Monthly Archives: January 2013

Catatan Harian

Mencatat adalah bagian dari pengharapan.

Tahun lalu waktu mengunjungi Tower Space Needle, Seatle USA,
di lobby atas ada coffee shop kecil. Suasana cukup ramai. Di bagian belakang agak atas ada sebuah tulisan slogan. Tulisannya menarik hatiku “Expectations should be written”. Mungkin akan lebih menarik kalau saya sedikit merubah dan saya terjemahkan kalau Harapan (Hope) harus ditulis dan pengertian lebih dalam menulis adalah harapan.Romo Vikjen Soebagyo, Pr. Pernah suatu sore beliau mengirim BBM ke saya, katanya : “Terus menulis, di sanalah pengharapan dicatat!” Saya sepintas tidak mengerti, tetapi di saat saya mengalami masalah di kantor saya suka membaca catatan harian saya, ternyata apa yang saya catat adalah pengharapan saya. Sebagai contoh catatan harian saya sebelum saya berangkat ke Melbourne. Ada beberapa catatan penting, tetapi ada yang saya khawatirkan terutama beberapa pekerjaan yang ada masalah. Setelah beberapa hari ternyata beberapa kekhawatiran saya menjadi kenyataan. Demi antisipasi kejadian itu saya sudah memberikan beberapa solusi. Saya sadar bahwa semua itu adalah pengharapan saya agar semuanya menjadi baik dan berhasil. Sebab, pengharapan yang ditulis dibaca juga oleh Tuhan. Alangkah baiknya kalau setiap doa yang kita panjatkan ditulis dan dibaca oleh orang yang kita doakan.
Mungkin tanpa sadar kita menulis di BBM baik group atau personal “selamat pagi”. Ini adalah doa dan pengharapan yang ditulis paling singkat tapi indah sekali. Kita mengharapkan pagi ini Anda selamat dan bahagia. Kalau orang Manado bilang pagi ngana bae jo. Kalau orang Timor bilang bo lele bo, tana Timor lele bo. Ini semua adalah doa. Mungkin karena generik jadi kita sudah lupa bahkan disingkat misalnya GBU, JBU, WUATB, GWS, GL, GBWU, TM apalagi dikasih simbol 🙂 tapi banyak juga yang tanya apa itu GBU. Ada jokes bilang Gua Butuh Uang. Saya berharap semua doa ditulis jangan disingkat ya, karena berkat Tuhan juga nantinya disingkat, tulislah God Bless You (GBU) atau Tuhan Memberkati (TM) nah kan enak dibaca. Karena ini adalah DOA murni bukanlah salam biasa. Bayangkan saja ada yang menulis : BKYADS di BB
Apa itu : Bapa Kami Yang Ada di Dalam Surga ? Wadoooh. Kembalii ke catatan harian saya. Sebagian besar juga ditulis doa buat diriku sendiri. Kekhawatiran sering hinggap dalam diriku. Ini juga mungkin karena kesombonganku merasa serba bisa, orang lain tidak bisa, tapi jujur saja saya selalu meletakkan kekhawatiran saya dalam tulisan. Rasanya lebih plong karena kadang apa yang saya doakan belum 5 menit saya sudah lupa. Maklum saya ini sekarang sudah pikun (kata istriku aku sudah pikun bahkan agak budeg). Pengalaman saya menulis catatan harian tidak muluk-muluk, tapi penuh dengan corat-coret, saya sampai punya 5 buku catatan yang berbeda-beda fungsinya termasuk janji-janji yang paling aku takutkan kalau lupa, karena peribahasa bilang janji itu hutang. Saya rasa, kita semua punya catatan, ada yang ditulis atau ada yang hanya diingat, kalau bisa menggubah jadi lagu lebih cantik atau membuat puisi. Don’t stop writing ( ini juga pesan Mgr. Julius Kardinal D.). Ada sebuah lagu yang selalu kuingat, “Di doa ibuku namaku disebut”. Indah sekali dan sulit kulupakan, karena memang aku pernah mendengar namaku didoa ibuku bahkan berlutut disampingku. Saya senang sekali memberi doa dalam tulisan, tapi tadi pagi ada seorang sahabat mengeluh ke saya melalui BBM (ini boleh disingkat ya), kalau dia punya sahabat yang BC (Broadcast) ayat-ayat mulu, doa mulu, apa dia ga sadar kalau bikin orang repot membacanya. Saya tersungging sedikit juga nih, tapi saya bilang biarkan saja itu berkat buatmu dan dia jawab ╠╣Aº°˚=D˚ ╠╣Aº°˚:D˚ ╠╣Aº°˚<=-P. Semoga kita semua diberkati oleh Tuhan. Semakin banyak orang yang kita doakan, doa itu akan kembali berlipat ganda untuk kita. Salam dan doa (SDD) dari Melbourne, Australia.

Catatan : Tulisan ini saya tulis jam 2 pagi sebagai inspirasi hadiah buat sahabatku Suster Ludo, PBHK atas usahanya dan bantuannya buat pengungsi koban banjir. Semboyan UNHCR “One refugee without hope, is too much” (Adh)

Ramalan Cuaca

Dalam riwayat cuaca Melbourne mengalami suhu udara terpanas 47 derajat Celcius dan tidak pernah diramalkan sebelumnya.

Berbeda dengan Jakarta, Melbourne mengalami serangan suhu panas sampai lebih dari 45 derajat 150 tahun lalu. Selain suhu udara memang panas ditambah lagi dengan adanya kebakaran hutan dan semak secara besar-besaranan di Victoria Selatan. Saat angin ke utara panasnya minta ampun. Suhu bukan saja panas, tetapi kadang-kadang drop sampai 15 derajat dan angin kencang membuat agak susah bernafas. Disaat konferensi perobahan iklim dan pemanasan bumi/global di Adelaide-Australia dinyatakan bahwa pengaruh black hole yang melebar membuat bumi akan semakin panas. Ini adalah dampak penggunaan freon yang terlalu besar jumlahnya di bumi ini. Kejadian ini diramalkan seperti bah di jaman Nabi Nuh, karena cuaca panas mencairkan es, sehingga terjadi kenaikan permukaan air di bumi.
Nah kalau ini terjadi, maka kota yang pertama-tama tenggelam adalah Jakarta.Saya selalu teringat bahwa kita harus bisa membaca tanda-tanda jaman. Di mana kita bisa melihat kuasa Tuhan yang terjadi di bumi, mulai dari karya keselamatan di mulai.
Ada suatu gambaran yang bisa kita baca dari siklus pemanasan global, yakni adanya pengaruh terhadap ekosistem dari bumi kita, sehingga kita harus menyadari bahwa untuk menjaga dan melestarikan alam kita perlu memperhatikan lingkungan, agar kelak anak cucu kita bisa menghirup udara segar. Tulisan Mgr. Julius Kardinal Daarmaatmadja, SJ tentang Ekopastoral perlu kita simak dengan baik karena bagus sekali buat suatu inspirasi tentang penyelamatan lingkungaan dan pelestarian alam. Kejadiaan banjir di Jakarta juga bisa diambil hikmahnya bahwa sebenarnya kita kurang memperhatikan lingkungan kita, termasuk urusan sampah dan sisa hasil produksi yang gencar di promosikan oleh Romo Andang, SJ. Semoga Tuhan memberkati dan melindungi kita, juga alam di mana kita tinggal.

To the Point

Sepertinya saya belum menemukan kata pengganti to the point, selain kata-kata Tuhan.

Ada seorang sahabat saya sebut saja Andi, hampir semua teman-teman kurang suka sama dia karena cara bicaranya agak kasar. Kalau ia menegur orang to the point atau tidak ada rasa. Ia pernah sama saya ribut mulut karena saya bilang dia keepoo (bhs hokkiaan artinya selalu turut campur urusan orang) terus dia marah. Katanya niat baiknya kenapa ditanggapi secara negatif.
Cerita Andi mengingat saya akan papa saya sendiri. Kerjanya suka marah dan omongannya selalu to the point kepada anak-anak. Untung mama saya orangnya halus sekali sehingga kita jarang sampai rebut. Kalau papa saya sudah bicara yang lain semua diam, sedangkan saya orangnya paling suka membantah jadi paling sering kena marah, tapi jujur saja ternyata saya paling disayang.
To the point itu agak berbeda dengan kata terus terang. Pada dasarnya manusia itu suka basa-basi (small talk), tapi ada sebagian orang tidak, bahkan maunya langsung ke permasalahan. Saya masih ingat saat kuliah, ada seorang sahabat yang disuruh keluar karena menegur dosennya dan dosennya marah sekali, tapi saat ujian akhir dosen tersebut menjadi dosen pembimbingnya. Kita semua sampai heran.
Tuhan menegur kita to the point tanpa basa basi, tetapi karena distorsi duniawi, sering kita tidak mendengar, sering cuek dan mungkin dianggap remeh. Hampir setiap hari kita diajak bicara oleh Tuhan, tapi kita mendengarnya seminggu sekali di gereja. Itu pun kalau kebetulaan ingat.
Seperti halnya Andi, kadang kita juga marah sama Tuhan. Kita bilang Tuhan tidak adil. Tuhan pilih kasih tapi kita lupa sebenarnya itu pembicaraan to the point. To the point memang kita perlukan karena di sini menyangkut hal kejujuran, kepolosan dan keakraban. Jadi, seandainya kita ungkapkan sesuatu dan sahabat kita itu marah dan tersinggung itu artinya dia belum akrab, tapi bila saatnya tiba dan dia sadar maka keakraban akan tambah erat.
Basa-basi boleh saja kita sampaikan, tapi dalam batas tertentu saja, karena kalau terlalu sering maka kita akan berlindung di balik topeng, pura-pura dan penuh kepalsuaan hidup. Cuma sekarang bagaimana kita belajar untuk menyikapi sikap kita dan penyampaian keinginan kita. Demikian juga doa yang kita sampaikan kepada Tuhan tidak usah banyak basa basi supaya kelihatan indah dan bermutu, tapi buat Tuhan tidak ada artinya.
Ketika kita sadar bahwa kita sudah mulai belajar to the point kita juga harus belajar menerima orang yang bicara to the point kepada kita. Kita akan semakin peka terhadap suara Tuhan yang disampaikan kepada kita melalui suara hati kita.
Pagi ini saya harus berdoa buat Allegra cucuku, karena harus kembali masuk rumah sakit, karena bilirubinnya tinggi sekali dan perlu penyinaran khusus. Kasihan juga baru usia 10 hari sudah harus dirawat. Tuhan tolong jaga Allegra. Saya berdoa buat para pengungsi dan korban banjir agar tabah dan perkuat pengharapan Tuhan pasti mendengar doa-doamu. Kita butuh doa syafaat buat para korban banjir dan pengungsi. Saya mengajak seluruh teman-teman memberikan 1 x doa Bapa Kami, 1 x Salam Maria, dan 1 x Kemuliaan.

Bawah Sadar

Pada dasarnya manusia memiliki kekuatan besar di bawah alam sadarnya melalui pikirannya.

Saya masih terus memikirkan kondisi banjir di Jakarta, walaupun jarak sangat jauh, selalu terpikir demikian banyak orang yang menderita, tetapi saya begitu percaya bahwa ada sesuatu kekuatan sesudah itu. Ada makna Tuhan memberikan banjir supaya kita sadar bahwa sebenarnya manusia diberikan suatu kekuatan maha karya di bawah alam sadar. Mungkin banjir ini membuka pikiran kita, kita sadar bahwa kita memiliki kekuatan di bawah alam sadar.
Salah satu cara mengenal alam sadar dan kekuatannya adalah memacu pikiran kita lebih tinggi. Kita pernah dengar cerita ada orang lari ketakutan lalu dia bisa meloncat 2 meter lebih. Atau ada yang bisa mengangkat lebih dari 100 kg. Doa yang diulang-ulang juga bisa memicu kekuatan bawah sadar. Doa rosario adalah salah satu cara bagaimana kita bisa merobah suatu kemampuan kita sehingga doa kita bisa dikabulkan. Autosuggestion, yakni keinginan kita mempengaruhi pikiran kita di bawah sadar dan menjadi daya dorong untuk kita berbuat sesuatu yang luar biasa. Di sana kita melibatkan emosi dan percaya diri yang dilakukan dengan konsentrasi tinggi, sehingga menimbulkan energi yang dapat dimanfaatkan mewujudkan impian hidup.
Pikiran bawah sadar ini juga secara tidak langsung membuat aura kita tampil beda. Asal dilakukan dengan benar dengan mengedepankan pikiran positif, kemampuan mengolah pikiran, mau mendengarkan pendapat orang lain dan menganalisanya, memiliki personalisasi dan penampilan baik dengan cara berbicara dan tata krama, etika dan saling menghormati.
Kita mengetahui bahwa banyak maha karya diciptakan manusia, yang timbul dari bawah sadar, dan kreativitas yang menjadi penghubung antara jiwa dan tubuh. Dengan demikian tubuh akan bereaksi menggerakkan potensi yang dimilikinya. Mungkin ini juga diartikan oleh Tio Sam Hong dalam menciptakan Tai Chi Zhuan dengan memanfaatkan tenaga dalam. Tuhan yang Maha Kuasa telah menganugerahkan kita kekuatan bawah sadar yang memiliki potensi besar di luar talenta yang kita rasakan.
Secara pribadi saya juga ingin merasakan kekuatan itu dan harus digali dan dijangkau oleh pikiran kita. Mari kita sama-sama belajar, mengenal kekuatan di bawah sadar kita yang telah diberikan Tuhan kepada kita, terutama membuat kita lebih berkemampuan melayani Dia. Damai selalu dalam kebahagiaan.

Menjadi Tua

Menjadi tua dengan bijaksana adalah hal paling sulit dipelajari dalam seni hidup berbahagia (Amile)

Ada satu hal yang mengganjal dalam hati saya, yaitu cepat atau lambat kita semua akan menjadi tua. Di saat itu kita akan kehilangan segalanya, mulai dari tenaga, pikiran, kesehatan dan juga sahabat-sahaba. Berbeda seperti waktu muda kita bebas terbang ke mana kita suka, tetapi kalau sudah tua maka pinggang kita diikat dan dituntun ke mana-mana yang bukan kita suka, tetapi kalau kita BIJAKSANA maka semakin usia kita tua, jiwa kita semakin muda, semakin kuat, semakin berkemampuan, bahkan sekalipun kita sudah tidak ada tetap akan menjadi perhatian insani.
Sebab orang yang memiliki kebijaksanaan tidak tawar hati, meskipun secara lahiriah akan terus merosot, secara batiniah terus diperbaharui (2 Korintus 4 :16). Seberapapun atau dengan cara apapun manusia berusaha menghindari ketuaan, tetapi tidak bisa lolos, ketika ketuaan itu menghampiri kita. Tetapi, Tuhan sungguh baik, sesungguhnya DIA telah memberikan kita sebuah seni untuk menikmati hari tua, jauh lebih indah dari saat kita muda. Saya sungguh merasakan, saat kita lulus sekolah hati kita bergembira, tetapi saat anak kita lulus sekolah kita bagaikan berloncat kegirangan, tetapi saat cucu kita lulus sekolah, hampir seluruh dunia akan mendengar ceritanya.
Sebaliknya dulu sewaktu anak kita masih kecil dan sakit rasanya biasa saja, tetapi sekarang kalau cucu kita sakit, segudang bingungnya. Itulah seni yang luar biasa indahnya, di mana kita bisa menikmati kebahagiaan di hari tua, tetapi kesemuannya itu tidak diperoleh dengan mudah, karena semuanya bagai kita menanam pohon dan kelak kita memetik hasilnya. oleh karena itu, hai orang muda, gapailah cita-citamu, tetapi tanamlah rasa syukurmu karena kelak tua nanti, kita akan menikmati hasilnya. Memang benar kalau kita hidup bijaksana dan berada di jalan yang benar, membuat tubuh batiniah kita setiap hari di perbaharui, sekalipun usia merenggut badan kita tetapi rohani kita tetap hidup muda dan bersemangat.
Banyak sahabat saya berdiskusi, pada umumnya mereka takut menghadapi hari tua, hidup susah, anak tidak mau urus, makan susah, badan sakit-sakitan, seakan akan jadi pengemis, minta sana minta sini, menjadi beban hidup bagi anak cucu. Katanya lebih cepat dipanggil lebih baik. Ada juga kawan yang bilang lebih baik siap-siap masuk rumah jompo, daripada menyusahkan anak cucu. Biaya perawatan yang besar, apalagi sakit berkepanjangan. Pikiran ini tidaklah salah tetapi perlu diperbaiki, karena pikiran atau mindset jika ditanamkan demikian jadilah demikian. Sebaliknya kita harus menanamkan mindset bahwa hidup di hari tua, harus bermakna, berbahagia dan penuh pengharapan (saya mengutip misi Darma Wulan-Warga Usia Lanjut). Sebenarnya di sinilah letak kesulitan yang kita hadapi, karena ini memang kenyataan dan kita akan hadapi. Bagaimana menghadapi hari tua tanpa rasa takut? Ini menjadi yang tersulit dalam seni berbahagia. Seperti halnya seorang pelukis, dia akan mengakhiri lukisannya dengan goresan terakhir, namun di sana letak seninya dan dia akan berbahagia.
Menjadi tua itu bukan sesuatu yang menakutkan melainkan menanti masa yang sangat indah, bukan tangis bukan duka, tetapi penuh sumber suka cita. Ketika saat itu datang seperti kita bernyanyi bersama sangkakala di kaki bukit, istilah saya buat sebuah tempat yang sangat indah dan ada musik yang mengiringi kita.
Sungguh saya berbahagia, karena bisa menyaksikan cucu-cucu demikian cantik dan lincah, lucu dan penuh semangat, pelukan dan ciuman kami nikmati berdua bersama istri. Tuhan sungguh baik hati, walaupun bagaimana aku bersyukur dan tiada henti-hentinya berterima kasih, mengucap syukur karena diberi kesempatan menikmati suasana bersama anak cucu, kesehatan dan keadaan yang baik. Mungkin banyak sahabat yang tidak seberuntung saya, tetapi percayalah Tuhan tetap memberikan kesempatan kita untuk mengakhiri goresan terakhir lukisan hidup kita dan menjadi INDAH. Tuhan memberkati, melindungi dan menolong kita semua. DIA sumber suka citaku dalam segala hal.

Menghitung Waktu

“Ajarlah kami menghitung waktu kami sedemikian, hingga kami beroleh hati bijaksana.” (Mazmur 90:12)

Setiap kali saya hadir di hari ulang tahun, baik sahabat atau keluarga, kalau ada sempat untuk pidato maka selalu mengungkapkan bahwa kalau kita merayakan ulang tahun selalu kita memperingati 3 (tiga) hal. Pertama, kita mengenang ibu yang melahirkan kita. Kedua, kita menghitung hari-hari kita. Terakhir, kita semakin mengerti arti kebijaksanaan. Hari ini saya coba membaca Alkitab Mazmur. Saya terkejut karena apa yang saya tulis ada dalam Alkitab, padahal tidak terpikirkan sebelumnya.
Waktu adalah Uang (Time is Money). Kalau kita menghitung waktu sama dengan menghitung uang. Maksudnya waktu itu sangat berharga, bernilai tinggi bahkan lebih dari uang itu sendiri, karena besaran uang relatif, tapi nilai yang saya maksud adalah nilai kebijaksanaan kita, yang susah dinilai dengan uang. Semakin bijaksana kita, semakin tinggi nilai waktu kita. Coba bayangkan orang yang men sia-sia kan waktu, betapa sayangnya.
Di dalam perjalanan waktu kita sering bertemu pertigaan, perempatan atau kadang jalan buntu. Hal yang paling penting buat kita adalah petunjuk jalan, peta, GPS, tapi kalau tidak ada ya harus cepat-cepat berhenti tanya orang, supaya menghemat waktu jangan tersesat, dan harus mengulang dan mengulang lagi.
Berbahagialah orang yang sudah mengenal jalan. Dia akan menghemat waktu. Seperti halnya kita pulang ke rumah kita. Belum ada orang kesasar pulang ke rumah sendiri, kecuali orang mabok yaaa. Jadi, kita jangan membuang waktu sia-sia untuk mencari jalan pulang ke rumah Bapa. Begitu banyak petunjuk jalan yang kita temui, begitu banyak tawaran kendaraan untuk tumpangan. Mudah-mudahan tidak salah pilih.
Waktu berjalan bagai anak panah, jadi jangan sia-siakan kata peribahasa kuno. Waktu sama dengan kelopak mata dan ini mengingatkan saya akan lagu lama “Seribu tahun tak lama, hanya sekejap mata, kita kan jumpa lagi”. Kalau kita mengerti kata-kata tersebut, maka saat kita pergi atau pulang kantor jangan lupa cium istri, suami atau anak, sering bercengkerama, dan sering saling menyapa. Semakin banyak anda menyapa orang yang anda cintai sebenarnya anda semakin bijaksana. Saya sendiri sudah punya anak 3 dan cucu 5. Sungguh usia saat ini di tempuh cepat sekali, hampir tidak terasa.
Memang benar bahwa menghitung waktu supaya kita semakin bijaksana, supaya di hadapan kita hadir orang-orang yang kita cintai, bukan orang-orang yang kita benci atau kita tidak sukai. Itu yang dimaksud oleh Bonaventura (good venture). Semua yang datang baik adanya (mohon petunjuk teman-teman atau romo-romo kalau ada kata yang lebih indah untuk menghargai waktu). Semoga kita dapat merasakan datangnya Cinta Tuhan dan perginya segala kesusahan dan kepedihan hati.
Doa khusus buat sahabat yang sedang sakit. Sembuhlah karena nama-Nya. Tuhan selalu bersamamu dalam damai dan suka cita. Cinta-Nya pada kita tak berkesudahan.

Untung

Hampir semua perusahaan, meletakkan visi dan misi berdasarkan untung.

Seperti tulisan saya sebelumnya tentang masalah untung dalam Neraca (ballance sheet), maka perlu kita lihat bottom line apakah merah atau biru. Perode tahun 2012, jujur saja perusahaan saya rugi cukup besar. Mengapa sampai terjadi kerugian? Alasan klasik adalah besar pasak daripada tiang, kendala perekonomian global, jatuhnya industri minyak dan batu bara penyumbang pemasukan terbesar kami. Tahun 2013 manajemen dengan berani meletakkan untung di paling depan dan menetapkan keuntungan cukup baik selama tahun fiskal 2013 nanti.
Saya menjadi moderator saat pembicara Dr. Freddy Numberi (Jend.purn) mantan Menteri PAN dan Menteri Perhubungan. Beliau mengatakan bahwa industri maritime akan maju pesat tetapi dengan catatan semua pihak tidak terkecuali harus bekerja sama. Pada kesempatan Talk Show yang disponsori PT Aditya Aryaprawira dan Bank BNI akhir tahun 2012 lalu.
Beliau optimis sekali masalah ekonomi kita akan membaik, tapi kita semua harus bisa baca peluang ini. Jangan saling menjatuhkan. Pemerintah pasti selalu menfasilitasi untuk mendapatkan hasil yang baik.
Siapa yang tidak mau untung? Cuma kode etika bisnis saja bahwa kita boleh mencari untung tanpa harus menjatuhkan usaha orang lain. Semua orang mau untung, tidak ada yang mau dirugikan. Oleh karena itu, kita semua harus meletakkan dasar-dasar pemikiran tidak boleh merugikan orang lain.
Dalam kehidupan berumah tangga, keuntungan paling besar adalah kerukunan dan kedamaian. Ada keuntungan lain yang tidak kalah penting adalah kesehatan, sejahtera dan suka cita. Apa kerugian paling besar dari rumah tangga? Kita meninggalkan firman Tuhan dan lepas kendali menuju perceraian.
Saya setuju sekali kalau diajak bicara untung rugi. Apalagi urusan kerohanian, yang selalu juga meletakkan keuntungan di depan segala perencanaan-Nya, yakni Yesus Kristus sebagai lambang kemenangan.
Dengan catatan utama kita semua harus bisa bekerja sama, saling mengasihi dan memaafkan.
Tuhan mencintai kita dan memberikan Talenta yang harus ada untungnya. Jika kita menggali tanah dan menguburkan talenta karena takut rugi, maka Tuhan tidak menyukainya.

Australia

Benua Australia memiliki sumber daya alam besar sekali

Saya menikmati penerbangan Qantas Airline QF 42 menuju Melbourne, transit di Sydney. Terbang malam walaupun hujan deras sekali tapi pesawat tidak mengalami turbulent, mendarat tepat waktu di Sydney, sambil menunggu di Lounge aku menulis tentang Australia.
Alkisah, kata orang Ambon itu kata Australia dari bahasa Ambon. Suatu hari ada ekspedisi menuju selatan, dibawa oleh para kapten kapal Eropa, lalu bertanyalah Kapten Cook kepada Martinus, pulau apa di depan itu? Martinus bilang “Ose tra lia?
Oooh Australia! Ok, kata kapten Cook. Sejak saat itu Benua itu dinamakan Australia.
Beta seng tau cerita asli!
Australia memang pantas dipuji karena dalam pergolakan ekonomi Global, banyak negara blok barat mengalami goncangan, apalagi campur tangan raksasa Cina, tentu banyak mengalami kesulitan, tetapi Australia mendapat berkat karena AFTA, mendorong negara barat mengalihkan transaksi Asia Pacific melalui Australia. Di sini keuntungan besar diraihnya, mata uang Australian dollar melejit seperti roket. GDP naik pesat dan tingkat dan nilai ekspor meningkat tapi tentu banyak juga masalah dalam negeri.
Cuaca panas luar biasa menyerang Australia Selatan sampai 47 derajat Celcius, membuat industri tambang sebagian lumpuh, pengaruh terhadap produktivitas negara bagian selatan cukup parah. Tetapi tetap Australia memang Ose tra lia, karena tidak terlalu diperhitungkan justru mendapat keuntungan besar.
Saya menikmati transit di airport, walau tidak sempat bertatap muka, dengan teman-teman, tetapi saya baca saja beberapa bacaan dan news paper pagi ini. Airport juga padat sekali. Bayangkan pesawat yang saya tumpangi tidak ada satupun seat yang kosong, sebagian besar penumpangnya adalah orang Indonesia.
Kita patut melihat kondisi Australia. Bagi pribadi saya, menatap masa depan dengan keyakinan memang perlu, menetapkan visi dan misi yang jelas, sehingga kita bisa meraih cita-cita kita. Demikian juga kehidupan rohani kita. Apa visi dan misi yang kita bawa untuk menuju surga? Semoga Tuhan melindungi, menyayangi dan memberkati kita semua dengan Kasih setia-Nya. Salam damai sejahtera

I C U

Intensive Care Unit, suatu departemen spesial dari rumah sakit.

icu_bed_spaceSejak semalam kami sekeluarga cukup disibukan adanya perkawinan anak kami di Hotel Borobudur. Semua berjalan lancar mulai dari acara tea pay, misa kudus di Gereja St. Yakobus, Kelapa Gading, sampai di Hotel Borobudur, tapi malangnya tadi pagi Johnny, anggota keluarga dari Denpasar Bali, harus masuk ICU di RS Royal Taruma. Kemungkinan besar karena syndrome kelelahan dan tekanan darah tinggi dan kadar gula tinggi, yang memicu adanya pendarahan di otak. Johnny harus mendapat special treatment dan dalam kondisi cukup rawan. Untung ada dokter syaraf Dr. Yuwono, SPs, seorang sahabat saya, sampai kondisi stabil di sore hari ini. Kami sempat ketemu Romo Heru. MSC di RS Royal Taruma, sehingga suatu saat nantinya bisa dapat sakramen perminyakan.
Bagi sebuah rumah sakit ICU sangat penting. Bagi pasien biasa yang masuk ICU akan mendapat perawatan dan pengamatan 24 jam. Jika ada kendala dokter jaga akan mendiskusikan atau melapor kepada dokter spesialis yang menangani pasien dengan peralatan lengkap ICU dan perawat yang terlatih.
Selama saya dalam ruang ICU mendampingi Kakak Johnny, saya bisa melihat proses perawatan yang betul-betul teliti dalam merawat orang sakit. Saya juga menyaksikan bagaimana penanganan pasien yang memenuhi standard operasi.
Saya merasa bahwa kita perlu mengikuti apa yang ada dalam ICU, karena mungkin hati kita juga perlu intensive dalam perawatan.
Coba kita semua melakukan pemeriksaan awal terhadap hati kita, mungkin hati kita juga sudah perlu masuk ICU
Saya malam ini akan terbang menuju ke Melbourne, Australia untuk melihat kedatangan cucu ke lima saya, namanya Allegra. Semoga perjalanan ini akan menjadi ICU buat hati nurani saya supaya lebih peka melihat dunia.

Disiplin

Salah satu pencipta kesuksesaan adalah disiplin.

Teladan-Disiplin-dari-BossDalam training HRD di perusahaan kami, pada awal pembicaraan selalu dimulai dengan mengingat 3 landasan utama yang mendukung kekuatannya yakni :

1. Disiplin diri
2. Rasa memiliki
3. Kerja sama

Tanpa ketiga hal di atas jangan harap suatu roda organisasi bisa berputar, yang ada akan berputar di tempat saja. Sehingga setiap insan harus terlatih baik untuk memperbaiki kondisi dirinya sendiri dan dalam kebersamaan bisa lebih berkemampuan untuk meningkatkan kinerja kerja dan motivasi untuk maju.
Apakah disiplin diri itu? Disiplin berarti melatih batin dan watak supaya perbuatannya menaati tata tertib. Disiplin diri berarti melatih diri melakukan segala sesuatu dengan tertib dan teratur secara berkesinambungan untuk meraih impian dan tujuan yang ingin dicapai dalam hidup.
Mengapa kita perlu disiplin? Disiplin diri akan terasa manfaatnya jika kita memiliki suatu impian dan cita–cita yang ingin dicapai. Kita harus mendisiplinkan (melatih) diri untuk mengerjakan hal–hal yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Oleh karena itu, di dunia ini dibuat peraturan– peraturan yang disertai hukuman yang setimpal. Hal ini tidak lain agar setiap manusia mau belajar hidup disiplin dan menaati aturan yang ada sehingga dunia tidak kacau balau dan seseorang tidak dapat berbuat sekehendak hatinya.
Sebetulnya sejak awal mula adalah Firman dan Firman itu secara jelas mengajarkan kita tentang disiplin, sehingga bagaimanapun kita setiap mulai apapun juga harus dimulai dengan disiplin.
Indahnya Mazmur 119 : 105 FirmanMU, pelita bagi kakiku dan Terang bagi Jalanku. Mengapa perlu pelita? Supaya kita dituntun teliti dan mau melihat jalan yang terang. Di sini nyata sekali bahwa terang itu adalah disiplin. Jadi, suka atau tidak suka kita hidup harus disiplin, demikian juga aturan aturan terutama dalam gereja. Semoga kita bisa belajar disiplin mulai dari Firman Tuhan dan tekun melaksanakan.