TITISAN KASIH

TITISAN KASIH
Merobah Dunia

VINCENTIUS A. PAOLO

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Awal Nopember 2025

Awal Cinta dari Cinta

Malam itu dingin menyelimuti perbukitan Gascony, Prancis.
Di rumah kecil beratap jerami, seorang bocah laki-laki bernama Vincentius A Paulo
sedang menatap bintang.
Di luar, angin menggoyang ranting pohon, dan di dalam, ibunya menambal pakaian ayahnya yang compang dan camping.

“Suatu hari, Nak,” kata ibunya lembut, “kau akan menjadi imam.
(Cita Cita rata rata Ibu Ibu saat jaman itu)

Doakan agar ibu dan ayah bisa melihatmu di altar.”

Vincentius hanya diam.
Ia tahu, untuk sekolah saja, ibunya harus menjual seekor sapi satu-satunya harta keluarga. Tapi di dalam hatinya yang kecil, api kecil mulai menyala api harapan dan kasih.
Cita-cita dan Kejatuhan
Bertahun-tahun kemudian, Vincentius muda akhirnya ditahbiskan menjadi imam.
Ia pandai, sopan, dan dikagumi banyak orang. Namun dalam hati, ada ambisi halus yang tumbuh ia ingin hidup terhormat, dihormati, dan sejahtera.

Ia sering diundang makan di rumah bangsawan.
Ia bergaul dengan para terpelajar.
Tapi setiap kali ia menatap wajah para petani miskin di jalan, hatinya bergetar aneh seperti ada yang menegurnya dari dalam.

Suatu hari, dalam perjalanan menuju Marseille, kapal yang ditumpanginya diserang bajak laut.
Vincentius ditawan, dijual sebagai budak di Afrika Utara.

Dunia yang megah tiba-tiba runtuh.
Hari-harinya penuh siksaan. Ia bekerja di ladang di bawah terik matahari.

Kakinya luka, tangannya pecah, tubuhnya lemah. Namun di tengah derita itu, ia mulai mengenal arti kerendahan hati.

Suatu malam, di bawah sinar bulan, ia berdoa:

“Tuhan, Engkau mengambil segala yang kumiliki.
Biarlah Engkau kini memiliki aku seluruhnya.”

Air matanya jatuh, tapi bersamaan dengan itu, hatinya dibebaskan.
Kembali dan Terpanggil
Beberapa tahun kemudian, Vincentius berhasil melarikan diri bersama majikannya yang bertobat dan kembali ke Prancis.
Ia tidak lagi mencari kehormatan.
Ia mulai berkhotbah di desa-desa miskin, menemani orang sakit, dan memberi penghiburan kepada tahanan.

Di sebuah desa kecil, ia bertemu seorang wanita tua yang sedang menangis karena anaknya kelaparan.
Tanpa banyak kata, Vincentius menanggalkan jubahnya dan menyerahkannya

“Ini bukan milikku,” katanya lembut, “Tuhan menitipkannya padamu.”
Dari peristiwa sederhana itu, lahirlah panggilan besar melayani Kristus dalam diri orang miskin.

Kasih yang Bertumbuh
Vincentius kemudian mendirikan Kongregasi Misi para imam yang rela pergi ke tempat-tempat terpencil untuk mengajar, menyembuhkan, dan menghibur. Ia juga mendirikan kongregasi
Putri Kasih, bersama Louisa de Marillac, untuk para suster yang melayani di rumah sakit dan jalanan.

Ia sering berkata:
“Kita harus melihat Kristus dalam wajah mereka yang lapar, telanjang, dan menderita.

Jika kita menolong mereka, kita menyentuh hati Kristus sendiri.”
Namun hidupnya tak selalu mudah.
Banyak yang menentangnya, menuduhnya gila, atau menyebutnya terlalu sederhana untuk dunia modern.

Tapi Vincentius hanya tersenyum.
Ia tahu bahwa kasih sejati sering disalahpahami.

Air Mata di Ruang Sakit
Suatu malam di musim dingin, ia mendatangi rumah sakit tua di Paris.

Bau busuk, udara lembab, dan jeritan orang sakit membuat hati siapa pun gentar.

Seorang suster muda berkata, “Bapa, ini terlalu berat bagi kami.

Kami tidak kuat menanggung penderitaan ini.”

Vincentius menggenggam tangan suster itu, matanya berkaca-kaca.

“Anakku, kasih tidak mengenal lelah.
Kasih tidak berhenti di ambang penderitaan.
Di sinilah kita menemukan wajah Kristus yang sejati.”

Ia kemudian duduk di samping seorang pria sekarat, membersihkan luka di kakinya dengan tangan gemetar.
Air mata menetes dari pipinya ke luka itu bukan karena jijik, tapi karena belas kasih yang begitu dalam.

Harapan di Tengah Derita
Meski kesehatannya menurun, Vincentius tetap bekerja tanpa henti. Ia berjalan dari satu panti asuhan ke panti lainnya, menghibur tahanan, menulis surat bagi mereka yang putus asa.

Kelak banyak mujizat terjadi karena nama Vincentius A Paulo

Suatu sore, seorang anak yatim kecil memegang tangannya dan berkata polos,
“Bapa, apakah Tuhan benar-benar mencintai orang seperti saya?”

Vincentius memeluknya erat.
“Nak, Tuhan mencintai kita lebih dari yang bisa kita bayangkan. Kadang cinta-Nya tampak melalui air mata, tapi percayalah di balik setiap duka, ada tangan-Nya yang menuntun.”

Anak itu tersenyum, dan di mata Vincentius, senyum itu adalah surga kecil yang turun ke bumi.

Akhir yang Damai
Ketika usia senjanya tiba, tubuh Vincentius melemah. Namun semangatnya tetap menyala.
Ia menghabiskan malam-malam panjang berdoa di kursinya, memandangi salib kecil di dinding kamarnya.

“Kasih-Mu terlalu besar, Tuhan,” bisiknya pelan.
“Aku tak layak, tapi aku bersyukur Kau memilih aku untuk melayani-Mu dalam diri orang kecil.”

Pada 27 September 1660, Vincentius menghembuskan napas terakhir.

Tidak ada kemegahan. Hanya sebuah ruangan sunyi, beberapa suster berdoa, dan lilin yang menyala redup.

Namun di luar sana, di hati ribuan bahkan jutaan orang miskin yang pernah disentuhnya, api kasihnya terus hidup.
Warisan Kasih
Ratusan tahun kemudian, namanya masih bergema di setiap panti asuhan, rumah sakit, dan sekolah yang didirikannya.

Sosoknya menjadi teladan bagi semua orang yang ingin mengasihi tanpa pamrih.
Ia pernah berkata

“Jangan biarkan belas kasih berhenti di bibir. Biarkan ia menjelma dalam tindakan, sekecil apa pun.”

Dan begitulah, Vincentius a Paulo petani miskin yang menjadi imam, budak yang menjadi pembebas, pelayan yang menjadi santo
Orang suci yang
meninggalkan jejak abad jejak air mata yang berubah menjadi harapan, dan kasih yang mengubah dunia.

Tulisan ini kupersembahkan buat Paroki Santo Vincentius A Paulo
Gunung Putri
Keuskupan Bogor
Panitia PPG
Panitia Malam Dana di Angke Heritage PIK2
26 Nopember 2025 malam
Seluruh Donatur yang berhati emas dan mulia
Semua Pendoa

Terima Kasih Tuhan
Doa ku menyertai

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

MALAIKAT TAK BERSAYAP

MALAIKAT TAK BERSAYAP

Awal Nopember 2025

Cerpen 022

Oleh : Adharta
Ketua umum
KRIS

Angin malam
Di sebuah desa kecil di Brebes, di antara hamparan sawah yang menguning dan langit yang selalu tampak lapang, lahirlah seorang anak lelaki bernama Arya.
Ia lahir dalam keluarga sederhana bahkan terlalu sederhana untuk ukuran desa itu. Ayahnya meninggal dunia ketika Arya baru berusia tiga tahun.

Sejak saat itu, ibunya, Sarinah, menjadi satu-satunya tumpuan hidupnya.
Sarinah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah seorang juragan bawang merah

Setiap pagi, sebelum matahari naik, ia sudah berjalan sejauh dua kilometer ke rumah majikannya.
Di tangannya yang kasar karena deterjen dan air sabun, tersimpan kasih yang lembut dan kekuatan yang luar biasa.

Ketika Arya mulai sekolah dasar, Sarinah sudah terbiasa membawa bekal nasi bungkus dan lauk tempe goreng dari rumah. Ia jarang makan bersama anaknya karena waktunya habis bekerja.
Tapi setiap malam, meski lelah, ia tetap menyiapkan seragam Arya yang sudah dicuci bersih, disetrika dengan teliti.

“Sekolah yang rajin, Nak,” katanya setiap pagi sambil mengelus rambut anaknya.
Arya selalu mengangguk, meski kadang matanya masih mengantuk.
Ia tahu, ibunya menaruh seluruh harapan pada dirinya.
Masa Sekolah dan Perjuangan
Waktu berlalu. Arya tumbuh menjadi remaja pendiam tapi rajin.
Di sekolah menengah pertama, ia sering jadi bahan ejekan teman-temannya karena sepatu lusuhnya atau tasnya yang sudah robek.

Tapi ia tidak marah. Ia tahu ibunya bekerja keras untuk membelikannya buku dan seragam, meski dengan uang yang sangat pas-pasan.

Setiap kali ujian, Sarinah selalu menunggu kabar nilai Arya dengan hati berdebar.

“Bagaimana hasilnya, Nak?”
“Bagus, Bu. Rangking dua.”

Dan Sarinah selalu tersenyum sambil menatap wajah anaknya dengan mata berkaca-kaca.

“Syukurlah. Berarti kerja keras kita tidak sia-sia.”

Di SMA, Arya mulai menyadari betapa berat beban yang dipikul ibunya.

Kadang ibunya pulang malam, kakinya bengkak karena terlalu lama berdiri, tapi tetap tersenyum.
“Bu, Arya bantu kerja juga ya,” katanya suatu sore.

Namun ibunya menatapnya lembut, “Tidak, Nak.
Tugasmulah belajar.
Biar Ibu saja yang kerja.

Suatu hari nanti, kamu harus lebih tinggi dari Ibu. Sekolahmu itu doa Ibu yang belum selesai.”

Kata-kata itu terus terpatri di hati Arya.

Ke Jakarta dan Perjuangan Kuliah
Setelah lulus SMA, Arya sempat bingung. Ia ingin kuliah, tapi tak punya uang.
Tabungan ibunya tidak cukup. Namun Sarinah menatapnya dengan yakin.

“Kuliah sajalah, Nak. Tuhan pasti kasih jalan.”
Dengan bekal keberanian dan doa, Arya berangkat ke Jakarta naik bus ekonomi.
Ia membawa tas kecil, beberapa potong pakaian, dan uang hasil tabungan ibunya selama bertahun-tahun.

Di Jakarta, ia mendaftar di sebuah universitas kecil jurusan keuangan. Awalnya ia pesimis, tapi ia belajar dengan keras.
Siang kuliah, malam bekerja di warung kopi.

Kadang ia pulang tengah malam, tapi tetap bangun pagi untuk kuliah.
Suatu hari, dosennya berkata, “Arya, kamu saya calonkan dapat beasiswa. Nilaimu bagus, dan kamu pantas.”

Arya hampir tidak percaya. Ia menelpon ibunya malam itu, suaranya bergetar.

“Bu, Arya dapat beasiswa!”
Terdengar isak di ujung telepon. “Alhamdulillah, Nak.
Ibu bangga sekali.”

Sejak saat itu, Arya tidak lagi membebani ibunya dengan biaya kuliah.

Ia menabung sedikit demi sedikit, berharap suatu hari bisa mengajak ibunya tinggal bersamanya di Jakarta.

Pertemuan dengan Ratna
Di kampus, Arya bertemu dengan Ratna, mahasiswi cerdas dari keluarga sederhana juga. Ratna kagum pada ketekunan Arya, sedangkan Arya terpesona dengan keceriaan Ratna. Mereka sering belajar bersama di perpustakaan kecil kampus.

Waktu berlalu, cinta mereka tumbuh pelan tapi dalam. Ratna tahu kisah hidup Arya dan ibunya. Ia sering berkata,
“Ibumu hebat, Arya. Suatu hari kamu harus bahagiakan dia.”
Arya tersenyum lembut, “Itu tujuan hidupku, Ratna.”

Setelah lulus, Arya langsung diterima di sebuah perusahaan keuangan kecil di Jakarta.
Gajinya tidak besar, tapi cukup untuk hidup sederhana dan mulai menabung. Ia ingin segera menjemput ibunya dari Brebes.
Kabar yang Menghantam
Namun hidup sering kali tidak berjalan sesuai rencana.

Beberapa bulan setelah bekerja, Arya pulang ke Brebes dengan semangat.
Ia membawa sedikit uang dan hadiah: selembar kain batik dan sepasang sandal baru untuk ibunya.
Ia turun dari bus, berjalan ke gang kecil menuju kontrakan tempat ibunya tinggal.

Namun ketika tiba di sana, sesuatu terasa aneh.
Rumah itu kosong. Pintu digembok dari luar.
Tetangganya, seorang ibu tua, keluar dan berkata pelan, “Arya? Kamu Arya anak Bu Sarinah, ya?”
“Iya, Bu. Ibu di mana?”

Wajah ibu tua itu mendadak murung. “Sudah berbulan-bulan dia tidak kelihatan. Katanya pergi cari kerja ke kota lain.
Tapi setelah itu… tidak ada kabar. Rumah ini sudah dikontrakkan ke orang lain.”
Arya tercekat. Dunia seakan berhenti berputar.

Ia berdiri lama di depan rumah itu, menatap pintu kayu yang kini tertutup rapat. Di dalam pikirannya, suara ibunya seperti masih terdengar, memanggilnya untuk makan atau menyiapkan seragam sekolah.

Malam itu, Arya menginap di rumah tetangga lama.
Ia mencoba mencari jejak menanyakan ke RT, ke teman lama ibunya, bahkan ke agen tenaga kerja di Tegal.
Tapi semua nihil. Ibunya seolah lenyap ditelan bumi.

Pencarian yang Tak Pernah Selesai
Sekembalinya ke Jakarta, Arya seperti kehilangan semangat hidup. Ia tetap bekerja, tapi setiap malam matanya tak bisa terpejam.
Ia mencoba mencari lewat media sosial, memasang pengumuman di grup Brebes, bahkan melapor ke polisi, namun hasilnya tetap kosong.

Ratna selalu menemani. Kadang hanya duduk di sampingnya tanpa berkata apa-apa.
“Kalau Ibu tahu kamu seperti ini, dia pasti sedih,” katanya pelan.

Arya terdiam, menatap langit-langit kamar kos. “Aku cuma ingin tahu dia baik-baik saja, Ratna.
Aku belum sempat membahagiakan dia.”
Bertahun-tahun kemudian, meski belum ada kabar, Arya tetap menabung sebagian gajinya.

Ia berkata pada Ratna, “Kalau Ibu pulang suatu hari nanti, aku ingin dia punya rumah sendiri.
Biar kecil, tapi nyaman.”
Rumah dan Sebuah Papan Kecil
Lima tahun setelah ibunya menghilang, Arya dan Ratna memutuskan menikah.
Mereka sudah cukup mapan secara finansial. Tapi di hati Arya, masih ada ruang kosong
ruang yang tak bisa diisi siapa pun.
Sebelum pernikahan, mereka pulang ke Brebes.
Arya membeli kembali rumah kontrakan lama ibunya
rumah kecil berukuran 50 meter persegi. Dindingnya rapuh, atapnya bocor, tapi di situlah semua kenangan masa kecilnya bersemayam.

Bersama Ratna, ia memperbaiki rumah itu pelan-pelan. Mengecat ulang dinding, mengganti jendela, menanam bunga di halaman kecil. Saat semua selesai, Arya berdiri di depan pintu rumah itu dan memasang sebuah papan kayu sederhana.
Di atasnya, dengan tulisan tangan sendiri, ia menulis:

“Malaikat tak bersayap, tolong pulang kembali ke rumah.”

Ratna berdiri di sampingnya, menggenggam tangannya. “Kamu masih berharap dia kembali?”

Arya menatap papan itu lama, lalu tersenyum tipis. “Harapan itu yang membuatku hidup sampai sekarang.”

Setiap kali pulang ke desa, Arya selalu membersihkan rumah itu. Kadang ia duduk di teras sambil memandangi jalan kecil di depan rumah, berharap suatu hari sosok perempuan tua dengan langkah perlahan muncul dari tikungan membawa senyum yang ia rindukan seumur hidup.

Pernikahan Tanpa Orang Tua
Hari pernikahan tiba.
Arya dan Ratna menikah sederhana di Jakarta.
Tak ada sosok ibu di kursi tamu, tak ada air mata bahagia seorang orang tua yang melepas anaknya.
Tapi di dalam hati Arya, ia bisa merasakan kehadiran ibunya.
Saat penghulu menuntun ijab kabul, Arya memejamkan mata sejenak, membayangkan wajah ibunya tersenyum.
“Saya terima nikahnya Ratna binti Hadi…”

Suaranya bergetar, tapi penuh keyakinan.
Setelah akad selesai, Ratna berbisik, “Ibumu pasti bahagia di sana, Arya.”

Arya menatap langit, dan dalam keheningan itu, ia merasa ada angin lembut menyentuh pipinya
seolah belaian seorang ibu yang kembali hadir sesaat.
Kenangan dan Doa
Waktu terus berjalan.
Arya dan Ratna hidup sederhana tapi bahagia. Mereka sering pulang ke Brebes untuk berziarah ke makam ayahnya, dan setiap kali ke sana, Arya selalu singgah ke rumah kecil itu.
Rumah itu kini menjadi tempat singgah bagi anak-anak kecil desa yang ingin belajar.

Arya mengubahnya menjadi ruang baca gratis. Di dindingnya, masih tergantung papan kayu dengan tulisan itu:

“Malaikat tak bersayap, tolong pulang kembali ke rumah.”

Kadang Arya duduk di sudut rumah, membaca buku sambil mengenang masa lalu.
Ia tahu, ibunya mungkin tidak akan pernah kembali. Tapi bagi Arya, ibunya tidak pernah benar-benar pergi.
Ia hidup dalam setiap keberhasilan Arya, dalam setiap kebaikan yang ia lakukan, dalam setiap napas yang ia hembuskan.

Ratna sering melihat suaminya duduk lama di teras itu.

“Masih menunggu, ya?”
Arya tersenyum. “Tidak menunggu. Hanya mengenang.”
Ratna tersenyum haru, lalu bersandar di bahunya.

“Kamu tahu, mungkin ibumu tidak bersayap… tapi dia pasti sudah terbang ke tempat yang paling tinggi.”
Arya menatap langit sore. Langit Brebes selalu tampak sama lapang, tenang, dan hangat.
Dan di bawah langit itu, seorang anak yang dulu miskin dan kesepian kini telah tumbuh menjadi pria yang kuat, karena cinta seorang ibu yang tak pernah pudar meski waktu memisahkan.

Akhir cinta
Beberapa tahun kemudian, Arya menulis di buku hariannya:

“Hidupku bukan kisah tentang kehilangan, tapi tentang cinta yang tak pernah berhenti.

Ibu mungkin tak lagi di sisiku, tapi setiap langkahku adalah doa yang ia tinggalkan.
Aku tidak tahu di mana engkau kini, Bu…

Tapi setiap kali aku pulang, aku percaya — engkau juga sedang pulang, lewat angin, lewat matahari, lewat doa-doa yang tidak pernah padam.”
Dan di depan rumah kecil itu, papan kayu bertuliskan

“Malaikat tak bersayap, tolong pulang kembali ke rumah” tetap berdiri menjadi saksi cinta abadi antara seorang ibu dan anaknya.

Www.kris.or.id
Www.adharta.com

Menanti

Menanti

(Kisah nyata yang kutulis dengan air mata dan doa)

Oleh : Adharta
Ketua umum
KRIS

Cerpen 021

Jakarta
Akhir oktober 2025

Lagu itu kembali terdengar malam ini.
“Chan Fu…”

lembut, lirih, dan dalam bahasa Indonesia yang entah mengapa, menusuk hati lebih dalam dari biasanya.
Setiap kata dalam lagu itu seolah bercerita tentang seseorang yang perlahan kehilangan segalanya… kecuali cinta.

Dan malam ini, lagu itu adalah lagu untuk Syenny.

Dua tahun sudah ia berjuang. Dua tahun yang penuh dengan rasa sakit, harapan, dan ketakutan yang tak pernah benar-benar pergi.

Kanker hati
kata itu muncul pertama kali di ruang dokter dua tahun lalu, seperti petir yang menyambar langit cerah.

Awalnya hanya rasa lelah dan mual, tapi siapa sangka itu adalah awal dari perjalanan panjang menuju penantian.

Syenny baru berusia 33 tahun saat itu.
Masih muda, masih cantik, masih penuh rencana.
Ia punya dua anak laki-laki, berusia tujuh dan delapan tahun
dua cahaya kecil yang selalu memanggilnya Mama dengan tawa polos.

Suaminya, Ilham, adalah lelaki lembut yang setia, yang selalu berkata, “Kita bisa lewati ini, Sayang. Aku di sini.”

Tapi waktu berjalan seperti angin dingin yang terus menggerus.
Kemo pertama membuat rambut Syenny mulai rontok.
Setiap helai rambut yang jatuh ke lantai kamar mandi membuat Ilham terdiam lama, memungutnya satu-satu seperti benda berharga.

“Tidak apa-apa, Mas,” kata Syenny sambil tersenyum tipis, “rambut bisa tumbuh lagi.”

Tapi Ilham tahu, senyum itu dipaksakan.
Hari-hari berikutnya menjadi rangkaian antara rumah sakit, obat, muntah, dan malam panjang tanpa tidur.

Di ruang tunggu onkologi, wajah-wajah yang sama menanti giliran
wajah penuh harap dan takut. Di sanalah Syenny sering berdoa dalam diam, “Tuhan, kalau pun Engkau ingin memanggilku, tolong beri aku waktu sedikit lagi… aku ingin melihat anak-anakku tumbuh.”

Musim demi musim berganti.
Ada masa di mana kondisinya membaik.

Syenny bahkan sempat mengajak kedua putranya piknik ke taman kota, meski hanya duduk di atas tikar sambil makan bekal sederhana.

Hari itu, ia tertawa lepas untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan.
Namun, malamnya, ia menahan sakit hingga menggigit ujung bantal agar anak-anak tidak mendengar.
Ilham duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan istrinya yang dingin.

“Sakit lagi, Sayang?”
Syenny hanya mengangguk pelan, air mata menetes tanpa suara.

“Maaf ya, Mas…”

“Untuk apa minta maaf?”
“Karena aku bikin kamu susah.

Aku tahu aku akan pergi, tapi aku takut…”

“Jangan bicara begitu.

Aku belum siap,” bisik Ilham sambil mencium punggung tangannya.

Dokter akhirnya berkata jujur.
Penyebaran sudah terlalu luas.
Tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain perawatan untuk mengurangi rasa sakit.

“Berapa lama lagi, Dok?” suara Ilham bergetar.
Dokter menatapnya lama, lalu pelan menjawab, “Mungkin… tiga bulan.”

Tiga bulan.
Waktu yang begitu singkat untuk seseorang yang masih ingin hidup.

Syenny mendengar kabar itu tanpa histeris. Ia hanya menunduk, menatap jari-jarinya yang semakin kurus.
“Jadi aku benar-benar harus menunggu, ya?” katanya pelan.

Ilham memeluknya, tapi kali ini tidak ada kata-kata yang bisa keluar.

Hari-hari selanjutnya adalah perjalanan sunyi menanti panggilan Tuhan.
Tubuhnya semakin lemah, kulitnya kekuningan, tapi ia masih mencoba tersenyum setiap kali anak-anaknya pulang sekolah.

Ia masih sempat membacakan doa malam untuk mereka, meski dengan suara yang hampir tak terdengar.

“Kalau Mama nanti pergi, jangan nakal ya… dengar kata Papa. Rajin belajar, jangan lupa doa.”

Anak sulungnya, Revan, menangis di pangkuannya. “Mama nggak akan pergi kan? Mama janji…”

Syenny hanya menatapnya lama, memeluk erat, dan berkata, “Mama janji akan selalu di sini.”
Ia menepuk dada kecil putranya.

“Di sini, Nak. Di hatimu.”

Ilham kini hidup di antara dua dunia
antara rumah sakit dan rumah. Ia tidur hanya dua jam setiap malam, sisanya menemani Syenny menahan sakit.

Kadang, ia berjalan ke teras sendirian, menatap langit dan berdoa, “Tuhan, kalau memang harus Kau panggil dia, jangan buat dia menderita lagi. Tapi kalau bisa, beri aku satu keajaiban…”

Namun keajaiban tak datang. Yang datang hanya kenyataan bahwa cinta pun tidak bisa melawan takdir.

Malam itu, Syenny meminta sesuatu.
“Mas, tolong nyalakan lagu itu… yang dulu kita dengar waktu pacaran.”

Ilham memutar lagu Chan Fu versi Indonesia. Melodi lembut mengalun di kamar yang temaram, hanya diterangi lampu tidur kecil. Syenny menutup mata, tersenyum tipis.

“Mas… aku capek. Tapi aku bahagia.
Aku punya kamu, aku punya anak-anak yang lucu.

Aku nggak takut lagi.”

Ilham menggenggam tangannya erat.

“Aku juga bahagia pernah hidup denganmu, Sayang. Aku cinta kamu.”

“Jangan lupa… jaga mereka, ya…”

Air mata menetes di pipi Ilham, jatuh di tangan Syenny yang dingin.
Lagu itu terus berputar, hingga hanya tersisa suara nafas pelan yang makin lama makin hilang.

Pagi harinya, sinar matahari masuk dari celah jendela.
Syenny sudah pergi dengan tenang, wajahnya damai, seolah tertidur. Di meja kecil di samping ranjang, ada secarik kertas yang ditulis dengan tangan gemetar:

“Jangan tangisi aku terlalu lama. Aku hanya berpindah tempat.

Cintaku tidak mati, hanya berganti wujud menjadi doa.”
Hari pemakaman berlangsung sederhana. Orang tua, saudara, dan teman-teman menangis dalam diam. Dua anak kecil berdiri menggenggam tangan ayahnya, belum benar-benar mengerti apa arti kehilangan.

Ilham berdiri paling lama di depan pusara. Angin bertiup pelan, membawa aroma tanah dan bunga melati. Ia menatap nama yang terukir di batu nisan dan berbisik,
“Sayang, aku tidak akan berhenti mencintaimu.

Aku hanya… menanti waktu yang Tuhan pilih agar kita bisa bertemu lagi.”

Dan di kejauhan, lagu itu kembali terngiang…
“Aku menanti, walau kau telah pergi…”

Sebuah lagu, sebuah doa, dan sebuah penantian
yang tidak lagi menyakitkan, melainkan penuh cinta.

Www.kris.or.id
Www.adharta.com

Dua Cinta di Antara Langit

Cerpen 020

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Awal dari Cinta yang Sederhana
Pagi itu, lonceng Gereja Santa Monika di daerah
Serpong berdentang pelan, mengiringi langkah sepasang insan yang bersumpah di hadapan altar.

Jaya dan Monik.

Awal tahun 1980.
Tak ada pesta mewah, tak ada taburan bunga atau gaun panjang berkilau. Yang ada hanyalah cinta yang murni, sederhana, dan penuh harapan.

Monik menatap Jaya dengan mata berembun.
“Janji ya, kita jalanin semuanya bareng-bareng, suka dan duka.”
Jaya tersenyum, menggenggam tangan istrinya erat.

“Selama Tuhan di tengah kita, semua akan baik-baik saja.”

Dan benar. Hidup mereka dijalani dengan kerja keras dan iman.
Jaya memulai dari nol
dari kuli bangunan, tukang kayu, sampai perlahan dipercaya menjadi mandor dan kemudian manajer lapangan di perusahaan konstruksi besar.

Monik, dengan kelembutan hatinya, menjadi pelita keluarga. Ia bekerja serabutan, kadang menjahit, kadang membantu pelayanan sosial di gereja.
Dari cinta itu, Tuhan menghadiahkan dua anak laki-laki yang tampan dan cerdas:

Rudy dan Radit.
Rumah sederhana mereka di Serpong selalu penuh tawa, doa, dan aroma masakan Monik yang hangat.

Anak-Anak yang Bertumbuh

Waktu berlalu.
Rudy tumbuh menjadi anak yang ambisius dan cerdas
jago berhitung, berani berpendapat, dan selalu ingin jadi juara.
Sedangkan Radit…
ia tenang, lembut, dan penuh kasih. Setiap kali Monik menutup doa malam, Radit kecil selalu berkata:

“Ma, kalau aku besar nanti, aku mau kerja buat Tuhan ya.”

Monik hanya tersenyum waktu itu, menganggapnya sekadar celoteh polos anak kecil.

Tapi rupanya, benih itu tumbuh diam-diam.
Ketika Rudy diterima di UCLA mengambil hukum, kebanggaan keluarga meledak.

“Anak kita kuliah di Amerika!” kata Jaya bangga.
Beberapa tahun kemudian, Radit menyusul, diterima di Boston University jurusan teknik.

Doa mereka seolah terjawab dua anak sukses, dua harapan bangsa.

Hidup keluarga Jaya berubah pesat.

Bisnis konstruksi yang dulu kecil kini meraksasa.

Jaya menjadi salah satu pengusaha besar di Indonesia. Rumah mereka menjulang tinggi di Jakarta Selatan, namun doa Rosario setiap malam tak pernah hilang.
Mereka tetap sederhana, tetap setia pada gereja dan pelayanan.

Berita dari Boston

Suatu sore, kabar bahagia datang:

Radit lulus dengan predikat cum laude dari Boston University.

Namun dalam surat yang sama, terselip kalimat yang mengguncang dunia mereka:

“Pa, Ma, aku ingin melanjutkan hidupku menjadi Imam.
Aku sudah mendaftar di seminari, dan jika Tuhan menghendaki, aku akan ditahbiskan menjadi pastor.”

Monik menjatuhkan surat itu, menatap suaminya dengan mata kosong.

“Jaya… apa ini benar?”

Jaya menggenggam kepala istrinya. “Tuhan… apakah ini berkat atau cobaan?”

Malam itu, rumah besar mereka diselimuti hening.

Mereka menangis, bukan karena malu, tapi karena takut kehilangan anak bungsu mereka.

“Dia masih muda, Monik. Mungkin cuma terbawa suasana,” ujar Jaya lirih.

“Kalau begitu… kita kirim Rudy ke sana.
Biar dia bicara dengan adiknya.”

Tugas untuk Sang Kakak
Rudy saat itu telah menjadi sukses.

Lulus UCLA, ia mengikuti jejak ayahnya membangun bisnis di luar negeri.
Ia sudah bertunangan dengan Susan, gadis Amerika berdarah Filipina yang lembut dan beriman.

Ketika ayahnya meminta dia pindah ke Boston untuk membujuk Radit, Rudy tak bisa menolak.
Susan memegang tangan Rudy.
“Apapun yang kamu lakukan, aku dukung. Tapi jangan lupa, kamu juga punya hidup sendiri.”

Rudy hanya tersenyum.
“Aku tahu.
Tapi ini untuk keluarga. Untuk Papa dan Mama.”

Rudy pindah ke Boston.
Rumah besar keluarga Jaya di sana menjadi tempat tinggal mereka berdua.

Setiap malam Rudy mencoba bicara dengan Radit, tapi adiknya selalu tersenyum lembut dan berkata,

“Bang, aku bahagia di sini. Aku merasa seperti pulang.”

Cinta yang Terbelah
Musim dingin datang, salju turun menutupi kota Boston.
Suatu malam, Rudy dan Susan berjalan di taman dekat seminari.

Udara beku, tapi hati mereka hangat.

Rudy memandangi langit yang pucat, lalu berkata pelan,
“Susan, aku baru mengerti sekarang…
Radit tidak meninggalkan dunia, dia justru menemukan cintanya.”
Susan tersenyum lembut.
“Dan kamu?”
“Aku juga mencintainya bukan Radit, tapi Tuhan yang mencintai Radit.”

Beberapa minggu kemudian, Rudy mengirim surat panjang ke ayah dan ibunya.
Namun kali ini isinya lebih mengejutkan.

“Pa, Ma, aku tidak bisa memaksa Radit berhenti.
Justru karena aku melihat kebahagiaan di wajahnya, aku merasa terpanggil juga.

Aku akan masuk seminari.
Jangan marah. Ini bukan karena aku menyerah, tapi karena aku ingin ikut jalan cinta itu.”

Monik hampir pingsan membaca surat itu.

“Dua-duanya, Jaya… dua-duanya mau jadi imam!”

Jaya berdiri membisu. Air mata turun tanpa suara.
Ia menatap salib di ruang tamunya.

“Tuhan… Engkau mengambil semua yang kami punya, tapi jika ini untuk kemuliaan-Mu, kami belajar untuk rela.”

Jalan Menuju Altar
Waktu berjalan. Tahun-tahun berganti.

Rudy dan Radit menempuh perjalanan rohani mereka masing-masing.

Rudy meninggalkan Susan dengan hati remuk tapi damai. Susan menulis surat terakhir padanya:

“Kamu memilih cinta yang lebih besar dari aku.

Aku mencintaimu, tapi aku tahu, cintamu kepada Tuhan jauh melampaui.

Aku akan selalu berdoa untukmu, Rudy.”

Sementara itu, Jaya dan Monik perlahan belajar menerima. Mereka berdoa setiap malam, bukan lagi agar anak-anak mereka kembali, tapi agar mereka kuat menjadi orang tua dua imam.

Kadang, Monik duduk di teras rumah, menatap langit sore.
“Aku rindu mereka, Jaya.”

Jaya menggenggam tangannya.

“Rindu itu juga doa, Monik.”

Dua Tahbisan
Hari itu akhirnya tiba.
Boston Cathedral berdiri megah di bawah langit musim semi.

Jaya dan Monik duduk di barisan depan.
Di hadapan mereka, dua putra yang dulu mereka dekap di malam hujan kini berlutut di depan altar, mengenakan jubah putih bersih.

Uskup menumpangkan tangan ke kepala mereka.
Tangisan tak terbendung.

Air mata Jaya jatuh di atas rosario yang ia genggam erat.

Monik memejamkan mata, bibirnya bergetar:

“Terima kasih, Tuhan.
Ambillah mereka… tapi jangan jauh-jauh dari hatiku.”

Ketika misa berakhir, dua imam muda itu menghampiri orang tuanya.

Rudy memeluk ayahnya.
“Pa… terima kasih sudah mengizinkan aku mencintai Tuhan.”

Radit mencium tangan ibunya. “Ma… doakan aku selalu, ya.”

Monik tak sanggup bicara, hanya memeluk keduanya erat, seolah ingin menahan waktu agar tak berjalan.

Dua Cinta di Langit

Tahun demi tahun berlalu.
Rudy berkarya di Roma, menjadi pastor yang disegani karena kebijaksanaannya.

Radit melayani di pedesaan Asia Tenggara, membangun sekolah dan panti asuhan.
Mereka jarang pulang, tapi setiap kali menelepon, suara mereka penuh kedamaian.

Monik sering menulis surat untuk keduanya.

“Anakku, setiap doa kami adalah pelukan.
Kami tidak kehilangan kalian, kami hanya belajar mencintai dengan cara yang lebih tinggi.”

Jaya meninggal dalam damai pada usia senja, karena serangan Covid-19
dengan rosario di tangannya.
Monik menatap langit, tersenyum.

Ia tahu, suaminya telah bertemu Tuhan yang sama dengan kedua anak mereka.

Dan ketika akhirnya Monik dipanggil untuk bekerja buat Tuhan,

Saat Misa Requiem Jaya diadakan oleh dua imam yang berdiri berdampingan dengan Monic

Rudy dan Radit di depan peti Papa mereka.
Air mata jatuh tanpa henti, tapi kali ini bukan karena kehilangan, melainkan karena cinta yang telah menjadi abadi.

Cinta di langit biru
Setelah misa, Rudy berkata pelan pada adiknya,

“Dulu aku pikir kita kehilangan segalanya, Dit.”
Radit tersenyum, menatap langit senja.

“Tidak, Bang. Kita justru menemukan segalanya di dalam Dia.”

Padahal tujuan Rudyasuk Seminari agar dapat menggantikan Radit
Yang begitu di cintai oleh Papa dan Mama

Ternyata jeratan panggilan bercerita lain

Dan di gereja kecil di pinggiran Boston itu, dua imam, dua anak, dua cinta
cinta kepada keluarga dan cinta kepada Tuhan
berpadu menjadi satu keabadian.
Karena sesungguhnya, cinta sejati bukan tentang memiliki, melainkan tentang memberi tanpa batas.

~ Tamat ~

Www.kris.or.id
Www.adharta.cim

Tulisan ini untuk mengenang sahabatku
aloysius
Tuhan bersamamu

Doa Dua Cinta

Oleh : Adharta

Kisah mengenang sahabat ku Aloysius
semasa kuliah sampai akhir hayatnya penuh dengan Cinta

Cinta diantara dua langit

Di altar waktu, cinta pernah berjanji,
antara bumi yang merindu dan surga yang memanggil.

Dua insan Manusia
Jaya dan Monik menanam kasih di tanah sederhana,
tumbuh dua bunga

Rudy dan Radit yang mekar menuju cahaya.

Dua tangan kecil dulu mereka dekap di dada,
kini
Menumpangkan berkat pada dunia.

Air mata Monik jatuh jadi doa,
napas Jaya mengalun jadi restu abadi.

Tuhan, beginikah cinta-Mu bekerja?

Mengambil untuk memberi, memisah untuk menyatukan.

Kami belajar, bahwa kehilangan bukan akhir,
tapi pintu menuju keabadian.

Rudy dan Radit dua hati satu panggilan,
dua jiwa yang memilih cinta yang lebih tinggi.
Dan di langit kasih yang tak bertepi,
kedua orang tua tersenyum dalam damai surgawi.
Karena cinta sejati
tidak pernah berakhir.
Ia hanya berubah bentuk
dari tangan yang menggenggam, menjadi doa yang memeluk.

Salam dalam doa

Adharta

Nantikan kisah
Cerpen 020

Www.kris.or.id
Www.adharta.com

20.000 Hari Cinta

Cerpen 019

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Ketinggian fiatas 39.000 kaki diatas Bali
Medio Nopember 2025

Hari Pertama:

Pertemuan di Bawah Hujan
Langit sore itu menggantung rendah di atas taman kota. Rintik hujan turun lembut, menyisakan aroma tanah basah dan dedaunan yang baru tersentuh air.

Raka berdiri di bawah halte kecil, memegang payung lipat biru yang sudah mulai sobek di pinggirnya.
Ia baru pulang dari kampus, dan tak sengaja melihat seorang gadis berlari menyeberang jalan sambil menutupi kepala dengan buku tebal.
Gadis itu berhenti tepat di depan halte, napasnya tersengal, rambutnya basah menempel di pipi.

“Payungmu rusak ya?” gadis itu tersenyum kecil sambil menunjuk payung Raka.

“Sedikit,” jawab Raka canggung.

“Tapi masih bisa menampung dua orang kalau mau.”

Gadis itu tertawa pelan, matanya hangat. “Baiklah, aku percaya.”

Begitulah pertemuan pertama mereka di bawah hujan, di antara tawa kecil yang sederhana, tapi meninggalkan kesan mendalam.
Namanya Laras.

Hari ke-200:

Bulan ke delapan
Surat di Kertas Kopi
Raka dan Laras menjadi teman dekat.
Mereka sering belajar bersama di kafe kecil dekat kampus.

Suatu sore, Raka menulis sesuatu di serbet kertas yang biasanya dipakai untuk menaruh sendok.

“Jika hidup ini hanya 20.000 hari, aku ingin 19.999-nya bersamamu.”

Laras membaca kalimat itu diam-diam saat Raka sedang ke kasir.
Ia tersenyum, tapi matanya berkaca-kaca.
Ia tahu kalimat itu bukan gombalan biasa itu doa.

Sejak hari itu, mereka resmi berpacaran.
Waktu berjalan seperti sungai tenang.
Hari demi hari terasa indah, penuh tawa, makan bakso di pinggir jalan, foto berdua di taman kota, dan saling menulis pesan singkat setiap pagi:

“Selamat pagi, 19.999 hari tersisa.”

Hari ke-1.000:

Ujian Hidup
Setelah lulus kuliah, mereka berjuang membangun karier.

Raka bekerja di perusahaan pelayaran PT Aditya Aryaprawira di Jakarta, sering ke luar kota.
Laras menjadi guru SD di kampung halamannya.

Jarak membuat mereka jarang bertemu, tapi setiap video call menjadi obat rindu.
Suatu malam, Laras berkata lirih lewat layar ponsel,
“Kadang aku takut, waktu kita habis sebelum sempat menikah.”
Raka menatapnya lembut.
“Waktu kita memang terbatas, Laras. Tapi yang penting, kita menjadikannya berarti.”

Beberapa bulan kemudian, Raka melamar Laras di pantai yang dulu mereka kunjungi saat kuliah.
Ia menggenggam cincin kecil, tangannya gemetar karena gugup dan haru.

“Laras, maukah kau jadi alasan kenapa setiap hariku berharga?”
Laras mengangguk sambil menangis, dan senja hari itu menjadi saksi cinta mereka yang tulus.

Hari ke-2.000:

Pernikahan Sederhana
Pernikahan mereka sederhana, di halaman rumah orang tua Laras.

Tak ada kemewahan, hanya tenda putih, lagu-lagu lembut, dan tawa keluarga yang hangat.
Raka menatap istrinya yang kini berselimut kebaya krem, tersenyum malu-malu di pelaminan.

“Laras,” bisiknya, “aku tak butuh surga, selama kau bersamaku di dunia ini.”

Dan malam itu, ketika semua tamu sudah pulang, mereka duduk berdua di teras rumah, memandang langit bertabur bintang.

“Berapa hari lagi kita punya, Ra?” tanya Laras pelan.
“Entahlah,” jawab Raka sambil menggenggam tangannya. “Tapi kalau setiap hari seperti ini, satu pun sudah cukup indah.”

Hari ke- 2.500:

Lahirnya Malaikat Kecil
Tiga tahun kemudian, lahirlah seorang bayi perempuan Naya.

Tangisan kecil itu seperti musik paling indah di dunia.
Laras menangis bahagia, memeluk bayinya dengan tangan gemetar.
Raka mencium kening keduanya dan berbisik:

“Hari ini, Tuhan memberiku alasan baru untuk bersyukur.”

Sejak hari itu, kehidupan mereka berubah. Malam-malam tanpa tidur, popok, tawa bayi, dan foto-foto keluarga yang menumpuk di dinding ruang tamu.
Raka sering pulang larut, tapi selalu menyempatkan diri membaca dongeng sebelum Naya tidur.
Laras duduk di kursi, tersenyum melihat dua orang yang ia cintai begitu bahagia.

“Raka,” katanya suatu malam, “hidup ini ternyata cepat sekali, ya?”

Raka mengangguk. “Makanya kita harus sering berhenti sejenak dan bersyukur.”

Hari ke-5.000: Ujian Kedua
Sebuah telepon datang tengah malam.
Kapal tempat Raka bekerja mengalami kecelakaan di laut.

Laras berlari ke rumah sakit dengan hati berdebar, memeluk Naya yang menangis di gendongan.
Raka selamat tapi kakinya luka parah, harus istirahat panjang.
Laras menjaganya dengan sabar, menyiapkan bubur setiap pagi, memijat kaki suaminya, dan selalu berkata,
“Yang penting kau masih di sini.”

Mereka menertawakan kesulitan itu bersama. Kadang menangis juga. Tapi cinta mereka justru tumbuh makin dalam.

Mereka belajar bahwa cinta sejati tak hanya soal kebahagiaan, tapi juga keberanian untuk bertahan saat badai datang.

Hari ke-10.000:

Waktu yang Mengajari
Raka sudah sembuh, tapi kini rambutnya mulai memutih.
Naya tumbuh menjadi gadis remaja, gemar melukis dan punya tawa yang mirip ibunya.

Setiap Minggu pagi, keluarga kecil itu berjalan di taman kota taman tempat Raka dan Laras pertama kali bertemu.
Raka sering menggoda,

“Kalau payungku nggak sobek waktu itu, mungkin aku nggak pernah ketemu kamu.”

Laras tertawa, “Kalau buku tebalku nggak basah, mungkin aku juga nggak sempat melihat wajahmu.”

Mereka saling berpandangan. Waktu mungkin mencuri muda, tapi tak bisa mencuri cinta.

Hari ke-15.000:

Saat Waktu Mulai Perlahan
Laras mulai sering sakit. Awalnya hanya batuk ringan, lalu makin sering ke rumah sakit.
Dokter mengatakan penyakit paru-paru kronis yang tak bisa sepenuhnya disembuhkan.

Raka diam lama di parkiran rumah sakit hari itu.
Hujan turun sama seperti hari pertama ia bertemu Laras.

Ia membuka payung biru tua yang kini sudah lusuh, memandang langit sambil berbisik,

“Kalau boleh, Tuhan, biarkan aku menukar sisa hariku dengan miliknya.”

Selama berbulan-bulan, Raka merawat Laras dengan penuh kasih.
Ia membacakan buku, menyiapkan teh hangat, dan setiap malam berkata,

“Tidurlah, Laras. Aku di sini.”

Laras selalu tersenyum meski tubuhnya lemah.

“Raka,” katanya, “jangan sedih kalau aku pergi nanti.
Aku cuma pindah tempat, tapi cintaku tetap di sini, di antara hari-harimu.”

Hari ke-17.000:

Kepergian
Pagi itu matahari terbit perlahan, menembus jendela kamar rumah mereka.
Raka menggenggam tangan istrinya yang sudah dingin.

Air matanya jatuh diam-diam.
Di meja kecil di samping tempat tidur, ada secarik kertas berisi tulisan tangan Laras:

“Terima kasih sudah membuat 17.000 hariku indah.

Jika masih ada 3.000 hari lagi untukmu, hiduplah dengan senyum, tawa, dan cinta.
Karena aku ingin setiap hari yang tersisa menjadi kisah indah yang kutonton dari surga.”

Raka memeluk surat itu, menangis sejadi-jadinya.

Hari itu, dunia terasa hening. Tapi di tengah duka, ia merasa kehadiran Laras masih ada — di udara, di bunga yang mekar, di tawa Naya.

Hari ke-18.000:

Melanjutkan Cinta
Tahun-tahun berlalu.
Raka kini sudah beruban sepenuhnya, tapi matanya tetap hangat.

Setiap pagi, ia menulis di buku harian:

“Hari ke-18.000 hari yang indah, karena aku masih bisa bersyukur.”
Naya sudah dewasa, menikah, dan sering mengunjungi ayahnya.

Suatu sore, ia menemukan payung biru tua di lemari lama.

“Ayah, ini payung waktu ayah ketemu Ibu, ya?”

Raka mengangguk, tersenyum pelan. “Iya, ini saksi cinta 20.000 hari.”

Hari ke-19.999:

Penutup yang Tenang
Hari itu, langit berwarna jingga.
Raka duduk di kursi taman, memandang matahari terbenam di tempat yang sama dulu ia bertemu Laras.
Ia menulis surat terakhir untuk Naya:

“Nak, hidup ini hanya 20.000 hari dari pertemuan dengan Ibumu

Tapi jangan takut pada waktu.
Tak perlu menghitung hari, cukup isi dengan cinta.
Karena setiap tawa, setiap pelukan, setiap air mata, semuanya bagian dari keindahan hidup.”

Ketika matahari tenggelam, Raka memejamkan mata.

Ia tersenyum seolah Laras menjemputnya pulang.

Hari ke-20.000:
Pertemuan CINTA

Hari Abadi

Di taman kota itu, di bawah pohon besar, Naya menaruh dua payung: satu biru, satu putih.
Di antara bunga-bunga yang berguguran, ia berbisik:

“Terima kasih, Ayah dan Ibu. Kalian telah mengajarkan arti hidup bukan seberapa panjang, tapi seberapa bermakna.”
Langit cerah. Angin berhembus lembut, seperti bisikan cinta yang abadi.

CINTA berjalan
Hidup perkawinan memang hanya 20.000 hari,
tapi jika setiap harinya diisi dengan cinta, syukur, dan kesadaran,
maka satu kehidupan bisa jadi selamanya.
Karena waktu bukan tentang jumlah hari yang kita punya,
melainkan tentang seberapa dalam kita mencintai di setiap harinya.

Www.kris.or.id
Www.adharta.com

Cerita Anti Puspita Sari dalam rangkaian peristiwa yang mengguncang hati

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Jakarta
Awal Oktober 2025

Saya membaca dan harus meneteskan air mata
Kisah nyata yang penuh duka dan misteri.

Aku coba susun rangkaian cerita dengan harapan menghormati ingatan Anti dan rasa sakit keluarganya.

Kisah sedih
Anti Puspita Sari, 22 tahun, adalah nama yang kini terpatri di hati banyak orang, bukan karena ketenaran, melainkan karena nasibnya yang tragis.

Seorang wanita muda dari Plaju Darat, Palembang, yang baru saja menikah dengan Adi Rosadi. Rumah tangga mereka, menurut Adi, baik-baik saja.
Tak ada pertengkaran besar, tidak ada tanda-tanda masalah besar sampai hari itu datang berita seperti badai tiba-tiba.

Kisah kejadian
Masuk Hotel Hari itu
Pada Jumat, 10 Oktober 2025, sekitar pukul 16.00 WIB, Anti terlihat bersama seorang pria misterius memasuki Hotel Lendosis, di Jalan Perintis Kemerdekaan, Lawang Kidul, Kecamatan Ilir Timur II, Palembang.

Pria itu bukan suaminya. Mereka check-in ke kamar hotel.

Menurut keterangan CCTV,
Anti memakai jilbab merah jambu, baju warna hijau botol, rok biru. Pria yang menemaninya memakai sweater dan masker hitam.

Mereka berada di kamar sekitar dua jam. Sekitar pukul 18.00 WIB, sang pria meninggalkan kamar
mengunci dari dalam atau dari luar
Sebelum Anti ditemukan tewas hari berikutnya.

Penemuan Yang Menggetarkan Jiwa
Keesokan harinya, Sabtu siang, sekitar pukul 15.00, petugas hotel mencoba mengetuk kamar karena tamu belum juga keluar sampai batas waktu check-out.

Tidak ada respon.
Dengan kunci cadangan, pintu dibuka paksa.
Di dalam kamar ditemukan sosok Anti tergeletak tak bernyawa, kondisi yang sangat mengenaskan.

Tubuhnya ditemukan di atas kasur, tubuhnya diselimuti selimut, mulutnya tersumpal pakaian dalam. Tangan terikat menggunakan kain jilbab.
Ada luka-luka di wajah dan kepala.

Kondisi ini mengindikasikan bahwa sebelum kematiannya, Anti mengalami kekerasan fisik dan kemungkinan tindakan asusila.
Ada hubungan badan sebelumnya

Fakta Yang Menambah Kepedihan
Salah satu fakta yang paling membuat hati sesak:

Anti diketahui sedang hamil muda, memasuki trimester pertama. Pemeriksaan luar dokter forensik menemukan tanda-tanda kehamilan, termasuk di bagian tubuhnya.

Lebih memilukan lagi, sang suami, Adi Rosadi, kaget menerima kabar tragis itu. Menurut dia, sehari sebelumnya mereka sempat bercakap biasa
tidak ada pertengkaran. Anti bahkan sempat berpamitan untuk mengantarnya ke tempat kerja. Setelah itu, ia menghilang sebelum akhirnya ditemukan tewas.

Sebuah
Kehilangan, Luka, dan Harapan
Begitu berita duka ini sampai di rumah, suasana berubah drastis. Tangisan mendominasi. Anak mereka yang masih balita terus memanggil ibunya, menangis “Bunda… Bunda…”, tak memahami bahwa ibunya tak akan pulang.

Oposisi Cerdas
Adi, sang suami, mengalami kesedihan yang tak terperi.
Ia bahkan tidak kuat melihat jenazah istrinya ketika polisi melakukan ekshumasi.
Ia hanya mampu memantau dari jauh.

Motor dan handphone Anti juga tak ditemukan. Motor itu adalah satu-satunya kendaraan yang biasa dipakai Anti untuk bekerja sebagai driver ojek online dan juga untuk mengantar suaminya bekerja.

Kehilangan itu bukan hanya materi, tapi simbol dari kehidupan yang sudah mereka bangun bersama.

Penangkapan Pelaku dan Motif yang Diselidiki
Setelah beberapa hari penyelidikan, polisi berhasil menangkap pelaku pembunuhan Anti.

Ia diringkus di kawasan Muara Padang, Banyuasin, pada Rabu (15 Oktober 2025) malam.

Polisi menyelidiki motif yang mendorong tragedi ini.
Ada beberapa dugaan
motif hubungan gelap, ketidaksepakatan dalam kesepakatan open BO
(jika memang terjadi), kemungkinan pelaku merasa terancam oleh kehamilan Anti, pencurian sepeda motor, penganiayaan, serta tindakan asusila. Semua dugaan ini masih dalam tahap pemeriksaan.

Motif ini belum final, namun semakin memperjelas bahwa tindakan ini bukan kecelakaan; ini adalah kejahatan yang direncanakan atau setidaknya dipicu oleh niat

Suara Suami dan Keluarga
Adi Rosadi, di tengah kecamuk emosi, menyatakan bahwa ia telah berusaha mengikhlaskan, tapi rasa sakitnya masih sangat segar. Kata – katanya bergetar saat berbicara soal kehilangan istrinya.

Keluarga merasa dikhianati oleh situasi ini
Anti yang dikenal ramah, baik, dan tidak pernah membuat masalah. Ia bukan tipe orang yang ingin mengundang perhatian lewat hal-hal negatif. Namun akhirnya ia menjadi korban dari kekerasan yang begitu kejam.

Anak kecilnya yang masih balita terus menangis, memanggil ibunya. Keheningan malam tidak pernah bisa menggantikan suara lembut sang ibu, pelukan hangat yang kini hilang. Tangisan itu menjadi suara yang tak henti-hentinya menghantui Adi ketika sendiri, ketika pekerjaan selesai, ketika dia pulang ke rumah yang sekarang terasa kosong.

Kenangan yang Tak Terhapus
Sebelum tragedi ini, Anti adalah seorang istri, ibu yang mengandung — meskipun dalam usia muda — yang menjalani hari-hari biasa, bekerja, membantu suaminya, dan membina keluarga kecil mereka. Bahagia sederhana, harapan akan masa depan, mimpi kelas kecil yang semua orang punya. Ia punya anak, ada senyum di rumah, rutinitas yang mungkin lelah tapi penuh cinta. Sekarang, semuanya berubah.
Cinta yang dulu terasa aman, kini jadi pertanyaan besar: mengapa begitu banyak rahasia, begitu banyak bahaya yang tersembunyi? Di mana janji perlindungan ketika seseorang begitu rentan — hamil, perempuan, dalam kondisi butuh rasa aman?
Harapan untuk Keadilan
Keluarga Anti sekarang hanya satu: keadilan. Agar pelaku dihukum seadil-adilnya, agar motif yang sebenarnya terungkap, agar tindakan seperti ini tidak terulang kepada orang lain. Mereka berharap penyelidikan transparan, proses hukum berjalan jujur, dan masyarakat tidak menutup mata terhadap kekerasan terhadap perempuan.
Adi, ibunya Anti, dan semua kerabat berharap hukum dapat menjadi penghibur yang setidaknya sedikit meredakan luka. Bahwa kematian Anti tidak sia-sia; bahwa ada pelajaran dari tragedi ini. �
detiknews +2
Refleksi dan Kesedihan yang Terkekang
Kisah ini bukan hanya tentang satu nyawa yang hilang, tapi tentang seluruh kehidupan yang ikut terhapus: harapan yang belum sempat tercapai, tawa anak yang kini kehilangan bunda, malam-malam panjang Adi yang dipenuhi pertanyaan dan penyesalan.
Bagaimana Anti bisa berada dalam situasi itu? Adakah pilihan lain? Bisa kah masyarakat atau sistem melindungi orang-orang seperti dia lebih baik lagi? Apakah kita sudah cukup peka terhadap suara-suara kecil yang meminta pertolongan di balik sunyi?
Anti Puspita Sari kini telah tiada. Tapi kisahnya tetap hidup — di hati suaminya, anak-anaknya, dan dalam ingatan banyak orang yang mendengar.
Semoga keadilan datang untuk Anti. Semoga dia diampuni segala khilafnya, ditempatkan di tempat terbaik. Dan semoga keluarganya diberi kekuatan menahan semua ini: kehilangan, rasa duka, dan luka yang mungkin tak pernah benar-benar sembuh.

Dongji Rescue (2025)

Film Dongji Rescue (东极 TV岛) karya sutradara Guan Hu dan Fei Zhenxiang

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Jakarta
Rabu
15 Oktober 2025

Malam ini
Saya diajak bapak Lend
Bapak Dwi dan bapak Harling menonton film di Puri Lippo Mall

Film bagus durasi 2 setengah jam
Lumayan untuk di tonton

Kisah yang cukup menarik untuk saat ini

Bukan laut yang memilih
Tapi Manusia yang memilih untuk menolong

merupakan salah satu film sejarah paling menggugah dari perfilman Tiongkok tahun 2025. Mengambil inspirasi dari kisah nyata tragedi kapal Lisbon Maru yang tenggelam pada tahun 1942 di perairan Zhoushan, film ini tidak hanya mengangkat sisi kelam perang dunia, tetapi juga menyoroti kemanusiaan yang melampaui batas kebangsaan. Dibintangi oleh Zhu Yilong, Wu Lei, dan Ni Ni, Dongji Rescue berhasil memadukan kekuatan akting, sinematografi megah, dan nilai moral yang dalam menjadi sebuah tontonan yang menyentuh hati sekaligus membuka mata.
Sejak awal, film ini sudah memikat dengan pembukaan yang tenang namun mencekam. Adegan laut di perairan Dongji, dengan nelayan-nelayan sederhana yang hidup damai, kontras dengan berita tentang perang yang semakin dekat. Guan Hu, yang dikenal lewat karya-karya seperti The Eight Hundred (2020), kembali menunjukkan kepiawaiannya dalam menggambarkan skala besar tragedi perang tanpa kehilangan fokus pada kisah kemanusiaan di dalamnya.
Kisah berawal ketika kapal Lisbon Maru, yang membawa lebih dari 1.800 tawanan perang Inggris dan Sekutu, diserang dan tenggelam oleh kapal selam Amerika tanpa mengetahui bahwa di dalamnya ada tahanan.

Saat kapal itu karam, ratusan tawanan yang selamat terkatung-katung di laut. Nelayan-nelayan Tiongkok di kepulauan Dongji, yang kala itu hidup di bawah ancaman pendudukan Jepang, menemukan mereka dan dihadapkan pada pilihan sulit: menolong para tawanan musuh dengan risiko nyawa mereka sendiri, atau berpaling demi keselamatan desa mereka.
Zhu Yilong berperan sebagai Lin Zhenhai, seorang nelayan sekaligus kepala perahu yang bijak dan berhati besar. Lewat tatapan mata dan dialog yang hemat kata, Zhu berhasil memperlihatkan dilema moral yang luar biasa berat: antara ketakutan akan hukuman Jepang dan nurani kemanusiaan yang tak bisa dibungkam. Wu Lei tampil impresif sebagai putra Lin yang impulsif dan berani, mewakili semangat muda yang menolak tunduk pada ketidakadilan. Sementara itu, Ni Ni memerankan istrinya Lin Zhenhai yang tegar dan penuh empati, menjadi suara nurani yang memperkuat keputusan suaminya untuk menolong para tawanan.
Keunggulan utama Dongji Rescue terletak pada keseimbangan antara realisme sejarah dan sentuhan emosional yang kuat. Adegan penyelamatan di tengah badai laut digarap dengan intensitas tinggi: kamera bergerak lincah mengikuti ombak, hujan, dan jeritan manusia yang berjuang antara hidup dan mati. Namun di balik ketegangan itu, penonton disuguhkan pemandangan menggetarkan ketika nelayan-nelayan kecil tanpa senjata berusaha mengangkat tubuh asing yang hampir tenggelam — bukti nyata bahwa kemanusiaan tak mengenal warna bendera.
Guan Hu dan Fei Zhenxiang juga berhasil menghindari jebakan propaganda nasionalistik yang sering muncul dalam film bertema perang. Dongji Rescue tidak menonjolkan heroisme satu bangsa, melainkan memperlihatkan solidaritas manusia dalam penderitaan bersama. Narasi ini menjadi sangat relevan di masa kini, ketika dunia kembali menghadapi perpecahan dan konflik. Film ini mengingatkan bahwa keberanian sejati sering kali lahir bukan dari senjata atau pangkat, melainkan dari hati manusia yang rela menolong sesama, bahkan mereka yang disebut “musuh”.
Dari sisi teknis, sinematografi film ini patut diacungi jempol. Pengambilan gambar di kepulauan Zhoushan menampilkan keindahan alam laut Tiongkok Timur yang memukau sekaligus menegangkan. Warna-warna dingin dan pencahayaan alami memberi kesan dokumenter yang realistis. Musik latar garapan Chen Guang menambah lapisan emosional pada setiap adegan, terutama pada momen pengorbanan para nelayan ketika kapal Jepang datang memburu mereka.
Dialog film cenderung sederhana, bahkan minimalis, tetapi penuh makna. Misalnya ketika Lin Zhenhai berkata, “Laut tidak memilih siapa yang hidup atau mati — hanya manusia yang bisa memilih untuk menolong.” Kalimat ini menjadi inti pesan moral film: bahwa di tengah kekacauan perang, kemanusiaan adalah satu-satunya mercusuar yang layak diikuti.
Meski begitu, Dongji Rescue tidak sepenuhnya sempurna. Beberapa bagian tengah terasa agak lambat, terutama ketika film berusaha memperdalam latar belakang karakter nelayan dan kehidupan desa. Namun kekurangan ini tertutupi oleh klimaks yang menggugah emosi — sebuah adegan pengorbanan kolektif yang membuat banyak penonton meneteskan air mata.
Secara keseluruhan, Dongji Rescue bukan sekadar film perang, melainkan perayaan atas keberanian moral dan kasih sesama manusia. Guan Hu berhasil menciptakan karya yang menggetarkan jiwa, memadukan kekuatan sejarah dengan keindahan sinema modern. Film ini mengajarkan bahwa kemanusiaan bisa lahir bahkan di tengah kegelapan perang, dan bahwa kepahlawanan sejati sering datang dari mereka yang tak pernah disebut dalam buku sejarah.
Dengan akting gemilang, penyutradaraan kuat, dan pesan universal yang menyentuh, Dongji Rescue layak disebut sebagai salah satu film Tiongkok terbaik tahun 2025 — sebuah penghormatan kepada mereka yang berani memilih kebaikan ketika dunia dilanda kebencian.

Ayo nonton

Penguin

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Philip Island
5 Juli 2025

Menikmati malam dingin banget di laut selatan
Menatap Kutub Selatan

🐧 Kisah Asal Usul Penguin Kecil di Phillip Island Melbourne Australia

Phillip Island, yang terletak sekitar 140 km tenggara Melbourne, dikenal dunia karena satu hal luar biasa

Little Penguins (Eudyptula minor), spesies penguin terkecil di dunia. Tingginya hanya sekitar 33 cm dan beratnya sekitar 1 kg saja mungil, Lucu dan Lincah tapi sangat tangguh!
Mereka sudah memiliki rumah rumah di tepi laut pantai yang luas

Komunitas mereka dalam Penguin kingdom punya kisah tersendiri

🌊 Asal Usul dan Kehidupan

Little Penguins sudah hidup di sepanjang pesisir selatan Australia dan Selandia Baru selama jutaan tahun.

Di Phillip Island, mereka telah menempati wilayah ini sejak zaman prasejarah, ketika pulau ini masih terhubung ke daratan besar Australia. Mereka memilih pulau ini karena iklimnya yang sejuk, perairannya yang kaya ikan kecil, dan pesisir yang aman untuk membuat sarang.

🏠 Habitat dan Perilaku

Para penguin ini bersarang di liang-liang bawah tanah atau di bawah semak-semak. Mereka menghabiskan siang hari berburu ikan di lautan — bisa berenang hingga 60 km dalam sehari! Menjelang senja, mereka pulang bersama-sama dalam parade lucu nan menggemaskan ke daratan — inilah yang dikenal sebagai Penguin Parade.

📉 Ancaman dan Pelestarian

Pada awal abad ke-20, populasi mereka terancam karena:

Pembukaan lahan untuk perumahan

Serangan rubah dan anjing liar

Polusi laut dan jaring nelayan

Tapi untungnya, sejak tahun 1985, pemerintah Victoria membentuk Phillip Island Nature Parks dan memulai konservasi besar-besaran:

Menutup pemukiman di Summerland

Mengembalikan habitat alami

Melarang lampu dan suara keras saat parade

Mendidik wisatawan dan warga lokal

Kini, lebih dari 32.000 ekor penguin hidup di Phillip Island — salah satu koloni terbesar di dunia!

🌍 Arti Penting Global

Phillip Island tak hanya penting bagi Australia, tapi juga bagi dunia. Ini adalah:

Cermin perubahan iklim (karena penguin sangat sensitif terhadap suhu laut)

Contoh konservasi sukses antara manusia dan alam

Daya tarik wisata global yang mengangkat ekonomi lokal

✨ Penutup

Menonton parade penguin saat mereka berjuang melintasi pasir menuju sarangnya adalah pelajaran tentang keberanian, ketekunan, dan harmoni dengan alam. Meskipun kecil, mereka membuktikan bahwa kerja sama dan kesetiaan bisa mengalahkan kerasnya alam.

Salam hangat untuk tanah air 🌏🇮🇩

Semoga Dunia semakin baik atas epnyertaan kita

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Pergumulan Cinta

Cerpen 018

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Medio Oktober 2025

Kisah Cinta
Silvy, Roger, dan Dua Putri yang Tumbuh Tanpa Orang Tua

Silvy dan Sheny lahir kembar di sebuah kota kecil yang damai di pinggiran Surabaya. Sejak kecil, keduanya sudah dikenal cerdas dan rajin. Namun, di antara mereka, Silvy memiliki kepribadian yang lebih tenang dan penuh perhitungan. Ia menyukai dunia bisnis, angka, dan manajemen. Ketekunannya membawa ia menempuh pendidikan di bidang logistik dan transportasi, bidang yang kelak akan menjadi jalan hidupnya.
Seiring waktu, Silvy tumbuh menjadi wanita muda yang tangguh. Ia bukan hanya berparas manis, tapi juga memiliki daya juang yang tinggi. Ia memulai kariernya dari bawah—magang di perusahaan ekspedisi kecil—hingga akhirnya dipercaya memimpin sebuah perusahaan logistik besar. Di bawah kepemimpinannya, perusahaan itu berkembang pesat. Relasi bisnisnya luas, dan semua orang mengenal Silvy sebagai sosok profesional yang tegas namun tetap ramah.
Di tengah kesibukan karier, takdir mempertemukannya dengan seorang pria bernama Roger.
Roger adalah sosok yang menawan—wajah tampan, pembawaan hangat, dan selera humor yang tinggi. Ia bekerja di bidang keuangan, seseorang yang rajin, disiplin, dan penuh tanggung jawab. Dari pertemuan pertama, keduanya seperti saling melengkapi. Silvy yang serius menemukan kehangatan pada Roger yang periang, sementara Roger merasa tenang di sisi Silvy yang dewasa dan penuh kasih.
Mereka menjalin hubungan yang manis. Setiap akhir pekan, Roger selalu menjemput Silvy untuk makan malam sederhana, terkadang hanya di warung bakmi langganan mereka. Dari sanalah kisah cinta mereka tumbuh, hingga akhirnya Roger melamar Silvy dengan cara yang sederhana namun tulus—di bawah rintik hujan di depan rumah Silvy.
Mereka menikah dalam sebuah pesta yang indah, dihadiri keluarga, teman-teman, dan rekan kerja. Semua orang mendoakan agar rumah tangga mereka langgeng, penuh cinta, dan bahagia.
Awal pernikahan terasa seperti mimpi. Roger penuh perhatian, Silvy selalu mendukung karier suaminya. Mereka membeli rumah mungil di kawasan Bintaro, mengisinya dengan tawa dan impian masa depan.
Tahun pertama berjalan dengan penuh kebahagiaan. Lalu kabar baik datang: Silvy hamil anak pertama.
Tangis haru Roger pecah saat mengetahui mereka akan memiliki bayi perempuan.
Sembilan bulan kemudian lahirlah seorang bayi cantik yang mereka beri nama Michelin—nama yang terinspirasi dari kekuatan dan keteguhan. Dua tahun setelah itu, lahirlah adiknya, Miranda, gadis mungil yang lucu dengan mata bulat seperti ibunya.
Rumah mereka pun semakin hidup. Setiap pagi Roger menyuapi anak-anak sambil bercanda, sementara Silvy menyiapkan sarapan. Di malam hari, keluarga kecil itu selalu makan bersama, diiringi cerita hari-hari mereka yang penuh warna.
Namun, seperti pepatah lama: tidak ada rumah tangga yang selalu mulus.
Perlahan, badai kecil mulai datang.
Kesibukan Silvy di dunia bisnis membuatnya sering pulang larut malam. Roger yang juga sibuk dengan pekerjaannya mulai merasa kesepian. Komunikasi di antara mereka menurun. Percakapan hangat berubah menjadi perdebatan. Roger merasa Silvy terlalu fokus pada pekerjaan; Silvy merasa Roger tidak memahami ambisi dan tanggung jawabnya.
Awalnya mereka mencoba memperbaiki. Mereka pergi liburan bersama anak-anak ke Bali, berharap dapat menyalakan kembali kehangatan yang dulu pernah ada. Tapi sepulang dari sana, kenyataan tetap sama. Perbedaan mereka semakin terasa. Roger menginginkan istri yang lebih hadir di rumah, sementara Silvy merasa ia bekerja justru demi masa depan keluarga.
Pertengkaran kecil sering terjadi.
Terkadang hanya karena hal sepele: siapa yang menjemput anak, siapa yang lupa membayar tagihan, atau siapa yang lupa ulang tahun pernikahan. Tapi dari hal-hal kecil itulah luka mulai terbentuk.
Hingga akhirnya, keputusan yang paling berat pun diambil—perceraian.
Sidang di pengadilan berlangsung sunyi. Roger menunduk, Silvy berusaha tegar. Tak ada kata saling menyalahkan, hanya air mata yang menetes diam-diam. Mereka berpisah dengan rasa kehilangan yang dalam, tapi juga dengan harapan agar anak-anak tetap bahagia.
Michelin dan Miranda saat itu masih kecil. Mereka tidak sepenuhnya mengerti apa arti perceraian, hanya tahu bahwa “Papa tidak tinggal di rumah lagi.” Namun cinta Roger dan Silvy kepada anak-anak mereka tidak pernah pudar. Meski terpisah, keduanya tetap berusaha hadir dalam hidup kedua putri itu.
Sayangnya, takdir berkata lain.
Setahun setelah perceraian, Roger jatuh sakit. Dokter mendiagnosisnya dengan penyakit kritis yang tak bisa disembuhkan. Selama beberapa bulan, ia berjuang melawan penyakit itu. Dalam masa-masa terakhirnya, Roger sering menatap foto kedua anaknya sambil berbisik lirih,
“Papa sayang kalian… selalu.”
Ketika Roger akhirnya berpulang, dunia seakan runtuh bagi Silvy. Meskipun mereka sudah berpisah, ia masih menyimpan cinta yang dalam. Ia hadir di pemakaman dengan air mata yang tak tertahan, menatap makam Roger sambil berdoa, “Terima kasih… sudah pernah mencintaiku.”
Kehidupan terus berjalan. Silvy membesarkan Michelin dan Miranda sendirian. Ia berusaha kuat, menjadi ibu sekaligus ayah. Ia bekerja keras demi pendidikan mereka, menahan lelah dan sepi di malam hari. Namun empat tahun kemudian, cobaan kembali datang. Silvy terdiagnosis kanker.
Ia berjuang dengan penuh keberanian, menjalani kemoterapi dan tetap berusaha tersenyum di depan anak-anaknya. Tapi tubuhnya semakin lemah. Dalam hari-hari terakhirnya, Silvy memanggil Michelin dan Miranda, menggenggam tangan mereka erat.
“Anak-anakku… jangan takut. Mama akan selalu ada di hati kalian. Jadilah orang baik, ya… bukan hanya pintar, tapi juga penuh kasih.”
Beberapa minggu kemudian, Silvy meninggal dunia.
Michelin berusia 14 tahun, Miranda baru 12 tahun. Dunia mereka kembali hampa.
Kedua gadis itu diasuh oleh keluarga besar Silvy. Mereka tumbuh dengan rindu yang tak pernah padam. Setiap kali melihat langit malam, mereka teringat pada ayah dan ibu mereka—dua bintang yang kini bersinar di atas sana.
Waktu berlalu. Michelin tumbuh menjadi wanita dewasa yang cantik dan berpendirian kuat, mirip ibunya. Ia menyelesaikan kuliah dan bekerja di bidang manajemen logistik—bidang yang sama dengan mendiang ibunya. Di kantor, semua mengenalnya sebagai sosok yang profesional namun rendah hati.
Sementara Miranda, yang lebih lembut dan sensitif, memilih dunia seni. Ia menjadi ilustrator, melukis kenangan masa kecilnya bersama keluarga dalam warna-warna hangat.
Di usia 22 tahun, Michelin bertemu dengan Willy, seorang pria baik hati yang sederhana namun memiliki semangat hidup tinggi. Mereka jatuh cinta bukan karena kemewahan, tapi karena kesamaan hati.
Willy tahu kisah masa lalu Michelin. Ia tahu betapa keras hidup yang telah dijalani gadis itu. Maka ketika ia melamar Michelin, ia berjanji: “Aku tidak bisa menggantikan ayahmu, tapi aku akan mencintaimu seumur hidupku seperti ibumu dulu mencintai ayahmu.”
Pernikahan mereka berlangsung sederhana namun penuh haru.
Saat berjalan di altar, Michelin menatap kursi kosong di barisan depan. Di sanalah seharusnya ayah dan ibunya duduk. Tapi di dalam hatinya, ia tahu mereka hadir. Ia bisa merasakan kehangatan itu, meski hanya dalam bisikan angin.
Beberapa tahun kemudian, Michelin dan Willy dikaruniai seorang putri cantik yang mereka beri nama Kelly.
Kelly tumbuh menjadi gadis ceria, matanya bening seperti ibunya, senyumnya manis seperti kakeknya.
Melihat Kelly tumbuh sehat dan bahagia membuat Michelin sering menangis diam-diam di malam hari. Ia memeluk putrinya sambil berbisik,
“Kelly… kamu tahu? Dulu nenekmu perempuan luar biasa. Kamu harus bangga padanya.”
Miranda sering datang berkunjung. Dua kakak beradik itu selalu bernostalgia tentang masa kecil mereka—tentang tawa Papa yang hangat, tentang Mama yang kuat. Kadang mereka tertawa, kadang menitikkan air mata. Tapi mereka selalu yakin, cinta orang tua mereka tak pernah pergi.
Kini, rumah tangga Michelin dan Willy berjalan damai. Mereka belajar dari masa lalu—bahwa cinta bukan hanya tentang kebersamaan, tapi juga tentang pengertian dan kesetiaan. Bahwa rumah tangga tidak selalu mulus, tapi selalu bisa diperjuangkan jika dua hati saling percaya.
Dan di suatu sore, ketika matahari terbenam, Michelin duduk di beranda sambil menatap langit jingga.
Di sampingnya, Kelly bermain boneka, sementara Willy menyiapkan teh.
Angin berhembus pelan, membawa aroma nostalgia.
Dalam hati, Michelin berbisik:
“Papa, Mama… kami baik-baik saja sekarang. Kalian boleh tenang di sana.”
Senyum hangat mengembang di wajahnya. Hidup mungkin telah merenggut banyak hal, tapi juga memberi kesempatan untuk mencintai lagi.
Dan bagi Michelin, cinta itu kini hadir dalam bentuk keluarga kecilnya—tempat di mana kenangan lama berpadu dengan harapan baru.