Bekerja tanpa konsep sama dengan berjalan mundur.
Sepulangnya dari Talk Show yang dibawakan oleh Pak Freddy Numberi tentang Overview Outlook Freight Forwarder dan Shipping tahun 2013 (saya jadi moderator) di Sport Club Kelapa Gading wah saya malah kebagian beberapa pertanyaan dari wartawan Info Gading tentang ilustrasi konsep pengembangan Short Transportation Industry, yang dikutip oleh harian Bisnis Indonesia. Konsep saya bahwa transportasi itu harus memperpendek bukan saja jarak tapi juga waktu tempuh. Misalnya, dari Bekasi ke Tangerang bisa 5 jam artinya jauh sekali sama dengan Jakarta-Hongkong dengan biaya besar sekali. Ada cita-cita membangun airport di Bekasi supaya Bekasi ke Jakarta naik pesawat atau helikopter saja. Itu guyon saya (konsep New York dan Newark jarak hanya 10 km, Brisbane dan Gold Coast, serta Melbourne dan Avalon).
Yang jelas manajemen transportasi harus bisa merubah konsep dari Business Oriented menjadi Happy Oriented tambah saya. Sebab, jalan Tol bisa macet 5 sampai 6 jam pasti pengguna jalan sama sekali tidak happy.
Pada tahun 2005 ada diskusi panel tentang Busway sebagai transportasi murah dan bebas macet sebagai solusi alternatif untuk menekan arus lalu lintas, yang diselenggarakan oleh Universitas Trisakti, saya sempat membuat sebuah paper unntuk bahan diskusi, bahwa seharusnya konsep manajemen transportasi kita diperbaiki dahulu dengan System Short Transportasi sampai system Suburb District dan Rayon. Konstribusi jelas dengan konsep lalu lintas yang baik.
Contohnya setiap perempatan di Jakata tidak ada atau belum ada Yellow Box (kalau jalan macet kita tidak boleh berhenti di belakang kendaraan yang berhenti di depan kita, terutama dalam kotak kuning sehingga memberi kesempatan kendaraan dari arus berlawanan bisa saling lewat walau lampu lalin mati. Signal Left turn (artinya kalau lampu mati di perempatan semua kendaraan yang bergerak tidak boleh belok kanan, artinya kalau mau belok kanan harus belok kiri belok kiri lalu belok kiri lagi, lalu jalan terus akhirnya sama jadinya belok kanan.
Demikian pula kita dalam hal bekerja. Apa saja perlu adanya konsep yang jelas. Perencanaan dan kalau perlu ada master plan. Kalau di kantor setiap tugas yang diberikan, sebelumnya kita harus buat konsep pelaksanaannya, lalu disusun dengan baik tata cara pelaksanaannya.
Saya rasa sebentar lagi kita semua, khususnya umat Gereja Santo Kristoforus akan membangun gereja baru, karena banjir lalu sudah memberikan pelajaran mahal. Untuk itu peran para pakar arsitek, teknik sipil, planologi, ahli TP (Teknik Penyehatan), dan ahli lingkungan hidup sangat penting. Mari kita kumpul memberikan sumbangsih pemikiran tentang master plan dan pembangunan gereja baru.
Konsep, kita perlukan bukan saja untuk pekerjaan fisik kita, tetapi juga kehidupan rohani kita, meniru saudara kita Muslim saat Wudhu ada bacaan niat walau hanya satu kalimat saja. Ada baiknya saat air suci menetes di dahi kita juga ada niat bahwa kita akan misa di mana Tuhan akan mengutus kita (arti misa). Nah kita sudah mempersiapkan dIri untuk apa kita diutus. Bagaimana dan mengapa kita harus diutus? Dengan mengenal konsep tersebut maka misa akan meniliki arti dan penuh makna. Saya mengatakan bahwa tanpa konsep maka kita seperti berjalan mundur. Semoga kita diberikan berkat agar menemukan jalan terdekat bersama Tuhan, tapi kalau ada distorsi, hambatan maka hubungan kita dengan Tuhan akan semakin jauh. Tuhan memberkati.









