Monthly Archives: November 2012

Pribadi Unggul

Menjadi pribadi yang unggul melalui pergaulan.

Saya membaca sebuah buku karangan Lita Tamsil. Beliau memberikan sebuah pemikiran bahwa kita mendapatkan pribadi unggul melalui pergaulan, persahabatan dan komunitas. Semakin banyak kita memiliki persahabatan, semakin besar kemungkinan terciptanya pribadi unggul, terutama dalam hal kebijaksanaan. Beliau juga mengungkapkan bahwa berorganisasi juga menjadi bagian dari kemampuan untuk membuka sebuah wacana persahabatan. Misalnya pergaulan di dalam gereja atau pertemanan di perusahaan atau kantor. Tinggal bagaimana kita bisa memanfaatkan pergaulan tersebut untuk meningkatkan kemampuan kita berkomunikasi. Semakin baik kita berkomunikasi semakin tercipta seorang pribadi unggul dan berkemampuan.
Sejak awal mula Tuhan menciptakan manusia untuk mengambil peran dan kemiripan pribadi-Nya, sehingga manusia berbeda dengan makluk lain. Makhluk lain hanya memiliki jiwa dan badan saja, tetapi manusia memiliki Roh yang sebenarnya itulah yang berada dalam kebersamaan dengan Tuhan. Memang benar kalau kita ingin mengenal Tuhan, maka yang bisa kita lakukan adalah mengenal sahabat-sahabat di dekat kita, terutama orang-orang yang kita cintai.
Pribadi unggul merupakan berkat Tuhan kepada kita berupa talenta. Menurut saya, semua manusia memiliki sebuah kelebihan dalam keunikannya. Jadi, talenta dalam dirinya harus digali dan dicari.
Ada sebuah kesaksian dari seorang sahabat saya bernama Johan. Beliau dari kecil sampai besar tidak mengerti atau bahkan tidak tahu menahu masalah lukisan. Suatu keajaiban berkarya dalam dirinya saat di usia 50-an. Tiba-tiba dia merasa mau melukis. Dia belajar dalam waktu singkat sekali. Sekarang beliau menjadi seorang pelukis dunia yang handal dan berkemampuan tinggi. Ada juga seorang sahabat yang menjadi penyanyi di saat usia lanjut. Banyak contoh bahwa kadang talenta manusia baru dirasakan setelah usia lanjut dan tidak dimiliki sebelumnya.
Menarik sekali buku Lisa Tamsil tentang kepribadian unggul. Saya sangat sepakat dengan beliau bahwa persahabatan dan pergaulan bisa memberikan seseorang menjadi pribadi yang unggul. Bagaimana itu bisa terjadi? Mungkin pengalaman banyak bercerita nantinya.
Dunia usaha tidak berbeda banyak. Coba perhatikan orang sukses atau orang yang berhasil dalam kariernya. Orang ini pasti pandai bergaul dan memiliki banyak teman. Bahkan punya kemampuan lobi yang sangat bagus.
Gereja sendiri membuka lebar setiap umat saling mengenal dan saling berinteraksi. Baik dalam lingkungan maupun dalam paroki. Sayangnya umat tidak memanfaatkannya.
Bagi Orang Muda Katolik boleh tersenyum membaca ini. Perjodohan juga bisa terjadi di gereja. Saya sendiri menikahi istri saya karena persahabatan dalam lingkungan OMK dan organisasi mahasiswa Katolik di Universitas Trisakti.
Bagi Mudika yang masih belum dapat jodoh sering-seringlah ke gereja. Aktiflah dalam organisasi Gereja dan bergaul dengan sesama. Selain kita akan meraih pribadi yang unggul pasti mendapat pasangan serasi daripada mencari jodoh di tempat lain.
Kehidupan rohani tidak terlepas dari persekutuan, karena tidaklah baik bagi manusia itu hidup sendiri. Oleh karena itu, perlu adanya pendampingan. Demikian kita hidup secara rohani. Berbagai kegiatan di lingkungan sangat membantu kita. Di sana kita bisa membentuk pribadi yang unggul dan berkemampuan. Selain itu, saya juga sependapat bahwa semakin banyak bergaul maka semakin bijaksana seseorang. Tentu saja itu mengandaikan dia mau dan berperan aktif dalam pergaulan itu sendiri.
Kata lain, roh kita juga memerlukan sahabat. Roh itu akan melakukan interaksi tanpa batas apakah bagi manusia, hidup atau mati. Itulah yang dimaksud Yesus bahwa siapa yang mengikuti AKU, dia akan hidup walau sudah mati. Memang benar badan atau raga bisa musnah, tetapi pemikiran dan kebijaksanaan akan hidup abadi. Demikian halnya kita mengikuti ajaran-ajaran agama dan melakukannya dengan penuh kebijaksanaan. Cinta akan hidup dan terus berperan. Semoga semua menjadi pribadi unggul melalui komunitas kita di lingkungan, Gereja dan Kantor.

Dasi

Dasi bukan simbol penampilan, tapi kepercayaan diri (Piere Cardine)

Ada sebuah meeting organisasi, dress code tuksedo. Saya agak kesel juga neh. Biasanya paling batik atau paling-paling jas lengkap full fress. Ini bisa kayak penganten apalagi pakai dasi kupu-kupu, tapi ok juga sih sekali kali kepingin tampil beda, kenapa tidak!!
Para tamu semua sudah hadir. Lampu ruangan sidang di Hotel Ritz Carlton rasanya sengaja diredupkan. Terlihat yang ibu-ibu asyik ngrumpi. Mungkin karena rapat kerja sore ini agak berbeda penampilannya karena ibu-ibu dress codenya baju daerah. Saya sendiri berpikir mana ada rapat kerja kok semua harus rapi begini.
Acara lalu dibuka oleh Menteri Perhubungan yang juga pake Tuksedo. Beliau juga tertawa karena tuksedonya sudah umur 10 tahun mendingan punya saya plus rompi baru 5 tahun. Akhirnya sang ketua memberikan sambutan. Baru kita tahu maknanya karena ternyata hari itu adalah hari Dasi, yang jatuh pada 31 Januari. Beliau memberikan cerita panjang lebar dan sangat menarik (panjang banget ceritanya). Tetapi, yang terang intinya bahwa berdasi bukan untuk penampilan saja, tetapi memberikan komitmen terutama untuk diri kita sendiri dan juga bagi orang lain.
Walau sudah berlalu cukup lama juga sejak acara berdasi, tadi pagi saya mengambil dasi dan mencoba mengikatnya ternyata saya gagal. Saya bilang ke anak saya bahwa di tahun 1975 saya mendapat juara ikat dasi terindah (boleh coba di Kristoforus bikin lomba ikat dasi). Kini, saya harus tersenyum malu ternyata saya sudah lupa cara mengikat dasi sehingga anak saya tertawa. Saya katakan seorang eksekutif harus mampu ikat dasi sendiri. Tidak boleh diikatkan dan tidak boleh pakai dasi jadi yang tinggal dililitkan. Karena dasi itu dipakai punya nilai spiritual. Kalau kita tidak menghargainya, maka hilanglah maknanya.
Saya pernah menjadi pembicara di ulang tahun sebuah Gereja Pantekosta. Hadirin banyak sekali dan ada beberapa pendeta semuanya rapi-rapi dan berwibawa. Sebagian besar hadirin pakai jas lengkap dasi, terutama para pendeta dan majelis. Kalau di gereja saya ga ada tuh masuk gereja pakai jas. Waktu saya menjadi anggota Dewan Paroki Harian (DPH) saya coba kasih contoh pakai jas masuk gereja dan rapat dewan, tapi malah jadi bahan tertawaan.
Saya menjadi pembicara tunggal dalam acara itu. Untungnya saya datang memakai jas juga. Saya diminta membicarakan tentang CUSTOMER PENGHARAPAN, dan sambutan sangat antusias terutama para pemudanya.
Saya tidak tahu dari mana asal muasal dasi. Kayaknya sepertinya leher kita diikat, suatu saat jika diperlukan tinggal ditarik saja kaya kerbau ya.
Dalam mengawali pembicaraan tadi saya menyampaikan kenapa setiap acara (resmi) selalu dress code formal/resmi? Dag dig dug juga saya meluncurkan pertanyaan di hadapan para pendeta besar itu. Mereka juga tak bisa memberikan jawabannya. Saya katakan bahwa berpakaian sebetulnya kita memberikan sebuah komitmen. Bagaimana kalau kita ke gereja dengan pakaian tidak sopan, rok mini, celana pendek, daster, kaos oblong?
Memang tidak ada satu pun peraturan, baik tertulis maupun tidak tertulis, yang melarangnya, kecuali atas dasar asas etika itu pun tidak jelas, yang dilarang mungkin kalau telanjang saja.
Perumpamaan tentang pesta tanpa tamu dan undangan yang tidak hadir (bantuin saya donk perikop ini di mana dan ayat berapa). Lalu, tuan pesta mencari siapa saja yang ada di tepi jalan untuk masuk dalam pesta, tetapi setelah semua hadir ternyata sebagian besar ditolak karena tidak berpakaian layak !!!
Perumpamaan ini yang mengajak kita supaya memakai pakaian sopan pada saat masuk gereja. Saya katakan bahwa sebelum menghias hati sanubari dengan cinta yang indah, hiaslah badan kita. Ibu-ibu boleh make up dulu secantik mungkin sebelum ke gereja. Bapak-bapak boleh pakai baju yang bagus. Karena dengan demikian maka hati kita juga siap dengan suka cita besar.
Saya beri perumpamaan begini cobalah seorang pendeta di atas mimbar pakai celana pendek dan kaos oblong. Nah pasti khotbahnya tidak didengar. Demikian juga pastor kalau mau khotbah tampangnya kucel dan rambutnya ngejibrak walahualam!
Dasi, simbol white colar, excecutive, orang besar, tapi sebenarnya bukan itu yang kumaksud, tetapi komitmen. Orang biasa saja bisa jadi baik, apa lagi komitmen orang berdasi. Jadi, cahaya akan hidup dan lebih terang. Di sini cuma positive thinking saja karena banyak tikus berdasi, petani berdasi, dan maling berdasi. Istilah negatif tidak kita bicarakan.
Tetapi berpakaian lengkap dan formal juga berlaku bagi hati kita dalam hidup sehari hari sampai kita menutup mata nanti saat menghadap Bapa di surga. Semoga damai mendampingi Anda semua.

Mutiara

Mutiaraku yang hilang dulu kini jumpa lagi

Mutiara

Waktu tahun 1990, Negara Cina mempromosikan hasil produknya dengan program Silk Road, yaitu napak tilas para pedagang yang menjual sutera ke-18 bagian negara di seluruh dunia. Ternyata hasilnya luar biasa. Banyak sekali orang ikut terlibat, bahkan negara-negara penghasil sutera ikut promosi, termasuk Singapura dan Malaysia. Sehingga Shang Group mempromosikan Silk dengan biaya besar sekali ke seluruh dunia sebagai bagian dari promosi group perusahaannya.
Acaranya ditutup di Shangrilla Hotel 4 tahun kemudian (promosi terpanjang dalam sejarah) dan dilaksanakan pesta besar-besaran. Saya hadir di sana dengan beberapa kawan. Ada artis Yuni Shara, yang membawakan lagu lama “Mutiara yang Hilang”.
Komentator dibawakan oleh MC John Seed dari Cambridge. Seed mengatakan sutera diibaratkan mutiara yang hilang dan kini ditemukaan kembali. Kebangkitan sutera ini menyumbangkan devisa cukup besar bagi negara Cina sebagai pengekspor sutera terbesar di dunia.
Yang terkenang buat saya bukan sutera tetapi mutiara atau pearl atau zhu dalam bahasa Mandarin. Lagu yang dinyanyikan Yuni Shara ini adalah ungkapan cinta sang pengarang lagu yang menemukan cintanya kembali.
Mutiara, suatu permata yang dihadiahkan Kima (kerang laut dalam) nilainya bisa mencapai milyaran rupiah. Di kampung halamanku, di Pulau Alor, ada Kolam Mutiara, yang sangat terkenal karena mutiara yang dihasilkan kualitasnya bagus sekali. Mutiara juga jadi inceran para kolektor dunia. The Diamond of The Sea, sebuah mutiara yang dipakai oleh Ratu Inggris, harganya? Wah ga bisa dinilai.
Bagaimana sebuah kerang yang tidak punya apa-apa dan secara alami bisa menghasilkan produk mutiara, yang nilainya sangat tinggi? Mengapa kita manusia yang dikarunia “komputer tercanggih di otak” tidak bisa berbuat apa-apa? Malah kadang kala manusia menyusahkan sesamanya. Padahal manusia nilainya sangat tinggi ibarat mutiara.
Sepenggal lagu Yuni Shara : Mutiaraku yang hilang dulu, kini jumpa lagi (Saya tidak tahu lanjutan syair lagu tersebut kalau ada yang tahu boleh donk share). Buat saya kata jumpa lagi ini indah sekali. Sebab ada konotasi berkat berlimpah dan sukacita besar (seperti kisah anak yang hilang). Mutiara tidak ditemukan secara cuma-cuma atau kebetulan, tetapi dicari bahkan mempertaruhkan nyawa-Nya untuk menemukan cinta. Seperti halnya pencari mutiara di laut dalam. Setiap menyelam artinya nyawanya dipertaruhkan.
Mutiara, sebuah nama diberikan kepada kerang yang menghasilkannya karena adanya luka dan benda asing dalam dirinya. Akan menjadi indah buat kehidupan kita kalau kita bisa mencari mutiara kebahagiaan kita yang mungkin sudah hilang atau belum kita miliki. Mari kita mencarinya. Sayang sekali kalau dibiarkan tenggelam dalam lumpur. Di sisi lain begitu sulitnya, betapa bernilainya, betapa mulianya mutiara cinta yang kita miliki, begitu terciptanya kita di dunia ini.
Semoga kita semua diberkati oleh kasih-Nya dan menemukan kembali Cinta yang hilang. Ibarat mutiara yang hilang jumpa lagi.

Modal Asing

Pemakaian modal asing ibarat pisau bermata dua.

Saat makan siang di Rancamaya Golf CC sehabis turnamen golf, yang dilakukan oleh Suara Pembaruan,
saya bertemu dengan teman lama Dr. Hariman Siregar, SpPd. Tentu kita semua masih ingat nama beliau saat peristiwa Malari (Malapetaka Lima Belas Januari 1974). Saat itu beliau sebagai Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia.
Perjumpaan ini cukup bernostalgia karena saya dekat dengan beliau semasa muda. Pokok pembicaraan kita lalu menuju ke masalah modal asing yang masuk ke Indonesia. Sebagai pemilik Rumah Sakit BARUNA, beliau juga dikenal sangat kritis terhadap kebijakan pemerintah khususnya mengenai modal asing yang masuk ke Indonesia. Beliau sepakat dengan pendapat saya mahwa modal asing itu seperti pisau bermata dua. Maksudnya sangat bermanfaat buat kemajuan bangsa dan negara tetapi sekaligus menjadi bahaya bagi nilai-nilai kebangsaan. Harga diri sebagai bangsa yang besar akan memudar. Istilah beliau akhirnya kita jadi kacung saja.
Beliau katakan sebentar lagi Indonesia tidak punya rumah sakit lagi. Semuanya milik asing. Semoga tidak terjadi ya.
Hidup berketergantungan juga sama halnya dengan menarik Modal asing, para pemimpin kita dahulu mengatakan Go to hell, Kapitalis, lalu apa yang. Terjadi sekarang, Pinjaman luar negeri kita luar biasa besarnya, sebaliknya Modal Asing mengalir terus.
Setiap hari kita bekerja, tentu di luarnya tidak terpikir apa yang terjadi? Itu urusan yang punya modal. Pertanyaan akan menarik kalau ditanya : Apa modal kita dalam menghadapi kehidupan? Terlepas dari materi duniawi, bagaimana kita memodali perputaran kehidupan rohani kita ?
Sungguh suatu kebahagiaan besar kalau kita bisa memodali sendiri kehidupan ini. Tetapi bagaimana dengan orang yang membutuhkan modal untuk kehidupan rohaninya ? Ibarat sebuah perusahaan kecil atau usaha kecil-kecilan yang baru tumbuh perlu modal usaha, demikian halnya bagi kita yang baru mau mulai investasi di Ladang Tuhan. Modal utama kita hanya Iman, Pengharapan dan Kasih. Tetapi kadang-kadang kurang cukup sehingga kita memerlukan modal asing, yaitu inteligensi, komunikasi dan teknologi. Masuknya Alkitab dalam Blackberry, Puji Syukur dan Doa Novena dalam Iphone benar-benar bagai pisau bermata dua!
Saya cuma bisa mengharap kita bisa memperkuat modal kita sendiri berupa Iman, Pengharapan dan Kasih dengan ditambah kekuatan persekutuan/persahabatan, Semoga melalui CINTA kita bisa diselamatkan dan dibimbing Roh Kudus menuju hidup dalam damai sejahtera dan penuh kebahagiaan.
Mari memperkuat modal kita semua melalui progran ATT (Alkitab Tulis Tangan). Dengan menulis Sabda Ilahi, kita memelihara Sabda hidup dalam keluarga. Ini modal kita dalam diri kita sendiri.

Badai Sandy

Bursa Wall Street ditutup 2 hari karena Badai Sandy

residen Barack Obama merangkul seorang warga korban Badai Sandy

New York City mulai merasakan dampak Badai Sandy, salah satu badai paling kuat yang pernah menerjang Amerika Serikat, saat angin terus bertambah kuat pada Senin sore (29/10), sementara satu derek di daerah pusat kota dikhawatirkan ambruk. Walikota New York City Bloomberg mengumumkan sekolah umum masih ditutup pada Selasa untuk hari kedua, dan tak ada peluang angkutan massal, yang ditutup pada Minggu malam (28/10), bisa kembali melayani warga.
“Jalur saat ini yang dikeluarkan oleh National Hurricane Center memperlihatkan Badai Sandy mulai memasuki daratan tepat di sebelah selatan Atlantic City pada malam ini. Itu membuat New York City berada di daerah berbahaya akibat badai ini,” kata Bloomberg, sebagaimana dikutip Xinhua –yang dipantau ANTARA di Jakarta, Selasa.
“Sebagaimana telah kami tekankan selama ini, bahaya terbesar yang ditimbulkan oleh Badai Sandy ialah terjangan badai pantai yang akan dihasilkannya. Kita sudah menghadapi sangat banyak banjir,” kata Bloomberg.
Membaca berita tentang Badai Sandy membuat kita merefleksi kehidupan manusia dan keadaan alam semesta. Betapa besar kekuatan Tuhan dalam alam semesta. Bagaimanakah kita menyikapi badai dalam kehidupan kita? Begitu banyak badai dingin yang saat ini menyerang hati kita.
Membangun rumah tangga memerlukan pondasi yang kuat terutama mempersiapkan diri menghadapi badai. Sebab, sewaktu-waktu badai bisa datang dan menyerang kita. Kekuatan utama kita selain DOA juga persiapan alat-alat dan perlindungan. Alat utama yang dipersiapkan adalah PERSAHABATAN. Sedangkan perlindungan yang kuat adalah pelayanan umat.
Mari kita berdoa buat semua sahabat yang sedang menghadapi badai. Semoga badai cepat berlalu. Doa khusus buat teman-teman di Amerika. Semoga mereka tabah dan terus berdoa menghadapi badai dingin itu. Tuhan bersamaku dan bersamamu.