Hijrah

Untuk merobah nasib, kita harus hijrah (Mao)

Hijrah (bahasa Aarab) yang memiliki arti perpindahan atau migrasi.
Nabi Muhamad pada Bulan September 622 M melakukan migrasi atau hijrah ke utara Mekkah. Nama daerah itu kemudian di sana adalah Madinah atau Madinat, yang berarti kota Nabi. Ia bersama Abu Bakar menyebarkan Agama Islam ke seluruh penjuru dunia.
Bisa lihat kitab Kel : 13 – 17 dan Al-Quran surat Al-Shuara ayat 60 (isinya sama), yaitu Allah memerintahkan Nabi Musa dan umat Israel pergi ke tanah perjanjian (Kanaan) atau Palestina. Hal ini menimbulkan kemarahan Firaun dan menyusul untuk memusnahkan umat Israel dengan menggiring mereka ke Laut Merah. Di sana justru menjadi hal yang terbalik, di mana umat Israel bisa menyebrangi Laut Merah dengan kaki kering, sedangkan tentara Mesir yang menyusul dikubur oleh ombak Laut Merah.
Lokasi penyebrangan diperkirakan di Tasik Timsah di Utara Teluk Suez. Kisah ini menjadi paling menarik karena nilai Rohaninya sangat tinggi. Satu hal yang luar biasa dalam kisah ini adalah kekuatan DOA Nabi Musa dahsyat.
Anggap saja posisi kita seperti Nabi Musa dalam kehidupan. Kita terjebak hampir tidak ada jalan keluar. Kiri kanan air laut dan jurang. Suasana pasti sangat mencekam dan pasti putus asa. Di sisi lain musuh semakin dekat dan mendekat artinya hanya menunggu kematian. Tapi, apapun masalah yang kita hadapi, seberat apapun musuh di belakang kita, Tuhan pasti memberikan jalan keluarnya.
Ayah saya semasa beliau masih hidup tidak henti-hentinya memberikan nasehat bahwa jika terlalu banyak masalah yang dihadapi cobalah menyebrang laut dan carilah jalan keluarnya di sebrang lautan. Nasihat ini sering saya lakukan dan ternyata menyelesaikan masalah. Karena jika kita berada di dalam masalah, hampir tidak mungkin menyelesaikan masalah jika kita terjebak di dalamnya. Oleh karena itu, Musa diperintahkan keluar dari Mesir menuju Kanaan jika mau menyelesaikan masalah Umat Israel.
Hijrah menuju tanah perjanjian perlu kita hayati dalam hati kita.
Apakah kita perlu Hijrah? Jawabnya ialah ya. Kita harus hijrah dari kebiasaan-kebiasaan kita yang kurang baik menuju Tanah Perjanjian, yaitu penuh dengan perbuatan baik, suka cita besar, penuh cinta kasih. Tinggal bagaimana kita menjawab apakah kita berani “Hijrah” ?
Semoga cerita-cerita peristiwa hijrah menuntun kita ke arah kebaikan dan membuka mata hati kita. Semoga ia pun memberikan kesejukan dan damai jika kita mau menyebrang laut lalu dari sana kita bisa melihat siapa kita? Apa yang telah kita lakukan, karena di sana ada perbandingan, sehingga kita tahu mana yang lebih baik dan mana yang lebih buruk.

4 responses to this post.

  1. jadi jika kita ingin menyelesaikan suatu masalah kita harus berada di dalamnya,dan setelah di dalamnya kita dapat mengeti apa yang harus kita perbuat untuk menyelesaikan masalah tersebut,
    dan barulah pada saat permasalahan itu teratasi kita dapat merasakan kebaikan yang terkandung dalam masalah tersebut

    Reply

  2. hjrah adalah perpindahan kita ke suatu tempat untuk menjadi lebih baik seharusnya

    Reply

  3. hijrah sama saja dengan merantau, jika kita ingin sukses kita harus berani merantau ke tempat lain, dengan begitu kita akan memperoleh bnyak pengalaman.

    Reply

  4. Posted by LeonardArden on June 21, 2013 at 4:37 pm

    Menurut saya hijrah memang di perlukan jikalau memang dibutuhkan untuk suatu kepentingan tertentu, misalkan untuk mengurangi rasa jenuh, atau untuk memperbaiki sesuatu yang salah.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: