Kalabahi Antara Hidup dan Cinta

Cerpen 0015

Oleh : Adharta

Ketua Umum

KRIS

Saya lahir di kota kecil Kalabahi, Pulau Alor, tahun 1958. Kota ini mungkin tidak setenar Surabaya, Jakarta, atau Makassar. Namun bagi saya, Kalabahi adalah tanah pertama yang mengajarkan arti kehidupan. Laut birunya, bukit-bukit yang mengelilinginya, dan pelabuhan kecil yang ramai oleh kapal PELNI menjadi bagian dari cerita masa kecil saya.

Ayah saya, Ingin Soei Ping—lebih dikenal dengan nama Johnny Ongko—adalah seorang pegawai PELNI. Ketika saya lahir, beliau bertugas sebagai Kepala Cabang di Kalabahi. Perjalanan hidupnya penuh perjuangan. Lahir di Fu Zhou, Tiongkok, ayah sudah merantau ke Indonesia sejak usia sepuluh tahun lebih. Seorang anak kecil yang datang dengan harapan, bekerja keras, dan akhirnya mampu berdiri tegak membangun keluarga. Dari tanah rantau inilah ia menemukan tempat tinggal, rezeki, dan cinta.

Ibu saya, Tjia Soei Tjoe, lahir di Makassar. Keluarganya berasal dari marga Hok Tjia di Tiongkok. Berbeda dengan ayah yang datang dengan kisah perantauan panjang, ibu tumbuh di tanah nusantara. Kelembutan dan keteguhannya menjadi penopang hidup keluarga. Dari beliaulah saya mengenal arti kasih yang tak pernah lekang oleh waktu.

Masa Kecil di Kalabahi

Masa kecil saya di Kalabahi sederhana. Hidup di kota pelabuhan kecil membuat hari-hari selalu diwarnai riuh kapal yang datang dan pergi. Saya masih ingat bagaimana aroma garam laut bercampur dengan suara peluit kapal menjadi bagian dari keseharian. Dari pelabuhan itulah ayah bekerja, memastikan semuanya berjalan dengan baik.

Kadang saya ikut melihat beliau bekerja. Dengan seragam rapi dan langkah tegap, ayah berdiri sebagai pemimpin di cabang PELNI. Ia sosok yang disegani, tetapi di rumah, ia tetaplah ayah yang penuh perhatian. Saya belajar dari sikap tegasnya, juga dari semangatnya untuk tidak menyerah pada keadaan.

Ibu, sebaliknya, adalah sosok hangat yang menjaga rumah tetap hidup. Ia mendidik saya dan saudara-saudara dengan penuh kesabaran. Saya masih bisa mengingat senyum lembutnya ketika menyiapkan makanan, atau saat menenangkan kami ketika ribut kecil sesama anak-anak.

Kalabahi bagi saya adalah kota cinta—cinta ayah yang berani meninggalkan tanah kelahirannya demi masa depan, cinta ibu yang setia mendampingi, dan cinta keluarga yang tumbuh di antara kesederhanaan hidup.

Kembali ke Kalabahi

Puluhan tahun berlalu. Waktu membawa saya jauh dari kota kecil ini. Saya tumbuh, menapaki jalan hidup, membangun keluarga sendiri, dan menghadapi suka-duka kehidupan. Namun,

Kalabahi tetap melekat di hati.

Hari ini, saya kembali. Bersama istri saya, Magdalena, dan kakak saya, Elianora, kami datang dalam rangka mengantar Hwa Dung bersama kedua anaknya, Guang Jie dan Guang Yie.

Ketika kapal merapat di pelabuhan Kalabahi, hati saya bergetar. Laut yang dulu terasa begitu luas kini menyambut saya seperti sahabat lama. Angin laut bertiup membawa kenangan. Setiap riak ombak seolah berbicara, mengingatkan saya pada masa kanak-kanak yang pernah dihabiskan di sini.

Bersama Magdalena, istri yang setia mendampingi perjalanan hidup saya, dan Elianora, kakak yang mengingatkan pada cerita masa kecil, saya melangkah menapaki tanah Kalabahi kembali. Kami berjalan di jalan-jalan kecil yang dikelilingi rumah-rumah sederhana. Sesekali saya berhenti, memandang sekitar, mencoba mencari jejak masa lalu.

Saya membayangkan kembali saat kecil berlari di halaman rumah, mendengar suara ibu memanggil dari dapur, atau melihat ayah pulang dari pelabuhan dengan wajah lelah tapi bahagia. Semua itu seperti hadir kembali, meski kini hanya tinggal kenangan.

Antara Hidup dan Cinta

Hidup adalah perjalanan panjang. Dari Kalabahi saya memulai, lalu beranjak ke banyak kota, menghadapi banyak pengalaman, kegagalan, keberhasilan, kesedihan, dan kebahagiaan. Namun dalam semua itu, ada satu hal yang selalu menjadi pegangan: cinta.

Cinta ayah dan ibu yang berani membangun hidup di tanah baru.

Cinta keluarga yang membuat saya bertahan meski keadaan sulit.

Cinta istri dan anak-anak yang memberi alasan untuk terus berjuang.

Dan hari ini, ketika kembali ke Kalabahi, saya sadar bahwa cinta itu pula yang membawa saya pulang.

Kalabahi bukan hanya kota kelahiran. Ia adalah rumah kenangan, tempat saya belajar arti keberanian, arti kesetiaan, arti keluarga, dan arti cinta.

Di antara hidup yang penuh liku, cinta selalu menjadi alasan untuk melangkah. Dan bagi saya, Kalabahi akan selalu dikenang sebagai titik awal segalanya—antara hidup dan cinta.

Alor Surga di Timur Nusantara

Oleh : Adharta

Ketua Umum

KRIS

Kalabahi

Kamis

2 Oktober 2025

Kisah kasih

Diatas pulau Alor

Pagi itu, udara Kalabahi begitu segar, langit biru cerah tanpa awan, seakan menyambut setiap langkah kami.

Dari Hotel Pelangi, saya, istri, dan keluarga besar yang berjumlah dua puluh orang dengan empat mobil, bersiap memulai perjalanan menuju salah satu keajaiban alam Pulau Alor: Pantai Mali, yang terletak tak jauh dari bandara. Tujuan utama kami adalah melihat dari dekat penghuni laut yang unik dan langka, si lembut penjelajah samudera dugong.

Dalam bahasa Mandarin, dugong dikenal sebagai 美人鱼 (Měi rén yú), yang secara harfiah berarti ikan putri cantik atau mermaid.

Saya jelaskan kepada Hwa Dung, Guanjie, dan Guanyi bahwa masyarakat lokal sering menyebutnya sebagai “ikan duyung” atau “ikan orang cantik.”

Nama yang indah, sama indahnya dengan makhluk itu sendiri.

Dugong adalah lambang harmoni antara manusia dan laut, simbol betapa kayanya Pulau Alor yang masih menyimpan keaslian alamnya.

Alam yang Memikat

Alor bukanlah sekadar pulau biasa.

Ia adalah permata di ujung timur Nusa Tenggara Timur, surga yang belum sepenuhnya terjamah modernitas.

Pantai-pantainya masih alami, lautnya sebening kristal, terumbu karangnya menari-nari dalam warna, dan masyarakatnya hidup dengan keramahan khas daerah timur.

Ketika kami tiba di Pantai Mali, mata kami disuguhi panorama pasir putih bersih yang berpadu dengan air laut biru toska.

Ombak kecil berkejaran di tepi pantai, sementara di kejauhan terlihat bayangan hijau perbukitan yang menambah kesan megah.

Tidak heran jika banyak orang mengatakan: “Jika belum sampai Alor, berarti belum merasakan surga dunia.”

Dan memang benar. Setiap jengkal tanah Alor menyimpan pesona.

Bukan hanya lautnya, tapi juga pegunungan, perkebunan, dan desa-desa yang masih menyimpan tradisi leluhur.

Musim Buah yang Menggoda

Kebetulan, perjalanan kami kali ini berlangsung saat musim mangga dan kelapa.

Pohon-pohon di sepanjang jalan tampak berbuah lebat.

Mangga yang ranum berwarna kuning keemasan jatuh bergantungan, mengundang untuk dipetik. Kelapa muda segar pun menjadi pelepas dahaga terbaik dalam cuaca hangat tropis.

“Wah, luar biasa,” kata salah satu anggota keluarga sambil menikmati segarnya kelapa muda yang baru saja dibelah. Tidak ada minuman modern yang mampu menandingi kesegaran alami itu.

Menjelajah Pantai Pulau Buaya

Sehari sebelumnya, kami sempat menikmati indahnya pantai di depan Pulau Buaya, sebuah lokasi wisata yang kini dimiliki oleh Bapak Kornelius Retika. Pantai itu begitu tenang, air lautnya sebening kaca hingga ikan-ikan kecil terlihat jelas berenang di bawah permukaan. Anak-anak berlarian di pasir, sementara orang dewasa bersantai menikmati hembusan angin laut.

Menikmati Kuliner Khas Alor

Tak lengkap rasanya menikmati perjalanan tanpa mencicipi makanan khas daerah. Alor kaya dengan sajian tradisional yang menggugah selera.

Kami disuguhi berbagai hidangan yang bukan hanya mengenyangkan, tetapi juga menyimpan cerita panjang warisan nenek moyang.

Ada kue rambut, dengan bentuknya yang unik menyerupai helaian halus, manis legit di lidah.

Kue cucur yang gurih dan harum, kue wajik dengan rasa manis ketan yang melekat, singkong goreng sederhana namun nikmat, hingga pisang goreng yang hangat renyah. Jangan lupakan lumpia Alor dengan isian khas, serta mie Alor yang menggoda selera. Semua itu berpuncak pada sajian utama: ikan bakar segar yang baru diambil dari laut. Rasanya sungguh luar biasa—lezat, murni, dan otentik.

Kuliner Alor bukan sekadar makanan, melainkan sebuah perayaan atas kesederhanaan hidup yang berpadu dengan kekayaan alam.

Jejak Keluarga di Kalabahi

Selain keindahan alam, perjalanan kali ini juga membawa kami menelusuri jejak sejarah keluarga. Saya berkesempatan mengunjungi rumah kakek saya, Ong King Tjao, yang merupakan salah satu pendiri kota Kalabahi. Rumah itu kini telah menjadi cagar budaya, simbol peran serta keluarga dalam pembangunan kota. Berdiri di depan rumah bersejarah itu, hati saya dipenuhi rasa syukur sekaligus haru.

Kami juga menyempatkan diri untuk mengunjungi makam nenek saya, yang kami panggil Putri Ina Lipu. Beliau bukan orang sembarangan—salah satu putri raja Alor yang dikenal dengan kecantikan dan keanggunannya. Berziarah ke makam beliau menjadi momen refleksi, mengingatkan kami pada akar dan identitas yang melekat kuat di tanah kelahiran ini.

Pesona Budaya dan Masyarakat

Selain panorama alam, Pulau Alor juga mempesona dengan budaya masyarakatnya. Tarian tradisional, musik sasando, dan tenun ikat khas Alor adalah warisan budaya yang tak ternilai harganya. Setiap helai kain tenun dibuat dengan tangan, penuh makna dan simbol yang menceritakan sejarah, status sosial, hingga doa yang terselip dalam motifnya.

Masyarakat Alor hidup dalam kebersahajaan, dengan nilai kekeluargaan yang kuat. Mereka menyambut tamu dengan senyum hangat, membuat setiap pengunjung merasa seperti pulang ke rumah sendiri.

Pulau yang Tak Terlupakan

Perjalanan ke Alor bukanlah sekadar liburan, melainkan sebuah pengalaman spiritual. Setiap sudutnya menyimpan kisah, setiap hembusan angin membawa kenangan, dan setiap langkah menegaskan rasa cinta pada tanah kelahiran.

Bagi saya pribadi, Alor bukan hanya indah karena laut, pantai, atau gunungnya. Ia indah karena menyimpan sejarah keluarga, akar kehidupan, dan identitas yang tak tergantikan. Dari rumah kakek yang kini menjadi cagar budaya, hingga makam nenek yang mulia, semuanya menegaskan bahwa Alor bukan sekadar tanah, melainkan tanah tumpah darah yang memberi arti sejati pada kata pulang.

Penutup

Pulau Alor adalah surga yang nyata. Keindahan alamnya begitu memikat, kulinernya menggoda, budayanya kaya, dan masyarakatnya ramah. Tak berlebihan jika saya mengatakan: “Jika belum sampai Alor, berarti belum merasakan surga dunia.”

Bersama keluarga, saya menyadari bahwa perjalanan ini bukan hanya tentang wisata, tetapi tentang merawat kenangan, menghormati leluhur, dan mensyukuri anugerah Tuhan. Di Alor, kami tidak hanya berlibur, tetapi juga kembali ke akar, kembali ke asal, dan kembali pada rasa cinta yang paling murni untuk tanah kelahiran.

Bolehkah Aku Makan Bersamamu?

Cerpen no 013

Oleh: Adharta
Ketua umum
KRIS

Akhir September 2025

IMalam di Marlowe’s
Malam Oktober di Chicago selalu menyimpan nuansa yang khas: udara dingin yang merayap, angin dari tepi Sungai Chicago yang menusuk, dan lampu-lampu kota yang berkilau seperti bintang yang jatuh ke bumi.

Malam itu, restoran Marlowe’s—ikon kuliner berbintang Michelin di tepi sungai—penuh dengan tamu istimewa. Para pengusaha, politisi, dan selebritas menikmati hidangan mahal yang ditata bagai lukisan.
Di salah satu sudut ruang, seorang pria paruh baya duduk sendiri. Wajahnya tenang, tatapannya dingin, rambutnya beruban dengan sisiran rapi. Dialah Richard Evans, nama besar dalam dunia properti.

Di balik jas Armani yang melekat di tubuhnya, ada aura kekuasaan yang membuat orang menunduk ketika ia lewat.
Namun di balik semua itu, Evans adalah pria yang memilih kesunyian di tengah keramaian.
Ia jarang tersenyum, apalagi tertawa.

Hidup baginya adalah tentang strategi, akuisisi, dan angka-angka.

Malam itu ia memesan dry-aged ribeye, daging pilihan yang telah diproses dengan kesabaran, sama seperti dirinya yang membangun imperium dengan disiplin dan keteguhan.

Saat pelayan meletakkan piring di hadapannya, suasana tenang itu tiba-tiba pecah oleh suara kecil yang asing di telinga semua orang.

Pertemuan yang Mengubah Segalanya

“Tuan… bolehkah saya makan bersamamu?”

Evans mendongak. Suaranya pelan, hampir tenggelam dalam denting gelas kristal di seluruh ruangan.
Di hadapannya berdiri seorang gadis kecil, kira-kira sebelas tahun.

Rambutnya kusut, wajahnya berdebu, dan kakinya telanjang. Gaunnya lusuh, terlalu besar bagi tubuh kurusnya.

Matanya meski redup oleh kelelahan
memancarkan cahaya yang sulit diabaikan
kejujuran seorang anak yang lapar.

Restoran mendadak hening. Para tamu menoleh dengan tatapan terkejut bercampur jijik. Seorang maître d’ segera melangkah hendak mengusirnya, namun Evans hanya mengangkat tangan.

“Siapa namamu?” tanyanya pelan, lipatan serbet masih tergenggam rapi di tangannya.

“Emily…”
jawab gadis itu gugup, matanya menunduk.
“Aku belum makan sejak Jumat.”

Kalimat itu menusuk udara seperti belati. Sebagian tamu menunduk, sebagian pura-pura tak mendengar.
Tapi Evans, yang selama ini dikenal tak pernah goyah, justru menatap gadis itu lama.

“Duduklah,” katanya akhirnya sambil menunjuk kursi kosong di depannya.

Emily menurut. Kakinya menggantung, tak menyentuh lantai.
Ia menatap steak mahal di meja dengan tatapan campur aduk penuh kerinduan, takut, tapi juga berharap.

Pelayan mendekat, menunggu instruksi. Evans hanya berkata singkat, “Bawakan steak saya untuknya. Dan segelas susu hangat.”

Steak Pertama

Ketika piring besar diletakkan di depannya, Emily menelan ludah. Tangannya gemetar saat memegang garpu.
Ia mulai makan perlahan, seolah setiap potongan bisa menghilang bila tidak segera ditelan.
Tak ada satu pun kata keluar dari bibirnya, hanya tatapan syukur yang dalam.

Evans menatapnya diam-diam.
Di balik wajah tenangnya, ingatan lama muncul ingatan yang selalu ia kubur dalam-dalam.
Ia pernah berada di posisi itu.
Ia pernah tidur di jalan, memungut kaleng demi uang receh, dan menghabiskan malam di bangunan kosong dengan perut kosong.

Ia tahu betul bagaimana rasa lapar bisa lebih keras daripada suara hati.

“Di mana keluargamu?” tanyanya setelah piring itu bersih.

Emily berhenti sejenak. Suaranya kecil, patah-patah.
Ia bercerita tentang ayah yang meninggal karena kecelakaan, ibu yang pergi dan tak pernah kembali, serta nenek yang baru saja berpulang. Kini ia benar-benar sendirian.

Ruangan itu kian sunyi.
Bahkan denting gelas pun seperti menahan diri.

Evans menghela napas panjang, menahan sesuatu yang menekan dadanya.
Ia tak pernah membiarkan orang lain melihat kelemahannya. Tapi gadis kecil ini menyentuh lapisan hatinya yang paling rapuh.

Tawaran Hidup Baru

Evans berdiri, mengeluarkan dompet.
Para tamu mengira ia akan memberi uang
sedekah yang lumrah.
Namun ia melakukan sesuatu yang jauh lebih tak terduga.

“Maukah kau pulang bersamaku?” tanyanya.

Emily terperangah. “Apa maksudmu?”
“Maksudku tempat tidur. Makanan yang layak.
Sekolah.
Hidup baru.
Tapi semua itu butuh usaha dan rasa hormat.
Tak ada lagi rasa lapar.”

Air mata menggenang di mata Emily.
Ia hanya mengangguk, takut bila suara keluar dari bibirnya, segalanya akan lenyap.

Malam itu, dunia kecil seorang anak tunawisma berubah selamanya.

Malam Pertama

Rumah Evans bukan sekadar rumah
melainkan istana kaca dengan pilar marmer dan taman luas. Namun bagi Emily, yang terbiasa tidur di bangku taman, semua itu terasa seperti mimpi.

Ketika ia masuk ke kamar tamu yang disiapkan, ia tertegun. Tempat tidur empuk, seprai wangi, lampu hangat. Tapi naluri bertahan hidup masih melekat.
Malam itu, Emily tetap tidur meringkuk di lantai, dan menimbun roti gulung di balik kausnya, takut kehilangan makanan lagi.
Ketika pengurus rumah tangga menemukan tumpukan biskuit di bawah bantalnya, Emily menangis histeris, merasa akan diusir.

Namun Evans berjongkok di sampingnya, menatapnya dengan lembut. “Kau tak perlu takut lagi.

Di sini, kau tidak akan kelaparan.”
Kalimat itu bagai selimut hangat yang membungkus hatinya.

Tumbuh Bersama Luka

Hari-hari berikutnya penuh perjuangan. Emily belajar tata krama, membaca, menulis, dan mengejar pelajaran yang tertinggal.
Evans menyediakan tutor terbaik, tapi ia juga menjadi guru dalam banyak hal. Hampir setiap malam, mereka berbicara di ruang tamu sambil menyeruput cokelat panas.

Emily bercerita tentang rasa sepi, Evans bercerita
sedikit demi sedikit—
tentang masa lalunya yang kelam.
Ia mengaku pernah menjadi anak jalanan, merasakan dinginnya malam tanpa selimut, dan menatap orang-orang yang pura-pura tidak melihatnya.

“Kau tahu, Emily,”
katanya suatu malam, “hidup bisa kejam.
Tapi jika kita bisa bertahan, ada kekuatan yang lahir dari luka itu.”

Kata-kata itu melekat di hati Emily. Ia belajar tidak hanya dari buku, tetapi dari keteguhan pria yang kini ia anggap sebagai ayah.

Panggung Wisuda

Tahun demi tahun berlalu. Emily tumbuh menjadi gadis cerdas dan penuh semangat.

Ia diterima di Columbia University, salah satu universitas terbaik di dunia.

Hari wisudanya menjadi hari penuh air mata. Evans duduk di barisan depan, jasnya rapi, tetapi matanya berkaca-kaca.
Emily berdiri di podium, toga biru tua melekat di tubuhnya, senyumnya bersinar.
Ia membuka pidatonya dengan kalimat yang membuat seluruh aula terdiam.

“Kisah saya dimulai dengan lima kata sederhana:

‘Bolehkah saya makan bersamamu?’”

Ia berhenti sejenak, menatap ke arah Evans.
“Seorang pria menjawab dengan kebaikan, dan hidup saya berubah selamanya.
Saya berdiri di sini bukan hanya karena kerja keras, tapi karena belas kasih yang ditawarkan pada saat saya paling membutuhkan.”

Tepuk tangan menggema. Banyak yang menangis. Evans menunduk, menyembunyikan air mata yang tak terbendung.

Warisan Kebaikan

Emily tidak memilih jalan mudah ke Wall Street, meski pintu terbuka lebar.

Sebaliknya, ia mendirikan yayasan:

Can I Eat With You?

Foundation dedikasi untuk anak-anak tunawisma.
Evans mendukung penuh, bahkan menyumbangkan sepertiga kekayaannya. Bersama-sama, mereka membangun rumah singgah, dapur umum, dan beasiswa.

Setiap anak yang lapar mendapat kesempatan, sebagaimana Emily dulu mendapatkannya.
Dan setiap tanggal 15 Oktober, mereka kembali ke Marlowe’s.

Bukan untuk makan mewah di dalam, melainkan memenuhi trotoar dengan meja-meja panjang. Makanan hangat tersaji, tangan terbuka menyambut, tanpa ada pertanyaan.

Karena kebaikan yang lahir dari satu meja kecil di malam Oktober itu, tak pernah benar-benar pergi.

Banyak tahun kemudian, ketika Evans sudah renta, ia sering duduk di beranda rumahnya sambil memandang senja.
Emily, yang kini menjadi pemimpin yayasan, selalu duduk di sampingnya.
“Terima kasih, Tuan Evans,” katanya suatu sore.
Evans tersenyum samar. “Jangan panggil aku Tuan. Kau anakku.”
Air mata Emily jatuh tanpa bisa ditahan.
Sebab ia tahu, cinta yang tumbuh dari satu pertanyaan sederhana telah menyelamatkan dua jiwa: seorang anak yang kelaparan… dan seorang pria yang hampir kehilangan rasa kemanusiaannya.

Dan bagi mereka berdua, jawaban malam itu akan selalu abadi.

Kisah nyata ini di tulis ulang oleh Adharta
Srbagai penghotmatan buat
Ms Emily

🌿 “Di Ujung Hujan, Ada Pelangi”

Cerpen no 012

Oleh : Adharta
Ketua umum
KRIS

Akhir September 2025

Musim hujan Jakarta

Malam itu hujan jatuh dengan deras di sebuah desa kecil di lereng gunung Dieng.
Atap rumah-rumah tua berderak menahan derasnya air.

Dari jendela sebuah rumah kayu, seorang gadis bernama Anjani menatap keluar.
Usianya baru tujuh belas, matanya jernih, seolah menyimpan langit yang tak pernah bisa dimiliki siapa pun.
Ia tinggal bersama ibunya, Saras, seorang perempuan sederhana yang menjual sayur di pasar
Ayah Anjani sudah lama tiada, meninggalkan mereka dengan kenangan dan kesunyian.
Meskipun hidup dalam kesederhanaan, Anjani memiliki dunia rahasia
ia bisa berbicara dengan bunga-bunga liar di kebun belakang rumahnya. Setiap kali hatinya resah, bunga mawar kuning akan berbisik lembut, “Jangan takut, hujan hanyalah cara langit mencuci luka bumi.”
Dan bunga melati akan menenangkan, “Kesedihanmu akan menjadi harum, suatu hari nanti.”

Rahasia itu membuat Anjani sering dipandang aneh oleh teman-teman sebaya.
Tapi ada satu orang yang selalu mempercayainya, seorang pemuda desa bernama Raka.

Pertemuan yang Mengikat Hati
Raka adalah anak dari keluarga petani kopi.
Usianya lebih tua tiga tahun dari Anjani, wajahnya teduh dengan senyum yang selalu hangat. Mereka bertemu pertama kali ketika Anjani menolong adik Raka yang jatuh di jalan desa. Sejak itu, kedekatan tumbuh perlahan, bagai benih yang disiram hujan lembut.
“Kenapa kamu sering berbicara sendiri di kebun?” tanya Raka suatu sore, saat matahari mulai turun di balik perbukitan.
Anjani tersenyum malu. “Aku tidak bicara sendiri. Aku bicara dengan bunga-bunga.

Mereka mengerti perasaanku.”
Alih-alih menertawakan, Raka justru menatapnya penuh rasa ingin tahu.
“Kalau begitu, suatu hari kenalkan aku pada bunga-bunga itu. Biar aku juga bisa belajar mendengarkan.”

Bagi Anjani, itu adalah momen paling indah. Pertama kali ada seseorang yang tidak menganggapnya gila.
Bayangan Gelap
Namun hidup tidak selalu ramah.

Saras, ibu Anjani, mulai sakit-sakitan. Batuknya tak kunjung reda, tubuhnya makin kurus. Ia tetap memaksa berjualan sayur di pasar, menolak anaknya berhenti sekolah.

Suatu malam, ketika hujan turun deras, Saras memanggil Anjani.
“Nak, jangan takut pada hidup. Kalau Ibu tidak ada, kamu harus tetap kuat.
Kamu punya hatimu sendiri, itu cahaya yang akan membimbingmu.”

Anjani menangis, menggenggam tangan ibunya. “Ibu jangan bicara begitu. Aku tidak bisa sendiri.”
“Tidak ada yang benar-benar sendiri, Nak. Bahkan bunga pun punya angin dan hujan yang menemani mereka tumbuh.”

Keesokan harinya, Saras jatuh pingsan di pasar.
Dunia Anjani runtuh.
Harapan yang Pudar
Raka selalu ada, menemani Anjani melewati hari-hari kelabu. Ia membantu biaya berobat Saras, meski keluarganya sendiri tak kaya. Hubungan mereka semakin erat, tapi di balik itu muncul penolakan.

Ayah Raka menentang keras kedekatan mereka. “Keluarga kita sudah susah, jangan tambah susah dengan menikahi gadis yang ibunya sekarat.

Apa jadinya nanti? Kau butuh istri yang bisa menopang, bukan beban.”

Raka terdiam, hatinya terbelah. Tapi di depan Anjani, ia tetap teguh.
“Aku tidak akan meninggalkanmu.”
Anjani tahu, kata-kata itu tulus.
Namun ia juga tahu, kehidupan nyata tak semudah janji.

Fantasi yang Menyelamatkan
Suatu malam, Anjani kembali berbicara dengan bunga-bunga. “Aku takut kehilangan segalanya.
Aku takut dunia ini tidak menyisakan apa pun untukku.”
Mawar kuning menjawab, “Setiap kehilangan adalah pintu menuju pertemuan baru.”

Tiba-tiba, cahaya lembut menyelimuti kebun.
Dari kelopak bunga bermekaran, muncullah sosok perempuan bercahaya, gaunnya terbuat dari daun-daun yang berkilau basah oleh embun.

“Aku adalah Penjaga Kebun Kenangan,” katanya dengan suara selembut desir angin. “Hatimu yang murni membuatku bisa hadir.

Jangan takut, Anjani. Bahkan jika dunia mengambil yang kau cintai, selalu ada ruang di dalam dirimu untuk menumbuhkan cinta kembali.”

Air mata Anjani mengalir.
Ia merasa hangat untuk pertama kalinya sejak ibunya sakit.
Perpisahan yang Mengajarkan Cinta
Beberapa minggu kemudian, Saras meninggal dunia. Anjani merasa separuh dirinya ikut terkubur.

Pada malam kepergian ibunya, ia kembali ke kebun. Bunga-bunga berbisik serentak, seperti paduan suara yang indah namun menyayat

“Air mata adalah hujan, dan hujan menumbuhkan kehidupan baru.”

Raka berdiri di sampingnya, menggenggam erat tangannya. “Aku di sini. Aku tidak akan pergi.”
Namun kenyataan kembali mengepung.

Ayah Raka semakin keras menentang.

Raka akhirnya dihadapkan pada pilihan: keluarga atau cinta.
Dan pada suatu sore, di tepi sungai, Raka menatap Anjani dengan mata berkaca.
“Aku ingin tetap bersamamu. Tapi ayahku… aku tidak bisa melawan dia selamanya.”

Anjani tersenyum lirih, meski hatinya hancur.
“Jangan khawatir, Raka. Aku tidak marah. Cinta itu bukan hanya memiliki. Kadang, cinta berarti melepaskan.”

Kesepian yang Menumbuhkan Harapan

Hari-hari berikutnya, Anjani hidup sendiri. Rumahnya sepi, tapi kebun bunganya selalu hidup.
Kadang ia merasa Saras hadir dalam harum melati, atau Raka bernafas dalam segarnya angin sore.
Ia mulai menulis, menuangkan percakapannya dengan bunga-bunga dalam bentuk cerita.

Setiap kata adalah obat bagi luka hatinya. Cerpen-cerpen itu kemudian ia titipkan pada seorang guru, yang diam-diam mengirimkannya ke sebuah majalah sastra.

Beberapa bulan kemudian, karyanya dimuat.

Ia mendapat surat dari seorang editor di Jakarta, menawarkan kesempatan untuk menulis lebih banyak.
Untuk pertama kali, Anjani merasakan jalan baru terbuka. Meski sendirian, ia tahu ibunya pasti tersenyum dari langit.

Akhir yang Pahit namun Indah

Bertahun-tahun berlalu.
Anjani tumbuh menjadi penulis muda yang dikenal karena kisah-kisahnya yang sarat air mata dan keajaiban kecil.

Dalam setiap tulisannya, selalu ada tokoh bunga, selalu ada hujan, dan selalu ada cinta yang meski berakhir sedih, tetap menumbuhkan harapan.

Raka? Ia menikah dengan gadis pilihan keluarganya. Tapi di dalam hatinya, ada ruang kecil yang tak pernah hilang untuk Anjani.

Pada suatu sore, ketika Anjani menatap matahari tenggelam di kebunnya, ia berbisik pada bunga mawar kuning:
“Apakah aku bahagia?”

Mawar itu menjawab lembut,
“Bahagia tidak selalu berarti memiliki segalanya.

Bahagia adalah ketika kau masih bisa mencintai, meski dari jauh, meski dalam kenangan.”

Anjani menutup matanya, membiarkan air mata jatuh.
Tapi di balik air mata itu, ada senyum.
Ia tahu, meski kisah cintanya tak berakhir seperti dongeng, hidupnya tetap dipenuhi cahaya.
Karena setiap hujan, pada akhirnya, selalu menyisakan pelangi.

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

GREY DIVORCE (Perceraian Abu-Abu) seri pertama

Seri Pertama

Cerpen No. 011

Oleh : Adharta
Ketua Umum KRIS

Awal Cinta
Ketinggian 41.000 kaki,
di atas langit Pulau Bangka, kabin Batik Air terasa tenang. Dari balik jendela kecil, George memandang hamparan awan putih bagai kapas, seakan menjadi saksi perjalanan hidupnya yang panjang.

Di kursi sebelahnya, Rani duduk diam, menatap majalah penerbangan tanpa sungguh-sungguh membacanya.
Mereka sudah bersama lebih dari lima dekade. George kini berusia 80 tahun, Rani 78 tahun.
Banyak orang menyangka, di usia senja seperti itu, cinta mereka pasti sudah matang, kokoh, dan tak tergoyahkan.

Namun kenyataannya, badai besar justru datang di penghujung jalan, ketika tenaga melemah dan kesabaran menipis.
Padahal dulu, cinta mereka tumbuh dengan begitu indah.

George masih ingat hari itu, di sebuah pesta perkawinan keluarga besar di Jakarta tahun 1969.
Musik keroncong mengalun lembut, lampu-lampu bohlam menggantung di halaman rumah besar yang dipenuhi tamu.
Di sanalah matanya pertama kali bertemu dengan Rani
gadis muda berusia 22 tahun, berambut hitam panjang, berkebaya biru muda.

Percakapan pertama mereka sederhana, sekadar basa-basi tentang makanan dan suasana pesta.
Tapi entah bagaimana, obrolan itu berlanjut hingga ke hobi memancing ikan.

George terkejut sekaligus gembira mengetahui bahwa Rani pun suka duduk berjam-jam di pinggir teluk hanya untuk menunggu kail disentuh ikan.
“Kalau begitu, kita harus coba mancing bareng suatu hari nanti,” kata George sambil tersenyum.

Rani menunduk, tersipu, tapi bibirnya ikut tersenyum. “Boleh. Tapi saya tidak suka ikan bakar, ya.
Lebih enak kalau di-steam.”
Dari janji sederhana itulah, perjalanan panjang mereka bermula.

Beberapa minggu kemudian, mereka bertemu di Teluk Naga.
George membawa perlengkapan memancingnya, sementara Rani datang ditemani adiknya.
Hari itu mereka mendapat cukup banyak ikan, mulai dari Gurame hingga bawal putih.

Seusai memancing, George membakar ikan hasil tangkapan, sementara Rani menyiapkan bumbu untuk mengukus sebagian lainnya.
Makan bersama di pinggir pantai, dengan tangan masih belepotan arang, justru membuat mereka semakin akrab.
Dari situlah muncul rasa nyaman, rasa saling mengisi.

Sebuah Cinta yang Diuji

Beberapa bulan kemudian, mereka memberanikan diri untuk berlayar ke Pulau Karang Beras, berdekatan dengan Pulau Pramuka dan Pulau Panjang.

Mereka naik perahu bermesin kecil berisi enam orang, berniat menginap dua malam sambil memancing di laut.
Namun alam berkata lain. Ombak besar datang, cuaca memburuk, dan perahu kecil itu terombang-ambing lebih dari enam jam.

Air hujan bercampur air laut membasahi tubuh mereka. Rani menggigil, wajahnya pucat, tubuhnya lemah.
Sesampainya di darat, ia langsung jatuh sakit.
Demam tinggi menyerangnya hingga harus dirawat di Rumah Sakit Sumber Waras.

George, yang kala itu masih muda dan penuh semangat, tak pernah meninggalkan sisinya.
Ia menjaga Rani siang malam, menyuapi, mengganti kompres, hingga lupa pada pekerjaannya sendiri.
Tujuh hari lamanya George berada di sana, dan dalam tujuh hari itulah cinta mereka benar-benar berakar kuat.

Ketika Rani sembuh, mereka sama-sama tahu mereka tidak ingin berpisah lagi.
Orang tua mereka akhirnya merestui. Pernikahan sederhana digelar, disaksikan keluarga dan sahabat.
Senyum Rani di hari itu adalah senyum paling indah yang pernah George lihat.

Keluarga yang Bertumbuh
Pernikahan itu membuahkan empat anak
tiga perempuan dan satu laki-laki.
Kehidupan mereka penuh warna.
Ada masa sulit ketika ekonomi menurun, ada masa bahagia saat usaha George berkembang.

Rani, meski sibuk mengurus anak-anak, tetap setia mendampingi.
George sering mengajak anak-anaknya ikut memancing. Mereka tertawa bersama di tepi laut, berlarian di pasir putih, berfoto dengan ikan hasil tangkapan.
Rani yang biasanya cerewet soal kebersihan, kali itu pun ikut lepas, tertawa bersama anak-anaknya.
Ketika anak-anak mulai beranjak dewasa, rumah mereka ramai oleh suara musik, tawa remaja, bahkan tangis pertama cucu.

Waktu berjalan cepat. Tahu-tahu mereka sudah memiliki tujuh cucu, semuanya perempuan.
Rumah itu kembali riuh oleh tawa kecil, boneka berserakan, dan celoteh polos yang membuat George dan Rani kembali merasa muda.

“Aneh ya, kita punya empat anak, tapi semua cucu kita perempuan,” ujar Rani suatu sore sambil memangku cucu bungsunya.
George tertawa, menimang cucu yang lain. “Mungkin Tuhan ingin kita dikelilingi oleh bidadari kecil.”

Mereka bahagia. Hidup terasa lengkap.
Namun kebahagiaan itu perlahan mulai terkikis oleh usia.

Bersambung ke seri kedua

GREY DIVORCE (Perceraian Abu-Abu) seri ke dua

Cerpen No. 011

Oleh : Adharta
Ketua Umum KRIS

Seri kedua

Masa Senja yang Retak

Hari-hari setelah cucu-cucu lahir sebenarnya terasa indah bagi George dan Rani. Namun, seiring usia mereka menua, perbedaan yang dulu bisa ditoleransi perlahan menjadi jurang yang sulit dijembatani.

George yang dulu gagah dan penuh semangat kini lebih banyak diam.
Ia sering duduk di teras rumah, menatap langit sore, mengenang masa lalu.
Tangannya gemetar setiap kali memegang cangkir teh, matanya tak setajam dulu.
Tapi semangatnya terhadap laut, memancing, dan dunia luar tetap menyala.

Sebaliknya, Rani semakin cerewet, semakin sensitif. Baginya, ketenangan rumah tangga di usia tua hanya bisa terwujud jika segala sesuatu tertata rapi
cucu jangan terlalu berisik, makanan harus sesuai jadwal, obat diminum tepat waktu, tamu harus diberitahu lebih dahulu.

George merasa Rani menjadi terlalu kaku.
Sedangkan Rani merasa George semakin keras kepala.

“Papa ini kenapa sih, selalu saja ke laut.
Apa tidak sadar umur sudah 80 tahun?” kata Rani suatu pagi.
George hanya tersenyum tipis. “Kalau aku berhenti ke laut, aku berhenti bernapas, Rani.”

Kalimat itu membuat hati Rani panas. Baginya, ucapan George itu egois.
Bukankah sekarang mereka harus lebih banyak bersama cucu, bukan lagi bermain-main dengan ombak?

Luka yang Tak Pernah Sembuh

Sejujurnya, ada luka lama yang tak pernah benar-benar hilang di hati Rani.
Tahun 1990-an, saat usaha George sedang naik, ia sempat jarang pulang. Ada desas-desus bahwa George dekat dengan seorang sekretaris muda di kantornya.
Rani tak pernah bisa membuktikan, tapi firasat seorang istri tak pernah salah.

Suatu malam, saat George pulang larut dengan bau parfum asing menempel di bajunya, Rani menangis tanpa suara di kamarnya.
Ia tetap bertahan demi anak-anak.
Ia tetap tersenyum di depan keluarga besar.
Tapi jauh di lubuk hati, ada bagian yang patah.
George sebenarnya tahu. Tapi ia tak pernah berani mengaku, tak pernah berani meminta maaf dengan sungguh-sungguh

Ia hanya menebus kesalahannya dengan bekerja lebih keras, membiayai sekolah anak-anak sampai sukses.
Dan kini, ketika usia sudah senja, luka itu kadang muncul kembali.
Setiap kali George keras kepala, setiap kali ia membantah, bayangan masa lalu itu menusuk lagi.

Anak-Anak yang Terpecah
Keempat anak mereka kini sudah dewasa, dengan keluarga masing-masing.
Tiga perempuan cenderung lebih dekat dengan Rani.
Mereka sering mengatakan, “Mama sudah berkorban banyak, Papa seharusnya mengalah.”

Sedangkan satu-satunya anak laki-laki, Adrian, justru membela George.
“Papa butuh ruang.
Kalau Papa masih mau mancing, biarkan. Itu yang bikin dia bahagia.”

Perbedaan pandangan anak-anak itu membuat suasana keluarga sering tegang. Setiap kali ada acara kumpul, percakapan bisa berakhir dengan debat
terselubung.

“Papa itu keras kepala, Ma.
Tapi aku ngerti, dia nggak bisa hidup tanpa laut,” kata Adrian suatu malam.
Rani hanya menghela napas. “Kamu masih muda, kamu tidak mengerti rasanya ditinggalkan.”

Cinta dan Benci

Di usia 78 tahun, Rani merasa cintanya pada George bercampur dengan kebencian.
Ia mencintai lelaki itu karena kenangan panjang: saat mereka berlayar bersama, saat George menjaganya di rumah sakit, saat mereka tertawa melihat cucu pertama lahir. Tapi ia juga membencinya karena sikap dingin, karena masa lalu yang tak pernah benar-benar jujur.

George pun merasakan hal serupa. Ia mencintai Rani karena kesetiaannya, karena tawa dan perhatiannya.
Tapi ia juga merasa Rani terlalu mengekang, terlalu sering menuntut.
Mereka tidur di ranjang yang sama, tapi sering memunggungi satu sama lain.
“Rani, apa kamu masih mencintaiku?” tanya George suatu malam, suaranya parau.
Rani terdiam lama.
Air matanya jatuh pelan.

“Entahlah, George. Aku mencintai kenangan kita, tapi aku lelah denganmu sekarang.”
Kalimat itu menusuk hati George. Ia sadar, rumah tangganya berada di tepi jurang.

Keputusan yang Sulit
Pada suatu sore, ketika matahari mulai tenggelam di balik jendela rumah mereka, Rani mengajak George bicara serius.
“George, aku ingin kita bercerai.”
George tertegun. Kata-kata itu bagai petir di usia senja.
“Bercerai? Di umur segini? Untuk apa, Rani?”
Rani menatapnya dengan mata berkaca. “Aku ingin tenang. Aku ingin sisa hidupku tidak lagi dipenuhi pertengkaran. Aku ingin bebas dari rasa sakit yang kamu tinggalkan.”
George merasakan dadanya sesak. Ia ingin berteriak, ingin menolak. Tapi ia tahu, mungkin Rani sudah terlalu lama memendam.
Perceraian di usia muda sering disebabkan perselingkuhan, ekonomi, atau ketidakcocokan. Tapi perceraian di usia tua grey divorce
lebih menyakitkan, karena yang bercerai bukan hanya dua orang, tapi juga kenangan puluhan tahun, keluarga besar, dan sejarah panjang.

Perlawanan Anak-Anak
Kabar itu mengguncang keluarga. Anak-anak kaget, cucu-cucu bingung.
“Tapi Mama, Papa sudah 80 tahun. Untuk apa bercerai sekarang?” tanya putri sulung mereka, Maya.
Rani menjawab tenang, “Untuk kebebasan yang selama ini tidak kumiliki.”
Adrian membela ayahnya. “Mama kejam. Papa sudah berusaha. Papa mencintai Mama dengan caranya.”
Perdebatan panjang pun terjadi. Rumah yang dulu penuh tawa cucu kini berubah jadi arena perselisihan.

Kesepian
Setelah proses hukum berjalan, George pindah ke rumah kecil dekat pantai di Ancol. Ia kembali memancing, meski tubuhnya sudah renta. Kadang ia duduk sendiri berjam-jam menatap ombak, mencoba berdamai dengan kesepian.
Rani tinggal di rumah lama bersama salah satu anak perempuannya. Rumah itu terasa lebih sunyi tanpa suara George, tapi Rani merasa lebih tenang.
Namun, pada malam-malam tertentu, ia diam-diam menangis.
Ia merindukan suara batuk George, cara George tertidur dengan mulut sedikit terbuka, bahkan kebiasaan menyebalkan George yang suka meninggalkan cangkir teh di meja.

Pertemuan Terakhir
Tiga tahun setelah perceraian itu, kesehatan George menurun drastis. Ia terkena stroke ringan, tubuhnya melemah.
Rani datang menjenguk.
Ketika matanya bertemu dengan mata George, waktu seakan berhenti.
“Aku tidak pernah berhenti mencintaimu, Rani,” bisik George dengan suara hampir tak terdengar.
Rani menggenggam tangannya, air mata mengalir deras. “Dan aku tidak pernah bisa benar-benar membencimu.”
Beberapa minggu kemudian, George menghembuskan napas terakhir di rumah sakit, ditemani anak-anaknya. Rani duduk di samping ranjang, menggenggam tangan yang dulu pernah begitu kuat.

Perceraian mereka memang nyata, sah secara hukum. Tapi cinta yang mereka bagi selama lima dekade tak pernah bisa benar-benar diputus.
Kadang, cinta dan benci hanya dua sisi dari koin yang sama. Dan ketika seseorang pergi untuk selamanya, yang tersisa hanyalah cinta, meski telah dilukai berkali-kali.

Rani menaburkan bunga di makam George dengan tangan bergetar.
“Selamat jalan, George. Terima kasih untuk cinta dan luka yang sama-sama kau beri. Tanpamu, aku bukanlah aku yang sekarang.”
Ia tahu, cinta mereka mungkin rapuh, mungkin penuh retakan, tapi tetap abadi di hatinya.
Dan kelak kita akan menyambung kembali cinta kita di kehidupan mendatang tanpa perceraian yang karena alasan yang tidak jelas

Selembar kertas

Cerpen 010

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

KISAH PERJUANGAN ROBERT

Singapura
Medio September 2025

Anak Desa Trucuk

Di sebuah desa kecil bernama Trucuk, Jawa Tengah, kehidupan berjalan sederhana.
Sawah membentang luas, sungai mengalir tenang, dan suara ayam jantan menjadi penanda pagi.

Di desa itulah,
pada suatu malam yang penuh doa dan tangis, seorang bayi mungil lahir. Namanya Robert.
Tangisan pertamanya membawa duka.

Ibunya, Maryani, meninggal dunia saat melahirkannya. Sang ayah, Paijo, seorang kuli angkut tanah sekaligus petani kecil, menatap bayi itu dengan hati hancur.

Sejak awal,
hidup Robert adalah perjuangan, sebuah perjalanan panjang yang ditakdirkan penuh luka, tetapi juga penuh cahaya.

Masa Kecil yang Penuh Kekurangan.
Robert tumbuh sebagai anak yang tampan, dengan mata jernih yang selalu menyimpan rasa ingin tahu. Namun, kemiskinan membuatnya berbeda dari anak-anak lain.

Ia tidak pernah merasakan duduk di bangku sekolah dasar. Uang sekolah adalah sesuatu yang mustahil bagi Paijo.
Meski dilahirkan sebagai seorang Katolik, Robert belajar membaca justru dari teman-temannya yang mengaji di langgar desa.

Dari huruf-huruf Arab yang ia kenali, ia mulai meraba huruf Latin, hingga perlahan mampu mengeja kata-kata.

Pada usia 9 tahun, ia sudah membantu tetangga berjualan makanan di warung.

Teman-temannya sudah memakai seragam sekolah, tetapi Robert hanya duduk di pinggir kelas, ikut mendengarkan dari luar jendela. Kadang ia menyalin catatan di tanah dengan ranting kering. Ajaibnya, meski tak sekolah, otaknya begitu tajam.

Anak-anak sebaya yang bersekolah sering malah diajari olehnya.
Di saat anak lain sibuk bermain, Robert mengumpulkan buku bekas, kapur yang sudah patah, dan papan tulis lusuh.

Dengan itu semua, ia mulai mengajar anak-anak desa yang tak mampu sekolah.

Jumlah muridnya bertambah hingga lebih dari 40 orang. Mereka belajar menulis di sabak (papan tulis kecil dari batu hitam) dan berhitung dengan biji-bijian.
Di usia 11 tahun, Robert sudah dikenal sebagai “guru kecil”.

Anak-anak desa memanggilnya “Mas Robert”, dan mereka percaya padanya.

Dari keterbatasan, ia menyalakan api pendidikan.
Kehilangan yang Membentuk Jiwa

Ketika Robert berusia 13 tahun, cobaan besar datang. Paijo, satu-satunya orang tua yang ia punya, meninggal dunia karena TBC.

Robert menjadi anak yatim piatu.
benar-benar sebatang kara.
Di saat itulah, seorang tabib Tionghoa tua bernama Om Bing menaruh perhatian padanya.

Om Bing adalah seorang singshe yang mengobati orang tanpa bayaran.

Robert sering membantu mengambil ramuan dari hutan, menumbuk daun, hingga meracik obat.

Dari sinilah ia belajar bahasa Mandarin dan pengetahuan tentang pengobatan tradisional.

Dalam waktu tiga tahun, Robert tidak hanya fasih berbahasa Mandarin, tetapi juga memahami berbagai ramuan herbal.

Ketika Om Bing yang sudah berusia 80 tahun semakin lemah, Robert perlahan mengambil alih tugasnya. Namun, desa Trucuk tidak pernah lepas dari penderitaan.
Gempa bumi menghancurkan sawah, kelaparan merenggut nyawa, dan anak-anak desa makin banyak yang tidak bersekolah.

Cahaya dari Lomba MTQ

Robert tumbuh menjadi remaja yang unik. Ia Katolik, tetapi fasih membaca Al-Qur’an.

Ia sering diajak berdiskusi oleh guru-guru ngaji, bahkan mereka kagum pada kefasihannya berbahasa Arab.

Suatu hari, gurunya mengajak Robert ikut lomba MTQ tingkat kabupaten.
Tak ada yang menyangka, Robert yang bahkan tak punya ijazah SD, mampu meraih juara dua.

Namanya mulai diperbincangkan.
Namun jalan ke pendidikan formal tetap buntu.

Tanpa ijazah, sulit baginya masuk SMP atau SMA.
Hingga suatu ketika, seorang pastor dari Yogyakarta mendengar kisahnya.
Pastor itu melihat bakat Robert dalam musik dan paduan suara. Ia lalu membawanya ke Yogya dan memperjuangkan agar Robert bisa masuk sekolah Katolik, meski tanpa ijazah.

Robert diterima. Bakatnya meledak. Ia bukan hanya siswa yang rajin, tetapi jenius yang haus ilmu.

Kejeniusan yang Tak Terbendung
Di SMA Katolik Yogyakarta, Robert tampil luar biasa.
Ia belajar dengan cepat, jauh melampaui teman-temannya. Bahkan di kelas 3, ia ikut lomba Cerdas Cermat TVRI bersama dua temannya, Antonius dan Martinus. Mereka keluar sebagai juara pertama, mengalahkan sekolah-sekolah unggulan.
Setelah SMA, Robert bekerja di industri rekaman. Suaranya merdu, ia piawai menyanyi, dan perlahan menarik perhatian pemilik perusahaan.
Tanpa ijazah, sulit baginya melangkah, tetapi karena kehebatannya, ia akhirnya disekolahkan di sekolah musik.
Robert menyelesaikan pendidikan musik dengan gemilang. Ia lalu menjadi guru musik, instruktur paduan suara, bahkan dipercaya melatih musik di lingkungan TNI.

Tentara tanpa Ijazah
Kemampuan Robert membuatnya dilirik TNI.
Ia masuk dengan pangkat rendah, tetapi segera mencuri perhatian.

Ia tidak hanya mengajar musik, tetapi juga ikut membantu tim medis, memanfaatkan pengetahuannya tentang herbal.

Para dokter kagum padanya.
Robert melatih prajurit dalam strategi, pengobatan, hingga seni musik.

Banyak anak didiknya yang kemudian menjadi perwira. Bahkan namanya diusulkan untuk mendapat bintang penghargaan.

Namun tembok itu kembali menghadang. Ijazah.

Karena tak punya ijazah resmi, Robert tak bisa naik pangkat, tak bisa diakui setara dengan perwira. Akhirnya, dengan berat hati, ia meninggalkan dunia militer.

Kembali ke Desa
Robert kembali ke desa. Di sana ia mengajar di SMA sebagai guru musik, meski tanpa ijazah.

Ia juga membuka praktik sebagai tabib, meneruskan ilmu dari Om Bing.
Meski sudah berusia 30 tahun, Robert masih single.

Banyak gadis mengaguminya. Wajahnya tampan, kepandaiannya luar biasa, tetapi Robert merasa tak pantas menikah. Hidupnya adalah untuk mengabdi.
Ia mendirikan sekolah bahasa Mandarin, mengajar anak-anak mengaji, dan membangun pusat belajar kecil-kecilan di desanya.

Bagi Robert, agama adalah jalan menuju Tuhan, tetapi pendidikan adalah jalan menuju peradaban.

Cinta yang Datang Terlambat
Di usia 40 tahun, Robert jatuh sakit.
TBC, penyakit yang dulu merenggut nyawa ayahnya, kini menyerangnya. Dua bulan lamanya ia dirawat di rumah sakit Yogyakarta.

Di sanalah ia bertemu dengan Maria, seorang suster perawat.
Maria merawatnya dengan penuh kasih. Dari tatapan mata, percakapan sederhana, hingga doa-doa malam, tumbuhlah cinta.

Setelah Robert sembuh, mereka memutuskan menikah.
Hidup berumah tangga membawa kebahagiaan baru.
Meski tak dikaruniai anak kandung, Robert dan Maria mengangkat sepasang anak yatim, Agnes dan Rama.

Mereka hidup sebagai keluarga Katolik sederhana, penuh cinta, dan pengabdian.
Akhir kehidupan
Perjalanan
Robert terus mengajar hingga usia senja.

Ia tetap tabib, tetap guru, tetap penyanyi, tetap pengajar bahasa. Di usia 50-an, namanya masih dikenang banyak orang.

Murid-muridnya telah menjadi guru, dokter, perwira, dan pemimpin di berbagai tempat.
Namun di hati kecilnya, Robert masih menyimpan satu kerinduan: memiliki ijazah.

Bagi banyak orang, selembar kertas hanyalah formalitas.
Tapi bagi Robert, ijazah adalah simbol bahwa perjuangannya diakui.

Sayangnya, mimpi itu tak pernah tercapai. Hingga rambutnya memutih, Robert tetap tanpa ijazah. Tetapi, apakah artinya sebuah kertas jika hidupnya sudah menjadi ijazah abadi bagi banyak orang?
Robert telah membuktikan bahwa ilmu tidak mengenal tembok, pendidikan tidak mengenal status, dan kasih tidak mengenal batas. Dari desa kecil Trucuk, seorang anak tanpa ibu, tanpa sekolah, tanpa ijazah, menjelma menjadi guru sejati kehidupan.

Warisan Abadi
Ketika Robert menutup mata di usia senja, desa Trucuk berduka. Ratusan orang mengiringi jenazahnya, dari anak kecil hingga orang tua.

Mereka semua punya kisah tentang Robert.
“Kalau bukan karena Robert, saya tak bisa baca tulis.”
“Kalau bukan karena Robert, saya tak jadi guru.”
“Kalau bukan karena Robert, saya tak bisa jadi dokter.”
Di batu nisannya hanya tertulis sederhana:
Robert – Anak Desa, Guru Kehidupan.

Dan itulah warisan terbesarnya. Bukan ijazah, bukan pangkat, bukan kekayaan. Tetapi ilmu, cinta, dan pengabdian yang abadi.

http://www.kris.or.id
http://www.adharta.com

Doa Dalam Kepasrahan

Oleh : Adharta
Ketua umum
KRIS

Singapura
Kamis
18 september 2025

Sahabatku terkasih
Aku menerima kiriman doa dari sahabatku yang bisa kita dengar bersama. Doa-doa yang paling didengar oleh Tuhan. Hidup manusia penuh dengan suka dan duka, tawa dan tangis, bahagia dan derita. Dalam setiap perjalanan hidup, manusia selalu membutuhkan tempat untuk bersandar. Dan ketika dunia terasa sunyi, ketika pertolongan manusia lain terasa terbatas, hanya kepada Tuhan kita mengangkat tangan, memohon dengan kerendahan hati. Doa adalah jembatan kita menuju kasih-Nya yang tak terbatas. Namun, tahukah kita bahwa ada doa-doa tertentu yang memiliki kekuatan luar biasa, doa yang dijanjikan untuk langsung didengar oleh Tuhan Yang Maha Kuasa

Berikut adalah lima doa yang begitu istimewa, yang mampu mengetuk pintu surga dengan lebih kuat, karena lahir dari hati yang benar-benar tulus, penuh kesungguhan, dan kesakitan hidup yang nyata.

  • Pertama : Doa Orang yang Lapar
    Lapar bukan sekadar rasa perut kosong. Lapar adalah penderitaan batin, terutama ketika seseorang benar-benar tidak punya apa-apa untuk dimakan. Orang yang lapar, dengan tubuh lemah, hanya bisa berharap pada kemurahan Tuhan. Itulah sebabnya doa orang lapar didengar begitu cepat oleh Sang Pencipta. Orang yang berpuasa pun mengalaminya. Saat perut kosong, hati menjadi lebih jernih. Ketika rasa lapar menusuk, kita mengingat penderitaan mereka yang tidak beruntung. Maka doa dalam keadaan berpuasa menjadi lebih dalam, lebih sungguh-sungguh. Itulah mengapa dianjurkan berdoa di tengah atau menjelang berbuka puasa. Saat itu, doa seakan meluncur lurus ke hadapan Tuhan, penuh kesederhanaan, penuh pengharapan.
  • Kedua : Doa Orang yang Hilang Kebebasan
    Kebebasan adalah anugerah terbesar yang sering kali baru kita sadari ketika hilang. Orang yang dipenjara, orang yang tertindas, orang yang disiksa tanpa mampu melawan, mereka memandang langit tanpa kuasa berjalan di bawahnya. Namun, dari balik jeruji besi atau dalam gelapnya ruang penyiksaan, doa mereka melambung tinggi. Tangisan batin orang-orang terpenjara, yang tak mampu meminta tolong kepada manusia, langsung sampai kepada Tuhan. Karena siapa lagi yang bisa mereka andalkan selain Dia yang Maha Kuasa. Maka ketika kita mengunjungi orang yang dipenjara, atau menyapa mereka yang kehilangan kebebasan, jangan lupa minta doa mereka. Sebab doa yang lahir dari hati yang hancur, dari jiwa yang hanya bertumpu pada Tuhan, memiliki kekuatan luar biasa.
  • Ketiga : Doa Orang Miskin dan Menderita
    Kemiskinan seringkali membuat manusia dipandang rendah oleh sesamanya. Namun di mata Tuhan, orang miskin adalah sahabat-Nya yang terdekat. Empunya kerajaan sorga Doa mereka, yang lahir dari perut kosong, rumah yang reyot, dan harapan yang nyaris padam, justru menjadi doa yang paling jujur. Tidak ada kepalsuan dalam doa orang miskin. Tidak ada kepentingan duniawi. Yang mereka minta hanyalah kehidupan yang layak, makanan secukupnya, kesehatan bagi keluarga, dan kekuatan untuk bertahan. Itulah sebabnya doa mereka begitu mustajab. Oleh karena itu, memberi sedekah kepada orang miskin bukan hanya sebuah kewajiban moral, melainkan jalan untuk mendapatkan doa mereka. Dan doa orang miskin itu, yang lahir dari hati tulus dan penuh penderitaan, adalah doa yang didengar dengan penuh kasih oleh Tuhan.
  • Keempat : Doa Para Hamba yang Mengabdikan Hidupnya kepada Tuhan
    Ada sekelompok orang yang memutuskan untuk mempersembahkan seluruh hidupnya bagi pelayanan kepada Tuhan dan sesama. Mereka adalah para biarawan dan biarawati, pastor, frater, bruder, suster, ustaz, pendeta, biksu, dan para rohaniwan lainnya. Mereka meninggalkan banyak kesenangan dunia untuk berjalan di jalan sunyi pengabdian. Setiap hari, mereka berdoa bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk umat manusia.
    Suara doa mereka, yang diucapkan dalam kesetiaan dan konsistensi, menembus langit dengan kekuatan yang tak terbantahkan. Maka, ketika kita merasa lemah, mintalah doa dari mereka. Doa seorang hamba Tuhan yang tulus, yang tidak mencari keuntungan pribadi, adalah doa yang begitu manjur. Tuhan mendengar doa mereka karena mereka berdoa bukan untuk diri mereka, melainkan untuk kita semua.
  • Kelima : Doa Orang Sakit
    Sakit adalah salah satu cara Tuhan mengingatkan manusia tentang keterbatasan. Saat tubuh tak lagi berdaya, saat nafas terasa berat, saat rasa sakit menguasai setiap sendi, manusia tidak lagi berpikir tentang duniawi. Yang ada hanyalah kerinduan akan kesembuhan dan kerelaan berserah. Doa orang sakit lahir dari hati yang rapuh, yang pasrah sepenuhnya kepada Tuhan. Tidak ada kesombongan dalam doa itu. Tidak ada kebanggaan yang tersisa. Yang ada hanyalah ketulusan: “Tuhan, sembuhkan aku. Jika tidak, kuatkan aku untuk menerima”. Itulah sebabnya doa orang sakit sangat manjur. Dan bagi kita yang sehat, jangan pernah ragu untuk meminta doa dari mereka. Karena di balik tubuh yang lemah, ada kekuatan doa yang luar biasa.

Sahabatku terkasih
Kekuatan Doa yang Tulus, lima macam doa ini doa orang lapar, doa orang yang hilang kebebasan, doa orang miskin, doa para hamba Tuhan, dan doa orang sakit adalah doa-doa yang langsung didengar oleh Tuhan. Mengapa? Karena doa-doa itu lahir dari hati yang tulus, dari penderitaan yang mendalam, dari penyerahan diri sepenuhnya kepada Sang Pencipta. Doa bukan sekadar kata-kata indah yang kita ucapkan. Doa adalah jeritan hati, permohonan tulus, kadang dengan air mata, kadang dengan bisikan lirih, kadang bahkan tanpa kata-kata. Tuhan tidak melihat panjang pendeknya doa, tidak menilai indah atau tidaknya kalimat doa. Yang Tuhan lihat adalah kejujuran hati di balik doa itu.

Maka, marilah kita belajar dari mereka. Ketika berdoa, jangan sekadar melafalkan kata-kata. Doakan dengan hati yang tulus, dengan kerendahan, dengan kesungguhan. Dan jangan lupa untuk selalu mendukung mereka yang lemah, miskin, sakit, terpenjara, atau mengabdikan hidupnya untuk Tuhan. Sebab melalui mereka, doa-doa kita akan semakin kuat bergema di hadapan Tuhan. Doa adalah napas jiwa. Selama kita masih bernapas, marilah kita terus berdoa—karena doa adalah kunci yang membuka pintu kasih Tuhan, kapan pun dan di mana pun.

Dalam Doa ku

Adharta

Www.kris.or.id
Www.adharta.com

Doa

Oleh : Adharta
Ketua umum
KRIS
Singapura
Kamis
18 september 2025

Sahabatku terkasih

Ada kiriman Doa dari sahabat aku yang bisa kita dengar bersama

Doa Doa yang Paling Didengar oleh Tuhan

Hidup manusia penuh dengan suka dan duka, tawa dan tangis, bahagia dan derita.

Dalam setiap perjalanan hidup, manusia selalu membutuhkan tempat untuk bersandar.

Dan ketika dunia terasa sunyi, ketika pertolongan manusia lain terasa terbatas, hanya kepada Tuhan kita mengangkat tangan, memohon dengan kerendahan hati.

Doa adalah jembatan kita menuju kasih-Nya yang tak terbatas. Namun, tahukah kita bahwa ada doa-doa tertentu yang memiliki kekuatan luar biasa, doa yang dijanjikan untuk langsung didengar oleh Tuhan Yang Maha Kuasa

Berikut adalah lima doa yang begitu istimewa, yang mampu mengetuk pintu surga dengan lebih kuat, karena lahir dari hati yang benar-benar tulus, penuh kesungguhan, dan kesakitan hidup yang nyata.

Pertama
Doa Orang yang Lapar
Lapar bukan sekadar rasa perut kosong. Lapar adalah penderitaan batin, terutama ketika seseorang benar-benar tidak punya apa-apa untuk dimakan.
Orang yang lapar, dengan tubuh lemah, hanya bisa berharap pada kemurahan Tuhan. Itulah sebabnya doa orang lapar didengar begitu cepat oleh Sang Pencipta.

Orang yang berpuasa pun mengalaminya.

Saat perut kosong, hati menjadi lebih jernih. Ketika rasa lapar menusuk, kita mengingat penderitaan mereka yang tidak beruntung. Maka doa dalam keadaan berpuasa menjadi lebih dalam, lebih sungguh-sungguh

Itulah mengapa dianjurkan berdoa di tengah atau menjelang berbuka puasa. Saat itu, doa seakan meluncur lurus ke hadapan Tuhan, penuh kesederhanaan, penuh pengharapan.

Kedua
Doa Orang yang Hilang Kebebasan

Kebebasan adalah anugerah terbesar yang sering kali baru kita sadari ketika hilang.
Orang yang dipenjara, orang yang tertindas, orang yang disiksa tanpa mampu melawan
mereka memandang langit tanpa kuasa berjalan di bawahnya.
Namun, dari balik jeruji besi atau dalam gelapnya ruang penyiksaan, doa mereka melambung tinggi.
Tangisan batin orang-orang terpenjara, yang tak mampu meminta tolong kepada manusia, langsung sampai kepada Tuhan. Karena siapa lagi yang bisa mereka andalkan selain Dia yang Maha Kuasa

Maka ketika kita mengunjungi orang yang dipenjara, atau menyapa mereka yang kehilangan kebebasan, jangan lupa minta doa mereka.
Sebab doa yang lahir dari hati yang hancur, dari jiwa yang hanya bertumpu pada Tuhan, memiliki kekuatan luar biasa.

Ketiga
Doa Orang Miskin dan Menderita
Kemiskinan seringkali membuat manusia dipandang rendah oleh sesamanya.

Namun di mata Tuhan, orang miskin adalah sahabat-Nya yang terdekat.
Empunya kerajaan sorga
Doa mereka, yang lahir dari perut kosong, rumah yang reyot, dan harapan yang nyaris padam, justru menjadi doa yang paling jujur.
Tidak ada kepalsuan dalam doa orang miskin.
Tidak ada kepentingan duniawi.
Yang mereka minta hanyalah kehidupan yang layak, makanan secukupnya, kesehatan bagi keluarga, dan kekuatan untuk bertahan. Itulah sebabnya doa mereka begitu mustajab.

Oleh karena itu, memberi sedekah kepada orang miskin bukan hanya sebuah kewajiban moral, melainkan jalan untuk mendapatkan doa mereka.

Dan doa orang miskin itu, yang lahir dari hati tulus dan penuh penderitaan, adalah doa yang didengar dengan penuh kasih oleh Tuhan.

Keempat
Doa Para Hamba yang Mengabdikan Hidupnya kepada Tuhan
Ada sekelompok orang yang memutuskan untuk mempersembahkan seluruh hidupnya bagi pelayanan kepada Tuhan dan sesama. Mereka adalah para biarawan dan biarawati, pastor, frater, bruder, suster, ustaz, pendeta, biksu, dan para rohaniwan lainnya.
Mereka meninggalkan banyak kesenangan dunia untuk berjalan di jalan sunyi pengabdian.

Setiap hari, mereka berdoa bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk umat manusia.
Suara doa mereka, yang diucapkan dalam kesetiaan dan konsistensi, menembus langit dengan kekuatan yang tak terbantahkan.
Maka, ketika kita merasa lemah, mintalah doa dari mereka. Doa seorang hamba Tuhan yang tulus, yang tidak mencari keuntungan pribadi, adalah doa yang begitu manjur.
Tuhan mendengar doa mereka karena mereka berdoa bukan untuk diri mereka, melainkan untuk kita semua.

Kelima
Doa Orang Sakit
Sakit adalah salah satu cara Tuhan mengingatkan manusia tentang keterbatasan. Saat tubuh tak lagi berdaya, saat nafas terasa berat, saat rasa sakit menguasai setiap sendi, manusia tidak lagi berpikir tentang duniawi. Yang ada hanyalah kerinduan akan kesembuhan dan kerelaan berserah.

Doa orang sakit lahir dari hati yang rapuh, yang pasrah sepenuhnya kepada Tuhan. Tidak ada kesombongan dalam doa itu. Tidak ada kebanggaan yang tersisa. Yang ada hanyalah ketulusan: “Tuhan, sembuhkan aku. Jika tidak, kuatkan aku untuk menerima.”

Itulah sebabnya doa orang sakit sangat manjur. Dan bagi kita yang sehat, jangan pernah ragu untuk meminta doa dari mereka. Karena di balik tubuh yang lemah, ada kekuatan doa yang luar biasa.

Sahabatky terkasih

Kekuatan Doa yang Tulus
Lima macam doa ini doa orang lapar, doa orang yang hilang kebebasan, doa orang miskin, doa para hamba Tuhan, dan doa orang sakit
adalah doa-doa yang langsung didengar oleh Tuhan. Mengapa? Karena doa-doa itu lahir dari hati yang tulus, dari penderitaan yang mendalam, dari penyerahan diri sepenuhnya kepada Sang Pencipta.
Doa bukan sekadar kata-kata indah yang kita ucapkan. Doa adalah jeritan hati, permohonan tulus, kadang dengan air mata, kadang dengan bisikan lirih, kadang bahkan tanpa kata-kata. Tuhan tidak melihat panjang pendeknya doa, tidak menilai indah atau tidaknya kalimat doa. Yang Tuhan lihat adalah kejujuran hati di balik doa itu.
Maka, marilah kita belajar dari mereka. Ketika berdoa, jangan sekadar melafalkan kata-kata.

Doakan dengan hati yang tulus, dengan kerendahan, dengan kesungguhan. Dan jangan lupa untuk selalu mendukung mereka yang lemah, miskin, sakit, terpenjara, atau mengabdikan hidupnya untuk Tuhan. Sebab melalui mereka, doa-doa kita akan semakin kuat bergema di hadapan Tuhan.
Doa adalah napas jiwa. Selama kita masih bernapas, marilah kita terus berdoa—karena doa adalah kunci yang membuka pintu kasih Tuhan, kapan pun dan di mana pun.

Dalam Doa ku

Adharta

Www.kris.or.id
Www.adharta.com

Sebuah Perjalanan Syukur di Mount Alvernia Hospital, Singapura

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Singapura
No Yoru
September Medio

Sahabat ku Terkasih

Hidup sering kali berjalan dalam lingkaran waktu yang penuh misteri. Ada peristiwa yang pernah kita alami di masa lalu, lalu suatu hari seolah terulang kembali, membawa kita pada perasaan dejavu. Begitu pula perjalanan kesehatan saya. Pada tahun 1980, saya datang ke Singapura untuk berobat. Saat itu, saya ditangani oleh seorang dokter yang penuh dedikasi, Dr. John A Tambyah, di Rumah Sakit Mount Elizabeth Orchard. Dibantu Dr. Ong yang menjadi MOH Singapura.

Dari sana, akhirnya perjalanan saya membawa saya ke Mount Alvernia Hospital, sebuah rumah sakit yang mungkin kecil jika dibandingkan dengan nama-nama besar lain di Singapura, tetapi memiliki kehangatan, pelayanan, dan kasih yang sungguh luar biasa.

Kini, setelah 45 tahun berlalu, tepatnya Selasa, 16 September 2025, saya kembali menapaki jejak yang hampir sama. Kali ini bukan hanya untuk berobat, tetapi menjalani sebuah operasi penting: pemasangan ICD (Implantable Cardioverter Defibrillator) di jantung saya. Kehadiran istri tercinta, Lena, dan adik saya yang juga seorang dokter gigi, drg. Monalisa, menjadi pengawal penuh kasih yang membuat langkah saya terasa lebih ringan.

  • Check-in di Mount Alvernia Hospital
    Pagi itu, pukul 10.00, kami tiba di Mount Alvernia. Rumah sakit ini memang tidak sebesar rumah sakit megah lain di Singapura, tetapi ada sesuatu yang berbeda. Dari saat pertama kali memasuki lobi, saya merasakan suasana tenang, bersih, penuh keramahan. Seakan-akan setiap orang yang bekerja di sana bukan sekadar menjalankan tugas, melainkan benar-benar menghadirkan sentuhan kasih dan kepedulian. Kiri kanan saya melihat Salib tergantung simbol ke katolikan sangat hangat dan nyata. Saya ditangani langsung oleh Dr. Devinder Singh, seorang dokter spesialis jantung yang tidak hanya cerdas secara medis, tetapi juga bijak dalam tutur kata dan menenangkan hati pasien. Didampingi tim medis yang sigap, saya diarahkan untuk bersiap menjalani operasi.
  • Masuk Ruang Operasi theatre
    Tepat pukul 11.45, saya dihantar menuju ruang operasi, atau theatre seperti yang biasa disebut di sana. Lima perawat menyambut saya dengan senyum dan ketangkasan yang menumbuhkan keyakinan. Mereka menyiapkan semua perlengkapan dengan teliti, namun tetap hangat dalam sikap. Kehadiran para dokter lain yang mendampingi Dr. Devinder Singh menambah keyakinan bahwa saya berada di tangan yang tepat. Beberapa menit kemudian, dokter anestesi menyapa saya dengan penuh kelembutan, lalu meminta saya untuk rileks. “Santai saja,” katanya, sambil menyuntikkan obat bius. Dalam waktu kurang dari satu menit, kesadaran saya menghilang, seolah saya tertidur dalam damai.
  • Proses Operasi
    Operasi pemasangan ICD berlangsung sekitar 75 menit. Dalam rentang waktu itu, tubuh saya tidak sadar, namun hati saya yakin bahwa Tuhan bekerja melalui tangan para dokter dan perawat. Ketika akhirnya saya terbangun, ada rasa lega dan syukur yang begitu besar. Segala proses telah selesai dengan baik. Dr. Devinder Singh kemudian menjelaskan kembali kepada saya tentang fungsi ICD. Dengan sabar, beliau menunjukkan tayangan di layar besar televisi yang ada di ruangan. ICD adalah sebuah alat kecil, mirip dengan pacu jantung, yang ditanamkan di dalam tubuh untuk mencegah kematian mendadak akibat gangguan irama jantung berbahaya. Ketika jantung berdetak tidak normal, ICD segera memberikan terapi listrik kecil untuk mengembalikan irama jantung ke keadaan normal. Saya merasa tenang mendengar penjelasan itu, alat ini bukan hanya sebuah mesin, melainkan sahabat baru dalam tubuh saya, yang akan menjadi penjaga setia kehidupan.
  • Kembali ke Ruang Perawatan
    Usai operasi, saya tidak ditempatkan di ruang ICU. Bukan karena keadaan saya tidak serius, melainkan karena semua ruang ICU saat itu penuh. Bahkan kamar VVIP yang biasanya menjadi pilihan, juga sedang tidak tersedia. Namun, justru di situlah saya melihat betapa Mount Alvernia mengedepankan kemanusiaan di atas formalitas. Saya ditempatkan di kamar kelas dua, sekamar berdua, tetapi khusus dikosongkan untuk saya seorang diri. Keputusan itu bukan sekadar soal fasilitas, tetapi juga soal penghormatan terhadap pasien. Saya merasa dijaga dengan penuh perhatian, meski tidak dalam ruangan termewah. Di situlah letak keunikan Mount Alvernia:
    sederhana, namun sungguh luar biasa.

Rumah Sakit Kecil dengan Hati yang Besar, Mount Alvernia bukan rumah sakit yang mengejar kemegahan gedung atau kemewahan fasilitas. Sejak berdirinya pada tahun 1961, rumah sakit ini didirikan oleh para biarawan biarawati Fransiskan dari Kongregasi Divine Motherhood, dengan tujuan melayani sesama berdasarkan nilai-nilai Kristen dan ajaran Katolik. Pelayanan yang mereka berikan selalu menekankan kasih, kepedulian, dan kehangatan. Itulah yang membedakan Mount Alvernia dari rumah sakit lain. Di balik gedung yang tidak terlalu megah, tersimpan semangat pelayanan tanpa pamrih. Setiap tenaga medis bekerja bukan hanya untuk menyembuhkan penyakit, tetapi juga untuk menguatkan jiwa. Dan saya mengalaminya sendiri, sukacita dan rasa syukur

Hari itu menjadi salah satu momen paling penting dalam hidup saya. Saya tidak hanya menjalani sebuah prosedur medis, tetapi juga merasakan kasih Tuhan yang hadir melalui manusia-manusia pilihan-Nya. Dari dokter, perawat, hingga staff rumah sakit, semuanya adalah instrumen Tuhan yang bekerja dengan sepenuh hati. Saya bersyukur kepada Tuhan Yesus Kristus yang memberikan kesempatan kedua dalam hidup saya. Saya bersyukur kepada istri saya, Lena, yang selalu mendampingi dengan cinta dan kesetiaan. Saya bersyukur kepada adik saya, drg. Monalisa, yang dengan keahliannya sekaligus kasih sayangnya, menjadi penyokong semangat saya. Saya juga bersyukur kepada Dr. Devinder Singh dan seluruh tim medis, yang menjalankan pekerjaannya dengan ketelitian dan kasih.

Tentang ICD: Penjaga Kehidupan
Implantable Cardioverter Defibrillator (ICD) adalah sebuah inovasi medis yang luar biasa. Bagi penderita gangguan irama jantung, alat ini ibarat penjaga tak terlihat yang selalu siaga. Ketika jantung berdetak terlalu cepat atau kacau, ICD segera memberikan kejutan listrik kecil agar irama kembali normal. Alat ini telah menyelamatkan jutaan nyawa di seluruh dunia, termasuk saya. Dengan adanya ICD, saya merasa lebih tenang dan percaya diri menjalani hidup. Saya tahu ada teknologi yang menjaga, namun lebih dari itu, saya tahu Tuhanlah yang mengizinkan teknologi itu ada demi keselamatan manusia.

Tidak lupa tim Pastoral Care hadir memberikan semangat baru, memberikan Doa, dan juga sangat nyata wartakan kasih Tuhan

Hari itu, Selasa 16 September 2025, akan selalu saya kenang sebagai hari sukacita. Bukan hanya karena saya selamat dari operasi, tetapi karena saya kembali diingatkan bahwa hidup adalah anugerah Tuhan yang harus disyukuri setiap hari.

Terima kasih, Mount Alvernia Hospital.
Terima kasih, Dr. Devinder Singh dan tim medis
Terima kasih kepada seluruh perawat yang telah melayani dengan kasih.
Terima kasih Dr. Nicolas Wanahita sebagai adviser kesehatan saya
Terima kasih Asuransi Prudential yang menanggung seluruh biaya perawatan saya yang jumlahnya tidak sedikit
Terima kasih Bapak Michael Richard seharian pusing mengatur financial Advicer dengan pihak Rumah Sakit dan Dokter

Terima kasih bagi semua keluarga dan sahabat yang tidak lelah mengawal dengan Doa yang dipimpin Bapak Zeno Christensen, Bapak Vincent, Bapak Teddy, Ibu Monica Joseph, Ibu Sandra, dan Tim Doa Jumat Pertama WMS. Special thanks kepada istri saya drg. Lena, dan adik saya drg. Monalisa, yang tidak pernah meninggalkan saya. Rumah sakit kecil ini mungkin tidak sebesar gedung-gedung megah lainnya, tetapi bagi saya, Mount Alvernia adalah tempat besar dalam kasih, besar dalam pelayanan, dan besar dalam arti kehidupan.

Semoga kisah ini menjadi saksi betapa kasih dan pelayanan tulus mampu memberikan harapan baru bagi siapa saja yang membutuhkannya.

Adharta

Www.kris.or.id

Www.adharta.com