Cewama Eka Tayai

(Mengabdi untuk Persatuan)

Cerpen 007

Oleh : Adharta
Ketua Unun KRIS

Kisah ini kupersembahkan buat anak cucuku
Dan para sahabat Pilot

Menatap masa depan

Tahun 1980. Udara di Tangerang masih bersih dan lengang, jauh berbeda dengan hiruk-pikuk kota metropolitan Jakarta yang hanya berjarak beberapa puluh kilometer.

Di sinilah Jimmy menapaki jejak hidupnya sebagai taruna muda Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia,

Curug
Tak seorang pun menduga, anak kampung yang dulu hanya putra seorang pegawai negeri kecil di Surabaya itu, kelak akan dikenal sebagai sosok pilot tangguh yang mengabdi tidak hanya untuk keluarganya, tetapi juga bagi bangsa Indonesia.

Asal-Usul Sederhana
Jimmy lahir sebagai anak kedelapan dari sepuluh bersaudara. Ayahnya seorang pegawai negeri sederhana, ibunya membuka warung kecil di depan rumah untuk menambah penghasilan.

Hidup mereka jauh dari kata cukup.
Sering kali Jimmy kecil harus menahan lapar karena nasi hanya cukup untuk kakak-kakaknya.

Namun, dari kerasnya hidup itulah ia belajar arti ketekunan.
Sejak SMP, Jimmy sadar bahwa untuk bisa keluar dari lingkaran kemiskinan, ia harus bersekolah setinggi-tingginya.

Namun harapan itu bagai mimpi. Bagaimana mungkin orang tua dengan sepuluh anak bisa membiayai kuliah semuanya?

Bahkan, salah satu kakaknya yang berhasil kuliah di sebuah universitas swasta di Jakarta, harus bekerja serabutan untuk membayar biaya kuliah sendiri.

Namun tekad Jimmy tidak pernah surut. Setelah lulus SMA di Surabaya, ia berangkat ke Jakarta bersama dua sahabatnya, Freddy dan Johnny.
Mereka bertiga menumpang kereta ekonomi, membawa tas kecil, dan sejuta mimpi di kepala.
Hidup di Jakarta

Jakarta menyambut mereka dengan wajah keras. Mereka harus bekerja sambil mencari peluang sekolah. Freddy dan Johnny beruntung, mereka diterima di universitas swasta dengan bantuan keluarga.
Jimmy tidak seberuntung itu. Ia mencoba mendaftar di beberapa universitas, tetapi biaya menjadi tembok penghalang.
Untuk bertahan hidup, Jimmy bekerja sebagai sopir taksi gelap di kawasan Gajah Mada, tepat di depan klub malam Blue Ocean di Jalan Hayam Wuruk.

Malam demi malam ia berkeliling kota, menjemput tamu asing, pejabat, hingga pengunjung klub. Kehidupan keras di jalanan membuat Jimmy semakin matang menghadapi dunia.
Suatu malam, nasib mempertemukannya dengan seorang penumpang istimewa: seorang perwira tinggi TNI bernama
Kolonel Suryadi. Percakapan singkat di dalam mobil itu membuka jalan baru.
Melihat kejujuran dan kesopanan Jimmy, Suryadi menawarinya pekerjaan sebagai sopir pribadi keluarganya. Tanpa pikir panjang, Jimmy menerima.
Menjadi Bagian Keluarga
Sejak hari itu, Jimmy tinggal bersama keluarga Suryadi di Kebayoran Baru.

Di sana, ia bertemu dengan Budi, putra Suryadi yang seusia dengannya. Meski Jimmy hanya seorang sopir, Budi tidak pernah memandang rendah.

Mereka justru menjadi sahabat karib.
Budi bercita-cita menjadi pilot dan mendaftar di STPI Curug. Jimmy yang setia mengantarnya ke kampus, suatu hari bertemu dengan dosen bernama Pak Megi. Pertemuan itu unik

mobil Pak Megi mogok, dan Jimmy dengan sigap menawarkan tumpangan ke Jakarta.

Dari situlah hubungan baik terjalin. Pak Megi, kagum dengan sikap tulus Jimmy, menawarkan beasiswa terbatas agar ia bisa juga bersekolah di STPI.
Jimmy hampir tak percaya. Dari seorang sopir taksi gelap, kini ia punya kesempatan menjadi taruna penerbangan. Keluarga Suryadi menyambut kabar itu dengan sukacita.

Bahkan, mereka menganggap Jimmy sudah seperti anak sendiri.
Taruna Teladan
Hari-hari di STPI Curug menjadi masa terindah sekaligus terberat.

Jimmy belajar dengan giat, tak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Ia dan Budi sama-sama menjadi taruna teladan, disegani karena kedisiplinan dan kecerdasannya.
Setelah lulus,

Budi melanjutkan sekolah penerbangan untuk memperoleh CPL (Commercial Pilot License). Jimmy, sementara itu, tetap membantu Pak Suryadi yang saat itu naik jabatan di TNI AU.

Dari sanalah jalannya semakin terbuka.
Jimmy kemudian direkrut menjadi perwira muda TNI AU, menjalani pendidikan khusus di Halim Perdanakusuma. Dari langit, ia menemukan panggilannya.

Ia bukan hanya mengendarai pesawat, tetapi juga merasakan makna mengabdi untuk negeri.
Misi di Papua
Salah satu pengalaman yang membekas adalah ketika Jimmy ditugaskan membawa pesawat kargo ke Wamena, Papua, untuk mengantar bahan makanan. Daerah itu sulit dijangkau, dan pesawat kerap menjadi satu-satunya jalur suplai.
Di sana ia bertemu Ratna, seorang dokter muda lulusan Universitas Indonesia yang sedang menjalani tugas pengabdian. Perjumpaan pertama sederhana, namun meninggalkan kesan mendalam. Ratna kagum pada keberanian Jimmy, sedangkan Jimmy terpesona oleh ketulusan Ratna merawat pasien di pelosok.
Pertemuan demi pertemuan membuat benih cinta tumbuh. Meski kehidupan mereka keras, keduanya merasa menemukan pasangan sejiwa.

Dengan restu keluarga Suryadi yang menggantikan orang tua Jimmy yang sudah wafat
mereka akhirnya menikah.
Keluarga yang Hangat
Jimmy dan Ratna membangun rumah tangga sederhana di Kemayoran. Kehidupan mereka penuh kehangatan. Anak pertama, Andi, tumbuh cerdas dan bercita-cita menjadi diplomat.

Anak kedua, Maya, mewarisi jiwa ibunya dan ingin menjadi dokter.
Makan malam selalu menjadi momen penting. Ratna menyiapkan masakan sederhana, Jimmy bercerita tentang pengalaman terbang, dan anak-anak berbagi kisah sekolah.

Gelak tawa memenuhi rumah mereka.
Di balik kesibukan sebagai pilot dan dokter, keluarga ini selalu menemukan waktu untuk saling mendukung.
Dari Militer ke Komersial
Setelah beberapa tahun mengabdi di TNI AU, Jimmy memutuskan beralih ke penerbangan komersial. Ia bergabung dengan maskapai nasional, namun tetap dipanggil untuk misi khusus pemerintah, terutama yang berhubungan dengan diplomasi udara dan bantuan kemanusiaan.
Ia pernah terlibat dalam misi Garuda di Timur Tengah, membawa pasukan perdamaian Indonesia. Baginya, meski sudah bukan tentara aktif, jiwa pengabdian tidak pernah pudar.
Mengabdi Lewat Usaha
Kesuksesan tidak membuat Jimmy lupa asal. Ia mendirikan lembaga pelatihan penerbangan kecil di pinggiran Jakarta, khusus untuk anak-anak dari keluarga tidak mampu. “Kalau dulu saya bisa mendapat kesempatan, mengapa tidak saya teruskan untuk orang lain?” katanya.
Ratna pun mendirikan klinik swadaya untuk masyarakat miskin.

Klinik itu melayani pasien dengan biaya sukarela. Mereka berdua menjadikan keberhasilan bukan hanya milik keluarga sendiri, tetapi juga jalan untuk memberdayakan sesama.
Cetama E9ka Tayai
Di setiap kesempatan, Jimmy selalu mengingatkan anak-anak dan para taruna muda tentang semboyan yang ia pegang:

“Cewama Eka tayai
Mengabdi untuk persatuan.”

Baginya, persatuan bukan hanya untuk negara, tapi juga untuk keluarga, sahabat, dan masyarakat. Mengabdi tidak harus selalu di medan perang, tapi juga lewat kasih, ketulusan, dan berbagi kesempatan.

Penutup
Di usia senja, Jimmy duduk di beranda rumahnya bersama Ratna. Cucu-cucunya berlarian di halaman, Andi sudah menjadi diplomat muda yang bertugas di luar negeri, sementara Maya tengah menjalani pendidikan dokter spesialis.
Jimmy tersenyum haru. Dari anak kampung yang nyaris tak mampu kuliah, ia kini melihat generasi penerusnya berdiri dengan gagah. Ia berbisik kepada Ratna,

“Hidup ini adalah pengabdian. Kita mungkin lahir sederhana, tapi jika hati kita ikhlas untuk mengabdi, hidup akan menjadi cerita indah yang bermanfaat bagi bangsa.”

Ratna menggenggam tangannya erat. Sore itu, langit Jakarta berwarna jingga, seakan mengamini perjalanan panjang seorang manusia yang setia pada semboyan hidupnya

Cewama Eka tayai Mengabdi untuk persatuan.

Www.kris.or.id
Www.adharta.com

Situasi dan Kondisi Jakarta dan Indonesia Pasca Demonstrasi

Jakarta, Rabu 3 September 2025

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Beberapa hari terakhir, suasana Jakarta masih berada dalam kondisi yang belum sepenuhnya pulih.
Meski inti demonstrasi telah selesai, namun sisa-sisa ketegangan sosial masih terlihat.

Di sejumlah titik, masyarakat masih berkerumun, sebagian tanpa tujuan jelas, sebagian lagi terbawa arus euforia massa.

Kerusuhan memang tidak lagi meluas, tetapi tetap ada titik-titik rawan yang memerlukan penanganan serius dari aparat keamanan.

Pidato Presiden yang menegaskan perlunya langkah tegas dari pemerintah menjadi sinyal kuat bahwa negara tidak boleh kalah dari kekacauan. Namun, yang menarik perhatian publik adalah munculnya insiden penjarahan, bahkan disebutkan beberapa anggota DPR dan seorang menteri ekonomi seperti Sri Mulyani ikut terdampak.

Hal ini menimbulkan tanda tanya besar: mengapa aparat seolah membiarkan, dan apakah ini bentuk strategi untuk menghindari korban jiwa?

Tulisan ini akan mencoba menimbang secara netral situasi tersebut, menguraikan untung dan rugi dari adanya demonstrasi, siapa yang diuntungkan dan dirugikan, serta langkah-langkah apa yang seharusnya ditempuh setelah demonstrasi berakhir.

Pada bagian tertentu saya akan memberikan pandangan pribadi sebagai bentuk refleksi.

Gambaran Situasi Jakarta dan Indonesia

Jakarta sebagai ibu kota selalu menjadi barometer stabilitas nasional.

Ketika Jakarta bergejolak, hampir pasti seluruh Indonesia merasakan dampaknya. Demonstrasi besar yang awalnya dimaksudkan untuk menyuarakan aspirasi, pada akhirnya sering berkembang menjadi kerumunan tanpa arah.

Di sinilah terjadi pergeseran: dari gerakan massa yang terorganisir menjadi kumpulan orang-orang yang sekadar ikut-ikutan.

Kerusuhan yang masih tersisa di beberapa titik menunjukkan adanya tiga kelompok berbeda:

  1. Pendemo murni mereka yang benar-benar datang untuk menyampaikan aspirasi.
  2. Massa oportunis – mereka yang hanya ikut-ikutan tanpa memahami isu.
  3. Kelompok anarkis – mereka yang memanfaatkan situasi untuk menjarah atau menimbulkan ketakutan.

Dari sisi aparat, kehadiran TNI dan Polri cukup efektif menekan eskalasi.

Namun kritik tetap muncul, terutama saat terjadi penjarahan di beberapa pusat ekonomi. Tindakan yang dianggap terlalu pasif atau membiarkan peristiwa terjadi menimbulkan kecurigaan bahwa ada kalkulasi politik maupun keamanan di balik itu.

Untung dan Rugi dari Demonstrasi

  1. Keuntungan

Meskipun kerusuhan membawa banyak kerugian, demonstrasi tetap memiliki sisi positif

Aspirasi tersampaikan: Demonstrasi adalah saluran demokratis untuk mengingatkan pemerintah bahwa ada suara rakyat yang harus didengar. Tanpa demonstrasi, aspirasi bisa terpendam.

Kontrol sosial
Demonstrasi menegaskan bahwa kekuasaan tidak absolut. Pemerintah dipaksa untuk mendengar dan menimbang kembali kebijakan yang diambil.

Kesadaran publik :

Isu yang tadinya hanya dibicarakan terbatas bisa menjadi pembicaraan nasional.

Misalnya, kebijakan ekonomi, ketidakadilan, atau korupsi.

Kebangkitan solidaritas: Dalam situasi tertentu, masyarakat bisa bersatu memperjuangkan hal yang dianggap benar.

  1. Kerugian

Namun, sisi negatif jauh lebih nyata terlihat, terutama jika demonstrasi berkembang menjadi kerusuhan

Kerusakan fasilitas umum: Gedung, jalan, transportasi, dan infrastruktur rusak, yang biaya perbaikannya ditanggung oleh negara (artinya rakyat juga yang menanggungnya dan membiayai).

Kerugian ekonomi: Aktivitas perdagangan terhenti, investor kehilangan kepercayaan, dan citra Indonesia di mata dunia menurun.

Ketidakamanan sosial

Penjarahan dan anarki menimbulkan rasa takut, terutama bagi masyarakat kecil yang paling rentan.

Polarisasi masyarakat: Demonstrasi sering memecah belah antara yang pro dan kontra.

Hal ini meninggalkan luka sosial yang tidak cepat sembuh.

Citra pemerintah melemah

Jika pemerintah dianggap lamban atau tidak tegas, wibawa negara ikut turun.

Secara pribadi, saya menilai keuntungan dari demonstrasi akan terasa jika berlangsung damai dan terorganisir.

Namun ketika berubah menjadi anarki, kerugian yang ditimbulkan jauh lebih besar daripada manfaatnya.

Siapa yang Diuntungkan ?

  1. Kelompok politik tertentu
    Demonstrasi besar sering dimanfaatkan oleh elit politik untuk menekan lawan atau mendongkrak citra diri.

Dalam kondisi kacau, pihak-pihak tertentu bisa menampilkan diri sebagai “penyelamat bangsa”.

  1. Kelompok anarkis dan kriminal
    Mereka mendapatkan keuntungan material langsung dari penjarahan.

Bagi mereka, kerusuhan adalah “kesempatan emas”.

  1. Media massa dan media sosial

Di era digital, setiap gejolak menjadi konten. Media bisa meraih rating, engagement, bahkan keuntungan iklan dari situasi kerusuhan.

Siapa yang Dirugikan ?

  1. Masyarakat umum
    Warga kecil paling merasakan dampak
    warung ditutup, jalan macet, transportasi terhenti, rasa takut meningkat.
  2. Pelaku usaha
    Dari pedagang kaki lima sampai pengusaha besar, semua kehilangan omset.

Investor asing pun bisa menarik modal karena merasa tidak aman.

  1. Pemerintah dan negara
    Citra stabilitas runtuh.

Jika dianggap gagal mengendalikan situasi, pemerintah akan kehilangan legitimasi.

  1. Generasi muda
    Mereka melihat contoh buruk tentang bagaimana konflik diselesaikan dengan kekerasan, bukan dialog. Ini bisa menjadi preseden berbahaya.

Pemdapat pribadi saya
yang paling dirugikan justru adalah rakyat biasa, yang tidak punya akses ke kekuasaan maupun keuntungan politik.

Mereka hanya ingin hidup aman, mencari nafkah, dan membesarkan keluarga.

Mengapa Penjarahan Terjadi?

Kasus penjarahan yang melibatkan fasilitas tertentu bahkan menimpa pejabat negara menimbulkan tanda tanya.

Ada beberapa kemungkinan

Aparat memilih strategi “biarkan” untuk menghindari bentrokan yang bisa menimbulkan korban jiwa.

Dalam kalkulasi keamanan, material bisa diganti, nyawa tidak.

Keterbatasan personel dan kendali. Dalam kerumunan besar, tidak semua titik bisa diawasi.

Kemungkinan infiltrasi kelompok tertentu yang sengaja menciptakan chaos untuk tujuan politik.

Opini saya pribadi
meskipun ada alasan strategis, membiarkan penjarahan jelas berbahaya.

Ini memberi pesan kepada publik bahwa hukum bisa dinegosiasikan, dan aparat seolah tidak berdaya.

Langkah-Langkah Setelah Demonstrasi Berakhir

Untuk keluar dari situasi ini, ada beberapa langkah yang harus diambil:

  1. Pemulihan keamanan total

TNI dan Polri harus memastikan tidak ada lagi sisa kerusuhan. Titik-titik rawan harus dijaga, tetapi dengan pendekatan humanis agar tidak menimbulkan luka baru.

  1. Proses hukum tegas
    Pelaku penjarahan dan anarki harus ditindak, tanpa pandang bulu. Proses hukum yang adil akan mengembalikan wibawa negara.
  2. Pemulihan ekonomi
    Pemerintah perlu memberikan stimulus bagi pelaku usaha kecil yang terdampak, serta memastikan distribusi barang dan jasa kembali normal.
  3. Dialog nasional
    Pemerintah harus membuka ruang komunikasi dengan berbagai elemen masyarakat, termasuk oposisi, agar aspirasi bisa tersalurkan dengan baik.
  4. Penguatan literasi publik
    Edukasi kepada masyarakat penting, agar mereka memahami bahwa demonstrasi boleh, tetapi harus damai. Jangan mau dimanfaatkan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Refleksi Pribadi

Sebagai warga negara, saya merasakan kesedihan melihat Jakarta kembali bergejolak. Setiap kali kerusuhan terjadi, yang hancur bukan hanya gedung atau jalan, melainkan juga rasa percaya antarwarga bangsa.

Saya percaya, Indonesia terlalu besar untuk dibiarkan larut dalam konflik horizontal.

Namun, saya juga memahami bahwa demonstrasi adalah bagian dari demokrasi. Pemerintah tidak boleh alergi kritik.

Yang salah adalah ketika ruang dialog tertutup sehingga rakyat merasa hanya bisa didengar lewat jalanan.

Karena itu, menurut saya, langkah paling penting setelah ini adalah mengembalikan kepercayaan publik.

Pemerintah harus hadir bukan hanya dengan kekuatan aparat, tetapi juga dengan empati.

Aspirasi rakyat harus ditanggapi dengan kebijakan nyata, bukan sekadar pidato.

Penutup

Situasi Jakarta pada 3 September 2025 adalah pengingat bahwa demokrasi selalu memiliki dua sisi

Peluang dan ancaman.

Demonstrasi bisa menjadi sarana koreksi, tetapi juga bisa berbalik menjadi bumerang jika berubah menjadi anarki.

Keuntungan demonstrasi adalah tercapainya ruang kebebasan dan pengawasan terhadap pemerintah. Namun kerugian jauh lebih besar ketika keamanan, ekonomi, dan kehidupan masyarakat terganggu.

Yang diuntungkan hanyalah segelintir pihak, sementara mayoritas rakyat menjadi korban.

Langkah ke depan adalah memastikan bahwa kerusuhan benar-benar berakhir, hukum ditegakkan, ekonomi dipulihkan, dan dialog dibuka selebar-lebarnya
Dengan begitu, kita bisa belajar dari peristiwa ini dan bergerak menuju Indonesia yang lebih dewasa dalam berdemokrasi.

Saya percaya, dengan kesabaran, ketegasan, dan keterbukaan, bangsa ini akan mampu melewati badai.

📌 damai Indonesiaku

Www.kris.or.id
Www.adharta.com

KITA ADALAH INDONESIA

Oleh : Adharta

Saudaraku
Sahabatku
Indonesia

Jakarta yang mencekam,
di jalanan yang penuh resah,

kita lahir dari rahim yang sama
ibu pertiwi yang bernama Indonesia.

Boleh saja langit kelabu,
Boleh saja Laut bergelombang
boleh saja kabar berhembus getir,
namun jiwa bangsa ini
tak akan pernah tunduk pada gelap dan derita

Wahai saudaraku,
Sahabatku
Indonesia

kita ini bukan sekadar berjuta manusia,
kita adalah
Satu nadi,
Satu nafas,
Satu janji

Merah di bendera kita adalah keberanian,

Putihnya adalah kesucian hati.

Selama itu masih berkibar,
Indonesia tidak akan runtuh.

Mari saling genggam erat tangan
Saudara,
Sahabat
Indonesia

Hapus air mata dengan pelukan Cinta bangsa.

Bersama kita kuat,
Bersatu kita abadi.

Ingatlah:
Indonesia bukan hanya tanah, bukan hanya laut,
Indonesia adalah kita

kita semua,
yang tak akan pernah menyerah,
yang akan selalu bangkit,
dan berjalan menuju terang.

Saudaraku
Sahabatku
Indonesia

Hanya satu kata
Bersatu

Www.kris.or.id
Www.adharta.com

Jejak Persahabatan

Cerpen 007
Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Akhir Aguatus 2025

Mengenang Orang tua saya yang telah meninggal 27 tahun lalu

Surat Pertama dari Penjara

Malam pertama di penjara Bangkok,
Ling Ling diberi selembar kertas usang dan pensil kecil.
Dengan tangan gemetar, ia menulis:

Untuk sahabatku, Jeany…

Aku tidak tahu harus mulai dari mana.

Semuanya terasa seperti mimpi buruk.
Aku masih bisa mendengar teriakan petugas di bandara, masih bisa merasakan tangan mereka menarik lenganku.

Jeany, aku tidak menyalahkanmu. Jangan pernah merasa bersalah.
Aku tahu kamu hanya ingin membuatku bahagia dengan perjalanan ini. Aku yang terlalu polos, terlalu senang, sampai tidak berpikir.

Hari ini aku tidur di lantai dingin, bersama belasan orang asing.
Aku takut, Jeany. Aku benar-benar takut.

Tapi yang membuatku kuat adalah bayanganmu
sahabatku yang selalu menggenggam tanganku di saat paling gelap.

Tolong jaga ibuku di Bangka. Jangan biarkan dia mendengar kabar ini dari orang lain.

Aku tidak sanggup membayangkan wajahnya menangis.

Sahabatmu,
Ling Ling

Surat itu sampai ke tangan Jeany sehari kemudian. Ia membacanya sambil menangis di kamar hotel. Air matanya menodai tinta di kertas itu.

Jeany Menulis Balasan

Jeany menulis balasan panjang dengan tinta biru:

Ling Ling, sahabatku…

Aku janji, kamu tidak sendiri. Setiap langkahmu, aku akan ada di sampingmu. Jangan pernah merasa kamu merepotkan aku atau keluargaku. Kamu bukan beban kamu bagian dari keluarga kami.

Aku sudah berbicara dengan pengacara internasional. Percayalah, kami tidak akan diam. Kami akan berjuang sampai napas terakhir untuk membebaskanmu.

Ingatlah, Ling. Persahabatan kita lebih kuat dari dinding penjara.

Kamu tidak akan pernah hilang dariku.

Dengan cinta,
Jeany

Kehidupan di Penjara Bangkok

Hari-hari Ling Ling di penjara bukan sekadar penderitaan fisik, tapi juga cobaan batin. Ia berbagi sel dengan perempuan dari berbagai negara: ada yang terjebak sindikat narkotika, ada pula yang benar-benar pelaku.

Setiap malam, ia menatap bintang kecil dari celah jendela berjeruji. Dalam hatinya ia selalu mengulang doa:

“Tuhan, beri aku kekuatan. Jangan biarkan Jeany berhenti percaya padaku.”

Ling Ling kemudian mulai menulis buku harian. Ia menuliskan pengalamannya: betapa sulitnya bertahan hidup dengan makanan seadanya, bagaimana ia harus bekerja membuat kerajinan tangan untuk mengisi waktu, hingga persahabatannya dengan sesama napi.

Namun yang paling sering ia tulis adalah Jeany nama sahabat yang menjadi satu-satunya cahaya dalam kegelapan.

Percakapan di Ruang Kunjungan

Setiap bulan, Jeany terbang ke Bangkok. Mereka bertemu di ruang kunjungan, dipisahkan kaca tebal, berbicara lewat telepon kecil.

Suatu hari, Ling Ling menempelkan tangannya ke kaca.
Wajahnya kurus, matanya cekung, tapi senyumnya tetap hangat.

Ling Ling: “Jeany, aku takut suatu hari kamu akan bosan menjengukku.”

Jeany: “Bosan? Ling, aku rela datang tiap hari kalau diizinkan. Kamu nggak ngerti betapa berharganya kamu buatku.”
Ling Ling: (terisak)

“Kalau bukan kamu, aku mungkin sudah gila di sini.”
Jeany: “Kamu harus kuat, Ling. Aku sedang bicara dengan beberapa organisasi HAM. Percayalah, masih ada harapan.”
Ling Ling: “Harapan itu kamu, Jeany. Kalau suatu hari aku tidak bisa keluar dari sini, aku cuma ingin kamu tahu… aku bersyukur Tuhan mengirimkan sahabat sepertimu.”

Kata-kata itu menusuk hati Jeany. Malamnya, ia menangis sampai tertidur.

Keluarga Jeany Ikut Terlibat

Ayah Jeany, seorang pengusaha berpengaruh, memanfaatkan segala koneksi. Ia bertemu pejabat, diplomat, bahkan mengeluarkan dana besar untuk mengupayakan keringanan hukuman.

Ibunya juga ikut mendampingi. Dalam hati kecilnya, ia sudah menganggap Ling Ling sebagai anak sendiri.

“Kalau bukan karena Jeany, Ling Ling mungkin tidak bisa kuliah. Kita punya tanggung jawab moral padanya,” ucap sang ibu.

Namun kenyataan pahit sulit diubah. Hukum Thailand tidak main-main terhadap narkotika. Semua banding ditolak.

Surat Terakhir (untuk saat ini)

Beberapa tahun berlalu. Rambut Ling Ling mulai memutih, tubuhnya semakin kurus. Tapi ia tetap menulis surat untuk Jeany.

Untuk Jeany, sahabatku…

Hari ini aku melihat seekor burung kecil hinggap di jendela penjara. Ia bebas, bisa terbang ke mana saja.

Aku menutup mata, membayangkan kita berdua duduk di pantai Bangka, makan otak-otak, tertawa seperti dulu.

Jeany, kalau pun aku harus menua di sini, aku tidak menyesal pernah mengenalmu. Persahabatanmu adalah hadiah terbesar dalam hidupku.

Jangan berhenti hidup hanya karena aku terkurung. Pergilah, wujudkan mimpimu.

Aku akan selalu ada di dalam hatimu.

Sahabatmu,
Ling Ling

Jeany menangis membaca surat itu. Ia berjanji dalam hati:

“Aku tidak akan menyerah. Selama aku masih hidup, aku akan mencari jalan membebaskanmu.”

Ada awal ada akhir
Kisah persahabatan Ling Ling dan Jeanny saat mereka berlibur di Singapura s
Semasa libur kuliah
Tak dinyana pertemuan dengan Jefry di atas pesawat yang menawarkan ticket dan Hotel di Bangkok mendatangkan mala petaka

Karena titipan barang berupa tas wanita ke tangan Ling Ling
Ternyata berisi Narkoba

Hingga kini,
Ling Ling masih berada di balik jeruji penjara Bangkok.

Jeany tetap setia datang, tetap setia berjuang.

Waktu mungkin merenggut kebebasan Ling Ling, tapi tidak bisa merenggut persahabatan mereka.

Di dunia yang penuh tipu daya, mereka membuktikan bahwa cinta dan persahabatan sejati bisa bertahan, bahkan di balik tembok penjara yang paling kelam sekalipun.

Catatan : Cerpen ini diangkat dari kisah nyata seorang sahabat dan cerita ini pun ada kemiripan dengan kisah sebuah film layar lebar
Dan rasanya masih banyak kasus kejadian yang mirip
Karrna orang titip barang ternyata isinya narkoba

Www.kris.or.id
Www.adharta.com

Pesan untuk Anggota keluarga KRIS sahabat dan Masyarakat Indonesia

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Jakarta

Sabtu. 30 Aguatus 2025

Jakarta dan kota-kota besar lain di Indonesia terasa semakin ruwet, padat, bahkan mencekam. Jalanan penuh dengan ketegangan; masyarakat gelisah dengan kabar politik yang tidak menentu, ekonomi yang masih goyah, serta ancaman kesehatan yang terus membayangi. Bising klakson bercampur dengan keluhan rakyat kecil yang masih berjuang mencari sesuap nasi. Ada rasa letih yang seakan menyelimuti udara, membuat banyak orang kehilangan arah.

Dalam situasi seperti inilah, Killcovid-19 Relief International Services (KRIS) harus hadir sebagai pelita, bukan sekadar komunitas.

KRIS lahir dari semangat membantu sesama di tengah pandemi, namun perjalanannya tidak boleh berhenti di situ. Tantangan bangsa tidak hanya soal virus penyakit, tetapi juga krisis moral, sosial, politik, dan ekonomi yang menekan rakyat.

Maka, anggota KRIS perlu mengambil peran sebagai garda penguat harapan.

  1. Menjaga Keteguhan Hati

Langkah pertama adalah menjaga hati agar tidak hanyut oleh arus ketakutan dan kabar yang menyesakkan. Anggota KRIS harus menanamkan keyakinan bahwa setiap krisis adalah ladang untuk menumbuhkan keberanian. Bila masyarakat hanya disuguhi pesimisme, maka bangsa ini akan runtuh oleh rasa takutnya sendiri.

Keteguhan hati bukan berarti menutup mata terhadap kenyataan. Justru, kita harus melihat realitas dengan jernih, lalu melatih diri agar mampu bersikap bijak. Bila jalanan macet, jangan menambah keruwetan dengan amarah. Bila berita politik menegangkan, jangan memperburuk keadaan dengan menyebar hoaks atau ujaran kebencian.

Seorang anggota KRIS ibarat obor kecil. Meski sederhana, sinarnya mampu menolong orang di sekitarnya agar tidak tersesat.

Maka, jaga hati, jaga ucapan, jaga sikap.

  1. Menjadi Sumber Informasi yang Menenangkan

Di tengah derasnya arus informasi, banyak orang kehilangan kemampuan memilah mana yang benar dan mana yang menyesatkan. Inilah peluang bagi KRIS untuk menjadi jembatan informasi yang menyejukkan dan menuntun pada kebaikan.

Setiap anggota KRIS perlu membiasakan diri mengecek sumber berita sebelum membagikannya. Jangan sampai komunitas yang dibangun atas dasar cinta kasih justru ikut memperkeruh keadaan. Tugas kita adalah menyampaikan kebenaran dengan cara yang santun, menenangkan, dan membangun harapan.

Gunakan media sosial sebagai sarana menyebarkan inspirasi, tips menjaga kesehatan, dan ajakan untuk saling peduli. Biarlah postingan dari KRIS dikenal sebagai penyegar di tengah timeline yang penuh keributan.

  1. Menguatkan Solidaritas Sosial

Jakarta dan kota-kota besar memang dipenuhi gedung-gedung tinggi, tapi di baliknya ada jutaan orang kecil yang hidup dengan penuh perjuangan. Saat ini, banyak keluarga menahan lapar, banyak anak kehilangan akses pendidikan, dan banyak lansia hidup sendirian tanpa dukungan.

Inilah momen bagi KRIS untuk menghidupkan kembali semangat solidaritas sosial. Anggota yang mampu bisa menyisihkan sebagian rezeki untuk membantu mereka yang membutuhkan. Bentuk bantuan tidak selalu uang; bisa berupa makanan, pakaian, atau bahkan tenaga untuk mendampingi mereka yang sedang kesulitan.

KRIS harus menjadi teladan bahwa kekuatan sejati bangsa ini bukan pada gedung-gedung tinggi atau kekuasaan politik, melainkan pada gotong royong dan kepedulian antarwarga.

  1. Menyuarakan Kesehatan Sebagai Prioritas Bangsa

Meski pandemi Covid-19 sudah berlalu, Indonesia masih menghadapi masalah kesehatan serius: hipertensi, diabetes, penyakit jantung, hingga kesehatan mental. Situasi kota yang mencekam semakin memperburuk kondisi psikologis masyarakat. Banyak orang merasa cemas, tertekan, dan kehilangan harapan.

KRIS harus terus menyuarakan pentingnya kesehatan. Jadilah agen penyebar gaya hidup sehat: olahraga ringan, makan bergizi, istirahat cukup, serta menjaga pikiran tetap positif. Tidak kalah penting, kita perlu mengingatkan masyarakat untuk merawat kesehatan mental dengan cara berbicara, mendengarkan, dan saling mendukung.

Kesehatan adalah modal utama untuk membangun bangsa. Tanpa tubuh yang kuat dan jiwa yang sehat, Indonesia akan sulit bangkit dari berbagai krisis.

  1. Menjadi Kekuatan Moral di Tengah Kekacauan

Kota-kota besar hari ini penuh dengan kegaduhan politik. Banyak orang saling hujat, saling menuding, hingga melupakan nilai kemanusiaan. Inilah saatnya KRIS hadir sebagai kekuatan moral yang menegakkan nilai kebaikan.

Jangan biarkan kebencian menguasai. Jangan biarkan korupsi dan ketidakadilan dianggap biasa. KRIS tidak harus masuk ke gelanggang politik praktis, tetapi KRIS bisa menegakkan suara moral: mengingatkan pemimpin agar jujur, mendesak pejabat agar adil, serta mengajak rakyat untuk menjaga persatuan.

Jika KRIS mampu berdiri sebagai suara hati nurani bangsa, maka kita akan menjadi pilar yang diperhitungkan dalam perjalanan Indonesia ke depan.

  1. Menggerakkan Pendidikan Karakter

Kebingungan di masyarakat tidak hanya lahir dari masalah ekonomi, tetapi juga karena rapuhnya karakter generasi muda. Mereka sering kali mudah terpengaruh oleh budaya instan, melupakan nilai kerja keras dan tanggung jawab.

KRIS dapat mengambil peran dengan mengadakan pelatihan, seminar, atau diskusi kecil yang menanamkan nilai kejujuran, kerja sama, disiplin, dan empati. Pendidikan karakter bukan tugas sekolah semata, melainkan tanggung jawab seluruh masyarakat.

Bayangkan bila setiap anggota KRIS membimbing beberapa anak muda di lingkungannya, memberikan motivasi dan teladan. Dalam lima tahun ke depan, akan lahir generasi baru yang kuat menghadapi badai zaman.

  1. Menyebarkan Optimisme di Tengah Kekacauan

Bangsa yang besar selalu lahir dari rakyat yang berani bermimpi. Jangan biarkan situasi kota yang mencekam hari ini mematikan harapan kita. Justru, inilah waktu terbaik untuk menyalakan optimisme.

KRIS harus menjadi komunitas yang penuh semangat. Dalam setiap pertemuan, baik langsung maupun daring, tebarkan kata-kata positif. Ajak anggota saling menyemangati, berbagi kisah inspiratif, dan mengingatkan bahwa badai pasti berlalu.

Optimisme bukan sekadar kata indah, melainkan energi yang mampu menggerakkan langkah nyata. Bila kita yakin Indonesia bisa bangkit, maka keyakinan itu akan menular ke masyarakat luas.

  1. Menyusun Aksi Nyata untuk Negeri

Ucapan indah tidak akan berarti bila tidak diikuti tindakan nyata. Maka, KRIS perlu menyusun program sederhana tapi berdampak:

  1. Posko Peduli Masyarakat – tempat berbagi makanan, obat-obatan dasar, atau konseling singkat.
  2. Gerakan Jalan Sehat KRIS – kampanye kesehatan sambil mempererat kebersamaan warga.
  3. Ruang Diskusi Publik – wadah bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi tanpa rasa takut.
  4. Beasiswa KRIS – dukungan pendidikan untuk anak-anak dari keluarga miskin.
  5. Kampanye Lingkungan Sehat – menanam pohon, membersihkan sungai, dan mengurangi sampah plastik.

Langkah-langkah sederhana ini akan menunjukkan bahwa KRIS bukan sekadar komunitas wacana, tetapi motor perubahan yang nyata.

Ajhir kata Harapan untuk Indonesia

Hari ini Jakarta terasa mencekam, kota-kota besar terasa ruwet, namun jangan sampai kita menyerah pada keadaan. KRIS ada untuk menjadi cahaya – cahaya kecil yang mampu mengusir kegelapan.

Ingatlah bahwa sejarah Indonesia selalu ditulis oleh orang-orang sederhana yang berani peduli. Bila kita terus menjaga hati, menebar solidaritas, menyuarakan kesehatan, menegakkan moral, membangun karakter, menyalakan optimisme, dan bergerak nyata, maka kita akan menjadi bagian dari solusi.

Untuk seluruh anggota KRIS, tetaplah berdiri teguh. Jangan biarkan situasi membuat kita kehilangan arah. Justru, inilah momen kita membuktikan bahwa KRIS adalah benteng kebaikan bagi Indonesia.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa menyertai langkah kita, memberikan kekuatan, dan menjadikan KRIS sebagai berkat bagi bangsa.

Www.kris.or.id
Www.adharta.com

Saya Putri

Saya Putri

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Cerpen nomor 006

Senja di batas kota

Harusnya Bahagia berubah jadi derita

Nama yang Biasa, Hati yang Luar Biasa

Nama saya Putri.
Saya dilahirkan di sebuah kota kecil bernama Kalabahi di pulau Alor
Diujung Timur Indonesia. Kota itu sederhana, tenang, dan penuh dengan orang-orang yang hidup apa adanya.

Tidak ada kilau lampu kota besar, tidak ada gedung menjulang, tapi ada langit biru yang luas, sawah yang menghijau, dan gereja-gereja kecil yang menjadi pusat kehidupan warganya.

Saya lahir bukan dari keluarga kaya, bukan dari keturunan terpandang. Wajah saya pun biasa saja
tidak ada yang akan menoleh dua kali bila saya berjalan di keramaian.

Cara bicara saya pun sederhana, polos, tanpa kepandaian merangkai kata yang indah. Tetapi sejak kecil, orangtua saya selalu menanamkan satu hal:

“Nak, jangan pernah khawatir kalau wajahmu biasa saja, kalau kehidupanmu sederhana saja.

Yang terpenting adalah hatimu. Milikilah hati yang kuat, hati yang penuh kasih, hati yang tahu bagaimana mencintai tanpa syarat.
Karena wajah akan memudar, harta bisa hilang, tapi hati yang penuh cinta akan selalu dikenang.”

Itulah yang membentuk saya.
Saya belajar mencintai dengan tulus, berdoa dengan sungguh-sungguhdan percaya bahwa setiap mimpi, sekecil apapun, bisa Tuhan wujudkan bila kita setia.

Dan mimpi terbesar saya sederhana saja: menikah di gereja kecil di kota saya. Saya tidak pernah memimpikan gaun mewah, pesta glamor, atau undangan ribuan orang. Saya hanya ingin berdiri di altar kecil itu, di hadapan Tuhan, orangtua saya, keluarga, sahabat, dan pria yang saya kasihi.

Pertemuan yang Mengubah Segalanya

Saya bertemu dengannya ketika hidup saya terasa biasa-biasa saja. Namanya Yohanes.
Dia bukan pangeran berkuda putih, bukan lelaki kaya dengan mobil mewah.

Dia hanya seorang pria sederhana, pekerja keras, yang selalu menyapa orang dengan senyum ramah.

Tetapi ada sesuatu dalam dirinya yang membuat hati saya berkata, “Inilah rumah yang aku cari.”

Yohanes punya caranya sendiri membuat saya merasa berharga.
Ketika orang lain melihat saya hanya sebagai perempuan biasa, Yohanes melihat saya sebagai seseorang yang layak dicintai. Dia sering berkata, “Putri, kamu mungkin merasa biasa saja.

Tapi bagiku, kamu luar biasa. Karena kamu punya hati yang tak semua orang miliki.”

Hubungan kami berjalan dengan penuh doa.

Kami percaya cinta bukan sekadar perasaan, tetapi juga komitmen dan anugerah. Dia mengajarkan saya arti kesetiaan, dan saya belajar dari dia tentang keteguhan iman. Kami merencanakan masa depan bersama, membangun mimpi sederhana tentang rumah kecil, tentang anak-anak yang berlari di halaman, tentang menua bersama.

Hingga akhirnya, kami sepakat: sudah waktunya mengikat janji di hadapan Tuhan.

Hari yang Dinanti

Hari itu ditetapkan.
Tanggal yang kami pilih bukan sekadar angka. Itu adalah hari yang kami yakini penuh makna, hari yang menjadi jawaban doa-doa panjang kami.

Persiapan pun dimulai.
Gaun putih sederhana yang saya idam-idamkan sejak remaja sudah tergantung rapi di lemari. Undangan sederhana sudah tersebar ke keluarga dan sahabat.

Bunga-bunga dipasang di gereja kecil itu, bangku-bangku sudah dihias dengan pita putih, dan lagu-lagu pujian sudah disiapkan.

Malam sebelum pernikahan, saya tidak bisa tidur. Saya duduk di kamar, menatap gaun putih itu, lalu berlutut berdoa.

Air mata saya menetes bukan karena sedih, tapi karena bahagia.

“Tuhan, terima kasih. Akhirnya, mimpi kecilku sebentar lagi jadi nyata. Aku tidak minta pesta mewah, aku tidak minta kekayaan. Aku hanya ingin menikah di hadapan-Mu, bersama orang yang aku cintai. Tuhan, lindungi dia, agar besok kami bisa berdiri di altar-Mu.”

Hari Bahagia

Pagi pun tiba.
Matahari bersinar terang, burung-burung berkicau, seolah alam pun ingin merayakan sukacita saya. Saya mengenakan gaun putih itu, wajah saya dirias dengan senyum yang tak pernah saya rasakan sebelumnya. Semua orang berkata,

“Putri, kamu cantik sekali hari ini.”

Hati saya berdebar menunggu Yohanes datang. Dia akan menjemput saya, lalu bersama-sama kami akan menuju gereja. Saya membayangkan momen ketika pintu gereja terbuka, semua mata tertuju pada kami, dan kami berjalan menuju altar dengan penuh sukacita.

Namun, hidup punya cara yang tak pernah bisa kita duga.

Ketika Kebahagiaan Direbut

Beberapa jam sebelum prosesi dimulai, telepon itu datang.

Saya masih ingat jelas suara panik di seberang sana.
Kata-kata itu membuat tubuh saya gemetar, tangan saya membeku, dan hati saya seakan berhenti berdetak.

“Putri… Yohanes kecelakaan. Keadaannya parah.”

Saya tidak percaya.

Saya menjerit, berlari, menangis. Semua orang mencoba menenangkan saya, tapi hati saya tidak bisa menerima. Saya berdoa keras, “Tuhan, jangan ambil dia dariku. Tidak hari ini. Bukan hari ini.”

Tapi takdir berkata lain. Yohanes tidak pernah sampai ke gereja. Dia pergi… meninggalkan dunia ini, meninggalkan saya, meninggalkan janji-janji yang belum sempat terucap di altar.

Hari yang seharusnya menjadi hari bahagia saya, berubah menjadi hari berkabung. Gaun putih saya basah oleh air mata. Gereja kecil itu tidak lagi dipenuhi nyanyian sukacita, melainkan isak tangis.

Bunga-bunga yang dipasang untuk pesta, kini dipindahkan untuk menghiasi peti jenazah.

Saya,
Putri, berdiri di sana
seorang pengantin tanpa mempelai.

Pengantin Tanpa Mempelai

Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada berdiri di depan altar dengan gaun pengantin, sementara orang yang seharusnya ada di samping saya kini terbujur kaku dalam peti. Semua mata menatap saya dengan iba. Sebagian menangis, sebagian tidak sanggup berkata apa-apa.

Saya mendekati peti itu, menggenggam tangan dinginnya, dan berbisik:

“Yohanes, bukankah kita berjanji akan bersama seumur hidup? Mengapa hari ini justru aku harus mengucapkan selamat tinggal?

Aku mencintaimu, Yohanes. Dan cintaku tidak akan berhenti hanya karena maut memisahkan.”

Air mata saya jatuh membasahi tangannya. Saat itu saya merasa seluruh dunia runtuh.

Semua doa, semua harapan, semua mimpi, hancur seketika.

Tetapi di tengah kepedihan itu, saya teringat pada ajaran orangtua saya: miliki hati yang kuat, miliki hati yang tahu bagaimana mencintai tanpa syarat. Dan saya sadar, meski Yohanes pergi, cinta kami tidak pernah hilang.

Cinta yang Tak Mati

Hari itu saya belajar sesuatu yang tak pernah saya lupakan.
Bahwa hidup bisa berubah dalam sekejap. Bahwa kebahagiaan bisa direnggut seketika.

Bahwa tidak ada yang benar-benar milik kita kecuali kasih Tuhan.

Saya juga belajar bahwa cinta sejati tidak pernah mati.

Yohanes mungkin sudah pergi, tetapi cintanya tinggal di hati saya, menguatkan saya setiap hari. Dan saya percaya, suatu hari nanti, entah di dunia ini atau di surga nanti, kami akan bertemu kembali
bukan sebagai pengantin yang kehilangan, tetapi sebagai jiwa yang akhirnya dipersatukan untuk selamanya.

Kepada semua orang yang membaca kisah saya, saya ingin berpesan:
Hargailah setiap momen dengan orang yang kalian cintai.

Jangan pernah menunda untuk mengatakan “Aku mencintaimu.” Jangan menunda untuk meminta maaf, untuk memberi maaf, untuk memeluk lebih erat.

Karena kita tidak pernah tahu kapan waktu itu akan berhenti.

Saya,
Putri, adalah saksi bahwa cinta sejati tidak diukur dari lamanya kebersamaan, melainkan dari kedalaman kasih. Dan meski hari bahagia saya berubah menjadi hari berkabung, saya tetap percaya pada keajaiban doa, pada kasih Tuhan, dan pada cinta yang tidak pernah mati.

Www.kr>s.or.id

Www.adharta.com

Malam minggu

Malam minggu

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Citraland
Sabtu
23 Agustua 2025

Saya suka sekali menontin film di kala semua lagi mumet
Film satu cara melepaskan penat

Malam minggu
Saya Lendy dan Freddy
Menonton film Jacky Chan

The shadow’s edge

Renungan Singkat dari Kisah Film

Nilai pengalaman vs teknologi modern
Wong Tak-Chung (Jackie Chan), seorang mantan detektif ahli pelacakan yang telah pensiun, kembali beraksi karena kecanggihannya tak tergantikan meski di era teknologi tinggi. Film ini menunjukkan bahwa teknik tradisional dan intuisi manusia tetap penting dalam menghadapi ancaman modern.

Benturan moral dan strategi
Konflik antara Wong dan Fu Longsheng (Tony Leung Ka-Fai) bukan sekadar duel fisik, melainkan juga pertarungan ide—keadilan tradisional melawan kekerasan canggih. Ada ketegangan psikologis dan ketajaman strategi yang mencerminkan kompleksitas menegakkan hukum.

Tanggung jawab dan kasih sayang dalam hubungan keluarga
Hubungan Wong dengan anak angkatnya, Lian (Jun SEVENTEEN), menggambarkan dilema ketika seseorang yang kita cintai secara tak sengaja memicu bahaya besar. Tema ini menyiratkan bahwa cinta dan tanggung jawab sering kali berjalan beriringan.

Kekuatan sinergi antar generasi
Kolaborasi antara Wong (veteran) dan Ho Qiuguo / Guoguo (petugas muda) menunjukkan bahwa bekal pengalaman dan semangat baru bisa menjadi kekuatan padu dalam menyelesaikan kasus komplex

“Bapak dan Ibu polisi sekalian, malam ini mari kita renungkan kisah Wong Tak-Chung dari The Shadow’s Edge. Ia pernah pensiun karena luka emosional, namun ketika kota terancam, ia kembali. Bukan karena teknologi, melainkan karena pengalaman, ketajaman, dan kepekaan manusia—nilai yang tidak bisa digantikan oleh AI. Kita pun sering berada di tengah benturan antara prosedur yang kaku dan situasi yang kompleks. Seperti Wong, kita dipanggil kembali bukan karena kekuatan fisik atau perangkat canggih, melainkan keberanian, integritas, dan kasih terhadap masyarakat.”

Lebih baik Gagal daripada menyesal
(Jacky Chan)

Ini nasehat buat teman teman polisi
Sebagai dasar pemikiran bagus

📌 Maknanya:

Keberanian mencoba lebih berharga daripada diam.
Jika kita mencoba dan gagal, setidaknya ada pengalaman dan pembelajaran. Tapi kalau kita tidak berani bertindak, penyesalan bisa menghantui seumur hidup.

Kegagalan bisa diperbaiki, penyesalan tidak.
Kegagalan adalah sesuatu yang nyata—kita bisa bangkit dan memperbaikinya. Penyesalan hanya ada di dalam hati, dan tidak bisa dihapus karena kita bahkan tidak pernah berusaha.

Pesan moral bagi polisi:
Dalam tugas menjaga hukum dan masyarakat, kadang keputusan sulit harus diambil. Seorang polisi lebih baik bertindak meski ada risiko gagal, daripada pasif lalu membiarkan kejahatan atau bahaya terjadi, yang akhirnya menimbulkan penyesalan lebih besar.

Selamat Malam Minggu

Adharta

Asuransi

Asuransi

Perlindungan, Tantangan, dan Harapan Masa Depan

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Ada yang menyebut (Komunitas Reformasi Indonesia Sehat)

Saya kurang sepaham dengan masalah Asuransi
Tapi saya bisa melihat bahwa Asuransi bukan masalah uang klaim dan keuntungan
Tetapi berbicara tentang kebahagiaan di masa depan dimana perlindungan memberikan ketenangan dan kenyamanan hidup
Sekalioun kita banyak uang

Truat me… !

Asuransi merupakan salah satu pilar penting dalam kehidupan modern.
Ia hadir sebagai bentuk perlindungan dari berbagai risiko yang tidak pernah kita duga: sakit, kecelakaan, kehilangan harta benda, hingga kematian.

Dengan membayar premi, seseorang mengalihkan risiko finansial yang bisa menghancurkan kehidupannya kepada perusahaan asuransi.

Konsep sederhana inilah yang kemudian berkembang menjadi industri besar, menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia.

Namun, berbicara tentang asuransi tidak cukup hanya dari sisi teori.

Kita juga harus melihat sejarah, tokoh-tokoh yang merintis, jenis-jenis asuransi yang ada, hingga proyeksi bisnisnya ke depan. Lebih dari itu, perlu pula memahami pengalaman praktis: bagaimana memilih polis, menutup asuransi, hingga menghadapi agen asuransi yang terkadang dirasa
“menjengkelkan”Tulisan ini akan membahas secara menyeluruh dengan harapan memberikan pencerahan bagi masyarakat.

Sejarah dan Tokoh-Tokoh Asuransi

Sejarah asuransi bisa ditelusuri sejak ribuan tahun lalu.

Pada masa Babilonia, sekitar 1750 SM, terdapat “Kode Hammurabi” yang memuat aturan perdagangan. Pedagang yang meminjam uang untuk mengirim barang di laut bisa terbebas dari utang jika kapalnya tenggelam.
Inilah cikal bakal asuransi.

Di Yunani kuno, muncul lembaga “benevolent society” yang membantu biaya pemakaman anggotanya.

Sementara di Roma, tentara yang gugur akan ditanggung keluarganya oleh perkumpulan serupa.

Tokoh-tokoh penting dalam sejarah asuransi antara lain:

  1. Edward Lloyd (1635–1713) – pemilik kedai kopi di London yang menjadi tempat berkumpulnya pedagang dan pemilik kapal. Dari sinilah lahir Lloyd’s of London, pasar asuransi laut terbesar di dunia.
  2. Benjamin Franklin (1706–1790) – salah satu bapak pendiri Amerika Serikat yang juga mendirikan Philadelphia Contributionship, perusahaan asuransi kebakaran pertama di Amerika.
  3. William Morgan dikenal sebagai aktuaris pertama di dunia yang menerapkan ilmu statistik dalam perhitungan risiko.
  4. Ada Melvin Jones pendiri Lions Club International juga salah satu Tokoh Asuransi

Di Indonesia, asuransi modern dibawa oleh Belanda pada abad ke-18. Salah satu perusahaan tertua adalah Nederlandsch Indische Levensverzekering en Lijfrente Maatschappij (NILLMIJ), berdiri tahun 1859, yang kemudian menjadi bagian dari Jiwasraya.

Tokoh-tokoh penting di Indonesia antara lain:

AA Maramis, Menteri Keuangan RI yang berperan dalam nasionalisasi asuransi pasca-kemerdekaan.

Soemitro Djojohadikusumo, ekonom Indonesia yang mendorong pengembangan industri keuangan termasuk asuransi.

Para pendiri perusahaan asuransi nasional seperti Bumiputera (1912) yang digagas oleh guru-guru Indonesia untuk kesejahteraan sesama.

Jenis-Jenis Asuransi

Industri asuransi sangat luas. L

Di Indonesia, jenis-jenis asuransi dapat dikelompokkan sebagai berikut:

  1. Asuransi Jiwa

Memberikan santunan kepada ahli waris jika tertanggung meninggal dunia.

Bentuknya bisa term life (berjangka), whole life (seumur hidup), atau unit link (dikaitkan investasi).

  1. Asuransi Kesehatan

Menanggung biaya perawatan rumah sakit, operasi, rawat jalan, dan obat-obatan.

Bisa berbasis cashless (langsung ke rumah sakit) atau reimbursement.

  1. Asuransi Pendidikan

Menjamin ketersediaan dana pendidikan anak di masa depan, biasanya dikaitkan dengan asuransi jiwa orang tua.

  1. Asuransi Umum (General Insurance)

Meliputi asuransi kendaraan, kebakaran, properti, pengangkutan, hingga travel insurance.

  1. Asuransi Mikro

Produk sederhana dengan premi kecil untuk masyarakat menengah ke bawah, misalnya asuransi gagal panen.

  1. Asuransi Sosial

Dikelola pemerintah, seperti BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan.

  1. Asuransi Syariah

Didasarkan pada prinsip tolong-menolong (ta’awun), bukan jual-beli risiko. Premi disebut kontribusi, dan dana dikelola secara transparan.

Perusahaan Asuransi di Indonesia

Di Indonesia, ada ratusan perusahaan asuransi, baik jiwa maupun umum.

Beberapa yang dikenal luas antara lain:

Asuransi Jiwa Bersama Bumiputera 1912

Jiwasraya (dalam proses restrukturisasi)

Manulife Indonesia

Prudential Indonesia

Allianz Life Indonesia

AXA Mandiri Financial Services

Sinarmas MSIG Life

Tokio Marine Life Insurance

Zurich Topas Life

Sequis Life

Generali

BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan sebagai asuransi sosial nasional.

Prospek Bisnis Asuransi ke Depan

Prospek industri asuransi di Indonesia sangat besar.

Ada beberapa alasan:

  1. Rendahnya penetrasi asuransi. Tingkat kepemilikan polis di Indonesia masih di bawah 5% dari jumlah penduduk. Artinya, pasar masih luas.
  2. Meningkatnya kelas menengah. Dengan bertambahnya pendapatan masyarakat, kesadaran akan proteksi semakin tinggi.
  3. Perkembangan digital. Platform insurtech memudahkan masyarakat membeli polis, membayar premi, hingga klaim secara online.
  4. Regulasi pemerintah. Pemerintah semakin ketat dalam mengawasi industri, sehingga meningkatkan kepercayaan publik.
  5. Kesadaran pasca-pandemi. Pandemi COVID-19 membuka mata banyak orang tentang pentingnya perlindungan kesehatan dan jiwa.

Namun, ada juga tantangan: rendahnya literasi keuangan, citra buruk akibat kasus gagal bayar, serta praktik pemasaran yang agresif. Jika industri mampu memperbaiki transparansi dan pelayanan, masa depan asuransi di Indonesia akan sangat cerah.

Syarat-Syarat Menutup Asuransi

Menutup polis asuransi tidak boleh sembarangan. Beberapa hal yang harus diperhatikan:

  1. Pengisian formulir dengan jujur. Saat pertama kali membeli asuransi, tertanggung wajib mengisi data medis, keuangan, dan riwayat kesehatan secara benar. Jika ada kebohongan, klaim bisa ditolak.
  2. Membayar premi tepat waktu. Polis hanya berlaku jika premi dibayar. Jika menunggak, ada masa tenggang, tetapi lewat itu polis bisa batal.
  3. Membaca polis dengan teliti. Pahami manfaat, pengecualian, masa tunggu, serta prosedur klaim.
  4. Menyesuaikan dengan kebutuhan. Jangan menutup asuransi hanya karena bujukan agen, tetapi karena memang sesuai dengan kondisi finansial dan rencana hidup.

Bagaimana Klaim Berhasil

Salah satu keluhan terbesar terhadap asuransi adalah klaim yang sulit. Padahal, klaim bisa berjalan mulus jika kita memperhatikan hal-hal berikut:

  1. Lengkapi dokumen. Sertakan fotokopi KTP, polis, kwitansi rumah sakit, surat dokter, hingga surat kematian (untuk klaim jiwa).
  2. Ikuti prosedur. Setiap perusahaan punya SOP klaim, jangan sampai terlewat.
  3. Jangan menunda. Ajukan klaim sesegera mungkin setelah kejadian.
  4. Pastikan manfaat sesuai. Misalnya, jika polis hanya menanggung rawat inap, maka biaya rawat jalan tidak akan dibayar.
  5. Simpan komunikasi. Catat semua percakapan dengan perusahaan atau agen untuk bukti jika terjadi sengketa.

Jika semua syarat dipenuhi, klaim asuransi seharusnya dibayarkan. Kalaupun ada penolakan, perusahaan wajib memberi alasan tertulis.

Hubungan dengan Agen Asuransi

Agen asuransi adalah ujung tombak pemasaran. Namun sering kali masyarakat merasa “dikejar-kejar” oleh agen yang terlalu agresif. Hal ini wajar, karena agen bekerja berdasarkan komisi.

Ada beberapa sikap bijak dalam menghadapi agen:

  1. Dengarkan penjelasan, tetapi tetap kritis. Jangan langsung percaya semua janji manis.
  2. Minta ilustrasi tertulis. Jangan hanya berdasarkan ucapan lisan.
  3. Cari agen yang berlisensi. Agen resmi terdaftar di Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) atau Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI).
  4. Bangun hubungan profesional. Agen bisa menjadi konsultan jika kita terbuka, bukan sekadar penjual.
  5. Berani berkata tidak. Jika tidak sesuai kebutuhan, tolak dengan tegas namun sopan.

Saran-Saran Menutup Asuransi

Bagi masyarakat yang ingin memiliki asuransi, beberapa saran berikut bisa menjadi pegangan:

  1. Prioritaskan kebutuhan dasar. Asuransi kesehatan dan jiwa sebaiknya dipilih lebih dulu sebelum asuransi investasi atau tambahan lain.
  2. Pilih perusahaan terpercaya. Lihat reputasi, laporan keuangan, dan pengalaman membayar klaim.
  3. Pahami produk. Jangan membeli polis yang tidak Anda mengerti.
  4. Sesuaikan dengan kemampuan. Premi jangan melebihi 10–15% dari penghasilan bulanan.
  5. Pertimbangkan asuransi syariah. Bagi yang ingin sistem lebih transparan dan berbasis tolong-menolong.
  6. Evaluasi secara berkala. Hidup berubah, kebutuhan berubah. Sesuaikan polis sesuai kondisi.
  7. Gunakan agen sebagai partner. Pilih agen yang komunikatif, jujur, dan berkomitmen.
  8. Jangan menunda. Semakin muda usia kita, premi semakin murah.

Asuransi adalah payung yang kita siapkan sebelum hujan. Ia bukan sekadar produk keuangan, tetapi wujud kepedulian terhadap diri, keluarga, dan masa depan. Sejarah panjang, tokoh-tokoh besar, dan berbagai produk yang ada menunjukkan betapa asuransi telah menjadi bagian penting dari peradaban manusia.

Di Indonesia, prospek asuransi sangat cerah, asalkan masyarakat semakin cerdas, perusahaan semakin transparan, dan agen semakin profesional. Tantangan memang ada, tetapi justru di situlah peluang perbaikan.

Sebagai Ketua Umum KRIS, saya mendorong masyarakat untuk melihat asuransi bukan dengan kecurigaan, melainkan dengan sikap kritis dan bertanggung jawab. Pilih dengan hati-hati, kelola dengan baik, dan jadikan asuransi sebagai bagian dari strategi hidup sehat, sejahtera, dan penuh perencanaan.

Asuransi bukan hanya soal uang, melainkan soal masa depan yang lebih pasti.

Salam sehat

Adharta

Www.kris.or.id
Www.adharta.com

Nasib

Nasib

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Cerpen 005

Sepanjang jalan kenangan
Jumat 22 Agustus 2025

Kupersembahkan kisah ini buat istriku tercinta
Drg Magdalena

Kisahku
Di sebuah kampung kecil di pinggir kota Jakarta, hiduplah seorang pemuda bernama Raka.

Usianya tiga puluh dua tahun, lajang, dan bekerja serabutan. Orang-orang di kampung mengenalnya sebagai sosok yang rajin, tapi “tidak beruntung.”
Kata itu—tidak beruntung
seolah menjadi cap yang menempel di dahi Raka sejak kecil.

Ia lahir dari keluarga miskin. Ayahnya seorang buruh bangunan yang meninggal ketika ia masih duduk di bangku SMP, tertimpa reruntuhan saat proyek sedang berjalan. Ibunya hanya seorang penjual gorengan di depan rumah. Sejak itu, Raka harus berhenti sekolah, membantu ibunya mencari nafkah, dan perlahan melupakan cita-citanya untuk menjadi guru.

“Raka, orang seperti kita ini jangan mimpi terlalu tinggi. Sudah syukuri saja kalau bisa makan setiap hari,”
kata ibunya suatu malam. Kalimat itu bukan bermaksud mematahkan semangat, melainkan sekadar pengingat akan realitas.
Tapi di hati Raka, luka itu mengendap, membentuk keyakinan bahwa mungkin memang nasib sudah menutup jalan untuknya.

Kehidupan yang Berat

Hari-hari Raka dipenuhi pekerjaan tak menentu.
Kadang ia membantu mengangkut barang di pasar, kadang ikut tukang bangunan, atau bekerja sebagai ojek motor sewaan. Semua dilakukan demi sekadar bertahan hidup.

Setiap kali ia melihat teman-teman sebaya yang dulu satu sekolah, hatinya bergetar. Ada yang sudah jadi pegawai negeri, ada yang bekerja di perusahaan besar, bahkan ada yang punya usaha sendiri. Mereka hidup dengan keluarga kecil yang hangat, sementara Raka masih tinggal di rumah reyot bersama ibunya yang renta.

Suatu sore, ia duduk di warung kopi dekat rumah. Di depannya, beberapa teman lama sedang berbincang tentang kesuksesan masing-masing.

“Anak gue udah masuk SMP favorit, loh,” kata Arif bangga.
“Wah, hebat! Gue sih baru bisa DP rumah, doain lunas cepet,” sahut Budi.

Raka hanya tersenyum kecut.
Ia ikut tertawa ketika mereka bercanda, tapi dalam hati ia bertanya, Kenapa nasibku begini? Apa salahku?

Cinta yang Tak Sederhana

Di kampung itu, ada seorang gadis bernama Mira. Ia adalah teman masa kecil Raka, dan diam-diam perempuan itu pernah mengisi ruang di hatinya. Mira tidak pernah merendahkan Raka, bahkan sering membelanya ketika ada orang yang mengejek.

Suatu malam, ketika listrik padam dan kampung gelap gulita, Raka duduk di teras rumah.
Mira lewat, membawa senter kecil.

“Rak, masih bangun?” tanyanya.
“Iya, kepanasan di dalam,” jawab Raka.
Mira tersenyum. “Kadang aku iri sama kamu.”
“Iri? Sama aku? Kenapa?” Raka tertawa kecil, merasa aneh.
“Soalnya kamu tabah.

Hidupmu nggak mudah, tapi kamu tetap jalanin. Aku nggak tahu kalau aku di posisi kamu, mungkin aku udah nyerah.”

Kalimat itu menusuk hati Raka.
Ada perasaan hangat, tapi juga getir.
Ia tahu Mira akan segera menikah dengan seorang pegawai kantoran dari kota. Cintanya harus dipendam, karena ia merasa tak pantas bersanding dengan perempuan itu.

Ujian Baru

Beberapa bulan kemudian, ibunya jatuh sakit.

Usia dan kerja keras membuat tubuh renta itu rapuh.

Raka semakin sibuk mencari uang untuk biaya berobat.

Ia rela bekerja dari pagi sampai malam, bahkan sering hanya makan sekali sehari agar ibunya bisa membeli obat.

Namun, takdir kembali mempermainkannya.

Suatu malam, sepeda motor tuanya dicuri saat ia sedang mengantar barang.
Motor itu satu-satunya alat yang membuatnya bisa bekerja sebagai ojek. Hilangnya motor berarti hilangnya separuh penghasilan.

Ketika ia melapor pada polisi, ia hanya mendapat jawaban singkat:
“Begitulah, Pak. Kalau ada rezeki, nanti ketemu.”

Raka pulang dengan langkah gontai. Sesampainya di rumah, ia duduk di samping ibunya yang terbaring.
“Ibu, maaf… motor kita hilang,” ucapnya lirih.
Ibunya menatap lemah, lalu menggenggam tangannya. “Sudahlah, Nak. Jangan terlalu dipikirkan. Selama kamu masih sehat, masih ada jalan.”

Raka menunduk. Air matanya jatuh di punggung tangan ibunya.

Pertemuan yang Mengubah

Suatu hari, ketika Raka bekerja membantu kuli bangunan, seorang pria paruh baya datang meninjau lokasi.

Rupanya ia pemilik proyek, bernama Pak Surya.
Melihat kerja keras Raka, ia tertarik untuk mengajaknya bicara.

“Anak muda, kamu kelihatan rajin. Pernah kerja tetap?”
“Belum pernah, Pak.
Sekolah saya juga nggak sampai tamat SMA.”
“Kalau saya kasih kamu pekerjaan tetap di toko bahan bangunan, mau?”

Raka terkejut. Matanya berbinar, tapi ia juga ragu.
“Mau sekali, Pak… tapi saya nggak punya ijazah.”
“Yang saya butuhkan bukan ijazah. Saya butuh orang jujur dan mau kerja keras.”

Hari itu menjadi titik balik.

Raka diterima bekerja di toko Pak Surya dengan gaji tetap.
Meski tidak besar, tapi cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya obat ibunya.

Cobaan Terakhir

Namun, hidup tak pernah lurus. Beberapa bulan kemudian, kondisi ibunya memburuk. Dokter mengatakan bahwa penyakit jantungnya sudah parah. Meski sudah berusaha mengobati, ajal tetap datang menjemput.

Di malam penuh duka itu, Raka duduk di samping jasad ibunya. Tangannya menggenggam erat kain kafan. Hatinya hancur. Kini ia benar-benar sendiri.

Tetapi sebelum ibunya menghembuskan napas terakhir, ada pesan yang terpatri kuat di benaknya:
“Raka… jangan pernah salahkan nasib.
Karena nasib itu bukan hukuman, tapi jalan.
Kamu bisa memilih bagaimana melaluinya.”

Menemukan Makna

Waktu berjalan. Raka perlahan bangkit.
Ia tetap bekerja di toko Pak Surya, dan lama-kelamaan dipercaya untuk mengelola sebagian usaha. Dari hasil tabungan, ia membeli sepeda motor baru. Hidupnya memang tidak tiba-tiba kaya atau penuh kemewahan, tetapi ada rasa mantap dalam hatinya: ia mampu berdiri di atas kakinya sendiri.

Suatu sore, ia kembali duduk di warung kopi. Kali ini, ia tidak merasa kecil di hadapan teman-temannya
Meski mereka lebih sukses, ia tahu setiap orang punya jalan masing-masing.

Mira, yang kini sudah menikah dan tinggal di kota, sempat pulang kampung. Mereka bertemu sebentar.
Mira menatap Raka dengan mata berkaca-kaca.
“Kamu kelihatan lebih tenang sekarang, Rak.”
Raka tersenyum. “Mungkin aku sudah berdamai dengan nasib.”

Nasib itu Jalan
Kita lalui dan kita arahkan
Menuju cahaya masa depan

Hidup Raka bukan kisah kemenangan besar, bukan pula kisah cinta yang berakhir indah.
Tetapi di balik luka, kehilangan, dan kejatuhan, ia menemukan kekuatan untuk menerima. Bahwa nasib tidak selalu bisa dipilih, tetapi cara menjalaninya ada di tangan manusia.

Dan di sanalah, di balik kesederhanaan hidupnya, Raka menemukan arti sejati: bukan sekadar bertahan, tapi juga memahami bahwa setiap langkah adalah bagian dari perjalanan panjang bernama nasib.

Www.kris.or.id
Www.adharta.com

From Singapore with Love

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Lavender
Selasa
19 Agustus 2025

Beberapa hari ini saya check up total
Dengan Dr Niko Wanahita
Di Rumah Sakit Mount Elisabeth Novena

Khususnya mengenai sakit jantung saya paska tindakan Oktober 2024
Cutting Ballon dan perbaikan semua pembuluh darah

Hasil check up semua baik
Cuma fungsi Jantung saya masih sangat lemah jadi memerlukan bantuan alat yang akan di tanam fidada saya

Saya ingin menuliskan kisah saya bersama Singapura

Perjalanan Awal

Langkah yang Tak Pernah Terlupakan olehku

Tahun 1982 adalah tahun yang mengubah jalan hidup saya.

Saat itu, tubuh saya berada dalam kondisi yang rapuh lemah bahkan lumpuh total

Sebuah kecelakaan motor di Jakarta, ketika saya hendak menuju tempat kerja di ICCI,
Jalan Raden Patah, membuat saya jatuh dalam kondisi lumpuh. Di Indonesia, saya sempat berpindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya. Beberapa dokter mencoba menolong, namun tak ada yang bisa memastikan apa sebenarnya penyakit saya. Ada dugaan gegar otak, ada yang menyebut syaraf saya terganggu, namun jawaban pasti tak kunjung datang.

Dalam ketidakpastian itu, saya merasa hidup berjalan di tepi jurang. Namun Tuhan selalu punya cara untuk mengulurkan tangan-Nya. Pertama kali saya datang ke Singapura, bersama papa dan mama saya juga kakak saya Risal
tahun itu juga, saya diperkenalkan dengan mendiang
Dr. Ong Tien Kong, yang kemudian merujuk saya kepada Dr. J.A. Tambyah,
seorang dokter besar di Mount Elizabeth Orchard road Singapore

Tak saya sangka, dalam waktu singkat, hanya empat hari, tim dokter di Singapura berhasil menemukan sumber penyakit saya. Sesuatu yang tak mampu dijawab berbulan-bulan di tanah air, akhirnya terungkap dengan terang di negeri seberang. Keputusan harus diambil

Saya harus menjalani operasi besar di Singapore General Hospital dengan tim medis Mount Alvernia di bawah pimpinan langsung
Dr. JA Tambyah.

Operasi thyroid toxicosis itu berlangsung lebih dari delapan jam. Tubuh saya ditopang alat, jiwa saya digantungkan pada doa. Namun ketika akhirnya saya terbangun dari meja operasi, hidup baru seperti diberikan kembali kepada saya.

Saya selamat. Saya bisa berdiri. Saya bisa melanjutkan kehidupan hingga hari ini.

Itulah momen pertama saya jatuh cinta pada Singapura
sebuah negara kecil, tapi penuh kepastian, disiplin, dan ketulusan dalam menolong.

Sentuhan Kemanusiaan yang Menghangatkan

Ada satu peristiwa sederhana, namun membekas selamanya dalam hati saya.

Suatu hari, ketika saya harus terbang menuju Eropa, saya transit di Changi Airport. Penerbangan lanjutan dijadwalkan pukul 6 pagi, dan saya menunggu sendirian di kursi bandara. Lelah, saya tertidur.

Ketika terbangun, saya mendapati ada selimut menutupi tubuh saya. Saya tidak tahu siapa yang meletakkannya, tidak pernah melihat wajah orang yang melakukannya. Namun malam itu, di tengah dingin bandara internasional, ada seseorang yang dengan diam-diam menunjukkan kepedulian.

Itu bukan sekadar selimut. Itu adalah simbol kemanusiaan. Sentuhan kecil yang menunjukkan bahwa kasih sayang tidak mengenal batas negara, tidak memerlukan bahasa.

Dari pengalaman sederhana itu, saya belajar bahwa kebaikan sejati seringkali hadir dalam bentuk paling sunyi.

Kejujuran yang Mengagumkan

Ada pula pengalaman lain yang tak pernah bisa saya lupakan.

Suatu ketika, saya dan kakak saya, Pak Risal, makan di McDonald’s Orchard.

Ramai sekali suasana malam itu, hingga tanpa sadar saya meninggalkan tas saya.

Baru setelah beberapa saat, kami tersadar dan kembali ke restoran.

Betapa terkejutnya saya, tas itu dikembalikan dalam keadaan utuh.

Tidak ada yang hilang, bahkan di dalamnya terdapat lebih dari 50.000 dolar Singapura.

Bayangkan, jumlah itu bukanlah kecil. Namun kejujuran masyarakat Singapura terbukti nyata.

Bagi saya, itu bukan hanya tentang barang yang kembali, melainkan pelajaran besar bahwa sebuah bangsa yang maju berdiri di atas pondasi integritas dan kepercayaan.

Sahabat dan Persaudaraan yang Tertanam

Perjalanan saya di Singapura tidak berhenti pada dunia medis semata.

Singapura kemudian menjadi tanah di mana saya menemukan banyak sahabat, mitra, dan keluarga besar.

Ada dukungan besar dari perusahaan Sembawang Holding dan Temasek,
yang membantu saya membangun pijakan bisnis di Singapura maupun di Indonesia.

Banyak perusahaan membuka tangan bagi saya:

Penguin corp
Tiong Woon corp
President Marine
Amsbach corp
Jaya Offshore corp
Labindo Marine
Bok Seng
Ang Sing Liu
Dan masih banyak lagi yang tidak bisa saya sebut

Mereka adalah nama-nama yang mengiringi langkah saya dalam dunia usaha, sekaligus membuktikan bahwa persahabatan lintas negara bisa menjadi kekuatan nyata.

Namun perjalanan waktu juga mengajarkan kesedihan. Beberapa sahabat terbaik saya kini telah tiada

Yusuf Kamarudin
Tan Pak Sian
Yeo wee soon

Mereka meninggalkan jejak persaudaraan yang tidak akan pernah saya hapus dari ingatan.

Persahabatan sejati tidak berakhir pada perpisahan fisik
ia terus hidup dalam hati
Dan masih banyak sekali sahabat saya di Singapura yang saya kasihi

Pelajaran Hidup dari Singapura

Dari Singapura, saya belajar banyak hal yang mengubah cara pandang saya terhadap kehidupan

1. Disiplin dan Ketepatan Setiap aspek kehidupan di negeri itu berjalan dengan rapi. Jadwal, kebersihan, bahkan tata kota mengajarkan saya arti keteraturan.

2. Kemanusiaan dan Kepedulian Dari selimut di Changi, saya belajar bahwa perhatian kecil bisa berarti besar bagi orang lain.

3. Kejujuran dan Integritas Dari tas yang kembali dengan isi utuh, saya memahami bahwa bangsa besar lahir dari masyarakat yang menjunjung tinggi kepercayaan.

4. Persahabatan dan Dukungan Dari sahabat bisnis hingga keluarga angkat, saya merasakan bahwa keberhasilan tidak pernah lahir sendirian, melainkan dari jaringan kepercayaan dan kerja sama.

5. Harapan dan Kehidupan Baru Dari meja operasi yang panjang itu, saya mendapat kesempatan kedua untuk hidup. Itulah hadiah terbesar dari Singapura.

Dalam Doa Mengapa Saya Tidak Bisa Melupakan Singapura

Bagi banyak orang, Singapura hanyalah destinasi wisata, kota belanja, atau pusat keuangan dunia. Namun bagi saya, Singapura adalah bagian dari hidup saya. Di sanalah saya menemukan kembali kesehatan, belajar tentang arti kemanusiaan, mengalami kejujuran yang mengagumkan, dan membangun persaudaraan yang bertahan sepanjang zaman.

Hidup saya tidak akan sama tanpa pengalaman-pengalaman itu. Singapura mengajarkan saya untuk tidak hanya mencari kesuksesan pribadi, tetapi juga memberi makna bagi orang lain. Dari sana pula lahir keyakinan saya bahwa bangsa Indonesia pun bisa belajar banyak bahwa kedisiplinan, kejujuran, dan kepedulian adalah fondasi untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Akhir kata
Terima Kasih, Singapura

Hari ini, saat saya menulis kisah ini, hati saya dipenuhi rasa syukur. Syukur karena masih diberi kehidupan, syukur karena pernah ditolong, syukur karena memiliki sahabat-sahabat yang luar biasa.

Kisah ini bukan hanya tentang saya, melainkan tentang hubungan manusia dengan manusia, tentang jembatan yang menghubungkan dua bangsa, dan tentang cinta yang lahir dari pengalaman hidup.

Terima kasih, Singapura. Engkau bukan hanya negara tetangga, melainkan bagian dari perjalanan jiwa saya.

Adharta

From Singapore with Love.

Www.kris.or.id

Www.adharta.com