Pembangunan gedung gerejaParoki Vincentius a Paulo di Gunung Putri,Bogor

Pembangunan gedung gereja
Paroki Vincentius a Paulo di Gunung Putri,
Bogor

Gereja Kecil dengan Hati Besar
Oleh: Adharta
Tim PPG

Jakarta, Awal November 2025

Gereja Kecil, Berhati Besar

Di sebuah sudut tenang di daerah Gunung Putri, Bogor, embun pagi masih setia menetes di dedaunan dan suara burung menggema di kejauhan,
berdiri sebuah tanda kasih: Gereja Katolik Paroki Vincentius a Paulo. Mungkin tak semua orang tahu keberadaannya. Letaknya agak tersempil, seolah Tuhan sendiri menempatkannya di sana untuk menjadi cahaya kecil di tengah kegelapan dunia.

Sekalipun terpencil, Gereja ini memiliki denyut kehidupan yang hangat. Dekat dengan Cibinong, Bogor, bahkan kawasan padat di sekitar Cimanggis dan Cikeas dan perumahan modern yang super sibuk, Paroki Vincentius a Paolo seakan menjadi jembatan antara kesederhanaan pedesaan dan dinamika perkotaan, memberikan kedamaian dan kesejukan bagi jiwa-jiwa para peziarah dalam mengarungi dunia yang makin penuh beban.

Saat menatap bangunan gereja yang sedang dipugar, hati ini bergetar haru. Bangunan yang menghembuskan suasana damai itu baru mencapai sekitar 30% dari keseluruhan rencana pembangunan.

Tiang-tiangnya sudah tegak, sebagian dindingnya sudah kokoh, namun masih banyak yang perlu diselesaikan, seperti bangku umat, lampu-lampu, instalasi listrik, sound system, hingga sarana air dan drainase. Pembangunan tersendat karena terbatasnya dana yang dimiliki oleh umat di sana.

Namun di balik segala keterbatasan itu, semangat umat tidak pernah padam. Mereka datang, membawa doa, harapan, dan tenaga. Ada yang menyumbang tenaga untuk mengecat, ada yang mengantar makanan bagi para pekerja, ada pula yang diam-diam menyisihkan sebagian rezekinya agar rumah Tuhan ini bisa cepat selesai dan menjadi rumah mereka untuk secara berjemaat bersyukur dan memuliakan Tuhan.

Lebih dari Sekadar Bangunan

Bagi umat di Gunung Putri, gereja ini bukan sekadar tempat ibadah.
Ia adalah rumah, tempat mereka datang untuk berjumpa, berdoa, dan menumbuhkan iman di tengah hiruk pikuk dunia yang kian materialistis dan jauh dari nilai-nilai kristiani. Di sinilah anak-anak belajar tentang kasih, orang muda menemukan panduan dan pegangan untuk arah hidupnya, dan para lansia datang untuk bersyukur atas setiap hari yang diberikan Tuhan untuk mereka jalani dengan penuh iman.

Namun, kita juga tahu bahwa membangun sebuah gereja tidaklah mudah. Diperlukan bukan hanya batu dan semen, tapi juga iman, cinta, dan dukungan dari banyak pihak yang mau bermurah hati. Sebab, gereja ini tidak dibangun oleh satu orang, tetapi oleh seluruh umat Allah yang percaya bahwa kasih Tuhan layak diberi tempat yang indah.

Seperti sering saya ucapkan, pembangunan sebuah gereja itu sekaligus membangun 3 (tiga) hal.

Pertama: Pembangunan gedung gereja memerlukan tenaga, pikiran, dan rencana jangka panjang.

Kedua: Membangun umat secara keseluruhan – Bagaimana umat bisa tumbuh dan berkembang dengan adanya gereja baru? Bagaimana umat bisa menjadi garam dan terang bagi masyarakat di sekelilingnya?

Ketiga: Membagun lingkungan, baik lingkungan kehidupan gereja maupun sarana prasarana kehiduoan masyarakat. Ikut membangun pergaulan positif dengan masyarakat sekitarnya.

Saat ini, Paroki Vincentius a Paulo sedang berjuang untuk memenuhi berbagai kebutuhan dasar seperti:

  • Bangku-bangku umat, agar setiap orang yang datang dapat duduk dengan nyaman untuk berdoa doa dan memuliakan Tuhan.
  • Sound system dan pencahayaan, agar setiap firman dan lantunan nyanyian pujian terdengar jelas dan menyentuh hati.
  • Sarana elektrikal seperti lampu-lampu penerangan dan drainase, agar gereja aman dan layak digunakan. (Banjir masih menjadi bahaya laten)
  • Ruang-ruang pastoral, ruang arsip, klinik kesehatan, dan ruang belajar, agar pelayanan tidak berhenti di seputar altar, tetapi menjangkau kehidupan nyata umat setiap hari.

Gereja kecil ini memang belum selesai, namun di dalamnya sudah berdenyut hati umat yang percaya, bekerja, dan berharap bahwa gereja mereka akan berdiri tegak dan menjadi pusat umat beriman untuk berkumpul dan berbagi iman. Cinta mereka itulah yang mampu membangun “Gereja kecil dengan hati besar yang penuh iman dan kasih.”

Kalimat sederhana ini menggambarkan seluruh perjuangan umat Paroki Vincentius a Paulo. Mereka bukan umat yang berlimpah harta, tapi kaya dalam kasih.

Mereka tahu bahwa setiap rupiah yang disumbangkan bukan sekadar angka di rekening, tetapi batu bata cinta yang membangun rumah Tuhan.

Suatu kali, seorang ibu paruh baya datang membawa amplop kecil.
“Ini tidak seberapa,” katanya lirih, “tapi saya ingin gereja kita punya lampu yang terang.” Ada pula seorang anak muda yang dengan gaji pertamanya membeli beberapa sak semen, dan dengan senyum bangga berkata, “Biar sedikit, tapi ini untuk Tuhan.”

Itulah wajah sejati Gereja: kesetiaan dalam hal kecil yang lahir dari cinta dan iman yang besar.

Panggilan bagi Kita Semua

Kami mengajak sekaligus mengetuk kemurahan hati Anda untuk berkenan mendukung upaya umat Paroki Vincentius a Paulo yang akan mengadakan malam Charity Dinner pada tanggal 26 November 2025, di Restoran Angke Heritage PIK 2, Jakarta Utara, bersama sang gembala, Bapa Uskup Bogor Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM.

Acara ini hanyalah permulaan dari perjalanan panjang. Sebuah starting point,
bukan akhir. Kita tahu bahwa pembangunan fisik bisa saja selesai, tapi pembangunan iman dari umat dan semangat berbagi tidak boleh dan tidak akan pernah berhenti, apalagi godaan media sosial dan banjirnya informasi telah mengikis nilai-nilai luhur manusia.

Apalagi gereja paroki ini bukan milik satu wilayah atau satu komunitas kecil. Ia adalah bagian dari Tubuh Kristus yang lebih besar, yang menyatukan semua umat dari berbagai daerah dan belahan dunia dalam kasih Allah.

Maka, kami mengetuk hati setiap insan yang membaca tulisan saya ini.

Apakah Anda bersedia menjadi bagian dari karya kasih ini?
Apakah Anda ingin menanamkan sepotong cinta dalam sejarah Gereja yang kelak menjadi tempat generasi baru mengenal Tuhan?

Kita mungkin tidak bisa hadir setiap minggu di Gunung Putri. Tapi melalui dukungan, baik doa maupun dana, kita bisa hadir dalam setiap batu bata yang dipasang, setiap nyanyian yang bergema, dan setiap jiwa yang disapa oleh kasih Tuhan Yesus Kristus bersama para malaikat di Surga.

Setiap sumbangan, sekecil apa pun adalah tanda nyata kehadiran Allah. Dan setiap tangan yang memberi adalah saluran berkat bagi mereka yang berjuang di garis depan pelayanan. Kelak, ketika gereja ini berdiri megah dan loncengnya bergema untuk pertama kali, kita semua akan tersenyum haru dan bahagia. Karena kita tahu, di balik setiap dinding yang kokoh, ada doa yang lembut, di balik setiap lampu yang menyala, ada cinta yang tulus. Dan ketika umat berkumpul untuk misa pertama di gereja baru itu, mungkin tidak ada satu pun dari kita yang disebutkan namanya.

Tuhan tahu siapa yang diam-diam memberi, berdoa, dan mencintai. Paroki Vincentius a Paulo bukan hanya sedang membangun sebuah gedung. Ia sedang membangun kesaksian iman dan pengharapan bahwa kasih Tuhan nyata, bahkan di tengah keterbatasan. Gereja kecil ini akan menjadi pelita bagi banyak orang, tempat mereka menemukan harapan, penghiburan, dan kekuatan untuk melangkah.

Mari, bersama kita lanjutkan perjalanan ini.
Mari kita bantu agar rumah Tuhan di Gunung Putri dapat segera berdiri dengan indah.
Mari kita buktikan bahwa Gereja kecil dengan hati besar bisa menjadi sumber terang bagi banyak jiwa. Sebab di hadapan Tuhan, bukan besarnya bangunan yang dilihat, melainkan besarnya cinta yang membangunnya.

Tuhan memberkati.
Adharta
0816707101

Www.kris.or.id
Www.adharta.com

Leave a Reply