Mampu

Sebenarnya kemampuan seseorang dimulai dari bagaimana dia mengenali kegagalannya (Magsaisai)

ability-is-what-youre-capable-of-doingBiasanya orang mengetahui suatu kegagalan, setelah dia mengalaminya, tetapi seseorang yang bijaksaana dan bisa berhasil, dia sudah bisa melihat kegagalan sebelum peristiwa itu terjadi. Di sana kemampuan seseorang diuji apakah dia mampu atau tidak. Dalam mempersiapkan sebuah pekerjaan mulai dari rancangan, design dan mempersiapkan perencanaan seseorang sudah harus mengikutsertakan setiap kegagalan dalam perencanaannya. Di sini bukan masalah optimistik atau pesimistik pemikiran, tetapi di sini termasuk kalkulasi perhitungan risiko yang harus dilewati.
Setiap pekerjaan yang ditata dengan perencanaan rapi dan dikelola dengan manajemen yang baik serta ditunjang dengan kemampuan pengambilan keputusan, niscaya apa yang dikerjakan pasti berhasil dengan sukses. Kelemahan dari sistimatisasi manajemen yang kita kelola karena kurangnya kemampuan atau tidak mampunya seseorang dalam pelaksanaan suatu pekerjaan. Over confidence dan kesombongan merupakan faktor kegagalan nomor satu.
Semasa melalui pendidikan S2, saya mendapat tekanan pada pelaksanaan suatu operasi manajerial. Persoalannya bukan penekanan pada psikologis pengambil keputusan. Saya masih ingat dialog dengan Mr. Henry Dough dari McConnel Douglas. Beliau katakan bahwa ilmu manajemen memang diperlukan, tapi apa gunanya suatu tugas diletakkan di atas bahu seorang ahli manajemen, sementara dia gagal. Tugas itu lebih baik dipercayakan pada bahu seorang yang mampu menyelesaikan masalah walau dia kurang mengerti ilmu manajemen. Sehingga faktor skill atau kemampuan melaksanakan manajerial penting sekali. Demikianlah pengalaman kerja dan kebijaksanaan seseorang dipertaruhkan untuk kariernya.
Dari sini kita bisa menarik suatu benang merah bagaimana proses seseorang agar sukses dan bisa mengatasi setiap masalah yang dihadapinya. Ini yang saya ingin ajarkan kepada anak-anak, staff dan karyawan saya. Pertama, kita tidak boleh sombong, karena kesombongan menutup segala kemungkinan kita untuk bergerak maju. Kedua, rendah hati dengan bertanyalah sebanyak mungkin kepada setiap orang, apalagi yang lebih senior. Ketiga, pergunakanan literatur yang ada selengkap mungkin. Keempat, tingkatkan nilai spiritual dalam pengambilan keputusan dengan mengajak Tuhan ikut campur tangan dalam setiap perencanaan maupun pelaksanaannya.
Kita sebagai anak-anak Tuhan harus “mampu” terutama dalam hal mengendalikan diri kita, apalagi sebagai pimpinan di mana pun kita berada. Di sini kita diminta untuk “tidak” gagal dan kalau kita tidak ingin gagal. Menurut saya taruhlah kegagalan di hadapan kita, lalu jalankan segala tugas kita dengan mengantisipasi kegagalan tersebut. Di sana sumber suka cita besar sekali. Ini bukan menakut-nakuti kita, tetapi sebaliknya memberi kita jalan keluar terbaik. Semoga kita semua bisa “mampu” mengatasi segala masalah yang kita hadapi, baik masalah organisasi perusahaan, masalah pribadi, masalah apa saja. Semoga Tuhan akan selalu rela menggandeng tangan kita, jangan sampai kita justru menepisnya. Semoga Tuhan memberkati, melindungi dan menjaga kita.

51 responses to this post.

  1. Posted by m. ridwan on March 26, 2014 at 4:52 pm

    memang semua orang pernah merasakan kegagalan, tetepi kegagalan tersebut yang mampu membuat kemampuan seseorang bisa berkali kali lipat

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: