Serasa 5 Menit

Penerbangan selama 1 jam serasa 5 menit saja.

images (1)Saya mendadak harus menemani tamu di Surabaya. Sejak pagi sekretaris saya sudah bingung karena hampir semua flight full, sehingga akhirnya mau naik Garuda saja, tapi tanpa disengaja ada signal dari Lion Air kalau ada seat untuk terbang ke Surabaya di business class. Saya pikir nasib memang mujur sekali, tapi ternyata penerbangan ini dialihkan ke penerbangan trial dengan pesawat baru, yang baru pertama masuk Indonesia, dan akan dipakai untuk penerbangan komersial dengan brand baru.
Di atas pesawat business class ada beberapa undangan ikut hadir sehingga suasana ramai sekali. Kami bisa berbicang-bincang dan saling berkenalan. Makanan pun disuguhkan bermacam-macam dan buah-buahan. Biasanya saya selalu menyempatkan diri tidur di pesawat, karena paling enak dalam perjalanan adalah berdoa dan tidur. Kali ini belum sempat tidur, bahkan makanan penutup belum tiba, ternyata pesawat siap-siap mendarat. Saya memang sempat menyapa pramugri apakah waktu terbang bisa diperpanjang karena makanan saya belum habis, rasanya baru 5 menit saja neh. Semua tertawa ceria. Memang ini penerbangan tercepat yang pernah saya alami.
Saya menutup dengan doa buat cucu-cucu, anak-anak, sahabat, dan teman-teman kantor seperti biasanya dengan ujud pribadi. Saya selalu ingat katanya berdoa paling diterima Tuhan salah satunya saat kita berada di tempat tinggi. Ini saatnya saya ada di tempat tinggi.
Padahal sebenarnya itu ada dalam maksud lain, tapi okelah anggap saya berada di tempat paling tinggi sekarang.
Yang membuat saya berpikir kembali adalah saya tadi terbang 1 jam lebih, tetapi sungguh tidak terasa. Bagaimana waktu bisa berjalan begitu cepat? Timbul pertanyaan dalam hati saya. Kadang penerbangan serasa lama sekali, demikian juga saat di kantor kadang kita rasa cepat sekali, kadang terasa lama sekali. Apa lagi kalau kita menunggu seseorang atau antre. Waktu serasa jalan di tempat saja. Di sini memang benar bahwa waktu cepat atau lambat tergantung mind kita. Serasa tidak cukup waktu 24 jam buat kita.
Perputaran waktu berbanding terbalik dengan kebutuhannya dan apa bila diisi dengan suka cita maka hukum diatas tidak berlaku. Bagaimana sikap kita mengatasi waktu memang haruslah bijaksana. Buat seorang workaholic 24 jam bisa tidak cukup, tetapi buat seorang pengangguran, waduh sehari bisa serasa bertahun tahun.
Kebijaksanaan waktu adalah meminta kita agar bisa memberi kesempatan kepada diri kita sendiri sedemikian rupa sehingga keselarasan waktu bisa terjadi. Ini perlu pembelajaran khusus terutama dalam kehidupan sehari-hari seperti dalam rumah tangga dan tempat kerja,
Mari kita menghargai waktu sedemikian rupa supaya jangan terjadi 1 jam seperti 5 menita. Atau sebaliknya, melainkan waktu akan menjadi simbol kehidupan kita dan kita adalah waktu itu sendiri. Semoga kita semua diberkati oleh Tuhan untuk bisa menghargai waktu kita sendiri. Jangan sia-siakan waktu kita masing-masing.

Wi Fi

Menyapa siapa saja, bisa melalui Wi Fi, seakan dunia tanpa batas. Jadi, sesungguhnya ada korelasi antara komunikasi dan kebersamaan,. Di mana semakin cepat komunikasi semakin cepat pula kebersamaan dijangkau itulah makna Wifi.

images (3)Wi-Fi atau Wireless Fidelity memiliki pengertian adanya sekumpulan standar yang digunakan untuk Jaringan Lokal Nirkabel (Wireless Local Area Networks – WLAN) yang didasari pada spesifikasi IEEE 802.11. Standar terbaru dari spesifikasi 802.11a atau b, seperti 802.16g atau yang paling baru adalah 802.11n. Spesifikasi terbaru ini juga menawarkan banyak peningkatan mulai dari luas cakupan yang lebih jauh hingga kecepatan transfernya.
Saya menginap di Bumi Surabaya, sebuah hotel tua tapi cantik dengan makanan yang enak-enak sekali. Saya suka hotel ini karena seluruh hotel dilengkapi oleh Wi Fi seperti kamar, lobby, restaurant, BC, dengan satu wadah, sehinga kita tidak perlu ganti-ganti user name atau password. Komunikasi yang bagus sekali menggunakan Wi Fi membuat saya feel convinient. Semua peralatan komunikasi saya menggunakan Wi Fi, sehingga kalau tidak ada Wi Fi maka saya merasa kesepian. Padahal beberapa tahun lalu, masih mengharapkan saluran telepon yang dirubah dalam hot spot. Kuatnya signal Wi Fi memberikan kemudahan kita meluncur tanpa harus menunggu dan menunggu. Apa lagi saat kita ingin bekerja cepat, ya semakin lama kita masuk dalam dunia komunikasi kita semakin ingin suatu kecepatan.
Buat orang biasa yang tidak menggunakan sarana komunikasi, atau hanya menggunakan komunukasi verbal, adalah hal biasa, tapi coba bayangkan tahun 80-an handphone saya menggunakan saluran FM dan digunakan oleh 10 orang. Untuk masuk tidak masalah tapi untuk keluar kita harus gantian antri dulu, sampai teknologi Dancall dan Ericson masuk disebut AMPS, yang diikuti Motorola. Hanya beberapa tahun saja masuklah GSM istilah saat itu Goyang Sedikit Mati, tapi saat sekarang kita semua sudah bisa menikmati komunikasi yang baik.
Saya percaya bahwa sebenarnya semua komunikasi apa saja semua tidak terlepas dari komunikasi kita dengan Tuhan. Jadi seharusnya semakin cepat suatu komunikasi, seharusnya juga memberi kesempatan kita semakin dekat komunikasi kita dengan Tuhan, bukan sebaliknya dengan menyalah gunakan fasilitas komunikasi.
Seperti jaman dulu, kalau kita dari Jakarta ke Surabaya tercepat adalah naik perahu selama 20 hari, kalau jalan darat 30 hari, tidak ada telepon hanya bisa via Radiogram Telex atau SSB. Kalau di gereja mau doa, kita ada selisih waktu lebih kurang 60 hari. Saat kini kita bisa melaksanakan misa serempak sama di seluruh dunia. Bayangkan saja, kata Bapa Suci Yohanes Paulus II, bahwa doa yang sama, yang dinaikkan bersama akan lebih bermanfaat berlipat ganda. Demikian kita manfaatkan bulan Mei sebagai bulan Maria, tentu kebersamaan membuat doa kita lebih bermanfaat. Jadi, ada korelasi antara komunikasi dan kebersamaan. Di mana semakin cepat komunikasi semakin cepat pula kebersamaan dijangkau. Semoga kita semua bisa memanfaatkan komunikasi sebagai suatu sumber suka cita besar, yang menjadikan kita semakin dekat dan semakin mengerti betapa besarnya Cinta Tuhan kepada kita.

Setia Kawan

Saya sendiri mengisahkan bahwa setia kawan tidak datang sendiri atau jatuh begitu saja dari langit, tetapi dia tumbuh ibarat buah yang nanti musim panen dimakan bersama (Adh)

Mempunyai teman itu sama dengan memiliki permata, indah untaiannya dan tak ternilai harganya. Boleh tanya siapa saja, apakah ada yang berani mengatakan berapa harga sebuah persahabatan? Sekecil, secepat, atau selama apapun sahabat tetap sahabat, diapakan saja tetap sahabat, bagi yang menganggap sahabat, jadi kalau ada orang mengorbankan persahabatan, tidak tahulah mau disebut apa. Ada 4 nilai persahabatan yang sungguh tiada bandingnya :
Pertama, KESETIAAN, kita sebut setia kawan atau kawan setia walau memiliki dua arti berbeda, tetapi memiliki dasar yang sama, ini bak berlian yang beratnya ribuan karat.
Kedua, LINTAS BATAS, tua muda, hitam putih, semua bisa bersahabat dalam satu bahasa, yakni bahasa cinta.
Ketiga, MENEMBUS WAKTU, artinya persahabatan itu kekal adanya, baik di dunia maupun di dunia lain, sekali persahabatan diikat tetap persahabatan, tidak bisa diputus oleh nyawa sekalipun.
Keempat, DAMPAK PERSAHABATAN, dimana ada persahabatan disana damai sejahtera akan mengikutinya, sebagai keluarga bahkan antar negara.
Dua kepala negara yang bersahabat 100 persen negaranya bersahabat, juga dua keluarga bersahabat anak-cucu jadi suka cita.

Setia kawan, saya anggap sebagai sebuah jalan menuju sorga, percaya tidak kalau ada keselamatan dalam persahabatan, bahkan iman para sahabat lebih dahsyat dari iman kita sendiri. Sering saya memberi ilustrasi orang lumpuh yang diturunkan dari atas atap dan disembuhkan Yesus. Iman siapa yang menyelamatkannya adalah setia kawan.
Negara kita menganggap setia kawan sebagai roh sebuah bangsa yang kuat sehingga dijadikanlah hari kesetiakawanan sosial, yang mengajak seluruh komponen bangsa agar memperhatikan sahabat-sahabatnya, memberikan perhatian kepada teman temannya yang berkekurangan. Dan sungguh menjadi penuh arti kalau kita tahu bahwa setia kawan adalah bagian dari iman itu sendiri. Iman mengajak kita percaya kepada Tuhan, sebagai sahabat kita bagaimana kita berkhianat kepada teman kita dan mau bersahabat dengan Tuhan. Itu sama saja kita juga sudah berkhianat kepada Tuhan sendiri.

Kembali kepada setia kawan, saya sendiri mengisahkan bahwa setia kawan tidak datang sendiri atau jatuh begitu saja, tetapi dia TUMBUH ibarat buah yang nanti musim panen dimakan bersama. Buah persahabatan itu manis sekali, tetapi saya tidak mengerti lebih banyak orang memilih buah asam daripada buah manis, lebih memilih buah pahit daripada buah sedap, tetapi sungguh bersyukurlah kita, sebab persahabatan selain berbuah manis juga memberikan tunas-tunas yang begitu cepat tumbuh besar, indah, cantik tidak kalah dengan induknya.
Ada satu lagi buah persahabatan, coba terka? Kalau ada yang bisa, tentu mengisahkan anda tentang indahnya persahabatan. Tulislah dan diantara nama kita dicatat sebagai sahabat, lalu ceritakanlah kepada sahabat semua!Damai dan sejahterah mebaungi kita semua.

Persahabatan (2)

Persahabatan adalah TUJUAN bukan SARANA

Ketika saya masih kecil, sekitar 6 tahun, saat mulai mengenal pendidikan formal. Saya punya teman 2 orang, Kartoko dan Musianto, sampai sekarang kami bertiga masih menjadi sahabat. Kartoko di Surabaya dengan pangkat Brigjen Polisi (purn) dan Musianto di Pertamina perkapalan. Saya bekerja di perusahaan swasta milik sendiri. Persahabatan kami sangat akrab, sehingga menarik beberapa teman-teman SD bergabung dan berkomunikasi baik melalui Facebook, Twitter atau Email. Saya meninggalkan SD tahun 1968. Bayangkan 45 tahun berlalu. Kadang kami bersendagurau karena lucu sekali. Kami pernah berkelahi, pernah bermusuhan, pernah saling tidak bicara, tapi aneh berlalunya waktu justru kami saling merindukan, saling merasa butuh, terlepas dari kedudukan, jabatan, pangkat, warna kulit dan suku.
Saya sendiri juga heran apa yang membuat kami akrab, saling memberi, saling tolong dan saling bercerita.
Memang menurut hemat saya pasti ada tali pengikat yang membuat persahabatan itu kekal adanya. Tentu teman-teman juga punya pengalaman pribadi apa penyebab kuatnya sebuah persahabatan.
Salah satu adalah yang saya tulis : “Persahabatan adalah TUJUAN bukan SARANA”
Di sisi lain persahabatan bukan saja saling membutuhkan, tapi juga saling memberi dan saling mau berkorban baik perasaan maupun hal-hal lain termasuk materi yang sungguh tidak bernilai dibanding dengan persahabatan itu sendiri.
Ketidaksukaan terhadap seseorang bukan menjadi tembok penghalang untuk persahabatan. Justru sebaliknya kita harus mendekatinya, misalnya kita punya sahabat ketemu kita lalu membawa temannya, tapi temannya itu sangat menjengkelkan, apa yang harus dilakukan? Jalan terbaik adalah menjadikan dia sahabat juga. Karena kalau kita tolak maka kita akan kehilangan sahabat kita sendiri, atau misalnya kita sudah punya teman tetapi rasa iri hatinya tinggi, rasa benci, gosip dan suka membicarakan kekurangan orang, mari kita dekati dan kita ajak bersama karena sahabat tersebut adalah warna lain dari diri kita. Resonansinya akan indah jika dipadukan. Walaupun sering kita kecewa dalam hubungan ini, tapi saya katakan lidah pun sering kegigit ya, tapi bukan perarti gigi harus dihilangkan.
Persahabatan juga menganut unsur multiple domino effect :

A friend of my friends,
Is my friend
A friend in need is a friend in deed

Tiada yang lebih indah di dunia ini selain mengenal persahabatan, karena disanalah kita bisa mengenal diri kita sendiri. Semoga Tuhan memberkati dan melindungi semua sahabat-sahabatku. Salam dan doa.

Autis

Autisme adalah suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat masa balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal.

Seringkali kita mendengar kata autis, tapi kita tidak mengerti apa maksudnya, dan sesungguhnya hal ini perlu kita perhatikan bagi pertumbuhan jiwa anak-anak kita. Adanya kondisi autis mengakibatkan sang anak tersebut terisolasi dari manusia lain dan masuk dalam dunia repetitive, aktivitas dan minat yang obsesif.
Suatu hari saya berkomunikasi dengan bapak Andi Noya, karena adanya penayangan tentang Autis di Kick Andi. Saya lupa kalau salah satu peserta acara adalah putra sahabat karib saya.
Pembicaraan kami lebih seputar kerohanian, bagaimana seorang ayah dan seorang ibu menghadapi kenyataan bahwa anaknya mengalami kondisi autis. Saya berpendapat bahwasannya sama perihalnya kalau anak atau cucu kita lahir dalam kondisi tidak atau kurang normal. Pertama, kita harus bersyukur bahwa Tuhan memberikan kita keturunan, tetapi selain itu Tuhan memberikan kepercayaan besar kepada kita untuk mendidik, membesarkan dan merawat anak tersebut, karena memang anak tersebut sudah ditakdirkan lahir dari rahim kita. Jadi, seandainya tidak, pasti akan lahir dari orang lain yang dipercayai Tuhan untuk merawatnya.
Kedua, bahwa ada suatu rahasia besar dibalik karya Tuhan, bukan menunjukkan kesalahan atau kelalaian Tuhan terhadap kita, melainkan ada karya besar yang kita tidak tahu. Demikian halnya banyak orang besar datangnya bukan dari orang normal. Di sini kita diminta sendiri oleh Tuhan untuk bisa menjadikan rencana itu nyata, seperti halnya Yesus pada usia 12 tahun, yang ditemukan ayah-ibunya di kerumunan orang dalam Bait Allah. Bagaimana perasaan orang tua, yang seharusnya marah malah dimarahin. Kondisi ini akan kita alami saat kita melalui kebersamaan dengan anak-anak kita. Pendapat bapak Andi juga bagus, bahwa apabila kita mengutamakan solidaritas dan tanggung jawab maka permasalahan lanjut adalah dukungan cinta yang akan bekerja.
Di dalam pekerjaan sehari-hari, dalam hubungannya dengan teman kerja di kantor, kita juga akan merasakan suatu distorsi, terutama dalam komunikasi bilateral. Adalah keliru kalau kita katakan sebagai berikut : “Ah, tidak level, saya bicara dengan dia karena kurang!” Atau “Bicara sama dia sama ajah bicara dengan tembok”
Atau banyak kata atau kalimat sinisme negatif yang keluar. Di sini saya katakan sekali lagi menjadi bagian dari distorsi komunikasi sama seperti halnya autisme. Jika terjadi artinya kita sudah membatasi komunikasi tersebut. Sebagaimana komunikasi yang baik, baik dari orang tua kepada anak, anak kepada orang tua, atau antara sahabat, semua harus atas dasar tanggung jawab sehingga cinta akan menggiring suka cita.
Konkritnya, kalau ada seorang yang sangat menyebalkan hadir di tengah kita, bukan kita harus menjauhi dia, melainkan justru harus mendekatinya, merangkulnya dan menjadikan dia warna tersendiri dalam hubungan. Kata teman saya Andi, asal jangan kelunturan saja.
Pemahaman ini sangat sulit karena biasa kalau kita tidak suka dengan orang lain, maka lebih baik kita jangan bergaul dengan dia, daripada dikemudian hari jadi berantem. Pemahaman yang sebenarnya adalah seharusnya kita dekat dengan dia, paling tidak dia punya sahabat dan tidak menyakitkan hati sahabat lainnya, walaupun hati kita sendiri sakit adanya.
Semoga Tuhan memberkati kita dalam Kasih-Nya sehingga kita semakin mengerti arti persahabatan, bukan untuk saling menguntungkan melainkan persahabatan menciptakan tanggung jawab besar dalam membangun dunia. Tuhan memberkati. Salam dan doa.

Rasi Bintang

Mengambil arah akan lebih mudah dengan rasi bintang, demikian halnya Tuhan memberi kita petunjuk

Suatu malam, di sebuah pulau di Kepulauan Seribu kami harus menyebrang kebeberapa pulau dalam misi kerja sama sosial untuk memberikan bantuan. Karena ombak dan badai cukup besar kami tidak bisa kembali, terpaksa harus menunggu habis magrib. Kami sempat dijamu makan oleh penduduk pulau Pramuka untuk makan malam. Sehabis makan malam udara cerah sekali, cuma waktu mau jalan ternyata GPS kapal kami rusak, mungkin terjadi benturan keras saat mendarat tadi. Saya mencoba membuat kompas darurat dari silet, hasilnya kurang maksimal.
Malam cerah sekali, di atas lagit saya melihat rasi bintang salib atau gubuk penceng. Saya tersenyum lalu bilang ke teman saya apakah lampu batery kita bisa tahan 2 jam. Kata beliau masih bisa bahkan lebih. Terus saya katakan ayo kita berangkat saya tahu arah. Kami berdelapan sebagian besar mereka ragu karena sebenarnya yang paling ahli namanya Raymond, dia yang punya speed boat, kata dia tidak berani karena GPS mati, tapi saya meyakinkan mereka, saya katakan kamu punya boat saya punya kapal, ayo jalan saja.
Walau dengan keraguan hati kami jalan tentu semua hanya bisa berdoa, walau demikian saya dalam hati ragu-ragu juga, apakah saya bisa bawa speed boat tanpa kompas.
Saya cuma membuka diary saya dan memandang ke langit. Tanpa penggaris baringan atau kompas saya mengambil arah barat laut.
Saya mengendarai speed boat dengan kecepatan setengah karena takut salah arah juga. 60 menit kami berlayar dengan arahan rasi bintang dan penuh keragu-raguan. Kalau di darat kami bisa berhenti tanya orang alamat yand dituju kalau di tengah laut mau tanya siapa.
Hatiku mulai ragu juga jangan-jangan saya salah. Saya berdoa terus, sambil bernyanyi bersama, dan tentu ada lagu Tuhanlah Gembalaku. Teman-teman ikut bergembira sampai lupa apakah arah kita benar atau salah, saya juga ikut bergembira sebab kalau aku ragu nanti mereka cemas.
Saya coba mempercepat kecepatan supaya hati tidak ragu, 30 menit kemudian waktu hampir jam 22.00 WIB. Sama-samar bintang mulai tertutup awan, tapi aku bersorak dalam hati karena dari jauh aku bisa melihat lampu Tanjung Priok. Teman-teman semua bersorak bahkan memeluk aku dan memuji kehebatan aku membawa speed boat dalam kegelapan.

Pertengahan tahun lalu saya bertemu beberapa teman. Dalam makan malam bersama, sungguh lucu entah siapa yang mulai kita lalu bercerita tentang malam itu, lalu cerita melebar, mereka semua ingin cerita tentang bagaimana saya bisa menentukan arah padahal malam begitu gelap gulita, hadir Raymomd, salah seorang director di Mitshubishi beliau pemilik kapal saat itu, lalu saya katakan sederhana sekali saya lihat bintang salib, kakinya menunjuk 0 derajat arah Selatan, semua senang mendengar cerita saya.
Rasi Bintang memang luar biasa. Jaman dahulu kala para pelaut tidak ada kompas atau GPS. Mereka hanya pakai arah bintang. Tuhan sebenarnya sudah mengatur semuanya tentang kebutuhan kita.
Sebenarnya, kalau kita mau sedikit merenung masalah apapun yang kita hadapi pasti ada petunjuk jalan keluar, tinggal bagaimana kita pintar-pintar membaca rasi bintang dalam hati kita. Petunjuk Tuhan selalu ada seperti halnya bintang-bintang di langit. Tuhan memberkati. Salam dan doa.

Laut

Kalau kamu sedang galau, susah, dan banyak masalah, maka pergilah ke laut, kalau perlu sebrangilah laut dan disana ada suka cita besar dan lautan yang kumaksud adalah hatimu sendiri (Adh)

Kakek-nenek saya semuanya pelaut. Kakek dari ibu saya seorang pelaut tangguh. Ayah saya juga pelaut tangguh, tapi sayangnya saya dan anak-anak tidak ada yang jadi pelaut tapi saya masih mencari makan di laut.
Ada sebuah nasehat dari Ayah saya : “Kalau kamu sedang galau, susah, banyak masalah, pergilah ke laut kalau perlu sebrangilah laut disana ada suka cita besar”. Ada pepatah juga mengatakan :
“Kuman di sebrang lautan bisa dilihat, tetapi gajah di plupuk mata tidak tampak”. Kata orang supaya gajahnya tampak kita harus menyebrang lautan, kalau dari sebrang kuman ajah tampak apalagi gajah.
Saya suka sekali Laut. Beberapa minggu lalu saya mengunjungi tempat kelahiran saya di pulau Alor. Di sana lautnya indah sekali, saking tidak tahan saya langsung nyebur, walau tidak bawa ganti, akhirnya pulang dengan badan dan baju basah.
Tetapi sungguh suka cita besar bisa saya rasakan, karena saya bersentuhan dengan karya terindah dari tangan Tuhan sendiri.
Ada seorang Teman dekat dengan saya, karena usahanya sulit dia pinjam uang, berlalunya waktu dia sudah bisa mengatasi masalahnya, dan jadi sukses. Suatu hari saya coba berbicara dengan beliau mengenai pinjaman uang beliau, tetapi bukan saya diterima baik tetapi saya kena omelan. Katanya kamu teman baik, saya kan belum mati masa kamu tega menagih, lagian uang itu bukan saya yang pakai, dst. dst.
Hampir semua kesalahan ditimpakan ke saya. Sebenarnya saya marah juga, tetapi saya pikir memang tidak pantas saya marah, karena memang berbeda tingkatan, kalau saya marah artinya saya ini tidak mampu mengatasi diri saya.
Memang nasihat bagus kalau kita ada masalah pergilah ke laut kalau perlu menyebrangi laut. Kini saya mengerti bahwa apa maksud laut yang sebenarnya ternyata adalah hati kita sendiri!
Kalau kita kembali ke hati kita kalau perlu kita menyebrangkan hati kita sebagai empati. Kita akan menemukan suatu kebahagiaan besar sekali, benar sekali kata Ayah saya.
Seperti saya marah, ini adalah gelombang laut saya,
dan ombak yang berbahaya adalah ombak yang di tepi laut, bukan ombak di tengah laut! Oleh karena itu boleh bertolaklah lebih dalam (Duc in Altum)
Kalau bisa menyebranginya maka kita bisa mengatasi kemarahan, kebencian, susah dan sedih, dan segala macam sakit penyakit hati.
Pelaut yang tangguh tidak takut ombak dan badai, dan berani menyebrangi lautan, dan mengatasi masalahnya bukan lari dari kenyataan yang ada.
Yang sulit sekarang adalah bagaimana kita bisa sampai di tepian laut hati kita. Apalagi kalau tidak ada jalan. Untuk itu kita perlu berdoa kepada Tuhan kita untuk membuka jalan agar kita bisa menemukan lautan hati kita.
Selamat berlayar mengarungi lautan hati, jangan lupa memancing ikan kebaikan karena disana banyak sekali. Tuhan memberkati

Salam dan doa

P r a s a n g k a

Prasangkan ibarat pepatah ada udang di balik batu

Saya menjadi anggota IKFA atau Indonesian Korean Friendship Association atau Asosiasi Persahabatan Korea Indonesia. Beberapa tahun lalu kami mendapat kunjungan Nona Hee Ah Lee(19), seorang gadis cantik Korea dilahirkan tanpa kaki dan tanpa jari tangan, tetapi dia sangat piawai memainkan piano.
Dalam kunjungan ini Presiden Soesilo Bambang Yudoyono (SBY) juga mengundang beliau untuk mampir di istana presiden untuk memainkan piano buat Ibu Ani dan keluarga. Malamnya ada konser tunggal di Balai Kartini yang menghasilkan dana besar sekali, tetapi seluruhnya disumbangkan beliau untuk anak-anak cacat di Indonesia.
Pada acara malam kumpul-kumpul di Restauran Pulau Dua, saya duduk berdampingan dengan beliau. Di samping saya ada Duta Besar Korea Selatan, ada Bapak Menteri Luar Negeri, beberapa Tokoh nasional, dan Ketua Kadin. Kita bercerita panjang lebar dengan senang sekali. Beliau memainkan piano sebuah lagu “Everything I do, I doit for you”, spesial buat saya. Lagu kedua membuat saya terperanjat karena lagu yang dinyanyikan ciptaan Rhoma Irama dan Rita Sugiarto, “Ada udang di balik batu”.
Selesai memainkan Piano, dia tanya saya apakah tahu arti lagu tersebut? Sayanya mabok mau menjelaskannya, tapi saya jelaskan : Maksud pepatah ada udang di balik batu adalah jika seseorang melakukan perbuatan baik, belum tentu dalam hatinya tulus. Bisa jadi orang tersebut memiliki masud-maksud tertentu yang tersembunyi.
Dia tertawa karena di Korea tidak ada peribahasa itu. Dalam hati saya pikir, emangnya di Korea semua orang jujur kalee atau terus terang, jadi tidak ada kepura-puraan.
Kita hidup di dunia mirip lagunya Achmad Albar bahwa dunia ini panggung sandiwara. Sehingga kita harus berhati-hati membawa peran kita. Jangan sampai ada yang mengatakan ada udang di balik batu, atau lebih kasar lagi merasa kecolongan, seperti sebuah perkawinan setelah berjalan beberapa lama baru dirasakan seperti ditipu dan kecolongan.
Sejak kecil kita diajarkan bahwa kebaikan selalu menang melawan kejahatan. Demikian juga kejujuran, keikhlasan, keterbukaan, tetapi di dalam kenyataan hidup tidak demikian, mungkin malah sebaliknya. Lebih banyak orang hidup dalam kepura-puraan. Sepertinya menolong dengan baik hati, mendukung, tetapi kenyataan tidak bahkan ada istilah menusuk dari belakang. Di sini kita perlu belajar banyak sekali tentang kehidupan, bagaimana kita harus hidup jujur, ikhlas, terbuka walau kenyataan kita harus berkorban. Kita harus berani melawan sesuatu yang menakutkan kita. Mengapa harus ada udang di balik batu, kalau sebenarnya udang bisa menghampiri kita!
Berkatalah jujur. Salah satu bagian ketakutan hidup manusia adalah berkata jujur. Jika melakukan tindakan yang anda takuti, anda pasti seorang PEMBERANI
Semoga Tuhan memberikan kekuatan buat kita agar kita berani berkata jujur baik terhadap diri sendiri maupun kepada orang lain. Berani menerima apa adanya, berani berkata ya dan tidak! Sesuai keadaan yang ada. Jangan ada lagi peribahasa : Memang lidah tak bertulang. Lain di mulut lain di hati. Ada udang di balik batu. Tuhan memberkati.

Generik

Suatu merek produk atau perusahaan akan musnah saat memasuki kondisi generik

Kegagalan adalah sumber kekuatan kita, tetapi dengan menghilangkan ego dan kesombongan, maka kita melampirkan wajah masa depan yang cerah

Menikmati sebuah film bersama teman-teman apalagi di waktu senggang sangat menyenangkan, demikian semalam saya melepaskan lelah dan stress di BlitzMegaplex auditorium Mall Central Park, setelah seharian sekretaris saya dan juga Pandu anak saya berusaha mencari ticket untuk show “Iron Man 3”, tapi seluruh Jakarta penuh, semua tiket terjual habis termasuk di studio biasa, beruntung melalui internet booking kami bisa dapat seat di Central Park walaupun hampir di row terdepan.

Sutradara Shane Black mengarahkan Robert Downey Jr yang memerankan Tony Shark (Iron Man) dan Ty Simkins (11) yang memerankan Harley. Saya rasa sangat berhasil karena tokoh Iron Man dirasakan sudah “Generik” dilayar fi. Coba diarahkan mengganti nama menjadi “Iron Patriot”. Usaha menampilkan dengan cara lain dalam fantasi teknologi saya rasa baik sekali untuk kita simak.
Pertama, saat memasuki jiwa orang muda, maka kita memikirkan bagaimana orang muda disapa. Peran watak Harley sangat baik, bagaimana rasanya tiba-tiba tokoh yang dipuja-puja hadir dalam rumahnya. Inilah keberhasilan sutradara sehingga begitu banyak anak muda dan remaja yang membanjiri gedung film.
Kedua, bukan saja hadir dalam rumah tetapi juga mengambil “Peran” karena hampir semua tokoh Super Hero kerja sendiri dan diri kita sudah bosan dengan kedigdayaannya, yang bisa mengatasi semua persoalannya sendiri, karena ia tidak perlu bantuan bahkan kesombongan dan egonya bisa mengalahkan semua penjahat. Di sini terlihat sekali peran Walt Disney studio film dunia, yang sangat ahli dalam bermain peran watak, sehingga film ini agak beda penyajiannya, kendati pemenggalan cerita dibuat agar penonton sedikit berpikir, sehingga kita diarahkan agar film ini harus disimak dari awal sampai akhir dengan serius.
Ketiga, bahwa dalam kehidupan sehari-hari kegagalan apapun harus kita terima, tetapi bukan disesalkan melainkan dirubah menjadi kekuatan.

“Kegagalan adalah sumber kekuatan kita, dengan menghilangkan ego dan kesombongan, serta melampirkan wajah masa depan” (Iron Man)

Kalau kita perhatikan keadaan kita sehar-hari,
mau sikat gigi cari odol sayang odol (merk pasta gigi sudah tidak ada) yang ada odol pepsodent. Siapapun di Indonesia yang tidak mengenal odol?
Saya terus membayangkan bahwa kita semua mengenal “DOA”. Jangan-jangan juga sudah generik, sehingga kata doa itu ada tapi produknya sudah tidak ada lagi.
Resensi penampilan film Iron Man 3, boleh jadi inspirasi bagi tokoh agama. Bagaimana menyapa orang muda, bukan saja dengan membagi-bagi uang umat yang dikelola, tetapi bisa hadir di dalam kehidupan orang muda. Kita bukan hanya sekedar hadir tetapi mengambil peran serta mereka dalam membangun Gereja. Buat anak-cucu, buat sahabat-sahabat di kantor, dimana saja, mari kita maknai arti sebuah kegagalan. Di sana ada sumber kekuatan yang besar sekali, bukan sebaliknya melemahkan kita.
Tuhan, Alangkah baik Hati-Nya Engkau, selalu memberikan kesempatan kepada kami semua untuk hidup lebih baik. Tuhan, berkatilah kami semua dalam suka cita. Salam dan doa.

ABRAKADABRA

Kata ini berasal dari bahasa Aram “Ahbra Kedahbra”, yang berarti “terjadilah seperti apa yang aku inginkan.”

Abrakadabra menurut Encyclopædia Britannica 1911 digunakan pada abad ke-2 masehi tertulis pada buku De Medicina Praecepta oleh Serenus Sammonicus seorang tabib kaisar Romawi Caracalla. Dia menyarankan bahwa penderita penyakit diminta untuk memakai jimat bertuliskan :

A – B – R – A – C – A – D – A – B – R – A

Ia menjelaskan bahwa dengan menggunakan jimat ini penyakit dapat disembuhkan. Kepercayaan ini berlangsung terus pada kekuasaan Kaisar Romawi, termasuk Kaisar Geta dan Kaisar Alexander Severus. Semua pengikut ajaran medis Serenus Sammonicus cenderung menggunakan mantra dan jimat ini.
Pada mulanya kata ini digunakan sebagai formula ajaib oleh Gnostik dari Sekte Basilides dalam memohon bantuan roh leluhur mereka dalam menyembuhkan penyakit dan menghindari kemalangan. Tulisan ini ditulis pada batu Abraxas yang dipakai sebagai jimat.
Saya rasa dari anak-anak penggemar komik, film sampai orang besar mengenal kata ini di samping Sim Sala Bim yang memiliki arti hampir sama.
Dalam kehidupan, kita semua hampir mengucapkan Abrakadabra, supaya semua keinginan kita terpenuhi sekarang juga!
Apapun juga kalau kita lihat dari sisi positif adalah baik adanya, tetapi kalau kata “Jadilah kehendaku” menjadi “Jadilah Kehendak-MU” Abrakadabra, maka anda sudah diberkati.

Suatu hari saya berkunjung ke Rumah Sakit Pondok Indah untuk mengunjungi sahabat karib saya. Dalam perjalanan saya berdoa, alangkah indahnya kalau Tuhan bisa menyembuhkan sahabat saya, Jefrey Dompas, terus-menerus sepanjang jalan, tapi ampun jalan macetnya luar biasa. Padahal saya sudah buat janji dengan Romo Andang SJ untuk buat Misa kecil di sana, tapi apa pasal tetap saja kami tidak bisa melintas jalanan yang macet. Sahabat yang mendampingi saya berseru Abrakadabra, ya ampun kita sampai juga, ternyata saya tertidur sepanjang perjalanan dan sampai juga, tapi Misa sudah selesai. Saya tersenyum saja tapi kami lanjut dengan doa bersama. Kita semua ingin Abrakadabra, tetapi Tuhan berkehendak lain. Permintaan kita tetap dilantunkan. Apapun terjadi Tuhan lebih senang kita minta sesuai kehendak kita walaupun apa yang kita minta Tuhan sudah mengetahui-NYA.
Mengatakan terjadilah sesuai kehendak kita bukanlah hal yang jelek karena dasar pemikiran itu lebih penting. Jika kita bekeinginan baik dan mulia, sering kali kita takut menghadapi sesuatu persoalan atau masalah. Katakanlah
“saya tidak takut karena Tuhan ada disampingku, besertaku selamanya”. Ini adalah sebuah keinginan kita yang ditaruh diatas kepasrahan dan kekuatan Tuhan. Firman-Mu adalah pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku!
Abrakadabra, jadikanlah semua sahabatku bahagia, walau dalam suka maupun duka!
Tuhan memberkati selalu. Salam dan doa.