah perkataan kita sudah sesuai?dan lain sebagainya.Kita sebagai umat beragama kita pastilah mempunyai dasar dalam kehidupan ini yaitu kitab suci yang memberikan kita arahan untuk menjadi pribadi yang baik,tetapi hal tersebut bergantung pula dengan tingkah perilaku kita apakah kita sudah melakukan hal baik atau buruk dan sudah sesuai dengan firman atau belum

    Reply

  6. Neraca bukan saja menjadi bagian kehidupan perusahaan internal tetapi juga menjadi penilaian pihak luar atas gerak perusahaan kita

    Reply

  7. Posted by steffanus sasteradinata on December 19, 2012 at 3:45 pm

    keadilan adalah keseimbangan terhadap sesuatu tergantung pada porsinya. tidak berlebihan, tidak kekurangan juga…

    Reply

  8. Posted by yugi damah rustandi 11120154 on March 8, 2013 at 5:39 am

    neraca dalam hidup. hmmm, segala yang berlebihan itu kurang baik. akan tetapi kalo kurang pun tidaklah baik. segala sesuatu harus seimbang, antara rohani dan duniawi. pedoman dalam hidup yang terbaik adalah kitab suci kita masing-masing. karna kita percaya bahwa kitab sucilah yang akan menuntut kita hidup dengan benar sampai akhir nafas terkhir kita dan yang akan bawa kita kesurga nantinya.

    Reply

  9. Saya sependapat dengan artikel di atas yaitu “Semakin besar nilai positif kita, semakin kuat neraca rohani kita, maka semakin bersarlah tanggung jawab kita.” karen kl di lihat dari kehidupan nyata memang seperti begitu.

    Reply

  10. Posted by Nindy Astyandari on May 23, 2013 at 12:31 am

    Saya setuju. Jika didalam kehidupan perusahaan neraca dibagi menjadi dua bagian kiri dan kanan. Di bagian kiri terdapat rekening-rekening yang menunjukan harta perusahaan dan yang kanan terdapat rekening kewajiban dan modal. Dalam menyusun neraca harus seimbang antara yang sisi kiri dan sisi kanan jika tidak itu berarti laporan yang di buat salah/gagal. Kalau neraca dalam kehidupan isinya tentang keinginan, amalan dan bekal manusia untuk menuju kehidupan yang hakiki.
    Dalam kehidupan ini kita harus berimbang antara urusan dunia dan urusan akhirat. Kita boleh mengejar harta dunia tetapi hati-hati ada tipu daya syaitan di dalamnya.

    Reply

  11. Posted by stefano agung on May 25, 2013 at 9:06 am

    Saya setuju dengan artikel ini,karna keseimbangan sangat di butuhkan dalam kehidupan kita.agar segala sesuatu yang kita lakukan tidak berlebihan atau tidak kurang.

    Reply

  12. Posted by dwiandra annas putra on May 26, 2013 at 3:41 pm

    keadilan memang perlu di tegakan karena tanpa adanya keadilan dunia ini tidak akan tentram, walaupun pada dunia nyata keadilan sukar untuk ditegakkan, namun milailah adil pada diri sendiri.

    Reply

  13. Saya setuju dengan apa yang Kang Ebet katakan, bahwa memang lebih penting untuk menjad orang yang baik. Dengan menjadi orang yang baik, kualitas hidup kita akan menjadi lebih baik. Mungkin tidak akan terlihat secara fisik, dan memang menurut saya sendiri kebaikan bukanlah sesuatu yang pantas untuk kita pamerkan. Dengan berbuat baik, kita mau berusaha untuk membuat kehidupan ini menjadi sesuatu yang lebih baik, dan ini adalah hal yang sangat penting.

    Reply

  14. Posted by cheri on June 14, 2013 at 5:24 pm

    topik ini sangat menarik, Semakin seimbangnya kehidupan kita akan sangat baik untuk perkembangan kepribadian kita. kepribadian kita akan kebentuk dari keseimbangan hal-hal yang kita lakukan selama ini. semakin besar tanggung jawabnya,Semakin dekat dengan Tuhan, semakin besar kewajibannya.

    Reply

  15. Saya sangat setuju dengan artikel di atas. Di dalam hidup ini memang diperlukan neraca untuk kita bisa hidup dengan seimbang. Dan tanggung jawab juga sangat diperlukan untuk bisa kita menjaga keseimbangan dalam hidup kita.

    Reply

  16. Posted by Melisa / 02PNM / 1601232166 on June 15, 2013 at 5:16 am

    Didalam hidup ini semuanya harus kita jalankan secara seimbang, jika tidak maka akan berat sebelah dan itu akan menjadi dampak positif ataupun dampak negatif. Kebanyakan orang duniawi hanya memikirkan uang, harta dan semua yang bersifat duniawi. Tidak bisa di pungkiri bahwa setiap orang pasti ingin kaya, hidup berkecukupan makmur, bebas dari kemiskinan. Tetapi hanya sedikit orang yang memahami bahwa, sesungguhnya harta itu adalah amanah serta ujian bagi siapa saja yang di berikan Tuhan kekayaan di dunia karena harta itu bisa membawa seseorang ke surga atau bahkan ke neraka. Kita harus seimbang dalam menjalankan hidup seperti contoh yang saya berikan tadi, boleh-boleh saja mencari harta kekayaan tetapi kita juga harus seimbangkan dengan kehidupan beragama, jangan sampai kita mencari harta tetapi dengan cara-cara yang tidak halal/tidak sejalan dengan peraturan agama kita.

    Reply

  17. keadilan memang merupakan hal yang multlak diperlukan untuk tercapainya keseimbangan dalam hidup ini. ibarat neraca, jika salah satu bagian neraca lebih turun maka bagian lainya akan naik. mari kita miliki pandangan yang adil terhadap berbagai hal.

    Reply

  18. artikel yang menarik. keadlian yang nyata dimulai dari diri sendiri, dimulai dari hal-hal kecil yang kita anggap sepela tetapi berdampak pada lingkungan dan diri kita.

    Reply

  19. Posted by Maorel on June 15, 2013 at 1:43 pm

    Segala sesuatu yang berlebihan/kekurang pasti hasilnya tidak baik. Oleh karna itu didalam hidup kita dibutuhkan keseimbangan. Saya setuju dengan aetikel ini bahwa jika kita semakin dekat dengan Tuhan maka kita wajib menyeimbanginya dengan menjalankan tugas tugas kita sebagai hambaNya

    Reply

  20. saya sangat setuju denga artikel ini semakin ke sini kehidupan yang kita jalani akan semakin berat denga banyak tanggungan yang harus kita tangung tetpi tanggungan tersebut akan semakin ringan apabila kita seleseikan dengan di iringi doa kepada tuhan percayalah tuhan akan membantu semua permaslahaan yang kita tanggung dan akan meringankan semuanya

    Reply

  21. Posted by Raymond Bintag on June 17, 2013 at 10:49 am

    tulisan yang menarik entah knp saya membaca neraca ini membuat saya berpikir lebih jauh lg

    Reply

  22. artikel yang singkat namun sangat menginspirasi.. mengingatkan kembali tentang pentingny arti sebuah tanggung jawab

    Reply

  23. menurut pendapat saya, artikel di atas sama dengan seperti semakin tinggi suatu pohon, maka angin yang menerpanya semakit kencang. sama dengan halnya apabila kita semakin dekat dengan Tuhan, maka akan ada cobaan yang di berikan olehnya untuk menilai kita apakah kita cukup mahir dan apakah kita akan tetap berada di dekat-Nya atau malah pergi menjauh karena merasa tidak adil. namun Tuhan tentunya tidak akan pernah memberikan cobaan yang tidak bisa di lewati.

    Reply

  24. Posted by yugi p5 ubm on June 21, 2013 at 1:02 pm

    Imbang , neraca, balance , hdup sprti nerca , hrus imbng , klo ga imbng ga bgus , wkwkwkwkkw jdii hdup lah sprti neraca , klo ga balance yh dikoreksi

    Reply

  25. saya sependapat, dan manusia harus mampu menyeimbangkan hidupnya terhadap kebutuhan rohani dan jasmaninya.

    Reply

  26. saya sependapat dengan artikel ini Semakin kuat kita, semakin besar tanggung jawabnya,
    Semakin dekat dengan Tuhan, semakin besar kewajibannya. karena semakin besar jabatan, kewajiban kita akan semakin besar dan kewajiban kita pada tuhan pun begitu

    Reply

  27. Saya sependapat dengan artikel diatas.
    Seharusnya keadilan dapat ditegakkan tetapi keadilan sukar dipertahankan
    Neraca bukan saja menjadi bagjian kehidupan perusahaan internal tetapi juga menjadi pihak luar atas gerak perusahaan kita.

    Reply

  28. Posted by Thalia on January 16, 2014 at 9:27 am

    Setuju. Sama seperti semakin tinggi jabatan yang anda pegang anda bertanggung jawab lebih besar lagi kepada pimpinan anda. Semakin dekat dengan Tuhan semakin kita tau apa yang Tuhan inginkan maka kita harus menyuarakan suara Tuhan..

    Reply

  29. Posted by 01PNO-Andrien on January 16, 2014 at 3:52 pm

    Keseimbangan sangat di perlukan dalam kehidupan kita. Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Jika kehidupan kita berat sebelah maka hasilnya tidak akan baik. Seperti kata Pak Adharta, berbagi itu baik namun jika terlalu berbagi maka akan terbagi.

    Reply

  30. Posted by Brian Rickyantara on March 24, 2014 at 12:06 pm

    Menurut saya, hidup ini memang sesuai dengan artikel yang di atas. sehebat apapun manusia juga tidak akan lepas dari tanggung jawab. “with great power comes great responsibility”

    Reply

  31. Posted by Khoerintus on March 24, 2014 at 1:08 pm

    Terimakasih atas artikelnya. Artikel ini mengingatkan saya akan segala sesuatu di dunia ini harus seimbang, antara kehidupan rohani, dan kehidupan jasmani saya. Dimana sekarang, menurut saya banyak orang yang mulai tidak mementingkan berat neraca kehidupan rohaninya.

    Reply

  32. With great power, comes great responsibility, itulah kehidupan kita sehari- hari. Dengan adanya otoritas atau hak yang besar, akan juga disertai dengan kewajiban yang besar. Semakin dekat dengan Tuhan, semakin besar kewajibannya (Spiderman).
    Namun jangan dilupakan juga , dengan adanya kekuatan yang semakin besar dan tanggung jawab yang besar, ada juga yang menyertai yaitu Pengorbanan yang besar.
    With great power, comes great responsibility, and great sacrifices! Pengorbanan disini perumpamaan dari kerja keras dan usaha kinerja yang dilakukan kita untuk mencapai kelayakan hak(power) tersebut sehingga bertanggung jawab.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: