Buku

Hidup ibarat buku yang ditulis dari awal sampai akhir tetapi kita sendiri jarang membacanya (Adh).

buku-ilustrasi1Ini hari Sabtu udara mendung dan masih pagi. Saya mendapat undangan peluncuran buku memoriam seorang sahabat. Saya suka sekali terhadap buku, baik tentang kehidupan, lingkungan, otobiografi, teologi dan apa saja. Cuma pagi ini malas sekali keluar. Apalagi hujan sudah mulai turun. Penulis buku ini orang terkenal kalau tidak datang sayang jua. Dari ya tidak ya tidak akhirnya saya jalan juga toh tidak basah ini. Karena hujan deras sekali maka jalanan macet. Saya sampai di kempinski hotel, acara sudah hampir selesai. Karena banyak orang terkenal saya mencoba menghindari dengan masuk dari arah belakang, tetapi ternyata saya kecele. Di belakang lebih banyak yang ngobrol termasuk ada beberapa menteri negara, mantan menteri dan tokoh-tokoh negarawan, terpaksa saya tidak bisa kabur.

Salah seorang kawan dari BKPM (sekarang jadi menteri) mengajak saya menepi karena ada yang kami bicarakan di luar peluncuran buku. Beberapa saat teman-teman yang lain nimbrung lalu bercerita tentang buku yang diluncurkan. Mereka juga menanyakan pendapat masing-masing. Sayanya jadi malu karena datang terlambat dan tidak mengikuti acara dari awal, tetapi saya bilang “Hidup ibarat buku yang ditulis dari awal sampai akhir tetapi kita sendiri jarang membacanya”. Teman-teman semua tertawa dan membenarkan pendapat saya bahkan ada yang bercanda bahwa yang baca lebih banyak orang lain.

Kami bersama-sama makan siang, karena sudah lapar lalu pulang dengan senang hati. Beberapa kali saya mengikuti acara bedah buku atau penulisan otobiografi dan kadang rasa ada ingin menulis biografi saya sendiri tapi kiranya belum waktunya dan juga tidak laku dijual.

Buku memang sangat berguna, karena tanpa buku, kita tidak bisa belajar. Kita juga tidak mengenal dunia. Dengan buku kita akan mudah untuk mengenal bagaimana seharusnya kita menjadi orang yang pandai dan bijaksana.
Saya senang mendengar ada program Taman Bacaan yang diselenggaraka oleh Lingkungan Keluarga Kudus (LKK). LKK mengumpulkan buku bekas lalu disortir dan diletakkan sebagai Taman Bacaan bagi anak-anak yang tidak bisa memiliki buku dan sampai anak-anak yang tidak sekolah. Ini sungguh kegiatan yang bagus sekali dan perlu kita dukung.

Buku itu bukan saja seperti hidup ini. Buku lebih memberikan makna bagi kehidupan. Siapa saja tahu persis mengenai gunanya buku. Saya baru bisa berhenti membaca saat saya sudah tiada. Itu kata pujangga Rosihan Anwar.

Begitu pula dalam kehidupan. Kita seperti menulis di atas buku. Kalau salah tidak bisa dihapus, dikoreksi, atau dirobek karena sudah tertulis. Kita bisa menulis lebih baik di lembar halaman berikutnya Dan menulisnya haruslah dengan hati yang penuh cinta. Niscaya kisahnya akan indah saat dibaca orang.

Tuhan memberkati kita dan telah menyediakan buku buat kita tulis tentang perjalanan hidup kita. Kiranya sisa-sisa lembaran akhir buku kehidupan kita bisa ditulis dengan indah dan enak untuk dibaca. Salam dan doa.

9 responses to this post.

  1. Posted by Fitria Mayangsari_1701294045_01PA2 on December 5, 2013 at 7:17 am

    “Hidup ibarat buku yang ditulis dari awal sampai akhir”
    Pentingnya buku dalam kehidupan sangatlah berpengaruh karena buku merupakan referensi referensi yang kita tidak ketahui dan merupakan gudang dari segala ilmu.Oleh karena itu buku sangat lah penting bagi kehidupan kita.

    Reply

  2. Menurut saya, belajar tidak harus “menunggu” pengalaman. Kata-kata “Pengalaman adalah guru terbaik” adalah salah satu hal paling bodoh yang pernah saya dengar. Kita tidak perlu menunggu jatuh untuk bisa bangkit, bukan? Buku bisa menjadi sarana belajar untuk hidup lebih baik. Melalu pengalaman orang pun, kita bisa belajar untuk tidak mengulang kesalahannya di masa lalu. Ketika kita tidak jatuh, lalu bagaimana bisa bangkit? Ketika kita tidak jatuh, dari berjalan pelan, harus bisa berlari sampai ke garis finish karen menurut Plato, hanya orang bodoh yang tidak ingin sampai di garis finish ketika sedang berlomba.

    Reply

  3. Posted by maria sefani on December 5, 2013 at 9:00 am

    jadi buku merupakan istilah dalam hidup dimana buku di tulis dri awal hingga akhir,namu jarang kita baca,namun sering kali di baca oleh oorang lain.. berarti kita dalam hidup keseharian selalu menciptakan dan melakukan hal2 yang kita lakukan secara rutin tanpa kita lakukan introspeksi diri shngga hanya orang lainnlah yang akan mengkoreksi diri kita melalui kritikan atau sindiran.

    Reply

  4. buku merupakan jendela dunia. Buku juga merupakan kisah kehidupan kita dimana disini kita bertindak sebagai penulis sekaligus pemeran didalamnya. Kita bisa menciptakan bermacam-macam skenario dan adegan didalam dibuku yang kita tulis. Sama seperti kehidupan, kitalah yang mengontrol apa yang kita lakukan dan apa yang kita perbuat selama ini dan untuk kedepannya.

    Reply

  5. Posted by Muh. Akbar Basit / 01PNO / 1701360015 on January 16, 2014 at 6:35 am

    manusia layaknya buku, terkadang orang malas membacanya karena sampulnya yang kurang menarik padahal kita tidak tahu bisa saja isinya sangat menarik juga sangat bermanfaat. Manusia pun demikian, kita hanya melihat tampang luar seseorang saja padahal kita tidak tahu bagaimana sifat orang tersebut sebenarnya.

    Reply

  6. Posted by Daniel Dwidjayanto on January 16, 2014 at 9:00 am

    Banyak orang yang mengatakan jangan menilai buku dari luarnya saja, tetapi setelah kita membaca isinya baru kita menilai buku tersebut. Oleh karena itu kita tidak boleh menilai orang lain berdasarkan penampilannya saja.

    Reply

  7. Posted by Defreia on January 16, 2014 at 4:08 pm

    Buku adalah jendela dunia, ya saya sangat setuju dengan statement ini.

    Reply

  8. Posted by 04PHO_assarina on March 22, 2014 at 7:05 pm

    Buku adalah jendela dunia, saya sangat setuju tentunya. Kita dapat belajar dari buku dengan cara membaca, maupun dengan menulisnya. Dengan membaca buku bukan berarti kita harus menyetujui apa yang tertulis begitu saja namun, kita perlu berpikir kritis.

    Reply

  9. Posted by andy widya perdana on March 26, 2014 at 4:17 pm

    enaknya membaca buku itu adalah, kita bisa membaca dengan kecepatannya sendiri, Tidak seperti film yang kejadiannya bisa terlalu cepat atau pun ketika kita tidak konsen. Di dalam buku kita memang perlu perhatian sepenuhnya agar dapat membaca

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: