Sleeping with my enemy

Semoga Tuhan beserta kita,
Sebuah film layar lebar dengan judul sleeping with my enemy diputar awal tahun 2000- an. Film ini mencapai Box Office dengan cerita tentang rumah tangga (bagi yang belum nonton silahkan beli DVD-nya). Cukup berat mencerna makna yang diutarakan film tersebut, namun pada akhir cerita kita diajak menikmati film yang bagus. Kita sering mengalami bagaimana tidur dengan musuh kita. Apalagi musuh itu orang dekat kita. Atau yang lebih parah adalah musuh yang ada dalam hati dan pikiran kita sendiri!
Siapa yang mau tidur sama musuhnya? Kenyataannya kita harus tidur sama musuh hampir setiap malamnya :1)Marah, 2)Kesel, 3)Benci, 4)Dendam, dan 5)Rencana-rencana kotor
Bagaimana kita bisa tidur nyenyak jika musuh-musuh tidur bersama kita bahkan menguasai hidup kita. Kalau kita tidur bersama musuh pasti kita kehilangan suka cita di dalam tidur dan merongrong kehidupan kita. Dinamika kehidupan kita terganggu bila kurang tidur kan?
Doa malam, meditasi atau usaha-usaha akan sia-sia kalau hati kita tidak bisa menolak untuk tidur bersama musuh-musuh itu. Kita perlu sekali mempelajari hal-hal positif agar bisa mendampingi nurani kita. Satu hal yang sangat membantu adalah belajar membaca ALKITAB. Kita Suci memiliki kekuatan luar biasa kalau kita membacanya menjelang tidur. Atau paling tidak ditaruh di samping tempat tidur, baca gak baca urusan kedua. Biasanya kalau Kitab Suci dibaca nuansa tidur Anda akan berubah not sleeping with enemy but sleeping beauty!
Seorang ibu rumah tangga mengambil keputusan drastis, yaitu pulang ke orang tuanya lantaran sehari-hari tidak menemukan kebahagiaan bersama suaminya. Sang istri yakin kalau pulang ke rumah orang tuanya hidupnya akan tenang, namun yang diperoleh sebaliknya, hidupnya bagai neraka, karena cemohan dan ejekan terus berdatangan dan kebencian meliputinya. Kondisi fisiknya berubah dengan cepat. Badan kurus kering, sinar mata hilang, nafsu makan tidak ada, psikiater juga tidak mempan. Sampai suatu hari dia mengambil keputusan lagi untuk pulang ke rumah keluarganya sendiri. Sang suami yang menggendong anaknya yang paling kecil menyambutnya. Lalu, mereka masuk rumah dan makan malam bersama.
Sang istri bilang kalau dia hanya mau mampir karena kangen sama anak-anak. Ia mau pulang kembali ke orang tuanya keesokan harinya. Sang suami mengiyakan saja. Pada malam harinya, pasangan itu tidur bersama anak-anak namun suasana sangat berisik membuat sang istri gelisah. Sang suami membawa minuman dan mengajaknya menemani anak-anak yang membaca kisah-kisah Alkitab. Sampai malam pun suasana sedih terus meliputi sang istri. Saat berbaring dengan gelisah bersama justru kisah-kisah Alkitab membuatnya lelap sampai esok pagi.
Kebiasaan menemani anak-anak membaca Alkitab membuat sang istri lupa pulang. Sejak saat itu secara perlahan kehidupannya pulih dan mereka hidup normal kembali.
Sungguh kebahagiaan besar kalau kita bisa tidur ditemani ALKITAB, karena Tuhan sendiri menjaga, menghibur kita dengan kata-kata yang indah.

One response to this post.

  1. Posted by Kevin Julian on March 24, 2014 at 9:50 am

    Kehidupan Rumah tangga bila tidak mengucap syukur kepada Tuhan memang tidak akan kuat.. Karena sebenarnya hubungan keluarga yang erat ada dalam kedamaian, kedamaian muncul dari hati yang tulus dan mengucap syukur kepada Tuhan yang Maha Esa.. Maka dari itu kita haruslah bersyukur setiap saat atas semua yang telah terjadi kepada Tuhan.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: