Percepatan

Suatu perencanaan perkembangan pembangunan sangat memerlukan percepatan pembangunan dan bukan kecepatan pembangunan itu sendiri (Dahlan Iskan)

Papua-Anak-anak-1Selamat pagi baik. Kalau kita bicara percepatan atau acceleration, maka akan berbeda dengan kecepatan atau speed. Tentu saja dalam mengendarai sebuah mobil, maka percepatan sangat menentukan baik tidaknya sebuah mesin mobil itu. Kalau anak muda bilang motornya gak bisa narik, maka bisa lari cepat tapi gak bisa narik. Bagi seorang pemain Golf juga demikian, dalam mengayunkan tongkat golf, maka tingkat acceleration atau percepatan sangat diperlukan karena jarak yang ditempuh memerkan percepatan gerak pukulan. Demikian juga dalam pembangunan, baik pembangunan fisik maupun non fisik diperlukan adanya percepatan pembangunan, karena kalau tidak maka kita akan tertinggal dengan negara-negara lain. Pembangunan ekonomi juga demikian.
Seperti kebutuhan listrik di negara kita sesuai data PLN, kita baru bisa secara menyeluruh 12 persen kebutuhan total listrik. Kalau di Jawa bisa 50 persen, tetapi kalau di Indonesia Timur sangat tertinggal. Di kampung saya listrik PLN hidup seminggu 3 hari saja. Sisanya harus dipenuhi oleh listrik swasta. Itupun harus giliran dan malam hari kadang-kadang mati listrik. Giliran mati listrik juga masih sering kita alami di Jakarta karena tingkat kebutuhan lebih besar dari suply.
Begitu pentingnya suatu percepatan pembangunan fisik bagi negara kita, karena itu kita berada di negara-negara Asia pada posisi paling lemah, dibandingkan dengan Malaysia maupun Singapura. Negara yang lemah lainnya seperti Myanmar dan Laos, tetapi Vietnam melaju dengan pesat melebihi Kamboja dan Thailand. Kalau kita melihat Vietnam yang berkiblat pada Cina, sungguh mengagumkan dimana sektor pertaniannya sangat maju. Kita tidak bisa membandingkan dengan raksasa Cina, tetapi kalau boleh melihat ke belakang dua puluh tahun lalu, kita berada dalam posisi lebih maju dari Cina, tetapi sekarang kita sudah tertinggal sangat jauh. Saya teringat keluarga-keluarga saya dulu, begitu susah hidupnya karena kekurangan makan, tetapi sekarang semua senang sampai bisa memiliki properti pribadi, mobil mewah dan kehidupan berkecukupan.
Bagaimana dengan pembangunan rohani kita? Sama juga rasanya. Kita memerlukan percepatan pembangunan rohani, baik dari fisik maupun non fisik, melalui pendidikan dan kekuatan religious. Hal ini boleh dibilang memerlukan komitmen semua pihak. Dengan membangun kehidupan rohani berarti kita juga membangun kekuatan fisik jasmani termasuk pembangunan secara makro, karena jika kita miskin rohani bagaimana kita bisa membangun fisik dan jasmani kita?
Pembangunan rohani di negara-negara maju boleh dicontoh dengan memperhatikan kebutuhan akan buku-buku, jumlah imam, jumlah program pendidikan, dan multi medianya. Kalau kita lihat umat yang hadir di gereja kita, sungguh mengaggumkan jumlahnya, tetapi dari sisi pembangunan rohani kita boleh beri tanda tanya besar, terutama di negara kita secara keseluruhan. Dalam rangka memberantas korupsi, narkoba, kenakalan remaja, dan pelacuran sangat lemah. Inilah yang saya maksud bahwa pembangunan rohani kita memerlukan percepatan, melalui pendidikan, kerohanian, rumah tangga, lingkungan dan masyarakat secara menyeluruh. Itu membutuhkan peran agama-agama sebaga MOTOR, termasuk Gereja. Jika motor lemah, kata anak muda sekarang gak bisa narik, dan kata muda-mudi perlu diisi bahan bakar non subsidi. Jangan pakai bahan bakar bersubsidi, malu ahhh, tetapi kalau kita bertanya kepada siapa saja, pilih mana premium atau premix maka lebih dari 80 persen pilih premium. Harganya murah meriah tetapi secara makro kita memperlemah negara kita.
Di sini kekuatan pembangungan percepatan rohani sangat diperlukan, mulai dari sekolah, peran para guru, suster, kotbah pastor supaya minta agar semua umat jangan pakai premium bila itu memungkinkan sesuai standar dari negara. Kalau kita semua serempak berani maju, maka kita akan berkata: “Saya menolak menggunakan minyak bersubsidi karena itu artinya kita sudah mencuri hak dari rakyat kecil, sebagai orang kecil yang dibantu oleh pemerintah.”
Baiklah kita mulai dari yang terkecil, yakni batin kita. Mari kita membangun kerohanian kita dengan sebuah percepatan agar kita mampu untuk membangun jiwa dan raga kita, demikian kita juga akan membangun negara kita.
Suatu saat saya mengunjungi Cina, kami memilih beberapa kota lalu berakhir di Beijing. Seminggu di Beijing, kami sungguh menikmati baik pemandangan maupun makanannya. Sayangnya lagi musim panas jadi agak gerah. Belanja juga jadi satu agenda tersendiri. Kami ditemani seorang local guide, yang berbahasa Inggris patah-patah tapi bolehlah denga bahasa isyarat tarsan kami bisa berkomunikasi. Setelah selesai semua acara pariwisata, kami harus kembali ke tanah air. Ada tiga hal menarik yang terjadi saat akan berpisah.
Pertama, local guide itu menolak saat diberi tip. Kata beliau gajinya sudah lebih dari cukup, jadi tip tidak mau (bandingkan kalau kita ke negara Eropa atau Amerika dimana tip adalah wajib bagi tour guide). Hal itu sangat menarik karena menolak tip, lalu saya bilang kalau di luar tip apakah mau terima? Dia bilang bilang boleh dan akhirnya saya kasih oleh-oleh kamera yang kami beli. Walaupun jauh dari nilai tip tersebut, tapi saya belajar banyak.
Kedua, daya tarik para pekerja di totel itu. Seorang room boy mengambil beberapa souvenir dari hotel, ada sabun dan sikat gigi, yang diberikan kepada saya. Lalu, saya bilang nanti kamu dimarahin, tetapi dia bilang dia tidak bisa memberikan sesuatu yang berharga hanya bisa memberi tanda kenangan sebuah sabun, dengan harapan saya akan kembali dan menginap di hotel ini lagi. Sungguh kejadian ini tidak bisa saya lupakan dan setelah itu memang beberapa kali saya kembali ke Beijing dan menginap di hotel tersebut. Seandainya saya punya staf dan karyawan yang memiliki visi seperti pelayan hotel ini sungguh suatu pengalaman tersendiri, bukan saja secara ekonomis, tetapi secara rohani bahwa mengikat persahabatan itu adalah bagian ari percepatan pembangunan rohani.
Ketiga, saat kami akan check in di airport. Suasana airport sangat ramai sehingga sungguh sulit untuk menjangkau counter check in, padahal waktu kami sangat terbatas, karena imigrasi juga akan antri panjang, tetapi melihat kegelisahan kami, beberapa penumpang yang sedang antri mempersilahkan kami maju ke depan, sebab mereka masih cukup waktu. Saya memandang mereka tertegun, karena dalam catatan dan image saya orang Cina ini paling tidak tahu aturan, tidak mau antri dan bahkan suka menyerobot, tetapi justru mereka mempersilahkan kami ke depan. Ini menjadi pengalaman tersendiri. Maukah diri kita berlaku demikian? Kita mempersilahkan orang lain maju mendahului kita dalam situasi khusus untuk membantu mereka?
Pengalaman singkat ini terjadi di negara komunis, yang tidak mengenal Tuhan, tetapi nilai rohani mereka cukup tinggi. Demikianlah para pemimpinnya membangun negara yang tingkat korupsinya terendah dibandingkan dengan negara lain. Di sini pembangunan rohani jauh lebih baik dari kita. Semoga kita bisa sedikit mempelajari percepatan pembangunan rohani kita sehari-hari.

5 responses to this post.

  1. Posted by 04 PHO_Denny Mandira Firdaus_1601269641 on March 22, 2014 at 4:48 pm

    Percepatan
    • Keinginan untuk membangun rohani itu pasti ada disetiap umat, hanya saja niat dari manusia itu sendiri dan ketidak tahuannya mereka tentang cara membangunnya.
    • Harus segera dilakukan percepatan untuk pembangunan karakter diri agar dapat membentuk pribadi yang bermanusiawi agar terciptanya suatu lingkungan yang dimana di dalamnya tidak akan ada orang munafik dalam kehidupan ini.

    Reply

  2. saya setuju dengan kata pembangunan rohani harus lebih baik. cerita di artikelnya bagus.

    Reply

  3. Posted by Ajeng Anisahidayah on March 26, 2014 at 11:40 am

    1601284440_Ajeng Anisahidayah

    Percepatan pembangunan memang sangat penting dalam aspek apapun. Dalam rohani, jika kita mempercepat pembangunan dalam diri kita, maka akan lebih baiklah diri kita. Dalam aspek ekonomi, jika kita mempercepat pembangunan dalam perekonomian Indonesia, maka semakin tinggi lah kekayaan bangsa dan meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Namun kadang kala yang menghalau untuk mempercepat pembangunan tersebut, adalah sifat malas dalam diri manusia, yang terlalu sulit untuk dikalahkan, sehingga sampai saat ini pembangunan dalam negri ini berjalan dengan sangat lambat.

    Reply

  4. Posted by 04PKF_Hendro.Taufik on March 26, 2014 at 1:42 pm

    di setiap faktor memang dibutuhkan percepatan agar cepat terlaksana dan berkualitas , tentu saja juga aspek rohani. Yang menarik dari artikel ini , ketika di negara komunis nilai rohaninya lebih tinggi dibandingkan negara yang sangat menjung2 tinggi nilai keagamaan. Ini menjadi pembelajaran bahwa kita harus melakukan “percepatan” pada aspek kerohanian kita

    Reply

  5. Posted by Okky Andrian on March 26, 2014 at 2:53 pm

    Sangat baik kita mengembakan iman kita untuk menjalankan hidup kita. Dengan iman yang baik pasti akan menjalani hidup dengan damai. Jadi mulai sekarang pebaiki iman kita sebelum terlambat

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: