Author Archives: adharta

Unknown's avatar

About adharta

Be positif

Alergi

Kalau alergi, bisa diatasi dengan meningkatkan ketahanan dan kekebalan tubuh.

Saya menerima kiriman Surel untuk undangan seminar tentang alergi, dan diikuti dengan sedikit penjelasan tentang apa itu alergi dan bagaimana bisa terjadi, bagaimana mengatasi alergi dengan kekebalan tubuh.
Setahun yang lalu saya juga mengikuti seminar di UI tentang alergi. Mengapa saya suka mengetahui perihal alergi karena saya sejak usia 8 tahun sudah menderita alergi parah. Saya tidak bisa makan udang, ikan, kecap asin dan garam. Kita bisa bayangkan penderitaan ini. Kalau saya sudah kena alerti, maka bibir luka semua, jari tangan melepuh dan seluruh tubuh bisulan. Saya sangat menderita. Itu semuanya berakhir sekitar usia 25-an. Saya sekarang sudah sembuh, walaupun kadang-kadang trauma itu masih ada.
Mulai dari Dr. Edwin Djuanda, Prof. Dr. Junus, Dr. Inyo Beng Liong dan anak-anaknya seperti Dr. Subandi, Dr. Wati Suryati, Dr. Tan Kee Hock (Mt. E) dan Dr. Phang Hian Tjing (GH). Mereka ini adalah nama-nama dokter alergi terkenal. Ada juga sejumlah dokter lain yang menangani aku.
Mulai dari phisioterapy, aroma teraphy, macam-macam obat dan vitamin. Semua sudah coba termasuk obat Cina.
Alergi bagi yang pernah mengalami adalah momok. Misalnya bayangkan bagaimana saya harus tidur telungkup selama seminggu karena punggung penuh bisul dan sakit sekali, tapi ini nyata dan tidak bisa di hindari. Berbahagialah teman-teman yang punya daya tahan kuat terhadap alergi.
Alergi yang dihadapi manusia dalam kehidupan rohani kita menyebutnya luka batin atau sakit hati. Gejalanya sama yaitu melemahnya daya tahan tubuh dan sakit luar biasa. Gejala awal alergi batin adalah iri hati, cemburu, marah, sombong, ingkar janji dan bohong. Gejala awal ini kalau tidak diatasi secara cepat akan membuat tingkat alergi lebih tinggi dan bisa menjadi penyakit jiwa dan raga.
Sepanjang proses kehidupan kita diisi dengan adanya kekebalan tubuh terhadap gejala-gejala alergi batin yang memungkinkan kita kita terbebas dari sakit, baik penyakit jiwa maupun raga.
Semoga kasih Tuhan dan rahmat-Nya bisa memberikan kekuatan buat kita untuk mengatasi segala sakit penyakit di sekitar kita.

Lilin

Sahabat yang paling kupercaya, adalah dia yang menyalakan lilin saat aku tiada.

Perjalanan dengan naik mobil memang sangat menyenangkan apa lagi bisa menikmati pemandangan. Semasa anak-anak masih kecil kami selalu menyediakan waktu touring dengan mobil, bahkan pernah sampai Denpasar. Suatu kesempatan aku bersama teman-teman melakukan perjalanan di Australia, melalui Perth kami ke Alice Spring lalu naik mobil jmenuju ke arah Rock Wave. Di dalam perjalanan sampai malam hari, cuaca bagus sekali, lalu kami turun dan menginap malam hari. Kami duduk di halaman Mobil Inn. Tiba-tiba lampu mati lalu gelap gulita karena di daerah padang pasir. Beberapa saat kemudian penjaga datang dengan beberapa lilin. Kami duduk ngobrol minum kopi sambil menatap lilin. Luar biasa, karena di kegelapan ternyata terang lilin jadi sangat nyata. Suhu udara 15 derajat jadi sedikit hangat, tapi saking asyiknya ngobrol, lilinnya meleleh sampai mau habis. Kata temanku sungguh mulia lilin ini, rela mencair untuk menerangi!!!
Kalau pernah nonton film “Assasination” yang main Van Damme, dan Jessy. Film action yang bagus tentang balas dendam dan kehidupan keras karena tidak ada saling percaya dan selalu saling curiga. Dalam dialognya kata Jessy : ”Aku tidak bisa mempercayai siapapun, apa lagi laki-laki di dunia, aku hanya percaya kepada siapa yang kelak menyalakan lilin di saat aku tiada!!!
Indah sekali kata-kata ini karena kita selalu ingat lilin saat kegelapan hadir di rumah kita saat lampu mati.
Tuhan selalu menyalakan lilin buat kita, sehingga hati kita bebas dari kegelapan. Sayangnya angin egoisme selalu meniup mati lilin di hati kita. Lilin di hati selalu leleh dan mencair untuk menerangi. Meleleh adalah pengorbanan karena memberikan terang baik untuk diri sendiri atau orang lain yang kita cintai. Ibarat lilin harus rela mencair.
Bagi kita lilin sudah hampir punah karena ada lampu dan listrik. Kalau mau cari lilin datang saja. Di gereja masih banyak lilin. Berlutut dan memasang lilin di kaki Bunda Maria lalu berdoa agar Bunda Maria mau menyalakan lilin di hati kita seperti lilin yang kita pasang. Padahal di dalam gereja sudah terang benderang. Mengapa harus pasang lilin? Dalam kehidupan, kita pun merasa terang benderang, tetapi lilin tetap kita nyalakan sehingga suatu saat ada kegelapan, maka kita sudah terang. Atau jika ada sahabat yang membutuhkan lilin, maka bisa mengambilnya.
Terang lilin berbeda dengan terang lampu karena ia dibakar di atas sumbu. Lilin itu menyala seolah-olah ia berasal dari bumi dan nyalanya membuat hati kita tenang. Cobalah berdoa di rumah di dampingi lilin atau hanya menatap nyala lilin rasanya sejuk sekali.
Saat kita dibaptis, kita dapat lilin. Saat Paskah dan Natal penuh lilin. Saat perkawinan kita juga dapat lilin. Lilin identik dengan DOA. Jadi di manapun kita berada, dekat lilin kita sudah mendapat Doa dalam hati kita.
Semoga Kasih Tuhan menerangi kita, dan kita bisa jadi lilin yang rela mencair untuk menerang.

Tersesat

Siapa yang merasa tersesat, itu pertanda dia mulai benar.
Siapa yang berprasangka, dia akan tersesat!

Semalam saya bersama beberapa sahabat duduk menikmati kopi Luwak, melewati Minggu sore yang indah sambil berdiskusi bisnis. Biasanya jarang sekali saya mau karena hari Minggu biasanya jatah untuk cucu, tapi apa boleh buat ini emergency, apalagi didampingi dua pastor sahabatku sehingga suasana bisnis berubah jadi liturgis. Masih sekitar berbicara bisnis, saya teringat strategi approach dan win win solution, yang saya pelajari. Ada pepatah mengatakan “Siapa berprasangka, dia akan tersesat”! Ada juga kita petik tulisan pendeta besar Nus Remas, yang dikirim via BBM ke saya :

“God says that not only you are accepted, you’re valuable. You can be rich or poor, but it has nothing to do with your value as a person.
“Come to the Lord, the living stone rejected by people as worthless but chosen by God as valuable.” (1 Peter 2:4).

Batu bangunan tertentu, dipakai sebagai petunjuk, tapi kalau sudah ada tanda-tanda lain, maka batu itu akan dibuang orang, namun batu itu jadi batu penjuru agar orang tidak tersesat lagi. Suatu reformasi luar biasa, di mana orang yang berprasangka bahwa Batu Penjuru yang sudah tidak berguna dan dibuang ternyata dipakai Tuhan. Bahkan ia memiliki nilai sangat bagus. Memang benar sekali kita tidak bisa begitu saja berprasangka karena justru dapat menyesatkan kita, tetapi sebaliknya kalau kita merasa tersesat maka kita akan mulai dari awal dan mengetahui persis jalannya.
Acara malam tadi malam dilanjutkan dengan nonton film Bourne Legacy, sebuah film drama action bercerita tentang kehidupan spionase. Sebuah dialog diakhir film antara Aaron dan Marta, “Apakah kita tersesat?”, tanya Marta. “Iya kita tersesat!”, jawab Aaron. “Tapi biarkan kita tersesat, mungkin itu petunjuk kita supaya tidak tersesat!”, lanjutnya
Sampai malam saya merenung tiga kondisi tersesat dan dijelaskan oleh Pendeta Nus perihal tersesat itu. Sungguh berbahagia karena kita semua bagai orang yang tersesat dan disini nilainya bagus bagi kehidupan rohani kita.
“Thy Word is a lamp unto my feet and the light unto my path”. Tersesat, pasti kita semua pernah mengalaminya, apalagi tersesat dalam arti kata kehidupan rohani. Tersesat seakan-akan suatu keadaan di mana Tuhan memberikan kesempatan kepada kita agar mengetahui jalan hidup kita. Seperti batu yang dibuang orang kini menjadi batu penjuru. Semoga kita semua bisa menemukan jalan kita dan tidak tersesat.

Kebetulan

Sesungguhnya kebetulan itu tidak ada, yang ada hanya terkejut.


Suatu perjalanan ke mana saja pasti akan melihat fatamorgana, ada yang baik ada juga yang kurang bahkan ada tidak baik menurut pandangan manusia. Padahal bagi Allah semua kejadian baik adanya.
Suatu hari saya terbang dari Medan ke Jakarta dengan Garuda. Penerbangan siang hari tapi cuaca buruk sekali. Semua itinerary saya telah diatur oleh protokol. Saya bersama sahabat Pak JP Soetadi Martodihardjo. Pada saat di atas pesawat saya duduk kursi nomor 1A dan 1B. Anehnya di eksekutif class ini hanya kami berdua saja. Perasaan saya tambah aneh karena beberapa sahabat saya, juga ada boss saya semua naik ekonomi. Padahal rata-rata mereka biasa pakai kelas bisnis. Tidak berapa lama naiklah Sultan Hamengku Buwono X bersama Ratu Hemas di kursi nomor 1D dan 1E dan duduk pas di samping saya. Sahabat saya tadi langsung sembah sujud dan salam serta mencium tangan rajanya. Ini tradisi Jawa sedangkan saya hanya salaman dan senyum saja, karena saya dan Sri Sultan sudah kenal cukup lama. Beliau juga bisa menyebutkan namaku dan sekaligus arti nama saya.
Kelihatannya seluruh ruang kelas kksecutive dikosongkon untuk Sri Sultan dan Ratunya, tapi entah mengapa saya juga tidak tahu, apakah ada sengaja diberikan khusus kursi dengan nomor 1 di samping raja. Sedangkan kapasitas ruangan 40 kursi hanya diisi 4 orang. Bahkan hadir walikota dan pejabat lainnya semua di kelas ekonomi. Tentu saja saya tersanjung bahkan biasa didampingi 3 pramugari kali ini 6 orang pramugari dan semua dengan kostum khusus kerajaan. Di atas pesawat kami bercerita panjang lebar dan bernostalgia di masa lalu. Kami tidak lupa berbicara tentang filosofi dan ritual keagamaan, saya juga menyinggung falsafah Jawa “SOPO WERUH ING PANUJU sasat SUGIH PAGER WESI” (Semua tujuan luhur pasti dituntun, dan tidak terjadi secara kebetulan — terjemahan versi saya)
Memang bertemu dengan Sri Sultan tidaklah mudah apa lagi bisa ngobrol santai dan bercanda selama dua jam di atas pesawat bahkan ikut kuliah atau belajar tentang kehidupan, baik sebagai orang biasa juga sebagai seorang raja.
Siang tadi saya menghadiri acara Halal bi Halal. Ada Lurah Jelambar, para ketua RW, para ketua RT, ibu-ibu PKK, pejabat Muspida, tokoh-tokoh masyarakat. Saya didudukan di paling depan bersama bapak Lurah Jelambar dan istri.
Dalam Santapan Rohani Ustad Ratno, memberikan Tadyaah sebagai Siraman Rohani yang adem. Yang menarik adalah kisah tentang sahabat Nabi Muhamad SAW, seorang buta dan rumahnya jauh dari mesdjid. Lalu beliau menghadap nabi mohon ijin pindah tinggal dekat mesjid atau di dalam mesjid, tapi kata nabi, jangan! Kalau begitu saya beribadah di rumah saja, juga kata nabi jangan! Jadi saya harus bagaimana? Kata nabi : “Kalau kamu berjalan ke mesjid, karena setiap langkah kirimu akan menghapus dosamu, dan setiap langkah kananmu akan membeikan kebahagiaan bagimu, dan jarak jauh akan berobah menjadi dekat!
Saya masih termenung ingat pepatah Jawa tadi dan saya juga tidak kebetulan dengar santapan rohani ini. Maklum karena rumah saya dekat sekali dengan Gereja Paroki Santo Kristoforus Jakarta.
Memang benar bahwa jarak kita dengan rumah ibadah bukanlah jauhnya jalan tetapi hati kita. Jadi, kalau hati kita jauh dari Tuhan jarak 100 meter dari rumah ibadah pun tidak akan sampai. Sebaliknya jarak 10km pun kita bisa sampai!
Sedangkan langkah kiri kita adalah niat. Setiap niat baik yang kita jalankan pasti akan dituntun. Otomatis akan menghapus dosa kita. Sedangkan langkah kanan kita adalah ibadah (menyenangkan hati orang adalah ibadah), sehingga setiap kita beribadah hadiahnya adalah kebahagiaan kita. Seperti saya sering sampaikan bahwa di dalam kebahagiaan ada keselamatan dan kesembuhan.
Acara ditutup dengan doa oleh Ustad, bersalam-salaman, saling memaafkan dan makan siang. Sungguh berbahagia. buat saya dan Anda sahabat-sahabatku karena kita sering menerima berkat. Kita sering mengibaratkan berkat itu sebagai kebetulan, dan terjadinya tanpa kita duga. Bagaimana pun juga Tuhan selalu menuntun kita di jalan benar tetapi kita yang sering keluar dari jalur yang benar.

Neraca

Semakin kuat kita, semakin besar tanggung jawabnya,
Semakin dekat dengan Tuhan, semakin besar kewajibannya (Spiderman).

Setiap hari Jumat pagi-pagi, semua direksi beserta manajer perusahaanku mengadakan rapat koordinasi perihal keuangan. Saya selalu ikut dan suka sekali mendengarkan presentasi keuangan dan mengutak-ngutik cash flow, income statement dan neraca. Yang sangat menarik adalah membaca neraca, karena bercerita banyak dan memberikan informasi tentang keseimbangan perusahaan. Untung rugi biasa tetapi masalah kemajuan dan perkembangan perusahaan menjadi suatu penilaian tersendiri.
Neraca bukan saja menjadi bagian kehidupan perusahaan internal tetapi juga menjadi penilaian pihak luar atas gerak perusahaan kita.
Minggu lalu dalam diskusi dengan investor dan fund manajer, mereka mengatakan bahwa neraca perusahaan saya dibuat baik sekali, walaupun tertera banyak kendala yang harus diperbaiki antara lain masalah pembiayaan dan pengolahan equity.
Pada tanggal 17 Agustus yang baru lalu Presiden SBY dalam pidatonya mengatakan neraca perdagangan Indonesia cukup baik, dan kondisi ekonomi Indonesia juga menjanjikan baik adanya, sehingga banyak investor mau menaruh dananya di Indonesia.
Bagaimana dengan kita pribadi, saya sendiri mencoba membuat neraca tentang kehidupan. Berapa banyak modal kehidupan rohani saya? Berapa banyak hutang janji iman saya. Berapa equity yang dipersiapkan? Apa saya memerlukan pinjaman nasehat dan juga apakah hidup saya positif atau negative? Agak susah kalau ditulis di atas kertas seperti layaknya neraca perdagangan. Neraca rohani ditulisnya di atas lembar hati nurani. Sedangkan perhitungan laba rugi diaplikasi dalam perbuatan hari-hari kita.
Semakin besar nilai positif kita, semakin kuat neraca rohani kita, maka semakin bersarlah tanggung jawab kita. Di dalam suatu diskusi kecil dengan beberapa sahabat, timbulah suatu pertanyaan. Apa tanggung jawab kita dalam kehidupan secara rohani? Ada yang menyebut ikuti saja 10 perintah Allah (hafal gak?)
Ada teman yang mengatakan ikuti hukum cinta kasih! Cintailah Allahmu dengan segala akal budimu dan cintailah sesamamu seperti dirimu sendiri! Ada juga yang mengatakan mari berbagi untuk sesama. Tetapi apa nilai tanggung jawab itu sendiri dan sampai di mana ukuran berbagi? Kalau saudara kita di sebelah bilang perpuluhan (10 persen) tapi darimana? Dan untuk siapa? Saya katakan bahwa instabilisasi justru berbahaya buat rohani kita. Sesuatu yang berlebihan tidak baik. Menjadi orang terlalu baik, jadinya tidak baik. Terlalu berbagi akhirnya terbagi, Sebaiknya semua bisa diseimbangkan.
Bukan berarti menyimpang dari hukum cinta Kasih, melainkan melengkapinya. Kang Ebet bilang : ”Memang baik jadi orang penting, tapi lebih penting jadi orang baik!” Ada sebuah joke yang disampaikan seorang sahabat pastor, katanya kalau ditampar pipi kiri, kasih juga pipi kanan, tapi sebelumnya di tendang dahulu donk!
Mari berbagi tanggung jawab, cinta kasih dan usaha kita dalam suka cita. Apabila Anda memberi dengan bersungut-sungguh artinya rugi! Bila Anda mencintai separoh-paroh artinya minus! Apabila tidak bertanggung jawab artinya rugi total.
Sungguh kita bersuka cita karena Tuhan sendiri memberikan keseimbangan kehidupan terutama dengan memberikan anak-Nya.

Itulah beras, yang baik didapat setelah ditapis,
Itulah kedelai, yang baik didapat setelah disaring,
Itulah hidup, yang baik setelah melalui perjuangan.

(Dynamic equilibrium)

Tuhan memberkati dan menyayangi kita semua dengan memberi kita tanggung jawab sebagi bukti Cinta-Nya untuk kita. Jangan sia-siakan apa pun tanggung jawab yang ada pada kita.

Kado

Kalau saja kado itu bisa berbicara, tentu ceritanya pasti indah (JFK)

Foto seni kaligrafi bertuliskan Doa Bapa Kami


Marilyn Monroe memasuki kamarnya tidurnya. Di sana penuh dengan kado dan bingkisan bunga tangan. Semua datangnya dari pejabat negara, bahkan presiden atau raja-raja. Ada juga pejabat dari negara-negara terkenal kirim kado untuknya. Tapi, semuanya tidak dibuka kecuali bungkusan paling kecil. Yang lainnya disuruhnya sang ajudan menyimpannya di museum pribadinya yang tidak bernah dibuka sampai sekarang. Bungkusan paling kecil yang dibuka itu berisi bros bunga yang dibuat dari batu pualam dan bertahtakan intan berlian. Kado kecil itu merupakan pemberian seorang presiden negara terkemuka. Dia mencium bros bunga tersebut lalu mengikatnya di pita biru dan diikatkan di lehernya, lalu dia minta difoto (fotonya bisa dibrowsing diinternet).
Waktu aku menikah di tahun 1982, pulang pesta ada 10 karung lebih kado. Karena jaman itu memberi uang kurang etis atau kurang hormat, bahkan ada teman langsung menghubungi toko elektronik dan langsung dijual. Atau kadang sebelum kawin sudah ditanya mau perlu apa. Nanti toko kirim langsung ke rumah. sekarang sudah berbeda, kalau pesta kawin kita bawa kado wah bisa diketawain. Bahkan di undangan sudah dikasih tanda Kado X – Bunga X.
Pada jaman Constantine, ada tradisi memberi kado, harus diberkati sama pastor atau uskup. Demikian juga para raja memberi kado, bukan saja benda tapi kota. Demikian Kota Alexandria dibuat kado.
Sejak sebulan lalu aku memandang beberapa kenangan kado yang sudah puluhan tahun tapi masih menghias kamar kami, termasuk jam dinding, jam duduk dan beberapa lampu hias. Memang beda kalau sekarang kita cuma bisa menerima uang karena sirnalah kenangan baik dari keluarga maupun sahabat. Padahal kalau ada kado sekecil apapun ada kenangan besar di dalamnya. Ada sebuah jam pemberian Pak Haris Gunario tahun 1997 masih terpajang dan selalu kukenang, karena persahabatan begitu erat. Minggu lalu seorang putri almarhum Lao Tse saya mengantar undangan, saya mencoba mengulang tradisi masa lalu dengan menanyakan apa kebutuhan rumah barumu. Katanya masih kosong! Giliran aku yang bingung. Jadi aku bilang televisi akan menghias ruanganmu.
Kalau kita renungkan, memang tradisi kado ini sangat indah. Tanda mata dan kenangan akan melekat di sanubari dalam jangka waktu yang cukup lama, tetapi maknanya bukan itu saja. Ikatan kekeluargaan dalam persahabatan akan terjalin erat dan hati nurani akan selalu mengenang saat-saat indah pada saat kado itu diterima.
Misalnya kado perkawinan, setiap kali kita memandang kado itu, selain kita ingat siapa pemberinya kita juga mengingat betapa indahnya saat-saat pesta perkawinan. Saat-saat pemberkatan perkawinan dan janji perkawinan, seperti yang kuucapkan dalam misa HUP ke-30 di Gereja Stasi Santo Polikarpus, Grogol hari Minggu kemarin.
Pada saat kita berdoa, itu merupakan kado paling indah walaupun tidak berupa, tidak berbentuk, dan tidak berwangi seperti halnya kado biasa. Namun, doa adalah kado yang tiada ternilai. Kado yang cantik sekali dan harum serta akan dikenang sepanjang masa. Ia tidak akan dimakan ngengat atau rayap. Abadi adanya.
Doa “Bapa Kami” adalah kado yang paling indah yang pernah kudapatkan selama hidupku. Ia menemaniku dulu, sekarang, selalu dan selamanya. Terima kasih Yesus Kristus, atas pemberian kado buat kami sahabat-sahabat-Mu. Doa ”Bapa Kami” akan menjadi bagian bagi kami untuk mengenang-Mu. Seperti halnya memandang kado pemberian para sahabat. Doa ”Bapa Kami” akan mengenang-Nya dan mengenang saat-saat indah dalam hidupku, sekaligus menjadi pelipur di saat lara. Tuhan memberkati dengan kasih karunia-Nya, cinta-Nya serta kado-Nya yang indah.

Kado ini kukirim buat para sahabat di Papua.

Kapal Laut

Tuhan tidak pernah menjanjikan laut tenang, atau cuaca selalu baik, tetapi Tuhan menjanjikan pelabuhan tujuan yang indah!

Kapal Laut

Setiap hari aku berkomunikasi dengan crew kapal-kapal kami yang berlayar mengarungi samudra, meniti jembatan lautan, dan membelah sukma dalam rindu keluarga. Aktivitas itu terus dilakukan demi memberikan pelayanan kepada para pelanggan kami agar barang-barang atau alat alat mereka disampaikan ke pelabuhan tujuan tepat waktu. Kami bisa berkomunikasi baik lewat telepon satelite, internet maupun radio SSB sampai jarak ribuan mil laut. Suka duka anak buah kapal, nakoda dan masinis tentu banyak cerita manis-manis dan selalu manis. Walaupun digoyang ombak dan diterpa badai, pelaut tiada pernah takut tetapi jiwa besar berpasrah dalam lindungan-NYA.
Setiap perjalanan kapal memang meninggalkan kesan yang menyenangkan. Jarang sekali ada pertengkaran atau kericuhan di atas kapal. Hampir selalu penuh dengan suka cita. Pelayaran kadang jauh. Di laut kadang bisa 20 hari. Jadi, hanya bulan bintang menghibur di malam hari dan desiran ombak.
Kapal-kapal modern sekarang sudah dilengkapi peralatan navigasi canggih, peralatan safety dan konstruksi yang baik sekali.
Kenangan saya melayang di tahun 1974 awal tahun saya berlayar dengan kapal kami KM Insumar bersama kawan saya John Tambayong dari Surabaya menuju Kupang 5 hari perjalanan. Belum ada pesawat terbang melayani jalur ini. Walau sahabat saya mabuk laut habis-habisan, muntah dan tidak bisa makan, tapi kami isi dengan menyanyi. Siang hari memancing ikan dan masak ikan segar. Kenangan manis ini membuat saya menulis kisah perjalanan di tahun 1979.
Kapal laut, sering diibaratkan sebagai bahtera rumah tangga. Kenapa demikian saya tidak tahu darimana datangnya, tetapi memang kehidupan rumah tangga seperti kapal laut yang berlayar. Suami sebagai nakoda, istri sebagai masinis, dan anak-anak sebagai anggota atau ABK. Semua harus terlibat. Satu hal yang sangat menarik di atas kapal adalah manajemen yang sangat rapi. Tidak ada satu pun yang nganggur. Semua bekerja keras.
Rumah tangga yang sehat bisa mencontoh sebuah kapal laut yang dioperasikan dari pulau ke pulau atau kota ke kota. Walau badai menerpa, angin ribut melawan, hujan dan angin, petir, ombak menggulung, dan arus menghanyutkan, tetapi semua bisa dilalui.
Ada juga kita lihat dan temukan rumah tangga ibarat kapal pecah atau tidak kuat diterpa ombak dan badai sehingga harus tenggelam. Memang benar Tuhan tidak selalu menjanjikan rumah tangga selalu damai dan penuh suka cita. Kadang harus melawan goncangan-goncangan, namun Tuhan pasti menjanjikan pelabuhan tujuan cinta yang indah. Jadi, kita nikmati badai dan ombak dalam rumah tangga bukan sebagai sumber kecelakaan atau bagian dari kapal pecah melainkan semuanya adalah rencana Tuhan. Dan, akan menjadi indah pada waktunya.
Ibarat kita ujian dan naik kelas atau lulus hasilnya akan sungguh menggembirakan kehidupan kita. Namun sebuah kapal yang pasti perlu nakoda yang baik bisa mengayomi, penuh tanggung jawab dan selalu memberikan cinta.
Kehidupan Rohani kita juga sama halnya kapal laut. Di air laut pasang dan surut kadang-kadang kita kehilangan arah tapi Tuhan selalu memberi petunjuk ibarat bintang tujuh di arah selatan.
Tuhan begitu sayangnya sama kita anak-anak-Nya sehingga tiada hentinya menghembuskan nafas cinta-Nya buat kita hidup lebih hidup. Semoga Tuhan memberkati semua sahabat, terutama melindungi bahtera rumah tangga yang sedang dilanda badai dan ombak.

Penjara

Ketika Aku Lapar engkau tidak memberi makan,
Ketika Aku di penjara engkau tidak mengunjungi-Ku

Karena perjuangannya untuk kemerdekaan India, Gandhi dipenjara selama tujuh tahun. Gandhi yakin bahwa merupakan sikap kesatria dipenjarakan karena berbuat baik.

Setelah membaca SMS yang dikirim dari sahabat di KKT dan dikonfirmasikan ke beberapa teman dan istri saya yang adalah aktivis pemerhati HIV-AIDS, akhirnya kami setuju untuk kunjungan ke Penjara Nusa Kambangan.
Jumlah kami cukup besar lebih kurang 40 orang. Saya dan istri di dampingi Romo Yance Mangkey, MSC. Kami tiba Jumat sore di Cilacap dan langsung menuju Gereja. Di sana sudah menunggu beberapa romo, di bawah koordinasi Romo Carolus dan Romo Suratman SJ. Ada juga penyanyi Indonesia Idol Edo. Kami sempat disuguhi makan malam yang enak sekali khas Cilacap, lalu kami menuju hotel untuk istrahat.
Rombongan utama sudah tiba sehari sebelumnya, lalu melakukan ziarah ke Goa Maria di Cilacap. Sabtu pagi kami akan masuk ke Nusa Kambangan. Rombonga tiba di daerah steril untuk menyebrang. Kami didampingi rombongan KKT (Kelompok Kasih Tuhan) yang sudah biasa melayani di Penjara Nusa Kanbangan. Tidak ketinggalan rombongan Keuskupan Purwokerto, di bawah pimpinan bapak Uskup Mgr. Soenarko dan didampingi dua pastor. Romo Carolus kebingungan juga karena jumlah rombongan lebih dari biasanya. Untung sekali ijin masuk diberikan berkat kerja keras KKT dan Paroki Cilacap.
Rombongan kita bagi enam untuk masing-masing penjara ( ada 7 penjara tetapi kita hanya masuk 6, karena ada 1 tahanan khusus tidak boleh di kunjungi). Di enam penjara, kami mengadakan Misa Kudus. 5 penjara biasa dipimpin oleh pastor. Saya di penjara keenam namanya SMS (Special Maximum Security) yang misanya dipimpin konselebran bapa Uskup Mgr. Soenarko, Romo Suratman.
Penjara SMS adalah para napi yang menerima hukuman mati dan menunggu waktu eksekusi saja. Misa berjalan sangat terharu sekali. Bayangkan, kami bersama lebih kurang 40 Napi Katolik dan Protestan yang akan segera di hukum mati. Saat Komuni bapa uskup mengumumkan bahwa hari ini siapa saja boleh menerima Komuni (baik Katolik, Protestan atau yang Budha dan Islam).
Setelah misa selesai lalu diisi dengan nyanyian-nyanyian rohani, lalu dilanjutkan makan siang di Gereja Induk di luar penjara. Acara ini diliput oleh Majalah Hidup secara lengkap (Apakah diliput Hati Baru atau Warta Kristo ?)
Mungkin Romo Yance Mangkey, MSC bisa menambah cerita, atau ibu-ibu peserta. Khususnya Ibu Sisca Wiyasa, yang aktivis dan pejuang HIV-Aids dari Lions Club Jakarta Mitra Mandala bisa memberikan kesaksian di sini (Peserta banyakan dari Paroki Santo Kristoforus)
Penjara, memang memiliki suatu konotasi menakutkan. Saya sudah pernah mengikuti pelayanan ke penjara-penjara biasa, tapi pengalaman ke Nusa Kambangan sungguh luar biasa.
Penjara dalam kehidupannya memberikan kesempatan manusia bersalah untuk bertobat atau untuk Rutan sementara. Tapi buat SMS, hanya kematian dan menanti kematian adalah peristiwa yang sangat mengerikan. Bayangkan Kristus di Getsemani yang berdoa. Dengan keluarnya peluh dan darah, Yesus mempersiapkan kematian-Nya.
Buat kehidupan rohani kita, penjara menjadi bagian yang penting, karena karena Roh penurut tapi Badan Lemah, sehingga kita membutuhkan sesuatu kondisi untuk mengawal kehidupan kita.
Namun demikian, kita perlu memberikan dukungan iman kepada orang yang di penjara. Bagaimana pun mereka juga manusia dan dalam kebersamaan tersebut kita saling menguatkan. Kita berdoa bersama dan memberi penghiburan. Doa orang yang dipenjara didengar oleh Allah.

Sapu Lidi

Sapu lidi daun kelapa, jiwa manis mau disapa!

Sapu lidi digunakan dua kali dalam upacara pernikahan Sunda, yang pertama pada saat upacara Ngeuyeuk Seureuh dimana kedua calon pengantin dikeprak (dipukul perlahan) dengan sapu lidi diiringi nasihat dalam hidup berumah tangga harus dapat memupuk kasih sayang antara suami istri dan giat berusaha untuk kesejahteraan keluarga. Dan yang kedua adalah pada ritual Meuleum Harupat (membakar lidi) saat pengantin pria memegang lidi yang lalu dibakar oleh pengantin wanita. Ketika lidi sedang terbakar, pengantin wanita menyiramnya hingga padam. Nyala lidi diibaratkan sebagai amarah laki-laki yang padam ketika disiram kelebutan seorang wanita. Makna yang terkandung adalah sifat pemarah seorang pria harus dihilangkan sebelum berumahtangga.

Ibuku menjalin 10 lidi, lalu dianyam rapi, diikat dan dikasih pita indah sekali, tapi aku takut sekali melihatnya, karena anyaman sapu lidi ini dipakai untuk mukul sekaligus buat nyabet kita-kita anak-anaknya yang nakal. Tetapi, kenangan dipukul ibu dengan sapu lidi tetap melekat di hatiku sampai sekarang dan rindu sekali. Kadang air mataku berlinang saat membayangkan dipukul ibu dengan sapu lidi.
Pada perjalanan kembali ke Jakarta, kami mampir di Pleret. Aku dan suamiku Irfan serta dua anakku Jenifer dan Jesica, mau beli oleh-oleh berupa makanan kecil dan barang-barang antik. Suamiku memilih celengan dua buah buat anak-anak. Aku borong sapu lidi karena pulang ke rumah siap-siap capek membersihkan rumah. Kualitas sapu lidi bagus sekali. Entah mengapa sapu lidi selalu ada di samping ranjangku. Mungkin karena suamiku jorok jadi banyak pasir di tempat tidur, jadi selalu kubersihkan pakai sapu lidi.
Sapu Lidi adalah lagu kesayanganku, selain Kroncong Morisko dan Bengawan Solo. Kemarin aku bersama anak-anakku cari sampu lidi buat bersih-bersih taman yang penuh daun dan kotoran. Sapu lidi itu bagian dari pembantu. Mereka kompak kuat bersatu dan baik adanya. Aku kira sapu lidi cuma ada di Indonesian, ternyata di Paddys Market Sydney banyak juga yang jual. Aku beli buat persiapan di rumah untuk bersih bersih.
Sapu lidi di rumahku habis, kepala pusing juga, cari di mana di Jakarta ini. Aku ke hypermart ada juga di sana tinggal 1 saja. Boleh jugalah tapi sampai di kasir, seorang ibu menyapaku dengan senyum manis. Ternyata dia sudah beberapa hari cari sapu lidi tidak dapat, lalu dengan belas kasihan dia minta agar sapu lidiku bisa dibelinya. Aduh ibu! Aku juga dapat satu saja, tapi baiklah aku berkorban. Akhirnya aku kasih juga sapu lidiku satu satunya. Dalam hati aku kesel juga.
Gara-gara para PRT pulang kampung, ibu-ibu dan bapak-bapak jadi kenal sapu lidi, yang menjadi bagian dari bersih-bersih rumah. Memang Tuhan memberikan kita pohon kelapa. Mulai dari pohonnya, buahnya sampai daunnya dan lidinya menjadi bagian dari bersih-bersih.
Tugas berat kita dalam kehidupan rohani adalah menyapu bersih hati nurani kita dari kotoran-kotoran yang mencederai kehidupan rohani kita. Juga ia memberikan kita kelegaan hati seperti halnya kita habis mandi membersihkan badan kita.
Sapu lidi rohani, diambil dari pohon-pohon keyakinan yang ditanam dalam hati kita. Ia dianyam rapi. Ia baik sekali untuk menyapu atau seperti sapu lidi anyaman ibuku, cukup melihat aku takut, jadi cukup di taruh di hati sudah bisa menjadi pengawas agar aku tidak nakal lagi.
Sapu lidi, dalam perjalanan ribuan tahun membantu kita manusia. Dari bagian bersih-bersih, perlu juga kita taruh di batin kita sebagai bagian dari pekerjaan rumah Tuhan, yaitu tubuh kita. Salam dan doaku menyertai. Jangan lupa beli sapu lidu buat hadiah ibu di rumah.

Garam

Kalau garam sudah tidak asin lagi, dibuang saja!

Seniman mengenakan gaun nasional Belarusia memegang roti dan garam karena mereka bertemu dengan para peserta festival budaya berbagai etnis yang tinggal di Belarus, di kota Grodno, Belarus, Jumat, 13 Juni, 2008. Perwakilan dari lebih dari seratus kebangsaan tinggal di Belarus. (AP Photo / Sergey Grits)

Hari masih subuh, aku sudah dijemput di Hotel JW Mariott Surabaya oleh kawan dari perusahaan Garasindo. Kami akan menuju Madura melihat lokasi ladang garam. Bersamaku ada dua kawan dari perusahaan minyak di Daerah Duri, Pekan Baru. Misi kami adalah kunjungan tidak resmi dan rencana pengolahan garam industri untuk perminyakan, karena tanpa garam mobil kita tidak ada bensin. Tidak bisa jalan karena garam adalah salah satu bagian proses pembuatan minyak selain OWS Barite dan mineral lainnya.
Masih ingat Es Lilin atau Es Puter? Bagaimana cara buatnya? Gampang ada ember kecil dari aluminium diisi adonan susu, coklat, santan, gula, vanila, dan garam lalu di luarnya dikasih ss batu dan garam. Semakin banyak garam semakin cepat jadinya es puter kita, lalu ember di puter-puter (kalau yang jualan sudah didesign). Diputar-diputar terus dan ajaib 60 menit berlalu, adonan di dalam ember aluminium kita sudah beku, dan harus diaduk supaya halus, dan siap dihidangkan nikmat dan asyik. Kok pakai garam??
Buat ibu-ibu, tukang masak, tukang ketoprak sampai bakso atau soto semua menggunakan garam. Tanpa garam semuanya hambar.

Jadilah garam dunia!
Bagaimana kita jadi garam? Yang gampang saja. Garam banyak sekali gunanya, mulai dari industri minyak, gas, makanan, pengawet, ikan asin , telor asin, sampai sayur asin. Garam sangat berguna. Garam membuat manusia menikmati makanan. Jadi, kalau kita menjadi garam artinya kita menjadi penyedap masakan rohani. Membuat orang senang adalah ibadah. Jika tanpa garam maka kita juga tidak beribadah. Kehidupan rohani mutlak harus menjadi asin. Ia juga harus awet dan tidak mudah rusak. Berbagi adalah makanan rohani yang bila dilaksanakan akan lebih sedap untuk disantap dalam pengalaman komunitas apapun.
Sudah dua bulan lebih Thomas meninggalkan rumah untuk tugas kantor. Anak-anaknya masih kecil. Istrinya harus berhenti kerja untuk jaga anak-anak. Thomas sangat sayang anak dan istrinya. Mereka aktif ke gereja, namun berita buruk diterima istri Thomas, karena Thomas dipulangkan lantaran kena bagian penyusutan karyawan berupa PHK.
Keluarga muda ini sedih sekali. Mereka hampir putus asa karena mencari pekerjaan tidaklah mudah. Berkat doa, mereka sangat dikuatkan dan Thomas tetap aktif di gereja. Ia sering membantu pelayanan orang sakit. Ia juga tabah dalam menghadapi prahara rumah tangga. Situasi dan kondisi Thomas, sampai tahap tertentu, menjadi garam bagi keluarga dan tetangganya.
Menjadi garam dunia memang tidak mudah, karena banyak faktor luar yang ingin garam tersebut menjadi tawar.Demikian doa akan menjadi bagian yang tidak terlepas dari garam dunia.
Saya sendiri juga masih penuh pertanyaan tentang Perumpamaan Garam karena garam pada jaman itu, hampir hanya dipergunakan untuk masak dan pengawetan ikan asin. Fungsinya belum menjadi campuran lain seperti obat bahan peledak, pupuk, bahan baku kimia, dan industri minyak.
Jadi kesimpulan saya, yang dimaksud garam identik sekali dengan ibadah menyenangkan hati orang lain, baik dalam keluarga maupun persahabatan, sehingga hubungan cinta menjadi hangat dan mesra. Kalau hubungan itu hambar, maka mutlak kita harus menjadi garam demikian air laut asin adanya. Saya ingin bercerita tentang garam. Tentu Gereja akan mengambil bagian menjadi garam! Atau mungkin ada cerita lain?