Sembako

Sembilan bahan pokok (sembako) sebagai kebutuhan pokok untuk sebuah kehidupan yang layak perlu dipersiapkan secara benar (Soeharto).

49466785881-sembakoSaya dibangunkan istri saya, padahal sabtu akhir pekan ingin sedikit berleha-leha, tapi karena ditawarkan mau bagi bagi sembako di Curug saya tertarik dan bangun segera. Pagi ini bersama teman-teman, kami menuju Curug. Sebuah mobil box membawa sembako dan rombongan 20 orang ada di 4 mobil kijang. Di sana akan dijual sembako dengan harga subsidi. Sebagian dibagikan cuma-cuma sesuai kriteria yang ditentukan kepada keluarga prasejahtera.

Selain sembako dibagikan juga baju-baju bekas layak pakai. Penduduk yang hadir kira-kira 500 orang, yang menerima bantuan subsidi sembako. Kami bisa melihat wajah-wajah yang sangat ceria kendati saat itu hujan gerimis. Para sukarelawan dari Lions Club Jakarta Mitra Mandala bekerja keras untuk mempersiapkan kegiatan ini.
Waktu jaman orde baru, kerawanan sembako membuat presiden Soeharto minta secara khusus kepada semua jajaran pemerintah agar menjaga kestabilan pengadaan sembako, khususnya di saat-sat lebaran atau natal dan tahun baru.

Tema kebersamaan, kekeluargaan dan kebahagiaan memberikan semangat iman yang sangat baik sekali. Walaupun tidak lepas daripada kekuatan cinta terhadap sesama. Mamasuki bulan Ramadhan dan mendekati hari Raya Idul Fitri memang sembako sangat diperlukan oleh warga, apalagi harganya sudah melambung tinggi. Kesempatan ini dipergunakan oleh warga Curug untuk mempersiapkan datangnya hari kemenangan nanti.

Tuhan tentu senang sekali melihat anak-anaknya mau berbagi kasih. Karena memang dari sana asalnya cinta. Cinta dan oleh cinta manusia diciptakan karena tanpa cinta manusia tidak ada harganya di mata Tuhan. Sembako sangat menarik perhatian. Betapa tidak kalau suasana lebaran tanpa persiapan sembako, maka di sini kesempatan kita semua berbagi kasih terhadap sesama kita. Saya sangat terkesan. Beberapa kesan baik datang dari warga, RT, RW dan Lurah yang hadir. Mereka sangat berterima kasih atas karya sosial ini dan membuat warga juga sangat senang dan bersuka cita.

Kisah kesaksian iman ini membuat saya sendiri terpesona dan betul-betul merasakan bahagia bersama-sama warga Curug. Ada yang bernyanyi dan menangis karena bisa merayakan lebaran dengan baju dan pakaian serta sepatu yang layak. Semoga kasih yang dipancarkan bak sinar cahaya terang bagi iman dan pengharapan ini bisa juga menerangi hati kita bersama. Semoga Tuhan memberkati kita semua. Salam dan doa.

3 responses to this post.

  1. Ketika kita hidup berkelimpahan, bisa dikatakan sebagai orang menengah ke atas. terkadang kita melupakan hal-hal kecil yang menjadi sumber kebahagiaan. Tetapi untuk orang-orang menengah ke bawah, pemberian sekilo beras saja sudah menjadi kebahagiaan tiada tara menurut mereka. Mengapa bisa demikian? Karena mereka lebih mudah bersyukur. Ketika kita semakin di atas, semakin sulit diri kita untuk bisa peka terhadap “rasa bersyukur” bahkan lupa bagaimana cara bersyukur.

    Reply

  2. Posted by Muh. Akbar Basit / 01PNO / 1701360015 on January 16, 2014 at 6:41 am

    sembako adalah kebutuhan mendasar bagi manusia, memang kita sangat butuh sembako namun kita harus mengukur sampai mana kita membutuhkannya, mungkin apa yang kita punya sudah melebihi yang kita butuhkan. Masih banyak orang di luar sana yang belum bisa memenuhi kebutuhan sembakonya, merekalah yang lebih berhak mendapatkannya dibanding kita yang selalu tercukupi.

    Reply

  3. Ada banyak orang kaya tetapi tidak berat saat memberi kepada yang berkekurangan. Mereka lebih senang mengorbankan uang demi keinginannya sendiri demi kesenangan sesaat. Sebaliknya, saya sering menemukan orang yang biasa secara ekonomi mampu memberikan seluruhnya kepada orang lain dengan sukarela. Status ekonomi bukanlah penentu kebahagiaan. Ketika kita berbagi kasih dengan orang lain, sesungguhnya disitulah rasa syukur kita diuji. Tanda syukur bagi saya adalah tidak hanya saya sendiri yang menikmati hasil yangbaik, tetapi mempersilakan orang lain turut merasakan kebaikan tersebut. Semakin banyak kita memberi kepada orang lain, semakin banyak pula kita menerima sesuatu yang baik yang mungkin belum terpikirkan sebelumnya.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: