Erawati

Pulang Dalam Pelukan Langit

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Hongkong
Akhir Nopember

Untuk Erawati

Beliau pergi jauh,
bukan karena ingin,
tetapi karena hidup memaksanya berani.

Di negeri asing, Hongkong
Beliau bukan siapa-siapa
hanya nama yang ditulis pada paspor,
hanya tangan yang bekerja dari pagi
hingga malam kembali gelap.

Namun di dadanya,
ada doa ibu
dan wajah anaknya
yang selalu beliau simpan
seperti matahari kecil
agar hatinya tetap hangat.

Lalu malam itu datang
malam yang tidak diundang,
malam yang membawa api,
asap,
dan detik-detik yang terasa abadi.

Semua orang berlari
mencari keselamatan,
namun ia berhenti,
menoleh,
dan kembali memeluk kehidupan
yang bukan darahnya sendiri.
Seorang bayi tiga bulan
Anak majikannya

Dengan napas yang mulai terbakar,
ia menutupi tubuh kecil itu
seperti bumi memeluk benih
agar tetap hidup
meski akar dirinya
harus putus selamanya.

Dan ketika api memakan waktu
dan waktu memakan tubuhnya,
hatinya masih tetap bekerja
melindungi,
mengasihi,
mengorbankan.

Erawati mungkin mati
sebagai pekerja rumah tangga.
Namun beliau kembali pulang
sebagai pahlawan.

Kini tanah air menyambutnya
bukan dengan tepuk tangan,
tetapi dengan air mata
dan doa yang pecah di langit.

Karena cinta,
kadang tak bersuara.
Ia hanya hadir
dalam tindakan diam
yang menyelamatkan hidup orang lain.

Selamat pulang, Erawati
perempuan kuat.
Namamu mungkin kecil di dunia,
tapi besar di hati manusia Indonesia
dan tercatat indah
di buku Tuhan.

Adharta

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Benci di balik kebencian

Benci di balik kebencian

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Akhir Nopember 2025

Suatu senja saya di telepon seorang sahabat lama
Dia bercerita dia bertemu seorang sahabat lama mereka bersuka cita dan penuh canda tetapi entah mengapa belum beberapa lama mereka saling mencaci maki dan saling membenci

Saya bilang mungkin di kelahiran lalu kamu ada Djiong (istilah hokkian) atau ketidak cocokan
Haha kami tertawa
Mungkin benar di kehidupan lalu dilahirkan bermusuhan

Percaya kah suatu saat kita ketemu seseorang yang tidak kita kenal
Tapi kita menyukaknya
Tetapi ada suatu saat kita ketemu orang kita langsung membencinya bahkan tanpa alasan

Apakah saling memaafkan bisa mengatasi kebencian
Jawabannya bisa
Apakah memberi maaf atau ampun terhadap
Bisa menghilangkan kebencian
Tetapi kalau menghilangkan benci dalam kebencian tidak bisa
Jadi harus bagaimana
Jawabannya kita bisa dengar dulu dibawah ini

Mengapa Harus Membenci?

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering disuguhkan berita tentang pertengkaran, konflik, dan kebencian.
Tidak hanya di media, kadang kita sendiri merasakannya dalam pengalaman pribadi.

Kebencian dapat muncul dalam hitungan detik, namun bisa bertahan bertahun-tahun.

Kadang tanpa alasan yang jelas, dua insan yang dulunya saling mencintai berubah menjadi musuh.
Begitu pula dalam keluarga: suami dan istri, orang tua dan anak, kakak dan adik.
Kebencian bisa hadir diam-diam, tumbuh dan mencengkeram hati tanpa batas.
Padahal, tidak ada manusia yang diciptakan untuk membenci. Hati manusia secara alami menginginkan kedamaian, kasih sayang, dan hubungan yang harmonis.
Namun kenyataannya, kebencian sering menjadi bagian hidup. Pertanyaannya: mengapa?

Setidaknya ada tiga penyebab utama munculnya kebencian dalam hubungan manusia.

Pertama
Belum Mengenal Isi Hati Masing-Masing
Kebencian sering muncul karena manusia terlalu cepat menghakimi, tetapi terlalu lambat memahami.
Kita mudah tersinggung, tetapi enggan bertanya dengan tulus: “Apa sebenarnya yang kamu rasakan?”

Ketika dua orang tidak benar-benar saling memahami isi hati, muncul jarak yang perlahan melebar.
Suami merasa istrinya tidak mengerti perjuangannya. Istri merasa suaminya tidak memahami kelelahan batinnya.
Orang tua merasa anak tidak menghormati, sementara anak merasa tidak pernah didengar.

Ketidaktahuan ini melahirkan asumsi.

Asumsi melahirkan prasangka.
Prasangka melahirkan luka.
Dan luka, bila tidak diobati, menjadi kebencian.

Padahal sering kali bukan hatinya yang buruk, tetapi komunikasinya yang tidak pernah selesai.

Banyak orang berbicara untuk menang, bukan untuk memahami. Mereka mendengar, tetapi tidak menyimak mereka melihat, tetapi tidak memahami maknanya.

Solusinya adalah belajar hadir untuk mendengar.
Bukan sekadar membiarkan kata masuk telinga, tetapi memahami apa yang tidak diucapkan.

Karena kadang yang paling menyakitkan bukan kata-kata, melainkan keheningan yang penuh jarak.

Kedua
Belum Bisa Saling Mengerti Satu Sama Lain
Saling mengerti berarti melihat dunia dari kacamata orang lain.
Banyak hubungan rusak bukan karena perbedaan besar, tetapi karena ket inability untuk menerima perbedaan.
Manusia diciptakan dengan karakter, pengalaman, dan latar belakang yang berbeda. Ada yang sensitif, ada yang logis. Ada yang suka bicara, ada yang diam. Ada yang terbuka, ada yang menyimpan luka.
Namun kita sering ingin orang lain berpikir dan bertindak seperti diri kita.
Ketika mereka berbeda, kita marah. Ketika mereka tidak sesuai harapan, kita kecewa. Dari kekecewaan itu, kebencian mulai mendapatkan tempat.
Padahal kedewasaan dalam hubungan adalah kemampuan memahami bahwa tidak semua harus seragam.
Perbedaan bukan ancaman — perbedaan adalah kesempatan untuk saling melengkapi.
Solusi untuk poin ini adalah empati.
Berhentilah bertanya:
“Kenapa kamu tidak seperti yang aku mau?”
Mulailah bertanya:
“Bagaimana aku bisa mengerti kamu lebih baik?”

Ketiga
Tidak Mampu Menguasai Diri, Emosi, dan Kesabaran
Emosi adalah bagian manusia yang alami. Namun, ketika emosi menguasai kita, kehancuran dapat terjadi. Banyak kata diucapkan dalam amarah yang kemudian disesali seumur hidup.

Banyak tindakan dilakukan dalam emosi sesaat yang merusak sesuatu yang sudah dibangun bertahun-tahun.
Kesabaran adalah benteng terakhir sebelum kebencian berkembang. Namun sayangnya, kesabaran sering terasa lebih sulit daripada kemarahan, padahal buahnya lebih manis.
Ketidakmampuan menahan diri menjadikan masalah kecil menjadi besar. Sering kali bukan persoalannya yang berbahaya, tetapi reaksinya.
Solusi di sini adalah melatih jeda emosional
belajar diam sebelum bereaksi. Karena diam yang penuh pengendalian diri sering lebih bijak daripada kata-kata yang lahir tanpa pertimbangan.
Niat dan Motif Tersembunyi
Di luar tiga penyebab utama, ada pula faktor lain yang tidak terlihat: motif tersembunyi. Kadang kebencian sengaja dipelihara karena seseorang ingin menang, ingin menguasai, ingin membalas luka lama, atau bahkan ingin menjatuhkan secara sosial.

Ada manusia yang terluka, dan karena tidak sembuh, ia ingin orang lain merasakan sakit yang sama. Ada pula yang merasa membenci adalah benteng untuk melindungi diri, padahal kebencian justru merusak dirinya dari dalam.
Motif tersembunyi ini sering berawal dari ketakutan, ego, dan trauma. Mereka tidak membenci orangnya mereka membenci rasa sakit yang pernah ditimbulkan oleh orang itu atau seseorang sebelumnya.
Solusi dan Saran
Untuk mengatasi kebencian, ada beberapa langkah penting:
Mulailah dengan kesadaran.

Sadari bahwa kebencian bukan solusi ia hanya memperpanjang luka.
Belajar memaafkan, meskipun belum bisa melupakan.
Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan; itu berarti melepaskan diri dari belenggu racun batin.
Bangun komunikasi yang jujur dan lembut.
Bicara dengan hati, bukan hanya dengan logika.
Latih empati setiap hari.
Coba pahami perasaan, kondisi, dan alasan di balik sikap seseorang.
Jaga emosi dengan kesadaran diri.
Ambil jeda. Menunda reaksi sering menyelamatkan hubungan.
Belajar menerima ketidaksempurnaan.
Tidak ada manusia yang sempurna.
Kita pun pernah melukai orang lain tanpa sadar.

Mari kita masuk ke pembahasan diatas

Hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan kebencian.
Kasih sayang membangun, kebencian menghancurkan. Kedamaian memberi kehidupan, kebencian merampas kebahagiaan.
Jika kita belajar memahami, menerima, mengerti, dan memaafkan, dunia ini terutama dunia dalam hati kita akan menjadi jauh lebih indah.
Karena pada akhirnya, manusia tidak butuh menang dalam pertengkaran. Manusia butuh dipahami, dicintai, dan dihargai.

Dan semua itu hanya lahir dari hati yang memilih cinta, bukan kebencian.

Jadi hanya satu cara menghilangkan benci dalam kebencian
Yakni memutus rantai kebencian itu sendiri

Sampai suatu saat kita menemukan jati diri kita dan kemampuan self esteem

Mencapai titik kesempurnaan disanalah kita bisa melihat firi kita sendiri

Damai sertamu

Www.kris.or.id
Www.adharta.com

Jumat pertama

Jumat pertama

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Kisah Kasih
Ada sebuah keluarga sederhana yang hidup dalam ritme yang biasa-biasa saja sang ayah yang bekerja keras, ibu yang selalu mencoba tersenyum meski hatinya letih, dan seorang anak perempuan yang tumbuh dalam dunia yang semakin bising dan penuh tekanan.

Di meja makan mereka, ada tawa yang kadang hanya pura-pura, dan diam yang kadang lebih keras dari kata-kata.

Beberapa waktu terakhir, kehidupan terasa lebih berat dari biasanya.
Sang ayah mulai kehilangan semangat, pekerjaannya terasa seperti beban tanpa tujuan.
Ibu mulai merasa lelah, bukan karena fisik, melainkan karena hati yang mulai kehilangan arah.

Anak mereka yang seharusnya terbebas dari segala beban ikut merasakan kegelisahan yang tidak pernah ia mengerti.

Lalu pada suatu malam, entah karena dorongan hati atau karena bisikan lembut yang sulit dijelaskan, sang ibu mengajak keluarga mengikuti Misa Jumat Pertama.

Siang yang sahdu
Awalnya, tidak ada yang menganggapnya istimewa.
Hanya misa seperti misa biasa lainnya, pikir mereka. Namun mereka tetap pergi tanpa ekspektasi, tanpa rencana.

Ketika lonceng gereja berdentang, hati mereka mulai pelan-pelan melunak.
Suara umat bernyanyi seperti angin sepoi yang menyentuh luka lama.
Bau dupa yang naik ke langit terasa seperti doa-doa yang selama ini terpendam, tidak pernah terucap, bahkan tidak pernah diakui.

Dalam saat hening, sang ayah menunduk dan merasakan hatinya retak bukan karena kesedihan, melainkan karena ia menyadari betapa lama ia tidak membuka dirinya kepada Tuhan.
Sang ibu meneteskan air mata, bukan karena sakit, tetapi karena untuk pertama kalinya ia merasakan kedamaian yang selama ini ia cari.

Sang anak memandang salib dan untuk alasan yang tidak bisa ia jelaskan, ia merasa dicintai.
Lalu tibalah momen adorasi. Saat Hosti diangkat, ruangan seolah berhenti bernafas.
Tidak ada lagi kegelisahan, tidak ada lagi pertanyaan, tidak ada lagi jarak.
Yang ada hanyalah cinta diam, lembut, dan nyata.
Mereka menerima komuni bersama.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka berdoa bukan sebagai tiga hati yang terpisah, tetapi sebagai satu keluarga.

Ketika misa selesai, mereka berjalan pulang tanpa banyak kata.

Namun sesuatu telah berubah. Senyum sang ayah kini tulus. Mata sang ibu kini bercahaya. Anak mereka menggenggam tangan orang tuanya lebih erat, seolah takut kehilangan rasa damai itu.

Malam itu, mereka duduk di meja makan yang sama
tetapi dengan hati yang berbeda. Mereka tertawa, bukan karena basa-basi, tetapi karena sukacita.

Mereka berdiam, bukan karena jauh, tetapi karena saling mengerti.

Misa Jumat Pertama bukan sekadar rutinitas.
Bagi mereka, itu menjadi sentuhan kasih yang memulihkan. Perlahan, bukan hanya tubuh yang kuat kembali
tetapi jiwa yang selama ini terluka menemukan rumahnya kembali.
Dan sejak hari itu, mereka tahu
setiap Jumat Pertama adalah undangan untuk merasakan kembali kehadiran Tuhan yang selalu setia, bahkan ketika manusia ragu.

UNDANGAN
Misa Jumat Pertama
Keluarga KRIS
5 Desember 2025
Jam 14.30
Wisma Mitra Sunter
Jakarta utara

Note :
Kita akan rayakan Harultah Imamat ke 49
Romo Johanis Mangkey MSC

BENCANA SIBOLGA

BENCANA SIBOLGA

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Labuhan Angin
Minggu
30 Nopember 2025

SUARA DARI TANAH YANG BERDUKA

Sejak pekan lalu, hujan tak pernah berhenti jatuh dari langit Sibolga dan daerah sekitarnya. Hujan yang awalnya hanya dianggap sebagai musim biasa itu ternyata berubah menjadi ancaman besar yang datang diam-diam, tanpa aba-aba, tanpa sempat memberi waktu bagi siapa pun untuk bersiap.

Dalam satu malam, genangan berubah menjadi banjir, tanah yang lembut berubah menjadi longsoran mematikan, dan jalan-jalan yang dulu ramai kini berubah menjadi lautan lumpur serta puing.

Tak ada yang menyangka bahwa kedamaian itu akan runtuh begitu cepat.
Rumah-rumah hanyut.
Pohon tumbang memutus jalur listrik.
Jalan raya retak berkeping-keping tak bisa dilewati kendaraan. Sebagian warga terseret arus, sebagian terjebak di atap rumah tanpa makanan dan tanpa kepastian kapan pertolongan datang.

Waktu berjalan lambat, tapi penderitaan rasanya bergerak lebih cepat daripada harapan.

Di tengah keadaan panik itu, banyak keluarga terpisah.
Anak kehilangan orang tua.
Suami kehilangan istri.

Ada tangis yang pecah, bukan karena hujan, tapi karena kehilangan yang tidak pernah terbayangkan. Bau lumpur bercampur tangis dan doa seolah menjadi udara baru yang harus dihirup warga Sibolga, Tapanuli Tengah Utara, dan daerah sekitarnya.

Sebagian warga yang selamat mencoba memasuki kota untuk bertahan hidup.
Dalam kondisi putus asa, ada yang mengambil apa saja bukan karena tamak, tetapi karena lapar.
Ada yang menjarah bukan untuk dijual, tetapi untuk sekadar menyumbat perut anak yang sudah berhari-hari menangis kelaparan.
Di momen seperti itu, batas antara salah dan terpaksa menjadi sangat tipis.

Yang lebih menyedihkan, hampir tidak ada aparat yang mampu mengendalikan situasi.
Mungkin bukan karena mereka tidak peduli, tapi karena mereka pun kewalahan: akses putus, alat terbatas, dan kekacauan terjadi di banyak titik secara bersamaan.

Di sisi lain, korban makin bertambah. Setiap menit berlalu seperti membawa kabar buruk baru rumah tertimbun tanah, jembatan roboh, korban ditemukan tak bernyawa, termasuk anak-anak yang sempat menggenggam boneka penuh lumpur sebelum napas terakhirnya hilang.

Bantuan akhirnya datang, tapi terlambat. Medan sulit ditembus.
Alat transportasi terbatas.
Tenaga pertolongan pun tak sebanding dengan jumlah warga terdampak.
Bila banjir dan longsor ini ibarat api besar, maka bantuan yang datang hanya seperti tetesan air.

Di lokasi pengungsian, penderitaan belum juga berakhir.
Tenda seadanya berdiri di tanah becek. Banyak yang menggigil karena tidak memiliki pakaian kering atau selimut.
Makanan tidak cukup.
Air minum terbatas.
Bayi menangis karena susu formula tak tersisa.
Ibu menahan lapar agar anaknya tetap bisa makan sedikit.
Ada lansia yang duduk diam, matanya kosong seolah kehilangan masa depan, masa lalu, bahkan dirinya sendiri.

Meski demikian, di tengah duka ini tetap ada cahaya kecil yang muncul: para relawan, tenaga medis, wartawan lokal, dan warga baik hati yang datang meski dengan segala keterbatasan. Mereka membawa obat, makanan, selimut, dan terutama
pelukan serta harapan.
Namun, semua itu belum cukup.
Sibolga dan wilayah sekitarnya masih membutuhkan banyak bantuan
bantuan nyata, cepat, dan terorganisir. Mereka membutuhkan:
Makanan siap saji dan bahan pokok
Selimut, pakaian kering, kasur lipat
Obat-obatan, antiseptik, alat kesehatan, pampers bayi
Tenaga medis, paramedis, dan relawan lapangan

Alat berat untuk evakuasi dan memperbaiki akses jalan
Air bersih dan sarana penjernih air darurat
Sampai hari ini, masih banyak jenazah yang belum ditemukan, masih banyak keluarga yang belum kembali berkumpul, dan masih banyak yang hanya bisa berdoa tanpa tahu harus berharap kepada siapa.
Karena itu, kami mengundang setiap hati yang murah tangan, setiap donatur yang peduli, setiap organisasi sosial, setiap komunitas kemanusiaan, dan setiap medis yang tergerak:
Datanglah.

Bantulah.
Jangan biarkan mereka berjuang sendirian.

Hari ini, ratusan warga Sibolga membutuhkan bukan hanya bantuan materi, tetapi juga dukungan moral: ibahwa mereka tidak ditinggalkan, bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi bencana ini.

Semoga tangan-tangan penuh kasih tergerak, semoga langkah-langkah pertolongan semakin banyak, dan semoga Tuhan memberkati setiap orang yang membantu meringankan duka ini.

Karena di balik setiap lumpur dan air mata yang jatuh di bumi Sibolga saat ini, ada doa yang berbisik pelan buat anda

“Tolong… kami ingin hidup.”

BCA
6380888058
An
Perkumpulan Killcovid

PMI Jakarta Pusat
No Rek
123 000 556 9647
Bank Mandiri

Www.kris.or.id
Www.adharta.com

Gray divorce

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Kelapa Gading
Jumat
28 Nopember 2025

Cerpen no 025

Kisah Cinta di hari tua

“Setelah Rambut Memutih”

Tidak ada yang pernah membayangkan bahwa di usia 67 tahun, Kisno dan istrinya, Mariana, akan duduk berhadapan di ruang sidang pengadilan agama.

Mereka menikah lebih dari empat dekade tepatnya 45 tahun.

Pada usia itu, sebagian orang merayakan pernikahan emas, memberi doa panjang untuk kesetiaan, bukan mengakhiri cerita.

Di ruang tunggu pengadilan, Mariana memegang map cokelat berisi dokumen salinan akta nikah, fotokopi KTP, dan berlembar lembar bukti yang hampir tidak lagi penting untuk usia mereka.

Tangannya bergetar, bukan karena dingin, tetapi karena ingatan.
Di hadapannya, Kisno duduk kaku, menunduk seolah barisan kata telah lama habis dalam kepalanya.

Tidak ada teriakan. Tidak ada kemarahan. Yang ada hanyalah diam
diam yang panjang, dingin, dan melelahkan.
Kenangan yang Mengendap
Di rumah, foto pernikahan mereka masih tergantung. Pada foto itu, Mariana tersenyum malu-malu dengan kebaya putih.
Kisno muda berdiri tegak di sebelahnya, dada membusung penuh bangga.
Mereka membangun hidup dari nol. Rumah pertama mereka kecil, hanya dua kamar dan dapur yang bocor setiap hujan.
Tetapi di rumah kecil itulah mereka tertawa, bertengkar, berbaikan, dan memeluk anak-anak mereka ketika demam tengah malam.

Kisno bekerja keras. Ia jarang ada di rumah membuat Mariana belajar mengasuh anak sendirian.
Ia tidak pernah mengeluh di depan suami, tetapi diam-diam ia sering menangis ketika lelah terlalu larut.
Namun waktu berjalan dan luka kecil yang tidak pernah dibicarakan berubah menjadi tembok.

Setelah Anak-Anak Pergi
Anak pertama menikah dan pindah ke luar kota. Anak kedua bekerja di luar negeri, sesekali pulang setahun sekali. Rumah menjadi sunyi terlalu sunyi bagi dua orang yang sudah lupa cara berbicara dari hati ke hati.

Pada masa pensiun, ketika tidak ada lagi alasan untuk sibuk, barulah mereka sadar: mereka hanyalah dua orang asing yang tinggal di rumah yang sama.

Percakapan mereka berubah menjadi:
“Sudah makan?”
“Lampu garasi masih nyala.”
“Telepon dari anak.”
Tidak pernah lagi
“Apa yang kamu rasakan?”
“Masihkah kamu mencintaiku?”

Hari Ketika Semua Pecah
Pagi itu sederhana. Seperti pagi biasanya: teh panas dan roti tawar.
Mariana berkata pelan, tanpa menatap
“Aku lelah, Kis.”
Kisno tidak menjawab.
Ia menunggu kalimat berikutnya dan kalimat itu datang seperti pisau yang lama ditunda.
“Aku ingin bahagia… bukan begini.”

Kisno menarik napas. Lalu ia berkata, tanpa suara bergetar:
“Aku juga.”
Dan sejak hari itu, mereka berhenti berusaha.
Seperti dua kapal yang pelan-pelan melepaskan tali di dermaga yang sama, lalu membiarkan arus membawa mereka ke arah yang berbeda.
Kesedihan Anak-Anak
Ketika kabar itu sampai kepada anak-anak mereka, tangis pun pecah.

Bukan karena haus akan drama, tetapi karena takut kehilangan rumah yang mereka kenal sejak kecil.
Anak bungsu menelepon sambil terisak:
“Mama, 45 tahun bukan main-main… apa Mama yakin?”
Mariana hanya menjawab:
“Nak… ada masa dalam hidup ketika tinggal bersama luka lebih menyakitkan daripada berpisah.”

Anak sulung menyalahkan ayah:
“Kenapa Ayah diam? Kenapa tidak minta maaf? Tidak berusaha?”
Dan Kisno hanya berkata:
“Ayah sudah kehilangan caranya.”

Pada suatu malam, cucu pertama—usia lima tahun—bertanya polos:
“Kakek sama Nenek tidak sayang lagi?”

Pertanyaan itu menusuk lebih dalam daripada putusan pengadilan.
Karena di lubuk hati mereka, cinta itu tidak pernah mati hanya berubah bentuk menjadi sesuatu yang asing dan sulit dijelaskan.
Setelah Kata “Cerai” Diucapkan
Mereka pindah ke rumah masing-masing.
Mariana tinggal di rumah kecil yang ia beli dengan tabungannya sendiri.
Di rumah itu, ia mulai belajar hidup pelan: merawat tanaman, membaca buku, menulis jurnal.
Namun setiap malam pukul sembilan, ia masih menoleh ke kursi kosong di sebelah sofa
tempat Kisno biasa duduk saat menonton berita.
Sementara Kisno tinggal di apartemen dekat masjid. Ia mulai rutin ikut pengajian.
Ia belajar memasak sendiri
walaupun pada awalnya nasi buatannya keras seperti kerikil.
Kadang-kadang, tanpa sadar, ia menyiapkan dua gelas teh, lalu menatap gelas satunya lama-lama sebelum akhirnya menuangnya ke wastafel.

Dua Kursi Kosong di Acara Keluarga
Lebaran pertama setelah perceraian adalah yang paling menyakitkan.
Dulu, keluarga mereka selalu ramai. Kini, satu per satu anak dan cucu datang terpisah:
Sebagian ke rumah Kisno, sebagian ke rumah Mariana.
Tidak ada lagi foto keluarga utuh. Yang ada hanya potret terpisah seperti lembar buku yang robek.
Setelah semua pulang,
Mariana duduk sendirian, memandang meja makan panjang.
Ia berbisik ke udara:
“Seharusnya hari tua bukan begini…”

Di tempat lain, Kisno menatap langit malam dari balkon apartemen.
Ia menggenggam cincin pernikahannya yang masih tersimpan cincin yang tidak ia lepas, walaupun sudah tidak berguna secara hukum.
Ia berkata pelan, seperti berbicara kepada seseorang yang tidak lagi ada di sana:
“Maaf… aku tidak tahu bagaimana mencintai dengan cara yang kau harapkan.”

Setitik Cahaya
Waktu berjalan.
Tidak ada yang benar-benar sembuh, tetapi luka-luka itu mulai membentuk ruang baru
ruang untuk menata diri.
Suatu hari, di pesta ulang tahun cucu mereka, tidak ada pilihan selain duduk di meja yang sama.
Ada kikuk.
Ada jarak. Namun ada juga sesuatu yang lain: pengakuan akan sejarah panjang yang tak bisa dihapus.
Ketika semua orang sibuk bernyanyi, cucu bungsu menyodorkan boneka kecil pada mereka berdua dan berkata:
“Pegang sama-sama ya… biar nggak pisah lagi.”

Tangis pun jatuh bukan hanya dari mereka, tetapi dari anak-anak yang melihat betapa rapuhnya manusia ketika cinta berubah menjadi kenangan.
Mariana menatap Kisno sejenak.
Ia tersenyum bukan senyum kembali cinta, tetapi senyum lega seperti akhirnya mengerti:
“Ada cinta yang ditakdirkan untuk dikenang, bukan diperjuangkan lagi.”

Dan Kisno mengangguk pelan.
Tak ada janji untuk kembali.
Tak ada permintaan memulai dari awal.
Yang ada hanyalah pengakuan bahwa 45 tahun itu tidak sia-sia meski tidak berakhir seperti dongeng.

Akhir Kisah Cinta

Gray Divorce bukan sekadar perpisahan dua tubuh tua.
Ia adalah pecahan kisah panjang tentang cinta, luka, waktu, dan pilihan.
Kadang, pernikahan bertahan bukan karena dua orang selalu saling mencintai tetapi karena dua hati memilih untuk tetap tinggal.
Namun ketika pilihan itu tak lagi sanggup dijalani, maka perpisahan bukan hanya akhir tetapi juga bentuk lain dari merawat diri, merawat sisa hidup, dan merawat damai yang pernah hilang.
Karena cinta, pada akhirnya, tidak selalu berarti bersama.
Kadang, cinta berarti melepaskan
dengan doa, penghargaan, dan air mata yang jatuh diam-diam.

Www.kria.or.id

Www.adharta.com

Pentingnya “Terima Kasih”

Oleh : Adharta
Penasihat PPG
Ketua umum
KRIS

Angke Heritage
Rabu
26 Nopber 2025

VICO Night
Dalam kenangan

Saudara saudaraku
Sahabatky yang terkasih,

selamat malam dan salam sejahtera dalam kasih Kristus.

Malam ini adalah malam yang berbeda.
Malam yang bukan sekadar pertemuan, bukan sekadar acara formal, bukan sekadar Charity Night atau penggalangan dana.
Malam ini adalah malam penuh rahmat
Malam Dana, VICO Night: Vincentius a Paulo Compassion Night, di mana kasih diwujudkan, iman diteguhkan, dan pengharapan dinyalakan.

Saya, Adharta dalam pelayanan sebagai Penasihat PPG dan Ketua Umum KRIS
berdiri di hadapan Anda bukan sebagai seseorang yang ingin menyampaikan kata-kata indah, tetapi sebagai seseorang yang ingin mengucapkan dua kata sederhana, namun penuh kuasa dan makna
Terima kasih.
Terima Kasih
Dan
Terima kasih
untuk Anda Semua

Terima kasih kepada semua sahabat, umat, relawan, donatur, pelayan, panitia
Media Eljohn dan Media lainnya
baik yang menyumbangkan materi, waktu, tenaga, pikiran maupun doa

Anda semua adalah bagian dari karya Tuhan malam ini.

Dalam kebersamaan ini, sebenarnya telah terjadi tiga hal besar

Pertama
Kita berhasil mengumpulkan dana bagi pembangunan Gereja Santo Vincentius a Paulo
Sebuah kontribusi nyata dari umat yang peduli dan memiliki hati bagi Allah. Hasil yang terkumpul cukup signifikan bukan hanya karena jumlahnya, tetapi karena kasih di baliknya.

Kedua adalah Doa menyatukan kita dalam iman, harapan, dan kasih
Doa yang bukan sekadar rangkaian kata, tetapi ungkapan ketundukan kepada Tuhan yang menjadi pusat malam ini.

Inilah liturgi hidup doa yang bergerak melalui tindakan belas kasih.

Ketiga
Kita membangun komunitas baru
Malam ini memperkenalkan Gereja Santo Vincentius a Paulo kepada masyarakat luas
dan seperti sebuah pesta pernikahan, kita menyaksikan kelahiran relasi baru.
Dalam gambaran iman, Yesus adalah mempelainya dan Gereja adalah mempelai perempuan.

Dan malam ini, kita semua menjadi saksi kasih itu.
Sebuah Sentuhan Pribadi
Sahabatku, ada satu hal kecil yang ingin saya bagikan.
Entah mengapa, saya menemukan bahwa nama saya
Adharta
dalam bahasa Irlandia ternyata memiliki sebuah arti yang unik dan lucu.
Silakan nanti cek di Google Translate.

Saya yakin, setelah Anda temukan, Anda akan tersenyum.
Dan bagi yang tahu duluan mungkin Anda pantas mendapatkan hadiah dari saya

Nama hanyalah nama, tetapi maknanya dapat menjadi doa.
Begitu pula kata terima kasih sederhana, tetapi memiliki kekuatan rohani yang sangat besar.

Makna
“Terima Kasih”
Ada dua bagian besar dari makna kata

“Terima kasih” dan izinkan saya membaginya secara lebih mendalam.

Pertama
Pentingnya Arti “Terima Kasih” Kasih Tanpa Batas
Terima kasih adalah ungkapan cinta tanpa syarat.
Ketika seseorang berkata terima kasih, yang ia lakukan bukan hanya menghargai orang lain
tetapi juga mengakui bahwa ia tidak hidup sendirian.
Setiap kali kata “Terima kasih” keluar dari hati seseorang, seluruh
malaikat bersorak memuji Tuhan,
karena kata itu adalah bahasa kasih yang paling universal.

Terima kasih adalah bentuk kerendahan hati.
Ia mengatakan:
“Aku tidak bisa melakukan ini sendirian.”
“Aku menghargaimu.”
“Aku melihatmu.”
“Aku bersyukur.”

Dalam dunia yang sering penuh kesibukan, ambisi, persaingan, bahkan permusuhan
kata terima kasih adalah undangan untuk berhenti sejenak, menyadari bahwa hidup adalah anugerah.

Kedua
Arti Pentingnya Terima Kasih

Sumber Ketenangan dan Sukacita
Ketika kita mengucapkan terima kasih, sesuatu terjadi di dalam diri kita.
Hati menjadi lebih ringan, pikiran menjadi lebih damai, dan jiwa terasa lebih penuh.
Apabila ada
Kebahagiaan yang disimpan sendiri maka hasilnya hanyalah kesepian.

Tetapi kebahagiaan yang dibagikan akan menjadi berkat.
Itulah sebabnya orang membuat pesta.
Bukan untuk menunjukkan kemewahan atau keberhasilan,
tetapi untuk membagi sukacita.

Demikian juga malam ini malam ini bukan hanya tentang donasi.
Bukan hanya tentang meja, dekorasi, atau angka nominal.
Malam ini adalah pesta kasih.
Malam berbagi sukacita.

Dan itulah arti terdalam dari kata terima kasih
ketika syukur menjadi tindakan,
dan kasih menjadi nyata.

Teriring Doa dan Syukur
Sebelum saya menutup, izinkan saya mengajak kita merenung sejenak.
Jika malam ini kita dapat memberi itu karena Tuhan telah lebih dulu memberi kepada kita.
Jika malam ini kita dapat berbagi itu karena kasih telah lebih dulu menyentuh kita.

Dan jika malam ini kita dapat bahagia itu karena kita tidak hanya menerima, tetapi juga belajar memberi.

Semoga kata “Terima kasih” tidak pernah menjadi kata yang sekadar kita ucapkan.

Biarlah ia menjadi:
Nafas rohani
Bahasa cinta
Jembatan persaudaraan
Dan benih harapan bagi gereja

Damai sejahtera serta suka cita menyertai anda dan keluarga

Adharta

Www.kris.or.id
Www.adharta.com

Doa Malam Vico Night

Atas nama bapa
Dan putera dan roh kudus
Amin

Ya
Allah Bapa yang Mahakudus,
pada malam penuh rahmat ini kami berhimpun
dalam satu iman, satu harapan,
untuk memohon berkat-Mu
atas karya suci pembangunan
Gereja Katolik Vincentius a Paulo,
Gunung Putri – Bogor.

Kami serahkan kepada-Mu para donatur,
yang dengan hati murah dan tulus
menyambut panggilan kasih dari-Mu.
Limpahkanlah rezeki, kesehatan, dan damai
agar setiap persembahan mereka
menjadi dupa harum yang naik ke hadirat-Mu.

Kami doakan Pastor Kepala,
para pelayan umat,
serta seluruh umat paroki yang Kau percayakan.
Teguhkanlah mereka dalam iman,
kuatkanlah dalam pengharapan,
dan satukanlah dalam cinta kasih Kristus
yang mengalir tanpa akhir.

Kami mohonkan pula berkat-Mu
bagi panitia dan semua pendukung acara
yang bekerja tanpa pamrih.
Sucikan niat mereka
dan jadikan setiap usaha
sebagai bagian dari karya keselamatan-Mu.

Ya Tuhan,
Ya Allahku

jadikanlah malam ini persembahan syukur,
di mana hati kami menyatu
dalam kerinduan akan Rumah-Mu.
Semoga dari kebersamaan ini tumbuh benih berkat
yang kelak berdiri menjadi Gereja-Mu yang kudus,
tempat kami memuji dan memuliakan nama-Mu.

Bunda Maria
Bunda penolong
Dekaplah kami
Dan bungkus doa kami bust puteraMu yang pasti akan menolong kami

Terima kasih
Roh kudus
Roh pembimbing kami
Satukanlah langkah kami dalam suka cita surgawi

Dalam nama bapa
Dan putera dan Roh Kudus

Amin

Adharta
Penasihat PPG
Ketua umun
KRIS

VICO NIGHT H-1

Kisah Keluarga

Penggalangan Dana Pembangunan Gereja Santo Vincentius a Paulo

H-1

Menuju VICO Night

Oleh : Adharta
Penasihat PPG
Ketua Umun
KRIS

Pengharapan yang paling besar karena ada hari esok

Sahabat baikku
Penggalangan Dana Gereja Santo Vincentius a Paulo
Tingal 1 hari lagi

hari itu adalah hari yang telah lama kita nantikan, hari yang mungkin tidak akan terlupakan sepanjang hidup kita
VICO Night,

malam ketika harapan, doa, dan cinta kasih umat bersatu demi sebuah mimpi suci

Pembangunan Gereja Santo Vincentius a Paulo.

Ketika matahari sore mulai turun hari ini, ada rasa yang sulit dijelaskan.

Seakan-akan langit pun ikut memandang persiapan kita dengan penuh harap.
Dan di balik semua kesibukan, ada sebuah cerita yang selama ini menjadi alasan mengapa gereja ini harus berdiri.

Sebuah kisah sederhana, namun cukup kuat untuk membuat siapa pun meneteskan air mata.

Beberapa bulan lalu, seorang anak kecil bernama Maria, usianya baru delapan tahun, datang bersama ibunya ke tanah tempat gereja itu akan dibangun.
Ia tidak membawa apa pun, hanya sebuah rosario kecil dari plastik yang sudah mulai pudar warnanya.

Maria merunduk, lalu memeluk ibunya sembari berbisik lirih,
“Mama… kapan kita punya gereja sendiri?

Aku ingin berdoa untuk Papa tanpa kehujanan lagi.”

Sang ibu hanya tersenyum, tapi air matanya jatuh tanpa bisa ia cegah.

Suaminya
ayah Maria
meninggal dunia dua tahun lalu karena sakit.

Maria
Anak kecil itu selalu berdoa untuk almarhum ayahnya, namun selalu di tempat seadanya kadang di bawah tenda, kadang di sudut ruangan rumah umat lain, kadang bahkan hanya di pinggir jalan saat mengikuti prosesi.

Ketika relawan pembangunan gereja mendekat dan menanyakan apa yang sedang ia lakukan, Maria mengulurkan rosario kecilnya.
“Ini satu-satunya harta yang aku punya,” katanya.

“Kalau ini bisa bantu bangun gereja… aku kasih.”

Semua orang terdiam.
Tidak ada kata-kata yang cukup kuat untuk menggambarkan momen itu.

Rosario plastik itu kini disimpan dengan sangat hati-hati
bukan karena nilainya, tetapi karena air mata dan harapan yang menyertainya.

Karena dari seorang anak kecil, kita belajar
cinta bukan soal besar kecilnya pemberian, tetapi seberapa besar hati yang kita sertakan.

Hari ini, ketika kita tinggal satu hari menuju VICO Night,
kisah itu menggema kembali.
Maria omengingatkan kita bahwa gereja yang hendak kita bangun ini bukan hanya bangunan fisik.

Gereja ini adalah rumah doa bagi setiap Maria yang sedang berjuang menguatkan imannya.

Gereja ini adalah tempat bagi para orang tua yang datang membawa syukur dan luka hidup mereka.

Gereja ini adalah ruang teduh bagi mereka yang letih, patah, dan membutuhkan kehadiran Tuhan dalam keheningan.

Dan mungkin, tanpa kita sadari, gereja ini juga akan menjadi tempat bagi kita sendiri suatu hari nanti
saat kita jatuh, saat kita kehilangan, saat kita merasa kosong, atau saat kita membutuhkan secercah cahaya dari surga.
Dimana saja

Di balik layar persiapan acara, para panitia telah bekerja tanpa lelah.
Ada yang datang paling awal dan pulang paling akhir.
Ada yang diam-diam menanggung kekurangan dana demi menutup celah agar acara ini tetap berjalan.

Ada yang menjual barang pribadi, ada yang menyisihkan gaji bulanannya, ada pula yang berdoa semalaman agar Tuhan menyertai setiap langkah.

Semua itu dilakukan bukan untuk dipuji, bukan untuk dikenang, melainkan karena cinta yang tulus bagi Tuhan dan sesama.

Banyak dari kita mungkin tidak menyadarinya, namun setiap orang yang membantu
sekecil apa pun kontribusinya
telah menjadi bagian dari sejarah rohani yang kelak akan diceritakan turun-temurun:
bahwa pada suatu masa, umat Santo Vincentius a Paulo pernah bersatu, bergandeng tangan, dan membangun rumah Tuhan dengan air mata, pengorbanan, dan cinta yang luar biasa.

Esok malam, ketika lampu-lampu menyala, ketika musik mulai mengalun, ketika setiap tamu mengambil tempat duduknya, mari kita ingat satu hal

VICO Night bukan sekadar acara.
Ini adalah momentum iman.
Momentum harapan.
Momentum cinta kasih yang hidup.
Dan ketika kita memberi, kita bukan hanya membantu membangun sebuah gereja.
Kita sedang membangun masa depan iman.

Kita sedang membangun tempat di mana anak-anak seperti Maria bisa berlutut dan berdoa tanpa takut kehujanan.
Kita sedang membangun ruang bagi jiwa-jiwa yang membutuhkan keheningan untuk bertemu Tuhan.

Kita sedang membangun warisan rohani bagi generasi yang belum lahir.
Tinggal satu hari lagi.
Satu hari menuju malam di mana air mata mungkin akan jatuh, bukan karena kesedihan, tetapi karena haru melihat betapa besar kasih Tuhan yang bekerja melalui kita semua.

Semoga hati kita tergerak.
Semoga pengorbanan kita berkenan.
Dan semoga Gereja Santo Vincentius a Paulo benar-benar berdiri
bukan hanya dari batu dan semen, tetapi dari cinta, iman, dan air mata umatnya.
Amin.

Salam dan berkat
Bersama Bapa Uslup
Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM
Hadir bersama anda

Adharta

Www.kris.or.id
Www.adharta.com

Kisah Keluarga

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Kisah keluarga ini belum lengkap karena tidak diceritakan termasuk anak Cucu
Tapi paling tidak sudah bercerita tentang kakak adik mungkin di kemudian hari bisa di buat buku termasuk anak cucu dan cicit
Semoga

Sahabatku semua yang terkasih

Di dunia yang begitu luas dan hiruk-pikuk, satu tempat yang tak pernah berubah adalah keluarga.

Dan bagi saya, keluarga adalah anugerah terbesar yang Tuhan titipkan.

Kami bersepuluh bersaudara
lima laki-laki dan lima perempuan
dan hidup dalam suasana sederhana, damai, dan penuh kasih.

Masing-masing dari kami membawa cerita, pergumulan, dan keunikannya sendiri, namun tetap terikat oleh satu hal cinta keluarga yang tidak pernah putus.

Akar Cerita
Papa dan Mama
Kisah kami tidak bisa dimulai tanpa menceritakan dua sosok yang menjadi fondasi kehidupan kami
Papa dan Mama.

Papa, Johnny Ongko (Ong Soei Ping)
lahir dan besar di Fuzhou, Tiongkok. Hidupnya penuh perjuangan sejak muda. Beliau ikut Kakek merantau ke Indonesia dan akhirnya bekerja di PELNI.
Dari Surabaya hingga pulau-pulau kecil di timur Indonesia, Papa hidup bersama laut.
Ombak, angin, dan pelabuhan menjadi sahabatnya.
Beliau penyayang, tegas, dan memiliki ketekunan yang luar biasa.
Tuhan memberinya umur panjang
95 tahun
dan di sepanjang hidupnya, Papa tak pernah kehilangan kerendahan hati.

Mama, Magdalena,
(Tjia Soei Tju)
sosok perempuan lembut namun kuat. Beliau mengasuh kami dengan kasih yang tak terhingga. Beliau mendidik kami untuk saling mengasihi, saling menjaga, dan tidak meninggalkan satu sama lain.
Hobbynya masak memasak
Mie rebus Lumpia kue perut ayam bubur asin
Wah semua masak sendiri
Tangannya dingin
Kerja Roti menjahit membuat makanan
Jualan sejak kami kecil kecil
Bikin kue kering

Mama pergi di usia 73 tahun, namun kasihnya tetap mengalir dalam darah kami sampai hari ini.

Kalabahi, Pulau Alor
Tempat Semua Dimulai
Kami semua lahir di Kalabahi, Pulau Alor, NTT. Di sana Papa pernah menjadi Kepala PELNI.

Pulau kecil itu, dengan angin asin laut dan debur ombak yang lembut, adalah saksi bisu dari masa-masa awal keluarga kami. Kenangan kami bertebaran di sana
tawa, tangis, menyanyi bo lele bo
Mau faliye
Semua kebersamaan, dan mimpi-mimpi kecil kami.
Di Alor, kami hidup dalam ketercukupan, bukan kemewahan. Namun justru dari situlah tumbuh rasa syukur, kemandirian, dan semangat untuk selalu berjuang.

Mari mengenal kakak adikku

Kakak Nomor 1 July Ongko

Kakak perempuan tertua kami, July, adalah seorang suster perawat di Rumah Sakit Adi Husada Surabaya. Hidupnya dikhususkan untuk melayani sesama. July adalah pelita bagi orang sakit, dan setiap orang yang mengenalnya pasti merasakan ketulusan hatinya.
Namun Tuhan memanggilnya terlalu cepat karena Asma berat
July meninggal di usia 30 tahun karena asma. Kepergiannya meninggalkan luka, namun juga teladan
bahwa hidup yang singkat bisa menjadi berkat bagi banyak orang.

Kakak Nomor 2 Ming atau George Artha
Kakak kedua kami, Ming atau George
tinggal di Jakarta. Beliau seorang ayah dengan empat anak.
Salah satu anaknya, Dr. Ir. Ridwan, dikenal sebagai ahli manajemen yang disegani.
Kakak Ming adalah sosok yang bijaksana, pendiam namun penuh perhatian. Ia seperti penopang yang selalu ada ketika keluarga membutuhkan.
Penggemar kepala Ikan Medan baru di Griya Sunter

Kakak Nomor 3 Christina
Christina, tinggal di Kupang, adalah ibu dari Tony Dima, MM, Ketua KRIS NTT. Christina adalah perempuan kuat, penuh kasih, dan menjadi figur penting dalam jaringan keluarga kami terutama di Nusa Tenggara Timur.
Dialah penghubung, jembatan antara kami yang tinggal berjauhan. Ia selalu membawa cerita, kabar, dan kehangatan dari timur.

Kakak Nomor 4 Herline (Ay Hoa)
Nama yang indah, Herline, dan begitulah hidupnya. Ia adalah pengusaha tangguh, cekatan, dan pekerja keras yang tinggal di Surabaya.

Namun pada usia 51 tahun, Tuhan memanggilnya pulang. Kepergiannya menyisakan kekosongan yang besar, namun juga kenangan tentang kegigihan dan keberanian seorang perempuan yang pantang menyerah.

Kakak Nomor 5 Risal
Risal, Penasihat KRIS, tinggal di Bandung.

Seorang pengusaha kapal dan ahli bahan peledak.
Beliau aktif di gereja, suka bercanda, dan dikenal sebagai “gudang cerita”.
Jika keluarga adalah sebuah pesta, Risal adalah suara tawa yang paling keras.
Sosok yang membuat keluarga menjadi hangat.

Kakak Nomor 6 Steve
Steve, yang ulang tahunnya dirayakan hari ini, tinggal di Surabaya.
Beliau lulusan Teknik Mesin Trisakti tahun 1973. Attitudenya sederhana
rajin, tekun, dan tak pernah mengeluh.
Hobbynya cari makan enak ya
Kalau ke Surabaya tidak lupa aku diajak ke Tahu Campur di Kalasan
Kalau ada pak Dahlan Iskan
Sama doyan annya Duren

Hubungannya dengan gereja begitu erat hingga banyak orang mengenalnya sebagai sosok yang selalu siap membantu. Hidupnya adalah bukti bahwa kesetiaan pada pelayanan membawa kedamaian.

Kakak perempuan Nomor 7 Elianora

Elianora, pengusaha logistik di Surabaya, adalah pribadi yang kuat, tegas, namun berhati lembut.
Beliau menjaga keluarga dengan mata dan hati seorang kakak perempuan sejati.

Saya Anak ke-8
Saya sendiri adalah anak ke-8.
Tinggal di Jakarta, lulusan Teknik Sipil Trisakti tahun 1977, dan MBA Prasetiya Mulya tahun 1984. Jalan hidup membawa saya menjadi Ketua Umum KRIS.
Saya tidak sempurna, namun satu hal pasti saya mencintai keluarga saya. Segala perjuangan saya hari ini adalah warisan dari Papa dan Mama
ketekunan, kasih, dan kerendahan hati.

Adik laki laki Nomor 9 Freddy
Freddy, tinggal di Kupang, adalah Penasihat KRIS.

Beliau aktif di Gereja Bethany dan pemilik Hotel Ima Kupang.

Freddy dan istrinya, Mariana, adalah pilar KRIS NTT. Mereka mendukung program stunting di TTU, membantu penanganan COVID-19, dan tak pernah menolak jika diminta membantu.

Freddy adalah gambaran adik yang setia pada keluarga dan Tuhan
Dan masyarakat.

Adik perempuan Nomor 10 Monalisa
Adik saya
Yang bungsu, drg. Monalisa, tinggal di Singapura.
Jika ada urusan rumah sakit, perawatan, atau kesehatan di Singapura, dialah “peta hidup” yang tahu semuanya.
Ia cerdas, perhatian, dan selalu menjadi tumpuan keluarga saat ada yang sakit.

Sejak saya sakit operasi berulangkali di Singapura
Drg Monalisa selalu mendampingi istri saya Magdalena
Dalam suka dan kesulitan aku mauki bersama Drg Monalisa
Mulai operasi Jantung sampai terakhir pasang ICD

Kekuatan Kami
Hidup Rukun & Damai

Meski perjalanan hidup kami penuh badai
kehilangan orang tersayang, perjuangan ekonomi, merantau ke banyak kota

kami tetap hidup rukun dan damai.
Kesederhanaan hidup membuat kami mengerti arti saling menopang.

Kami tidak kaya harta, tetapi kami kaya cinta.

Kami tidak selalu sempurna, tetapi kami selalu bersama.
Kenangan yang Tak Terlupakan
Ada banyak kenangan kecil yang menjadi perekat keluarga

Papa menggandeng kami ke pelabuhan, memperlihatkan kapal-kapal besar sambil bercerita tentang ombak dan badai.

Mama memasak hidangan sederhana, namun rasanya seperti cinta yang dituangkan di piring.
Malam-malam di Kalabahi, kami duduk di teras rumah, melihat bintang yang seakan jatuh ke laut.

Tawa kami saat berkumpul; tangis kami saat kehilangan
doa kami yang tak pernah putus.
Itulah kekayaan sejati keluarga kami.

Akhir kata
Keluarga besar kami adalah bukti bahwa cinta tidak selalu lahir dari kemewahan, tetapi dari hati yang saling menjaga.
Kami lahir dari kesederhanaan, namun tumbuh dengan kekuatan untuk saling menopang.

Saya bangga menjadi bagian dari keluarga ini.
Saya bangga memiliki kakak dan adik yang rukun, penuh kasih, dan satu hati.

Dan setiap kali saya melihat ke belakang, saya tahu apa pun yang telah saya capai hari ini di KRIS, di pekerjaan, dalam hidup adalah karena saya dibesarkan oleh keluarga yang penuh cinta.
Inilah keluarga kami.

Inilah warisan Papa dan Mama.
Inilah kisah buat anak anak dan cucu cucu
Kelak kalian semua mewarisinya

Aliran air mata suka cita menutup kisahku

Adharta

Www.kris.or.id
Www.adharta.com

VICO NIGHT H-2

Menjelang Vico Night
Angke Heritage PIK2

Oleh : Adharta
Penasihat PPG
Ketua Umum
KRIS

Jembatan antara dua Cinta dan Kasih

Gunung Putri
23 Nopember 2025

Cinta itu menerima apa adanya

Kasih itu memberi dengan tulus

Pertemuan antara Cinta dan Kasih
Ibarat
Bulan menyinari Bumi di Malam hati
Dan Matahari menghangatkan Bumi dengan Terang KasihNya

Sahabatku
Dalam dua hari ke depan, kita akan menyambut Vico Night, sebuah malam kehormatan yang dipersembahkan bagi karya pelayanan dan solidaritas sesama.

Namun hingga saat ini, kami menyadari bahwa donasi yang masuk masih sangat terbatas, dan penjualan dan dustribusi tiket masih sangat terbatas sekitar baru mencapai 50%.
Kondisi ini mendorong kami untuk menyampaikan ajakan dengan penuh ketulusan dan rasa hormat.

VICO Night bukan hanya sebuah acara seremonial.
VICO atau Vincentius a Paulo Compassion

adalah komitmen dalam ruang di mana kepedulian diterjemahkan menjadi tindakan nyata
di mana setiap kontribusi akan memberikan harapan bagi mereka yang tengah menghadapi kesulitan hidup.

Dalam momen ini, kami hendak mengajak para sahabat dan donatur untuk membuka hati, melihat lebih jauh dari sekadar angka, dan menyadari bahwa setiap dukungan kecil maupun besar memiliki nilai kemanusiaan yang sangat berarti.
Melalui kehadiran Anda, melalui donasi yang Anda berikan, kita sedang membangun
sebuah jembatan pengharapan
Antara CINTA dan KASIH
Dimana nantinya
Kita menunjukkan bahwa dalam kehidupan sosial, kepedulian bukan hanya slogan, melainkan komitmen yang diwujudkan dengan ketulusan.

Kami percaya bahwa kebesaran sebuah acara tidak hanya diukur dari kemeriahannya, tetapi dari seberapa besar dampak yang mampu dihasilkan bagi mereka yang membutuhkan uluran tangan.

DOAKU

Tuhan yang Maha Pengasih,
kami memohon bimbingan-Mu agar hati kami selalu peka terhadap penderitaan sesama.

Kuatkan kami untuk mengambil bagian dalam karya kebaikan ini, dan berkatilah setiap donasi, yang datang dari para Donatur para Tamu yang akan hadir
Dimana kami tahu bentang jarak ke PIK2 cukup jauh dan Macet namun
setiap langkah, dan setiap niat baik yang terlahir dari keikhlasan.

Semoga VICO Night
Engkau jadikan malam yang membawa cahaya, Terang kedamaian, dan manfaat bagi banyak jiwa yang membutuhkan

Kabulkanlah doa kani

Amin.

Adharta

Www.adharta.com

Www.kris.or.id