Semakin dewasa seseorang, kritik semakin menyakitkan hatinya, tetapi semakin bijaksana seseorang, kritik akan semakin indah bagi dirinya, karena krItik baginya adalah suara Tuhan (Adh)
Siang ini saya menikmati makan siang di Griya Dharma Wulan di Babakan Madang, Sentul Selatan.
Sehabis acara penyerahan sumbangan dari Yayasan Dharma Wulan kepada Pusaka, yaitu kelompok yang di bawah BK3S (Badan Koordinasi Kegiatan Kesejateraan Sosial) Provinsi DKI, di mana ada 18 kelurahan yang menerima bantuan dari hasil Turnamen Golf Radius Prawiro Cup XV, saya mewakili yayasan sebagai Ketua Umum, menyerahkan sumbangan kepada wakil-wakil Pusaka. Pusaka (Pusat santunan dalam keluarga) adalah keluarga-keluarga yang memelihara orang tua dalam keluarga kurang mampu dan salah satu misi Yayasan Wulan (Warga Usia Lanjut) adalah memberdayakan orang tua agar berdaya guna. Kegiatan ini sudah berlanjut 15 tahun lamanya dan ide ini diprakarsai oleh almarhum Bapak Radius Prawiro.
Dalam kesempatan tadi Ibu Leoni Radius Prawiro hadir dan memberikan sambutan. Saya memberikan sambutan bahwa ada satu hal kenapa Pusaka itu penting, yaitu di sana ada Cinta Tuhan sendiri yang dipancarkan dari kesatuan keluarga. Satu hal saya sampaikan bahwa semakin dewasa seseorang, kritik semakin menyakitkan hatinya, tetapi semakin bijaksana seseorang, kritik akan semakin indah bagi dirinya, karena krItik baginya adalah Suara Tuhan. Atau orang makin tua makin sulit dikritik, berbeda dengan anak-anak. Kita marah pun tidak masalah, biasa saja, besok sudah baikan. Tetapi seorang tua, orang tua kita yang tinggal bersama kita. Kita hati-hati jika mengkritiknya atau memarahinya tentu akan menjadikan hatinya sakit sekali dan tidak mudah disembuhkan.
Demikian juga berlaku hukum bagi seseorang. Semakin dewasa atau semakin tinggi jabatannya semakin sulit di kritik. Seorang guru, seorang direktur, seorang pastor atau seorang suster akan merasa berbeda jika dibanding kita mengkritik seorang hamba seperti office boy atau koster. Mereka akan marah, sakit hati dan bisa timbul kesombongan bahkan memaki si pengkritik, karena mereka merasa dirinya lebih hebat, lebih benar dan lebih suci. Tetapi berbeda dengan orang bijaksana menerima kritik. Mereka justru berterima kasih karena menganggap kritik adalah SUARA Tuhan, bukan dari yang mengucapkan. Beberapa orang tua yang hadir saat saya bicara menangis, meneteskan air mata, dan saat selesai acara mereka menemui saya dan menyampaikan uneg-unegnya dan kata mereka sekarang mereka sadar. Selama ini mereka sangat sakit hati dengan ucapan dan kritik dari anak-anaknya, tetapi hari ini mereka baru tahu bahwa kritik adalah suara Tuhan.
Saya sendIri tersenyum karena hal yang sama terjadi kalau saya dikritik oleh anak saya atau bawahan saya, tetapi adakalanya saya bersyukur karena bisa menerima kekurangan. Jujur saja bahwa saya banyak menimba keuntungannya, tetapi buat orang yang tidak bisa menerima akan terlihat semakin banyak kelemahannya. Orang seperti ini sangat tidak bijaksana bahkan cenderung bersifat kerdil dan bagi perusahaan sebenarnya tidak bisa dipakai karena tidak mungkin bisa maju.
Berbahagialah bagi siapa saja karena kritik bisa membuatnya bangkit dan menjadi besar, tetapi sungguh menyedihkan bagi siapa yang menerima kritik sebagai siksaan karena kepadanya tidak akan ada tanggung jawab besar dan tidak ada kesempatan baginya menjadi orang berjiwa besar! Semoga Tuhan mengajarkan kita bagaimana menerima kritikan adalah suara-Mu sendiri. Seperih apapun kritik itu akan menjadi indah. Seumpama pukulan ibu atau tamparan ayah semasa kecil bagi kita, sekarang menjadi indah dan berbunga. Salam dan doa.









