Pagar

Rumah akan serasa aman kalau ada pagar, tetapi pagar itu simbol rasa ketidaknyamanan (Sutiyoso)

pagar-rumah-design-gate-house-11Mantan Gubernur DKI Bapak Sutiyoso pernah melontarkan ide agar setiap rumah di wilayah DKI Jakarta tidak memasang pagar lebih tinggi dari dua meter, malah dalam kelakarnya, beliau katakan ngapain harus bikin pagar? Kalau di Australia atau di Eropa banyak rumah malah tidak ada pagarnya.
Pertanyaannya siapa yang hidup di Jakarta rumahnya tanpa pagar? Jawabannya ada juga sih! Beberapa teman saya di BSD dan beberapa rumah di Jakarta Selatan dibuat tanpa pagar.
Memang rumah di Jakarta rata-rata memiliki pagar demi perlindungan terhadap maling atau orang jahat. Ada benarnya juga ya kalau pagar itu justru simbol ketakutan dan ketidaknyamanan. Sebaliknya rumah tanpa pagar memang lebih ramah, welcome dan sejuk, damai serta tidak ada ketakutannya.
Setiap orang memang perlu bersikap waspada terhadap segala sesuatu yang dapat membahayakan diri maupun keluarganya. Saya lihat nantinya suatu saat rumah-rumah tidak memerlukan pagar lagi karena sekalipun ada pagar tetap si jahat punya akal untuk bisa menerobos masuk. Artinya perlu adanya pagar-pagar lain, misalnya jaminan keamanan dari aparat, pemerintahan dan hukum yang ketat. Di Singapura, misalnya, seorang anak menyemprot cat ke mobil dihukum 6 kali cambuk. Ada vandalisme yang tidak ada toleransi, sampai Presiden Amerika minta ampun karena Anak itu warga negara Amerika dan hanya didiskon dua cambuk saja.
Jadi, pagar memang diperlukan untuk melindungi, tapi pagar itu juga jadi dilema tersendiri. Apalagi kalau ada istilah pagar makan tanaman atau pagar yang merusak bukan melindungi.
Kehidupan kita sehari-hari juga perlu dipertimbangkan apakah perlu ada pagar? Kecuali kalau kita betul-betul merasa aman maka pagar tidak diperlukan. Pagar Rohani paling indah untuk melindungi diri kita adalah anak-anak, suami-istri, dan orang tua.
Pada hari Kamis Putih 2013 yang lalu Bapa Suci Paus Fransiskus membuat pagar bagus sekali, yaitu mencuci kaki narapidana. Dalam sambutannya, Paus Fransiskus mengatakan bahwa sudah saatnya sekarang tugas para narapidana mengemban utusan supaya merobah dunia kejahatan menjadi dunia yang penuh damai, sejahtera dan indah. Saya mencoba untuk merenungkan bahwa ada hubungannya antara pagar dan waktu dalam seuntai syair lagu “Masih Ada waktu” dari Ebit G Ade :

Kita mesti bersyukur bahwa kita masih diberi waktu (pagar)
Entah sampai kapan, tak ada yang bakal dapat menghitung (seberapa tinggi dan lebarnya pagar)
Hanya atas Kasih-Nya,
Hanya atas kehendak-Nya,
Kita masih bertemu matahari (melihat pagar)
Kepada rumput ilalang
Kepada bintang gemintang
Kita dapat mencoba meminjam catatannya.

Sampai kapankah gerangan waktu yang masih tersisa?
Semuanya menggeleng, semuanya terdiam,
Semuanya menjawab
“tak mengerti”
Yang terbaik hanyalah (membuat pagar) segera bersujud
Mumpung kita masih diberi waktu.

Pagar terbaik adalah “waktu” di mana kita menorehkan bakti kita buat yang kuasa sambil melakukan hal-hal yang bermakna. Jika masih mungkin kita boleh berbagi rasa kepada sesama sebagai aplikasi cinta kita. Pagar dan waktu yang baik mestinya membuat kita bersyukur. Jadi, waktu bukan saja untuk mengumpulkan harta duniawi dan bekal kehidupan saja, tetapi suatu “Keuntungan” besar karena masih ada waktu untuk berbagi kepada sesama. Demikian ungkapan bahwa dengan adanya pagar, sehingga kita masih bisa melihat matahari. Tuhan memberkati. Salam dan doa.

15 responses to this post.

  1. pagar di ibaratkan sebagai waktu. dengan waktu yang di berikan kita bisa mengisinya dengan hal hal yang positive karena kita tidak tahu kapan waktu ktia berhenti. dengan adanya waktu dan proses solid yang baik membuat kita menjadi lebih baik dan bersyukur kepadaNya

    Reply

  2. pagar merupakan suatu perthanan atau guard dalam rumah, bukan dalam rumah kita saja, dalam diri kita juga manusia memiliki pagar untuk menjahui sifat-sifat yang jahat, agar pagar menjadi sangat kuat, mulailah kita untuk berdoa, agar kita tetap kuat dan kokoh dalam godaan-godaan yang buruk, terutama pada lingkungan kita yang buruk.
    Tuhan memberikan kita pertahanan agar kita tidak mudah terpengaruh atas hal-hal yang tercelah. berdoalah dengan baik maka perthanan iman kita akan menjadi kbela dan kuat.

    Reply

  3. pagar adalah perumpamaan batas,memang tidak nyaman apabila kita dipagar karena kita akan merasa terkekang dan apabila ingin itu tetapi terhalang dengan pagar jadi mengurungkan niat..

    Reply

  4. Posted by mariantochandra@gmail.com on May 25, 2013 at 7:56 am

    setiap hidup perlu adanya perlindungan, seperti dirumah kita yang dilindungi dengan adanya pagar yang kuat….

    Reply

  5. gunakan lah waktu baik anda untuk berspiritualisasi pada tuhan

    Reply

  6. simbol pagar memang mengidentifikasi akan kekhawatiran seeorng terhadap keburukan yang akan menimpanya. Saya probadi lebh setuju dengan rumah yang berpagar. setidaknya kita bisa mengantisipsi dari pada mengundang seseorang untuk bertindak keburukan. Karena kita ketahui, kejahatan terjadi bukan karena niat, tapi terjadi karerna mereka melihat ada peluang dan kesempatan. begitu pula pada diri kita, kita perlu pagar yang kokh untuk membentengi diri kita dari siksa dan Adzab nereka. Maka, pagar yang paing kuat adalah ILMU dan KOMTMEN. dengan ilmu kita mengetahui mana yang salah dan mana yang bener, dengan komitmen kita dapat berpegang teguh agar tidak terjerumus terhadap apa- apa yang dilarang untuk dikerjakan.

    Reply

  7. memang benar dengan apa yang di tulis oleh penulis.. akan tetapi dalam pandangan saya orang yang menggunakan pagar di rumahnya (khususnya penduduk jakarta) karena mereka ingin menjaga jarak dengan masyarakat sekitarnya.. sebagai contoh.. banyak para artis mendirikan pagar tinggi2 agar masyarakat tidak tahu dengan kehidupan mereka.. mereka sendiiri yang membuat jarak dengan masyarakat.. jadi saya sering berharap agar di jakarta tidak perlu ada pagar lagi karena itu akan membuat kita menjadi seseorang yang kenal dengan tetangganya..

    Reply

  8. sangat memotivasi sekali artikel ini. saya sangat setuju bahwa pagar terbaik adalah “waktu” yaitu bagaimana kita memanfaatkan dan menggunakan waktu kita dengan sebaik-baiknya dan menghasilkan manfaat serta Pagar Rohani paling indah untuk melindungi diri kita adalah anak-anak, suami-istri, dan orang tua. saya mungkin tidak setuju jika rumah saya tidak memakai pagar, namun saya setuju mengenai pagar terbaik dan pagar rohani karena darisanalah kita menjalani hidup kita, berbagi, berkasih sayang, dan menjalani hidup seiring dengan berjalannya waktu dengan sebaik-baiknya.

    Reply

  9. Posted by Steven Yang on June 17, 2013 at 1:26 pm

    Di Indonesia sendiri hampir tidak mungkin dapat membangun rumah tanpa pagar karena tingkat kriminalitas yang tinggi. Tapi di Bali sendiri bisa kita ambil contoh yang baik. Di sana rumah beberapa memakai pagar, tetapi didesain seindah mungkin untuk memberikan kesan budaya yang kental. sangat indah

    Reply

  10. Posted by Andi Muhammad Fauzi/ 02PNM/ 1601266702 on June 20, 2013 at 12:41 pm

    Pagar merupakan sebuah batas, pertahanan, perlindungan. Pagar tidak hanya ada dirumah saja. pagar bisa dianalogikan dalam kehidupan kita. Kita harus memiliki batas dalam melakukan sesuatu di kehidupan, agar tidak berlebihan.

    Reply

  11. Artikel ini menarik menurut saya karena dalam artikel tersebut waktu diibaratkan sebagai pagar. Menurut saya pribadi, kita harus memagari dan membentengi pikiran dan hati kita dari segala hal yang berbau kejahatan. Tuhan selalu melindungi kita dari segala macam bahaya. Tetapi kembali lagi kepada diri kita sendiri bagaimana kita melakukan tindakan pengamanan dan selalu berusaha untuk tidak terjerumus ke dalam hal yang buruk. Kembali lagi dengan waktu yang di anaologikan sebagai pagar,saya setuju dengan waktu yang ada kita tidak hanya mengumpulkan harta duniawi tetapi kita juga harus memperkaya rohani kita.

    Reply

  12. pagar merupakan suatu perumpamaan mengenai pertahanan dari sesuatu.kita sebagai manusia dianugerahi pertahanan oleh Tuhan yaitu firman Tuhan dan Doa.Tuhan memberikan kita pertahanan agar kita tidak mudah terjerumus dalam hal-hal negatif yang ada dalam dunia ini.

    Reply

  13. pagar mempunyai guna yaitu untuk perlindungan, tetapi pagar juga dapat menghalangi kita dalam melihat sesuatu dari sisi luarnya, jadi kita harus pertimbangkan kapan kita gunakan pagar itu

    Reply

  14. kita sendiri pada dasarnya memili pagar yang invisible untuk melindungi diri kita sendiri dari ancaman dan bahaya. masing-masih dari kita pasti tidak ada yang ingin disakiti, maka dari itu kita membuat pagar untuk membatasi diri kita dengan hal-hal yang bersifat negatif. namun alangkah baiknya jika pagar tersebut kita turunkan agar hal-hal positif pun bisa masuk. kita juga harus menurunkan pagar kita agar kita bisa melakukan hal-hal yang baik terhadap sesama. terima kasih.

    Reply

  15. Pagar juga harus ditanamkan pada diri kita karena manusia perlu perlindungan agar dapat menangkal hal hal negatif yang datang terus menerus oleh karena itu banyak lah waktu berelasi dengan Tuhan.Terima Kasih

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: