Menggali tradisi dan tetap bersama tradisi memberikan kemampuan baru (Adh)
Sepulang dari sebuah pertemuan yang membicarakan masalah Inkulturisasi dalam gereja Katolik dengan beberapa teman di daerah puncak, kami mampir di rumah teman yang berada di lokasi Sentul. Rumahnya berada dalam bilangan lapangan Golf, yang sangat asri sehingga menarik dan anggun sekali. Ungkapan selamat datang disampaikan tuan rumah dengan singkong goreng, jagung rebus dan kacang rebus juga kopi hangat. Semua dihasilkan oleh kebun sendiri kata bapak Johnny, pemilik rumah.
Yang sangat menarik bagi kami adalah kondisi rumah beliau, yang ditata sangat baik, terutama tradisi Jawa yang melekat benar dengan beliau. Di sudut-sudut dan dinding penuh dengan foto-foto tradisi Jawa. Mulai dari urusan keluarga, perkawinan, kelahiran, dan mitoni lamaran. Semuanya sungguh indah dan menawan. Saya bertanya kepada beliau bagaimana beliau mempertahankan tradisi Jawa demikian baiknya. jawaban beliau bahwa dengan menggali tradisi dan bersama tradisi, maka beliau lebih dimampukan terutama dalam hubungannya dengan rohani.
Bagus sekali pandangan ini, karena siangnya kami baru berbicara masalah Inkulturisasi.
Inkulturasi adalah sebuah istilah yang digunakan di dalam paham Kristiani, terutama dalam Gereja Katolik, yang merujuk pada adaptasi saling mempengaruhi antar kebudayaan-kebudayaan non-Katolik ajaran-ajaran Gereja Katolik.
Saya rasa setiap tradisi pasti baik adanya. Misalnya tradisi Cina tentang Ceng Beng (bersih-bersih kubur orang tua dan keluarga yang meninggal). ini memberikaan wacana ikatan kekeluargaan yang rapat dan beguna dalam kehidupan masing-masing, tradisi menggunting kuku, memotong gigi, dan sunatan semua baik adanya. Sedemikian baiknya sehingga perlu kita lestarikan turun temurun agar anak-cucu kita juga bisa merasakan baiknya suatu tradisi.
Tradisi, baik dalam bentuk fisik, etika, cara berbahasa, cara berpakaian dan cara menghormati tentu masing masing daerah berbeda, tetapi jika dipadukan akan baik sekali. Betapa rindu saya kalau setiap bulan sekali Gereja mengadakan misa dengan tradisi tersendiri, supaya kita semakin kaya akan tata-cara tradisi dunia. Misalnya misa dengan bahasa Mandarin dan tradisi Cina, misa bahasa Jawa, misa ala Batak, misa ala Timor dan Flores, dan misa ala Ambon. Dengan demikian kita ikut berpartisipasi dalam melestarikan kebudayaan kita kepada anak-cucu kita.
Di dalam diri kita tentu tercipta adanya tradisi-tradisi tersendiri. Ada baiknya coba kita sinkronisasi dengan kondisi yang ada, misalnya kebiasaan-kebiasaan baik dijadikan tradisi keluarga seperti cium pipi saat berjumpa, doa pagi bersama, makan malam di meja makan bersama, saling mendoakan, dan saling menyapa.
Jika tradisi keluarga sudah terbentuk, kita juga membiasakan kebiasaan kita menjadi tradisi tersendiri. Senyuman kepada siapa saja yang kita jumpai. Tutur sapa yang sopan, ketelitian, dan hormat menghormati. Dengan demikian saya sepakat kalau nilai tradisi akan memberikaan nilai tambah bagi kehidupan kita. Tuhan memberkati. Salam dan doa.









