Menjadi Tua

Menjadi tua dengan bijaksana adalah hal paling sulit dipelajari dalam seni hidup berbahagia (Amile)

Ada satu hal yang mengganjal dalam hati saya, yaitu cepat atau lambat kita semua akan menjadi tua. Di saat itu kita akan kehilangan segalanya, mulai dari tenaga, pikiran, kesehatan dan juga sahabat-sahaba. Berbeda seperti waktu muda kita bebas terbang ke mana kita suka, tetapi kalau sudah tua maka pinggang kita diikat dan dituntun ke mana-mana yang bukan kita suka, tetapi kalau kita BIJAKSANA maka semakin usia kita tua, jiwa kita semakin muda, semakin kuat, semakin berkemampuan, bahkan sekalipun kita sudah tidak ada tetap akan menjadi perhatian insani.
Sebab orang yang memiliki kebijaksanaan tidak tawar hati, meskipun secara lahiriah akan terus merosot, secara batiniah terus diperbaharui (2 Korintus 4 :16). Seberapapun atau dengan cara apapun manusia berusaha menghindari ketuaan, tetapi tidak bisa lolos, ketika ketuaan itu menghampiri kita. Tetapi, Tuhan sungguh baik, sesungguhnya DIA telah memberikan kita sebuah seni untuk menikmati hari tua, jauh lebih indah dari saat kita muda. Saya sungguh merasakan, saat kita lulus sekolah hati kita bergembira, tetapi saat anak kita lulus sekolah kita bagaikan berloncat kegirangan, tetapi saat cucu kita lulus sekolah, hampir seluruh dunia akan mendengar ceritanya.
Sebaliknya dulu sewaktu anak kita masih kecil dan sakit rasanya biasa saja, tetapi sekarang kalau cucu kita sakit, segudang bingungnya. Itulah seni yang luar biasa indahnya, di mana kita bisa menikmati kebahagiaan di hari tua, tetapi kesemuannya itu tidak diperoleh dengan mudah, karena semuanya bagai kita menanam pohon dan kelak kita memetik hasilnya. oleh karena itu, hai orang muda, gapailah cita-citamu, tetapi tanamlah rasa syukurmu karena kelak tua nanti, kita akan menikmati hasilnya. Memang benar kalau kita hidup bijaksana dan berada di jalan yang benar, membuat tubuh batiniah kita setiap hari di perbaharui, sekalipun usia merenggut badan kita tetapi rohani kita tetap hidup muda dan bersemangat.
Banyak sahabat saya berdiskusi, pada umumnya mereka takut menghadapi hari tua, hidup susah, anak tidak mau urus, makan susah, badan sakit-sakitan, seakan akan jadi pengemis, minta sana minta sini, menjadi beban hidup bagi anak cucu. Katanya lebih cepat dipanggil lebih baik. Ada juga kawan yang bilang lebih baik siap-siap masuk rumah jompo, daripada menyusahkan anak cucu. Biaya perawatan yang besar, apalagi sakit berkepanjangan. Pikiran ini tidaklah salah tetapi perlu diperbaiki, karena pikiran atau mindset jika ditanamkan demikian jadilah demikian. Sebaliknya kita harus menanamkan mindset bahwa hidup di hari tua, harus bermakna, berbahagia dan penuh pengharapan (saya mengutip misi Darma Wulan-Warga Usia Lanjut). Sebenarnya di sinilah letak kesulitan yang kita hadapi, karena ini memang kenyataan dan kita akan hadapi. Bagaimana menghadapi hari tua tanpa rasa takut? Ini menjadi yang tersulit dalam seni berbahagia. Seperti halnya seorang pelukis, dia akan mengakhiri lukisannya dengan goresan terakhir, namun di sana letak seninya dan dia akan berbahagia.
Menjadi tua itu bukan sesuatu yang menakutkan melainkan menanti masa yang sangat indah, bukan tangis bukan duka, tetapi penuh sumber suka cita. Ketika saat itu datang seperti kita bernyanyi bersama sangkakala di kaki bukit, istilah saya buat sebuah tempat yang sangat indah dan ada musik yang mengiringi kita.
Sungguh saya berbahagia, karena bisa menyaksikan cucu-cucu demikian cantik dan lincah, lucu dan penuh semangat, pelukan dan ciuman kami nikmati berdua bersama istri. Tuhan sungguh baik hati, walaupun bagaimana aku bersyukur dan tiada henti-hentinya berterima kasih, mengucap syukur karena diberi kesempatan menikmati suasana bersama anak cucu, kesehatan dan keadaan yang baik. Mungkin banyak sahabat yang tidak seberuntung saya, tetapi percayalah Tuhan tetap memberikan kesempatan kita untuk mengakhiri goresan terakhir lukisan hidup kita dan menjadi INDAH. Tuhan memberkati, melindungi dan menolong kita semua. DIA sumber suka citaku dalam segala hal.

7 responses to this post.

  1. Kebanyakan orang takut untuk menjadi tua serta tampak tua. Mereka tidak menyadari bahwa menjadi tua adalah anugerah. Berarti Tuhan telah mengizinkan kita untuk dapat berziarah lebih lama di dunia ini. Semakin tua kita akan semakin dibentuk, semakin tua kita akan semakin bijak dalam neghadapi kehidupan. Menjadi tua adalah proses alamiah yang begitu indah.

    Reply

  2. Posted by cheri meirani on June 14, 2013 at 6:29 pm

    membaca tulisan bapak ini jadi mengingat kembali saya pada khotbah pendeta di gereja saya yang saya dgr pada beberapa minggu lalu ada kata yang bagus
    yang bunyi nya”menjadi tua itu pastti tapi menjadi dewasa itu pilihan”

    Reply

  3. saya setuju dengan apa yang disampaikan penulis, bahwa menjadi tua tidak hanya soal umur maupun pengalaman yang bertambah, tapi juga mengenai pemikiran yang seharusnya semakin bijaksana dalam mengambil tindakkan.

    01PA2-Ivan Hermawan

    Reply

  4. Menjadi tua itu bukan sesuatu yang menakutkan, karena setiap manusia akan menjadi tua pada waktunya

    Reply

  5. menjadi tua itu pasti akan dialami setiap individu , namun menjadi dewasa itu pilihan. kita yang menentukan diri kita apakah kita ingin menjadi tua yang tidak dewasa atau sebaliknya ?.

    Reply

  6. Posted by Twinna on March 26, 2014 at 2:35 pm

    Menjadi tua memang menghantui tiap pikiran individu. Takut tidak diurus, takut kesepian, tidak bisa aktif lagi. Saya pun memikirkan itu, padahal saya masih muda. Untuk mengihindari hari – hari tua yang tidak produktif, maka saya saat ini sedang memperjuangkan ilmu, tenaga, badan, dan pikiran selagi masih bisa saya manfaatkan dan masih mampu mengembangkan. Hal- hal tersebut akan menjadi bekal, kelak saya tua nanti, Terima kasih artikelnya!

    Reply

  7. Posted by auditiaharival on March 26, 2014 at 3:58 pm

    menjadi tua bukanlah sebuah pilihan tetapi sebuah keharusan dan pasti, tidak sedikit orang yang takut karena umurnya bertambah tua, dengan alasannya yang beragam, tetapi dibalik semua itu seharusnya kita bersyukur karena masih dapat melihat kehidupan di usia yang sudah senja, menyaksikan anak cucu yang tumbuh riang dan lincah, menikmati hidup dengan bijak dan indah.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: