Kalau kamu sedang galau, susah, dan banyak masalah, maka pergilah ke laut, kalau perlu sebrangilah laut dan disana ada suka cita besar dan lautan yang kumaksud adalah hatimu sendiri (Adh)
Kakek-nenek saya semuanya pelaut. Kakek dari ibu saya seorang pelaut tangguh. Ayah saya juga pelaut tangguh, tapi sayangnya saya dan anak-anak tidak ada yang jadi pelaut tapi saya masih mencari makan di laut.
Ada sebuah nasehat dari Ayah saya : “Kalau kamu sedang galau, susah, banyak masalah, pergilah ke laut kalau perlu sebrangilah laut disana ada suka cita besar”. Ada pepatah juga mengatakan :
“Kuman di sebrang lautan bisa dilihat, tetapi gajah di plupuk mata tidak tampak”. Kata orang supaya gajahnya tampak kita harus menyebrang lautan, kalau dari sebrang kuman ajah tampak apalagi gajah.
Saya suka sekali Laut. Beberapa minggu lalu saya mengunjungi tempat kelahiran saya di pulau Alor. Di sana lautnya indah sekali, saking tidak tahan saya langsung nyebur, walau tidak bawa ganti, akhirnya pulang dengan badan dan baju basah.
Tetapi sungguh suka cita besar bisa saya rasakan, karena saya bersentuhan dengan karya terindah dari tangan Tuhan sendiri.
Ada seorang Teman dekat dengan saya, karena usahanya sulit dia pinjam uang, berlalunya waktu dia sudah bisa mengatasi masalahnya, dan jadi sukses. Suatu hari saya coba berbicara dengan beliau mengenai pinjaman uang beliau, tetapi bukan saya diterima baik tetapi saya kena omelan. Katanya kamu teman baik, saya kan belum mati masa kamu tega menagih, lagian uang itu bukan saya yang pakai, dst. dst.
Hampir semua kesalahan ditimpakan ke saya. Sebenarnya saya marah juga, tetapi saya pikir memang tidak pantas saya marah, karena memang berbeda tingkatan, kalau saya marah artinya saya ini tidak mampu mengatasi diri saya.
Memang nasihat bagus kalau kita ada masalah pergilah ke laut kalau perlu menyebrangi laut. Kini saya mengerti bahwa apa maksud laut yang sebenarnya ternyata adalah hati kita sendiri!
Kalau kita kembali ke hati kita kalau perlu kita menyebrangkan hati kita sebagai empati. Kita akan menemukan suatu kebahagiaan besar sekali, benar sekali kata Ayah saya.
Seperti saya marah, ini adalah gelombang laut saya,
dan ombak yang berbahaya adalah ombak yang di tepi laut, bukan ombak di tengah laut! Oleh karena itu boleh bertolaklah lebih dalam (Duc in Altum)
Kalau bisa menyebranginya maka kita bisa mengatasi kemarahan, kebencian, susah dan sedih, dan segala macam sakit penyakit hati.
Pelaut yang tangguh tidak takut ombak dan badai, dan berani menyebrangi lautan, dan mengatasi masalahnya bukan lari dari kenyataan yang ada.
Yang sulit sekarang adalah bagaimana kita bisa sampai di tepian laut hati kita. Apalagi kalau tidak ada jalan. Untuk itu kita perlu berdoa kepada Tuhan kita untuk membuka jalan agar kita bisa menemukan lautan hati kita.
Selamat berlayar mengarungi lautan hati, jangan lupa memancing ikan kebaikan karena disana banyak sekali. Tuhan memberkati
Salam dan doa





