Padang Pasir Cinta

Padang Pasir Cinta

Cerpen 0048

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Komunitas
Relawan
Indonesia
Sehat

Awal Pebruari 2026

Cinta didalam Cinta

Fenny pernah percaya bahwa cinta adalah rumah.
Tempat pulang paling aman setelah dunia melelahkan.

Sepuluh tahun lalu, ia membangun rumah itu bersama Robby
dengan tawa, harapan, dan dua putri cantik yang menjadi cahaya hidup mereka:
Shanti yang lembut dan dewasa sebelum waktunya, serta Monica yang ceria seperti matahari pagi.

Namun rumah itu perlahan retak.
Bukan karena tak ada cinta, melainkan karena cinta tak lagi menemukan jalan.

Perkawinan mereka seperti berjalan di padang pasir: panas, kering, dan melelahkan. Kata-kata yang dulu hangat berubah menjadi jarak.
Diam menjadi lebih nyaring daripada pertengkaran.

Fenny dan Robby sama-sama lelah, sama-sama tersesat.

Akhirnya mereka sepakat berpisah.
Keputusan itu tidak mudah, terutama ketika harus membagi hal paling berharga dalam hidup mereka. Monica ikut Fenny, sementara Shanti tinggal bersama ayahnya.
Saat hari perpisahan itu tiba, Fenny memeluk Shanti terlalu lama, seolah ingin menyimpan aroma rambut anaknya untuk hari-hari sunyi ke depan.

Shanti tidak menangis.
Ia hanya berkata lirih,

“Mama harus kuat.”

Kalimat itu menghantam hati Fenny lebih keras dari apa pun.

Menjadi janda muda bukan sekadar status. Itu adalah label yang sering disalahartikan. Gosip datang tanpa diundang
di warung, di lingkungan, bahkan di tatapan orang-orang yang pura-pura ramah.

Fenny berusaha tegar, tetapi hatinya sering remuk diam-diam.
Ia memang dekat dengan beberapa pria.

Bukan karena ia murahan, melainkan karena ia kesepian.

Namun setiap kedekatan justru membuka luka lama.

Trauma perkawinan membuatnya selalu waspada, selalu takut. Lebih menyakitkan lagi, ia merasa dirinya dinilai rendah
seolah status janda menghapus harga dirinya sebagai perempuan.

Ia belajar tersenyum sambil menahan perih.
Hari-hari Fenny diisi perjuangan.

Ia menjadi ibu sekaligus ayah bagi Monica. Ia menjual makanan secara daring, lalu baju-baju, apa saja yang bisa menghasilkan. Pagi hari mengantar Monica sekolah, siang mengejar klien sebagai agen asuransi, malam menyusun harapan sambil menghitung sisa uang.
Namun di balik semua kesibukan itu, ada ruang kosong di hatinya.

Ia merindukan kehangatan seorang pria. Bukan sekadar pelukan, melainkan rasa aman.

Seseorang yang bisa berkata, “Istirahatlah, aku di sini.”

Takdir mempertemukannya dengan Donny.

Pria asal Sumatra Utara itu berbeda. Suaranya keras, caranya tegas, tetapi kata-katanya sering mengandung kebijaksanaan.

Donny tidak pandai merayu, namun ia hadir dengan kepastian.
Ia melihat Fenny bukan sebagai janda, melainkan sebagai perempuan kuat yang sedang lelah.

Fenny jatuh cinta perlahan.
Ia berpikir, mungkin inilah jawaban doanya. Mereka menikah dengan harapan baru.

Kehidupan materi tercukupi. Rumah nyaman. Tidak perlu lagi menghitung sisa uang di malam hari.

Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama.
Donny memiliki sisi lain yang tak pernah benar-benar ia pahami sebelumnya. Kata-kata kasarnya sering meluncur tanpa rem.

Amarahnya mudah menyala. Dan yang paling menyakitkan, ia melukai bukan hanya Fenny, tetapi juga Monica.

“Anak sial. Pembawa bencana,” kata Donny suatu hari, tepat di depan Monica yang masih kecil.
Kalimat itu menghancurkan segalanya.

Monica menangis dalam diam.

Fenny memeluk anaknya dengan tangan gemetar. Ia merasa gagal
sebagai istri, sebagai ibu, sebagai perempuan yang kembali salah memilih cinta.
Hari-hari berikutnya adalah tekanan demi tekanan.

Donny sering memaki Fenny, merendahkannya, menyebutnya perempuan murahan, pekerjaannya tidak jelas, masa lalunya kotor. Setiap kata seperti cambukan yang membuka kembali luka lama.

Trauma perkawinan pertama belum sembuh.
Kini, perkawinan kedua menorehkan luka yang lebih dalam.

Fenny sering menangis sendirian di kamar mandi. Air mata bercampur air kran agar tak terdengar siapa pun.

Ia bertanya pada dirinya sendiri: Apakah aku pantas dicintai? Atau aku memang ditakdirkan untuk selalu terluka?

Namun hidup, seperti senja, selalu memberi warna meski redup.
Suatu malam, Monica memeluk Fenny dan berkata, “Mama jangan sedih. Aku sayang Mama.”

Kalimat sederhana itu menyelamatkan Fenny.
Ia tersadar bahwa cinta sejati tidak selalu datang dari pasangan. Kadang, cinta hadir dari anak yang memercayainya sepenuh hati.

Dari tawa kecil di pagi hari.

Dari keberanian untuk bangkit, sekali lagi.
Fenny mulai menemukan kekuatannya kembali.

Ia belajar mencintai dirinya sendiri. Ia belajar bahwa romantisme tidak selalu tentang pria dan janji manis, tetapi tentang keberanian bertahan, tentang hati yang tetap lembut meski dunia keras.

Ia belum tahu bagaimana akhir kisah hidupnya. Namun kini ia tahu satu hal: ia bukan perempuan murahan. Ia adalah perempuan yang pernah jatuh, bangkit, jatuh lagi, dan masih memilih untuk percaya pada cinta
dengan caranya sendiri.
Di antara tawa dan air mata, Fenny berjalan. Tidak lagi di padang pasir yang gersang, melainkan di jalan panjang bernama kehidupan Cinta
Dengan luka sebagai pelajaran, dan cinta
meski pernah menyakitkan
sebagai harapan.

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Leave a comment