Category Archives: cerpen

cerita pendek , di tulis dengan indah

Padang Pasir Cinta

Padang Pasir Cinta

Cerpen 0048

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Komunitas
Relawan
Indonesia
Sehat

Awal Pebruari 2026

Cinta didalam Cinta

Fenny pernah percaya bahwa cinta adalah rumah.
Tempat pulang paling aman setelah dunia melelahkan.

Sepuluh tahun lalu, ia membangun rumah itu bersama Robby
dengan tawa, harapan, dan dua putri cantik yang menjadi cahaya hidup mereka:
Shanti yang lembut dan dewasa sebelum waktunya, serta Monica yang ceria seperti matahari pagi.

Namun rumah itu perlahan retak.
Bukan karena tak ada cinta, melainkan karena cinta tak lagi menemukan jalan.

Perkawinan mereka seperti berjalan di padang pasir: panas, kering, dan melelahkan. Kata-kata yang dulu hangat berubah menjadi jarak.
Diam menjadi lebih nyaring daripada pertengkaran.

Fenny dan Robby sama-sama lelah, sama-sama tersesat.

Akhirnya mereka sepakat berpisah.
Keputusan itu tidak mudah, terutama ketika harus membagi hal paling berharga dalam hidup mereka. Monica ikut Fenny, sementara Shanti tinggal bersama ayahnya.
Saat hari perpisahan itu tiba, Fenny memeluk Shanti terlalu lama, seolah ingin menyimpan aroma rambut anaknya untuk hari-hari sunyi ke depan.

Shanti tidak menangis.
Ia hanya berkata lirih,

“Mama harus kuat.”

Kalimat itu menghantam hati Fenny lebih keras dari apa pun.

Menjadi janda muda bukan sekadar status. Itu adalah label yang sering disalahartikan. Gosip datang tanpa diundang
di warung, di lingkungan, bahkan di tatapan orang-orang yang pura-pura ramah.

Fenny berusaha tegar, tetapi hatinya sering remuk diam-diam.
Ia memang dekat dengan beberapa pria.

Bukan karena ia murahan, melainkan karena ia kesepian.

Namun setiap kedekatan justru membuka luka lama.

Trauma perkawinan membuatnya selalu waspada, selalu takut. Lebih menyakitkan lagi, ia merasa dirinya dinilai rendah
seolah status janda menghapus harga dirinya sebagai perempuan.

Ia belajar tersenyum sambil menahan perih.
Hari-hari Fenny diisi perjuangan.

Ia menjadi ibu sekaligus ayah bagi Monica. Ia menjual makanan secara daring, lalu baju-baju, apa saja yang bisa menghasilkan. Pagi hari mengantar Monica sekolah, siang mengejar klien sebagai agen asuransi, malam menyusun harapan sambil menghitung sisa uang.
Namun di balik semua kesibukan itu, ada ruang kosong di hatinya.

Ia merindukan kehangatan seorang pria. Bukan sekadar pelukan, melainkan rasa aman.

Seseorang yang bisa berkata, “Istirahatlah, aku di sini.”

Takdir mempertemukannya dengan Donny.

Pria asal Sumatra Utara itu berbeda. Suaranya keras, caranya tegas, tetapi kata-katanya sering mengandung kebijaksanaan.

Donny tidak pandai merayu, namun ia hadir dengan kepastian.
Ia melihat Fenny bukan sebagai janda, melainkan sebagai perempuan kuat yang sedang lelah.

Fenny jatuh cinta perlahan.
Ia berpikir, mungkin inilah jawaban doanya. Mereka menikah dengan harapan baru.

Kehidupan materi tercukupi. Rumah nyaman. Tidak perlu lagi menghitung sisa uang di malam hari.

Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama.
Donny memiliki sisi lain yang tak pernah benar-benar ia pahami sebelumnya. Kata-kata kasarnya sering meluncur tanpa rem.

Amarahnya mudah menyala. Dan yang paling menyakitkan, ia melukai bukan hanya Fenny, tetapi juga Monica.

“Anak sial. Pembawa bencana,” kata Donny suatu hari, tepat di depan Monica yang masih kecil.
Kalimat itu menghancurkan segalanya.

Monica menangis dalam diam.

Fenny memeluk anaknya dengan tangan gemetar. Ia merasa gagal
sebagai istri, sebagai ibu, sebagai perempuan yang kembali salah memilih cinta.
Hari-hari berikutnya adalah tekanan demi tekanan.

Donny sering memaki Fenny, merendahkannya, menyebutnya perempuan murahan, pekerjaannya tidak jelas, masa lalunya kotor. Setiap kata seperti cambukan yang membuka kembali luka lama.

Trauma perkawinan pertama belum sembuh.
Kini, perkawinan kedua menorehkan luka yang lebih dalam.

Fenny sering menangis sendirian di kamar mandi. Air mata bercampur air kran agar tak terdengar siapa pun.

Ia bertanya pada dirinya sendiri: Apakah aku pantas dicintai? Atau aku memang ditakdirkan untuk selalu terluka?

Namun hidup, seperti senja, selalu memberi warna meski redup.
Suatu malam, Monica memeluk Fenny dan berkata, “Mama jangan sedih. Aku sayang Mama.”

Kalimat sederhana itu menyelamatkan Fenny.
Ia tersadar bahwa cinta sejati tidak selalu datang dari pasangan. Kadang, cinta hadir dari anak yang memercayainya sepenuh hati.

Dari tawa kecil di pagi hari.

Dari keberanian untuk bangkit, sekali lagi.
Fenny mulai menemukan kekuatannya kembali.

Ia belajar mencintai dirinya sendiri. Ia belajar bahwa romantisme tidak selalu tentang pria dan janji manis, tetapi tentang keberanian bertahan, tentang hati yang tetap lembut meski dunia keras.

Ia belum tahu bagaimana akhir kisah hidupnya. Namun kini ia tahu satu hal: ia bukan perempuan murahan. Ia adalah perempuan yang pernah jatuh, bangkit, jatuh lagi, dan masih memilih untuk percaya pada cinta
dengan caranya sendiri.
Di antara tawa dan air mata, Fenny berjalan. Tidak lagi di padang pasir yang gersang, melainkan di jalan panjang bernama kehidupan Cinta
Dengan luka sebagai pelajaran, dan cinta
meski pernah menyakitkan
sebagai harapan.

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Surat Cinta dari Kebun Cengkeh

Cerpen Nomor 0047

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Komunitas
Relawan
Infonesia
Sehat

Akhir Januari 2026

Surat Cinta dari Kebun Cengkeh

Pagi di Ngada selalu datang pelan, seperti ragu mengganggu orang-orang yang hidupnya sudah terlalu bising oleh kekurangan.
Kabut turun rendah di kebun cengkeh, menyisakan embun di daun-daun dan dingin yang menempel di tulang.

Di pondok kecil milik neneknya, Yona duduk di bale-bale bambu, menekuk lutut, menatap tanah.

Usianya sepuluh tahun. Ia tahu cara menghitung, tahu membaca, tahu menyimpan rahasia.

Ia juga tahu satu hal yang tak seharusnya diketahui anak seusianya: bagaimana rasanya menjadi beban.
Ibunya, Mama Reti, telah berangkat lebih pagi.
Bukan untuk bekerja
hari itu tak ada yang bisa dikerjakan
melainkan untuk memastikan

Yona sampai di pondok neneknya.
Seragam sekolah Yona tersimpan di sana.

“Rajin sekolah ya,” kata ibunya sebelum pergi.
Kalimat itu ringan bagi orang dewasa, berat bagi Yona.
Kepalanya pusing sejak malam.

Bukan pusing yang membuat orang dewasa berbaring dan minum obat, melainkan pusing yang bercampur dengan rasa bersalah.

Yona tahu ia sudah beberapa kali tak masuk sekolah.

Ia juga tahu, uang tidak datang begitu saja.

Kata-kata ibunya semalam berputar-putar di kepala: mencari uang tidak mudah.
Ketika dua orang dewasa lewat menuju kebun, mereka melihat Yona masih di bale-bale.

“Kamu tidak ke sekolah?” tanya salah satu.

Yona menggeleng.
“Nenek di mana?”
“Di rumah tetangga,”

jawabnya pelan.
Mereka pergi, dan Yona kembali sendiri.
Ia membuka tas kainnya.
Di dalamnya hanya ada buku tulis lama dan sepotong pensil yang pendek.
Yona merobek selembar kertas.

Tangannya gemetar.
Ia menulis dalam bahasa ibunya
bahasa yang paling jujur untuk mengucapkan perpisahan.
Ia menulis untuk Mama Reti.
Tulisan itu tidak rapi.

Ada kata yang terlewat, ada garis yang bergetar.
Namun setiap huruf mengandung satu hal yang jelas:
ia ingin ibunya berhenti menangis.

Ia ingin ibunya tahu, kepergiannya bukan karena benci,
melainkan karena cinta yang terlalu besar
dan hati anak laki-laki yang terlalu kecil untuk menampungnya.

Yona melipat kertas itu dengan hati-hati, seperti melipat doa.

Di kebun cengkeh, angin bergerak perlahan.
Dahan-dahan berdesir, seolah saling berbisik.
Dunia berjalan seperti biasa

orang mengikat ternak, orang menuju ladang—
hingga jerit itu pecah,
memantul di lereng,
dan berhenti di dada setiap orang yang mendengarnya.
Ketika Mama Reti tiba, kebun itu telah dikerumuni.
Ia melihat pohon cengkeh, melihat orang-orang,
lalu melihat sesuatu yang membuat kakinya lemas.

Tidak ada kata yang keluar.
Tidak ada suara yang sanggup memuat
hancurnya seorang ibu.
Di pondok, kertas itu ditemukan.
Tulisan tangan kecil itu menjadi saksi paling sunyi.
Ia tidak menuduh siapa pun.
Ia tidak menyebut sekolah, tidak menyebut uang.
Ia hanya meminta satu hal jangan menangis.
Hari itu, desa berduka.
Orang-orang berbisik
anak yang ceria, anak yang ramah.
Mereka lupa satu hal
anak yang ceria sering belajar tersenyum untuk menutup luka.

Yona bukan satu-satunya.
Ia hanya satu dari banyak anak
yang belajar terlalu cepat tentang kerasnya dunia.
Tentang tuntutan yang tak ramah
pada mereka yang tak punya.
Tentang kata-kata yang terdengar biasa,
tetapi menekan dada kecil
hingga tak ada ruang bernapas.

Malam turun.
Mama Reti duduk di rumahnya yang sunyi.
Ia memegang kertas itu lama sekali.

“Maafkan mama,” bisiknya.
Ia tidak tahu kepada siapa kata itu diarahkan
kepada Yona, kepada dirinya sendiri,
atau kepada dunia yang terlalu sering abai.

Keesokan hari, sekolah kembali buka.
Anak-anak datang dengan tas mereka.
Di satu bangku, ada ruang kosong.

Tidak ada yang berani duduk di sana.
Di kebun cengkeh, daun-daun tetap tumbuh.
Hidup terus berjalan.
Namun sejak hari itu,
angin di Ngada membawa satu pesan
yang tak boleh dilupakan:
anak-anak tidak pernah ingin pergi

mereka hanya ingin dimengerti.
Dan jika suatu hari kita mendengar suara kecil bertanya dengan ragu,
“Aku cukup, kan?”

Semoga ada tangan yang segera meraih dan menjawab,
“Kamu berharga.”

Selamat jalan, Yona.

http://www.kris.or.id
http://www.adharta.com

CINTA DALAM CINTA

Cerpen nomor 0046

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS (Komunitas Relawan Indonesia Sehat)

Ngada,Flores
Januari akhir 2026

Di sebuah pagi yang dingin di Ngada, Nusa Tenggara Timur, Yenny terbangun lebih cepat dari ayam jantan. Usianya baru sepuluh tahun. Tubuhnya kecil, kurus, tetapi matanya menyimpan keseriusan yang tidak lazim bagi anak seusianya. Ia tidak terbangun oleh mimpi indah, melainkan oleh kenyataan: hari itu ia harus ke sekolah, sementara di rumah tak ada apa-apa selain sisa nasi semalam dan doa ibunya yang tak pernah putus.

Yenny duduk di tepi tikar pandan. Ia melihat ibunya menyiapkan air panas dengan tungku kayu yang nyaris habis. Ayahnya sudah berangkat sejak subuh, mencari kerja serabutan kadang mengangkut kayu, kadang membantu di kebun orang. Tidak ada kepastian. Yang ada hanya harapan hari ini pulang membawa beberapa lembar ribuan.

“Ma,” suara Yenny pelan, hampir seperti bisikan, “hari ini guru minta beli pena sama buku.”

Ibunya terdiam. Tangannya berhenti mengaduk air. Bukan karena tidak mendengar, tetapi karena tidak tahu harus menjawab apa. Uang sepuluh ribu rupiah, jumlah yang bagi banyak orang tak berarti bagi keluarga Yenny adalah jarak antara bisa dan tidak bisa makan.

“Nanti mama usahakan ya, Nak,” kata ibunya akhirnya.

Senyum dipaksakan, mata ditundukkan. Yenny mengangguk. Ia sudah terbiasa dengan jawaban itu. Ia tahu ibunya tidak bohong. Ibunya hanya kalah oleh keadaan.

Sekolah dasar tempat Yenny belajar berjarak beberapa kilometer. Ia berjalan kaki setiap hari, melewati tanah merah dan pepohonan. Di kelas, Yenny dikenal pendiam. Ia bukan anak yang bodoh. Ia cepat menangkap pelajaran, tetapi sering menunduk ketika guru meminta murid mengeluarkan buku atau pena baru. Pena Yenny sering macet. Bukunya penuh coretan karena sudah dipakai lama.

Hari itu, guru kembali menegur. “Besok semua harus bawa buku dan pena baru.”

Kata-kata itu menghantam Yenny lebih keras dari apa pun. Dadanya sesak. Kepalanya penuh. Ia merasa kecil bukan karena tubuhnya, tapi karena hidupnya.

Sepulang sekolah, Yenny tidak langsung pulang. Ia duduk di bawah pohon, menatap tanah. Anak-anak lain tertawa, bercerita soal mainan dan jajanan. Yenny memeluk lututnya sendiri. Dalam pikirannya, hanya satu wajah yang muncul yaitu wajah ibunya.

Malamnya, hujan turun pelan. Di rumah, lampu redup. Ayah Yenny pulang dengan tangan kosong. Ibunya tak berkata apa-apa. Mereka makan nasi dengan garam.

Yenny memandang piringnya lama, lalu mendorongnya sedikit.
“Yenny kenyang,” katanya. Padahal tidak.

Malam itu, Yenny mengambil selembar kertas dari buku tulis lamanya. Dengan pensil pendek, ia menulis dengan ejaan yang belum sempurna, dengan bahasa yang sederhana, tetapi dengan beban yang terlalu berat untuk anak sepuluh tahun. Ia menulis untuk ibunya. Ia menggambar dirinya sendiri, seorang anak kecil dengan mata besar dan air mata. Di bawah gambar itu, ia menulis pesan perpisahan. Bukan karena ia ingin pergi, tetapi karena ia merasa tidak punya tempat lagi di dunia yang terus menuntut sesuatu yang tak bisa ia berikan.

“Ma… jangan menangis,” kira-kira begitu maksud tulisannya.

“Yenny pergi dulu.”

Tidak ada kemarahan di sana. Tidak ada tuduhan. Yang ada hanya rasa bersalah karena menjadi anak miskin di dunia yang tidak ramah pada kemiskinan.

Esoknya, Yenny ditemukan telah pergi untuk selamanya. Desa itu terdiam. Tangis pecah dari rumah kecil itu. Ibunya menjerit memeluk kertas yang ditinggalkan anaknya. Ayahnya terduduk, tak bersuara. Tetangga datang, aparat datang, orang-orang berdiri mematung.

Semua bertanya: “bagaimana mungkin anak sekecil itu memikul beban sebesar ini?”

Yenny tidak mati karena tidak punya pena dan buku. Yenny mati karena merasa sendirian, merasa menjadi beban, dan karena tak ada yang mengatakan bahwa hidupnya jauh lebih berharga dari apa pun yang tak mampu ia beli.

Kisah Yenny adalah cermin retak bagi kita semua. Tentang pendidikan yang lupa pada kemiskinan. Tentang masyarakat yang menormalisasi tekanan. Tentang dunia orang dewasa yang sering lupa bahwa kata-kata bisa membunuh, dan empati bisa menyelamatkan.

Jika hari itu seseorang memeluk Yenny dan berkata,

“Tidak apa-apa, Nak. Kamu cukup. Kamu berharga.”

Mungkin kisah ini tidak perlu ditulis.

Kini, yang tersisa hanyalah penyesalan dan sebuah pesan kecil dari seorang anak Ngada, yang suaranya terlalu pelan untuk dunia yang terlalu bising.

Semoga Yenny beristirahat dalam damai.
Dan semoga kita yang masih hidup, belajar untuk lebih manusia.

Cinta dalam Cinta
Memang bergejolak
Airmata belum cukup menyejukkannya

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Hujan Banjir dan Cinta serta Air Mata

Cerpen no. 0043

Oleh: Adharta
Ketua Umum
KRIS

Jakarta, Kamis, 22 Januari 2026

Sahabatku, malam bergeser perlahan menuju subuh. Langit masih gelap, berat oleh awan yang belum selesai menumpahkan airnya. Ayam belum berkokok. Kota belum sepenuhnya terjaga. Namun di antara jarum jam yang bergerak pelan, ada kegelisahan yang tak bisa ditunda.

Aku terjaga. Di layar ponsel, suaraku menyeberangi laut—menuju Kapal LCT IRIS yang berlayar tanpa muatan dari Samarinda ke Jakarta. Sebuah perjalanan pulang yang seharusnya tenang, tetapi malam itu laut menolak bersahabat. Cuaca ekstrem memaksa kapal berjuang menghadapi ombak tinggi, angin kencang, hujan yang turun seperti tirai tanpa jeda. Badai datang bergulung, memukul lambung kapal dengan kekuatan alam yang tak bisa ditawar.

Dalam hati, aku membayangkan wajah-wajah yang kukenal satu per satu. Kapten kapal. Para perwira. Seluruh anak buah kapal. Mereka bukan sekadar kru. Mereka adalah ayah yang ingin pulang, suami yang dirindukan, anak yang menjadi harapan orang tua. Di lautan luas pagi telah datang. Di sanalah aku berdoa, doa seorang yang paham bahwa laut tak pernah bisa dijinakkan, hanya dihormati.

Kami mencari makan di laut dengan segala perjuangan. Demi keluarga. Demi bangsa. Demi negeri.

Kapal-kapal kami, seperti LCT IRIS, adalah nadi yang menghubungkan pulau dengan pulau, membawa mesin, alat berat, dan harapan pembangunan. Dari tambang di pelosok hingga jantung kota, semuanya bergantung pada keberanian manusia melawan alam, menembus ombak dan gelombang tinggi.

Dalam kegelapan malam, suara Kapten terdengar melalui sambungan yang terputus-putus. Tenang, tetapi sarat beban. Ia meminta izin dan restu. Kapal tidak bisa melanjutkan pelayaran. Cuaca terlalu berbahaya. Satu-satunya pilihan adalah berlindung di Kepulauan Masalembo, di utara Pulau Jawa. Kondisi saat itu, jarak 50 km ditempuh sekitar 10 jam. Hatiku runtuh perlahan. Sedih. Bukan karena perjalanan tertunda, melainkan karena aku tahu keputusan itu lahir dari pertarungan batin seorang Kapten yang memikul tanggung jawab nyawa banyak orang. Dengan suara yang kutahan agar tetap tegar, aku memberi restu. Berlindunglah. Ambil sikap aman. Shelter bukan tanda menyerah, melainkan tanda cinta pada kehidupan.

Kami berbicara singkat tentang cuaca. Sebagai pelaut, kami tidak diajarkan takut pada ombak, angin, hujan, atau badai. Tetapi kami selalu diajarkan satu hal keselamatan adalah hukum tertinggi. Tuhan tidak pernah menjanjikan cuaca yang selalu baik di laut Tidak pernah menjanjikan laut tanpa gelombang. Tetapi Tuhan menjanjikan pelabuhan tujuan yang indah. Dan kebahagiaan sejati awak kapal adalah tiba dengan selamat.

Telepon belum sempat kututup ketika pesan-pesan mulai masuk. Banyak. Bertubi-tubi. Dari darat.

Jakarta. Kota ini sedang tenggelam. Banjir telah melanda sejak hari-hari sebelumnya, tetapi hari ini air naik lebih tinggi, lebih cepat, lebih kejam.

Sekolah-sekolah meliburkan murid. Mereka menerapkan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Sebagian perusahaan memutuskan untuk work from home (wfh). Pabrik-pabrik menutup gerbang. Jalan-jalan utama berubah menjadi sungai keruh yang membawa lumpur, barang-barang rumah tangga, dan kadang kenangan. Menjelang subuh, laporan datang dari berbagai penjuru kota. Warga mulai mengungsi. Akses keluar masuk ditutup.

Di beberapa titik, air mencapai lebih dari satu meter. Aku belum bisa memejamkan mata. Bukan karena kopi atau lelah, tetapi karena nurani menolak diam.

Seorang ibu bernama Sari mengirim pesan suara. Tangisnya tertahan. Air sudah setinggi dada. Ia menggendong anak bungsunya, sementara dua anak lain berdiri di atas meja. Suaminya belum bisa pulang.

“Kami hanya bisa berdoa,” katanya. Doa itu terdengar rapuh, tetapi justru di sanalah kekuatannya. Di tempat lain, Pak Rahmat, buruh harian, duduk di atap rumahnya. Sepeda motor yang menjadi sumber penghidupannya hanyut. Semua peralatan kerjanya lenyap. Banjir tidak hanya merendam rumah, tetapi juga harapan. Ia tidak menangis. Mungkin karena air sudah terlalu banyak.

Pagi itu, kabar yang paling menusuk datang dari dua orang yang sangat kukenal. Bapak Endang Siaman, sopir pribadi saya, dan Bapak Wahyudin, sopir keluarga rumah.

Dua sopirku. Dua kepala keluarga. Dua orang sederhana yang setiap hari mengantar dengan kesetiaan, tanpa banyak bicara. Rumah mereka terendam lebih dari satu meter. Bapak Endang mengirim foto. Ruang tamu yang biasa rapi berubah menjadi kolam. Lemari kayu terendam. Kasur mengapung. Ia berdiri di sudut rumah, air setinggi dada, memeluk anaknya yang ketakutan. “Kami sudah naik ke loteng, Pak,” tulisnya singkat. Tidak ada keluhan. Tidak ada tuntutan. Hanya laporan. Bapak Wahyudin lebih lirih. Ia mengabarkan bahwa istrinya menangis sejak subuh. Surat-surat penting, buku sekolah anak, dan sebagian perabot tak sempat diselamatkan. “Saya tidak apa-apa, Pak,” katanya. Kalimat itu justru membuat dadaku sesak. Karena aku tahu, kalimat itu sering diucapkan oleh orang-orang yang paling menderita.

Di tengah banjir dan hujan, air mata jatuh tanpa suara.

KRIS (Komunitas Relawan Indonesia Sehat)

KRIS tidak boleh diam. Ini bukan sekadar organisasi. Ini adalah keluarga nurani. Kami bergerak. Menghubungi relawan. Menghubungi donatur. Membuka dompet bencana banjir Jakarta. Dompet yang dibuka bukan karena kelimpahan, tetapi karena kepedulian.

Relawan turun ke lapangan dengan jas hujan lusuh dan sepatu terendam. Mereka mengevakuasi lansia. Menggendong anak-anak. Menenangkan ibu-ibu yang panik. Mereka bekerja tanpa pamrih, tanpa kamera, tanpa janji. Di tengah cuaca buruk, mereka adalah cahaya kecil yang bertahan.

Seorang relawan muda menyelamatkan nenek Aminah yang menolak dievakuasi tanpa kucingnya. Kisah seorang relawan perempuan jatuh sakit karena kelelahan, tetapi tetap kembali ke lokasi pengungsian. “Kalau bukan kita, siapa lagi?” katanya.

Malam itu, laut bergelora dan kota terendam oleh lautan air. Dua dunia yang berbeda, tetapi disatukan oleh satu hal yakni cinta yang diuji.

Kapal LCT IRIS menunggu cuaca bersahabat. Jakarta menunggu air surut. Di antara keduanya, ada doa, ada air mata, ada tangan-tangan yang saling menggenggam.

Aku menutup hari dengan doa. Untuk awak kapal di laut. Untuk warga di darat. Untuk Bapak Endang dan Bapak Wahyudin. Untuk para relawan. Karena di balik hujan dan banjir, selalu ada cinta yang bekerja diam-diam menjaga bangsa ini agar tidak tenggelam oleh putus asa.

Dan aku percaya, seperti kapal yang akan tiba di pelabuhan tujuan yang indah, kita semua akan sampai. Dengan luka, dengan lelah, tetapi dengan hati yang tetap utuh dalam Cinta dan Bahagia.

Semoga Jakarta dilindungi oleh Tuhan yang Maha Kuasa dibebaskan dan dikurangkan penderitaan para korban banjir, serta diberi perlindungan keselamatan

Www.kris.or.id