Gula

Begitu manisnya gula, sampai semut pun tak bisa menahan dirinya (Ichsan N.)

jenis-gulaSuatu sore hari, saya memandang sekelompok semut di bawah pohon mangga. Jumlahnya cukup banyak. Kalau perhitungan saya lebih dari 500 ekor. Tidak ada satu ekor pun yang berdiam diri. Semua bekerja dalam barisan yang rapi dan mengangkat Kristal-kristal gula putih. Entah dipindah kemana? Kasihan ada yang angkat dua dan ada yang tiga. Jadi, bebannya lebih besar dari tubuhnya. Mungkin beratnya juga lebih berat dari tubuhnya, tapi tidak ada satu pun yang berhent. Saya coba mencari tujuan mereka kelihatannya menuju ke atas pohon. Bayangkan saja memikul beban naik lagi. Saya perhatikan setiap kali mereka perpapasan ada sepersekian detik mereka berhenti dan saling menyapa antara yang memikul beban dan yang kembali kosong. Mereka sepertinya sedang melapor satu sama lain. Hal ini yang membuat saya tertegun. Kalau bercerita tentang gula dan semut pasti panjang.

Hasil tes laboratorium mengingatkan gula darah saya tinggi dan sudah melewati batas ambang. Indikatornya 7 sedang normal maksimal hanya 6. Sementara harus diet. Wah susahnya wong hobby saya makan, olah raga kurang dan pikiran banyak dipakai. Ternyata naiknya gula dalam darah faktor utama adalah pikiran. Mind set kita harus dirubah agar stress management bisa dijalankan dengan lebih baik, agar bisa menekan kadar gula dalam darah.

Gula diberikan Tuhan dengan rasa manis. Katanya manusia dikaruniai 7 rasa, yaitu Manis, Asin, Asam, Pahit, Pedas, Tawar, dan Getir. Dari 7 rasa ini bisa dikombinasi dan gula menjadi bagian utama. Tradisi Cina saat ulang tahun, perkawinan, dan kelahiran semua harus manis-manis. Sedangkan pahit, getir dan pedas harus dikurangi karena itu simbol kesusahan. Gula dengan simbol manisnya membuat manusia hidup bahagia. Namun untuk merebut manisnya hidup kita perlu ikuti ideologi semut tadi, yaitu bersatu, bersahabat, saling tolong menolong, dan sehati-sejiwa dalam menghadapi masalah dan berkomunikasi yang baik. Saya tidak tahu apa semut punya otak atau tidak. Seandainya ada memorinya pasti kecil sekali. Bagaimana mereka bisa mengerjakan pekerjaan begitu besar. Pasti ada sesuatu yang memberikan spirit kepada mereka. Pastor Yohanes Mangkey MSC pernah menunjukkan foto kepada saya di mana semut membangun rumahnya sampai ketinggian 4 meter dan kokoh bertahan ratusan tahun (Romo bisa share fotonya dong)

Hidup kita sebenarnya sudah diatur oleh Tuhan, karena kasih dan cintan-Nya Tuhan telah membangun manusia untuk saling mencintai, saling bersahabat dan saling berkomunikasi. Semuanya manis seperti gula, tetapi mengapa harus terjadi perselisihan, permusuhan dan kebencian dan tidak ada lagi hal-hal yang manis?
Karena itu juga masuk dalam CINTA Tuhan, di mana semua kebahagiaan yang manis harus diperjuangkan. Hanya pahit adalah bagian dari kegagalan. Tetapi Tuhan tetap CINTA, karena pahit bisa berakhir manis, kalau kita tetap mencintai-Nya. Salam dan doa.

9 responses to this post.

  1. Rasa “manis” dapat membuat seseorang lebih bahagia, seperti memakan cokelat ketika stres. Sama seperti hidup yang harus dibuat “manis” supaya kita bisa lebih postif terhadap sekitar.

    Reply

  2. hidup kita memang beragam rasanya, kenangan yang indah serta hal hal yang menyenangkan bisa dikategorikan menjadi gula. Karena hanya ada kebahagiaan seperti gula yang memberikan cita rasa manis, sama seperti hidup kenangan dan hal-hal yang menyenangkan itu memnciptakan sebuah kebahagiaan didalam diri kita.

    Reply

  3. Saya sangat tertarik sekali mengenai artikel ini karena dalam kutipan artikel ini memberikan saya pengetahuan tentang hidup. Bahwa kehidupan ini memiliki suka dan duka sama ibaratkan rasa gula yang manis dan kehidupan ini tidak selamanya manis, tetapi juga ada rasa pahitnya. Jadi untuk memperjuangan kebahagiaan kita perlu berjuang

    Reply

  4. bayangkan jika didunia ini tidak ada gula, mungkinkah ada kopi teh dsb

    Reply

  5. Posted by Muh. Akbar Basit / 01PNO / 1701360015 on January 16, 2014 at 6:30 am

    “Begitu manisnya gula, sampai semut pun tak bisa menahan dirinya (Ichsan N.).” kalimat ini sebenarnya menyinggung manusia yang tidak bisa menahan diri karena “manisnya” kehidupan dunia sehingga melupakan bahwa banyak hal penting yang ia lupakan seperti keluarga, teman-teman, dan orang disekitarnya sendiri.

    Reply

  6. Posted by 01PNO-Andrien on January 16, 2014 at 3:33 pm

    Kita harus mencontoh semut yang memiliki semangat juang yang tinggi ketika membawa gula. Kita harus memiliki semangat juang yang tinggi untuk memperoleh manisnya hidup yaitu untuk bersatu, bersahabat, saling tolong menolong, dan sehati-sejiwa dalam menghadapi masalah dan berkomunikasi yang baik.

    Reply

  7. Posted by Defreia on January 16, 2014 at 4:13 pm

    Diantara banyaknya rasa kehidupan ini, pahit, asam, asin, masih ada rasa manis yang dapat dinikmati. Jadi tidak perlu khawatir.

    Reply

  8. Walaupun kadang/sering kita dibuat kepahitan karena peristiwa yang tidak menyenangkan, kita bisa merasakan manis. Bagaimana caranya? Dengan memandang masalah sebagai “appetizer”, sebelum kita menikmati menu utama. Masalah dirasa kurang lengkap jika belum sampai pada penyelesaian akhirnya. Rasa “manis” itu bisa kita bagi dari pengalaman hidup serta attitude kita yang berkenan sehari-hari

    Reply

  9. Posted by Dian Yuni W - 04PAW on March 24, 2014 at 2:52 pm

    Hidup memang beragam rasa. Manis, pahit, asam, bahkan asin. Jika kita menyerah untuk hidup, maka rasa pahitlah yang kita peroleh. Maka dari itu, nikmatilah hidupmu dan buat hidup menjadi semanis gula. (Dian Yuni W. – 04PAW)

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: