Author Archives: adharta

Unknown's avatar

About adharta

Be positif

Balas Budi

“Hutang beras bisa dibayar padi, tapi hutang budi dibawa mati”

Selama hidup aku selalu mencoba memberi kenangan khusus kepada siapa aku berhutang budi. Tiada henti-hentinya memberikan doa khusus buat mereka. Pertama-tama buat kedua orang tuaku, khusus buat ibuku. Hutang budiku tiada terkira. Mulai aku lahir, kanak-kanak, dan sampai dewasa tidak sedetik pun kedua orang tuaku memberi kesempatan aku susah. Sampai jika tidak ada makanan, ibuku rela menahan lapar asalkan aku kenyang. Kadang kalau aku sakit, ibuku rela tidak tidur walau semenit asalkan aku lekas sembuh. Bahkan di saat aku menangis, ibuku lebih rela menahan airmatanya hanya untuk membuatku tertawa.
Hutang budi juga kepada guru-guruku yang berjuang mendidikku. Walau mereka hanya mendapat imbalan yang sangat kecil. Lalu, sahabat-sahabatku yang selalu memberi nasehat berupa bantuan rohani. Khususnya para sahabat pastor sampai bapa uskup. Sahabatku yang lain adalah pembantu rumah tangga, suster-suster pengawas anak dan cucuku, anak-anakku dan mantu-mantuku. Mereka selalu menghibur di saat aku sedih. Juga cucu-cucuku yang selalu tertawa membuat seluruh kelelahan dan penat langsung hilang. Terakhir adalah istriku tercinta, yang selalu mendampingi, baik di saat sehat maupun sakit.
30 tahun lalu aku pernah hampir 2 tahun tergeletak tak berdaya di tempat tidur. Aku hampir lumpuh total. Istriku selalu tidur di sampingku. Kami selalu berdoa sampai aku sembuh. Rasanya betapa besarnya hutang budiku. Mungkin dan hampir pasti aku tidak dapat membalasnya. Mungkin hanya melalui DOAku kepada Tuhan untuk bisa membalas dengan Kasih Karunia dan berkat kesehatan, kebahagiaan dan Kesuksesan. Itu saja hampir aku tidak mampu.
Balas budi merupakan bagian dari usaha kita membayar hutang budi, pertolongan atau belas kasihan orang.
Sejak usia 7 tahun saya adalah penjaja kue keliling di Surabaya. Di usia 10 tahun saya sudah mulai memasukan kue dan roti ke toko-toko. Nanti sore harinya mengambil sisa kue dan uang. Kadang airmata keluar tanpa berdaya mengendalikannya karena kuenya tidak laku. Ibuku sangat sedih bila melihat diriku dalam keadaan demikian. Bertahun-tahun sampai selesai SMA baru terbebas dari jual kue. Itupun karena sudah banyak titipan di toko dan warung.
Suatu kehidupan yang begitu berat, tetapi ibu dan ayah selalu penuh suka cita saat makan malam yang nota bene adalah kue-kue sisa yang tidak habis dijual. Ibu selalu bilang kita harus bersyukur kepada Tuhan, karena masih banyak orang mati kelaparan. Yang aku ingat suatu sore pulang sekolah saat itu SD kelas 4. Usiaku 10 tahun. Jalan kaki 8 km dari sekolah ke rumah tiap hari.
Saat melewati Toko Harapan di Jalan Ngaglik No 70 Surabaya (sampai sekarang masih ada), aku duduk di emperan toko untuk rehat sejenak. Saat itu aku baru tersadar kalau uangku 300 rupiah hasil kumpulan dari toko ternyata hilang. Hatiku sedih sekali. Aku duduk dan airmata berlinang membayangkan betapa sedih hati ibuku nantinya. Mungkin aku akan dipukul habis-habisan karena kelalaianku.
Sementara itu ada seorang gadis pemilik toko keluar dan melihat aku menangis. Dia memaksa aku agar menceritakan masalahku. Terpaksa aku cerita sejujurnya. Kemudian dia masuk ke tokonya lalu kembali dengan uang 300 rupiah dan sekali lagi ia memaksaku untuk menerimanya. Sungguh Tuhan begitu baik dan menolongku. Sejak saat itu aku menjadi sahabat gadis itu namanya Enny Hardjanto. Kisah ini tetap ada selamanya di hatiku dan selalu kuceritakan buat anak-anakku supaya mereka ingat hutang budi ini yang akan kubawa mati.
Mengapa balas budi itu begitu penting dalam kehidupan kita manusia? Karena dengan berusaha membalas budi artinya kita menciptakan kehidupan damai nan sejahtera. Dengan membalas budi kita hidup dalam tali silaturahmi dan menghapus kesombongan kita. Dengan membalas budi secara tidak langsung kita mengundang Tuhan masuk dalam kehidupan kita.
Berusahalah membalas budi yang kita terima sekecil apapun. Cobalah kunjungi guru-guru kita yang sakit, saudara dan sahabat yang sakit. Atau sebaliknya membantu mereka yang membutuhkan kita. Cintailah semua orang yang berperan dalam hidup kita. Berbuat baik untuk menolong sesama sebanyak mungkin sebagai balas budi orang yang tidak sempat lagi menerima balasan budi kita. Untuk papa mamaku yang sudah tiada, tidak sempat aku membalasnya, tapi akan kusalurkan buat anak cucuku.
Damai sejahtera dan berkat berlimpah buat sahabat semua. Tanpa Anda, aku tiada.

Kamera

Sungguh suatu berkat luar biasa karena kita memiliki mata. Kita bisa melihat dengan terang dan jelas warna-warni segala sesuatu di sekitar kita. Kita bisa menikmati indahnya dunia. Kita pun bisa melihat kebesaran Tuhan. Kata para ahli Photography, mata merupakan kamera tercanggih yang ada di dunia dan belum ada tandingannya.
Fuji di Jepang pada tahun 1990 mendeklarasikan ambisinya untuk menjadi produsen kamera terbesar di dunia. Itu berarti Fuji ingin bertarung langsung dengan Kodak, Aqfa, Nikon, Cannon dan Olympus. Tetapi, saat memasuki era digital sekarang ini, semua kamera Fuji sudah tertinggal jauh. Film Leica Fuji yang sangat terkenal sudah tidak ada lagi di toko. Kamera Analog sudah jadi hiasan lemari saja. Perkembangan teknologi begitu cepat membuat teknologi fotografi berkembang pesat mengikutinya.
Kamera menjadi bagian dari hidup manusia. Ia pasti menjadi bagian dari kenangan. Ia juga menjadi harta yang tidak ternilai, khususnya bagi perkembangan seni fotografi. Buat orang awam jangan heran kalau ada hasil foto yang dijual jutaan dolar apalagi pemenang Hadiah Pulitzer.
Sahabat saya Darwis T., bersama saya menyelenggarakan Lomba Foto Lingkungan Hidup “Greenviart” tahun 2006 lalu. Banyak tokoh masyarakat yang terlibat seperti : Pak Nugroho dari Kompas, Ibu Martha Tilaar, Pak Arswendo, Pak Thoby Mutis, dan Ibu Erna Wituelar. Selain itu ada Pak Cosmas Batubara, Pak Edwin Gerungan, Pak Jefrey Dompas (Alm), dan Pak Andi (dari Kelapa Gading). Sedangkan para rohaniwan yang berpartisipasi adalah Romo Yance Mangkey MSC, Romo Edo Besembun MSC, Romo Yohanes Subagyo Pr dan Romo Julius Kardinal Darmaatmadja SJ. Sekarang hasil foto masih diabadikan di Kantor Provinsi MSC.
Gerakan ini merupakan bagian dari CSR PT Aditya Aryaprawira dan Kompas. Kegiatan ini menghasilkan foto yang cukup indah. Acara ini merupakan sumbangsih Gereja bagi pemerhati lingkungan hidup dan peran serta Gereja membangun kehidupan yang hijau.
Kamera dalam kehidupan rohani punya nilai tersendiri. ”Kamera” Ilahi setiap saat merekam tindakan kita. Baik atau buruk. Katanya nanti begitu sidang di akhirat akan diputar ulang semua perbuatan kita. Ada pula istilah Kamera Hati. Ia pasti bercerita lain. Jika kita memiliki kamera hati, maka kita akan peka. Khususnya saat kita memotret kehidupan orang-orang yang kurang beruntung, susah dan menderita. Mereka adalah korban bencana alam seperti gempa bumi, banjir dan segala penderitaan.
Rekaman hasil kamera hati membuat Cinta bergejolak. Di sana akan membangkitkan semangat kebersamaan.
Pada pameran World Photo Festival di Philadelphia, Mr. Dr. Sung Man Lee Phd, sahabat baik saya dari Seoul, Korea Selatan membaca desertasinya tentang foto. Beliau mengatakan bahwa kamera yang dipakai pemotret harus sinergi dengan kamera hatinya. Katanya bahwa hasil foto hanya 10 persen, 90 persen sisanya berasal dari kamera hati. Atau boleh saya tambahkan bahwa peran perasaan besar sekali dalam pemotretan.
Coba Anda ambil foto kenangan Anda 20 tahun lalu. Lihatlah foto itu. Yang tertinggal adalah kamera hati yang mengambil momentum berharga tersebut. Karena kameranya sudah tidak diperlukan lagi. Tapi, kamera hati selalu hidup terus bersama kenangan itu. Percayalah Anda akan meneteskan air mata jika melihat foto kenangan Anda. Kamera hati akan life seakan-akan ada bersama Anda pada saat itu.
Kamera menjadi sumber suka cita dan bagian dari kehidupan kita. Walau kamera juga mengabadikan duka cita, tapi semuanya tentu untuk kebahagiaan.
Milikilah kamera hati yang baik dengan lensa super peka. Mari potretlah dan bidiklah momen-momen dengan hati yang penuh welas asih. Tuhan mendengarkan seruanku dan memberiku penglihatan.

Tukang Cukur

Suatu siang, saya menemani beberapa tamu VVIP. Sehabis makan di daerah Kelapa Gading, kita berkeliling untuk menghabiskan waktu karena malamnya ada resepsi untuk LAI (Lembaga Alkitab Indonesia) di Hotel Mulia. Ada sedikit masalah, tamu saya mau Cukur Rambut (CR). Kalau orang biasa CR tidak masalah bisa di mall atau di salon. Tapi orang penting (ambasador) sungguh sulit. Terus mereka tidak mau di salon terkenal seperti JA, PS atau HBB atau RHS. Mereka bilang biasa di barber yang tradisional. Saya kewalahan, tapi akhirnya kita dapat barbershop traditional, antik dan ruangannya pun mewah di kawasan Senayan, dekat lapangan golf. Sata lega sekali karena dekat juga dengan Hotel Mulia. Saya pun coba menikmati CR, hitung-hitung bernostalgia.
Semua orang pernah CR karena rambut (kepala) adalah bagian tubuh kita yang tidak pernah berhenti tumbuh. Suatu hari saya ditanya seorang anak SD : ”Bagian mana dari tubuh kita yang selalu tumbuh selain rambut kepala?” Wah sulit sekali jawaban untuk seorang anak kecil. Kalau saya jawab tidak tahu, aku malu juga ya. Biarlah saya berpikir sebentar! Akhirnya kujawab juga (coba tebak ) dan anak tersebut bergembira sekali! Aku tersenyum membayangkan kalau gigi, jari, tangan, dan kaki tumbuh terus tidak tahu apa jadinya
Siapa yang pernah pegang kepalanya Mr. Obama, Paus Benediktus XVI, Bapak SBY? Pasti jawaban kita sama, yaitu Mr. TCR (tukang cukur rambut). Dan kita masih belum bisa CR kita sendiri, apalagi buat model rambut kita.
Seperti halnya iman kita yang tumbuh terus dalam hati dan jiwa kita, kita pun perlu tukang cukur untuk merapikannya, termasuk memotong bagian yang tumbuh liar dan tumbuh tidak karuan (Yang susah adalah menghadapi iman yang gundul, sama saja TCR bertemu Telly Savalas, Jul Britner).
Saya pernah bertanya sama TCR apa kesulitannya dalam menjalankan tugas CR? Jawabnya ada 3 katanya. Pertama, saya tidak bisa CR saya sendiri. Kedua, kalau menghadapi orang gundul. Ketiga, kalau CR seorang pastor! Kenapa tanya saya serius? Karena ada lingkarannya (The saint kaleeee)! Saya tertawa, tapi saya jengkel juga dalam hati. Padahal di sebelah saya ada seorang pastor yang sedang CR.
Tetapi penjelasan secara bergurau dan spontan ada benarnya. Dalam kehidupan rohani, ada bagian yang tumbuh nonstop. Bila kita mau merapikannya, maka yang paling sulit dan akan kita temukan adalah 3 (tiga) hal : Pertama, kita tidak bisa lakukan sendiri, tapi harus meminta pertolongan orang, bisa baca buku “aku tidak bisa hidup sendiri” terjemahan bahasa Indonesia (sharing). Kedua, saat kita kehilangan iman atau kepercayaan (gundul). Dan ketiga, jika kita sudah merasa suci dan tidak memerlukan Pengakuan Dosa (sakramen). Kesulitan di atas perlu kita renungkan, untuk lebih mempersiapkan iman kita. Tuhan tolonglah kami anak-MU.

Lamaran

Hari sudah menjelang siang, kami sekeluarga siap-siap dengan pernik-pernik seperti pakaian, sepatu, alat hias, dan perhiasan lengkap berupacincin, anting-anting, gelang, dan kalung. Acara siang ini akan melamar calon pengantin wanita untuk keponakan saya Ridwan. Semua saudara kumpul, barisan antar barang dan melamar seorang gadis sebagai calon pengantin. Dalam tradisi Cina nantinya kalau lamaran sudah diterima harus ada acara “Sanjit” atau acara belis. Istilahnya jual-beli. Tradisi ini menggambarkan seorang pria harus membayar uang susu kepada orang tua calon pengantin wanita dan biaya perwatannya selama bayi sampai dewasa. Biasanya pihak wanita menerimanya sebagian dan dengan catatan jadi bukan dijual seratus persen.
Acara tentu akan ditutup dengan makan-makan. Pasti diiringi doa-doa dan pengharapan buat kebahagiaan pasangan pengantin serta kelancaran prosesi sampai ke pelaminan.
Hampir semua kebudayaan di dunia sangat menghormati prosesi perkawinan, termasuk liturgi dan ritualnya. Kalau di Cina biasa ada seorang pemimpinnya yang mengaturnya. Seperti halnya pesta perkawinan di Kana, pemimpin acara pesta kebingungan karena kehabisan anggur. Dalam tradisi Yahudi anggur merupakan simbol kebahagiaan dan simbol persahabatan. Jadi anggur habis bisa gawat, biasanya pesta pun dilaksanakan berhari-hari. Di India bisa 3 sampai 7 hari. Waktu Sultan Hasanah Bokiah di negara Brunai Darussalam membuat acara pernikahan anaknya memakan waktu 7 hari 7 malam ditutup oleh Michael Jackson.
Lamaran menjadi bagian dari prosesi dan awal dari segala rencana kehidupan rumah tangga. Pada tahun 2000 dalam Misa Milenium di Katedral, saya lupa siapa pastor yang buat khotbah, tapi beliau mengatakan bahwa Pembaptisan adalah proses lamaran kita terhadap kehidupan Surgawi. Diterima atau tidak masih di pertimbangkan tergantung kehidupan kita selanjutnya. Tentu saja juga berdasarkan belas kasihan Allah Bapa sendiri.
Terima kasih Romo Boli, SVD mengingatkan kita akan kebesaran hati Bunda Maria saat dilamar oleh Malaikat untuk menjadi proses awal keselamatan dunia. Kata-kata penyelamatan : “Aku ini hamba Tuhan, jadilah sesuai kehendak-Mu”. Yang diungkapkan dalam lagu the Beatles “Let it be” Whisper of the wisdom!
Dalam kehidupan kita tidak terlepas dari peristiwa lamaran. Mulai dari kita lahir. Dewasa mencari pekerjaan. Kerja sama dengan perusahaan. Membuat tugas. Business plan. Maka ada baiknya kita letakkan prinsip “Jadilah sesuai kehendak-Mu”. Jadi, bukan karena kehendak kita atau kehebatan kita atau kemampuan kita.
Dalam kisah Raja Daud, beliau selalu mengatakan bahwa untuk menjadi anak Tuhan pun tidak bisa semua diterima. Mau menyumbang Gereja pun tidak semua orang bisa hanya perkenaan-Nya saja kita bisa menyumbang. Jadi tidak bolehlah kita menyombongkan diri.
Demikian saat kita meletakkan koin 1000 rupiah ke tangan pengemis. Berterima kasihlah kepada pengemis tersebut dan Tuhan karena perkenaan-Nya. Pengemis tersebut mau menerima uang 1000 rupiah. Bayangkan kalau saat kita memberi ke pengemis tersebut, lalu uang 1000 rupiah dilempar kembali ke kita. Apa lagi diikuti ucapan harga diri.
Lamaran bisa menjadi bagian dari kita untuk meletakkannya dalam langkah kita bukan saja untuk orang lain. Misalnya saat kita mau berbuat sesuatu mari kita undang Tuhan. Letakkan lamaran kita kepada-Nya dan taruhlah semua rencana kita dalam nampan lamaran agar Tuhan memberkatinya. Dalam damai, ada suka cita dan dalam suka cita ada kebahagiaan.

Pupuk

“One friend without hope is too much”

Pengapalan pupuk sudah selesai tapi kapal kami tidak bisa berangkat karena cuaca buruk. Sedangkan musim tanam sudah dekat. Kalau tidak ada pupuk maka harapan kecil tanaman padi dan lainnya akan bisa ditanam. Tingkat ketergantungan tanaman terhadap pupuk sangat tinggi sekali. Walaupun bisa ditanam tapi hasilnya sangat mengecewakan.
Di kampung saya pupuk berarti juga “Harapan”. Jadi kalau kita memberi pupuk artinya kita memberikan harapan. Ada sebutan bahwa anak kecil harus dipupuk. Artinya diberi harapan agar kelak dia menjadi anak yang berguna.
Desa Banyumas di bawah koordinasi Kepala Desa H. Amin memiliki lahan bisa tanam seluas hanpir 25,000 HA. Tahun lalu saat musin taman tiba mereka mengalami keterlambatan supply pupuk. Akhirnya hasil panen drop 35 persen ditambah serbuan hama dan curah hujan tinggi. Pupuk bukan saja menjadi andalan petani, tetapi membantu kapasitas produksi sangat menolong.
Di Cina pada saat musim tanam, maka semua pupuk dikumpul. Lalu, sebelum dibagikan, maka orang sekampung berkumpul dan bernyanyi bersama dan diiring berpantun. Semua isi pantun adalah DOA agar nanti panennya menghasilkan makanan untuk dijual dan dimakan sendiri.
Dalam Mazmur 1 : 1-3 dikatakan hidupnya seperti pohon yang TUMBUH di tepi sungai dan berbuah banyak saat musimnya tiba dan apa saja yang di perbuat BERHASIL (mohon dibaca sendiri).
Pupuk rohani juga dibutuhkan dalam kehidupan kita. Ketergantungan pada pupuk rohani akan memberikan hasil buah-buah kebaikan yang bisa berlipat-lipat ganda. Pupuk-pupuk rohani bisa diperoleh secara cuma-cuma karena Cinta Kasih Allah begitu murah hati.
Semoga Tuhan memberkati kita semua dengan memberikan Pupuk Pengharapan agar kita semua bisa menghasilkan buah berlipat banyaknya, tapi yang lebih penting Apa saja yang diperbuatnya Berhasil !!!!

Kebakaran

Camat Kecamatan Tambora Isnawa Adji menerima penyerahan simbolis bantuan kerja sama dari Lions Club Jakarta Tomang Sejati, Distrik 307 B-1 di Kantor Kecamatan Tambora, Jakarta Barat

Bermain air basah, bermain api hangus.

Camat Kecamatan Tambora Isnawa Adji menerima sumbangan sukarela dari Lions Club Jakarta Tomang[/caption]Kecamatan Tambora di Wilayah Jakarta Barat memang bernasib kurang baik, karena di wilayahnya berturut-turut terjadi kebakaran cukup besar seperti yang terjadi kemarin di daerah Pekojan. Kebakaran juga terjadi Perkampungan Karet, Jakarta Pusat. Akibat kebakaran itu adalah para korban sangat menderita. Mereka stress dan sangat tertekan, terutama anak-anak dalam daerah pengungsian. Pak Camat Adji dan seluruh jajaran kelurahan berusaha keras membantu warga korban yang berkekurangan. Mereka menyiapkan tenda-tenda, sumbangan indomie dan pakaian. Namun tidaklah bisa mencukupi kebutuhan korban kebakaran.
Sejak akhir minggu, saya dan tim dari kantor memberikan bantuan indomie dan aqua, yang disalurkan ke Karet dan Tambora. Kemarin sore para relawan dari Lions Club Jakarta Tomang Sejati, Distrik 307 B-1, dalam rapat BOD di Waraku Gohan Mal Taman Anggrek sepakat mengumpulkan dana untuk bantuan korban kebakaran di Tambora. Saya menyempatkan diri untuk telepon Pak Camat Adji mengenai rencana ini. Beliau senang sekali dan nanti hari Jumat akan diserahkan bantuan berupa alat-alat sekolah : tas, buku tulis, buku gambar, pinsil, fulpen dan perlatan sekolah lainnya kepada Pak Camat.Buat sahabat dan handai taulan yang berkeinginan membantu bisa langsung mengirim bantuannya ke Kantor Camat Tambora.
Kebakaran memang mengakibatkan kerugian materi, penderitaan batin, dan trauma berkepanjangan. Sungguh sangat disayangkan karena kecerobohan, kelalaian, korsleting listrik mengakibatkan dampak kerugian yang sangat besar. Termasuk korban jiwa. Semuanya terjadi tanpa bisa dicegah.
Dua tahun lalu di lokasi berjarak lebih kurang 500 meter dari rumahku di Jalan Hadiah Jelambar, terjadi kebakaran dan seluruh penghuni rumah terbakar hangus 9 (sembilan) orang, yang terdiri dari dua keluarga kakak-adik. Sang kakak mau pindah rumah, lalu sang adik sekelurga dari Palembang mau berlibur sekaligus mau membantu sang kakak pindah rumah keesokan harinya. Namun naas nian. Subuh jam 4 pagi terjadi kebakaran akibat meledaknya gas elpiji kompor. Kebakaran tidak bisa dihindari dan sembilan orang tewas tanpa dapat kesempatan dari orang yang berniat menolong.
Sebulan yang lalu, ibu sahabat karibku harus meninggal karena terbakar, saat memasak di dapur. Sang pembantu membawa jerigen bensin lewat dapur dan kepleset jatuh. Bensin terlempar ke arah kompor dan meledak. Sang ibu tidak sempat menghindar dan meninggal dunia.
Kebakaran, antara nasib dan kecerobohan, antara ketidaksengajaan dan ketaksiapan alat pemadam kebakaran. Peralatan listrik yang jelek, kelalaian pada pemakaian kompor gas, dan puntung rokok yang dibuang sembarangan bisa memicu kebakaran. Ada baiknya setiap rumah dipersiapkan dengan alat pemadam CO2, seperti Yamato sehingga pertolongan pertama bisa dijalankan.
Seperti halnya kebakaran fisik, demikian juga adanya kebakaran rohani. Kebakaran jiwa dan kebakaran mental spiritual. Jiwa bisa terbakar dari api kemarahan dan api kebencian. Api kebencian yang bisa merusak jiwa dan raga sampai kematian. Kebakaran rohani bisa ditimbulkan akibat salah pengertian tentang kerohanian seperti bentrok antara agama atau bentrok antar umat satu kepercayaan. Kebakaran mental spritual bisa ditimbulkan akibat api emosional, adu domba, ajaran sesat dan pengaruh roh jahat. Kebakaran rohani, paling sulit diatasi karena melibatkan banyak orang dan bisa terjadi berkepanjangan. Bahkan bisa turun-temurun dan merambat sampai keturunan.
Kita perlu persiapan untuk mencegah kebakaran rohani. Ada istilah hati boleh panas, tapi kepala harus dingin. Siraman rohani yang sejuk, nasehat dan petuah dari para rohaniwan dan Gereja amat berharga. Memang mental spiritual pun perlu diperkuat agar jangan mudah terhasut. Apalagi dimasuki paham sesat. Hal ini tentu saja perlu pendekataan yang berhati-hati atau bisa meluas dan musnah terbakar habis.
Semoga Tuhan bisa memberikan Kasih Karunia-Nya yang bisa memadamkan kebakaran jiwa, rohani dan mental spiritual kita. Kita pun akan mendapatkan damai sejahtera-Nya. Tuhan memberkati.

Hotel

Salam damai dan sejahtera menyambut fajar,
Tahun 2009 pada acara soft opening Hotel IMA di Kupang, acara dibuka dengan misa kudus dipimpin oleh Romo Marcel, SVD. Kami sekeluarga semua kumpul di Kupang, apalagi ayah saya masih hidup jadi bisa beranjangsana. Seluruh keluarga di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (saya lahir di Pulau Alor sebuah pulau kecil di utara Pulau Timor)
Dalam khotbahnya Romo Marcel mengatakan bahwa setiap orang yang membangun HOTEL adalah orang yang berjiwa sosial. Pak Freddy, Pemilik Hotel IMA adalah adik lelaki saya paling kecil. Mengapa? Karena mendasari pemikiran seperti dialami oleh Yusuf dan Maria. Saat tiba di Betlehem mereka keleleran karena tidak ada hotel. Jadi, mereka yang membangun hotel ingin agar orang yang dalam perjalanan bisa menikmati istirahat yang baik, tinggal dengan tenang seperti rumah sendiri.
Saya pikir ada benarnya, karena secara pribadi saya berulang kali mengalami tidak dapat hotel menginap. Kadang harus mengemis tidur di rumah orang atau share dengan siapa saja. Demikian pula saya pernah mengalami kejadian tahun 1998. Saya mendarat di Jakarta dari Singapura tanggal 14 Mei 1998 jam 1 siang. Saya tidak bisa keluar dari Airport Soekarno-Hatta, tapi untung ada teman melalui ajudan Gubernur DKI akhirnya saya dapat Gouvernor Suites di Hotel Quality di airport. Untung sekali saya dapat kamar yang sangat luas. Saya sendiri tidur, tetapi ketika saya keluar hotel ribuan orang tidur di pelataran tanpa alas. Sungguh sedih sekali. Ironisnya saya tidur di kamar begitu luas, tapi di luar manusia seperti ikan bandeng di jemur. Di sana tidak ada kamar hotel lagi dan tidak ada kendaraan bisa keluar dari airport karena hubungan dengan Jakarta terputus. Juga tidak ada orang jual makanan sama sekali. Mereka tahan lapar. Ada aksi sosial dari catering pesawat hanya mengirim nasi putih dan telor rebus. Itu pun sudah bersyukur buat mereka yang sudah seperti pengungsi di airport. Hampir semua penerbangan stop lantaran arus penumpang berhenti total. Disini saya merasa betapa pentingnya nilai sebuah kamar hotel.
Seorang sahabat saya mengibaratkan hotel dengan Surga. Kalau kita tidak reservasi, maka kita mati bisa tidak tahu tempatnya ke mana atau dimana kita akan menetap. Saya bilang di rumah bapa-Ku banyak tempat, itu kata Yesus.
Hotel, sebuah tempat persinggahan di mana kita pergi. Tentu kita perlu siap siap untuk cari hotel. Sekarang ada internet mudah sekali masuk agoda.com atau booking.com atau rajakamar.com dengan mudah kita bisa reservasi.
Dalam kehidupan rohani, hati kita ibarat hotel. Hati kita bisa menjadi tempat penginapan untuk menolong hati-hati yang tidak ada tempat di mana cinta diletakkan. Hati kita juga terbuka untuk menolong kebutuhan istirahat bagi jiwa-jiwa yang penuh sesak tidak bisa istirahat. Saya sungguh bersyukur bisa melihat para pastor, suster dan biarawan-biarawati. Mereka ibarat hotel ribuan kamar. Di mana setiap masalah insan bisa menginap tanpa bayar tetapi dilayani dengan penuh hati. Siapa saja yang perlu tanpa pandang bulu kaya atau miskin, pria atau wanita.
Oleh karena hotel yang dibangun Tuhan ini kadang-kadang dihancurkan oleh egoisme, keserakahan, dan posesif sehingga jiwa-jiwa yang ingin menginap tidak dapat kamar karena telah diborong oleh seseorang.
Demikian juga mari kita membangun hati kita seperti membuka hotel. Bisa menolong orang-orang yang kita cintai : istri, suami, orang tua, anak, dan cucu. Semua bisa menginap dengan nyaman tanpa rasa was-was, curiga dan takut serta semua penuh kenyamanan.
Mari membangun HOTEL Hati buat cinta sesama.

Piala

Sungguh suka cita besar menyambut sinar matahati pagi yang indah.

Semalam kami ikut Misa peringatan 25 tahun perkawinan (Wedding Anniversary) Pak Harry Sandjaja dan Ibu Mimie di Gereja Stasi Santo Polikarpus. Rame banget ya! Saat akan pulang, di lift saya ketemu beberapa teman dari FMKI dan PMKRI. Rasanya seperti reuni. Lalu kita bercerita mengenang sahabat karib saya Alan Jefrey Dompas (AJD), yang meninggal beberapa bulan lalu dalam usia muda sekali. Lalu, saya ada ide untuk membuat sebuah piala untuk penghargaan buat AJD karena beliau berjuang tanpa lelah, baik di FMKI maupun di Gereja, KAJ dan organisasi Katolik. lainnya.
Piala tersebut akan tertulis nama sahabat-sahabat, termasuk para pastor, para suster. Nantinya piala itu akan dipersembahkan buat Ira, istrinya AJD pada saat peringatan 1 tahun AJD nanti.
Pak Harry juga teman dekat beliau, juga Romo Yance MSC, Romo Andang SJ, Romo Boli SVD. Semoga kenangan ini akan mengingatkan jasa-jasa beliau bagi Gereja, sahabat, bangsa dan negara kita.
Piala biasa diberikan buat the champion, seseorang yang menjuarai suatu turnamen atau pertandingan. Di rumah dan di kantorku banyak sekali piala dari tournament golf sebagai hiasan meja. Piala-piala itu juga jadi kenang-kenangan apalagi mengingat masa muda kita yang penuh petualangan.
Sebenarnya apa makna piala dalam kehidupan rohani? Saya menemukan lebih dari 100 kata piala yang disebut dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Bisa ambil Mazmur 116-13, di mana piala melambangkan Sumber Keselamatan (piala Keselamatan). Piala juga melambangkan Sumber Suka Cita (di beberapa perikop di temukan Piala penderitaan)
Dalam kehidupan keluarga kita perlu berjuang untuk mendapat piala kebahagiaan, seperti Pak Harry Sandjaja mendapatkan Piala 25 tahun. Bagaimana kita mempertahankan bahtera perkawinan, sampai kita memenangkan pertandingan melawan kegagalan perkawinan?
Demikian pula pastor-pastor, suster-suster dan biarawan-biarawati yang patut mendapat piala Sumber Keselamatan, yang menjaga imamat mereka dan telah berjuang menyelamatkan jiwa-jiwa yang tersesat seperti kita-kita.
Piala juga sebagai lambang penghargaan sehingga penerima piala bisa memamerkan kepada anak cucu bahwa dia pernah mendapat hadiah kejuaraan.
Piala tidak terlepas dari kehidupan rohani. Tentu banyak sekali maknanya dan juga simbol-simbol yang berguna bagi kehidupan kita. Dan masih banyak kegunaan arti piala bagi kehidupan kita.
Aku mengangkat Piala Keselamatan dan mohon Tuhan menolongku.

Fortune Teller

Semoga semua sahabat dalam keadaan sehat walafiat, selamat menikmati saur buat yang puasa.

Damai sertamu selalu,
Siang hari, saya dan istri mengunjungi Lions Salvation Shop (Salvos) di Roxy Square lantai UG Blok A5 No 19-20. Suatu kegiatan sosial dengan menjual baju, pakaian, mainan anak-anak, alat-alat dapur, dan elektronik dengan program harga serba seribu rupiah selama 14 hari. Di sana kita melihat wajah-wajah senang karena bawa uang 10.000 bisa belanja di mal. Buat mereka yang kurang beruntung masih bisa menghadapi lebaran dengan pakaian yang lumayan bagus.
Salvos sudah berjalan dua tahun lebih dan sangat membutuhkan uluran tangan sahabat-sahabat buat menolong sesama. Sebelum menuju ke Salvos, saya dan istri mampir di Superindo. Istri saya belanja dan saya menghabiskan waktu dengan seorang tukang ramal (fortune teller) namanya Koh Irawan. Kami bercerita sambil melihat jari tangan, telapak sampai wajah. 30 menit berlalu, bayarnya 100.000 rupiah saja. Saya Menghabiskan waktu, hilangkan ngantuk dan enjoy untuk hal-hal yang positif.
Sebenarnya saya jadi belajar banyak di mana saja setiap fortune teller atau tukang ramal. Hampir semua mengenal Ilmu Manajemen yang baik sekali. Selain manajer yang baik juga harus tampil personality yang baik,. Mereka tersenyun dan berwibawa. Jiwa sosialnya pun tinggi karena tidak pasang tarif dan rata-rata sukarela.
Saya senang sekali berdialog dengan Koh Irawan, karena semua cerita memang baik, seperti : pesan moral, nilai spiritual dan etika sangat baik. Ada beberapa catatan yang baik untuk kita sikapi sbb :

• Menjadi orang baik, itu baik sekali tapi kalau menjadi orang “terlalu baik” itu jadinya tidak baik, karena sebenarnya sifat ego akan berbicara.
• Ilmu memang baik untuk kita pelajari, terutama ilmu manajemen (belajar di IMPM), tapi akan hilang maknanya kalau ilmu itu tidak kita ajarkan kepada orang yang kita cintai atau sayangi.
• Bekerja sosial di ladang Tuhan itu baik, tetapi akan lebih baik kalau bisa menggerakkan orang berbuat sosial (sama dong sama misi Lions Club).

Kenangan saya melayang ke sahabat saya Dr. Sismadi Partodimulyo (alm). Beliau mengatakan bahwa nama beliau diberikan 70 tahun lalu oleh orang tuanya. Sudah diramalkan karena namanya adalah singkatan dari :
SIStim MAnajemen DInamis, PARTisipasi, Objektif dan DIdik di prasetya MULYA. Yang kenal beliau tentu tahu karakter dan sikapnya yang sangat baik.
Fortune teller, hidup berdampingan dengan kita. Mereka berusaha membaca, meramal dan menterjemahkan arti mimpi. Kata Mario Teguh bahwa mimpi itu bukan tidak bisa dijangkau, tapi usaha kita yang kurang untuk menjangkaunya.
Saya rasa ada sedikit persamaan antara ramalan, prediksi dan survey. Apa lagi dalam peletakan investasi. Faktor luck masih sangat dominan. Nah, kalau faktor X di luar Llmu Manajemen masih berpengaruh bagaimana dengan ramalan.
Kalau dari sisi keagamaan tentu berpendapat lain. Ada yang bilang mistis. Ada yang bilang tahyul dan macam-macam tapi pandangan Gereja atau beberapa tokoh agama lain. Mereka mengatakan secara tegas bahwa memang hal-hal tertentu bisa diramal, lihat Nabi Yusuf, Daniel dan Yesaya. Bahkan kedatangan Kristus sudah diramalkan jauh sebelumnya.
Buat kita, tidaklah menjadi masalah bagaimana nasib bisa diramal atau tidak. Karena dengan berbuat baik, dengan rahmat Allah melalui pertolongan-Nya dan kasih karunia-Nya, kita sebenarnya bisa membaca nasib kita.

Ikan

Pergilah memancing, ambillah ikan pertama, bukalah mulutnya dan ambil uangnya.

Salam suka cita,
Hari sudah menjelang malam, kami berdelapan memancing ikan. Kami bersama Duta Besar Korea dan Konsul Jendralnya. Ada juga Wakil Ketua BKPM dan dua sahabat Jepang dari Mitshubishi Corporation. Ikan yang dipancing dapatnya lumayan lebih kurang 50kg. Lalu, pawang ikan bilang di depan ada pulau kosong apakah mau kita mampir bakar ikan makan malam, tapi tidak ada nasi. Kita sepakat mau bakar ikan di sebuah pulau kosong di seberang Teluk Naga.
Sebelum menuju ke pulau tersebut sang pawang menawarkan apakah ada yang mau cumi-cumi? Orang Korea berteriak kegirangan karena justru itu yang ditunggu-tunggu. Luar biasa sang pawang ini. Dia tahu persis di mana letak cumi-cumi bersembunyi. Dalam waktu kurang 10 menit kita dapat 20 ekor cumi-cumi yang rata-rata 600-800 gram. Orang-orang Korea dan Jepang ini tidak tunggu sampai di pulau. Mereka melahap cumi-cumi segar itu dengan girang. Katanya nikmat luar biasa. Aku sendiri cuma membisu memandang mereka makan cumi-cumi mentah dan hidup-hidup.
Ikan, memang menjadi bagian rencana Tuhan untuk menyenangkan anak-anaknya sekaligus sebagai bagian dari program penyelamatan manusia untuk makan demi bertahan hidup. Ikan juga bisa menjadi obat-obatan, vitamin, dan minyak ikan. Sama halnya dengan hewan di darat dan udara dan burung. Tetapi, kan memiliki ciri khas sendiri. Oleh karena itu, Yesus berani mengatakan ambillah uang dari mulut ikan. Kata-kata ini sangat sederhana dan berjuta-juta bahkan bermilyard dolar uang keluar dari mulut ikan untuk kesejahteraan manusia.
Orang Jawa kalau bilang lauk pauk itu ikan atau iwak. Jadi kalau tanya makan apa? Itu ikannya apa? Atau iwake opo? Sedemikian generik dan kedekatan hidup dengan ikan, berjuta manusia semua bisa hidup karena ikan.
Kalau kita lihat dengan mata hati, ikan itu ibarat Firman Tuhan, sebetulnya tersebar di mana-mana dan semua hidup dan menghidupkan.
Ini kisah kapten kapal aku, namanya Benhur. Sejak masih kadet sampai jadi kapten saya tidak suka bahkan benci makan ikan, karena sayu-sayuran telor dan daging lebih enak, seperti kebiasaan ABK, baik Kristen atau Islam. Di atas kapal-kapal kami, mereka setiap magrib selalu kumpul. Di atas kapal itu mereka sharing dan bercerita. Ada yang main gitar dan berdendang penuh suka cita. Di tengah laut hiburannya hanya suara ombak, angin dan sinar bulan bintang.
Tetapi suatu malam ada ide untuk main game. Siapa kalah harus menghabiskan ikan 1 ekor. Di atas kapal tidak pernah kehabisan ikan. Benhur kalah 3 kali dan harus paksa makan ikan goreng dan bakar, mau muntah rasanya. Tapi hari berlalu, rasa ikan memaksanya untuk mencoba dan mencoba. Akhirnya Benhur menjadi penggemar ikan.
Pengalaman iman, memberitahu kita bahwa Tuhan tidak memberikan kita sesuatu secara instan tetapi harus berulang-ulang kadang muak, kadang kangen, kadang suka, kadang tidak suka, tetapi lama-lama semuanya jadi indah.
Kalau kita bicara soal ikan, maka kita akan bicarakan 3 hal utama kehidupan. Pertama, komunitas. Ikan hidup dalam suatu komunitas, bergerombol dan penuh suka cita. Kedua, keluarga. Ikan membentuk keluarga, jenis dan bentuk besaran, mereka berkembang biak secara besar-besaran, berlomba untuk memberi makan manusia. Walau ditangkap dan dikonsumsi besar-besaranan, ikan tidak kenal habis, tapi ada kemungkinan punah karena polusi. Ketiga, lingkungan hidup. Penyelamat (survive) dan saling bantu membantu. Itu kisah sendiri dari ikan paus (beberapa hari ada yang terdampar seberat 30 ton lebih) dan penuh kasih. Kisah ikan duyung dalam cintanya banyak ditulis.
Komunitas, Keluarga dan Cinta bisa menginspirasi kehidupan manusia yang kurang bisa melihat dengan hati sehingga kehidupan banyak didasari egocentris dan materialistis.
Terima kasih Tuhan, begitu besar Kasih-Mu pada kami dengan memberikan ikan-ikan hidup dan ikan-ikan santapan rohani. Tuhan memberkati.