Djiong Benci yang Rindu, Rindu yang Benci

Djiong
Benci yang Rindu, Rindu yang Benci

Cerpen 0051

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

14 Pebruari 2026

Selamat Hari Valentine

Dalam kepercayaan orang Tionghoa, ada satu kata yang sulit dijelaskan dengan logika manusia modern
Djiong.

Ia bukan sekadar kebetulan.
Bukan pula hanya pertemuan biasa.

Djiong adalah ikatan
entah cinta, entah benci
yang menyeberang dari satu kehidupan ke kehidupan lain, menunggu waktu untuk bertemu kembali.

Kisah Cinta

Albert tidak pernah percaya hal-hal seperti itu.
Ia mahasiswa Fakultas Ekonomi, rasional, teratur, dan logis.

Namun semua keyakinannya mulai runtuh sejak ia bertemu Rina.

Pertemuan mereka sederhana.
Satu universitas.
Satu fakultas.

Satu kelompok belajar.
Rina adalah perempuan dengan senyum yang mudah hadir, tutur kata lembut, dan mata yang menyimpan kedalaman. Bersamanya, Albert merasa akrab sejak hari pertama, seolah tidak ada jarak, seolah mereka sudah lama saling mengenal.

Hari-hari kampus mereka dipenuhi kebersamaan.
Belajar hingga malam.
Berbagi mimpi tentang masa depan.
Tertawa karena hal-hal kecil.

Diam bersama tanpa rasa canggung.
Albert menyayangi Rina dengan tulus.
Dan Rina mencintai Albert dengan caranya yang tenang.
Namun di balik semua keindahan itu, ada sesuatu yang tidak pernah mereka ceritakan
hingga akhirnya tak bisa lagi disembunyikan.
Setiap malam, Albert bermimpi buruk.

Dalam mimpinya, ia dan Rina bertengkar hebat.
Bukan pertengkaran kecil.
Bukan adu argumen biasa.
Melainkan amarah yang membara, kebencian yang begitu dalam, hingga tangan mereka saling memukul tanpa belas kasih.

Albert selalu terbangun dengan napas tersengal, tubuh basah oleh keringat, dan dada yang sesak.

Ia heran.
Bagaimana mungkin di dunia nyata ia mencintai Rina, tetapi di dunia mimpi ia begitu membencinya?

Dua dunia yang bertolak belakang, bagai langit dan bumi.
Yang lebih mengganggu, mimpi itu datang hampir setiap malam.

Albert mencoba menyembunyikannya.
Ia tidak ingin merusak kebahagiaan mereka.
Namun ia tidak tahu bahwa Rina mengalami hal yang sama.
Setiap malam, Rina juga dihantui mimpi penuh amarah.
Dalam mimpinya, wajah Albert berubah dingin.

Kata-kata yang keluar dari mulutnya tajam seperti pisau. Rina menangis, berteriak, membenci
perasaan yang sama sekali tidak ia rasakan saat terjaga.
Pagi hari, mereka bertemu di kampus, saling tersenyum, seolah malam sebelumnya tidak pernah ada.

Namun mata tidak pernah bisa berbohong.
Ada kelelahan.
Ada ketakutan.
Ada tanya yang menggantung.
Suatu malam, di bawah langit yang redup, Albert akhirnya berkata pelan,

“Rina… akhir-akhir ini aku sering mimpi buruk.”

Rina terdiam lama.
Lalu air matanya jatuh.

“Aku juga,” jawabnya lirih.

Malam itu mereka saling bercerita.
Tentang mimpi.
Tentang amarah.
Tentang rasa benci yang muncul tanpa sebab.
Mereka berpelukan, menangis, bingung, dan takut kehilangan satu sama lain.

Padahal mereka punya cita-cita yang sama.
Setelah lulus sarjana, Albert berencana melamar Rina.

Mereka membayangkan rumah kecil, meja makan sederhana, dan kehidupan yang tenang.
Namun semakin dekat waktu kelulusan, semakin berat beban batin mereka.

Hingga suatu hari, seseorang menyarankan mereka menemui seorang hwesio di klenteng tua di pinggir kota Jakarta.

Dengan hati ragu namun penuh harap, mereka datang.
Hwesio Bante menyambut mereka dengan senyum damai. Setelah mendengarkan cerita panjang mereka, ia menutup mata sejenak, lalu berkata pelan,
“Kalian ini Djiong.”

Albert dan Rina saling berpandangan.

“Djiong adalah ikatan karma,” lanjut hwesio itu. “Bisa jadi di kehidupan lampau, kalian sangat dekat… atau sangat bermusuhan.

Perasaan itu belum selesai, maka ia terbawa hingga kini.”

“Lalu… apakah kami harus berpisah?” tanya Rina dengan suara bergetar.

Hwesio Bante menggeleng.
“Tidak semua Djiong datang untuk diputus. Ada yang datang untuk disembuhkan.”

Albert menggenggam tangan Rina erat.
Mereka berdua berasal dari keluarga Katolik. Mereka berdoa dengan cara yang mereka kenal.

Namun malam itu, mereka belajar satu hal baru bahwa cinta kadang bukan tentang memulai, melainkan menyelesaikan.
Sejak hari itu, mereka tidak lagi melawan mimpi.
Mereka menghadapinya dengan doa, dengan kejujuran, dengan saling memaafkan
bahkan atas kesalahan yang mungkin tidak pernah mereka ingat.

Mimpi itu perlahan memudar.
Tidak langsung hilang, tetapi semakin jarang.
Dan setiap kali terbangun dengan air mata, mereka selalu saling menggenggam tangan, mengingatkan diri bahwa mereka memilih cinta.

Hari kelulusan pun tiba.
Albert berdiri dengan toga, menatap Rina yang tersenyum sambil menahan tangis.

Di tengah keramaian, Albert berlutut.
Bukan dengan janji sempurna.
Melainkan dengan suara gemetar.

“Entah berapa kehidupan kita sudah bertemu… aku hanya ingin, di kehidupan ini, kita saling menyembuhkan.

Rina menangis, lalu mengangguk.
Karena Djiong bukan tentang benci atau rindu.
Ia tentang takdir yang meminta keberanian untuk mencintai, meski pernah terluka.

Dan cinta mereka pun berlanjut
bukan tanpa bayang-bayang masa lalu, tetapi dengan cahaya pengampunan

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Kisah Pulang, Harapan, dan Cinta yang Selalu Diperbarui Imlek (05)

Kisah Pulang, Harapan, dan Cinta yang Selalu Diperbarui

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Medio Pebruari 2026

Menjelang Imlek

Sahabatku

Setiap kali Imlek tiba, ada satu kata yang diam-diam memanggil banyak hati
PULANG

Pulang ke rumah, pulang ke meja makan, pulang ke orang-orang yang kita cintai.

Imlek bukan sekadar pergantian tahun.
Imlek adalah momen ketika waktu seakan melambat, memberi ruang bagi keluarga untuk duduk bersama, saling menatap, dan berkata—meski tanpa kata

“aku masih di sini, bersama kamu.”

Di banyak rumah, aroma masakan khas Imlek memenuhi udara.
Lampion merah digantung dengan hati-hati. Angpao disiapkan bukan soal jumlah, melainkan doa. Di balik semua itu, tersimpan kisah cinta yang sederhana
Cinta orang tua kepada anak, cinta anak kepada leluhur, dan cinta keluarga yang terus dijaga lintas generasi.

Kisah tentang Meja Makan
Ada kisah yang hampir selalu sama, namun tak pernah membosankan.

Seorang ayah yang jarang bicara, tiba-tiba tersenyum lebih lama.

Seorang ibu yang sibuk sepanjang tahun, hari itu duduk paling akhir, memastikan semua sudah makan.

Anak-anak yang mungkin jarang pulang, hari itu hadir lengkap
meski hanya untuk satu malam.

Imlek mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu besar dan gemerlap.

Kadang ia hadir dalam semangkuk sup hangat, tawa kecil di sela cerita lama, atau keheningan penuh syukur setelah doa bersama.

Merah, Angpao, dan Makna Cinta
Warna merah yang mendominasi Imlek bukan sekadar lambang keberuntungan.

Imlek adalah simbol keberanian untuk berharap lagi, meski tahun lalu tidak selalu mudah.

Angpao bukan tentang uang, tetapi tentang kasih yang mengalir dari tangan ke tangan, dari generasi ke generasi.

Di sinilah Imlek menjadi bahasa cinta yang universal.

Tanpa perlu banyak penjelasan, semua orang bisa merasakannya
termasuk mereka yang bukan berasal dari budaya Tionghoa.

Itulah sebabnya Imlek kini dirayakan luas di Indonesia, sebagai bagian dari kebersamaan yang indah dalam keberagaman.
Romantika Harapan Baru

Imlek juga romantis dengan caranya sendiri. Ia tidak berisik soal janji, tetapi lembut dalam harapan.
Harapan agar keluarga tetap utuh.
Harapan agar yang jauh bisa kembali.
Harapan agar tahun baru memberi ruang untuk saling memaafkan dan memulai lagi.

Di era digital, Imlek mungkin hadir lewat unggahan media sosial dan pesan singkat.

Namun maknanya tetap sama: mengingatkan kita bahwa di balik layar ponsel, ada rumah yang menunggu, ada orang yang rindu, dan ada cinta yang tak pernah benar-benar pergi.

Imlek adalah Cinta

Imlek mengajarkan satu hal sederhana namun mendalam

Bahwa hidup akan selalu lebih hangat jika dijalani bersama

Selamat merayakan Imlek.
Semoga kita semua selalu menemukan jalan pulang
kepada keluarga, kepada cinta, dan kepada harapan yang baru.

Bersambung

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Merayakan Imlek

Keluarga, Persahabatan, dan Pembangunan Bangsa

Imlek (04)
Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Komunitas
Relawan
Indonesia
Sehat

Medio pebruari 2026

Merayakan Imlek

Keluarga, Persahabatan, dan Pembangunan Bangsa

Sahabatku

Setiap kali kita merayakan Imlek, sesungguhnya kita tidak hanya merayakan pergantian tahun dalam penanggalan Tionghoa.

Imlek adalah perayaan nilai, makna, dan harapan. Di dalamnya tersimpan pesan luhur yang diwariskan oleh leluhur dan tetap relevan hingga hari ini, terutama bagi pembangunan bangsa dan negara Indonesia.

Ada tiga hal utama yang kita rayakan bersama Imlek: keluarga, persahabatan, dan pembangunan kehidupan.

Pertama dan yang paling utama adalah keluarga.

Imlek selalu identik dengan pulang ke rumah, berkumpul bersama orang-orang terkasih.

Ajakan pulang ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin untuk kembali pada akar kehidupan.

Di meja makan Imlek, kita duduk bersama kakek dan nenek, ayah dan ibu, kakak dan adik, sepupu, paman, dan bibi.

Di sanalah nilai penghormatan kepada orang tua diajarkan, diwariskan, dan dirasakan secara nyata.

Keluarga adalah fondasi masyarakat. Ketika keluarga kuat, masyarakat pun akan kuat.

Salah satu tujuan utama perayaan Imlek adalah merapatkan kembali ikatan keluarga yang mungkin renggang oleh kesibukan hidup.

Silaturahmi yang terjalin bukan hanya memperkuat hubungan darah, tetapi juga menumbuhkan rasa tanggung jawab, kepedulian, dan kasih sayang antargenerasi.

Nilai inilah yang menjadi modal sosial penting bagi bangsa Indonesia yang majemuk dan beragam.

Kedua, Imlek juga merayakan persahabatan. Dalam tradisi Tionghoa, persahabatan dipandang sebagai mutiara kehidupan.

Sahabat adalah mereka yang hadir bukan karena hubungan darah, tetapi karena ikatan hati dan kepercayaan.

Perayaan Imlek menjadi momentum untuk saling mengunjungi, saling mendoakan, dan mempererat hubungan antarsahabat tanpa memandang perbedaan latar belakang.
Kita berbeda agama
Kepercayaan
Tapi satu dalam persahabatan

Leluhur kita mengajarkan bahwa membangun persahabatan adalah cita-cita luhur.

Persahabatan yang tulus mampu menciptakan harmoni, bahkan perdamaian dunia.

Kehilangan sahabat, atau hidup tanpa sahabat, adalah kerugian besar dalam kehidupan manusia.

Dalam konteks Indonesia, semangat persahabatan ini sangat penting untuk menjaga persatuan dan toleransi di tengah keberagaman suku, agama, dan budaya. Imlek

Mengingatkan kita bahwa persahabatan adalah jembatan menuju kehidupan yang damai dan sejahtera.

Ketiga, Imlek juga mengandung semangat pembangunan kehidupan. Pembangunan tidak hanya dimaknai sebagai pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan manusia. Transfer teknologi, pertukaran informasi, kolaborasi usaha, dan hubungan bisnis adalah bagian dari dinamika kehidupan yang turut dirayakan dalam semangat Imlek.

Kolaborasi dan business relation yang sehat akan mendorong pertumbuhan ekonomi dan membuka peluang kerja.
Melalui teknologi dan peningkatan kemampuan intelektual, manusia didorong untuk terus belajar dan berkontribusi.

Apa pun yang bisa kita kerjakan demi pembangunan
baik di bidang pendidikan, ekonomi, sosial, maupun budaya
adalah bentuk nyata pengamalan nilai Imlek. Pembangunan manusia menjadi kunci agar bangsa Indonesia mampu bersaing, mandiri, dan bermartabat.
Saat ini, perayaan Imlek mendapatkan perhatian yang semakin besar dari Pemerintah Indonesia.

Hal ini menunjukkan bahwa Imlek telah menjadi bagian utuh dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Harapannya, dari tahun ke tahun, nilai-nilai Imlek dapat terus berkontribusi dalam membangun Indonesia yang lebih adil, lebih sejahtera, dan lebih beradab.
Dengan semangat Imlek, kita berharap bangsa Indonesia dapat lepas dari kemiskinan dan keterbelakangan

Pendidikan yang kuat akan memberantas buta huruf, membuka wawasan, dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Imlek bukan hanya perayaan budaya, tetapi juga sumber inspirasi untuk membangun masa depan Indonesia yang lebih baik
berakar pada nilai keluarga, diperkokoh oleh persahabatan, dan diarahkan pada pembangunan berkelanjutan.

Bersambung..

Www.adharta.com

Www.kris.or.id

Bo Lelebo Etanusa LeleboBo Lelebi Tanah Timor Lelebo

Bo Lelebo
Etanusa Lelebo
Bo Lelebi
Tanah Timor Lelebo

Bae tidak bae
Tanah Timor Lebe bae

Cerpen 0050

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Komunitas
Relawan
Indonesia
Sehat

Antara Laut dan Waktu

George lahir di Pulau Timor, propinsi
Nusa Tenggara Timur, di tanah yang keras ber karang dan matahari yang tak pernah ragu membakar
Panas

Di sanalah George
pertama kali belajar bahwa hidup tidak selalu memberi, tetapi selalu menuntut keteguhan.
George adalah anak sulung dari sepuluh bersaudara.

Sejak kecil, George tahu
tanpa pernah diajari
bahwa pundaknya akan memikul beban lebih berat daripada yang lain.

Ketika usianya baru enam belas tahun, George meninggalkan Timor. Perpisahan itu sunyi.
Tak banyak air mata, karena air mata adalah kemewahan bagi keluarga sederhana.
George berangkat ke pulau Flores, ke kota Ende, membawa tas kecil dan doa ibu yang tak terucap panjang. George masuk asrama SMA Katolik Suradikara
sekolah yang namanya harum, tetapi kehidupannya keras.

Tahun 1960-an di asrama Suradikara bukan tahun-tahun yang manis. Makanan adalah cerita kesabaran.

Jagung dan bulgur menjadi teman setia. Hari demi hari perut harus berdamai dengan rasa lapar.
Tak ada lauk istimewa.
Tak ada kenikmatan. Jika suatu hari mereka ingin merasa “hidup”, George dan teman-temannya memancing ikan.
Seekor ikan kecil bisa menjadi pesta.

Mereka tertawa di sela lapar, seolah ingin menertawakan nasib agar nasib tidak menertawakan mereka.

Sekolah sangat ketat.
Aturan mengikat seperti simpul yang kuat. Namun di sanalah watak dibentuk.
Bagi sesama alumni bisa memberikan banyak cerita

Suradikara bukan sekadar sekolah, melainkan tempat menempa jiwa.

Banyak tokoh besar lahir dari sana
Akademisi, pemimpin, pejabat nasional.

Nama seperti Almarhum
Thoby Mutis, yang kelak menjadi Rektor Universitas Trisakti, Jakarta hanyalah satu dari sekian bukti.
George mungkin belum tahu siapa ia akan menjadi, tetapi ia tahu satu hal

ia harus bertahan.
Setelah tamat SMA, hidup tidak memberinya jeda.

George mengembara ke Surabaya.
Kota besar itu dingin bagi pendatang tanpa apa-apa.
George datang dengan tangan kosong, tetapi hati penuh tekad.
Di rumah, sembilan adik menunggu masa depan. George adalah anak sulung. Ia adalah harapan.
Ia bekerja dari nol.
Ayahnya seorang pegawai negeri
Ibu nya pandai masak
Makanan selalu menjadi kerinduan bagi anak anak

Pekerjaan kasar, upah kecil, penghinaan yang tak jarang datang.
Ada hari-hari ketika ia pulang dengan tubuh remuk dan hati kosong.
Ada malam-malam ketika George menangis diam-diam, takut gagal, takut tidak cukup kuat.

Namun setiap kali ia hampir menyerah, ia mengingat wajah ibu dan adik-adiknya.
George kembali bangkit.

Suka dan duka datang silih berganti. Ada tawa saat berhasil mengirim uang sekolah.
Ada air mata saat usaha runtuh.
Hidup seolah menguji seberapa jauh George sanggup berjalan tanpa mengeluh.
George jatuh, lalu bangkit. Jatuh lagi, bangkit lagi. Hingga suatu hari, dalam perenungannya, George melihat Jakarta
kota yang katanya tak pernah tidur, kota yang masih menyimpan peluang bagi mereka yang tak berhenti berjuang.
George menikah.

George dikaruniai empat orang anak.

Cinta menambah kebahagiaan, tetapi juga menambah tanggung jawab.

Kini George bukan hanya bekerja untuk orang tua dan adik-adiknya, tetapi juga untuk istri dan anak-anak yang menggantungkan hidup padanya.

Ada masa ketika uang tidak cukup, ketika masa depan terasa samar. Namun George belajar satu hal keluarga adalah alasan terkuat untuk tetap berdiri.

Puluhan tahun ia jalani di Jakarta. Empat puluh tahun penuh kerja keras.
Di situlah George menemukan jalannya di dunia pelayaran.

Laut, kapal, dan pelabuhan menjadi bagian hidupnya.
Dunia yang keras, disiplin, dan penuh risiko
namun justru cocok dengan watak yang telah ditempa sejak di SMA Suradikara.

Dari dek kapal hingga ruang kerja, George membuktikan bahwa ketekunan bisa mengalahkan keterbatasan.
Tidak semua hari adalah kemenangan.

Ada kegagalan. Ada kehilangan. Ada saat-saat ia merasa sangat lelah.

Namun ada pula tawa—tawa anak-anaknya, tawa sederhana di meja makan, tawa puas ketika jerih payahnya mulai berbuah.

Satu per satu, anak-anak tumbuh. Adik-adiknya menemukan jalan hidup.

Rumah yang dulu penuh kekhawatiran perlahan dipenuhi rasa syukur.

Kini George telah memasuki usia pensiun. Rambut memutih, langkah melambat, tetapi tubuhnya tetap sehat dan kuat.
George menatap hidup dengan senyum yang tenang.
George tahu, tidak semua orang beruntung bisa menoleh ke belakang tanpa penyesalan.

George telah berjalan jauh
dari Timor, Ende, Surabaya, hingga Jakarta. Dari jagung dan bulgur, hingga kehidupan yang layak dan bermartabat.

Dalam diamnya, George sering berbisik pada dirinya sendiri: hidup bukan tentang seberapa tinggi kita berdiri, tetapi seberapa lama kita bertahan.
George bersyukur atas segala hal

atas lapar yang mengajarkan sabar, atas lelah yang mengajarkan kuat, atas air mata yang membersihkan hati, dan atas tawa yang membuat hidup layak dijalani.

Pesan George buat generasi muda sederhana, lahir dari perjalanan panjangnya:
apa pun yang kita miliki hari ini
sedikit atau banyak
selalu ada alasan untuk bersyukur. Karena syukur adalah kekuatan yang membuat manusia mampu berjalan sejauh apa pun.

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

春 (Chūn)Saat Musim Semi Menyapa Hati

春 (Chūn)
Saat Musim Semi Menyapa Hati

Imlek (03)

Oleh : Adharta
Ketua umum
KRIS

Medio pebruari 2026
Menjelang Imlek

Dalam perjalanan ke kantor
Ola cucu aku yang kecil kasih Video Call
Bertepatan aku lagi menulis
Sambil menikmati kemacetan

Dalam sebuah genggaman Ola kecil, terangkat selembar kertas bertuliskan satu huruf

sederhana:
春. chun artinya
Musim semi.

Bagi sebagian orang, itu hanya sebuah aksara.
Namun bagi kebudayaan Tionghoa, 春 adalah jiwa dari Imlek itu sendiri.
Imlek bukan sekadar pergantian angka tahun.
Imlek adalah perayaan kembalinya harapan,
sebagaimana musim semi datang setelah musim dingin yang panjang.

Dingin boleh membeku tanah, tetapi tidak pernah membekukan kehidupan.

Di balik tanah yang keras, benih tetap setia menunggu waktunya tumbuh.

Huruf 春 mengajarkan bahwa setiap akhir menyimpan awal baru.

Karena itu, di saat Imlek, 春 ditempel di pintu rumah.

Kadang dengan sengaja dipasang terbalik
bukan keliru, tetapi penuh makna.

春倒 (chūn dào) terdengar seperti 春到

(musim semi telah tiba).
Artinya: kehidupan, rezeki, dan harapan sedang datang menghampiri.

Namun makna terdalam dari 春 bukan pada kertas di dinding, melainkan pada manusia di dalam rumah.

Ketika seorang Ola cucu kecilku memegang huruf 春, sesungguhnya ia sedang memegang masa depan.

Anak adalah musim semi dalam keluarga

tempat cinta orang tua ditanam,
tempat nilai diwariskan,
tempat doa dipanjatkan diam-diam setiap malam.

Orang tua mungkin telah melewati banyak “musim dingin”
kegagalan, kehilangan, kelelahan.
Tetapi demi anak-anak, mereka tetap percaya pada datangnya musim semi.
Itulah sebabnya Imlek selalu menjadi momen pulang

Pulang ke meja makan,
pulang ke pelukan keluarga,
pulang ke ingatan bahwa kita pernah dan selalu dicintai.
Imlek mengingatkan kita:
bahwa harta terbesar bukan angpao di tangan,
melainkan kasih yang mengalir lintas generasi.
Dan 春 berbisik lembut kepada kita semua:
selama masih ada cinta,
selama masih ada keluarga,
musim semi akan selalu datang kembali.

Bersambung……

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Makna Imlek

Imlek (02)

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS
Komunitas
Relawan
Indonesia
Sehat

Pebruari 2026

IMLEK
dikenal juga sebagai Tahun Baru Imlek, Festival Musim Semi atau Chinese New Year
bukan sekadar pergantian tahun dalam penanggalan biasa.
Ini adalah perayaan budaya dan spiritual yang sudah berlangsung ribuan tahun dalam masyarakat Tionghoa, berakar dari tradisi agraris dan sistem penanggalan lunar (bulan) yang disebut Kongzili atau kalender Yinli.

Imlek dianggap sebagai momen untuk menyambut awal yang baru, membersihkan segala energi negatif tahun yang lama, dan memperkuat ikatan keluarga sebelum memasuki periode penuh harapan, berkah, dan kemakmuran.

Kapan kita Merayakan Imlek 2026?

Untuk tahun 2026, Imlek jatuh pada hari Selasa, 17 Februari 2026 menurut kalender masehi, dan ini menandai tahun 2577 Kongzili dalam kalender tradisional Tionghoa.

Di Indonesia, tanggal ini juga ditetapkan sebagai libur nasional dan cuti bersama sehingga memberikan waktu bagi keluarga untuk berkumpul dan mempersiapkan tradisi-tradisi penting tersebut.

🧧 Persiapan Menyambut Imlek

Perayaan Imlek tidak hanya dirayakan pada satu hari saja, tetapi biasanya dimulai beberapa minggu sebelum hari H dengan berbagai persiapan simbolik

Pertama
Membersihkan Rumah
Membersihkan rumah sejak jauh-hari sebelum Imlek adalah tradisi penting. Ini dimaksudkan untuk
Mengusir sisa-sisa energi buruk tahun lalu
Menyambut energi baru yang baik di tahun yang baru
Tidak jarang proses ini melibatkan menyapu seluruh rumah, mengatur ulang barang, dan mengecat atau mengganti lampu yang mati atau hiasan lama dengan yang baru.

Kedua
Dekorasi Merah
Warna merah menjadi simbol utama karena dipercaya dapat menolak roh jahat dan membawa keberuntungan. Hal ini terlihat dari
Lampion merah
Hiasan kertas (couplets) di pintu
Ornamen berwarna cerah lainnya

Tradisi ini bermula dari legenda tentang makhluk Nian (makhluk jahat atau sifat jahat)
yang takut pada warna merah dan suara bising, simbol-simbol ini terus dipakai sampai sekarasekara

Ketiga
Hidangan dan Simbolisme Makanan
Makanan saat Imlek bukan sembarang santapan
setiap jenis punya makna:
Jiaozi atau pangsit
simbol kekayaan
Ikan utuh melambangkan kelimpahan
Kue beras (niangao) berarti versi yang lebih tinggi dari hidup
Persiapan ini sering melibatkan seluruh anggota keluarga bersama-sama.

Keempat
Red Envelope (Angpao)
Kebiasaan memberi amplop merah berisi uang (hongbao atau angpao) kepada anak-anak serta orang yang belum menikah adalah wujud pemberian berkat, kesehatan, dan rezeki baru.

Catatan penting

Apa yang Harus Dilakukan Saat Imlek?

Pada hari Imlek dan beberapa hari berikutnya, tradisi ini biasanya dilakukan:

✅ Berkumpul bersama keluarga besar

✅ Makan malam reuni keluarga pada malam sebelum Imlek (Reunion Dinner)

✅ Mengunjungi kerabat dan tetangga atau saudara tua

✅ Memberikan dan menerima angpao

✅ Menyalakan petasan atau mengikuti pertunjukan barongsai & naga untuk mengusir energi buruk

Semua kegiatan ini dilakukan dengan penuh harapan untuk kesejahteraan, kesehatan, dan kebahagiaan sepanjang tahun baru.

📿 Hubungan Imlek dengan Kepercayaan Konghucu

Imlek memiliki hubungan kuat dengan ajaran dan praktik kepercayaan Konghucu
(Confucianism)

Konghucu sangat menekankan penghormatan terhadap leluhur dan nilai keluarga.
Tradisi sembahyang kepada leluhur dan doa di klenteng selama Imlek merupakan refleksi penghormatan tersebut.

Nilai-nilai seperti keharmonisan keluarga, rasa syukur, dan kesopanan (li) menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan ini.

Walaupun banyak masyarakat merayakannya sebagai tradisi budaya umum, akar spiritual dan nilai filosofis dari Konghucu tetap hidup dalam ungkapan ungkapan kebersamaan dan rasa hormat terhadap generasi sebelumnya.

Mengenang
Imlek adalah perayaan yang indah,

Memadukan budaya, tradisi, kebersamaan keluarga, dan nilai spiritual yang mendalam. Merayakannya dengan persiapan yang baik bukan hanya membawa kesenangan, tetapi juga memperkaya makna hidup memulai tahun baru dengan semangat baru, kebersihan, dan harapan yang besar.

Semoga Imlek 2026 membawa berkat untuk semua! 🧧✨

Salam dalam Doa

Www.adharta.com

Www.kris.or.id

Sejarah Panjang, Budaya Tiongkok Antara Keluarga, dan Cinta yang Diteruskan Zaman

Imlek (01)

Sejarah Panjang, Budaya Tiongkok Antara Keluarga, dan Cinta yang Diteruskan Zaman

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Komunitas
Relawan
Indonesia
Sehat

Pebruari 2026

Tahun Baru Imlek

Merupakan salah satu perayaan budaya Tiongkok tertua yang masih bertahan hingga masa modern.

Jejak sejarahnya dapat ditelusuri lebih dari tiga milenium lalu, terutama sejak masa Dinasti Shang
(sekitar 1600–1046 SM), ketika masyarakat Tiongkok melakukan ritual penghormatan kepada leluhur dan kekuatan alam. Pergantian tahun tidak dimaknai sebagai sekadar perubahan waktu, melainkan sebagai pembaruan kehidupan
berakhirnya musim dingin dan lahirnya harapan baru di musim semi.

Dalam sistem penanggalan Tiongkok, Imlek mengikuti kalender lunisolar yang menggabungkan peredaran bulan dan matahari.

Penanggalan ini bersifat siklikal, dikenal dengan siklus enam puluh tahunan yang mengombinasikan dua belas shio dan lima unsur alam.

Oleh karena itu, pertanyaan “Imlek yang ke berapa?” tidak dijawab dengan hitungan linear seperti kalender Masehi.
Imlek lebih tepat dipahami sebagai pengulangan nilai-nilai budaya yang sama, dari generasi ke generasi, dalam bentuk yang terus menyesuaikan zaman.

Sejarah Imlek tidak dapat dipisahkan dari legenda dan simbol.
Kisah tentang makhluk buas bernama Nian, yang dipercaya muncul setiap akhir tahun untuk meneror desa-desa, mencerminkan ketakutan manusia purba terhadap kekuatan alam dan ketidakpastian hidup. Penemuan bahwa Nian takut pada warna merah, api, dan suara keras melahirkan tradisi petasan, lentera, dan dekorasi merah. Seiring waktu, simbol-simbol ini tidak lagi dimaknai secara literal, melainkan sebagai perlambang keberanian, perlindungan, dan optimisme menghadapi masa depan.

Namun inti terdalam dari Imlek bukanlah mitos atau kemeriahan visual, melainkan keluarga.

Sejak dahulu, Imlek adalah momen pulang terbesar dalam tradisi Tiongkok.

Jarak dan waktu seakan dikalahkan oleh panggilan rumah.
Dalam struktur budaya Konfusianisme, keluarga merupakan pusat moral dan sosial, dengan nilai xiao
bakti kepada orang tua
sebagai fondasi utama. Imlek menjadi ruang tahunan untuk memperbarui ikatan tersebut.
Kasih orang tua kepada anak menemukan bentuk simboliknya dalam Angpao.

Secara historis, Angpao berasal dari kebiasaan memberikan uang logam yang diikat benang merah untuk melindungi anak dari roh jahat dan penyakit. Warna merah melambangkan keberuntungan dan kehidupan, sementara uang melambangkan bekal dan perlindungan. Dalam perkembangannya, Angpao menjadi ritual tahunan yang sarat makna: doa, restu, dan tanggung jawab orang tua terhadap masa depan anak.

Dalam konteks budaya, Angpao bukanlah transaksi ekonomi, melainkan bahasa cinta.

Orang tua yang mungkin tidak terbiasa mengungkapkan perasaan secara verbal, menyampaikan kasihnya melalui amplop merah itu.

Di dalamnya tersimpan harapan agar anak tumbuh sehat, hidup bermakna, dan tidak melupakan akar keluarga.
Ketika anak-anak tumbuh dewasa dan mulai memberikan Angpao kepada orang tua, terjadilah perputaran peran yang sarat makna budaya. Tradisi ini mencerminkan kesinambungan nilai
dari menerima menjadi memberi, dari dilindungi menjadi menjaga.

Di sinilah Imlek memperlihatkan dirinya sebagai sejarah hidup
bukan hanya milik masa lalu, tetapi terus bergerak di dalam keluarga.
Renungan Keluarga
Di akhir semua ritual, Imlek mengajak kita berhenti sejenak dan bertanya: sejauh mana kita masih memelihara hubungan dengan keluarga, dengan orang tua, dengan akar kita sendiri?

Di tengah dunia yang bergerak cepat, Imlek mengingatkan bahwa pulang bukan sekadar kembali ke rumah, melainkan kembali ke nilai: rasa hormat, syukur, dan cinta tanpa syarat.

Selama masih ada meja makan yang menunggu, tangan orang tua yang menua, dan Angpao yang disertai doa, Imlek akan selalu lebih dari sekadar perayaan.
IMLEK adalah kisah panjang tentang manusia, keluarga, dan cinta yang tak pernah putus oleh zaman.

Bersambung……..

Www.kris.or.id

ANTARA SUNYI, LUKA, DAN BELAS KASIH

ANTARA SUNYI, LUKA, DAN BELAS KASIH

Cerpen 0049

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Komunitas
Relawan
Indonesia
Sehat

Awal Pebruari
2026

Nama kecilnya Regina.
Di kampung Ngada, Flores, orang banyak memanggilnya Regi.
Ia lahir dari tanah yang sunyi tetapi setia
tanah yang mengajarkan orang untuk sabar menunggu hujan dan bersyukur pada hasil yang sederhana.

Regi tumbuh dalam keluarga biasa, dengan doa yang diucapkan lirih setiap pagi dan senja.
Sejak kecil, ia mengenal Tuhan Yesus Kristus
bukan lewat kata-kata rumit, melainkan lewat ketekunan ibunya dan kejujuran hidup orang-orang kampung.

Namun seperti banyak anak muda lain, hati Regi menyimpan kerinduan akan dunia yang lebih luas.

Ia ingin merantau.
Ia ingin melihat hidup dari dekat, dengan segala kemungkinan dan risikonya. Maka pada suatu pagi, dengan air mata yang ditahan dan doa yang diselipkan di saku baju, Regi meninggalkan Flores menuju Jakarta.

Merantau dan Mimpi

Jakarta menyambutnya dengan cahaya dan bayangan sekaligus.

Kota ini menjanjikan harapan, tetapi juga menuntut daya tahan.

Regi bekerja, belajar menyesuaikan diri, dan berusaha berdiri di atas kakinya sendiri.

Ia belajar bahwa hidup tidak selalu seindah rencana, tetapi tetap layak diperjuangkan.
Di tengah kesibukan itulah Regi mengenal cinta.

Cinta manusiawi yang hangat, yang membuat hari-hari terasa lebih ringan. Ia belajar berharap bersama seseorang, berbagi cerita, dan menenun mimpi sederhana.

Cinta itu nyata, tulus, dan pernah membuatnya berpikir bahwa hidupnya akan berjalan seperti kebanyakan orang: bekerja, menikah, membangun keluarga.
Namun hidup memiliki cara sendiri untuk mendidik hati.
Kegagalan dan Kehilangan
Perlahan, apa yang dibangun runtuh satu demi satu.

Pekerjaan yang hilang. Harapan yang tertunda. Hubungan yang tak mampu bertahan menghadapi kerasnya realitas.

Regi mencoba bertahan, tetapi ada titik ketika kekuatan manusia terasa habis.

Malam-malam Jakarta menjadi sunyi yang menyesakkan. Regi menangis bukan karena ia lemah, tetapi karena ia telah berjuang sekuat tenaga.

Ia merasa seperti domba yang berjalan jauh, tetapi kehilangan arah. Ia berdoa, namun doa-doanya terasa hampa.
Ia hadir di gereja, tetapi hatinya kosong.

Dalam kegagalan itulah Regi mulai memahami bahwa hidup bukan hanya tentang berhasil atau tidak berhasil.

Ada sesuatu yang lebih dalam sedang dikerjakan Tuhan di dalam dirinya.
Pertemuan dengan Sabda

Suatu hari, dalam kelelahan yang mendalam, Regi duduk di sebuah kapel kecil.
Tidak ada maksud khusus. Ia hanya ingin diam.

Dalam keheningan itu, Sabda Tuhan menyentuhnya:

“Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasih kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala.”

Regi terdiam lama. Kalimat itu seolah menggambarkan dirinya
dan banyak orang di sekitarnya.
Ia melihat wajah-wajah lelah di jalanan Jakarta,
anak-anak yang kehilangan perhatian, orang-orang yang bekerja tanpa arah, dan dirinya sendiri yang sedang mencari pegangan.

Untuk pertama kalinya, Regi menyadari bahwa Tuhan tidak selalu menjawab doa dengan mengubah keadaan. Kadang Tuhan mengubah hati
menggerakkannya oleh belas kasih.

Belajar Melayani di Tengah Lelah
Regi mulai terlibat dalam pelayanan kecil.

Awalnya sederhana: membantu anak-anak belajar, menemani orang-orang yang kesepian, mendengarkan kisah hidup mereka yang penuh luka.

Ia sering datang dalam keadaan lelah, tetapi pulang dengan hati yang hangat.
Ia teringat renungan yang mengatakan bahwa Yesus mengajak murid-murid-Nya ke tempat sunyi untuk beristirahat, tetapi tidak menutup mata terhadap mereka yang membutuhkan.

Regi belajar bahwa keheningan bukan pelarian, melainkan sumber kekuatan untuk kembali melayani.

Di sinilah ia mulai memahami keseimbangan hidup:
doa yang mendalam dan aksi nyata,
kediaman rohani dan tanggung jawab sosial.
Ia belajar bahwa kekudusan bukan soal menjauh dari dunia, melainkan hadir di tengah dunia dengan hati yang penuh kasih.

Cinta yang Dimurnikan
Cinta masa lalunya tidak hilang begitu saja.

Ada hari-hari ketika kenangan datang tanpa diundang.

Namun Regi tidak lagi melawan.
Ia menyerahkan semuanya dalam doa.
Ia belajar bahwa cinta tidak selalu harus dimiliki untuk menjadi nyata.
Ada cinta yang justru menjadi utuh ketika dilepaskan.
Air mata masih mengalir, tetapi kini berbeda.

Air mata itu bukan lagi tanda keputusasaan, melainkan proses pemurnian.
Regi mulai merasakan damai yang tidak tergantung pada situasi.

Damai yang lahir dari penyerahan.
Panggilan dalam Keheningan
Dalam doa-doa panjang dan sunyi, Regi mendengar panggilan yang pelan tetapi pasti.

Bukan panggilan yang spektakuler, melainkan panggilan untuk menjadi hadir sepenuhnya bagi sesama.
Ia menyadari bahwa kegagalan, luka, dan cinta yang kandas bukan akhir cerita
melainkan jalan yang mempersiapkannya.
Dengan gentar dan rendah hati, Regi memilih jalan hidup membiara.

Ia bukan melarikan diri dari dunia, tetapi justru ingin mengabdi lebih dalam kepada dunia.

Suster Regina:

Hidup yang Diberikan
Kini ia dikenal sebagai Suster Regina.
Namun bagi banyak orang, ia tetap Regi
sosok sederhana yang mau mendengarkan, hadir, dan berjalan bersama.
Setiap hari dimulai dengan doa dalam keheningan.

Ia belajar mencari Allah dalam refleksi yang mendalam, lalu membuka mata dan telinga untuk jeritan mereka yang terlantar.
Ia percaya bahwa damai sejahtera sejati hanya dialami ketika hidup dibangun dalam keseimbangan antara iman yang kokoh dan perbuatan kasih yang nyata.
Kadang, saat senja, ingatannya kembali ke Ngada
kampung yang mengajarkannya tentang kesetiaan.
Ia tersenyum. Hidupnya tidak berjalan seperti rencana awal, tetapi justru menemukan makna yang lebih luas.

Renunganntentang Cinta

Hidup Regi mengajarkan kita bahwa:
kegagalan bukan akhir,
luka bisa menjadi pintu panggilan,
cinta yang hilang dapat dimurnikan menjadi kasih yang lebih besar.
Seperti Sabda hari ini, Tuhan terus menggerakkan hati-Nya oleh belas kasih.

Ia mengundang kita untuk pergi ke tempat sunyi bersama-Nya
tanpa melupakan dunia yang menunggu sentuhan kasih kita.
Damai sejati lahir ketika kita berani mengosongkan diri, agar kasih Allah mengalir melalui hidup kita.
Selamat pagi, sahabat.
Tuhan memberkati kita semua.

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Padang Pasir Cinta

Padang Pasir Cinta

Cerpen 0048

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Komunitas
Relawan
Indonesia
Sehat

Awal Pebruari 2026

Cinta didalam Cinta

Fenny pernah percaya bahwa cinta adalah rumah.
Tempat pulang paling aman setelah dunia melelahkan.

Sepuluh tahun lalu, ia membangun rumah itu bersama Robby
dengan tawa, harapan, dan dua putri cantik yang menjadi cahaya hidup mereka:
Shanti yang lembut dan dewasa sebelum waktunya, serta Monica yang ceria seperti matahari pagi.

Namun rumah itu perlahan retak.
Bukan karena tak ada cinta, melainkan karena cinta tak lagi menemukan jalan.

Perkawinan mereka seperti berjalan di padang pasir: panas, kering, dan melelahkan. Kata-kata yang dulu hangat berubah menjadi jarak.
Diam menjadi lebih nyaring daripada pertengkaran.

Fenny dan Robby sama-sama lelah, sama-sama tersesat.

Akhirnya mereka sepakat berpisah.
Keputusan itu tidak mudah, terutama ketika harus membagi hal paling berharga dalam hidup mereka. Monica ikut Fenny, sementara Shanti tinggal bersama ayahnya.
Saat hari perpisahan itu tiba, Fenny memeluk Shanti terlalu lama, seolah ingin menyimpan aroma rambut anaknya untuk hari-hari sunyi ke depan.

Shanti tidak menangis.
Ia hanya berkata lirih,

“Mama harus kuat.”

Kalimat itu menghantam hati Fenny lebih keras dari apa pun.

Menjadi janda muda bukan sekadar status. Itu adalah label yang sering disalahartikan. Gosip datang tanpa diundang
di warung, di lingkungan, bahkan di tatapan orang-orang yang pura-pura ramah.

Fenny berusaha tegar, tetapi hatinya sering remuk diam-diam.
Ia memang dekat dengan beberapa pria.

Bukan karena ia murahan, melainkan karena ia kesepian.

Namun setiap kedekatan justru membuka luka lama.

Trauma perkawinan membuatnya selalu waspada, selalu takut. Lebih menyakitkan lagi, ia merasa dirinya dinilai rendah
seolah status janda menghapus harga dirinya sebagai perempuan.

Ia belajar tersenyum sambil menahan perih.
Hari-hari Fenny diisi perjuangan.

Ia menjadi ibu sekaligus ayah bagi Monica. Ia menjual makanan secara daring, lalu baju-baju, apa saja yang bisa menghasilkan. Pagi hari mengantar Monica sekolah, siang mengejar klien sebagai agen asuransi, malam menyusun harapan sambil menghitung sisa uang.
Namun di balik semua kesibukan itu, ada ruang kosong di hatinya.

Ia merindukan kehangatan seorang pria. Bukan sekadar pelukan, melainkan rasa aman.

Seseorang yang bisa berkata, “Istirahatlah, aku di sini.”

Takdir mempertemukannya dengan Donny.

Pria asal Sumatra Utara itu berbeda. Suaranya keras, caranya tegas, tetapi kata-katanya sering mengandung kebijaksanaan.

Donny tidak pandai merayu, namun ia hadir dengan kepastian.
Ia melihat Fenny bukan sebagai janda, melainkan sebagai perempuan kuat yang sedang lelah.

Fenny jatuh cinta perlahan.
Ia berpikir, mungkin inilah jawaban doanya. Mereka menikah dengan harapan baru.

Kehidupan materi tercukupi. Rumah nyaman. Tidak perlu lagi menghitung sisa uang di malam hari.

Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama.
Donny memiliki sisi lain yang tak pernah benar-benar ia pahami sebelumnya. Kata-kata kasarnya sering meluncur tanpa rem.

Amarahnya mudah menyala. Dan yang paling menyakitkan, ia melukai bukan hanya Fenny, tetapi juga Monica.

“Anak sial. Pembawa bencana,” kata Donny suatu hari, tepat di depan Monica yang masih kecil.
Kalimat itu menghancurkan segalanya.

Monica menangis dalam diam.

Fenny memeluk anaknya dengan tangan gemetar. Ia merasa gagal
sebagai istri, sebagai ibu, sebagai perempuan yang kembali salah memilih cinta.
Hari-hari berikutnya adalah tekanan demi tekanan.

Donny sering memaki Fenny, merendahkannya, menyebutnya perempuan murahan, pekerjaannya tidak jelas, masa lalunya kotor. Setiap kata seperti cambukan yang membuka kembali luka lama.

Trauma perkawinan pertama belum sembuh.
Kini, perkawinan kedua menorehkan luka yang lebih dalam.

Fenny sering menangis sendirian di kamar mandi. Air mata bercampur air kran agar tak terdengar siapa pun.

Ia bertanya pada dirinya sendiri: Apakah aku pantas dicintai? Atau aku memang ditakdirkan untuk selalu terluka?

Namun hidup, seperti senja, selalu memberi warna meski redup.
Suatu malam, Monica memeluk Fenny dan berkata, “Mama jangan sedih. Aku sayang Mama.”

Kalimat sederhana itu menyelamatkan Fenny.
Ia tersadar bahwa cinta sejati tidak selalu datang dari pasangan. Kadang, cinta hadir dari anak yang memercayainya sepenuh hati.

Dari tawa kecil di pagi hari.

Dari keberanian untuk bangkit, sekali lagi.
Fenny mulai menemukan kekuatannya kembali.

Ia belajar mencintai dirinya sendiri. Ia belajar bahwa romantisme tidak selalu tentang pria dan janji manis, tetapi tentang keberanian bertahan, tentang hati yang tetap lembut meski dunia keras.

Ia belum tahu bagaimana akhir kisah hidupnya. Namun kini ia tahu satu hal: ia bukan perempuan murahan. Ia adalah perempuan yang pernah jatuh, bangkit, jatuh lagi, dan masih memilih untuk percaya pada cinta
dengan caranya sendiri.
Di antara tawa dan air mata, Fenny berjalan. Tidak lagi di padang pasir yang gersang, melainkan di jalan panjang bernama kehidupan Cinta
Dengan luka sebagai pelajaran, dan cinta
meski pernah menyakitkan
sebagai harapan.

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Surat Cinta dari Kebun Cengkeh

Cerpen Nomor 0047

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Komunitas
Relawan
Infonesia
Sehat

Akhir Januari 2026

Surat Cinta dari Kebun Cengkeh

Pagi di Ngada selalu datang pelan, seperti ragu mengganggu orang-orang yang hidupnya sudah terlalu bising oleh kekurangan.
Kabut turun rendah di kebun cengkeh, menyisakan embun di daun-daun dan dingin yang menempel di tulang.

Di pondok kecil milik neneknya, Yona duduk di bale-bale bambu, menekuk lutut, menatap tanah.

Usianya sepuluh tahun. Ia tahu cara menghitung, tahu membaca, tahu menyimpan rahasia.

Ia juga tahu satu hal yang tak seharusnya diketahui anak seusianya: bagaimana rasanya menjadi beban.
Ibunya, Mama Reti, telah berangkat lebih pagi.
Bukan untuk bekerja
hari itu tak ada yang bisa dikerjakan
melainkan untuk memastikan

Yona sampai di pondok neneknya.
Seragam sekolah Yona tersimpan di sana.

“Rajin sekolah ya,” kata ibunya sebelum pergi.
Kalimat itu ringan bagi orang dewasa, berat bagi Yona.
Kepalanya pusing sejak malam.

Bukan pusing yang membuat orang dewasa berbaring dan minum obat, melainkan pusing yang bercampur dengan rasa bersalah.

Yona tahu ia sudah beberapa kali tak masuk sekolah.

Ia juga tahu, uang tidak datang begitu saja.

Kata-kata ibunya semalam berputar-putar di kepala: mencari uang tidak mudah.
Ketika dua orang dewasa lewat menuju kebun, mereka melihat Yona masih di bale-bale.

“Kamu tidak ke sekolah?” tanya salah satu.

Yona menggeleng.
“Nenek di mana?”
“Di rumah tetangga,”

jawabnya pelan.
Mereka pergi, dan Yona kembali sendiri.
Ia membuka tas kainnya.
Di dalamnya hanya ada buku tulis lama dan sepotong pensil yang pendek.
Yona merobek selembar kertas.

Tangannya gemetar.
Ia menulis dalam bahasa ibunya
bahasa yang paling jujur untuk mengucapkan perpisahan.
Ia menulis untuk Mama Reti.
Tulisan itu tidak rapi.

Ada kata yang terlewat, ada garis yang bergetar.
Namun setiap huruf mengandung satu hal yang jelas:
ia ingin ibunya berhenti menangis.

Ia ingin ibunya tahu, kepergiannya bukan karena benci,
melainkan karena cinta yang terlalu besar
dan hati anak laki-laki yang terlalu kecil untuk menampungnya.

Yona melipat kertas itu dengan hati-hati, seperti melipat doa.

Di kebun cengkeh, angin bergerak perlahan.
Dahan-dahan berdesir, seolah saling berbisik.
Dunia berjalan seperti biasa

orang mengikat ternak, orang menuju ladang—
hingga jerit itu pecah,
memantul di lereng,
dan berhenti di dada setiap orang yang mendengarnya.
Ketika Mama Reti tiba, kebun itu telah dikerumuni.
Ia melihat pohon cengkeh, melihat orang-orang,
lalu melihat sesuatu yang membuat kakinya lemas.

Tidak ada kata yang keluar.
Tidak ada suara yang sanggup memuat
hancurnya seorang ibu.
Di pondok, kertas itu ditemukan.
Tulisan tangan kecil itu menjadi saksi paling sunyi.
Ia tidak menuduh siapa pun.
Ia tidak menyebut sekolah, tidak menyebut uang.
Ia hanya meminta satu hal jangan menangis.
Hari itu, desa berduka.
Orang-orang berbisik
anak yang ceria, anak yang ramah.
Mereka lupa satu hal
anak yang ceria sering belajar tersenyum untuk menutup luka.

Yona bukan satu-satunya.
Ia hanya satu dari banyak anak
yang belajar terlalu cepat tentang kerasnya dunia.
Tentang tuntutan yang tak ramah
pada mereka yang tak punya.
Tentang kata-kata yang terdengar biasa,
tetapi menekan dada kecil
hingga tak ada ruang bernapas.

Malam turun.
Mama Reti duduk di rumahnya yang sunyi.
Ia memegang kertas itu lama sekali.

“Maafkan mama,” bisiknya.
Ia tidak tahu kepada siapa kata itu diarahkan
kepada Yona, kepada dirinya sendiri,
atau kepada dunia yang terlalu sering abai.

Keesokan hari, sekolah kembali buka.
Anak-anak datang dengan tas mereka.
Di satu bangku, ada ruang kosong.

Tidak ada yang berani duduk di sana.
Di kebun cengkeh, daun-daun tetap tumbuh.
Hidup terus berjalan.
Namun sejak hari itu,
angin di Ngada membawa satu pesan
yang tak boleh dilupakan:
anak-anak tidak pernah ingin pergi

mereka hanya ingin dimengerti.
Dan jika suatu hari kita mendengar suara kecil bertanya dengan ragu,
“Aku cukup, kan?”

Semoga ada tangan yang segera meraih dan menjawab,
“Kamu berharga.”

Selamat jalan, Yona.

http://www.kris.or.id
http://www.adharta.com