SebagaI jajanan pasar, favorite saya adalah Lopis.
Pagi-pagi aku masuk kantor. Biasanya rutinitis dimulai dengan rapat setiap hari, namun untung ada enaknya juga karena disajikan jenis kue makanan kesukaanku, yaitu Lopis. Makanan jajanan pasar ini dikasih gula jawa rasanya biasa saja, tapi ngangenin. Ada rasa kerinduan kalau lama tidak makan! Kadang susah juga carinya makanan ini, apalagi disajikan dengan getuk, klenting, lapis ijo dan bubur sumsum. Kalau ini lengkap sempurnalah sudah makanan traditional.
Pada pertemuan tahunan INSA di Batu Malang, selama 3 hari musyawarah kerja, jenuh juga karena udara dingin, tapi makanannya kurang cocok. Saya lalu meminta panitia agar menu hari terakhir diganti karena kami semua karena jauh-jauh datang dari Jakarta dan kota-kota lain tidak ada makanan istimewanya. Akhirnya panitia setuju dengan menu tambahan jajanan pasar dan makanan trasisional lainnya. Dengan tambahan ini konsekuensi makanan akan berlebihan. Ternyata prediksi kami salah, bukan saja makanan traditional ludes, makanan induknya pun habis semua. Setelah diselidiki ternyata dua hari berlalu sebagian peserta makan di luar, tetapi begitu diumumkan jenis jajanan pasar dan makanan traditional semua peserta tidak ada yang makan di luar. Semua teman-teman memuji panitia karena makanan yang enak dan serasi. Ini semua gara-gara Lopis kesenanganku.
Kita semua pasti rindu makanan khas kampungnya, kecuali yang lahir dan besar di Jakarta.
Saya kurang tahu apakah makanan khas Jakarta ada Lopis, tapi setahu saya mulai Aceh, Medan, Padang, Palembang, Bangka, Kalimantan, Sulawesi, NTT, NTB sampai Irian Jaya pasti ada Lopis! Nah, kalau semua kita punya Lopis, ayo kita mulai dari Lopis. Bagaimana kita bisa menyajikan makanan traditional menjadi sumber suka cita. Bagaimana Manado dengan kue cucur? Bagaimana Medan dengan Putu Mayang? Bagaimana Bandung dengan Surabi? Bagaimana Surabaya dengan Semanggi? Tentu semangat makanan traditional menjadi sumber suka cita, mengenang tanah kelahiran, mengenang orang tua dan saudara-saudara yang kita cintai. Karena saya dari NTT, maka saya bilang Bolelebo, tanah Timor Lelebo.
Saya rasa kita sepakat bahwa makanan daerah membawa suka cita, juga demikian dengan inkulturisasi gereja. Misa dengan tema daerah sangat menggugah kerinduan, apa lagi tanah tumpa darah beta jauh jauh sekali. Mari kita membangun kesatuan dan persatuan cinta melalui tradisi kita yang kaya dan indah sekali. Tuhan memberkati.









