VICO NIGHT H-4

menuju VICO Night 2025, sebuah malam penuh persahabatan, harapan, dan karya kasih.

Pada Rabu, 26 November 2025, kita berkumpul di Angke Heritage PIK2 untuk sebuah tujuan mulia: mendukung pembangunan Gereja Santo Vincentius a Paulo.

Oleh : Adharta Penasihat PPG Ketua Umum
KRIS

Kota Intan
Jumat
21 Nopember 2025

Sahabatku
Saya
Mengundang Anda semua untuk hadir dalam perjalanan iman yang indah ini.

Kisah Cintaku
Selama proses penggalangan dana yang hanya berlangsung 20 hari, saya ingin cerita bahwa saya mengalami hal yang luar biasa.

Bayangkan, hampir 30 sahabat baru hadir dalam hidup saya
bukan karena saya mencarinya, tetapi karena para sahabat memperkenalkan sahabat mereka yang lain.

Ada yang Katolik, ada pula yang non-Katolik, semua datang dengan satu niat
ingin membantu membangun Gereja.
Sanyo Vincentius a Paulo

Benarlah pepatah itu:

“A friend of my friend is my friend.”

Dan saya merasakannya setiap hari penuh suka cita dan penuh kebahagiaan

Suatu sore, saya menikmati makan malam nasi uduk
Kota Intan di Jalan Samanhudi tempat yang tidak pernah sepi.

Tiba-tiba telepon saya berdering tanpa henti.

Biasanya orang lebih sering menghubungi lewat WA, tapi malam itu berbeda.

Telepon datang dari Singapura, Australia, bahkan Eropa.

Saya tersenyum sendiri: betapa besar sukacita ketika nama saya diperkenalkan dari satu sahabat ke sahabat lainnya.

Namun ada juga kabar yang membuat hati terenyuh. Seorang sahabat di Eropa menelpon dengan suara bergetar, mengabarkan bahwa ia harus menjalani cuci darah karena gagal ginjal.
Ia mengalami ketakutan luar biasa dan bahkan panic disorder.

Kami berbicara cukup lama, dan saya mencoba menenangkannya.
Saya berkata,

“Kalau kita ingin berbahagia di Surga, ada satu syarat.”

Ia bertanya, “Apa itu?”
Saya jawab, “Kita harus bahagia dulu di dunia.”

Kami tertawa bersama karena ia tahu bahwa sebulan lalu saya pernah berkata, “Kalau mau bahagia, sering-seringlah memberi kolekte Terutama sumbanglah untuk membangun Rumah Tuhan.”

Sebelum menutup telepon, ia berkata,
“Adharta, jangan lupa bahagia, ya.”
Dan kata-kata itu menempel di hati saya.

Begitu pula dengan sekretaris saya, Rizka, yang mengingatkan bahwa memori handphone saya dan email sudah penuh.
Ia berkata, “Nanti Bapak tidak bahagia lho kalau semua foto dihapus.”
Saya tersenyum.

Memang benar tertawa adalah salah satu sumber kebahagiaan.

Malam ini, izinkan saya berbagi sebuah joke lelucon kecil bisa buat anda tertawa lebar

Ada seorang gadis cantik yang patah hati. Ia ingin menangis sepuasnya tapi malu.
Maka ia pilih pergi ke rumah duka dan menangis di depan sebuah peti mati sepuas puasnya bahkan mau menghabiskan air matanya

Tiba tiba Dua ibu datang menghampirinya dan berkata,
“Adik ketiga, jangan sedih.

Bagianmu juga sudah sudah kami siapkan dan kami memang menantikan kedatangan mu memang bapak sudah bilang ada yang ketiga jadi jangan khawatir bagian mu telah disiapkan: sepuluh miliar rupiah dan rumah di Pondok Indah.”

Si gadis berhenti menangis… dan langsung pingsan.

Memang benar: Jika kita tertawa, dunia ikut tertawa

Tetapi jika kita menangis, dunia bisa saja menertawakan kita.

H-4
menuju VICO Night.
Undangan masih 50%.
Mari kita viralkan.
Mari kita ajak teman teman untuk beli undangan sebanyak mungkin.

Mari kita buat panitia, Romo, para sahabat, dan bahkan Bapa Uskup ikut tertawa bahagia.

Viva Paroki Vincentius a Paulo

Bravo Panitia ViCO Night

Smile with me

Adharta

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

VICO Night H-5

26 November 2025
Angke Heritage PIK 2

Pentingnya Membangun Gereja dan Gereja Membangun

Oleh: Adharta Penasihat PPG, Ketua Umum KRIS

Saudara-saudari
Sahabatku
yang terkasih,
Izinkan saya mengajak Anda berkhayal sejenak.

Bayangkan kita terbang ke sebuah planet yang jauh dari Bumi.
Di sana hidup makhluk yang mirip manusia mereka punya tubuh, ekspresi, perasaan, dan jumlah mereka banyak.
Kita tinggal beberapa waktu bersama mereka lalu kembali ke Bumi membawa sebuah pelajaran penting..

Selama hidup bersama mereka, kita melihat tiga hal mendasar.

Pertama, mereka memiliki budaya.
Karena di mana ada komunitas, di situ ada kebudayaan
bahasa, gerak, cara hidup, nilai, dan simbol yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Kedua, mereka berkembang biak. Kehidupan tidak berhenti
ada kelahiran, pertumbuhan, dan masa depan yang perlu dijaga.

Ketiga, mereka berkomunikasi dan membangun rumah tangga. Mereka hidup berdampingan, saling terhubung, dan membutuhkan relasi yang sehat agar komunitas mereka tidak hancur.

Dari tiga hal itu, saya melihat satu benang merah yang sama dengan kehidupan kita di Bumi: keberlangsungan hidup hanya mungkin terjadi bila ada kepercayaan, empati, dan kebersamaan.
Inilah yang saya sebut sebagai TEA
T – Trust (Kepercayaan)

E – Empathy (Empati)

A – Associate (Kebersamaan/Persekutuan)

Tanpa kepercayaan, komunitas itu akan punah.
Tanpa empati, mereka akan saling melukai.
Tanpa kebersamaan, tidak mungkin ada kedamaian.

Dan nilai-nilai ini juga yang menjadi dasar mengapa membangun gereja sangat penting, serta mengapa gereja juga membangun kita.

Gereja bukan hanya bangunan fisik.
Gereja adalah pusat budaya iman kita, tempat generasi dilahirkan secara rohani, dan ruang di mana setiap keluarga bertumbuh dalam cinta Tuhan. Gereja adalah rumah perjumpaan
ruang yang memulihkan, menguatkan, dan mengarahkan hidup.

Hari ini, Gereja Santo Vincentius a Paulo sedang berjuang mewujudkan rumah Tuhan yang layak, indah, dan kuat bagi umat. Namun perjuangan ini tidak mudah.

Target 400 tamu untuk VICO Night belum tercapai, dan waktu semakin singkat. Penggalangan dana yang dilakukan panitia pun masih jauh dari cukup.

Di sinilah kita diajak untuk menjadi bagian dari sebuah karya kasih.

Kita tidak hanya membangun tembok, tetapi membangun masa depan iman.

Kita tidak hanya menyumbang uang, tetapi menanam harapan bagi generasi.

Vincentius a Paulo Compassion Night
Atau VICO Night
pada 26 November 2025
Angke Heritage
Nanti bukan sekadar gala dinner.
Ini adalah panggilan untuk membuka hati, memperluas cinta, dan menguatkan komunitas umat Allah.
Ini adalah kesempatan untuk mengatakan,
“Saya hadir. Saya peduli. Saya ingin menjadi bagian dari karya Tuhan.”

Mari para donatur, sahabat gereja, dan pecinta karya pelayanan.
Mari kita wujudkan gereja ini rumah yang akan membentuk budaya iman, menumbuhkan generasi, dan menyatukan keluarga-keluarga dalam kasih Kristus.

Bersama, kita membangun gereja.
Dan bersama, kita dihidupkan oleh gereja.

Terima kasih
Sahabatku
Aku menanti

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Pembangunan Gereja Santo Vincentius a Paulo – Gunung Putri, Bogor H-6

Oleh : Adharta
Penasihat PPG
Ketua Umum
KRIS

Sebuah sore
Saya duduk menikmati makanan ringan
Bersama Istri saya Magdalena
Ada Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM fi dampingi Vikjen Pastor Yohanes Parto OFM

Senang bisa berdiskusi beberapa hal tentang pembangunan Gereja juga Umat dan kegiatan Keuskupan lainnya

Pada kesempatan tersebut Bapak Uskup menyampaikan perlu adanya keterlibatan Umat secara langsung dalam setiap kegiatan Pembangunan dan mengerti permasalahan yang dihadapi setiap gereja

Sore ini sayaenghadiri rapat Panitita Penggalangan dana
Pembangunan Gereja Santo Vincentius a Paulo di Gunung Putri Bogor

Saya sampaikan bahwa pembangunan sebuah gereja
adalah sebuah perjalanan panjang yang lahir dari doa, pengharapan, dan cinta umat. Di tanah yang dipenuhi harapan itu, para keluarga, anak-anak, orang muda, dan para lansia menanti hadirnya sebuah rumah doa yang layak—rumah di mana mereka dapat merayakan Ekaristi, menemukan penghiburan, dan membangun kehidupan rohani yang lebih kokoh.
Namun perjalanan ini tidak mudah. Hingga saat ini, pembangunan baru mencapai sekitar 30%, dan progres nyaris terhenti karena keterbatasan dana.

Setiap bata yang tersusun adalah hasil keringat para panitia, uluran kasih para donatur, dan iman umat yang berharap agar Gereja ini dapat segera berdiri.

Tetapi tanpa dukungan baru, langkah pembangunan terancam berhenti.
Di tengah perjuangan itu, kami juga melihat banyak kisah yang menggugah hati.

Ada seorang ibu lansia yang setiap hari mendoakan agar gereja mereka segera selesai—karena ia ingin sebelum menutup usia, ia masih bisa berlutut dalam keheningan, memuji Tuhan di rumah-Nya sendiri.

Ada pasangan muda yang berkata, “Kami ingin anak kami bertumbuh dalam lingkungan gereja yang kuat.”

Ada pula para OMK yang dengan sukarela membantu kerja panitia, percaya bahwa mereka sedang membangun warisan iman bagi generasi berikutnya.
Kisah-kisah kecil ini mengingatkan kita bahwa Gereja bukan sekadar bangunan, tetapi wadah kasih Tuhan bagi umat-Nya.

Dan kasih itulah yang memanggil kita untuk berbagi.
Karena itu, kami mengajak seluruh umat, sahabat, dan para dermawan untuk ambil bagian dalam perjuangan mulia ini.

Uluran tangan Anda akan menjadi cahaya bagi ribuan hati yang merindukan hadirnya Gereja Santo Vincentius a Paulo.

Seetiap kontribusi, sekecil apa pun, akan menjadi bagian dari sejarah iman yang tak ternilai.

Waktu semakin terbatas, tetapi harapan itu masih tetap membara. Melalui kerja sama dan kemurahan hati kita semua, pembangunan ini dapat kembali berjalan dan diselesaikan demi pelayanan umat.
Sebagai wujud syukur dan persatuan hati, kami mengundang Anda untuk hadir dalam acara penggalangan dana

VICO NIGHT
(Vincentius a Paulo Compassion Night)

26 November 2025
Angke Heritage PIK 2
Waktu : …….Selesai

Acara ini bukan hanya momen untuk membantu, tetapi juga kesempatan untuk merayakan kasih, mendengar kisah inspiratif, dan bersatu dalam misi membangun rumah Tuhan yang kita cintai.

Semoga Tuhan lmenyentuh hati kita untuk berbagi.
Kiranya Tuhan memberikan berkat-Nya, membimbing dan melindungi seluruh panitia, serta melimpahkan rahmat-Nya kepada para donatur dan semua yang berperan dalam usaha mulia ini.

Tuhan memberkati anda semua

Adharta

http://www.kris.or.id
http://www.adharta.com

Rekening
BCA
167 208 7672
An
PGPM
Vincentius a Paulo

VICO NIGHT

VINCENTIUS A PAULO COMPASSION NIGHT H-7

Oleh : Adharta
Penasihat PPG
Ketua umum
KRIS

Menuju sebuah malam yang tidak hanya berisi jamuan, tawa, dan perjumpaan hangat, tetapi sebuah malam yang memanggil setiap hati untuk kembali pada makna belas kasih.
Pada tanggal 26 November 2025, di Angke Heritage PIK2, kita akan berkumpul dalam sebuah perayaan iman dan kemurahan hati

Vico Night, singkatan dari Vincentius a Paulo Compassion Night.
Nama yang sederhana, namun mengandung pesan yang dalam: bahwa setiap langkah kita, setiap niat kita, setiap donasi yang kita berikan, adalah wujud nyata dari kasih yang dihidupkan kembali.

Anggur selalu menjadi lambang sukacita, kebahagiaan, dan kelimpahan. Namun bagaimana bila anggur itu habis?

Inilah pertanyaan yang pernah menghentak sebuah pesta perkawinan di sebuah desa kecil bernama Kana.
Ketika tuan rumah kehabisan anggur, suasana berubah menjadi cemas dan penuh kekhawatiran.
Namun di situlah kehadiran Yesus menghadirkan keajaiban pertamanya
mungkin tampak sederhana, tetapi sarat makna mendalam.
Enam tempayan air yang biasa digunakan untuk pembasuhan, diisi penuh hingga melimpah. Air itu, oleh kuasa-Nya, berubah menjadi anggur terbaik. Anggur yang bukan hanya memulihkan kebahagiaan pesta, tetapi mengajarkan kepada kita bahwa Tuhan selalu menyediakan kelimpahan ketika manusia menghadapi kekurangan.
Dari kekosongan menjadi kelimpahan.
Dari kekhawatiran menjadi sukacita.
Dari kecemasan menjadi harapan.
Begitu pula dengan misi besar yang sedang kita perjuangkan bersama

Pembangunan Gereja Santo Vincentius a Paulo Gunung Putri. Sebuah rumah doa bukan hanya tempat umat berkumpul, tetapi tempat jiwa-jiwa yang letih kembali menemukan kekuatan. Sebuah ruang di mana anak-anak dapat bertumbuh dalam iman, keluarga-keluarga menemukan penghiburan, dan masyarakat sekitar merasakan hadirnya kasih Tuhan.
Namun, pembangunan gereja ini
seperti tempayan-tempayan di Kana
masih memerlukan sesuatu untuk diisi.
Masih ada ruang-ruang kosong yang menunggu disentuh oleh kemurahan hati kita.

Dan Vico Night hadir sebagai momen bagi kita untuk bersama-sama melakukan tindakan kecil, yang dampaknya akan berlipat ganda dalam karya besar Tuhan.

Seperti air yang diubah menjadi anggur, setiap dukungan Anda
apapun bentuknya, berapa pun besarannya
akan berubah menjadi berkat
menjadi tembok yang berdiri kokoh, menjadi atap yang menaungi umat, menjadi altar tempat doa-doa dinaikkan, dan menjadi cahaya yang menghangatkan banyak hati.
Maka pada malam Vico Night nanti, kami mengundang Anda untuk menjadi bagian dari mujizat itu.
Mari kita tidak menunggu sampai “anggur itu habis”, tetapi justru menjadi orang-orang yang mengisi tempayan kasih lebih dahulu.

Mari kita memberi bukan karena kita berkelebihan, melainkan karena kita memahami arti berbagi.

Para donatur yang terkasih, tangan Anda adalah perpanjangan dari kemurahan hati Allah sendiri.

Setiap kontribusi adalah setetes air yang akan diubah menjadi anggur sukacita bagi ribuan umat.

Mari kita jadikan Vico Night bukan sekadar malam dana, tetapi malam belas kasih.
Malam ketika kita bersama-sama menjawab panggilan Santo Vincentius a Paulo:
“Cinta itu kreatif hingga tak terhingga.”

Terima kasih.
Sampai jumpa di Vico Night, malam di mana kasih menjadi nyata.

Adharta

Www.kris.or.id
Www.adharta.com

VICO NIGHT

VINCENTIUS A PAULO COMPASSION NIGHT – H-8

Oleh : Adharta
Penasihat PPG
Ketua umum
KRIS

Menuju sebuah malam yang tidak hanya berisi jamuan, tawa, dan perjumpaan hangat, tetapi sebuah malam yang memanggil setiap hati untuk kembali pada makna belas kasih.
Pada tanggal 26 November 2025, di Angke Heritage PIK2, kita akan berkumpul dalam sebuah perayaan iman dan kemurahan hati

Vico Night, singkatan dari Vincentius a Paulo Compassion Night.
Nama yang sederhana, namun mengandung pesan yang dalam: bahwa setiap langkah kita, setiap niat kita, setiap donasi yang kita berikan, adalah wujud nyata dari kasih yang dihidupkan kembali.

Anggur selalu menjadi lambang sukacita, kebahagiaan, dan kelimpahan. Namun bagaimana bila anggur itu habis?

Inilah pertanyaan yang pernah menghentak sebuah pesta perkawinan di sebuah desa kecil bernama Kana.
Ketika tuan rumah kehabisan anggur, suasana berubah menjadi cemas dan penuh kekhawatiran.
Namun di situlah kehadiran Yesus menghadirkan keajaiban pertamanya
mungkin tampak sederhana, tetapi sarat makna mendalam.
Enam tempayan air yang biasa digunakan untuk pembasuhan, diisi penuh hingga melimpah. Air itu, oleh kuasa-Nya, berubah menjadi anggur terbaik. Anggur yang bukan hanya memulihkan kebahagiaan pesta, tetapi mengajarkan kepada kita bahwa Tuhan selalu menyediakan kelimpahan ketika manusia menghadapi kekurangan.
Dari kekosongan menjadi kelimpahan.
Dari kekhawatiran menjadi sukacita.
Dari kecemasan menjadi harapan.
Begitu pula dengan misi besar yang sedang kita perjuangkan bersama

Pembangunan Gereja Santo Vincentius a Paulo Gunung Putri. Sebuah rumah doa bukan hanya tempat umat berkumpul, tetapi tempat jiwa-jiwa yang letih kembali menemukan kekuatan. Sebuah ruang di mana anak-anak dapat bertumbuh dalam iman, keluarga-keluarga menemukan penghiburan, dan masyarakat sekitar merasakan hadirnya kasih Tuhan.
Namun, pembangunan gereja ini
seperti tempayan-tempayan di Kana
masih memerlukan sesuatu untuk diisi.
Masih ada ruang-ruang kosong yang menunggu disentuh oleh kemurahan hati kita.

Dan Vico Night hadir sebagai momen bagi kita untuk bersama-sama melakukan tindakan kecil, yang dampaknya akan berlipat ganda dalam karya besar Tuhan.

Seperti air yang diubah menjadi anggur, setiap dukungan Anda
apapun bentuknya, berapa pun besarannya
akan berubah menjadi berkat
menjadi tembok yang berdiri kokoh, menjadi atap yang menaungi umat, menjadi altar tempat doa-doa dinaikkan, dan menjadi cahaya yang menghangatkan banyak hati.
Maka pada malam Vico Night nanti, kami mengundang Anda untuk menjadi bagian dari mujizat itu.
Mari kita tidak menunggu sampai “anggur itu habis”, tetapi justru menjadi orang-orang yang mengisi tempayan kasih lebih dahulu.

Mari kita memberi bukan karena kita berkelebihan, melainkan karena kita memahami arti berbagi.

Para donatur yang terkasih, tangan Anda adalah perpanjangan dari kemurahan hati Allah sendiri.

Setiap kontribusi adalah setetes air yang akan diubah menjadi anggur sukacita bagi ribuan umat.

Mari kita jadikan Vico Night bukan sekadar malam dana, tetapi malam belas kasih.
Malam ketika kita bersama-sama menjawab panggilan Santo Vincentius a Paulo:
“Cinta itu kreatif hingga tak terhingga.”

Terima kasih.
Sampai jumpa di Vico Night, malam di mana kasih menjadi nyata.

Adharta

Www.kris.or.id
Www.adharta.com

Kami butuh ANDA H-8

Menuju Charity Diner
Penggalangan Dana
Angke Heritage PIK 2
26 Nopember 2025

Oleh : Adharta
Penasihat PPG
Ketua Umum
KRIS

Jakarta
18 Nopember 2025

“Ibadah yang paling murni dan tidak bercacat di hadapan Allah ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka.”

Ayat sederhana ini bukan sekadar pengingat, tetapi sebuah panggilan.

Panggilan agar kita bergerak, melangkah, dan mengulurkan tangan bagi mereka yang sedang berjuang dalam kesunyian.

Siang tadi, saya menikmati makan siang di Prince House Kelapa Gading, ditemani Sekretaris Panitia Debby, Ketua Umum Panitia Penggalangan Dana Pembangunan Gereja Santo Vincentius a Paulo
Bapak Fandy, serta Ketua Tim Undangan Bapak Lendy.
Ditemani pula keluarga pemilik restoran, sahabat saya Bapak Annin Hudaya bersama Ibu Linda dan putrinya Jesica.

Makanan yang disajikan sungguh lezat, dan saya sangat merekomendasikan tempat itu kepada siapa pun untuk di kunjungi.
Namun makan siang itu bukan sekadar perjamuan.
Ada beban yang kami bawa, ada pergumulan yang kami diskusikan, ada harapan yang kami titipkan kepada Tuhan.
Kami sedang mencari jalan keluar, karena penggalangan dana pembangunan Gereja Katolik Santo Vincentius a Paulo masih sangat tersendat.
Target 400 tamu di acara Charity Dinner di Angke Heritage PIK 2 terasa semakin berat ketika kami menyadari bahwa hingga hari ini baru 7 meja terjual
hanya sekitar 70 orang padahal waktu tinggal 8 hari lagi.

Sumbangan yang masuk dari dari proposal pun masih sangat minim.

Momen hening pun tercipta di sela diskusi. Kami sadar, perjuangan ini belum selesai. Masih panjang. Tapi sama panjangnya dengan iman kami bahwa Tuhan mampu menggerakkan hati manusia. Mujizat terjadi bukan karena kita pantas, tetapi karena kasih Allah yang memampukan.

Tentang Gereja, Janda-Janda, dan Kasih yang Tak Pernah Usai
Dalam diskusi hari ini, muncul pembahasan menarik tentang hubungan khusus antara gereja dan para janda.
Gereja pertama dalam sejarah Kristen tumbuh kuat karena perhatian mereka kepada janda-janda
mereka yang kehilangan pendamping hidup, kehilangan tulang punggung ekonomi, namun tidak kehilangan kasih Allah.

Kita butuh
Gereja hadir bagi mereka, karena gereja adalah rumah bagi yang paling rapuh dan paling terluka.

Ketika kita membangun gereja, yang kita bangun bukan hanya gedung fisik.

Kita membangun rumah bagi para janda, bagi yatim piatu, bagi mereka yang datang dengan air mata, bagi mereka yang berlutut tanpa kata, bagi mereka yang membutuhkan pelukan rohani.

Maka pembangunan gereja ini, sesungguhnya bukan proyek biasa.
Ini adalah pelayanan.
Ini adalah ibadah.

Ini adalah kasih yang diwujudkan dalam bangunan yang kelak menaungi banyak jiwa.

Pada kesempatan bahagia ini saya menyampaikan bahwa ada beberapa
Doa-Doa yang Didengar Langsung oleh Allah

Saya juga menyampaikan satu pengingat penting dalam pertemuan kami tadi bahwa ada lima jenis doa yang langsung diterima Allah Bapa tanpa perantara.

Doa orang miskin dan susah.
Ketika mereka berseru, Tuhan mendengarnya sebelum kata itu selesai diucapkan.
Doa orang yang kehilangan kebebasan, seperti narapidana di penjara.
Tembok penjara tak mampu membatasi suara hati yang tulus.

Doa orang tertindas dan menderita.
Tuhan adalah pembela bagi mereka yang tak dapat membela diri.

Doa orang yang kelaparan.
Itulah sebabnya puasa membuat doa kita semakin murni, karena kelaparan membawa hati kita mendekati kerinduan terdalam pada Allah.

Doa orang-orang yang hidup dekat dengan Tuhan para suster, bruder, pastor, pendeta, ustadz, kiai, biksu, para pertapa.
Hidup mereka adalah persembahan, sehingga doa mereka menjadi harum di hadapan Allah.

Kelima doa ini adalah gambaran betapa pedulinya Tuhan kepada mereka yang lemah dan sederhana.
Dan gereja adalah tempat di mana doa-doa seperti ini dipanjatkan setiap hari
tempat yang sedang kita bangun bersama.

Kisah-Kisah yang Menggetarkan Hati
Beberapa waktu lalu, seorang ibu janda datang ke salah satu panitia.
Ia tidak membawa amplop besar, tidak membawa nama perusahaan, bukan pengusaha besar.
Ia hanya berkata pelan
“Saya tidak punya banyak. Tapi gereja ini tempat saya sembuh.
Tempat saya bertahan hidup. Tolong terimalah sedikit ini.”
Ia memberi dari kekurangannya. Dari hidup yang sudah berat tetapi tetap ingin menjadi berkat.

Ada pula seorang pemuda yang bekerja serabutan. Gajinya pas-pasan, bahkan sering kurang.
Namun ketika ia mendengar bahwa gereja yang selama ini memberinya kekuatan sedang dibangun, ia berkata:
“Saya ingin gereja ini berdiri. Kalau bukan kita, siapa lagi?”
Ia menyumbang sederhana
tetapi dari hati yang penuh cinta.
Kisah-kisah kecil seperti ini membuat kami yakin
Jika mereka yang hidupnya berat saja mau memberi, bagaimana mungkin kita yang diberkati lebih tidak tergerak?

Seruan untuk Para Donatur dan Sahabat Gereja
Hari ini, kami datang kepada Anda bukan sekadar meminta sumbangan.

Kami datang sebagai saudara seiman.
Kami datang membawa harapan ribuan jiwa yang kelak akan berdoa, memuji, menangis, menikah, dibaptis, dan mengucap syukur di gereja itu.

Kami datang untuk mengajak Anda menjadi bagian dari sejarah suci ini.

Setiap meja yang Anda beli, setiap rupiah yang Anda sumbangkan, setiap doa yang Anda panjatkan, semuanya akan menjadi fondasi rohani bagi generasi yang akan datang.
Bantulah kami membangun rumah Tuhan.

Bantulah kami menolong para janda, yatim piatu, dan mereka yang membutuhkan.
Bersama-sama, mari kita membuka jalan bagi mujizat terjadi.

Semoga hati Anda disentuh, dan tangan Anda menjadi saluran berkat bagi banyak jiwa.

Tuhan memberkati setiap kemurahan hati Anda.

Adharta

Www.kris.or.id
Www.adharta.com

Dalam Duka Cita Ada Harapan Dan Gereja menjadi jembatannya H-9

Charity Dinner
Angke Heritage – PIK 2
Pembangunan Gereja Katolik Santo Vincentius a Paulo

Oleh : Adharta
Penasihat PPG
Ketua Umum KRIS

Jakarta, Minggu 16 November 2025

Hari ini adalah hari yang sarat rasa perpaduan antara sukacita harapan menjelang sebuah karya besar dan sekaligus duka cita yang dalam menekan dada.

Sejak pagi, kabar meninggalnya Ibu Uga Wiranto, mantan Ketua PMI DKI, datang seperti petir di siang bolong. Beliau adalah sosok yang pernah berjasa, penuh dedikasi, dan menjadi bagian dari perjalanan pelayanan kemanusiaan di Jakarta.

Belum selesai hati ini mengolah rasa kehilangan itu, menyusul kabar lainnya: Ibu Felicia Halim, sahabat sekaligus figur yang sudah seperti ibu saya sendiri, berpulang menghadap Tuhan.

Dalam suasana itu, istri saya, Ibu Lena, mengirimkan sebuah video kenangan. Di video itu masih terlihat Bapak Nobi, Ibu Feliciana Halim, dan Ibu Lena sendiri, tersenyum sambil bernyanyi bersama lagu “Sail Over Seven Seas.”

Lagu yang biasa membawa nostalgia, hari ini justru memecah pertahanan hati saya.
Ketika suara itu terdengar, rasa kehilangan seperti membentuk ruang sunyi di dalam dada
sunyi yang hanya bisa dijawab dengan doa.

Namun kehidupan tidak berhenti. Tanggung jawab pelayanan tetap berjalan.
Hari ini, dari pagi hingga siang, sampai Malam
saya bersama Ketua Panitia Malam Dana Bapak Fandy, didampingi Bapak Dwi Helly selaku Ketua Acara serta Bapak Lendy Yustena sebagai Ketua Persiapan Undangan dan Komunikasi, berkumpul di rumah saya jalan Hemat 1 no 17 Jelambar Jakarta Barat
Kami membahas persiapan Charity Dinner minggu depan nnati
Kami menyusun undangan, memastikan daftar tamu dan donatur, mengatur alur acara, serta mematangkan detail teknis agar malam penggalangan dana Rabu tanggal 26 November 2025 di Angke Heritage PIK 2 berjalan lancar dan penuh makna.

Di tengah rapat, pikiran saya terus terbagi dua.
Di satu sisi, saya harus memastikan acara berjalan sempurna demi pembangunan Gereja Katolik Santo Vincentius a Paulo
sebuah tonggak penting bagi kehidupan iman umat.
Di sisi lain, hati saya terus dirundung duka karena kehilangan sahabat-sahabat yang begitu berarti.

Dalam keheningan batin itu, beberapa rekan lama, khususnya dari PMI DKI, kembali menghubungi saya.
Kehilangan seseorang sering kali membuka kembali tali persaudaraan yang lama terlipat.
Saya pun menyempatkan diri menghubungi Ketua PMI DKI yang baru, Bapak Mardani, sosok yang menggantikan sahabat lama saya, Bapak Rustam Effendy, mantan Walikota Jakarta Utara dan Jakarta Barat. Perbincangan singkat kami sarat penghormatan terhadap mereka yang telah mendahului kita, sekaligus menjadi pengingat bahwa hidup ini begitu rapuh dan setiap momen pelayanan adalah anugerah.

Waktu berjalan semakin cepat. Tak terasa kini H-9 menuju Charity Dinner. Persiapan teknis semakin rapat, sementara harapan umat terhadap pembangunan gereja semakin besar.
Dalam situasi seperti inilah saya kembali merasakan betapa kuat hubungan antara Gereja, umat, dan duka cita.

Gereja bukan hanya bangunan fisik yang berdiri megah, tetapi rumah Roh Kudus yang terbentuk dari hati umat yang berkumpul, berdoa, berbagi kasih, dan saling menopang dalam suka maupun duka.

Duka cita mengingatkan kita bahwa manusia bukan penguasa waktu; bahwa hidup dapat berubah sewaktu-waktu
dan bahwa hanya dalam Tuhan kita menemukan kekuatan untuk melanjutkan langkah.
Justru pada masa-masa kehilangan seperti ini, makna Gereja menjadi nyata. Gereja adalah tempat kita kembali, tempat kita menangis, tempat kita merasakan pelukan rohani Tuhan melalui umat-Nya.

Dari duka cita lahir empati dari empati lahir pelayanan; dari pelayanan lahir karya besar yang memperkuat persekutuan.

Karena itu, sebagai Penasihat PPG dan sebagai sesama umat, saya ingin mengajak seluruh umat Paroki Santo Vincentius a Paulo, di mana pun berada, untuk bersama-sama menundukkan hati, berlutut, dan memejamkan mata sejenak.

Marilah kita melantunkan doa bersama agar proses pembangunan Gereja, serta program penggalangan dana pada Charity Dinner nanti, diberi kelancaran, diberkati, dan dijauhkan dari segala hambatan.
Kita doakan pula jiwa Ibu Uga Wiranto dan Ibu Felicia Halim, agar Tuhan menerima mereka dalam damai abadi.

Dalam setiap air mata, ada harapan.
Dalam setiap kehilangan, ada panggilan untuk semakin dekat kepada Tuhan.

Dan dalam setiap pelayanan, ada kesempatan untuk menghadirkan kasih Allah di tengah dunia.

Semoga Tuhan memberkati langkah kita bersama.

Salam dalam Doa

Adharta

Www.kris.or.id
Www.adharta.com

Pembangunan Gereja dan Semangat Iman Umat H-10

Menuju Charity Night
Angke Heritage
PIK2

Bumi perkemahan Ragunan
15 Nopember 2025

Sahabatku yang terkasih
Dimanapun Anda berada

Saya ingin mengajak anda dan keluarga mengenal lebih dekat sebuah gereja baru

Pembangunan Gereja Paroki Santo Vincentius a Paulo di Gunung Putri, Bogor,
Gereja ini
bukan sekadar proyek fisik, tetapi sebuah langkah iman yang menghidupkan kembali harapan umat akan hadirnya rumah Tuhan yang kokoh, layak, dan mampu menampung pertumbuhan komunitas Katolik.

Gereja selalu berdiri bukan hanya dari batu dan semen, tetapi dari deru doa, pelayanan, dan gotong royong umat beriman.

Dalam tradisi Gereja Katolik, pembangunan gereja baru dipahami sebagai bagian dari misi perutusan menghadirkan wajah Kristus di tengah masyarakat setempat.

Gereja menjadi tempat umat berkumpul, menyembah, menerima sakramen, mendengarkan sabda Tuhan, dan meneguhkan persaudaraan.

Dalam konteks Gereja Gunung Putri betada di daerah yang berkembang cepat
kehadiran Gereja Santo Vincentius a Paulo menjadi tanda harapan baru.

Selain sebagai tempat beribadah, gereja ini menjadi pusat pelayanan sosial, pendidikan iman, dan pembinaan rohani sesuai semangat Santo Vincentius yang dikenal penuh belas kasih kepada kaum kecil dan miskin.
Dengan demikian, pembangunan gereja tidak bisa dilepaskan dari dinamika rohani umat yang merindukan ruang kudus untuk berziarah batin, memperbaharui diri, dan semakin dekat dengan Tuhan.

Di sinilah relasinya kemudian menyentuh tema ziarah dan Porta Santa.
Ziarah Pengharapan dan Makna Spiritualitasnya
Ziarah dalam Gereja Katolik adalah perjalanan rohani menuju tempat yang dianggap suci, dilakukan untuk memohon rahmat, pengampunan, atau pembaharuan hidup.

Ziarah bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi perjalanan hati
sebuah tindakan pengharapan dan pertobatan.

Ketika umat mengunjungi pusat-pusat devosi, mengikuti prosesi, atau memasuki tempat khusus seperti Porta Santa, mereka sebenarnya sedang menegaskan kembali relasi mereka dengan Allah. Maka, pembangunan gedung gereja baru sering memicu semangat umat untuk memperdalam hidup devosi, melakukan peziarahan lokal, dan merayakan iman dengan lebih penuh makna.

Gereja baru biasanya menjadi tujuan ziarah umat dari lingkungan sekitar, karena umat ingin merasakan berkat, sukacita, dan harapan yang hadir melalui tempat kudus yang baru diberkati. Dengan demikian, ziarah dan pembangunan gereja terhubung melalui satu semangat pertumbuhan iman dan peneguhan harapan.

Sahabatku
Mungkin Anda ingin mengenal lebih dalam
Apa itu Porta Santa?

Porta Santa atau Pintu Suci adalah salah satu tradisi paling simbolik dalam Gereja Katolik.
Porta Santa adalah pintu khusus yang dibuka pada Tahun Yubileum (Jubilee), yaitu tahun istimewa yang ditetapkan Paus sebagai masa penuh rahmat, pengampunan, dan pembaruan hidup rohani.

Pintu ini biasanya terdapat di Basilika-Basilika Utama di Roma, seperti Basilika Santo Petrus, Santo Yohanes Lateran, Santa Maria Mayor, dan Santo Paulus di Luar Tembok.

Namun pada Yubileum Luar Biasa, Paus dapat memberikan izin agar setiap keuskupan memiliki Porta Santa di salah satu gereja utamanya.
Masuk melalui Porta Santa merupakan tanda simbolik bahwa seseorang meninggalkan dosa, membuka hati bagi rahmat Tuhan, dan memulai hidup baru dalam Kristus.

Sejarah dan Awal Mula Porta Santa

Tradisi Porta Santa dimulai pada akhir abad ke-15.
Pada tahun 1475, Paus Alexander VI secara resmi menetapkan pembukaan Pintu Suci sebagai bagian dari perayaan Tahun Yubileum.
Namun akar tradisinya lebih tua, merujuk pada gagasan biblis tentang pintu keselamatan

“Akulah pintu barang siapa masuk melalui Aku, ia akan selamat” (Yoh 10:9).

Porta Santa kemudian menjadi simbol kuat bahwa Gereja mengundang umat untuk memasuki pintu rahmat Allah. Setiap 25 tahun sekali
atau pada Yubileum luar biasa
Paus membuka Porta Santa di Roma, diikuti oleh berbagai keuskupan di seluruh dunia.

Prosesi Pembukaan Porta Santa

Prosesi pembukaan Porta Santa dilakukan dengan upacara liturgis yang sangat khidmat
Paus atau Uskup mengetuk pintu tiga kali dengan palu khusus sebagai simbol permohonan rahmat Tuhan.

Pintu lalu dibuka, menandakan bahwa masa anugerah telah tiba.

Para imam dan umat memasuki gereja sambil melantunkan doa dan mazmur.

Pintu tersebut tetap terbuka sepanjang Tahun Yubileum, kemudian ditutup kembali pada akhir masa perayaan.
Prosesi ini menjadi tanda visual dan spiritual bahwa Gereja mengundang semua orang untuk kembali kepada Tuhan.

Manfaat Spiritualitas Porta Santa
Memasuki Porta Santa bukan sekadar ritual, tetapi memiliki dimensi rohani mendalam
Pertobatan dan pembaruan hidup
Umat diajak meninggalkan dosa dan kembali ke jalan Tuhan.

Pengharapan baru
Pintu Suci adalah simbol bahwa kasih Tuhan selalu terbuka.
Indulgensi penuh
Gereja memberikan indulgensi penuh bagi mereka yang memenuhi syarat: mengaku dosa, komuni kudus, mendoakan intensi Paus, dan menjauhi dosa berat.

Penguatan iman
Pengalaman ziarah dan prosesi membuat umat merasakan kehadiran Tuhan lebih nyata.

Doaku buat semua sahabat

Saya mengajak anda menemani sebuah
Relasi dengan Pembangunan Gereja
Dengan dipahaminya makna Porta Santa dan ziarah, umat dapat melihat bahwa pembangunan Gereja Santo Vincentius a Paulo bukan hanya proyek fisik, melainkan momentum rohani: membuka pintu-pintu harapan dan iman baru bagi seluruh umat Gunung Putri dan sekitarnya.

Semoga gereja ini menjadi “porta gratiae”
pintu rahmat
yang menghadirkan damai dan kasih Kristus bagi banyak orang.

Mari kita memberikan bantuan baik berupa perhatian
Ungkapan kasih
Meringankan beban pembangunwn gereja
Santo Vincentius a Paulo
Gunung Putri
Bogor

Damai bersamamu

Adharta

Www.kris.or.id
Www.adharta.com

Kisah Pembangunan Gereja Santo Vincentius a Paulo -H-11

Menuju malam dana
Angke Heritage
26 Nopember 2025

Ileh : Adharta
Ketua umum
KRIS

Subuhnya
Gunung Putri
Wanginya bunga mawar

Sahabat baiku

Di sebuah sudut Gunung Putri yang tenang, berdirilah sebuah bangunan sederhana yang selama bertahun-tahun menjadi tempat umat Paroki Santo Vincentius a Paulo berkumpul.

Atapnya bocor, dindingnya mulai retak, dan kursi-kursi kayunya telah renta dimakan waktu.
Namun setiap Minggu, umat tetap datang dengan senyum
karena mereka percaya bahwa Tuhan hadir bukan dalam kemegahan bangunan, tetapi dalam ketulusan hati yang berkumpul di bawahnya.

Namun seiring berjalannya waktu, jumlah umat bertambah. Ruangan yang dulu cukup kini terasa sesak. Banyak umat harus mengikuti misa dari luar ruangan, bersandar di tembok, atau berdiri di bawah terik matahari. Setiap kali hujan turun, panitia paroki sibuk memindahkan umat agar tak kebasahan.
Di saat-saat itulah, keinginan untuk memiliki gereja baru yang lebih layak semakin menguat.

Kisah Cinta
Suatu sore, Dewan Paroki bersama para tokoh umat berkumpul.
Mereka duduk di kursi plastik, ditemani secangkir kopi biasa.
Tidak ada kemewahan, namun semangat mereka luar biasa besar. “Kita tidak membangun bangunan,” kata Romo dengan suara lembut, “kita sedang membangun sebuah rumah iman—rumah bagi anak cucu kita.”
Perjalanan pun dimulai. Panitia Pembangunan Gereja dibentuk, proposal disusun, dan umat bergerak dalam doa serta kerja bersama. Ada yang menyumbangkan tenaga, ada yang memberi waktu, ada yang menitipkan rupiah demi rupiah dari hasil jerih payahnya. Seorang ibu janda yang hidup sederhana menyelipkan amplop berisi uang kecil. “Tidak banyak, Romo,” katanya sambil tersenyum, “tapi ini dari hati.”

Tangis haru pun pecah. Karena gereja ini bukan soal angka besar, melainkan pembuktian bahwa cinta selalu menemukan jalannya.
Namun jalan pembangunan tak selalu mulus. Harga material naik turun, izin pembangunan memerlukan waktu, sementara dana yang terkumpul sering kali belum mencukupi kebutuhan tahap berikutnya.

Panitia pernah hampir menyerah. “Apakah kita sanggup melanjutkan?” tanya salah satu anggota dalam rapat yang sunyi.

Tetapi pada saat itulah seorang anak kecil, murid bina iman, datang membawa celengan plastik.
“Ini untuk gereja kita… supaya nanti saya bisa doa di tempat yang bagus.”
Kalimat polos itu menyayat hati semua yang mendengarnya. Semangat yang hampir padam kembali menyala.
Setiap batu yang diletakkan, setiap besi yang dipasang, seakan menyimpan kisah pengorbanan.

Para pekerja bekerja dengan sukacita, umat datang setiap minggu untuk melihat perkembangan yang perlahan tetapi pasti.
Ada harapan yang tumbuh, seperti tunas baru di tengah tanah yang kering.
Kini gereja itu mulai menampakkan wujudnya. Tiangnya kokoh, dindingnya berdiri tegak, dan altar masa depan tampak seperti memanggil umat untuk datang berlutut.
Belum selesai memang—masih banyak tahap yang harus dikerjakan. Tetapi harapan itu sudah nyata, sudah hidup, sudah berdenyut dalam hati setiap umat.

Dan di tengah perjalanan panjang ini, pintu tetap terbuka bagi siapa pun yang ingin mengambil bagian dalam karya mulia ini. Sebab setiap bantuan, sekecil apa pun, bukan hanya membangun gereja
tetapi membangun iman, kasih, dan masa depan umat.

Semoga Tuhan memberkati setiap tangan yang memberi, setiap hati yang peduli, dan setiap langkah menuju terwujudnya Gereja Santo Vincentius a Paulo yang baru.

Saya dan anda menanti mujizat dalam malam dana
Charity Night
Di Angke Heritage

Dalam kasih Nya aku menanti.

Adharta

Www.kris.or.id
Www.adharta.com

Gereja Kecil, Terang yang Tak Pernah Padam(Gereja Santo Vincentius a Paulo, Gunung Putri) – H-12

Menuju Malam Dana
Angke Heritage PIK2

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Jakarta
Jumat
14 Nopember 2025

Desiran angin dan embun pagi Gunung Putri

Sahabatku
Rinduku menyertai

“Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku, sebab orang-orang seperti itulah yang empunya Kerajaan Surga.”
(Matius 19:14)

Yesus mengajarkan bahwa Kerajaan Surga dimiliki oleh mereka yang berhati seperti anak-anak polos, tulus, dan penuh percaya. Dan di Gunung Putri, semangat itu hidup dalam sekelompok umat kecil yang menatap ke langit dengan harapan besar membangun Gereja Katolik Paroki
Santo Vincentius a Paulo.
Mungkin, bagi sebagian orang, membangun gereja hanyalah soal dana, rancangan, dan tenaga.

Namun bagi umat di sini, itu adalah soal iman iman yang sederhana seperti anak-anak kecil yang tidak memiliki apa-apa, namun percaya bahwa Bapa di surga akan menyediakan segalanya pada waktu-Nya.

Umat Santo Vincentius a Paulo hidup di lingkungan yang sebagian besar bukan Katolik, bukan pula Kristen.
Di tengah hiruk pikuk kehidupan yang berbeda-beda arah, mereka bertahan sebagai pelita kecil, menyinari dengan kasih dan ketulusan.

Gereja yang akan berdiri bukan hanya bangunan bata bata dan semen melainkan tanda kehadiran Kristus sendiri di tengah masyarakat yang haus akan damai.

Membangun gereja memang tidak mudah. Perlu tenaga, pikiran, dan biaya.
Namun umat di sini ibarat anak-anak kecil yang bermain di halaman Tuhan dengan tangan mungil mencoba mengumpulkan batu demi batu, menata mimpi mereka menjadi rumah doa.

Kadang tak punya cukup dana, kadang merasa tak sanggup, tapi hati mereka terus berkata
“Tuhan, ini yang kami punya.
Kami cuma punya seadanya saja dan
Sisanya kami serahkan kepada-Mu.”

Ada ibu-ibu yang setiap hari menabung dari hasil jualan kecil di warung.
Ada bapak-bapak yang seusai bekerja, menyisihkan sedikit uang untuk bata dan semen.
Ada anak-anak muda yang dengan gembira membantu menggambar, mengangkat kayu, atau membuat video sederhana untuk mengajak orang lain ikut peduli.

Di tengah segala keterbatasan, justru iman menjadi besar.

Karena mereka percaya, yang membangun bukan hanya tangan manusia, tapi kasih Allah yang bekerja melalui hati setiap orang yang tergerak memberi.
Bagi para donatur yang membaca kisah ini, ketahuilah setiap rupiah yang Anda berikan bukan sekadar sumbangan.
Itu adalah tetes kasih, benih harapan, dan batu hidup yang kelak menjadi bagian dari rumah Tuhan sendiri.

Gereja ini akan menjadi tempat anak-anak berdoa, orang tua berpengharapan, dan keluarga menemukan damai.

Kelak, saat lonceng Gereja Santo Vincentius a Paulo berdentang untuk pertama kali, suaranya akan menggema bukan hanya di Gunung Putri, tapi juga di hati setiap orang yang pernah berdoa dan memberi untuk karya ini.

Karena di sinilah kasih itu nyata
Dari tangan-tangan kecil yang percaya, Tuhan membangun rumah-Nya yang memiliki nilai Agung dan besar.

Www.kris.or.id
Www.adharta.com

Call Centre
WA 08119620888