Monthly Archives: October 2012

Jakarta

Siapa suruh datang Jakarta, sendiri suka sendiri rasa.

Sebuah fax masuk langsung di ruang kerja saya. Biasanya jarang sekali ada fax masuk ke line pribadi. Kadang-kadang yang masuk adalah iklan saja, jadi saya langsung robek. Ini aneh juga karena fax kertasnya hitam sebelah. Untung belum saya robek sepenuhnya. Itu ternyata fax undangan pelantikan Jokowi-Ahok pagi hari 15 Oktober di Gedung DPRD DKI Jakarta. Sayangnya saya tidak bisa hadir hanya bisa kirim bunga saja. Sungguh suatu kesederhanaan luar biasa. Undangan acara demikian sakral hanya difax yang keluar dari tim Pak Ahok.
Saya bersyukur Pak Jokowidodo menjadi DKI 1 dan Pak Basuki jadi DKI 2. Siangnya saya dapat SMS dari Pak Basuki : “Bro ini nomor Hp gua, ganti ini saja, yang lain macet semua ga bisa dibuka, BB juga hang”.
Saya balas SMS Pak Basuki : “Aku hanya bisa kirim doa Bro, Tuhan memberkati Anda dan Pak Jokowi dalam memimpin Kota Jakarta, dan semoga tugas berat ini mendapat berkat dari Tuhan, Sang Gembala kita”
Saya teringat tahun 1976 saya datang ke Jakarta. Saya tinggal di pojok Pasar Thomas, Tanah Abang V, yang berbatasan dengan Cideng. Tahun berikutnya kawasan itu tenggelam karena banjir. Saya tidak ada tempat mengungsi sehingga saya tidur di atas air setinggi paha dalam kondisi basah banjir. Saya menderita hampir tiga hari.
Jakarta, walaupun penuh derita, siapa saja pasti ingin menuju ke sana. Sampai ada lagunya “Siapa suruh datang Jakarta”? Kini, Pak Jokowi dan Pak Basuki memimpin Jakarta. Ada banyak pengharapan diletakkan di bahu kedua pimpinan kota Jakarta ini.
Lima masalah utama kota Jakarta, yaitu macet (transport), kumuh dan kotor, kependudukan, pendidikan, dan banjir. Saya rasa berat sekali tugas Gubernur dan Wakil Gubernur yang baru ini. Mereka perlu waktu, tenaga, pikiran dan biaya untuk mengatasinya.
Bagaimana dengan kehidupan rohani kita? Saya rasa sama hal masalahnya dengan Kota Jakarta. Kita bisa macet dalam komunikasi. Kita tampak kumuh karena kontaminasi dengan masalah. Kita juga mengalami kekurangan dalam pendidikan mental spiritual. Kita kepadatan pemukiman kotor dalam hati kita. Apalagi ada banjir kiri kanan.
Kita juga memerlukan gaya kepemimpinan baru untuk memimpin diri kita. Kita pilih sosok gubernur dalam diri kita, yaitu “mindset” yang betul-betul mengatasi kesulitan dalam diri kita.
Hidup itu pilihan memang benar. Kita harus memilih apa hitam atau putih. Saya sungguh terinspirasi oleh ide-ide Pak Jokowi. Saya berdiskusi dengan istri berhari-hari bagaimana mengatasi sampah di Jakarta. Saya sampaikan bahwa sampah ini bisnis raksasa dan melibatkan konglomerat. Kalau mau sampah ini kita jual ke luar negeri atau ekspor.
Kalau macet, sudah mbulet, sepertinya benang kusut, dan perlu para ahli untuk menanganinya, Lalu, banjir bagaimana? Karena tidak ada kesempatan air kembali ke bumi, tidak ada resapan!!
Jakarta itu identik dengan kondisi hati kita. Oleh karena itu, hati perlu ditata ulang dengan membuat mindset baru yang memberikan pembaharuan cara hidup. Saya sendiri juga merasa bahwa sudah saatnya mengatasi kemacetan dalam hati. Kita berusaha membuat hunian yang asri. Kita memberikan pendidikan. Kita juga membebaskan banjir dan sampah-sampah dalam hati. Saya mengikuti gaya kerja Bapak Jokowi.
Mari kita doakan agar Pak Jokowi dan Pak Basuki bisa mulai bertugas untuk mengatasi masalah-masalah dalam Kota Jakarta. Dari Jakarta kita bisa menarik sebuah inspirasi agar kita juga mulai menata kehidupan. Kita berharap agar kita jauh lebih baik dari sebelumnya.

Perjanjian (2)

Janjimu seperti fajar pagi hari

Setiap hari Senen pagi, kami semua kumpul di kantor istilahnya rapat BOD (Board of Director). Rapat yang hanya dihadiri oleh Dewan Direksi dan Komisaris. Sebagian besar agenda rapat membicarakan strategi dan perkembangan perusahaan dan juga mengenai perjanjian-perjanjian dengan perusahaan lain. Kerja sama sampai istilah kerennya MOU (Memorandum of understanding). Perjanjian memang sangat perlu dan harus hati-hati karena ini sebagai awal suatu kegiatan, di mana diatur dalam pasal-pasal, yang mempunyai arti dan tidak boleh salah persepsi dan tidak boleh salah diartikan. Perjanjian di perusahaan kami sangat sakral. Biasanya kalau mau ditulis pun selalu diberi doa dan pengharapan lalu ditangani langsung oleh direktur GA (General Affair dan HRD) dan Legal.
Memang kita tidak mengharapkan adanya dispute (perselisihan) atau adanya kesalahpahamaan, yang dapat merugikan perusahaan, tapi selalu diusahakan diselesaikan secara damai saja. Demikian pula dalam hal memilih calon client. kita juga berusaha sangat selektif dan berhati-hati sekali.
Memang kita sangat bersyukur karena Tuhan selalu melindungi, mendampingi dan membimbing kami dalam menjalankan usaha. Walaupun Kadang-kadang kami lupa diri karena kesombongan diri, keangkuhan dan merasa bisa, tetapi sedapat mungkin semua usaha kami letakkan dalam tangan Tuhan.
Setiap rapat dibuka dan ditutup dengan doa. Kami mohon pengampunan Tuhan, mohon bimbingan dan penyertaan-NYA, dan selalu pasrah pada peran serta-Nya.
Perjanjian juga menjadi awal karya keselamatan. Kita kenal ada Perjanjian Lama ada Perjanjian Baru. Tetapi kalau seorang ahli hukum, notaris dan legal selalu mau bertanya Perjanjian antara Siapa dan Siapa. Tentu ada pasal-pasalnya, lalu sanksi-sanksinya. Terakhir kalau ada yang melanggar ada hukuman atau pengadilan yang memutuskan. Perjanjian yang ditulis juga menguntungkan kedua belah pihak. Jarang ada perjanjian yang untung sebelah pihak.
Perjanjian Baru, hampir kita semua kenal dan paham. Seluruhnya menguntungkan kita manusia. Apa lagi yang turut menandatanganinya dalam pembaptisan. Coba kita teliti ulang Perjanjian kita dengan Tuhan. Janji-janji yang kita ucapkan termasuk janji baptis, janji imamat, dan janji perkawinan. Apakah semua sudah kita patuhi dengan benar.
Kehidupan kita sehari-hari tidak lepas dengan Perjanjian. Dimana setiap hari kita mulai dengan diri kita sendiri. Janji bahwa hari ini saya harus berbuat baik. Janji harus memenuhi waktu pertemuan. Janji untuk melakukan tugas-tugas saya dengan baik. Tetapi satu hal yang sangat menarik perhatian saya adalah Perjanjian kita dengan Tuhan. Benar-benar semuanya hanya untuk melindungi kita. Tidak sedikitpun yang menyulitkan kita. Tetapi setan selalu berusaha menggagalkan perjanjian itu. Ia mengalihkan Perjanjian dengan-Nya yang kelihatannya menyenangkan dan memuaskan terutama hiburan-hiburan, tetapi diakhirnya semua merusak jiwa dan raga kita.
Mari kita lihat perjanjian kita dengan Tuhan dan mulai mematuhinya. Semoga Kasih-NYA terus mendampingi kita semua.

Hemat

Hidup HEMAT, hidup senang, dan hidup bahagia.

Saya tinggal di Jalan Hemat, daerah Jelambar, sejajar dengan Jalan Hadiah, di samping rel kereta api. Rumah ini dulu dibeli sebagai rumah singgah karena anak-anak sekolah di SD BHK, tapi lambat laun kami mencintai lokasi tempat tinggal ini karena asri dan sejuk. Di pagi hari banyak burung liar bernyanyi. Kami juga bisa menikmati kokok ayam. Ada banyak buah-buahan seperti jambu dan mangga. Yang asik adalah Mangga Manalagiku. Kalau panen bisa ratusan buah. Tinggal di sini pun ada banyak sahabat dari Lingkungan Keluarga Kudus yang menghibur dengan penuh suka cita. Paling tidak tinggal di Jalan Hemat selalu mengingatkan aku agar hidup selalu hemat.
Peter Collins, dari UCLA, menulis bahwa hidup hemat itu sehat, senang, bahagia, lepas dari foya-foya, dan makan-makan berlebihan. Hiburan tidak sehat tentu saja menuntun kita hidup sehat. Tidak banyak di luar rumah lebih banyak kumpul keluarga menimbulkan rasa bahagia. Kebahagiaan juga meliputi orang hidup hemat, tidak sombong, tidak pamer kekayaan, dan tidak berlomba menghabiskan uang, boros dan hambur-hambur uang. Hidup hemat simbol persahabatan, banyak sahabat dan penuh suka cita.
Sebenarnya, aku termasuk orang yang boros, royal dan suka makan-makan, tetapi ini membuat aku harus jadi gendut dengan berat badan 120 kg. Saya beruntung Tuhan sayang sama aku dengan memberikan kesehatan prima. Semua kondisi baik, tetapi aku sadar penuh dan sekarang harus diet total, olahraga teratur, banyak hidup dalam dunia rohani, meditasi ringan dan banyak menjalin persahabatan. Syukurlah berat badan bisa dikontrol walau masih diatas 100kg. Hidup lebih enak, senang dan bahagia. Ini benar dan perlu kita pelajari bahwa hidup hemat harus menjadi pedoman hidup kita, karena bukan saja menolong keluarga kita, banyak sahabat dan juga menolong bangsa dan negara yang masih dalam kesulitan.
Kehidupan hemat sangat dibutuhkan oleh hidup rohani kita. Hidup hemat itu memiliki arti penting sekali karena siapa hidup hemat, dia pasti hormat akan karya ilahi. Hemat berbeda dengan pelit atau kikir. Kalau kikir itu mengedepankan egoisme dan kepentingan diri sendiri, sedangkan hemat mengedepankan partisipasi dan keprihatinan yang diletakkan pada unsur kebutuhan yang minimal.
Hati kita juga demikian kalau diisi dengan hal-hal yang berlebihan dapat menimbulkan nafsu keserakahan. Ia bisa memicu tindakan-tindakan korupsi memperkaya diri sendiri. Sesungguhnya kalau kehidupan rohani bisa meredam kebutuhan-kebutuhan jasmani yang tidak produktif atau tidak berguna. Ini bisa menimbulkan suatu perubahan drastis menuju hidup rohani yang baik. Kehidupan rohani perlu ditambahkan dengan program penghematan sehingga peribahasa hemat pangkal kaya harus dirubah menjadi hemat menuju bahagia. Karena hemat sudah bukan tujuan menjadi kaya tetapi hidup bahagia. Selamat akhir pekan, semoga Kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus mendampingi kita samua

Dermawan

Berderma memberi kebahagiaan dan kesembuhan

Kata dermawan atau orang yang memberi derma agak sedikit memberi makna kepada orang yang suka membantu orang lain. Bukan saja dalam arti materi tapi juga waktu, perhatian dan bantuan lainnya.
Universitas Barkeley, California, beberapa tahun yang lalu melakukan penelitian khusus tentang pelajar yang suka berderma dan yang suka berfoya-foya. Hasilnya menunjukkan bahwa pelajar yang sering berderma memiliki nilai yang lebih bagus. Pada umumnya mereka lebih bijaksana dan bahagia.
Kemampuan seseorang menjadi dermawan tidak saja berasal dari dirinya sendiri. Hal itu juga berkat faktor orang dekatnya : istri, suami, ayah, ibu, adik dan keluarga. Tetapi peran Tuhan sangat dominan. Ada orang yang mau memberi tapi tidak bisa, karena banyak faktor yang menghalanginya. Salah satu faktor utama adalah “mindset” lalu berbagai pertimbangan dan masalah. Seseorang yang sedang bermasalah sulit sekali untuk berderma. Seandainya dilakukan tapi tidak sepenuh hati bahkan tidak ada suka cita.
Sehingga boleh dikata bahwa tidak semua orang bisa berderma. Hanya orang yang khusus dipilih Tuhan saja dan mereka yang mau mendengar suara Tuhan. Tetapi bagaimana dengan orang-orang yang mau berderma tetapi tidak bisa? Misalnya ada yang mau menyumbang tapi dilarang istrinya karena termasuk pemborosan dan buang-buang uang? Jawabnya tentu mereka juga diberkati karena pada saatnya suara hatinya akan menang dan pasti kebahagiaan menantinya. Cuma ada satu syarat utama, yaitu pengampunan.
Ada seorang ibu teman dekat sekali sama saya. Putrinya 40th kena kanker rahim. Suaminya baru beberapa tahun lalu meninggal dan dirinya sakit-sakitan. Sebelumnya ibu ini dikenal sangat ringan tangan karena suka menolong dan setia terhadap Gereja. Ia suka berderma dan aktif di setiap kegiatan sosial. Kini ia dirundung duka dan hampir semua ditinggalkan.
Tetapi saya menghiburnya melalui Pengkhotbah : “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.”
Teringat kalau saya naik pesawat, saat pramugari mendemokan pemakaian masker oksigen : “Pakailah masker oksigen anda terlebih dahulu sebelum menolong yang lain”. Tetapi ini dalam keadaan emergency karena mencari Kerajaan Allah, itu harus didahulukan maka semua kebutuhan akan dipenuhinya.
Apakah berderma bisa diajari? Secara alamiah tidak bisa diajari, tapi bisa dipelajari. “It cannot be taught, but can be learned”. Sungguh berbahagia buat semua sahabat yang suka berderma. Anda semua termasuk umat pilihan dan pewaris tahta surgawi. Jadilah terang bagi dunia karena pengampunan sudah terjadi dalam diri anda. Sambutlah dengan suka cita surga dan bumi.
Semoga berkat dan kasih Tuhan memberi pengampunan dan kesembuhan (Doa khusus saya buat Maya di Jepang dan Ibu Pina di RS Harapan kita). Kalau kesembuhan hati sudah terjadi, nantikan kesembuhan jasmani dengan penuh suka cita.

Negosiasi

Win-win solution will be better

Sepanjang hari, mulai pagi sampai sore, dan hampir setiap hari, saya bekerja bergelut dengan masalah negosiasi. Saya kadang-kadang berperan sebagai negosiator sekaligus sebagai bagian dari hal yang harus dinegosiasi. Kesulitan saya bahwa negosiasi itu memerlukan keahlian khusus, karena pada umumnya orang lebih senang tidak bernegosiasi atau cing cai-cing cailaaa. Perusahaan mewajibkan negosiasi adalah mutlak, yaitu perusahaan harus untung tidak boleh rugi.
Pada tahun 1983 saya masuk sekolah bisnis, lalu diperkenalkan prinsip bisnis itu : Buy low sell high (beli semurah mungkin, jual semahal mungkin). Collect early pay late (tagih secepat mungkin bayar selama mungkin)
Tetapi saat ini semua sudah berubah. Bisa bisa terbalik semua, tapi saya rasa prinsip bisnis di atas masih reliable. Hampir 30 tahun kemudian saya bertanya, negosiasi itu apa sih untungnya?
Dalam hidup sehari-hari hampir tidak pernah terlepas dari negosiasi. Pertama, terhadap diri sendiri : waktu dan janji menjadi bahan pokok negosiasi. Kedua, pekerjaan dan tugas rutin. Terakhir, berbuat baik. Lho kok berbuat baik mesti dinegosiasi? Kisah negosiasi kita bisa baca Alkitab : negosiasi Sodom dan Gomorah, sampai kepada negosiasi Judas Iskariot. Dalam beberapa pembicaraan dengan para ahli ternyata negosiasi sangat diperlukan. Untuk negosiasi tingkat tinggi seperti dilakukan Pilatus sampai diplomasi tingkat tinggi.
Semakin bijaksana seseorang, maka semakin tinggi kemampuan untuk negosiasi. Sebaliknya semakin tinggi kemampuan seseorang maka semakin bijaksana dalam mengambil keputusan. Artinya terdapat hubungan linear antara negosiasi dan kebijaksanaan. Terserah mana kita mulai dahulu. Tetapi menurut saya negosiasi harus didahulukan dan pengambilan keputusan menjadi kebijaksanaannya.
Irwan, seorang karyawan Astra, di tahun 1998 mendapat pemutusan hubungan kerja (PHK), tetapi dalam negosiasi keputusannya akhirnya dia memilih menerima pesangon. Setelah lewat masa krisis dia dipanggil management untuk kerja lagi. Lalu, terjadi negosiasi berkepanjangan. Irwan berdoa memohon petunjuk. Dia akan mendapat gaji besar, tetapi dia tidak tega meninggalkan perusahaannya sekarang, karena hutang budi. Di saat susah dulu tidak ada satu perusahaan pun yang menolongnya. Kini dia harus meninggalkan perusahaan kembali ke perusahaan lama dengan gaji jauh lebih tinggi.
Negosiasi bukan saja dengan perusahaan lama dan baru tetapi juga dengan diri sendiri. Banyak teman menasehati agar pindah, karena masa depan lebih baik, tetapi morally dia tidak sanggup menutupi bahwa pertolongan atau hutang budi masuk menjadi bagian negosiasi.
Pertentangan batin membuat Irwan hampir putus asa dan tidak dapat mengambil keputusan. Berdoa pun hampir tidak ada jawaban tetapi dia dipaksa harus mengambil keputusan. Akhirnya dengan keputusan bulat Irwan tidak bisa menerima tawaran Astra.
Saya juga bingung kalau menjadi dia dalam posisi demikian. Tetapi seiring dengan berlalunya waktu saya bisa memaklumi bahwa karena ternyata kebahagiaan, ketenangan, kedamaian dan suka cita juga mengambil peran penting dalam negosiasi dan pengambilan keputusan. Apalah artinya pendapatan lebih besar kalau hati tidak tenang. Jiwa kita diuber-uber rasa bersalah, apalagi tidak happy.
Tuhan mendampingi kita. Tuhan ikut bekerja dalam hidup kita. Itulah hidup.

Bank

Kalau bicara bank, pasti bicara uang, padahal bank tidak punya uang (GCT)

Sudah 2 bulan ini saya berhubungan dengan bank, dalam rangka pembiayaan perusahaan kami, yang keterkaitannya dengan pembiayaan proyek pembangunan Pelabuhan New Tanjung Priok. Seperti halnya setiap kegiatan perusahaan, maka bank adalah bagian dari perkembangan perusahaan.
Bank menjadi suatu pondasi perusahaan. Semakin dekat hubungan suatu perusahaan, semakin baik perusahaan tersebut. Memang susah-susah gampang berurusan dengan bank, tetapi posisi paling atas adalah TRUST atau kepercayaan. Kalau waktu aku masih kuliah kita kenal dengan 5C (kalau saya 5C + 1C)
Sewaktu saya mengikuti sebuah seminar masalah perbankan di Shen Zhen, China, hasilnya luar biasa, karena Pemerintah China begitu luar biasa perannya dalam pemberian pinjaman dan sangat mendukung setiap usahawan yang mau membangun perusahaan di China. Ini yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi China berkembang luar biasa pesatnya. Kita memang harus banyak belajar dari sana sampai membenarkan bahwa mari kita belajar sampai ke China.
Hidup kita juga harus bertumbuh bukan saja secara ekonomi, tetapi juga secara iman. Kalau bisnis tumbuh, maka kita perlu bantuan bank. Untuk pertumbuhan iman, kita juga butuh pinjaman, yang saya sebut dengan Bank Rohani. Buat yang memiliki iman bisa membantu sharing atau meminjamkan kepada yang kurang sehingga bisa tumbuh menjadi iman yang kuat.
Ketika memberikan sharing di suatu Gereja Protestan, saya jadi pembicara tunggal, di hari Ulang Tahun ke-40. Para hadirin adalah para pendeta, tokoh umat, dan pemuka agama lain. Saya juga melihat ada beberapa pastor hadir. Saya memberikan sharing selama 90 menit. Di sesion awal saya mengibaratkan pertumbuhan iman kita ibarat kita mau pinjam uang di bank. Pertama, kita dilihat potongannya. Katanya orang gendut lebih mudah dapat kredit daripada orang kurus. Lalu, penampilannya, apakah pakai safari atau jas atau batik. Kalau pakai kaos atau T-shirt pasti susah dapat kredit.
Demikianlah kita akan menghadap yang punya uang.
Lalu, saya bertanya kepada hadirin : apa isinya bank? Semua menjawab kompak uang! Lalu, saya tanya apa isinya bank. Yang paling banyak jawabnya tetap uang! Saya jawab bahwa bank memang isinya uang, tapi yang paling banyak di bank adalah orang yang butuh uang dan orang yang kelebihan uang.
Bank tidak punya uang, tapi bank menjadi fasilitas. Dari yang simpan dan yang pinjam, bank dapat selisihnya. Jadi, uang berputar saja.
Terus apa hubungannya bank, nasabah dan rohani kita? Semuanya tersenyum karena dapat pinjaman hatinya senang sehingga jadi sumber suka cita.
Bank juga menjadi bagian dari penyelesaian masalah.
Saya sampaikan bahwa dalam kehidupan kita siapa yang bisa menyelesaikan masalah dirinya sendiri atau diri orang lain maka dia adalah Bank Rohani. Semakin banyak masalah yang diselesaikan, semakin banyak nasabahnya.
Seluruh hadirin memberikan tepuk tangan, bahkan ada yang berdiri ber suit-suit. Saya tersipu malu, karena beberapa ibu-ibu memberikan komentar bahwa hari ini juga mereka mau buka Bank Rohani dan bertanya : berapakah modalnya? Kaget juga saya karena tidak terpikir oleh saya. Tetapi, tiba-tiba seperti ada yang berbisik ke saya bahwa katakan bahwa modalnya adalah percaya dan pasrah kepada Yesus.
Acara kebaktian ditutup dengan makan-makan dan acara hiburan. Semua banyak memberikan pertanyaan, tapi panitia bilang pertanyaan nanti dikumpul oleh Gereja, sekarang makan dulu.
Saya pulang dengan suka cita, karena saya bisa menyebut para Pendeta, Pastor, Suster, Bruder, para anggota Dewan Gereja, dan Majelis adalah Bank Rohani. Terima kasih Tuhan, atas Kasih karunia-MU

Musibah

Semua sudah ada waktunya termasuk musibah (pengkhotbah), sebab Tuhan turut berkarya di setiap kegiatan kita.

Saya, kakak saya (pendeta), sepupu saya (penginjil) dan 2 kawan saya, bertemu dengan Ryan (pemilik Fery yang ditabrak tanker dan tenggelam di Merak) dan adiknya Elsa, sambil makan malam di Shabuya Central Park. Malam ini memang spesial karena Ryan baru saja mengalami musibah tenggelamnya kapal Ferynya dan menelan cukup banyak korban meninggal. Kisah musibah ini cukup mengajak kami prihatin dan sedih, namun kami makan dulu walaupun biasanya diisi tawa dan canda. Kali ini hanya lelucon-lelucon kecil saja. Sambil Makan sepupu saya mulai berkhotbah dan memberikan penghiburan terutama diambil dari Kitab Pengkhotbah bahwa musibah juga ada waktunya, tapi dalam Tuhan semuanya akan indah pada waktunya. Demikian juga dalam kitab Amsal bahwa apapun yang terjadi sudah dalam rencananya.

Kakak saya berkisah tentang bagaimana melihat musibah dari nilai positif. Ada sebuah keluarga dengan 2 anak lelaki, punya 2 ekor kuda. Suatu hari 2 ekor kudanya lari dan hilang. Berhari-hari mereka sedih tapi kata sang ayah : “Tidak usah sedih karena kudanya cuma pergi, tapi mungkin tidak kembali jadi lupakan saja, sehingga pandangan ini membuat kedua anaknya hilang kesedihannya. Sebulan kemudian di pagi hari, mereka dikagetkan karena kedua ekor kuda mereka pulang tetapi membawa 12 ekor kuda liar. Mereka semua senang sekali, tapi sang ayah katakan bahwa kuda mereka sudah pulang cuma mereka bawa teman bermain.
Kedua anak lelaki mereka jadi rajin melatih kuda liar tapi musibah datang karena keduanya jatuh dan keduanya cacat. Yang satu kakinya patah dan yang satu tangannya patah. Sang ibu sedih sekali katanya ini kesialan dari kuda liar. Beberapa bulan kemudian timbul peperangan di daerah itu dan ada mobilisasi anak muda. Mujur sekali kedua putranya tidak bisa diterima jadi militer karena cacat. Musibah juga punya arti tersendiri karena Tuhan telah merencanakan semuanya.

Ryan dan adiknya Elsa ikut tertawa dan penuh dengan suka cita dalam Roh Kudus. Saya juga menambahkan bahwa jalan keluar pasti selalu disediakan Tuhan seperti kisah Musa menemui jalan buntu di Laut Merah. Maju mati mundur mati, tapi Tuhan membelah laut sehingga umat Israel bisa menyebrang laut dengan kaki kering.
Musibah sering membuat kita putus asa, tapi musibah membuat kita kuat. Musibah bukanlah suatu akhir dari hidup, tetapi justru awal dari kehidupan baru. Semua itu karena Cinta Tuhan.

Semoga berkat Allah Tuhan yang penuh Cinta Kasih memberikan kekuatan kepada semua saudara, sahabat yang sedang mengalami musibah.

Shopping

Kesenangan utama wanita adalah shopping

Lingkungan Keluarga Kudus Paroki St. Kristoforus bersama Lions Club Mitra Mandala dan KKT ( Komunitas Kasih Tuhan ) di depan Penjara Nusa Kambangan

Suatu malam aku bersama beberapa teman minum kopi di Mal Taman Anggrek sambil berbicara bisnis. Waktu sudah menunjukkan jam 9 malam atau sebentar lagi Mal akan tutup, tapi manusianya masih banyak mengunjungi toko-toko, bahkan makin lama makin banyak dan areal Starbuck jadi penuh sesak. Ada apa gerangan? Ternyata malam ini ada Midnight Sale.
Beberapa ibu memenuhi toko Metro, karena diskon sampai 70 persen. Bukan hanya masalah diskon saja, tetapi memang suatu seni tersendiri dalam hal shopping atau berbelanja.
Memang ini menjadi bagian dari kesenangan para wanita, khususnya para ibu untuk berbelanja. Pihak mal-mal juga berusaha menarik perhatiaan dengan segala cara termasuk Midnight Sale. Saya pun tidak ketinggalan untuk membeli sebuah sepatu. Saat membeli saya perhatikan wajah ibu-ibu. Luar biasa karena semua penuh suka cita, senyum dan tawa menghias wajah mereka, baik yang membeli maupun yang hanya cuci mata saja.
Berbelanja memang memberikan kepuasaan lahir batin, terutama saat memilih barang yang kita ingini dan kita sukai. Di mana letak nilai kenikmatan berbelanja? Kalau dahulu tawar- menawar merupakan suasana asyik, tetapi sekarang gengsi kalau harus ke Mangga Dua, walaupun di sana masih berlimpah pembeli, tetapi Mal menjadi terminasi tersendiri. Kepuasan belanja pertama adalah bisa menemukan sesuatu yang kita beli, karena kualitas, warna dan model apalagi diselingi diskon. Maka suka cita besar, telepon teman, saudara atau BBM, perlu difoto barang yang dibeli lalu di share di BBM group. Ungkapan suka cita juga disampaikan kepada sahabat melalui email, sms, twitter maupun facebook.

Manusia hidup, memang harus mencari suka cita dan damai sejahtera. Kalau kita perhatikan bahwa shopping adalah merupakan suatu suka cita tentu sehingga kita menjalankannya dengan mencari toko, mal atau pasar. Kalau yang berlebih bisa terbang ke Singapura atau Hongkong untuk berbelanja untuk hunting barang (istilah ibu-ibu), momo (Mal-Mal), Bilo ( buy low), Misel (milik selera) tentu akan menjadikan kita bahagia.
Demikian dalam kehidupan rohani, sekali bolehlah kita shopping. Secara lahiriah bisa membeli untuk koleksi Rosario, Alkitab, Lilin wangi, Salib dan kalung. Macam-macam benda rohani ditawarkan, yang bisa membuat jiwa kita bersuka cita. Tapi kita juga bisa shopping dalam batin atau rohani, yaitu bekerja sosial, melayani orang sakit, mengunjungi penjara, berbagi sembako, menolong sesama, menghibur sahabat yang sedih, dan menghadiri ibadat kematian. Banyak sekali tempat Shopping Rohani. Tentu kita harus membayarnya bukan dengan uang melainkan dengan pengorbanan, waktu, tenaga, pikiran bahkan keluar uang juga.
Shopping Rohani yang baru dilakukan Lingkungan Keluarga Kudus bersama Lions Club Mitra Mandala dan KKT ( Komunitas Kasih Tuhan ) menuju Penjara Nusa Kambangan merupakan suka cita besar. Foto-foto sudah dishare di BBM Group, Facebook, dan Email. Suka citanya seperti saat berbelanja baju kata teman-teman.

Saya mengajak anda bersama saya mari kita shopping atau belanja rohani sebanyak mungkin, baik untuk kita pakai sendiri atau koleksi kita buat hari tua atau sampai kita menutup mata.
Semoga kita semua diberkati dengan suka cita, dijauhkan dari rasa duka, benci, sakit hati, iri hati, dan cemburu yang dapat membuat toko rohani kita tutup.

Hijrah

Untuk merobah nasib, kita harus hijrah (Mao)

Hijrah (bahasa Aarab) yang memiliki arti perpindahan atau migrasi.
Nabi Muhamad pada Bulan September 622 M melakukan migrasi atau hijrah ke utara Mekkah. Nama daerah itu kemudian di sana adalah Madinah atau Madinat, yang berarti kota Nabi. Ia bersama Abu Bakar menyebarkan Agama Islam ke seluruh penjuru dunia.
Bisa lihat kitab Kel : 13 – 17 dan Al-Quran surat Al-Shuara ayat 60 (isinya sama), yaitu Allah memerintahkan Nabi Musa dan umat Israel pergi ke tanah perjanjian (Kanaan) atau Palestina. Hal ini menimbulkan kemarahan Firaun dan menyusul untuk memusnahkan umat Israel dengan menggiring mereka ke Laut Merah. Di sana justru menjadi hal yang terbalik, di mana umat Israel bisa menyebrangi Laut Merah dengan kaki kering, sedangkan tentara Mesir yang menyusul dikubur oleh ombak Laut Merah.
Lokasi penyebrangan diperkirakan di Tasik Timsah di Utara Teluk Suez. Kisah ini menjadi paling menarik karena nilai Rohaninya sangat tinggi. Satu hal yang luar biasa dalam kisah ini adalah kekuatan DOA Nabi Musa dahsyat.
Anggap saja posisi kita seperti Nabi Musa dalam kehidupan. Kita terjebak hampir tidak ada jalan keluar. Kiri kanan air laut dan jurang. Suasana pasti sangat mencekam dan pasti putus asa. Di sisi lain musuh semakin dekat dan mendekat artinya hanya menunggu kematian. Tapi, apapun masalah yang kita hadapi, seberat apapun musuh di belakang kita, Tuhan pasti memberikan jalan keluarnya.
Ayah saya semasa beliau masih hidup tidak henti-hentinya memberikan nasehat bahwa jika terlalu banyak masalah yang dihadapi cobalah menyebrang laut dan carilah jalan keluarnya di sebrang lautan. Nasihat ini sering saya lakukan dan ternyata menyelesaikan masalah. Karena jika kita berada di dalam masalah, hampir tidak mungkin menyelesaikan masalah jika kita terjebak di dalamnya. Oleh karena itu, Musa diperintahkan keluar dari Mesir menuju Kanaan jika mau menyelesaikan masalah Umat Israel.
Hijrah menuju tanah perjanjian perlu kita hayati dalam hati kita.
Apakah kita perlu Hijrah? Jawabnya ialah ya. Kita harus hijrah dari kebiasaan-kebiasaan kita yang kurang baik menuju Tanah Perjanjian, yaitu penuh dengan perbuatan baik, suka cita besar, penuh cinta kasih. Tinggal bagaimana kita menjawab apakah kita berani “Hijrah” ?
Semoga cerita-cerita peristiwa hijrah menuntun kita ke arah kebaikan dan membuka mata hati kita. Semoga ia pun memberikan kesejukan dan damai jika kita mau menyebrang laut lalu dari sana kita bisa melihat siapa kita? Apa yang telah kita lakukan, karena di sana ada perbandingan, sehingga kita tahu mana yang lebih baik dan mana yang lebih buruk.

Bintang

Sekarang juga kita telah menjadi bintang (Rod Steward)

Aku duduk di kursi gereja pagi ini. Sebenarnya ingin menulis tentang kisah perpindahan/exodus atau hijriah, tapi aku tunda karena khotbah Pastor Jan Van de Made, MSC di Gereja Stella Maris Pluit menarik untuk ditulis.
Perkawinan adalah identik dengan kebahagiaan, tetapi tujuan akhir perkawinan ini justru banyak yang tidak tercapai, karena menginginkan kebahagiaan instant. Tidak demikian kata beliau karena kebahagiaan dalam perkawinan harus diperjuangkan dan perllu pengorbanan. Di garis bawahi lagi, dan sekarang juga anda jadi bintang.
Saya berlutut dan mengikuti doa persembahan, lalu dalam hati saya bertanya apa iya saya jadi bintang. Kayaknya pastor ini berada di Stella Maris. Beliau bicara tentang bintang, karena Stella Maris (nama kapal saya juga MV. Stella Maris dan dulu kapal misi Keuskupan Ende juga pakai nama Stella Maris) artinya Bintang Laut.
Bintang Laut itu cahayanya paling terang dan jelas sekali tengah malam menjelang subuh. Tapi saya berdoa saja semoga pernyataan atau statement bahwa kita jadi bintang bisa terlaksana. Gubug penceng, Bintang Pari atau South Star menghiasi Bendera Australia dan New Zealand. Gugusan beberapa bintang ini khas, karena pas menunjuk arah selatan di titik 0, sehingga nenek moyang kita, para pelaut tidak memakai kompas, cuma paka sextant 0 pada titik selatan.
Bercerita tentang bintang, saya dan istri memiliki bintang yang sama yaitu Gemini. Dalam rasi bintang, Gemini berada persis di garis belahan Zona Milkyway atau Bima Sakti di tengah Galaxy, sehingga orang berbintang Gemini memiliki sifat kembar atau dilambangkan cinta. Ada orang bilang Gemini itu penuh cinta, seni dan artistik, tapi cenderung bimbang mau pilih kiri atau kanan, utara atau selatan karena posisinya netral sekali. Oleh karena itu, Gemini dilambangkan kembar, tapi itulah cinta. Cinta itu kembar dan tidak bisa sendirian.
Demikian kita mencintai Tuhan sekaligus kita harus mencintai sesama. Kembaran itu juga menghantar kita di dalam hidup. Apakah mau mementingkan diri sendiri atau mementingkan orang lain. Apakah mau mencintai orang tua juga harus mencintai anak. Kembar itu melambangkan keadilan. Karena itu, dalam arti positif cinta tidak bisa berdiri sendiri, tetapi harus ada kembarannya. Salah satu unsur agar bisa searah maka Anda harus menjadi bintang, menjadi arah, menjadi petunjuk, menjadi panutan, dan menjadi contoh agar kembaran cinta tidak bercerai-berai, melainkan menuju satu arah.
Ada Im ada Yang, ada panas ada dingin, ada pria ada wanita (dalam agama Budha mengatakan kembar itu cinta yang diurai dalam Lambang-Nya)
Kata-kata bagus bilang : Menuju Kaki Gunung, di mana sangkakala dinyanyikan, di sanalah Cinta menanti.
Sungguh, Bintang membuat dunia bermakna, karena sumber dari segala sumber ilmu berawal dari perbintangan (ilmu bintang atau ilmu falak, saya tidak tahu apakah masih diajarkan di sekolah ?)
Demikian 3 raja menemukan suka cita menuju Betlehem karena bintang berekor menuntunnya. Sampai aku sendiri juga berlutut di sini karena Bintang Laut menuntunku.
Memang benar bahwa kebahagiaan harus diperjuangkan atau sampai menang!!! Tapi, untuk itu kita memerlukan bintang sebagai penunjuk arah jangan sampai salah jalan. Demikian, mereka bukan lagi dua melainkan satu. Itulah kembaran Cinta. Bintang kejora akan bersinar, jika cinta itu ada.