Suatu kemenangan lebih besar dikuasai oleh ketahanan mental.
Suatu pandangan mata sangat indah dan penuh pesona dan banyak ketegangan dalam pertandingan final tenis Australian Open 2013 di Melbourne antara Li Na (China) dan Victoria Azarenka (Bilarus). Yang saya maksud indah karena mereka berdua menunjukan sportifitas yang sangat tinggi dan keakraban. Li Na dua kali jatuh dan harus mendapatkan perawatan medis, namun dia tetap meneruskan pertandingan. Dokter menyarankan ia berhenti saja karena kejatuhan kedua bisa lebih fatal, ternyata Li Na jatuh juga dan kepalanya benjol terbentur lantai.
Cedera tidak menyebabkan dia takut apalagi pantang menyerah dan yang sungguh menarik adalah di saat cedera sakit luar biasa Li Na tetap memberikan senyum.
Tiga kalimat disampaikan oleh Li Na kepada asisten pelatih dan dokter serta penasehat kesehatan (medical advisor). Pertama, saya tahu saya cedera dan semua mengharap saya mundur. Kedua, saya tidak mau Azarenka kecewa karena mundurnya saya. Ketiga, saya milik dunia dan saya pasti bisa menyelesaikan pertandingan. Semuanya disampaikan sambil senyum cantik sekali.
Sebaliknya Vika (panggilan akrab Azarenka) begitu kuat mentalnya karena mendapat tekanan penonton dan supporter yang 100 persen mendukung Li Na. Vika menunjukkan mental yang sungguh luar biasa dan ia memenangkan pertandingan ini.
Saya menyaksikan pertandingan final tunggal putri tenis Australian Open 2013 lewat layar kaca cukup menegangkan dan menjadi hiburan. Kalimat per kalimat wawancara buat kedua juara tersebut setelah pertandingan selesai memberikan wawasan kita bahwa memang dalam kehidupan kita mental ( bisa diartikan spiritual ) sangat menentukan langkah-langkah kita, seperti yang saya tulis di profile BB saya pekan lalu : Menjadi TUA itu sudah PASTI, Menjadi DEWASA itu belajar, Menjadi BIJAKSANA itu harus memenangkan pertandingan, dan untuk memenangkan pertandingan juga memerlukan MENTAL yang kuat.
Negara kita sekarang sedang membangun mental masyarakat, sebagai bagian dari gerakan memberantas korupsi, karena korupsi sudah dianggap sebagai penyakit. Seberapa pun penghasilannya kalau tidak memiliki MENTAL yang baik dia akan korupsi juga (SBY).
Bagaimana dengan Gereja kita? Apakah ada peletakan program memperbaiki MENTAL umat? Menurut saya awal terbentuknya mental yang baik adalah melalui spiritual atau gereja.
Sekarang bagaimana menyikapi kehidupan kita, misalnya apakah kita dan diri kita siap setiap minggu ke gereja? Apakah ke Gereja hanya kewajiban belaka? Apakah suami, istri dan anak dilibatkan dalam kegiatan gereja. Bagaimana Gereja sendiri dalam menyikapi perbaikan mental umat? Apakah para tokoh-tokoh Gereja terutama Pastor, Suster dan Para Uskup dan Dewan Paroki, siap menunjukkan sikap mental yang baik dan bijaksana, untuk menyelesaikan setiap persoalan dan memenangkan PERTANDINGAN kualitas hidup (dengan bijaksana)? Setiap gerakan dan kebijakan para tokoj Gereja akan menjadi tontonan umat untuk belajar menjadi DEWASA dalam hidup bersama.
Kalau di perusahaan, para direksi dan manager adalah sebagai pemain yang sedang bertanding melawan segala macam permasalahan dan HARUS memenangkan pertandingan dalam arti mengatasi masalah dengan BIJAKSANA.
Saya juga bertanya kepada diri saya, bagaimana saya melawan diri saya sendiri, mulai berkata-kata bijaksana, berpikiran positif selalu, menerima segala yang terjadi (bhs.jawa nrimo) dan mengalahkan kesombongan saya dan berani menjadikan orang lain dalam diri saya, sehingga siapapun yang tinggal di hatiku akan merasa nyaman, damai sejahtera dan penuh suka cita. Semoga Tuhan melindungiku dan semua sahabat dan Tuhan tetap menjaga dan memberkati kita semua.
Pujilah Tuhan, Pujilah Dia karena menjadi pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.
