UNA SPESUNA VIA

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

17 Agustus 2025

Merdeka
Selamat dan Bahagia

Bagi seluruh saudara sebangsa dan setanah air Indonesia

Kemerdekaan Republik Indonesia

Saudara
saudara sebangsa dan setanah air,

Hari ini kita berdiri di sebuah momentum yang sangat berharga. Delapan puluh tahun yang lalu, para pendiri bangsa dengan keberanian dan tekad yang tak tergoyahkan, memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia.

Sebuah peristiwa monumental yang lahir bukan dari hadiah, melainkan dari perjuangan panjang, darah, air mata, dan pengorbanan tanpa pamrih.

Kini, delapan dasawarsa kemudian, tugas kita bukan lagi merebut kemerdekaan, melainkan mengisi kemerdekaan
Dan Mempertahankanya dengan semangat jiwa dan raga.

Pertanyaannya
sudahkah kita benar-benar merdeka dalam arti yang sesungguhnya?

Merdeka bukan sekadar terbebas dari penjajahan fisik, tetapi juga merdeka dalam pikiran, sehat jasmani dan rohani, berdaulat dalam ekonomi, berkarakter dalam pendidikan, kokoh dalam budaya, harmonis dalam hubungan antarbangsa, serta stabil dalam politik dan keamanan.

Sebagai Ketua Umum KRIS, izinkan saya mengajak seluruh Anggota KRIS keluarga besar dan seluruh Sahabat

Baiklah saya memaparkan beberapa pemikiran strategis dalam menyambut HUT ke-80 Republik Indonesia, dengan enam bidang penting yang menjadi pijakan kita bersama.

Pertama

Bidang Kesehatan Sehat Lahir Batin, Sehat Bangsa

Apapun kondisi bangsa ini, satu hal yang harus kita pegang teguh
Negara hanya bisa kuat bila rakyatnya sehat.
Sehat lahir berarti tubuh yang terjaga, gizi yang cukup, akses layanan kesehatan yang merata dari Sabang sampai Merauke.

Tetapi ada yang tak kalah penting: sehat batin.

Jika rakyat mengalami tekanan batin, stres sosial, atau kehilangan arah spiritual, maka bangsa ini akan rapuh.
Lebih berbahaya lagi bila yang tidak sehat itu adalah pikiran. Pikiran yang sakit bisa melahirkan korupsi, intoleransi, perpecahan, bahkan pengkhianatan terhadap bangsa.

Maka, pembangunan kesehatan tidak boleh semata-mata urusan rumah sakit atau obat-obatan. Kita harus membangun sistem kesehatan preventif, memperkuat gaya hidup sehat, menyediakan ruang olahraga yang murah dan mudah diakses, menguatkan pola makan bergizi berbasis kearifan lokal, dan tentu saja layanan kesehatan modern yang adil untuk semua.

Di usia 80 tahun kemerdekaan ini, marilah kita wujudkan bangsa yang sehat jasmani, sehat rohani, sehat pikiran, dan sehat sosial.

Kedua
Bidang Pendidikan Mendidik Tanpa Celah

Pendidikan adalah fondasi utama peradaban. Sejarah membuktikan: bangsa yang kuat bukan hanya karena kekayaan alam, tetapi karena kekuatan manusianya.

Oleh karena itu, pendidikan harus diperhatikan secara menyeluruh. Dari taman kanak-kanak hingga universitas, tidak boleh ada satu jenjang pun yang lolos dari pengaturan yang baik dan berkeadilan.

TK adalah tempat menanamkan karakter
SD dan SMP adalah tempat menumbuhkan logika dasar dan moral.
SMA menajamkan pilihan hidup Universitas membentuk pemimpin masa depan.

Semua jenjang harus bersinergi, bukan terputus.

Namun kita sering melihat masalah: kesenjangan kualitas antara sekolah di kota besar dan pelosok, pendidikan yang terlalu menekankan hafalan tanpa kreativitas, serta beban biaya yang masih menghantui banyak keluarga.

Maka, pada usia kemerdekaan ke-80 ini, kita harus memperjuangkan pendidikan
yang:

  1. Merata tidak ada anak Indonesia yang tertinggal hanya karena lahir di daerah terpencil.
  2. Berkualitas guru diberdayakan, kurikulum disesuaikan dengan kebutuhan zaman.
  3. Berkarakter bukan hanya pintar, tetapi juga bermoral dan berjiwa gotong royong.
  4. Terjangkau tidak ada anak yang putus sekolah karena biaya.

Sebab hanya dengan pendidikan yang benar, kita bisa melahirkan generasi emas Indonesia 2045.

Ketiga
Bidang Ekonomi dan Perdagangan Membangun Kekuatan dan Daya Saing

Ekonomi adalah nadi kehidupan bangsa.
Tanpa ekonomi yang kuat, kedaulatan politik pun rapuh.

Hari ini kita menghadapi tantangan global persaingan perdagangan bebas, revolusi digital, krisis energi, dan dinamika geopolitik dunia. Jika kita tidak siap, kita hanya akan menjadi pasar, bukan pemain.

Karena itu, ekonomi Indonesia harus dibangun atas tiga pilar:

  1. Kemandirian berdiri di atas kaki sendiri, dengan mengolah sumber daya alam secara bijak. Jangan hanya mengekspor bahan mentah, tetapi tingkatkan nilai tambah melalui industri dalam negeri.
  2. Daya Saing produk Indonesia harus mampu bersaing di pasar internasionalIni butuh inovasi, riset, dan kualitas SDM yang mumpuni.
  3. Keadilan Ekonomi pembangunan tidak boleh hanya menguntungkan segelintir orang. UMKM, koperasi, petani, dan nelayan harus mendapat dukungan yang nyata.

Dengan ekonomi yang kuat dan perdagangan yang berdaya saing, Indonesia akan benar-benar menjadi macan Asia bukan sekadar karena jumlah penduduk, tetapi karena kekuatan produksi dan inovasinya.

Keempat
Bidang Sosial, Budaya, dan Spiritualitas Membangun Jati Diri Bangsa

Indonesia adalah bangsa yang besar karena keberagaman sosial dan budaya. Dari Sabang sampai Merauke, ribuan bahasa, tradisi, tarian, dan kearifan lokal hidup berdampingan. Namun di tengah globalisasi, kita menghadapi tantangan besar luntur identitas.

Kita tidak boleh kehilangan jati diri.
Gotong royong harus tetap menjadi roh bangsa. Tatakrama dan sopan santun harus dijaga, bukan tergilas oleh budaya instan.

Selain itu, spiritualitas dan kehidupan beragama juga memegang peran penting. Kita bangsa yang religius, yang percaya bahwa kekuatan bangsa bukan hanya pada otot dan pikiran, tetapi juga pada doa. Maka kerukunan antarumat beragama adalah harga mati.
Tidak boleh ada permusuhan atas nama agama.

Kebudayaan yang kuat, sopan santun yang dijaga, serta spiritualitas yang terpelihara akan menjadi pondasi moral bangsa menuju kejayaan.

Kelima
Hubungan Antarbangsa Rukun di Dalam, Bermartabat di Luar

Delapan puluh tahun merdeka mengajarkan kita satu hal: kerukunan adalah modal dasar kebangsaan. Tanpa kerukunan, kita mudah dipecah belah.

Kerukunan tidak hanya antar suku dan agama, tetapi juga kerukunan sosial, politik, dan antar generasi. Jika kita rukun, maka kita kokoh.

Di kancah internasional, Indonesia harus tampil sebagai bangsa yang bermartabat dan berdaulat. Politik luar negeri kita adalah bebas aktif, yang artinya kita tidak tunduk pada blok tertentu, melainkan berdiri tegak untuk kepentingan bangsa sendiri, sekaligus menjadi jembatan perdamaian dunia.

Kita harus memperkuat diplomasi ekonomi, mempererat hubungan bilateral dan multilateral, serta memastikan bahwa kepentingan rakyat Indonesia selalu menjadi prioritas utama dalam setiap kerja sama internasional.

Keenam
Politik dan Keamanan Menjaga Stabilitas, Memastikan Keberlanjutan

Politik dan keamanan adalah penopang seluruh pembangunan. Tanpa stabilitas politik, ekonomi lumpuh.
Tanpa keamanan, rakyat hidup dalam ketakutan.

Kita membutuhkan politik yang sehat, bukan politik yang penuh intrik. Demokrasi harus dijalankan dengan kesantunan, bukan dengan saling menjatuhkan. Partai politik harus menjadi wadah pendidikan politik, bukan sekadar kendaraan kekuasaan.

Dalam hal keamanan, Indonesia menghadapi tantangan baru
ancaman terorisme, kejahatan siber, konflik perbatasan, hingga bencana alam.
Semua ini harus diantisipasi dengan sistem pertahanan yang kuat, profesional, dan modern.

Namun ingat, keamanan tidak hanya tanggung jawab TNI-Polri. Rakyat yang bersatu adalah benteng keamanan bangsa yang paling kokoh.

Marilah
Menuju 100 Tahun Indonesia Merdeka

Saudara Saudara sebangsa dan setanah air,

Kini kita berdiri di persimpangan sejarah.

Delapan puluh tahun bukan usia yang muda, tetapi juga belum tua.

Kita masih punya ruang besar untuk tumbuh, berkembang, dan melompat maju.

Mari kita jadikan HUT ke-80 ini sebagai momentum untuk menyucikan niat, memperbaiki arah, dan memperkuat langkah. Jika enam bidang tadi kita perhatikan dengan sungguh-sungguhKesehatan, Pendidikan, Ekonomi, Sosial-Budaya dan Spiritualitas, Hubungan Antarbangsa, serta Politik dan Keamana
maka saya yakin, seratus tahun Indonesia merdeka di tahun 2045, bangsa ini akan benar-benar berdiri sebagai bangsa besar, bermartabat, dan menjadi teladan dunia.

Merdeka!

Adharta
Ketua Umum
KRIS

Www.kris.or.id

Www.adharta.com Menyambut hari kemerdekaan RI ke 80

Alor Negeri di Ujung Timur yang Menyanyi di Hati”

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Jakarta
Selasa
12 Agustus 2025

Alor
Mutiara dari Timur

Kalau kau berdiri di tepian Teluk Kalabahi pada pagi hari, engkau akan mengerti mengapa Alor disebut mutiara ari Timur

Nusa Tenggara Timur.
Airnya yang biru, bening seperti kaca, memantulkan langit yang masih malu-malu berwarna jingga. Perahu-perahu nelayan bergerak pelan, seolah tak ingin membangunkan laut yang masih tidur.

Di kejauhan, bukit-bukit hijau memeluk kota kecil ini dengan kasih yang diam-diam tapi hangat.

Di sinilah aku lahir di Pulau Alor, tepatnya di Kota Kalabahi. Kota kecil yang menjadi jantung dari kabupaten yang cantiknya seperti lukisan, tapi berdenyut dengan kehidupan sederhana. Orang menyebut Kalabahi sebagai kota kenari, kota kemiri, kota vanila.

Sebutan itu bukan sekadar hiasan kata; sejak dulu, tanah Alor menumbuhkan pohon-pohon kenari yang kokoh, kemiri yang harum, dan vanila yang manis aromanya.

Bagi anak-anak Kalabahi, aroma kemiri yang sedang disangrai bukan hanya pertanda ada yang sedang membuat sambal, tapi juga aroma rumah sesuatu yang membuat hati pulang, meskipun kau sudah pergi jauh.

Mangga Kelapa Alor

Tapi kalau kau tanya orang dari luar, mungkin mereka akan langsung bicara tentang mangga kelapa Alor.

Namanya saja sudah unik, tapi rasanya… ah, rasanya adalah perpaduan manis dan segar yang membuatmu ingin memakannya di bawah pohon sambil memandang laut. Daging buahnya tebal, bijinya kecil, dan aromanya khas. Konon, siapa pun yang pernah mencicipinya akan selalu merindukan Alor, entah dia sadar atau tidak.

Di pasar Kalabahi, saat musim mangga tiba, bau harum mangga kelapa bercampur dengan aroma laut dari ikan-ikan segar yang baru diangkat.

Semua orang saling menyapa, bercanda, menawar harga, dan saling bertukar kabar. Pasar bukan sekadar tempat belanja ia adalah ruang di mana cerita dan tawa beredar seperti angin.

Lumba-Lumba di Laut Alor

Alor bukan hanya indah di darat; lautnya adalah dunia lain yang penuh kejutan.

Pernah suatu pagi, aku diajak paman naik perahu menuju perairan yang katanya sering dilewati lumba-lumba. Matahari baru setengah naik, air laut masih tenang, dan angin membawa aroma garam yang segar.

Tak lama, dari kejauhan, muncul gerombolan lumba-lumba. Mereka melompat-lompat seperti sedang bermain kejar-kejaran dengan ombak. Tubuh mereka berkilau terkena sinar matahari, dan suaranya seperti tawa yang datang dari laut.

Melihat lumba-lumba di Alor bukan hal yang langka, tapi setiap kali melihatnya, hatiku selalu berdebar seperti pertama kali.

Kijang Kencana dan Paus yang Bernyanyi

Kalau lumba-lumba adalah para penari ceria laut Alor, maka Kijang Kencana adalah tamu istimewanya. Ikan ini, dengan tubuh ramping dan gerakan cepat, sering muncul di perairan tertentu. Orang lokal mengenalnya dengan baik, seakan-akan ia adalah bagian dari keluarga besar yang sesekali pulang berkunjung.

Namun, ada satu pengalaman yang tak semua orang bisa dapatkan: mendengar paus bernyanyi.

Pernah, saat ikut rombongan nelayan jauh ke tengah laut, kami bertemu paus. Tubuhnya raksasa, tapi gerakannya lembut, seperti ombak besar yang hidup. Dan kemudian, terdengar suara rendah yang dalam nyanyian paus.

Bunyi itu merambat melalui air dan entah bagaimana terasa sampai ke dada. Rasanya seperti sedang mendengarkan rahasia tua dari samudera.

Alor yang Cantik

Kecantikan Alor bukan hanya pada lautnya. Gunung dan bukit yang hijau mengelilingi kota, jalan-jalan kecil yang menanjak dan berliku memberi pemandangan ke teluk yang selalu berubah warna tergantung cahaya matahari. Rumah-rumah berjejer rapi, sebagian dengan atap seng yang berkilau di bawah matahari tropis.

Di desa-desa, sawah dan kebun berpadu dengan hutan. Pohon kelapa berdiri berderet, memberi bayangan di tengah panas siang.

Di beberapa tempat, pohon kenari yang sudah puluhan tahun berdiri kokoh, menjadi saksi perjalanan generasi demi generasi.

Orang-orang Alor ramah dan terbuka. Mereka tidak pernah pelit senyum, dan selalu siap membantu meski hanya kenal sebentar. Budaya saling sapa begitu kuat di sini. Bahkan jika bertemu orang asing di jalan, sapaan “Selamat pagi” atau “Mau ke mana?” hampir pasti terdengar.

Kalabahi, Kota Kecil yang Menghangatkan

Kalabahi memang kecil, tapi setiap sudutnya menyimpan cerita. Dari dermaga lama tempat anak-anak memancing, hingga jalan-jalan sempit yang dipenuhi warung makan sederhana. Di malam hari, angin laut membawa suara obrolan dari warung kopi.

Kota ini punya ritme hidup yang tenang. Tidak ada kemacetan panjang, tidak ada suara bising kota besar. Tapi jangan salah, di balik ketenangannya, Kalabahi menyimpan semangat hidup yang kuat. Orang-orang bekerja keras di ladang, di laut, atau di pasar, tapi selalu punya waktu untuk berkumpul bersama keluarga.

Kenangan Masa Kecil

Sebagai anak yang lahir di Kalabahi, masa kecilku diisi dengan berlari di tepi pantai, memanjat pohon mangga kelapa, dan membantu nenek menjemur biji kemiri di halaman. Aku ingat bagaimana kami anak-anak sering mandi di laut sampai kulit terbakar matahari, lalu pulang dengan rambut basah dan perut lapar.

Malam hari, listrik belum selalu menyala sepanjang waktu, jadi kami sering duduk di luar rumah, memandangi langit yang dipenuhi bintang. Di Alor, bintang terasa begitu dekat, seakan-akan kau bisa meraihnya dengan tangan. Kadang ayah bercerita tentang sejarah pulau ini, tentang kapal-kapal dari jauh yang pernah singgah, dan tentang adat istiadat yang dijaga turun-temurun.

Budaya yang Hidup

Alor juga dikenal dengan keberagaman budayanya. Ada puluhan bahasa daerah di sini, masing-masing dengan ciri khasnya. Musik dan tarian tradisional sering dipertunjukkan saat acara adat atau penyambutan tamu. Bunyi gong dan gendang, gerakan kaki yang teratur, dan senyum para penari membuat suasana terasa hangat.

Tenun ikat Alor adalah salah satu kebanggaan terbesar. Kainnya berwarna cerah, motifnya penuh makna. Setiap tenunan menceritakan kisah tentang leluhur, alam, dan kehidupan. Aku pernah melihat nenek-nenek duduk berjam-jam di bawah pohon, menganyam benang demi benang dengan sabar, seakan waktu berhenti mengikuti ritme tangan mereka.

Pulau yang Mengajarkan Arti Pulang

Ingat lagu
Mai faliye
Atau
Mama panggil pulang

Bagi sebagian orang, Alor mungkin hanya destinasi wisata indah dengan laut yang memukau. Tapi bagi aku, ia adalah rumah. Tempat yang membentukku, mengajariku arti sederhana dari kebahagiaan: udara segar, makanan yang tumbuh di tanah sendiri, laut yang selalu terbuka, dan orang-orang yang menjaga satu sama lain.

Meski aku kini tak selalu tinggal di sana, setiap kali menyebut kata “Alor”, ada kehangatan yang mengalir. Seperti angin laut yang bertiup pelan di sore hari, membawa aroma kemiri, kenari, dan vanila. Seperti rasa manis mangga kelapa yang membuat lidah tersenyum. Seperti nyanyian paus yang entah mengapa membuat hati terasa damai.

Alor adalah cerita yang tak pernah selesai.
Ia terus bercerita lewat ombak, lewat tanahnya yang subur, lewat senyum orang-orangnya, dan lewat kenangan masa kecil yang tak pernah pudar. Dan setiap kali aku menutup mata, aku bisa melihat Kalabahi di kejauhan — kota kecil yang memelukku sejak lahir, kota yang akan selalu kucintai sampai kapan pun.

Ditulia ulang oleh
Adharta

Ketua dewan Pembina IKO
Ikatan Keluarga Ombai

Buat semua keluarga ALOR
Sahabat pecinta alam

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Janji di Bawah Langit Senja

Cerpen 003

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Jakarta
Jumat
8 Agustus 2025

Tulisan buat semua sahabatku
Keluarga besar KRIS
Dan para warga Wulan
Dan semua sahabat

Sebuah Pertemuan

Hujan baru saja reda sore itu. Jalanan desa masih basah, menyisakan aroma tanah yang khas. Sumiati berjalan pelan di pinggir jalan, menenteng tas kain berisi buku.
Rambut hitamnya yang diikat sederhana sedikit terurai karena angin. Hari itu ia baru saja menerima kabar kelulusan SMA
sebuah pencapaian yang ia syukuri meski tanpa pesta.

Ia melewati tikungan dekat balai desa, lalu berhenti ketika melihat seorang pemuda berkulit legam memanggul sak semen. Tubuhnya tegap, baju lusuh, wajahnya basah oleh peluh. Meski tampak lelah, matanya teduh dan senyumnya ramah. Saat Sumiati lewat, tiba-tiba sebuah buku jatuh dari tasnya.

“Permisi, Neng… ini bukunya,” ucap pemuda itu sambil membungkuk, mengulurkan buku tipis bersampul senja.

Sumiati mengangguk, sedikit kikuk. “Makasih, Mas.”

“Nama saya Haryo. Kerja di proyek dekat sini,” ujarnya.

“Saya Sumiati,” jawabnya singkat.

Itu awal dari serangkaian pertemuan yang tak direncanakan. Kadang di warung kopi, kadang di halte bus.

Haryo tak banyak bicara, tapi setiap kalimatnya terasa tulus. Ia bercerita tentang rumah-rumah yang ia bangun, tentang mimpinya punya tempat tinggal sendiri, dan tentang keyakinannya bahwa kerja keras tak pernah mengkhianati hasil.

Sebuah Awal Cinta

Suatu sore, langit desa berubah jingga. Mereka duduk di pematang sawah, memandangi matahari yang perlahan tenggelam.

“Aku nggak punya banyak, Mi,” kata Haryo sambil memegang topi lusuhnya.
“Tapi kalau kamu mau, aku janji bakal bikin kamu bahagia sebisaku.”

Sumiati menatapnya, bibirnya tersenyum kecil. “Aku nggak butuh banyak, Mas.
Aku cuma butuh orang yang sayang sama aku, tulus.”

Mereka resmi berpacaran. Tak ada makan malam mewah, hanya pisang goreng hangat di teras rumah sambil tertawa menceritakan hal-hal kecil.

Dua tahun kemudian, mereka menikah dalam pesta sederhana di halaman rumah. Kursi pinjaman, tenda seadanya, tapi tawa tamu dan cahaya mata mereka membuat segalanya terasa mewah.

Perjuangan tulus

Mereka memulai rumah tangga di kontrakan kecil berlantai semen. Atap seng berisik jika hujan, tapi di situlah mereka menata mimpi.

Suatu malam, sambil makan tempe goreng dan sambal terasi, Sumiati berkata pelan, “Mas… aku pengen kuliah. Ambil administrasi pemerintahan.”

Haryo mengangkat kepalanya. “Kuliah? Uangnya cukup nggak?”

“Nggak tahu. Tapi aku pengen nyoba. Siapa tahu nanti aku bisa bantu ekonomi kita.”

Haryo terdiam sebentar, lalu tersenyum. “Kalau itu mimpimu, aku akan kerja lebih keras. Biar kamu kuliah, Mi.”

Ia menepati janji. Haryo mengambil lembur, pulang larut malam, tangan melepuh, punggung pegal. Namun, setiap kali melihat Sumiati belajar di meja kecil, ia merasa lelahnya hilang.

Seringkali, Haryo menjemput Sumiati di halte kampus dengan motor tuanya. Kadang mereka mampir makan bakso di pinggir jalan, kadang hanya pulang sambil bercanda.

Empat tahun berlalu, Sumiati lulus sarjana. Hari wisuda, Haryo datang dengan kemeja putih pudar.
Ia duduk di kursi paling belakang, memotret istrinya dengan ponsel jadul. Senyumnya lebar, matanya berkaca-kaca.

Langkah Perubahan

Beberapa bulan setelah lulus, Sumiati mendaftar CPNS. Prosesnya panjang, tapi akhirnya ia lolos.

Hari pertama masuk kantor, ia mengenakan seragam PNS berwarna cokelat muda. Cermin memantulkan wajahnya yang penuh percaya diri.

Kantor itu dunia yang berbeda. Rekan-rekannya anak pejabat, lulusan universitas ternama, terbiasa berbicara tentang liburan ke luar negeri. Awalnya Sumiati hanya mendengar, tapi perlahan ia terbawa.

Dua tahun berlalu, ekonomi keluarga membaik. Mereka pindah ke kontrakan yang lebih besar. Namun, di hati Sumiati, ada sesuatu yang berubah.

Suatu sore, saat Haryo menjemput di kantor dengan baju lusuh, teman kerjanya bertanya, “Suamimu kerja di mana?”

“Kontraktor,” jawab Sumiati singkat, menyembunyikan kenyataan bahwa Haryo hanyalah buruh harian
Kuli bangunan
Pekerja kasar

Gelas itu Retak

Di rumah, Sumiati mulai sering berkata, “Mas, coba cari kerja lain.
Jadi satpam kek, atau di gudang. Biar rapi dikit.”

Haryo menggeleng. “Aku suka bangunan.
Dari nol sampai jadi rumah, itu kepuasan buat aku.”

Pertengkaran mulai sering terjadi.

Suatu malam, di tengah suara hujan deras, Sumiati berkata dengan nada tinggi,
“Aku capek, Mas! Aku kerja ketemu orang-orang hebat, pulang malah begini. Kamu nggak mau berubah!”

Haryo menatapnya lama. “Mi… aku kerja kayak gini supaya kamu bisa sekolah. Supaya kamu bisa jadi seperti sekarang. Aku nggak pernah malu sama kamu. Tapi kalau kamu malu sama aku…” ia tak melanjutkan kalimatnya.

Bayangan Bahagia yang Singkat

Beberapa bulan kemudian, Sumiati hamil. Kelahiran bayi perempuan mereka membawa tawa baru. Malam-malam diisi suara tangis bayi, aroma bubur hangat, dan canda kecil.

Namun, setelah cuti melahirkan, Sumiati kembali ke kantor. Lingkungan yang sama membuat perasaan gengsinya tumbuh lagi.

Akhir Perpisahan

Suatu sore yang dingin, setelah pertengkaran panjang, Sumiati berkata lirih tapi tegas, “Mas… aku mau cerai.”

Haryo menatapnya lama, matanya merah.
Ia tak bertanya alasan. “Kalau itu bikin kamu bahagia, aku terima.”

Di ruang sidang, mereka duduk berseberangan. Tangan Sumiati gemetar saat menandatangani berkas. Haryo bangkit, berjalan keluar tanpa menoleh.

Epilog

Beberapa bulan kemudian, Sumiati mendengar kabar Haryo pindah ke luar kota, bekerja sebagai mandor di proyek besar. Teman lama mengirim foto: Haryo tersenyum di depan rumah kecil yang ia bangun sendiri.

Malam itu, Sumiati duduk di teras, memandangi langit senja.
Ia teringat janji Haryo dulu, di pematang sawah: “Aku janji bakal bikin kamu bahagia, sebisaku.”

Air matanya jatuh. Baru kali ini ia sadar: kebahagiaan sejati tak selalu datang dari status atau pakaian rapi. Kadang ia datang dari tangan yang kotor oleh kerja keras, dan hati yang bersih oleh cinta.

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Singapore Singapura Independence day

August 9
2025

By : Adharta
Chairman of
KRIS

All my Singapore KRIS Friends
Family and fellows

Please accept my congratulations

Great and Luck

A Journey Through Resilience

Singapore’s Story and a Personal Bond
By Adharta Ongkosaputra

On 9 August each year, the red and white of the Singapore flag unfurls proudly across the island, its crescent moon and stars gleaming against the tropical sky. It is a day that marks not only the birth of a nation in 1965, but the triumph of human determination, foresight, and unity. For Singapore, independence was not handed on a silver platter; it was forged in the crucible of hardship, scarcity, and uncertainty.

Today, Singapore stands as one of the world’s most successful city-states
a beacon of progress, stability, and innovation.

For me, however, Singapore’s story is not only the tale of a nation; it is also deeply personal. Since 1980,

I have crossed the narrow stretch of sea between Indonesia and this island nation countless times, drawn by the quiet promise of care, professionalism, and trust at Mount Elizabeth Hospital. Over the decades, my visits have taken me to both its Orchard and Novena locations, bringing me into close contact with a world-class medical institution and its dedicated people. And in October 2024, Singapore became the setting for one of the most defining chapters of my own life
my third heart surgery, performed by the steady and expert hands of Dr. Niko Wanahita at Mount Elizabeth Novena.

The Birth of a Nation Against the Odds

To understand the significance of Singapore’s National Day, one must first return to the turbulent mid-20th century.

On 9 August 1965, Singapore found itself unexpectedly thrust into independence after a brief and uneasy merger with Malaysia. The separation was painful and uncertain; Singapore had no natural resources to speak of, a fragile economy, and a population of diverse ethnicities, languages, and religions
any of which could have splintered the young nation from within.

Under the leadership of its founding Prime Minister,
Mr. Lee Kuan Yew, Singapore embraced a vision of unity and discipline. Every decision was made with long-term resilience in mind: investment in education, housing, infrastructure, and, crucially, integrity in governance. The transformation that followed over the next decades was nothing short of extraordinary.

Where once stood swamps and overcrowded shophouses, there rose modern skyscrapers, meticulously planned housing estates, and bustling commercial districts. Singapore became a global hub for trade, finance, and technology a place where meritocracy was not just a principle but a living reality.

A City That Welcomes the World

My own first encounter with Singapore came fifteen years after its independence, in 1980. By then, the island had already begun to display the fruits of its transformation: clean streets, efficient public transportation, and an atmosphere of quiet order that contrasted sharply with many cities in the region.

But my purpose in visiting was not sightseeing
it was medical. That year, I sought treatment at Mount Elizabeth Hospital in Orchard, which had already gained a reputation as a premier healthcare facility in Southeast Asia. I remember the polished floors, the hushed efficiency of the nurses, and the quiet confidence of the doctors. It was here that I first understood one of Singapore’s most remarkable strengths: its ability to blend the warmth of personal care with the precision of world-class professionalism.

Over the years,
I returned many times sometimes for routine checkups, sometimes for more serious treatments.
Also performs my business over the country
I came to know members of the hospital’s management, particularly at Parkway, who greeted me not just as a patient, but as a long-standing friend.

Singapore’s medical system, much like the nation itself, runs on the twin engines of efficiency and empathy
a combination that is as rare as it is valuable.

The Philosophy of Excellence

Singapore’s success was never accidental.

It is the product of meticulous planning and a culture that prizes excellence at every level. Whether in its ports, its airports, its educational institutions, or its hospitals, the nation refuses to settle for mediocrity.

Mount Elizabeth Hospital, in many ways, mirrors Singapore’s national ethos. The facility continually updates its technology, attracts top-tier specialists from around the globe, and maintains an unwavering commitment to patient welfare. It is this culture of relentless improvement that gave me confidence each time I entrusted my health to their care.

October 2024: A Test of Courage

Yet nothing in my previous visits compared to the experience of October 2024. By then, I had already undergone two heart surgeries in my life.

The thought of a third was daunting not merely because of the physical risks, but because of the emotional weight such a procedure carries.

When I entered Mount Elizabeth Novena that month, I was not just another patient. I was a man facing his own mortality, and the stakes had never felt higher. Yet, from the moment I met Dr. Niko Wanahita,
I knew I was in the right place. His calm demeanor, precise explanations, and clear command of his field instilled in me a deep trust.

The surgery was long and complex, but it was a success. In the days that followed, as I lay in the quiet recovery room with the city’s skyline visible through the window, I thought about how far I had come
not only in terms of my health, but in the decades-long relationship I had built with this remarkable city. Singapore had once again been my refuge, my place of healing.

Lessons from a Nation’s Journey

It is tempting to see Singapore’s current prosperity as inevitable, but it was anything but. In its early years, the nation faced high unemployment, limited land, and a lack of natural resources. Yet, through strategic thinking and the cultivation of human capital, it not only survived
it thrived.

For someone like me, who has witnessed its transformation across four decades, the parallels between the nation’s resilience and my own medical journey are striking.

Both are stories of confronting challenges head-on, of refusing to yield to fear, and of finding strength in preparation and trust.

The Spirit of National Day

National Day in Singapore is not just a display of military parades, fireworks, and cultural performances
though those are spectacular in their own right. It is a celebration of unity, of shared purpose, and of the belief that no obstacle is insurmountable when a people stand together.

For me, it is also a reminder of the bond I share with this city-state. Every time the national anthem, Majulah Singapura, plays, I am reminded not only of Singapore’s journey from vulnerability to strength, but also of the personal sanctuary it has been for me in times of need.

Looking Forward

As Singapore steps into the future, it faces new challenges: an aging population, global economic shifts, and the unpredictable forces of technology and geopolitics. Yet, given its track record, I have no doubt it will continue to adapt and lead.

For my part,
I remain grateful for the care I have received, for the friendships formed, and for the quiet reassurance that Singapore’s lights will continue to shine brightly across the waters. My own journey is intertwined with this nation’s, and every 9 August, as the fireworks bloom above Marina Bay,

I will celebrate not just Singapore’s independence, but the resilience that we both share.

Adharta

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Surabaya Langit Masih Biru seri ke 3

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Cerpen 002
Seri ketiga
Tamat

Semoga bisa menjadi penutup yang mengharukan, penuh makna, dan membekas di hati.

Langit yang Akhirnya Cerah

Hari itu, Elisabeth berdiri di panggung kecil di ballroom hotel Surabaya.

Ia mengenakan blouse putih sederhana dan celana panjang hitam yang elegan.

Di depannya, ratusan hadirin duduk menyimak. Ia baru saja mempresentasikan kampanye pertamanya

“Cantik yang Tak Terlihat”,

Sebuah program sosial untuk mendukung perempuan pekerja dari latar belakang sulit.

Di akhir presentasi, Elisabeth menatap sekeliling. Tangannya sedikit gemetar, tapi suaranya tegas.

“Saya tumbuh tanpa keluarga. Saya hidup dalam sunyi. Tapi saya tahu satu hal pasti—setiap perempuan, seberapa pun kelam masa lalunya, punya cahaya yang bisa menerangi dunia. Saya adalah bukti kecil dari itu.”

Tepuk tangan membahana.

Tak sedikit yang meneteskan air mata.

Dari barisan belakang, Elisabeth melihat Armand berdiri sambil mengacungkan jempol. Ia belum menjadi kekasihnya
Tapi Elisabeth kini tahu, cinta sejati tak datang dari rasa kasihan, tapi dari saling menghargai.

Malam itu, Elisabeth pulang ke apartemennya. Ia membuka jendela.

Langit Surabaya tak berbintang, tapi biru pekat yang indah. Ia duduk di kursinya, menyalakan lampu baca, lalu membuka catatan nenek yang dulu lusuh itu.

Di halaman belakang, ia menulis:

“Nek, aku sudah bertahan. Aku belum menemukan keluarga, tapi aku menemukan diriku sendiri. Dan mungkin… itu permulaan dari semuanya.”

Ia tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam hidup, senyum itu tulus.

Masa lalu tidak menghilang. Tapi ia kini tak lagi menjadi luka, melainkan fondasi yang membentuk siapa Elisabeth hari ini.

Elisabeth masih sendiri.
Tapi ia tak lagi sepi.
Ia tidak punya alamat keluarga. Tapi kini ia punya tempat di hati banyak orang.
Langit Surabaya masih biru
dan kali ini, birunya milik Elisabeth juga.

TAMAT

Salam rindu buat semua Anggota KRIS
Keluarga
Semua sahabat

Sampai jumpa Minggu depan

Www.kris.or.id

Langit Surabaya Masih Biru seri 1

Langit Surabaya Masih Biru

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Serie pertama
Cerpen 002

Sebuah Kehidupan yang Ditinggalkan

Pagi itu, Elisabeth duduk sendiri di sudut meja makannya yang kecil. Cahaya matahari menyelinap masuk melalui jendela kecil apartemennya di kota Pahlawan Surabaya, menari di atas meja yang penuh botol-botol serum dan krim wajah
produk-produk dari perusahaan kosmetik tempat ia bekerja.

Di usianya yang ke-35,
Elisabeth belum pernah merasakan kehangatan keluarga.

Ayah dan ibunya meninggal dalam kecelakaan mobil saat ia masih bayi
sebuah tragedi yang ia ketahui hanya dari cerita neneknya.

Nenek itu, satu-satunya pelindung, meninggal ketika Elisabeth baru kelas 4 SD.

Sejak saat itu, hidup Elisabeth menjadi roda takdir yang digerakkan oleh orang-orang yang tak pernah ia pilih.

Ia diasuh oleh sepasang suami istri tetangga neneknya, yang menyayanginya setengah hati.

Bukan kekerasan fisik yang membuat masa kecilnya sulit, tapi kekosongan emosional yang tak pernah bisa ia isi. Ia belajar untuk tidak berharap.

Elisabeth
Berjuang di Tempat Kerja, Tempat Luka

Elisabeth bekerja sebagai staf pemasaran di sebuah perusahaan kosmetik lokal yang cukup terkenal di Surabaya.

Ia paham betul soal skincare dan perawatan wajah
Ia bahkan sering menjadi tempat konsultasi teman-temannyaTapi di balik kompetensi itu, ia sering menjadi bahan ejekan di kantor.

“Elisabeth, kamu lagi-lagi pakai sepatu itu?”

“Aduh,
jangan dekat-dekat.

Bau makan siangnya bisa bikin serum kita luntur nih!”

Tawa-tawa itu menusuk.
Tapi Elisabeth terbiasa. Ia tak pernah membalas. Hanya menunduk, lalu bekerja lebih keras.

Kadang saat pulang malam, ia menangis diam-diam di bawah pancuran air.

Merasa kosong. Seperti hidup hanya lewat begitu saja. Ia pernah sekali jatuh cinta, saat usia 27, dengan seorang fotografer freelance yang ia temui di proyek kerja. Tapi ketika pria itu tahu Elisabeth tak punya keluarga, hubungan mereka langsung berakhir.

“Maaf, aku butuh seseorang yang punya akar, Lis…”

Akar? Elisabeth mengerti.
Ia seperti pohon yang tumbuh di tepi jurang. Bisa hidup, tapi tak punya pegangan kuat.

Bersambung

Adharta

Www.kris.or.id

Surabaya Langit Masih Biru seri ke 2

Kehidupan yang penuh pertanyaan

Cerpen 002
Serie kedua

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Ilustrasi Elisabeth
Sepi yang Tak Pernah Pergi

Para sahabat dan pbaca setia

Hari ulang tahunnya yang ke-35 berlalu begitu saja.

Tak ada pesan. Tak ada kue. Hanya notifikasi dari aplikasi marketplace yang menawarkan diskon untuk skincare.

Di kantor, tak seorang pun mengingat hari itu.
Bahkan Wina, rekan sekantornya yang dulu pernah sesekali makan siang bersama, kini pun sibuk menyiapkan pernikahannya.

Elisabeth berjalan sendirian menyusuri Tunjungan Plaza sore itu.

Bukan untuk belanja, hanya agar merasa seperti bagian dari dunia. Ia duduk di food court, memesan satu gelas lemon tea, dan mengamati pasangan-pasangan muda tertawa.

Ada anak kecil tertidur di bahu ibunya.
Ada seorang ayah menggendong bayi sambil menyuapi istri yang tertawa lebar.

“Kapan terakhir kali aku dipeluk?” pikirnya.

Malamnya,
di kamar kecil berlampu kuning hangat, Elisabeth membuka sebuah buku catatan kulit tua yang sudah lapuk.
Di dalamnya ada tulisan tangan neneknya
sebuah surat terakhir sebelum meninggal.

> “Elisabeth kecilku, hidup tidak akan mudah, tapi kamu adalah bunga yang tumbuh di tengah batu. Jangan pernah menyerah. Suatu hari, seseorang akan melihat betapa indahnya kamu, dan dunia akan tahu siapa kamu sebenarnya.”

Surat itu selalu berhasil membuatnya menangis.

Tapi kali ini berbeda. Tangisnya bukan karena sedih, tapi karena marah.
Ia marah pada dunia.

Pada waktu. Pada semua orang yang tak melihat dirinya.

Sungguh sebuah kehidupan yang penuh tantangan

Elisabeth menyatakan
Perlawanan dalam Sunyi

Sesuatu dalam dirinya mulai bergeser

Ia mulai mengikuti seminar pengembangan diri secara online. Diam-diam, ia belajar tentang branding, self-worth, dan komunikasi yang sehat.

Ia membeli baju baru
bukan untuk orang lain, tapi untuk dirinya sendiri.

Di kantor, ia tetap dibully. Tapi kini, ia menatap mata orang-orang yang menghinanya.

“Elisabeth,
kamu nggak capek ya tiap hari kerja kayak robot?”
Ia tersenyum, tenang.

“Robot pun kalau dirawat bisa jadi mesin terbaik. Nggak kayak kamu, nyinyir tapi nggak produktif.”

Semua terdiam. Itu pertama kalinya Elisabeth melawan.

Sore itu, setelah bertahun-tahun, ia pulang ke rumah dengan hati sedikit lebih ringan.

Ia menatap cermin. Rambutnya diikat rapi, wajahnya tanpa makeup berat tapi bersinar.

Untuk pertama kalinya, ia merasa cantik

Sebuah keunginan tentu perlu pernyataan diri dan berani berbalik

Beberapa bulan setelah perubahan kecil yang ia mulai,

Elisabeth ditugaskan mengikuti pelatihan pemasaran digital di Jakarta selama dua minggu.

Di sana, ia bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang
dan untuk pertama kalinya, ia merasa tidak dinilai dari masa lalu atau status sosial.

Ia bertemu Armand, seorang konsultan brand berusia 42 tahun, seorang yang ramah, penuh perhatian, dan tidak bertanya soal keluarganya.

Da hanya tertarik pada ide-ide Elisabeth, pada cara pandangnya yang jernih dan lugas.

“Menurut saya,” kata Elisabeth saat diskusi di kelas,

“kadang yang dibutuhkan brand bukan cuma iklan besar, tapi empati. Ketulusan terasa, bahkan di dalam kemasan kecil.”

Armand menatapnya dengan kagum.
“Kamu bukan cuma paham produk. Kamu paham hati manusia.”

Malam setelah sesi terakhir pelatihan, mereka makan malam
di sebuah warung kecil di bilangan Menteng.

Sambil menyuap nasi goreng hangat, Armand berkata,

“Kamu pernah merasa tidak dianggap, ya?”

Elisabeth menatap kosong ke arah lampu jalan.

“Sering.
Sampai akhirnya saya sadar, saya harus menganggap diri saya sendiri dulu.”

Malam itu, mereka bicara panjang lebar. Tapi ketika Armand mencoba menggenggam tangannya, Elisabeth menarik diri perlahan.

“Aku belum siap. Hatiku masih belajar percaya.”

Armand mengangguk.

“Aku tidak buru-buru.
Aku cuma ingin kamu tahu, kamu layak dicintai. Dengan atau tanpa masa lalu.”

Rumah Tanpa Alamat

Setelah kembali ke Surabaya, Elisabeth merasa seperti kembali ke medan tempur. Tapi kini, ia bukan lagi tentara tanpa senjata.

Ia mulai menyusun proposal untuk membuat divisi product storytelling di kantornya
menggabungkan pemasaran dan kisah nyata pelanggan.

Ide itu awalnya ditertawakan. Tapi saat dipresentasikan dengan data dan contoh kampanye sukses dari luar negeri, bahkan atasannya pun mulai tertarik.

Hingga suatu hari,
direktur utama perusahaan mengundangnya ke kantor pusat.
“Elisabeth, kamu bikin kami berpikir ulang soal cara kerja selama ini.

Kami ingin kamu memimpin divisi baru ini. Namanya:

“Voice of Women.”

Ia terdiam. Tak percaya.
“Kenapa saya?”
“Karena kamu tahu rasanya tidak punya suara.

Itu membuat kamu jadi suara bagi banyak orang.”

Aku menanti
Kisah berikutnya

Bersambung

Www.kris.or.id

Jejak Kasih yang Tak Pernah Usai Sebuah Penghormatan untuk Kakek dan Nenek

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Minggu
27 Juli 2025

Hari peringatan
Kakek dan Nenek

Aku mengenang
Aku merenung
Aku melinang airmata
Untuk Kakek dan Nenek
Atas Cinta Kasihnya

Di setiap langkah hidup kita, ada jejak yang mengakar kuat, tak selalu tampak di permukaan, namun terasa dalam jiwa
jejak kasih dari seorang kakek dan nenek kita tercinta

Mereka adalah pohon rindang dan malaikat dalam keluarga, yang menaungi dengan cinta, mengajarkan dengan kesabaran, dan mencintai tanpa syarat.

Pada Hari Minggu, 27 Juli 2025 ini,
kita berhenti sejenak dari kesibukan dunia. Kita menundukkan kepala dengan hormat, menyatukan hati dengan syukur, dan mengenang
serta merayakan
hadirnya mereka yang telah menjadi penjaga nilai, pelindung kecil dalam masa kanak-kanak kita, dan pemilik cerita-cerita penuh makna.

Bagi mereka yang masih bersama kita hari ini, kakek dan nenek adalah permata hidup yang patut kita peluk lebih erat, kita dengarkan dengan seksama, dan kita rawat dengan tulus.

Setiap keriput di wajah mereka adalah puisi yang ditulis oleh waktu, setiap senyum mereka adalah pelipur lara, dan setiap doa yang mereka panjatkan adalah benteng tak kasat mata bagi generasi penerusnya.

Namun bagi mereka yang telah lebih dahulu meninggalkan dunia, ingatan tentang kakek dan nenek tetap hidup dalam cerita-cerita, dalam tradisi yang mereka wariskan, dan dalam nilai-nilai luhur yang mereka tanamkan. Mereka mungkin tak lagi hadir secara fisik, namun cinta mereka abadi dalam darah dan jiwa kita. Kita menghormati mereka dengan hidup yang baik, dengan menjadi pribadi yang mereka banggakan.

Hari ini bukan sekadar mengenang, tapi juga merenung. Sudahkah kita membalas kasih mereka dengan hormat yang layak? Sudahkah kita mendengar suara hati mereka yang lembut, atau kita terlalu sibuk dengan dunia yang bising?

Mari kita gunakan hari ini untuk menelpon, mengunjungi, atau sekadar berdoa.

Mari kita ajak anak-anak kita mengenal siapa leluhur mereka, mengenalkan cinta yang melampaui zaman. Karena menghormati kakek dan nenek bukan hanya soal mengenang masa lalu, tapi tentang menjaga jembatan antara generasi—agar kita tidak kehilangan arah, agar kita tetap tahu dari mana kita berasal.

Selamat Hari Kakek dan Nenek.

Untuk mereka yang masih bersama kita
peluk mereka lebih lama.

Untuk mereka yang telah tiada
kirimkan doa dengan air mata syukur.

Dan untuk kita semua
jangan pernah lupa, bahwa kita berdiri hari ini—karena cinta mereka yang tak pernah usai.

Www.adharta.com

Www.kris.or.id

Langit di Atas Ciwidey

Cerpen 001
Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Udara sore di Ciwidey mulai turun suhu saat kabut tipis menyelimuti perbukitan. Ladang teh berwarna hijau gelap menghampar sejauh mata memandang, dan aroma segar daun teh yang baru dipetik menyatu dengan harum tanah basah.

Di sebuah pondok kayu kecil di pinggir kebun teh, dua remaja duduk berdampingan, memandangi langit yang perlahan berubah warna kejinggaan.

“Surya,”
ucap Baby pelan, memecah kesunyian yang hanya diisi suara burung dan desir angin,
“kamu yakin kita bisa terus seperti ini?”

Surya menoleh, memandangi wajah gadis yang sudah dikenalnya sejak SMP itu.
Rambut Baby yang hitam pekat berkilau terkena cahaya matahari terakhir hari itu. Tatapannya penuh tanya, namun ada getar keteguhan di sana.

“Aku gak yakin kita akan selalu bisa begini, Baby,” jawab Surya jujur, “tapi aku yakin… perasaan ini nggak akan berubah.”

Baby tersenyum tipis, lalu menunduk. “Mereka gak akan pernah setuju, ya?”

Surya menarik napas dalam-dalam. “Ayahku ingin aku masuk akademi militer, katanya aku harus menikah dengan putri koleganya di Bandung. Katanya, hidup yang terarah itu kunci masa depan. Sedangkan… kamu.”

Baby mengangkat kepala, menahan air mata. “Sedangkan aku, anak petani teh yang baru lulus SMA, tanpa gelar, tanpa koneksi.”

“Jangan bilang begitu,” kata Surya cepat, menggenggam tangan Baby. “Kamu lebih dari cukup. Kamu selalu jadi rumah buatku.”

Mereka bertemu pertama kali saat hujan besar mengguyur kebun teh di masa SMP. Baby sedang berlarian membawa ember penuh pucuk teh, terpeleset, dan embernya tumpah. Surya yang kebetulan sedang berlibur di rumah pamannya di desa itu, membantu Baby mengumpulkan kembali teh-teh yang berserakan.

“Namaku Baby,” katanya sambil tersenyum malu. “Kayak boneka, ya?”

Surya tertawa saat itu. “Namaku Surya. Kayak matahari. Cocok, ya? Matahari dan boneka.”

Mereka menjadi teman pena, lalu teman jalan, lalu tanpa sadar jatuh cinta. Hubungan yang tumbuh perlahan, dalam diam, dalam pesan-pesan WhatsApp yang disimpan rapat dari orang tua

Namun dunia nyata lebih keras dari impian mereka. Ayah Surya, seorang pengusaha properti sukses di Jakarta, menolak mentah-mentah hubungannya dengan Baby. “Kamu pikir kamu bisa hidup dari cinta? Anak petani? Tidak punya masa depan.”

Sementara ibu Baby menangis tiap malam. “Nak, kamu jangan bikin hidup makin sulit. Kita ini rakyat kecil. Jangan mimpi terlalu tinggi. Cinta gak cukup buat bayar beras.”

Mereka mencoba memperjuangkan, menyusun rencana kabur, melamar pekerjaan bersama di kota, bahkan berangan-angan membuka kedai kopi kecil di pinggir danau Situ Patenggang. Namun, setiap langkah terasa seperti menabrak tembok.

Suatu malam di bulan Juli, saat kabut begitu pekat dan angin dari pegunungan dingin menusuk kulit, Surya datang diam-diam ke rumah Baby.

“Aku harus pergi minggu depan,” katanya lirih. “Ayahku udah mendaftarkan aku ke akademi.”

Baby memandang Surya dalam kegelapan, lalu perlahan memeluknya. Tidak ada tangis, hanya keheningan yang panjang. “Aku gak akan menahan kamu,” katanya akhirnya. “Aku juga harus belajar mandiri.”

Surya meraih dagu Baby, menatap mata cokelatnya yang selalu membuatnya tenang. “Jangan pernah berpikir kamu sendiri. Aku akan kembali.”

Baby tersenyum, lalu melepaskan genggaman tangan Surya. “Kalau kamu percaya pada takdir, biarkan waktu yang jawab.”

Hari-hari berlalu seperti aliran sungai. Baby mulai bekerja di sebuah pabrik teh lokal sebagai tenaga pengepak. Setiap malam, ia menulis puisi di buku kecil yang diberikan Surya. Buku itu menjadi satu-satunya penghubung dengan kenangan mereka. Ia menolak semua ajakan kencan dari pemuda-pemuda desa. Hatinya tetap setia, meski ia tidak tahu apa yang dilakukan Surya sekarang.

Sementara itu, Surya menjalani pelatihan keras di akademi. Ia jarang punya waktu untuk membuka ponsel. Tapi di sela-sela malam sunyi, ia duduk di bawah pohon pinus di lapangan barak, membaca kembali pesan-pesan lama dari Baby.

Mereka masih saling mengirim surat, sesekali, walau hanya beberapa kata: “Masih di sini.” “Masih menunggu.” “Kamu baik-baik saja?”

Tiga tahun berlalu.

Suatu hari, Surya yang kini berseragam dinas, berdiri di pinggir danau Situ Patenggang, tempat mereka dulu pernah bersumpah untuk membangun masa depan bersama. Ia memandangi air yang tenang, mengenang tawa Baby saat menjatuhkan roti isi ke air dan menyalahkan angin.

Ia datang ke desa, bertanya pada tetangga tentang Baby. Rumahnya masih ada, tapi kini lebih senyap. Ibunya sudah meninggal karena stroke, ayahnya tinggal bersama adik Baby yang masih kecil.

Baby tidak menikah. Ia kini menjadi guru taman kanak-kanak di desa. Tetap sederhana, tetap murah senyum, kata orang.

Surya tidak langsung mendatangi rumahnya. Ia hanya berdiri jauh, memperhatikan dari kejauhan. Baby sedang menuntun anak-anak kecil menanam bunga di halaman sekolah. Wajahnya masih sama. Ada sinar lembut yang selalu menenangkan.

Ia tahu, jika ia mendekat lagi sekarang, mungkin luka lama akan terbuka. Mungkin harapan akan kembali menyala, hanya untuk dihancurkan lagi. Tapi Surya juga tahu satu hal: ia belum selesai mencintainya.

Sore itu, Baby kembali ke rumah, menemukan selembar kertas terselip di pagar.

Tulisan tangan itu tak berubah.

“Baby,
Aku pernah berjanji untuk kembali.
Tapi aku juga berjanji untuk membiarkan waktu yang menjawab.
Hari ini aku melihatmu dari jauh, dan hatiku bergetar seperti dulu.
Mungkin kita belum bisa bersama sekarang.
Tapi langit yang kita pandangi masih sama.
Dan aku percaya, selagi langit masih biru, harapan tidak akan mati.

— Surya.”

Baby menyentuh kertas itu perlahan, lalu menatap langit. Awan tipis bergerak pelan. Hati kecilnya berkata, ini belum akhir. Mungkin bukan sekarang, tapi suatu hari nanti, jalan akan terbuka.

Ia menyimpan surat itu di balik buku puisinya, lalu duduk di teras rumah. Menyeduh teh hangat, menatap matahari yang mulai turun ke balik bukit.

Di langit Ciwidey, warna jingga senja menjanjikan sebuah harapan. Tak sepenuhnya bahagia, tapi juga bukan duka yang mematikan. Hanya jeda. Jeda yang penuh makna.

Adakah Cinta dalam Cita buat masa depan

Cinta tidak datang dari masa depan
Tetapi bunga Cinta yang tumbuh dari bibit dimasa lalu

Adharta

Jamu Warisan Nusantara, Harapan Masa Depan 2

Oleh: Adharta
Ketua Umum
KRIS

UNESCO telah mengakui jamu sebagai warisan budaya dunia.
Dan hari ini,

di tengah udara malam yang hangat di Central Park, Rabu,
23 Juli 2025,

saya merenung seusai menonton film
Sore: Istri Masa Depanku bersama teman-teman KRIS.

Film itu menyentuh hati. Mengajak kami menengok masa lalu bukan sebagai nostalgia semata, tapi sebagai sumber kebijaksanaan untuk masa depan.

Lalu obrolan kami beralih ke jamu.
Kebetulan, saya baru saja menerima pesan dan video dari sahabat saya, Prof. Dr. Daniel Tjen (Mayjen TNI Purn.), Ketua Umum Dewan Jamu Indonesia. Pesan itu membuka kembali kenangan dan pemikiran yang selama ini mungkin saya abaikan.

Jujur saja, saya dulu tidak terlalu paham tentang jamu, walau sejak kecil sudah dicekoki ramuan ini karena tubuh saya yang sering sakit-sakitan.
Saya pernah mengalami masa di mana saya begitu putus asa. Obat dokter tak lagi mempan. Ramuan herbal dari dalam negeri maupun resep tradisional Tiongkok pun seolah tak berhasil.

Saya ingat pahitnya jamu kuat, getirnya ramuan dari kelabang, cecak, atau binatang melata lainnya. Semua saya coba—bukan karena yakin, tapi karena harapan yang nyaris habis.

Namun Tuhan masih mengasihi saya. Saya bisa berdiri hari ini, dengan tubuh yang sehat dan semangat yang menyala. Puji Tuhan.

Dan malam ini, izinkan saya berbagi sedikit refleksi tentang jamu.
Barangkali nanti Prof. Daniel bisa melengkapinya dari sisi keilmuan dan strateginya.

Apa Itu Jamu?

Jamu bukan sekadar ramuan. Ia adalah hasil dari kebijaksanaan lokal yang diwariskan turun-temurun. Disusun dari akar, daun, kulit kayu, bunga, dan rempah-rempah, jamu adalah simbol harmoni antara manusia dan alam.

Beberapa jenis jamu populer yang dikenal luas:

Beras Kencur: menyegarkan tubuh dan menambah stamina

Kunyit Asam: menjaga kesehatan wanita dan detoksifikasi

Temulawak: mendukung fungsi hati dan nafsu makan

Sambiloto: memperkuat daya tahan dan mengatasi infeksi

Sinom, Cabe Puyang, Pahitan: warisan kearifan yang terus hidup

Jamu bukan sekadar minuman; ia adalah filosofi hidup.
Tentang keselarasan tubuh, alam, dan kebijaksanaan.

Jamu dan Kesehatan: Harmoni Tradisi dan Sains

Pengobatan modern sering bersifat simptomatik—mengatasi gejala.
Jamu mengajarkan pendekatan holistik: menyentuh akar masalah, memperkuat sistem imun, menjaga keseimbangan.

Kini semakin banyak ilmuwan dan praktisi medis membuka mata terhadap potensi jamu. Fitofarmaka—obat herbal terstandar—mulai diintegrasikan di rumah sakit.

Ini bukan mitos. Ini ilmu.
Ini bukan alternatif, tapi komplementer.

Perjalanan Jamu: Dari Dapur ke Laboratorium

Dulu jamu dianggap kuno, milik orang desa. Tapi dunia kini berubah.
Dalam dunia yang makin hiruk-pikuk dengan obat kimia dan efek samping, banyak yang mulai menoleh ke solusi alami. Dan Indonesia punya jawabannya.

Pemerintah melalui BPOM mulai memberi ruang lebih luas bagi jamu.
Industri jamu tumbuh, dari skala mikro hingga multinasional.
Saat pandemi melanda, herbal Indonesia menunjukkan potensinya menjaga imun masyarakat.

Dan kini kita memiliki Dewan Akademik Jamu (DEWAN JAMU)—lembaga yang menjembatani antara keilmuan, industri, dan masyarakat.

Tokoh Visioner: Prof. Dr. Daniel Tjen (Mayjen TNI Purn)

Di tengah arus perubahan itu berdirilah Prof. Dr. Daniel Tjen, seorang pemimpin visioner yang menjembatani warisan tradisi dengan teknologi modern.

Dengan pengalaman militer, akademik, dan kesehatan, beliau memperjuangkan:

Standardisasi produk jamu

Penelitian ilmiah yang serius

Diplomasi kesehatan di tingkat internasional

“Jamu adalah senjata lunak Indonesia untuk memperkuat kemandirian kesehatan nasional.” – Prof. Dr. Daniel Tjen

Masa Depan Jamu: Tradisi yang Berinovasi

Jamu memiliki masa depan yang cerah.
Dunia mencari solusi alami, berkelanjutan, dan minim efek samping.
Indonesia adalah gudangnya tanaman obat. Kita punya peluang menjadi pusat riset dan inovasi herbal dunia.

Bayangkan generasi muda kembali mencintai jamu—bukan hanya karena warisan, tapi karena ilmu dan logika.

Jamu dan Ekonomi: Dari Warung ke Dunia

Jamu bukan hanya obat. Ia adalah penggerak ekonomi rakyat.

Jutaan petani rempah, produsen jamu, dan pelaku UMKM menggantungkan hidupnya pada rantai nilai jamu. Dengan branding dan inovasi, jamu bisa merambah pasar global sebagai bagian dari gaya hidup sehat masa kini.

Jamu dan Medis Modern: Bukan Lawan, Tapi Kawan

Kedokteran dan jamu tidak saling meniadakan.
Sebaliknya, mereka bisa bersinergi menciptakan Integrative Medicine—pengobatan modern berbasis sains, yang memperkaya diri dengan kekuatan alam.

Maka jamu tak hanya bagian dari masa lalu.
Ia adalah jawaban masa depan.

“Kebahagiaan dan kesehatan bukan sekadar janji masa depan, tapi warisan masa lalu yang harus kita rawat hari ini.”

Mari jaga jamu.
Sebagai warisan budaya. Sebagai identitas bangsa.
Sebagai sumbangsih Indonesia untuk dunia.

Salam sehat alami,

Adharta
Ketua Umum KRIS
🌐 http://www.kris.or.id
🌐 http://www.adharta.com