Category Archives: cerpen

cerita pendek , di tulis dengan indah

Di Meja yang Sama walau beda bangku

*Cerpen nomor 0061*

*Di Meja yang Sama walau beda bangku*

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Jakarta
21 Maret 2026

Minal aidin walfa izin
Mohon maaf lahir dan batin

*Selamat hari raya Idul fitri*
*1447 Hijriah*

Dalam suka cita dan cinta
Di sebuah rumah sederhana di Jakarta,
di antara hiruk-pikuk kota yang tak pernah benar-benar tidur, hiduplah sebuah keluarga yang tak biasa
namun justru di situlah letak keindahannya.

Redi, seorang pria Muslim berawak tinggi besar
yang bekerja sebagai manajer stasiun di Gambir, adalah sosok yang tegas namun hangat.
Setiap pagi ia berangkat sebelum matahari benar-benar terbit, memastikan kereta-kereta berjalan tepat waktu, seperti ritme hidupnya yang teratur.

Istrinya, Maria, seorang Katolik yang bekerja sebagai suster di Rumah Sakit Saint Carolus, Jakarta
adalah perempuan Cantik
penuh kasih, dengan senyum yang menenangkan siapa pun yang sedang sakit
baik tubuh maupun hati.

Mereka memiliki tiga anak perempuan yang semuanya sudah kuliah:
Pertama Nita, si sulung yang memilih Katolik seperti ibunya;

Kedua Mira, anak kedua yang mengikuti keyakinan ayahnya sebagai Muslim;

dan ketiga Susana, si bungsu yang memilih jalan Buddha dengan ketenangan yang khas.

Perbedaan itu tak pernah menjadi jurang. Justru menjadi taman bunga dengan warna-warni yang memperindah kehidupan mereka.

Suatu sore menjelang bulan Ramadan, suasana rumah terasa lebih hidup dari biasanya.

“Ayah, nanti sahur pertama aku bantu ya,” kata Mira sambil membawa segelas teh hangat ke meja makan.
Redi tersenyum, “Wah, anak ayah makin rajin.

Tapi jangan sampai kesiangan kuliah ya.”

Nita yang duduk di sebelahnya ikut menyela, “Aku juga bangun kok. Sekalian temani Mama doa pagi.”

Susana tertawa kecil, “Aku sih ikut bangun juga… tapi mungkin cuma duduk sambil minum air dan meditasi sebentar.”

Maria yang baru saja pulang dari rumah sakit meletakkan tasnya dan memandang mereka satu per satu.
Matanya berbinar.
“Beginilah rumah yang Mama suka,” katanya lembut. “Ramai, beda-beda, tapi tetap satu meja.”
Ramadan pun tiba.

Setiap dini hari, dapur rumah itu hidup.
Mira membantu menyiapkan sahur bersama Maria, sementara Nita dan Susana kadang masih mengantuk di kursi makan, namun tetap menemani.

“Doanya masing-masing ya,” ujar Maria setiap kali mereka akan makan.

Redi mengangkat tangan, membaca doa dengan khusyuk.
Mira mengikutinya. Di sisi lain, Nita membuat tanda salib, dan Susana menundukkan kepala dalam diam.

Tidak ada yang merasa asing.
Hanya ada rasa hormat.
Namun, seperti keluarga pada umumnya, mereka pun tak luput dari perdebatan kecil.

Suatu malam, saat berbuka puasa, terjadi sedikit ketegangan.
“Aku rasa kita harus lebih tegas soal jadwal rumah,” kata Nita. “Semua sibuk, tapi rumah juga harus rapi.”
Mira langsung menjawab, “Aku juga sibuk, Kak. Jangan seolah-olah aku yang paling santai.”
“Bukan begitu maksudku—”
“Sudah, sudah,” potong Susana sambil tersenyum, “kita ini beda agama saja bisa akur, masa beda jadwal piket ribut?”

Redi menatap mereka dengan sedikit serius, tapi kemudian tersenyum.
“Perdebatan itu biasa,” katanya. “Yang penting, jangan sampai kita lupa kenapa kita bisa duduk di sini bersama.”

Maria menambahkan pelan, “Karena kita saling mencintai, bukan karena kita sama.”
Suasana pun mencair.
Tawa kembali terdengar, mengisi ruang makan yang sederhana itu.

Tak lama setelah Ramadan berjalan, suasana Imlek yang baru saja lewat masih terasa. Beberapa lampion kecil masih tergantung di sudut rumah
kenangan dari perayaan yang juga mereka rayakan bersama kerabat.
Kini, mereka mulai membicarakan dua momen besar yang akan datang: Idul Fitri dan Paskah.
“Lebaran tahun ini kita buat lebih ramai ya,” kata Mira penuh semangat.
“Aku mau bikin kue sendiri!”
Nita langsung menyahut, “Kalau begitu aku bantu dekorasi rumah. Sekalian nanti untuk Paskah juga.”

Susana mengangguk, “Aku bagian bersih-bersih saja deh. Biar semua nyaman.”
Maria tersenyum melihat anak-anaknya, lalu memandang Redi.

“Kita beruntung ya,” katanya pelan.

Redi mengangguk, “Sangat.”

Hari-hari berlalu dengan damai. Redi tetap sibuk di stasiun, Maria dengan pasien-pasiennya, dan ketiga anak mereka dengan dunia kampus masing-masing. Namun setiap malam, mereka selalu berusaha makan bersama.
Meja makan itu menjadi pusat kehidupan mereka.
Tempat diskusi.
Tempat bercanda.
Tempat berdebat.
Dan tempat saling menguatkan.

“Menurut kalian,” tanya Susana suatu malam, “kenapa kita bisa seperti ini?”

Mira berpikir sejenak, lalu menjawab, “Karena kita tidak pernah dipaksa.”

Nita menambahkan, “Dan karena kita diajarkan untuk mendengar, bukan hanya bicara.”

Maria memandang Redi dengan hangat, “Dari awal kami sepakat, cinta tidak boleh memaksa.”
Redi tersenyum, “Dan iman itu harus tumbuh, bukan dipaksakan.”
Akhirnya, hari yang dinanti tiba.
Idul Fitri 1447 H.

Rumah itu penuh dengan aroma ketupat, opor ayam, dan kue-kue buatan Mira. Nita sibuk mengatur meja dengan rapi, sementara Susana memastikan semuanya bersih dan nyaman.
Maria mengenakan pakaian sederhana namun anggun, membantu di dapur, sementara Redi mengenakan baju koko putih.
Saat waktu salat Id tiba, Mira menemani ayahnya ke masjid.
Nita dan Susana tinggal di rumah bersama Maria, menyiapkan segalanya untuk menyambut.
Ketika Redi dan Mira kembali, suasana penuh haru menyelimuti rumah.

“Mohon maaf lahir dan batin,” kata Mira sambil mencium tangan ibunya.

Maria memeluknya erat, “Mama juga, Nak.”
Nita dan Susana ikut bergabung. Mereka saling berpelukan, tertawa, bahkan sedikit menitikkan air mata.

Hari itu, tidak ada perbedaan.
Yang ada hanya keluarga.

Beberapa hari kemudian, mereka mulai mempersiapkan Paskah.

Kali ini, Nita yang lebih sibuk. Ia menyiapkan lilin, bunga, dan dekorasi sederhana.

“Ayah bantu ya,” katanya pada Redi.
Redi tersenyum, “Tentu. Ini rumah kita bersama.”
Mira membantu tanpa ragu, sementara Susana kembali dengan perannya menjaga suasana tetap damai.
Saat malam Paskah tiba, mereka kembali duduk di meja yang sama.
Doa kembali dipanjatkan
masing-masing dengan cara mereka sendiri.
Namun satu hal yang sama: rasa syukur.

Di rumah itu, perbedaan bukanlah batas.
Ia adalah jembatan.
Yang menghubungkan hati-hati yang tulus.

Dan di tengah dunia yang sering kali terpecah karena perbedaan, keluarga kecil itu menjadi bukti bahwa cinta, rasa hormat, dan kebersamaan… selalu lebih kuat.
Selama mereka masih duduk di meja yang sama, mereka tahu,
*mereka akan selalu menjadi satu.*

Selamat hari raya idul fitri H 1447

*Minal aidin Walfa Izin*
*Mohon maaf lahir dan batin*

*Adharta*

http://www.kris.or.id I http://www.adharta.com

Cinta yang Tidak Selesai

Cerpen no 0061

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Medio Maret 2026

Sahabatku
Anton lahir di Medan, di sebuah keluarga Katolik sederhana yang mengajarkan disiplin, kerja keras, dan iman kepada Tuhan. Sejak kecil ia dikenal sebagai anak yang penuh energi.

Teman-temannya sering berkata bahwa Anton seperti api hangat, berani, dan selalu bergerak maju. Ia tumbuh menjadi pemuda yang agresif dalam arti positif
berani mengambil kesempatan, rajin bekerja, dan tidak takut menghadapi tantangan.
Sementara itu di Jakarta, lahirlah Mila. Sejak kecil ia dikenal sebagai gadis yang cerdas dan cantik. Ia memiliki mata yang teduh dan cara berbicara yang lembut. Mila mencintai buku sejak usia dini. Ia percaya bahwa pendidikan adalah cara terbaik untuk mengubah dunia.

Karena itu, ia menekuni studinya dengan sungguh
sungguh hingga akhirnya menjadi seorang akademisi yang mengajar di beberapa universitas.
Pertemuan mereka terjadi secara sederhana.
Suatu hari Anton menghadiri sebuah seminar kepemudaan Katolik di Jakarta. Ia datang sebagai peserta, sedangkan Mila menjadi salah satu pembicara muda yang membawakan topik tentang peran pendidikan dalam membangun karakter generasi muda.
Anton yang biasanya penuh percaya diri, tiba-tiba menjadi pendiam ketika mendengar Mila berbicara. Ada sesuatu dalam suara wanita itu
tenang, cerdas, dan penuh keyakinan
yang membuatnya terpikat.
Setelah seminar selesai, Anton memberanikan diri menghampiri Mila.
“Presentasi Anda luar biasa,” kata Anton dengan senyum yang sedikit canggung.
Mila tersenyum ramah. “Terima kasih. Anda dari mana?”
“Medan.

Tapi hari ini saya merasa Jakarta jadi lebih menarik.”

Mila tertawa kecil. Itulah awal dari percakapan panjang yang tanpa mereka sadari menjadi awal sebuah kisah cinta.
Hubungan mereka tumbuh perlahan namun pasti.

Anton sering terbang dari Medan ke Jakarta hanya untuk bertemu Mila.
Kadang mereka menghadiri misa bersama, duduk berdampingan di bangku gereja, berdoa dalam diam.

Anton selalu menggenggam tangan Mila setelah misa selesai, seolah tidak ingin melepaskan kebahagiaan kecil itu.
Mila sering mengagumi semangat Anton.

“Kenapa kamu selalu terlihat begitu berani?” tanya Mila suatu malam.

Anton tersenyum.
“Hidup terlalu singkat untuk takut.”
Kata-kata itu, yang saat itu terdengar seperti candaan ringan, kelak menjadi kalimat yang selalu teringat di hati Mila.

Tahun-tahun berlalu.
Anton semakin sukses dalam pekerjaannya. Ia dikenal sebagai pria yang pekerja keras dan penuh ide. Sementara Mila semakin dikenal di dunia akademik. Ia mengajar di beberapa universitas dan sering diundang menjadi pembicara tentang pendidikan.

Mereka adalah pasangan yang berbeda namun saling melengkapi. Anton penuh energi dan keberanian,
Mila penuh kebijaksanaan dan ketenangan.
Namun hidup kadang berjalan di luar rencana manusia.

Suatu pagi yang sunyi, kabar itu datang seperti petir di langit cerah.
Anton meninggal dunia.
Tidak ada penyakit sebelumnya. Tidak ada tanda-tanda bahaya.
Ia hanya ditemukan tak bernyawa di rumahnya.
Para dokter tidak menemukan sebab yang jelas.
Ia meninggal di usia 40 tahun.
Dunia Mila seolah berhenti berputar.
Hari pemakaman Anton dihadiri banyak orang. Teman, keluarga, dan sahabat datang dari berbagai kota.

Di dalam gereja, lilin-lilin menyala tenang di depan altar.
Mila duduk di bangku depan, memandang peti kayu itu dengan mata yang basah.
Ia teringat semua hal kecil: senyum Anton, keberaniannya, dan cara ia selalu berkata bahwa hidup terlalu singkat untuk takut.
Pastor yang memimpin misa berkata dengan lembut,

“Cinta tidak berhenti ketika seseorang dipanggil pulang oleh Tuhan.”

Setelah pemakaman itu, Mila kembali ke kehidupannya sebagai pengajar. Ia mengajar lebih tekun dari sebelumnya.
Ia menulis, meneliti, dan membimbing mahasiswa dengan penuh perhatian.
Namun ada satu hal yang selalu ia lakukan setiap kali selesai mengajar.

Ia berhenti sejenak di kapel kampus.
Di sana, dalam keheningan doa, Mila selalu mengingat Anton.

Bagi dunia, kisah cinta mereka mungkin telah selesai.
Tetapi bagi Mila, cinta itu tidak pernah benar-benar berakhir.
Karena cinta yang lahir dalam iman… tidak berhenti di bumi.

http://www.kris.or.id I http://www.adharta.com

Aku Pulang Bertahun tahun di Negeri Orang,

Cerpen No. 0060

Oleh : Adharta
Ketua Umum KRIS

Hidup di perantauan

Angin laut berhembus pelan di pelabuhan Tanjung Priok sore itu.
Burung camar terbang rendah di atas kapal-kapal yang bersandar.

Yussof berdiri di tepi dermaga, memandang laut yang berwarna keperakan diterpa matahari senja.
Dalam hatinya, ia tahu perjalanan hidupnya telah berubah sejak pertama kali ia menginjakkan kaki di Jakarta.

Tahun itu,
1980.
Bagi Yussof, Jakarta bukan sekadar kota.
Ia adalah pintu menuju masa depan.
Yussof berasal dari Sabah, dari sebuah kampung kecil tidak jauh dari Kota Kinabalu.

Ayahnya seorang petani sederhana yang setiap hari menanam padi dan sayur di ladang kecil milik keluarga. Ibunya seorang guru sekolah dasar yang sangat dihormati di kampung mereka.

Walaupun hidup sederhana, keluarga itu kaya akan pendidikan dan nilai kehidupan.
Yussof adalah anak kedua dari tiga bersaudara.
Kakaknya, Rahman, sudah lebih dahulu merantau ke Indonesia dan menjadi dokter setelah lulus dari Universitas Airlangga di Surabaya.

Adiknya, Azlan, seorang pemuda cerdas yang kelak menjadi insinyur teknik mesin setelah menempuh pendidikan di sebuah universitas di Singapura.

Di antara mereka bertiga, Yussof lah yang paling mencintai laut.
Sejak kecil ia sering berdiri di pantai Sabah, memandang kapal-kapal besar yang berlayar menuju negeri jauh.
Ia selalu bertanya dalam hati: bagaimana rasanya mengarungi samudra yang luas itu?

Kesempatan itu datang ketika pemerintah Malaysia mengirim beberapa pemuda terbaik untuk belajar di Akademi Ilmu Pelayaran di Jakarta.

Yussof termasuk di antara tujuh orang yang terpilih.
Perjalanan pertamanya meninggalkan Sabah terasa seperti mimpi. Ia masih ingat saat ibunya memeluknya erat di pelabuhan.

“Belajarlah sungguh-sungguh, Yussof,” kata ibunya lembut.
“Di negeri orang kita harus menjaga nama baik keluarga.”
Ayahnya hanya menepuk bahunya kuat-kuat.
“Jangan takut ombak,” katanya singkat.

Kata-kata itu tertanam dalam hati Yussof.
Di Jakarta, hidup tidak semudah yang ia bayangkan.
Ia tinggal di asrama Akademi Ilmu Pelayaran bersama para taruna dari berbagai daerah. Disiplin di akademi sangat keras.
Bangun sebelum matahari terbit, latihan fisik, belajar navigasi, meteorologi, mesin kapal, hingga latihan di laut.
Suatu hari Yussof pernah di hukum menghormati bendera merah putih selama 5 jam di terik Matahari
Gara gara ketahuan makan nasi padang pakai tangan

Bagi Yussof, hari-hari itu penuh perjuangan.
Kadang ia merasa sangat rindu rumah.
Malam-malam panjang di asrama sering diisi dengan percakapan dengan teman-teman senegaranya
enam pemuda Malaysia yang sama-sama merantau. Mereka sering duduk di kantin sederhana, minum kopi panas sambil bercerita tentang kampung halaman.

“Kalau sudah lulus, aku ingin menjadi kapten kapal besar,” kata salah seorang temannya.
Yussof hanya tersenyum.
Dalam hatinya, ia juga memiliki mimpi yang sama.
Namun kehidupan di Jakarta tidak hanya memberi kesulitan.
Kota itu juga memberinya sesuatu yang tidak pernah ia duga sebelumnya.

Cinta.

Ia bertemu dengan seorang gadis Indonesia bernama Ratna.

Ratna adalah mahasiswi di sebuah sekolah tinggi ekonomi di Jakarta. Pertemuan mereka terjadi secara tidak sengaja ketika Yussof membantu Ratna yang hampir terjatuh di halte bus saat hujan deras mengguyur kota.
Sejak pertemuan itu, mereka sering bertemu.
Ratna adalah gadis yang lembut namun kuat.
Ia berasal dari keluarga sederhana di Jawa Tengah yang merantau ke Jakarta untuk mencari kehidupan yang lebih baik.
Yussof sering mengajaknya berjalan di sekitar kota tua, atau duduk di warung kecil menikmati nasi goreng sambil berbincang tentang masa depan.
“Suatu hari nanti kamu akan berlayar jauh,” kata Ratna suatu malam.
Yussof memandangnya lama.
“Kalau itu terjadi, apakah kamu akan menunggu?”
Ratna tersenyum.
“Laut tidak akan pernah bisa mengambil orang yang benar-benar ingin pulang.”
Kata-kata itu membuat hati Yussof hangat.
Tahun-tahun di Akademi Ilmu Pelayaran berlalu dengan cepat. Pelajaran semakin sulit, latihan semakin berat, namun Yussof tidak pernah menyerah.
Ia selalu teringat wajah ayah dan ibunya di Sabah.
Ia juga teringat Ratna.
Pada suatu pagi yang cerah, akhirnya hari yang dinantikan tiba.

Yussof resmi lulus dari Akademi Ilmu Pelayaran Jakarta.
Di pundaknya kini tersemat gelar kapten.
Saat upacara kelulusan, Ratna berdiri di antara para tamu yang hadir.
Ketika mata mereka bertemu, keduanya tahu perjalanan baru akan dimulai.
Tidak lama setelah itu, Yussof membuat keputusan besar dalam hidupnya.
Ia menikahi Ratna.
Sebagian teman-temannya terkejut. Tidak mudah bagi seorang pemuda Malaysia menikahi gadis Indonesia pada masa itu. Namun bagi Yussof, cinta tidak mengenal batas negara.
Ia menulis surat panjang kepada orang tuanya di Sabah.
Beberapa minggu kemudian, balasan datang.
Ibunya menulis dengan tulisan tangan yang halus:
“Jika dia membuatmu bahagia, bawalah dia pulang ke rumah.”
Surat itu membuat mata Yussof basah.
Beberapa tahun setelah kelulusan, Yussof mulai bekerja di kapal-kapal perdagangan yang berlayar melintasi Asia Tenggara. Ia mengarungi Laut Jawa, Selat Malaka, hingga Samudra Hindia.
Kadang ia berada jauh dari rumah berbulan-bulan.
Namun setiap kali kapal mendekati pelabuhan, hatinya selalu teringat satu hal.
Rumah.

Rumah bukan hanya Sabah lagi.
Rumah juga Jakarta.
Rumah adalah Ratna yang menunggunya dengan sabar.
Suatu hari, setelah bertahun-tahun berlayar, Yussof berdiri di geladak kapal memandang cakrawala. Laut tampak tenang seperti kaca yang luas.
Ia teringat perjalanan hidupnya.
Dari seorang anak petani di Sabah…
Menjadi taruna di Jakarta…
Menjadi kapten kapal…
Dan menemukan cinta di negeri orang.
Ia tersenyum pelan.
“Negeri orang telah menjadi bagian dari hidupku,” bisiknya.
Namun dalam hatinya, ia tahu satu hal.
Sejauh apa pun kapal berlayar, setiap pelaut selalu memiliki satu tujuan yang sama.
Pulang.
Dan suatu hari nanti, Yussof akan kembali ke Sabah bersama Ratna, membawa kisah panjang tentang tahun-tahun yang ia jalani di negeri orang.
Sebuah kisah tentang perjuangan, cinta, dan keluarga.
Kisah seorang anak petani yang berani menyeberangi lautan demi masa depan.
Dan ketika ia menutup matanya malam itu di atas kapal yang berlayar perlahan, satu kalimat terngiang di dalam pikirannya:

“Aku pulang… setelah bertahun-tahun di negeri orang.”
Oh Malaya.

http://www.kris.or.id I http://www.adharta.com

Antara Denyut nadi dan Doa

Cerpen no 0058

Oleh : Ad harta
Ketua Umum
KRIS

Jakarta
Awal Maret 2026
Selamat ber puasa

Mengenang seorang sahabat
Kakak dan pejuang KRIS

Cintaku
Rumah sakit itu tidak pernah benar-benar sunyi.
Bahkan pada dini hari, ketika lampu-lampu lorong meredup dan langkah kaki mulai jarang terdengar, masih ada suara monitor jantung yang berdetak pelan
seperti pengingat bahwa kehidupan selalu berjuang untuk tetap ada.

Di rumah sakit itulah
Dr. Arya Pradipta pertama kali bertemu Laras Widyasari, seorang perawat muda dengan mata yang hangat dan senyum yang selalu berhasil menenangkan pasien.

Pertemuan mereka sederhana. Terlalu sederhana bahkan untuk disebut takdir.

Namun dari kesederhanaan itulah kisah besar sering dimulai.

Hari itu hujan turun deras. Arya baru saja menyelesaikan operasi seorang pasien yang sangat melelahkan.
Ia berjalan keluar ruang operasi dengan langkah berat, wajahnya lelah, masker masih menempel.

Di lorong, Laras sedang mendorong troli obat.
“Dokter Arya, Anda belum makan sejak pagi,” katanya lembut.

Arya terkejut. Ia tidak menyangka ada orang yang memperhatikan hal sekecil itu.

“Ah… saya hampir lupa kalau saya juga manusia,” jawabnya sambil tersenyum.

Laras tertawa kecil.
Dan sejak hari itu, sesuatu mulai tumbuh.
Hari-hari mereka di rumah sakit sering penuh kelelahan. Namun di sela-sela tugas, mereka menemukan cara untuk saling menguatkan.
Kadang hanya dengan secangkir kopi di kantin rumah sakit.
Kadang dengan percakapan singkat di lorong.
Kadang dengan tawa kecil psetelah berhasil menyelamatkan pasien yang hampir putus harapan.

Suatu malam, setelah shift panjang, mereka duduk di bangku taman rumah sakit.
Hujan baru saja berhenti. Daun-daun masih basah.
“Apa yang membuatmu memilih menjadi dokter?” tanya Laras.

Arya menatap langit yang masih kelabu.
“Karena aku ingin memperpanjang waktu orang-orang bersama orang yang mereka cintai.”

Laras terdiam.
“Kalau kamu?” Arya bertanya.

“Aku ingin menemani mereka ketika waktu itu hampir habis.”

Mereka saling memandang.
Di antara dua kalimat sederhana itu, mereka tahu mereka berada di jalan yang sama.

Cinta mereka tumbuh perlahan, seperti matahari yang terbit tanpa suara.
Tidak ada drama besar.
Tidak ada pengakuan berlebihan.
Hanya kebiasaan kecil yang berubah menjadi kebutuhan.
Arya selalu menunggu Laras selesai shift malam.

Laras selalu membawa kopi untuk Arya.
Dan suatu sore, di taman yang sama, Arya berkata dengan suara pelan,
“Laras… maukah kamu menua bersamaku?”

Laras tidak menjawab dengan kata-kata.
Ia hanya mengangguk, sambil menyeka air mata yang tiba-tiba jatuh.

Pernikahan mereka sederhana.
Tidak mewah, tidak besar.
Namun penuh tawa.
Teman-teman dokter dan perawat memenuhi aula kecil rumah sakit.
Bahkan beberapa pasien yang sudah sembuh datang membawa bunga.
Hari itu, rumah sakit yang biasanya dipenuhi kecemasan berubah menjadi tempat yang penuh kebahagiaan.
Dan kehidupan baru mereka dimulai.

Tahun-tahun berlalu.
Tuhan memberi mereka tiga anak.

Raka, yang selalu penasaran dengan segala hal.

Dinda, yang lembut dan penuh empati.
Dan Arga, si bungsu yang selalu membuat rumah dipenuhi tawa.
Di rumah kecil mereka, sering terdengar canda.

“Ayah, kalau aku sakit nanti ayah yang operasi ya?” tanya Arga suatu hari.

Arya tertawa.
“Jangan sampai sakit. Tapi kalau perlu, ayah pasti ada.”

Laras memandang mereka dari dapur dengan mata hangat.
Rumah itu sederhana.
Namun penuh cinta.
Ketika anak-anak mulai besar, mereka sering ikut ke rumah sakit.

Mereka melihat ayah mereka bekerja tanpa lelah.
Mereka melihat ibu mereka menenangkan pasien dengan suara lembut.
Suatu malam, Raka berkata,

“Ayah… aku ingin jadi dokter seperti ayah.”
Arya tersenyum bangga.
“Kalau begitu, jadilah dokter yang lebih baik dari ayah.”
Dinda berkata pelan,
“Aku juga ingin membantu orang seperti ibu.”
Arga mengangkat tangan.
“Aku juga!”
Rumah itu penuh tawa malam itu.
Tidak ada yang tahu betapa berharganya momen sederhana itu.

Lalu tahun 2020 datang.
Dunia berubah.
Virus Corona Covid-19
yang tidak terlihat mulai mengambil banyak nyawa.
Rumah sakit menjadi medan perang.

Dokter dan perawat bekerja siang malam.
Arya termasuk di garis depan.
Laras sebenarnya takut.
Sangat takut.
Namun ia juga tahu siapa suaminya.

“Janji pulang,” kata Laras suatu malam sebelum Arya berangkat.
Arya memegang tangannya.
“Aku akan selalu berusaha.”
Hari-hari menjadi berat.
Pasien terus berdatangan.
Tangis keluarga terdengar hampir setiap hari.

Dan suatu malam, Arya mulai batuk.
Awalnya ia mengabaikan.
Namun beberapa hari kemudian, demam datang.
Tes dilakukan.
Hasilnya positif.
Laras merasa dunia berhenti berputar.
Arya harus dirawat di rumah sakit yang sama tempat ia bekerja.

Tempat ia menyelamatkan begitu banyak nyawa.
Kini ia menjadi pasien.
Anak-anak tidak bisa menjenguk.
Mereka hanya bisa melihat ayah melalui layar video.
“Ayah cepat sembuh ya,” kata Arga sambil menahan tangis.

Arya tersenyum meski wajahnya lemah.
“Tentu. Ayah kuat.”
Namun tubuh manusia punya batas.
Dan suatu pagi yang sunyi, monitor jantung Arya berhenti berdetak.

Dokter yang mencoba menyelamatkannya adalah murid-muridnya sendiri.
Di luar ruangan, Laras menangis tanpa suara.
Air mata yang tidak pernah ia biarkan jatuh selama bertahun-tahun akhirnya mengalir deras.

Pemakaman berlangsung sederhana.
Karena pandemi.
Tidak banyak orang yang bisa datang.
Namun cinta yang ditinggalkan Arya jauh lebih besar dari jumlah orang yang hadir.

Di rumah, Laras harus belajar menjadi kuat.
Untuk tiga anaknya.

Tahun-tahun kembali berjalan.
Raka belajar keras.
Dinda tidak pernah berhenti membantu orang.
Arga tumbuh dengan semangat yang sama seperti ayahnya.
Dan suatu hari, Laras duduk di aula universitas.
Matanya berkaca-kaca.
Di panggung, tiga nama dipanggil.

Dr. Raka Aryaputra.
Dr. Dinda Aryasari.
Dr. Arga Aryaditya.

Ketiganya resmi menjadi dokter.
Seperti ayah mereka.
Seperti mimpi kecil yang dulu pernah mereka ucapkan di meja makan.
Laras menatap langit.
Air mata jatuh lagi.
Namun kali ini bukan hanya karena kehilangan.
Melainkan juga karena kebanggaan.

Di antara air mata itu, ia hampir bisa mendengar suara Arya.
“Lihat, Laras… kita berhasil.”

Dan di antara kenangan, tawa, dan doa yang tidak pernah berhenti, cinta mereka tetap hidup.
Bukan lagi hanya di dua hati.
Tetapi di tiga dokter muda yang kelak akan menyelamatkan banyak kehidupan.
Seperti ayah mereka dulu.

http://www.kris.or.id I http://www.adharta.com

SURVIVAL: Bekerja sebagai Ibadah

Cerpen no 0057

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Jakarta, 2 Maret 2026

Sebuah kisah yang kudengar sendiri, obrolan sewaktu berbuka puasa.

Ike sudah bersiap diri ketika kebanyakan orang masih terlelap. Jam lima pagi. Langit masih gelap, jalanan sepi dan basah oleh sisa hujan semalam dan sisa lelah kota yang tak pernah benar-benar tidur.

Ike mengunci pintu rumah kontrakan kecil di pinggiran Depok dengan pelan, takut membangunkan dua adiknya yang tidur berdesakan di satu kasur tipis.

Ayahnya, pegawai negeri dengan gaji pas-pasan, sering terbatuk dalam tidur. Ibunya sudah bangun sejak tadi, menyiapkan nasi putih, tempe dan telur dadar yang dibagi jadi empat bagian.

“Ini bekalmu ya, Ke” kata ibunya lirih.

Ike mengangguk. Ia tak berani lama-lama menatap wajah ibunya. Ia tahu, di mata itu ada rasa bersalah yang tak pernah terucap karena anaknya harus menanggung beban yang seharusnya belum ia pikul di usia 19 tahun.

Ike bekerja di sebuah restoran Korea di mal Jakarta Barat. Ia harus menempuh perjalanan panjang setiap hari pergi dan pulang, demi satu hal sederhana: uang untuk makan dan bertahan hidup.

Jam delapan pagi, ia sudah berdiri di dapur panas. Menyiapkan semua keperluan restoran sebelum dibuka. Ike berjalan ke sana kemari tanpa henti untuk melayani para tamu, membersihkan meja, mengeringkan peralatan makan, mengangkat barang berat. Jam sebelas malam lewat, setelah semua peralatan makan, peralatan dapur, meja dan kursi diberesin, ia dan kawan-kawannya bersiap pulang. Perjalanan panjang kembali dia tempuh dalam gemerlap cahaya lampu-lampu jalanan. Sering kali dia sampai di rumah jam satu atau dua pagi.

Tangannya sering gemetar, punggungnya nyeri, kakinya terasa mati rasa. Tapi ia tetap berdiri, siap melayani para tamu yang memanggil. Duduk terlalu lama akan dianggap malas. Dan malas berarti tidak dibutuhkan.

Gajinya sangat kecil. Terlalu kecil untuk disebut layak. Namun cukup jika kata “cukup” diartikan sebagai tidak mati hari ini.

Pukul satu dini hari, Ike baru tiba di rumah. Ia mandi cepat, meneguk air putih, lalu rebah. Dua atau tiga jam kemudian, alarm berbunyi. Subuh memanggil, dan hidup menuntut lagi. Capek bukan lagi keluhan. Capek sudah jadi keadaan.

Dalam wawancara bersama tim KRIS, seorang bertanya padanya: “Bagaimana kamu bisa bertahan kerja dua puluh jam dengan gaji sekecil itu?”

Ike terdiam sejenak. Lalu menjawab pelan, tapi tegas: “Ini bukan soal kuat atau tidak. Ini hanya untuk survival.”

Kalimat berikutnya jatuh seperti palu yang menghantam papan: “Kalau saya tidak ambil pekerjaan ini, kami sekeluarga bisa kelaparan.”

Tidak ada drama. Tidak ada teriakan. Hanya kejujuran telanjang dari seorang anak yang terlalu cepat dewasa. Ike bercerita tentang betapa sulitnya mencari pekerjaan setelah pandemi.

Lowongan ada di mana-mana, tapi syaratnya seperti tembok tinggi: pendidikan, pengalaman, keahlian, usia ideal. “Saya tidak punya semua itu,” katanya. “Saya hanya punya kemauan bekerja.”

Ia melamar ke banyak tempat. Datang, mengisi formulir, menunggu, berharap. Lalu pulang dengan jawaban yang sama: kami akan hubungi. Tapi nyatanya tidak pernah benar-benar menghubungi. Akhirnya, ketika perut tak bisa lagi menunggu dan tagihan tak bisa lagi ditunda, Ike berhenti memilih. “Yang penting bisa kerja dulu,” katanya. “Yang penting bisa makan.”

Di restoran, Ike bertemu banyak wajah. Ada pelanggan yang ramah. Ada yang memandangnya seperti mesin. Ada yang memarahinya karena pesanan dianggap kelewat lama, meski terlambat beberapa menit.

Tak ada yang tahu atau mau tahu bahwa gadis yang berdiri di depan mereka tidur hanya dua-tiga jam semalam. Bahwa senyum itu dibayar dengan sakit kepala dan nyeri tulang. Bahwa satu komplain bisa berarti ia kehilangan pekerjaan.

Ia menunduk. Ia meminta maaf. Bukan karena ia selalu salah. Tapi karena ia tidak punya ruang untuk melawan. Seorang teman pernah bertanya, “Kenapa kamu nggak cari kerja lain saja?” Ike tersenyum pahit. “Kalau semudah itu, aku sudah pergi.”

Ia tahu, di luar sana ribuan orang juga sedang mencari. Banyak yang lebih pintar. Lebih terampil. Lebih beruntung. Dalam sistem yang kejam, Ike hanyalah angka yang mudah diganti.

Malam hari, saat semua tertidur, Ike sering menatap langit-langit. Ia lelah. Ia takut. Tapi ia tetap bangun esok hari. Bukan karena ia paling kuat. Melainkan karena ia tidak diizinkan untuk jatuh.

Kisah Ike bukan kisah tunggal. Ini kisah para pekerja yang kita temui setiap hari di restoran, di toko, di jalan namun jarang kita lihat sebagai manusia utuh. Mereka bukan pemalas. Bukan manja. Bukan tidak mau berkembang. Mereka hanya sedang bertahan hidup di tengah ekonomi yang keras dan pilihan yang sempit.

Sahabatku, mungkin Anda membaca kisah ini sambil duduk nyaman. Tolong ingatlah di balik pelayanan cepat dan senyum sopan, ada tubuh yang hampir roboh. Ada anak-anak muda yang bekerja bukan untuk mimpi melainkan untuk besok pagi.

Survival bukan pilihan romantis. Survival adalah jeritan sunyi orang-orang kecil agar mereka bisa terus hidup melewati hari demi hari.

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Menanti Cinta yang Diajarkan Langit

Cerpen 0056
Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Akhir Februari 2026

Menanti Sholat Magrib buat Sahabatku

Aminah dan Budi telah tiga tahun menjalani mahligai rumah tangga. Di atas kertas, mereka adalah suami istri yang sah. Di hadapan manusia, mereka terlihat rukun dan penuh senyum. Namun hanya langit yang tahu. Rumah mereka jauh dari kehangatan yang seharusnya mengalir di antara dua insan yang terikat akad.

Pernikahan mereka lahir dari niat baik, tapi bukan dari cinta. Pernikahan yang lahir dari balas budi, dari kehormatan keluarga, dari rasa “tidak enak hati” yang terlalu mahal untuk ditolak. Budi tahu sejak awal, ia tidak mencintai Aminah. Dan Aminah sebagai perempuan merasakan itu sejak malam pertama yang berlalu tanpa sentuhan.

Tiga tahun. Tiga Ramadan. Tiga Idulfitri telah mereka lalui tanpa pernah benar-benar menjadi satu. Di rumah itu, ada dua kamar. Budi di satu sisi, Aminah di sisi lain. Mereka bertemu di meja makan, saling menyapa dengan sopan, saling bertanya kabar, lalu kembali ke dunia masing-masing.

Aminah sering tertawa di depan orang. Namun menangis diam-diam di kamar. Budi sering tampak tenang. Namun sujudnya panjang dan basah.

Sebagai lelaki, Budi sebenarnya mampu. Budi sehat lahir batin. Ia normal. Pejantan tulen. Namun ia menahan diri. Bukan karena jijik. Bukan karena benci. Budi takut.

“Aku tidak ingin menyentuhmu tanpa cinta,” ucapnya suatu malam dengan suara rendah. “Aku takut menzolimi hatimu, Min.” Aminah tertawa kecil, getir mendengar perkataan itu.

“Bukankah cinta bisa tumbuh setelahnya, Mas? … Atau aku sebenarnya tidak pantas dicintai?”

Budi terdiam. Aminah memang punya sifat yang keras. Ia terbiasa memerintah, ingin menang sendiri, dan sulit mengalah. Namun di balik itu, ia hanya perempuan yang ingin dipeluk, diinginkan, dan menjadi ibu.

Budi pun bukan tanpa cela. Prinsipnya sering berubah menjadi tembok. Idealismenya menjadi penjara. Ia ingin cinta yang sempurna. Lupa bahwa cinta sering tumbuh dari ketidaksempurnaan yang diterima bersama.

Setiap Ramadan, Budi selalu berdoa: “Rabbi hab li min ladunka mawaddatan wa rahmah.” — “Wahai Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku cinta dan kasih sayang dari sisi-Mu.”

Budi sering teringat firman Allah:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً (QS. Ar-Rum: 21)

“Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya, Dia menciptakan pasangan hidup agar kamu merasa tenteram, dan Dia menjadikan di antara kalian cinta dan kasih sayang.”

Ayat itu menenangkan sekaligus menamparnya. Jika cinta adalah anugerah, mengapa ia hanya menunggu tanpa berusaha?

Aminah pun berdoa. Tangisnya sering pecah di sepertiga malam.

“Ya Allah… jika aku sombong, luluhkan hatiku. Jika aku keras, lembutkan aku… Aku hanya ingin menjadi istri yang Engkau ridhoi.”

Ia membaca ayat ini berulang-ulang: إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ (QS. Ar-Ra’d: 11)

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”

Pelan-pelan, Aminah berubah. Bukan demi Budi semata, tapi demi Allah. Aminah belajar menahan emosi. Belajar meminta maaf. Belajar tersenyum tanpa tuntutan.

Suatu pagi, ia menyuguhkan teh hangat kepada Budi.

“Mas… terima kasih sudah bertahan,” katanya lembut. Budi tersenyum kaget.

“Terima kasih juga… kamu sudah mau berubah.” Untuk pertama kalinya, mereka tertawa bersama. Tawa kecil. Agak canggung. Tapi nyata. Ada hari-hari berat. Ada hari-hari lucu. Momen itu terasa hangat dan menyejukkan hati mereka berdua.

Pernah suatu kali Aminah mencoba memasak makanan kesukaan Budi, tapi gosong.

“Astaghfirullah…,” Aminah panik. Budi tertawa. Sungguh-sungguh tertawa… terpingkal-pingkal bahkan.

“Tak apa. Gosongnya penuh niat baik.” Aminah ikut tertawa sambil menangis. Namun dia merasakan sejentik kebahagiaan.

Perubahan tidak langsung melahirkan cinta besar. Tapi ia melahirkan kehangatan. Dari kehangatan, tumbuh keakraban. Dari keakraban, hadir rasa aman. Suatu malam Ramadan, setelah tarawih, Budi berkata pelan, “Min… bolehkah aku belajar mencintaimu dengan cara Allah?”

Aminah terdiam, lalu mengangguk sambil meneteskan air mata bahagia. Malam itu bukan malam penyatuan fisik. Tapi malam pertama mereka berdoa bersama.

Satu sajadah. Dua hati. Satu arah. Budi membaca ayat: وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ (QS. An-Nisa: 19) “Pergaulilah istri-istrimu dengan cara yang baik.”

Aminah tersenyum. Untuk pertama kalinya, ia merasa dilihat. Mereka belum sepenuhnya sampai. Mereka belum sepenuhnya menyatu. Namun kini, mereka tidak lagi berdiri di tempat yang sama. Ada langkah. Ada usaha. Ada harap.

Cinta ternyata bukan sesuatu yang hanya ditunggu. Cinta diupayakan. Dipanjatkan. Diperjuangkan dengan doa, sabar, dan kerendahan hati.

Aminah dan Budi masih menanti cinta. Namun kini, mereka menantinya bersama. Dan itu… adalah cahaya pertama yang Allah nyalakan di rumah mereka.

Www.kris.or.id

Di Antara Sampah,Aku Menemukan Harapan

Di Antara Sampah,
Aku Menemukan Harapan

Cerpen 0055

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Komunitas
Relawan
Indonesia
Sehat

Sindanglaya
Sabtu
21 Pebruari 2026

Cintaku
Aku berdiri terpaku di tempat penimbunan sampah di Jalan Raya Sindanglaya, Cipanas.

Bau agak menyengat menusuk hidung, tapi yang lebih menusuk adalah kenangan hidup ku masa lalu.
Tumpukan sampah ini bukan sekadar limbah
ia adalah saksi hidup masa kecilku.

Tanpa sadar, air mataku menetes, satu per satu, jatuh ke tanah yang dulu pernah menjadi alas hidupku.

Tiga puluh tahun lalu, di tempat inilah aku belajar tentang lapar, dingin, dan bertahan hidup.

Namaku belum ada saat itu. Aku hanya seorang anak kecil berusia lima tahun yang tidak tahu siapa orang tuaku, tidak tahu dari mana aku berasal.

Aku hanya tahu: aku sudah ada di dunia ini, dan dunia ini terasa sangat kejam.
Aku tidak sendiri.

Ada tiga temanku: Didi, Andi, dan Surya.
Mereka ini juga tidak ada keluarga

Kami berempat, anak-anak jalanan yang setiap hari mengais sampah, mencari sisa makanan untuk sekadar mengisi perut agar tidak melilit perih.

Kadang nasi basi, kadang tulang, kadang hanya remah-remah yang tak layak disebut makanan.

Tapi bagi kami, itu adalah kehidupan.
Malam hari adalah musuh terbesar.

Kami tidur di bawah jembatan, berselimutkan karton yang basah dan sobek.

Angin malam menusuk tulang, membuat tubuh kecil kami menggigil tanpa henti.

Tidak ada pelukan ibu, tidak ada suara ayah yang menenangkan.

Yang ada hanya suara kendaraan dan rasa takut akan hari esok.

Aku sering bertanya dalam hati, meski belum mengerti arti hidup sepenuhnya:

Mengapa aku dilahirkan? Mengapa aku ada, tapi sendirian?

Aku tumbuh tanpa tahu siapa orang tuaku. Hingga dewasa, aku mencoba mencari mereka
bertanya, berharap, menelusuri jejak yang bahkan tidak aku miliki. Tapi jawabannya selalu sama: tidak ada.

Suatu hari hujan turun sangat deras. Kami tidak bisa mengais sampah.
Tukang sampah pun tidak datang. Perut kami kosong sejak pagi. Dalam keputusasaan, kami melihat sebuah pohon pepaya tak jauh dari sana. Buahnya masih mentah, pahit, tapi kami memakannya juga. Setidaknya, itu bisa menahan rasa sakit di perut kecil kami.
Saat aku sedang berdiri di bawah pohon itu, tiba-tiba sebuah tangan menepuk punggungku. Aku terkejut. Seorang bapak berdiri di belakangku. Wajahnya tenang, suaranya lembut.
Bapak itu mengajakku ke rumahnya.
Di rumah itu, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku makan nasi hangat dan daging.

Aku diberi baju. Aku diperlakukan seperti anak manusia.
Tapi aku tidak tahu siapa dia. Tidak tahu namanya.
Tidak tahu mengapa ia begitu baik.
Setelah makan, aku kembali ke bawah jembatan dan menceritakan semuanya kepada Didi, Andi, dan Surya.

Keesokan harinya, kami berempat mencari rumah bapak itu.
Kami menemukannyarumah kecil, sederhana. Tapi kosong.

Tidak ada siapa-siapa.
Hari demi hari berlalu.
Bapak itu tidak pernah kembali.
Dengan rasa takut, kami memutuskan tinggal di rumah kosong itu.
Kami masih anak-anak. Malam terasa panjang.

Aku hanya bisa menangis, bertanya dalam diam mengapa kebaikan datang lalu pergi begitu saja.
Namun hidup harus berjalan. Kami kembali mengais sampah, mengemis, bertahan sekuat yang kami bisa.
Hingga suatu hari,
hidup kami berubah.

Kami bertemu seorang pastor. Tatapannya penuh kasih, bukan iba.
Pastor itu mengajak kami ke sebuah panti asuhan
yang kini dikenal sebagai Panti Asuhan Santo Yusup.

Di sanalah aku mendapatkan sesuatu yang belum pernah aku miliki: rumah.

Kami diberi tempat tinggal, makanan yang layak, dan yang terpenting
pendidikan.

Aku masuk taman kanak-kanak, punya taman bermain, punya seragam sekolah.

Aku belajar tertawa tanpa rasa takut. Aku belajar bahwa hidup bukan hanya tentang bertahan, tapi juga tentang bermimpi.

Di sanalah aku diberi nama: Boy.
Nama yang diberikan oleh pastor, dan sejak saat itu aku tahu
aku diakui sebagai manusia.
Tiga puluh tahun berlalu.
Kini aku kembali berdiri di samping tumpukan sampah di Sindanglaya Cipanas.

Tapi aku bukan lagi anak kecil yang kelaparan. Aku adalah seorang suami, ayah, dan manusia yang bersyukur.

Aku menikah dengan seorang perempuan bernama Tina. Kami dikaruniai dua anak:

Rudy, anak laki-lakiku, dan Susan, putri kecilku.
Saat mereka memelukku, aku sering terdiam.

Pelukan ini dulu tidak pernah aku punya
dan kini, Tuhan memberikannya berlipat ganda.

Air mata masih mengalir, tapi kini bercampur senyum.

Jika bukan karena tangan-tangan yang peduli, jika bukan karena sebuah panti asuhan yang membuka pintu bagi anak-anak terlantar, aku mungkin tidak akan berdiri di sini hari ini.

Masih banyak anak di luar sana yang tidur di bawah jembatan.
Masih banyak yang mengais sampah untuk hidup.

Mereka bukan anak yang salah lahir.
Mereka hanya belum bertemu kesempatan.

Mari kita menjadi kesempatan itu.
Membantu panti asuhan bukan sekadar memberi makan
tetapi memberi masa depan. Karena dari tempat yang paling gelap sekalipun, harapan bisa tumbuh…
jika ada yang mau menyalakan cahaya.

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Makna Puasa Ramadhan dalam Kehidupan Keluarga

Makna Puasa Ramadhan dalam Kehidupan Keluarga

Cerpen no 0054

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Jakarta
18 Pebruari 2026

Saya punya seorang Paman
Namanya Mardjuki Arkiang (almarhum)
Beliau seorang Muslim yang sangat taat sekali
Bibi saya asli orang Bali beragama Hindu taat

Mereka tinggal di Ambon di Hative kecil kompleka Agraria

Suatu saat saya mengenangnya
Saya bertugas di Ambon sekitar tahun 80an
Disana saya mendapat sakit cukup parah sehingga ponda menginap di rumah Paman saya
Selama satu minggu tinggal disana bertepatan bulan puasa

Hubungan keluarga
Saya dekat dengan Paman dan Bibi saya
Selama saya sakit Bibi selalu menyiapkan makanan buat saya
Tetapi kita juga sahur dan buka betsama menemani paman saya
Sungguh sebuah tingkat toleransi yang luar biasa
Kenangan ini selalu ku ingat

Saya memiliki sahabat yang saya anggap keluarga atau ayah dan Ibu
Di Jakarta

Bapak Rustam Efendy (Almarhum) seorang muslim yang taat beliau ketua Masyarakat Dayak dan pendiri HITACHi di Indonesia dan Ibu atau Mami Irene (alamarhum) seorang Kristen yang sangat taat
Hubungan kami sudah seperti ayah ibu dan anak
Ada kisah suatu hari Bapak Rustam Efendy dan Ibu Irene ke tanah suci naik haji bersama
Juga kunjungan ke Vatikan bersama

Tidak ada saling memaksakan pindah agama
Tetapi saling mencinta

Suatu sore bapak Ruatam telepon saya mau ajak dinner bersama di Pacific Place
Karena saya dan beliau datang kepagian
Maka kita ngopi dulu sambil menilmati singkong Goreng

Lalu saya bertanya kepada beliau
” Papi kan seorang Muslim taat dan Mami juga seorang Kristen taat apakah tidak pernah bertengkar selama lebih 50 tahun kawin “

” Pasti ada pertengkaran
Mana mungkin hidup perkawinan tanpa selisih paham
Tapi Mamimu itu orangnya suka bercanda
Setiap kali bertengkar selalu di bawa canda akhirnya bukan ribut tapi semua jadi tertawa”

Suatu hari Bapak Rustam sakit masuk Rumah sakit di Mount Elisabeth Singapura
Saya dan Istri menjenguk
Dan kita cari kesukaan mereka
Makan bersama
Bapak Rustam Suka makan nasi lemak
Ibu Irene suka Tori (Non halal)
Kita makan tapi wangu Sate Babi kuat sekali
Mami Irene bilang Nasi lemak rasa babi
Kita bercanda
Semua tertawa Riang Gembira

Kini mereka semua sudah istirahat dalam damai Surgawi tetapi
Aku tetap mengenang mereka semua karena menjadi bagian dari suka cita hidupku
Sebuah kisah toleransi yang luar biasa

Kenangan Ramadan selalu menjadi dasar pemikiran bagaimana hidup berdampingan dalam damai dan suka cita

Marhaban yaa Ramadhan. Bulan suci kembali menyapa umat manusia dengan kelembutan dan cahaya yang menenangkan jiwa.

Ramadhan bukan sekadar pergantian waktu dalam kalender Hijriah, melainkan sebuah undangan ilahi untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia, menata hati, dan memperbaiki hubungan
dengan Allah SWT, dengan sesama, dan dengan keluarga.
Puasa di bulan Ramadhan mengajarkan makna pengendalian diri, kejujuran batin, dan kepedulian yang tulus.

Puasa diwajibkan bagi umat Islam sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183).

Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk ketakwaan
kesadaran penuh akan kehadiran Allah dalam setiap langkah kehidupan.

Dalam lingkup keluarga, Ramadhan menjadi madrasah pertama dan utama.
Di rumah sederhana itu, nilai-nilai keimanan dan kemanusiaan dipelajari bukan lewat ceramah panjang, melainkan melalui teladan, kebiasaan, dan kebersamaan. Saat sahur, anggota keluarga bangun lebih awal, saling membangunkan dengan senyum dan kesabaran.

Meja makan mungkin tidak mewah, namun kehangatan doa dan niat yang lurus menjadikannya penuh berkah.

Puasa juga menjadi ruang pertemuan hati. Dalam kesibukan sehari-hari, sering kali keluarga terpisah oleh rutinitas, perbedaan pendapat, bahkan luka yang tak terucap.

Kenangan Paman Dan Bibi Sya
Papi Rustam dan Mami Irene selalu menggiring hati saya jadi damai

Ramadhan mempertemukan kembali mereka dalam suasana yang lebih lembut.

Waktu berbuka puasa menjadi momen sakral: semua duduk bersama, menunggu azan magrib, menahan diri dari keluh kesah, dan memulai dengan doa.

Di sanalah percakapan sederhana berubah menjadi jembatan pengertian.

Tak jarang, Ramadhan menghadirkan proses pengampunan. Kesalahan masa lalu
kata yang menyakitkan, sikap yang melukai
perlahan mencair dalam semangat memohon maaf lahir dan batin.

Orang tua belajar merendahkan hati kepada anak, dan anak belajar menghormati orang tua dengan ketulusan.

Pengampunan bukan tanda kelemahan, melainkan kekuatan jiwa yang telah disentuh cahaya Ramadhan.

Ikatan keluarga pun semakin erat.
Shalat tarawih yang dikerjakan bersama, tadarus Al-Qur’an di ruang tamu, atau sekadar berbagi cerita menjelang tidur menjadi benang-benang halus yang merajut kebersamaan.

Dalam keheningan malam, keluarga belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari kelimpahan materi, melainkan dari kebersamaan yang penuh makna.

Sebuah kisah tentang keluarga sederhana dapat menggambarkan hal ini.

Ayah yang lelah bekerja, ibu yang setia mengurus rumah, dan anak-anak dengan segala keunikan mereka.

Di bulan Ramadhan, mereka sepakat untuk saling menjaga lisan dan perasaan.

Ketika perbedaan muncul, mereka belajar menahan amarah karena puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan ego.

Dari situ tumbuh cinta kasih yang dewasa
cinta yang memahami, bukan menuntut.

Ramadhan juga mengajarkan toleransi, bahkan di dalam keluarga sendiri.

Setiap anggota memiliki kemampuan dan kekuatan yang berbeda. Ada yang kuat berpuasa penuh, ada yang masih belajar.

Ada yang rajin ibadah sunnah, ada yang perlahan memperbaiki diri.

Toleransi berarti saling menguatkan tanpa menghakimi, saling mendoakan tanpa merasa lebih baik.

Inilah nilai luhur yang kelak dibawa keluar rumah, ke tengah masyarakat yang majemuk.

Pada akhirnya, Ramadhan adalah perjalanan spiritual keluarga menuju kebersamaan yang lebih dalam. Ia membentuk pribadi yang lebih sabar, keluarga yang lebih hangat, dan masyarakat yang lebih peduli.

Semoga di bulan penuh berkah ini, kita semua diberi kekuatan untuk menjalankan ibadah dengan sempurna, dipanjangkan umur, dilapangkan rezeki, disehatkan lahir batin, serta dianugerahi kebahagiaan di dunia dan akhirat. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.

Www.kris.ir.id

Www.adharta.com

Sahabat ku Rabu Abu


Awal Perjalanan Pulang ke Hati Tuhan

Cerpen 0053

Oleh : Adharta
Ketua Umum KRIS

Rabu Abu
18 Pebruari 2026

Sahabat ku

Rabu Abu
Awal Perjalanan Pulang ke Hati Tuhan

Rabu Abu adalah sebuah gerbang sunyi.
Ia tidak dibuka dengan terompet atau nyanyian meriah, melainkan dengan debu, doa, dan keheningan batin.

Dalam tradisi Gereja Katolik, Rabu Abu menandai dimulainya Masa Prapaskah
empat puluh hari perjalanan rohani menuju Paskah, menuju kebangkitan, menuju harapan.

Sahabat ku

Riwayat Rabu Abu
Sejak abad-abad awal Kekristenan, abu telah menjadi simbol pertobatan.

Dalam Kitab Suci, abu dipakai oleh manusia yang menyadari keterbatasannya

Ayub duduk di atas abu, Yunus menyerukan pertobatan dengan kain kabung dan abu, dan bangsa Israel menundukkan diri di hadapan Tuhan dengan debu.

Gereja kemudian mengolah simbol ini menjadi ritus liturgis abu dari daun palma Minggu Palma tahun sebelumnya dibakar, lalu dioleskan di dahi umat sebagai tanda iman dan pertobatan.

Kata-kata yang diucapkan imam pada saat pengolesan abu begitu sederhana, namun mengguncang jiwa:
“Ingatlah, engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu.”

Amin

Kalimat ini bukan ancaman, melainkan undangan untuk jujur pada diri sendiri—bahwa hidup ini rapuh, singkat, dan sepenuhnya bergantung pada kasih Allah.
Proses dan Liturgi Rabu Abu
Dalam liturgi Rabu Abu, umat berkumpul dalam suasana hening.
Warna ungu mendominasi altar, melambangkan pertobatan dan penantian.
Tidak ada nyanyian kemuliaan. Tidak ada bunga.

Yang ada hanyalah Sabda Tuhan, doa, dan abu.

Pada hari ini, umat Katolik diwajibkan berpuasa dan berpantang: berpuasa berarti makan kenyang satu kali sehari, dengan dua kali makan ringan

berpantang berarti tidak makan daging. Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi melatih hati untuk berkata “cukup” dan belajar mengendalikan keinginan.

Makna Mendalam Rabu Abu
Rabu Abu adalah cermin.
Ia memaksa kita menatap diri tanpa topeng, tanpa gelar, tanpa pencapaian.

Abu di dahi menghapus jarak antara kaya dan miskin, kuat dan lemah.

Kita Semua sama:
manusia yang sedang pulang.
Ada romantisme yang lembut dalam Rabu Abu
seperti sepasang kekasih yang memilih diam bersama, saling memahami tanpa banyak kata.

Tuhan tidak memarahi manusia pada hari ini.
Tuhan menunggu.
T uhan membuka pintu dan berkata, “Pulanglah.”

Kisah-Kisah Kecil yang Menghidupkan Rabu Abu
Banyak orang mengingat Rabu Abu sebagai hari ketika seorang ayah mengajak anaknya berdiri dalam antrean abu, lalu berbisik,

“Ini tanda kita mau jadi lebih baik.”

Ada juga pasangan suami istri yang saling berjanji

bukan hanya puasa makanan, tetapi puasa marah, puasa ego, puasa kata-kata yang melukai.

Di rumah sakit, di penjara, di desa kecil, abu yang sama dioleskan
mengikat semua manusia dalam satu kisah pertobatan yang sunyi namun indah.

Apa yang Dilakukan Selama Masa Prapaskah

Selama Masa Prapaskah hingga Paskah, Gereja mengajak umat menjalani tiga pilar rohani:

Pertama
Puasa – melatih pengendalian diri.

Kedua
Doa – memperdalam relasi dengan Tuhan.

Ketiga
Sedekah – membuka hati bagi sesama.
Selain itu, umat diajak mengikuti Jalan Salib, membaca Kitab Suci, berdamai dengan sesama, dan menerima Sakramen Tobat.

Bukan untuk menjadi sempurna, tetapi untuk menjadi jujur dan rendah hati.

Sahabat ku
Akhir kata dalam cerita yang penuh kedamaian

Rabu Abu bukan tentang abu di dahi, melainkan tentang hati yang bersedia diubah.

Dari debu kita datang, dan oleh kasih Tuhan, kita diberi harapan untuk bangkit.

Masa Prapaskah adalah perjalanan cinta
perlahan, jujur, dan penuh makna—menuju terang Paskah.

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Djiong Benci yang Rindu, Rindu yang Benci

Djiong
Benci yang Rindu, Rindu yang Benci

Cerpen 0051

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

14 Pebruari 2026

Selamat Hari Valentine

Dalam kepercayaan orang Tionghoa, ada satu kata yang sulit dijelaskan dengan logika manusia modern
Djiong.

Ia bukan sekadar kebetulan.
Bukan pula hanya pertemuan biasa.

Djiong adalah ikatan
entah cinta, entah benci
yang menyeberang dari satu kehidupan ke kehidupan lain, menunggu waktu untuk bertemu kembali.

Kisah Cinta

Albert tidak pernah percaya hal-hal seperti itu.
Ia mahasiswa Fakultas Ekonomi, rasional, teratur, dan logis.

Namun semua keyakinannya mulai runtuh sejak ia bertemu Rina.

Pertemuan mereka sederhana.
Satu universitas.
Satu fakultas.

Satu kelompok belajar.
Rina adalah perempuan dengan senyum yang mudah hadir, tutur kata lembut, dan mata yang menyimpan kedalaman. Bersamanya, Albert merasa akrab sejak hari pertama, seolah tidak ada jarak, seolah mereka sudah lama saling mengenal.

Hari-hari kampus mereka dipenuhi kebersamaan.
Belajar hingga malam.
Berbagi mimpi tentang masa depan.
Tertawa karena hal-hal kecil.

Diam bersama tanpa rasa canggung.
Albert menyayangi Rina dengan tulus.
Dan Rina mencintai Albert dengan caranya yang tenang.
Namun di balik semua keindahan itu, ada sesuatu yang tidak pernah mereka ceritakan
hingga akhirnya tak bisa lagi disembunyikan.
Setiap malam, Albert bermimpi buruk.

Dalam mimpinya, ia dan Rina bertengkar hebat.
Bukan pertengkaran kecil.
Bukan adu argumen biasa.
Melainkan amarah yang membara, kebencian yang begitu dalam, hingga tangan mereka saling memukul tanpa belas kasih.

Albert selalu terbangun dengan napas tersengal, tubuh basah oleh keringat, dan dada yang sesak.

Ia heran.
Bagaimana mungkin di dunia nyata ia mencintai Rina, tetapi di dunia mimpi ia begitu membencinya?

Dua dunia yang bertolak belakang, bagai langit dan bumi.
Yang lebih mengganggu, mimpi itu datang hampir setiap malam.

Albert mencoba menyembunyikannya.
Ia tidak ingin merusak kebahagiaan mereka.
Namun ia tidak tahu bahwa Rina mengalami hal yang sama.
Setiap malam, Rina juga dihantui mimpi penuh amarah.
Dalam mimpinya, wajah Albert berubah dingin.

Kata-kata yang keluar dari mulutnya tajam seperti pisau. Rina menangis, berteriak, membenci
perasaan yang sama sekali tidak ia rasakan saat terjaga.
Pagi hari, mereka bertemu di kampus, saling tersenyum, seolah malam sebelumnya tidak pernah ada.

Namun mata tidak pernah bisa berbohong.
Ada kelelahan.
Ada ketakutan.
Ada tanya yang menggantung.
Suatu malam, di bawah langit yang redup, Albert akhirnya berkata pelan,

“Rina… akhir-akhir ini aku sering mimpi buruk.”

Rina terdiam lama.
Lalu air matanya jatuh.

“Aku juga,” jawabnya lirih.

Malam itu mereka saling bercerita.
Tentang mimpi.
Tentang amarah.
Tentang rasa benci yang muncul tanpa sebab.
Mereka berpelukan, menangis, bingung, dan takut kehilangan satu sama lain.

Padahal mereka punya cita-cita yang sama.
Setelah lulus sarjana, Albert berencana melamar Rina.

Mereka membayangkan rumah kecil, meja makan sederhana, dan kehidupan yang tenang.
Namun semakin dekat waktu kelulusan, semakin berat beban batin mereka.

Hingga suatu hari, seseorang menyarankan mereka menemui seorang hwesio di klenteng tua di pinggir kota Jakarta.

Dengan hati ragu namun penuh harap, mereka datang.
Hwesio Bante menyambut mereka dengan senyum damai. Setelah mendengarkan cerita panjang mereka, ia menutup mata sejenak, lalu berkata pelan,
“Kalian ini Djiong.”

Albert dan Rina saling berpandangan.

“Djiong adalah ikatan karma,” lanjut hwesio itu. “Bisa jadi di kehidupan lampau, kalian sangat dekat… atau sangat bermusuhan.

Perasaan itu belum selesai, maka ia terbawa hingga kini.”

“Lalu… apakah kami harus berpisah?” tanya Rina dengan suara bergetar.

Hwesio Bante menggeleng.
“Tidak semua Djiong datang untuk diputus. Ada yang datang untuk disembuhkan.”

Albert menggenggam tangan Rina erat.
Mereka berdua berasal dari keluarga Katolik. Mereka berdoa dengan cara yang mereka kenal.

Namun malam itu, mereka belajar satu hal baru bahwa cinta kadang bukan tentang memulai, melainkan menyelesaikan.
Sejak hari itu, mereka tidak lagi melawan mimpi.
Mereka menghadapinya dengan doa, dengan kejujuran, dengan saling memaafkan
bahkan atas kesalahan yang mungkin tidak pernah mereka ingat.

Mimpi itu perlahan memudar.
Tidak langsung hilang, tetapi semakin jarang.
Dan setiap kali terbangun dengan air mata, mereka selalu saling menggenggam tangan, mengingatkan diri bahwa mereka memilih cinta.

Hari kelulusan pun tiba.
Albert berdiri dengan toga, menatap Rina yang tersenyum sambil menahan tangis.

Di tengah keramaian, Albert berlutut.
Bukan dengan janji sempurna.
Melainkan dengan suara gemetar.

“Entah berapa kehidupan kita sudah bertemu… aku hanya ingin, di kehidupan ini, kita saling menyembuhkan.

Rina menangis, lalu mengangguk.
Karena Djiong bukan tentang benci atau rindu.
Ia tentang takdir yang meminta keberanian untuk mencintai, meski pernah terluka.

Dan cinta mereka pun berlanjut
bukan tanpa bayang-bayang masa lalu, tetapi dengan cahaya pengampunan

Www.kris.or.id

Www.adharta.com