Antara Cinta dan Macet di Jalan

oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Cerpen nomor : 0032

Medio Desember 2025

Tulisan ini
Buat Bapak Harjoko

Jakarta di suatu senja
Jumat sore selalu punya watak sendiri.

Jumat datang dengan lelah yang belum tuntas, dengan jam yang berjalan lebih lambat dari biasanya, dan dengan hujan yang seolah tahu kapan harus turun.

Sore itu, hujan telah lebih dulu bekerja sejak pagi
tak putus-putus
seperti pegawai teladan yang lupa jam pulang.

Angin kencang menyapu jalanan, udara dingin menyusup ke balik kaca mobil, dan langit tampak muram seakan ikut mengantre nasib di persimpangan.

Saya meninggalkan kantor dari arah Sunter menuju Central Park.
Setelah late lunch yang datang di jam yang sudah tak pantas disebut makan siang, kondisi jalan masih tampak bersahabat. Tidak ada tanda-tanda kemacetan.

Kendaraan bergerak wajar, lampu-lampu lalu lintas masih ramah, dan harapan pun ikut melaju.
Memasuki Kemayoran, suasana tetap tenang.
Google Maps menunjukkan waktu tempuh 50 menit. Artinya, dengan logika khas orang Jakarta
ditambah toleransi hujan dan takdir
perjalanan mungkin memakan waktu 90 menit.
Masih masuk akal.
Masih manusiawi. Masih bisa ditawar.
Namun, seperti cinta yang terlalu cepat percaya, kami lupa satu hal
Jakarta selalu punya kejutan.
Begitu mendekati pintu tol, dunia berubah.
Dua kilometer terakhir menjelma menjadi ujian iman.
Hampir 45 menit dihabiskan untuk bergerak sejauh orang berjalan sambil menelepon.
ETA ke Central Park melonjak menjadi pukul 19.00. Perjalanan kami, yang semula terasa ringan, tiba-tiba membengkak menjadi hampir tiga jam.
Macet itu bukan macet biasa.
Ia macet dengan penuh percaya diri.
Macet yang tak meminta maaf. Macet yang membuat orang mulai menghitung ulang dosa, pilihan hidup, dan alasan kenapa tidak sekalian jalan kaki saja.

Kami bertiga di dalam mobil yang di sopiru Fandy dan Lendy duduk di belakang
saling pandang.
Penyesalan mulai muncul
diam-diam tapi kompak. “Kenapa tadi tidak lewat jalan darat?”
Kalimat itu melayang di udara tanpa perlu diucapkan.

Seperti cinta lama yang tiba-tiba muncul di saat tidak tepat.
Dan di situlah saya sadar:
Macet bukan sekadar urusan jalan. Macet adalah cermin kehidupan.
Memilih jalan menuju suatu tempat selalu terasa sederhana
belok kanan atau kiri, tol atau non-tol. Namun hasilnya bisa jauh dari harapan.

Pepatah lama berkata, banyak jalan menuju Roma, tetapi tidak semua jalan menuju Roma bebas macet.
Begitulah hidup.
Begitulah cinta.
Begitulah pilihan-pilihan kecil yang kita ambil dengan keyakinan besar, lalu kita pertanyakan ulang ketika hasilnya tak sesuai ekspektasi.
Hidup adalah Pilihan (dan Bonusnya Konsekuensi)

Setiap pilihan membawa konsekuensi.
Salah memilih jalan bisa berujung macet total
padat merayap, bensin menipis, dan kesabaran diuji sampai level premium.
Namun jiwa yang besar tahu satu hal
pilihan tidak untuk disesali, tetapi untuk dijalani.
Macet memang menyebalkan, tetapi menggerutu berjam-jam tidak akan membuat mobil terbang. Justru di situlah seni hidup diuji
apakah kita menjadi manusia yang semakin kusut, atau justru menemukan kelonggaran di tengah keterbatasan.
Menikmati Perjalanan Ketika Harapan Tidak Mengecewakan
Dalam kemacetan itu, saya teringat satu kalimat rohani yang selalu menguatkan:
Pengharapan tidak mengecewakan
Spes non confundit
Harapan yang benar tidak pernah salah alamat.

Mungkin terlambat, mungkin berliku, mungkin basah oleh hujan
tetapi tidak pernah sia-sia. Jalan boleh macet, tetapi hati jangan ikut berhenti.

Kami mulai tertawa kecil di mobil.
Menertawakan keadaan. Menertawakan diri sendiri. Menertawakan fakta bahwa Jakarta ini seperti cinta pertama
bikin repot, tapi selalu dirindukan.
Jangan Terlalu Berhitung
Dalam hidup, terlalu banyak berhitung sering membuat kita lupa satu hal
empati.
Kadang kita perlu mengalah. Kadang perlu mundur satu langkah agar yang lain bisa maju dua langkah.
Dalam keluarga, dalam komunitas, dalam relasi manusia
kata-kata harus dijaga, nada harus diturunkan, dan ego sebaiknya diparkir dulu di bahu jalan.

Macet mengajarkan kesabaran dengan cara yang brutal namun jujur.

Kenangan manis
40 Tahun Lalu
Becak, Helicak dan Bemo
Ada Jeruk, dan Tawa
Di tengah kemacetan itu, ingatan saya melompat 40 tahun ke belakang.
Saat kendaraan belum sebanyak sekarang. Jalan sempit jarang macet.
Suatu hari saya naik becak dari Tanah Abang menuju Kyai Tapa, Trisakti.

Di depan, sebuah helicak becak bermesin yang merasa dirinya helikopter bertabrakan dengan bemo roda tiga.
Tidak parah, tapi cukup untuk memancing drama.
Penumpang helicak adalah sepasang suami istri.
Sang istri
galaknya luar biasa.
Suaminya, orang Ambon, justru diam seribu bahasa.
Sopir helicak diam.
Sopir bemo diam.
Yang ribut justru penumpang dan penonton. Jakarta sudah lama suka tontonan gratis.
Jalan pun macet total.

Orang-orang berkumpul.
Ada yang menunjuk, ada yang menyimpulkan, ada yang sudah siap jadi hakim.

Saya punya acara di kampus. Waktu berjalan. Peluh mulai muncul.
Di dalam bemo, ada seorang kakek.
Usianya mungkin hampir 90 tahun. Ia membawa satu kantong plastik berisi jeruk lemon Cina.
Wajahnya tenang, seperti orang yang tahu dunia tidak perlu diburu.
Saya turun mencoba melerai.

Anehnya, sang kakek ikut turun dan malah menawarkan kami bertiga makan jeruk.
Bayangkan: macet, lapar, emosi, lalu disodori jeruk asam.
Ajaibnya, suasana mencair.
Kami tertawa. Saya membuka pembicaraan. Saya minta semua menepi, bicara baik-baik. Saya minta suami menenangkan istrinya. Pelan-pelan ego surut.
Akhirnya sepakat: tidak ada perkara. Jalan dibuka. Macet terurai.
Sang kakek kemudian pindah ke becak saya.
Di sepanjang perjalanan, ia bercanda, tertawa, bahkan mengaku bisa meramal.
Setiap kali ia tertawa, wajahnya seperti lupa bahwa usianya sudah lanjut.
Saya sadar saat itu
Senyum dan tawa adalah bunga cinta kasih yang paling sederhana, tapi paling ampuh.
Macet yang Menjadi Berkat
Kini, di tengah kemacetan menuju Central Park, saya kembali merasakan hal yang sama.
Macet masih ada. Hujan masih turun. Tapi hati sudah lega.
Jalan padat berubah menjadi ruang perjumpaan dengan kenangan, dengan nilai, dengan diri sendiri.
Macet ternyata bukan musuh.
Ia hanya guru yang datang tanpa janji.
Cuma satu yang perlu disesali:
kasihan mereka yang menunggu kita.
Untung sekarang ada TikTok. 😊

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Cinta sejati Susan

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Cerpen nomor 0031

Medio Desember
2025

“Baik atau buruk, tetap suami saya. Dan dia adalah pemberian Tuhan.”

Kalimat itu bukan hanya keluar dari bibir Susan, tetapi lahir dari kedalaman imannya.
Ia mengucapkannya bukan untuk membela, melainkan untuk berserah.
Bagi Susan, pernikahan bukan sekadar ikatan dua manusia, melainkan perjanjian jiwa yang disaksikan oleh Tuhan.

Susan lahir sebagai anak bungsu dari sepuluh bersaudara di sebuah desa terpencil di ufuk Timur, Papua Barat.
Desa itu jauh dari keramaian, dikelilingi hutan dan sungai, tempat hidup berjalan perlahan dan doa-doa sederhana naik bersama asap dapur rumah-rumah kayu. Keluarganya hidup cukup untuk ukuran desa tidak berlebih, namun tidak kekurangan.
Dari orang tuanya, Susan belajar bahwa hidup bukan tentang memiliki banyak, tetapi tentang mensyukuri yang ada.

Sejak kecil Susan dikenal pendiam dan lembut. Ia jarang membantah, tetapi jika telah mengambil keputusan, hatinya tak mudah digoyahkan. Ia percaya bahwa Tuhan bekerja dengan cara yang sering kali tidak dimengerti manusia.

Pada usia dua puluh tiga tahun, Susan memilih menikah dengan Zainudin.
Pilihan itu mengejutkan banyak orang. Zainudin bertubuh besar dan bersuara lantang, tetapi hidupnya berantakan. Ia tidak memiliki pekerjaan tetap, gemar minum minuman keras, dan sering pulang dalam keadaan mabuk.

Keluarga Susan menentang keras pernikahan itu. Mereka takut Susan akan menderita. Keluarga Zainudin pun tidak sepenuhnya merestui
mereka merasa rendah diri dan tak sepadan.

Namun Susan telah menjalin hubungan dengan Zainudin selama empat tahun.
Ia melihat sisi lain lelaki itu: kerapuhan, kesepian, dan janji-janji untuk berubah.
Dalam hati Susan berkata, jika aku meninggalkannya sekarang, siapa yang akan mendoakannya? Ia percaya pernikahan dapat menjadi jalan perubahan.
Pernikahan mereka berlangsung sederhana.
Tidak ada pesta besar.
Hanya doa, air mata, dan harapan.
Rumah papan kecil menjadi saksi janji setia Susan.
Ia mulai menjahit pakaian warga desa untuk memenuhi kebutuhan hidup. Zainudin berjanji akan mencari pekerjaan, namun janji itu sering tinggal kata-kata.
Tahun demi tahun berlalu. Anak demi anak lahir.
Sepuluh orang semuanya
enam laki-laki dan empat perempuan. Rumah kecil itu semakin sempit, tetapi penuh kehidupan. Tangis bayi bercampur suara mesin jahit Susan yang hampir tak pernah berhenti. Tangannya menjadi kasar, matanya sering perih, tetapi hatinya tetap lembut.
Zainudin tidak berubah seperti yang Susan doakan. Kebiasaan buruknya justru semakin menjadi.
Ia memaksa meminta uang hasil jahitan Susan. Ia mabuk-mabukan, berjudi, dan bermain perempuan.

Berkali-kali Susan menangis dalam diam. Berkali-kali ia bertanya pada Tuhan mengapa hidupnya begitu berat.
Namun setiap kali bangkit, ia memilih bertahan.

“Kesetiaan bukan soal layak atau tidak layak,” bisik Susan dalam doanya, “tetapi soal taat.”
Suka dan duka berjalan berdampingan. Ada hari-hari bahagia: saat anak pertama masuk sekolah, saat Natal mereka bernyanyi bersama, saat cucuran hujan membawa harapan panen. Ada pula hari-hari gelap
ketika uang sekolah tak ada, ketika Susan sakit namun tetap menjahit, ketika anak-anak menahan malu melihat ayah mereka pulang mabuk.

Suatu malam, sebuah peristiwa mengubah pandangan seluruh desa.

Zainudin pulang dalam keadaan mabuk berat. Langkahnya limbung.
Tanpa sadar, ia terjatuh ke dalam sumur tua di belakang rumah.
Susan yang melihat kejadian itu berlari.
Tanpa berpikir panjang, ia ikut terjun ke dalam sumur.
Teriakan warga memecah malam.
Mereka berhasil menolong keduanya.
Luka mereka ringan, tetapi keheranan warga sangat besar. Mengapa Susan melakukan tindakan yang begitu nekat?
Dengan tubuh gemetar dan mata basah, Susan menjawab pelan,
“Karena dia suami saya. Saya bersamanya, hidup atau mati.”

Sejak malam itu, keluarga besar semakin keras mendesak Susan untuk bercerai. Banyak yang memutus hubungan. Mereka lelah menasihati. Namun Susan tetap teguh.

“Baik atau buruk, dia suami saya. Tuhan yang memberi, Tuhan pula yang berhak mengambil,” katanya.

Anak-anak tumbuh dalam kerasnya kehidupan. Mereka melihat ayah yang sering gagal dan ibu yang tidak pernah menyerah.
Dari Susan, mereka belajar arti tanggung jawab, kerja keras, dan pengampunan. Susan selalu berpesan, “Jangan membenci ayah kalian.
Jadilah manusia yang lebih baik.”
Anak-anak itu tumbuh menjadi orang-orang baik.
Ada yang menjadi guru, perawat, pengusaha kecil, dan pelayan gereja.
Mereka menikah dan memiliki anak.
Rumah Susan kembali ramai oleh tawa cucu-cucu. Dalam kebahagiaan itu, Susan terus berdoa bukan agar hidupnya mudah, tetapi agar imannya tetap kuat.

Zainudin menua tanpa banyak perubahan. Di usia tujuh puluh tahun, tubuhnya melemah.
Susan merawatnya dengan setia
menyuapi, membersihkan, dan berdoa di sampingnya. Tidak ada dendam di hatinya.
Hanya penyerahan penuh kepada Tuhan.
Zainudin meninggal dunia dengan tenang. Setahun kemudian, Susan menyusul.
Anak-anak dan cucu-cucu mengantar kepergiannya dengan air mata dan rasa hormat.
Kini, nama Susan dikenang di desa itu.
Bukan karena harta atau kedudukan, melainkan karena imannya. Kisah hidupnya menjadi pengingat bahwa kasih sejati bukan tentang menerima yang sempurna, melainkan setia dalam ketidaksempurnaan.
“Baik atau buruk, tetap suamiku” bukan lagi kalimat pembelaan, melainkan kesaksian iman bahwa kasih yang tulus tidak pernah sia-sia di mata Tuhan.

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

TETAP BERDIRI DI TENGAH BADAI

TETAP BERDIRI DI TENGAH BADAI

Cerpen no 0030

Medio Desember 2025

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Kasih dalam kehidupan

Ida lahir dan tumbuh di sebuah keluarga sederhana, di sudut kota Bekasi yang tidak pernah benar-benar tidur.
Sejak kecil, ia sudah akrab dengan suara piring beradu, aroma nasi hangat, dan lelah yang tersimpan di wajah kedua orang tuanya.

Ayahnya seorang makelar rumah, berkeliling dari satu tempat ke tempat lain, menawar, menjual, berharap satu transaksi bisa cukup untuk membayar kebutuhan keluarga.
Ibunya, Murni, setiap subuh sudah bangun, memasak nasi bungkus yang akan dijajakan sepanjang hari.

Hidup mereka bukan tanpa cinta, tetapi penuh perjuangan. Ida dan adik perempuannya, Tri, tumbuh dengan kesadaran bahwa hidup tidak pernah gratis.
Segala sesuatu harus diupayakan.
Tri, yang kelak menjadi wartawan, sering menemani Ida duduk di dapur, mendengarkan cerita ibu sambil membantu membungkus nasi.
Dari sanalah Ida belajar satu hal penting: hidup boleh keras, tetapi hati tidak boleh menjadi pahit.
Sebagai anak sulung, Ida terbiasa menahan diri.
Ia jarang meminta. Ia tahu, jika ia merengek, ibunya akan tersenyum sambil berkata “nanti”, sementara ayahnya akan menghela napas panjang.
Maka Ida memilih diam, memilih kuat, memilih belajar.

Ketika dewasa, Ida menikah dengan seorang pedagang. Ia berharap pernikahan itu menjadi pelabuhan tenang setelah perjalanan panjang masa kecilnya.
Dari pernikahan itu lahirlah seorang putri yang sangat ia cintai, Joan.

Namun hidup kembali menguji Ida. Perkawinannya tidak berjalan seperti yang ia impikan. Perbedaan, tekanan ekonomi, dan luka yang tak sempat disembuhkan membuat rumah tangga itu kandas di tengah jalan.

Perpisahan itu menyisakan luka yang dalam. Namun Ida tidak sendiri. Joan, putri kecilnya, memilih ikut bersamanya. Saat itu, Ida memeluk anaknya erat-erat, sambil menahan air mata.
Ia berjanji dalam hati, apa pun yang terjadi, anak ini tidak boleh kehilangan masa depan hanya karena kegagalan orang tuanya.
Di sanalah perjuangan hidup Ida benar-benar dimulai.

Dengan modal kenangan masa kecil, Ida menuruni kemampuan ibunya. Ia menyadari bahwa memasak bukan sekadar hobi, tetapi warisan hidup. Sambil mengasuh Joan, Ida melanjutkan kuliah Manajemen Informasi di sebuah universitas di Jakarta.
Ia mengambil kelas sore, karena pagi hingga malam hidupnya diisi dengan kerja.
Ia magang di sebuah restoran besar di Jakarta.

Dunia kerja menyambutnya tanpa belas kasihan. Jadwal panjang, tekanan tinggi, dan tubuh yang sering kelelahan menjadi teman setia.
Ada hari-hari ketika Ida bekerja hampir 20 jam sehari.

Pagi ia kuliah, siang bekerja, malam kembali bekerja, dini hari pulang dengan langkah gontai.
Sering kali, di kamar sempit yang ia sewa, Ida menangis diam-diam. Bukan karena ingin menyerah, tetapi karena tubuhnya lelah dan hatinya rindu.
Rindu pada masa kecil yang sederhana, rindu pada ibu yang dulu selalu menyambutnya dengan nasi hangat, rindu pada kehidupan yang tidak sekeras ini.
Namun setiap kali ia melihat wajah Joan yang tertidur pulas, Ida kembali menguatkan diri. Tangisnya ia simpan, senyumnya ia kenakan kembali keesokan hari.
Kerja kerasnya perlahan membuahkan hasil. Ketangguhan Ida menarik perhatian banyak orang. Hingga suatu hari, namanya muncul dalam sebuah majalah wanita nasional.
Ia dianugerahi penghargaan sebagai wanita pejuang yang sangat tangguh. Saat menerima penghargaan itu, Ida tersenyum sambil menahan haru.

Bukan karena bangga, tetapi karena ia teringat semua malam panjang, semua luka yang tak terlihat, semua air mata yang tak pernah diberitakan.
Di luar pekerjaan, Ida menemukan kekuatan lain persahabatan.
Ia aktif dalam kegiatan anak muda Buddha di vihara.
Di sanalah ia bertemu orang-orang yang juga sedang berjuang dengan caranya masing-masing. Mereka berbagi cerita, berbagi tawa, berbagi air mata.
Di vihara, Ida belajar bahwa hidup bukan hanya soal uang, tetapi juga soal makna.
Mereka sering duduk melingkar, melakukan sharing tentang perjuangan hidup, tentang bagaimana mencari nafkah tanpa kehilangan nurani.
Ada tawa lepas, ada pelukan hangat, ada keheningan yang menenangkan.
Ida menyadari, dalam hidup, mempertahankan diri memang sering kali berarti bekerja keras mencari uang.
Ada yang sukses menjadi pengusaha besar, ada yang menjadi pengusaha biasa, dan ada pula yang terus berjuang tanpa tahu kapan rezeki akan berpihak.
Namun setiap orang memiliki nilai perjuangannya sendiri.
Ida melihat kenyataan itu dengan mata terbuka.
Ia tahu, masih banyak orang yang bekerja keras namun tetap hidup dalam kesusahan.
Ada pula yang terpaksa mengemis, bukan karena malas, tetapi karena hidup terlalu berat.

Dari sana, Ida belajar untuk tidak menghakimi, untuk tetap bersyukur, dan untuk berbagi semampunya.
Kini, Ida masih berjalan. Hidupnya belum sempurna.
Luka masa lalu masih ada, tetapi tidak lagi berdarah.
Ia tertawa bersama sahabat, menangis jika lelah, bangkit setiap kali jatuh. Ia mengajarkan Joan untuk kuat, tetapi juga untuk berbelas kasih.
Kisah Ida adalah kisah kasih anak manusia
tentang bertahan hidup, tentang jatuh dan bangkit, tentang air mata yang berubah menjadi kekuatan. Sebuah kisah sederhana, tetapi penuh makna: bahwa selama masih ada tekad, harapan tidak pernah benar-benar padam.

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Kondisi terkini Bencana Alam di Sumatra

Kondisi terkini Bencana Alam di Sumatra
Termasuk Aceh, Sibolga Tapanuli, dan wilayah terdampak lain)
berdasarkan data pelaporan resmi terbaru dan situasi di lapangan hingga 11–12 Desember 2025

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Kronologi Banjir & Longsor di Sumatra Telan Lebih dari 960 Korban Jiwa

Kondisi Umum Terkini (Perkembangan Situasi)
Skala bencana & korban

Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang dipicu oleh curah hujan ekstrem akibat siklon tropis Senyar telah menyebabkan kerusakan luar biasa di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Sampai data terbaru, korban jiwa mendekati angka 970 orang dengan ratusan lainnya dilaporkan hilang atau masih dalam pencarian. Jumlah ini terus diperbarui oleh BNPB dan tim SAR nasional karena operasi pencarian belum sepenuhnya selesai.

Lebih dari 3,3 juta orang terdampak langsung, dan sekitar 1 juta orang mengungsi di berbagai titik pengungsian di ketiga provinsi tersebut.

Rumah-rumah, fasilitas umum, sekolah, pos kesehatan, jalan utama, dan jembatan mengalami kerusakan berat.
Akses dan infrastruktur:
Jalan nasional dan jembatan putus total, terutama di wilayah Sibolga, Tapanuli Tengah, dan pegunungan Aceh, menyebabkan banyak desa terisolasi.
Listrik dan jaringan komunikasi banyak terputus, bahkan beberapa wilayah hanya bisa diakses lewat udara (helikopter atau drone).

Akses air bersih sangat terbatas, memaksa warga mengambil air dari aliran sungai atau sumber yang tidak layak minum termasuk menadah hujan.

Bantuan
BNPB bersama TNI/Polri, PMI relawan nasional, dan organisasi kemanusiaan lainnya seperti KRIS (Killcovid-19 Relief International Services)
terus mengerahkan helikopter dan alat berat untuk membuka akses, membawa logistik pokok (air mineral, makanan, selimut pakaian ) dan membuka pos kesehatan darurat di lokasi-lokasi pengungsian.

Wilayah dengan Dampak Paling Parah

Pertama
Sumatera Utara – Sibolga dan Kawasan Tapanuli
Wilayah ini menjadi salah satu paling parah terdampak akibat gempuran banjir bandang, longsor dan arus lumpur yang dahsyat

Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah menghadapi banjir bandang yang menghancurkan permukiman, menyebabkan puluhan rumah ambruk dan tanah longsor menutup jalur utama.
Banyak desa seperti Badiri, Sarudik, Pandan, Tukka, Tapian Nauli, Kolang terendam dan akses darat terputus total.

Tim SAR mendapati puluhan korban terbawa arus, sementara ratusan lainnya masih dalam pencarian.

Kedua
Aceh

Aceh juga mengalami dampak besar, terutama di kabupaten seperti Aceh Utara, Aceh Tamiang, Bener Meriah, dan Pidie Jaya, dengan ratusan korban tewas dan ribuan rumah rusak.

Banyak fasilitas umum di Aceh juga terendam dan infrastruktur putus.

Ketiga
Sumatera Barat
Wilayah seperti Padang Pariaman, Agam, Tanah Datar, dan Padang City juga menerjang puluhan ribu rumah akibat banjir besar.

Di beberapa daerah, rumah terendam hingga atap dan ribuan orang terpaksa mengungsi.

Kisah Perjuangan Para Korban
Di tengah statistik dan laporan resmi, terdapat kisah-kisah manusiawi yang penuh perjuangan, kehilangan, dan solidaritas, yang menunjukkan bagaimana bencana ini begitu mengguncang kehidupan masyarakat

Heroisme di Tengah Longsor
Seperti Divan Simangunsong
Di Tapanuli Tengah, seorang remaja bernama Divan Simangunsong (21 tahun) menjadi simbol keberanian.
Saat longsor tiba-tiba menghantam kampungnya, ia berjuang keras menyelamatkan ayahnya yang hidup dengan kondisi stroke. Sayangnya, Divan sendiri tertimbun longsoran dan gugur saat berusaha menarik ayahnya ke tempat aman.

Keberaniannya dirasakan oleh warga sekitar sebagai kisah inspiratif tentang pengorbanan tanpa pamrih.

Kehidupan di Pengungsian
Ratusan ribu warga terpaksa meninggalkan rumah mereka seketika.
Banyak keluarga kehilangan rumah, perabot, dan dokumen penting.
Di lokasi pengungsian, mereka bergantian mengantri air bersih, bercampur dengan lumpur yang masih menutupi akses masuk ke banyak desa. Sementara itu, anak-anak mencoba bermain di sela tenda-tenda darurat, mencoba tersenyum di tengah trauma.

Para ibu merangkap sebagai penjaga semangat keluarga, membagi sedikit makanan yang ada, sambil menghibur anak-anak yang ketakutan akan hujan susulan. Ada juga keluarga yang hidup bersama hewan ternak mereka di pengungsian, karena takut ditinggal dan kehilangan sumber penghidupan mereka.

Relawan dan Solidaritas Komunitas
Relawan dari berbagai daerah datang membawa bantuan.
Cerita kecil tapi bermakna datang dari relawan Anes dan kawan kawan dari KRIS yang menjemput air bersih dengan gerobak dorong dari sungai terdekat, atau warga yang berjalan berpuluh kilometer untuk membawa bantuan makanan ke saudara mereka yang terisolasi karena longsor.

Beberapa relawan medis bekerja siang malam merawat luka ringan dan memberikan konseling psikososial bagi anak-anak yang kehilangan orang tua atau rumah mereka.

Pemulihan dan Harapan
Meskipun banyak tantangan, semangat gotong-royong tetap tumbuh. Warga bersatu membersihkan reruntuhan rumah, membuka jalur kecil agar bantuan bisa masuk, dan berbagi bekal makanan dengan tetangga yang paling membutuhkan.
Anak-anak kembali ke pengungsian mereka sambil membawa buku tulis, menunjukkan keinginan kuat untuk kembali ke sekolah meskipun bencana masih terasa dalam ingatan mereka.

Situasi Bantuan & Prioritas Ke Depan
Distribusi bantuan tetap menjadi tantangan besar karena infrastruktur rusak dan akses dibatasi oleh lumpur, longsor susulan, serta kondisi cuaca yang belum stabil. Bantuan utama yang masih darurat diperlukan di antaranya
Air bersih dan sanitasi
Makanan darurat
Perlengkapan bayi dan fasilitas kesehatan
Tempat tidur, selimut, dan perlindungan tambahan untuk pengungsian
Perbaikan akses jalan dan jembatan untuk mempercepat distribusi bantuan.

Pemerintah juga sedang mempercepat upaya rekonstruksi jangka panjang, termasuk pembangunan rumah sementara dan permanen bagi warga yang kehilangan tempat tinggal. Dana pemulihan diperkirakan mencapai triliunan rupiah, dan kolaborasi antara pemerintah, lembaga kemanusiaan, serta komunitas global sangat dibutuhkan.

Pesan Solidaritas
Di balik statistik yang terus diperbarui, cerita manusia menjadi pengingat bahwa ketangguhan, keberanian, dan solidaritas adalah kunci untuk bangkit dari bencana ini. Ucapan terima kasih kepada semua relawan, donatur, dan masyarakat yang telah membantu
Perkumpula Teo Chew Indonesia
PT Niewana Lestari
PT Aditya Aryaprawira
Komunitas KRIS
PT Dok Kodja Bahari
PMI DKI Jakarta
WINGS Group
Caritas Imdonesia
Para Donatur

Semua bantuan anda
sangat berarti bagi keluarga korban, terutama mereka yang kehilangan segalanya dalam hitungan detik

Www.kris.or.id
Www.adharta.com

Langkah Langkah Sekar di Kota Beton

“Langkah Langkah Sekar di Kota Beton”

Oleh : Adharta
Ketua umum
KRIS

Cerpen nomor 0029

Desember 2025

Kisah perjuangan
Sekar lahir dan tumbuh di sebuah desa kecil di lereng Gunung Wilis, Jawa Timur.

Hidupnya sederhana rumah kayu berdinding papan, suara tonggeret setiap sore, dan aroma tanah basah setelah hujan. Kedua orang tuanya, Sumarno dan Sulastri, adalah petani kecil yang mengajarinya tentang kerja keras dan kejujuran.
Sejak kecil, Sekar sering membantu ibunya menanam cabai dan memanen jagung, sementara ayahnya mengajarinya membaca koran bekas yang dibawanya dari warung kopi.

Ketika Sekar menginjak SMA, ia mulai menyimpan satu mimpi
merantau ke Jakarta. Baginya, Jakarta bukan hanya kota besar yang penuh hiruk-pikuk, tetapi juga simbol kesempatan.

Ayahnya selalu berkata, “Orang kecil hanya kalah kalau berhenti berusaha.” Kalimat itu menempel di hatinya seperti cap yang tak mungkin hilang.
Namun takdir tidak selalu berjalan lurus. Pada suatu malam ketika Sekar kelas tiga SMA, ayahnya meninggal mendadak karena serangan jantung.
Dunia Sekar runtuh. Ibunya, yang sejak lama sakit-sakitan, semakin melemah dan akhirnya menyusul suaminya setahun kemudian.
Sekar menjadi benar-benar sendiri tanpa harta, tanpa keluarga inti, hanya dengan mimpi yang masih ia genggam erat.

Menuju Jakarta

Setelah lulus SMA, Sekar memutuskan merantau. Dengan uang tabungan hasil bekerja di warung makan di desa dan sedikit bantuan dari pakliknya, ia naik bus menuju Jakarta. Perjalanan sembilan belas jam itu terasa seperti perpindahan hidup dari udara pegunungan yang dingin menuju panasnya kota beton.
Ia tinggal di sebuah kamar kos sempit di daerah Kramat.

Kamarnya hanya cukup untuk tempat tidur tipis, kipas angin, dan satu meja kecil yang dibelinya dari pasar loak. Namun bagi Sekar, itu sudah lebih dari cukup; itu adalah langkah pertamanya menuju masa depan.
Hari-harinya dimulai pukul lima pagi. Ia bekerja sebagai pelayan di restoran kecil dari pukul enam sampai dua sore. Setelah itu, ia berangkat ke kampus swasta tempat ia mengambil jurusan Manajemen.

Pulang kuliah pukul sembilan malam, kemudian belajar hingga larut.
Terkadang ia hanya tidur tiga jam, tetapi semangatnya tak pernah padam.
Masa-masa itu berat. Ia pernah hampir pingsan karena kelelahan.

Pernah juga pulang sambil menangis saat tidak punya cukup uang untuk membayar fotokopi modul. Namun setiap kali ia ingin menyerah, ia mengingat wajah ayah dan ibunya. “Kalau aku berhenti, aku menghianati perjuangan mereka.”

Sekar
Gagal dalam Cinta

Di tengah perjuangannya, Sekar bertemu Rafi
seorang senior kampus yang ramah dan penyayang. Mereka berpacaran selama satu tahun.
Rafi menjadi sosok yang membuat Sekar merasa tidak sendirian.
Namun hubungan itu tidak bertahan lama
Rafi harus pindah ke Surabaya karena pekerjaan keluarganya. Hubungan jarak jauh tak berjalan baik
komunikasi terputus, janji tak lagi ditepati, sampai akhirnya mereka berpisah dalam sunyi.
Setelah itu, muncul seorang rekan kerja bernama Dimas. Ia humoris, perhatian, dan sering mengantar Sekar pulang.

Sekar mulai membuka hatinya lagi. Namun, suatu malam Sekar melihat Dimas makan malam dengan seorang perempuan
ternyata kekasihnya yang sudah lama menjalin hubungan.
Sekar mundur perlahan, menelan luka untuk kedua kali.
Beberapa tahun kemudian, ada pula Rangga, teman sekelas yang pandai dan ambisius. Mereka sempat dekat dan saling mengagumi. Namun Rangga lebih memilih karier dan ingin berkonsentrasi pada bisnis yang sedang ia bangun.

“Aku belum siap berkomitmen,” katanya.
Sekar hanya tersenyum.
Ia sudah cukup sering terluka untuk tahu kapan harus melangkah pergi.

Sekar belajar satu hal cinta bisa menjadi kekuatan, tapi juga bisa menjadi beban. Ia memilih untuk tetap berjalan, karena hidup telah mengajarinya bahwa harapan tidak selalu datang dari seseorang
sering kali datang dari dirinya sendiri.
Titik Terendah dan Titik Balik
Tahun ketiga kuliah adalah masa tersulit.

Gaji di restoran tidak naik, sementara biaya kuliah meningkat. Sekar hampir memutuskan berhenti kuliah.
Ia menatap langit malam dari jendela kosnya, menahan air mata.
“Ibu… bapak… apa aku harus menyerah?”

Namun keesokan harinya, dosen pembimbingnya memanggil dan menawarkan Sekar pekerjaan paruh waktu sebagai asisten akademik.

Pekerjaan itu tidak hanya membantu secara finansial, tetapi juga membuat Sekar merasa dipercaya dan dihargai.
Ia menerimanya tanpa ragu.
Selain itu, ia juga mulai membuka jasa pengetikan dan desain CV dan tesis
untuk mahasiswa lain. Penghasilannya perlahan meningkat. Dalam kesibukan itu, ia menemukan kembali kekuatannya: kemampuan bertahan.

Saat Wisuda

Hari yang paling ia tunggu akhirnya datang. Setelah lima tahun penuh perjuangan, air mata, dan kelelahan,
Sekar berdiri di Balai Kartini dengan toga hitam, wajah ceria, dan hati yang menggebu. Ketika namanya dipanggil untuk menerima gelar sarjana, ia menahan tangis.

“Untuk bapak dan ibu,” bisiknya pelan.
Tidak ada keluarga yang datang menghadiri wisudanya. Namun teman-temannya berkumpul di sekitar, membawa bunga, memeluknya dengan bangga. Di tengah kerumunan itu, Sekar menatap ke atas.
Langit Jakarta yang suram tiba-tiba terasa hangat.

Foto-foto wisudanya ia cetak dan simpan dalam sebuah album kecil.
Di halaman pertama ia menulis:
“Jika kau tak punya siapa pun yang percaya padamu, jadilah orang pertama yang mempercayai dirimu sendiri.”

Setelah Wisuda
Dengan gelar sarjana dan pengalaman kerja

Bertahun-tahun, Sekar diterima di sebuah perusahaan logistik dan project movement dan shipping
sebagai staf administrasi. Gajinya jauh lebih baik daripada sebelumnya.
Ia bisa pindah ke kos yang lebih layak, mulai menabung, bahkan mengirim sedikit uang kepada pakliknya di desa yang dulu membantunya.

Dalam perjalanan hidupnya, Sekar bertemu banyak orang, belajar tentang berbagai jenis manusia, tentang ketidakpastian hidup, dan tentang keberanian untuk tetap berdiri meski angin berusaha menjatuhkan.

Cinta? Itu urusan belakangan. Sekar tidak lagi terburu-buru. Ia percaya bahwa ketika waktunya tepat, Tuhan akan mempertemukan ia dengan seseorang yang tidak hanya mengisi hidupnya, tetapi juga berjalan bersamanya dalam setiap langkah.

Kasih di akhir perjuangan
Perjalanan Sekar bukanlah cerita tentang kemenangan besar, tetapi tentang kemenangan kecil yang dikumpulkan hari demi hari.
Ia tidak lahir dari keluarga kaya, tidak punya keistimewaan selain tekad, dan tidak dihiasi keajaiban seperti dalam dongeng.

Namun hidupnya menjadi bukti bahwa setiap mimpi bisa tumbuh bahkan dari tanah yang paling gersang.

Di kota yang sering menggilas mimpi banyak orang, Sekar berdiri tegak sebagai seorang sarjana yang lahir dari perjuangan panjang.
Ia bukan lagi gadis desa yang takut melangkah; ia adalah perempuan muda yang mengenal dunia, memahami arti luka, dan tetap memilih untuk tidak menyerah.

Dan dari semua perjalanan itu, Sekar tahu satu hal ia telah menjadi harapan bagi dirinya sendiri.

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

SYENI Cerpen no 0028

SYENI
Cerpen no 0028

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Minggu pertama Desember 2025

Gadis pejuang

Hujan turun sejak pagi, membasahi gang-gang kecil tempat toko batik milik keluarga Syeni berdiri sejak dua puluh tahun lalu di tepi Kota Solo
Rintik itu seperti tirai tipis yang menggantung di langit tidak deras, tetapi cukup untuk membuat aspal tampak berkilau dan udara berbau tanah basah.
Di balik jendela kaca toko yang mulai berembun, Syeni duduk sambil memandangi etalase yang tampak semakin redup dimakan usia.
Syeni berusia dua puluh tiga tahun, namun tatapannya lebih dewasa dari usianya.
Hidup membuatnya belajar banyak hal bagaimana menjaga usaha keluarga sejak ayahnya sakit, bagaimana menahan rindu yang tak pernah tersampaikan, dan bagaimana tetap tersenyum meski hatinya rapuh seperti kain sutra yang terlalu sering diremas.

Ayahnya dulu seorang pengukir kayu kenamaan di kampung itu, terkenal karena ukirannya yang halus dan berjiwa.
Namun sejak penyakit paru-paru menggerogoti tubuhnya, ia lebih sering terbaring di kamar, ditemani suara batuk dan obat yang sudah tak terhitung jumlahnya. Ibunya mengurus ayah siang malam, sementara Syeni memikul beban toko seorang diri.
Toko batik itu kecil, tetapi penuh cerita. Setiap motif di sana memiliki kisah ada motif parang tua milik nenek buyutnya, motif mega mendung yang diwariskan dari paman ibunya, hingga motif kontemporer hasil desain Syeni sendiri. Namun di balik warna-warni kain yang tergantung rapi itu, Syeni menyimpan kepedihan yang jarang ia ceritakan kepada siapa pun.

Suatu sore, ketika cahaya matahari mulai merembes masuk di antara tirai hujan, pintu toko terbuka dan seorang lelaki muda melangkah masuk.
Suaranya tenang, langkahnya mantap, dan matanya tajam namun hangat.
“Permisi… apakah ada batik motif Lereng Parang edisi khusus?” tanyanya.
Syeni mengangkat wajahnya. “Ada, tapi tinggal satu lembar. Motif lama, sudah tidak diproduksi lagi.”
Lelaki itu tersenyum. “Bagus. Itu yang saya cari.”
Ia memperkenalkan dirinya sebagai Nara, seorang mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyiapkan pameran seni tekstil untuk tugas akhirnya. Cara Nara berbicara berbeda dengan pelanggan lain dia mengamati setiap kain seperti meneliti ruh yang tersembunyi di balik warna dan garisnya. Ia menanyakan filosofi, sejarah, dan makna setiap detail batik yang dilihatnya.
“Kau bicara seperti batik ini hidup,” kata Nara sambil memegang selembar kain megamendung.
Syeni tersenyum kecil.
“Bagi ibuku, setiap batik memang hidup. Ia punya jiwa, punya napas, dan punya cerita.”

Mata Nara berbinar. “Saya senang mendengarmu bicara seperti itu.
Kau punya cara melihat dunia yang menarik.”

Sejak hari itu, Nara sering datang kadang untuk konsultasi desain, kadang sekadar berbincang sambil menyeruput teh jahe buatan ibu Syeni. Kehadirannya memberi warna baru dalam hari-hari Syeni yang sebelumnya hanya dipenuhi rutinitas dan kekhawatiran tentang ayahnya.
Di hadapan Nara, Syeni merasa dilihat.

Dan itu membuatnya takut sekaligus bahagia.
Suatu malam, ayah Syeni kambuh lagi. Suara batuknya menggema hingga depan toko, membuat Syeni berlarian sambil gemetar. Ibu memanggil ambulans, dan rumah sakit menjadi satu-satunya tempat yang mungkin menyelamatkannya.
Namun biaya rawat inap tak lagi masuk akal bagi keluarga mereka.
Di ruang tunggu rumah sakit yang sunyi, Syeni menggenggam tangan ibunya erat-erat.
“Bu, kita harus cari cara,” ujarnya, berusaha tetap tegar.
Ibunya mengangguk dengan mata berkaca-kaca. “Nenekmu dulu pernah bilang… kalau kita merawat hidup orang lain, Tuhan pasti merawat hidup kita.”

Keesokan paginya, Nara datang membawa buah tangan kecil.
Syeni menggeleng. “Kau tidak perlu datang…”
“Aku ingin memastikan ayahmu baik-baik saja,” kata Nara.
“Aku juga ingin membantu biaya rumah sakit.”
Syeni langsung menegang.

“Nara… aku tidak bisa menerima itu.”
“Kenapa tidak?”
“Karena aku tidak ingin hidupmu terbeban oleh keluargaku.”
“Aku melakukannya karena aku peduli.”
Syeni menggeleng keras, menahan air mata. “Justru itu yang membuatku takut.”

Nara terdiam lama. “Jadi… kau menolakku?”
“Aku menolak merasa berutang pada seseorang yang belum tentu akan tetap ada untukku.”

Ucapan itu seperti pisau yang memotong jarak di antara mereka.
Nara menunduk, menghela napas panjang, lalu melangkah pergi tanpa banyak kata.
Sejak itu ia tidak muncul lagi.
Hari-hari berikutnya seperti berjalan lambat dan berat.
Ayah Syeni akhirnya stabil setelah beberapa hari, tetapi Syeni merasa sepi.
Ia merindukan suara Nara, tawa kecilnya, pertanyaan-pertanyaan anehnya tentang motif batik, dan cara ia memandang dunia seolah semuanya mempunyai keindahan tersembunyi.
Saat Syeni kembali membuka toko, ia menemukan lembar batik Lereng Parang yang dulu dipilih Nara masih tergantung sendiri di sudut toko.
Ia memegangnya, membelai motifnya perlahan, seakan menyentuh kenangan yang masih tersisa.
Ibunya berdiri di belakangnya. “Dia belum datang lagi, ya?”
Syeni hanya menggeleng.
“Kau sayang sama dia?” tanya ibunya lembut.
Syeni terkejut. Wajahnya memerah.
“Bu… aku bahkan tidak tahu apa yang dia rasakan.”
Ibunya tersenyum tipis. “Hati perempuan tidak pernah salah membaca kehadiran.”

Syeni tidak menjawab.
Ia menunduk dan menatap kain di tangannya, sementara hatinya terasa berat seperti noda tinta yang tak bisa hilang dari selembar kain putih.
Malam pembukaan pameran Nara akhirnya tiba. Syeni sebenarnya tidak ingin datang ia takut melukai dirinya sendiri jika melihat Nara yang mungkin sudah berubah atau tidak peduli lagi.
Namun sesuatu di dalam dirinya mendorongnya untuk pergi.
Galeri seni itu ramai, penuh cahaya hangat dan pengunjung yang berbisik kagum.
Syeni berjalan perlahan di antara kerumunan, mencari-cari tanda kehadiran Nara.
Ketika sampai di sudut ruangan, matanya terpaku pada sebuah karya besar yang memukau. Sebuah lukisan yang menggambarkan siluet seorang perempuan memegang kain batik.
Wajahnya tidak tampak, tetapi tubuhnya cara ia berdiri, cara rambutnya jatuh semuanya sangat mirip dengan Syeni.
Di bawah lukisan itu tertulis:

“SYENI — Perempuan yang Menyimpan Cahaya.”

Langkah Syeni terhenti. Dadanya serasa diremas.
Ia menutup mulutnya dengan tangan, menahan tangis yang tiba-tiba meledak begitu saja.
“Ternyata kau datang.”
Syeni berbalik. Nara berdiri beberapa langkah di belakang, menatapnya dengan mata yang tidak pernah ia lupakan.
“Kau… menggambar ini?” suara Syeni hampir tak terdengar.
Nara mengangguk. “Aku menggambar dari ingatan. Dari semua percakapan kita. Dari cara kau memandang batik.
Dari keteguhanmu merawat keluargamu.
Dari cahaya yang selalu kau simpan meski dunia sering gelap untukmu.”

Air mata Syeni jatuh lagi. “Kenapa kau melakukan ini?”
“Karena kau adalah inspirasi dari semua yang aku kerjakan selama ini.”

Syeni menunduk, suaranya bergetar.
“Aku takut menerima bantuanmu. Takut menerima perasaanmu. Karena aku takut suatu hari kau pergi.”
Nara mendekat, pelan dan hati-hati. “Syeni… aku tidak datang untuk menjadi beban.
Aku datang karena aku ingin berada di sisimu.”

Syeni mengangkat wajahnya, matanya penuh luka dan harapan. “Aku tidak tahu apakah aku pantas untuk itu.”
Nara tersenyum lembut.
“Kau pantas dicintai, Syeni. Lebih dari yang kau bayangkan.”
Kerumunan orang menghilang dari pandangan Syeni.
Yang tersisa hanya dirinya dan Nara, berdiri di antara cahaya lampu galeri yang hangat.
Untuk pertama kalinya sejak ayahnya jatuh sakit bertahun-tahun lalu, Syeni merasakan dadanya lapang. Ia merasakan sesuatu yang selama ini ia lupakan
harapan yang sederhana, tetapi nyata.
Sejak malam itu, banyak hal berubah dalam hidup Syeni. Toko batik mulai ramai, terbantu oleh pameran Nara yang menyedot perhatian. Beberapa motif batik buatan Syeni bahkan dipesan untuk koleksi galeri seni. Ia mulai menemukan kembali mimpinya yang dulu ia pendam
menjadi pembatik muda yang dikenal bukan karena warisan, tetapi karena karyanya sendiri.
Ayahnya perlahan membaik.
Ibunya kembali tersenyum seperti dulu. Dan Nara… tetap datang, bukan dengan bantuan uang, tetapi dengan kehadiran yang hangat dan konsisten.
Setiap sore mereka duduk di belakang toko, mendesain motif baru bersama. Nara menggambar garis-garis kasar, Syeni menyempurnakannya dengan sapuan halus penuh perasaan.
Suatu kali, ketika senja menaburkan cahaya emas di dinding toko, Nara berkata pelan,
“Aku ingin kita membuat koleksi bersama. Namanya…

Cahaya Syeni.”

Syeni tertawa kecil, pipinya memanas. “Kenapa harus namaku?”
“Karena kau cahaya dalam hidupku,” jawab Nara tanpa ragu.
Syeni menunduk, menahan senyum yang tak sanggup ia sembunyikan.
Di saat-saat itu, ia merasa dunia yang selama ini berat mulai menjadi tempat yang bisa ia cintai lagi—pelan-pelan, tetapi pasti.
Namun Syeni belajar bahwa hidup tidak selalu menawarkan akhir yang sempurna.
Yang indah harus dirawat, yang rapuh harus dijaga. Dan cinta, seperti batik, hanya dapat bertahan jika diperlakukan dengan sabar dan penuh makna.
Tapi ia tidak lagi takut. Karena ia tahu, apa pun yang terjadi, ia tidak lagi berjalan sendirian.
Dan di bawah sinar remang yang jatuh di toko itu, Syeni tersenyum pada dirinya sendiri.
Ia pernah menjadi perempuan yang memikul segalanya sendirian.
Kini ia menjadi perempuan yang menemukan kembali cahayanya.

Dan cahaya itu berbeda dari kilau kain sutra atau warna megamendung adalah cahaya harapan.
Cahaya yang lahir dari luka.
Cahaya yang tumbuh dari keberanian.
Cahaya yang diberikan oleh seseorang yang datang tanpa diminta, tetapi tinggal karena cinta.

Oleh: Adharta
Ketua Umum KRIS

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Momentum Kebangkitan Estetika Indonesia dan Dedikasi Kemanusiaan

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

ICE BSD
7 Desember 2025

Dimana ada aku
Disana ada Suka Cita

Hari ini menjadi hari bersejarah bagi dunia estetika Indonesia dan internasional.
Di tengah megahnya gedung Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, I-SWAM resmi menyelenggarakan Konvensi Internasional ke-16 tahun 2025
Sebuah perhelatan berskala global yang menjadi pusat pengetahuan, inovasi, teknologi, dan masa depan estetika dunia.

Acara monumental ini dipimpin oleh pribadi yang visioner dan berdedikasi tinggi,
Ketua Umum I-SWAM, Dr. dr
Teguh Tanuwidjaja (AAM)
M. Biomed

Di bawah kepemimpinannya, I-SWAM tidak sekadar tumbuh sebagai wadah kolaborasi profesi, tetapi telah berevolusi menjadi sebuah poros penting yang mempertemukan ilmu pengetahuan, teknologi kedokteran, industri estetika, dan jejaring global.

Selama tiga hari penuh, yaitu 5–7 Desember 2025, lebih dari 6000 orang peserta hadir dari berbagai negara hadir.
Mereka meliputi dokter estetika, dermatolog, peneliti, produsen alat kesehatan, distributor, mahasiswa kedokteran, hingga pemimpin perusahaan farmasi dan teknologi kecantikan dunia.
Dari panggung utama hingga ruang-ruang workshop terjadwal, suasana terasa hidup.
Bahasa Indonesia, Inggris, Rusia, Turki, Afrika Selatan, Korea Selatan dan berbagai logat internasional terdengar bergantian menunjukkan satu pesan kuat:
Indonesia kini bukan hanya peserta, tetapi tuan rumah peradaban estetika modern.
Jejak Ilmu, Kolaborasi, dan Harapan
Konvensi ini menghadirkan ratusan sesi ilmiah, demonstrasi teknologi estetika terbaru, pelatihan prosedural, hingga diskusi masa depan industri kedokteran estetika berbasis AI, regenerative medicine, dan advanced dermatologic therapy.

Di antara peserta, banyak yang terkesan bukan hanya karena kualitas materinya, tetapi karena penyelenggaraannya yang sangat rapi, profesional, dan penuh nilai kemanusiaan.
Di balik kemegahan itu, hadir pula energi solidaritas: kolaborasi lintas bangsa untuk dunia medis yang lebih baik.
KRIS dan PMI Ketika Medis Tidak Hanya Tentang Teknologi, tetapi Tentang Kemanusiaan
Tahun ini, I-SWAM bukan hanya tentang estetika tetapi juga tentang empati.
Untuk ketiga kalinya, KRIS (Komunitas Relawan Indonesia Sehat) bekerja sama dengan PMI DKI Jakarta menggelar kegiatan Donor Darah Nasional di area acara. Antusiasme peserta luar biasa
banyak dokter, perawat, mahasiswa, dan pengunjung rela meluangkan waktu mengantri demi membantu sesama.

Di balik jalannya program ini, terdapat koordinasi kesehatan yang kuat.
Tenaga medis KRIS ditempatkan secara khusus dan berada langsung di bawah pengawalan Prof. Dr. dr. Jusuf Kristianto, seorang tokoh senior yang dihormati dalam dunia pelayanan kesehatan.
Para tenaga kesehatan dan relawan bekerja tanpa lelah, memastikan semua peserta nyaman dan aman.
Beberapa di antaranya bertugas sejak pagi hingga malam tanpa kehilangan senyum dan semangat.

Di sini terlihat jelas bahwa:
Ilmu estetika bukan hanya merawat kecantikan luar tetapi merawat martabat kemanusiaan.
Media, Tokoh Publik, dan Sorotan Dunia
Acara ini juga mendapatkan liputan formal dari berbagai media nasional dan internasional. Salah satunya adalah
TV El John, yang hadir bersama tokoh publik termasuk Miss Coffee Indonesia, Miss Vera, yang menjadi bagian dari penyebaran pesan positif acara ini kepada masyarakat luas.

Setiap momen dari pembukaan megah, networking profesional, inovasi teknologi, hingga tawa kecil saat coffee break menjadi potret perjalanan Indonesia menuju standar global.

Momen Pribadi, Makna Kolektif
Bagi saya pribadi, berada di tengah ribuan tokoh medis dan ilmuwan dari berbagai negara adalah sebuah kehormatan sekaligus refleksi: bahwa kerja kolaboratif, keberanian bermimpi besar, dan kesungguhan melayani masyarakat dapat membawa Indonesia ke panggung dunia.
Saya sempat berbincang dengan perwakilan dari Rusia, Afrika Selatan, Turki, dan Inggris bukan sekadar basa-basi, melainkan dialog tentang bagaimana masa depan estetika, kesehatan preventif, gaya hidup sehat, dan pelayanan berbasis keilmuan akan membentuk dunia modern.
Dan dari percakapan itu, saya menyadari satu hal
Indonesia tidak lagi hanya mengikuti tren tetapi ikut menciptakannya.
Dedikasi Sosial
Bantuan untuk Sumatera
Di balik kesuksesan konvensi ini, ada panggilan moral yang tidak boleh diabaikan: masih banyak saudara kita yang membutuhkan bantuan nyata, terutama di wilayah Sumatra, yang tengah menghadapi situasi darurat sosial dan kesehatan di beberapa daerah.
Sebagai bagian dari gerakan solidaritas nasional, kami membuka pintu bagi siapa pun yang ingin membantu, mendukung, dan ikut berkontribusi dalam aksi kemanusiaan KRIS.
Bantuan dapat disalurkan melalui rekening resmi:

💙 DONASI UNTUK SUMATRA via
Bank BCA
6380888058
a.n. Perkumpulan Killcovid

Setiap kontribusi berapapun jumlahnya — akan menjadi bagian dari harapan, kehidupan, dan masa depan yang lebih layak bagi saudara-saudara kita.

Momentum untuk Masa Depan
I-SWAM 2025 bukan sekadar pertemuan ilmiah tetapi sebuah penanda sejarah.
Penanda bahwa Indonesia mampu menjadi pemimpin global di bidang estetika medis. Penanda bahwa tenaga medis kita dihormati di panggung dunia. Penanda bahwa ilmu pengetahuan dapat berjalan berdampingan dengan nilai-nilai moral dan kemanusiaan.
Hari ini kita merayakan pencapaian.
Besok kita melanjutkan pelayanan.
Dan ke depan, bersama-sama, kita membangun masa depan estetika dan kesehatan yang lebih manusiawi, lebih ilmiah, dan lebih bermakna.
Terima kasih kepada seluruh peserta, panitia, relawan, sponsor, dan komunitas internasional yang telah mempercayakan Indonesia sebagai tuan rumah.

Perjalanan ini belum berakhir tetapi baru saja dimulai.

i-SWAM 2025.
https://internationalswam.com

16th iSWAM 2025

Www.kris.or.id

Secangkir Kopi Pancong

Cerpen no 027
Awal Desember 2025

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Sambil mendengar lagu Desember kelabu
Lantunan Maharani Kahar sahabat dan teman SMA saya di Surabaya
Saya menulis sebuah Cerpen buat seorang Sahabat di rantau

Awal kisah Bahagia Manusia

Sebuah Film Bagus
Ada dua robot tua duduk di bawah langit senja dan berbicara tentang manusia, mungkin percakapannya akan terdengar seperti ini:

“Mengapa manusia bisa bahagia?”

Robot pertama menggeleng.

“Karena mereka bisa meninggal dunia.
Mereka punya batas waktu. Itu membuat setiap detik jadi bermakna.”

Robot kedua menjawab pelan, seperti sebuah rahasia,
“Dan karena mereka bisa lupa. Jika tidak, manusia akan lumpuh oleh kenangan buruk.”

Dua robot itu tidak akan pernah mengerti air mata.
Tidak pernah mengerti luka, kehilangan, rindu, atau harapan.

Dan mereka tidak akan pernah mengerti seseorang seperti Heralia.

Heralia Lahir Tanpa Pelukan
Heralia lahir di Pontianak pada 1 Maret 1998
di kota sungai, kota kopi, kota budaya yang saling bertemu.

Di hari pertama hidupnya, dunia sudah memberi pelajaran pertama:
Tidak semua bayi datang dengan pelukan.

Ayahnya memilih pergi sebelum ia lahir, sementara ibunya, yang masih sangat muda, memilih mengejar harapan ekonomi di negeri jauh
Taiwan.
Heralia tumbuh bukan dalam rumah penuh tawa keluarga, tetapi dalam keheningan yang ditemani suara langkah seorang nenek yang renta.
Nenek adalah ibu pertamanya, bukan karena darah, tetapi karena kesetiaan.
Namun bahkan cinta nenek tidak bisa menjawab pertanyaan yang selalu menggantung di dada anak kecil bernama Heralia
“Kenapa aku tidak cukup berharga untuk dipilih?”

Aku dalam pelukan duniaku
Masa Kecil di LKIA
Heralia bersekolah di LKIA (Lembaga Kesejahteraan Ibu dan Anak). Sebuah tempat bagi anak-anak yang lahir dengan cerita yang sama tidak lengkap, tidak sempurna, dan tidak dipilih oleh keadaan.
Di sana ia belajar bahwa:
Beberapa makan malam ditemani keheningan.
Beberapa ulang tahun hanya diingat kalender.
Tidak semua orang punya panggilan “Mama” dan “Papa”
di bibirnya.
Namun di sana juga ia belajar
Bagaimana tertawa meski hati sedang hujan.
Bagaimana bangkit ketika hidup menolak lembut.
Bagaimana menjadi kuat meski tumbuh sendirian.
Dan pelajaran paling besar

“Aku boleh lahir tanpa kasih sayang orang tua, tetapi aku tidak dilahirkan tanpa tujuan.”

Kenangan dalam Cintaku
Remaja yang Menyimpan Luka dalam Diam
Saat remaja, Heralia pernah iri pada teman yang pulang dijemput ayah. Pernah diam-diam menangis melihat anak lain merangkul ibunya.
Ia pernah menulis dalam buku hariannya

Seandainya aku punya ibu yang bisa mendengarkan ceritaku.
Seandainya aku punya ayah yang bisa mengatakan aku hebat.
Namun setiap kali ia jatuh, ada satu kekuatan tak terlihat yang menariknya berdiri.

Mungkin itu doa neneknya.
Mungkin itu luka yang menolak menjadi kelemahan.
Atau mungkin itu bagian manusia yang bahkan robot pun iri hati karena tidak ada
Harapan.

Kebahagiaan yang menanti
Perjalanan Pendidikan dan Kedewasaan
Setelah lulus SMK, Heralia mengambil program S1 Business English and Management di Politeknik Tonggak Equator
Ia bekerja keras:
menjadi freelance model, entertainer, dan apa pun yang bisa membantunya bertahan, bertumbuh, dan bermimpi.
Kesepian tetap mengikuti seperti bayangan yang tidak bisa dipisahkan, tetapi ia mulai menyadari sesuatu:
“Aku bukan korban, aku proses.”

Menuju hidup yang cemerlang
Panggung, Kamera, dan Takdir
Dunia pageant bukan sekadar panggung: itu adalah cermin masa lalu dan pintu masa depan.

Ketika ia mengikuti program Yayasan El John hingga akhirnya menjadi bagian dari kompetisi Miss Chinese Indonesia 2025 dan meraih gelar Miss Coffee Indonesia 2025, ia bukan hanya menunjukkan kecantikan.
Ia sedang berkata kepada dunia:
“Aku tidak tumbuh dari kasih orang tua, tapi aku tumbuh dari keberanian.”
Kompetisi itu penuh tekanan
24 finalis dari berbagai daerah, semua ambisius, berbakat, berpendidikan, dan percaya diri.

Perjuangan
Selama 6 hari karantina, ia belajar bahwa:
Persaingan bisa elegan.
Perbedaan budaya bisa saling menguatkan.
Saudara tidak selalu dari darah yang sama.
Dan ketika pemenang diumumkan, ia tidak merasa menang karena mengalahkan orang lain.
Ia menang karena berhasil mengalahkan rasa takut di dalam dirinya sendiri.

Minuman pelepas rindu
Kopi Pancong Identitas, Kisah, dan Harapan
Saat diwawancarai, ia memperkenalkan sesuatu yang tampak sederhana namun penuh makna
Kopi Pancong.
Setengah cangkir kopi yang mencerminkan akulturasi budaya Pontianak
Tionghoa, Dayak, dan Melayu (TiDaYu).

Kopi itu seperti hidupnya:
Tidak penuh, tetapi cukup.
Tidak sempurna, tetapi nyata.
Tidak manis sepenuhnya, tetapi memiliki rasa yang membuat orang ingin kembali.

Perjalanan hidup
Pertemuan dan Makna
Saat ia bercerita tentang hidupnya
tanpa ayah, tanpa ibu, tanpa rumah utuh
Heralia tidak menangis.
Tetapi orang yang mendengarkan bisa merasakannya dan menangis
Bahwa setiap senyumnya lahir dari air mata.
Bahwa setiap keberhasilannya dibangun dari kesunyian panjang.
Bahwa setiap langkahnya adalah pemberontakan terhadap masa lalu.
Heralia adalah bukti bahwa manusia bisa bangkit bukan karena tidak pernah hancur
tetapi karena mereka bisa lupa, memaafkan, dan memulai kembali.

Perjumpaan dan perpisahan
Manusia, Luka, dan Cahaya
Jika dua robot tua kembali berdiskusi malam ini, mungkin mereka akan menyadari:
Manusia bahagia bukan karena hidup mereka sempurna.
Manusia bahagia karena:
Mereka bisa jatuh lalu bangkit.
Mereka bisa memaafkan lalu melanjutkan hidup.
Mereka bisa melupakan luka dan memilih harapan.
Mereka bisa bermimpi meskipun hidup tidak adil.

Dan karena seseorang bernama Heralia telah menunjukkan kepada dunia
Bahwa keluarga yang hilang tidak pernah menghilangkan nilai diri.
Bahwa kesepian tidak bisa menghentikan masa depan.
Bahwa masa lalu adalah bab, bukan takdir.
Suatu hari nanti, ketika ia berdiri lebih tinggi, berbicara untuk lebih banyak anak seperti dirinya, mungkin ia akan berkata:
“Aku bukan anak yang ditinggalkan.
Aku anak yang ditemukan oleh masa depan.”

Dan pada akhirnya, seperti secangkir Kopi Pancong, hidupnya mungkin tidak penuh.
Namun cukup.
Dan bermakna.

Salam dan Doaku

Adharta

Www.adharta.com

Www.kris.or.id

SANTO FRANSISKUS XAVERIUS

Oleh : FX Adharta
Ketua Umum
KRIS

3 Desember 2025

API YANG TAK PERNAH PADAM

Saya memakai nama FX atau Fransiskus Xaverius
Sebagai nama Baptis

Seperti orang katolik pada umumnya yang memakai nama Santo Pelindung
Maka sewajarnya tiap tahun memperingati hari bahagianya

Hari ini kita memperingati hari Santo Fransiskus Xaverius

Saya sungguh berbahagia memakai bama pelindung FX paling tidak sepanjang hidup saya selalu berdekatan dalam perlindungannya
Sebagai panutan dan sekaligus mengingatkan saya pada sesuatu perjuangan dalam hidup

Mari kita mengensl Santo Fransiskus Xaverius

Cinta yang bersinar
Pada suatu pagi musim semi, tanggal 7 April 1506, di istana keluarga bangsawan Xavier di Navarra, utara Spanyol, lahirlah seorang anak yang kelak mengguncang dunia dengan kabar keselamatan.

Namanya Francesco de Yassu Javier
yang oleh sejarah kemudian dikenang sebagai Santo Fransiskus Xaverius.

Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga terdidik dan terpandang. Masa mudanya gemerlap, penuh cita-cita duniawi dan ambisi akademis.

Namun di balik itu, hatinya perlahan digugah sebuah panggilan yang lebih besar dari sekadar kejayaan manusia.
Ketika bertemu Ignatius Loyola
pendiri Serikat Jesus (Yesuit)
hidup Fransiskus berubah arah. Kata-kata Ignatius mengguncang nuraninya

“Apa gunanya seseorang memiliki seluruh dunia, tetapi kehilangan jiwanya?”

Dengan tekad yang bulat, ia meninggalkan gelar, kenyamanan, bahkan masa depan bangsawannya. Ia menjadi imam Yesuit dan bersiap menjadi utusan bukan sekadar untuk satu negeri, tetapi untuk dunia.

Pada tanggal 7 April 1541, tepat di hari ulang tahunnya yang ke-35, Fransiskus Xaverius meninggalkan Eropa.
Bukan menuju kota besar terdekat, tetapi ke tempat yang kala itu dianggap ujung bumi. Beliau tidak tahu apakah ia akan kembali, tetapi ia tahu siapa yang mengutusnya

Kristus.
Gelombang India menghantam kapal-kapal Portugis yang membawanya, namun ia tetap berdiri di geladak, matanya menatap jauh, bibirnya berdoa. Setibanya di Goa, India, ia segera terjun ke tengah rakyat miskin, pelaut, budak, dan anak-anak yang terlantar.
Tanpa takut, beliau berkhotbah dari pelabuhan hingga pasar, dari kampung nelayan hingga istana bangsawan.

Dari India beliau bergerak lebih jauh lagi.
Nama Fransiskus Xaverius mulai bergema di daerah-daerah yang belum pernah mendengar kabar Injil

Jaffna (Sri Lanka), Malaka (Malaysia), Ambon dan Ternate (Indonesia). Ribuan orang mendengar tentang Kristus melalui suara lembutnya yang penuh keyakinan.

Namun misinya tak berhenti. Lautan kembali dipanggilnya, dan ia mendarat di negeri asing yang tertutup budaya dan tata krama ketat Jepang.
Beliau tiba pada tahun 1549 di Kagoshima, Kyushu.
Di sana beliau mempelajari bahasa setempat dengan kesabaran luar biasa, bahkan memakai kimono agar dihormati sebagai ahli filsafat.

Buah dari ketekunannya sungguh menakjubkan: dalam beberapa dekade, 80 daimyo (bupati) serta banyak bangsawan dibaptis. Bahkan Oda Nobunaga, salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Jepang, menjadi simpatisan besar Kekristenan.

Namun sejarah tidak selalu ramah.
Pada tahun 1587, penguasa baru, Toyotomi Hideyoshi, melarang agama Katolik dan mengusir para misionaris.

Gereja-gereja hancur, umat diburu, dan Jepang kembali tertutup.
Misi Fransiskus bagai nyala lilin di tengah badai
rapuh, tetapi tidak padam.
Mimpinya berikutnya adalah Tiongkok, negeri besar yang baginya merupakan medan terakhir. Namun ketika beliau sampai di pulau Sanchian, di depan muara Sungai Chukiang, beliau sakit parah
menjemputnya. Sendirian, dingin, dan jauh dari rekan seiman, ia berbisik lemah

“Ya Tuhan, aku serahkan jiwa dan misiku dalam tangan-Mu.”

Pada tanggal 3 Desember 1552, beliau menghembuskan napas terakhir.

Tetapi warisan rohaninya tidak mati.
Pada tahun 1622, Paus Gregorius XV menyatakannya sebagai orang kudus.

Paus Pius X kemudian menobatkannya sebagai Pelindung Misi Sedunia.
Hari ini 3 Desember kini dirayakan sebagai pestanya
sebuah seruan agar setiap orang beriman membawa terang Kristus ke mana saja kaki melangkah.

Fransiskus Xaverius bukan sekadar seorang misionaris. Ia adalah nyala keberanian, peziarah iman, dan saksi cinta Allah yang melintasi benua, budaya, dan waktu.

Sampai hari ini, kisahnya tetap hidup
menginspirasi semua orang untuk tidak takut bermimpi bagi Kerajaan Allah.

Tuhan berilah kami KasihMu supaya kami semakin drkat dan mengenalMu

Www.adharta.vom

Www.kris.or.id

Erawati

Pulang Dalam Pelukan Langit

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Hongkong
Akhir Nopember

Untuk Erawati

Beliau pergi jauh,
bukan karena ingin,
tetapi karena hidup memaksanya berani.

Di negeri asing, Hongkong
Beliau bukan siapa-siapa
hanya nama yang ditulis pada paspor,
hanya tangan yang bekerja dari pagi
hingga malam kembali gelap.

Namun di dadanya,
ada doa ibu
dan wajah anaknya
yang selalu beliau simpan
seperti matahari kecil
agar hatinya tetap hangat.

Lalu malam itu datang
malam yang tidak diundang,
malam yang membawa api,
asap,
dan detik-detik yang terasa abadi.

Semua orang berlari
mencari keselamatan,
namun ia berhenti,
menoleh,
dan kembali memeluk kehidupan
yang bukan darahnya sendiri.
Seorang bayi tiga bulan
Anak majikannya

Dengan napas yang mulai terbakar,
ia menutupi tubuh kecil itu
seperti bumi memeluk benih
agar tetap hidup
meski akar dirinya
harus putus selamanya.

Dan ketika api memakan waktu
dan waktu memakan tubuhnya,
hatinya masih tetap bekerja
melindungi,
mengasihi,
mengorbankan.

Erawati mungkin mati
sebagai pekerja rumah tangga.
Namun beliau kembali pulang
sebagai pahlawan.

Kini tanah air menyambutnya
bukan dengan tepuk tangan,
tetapi dengan air mata
dan doa yang pecah di langit.

Karena cinta,
kadang tak bersuara.
Ia hanya hadir
dalam tindakan diam
yang menyelamatkan hidup orang lain.

Selamat pulang, Erawati
perempuan kuat.
Namamu mungkin kecil di dunia,
tapi besar di hati manusia Indonesia
dan tercatat indah
di buku Tuhan.

Adharta

Www.kris.or.id

Www.adharta.com