Kursi

Sebutan sebuah tahta adalah kursi. Demikian pentingnya kursi sehingga sama dengan jabatan seseorang (Adh).

kursi-rajaKursi diperebutkan dan kadang sampai harus berjuang mati-matian, baik di partai, organisasi sosial, pemerintahan, dan perusahaan. Bahkan kursi dipakai sebagai lambang kekuasaan. Padahal di lain sisi kursi itu memang enak untuk diduduki. Di seluruh dunia tata krama untuk mempersilahkan tamu, sahabat, dan keluarga untuk duduk di kursi dilakukan dengan cara yang sopan dan halus sekali, karena memang kursi mendapat tempat istimewa dalam kehidupan kita. Ada yang menyediakan kursi yang mahal-mahal sampai kursi plastik atau dikenal kursi bakso. Saya tidak tahu persis di lingkungan, tapi tradisi di lingkungan kami, masing-maing keluarga wajib menyumbang kursi, sehingga jika ada acara lingkungan, bisa dipinjamkan dan dipakai, karena tanpa kursi maka terpaksa harus sewa. Ide menyumbang kursi ini bagus sekali, karena memberikan rasa kebersamaan dan rasa memiliki. Kursi dalam hirarki gereja juga diperbincangkan khususnya mengenai kedudukan uskup.

Uskup adalah pimpinan tertinggi Gereja setempat yang bernama Keuskupan dan merupakan bagian dari hirarki Gereja Katolik Roma. Setelah Sri Paus (Uskup Agung Roma) dan Kardinal. Dalam kedudukannya ini, Uskup sering disebut sebagai pengganti dari para rasul Kristus. Setiap Uskup, karena tahbisannya, dengan sendirinya menjadi bagian dari jajaran para Uskup se-dunia (Collegium Episcopale) di bawah pimpinan bapa suci Sri Paus dan yang bertanggung jawab atas seluruh Gereja Katolik (Paroki) yang berada di dalam wilayah Keuskupan-nya.
Dalam Gereja, kedudukan Uskup bersifat seumur hidup dan diangkat oleh Tahta Suci (The Holy See) di Vatican, Roma. Gereja memberikan gelar Monsigneur kepada seseorang yang secara sah diangkat menjadi Uskup yang artinya kursi.

Mengenai Kursi, saya sepakat istilah yang dipakai, karena Raja pun duduk di kursi tahtanya. Di sanalah dia memerintah. Seperti kita juga duduk di kursi kita lalu memerintah badan dan jiwa kita, tentu saja yang bijaksana, adil dan berwibawa. Seorang teman saya pernah bercerita bahwa kita kalau tidak bisa adil dan jujur terhadap diri sendiri, tidak mungkin bisa adil dan jujur terhadap orang lain. Oleh karena itu, kursi yang kita duduki dalam kehidupan kita, harus pantas dan layak, jujur dan adil serta bisa memimpin dan menjadi sumber suka cita. Tuhan memberkati. Salam dan doa.

One response to this post.

  1. Semakin tinggi tahta, maka semakin besar pula tanggung jawab yang harus ditunjukkannya. Namun, faktanya dengan tahta itu, manusia menjadi berbuat sesuka hati dan bersikap sombong. Padahal, tahta itu pula bisa menjatuhkan seseorang di tengah masyarakat. Kita harus ingat bahwa segala sesuatu yang baik datangnya dari atas, sehingga dengan prinsip itulah kita tetap rendah hati dan mempergunakan tahta itu dengan benar.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: