Author Archives: adharta

Unknown's avatar

About adharta

Be positif

Perpisahan

Selamat pagi indah,
Jam 5.00 sore kemarin saya menerima kabar seorang sahabat saya LOK teman SMA Katolik Frateran Surabaya lulusan 1976, tiba-tiba meninggal dunia karena syaraf otaknya mendadak putus. Hanya 2 hari saja dirawat di RS RKZ Surabaya, tapi Tuhan memanggilnya lebih cepat. Selamat jalan LOK. Selamat berpisah sampai jumpa di kaki bukit di mana sangkakala dinyanyikan. Semoga Tuhan memberikan damai dan tenang dalam istirahat kekal dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan penghiburan oleh Roh Kudus.
Perpisahan bisa terjadi kapan saja dalam kehidupan kita manusia dan tidak tahu kapan terjadinya. Seperti anak kita mau sekolah ke luar negeri, kita berpisah namun ada waktu kita bisa jumpa lagi, atau pindah kota, pindah kerja dan keluar negeri. Ada saat pisah, ada saat berjumpa. Namun perpisahan akibat meninggal membuat kita sedih karena kita tidak bisa berjumpa lagi dalam bentuk fisik. Kendati pun kita percaya bahwa suatu saat nanti kita akan berjumpa bersama di rumah Bapa. Waktu berbedalah yang memisahkan kita.
Jujur kata semua orang takut mati. Kita pasti penuh kegelisahan apalagi di saat sakit dan ketahuan tidak ada harapan kesembuhan. Di saat demikian maka hanya Roh Kudus yang bisa menguatkan kita, menghibur dan mendampingi kita.
Sewaktu anak-anakku masih SD saya sepintas pernah membaca Pelajaran Agama, ada pertanyaan demikian : “Mengapa kita harus mengunjungi orang meninggal dan berdoa di sana?” Jawabannya sungguh baik sekali : “Supaya kita kelak matinya penuh ketenangan!”
Perpisahan dalam fisik membuat kita sedih, tetapi perpisahan dalam Iman kepercayaan yang kuat, indah adanya. Egoismelah yang sering memaksa kita terus menerus meneteskan air mata kesedihan. Di lain pihak, Yesus mengerti apa yang kita alami. Yesus berusaha menghapus setiap tetes airmata yang kita alami.
Perpisahan, pasti terjadi dalam kehidupan insan manusia. Tentu semua harus bisa siap untuk menghadapinya. Kita semua perlu mempersiapkan dIri melalui kehidupan kita masing-masing. Ada yang terus menerus berdoa. Ada orang lain yang menguatkan kita. Ada yang membaca Alkitab dan memberi pertolongan kepada sesama saudara yang membutuhkan. Ada yang berusaha mengenal cinta sesama semasa masih hidup. Ada pula yang mencari kesempatan untuk saling menolong.
Berbahagialah orang yang mendengar sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya. Sabda-Mu adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup kami.
Mari kita terus saling mendoakan, saling menguatkan, saling memberikan perhatian agar Tuhan mengasihi kita semua dengan Kasih Karunia-NYA.

Koneksi

Sore hari kemarin Radiet dari Lions Club Jakarta Pelita Sejati, D 307 B1 menelpon saya karena minggu depan akan melakukan kegiatan donor darah di Kebagusan mal. Pasalnya sampai hari ini belum ada konfirmasi karena PMI sudah tidak bisa melayani lagi disebabkan jadwal yang padat sekali. Saya termenung sehabis menerima telepon. Siapakah yang bisa Bantu? Memang Ketua PMI sekarang Bapak Jusuf Kalla saya kenal baik, tapi ketinggian levelnya kalau mau minta bantuan beliau, tapi apa boleh buat. Saya say hello saja, setelah ngobrol ngalor- ngidul, lalu saya minta telepon genggan ketua PMI Jakarta Utara. Saya dikasih nomormya dengan pesan kalau ada kesulitan bilang sudah bicara sama saya, kata beliau.
Pucuk dicinta ulam tiba, karena koneksi, semua urusan hanya 5 menit saja, Radiet telepon saya bilang semua sudak ok tidak ada masalah, saya cuma bisa mengurut dada, mau berbuat sosial saja susah bagaimana kalau mau berbuat lain tentu lebih sulit kalau tidak ada koneksi. Saya rasa masalah koneksi memang perlu, mulai urusan sakit di rumah sakit, urusan masuk sekolah, dapat proyek, bisnis sampai urusan cari Pastor untuk acara kegiatan lingkungan, ucapan syukur atau kematian! Kalau tidak ada kenalan pastor wah ini sumber kesulitan, makanya mesti kenal dengan Pastor Mogi, MSC. Katanya beliaulah sumber informasi lengkap masalah pastor.
Demikian juga urusan surgawi, kita perlu cari koneksi, kata anak aku dulu semasa kecil mesti kenal Tuhan Yesus, Ibu Maria sama Santo Yusuf, wah lengkap koneksi sampai di sana. Bagaimana dengan Orang Suci, mungkin kita perlu memperhitungkan Persekutuan Para Kudus ini. Santo Pelindung para pelaut, orang sakit, dalam perjalanan sampai barang hilang, saya tidak tahu persis koneksitasnya?? Kalau ada yang bisa sharing Santo Pelindung dalam daftarnya akan menambah perbendaharaan kita perihal Orang Suci.
Sebaliknya saya banyak teman Pastor tapi malu kalau mau minta tolong, apa lagi ada kode etik jangan buat misa, acara syukuran, dll di lingkungan pada hari Sabtu atau Minggu karena para pastor pada sibuk. Kalau mau panggil pastor dari luar, harus wajib kulonuwun sama pastor kepala paroki dulu.
Beberapa pekan lalu, keponakan saya Adam menikah di Gereja Santo Matias, diberkati 2 uskup dan 3 Pastor. Dalam hati saya bersyukur sekali karena sungguh pengalaman luar biasa. Wong cari pastor satu saja susah. Mgr Mandagi dan Mgr. Turang pun membuat kelakar katanya kalo sudah diberkati 2 uskup kalau perkawinan ini gagal wah yang kualat uskupnya. Teman pastor saya malah bilang wah kalo misa dipimpin uskup, kami jadi prodiakon saja !!!!
Sebagai orang Katolik kita sungguh bersyukur karena tidak perlu repot-repot cari koneksi semua sudah disiapkan Gereja sehingga umat tinggal jalan saja. Asal saja jangan lupa rajin ke lingkungan, kenal ketua lingkungan, kenal para pastor paroki. Tidak perlu koneksi lagi Pasti semua urusan beres.
Kita juga harus berterima kasih kepada para Ketua Lingkungan, karena mereka dengan sungguh-sungguh bekerja untuk melayani kita. Apalagi Ketua Lingkungan saya, Bapak Antonius di Lingkungan Keluarga Kudus, saya harus angkat topi sama pelayanan beliau. Bravo pak Anton !!!!!
Dalam Cinta ada Damai, Dalam Damai ada Suka cita dan dalam Suka Cita ada Penyembuhan.

Sleeping with my enemy

Semoga Tuhan beserta kita,
Sebuah film layar lebar dengan judul sleeping with my enemy diputar awal tahun 2000- an. Film ini mencapai Box Office dengan cerita tentang rumah tangga (bagi yang belum nonton silahkan beli DVD-nya). Cukup berat mencerna makna yang diutarakan film tersebut, namun pada akhir cerita kita diajak menikmati film yang bagus. Kita sering mengalami bagaimana tidur dengan musuh kita. Apalagi musuh itu orang dekat kita. Atau yang lebih parah adalah musuh yang ada dalam hati dan pikiran kita sendiri!
Siapa yang mau tidur sama musuhnya? Kenyataannya kita harus tidur sama musuh hampir setiap malamnya :1)Marah, 2)Kesel, 3)Benci, 4)Dendam, dan 5)Rencana-rencana kotor
Bagaimana kita bisa tidur nyenyak jika musuh-musuh tidur bersama kita bahkan menguasai hidup kita. Kalau kita tidur bersama musuh pasti kita kehilangan suka cita di dalam tidur dan merongrong kehidupan kita. Dinamika kehidupan kita terganggu bila kurang tidur kan?
Doa malam, meditasi atau usaha-usaha akan sia-sia kalau hati kita tidak bisa menolak untuk tidur bersama musuh-musuh itu. Kita perlu sekali mempelajari hal-hal positif agar bisa mendampingi nurani kita. Satu hal yang sangat membantu adalah belajar membaca ALKITAB. Kita Suci memiliki kekuatan luar biasa kalau kita membacanya menjelang tidur. Atau paling tidak ditaruh di samping tempat tidur, baca gak baca urusan kedua. Biasanya kalau Kitab Suci dibaca nuansa tidur Anda akan berubah not sleeping with enemy but sleeping beauty!
Seorang ibu rumah tangga mengambil keputusan drastis, yaitu pulang ke orang tuanya lantaran sehari-hari tidak menemukan kebahagiaan bersama suaminya. Sang istri yakin kalau pulang ke rumah orang tuanya hidupnya akan tenang, namun yang diperoleh sebaliknya, hidupnya bagai neraka, karena cemohan dan ejekan terus berdatangan dan kebencian meliputinya. Kondisi fisiknya berubah dengan cepat. Badan kurus kering, sinar mata hilang, nafsu makan tidak ada, psikiater juga tidak mempan. Sampai suatu hari dia mengambil keputusan lagi untuk pulang ke rumah keluarganya sendiri. Sang suami yang menggendong anaknya yang paling kecil menyambutnya. Lalu, mereka masuk rumah dan makan malam bersama.
Sang istri bilang kalau dia hanya mau mampir karena kangen sama anak-anak. Ia mau pulang kembali ke orang tuanya keesokan harinya. Sang suami mengiyakan saja. Pada malam harinya, pasangan itu tidur bersama anak-anak namun suasana sangat berisik membuat sang istri gelisah. Sang suami membawa minuman dan mengajaknya menemani anak-anak yang membaca kisah-kisah Alkitab. Sampai malam pun suasana sedih terus meliputi sang istri. Saat berbaring dengan gelisah bersama justru kisah-kisah Alkitab membuatnya lelap sampai esok pagi.
Kebiasaan menemani anak-anak membaca Alkitab membuat sang istri lupa pulang. Sejak saat itu secara perlahan kehidupannya pulih dan mereka hidup normal kembali.
Sungguh kebahagiaan besar kalau kita bisa tidur ditemani ALKITAB, karena Tuhan sendiri menjaga, menghibur kita dengan kata-kata yang indah.

Menyanyi

Gempa bumi yang mengguncang LA California tahun 1990 meruntuhkan banyak gedung dan menelan korban cukup banyak. Dalam pencarian korban di suatu gedung, ditemukan beberapa korban masih hidup. Walau beberapa hari tiada makanan, mereka hanya bisa merenungi nasib dengan menyanyi memuji Tuhan dan mereka sampai lupa lapar dan bertahan hidup beberapa hari. Kisah tentang bertahan hidup dengan menyanyi banyak kita dengar. Tentu saja hal ini bukan hanya bualan tapi kenyataan memang menyanyi memberikan kekuatan.
Dalam pesan doa pun demikian adanya. Doa yang dinyanyikan memberikan manfaat berlipat-lipat dan dapat memberikan kekuatan dibandingkan dengan doa yang hanya diucapkan atau dibaca saja. Tradisi Kristiani mengajarkan bahwa siapa yang bernyanyi dengan baik sama dengan berdoa dua kali. Saya mencoba mencari konteks dalam Kitab Suci tentang doa yang dinyanyikan tapi belum ketemu, kalau saja ada umat yang bisa membantu mencarinya maka tentu dapat melengkapi cerita ini.
Saya suatu hari, saya mengunjungi sahabat yang sakit di Rumah Sakit St. Carolus Ia setengah baya, tapi karena sakitnya dia kehilangan berat badan cukup drastis. Biasanya kalau berat badan kita turun drastis kita bisa mengalami fatamorgana, karena saya pun pernah mengalami hal yang sama. Ada yang menarik dari sahabat ini. Dia setiap hari mendengar orang menyanyi di sampingnya dan mengajarinya menyanyi terus. Lalu, saya dan beberapa teman pun tertawa. Selain tidak percaya, kami juga menganggap teman ini ngelindur. Tapi, kami semua dibuat terkejut luar biasa ketika sahabat ini bilang mari duduk dan dengarkan saya menyanyi. Dia mulai menyanyi 3 lagu dalam 3 bahasa, yaitu bahasa Mandarin, bahasa Inggris dan bahasa Latin. Sedangkan kami kenal beliau adalah orang yang tidak bisa berbahasa Inggris, Mandarin apalagi bahasa Latin.
Kami yang mendengar dia menyanyikan lagu Chesara Delamia Vita Dilosa. Kami semua terdiam selesai beliau menyanyi. kami semua bungkam seribu bahasa. Apalagi lagu mandarin yang dinyanyikan Ni ai wo I cien pei, Wo ai ni I wan pei (kamu mencintai saya seribu, saya akan mencintaimu sepuluh ribu). Dan lagu dalam bahasa Inggris To The Border of Universe. Siapa yang mengajarnya nyanyi beliau sendiri tidak tahu?
Hal serupa juga terjadi pada tante kami di Solo. Di akhir hayatnya dia bisa menyanyi lagu dalam dialek Hok Kian, padahal dia sama sekali tidak bisa berbahasa Hok Kian.
Sampai hari ini saya belum mendapat penjelasan ilmiah, tentang kekuatan nyanyian yang dapat menembus dimensi manusia dan kehidupan lain.
Aku sendiri tidak bisa menyanyi dan cenderung gaptek, tapi saya pernah belajar Gregorian, pernah belajar main guitar solo/classic, dan sedikit electon tapi jujur hanya di luarnya saja. Tapi dengan jujur juga saya cinta lagu dan suka sekali mendengar lagu terutama dari Teng Ie Ling dengan judul “biarlah bulan mewakili hati saya, Yue Liang tai piao wo de Xing”. Sayang beliau meninggal di usia 19 tahun, sangat muda!
Mari kita belajar mendengarkan lagu, karena dengan mendengarkan lagu kita semakin peka mendengarkan suara hati kecil kita yang tidak lain tidak bukan adalah suara Tuhan sendiri. Ada pepatah mengatakan : “Dengan nyanyian kita bisa menghibur orang lain, paling tidak bisa menghibur diri sendiri”. Damai selalu mendampingi.

Hari Istimewa Tahunan

Hampir setiap hari kita bersuka-cita tiada hentinya dan juga penuh dengan berkat. Tetapi, dalam perjalanan hidup kita, ada beberapa hari yang khusus. Bahkan di antara hari-hari khusus tersebut ada 1 hari istimewa, yaitu Hari Ulang Tahun. Tanggal 1 Januari pun kita peringati sebagai hari ulang tahun 2012 tahun kedatangan Yesus Kristus, sebelumnya kita denal BC atau Before Christ. Mengapa hari lahir atau hari jadi atau ulang tahun menjadi begitu istimewa?

1. Karena IBU
Kita mengingat, mengenang dan merindukan Ibu, yang dengan susah payah mengandung, melahirkan dan menyusui kita. Bahkan pengorbanan dengan airmata dan darah. Ibu akan menjadi begitu istimewa saat kita meletakkan posisi dia dalam segala refleksi kita. Baik ibu masih ada atau sudah tiada. Ibu tetap hidup dalam CINTA kita. Dan jika kita setahun sekali meletakkan Ibu dalam Ulang Tahun kita untuk mengenangnya, maka hidup kita pun akan penuh dengan suka cita.

2. Menghitung Hari
Sejak usia 1 tahun, Ibu pasti mencium, membelai dan memeluk kita. Ayah, kakek, nenek, adik, kakak dan bahkan semua keluarga juga melakukan hal seperti Ibu. Dengan menghitung hari, berarti kita menghitung CINTA, sudah berapa banyak Tuhan memberi kepada kita dan sudah berapa banyak kita memberi kepada orang-orang yang kita cintai. Ini semua akan menjadi istimewa karena kita membukukannya sebagai Sumber Cinta yang ada pada diri kita.

3. Bijaksana
Sungguh luar biasa, hari bahagia ini menjadi begitu istimewa karena adanya sesuatu yang bijaksana. Bagi orang yang tidak memiliki sahabat, maka ulang tahun akan menjadi hari yang sepi. Sebaliknya, bagi orang yang banyak sahabat maka ucapan selamat, hadih, kado, SMS, BBM, kartu berdatangan seperti air bah, karena begitu banyaknya harapan, doa, dan berkat yang diterima. Secara otomatis kita akan semakin bijaksana. Ini akan menjadi sangat istimewa karena semua itu diiringi kegembiraan, suka cita dan bahagia.
Ada suatu pepatah yang mengatakan : “Jika ada 1 orang berdoa buatmu, maka engkau akan menjadi panutan, jika ada 2 orang berdoa buatmu, maka engkau akan menjadi harapan, tetapi jika ada 3 orang atau lebih berdoa buatmu, maka engkau akan menjadi bijaksana”. Meniup lilin adalah lambang kebijaksanaan.

Sungguh aku berbahagia hari ini, karena Tuhan begitu baik. Terima kasih Tuhan, karena kasih setia-Mu mendampingiku. Hatiku bergembira Tuhan, karena sahabat-sahabatku.

Tanggal Muda

Keponakanku Adam, datang dari Toronto minggu lalu. Sore ini mampir di rumah bersama pacarnya Melisa. Mereka akan melangsungkan pernikahan beberapa pekan lagi. Malam ini aku mau traktir makan bersama anak, mantu dan cucu. Kebetulan sore ini istri ada acara jadi tidak ikut ke Central Park. Jalan raya malam ini padat merayap, bahkan ketika sampai di Central Park suasana hiruk-pikuk dan ramai sekali. Akhirnya melalui perjuangan dapat juga posisi Valey Parking. Di restoran kami harus menunggu antri hampir 45 menit baru dapat tempat duduk, lalu makan buru-buru karena last order tinggal 30 menit lagi, Sungguh ramai malam minggu ini dan sangat krodit, anakku bilang maklumlah Tanggal Muda.
Mengapa harus tanggal muda? Ketika menatap sesuatu karakter manusia inilah bedanya kita di Indonesia dengan di luar negeri. Kalau kita selalu menghabiskan apa yang kita terima di awal, di saat semuanya baru terima, seperti gaji, bonus, dll. Sehingga pada tanggal tua, semua tempat sepi bahkan restoran sepi, toko sepi jadi harus promosi weekend sale dan midnight sale.
Lain dengan di Eropa di sana ada suatu tradisi yakni kalau terima gaji itu diambil 10 persen untuk cadangan, baik untuk sosial dll (perpuluhan kali yaaa) lalu 60 persen buat kehidupan sebulan (tidak boleh diganggu) dan 20 persen buat tabungan hari tua (walau sudah punya CPF- Karena anak-anak di Eropa jarang urus orang tuanya, jadi orang tua tidak manja dan harus hidup sendiri dan Mandiri. Kasihan juga ya dan banyak rumah Jompo kali ya) sisa yang bisa dibuat belanja, entertain hanyalah 10 persen. Tradisi ini baik karena mengikuti aturan dan di manage dengan baik.
Berbeda dengan di Cina, kata kakek saya ” Kamu hanya boleh belanja 10 persen kalau kamu sudah bisa menabung 10x lipat “wahhhh artinya kalau saya punya deposito 10 juta baru boleh belanja 1 juta. Selama belum punya tabungan dilarang keras berbelanja atau untuk foya-foya, pesta pora dan main (main judi tradisi khas).
Kalau kita lain lagi, habisin semua pendapatan wong ada cadangan hutang !!! Sungguh ironis sekali di saat semua membutuhkan tradisi membangun, kita kurang memiliki sense ini.
Hari ini Tradisi Katolik merayakan Hari Raya Tritunggal Maha Kudus, suatu tradisi indah sekali untuk membangun iman (terima kasih buat Romo Vikjen Yohanes Soebagyo Pr karena pagi-pagi ikut sharing Sarapan Rohani,….. lekas sembuh dari Flu yaaa).
Bagaimana kalau kita sekarang membagun Tradisi Tanggal Muda dengan bermurah hati, mendahulukan kepentingan untuk Tuhan, bermurah hati untuk mencintai keluarga, berfoya-foya dengan makanan Rohani, memborong benda-benda Rohani, dan akhirnya demi Nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus kita bangkit dalam Kasih-Nya.

MENANTI

Kalau kita menanti seseorang untuk berjumpa atau menunggu orang sakit atau melakukan perjalanan di atas kereta api, mobil, pesawat udara, maka hal yang paling kita rasakan adalah “waktu” yang begitu lama dan membosankan. Hal menanti itu akan berbalik 180 derajat kalau dalam masa penantian itu ada sesuatu yang kita kerjakan. Adanya fasilitas BBM memang membuat waktu menanti menjadi berkurang hampir 80 persen. Kadang-kadang kita merasa perjalanan jadi sangat cepat, lampu traffic light seakan jadi singkat, malam serasa hanya 1 jam saja.
Tetapi, satu hal yang sangat penting dalam perannya membuat penantian menjadi peralihan waktu adalah SAHABAT. Persahabatan akan sangat berperan, misalnya, saat di pesawat udara kalau ada teman ngobrol maka perjalanan akan menjadi singkat dan ringan.
Hal kedua yang bisa berperan adalah PERASAAN, jika kita menanati seseorang dalam perasaan susah dan sedih, maka kita akan merasa lama. Tetapi, jika kita menanti dalam perasaan bahagia, senang atau suka maka kondisinya jadi berbeda. Sewaktu menonton film bagus seperti pekan lalu seperti Avenger yang durasinya hampir 2 jam, tetapi karena filmnya bagus rasanya singkat sekali.
Memang MENANTI selalu menjadi bagian dari hidup kita. Bahkan hampir setiap hari kita alami. Apalagi jika hal ini terjadi saat kita berada dalam situasi dan kondisi yang tidak menguntungkan. Ada beberapa hal yang saya alami untuk menghadapinya.
Pertama, berdoa dan menikmati masa penantian sebagai pengorbanan saya untuk seseorang, bisa rosario, Salam Maria atau Bapa kami atau berdialog dengan Tuhan.
Kedua : mengaktifkan pikiran positif untuk menghilangkan rasa bosan dengan dengan menulis atau membaca buku. Saya juga mengisi TTS atau Sudoku atau main game, poker atau Angry Bird.
Ketiga : mencari teman untuk suatu kebersamaan, sambil menikmati makanan kecil atau kadang-kadang iseng merokok (buat perokok, katanya rokok adalah sahabat)
Budaya setiap negara dan bangsa di dunia juga berbeda-beda. Hal itu mempengaruhi sikap menghadapi masa penantian itu. Peraturan di Singapura, misalnya, bagaimana mengantri taksi atau masuk Toll autobahn, mengantri makanan, dan check in hotel, semuanya sangat tertib dan rapi.
Lagu unchained melody mengiringi aku menulis dan hatiku tersentuh karena God speech dan I am hunger of love. Lagu ini ditulis oleh orang tidak dikenal di sebuah penjara di mana dia menanti Hukuman Mati. Ia belum selesai menulis lagunya saat dia harus menghadapi hukumannya. Menanti ditulis dengan indah sekali. Dalam film-film pun banyak sekali kita saksikan bagaimana cara, aturan dan kisah tentang penantian.
Bagaimana kita menyikapi masa penantian kita untuk bertemu Bapa di Surga? Ini akan menjadi suatu Pengharapan yang sangat indah, jika hidup kita bisa berarti bagi diri kita, bagi keluarga juga bagi masyarakat.
Buat saudaraku yang sakit dan atau berbaring di tempat tidur. Doaku menyertaimu semua, kiranya bilur-bilur Yesus bisa memberikan inspirasi dalam doa dan pengharapannya.

Jalan Tol

Pagi-pagi subuh saya dan istri berangkat menuju ke Bandung, untuk menghadiri dua pesta perkawinan sahabat di Kota Kembang itu. Di pagi hari udara segar sekali langit pun terang benderang dan jalanan kurang macet.
Pada bulan Pebruari 2012 lalu, saya menghadiri sebuah seminar di Hotel Mandarin Jakarta, yang di selenggarakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Pemerintah Daerah DKI Jakarta. Topiknya adalah “Solusi Kemacetan di Jalan Tol”. Sebetulnya saya adalah salah satu pembicara mendampingi bapak Menteri PU, namun saya tidak memberikan konfirmasi karena jadwal terbatas, tetapi last minute saya bisa, jadi saya hadir sebagai pendengar saja.
Jalan tol atau jalan bebas hambatan di Jakarta selalu macet. Aneh! Kalau di luar negeri, bayar masuk tol sudah berarti aman dan bebas hambatan, dan pemakai jalan puas. Kadang-kadang ada hambatan kalau ada accident. Sebaliknya, bayar masuk tol di Jakarta memicu stress karena macetnya menyesakan, jalan tidak aman, rambu-rambua tidak jelas, cuma sekali-kali lancer. Apa lagi kalau long week end Jakarta kosong dan mobil tumpah ke jalan tol.
Dalam seminar tersebut ada beberapa solusi, antara lain membatasi kendaraan masuk tol, membatasi Exit dan Entrance gate. Masih ada beberapa masalah yang diberikan para nara sumber. Yang menarik buat saya bahwa Jalan Tol adalah bebas hambatan jadi seharusnya tidak boleh macet atau tidak ada hambatan apapun yang bisa menyebabkan kemacetan di jalan. Sebab, kita membayar tol agar kita dapat keistimewaan bukan disuguhkan adegan macet dan seringnya kecelakaan atau mobil mogok di jalan. Pagi ini saya menyaksikan tujuh tabrakan beruntun di KM 88 Cipularang sampai KM 99. Kondisi mereka cukup parah. Saya menduga penyebabnya adalah kurangnya rambu ditambah orang masih ngantuk di pagi hari.
Membangun jalan tol seperti juga kita membangun GEREJA. Gereja adalah Jalan Tol kita menuju Nirwana Loka, Swarga. Tetapi kalau kita membangun Gereja tanpa perencanaan dan tiada pengaturan maka akan sama halnya dengan membangun jalan tol di Jakarta. Artinya jalan alternatif atau jalan biasa dipilih karena mungkin lebih cepat sampai. Persis halnya saat kita membangun iman. Kita juga memerlukan perencanaan bahkan harus membuat Master Plan secara baik. Dalam hati saya kok semua disamakan dengan kemacetan di jalan tol. Kebetulan sekarang saya di Jalan Tol Cikampek dan sedang macet total.
Iman kepercayaan juga merupakan jalan tol Doa-Doa kita agar bisa sampai ke Bapa di Surga. Tetapi beruntunglah mereka yang tidak beriman, tapi bisa sampai duluan, seperti kata Yesus Kristus di kayu salib kepada penyamun di sampingnya. “Hari ini juga engkau bersama-Ku di Surga.” (ini jalan tol). Lalu apa kemacetan yang kita hadapi dalam membangun Iman Kepercayaan kita. Ada banyak escape clause (kambing abu-abu istilah saya) sebagai penyebabnya sehingga kita kadang-kadang tersamar atau tertutupi olehnya sehingga kita tidak melihat inti permasalahannya. Perceraian, misalnya, adalah kecelakaan di jalan tol (bagi orang Katolik kan tidak mungkin cerai, macet tapi toh macetnya banyak). Alasannya tidak cocok!
Tuhan membangun jalan tol buat kita dengan segala kemudahan. Sebaliknya, kita membuatnya macet karena kita tidak disiplin. Kita tidak mampu membaca rambu-rambu. Kita tidak memelihara tubuh, jiwa dan roh kita (kendaraan kita). Konsekuensinya adalah kita lambat dan tersendat macet.
Sahabat semua, kita berada di jalan tol karena pembaptisan. Oleh karena itu, berhati-hatilah mengemudi. Iman dan kepercayaan kita harus diselamatkan sampai kita tiba di tujuan.

Nonton Bareng Film SP

Sejak tanggal 7 Juni 2012 kemarin, beberapa gedung film penuh. Ada gerakan bersama untuk menonton film Mgr. Soegiyopranoto (SP) yang disutradara oleh Garin Nugroho (GN). Filmnya dibuat ringan sehingga bisa dinikmati segala umur. Kendati film ini memiliki daya tarik namun sepertinya perjuangan promosi yang begitu gencar oleh umat Katolik kurang berdampak dibandingkan dengan antusiasme masyarakat menonton Avenger. Akhirnya promosi melalui email, BB, SMS cukup membuat studio XXI agak kewalahan meladeni para penonoton.
Cerita dalam film juga dialognya membuat kenangan tersendiri. Saya sendiri lebih tertarik pada gerakan “Nonton Bareng” (Nobar) daripada film itu sendiri. Beberapa gereja, teritorial, kategorial, sampai KAJ buat acara Nobar.
Besok Minggu 10 Juni 2012 jam 12.15 di Studio XXI – Pluit Village, saya bersama Lingkungan Keluarga Kudus, Paroki Santo Kristoforus bersama 100 warga lingkungan akan nonton bareng. Upaya mengumpulkan orang sebanyak ini memiliki suka-duka sendiri sebagai komunitas.
Saya masih ingat waktu Paus Yohanes Paulus II datang di Jakarta. Luar biasa sekali secara serempak seluruh umat Katolik bisa berkumpul di Stadion Senayan. Agenda Nobar juga mengingatkan saya tentang gerakan-gerakan kebangkitan Umat Katolik. Beberapa saat yang lalu saya menulis soal perlu adanya sedikit pengarahan tentang Nobar. Setelah Nobar apa nilai positif yang bisa kita petik? Yang terpenting lagi adalah ikatan kekeluargaan. Jalinan silaturahmi dan persahabatan jadi lebih akrab, baik antarumat Katolik maupun antarumat Katolik dengan masyarakat pada umumnya. Film SP menghantar umat bisa melihat suatu kebanggaan bahwa ada sesuatu di antara kita umat Katolik, yang kita sendiri hampir tidak tahu kalau kita memiliki yakni Cor Unnum et anima Una et eclesia una (Kalau tidak salah tulis)
Bisa saja satu hari nanti umat Katolik akan melihat suatu kenyataan bahwa umat Katolik akan tercerai-berai, kalau kita tidak mulai dari sekarang menyadari kekayaan dan kekuatan yang kita miliki :

a. Sakramen pengakuan dosa (sumber kekuatan dan energi positif yang tiada bandingnya) juga sakramen lainnya.
b. Devosi Maria, kekuatan dalam kelembutan seorang ibu, sifat feminin bukan kekerasan, welas asih dan pemaaf.
c. Pastor, sebagai Klerus, merupakan kepemimpinan yang memiliki kuasa yang berasal dari Yesus sendiri. Kekurangan atau musnahnya Pastor tamatlah agama Katolik.
d. Vatikan, di bawah Bapa Suci, menjadi simbol Kerajaan Allah di muka bumi.
e. Kebersamaan, satu hati, satu jiwa, satu gereja ( Cor unnum et anima una et Eclesia una) ini yang menarik sekali karena komunitas basis, dasarnya adalah kebersamaan dalam keluarga, lingkungan, dan masyarakat sosial.

Tradisi kebersamaan, perlu kita angkat untuk menghantar 4 kekuatan kita dan +1 penunjang kekuatan. Semoga rahmat Allah, kasih karunia Roh Kudus bisa mengisi kekosongan hati kita, kesulitan kita, kecemburuan kita, kesombongan kita, keserakahan kita, dan segala sisi sisi kekurangan kita melalui kebersamaan.

PURGATORY

Menyaksikan acara televisi Indonesian Lawyer Clubs, minggu malam dalam siaran ulangan, yang dipandu oleh Bung Karny Illyas, saya terkesan pada akhir acara saat pemandu acara mengutip ucapan Presiden Soekarno di tahun 1959, bahwa Negara Kita sedang berada dalam api pencucian, Purgatory to Paradise.
Saya sempat tertegun beberapa detik karena kata Purgatory (Api pencucian) hanya di kenal oleh Dogma atau doktrin Katolik. Minggu siang lalu sehabis menonton Film Mgr. Soegiyopranoto, teman saya di Amerika kirim BBM, menanyakan apakah bisa dikirimin DVD Film Soegija. Alasannya bahwa di US belum bisa beli VCD, hanya bisa dapat cuplikannya lewat Youtube. Kalau bisa beli di Glodok yang murah meriah. Saya bilang kalau beli di Glodok kan bajakan. Film lain boleh beli di Glodok, kecuali Film Soegija karena untuk gereja harus original supaya tidak dosa. Lalu, teman saya jawab bahwa itu gampang karena ntar ngaku dosa ajah, terus kan kelak ada api pencucian jadi bisa diampuni (wah gawat neh)
Akhir Maret lalu, kami membuat misa peringatan arwah ayahanda saya yang meninggal di usia 94 tahun lalu. Misa dipimpin oleh Romo Tondo dan Romo Pikor. Dalam khotbahnya Romo Tondo mengatakan sebagai berikut : “Kalau orang sudah meninggal. kalau masuk surga maka tidak perlu didoakan lagi. Kalau masuk neraka apa lagi, didoakan bagaimana pun juga tetap di neraka, mustahil pindah ke surga. Lalu untuk apa kita berdoa untuk orang meninggal?” tantangnya. Dan masih panjang khotbahnya tentang purgatory atau api pencucian.
Menarik sekali hari ini yang cerah kita berbincang tentang api pencucian. Walaupun menurut beberapa orang masih jauh dari kematian, tetapi Yesus mengingatkan kita agar terus berjaga-jaga, oleh karena itu tidak ada salahnya kita berbicara tentang api pencucian. Apalagi kalau para romo bisa atau mau juga memberikan pencerahan karena literatur tentangnya sangat minim sekali kita peroleh. Mari kita lihat sebentar encyclopedia.
Kata “api pencucian atau Purgatory”, berasal melalui Anglo-Norman dan Old Prancis dari purgatorium pada kata Latin, merujuk juga untuk berbagai konsep historis dan modern postmortem berarti menderita singkat atau kutukan yang tidak kekal, dalam arti tidak spesifik, berarti tempat atau kondisi penderitaan atau siksaan, terutama yang bersifat sementara pada saat kematian .
Dalam doktrin Katolik kita melihat jelas hubungan antara orang meninggal, dan rohnya akan melalui api pencucian, sebelum sampai ke surga, kepercayaan ini tentu saja sangat menguatkan kita bahwa kita memiliki 3 kesempatan masuk surga. Pertama, kita mati langsung masuk surga karena perbuatan baik kita. Kedua, kita mati masuk api pencucian (pasti) masuk surga. Ketiga, kita mati membela kebenaran (jaminan untuk para martir ). Atau pilihan lain masuk neraka ?
Melihat tulisan awal, saya sangat tertarik sekali untuk menulis, menurut saya api pencucian juga berada di dunia orang hidup, di mana kita bisa mencuci dosa-dosa kita. Bukan saja melalui ruang pengakuan, tetapi juga merobah semua sikap kehidupan kita, pada awalnya kita akan menderita saat kita meninggalkan hal-hal duniawi atau dosa-dosa manusia — ingat 7 dosa mematikan manusia (siksaan api), tetapi jika kita bisa melaluinya maka suka cita besar akan menanti.
Untuk menjadi orang baik dan orang suci tidak harus menjadi pastor atau suster, tetapi cukup melalui api pencucian dulu, tinggal kita sanggup atau tidak melewati kawah candradimuka itu. Hal yang sangat sulit buat kita manusia, dengan kelemahan daging yang kita miliki, tetapi paling tidak ini menjadi signal atau rambu-rambu buat kehidupan kita.
Akan menjadi sungguh indah kalau tulisan ini bisa dilengkapi romo, suster, frater karena buat umat awam seperti saya ini sungguh menginginkan, rindu akan pencerahan dari para romo karena kita cuma bisa baca saja. Alkitab pun kita jarang buka, kiranya ini jadi awal kita mengenal Api Pencucian atau PURGATORY.
Salam damai sejahtera, cinta kasih Tuhan dan Roh Kudus mendampingi istirahat malam kita, sampai besok fajar pagi membuka tirai kegelapan malam.